Puasa Aman Ibu Menyusui

Oleh: Kusmayra Ambarwati dan Susi Solichatun

anggota Divisi Riset AIMI Pusat 

Menyusui saat berpuasa memang bisa terasa menantang bagi banyak ibu Muslim setiap tahunnya. Kabar baiknya, dari sisi medis, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadhan umumnya tidak banyak mempengaruhi kandungan energi dan zat gizi utama dalam ASI. Namun, setiap ibu memiliki respons yang berbeda, apalagi jika kondisi ibu mengalami  malnutrisi, dehidrasi, dan  melakukan pekerjaanya cukup berat setiap harinya. (1,2)

Menyusui bukan hanya tentang memberi ASI, tetapi tentang membangun kedekatan, rasa aman, dan fondasi kesehatan bagi si kecil sejak hari pertama kehidupan. Meski terlihat alami, proses menyusui seringkali membutuhkan pengetahuan, kesabaran, dan dukungan agar berjalan nyaman bagi ibu dan bayi. Tips dan dukungan menyusui dapat membantu perjalanan menyusui menjadi lebih lancar dan menenangkan.

Keringanan Ibadah menurut ajaran agama dan  praktik menurut pendapat ulama

Dalam ajaran Islam, hampir semua pendapat ulama sepakat bahwa ibu menyusui mendapat keringanan untuk tidak berpuasa jika dikhawatirkan ada risiko bagi kondisi ibu atau bayinya. Artinya, ibu diperbolehkan menunda puasa ketika merasa tidak sanggup atau ada potensi bahaya. Dalam hal ini  puasa dapat diringankan dengan mengganti/pembayaran kompensasi (fidya), atau kombinasi dari keduanya tergantung pada keadaan dan aliran pemikiran atau otoritas lokal. Di Indonesia, organisasi keagamaan memberikan panduan tentang pengecualian ini. Dalam badan Majelis Ulama Indonesia, menjelaskan bahwa jika ibu menyusui masih ragu, ia memiliki dua pilihan:

a. Jika khawatir terhadap kondisi kesehatan dirinya, maka wajib mengqadha.

b. Jika khawatir terhadap kondisi kesehatan diri dan bayinya, maka wajib mengqadha.

c. Jika khawatir terhadap kondisi kesehatan bayinya, maka wajib mengqadha dan membayar fidyah. (8)

Sebaiknya keputusan dibuat setelah mempertimbangkan semua keadaan medis dan nasihat agama yang berlaku. (5)

Konteks sosial – ekonomi dan politik dengan praktik menyusui dan berpuasa

Ketidakpastian  kondisi sosial, ekonomi dan politik  saat ini dan program ketahanan pangan mempengaruhi akses makanan ibu. Di banyak daerah, program nutrisi dan layanan kesehatan ibu dan anak mengalami perubahan dalam urutan pelaksanaan, yang memiliki implikasi langsung dan serius pada risiko malnutrisi ibu dan anak. Oleh karena itu, keputusan untuk berpuasa harus memperhitungkan ketersediaan makanan dan pelayanan kesehatan lokal terutama kondisi kebutuhan makan pribadi dan sehari – hari ibu dan keluarga dalam keluarga yang harus disesuaikan sebagai bahan pertimbangan utama untuk memutuskan dapat menyusui dengan berpuasa atau tidak . (6,7)

Tanda bahaya: Kapan ibu harus berhenti berpuasa?

Ibu dapat segera berbuka dan mencari  bantuan medis jika salah satu tanda berikut terjadi:

a. Sakit kepala parah, hampir pingsan atau pingsan.(4)

b. Dehidrasi pada ibu: sangat sedikit urine, mulut kering, denyut nadi cepat. (2)

c. Penurunan signifikan dalam produksi ASI. atau

d. Bayi menunjukkan tanda-tanda dehidrasi; buang air kecil kurang dari 6 kali dalam 24 jam, penurunan berat badan yang signifikan. Kondisi bayi, apakah bayi lebih rewel dari biasanya, sulit tidur, feses lebih cair, warna urine lebih pekat, atau suhu tubuh meningkat, frekuensi buang air kecil dan besar, warna urine lebih pekat dan kondisi bayi secara keseluruhan. Selain itu, tetap pantau pola menyusui dan kenaikan berat badan bayi(1)

Keputusan untuk berpuasa sambil menyusui harus mempertimbangkan niat berpuasa, bukti medis, dan kondisi sosial-ekonomi. Berbagai bukti ilmiah telah menunjukkan bahwa  ibu sehat dengan akses makanan yang cukup menunjukkan bahwa ASI tetap terjaga.  Namun, jika ada kekhawatiran medis, masalah produksi ASI, atau kondisi ekonomi yang membatasi asupan makanan, pengecualian ibadah puasa berdasarkan fatwa yang ada dapat diberlakukan untuk keringanan pelaksanaan ibadahnya. Konsultasikan dengan tenaga  kesehatan dan otoritas agama yang sesuai untuk keputusan yang aman dan tepat bagi Ibu. Tetap perhatikan isi piring ibu menyusui bila berpuasa ya..

SELAMAT BERPUASA 

Referensi:

1.    Başıbüyük  Mine, Aktaç  Şule, Kundakçı  Simay, Büke  Övgü, Karabayır  Nalan. Effect of Ramadan Fasting on Breast Milk. Breastfeeding Medicine [Internet]. 2023 Aug 17;18(8):596–601. Available from: https://journals.sagepub.com/action/showAbstract

2.    Haratipour H, Soharbi M, Ghasemi E, Karimi A, Zolfaghari P, Yahyai E. Impact of Maternal Fasting During Ramadan on Growth Parameters of Exclusively Breastfed Infants in Shahroud, 2012. J Fasting Health. 2013 Dec 25;1(2):66–9.

3.    Yate Z, Soliman S. Lactation Assessment for Muslim Breastfeeding Women Who Fast During Ramadan: Understanding an Islamic Legal Dispensation. Journal of Human Lactation. 2022 May 2;38:525.

4.    El-Kurdy  Rania, Abozed  Hend Wageh, El-Gilany  Abdel-Hady, Mohamed Abdu  Shymaa Mamdouh. The Effect of Ramadan Fasting on Breastfeeding Practices of Muslim Women. Breastfeeding Medicine [Internet]. 2025 May 1;20(5):303–9. Available from: https://journals.sagepub.com/action/showAbstract

5.    MUI. MUI Digital. 2022. Hukum Menyusui.

6.    UNICEF. INDONESIA 2018 – 2024 NATIONAL NUTRITION PROGRAMME REVIEW. Jakarta; 2025 Dec.

7.    Karmini N, Alangkara D. Indonesia launches a free meals program to feed children and pregnant women to fight malnutrition. AP News. 2025 Jan 6;

8.     MUI. FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 24 Tahun 2021 Tentang PANDUAN PENYELENGGARAAN IBADAH DI BULAN RAMADHAN DAN SYAWAL 1442 H. Jakarta; 2021 Apr 12; Hal 12