Seperti ditulis kembali oleh: Lianita Prawindarti, Konselor Menyusui dan Wakil Ketua Divisi SDM dan Pengembangan Organisasi AIMI Pusat  di Mommiesdaily yang dimutakhirkan dari artikel sebelumnya yang telah tayang di web AIMI pada tanggal 1 Mei 2017.

"Rumah Sakit sayang bayi ternyata sangat berpengaruh terhadap kesuksesan proses menyusui saya yang sempat koma pasca melahirkan."

Hampir tujuh tahun yang lalu, saya melahirkan Emma di Catharina Ziekenhuis, satu-satunya RS di kota Eindhoven, Belanda. Saat itu, saya merasakan benar bagaimana konsep RS sayang bayi (Baby-Friendly Hospital Initiative) seharusnya dipraktikkan.

Baby-Friendly Hospital Initiative ini dicetuskan WHO dan UNICEF tahun 1991. Di Indonesia sendiri, inisiatif ini dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, Pasal 33. Ada 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) yang harus dijalankan oleh Fasilitas Kesehatan.


Masa kehamilan saya berjalan normal tanpa masalah berarti. Di Belanda, pada kasus kehamilan normal tanpa indikasi medis, pemantauan kehamilan dilakukan sepenuhnya oleh bidan. Ketika usia kehamilan melewati 38 minggu dan belum ada tanda-tanda akan melahirkan, saya baru dirujuk ke dokter kandungan hingga batas usia kehamilan 42 minggu. Setelah induksi dan semua upaya untuk melahirkan normal tidak membawa hasil, di jam-jam terakhir di usia kehamilan 42 minggu itulah, baru dokter memutuskan emergency cesarian.

Operasi berjalan lancar walau saya mengalami perdarahan dan kenaikan tekanan darah. Emma sendiri lahir dengan kondisi sehat walau mesti diobservasi. Karena membutuhkan observasi intensif, setelah SC saya dibawa ke ruang ICU. Sekitar dua jam setelah SC, tekanan darah saya semakin tinggi dan saturasi oksigen menurun tajam. Setelah mengalami kejang, saya pun masuk dalam kondisi koma.

Selama saya tidak sadar dan para dokter berusaha menstabilkan kondisi saya, para perawat dan bidan dari maternity ward bergantian ke ICU secara rutin untuk memerah payudara saya. ASI yang diperah harus dibuang karena saya mengonsumsi banyak obat-obatan yang tidak aman untuk bayi. Namun, mereka tetap memerah ASI dari payudara saya karena itu adalah satu-satunya cara agar saya tetap bisa menyusui setelah pulih.

Ini sesuai isi rekam medis yang saya lengkapi di awal kehamilan, saya menyatakan bahwa apapun yang terjadi, saya ingin menyusui bayi saya. Selama saya di ICU, Emma mendapatkan asupan susu formula dari RS dengan media spuit.




Dokter mendiagnosis saya mengalami HELLP Syndrome. Sebuah komplikasi obstetri yang dapat membahayakan nyawa. Biasanya terjadi di usia kehamilan lebih dari 20 minggu atau saat memasuki trimester kedua, bahkan setelah melahirkan. HELLP Syndrome biasanya dihubungkan dengan kondisi pre eklampsia.

Komplikasi yang dapat menyertai adalah edema paru-paru, acute respiratory distress syndrome (ARDS), hematoma pada hati, gagal ginjal akut, perdarahan intraserebral, dan kematian maternal. Dalam kasus saya, kondisinya memburuk akibat terjadinya edema paru paru dan ginjal yang juga sempat bermasalah di fase awal serangan.



Selama saya tidak sadar, Emma secara berkala dibawa ke ruang ICU dan diletakkan di dada saya agar dapat melakukan kontak kulit. Menurut perawat, setiap kali Emma diletakkan di dada saya, dia menjadi lebih tenang. Di dalam video beberapa kali terlihat Emma menangis ketika diangkat dari dada saya. Tanda-tanda vital saya juga membaik jika Emma datang.

Pihak RS meminta ijin untuk merekam semua aktivitas kontak kulit saya dan Emma untuk dua alasan:dokumentasi agar setelah sadar saya bisa melihat apa yang terjadi dan video ini juga akan digunakan untuk dokumentasi penelitian mereka yang sedang mendalami manfaat kontak kulit bagikesehatan ibu dan bayi.

Selain berbagai upaya memulihkan saya secara medis, para perawat pediatric dan maternity wards juga menghias sekitar tempat tidur saya dengan foto-foto Emma. Perawat yang merawat Emma bahkan membuat scrap book berisi foto dan cerita tentang kegiatan Emma selama saya di ICU. Para perawat yang bertugas mendampingi saya bergantian menuliskan catatan tentang kegiatan saya dan Emma, yang kemudian mereka kumpulkan menjadi semacam catatan harian.







Setelah saya keluar dari ICU, sekitar 5 hari setelah melahirkan Emma, Monique Bonne van de Ven, seorang bidan sekaligus konsultan laktasi bersertifikat internasional (IBCLC) ditugaskan secara khusus untuk membantu saya belajar menyusui. Waktu itu payudara saya mulai bengkak dan sudah mengarah ke gejala mastitis. Untuk latch on juga sulit sekali. Ia mengajarkan saya dan suami untuk melakukan kompres dan melakukan reverse pressure softening.

Sehari setelah belajar menyusui, kondisi saya menurun kembali. Saya sempat batuk tiada henti disertai demam tinggi dan sesak napas. Ternyata cairan di paru-paru saya belum sepenuhnya keluar. Dokter menyarankan saya berhenti belajar menyusui langsung untuk sementara agar bisa fokus ke pemulihan kesehatan. Saya masih boleh memerah ASI dan ASI perahan diberikan kepada Emma. Kekurangannya ditambahkan dengan susu formula.

Setelah mereka menjalankan treatment lanjutan untuk mengeluarkan cairan di paru-paru saya, saya mulai boleh belajar menyusui lagi. Selama treatment, Emma lebih banyak bersama perawat di ruang bayi. Ketika kondisi saya stabil, saya dan Emma diijinkan rawat gabung lagi.


Dengan masih menahan sakit setiap akan latch on akhirnya secara bertahap saya mulai bisa menyusui dengan benar. Puting sudah tidak terlalu sakit, produksi mulai naik dan susu formula bertahap dikurangi. Dua hari sebelum saya diijinkan pulang, Emma sudah menyusu langsung secara penuh, tanpa susu formula dan tanpa ASIP.

Setelah pulang, ada bantuan perawat yang datang di 5 hari pertama untuk membantu merawat Emma dan saya. Kami juga meminta bantuan seorang IBCLC untuk home visit, memastikan proses menyusui berjalan baik. Monique juga secara berkala menelpon saya memastikan bahwa proses menyusui Emma berjalan lancar.



Pengetahuan menyusui saya saat melahirkan terbilang sangat standar. Saya hanya berpegang pada tiga hal: bahwa ASI itu supply by demand, bahwa saya harus menyusui sekehendak bayi dengan tidak melihat jadwal, dan selama menyusui saya bisa makan apa saja yang saya mau. Pengetahuan lain terkait menyusui bertahap saya pelajari setelah pulang ke rumah.

Dukungan tenaga kesehatan di Catharina Ziekenhuis menurut saya luar biasa. Ketika kita sudah menuliskan keinginan untuk menyusui, maka mereka dengan segala upaya akan mendukung kita untuk mewujudkannya. Bahkan ibu dengan kondisi gawat darurat seperti saya pun masih dijamin haknya untuk dapat memberikan ASI. Saya juga bersyukur karena suami selalu mendukung saya untuk tetap menyusui.


RS sayang bayi sudah semestinya bukan hanya memiliki kompetensi medis membantu ibu untuk sukses menyusui, tapi juga mesti memiliki empati yang tinggi terhadap para ibu baru yang rentan mengalami baby blues.

Untuk saya yang melahirkan dengan komplikasi medis yang berat, RS juga menyediakan social worker yang bertugas mengonseling saya. Ini merupakan protokol RS ketika ada pasien yang mengalami apa yang mereka sebut sebagai “near-death experience”.


Dalam cerita ini, ada dua poin utama yang ingin saya garis bawahi:

Pertama, peran RS sayang ibu. Terlepas dari pentingnya implementasi 10 LMKM, keberadaan RS sayang bayi benar-benar dapat dirasakan manfaatnya bahkan ketika ibu dan/atau bayi memiliki indikasi medis tertentu. Jika menyusui dapat menjadi penyelamat nyawa pada bayi yang sakit, manfaat yang sama juga bisa dirasakan pada ibu yang mengalami komplikasi medis saat melahirkan.

Kedua, secanggih apapun peralatan yang dimiliki sebuah RS dan se-capable apapun tenaga kesehatan di sebuah RS, pendekatan yang memanusiakan manusia sangat efektif membantu busui berhasil menjalani periode awal yang berat.


Terdapat pada kategori Cerita Sukses, Informasi pada 01 May 2017

Informasi Lainnya