<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Tips &amp; Tricks</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/tips-tricks/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Dinas Luar Negeri&#8230;?? Tak Masalah..!!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/02/dinas-luar-negeri-tak-masalah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/02/dinas-luar-negeri-tak-masalah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 15:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Tricks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Bingung gimana caranya agar tetap anak mendapatkan ASI sementara kita ditugaskan ke luar kota / negeri untuk jangka waktu yang cukup panjang..? Yuk simak cerita sukses dari salah satu ibu menyusui yang berhasil menjalankan tugas kantornya keluar negeri dan tetap bisa membawakan 'oleh-oleh' yang tak ternilai untuk buah hatinya, ASI Perah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat itu datang juga. Saat yang paling saya nanti-nantikan selama bekerja. Bertugas ke luar negeri. Tapi, kok rasanya campur aduk ya? Ada excited karena mau melihat Negara yang sudah lama saya impikan, sedih karena akan berpisah dalam waktu yang lama dengan Alle (yang kala itu berusia 18 bulan) dan yang paling dominan adalah bingung, bagaimana nanti saya bisa terus memberikan ASI selama jauh dari Alle?</p>
<h3>BUKAN ALASAN UNTUK BERHENTI MENYUSUI</h3>
<p>Banyak hal terlintas dalam pikiran saya saat itu, “cukup tidak ya, ASIP ku? Apa iya, dengan kepergian ini Alle harus ditambah susu lain (waktu itu alle belum doyan UHT)? Kira-kira sepulangnya aku nanti, Alle masih mau menyusu langsung, atau tersapih?” dan lain-lain yang menciutkan ke-PeDe-an saya. </p>
<p>Tapiii… setelah memikirkan kembali seluruh kebaikan dan manfaat ASI, kok ya sayang banget kalo kita menyerah dan patah semangat. Apalagi setelah membaca berbagai macam referensi tentang pengalaman ibu menyusui yang bepergian jauh dan tidak menyerah untuk terus memberikan ASI buat buah hatinya walaupun harus terpisah jauh. Saya jadi terinspirasi dan berpikir, kalau orang lain aja bisa, saya juga PASTI BISA. Asal yakin dan niat. Itu kuncinya…</p>
<h3>SEBELUM BERANGKAT..</h3>
<h4>PERTAMA: SIAPKAN DIRI..</h4>
<p>Begitu mandat itu datang, hal pertama yang saya lakukan adalah mengejar ketertinggalan stock ASIP saya dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang travelling ke luar negeri sambil membawa ASIP di dalam kabin. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/02/02-sisca-alle-300x210.jpg" alt="Ibu Bekerja tetap ASI" title="Ibu Bekerja tetap ASI" width="300" height="210" class="alignleft size-medium wp-image-182" />Mengingat perjalanan saya ini cukup jauh dan lama (trans-Atlantik ke benua Amerika), saya harus punya ‘sangu’ informasi yang cukup untuk menyimpan dan membawa kembali ASIP saya dengan selamat sampai di rumah..<br />
Mengejar ketertinggalan stok ASIP merupakan hal yang cukup ‘<em>challenging</em>’ buat saya. Kala itu usia Alle 18 bulan dan ‘cadangan’ ASIP saya per hari maksimal 300ml. Untuk meninggalkan Alle sekian hari, saya harus segera berhitung untuk mencukupi kebutuhan ASIP Alle ketika saya jauh darinya. </p>
<p>Dengan 300 ml ASIP, konsumsi ASI Alle tercukupi dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam ketika saya bertemu dengannya lagi di rumah. Untuk itu, jika dalam  24 jam Alle tidak bertemu saya, saya harus menyediakan 400 ml – 500 ml ASIP untuk cadangan jika malam hari Alle terbangun dan ingin minum ASI. </p>
<p>Mengingat tugas ini akan menempuh waktu 10 hari (4 hari perjalanan pulang-pergi dan 6 hari bertugas), dan kebutuhan ASI Alle yang 500 ml sehari, mulailah saya mengatur strategi untuk mengejar kekurangan stok ASIP saya di kulkas. Kebetulan saat itu saya masih memiliki 5 cadangan ASIP @ 120ml. Nah, karena kebutuhannya akan berjumlah 10 hari x 500 ml = 5 Liter ASI, maka saya harus dapat memperbanyak stok ASI saya 8 kali lipat.</p>
<p>WAhh.. stress juga saya. Secara di kantor hanya berhasil memerah 3x, itu saja tidak selalu dapat 120 ml, kadang hanya 80–90 ml. Tapi saya tidak patah arang dan coba atur strategi dengan cara makan makanan yang dipercaya memperbanyak ASI (favorit saya air rebusan kacang hijau dan sayur papaya juga buah papaya-nya), memperbanyak waktu memerah dari 3x menjadi 5x dalam sehari, dan PERCAYA DIRI kalau ASIP saya akan cukup selama pergi. Ternyata strategi yang saya tempuh membuahkan hasil.  Puji Tuhan, 1 hari sebelum keberangkatan kulkas saya sudah penuh dengan ASIP sesuai dengan kebutuhan Alle.</p>
<h4>KEDUA: CARI INFORMASI SEBANYAK MUNGKIN</h4>
<p>Tenang masalah ASI perah, masih bingung masalah BAWA ASI PERAH KEMBALI KE INDONESIA.</p>
<p>Peraturan penerbangan yang MELARANG MEMBAWA CAIRAN LEBIH DARI 100 ML KE DALAM KABIN adalah momok utama ketakutan saya. Teringat lagi, bahwa Negara yang akan saya kunjungi begitu ketatnya menerapkan peraturan ini. </p>
<p>Tapi saya tak habis semangat.  Tanya teman-teman yang pernah bepergian ke luar negeri sambil membawa ASIP, telpon maskapai penerbangan yang akan saya gunakan, dan <em>browsing</em> informasi sebanyak-banyaknya di internet. Walau sedikit menguras tenaga, tapi pencarian itu tak sia-sia.</p>
<p>Saya bertemu dengan web resmi milik <a href="http://www.tsa.gov/">Transportation Security  Administration (TSA)</a> United States of America. Lembaga inilah yang pertama kali mengeluarkan peraturan yang melarang untuk membawa cairan lebih dari 100 ml ke dalam kabin setelah peristiwa WTC 9/11 terjadi. </p>
<p>Puji Tuhan, di bulan Oktober 2006 mereka merevisi peraturan tersebut menjadi lebih BERSAHABAT  bagi ibu-ibu menyusui yang bepergian dengan, atau tanpa anak. Kalau boleh saya kutip, salah satu pasal dari peraturan tersebut berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>“<em>… ibu menyusui yang bepergian dengan atau tanpa membawa bayi/anak dapat membawa AIR SUSU IBU dalam jumlah berapapun ke dalam kabin pesawat selama ibu menyebutkan (declare) bahwa ibu membawa ASI pada setiap security check-point.</em>”<br />
(Sumber: <a href="http://www.tsa.gov/travelers/airtravel/children/formula.shtm">http://www.tsa.gov/travelers/airtravel/children/formula.shtm</a>) </p>
<p>Hal berikutnya yang saya lakukan adalah mencari informasi di hotel tempat saya menginap, apakah saya bisa mendapatkan kamar dengan <em>refrigerator</em> yang memiliki <em>freezer</em> untuk menyimpan ASIP. Untung saja, hotel yang saya tempati bentuknya seperti studio apartemen, sehingga kulkas dengan <em>freezer</em> memang disediakan di masing-masing kamar. Pfffiiiuuuhhh…. ☺</p>
<p>Suatu kelegaan yang luar biasa buat saya setelah berhasil mendapatkan seluruh informasi yang saya perlukan. Saya semakin mantap dan PeDe untuk berjuang membawa oleh-oleh ASIP dari luar negeri untuk Alle tercinta.</p>
<h4>KETIGA: SIAPKAN SEMUA DOKUMEN PENDUKUNG</h4>
<p>Selain Paspor, Visa dan tiket, dokumen-dokumen yang harus disiapkan untuk memperlancar membawa ASIP selama di perjalanan adalah:</p>
<ol>
<li><em>Copy/Print</em> dari peraturan TSA (in case petugas di <em>security check point</em> tidak mengetahui tentang peraturan ini, buat jaga2 saja)</li>
<li>Surat Keterangan Dokter yang menyatakan bahwa kita adalah ibu menyusui yang bepergian</li>
</ol>
<p>Selain itu, kita harus jujur dan menyebutkan semua barang bawaan kita (terutama ASIP) jika melalui <em>security check point</em>.</p>
<h4>KEEMPAT: SIAPKAN ANAK</h4>
<p>Setelah tiga hal diatas berhasil diatasi, akhirnya saya bertemu juga dengan fase yang paling berat: MENYIAPKAN ANAK.</p>
<p>Sejak satu bulan sebelum keberangkatan, saya sudah sering menyinggung-nyinggung soal kepergian saya pada Alle. Misalnya saja pada saat ia bermain, dengan mengajaknya mengobrol:</p>
<blockquote><p>Saya (S): Mas, bulan depan mami kerja di kantor yang jauh loohhhh..<br />
Alle (A): Cuma melirik, terus sibuk dengan mainannya lagi<br />
S	: Mas Alle manis ya, sama papi, utita (eyang putri), kungkungka (eyang kakung) dan hayus  (pengasuhnya)<br />
A	: senyum aja, terus minta ‘cucuacimami’ alias nenen.. hehe..</p></blockquote>
<p>Di waktu lain, saat ia tertidur nyenyak, saya coba bisikkan hal yang sama padanya. Bahwa saya akan pergi ke kantor yang jauh untuk tugas dalam waktu yang lama. Alle manis ya.. Mimik ‘cucuacimami’ sama utita dan kungkungka.. Nanti kalau mami pulang, mas Alle boleh mimik ‘cucuacimami’ langsung lagi.</p>
<p>Begitu terus berulang-ulang. Pokoknya setiap ada kesempatan, saya selalu informasikan pada Alle tentang kepergian saya.</p>
<p>Jangan lupa, sertakan juga Ayah dalam fase ini. Suami yang mendukung, pasti akan membuat kita tenang. Ia akan menjadi figure pengganti kita disaat kita jauh dari rumah, jadi, sertakan juga pada saat kita memberikan informasi kepergian kita.</p>
<p>Satu hal lagi, selain menginformasikan hal-hal tersebut, sebelum berangkat saya juga sengaja membawa baju Alle yang dipakai semalam selama bepergian. Saya juga meninggalkan salah satu baju saya yang sudah dipakai untuk digunakan sebagai selimut Alle di malam hari. Kata orang-orang tua zaman dahulu, bau tubuh ibu (walaupun secara fisik jauh) akan membuat anak tetap nyaman. Sebaliknya, bau tubuh anak akan membuat ibunya pun nyaman. <em>Believe it or not, it works for me</em>. ☺</p>
<h4>KELIMA: YAKINKAN DIRI KITA, BAHWA SEMUA AKAN AMAN DAN TERKENDALI</h4>
<p>Ini juga fase yang sulit buat saya. Karena terbiasa mengurus semuanya sendiri, terutama hal-hal yang berkaitan dengan keperluan Alle, saya tidak mudah percaya dengan orang lain, even itu suami saya sendiri. </p>
<p>Tapii… kita harus bisa percaya, apalagi dengan kasus seperti yang saya alami – harus pergi jauh dari rumah dalam jangka waktu yang relatif lama. Salah satu cara mengatasi kecemasan saya akan hal ini adalah saya membuat list semua keperluan Alle, dari menu makan tiap hari, jam memberikan ASIP di malam hari (karena kalau siang relative sudah oke, karena rutin), penanganan pertama apa yang harus dilakukan kalau Alle tiba-tiba panas/batuk/pilek, dan hal-hal lainnya. </p>
<p>List ini saya berikan pada orang tua saya (yang setiap hari kami titipi Alle) serta suami saya. <em>In case</em> sesuatu yang sangat <em>emergency</em>, mereka bisa menghubungi saya via telp hotel/hp (yang sengaja saya aktifkan saluran internasional-nya).</p>
<h4>KEENAM, SIAPKAN PERALATAN ‘PERANG’</h4>
<p>Peralatan perang yang saya maksud disini bukan untuk perang beneran loh, tapi lebih ke peralatan memerah ASI. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/02/02-peralatan-perang.jpg" alt="Peralatan Perang" title="Peralatan Perang" width="270" height="223" class="alignright size-full wp-image-185" />Karena saya nyaman memerah dengan menggunakan tangan, maka peralatan yang saya siapkan antara lain sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>1 (satu) buah <em>cooler bag</em> ukuran besar (bentuknya kebetulan seperti ransel, sehingga mudah dibawa)</li>
<li>3 (tiga) buah <em>ice gel</em> dan 4 (empat) buah <em>ice packs</em>. (catatan: <em>ice gel</em> tahan 12-18 jam, <em>ice packs</em> tahan sekitar 8 jam)</li>
<li>25 (dua puluh lima) buah plastik ASI</li>
<li>2 (dua) buah Tupperware ukuran besar (untuk menyimpan plastic ASI di kulkas/<em>cooler bag</em>)</li>
<li>3 (tiga) buah botol ASI dan <em>tablet cold sterilizer</em></li>
</ul>
<h4>DALAM PERJALANAN</h4>
<p>Akhirnya, tiba juga hari yang ditunggu. Hari dimana saya akan berangkat meninggalkan rumah dan Alle tercinta saya. Walau sudah dengan berbagai persiapan sebelum berangkat, tetap saja berurai air mata ketika melihat Alle melambaikan tangan pada saya. Alle-nya sih, oke-oke saja. Tapi ternyata saya yang lebih tidak siap berpisah dengannya.</p>
<p>Sambil terus menenangkan hati, saya mulai atur strategi pemerahan di dalam perjalanan. Kebetulan kota tujuan akhir saya adalah San Diego, California. Untuk sampai kesana, saya harus transit 3 kali dan 3 kali pula berganti pesawat. Transit di Singapura memakan waktu 6 jam, di Tokyo 45 menit dan di Seattle 45 menit. Dengan demikian saya dapat memerah 2 kali di Singapura, 1 kali di Tokyo dan 1 kali di Seattle.</p>
<p>Sesampainya di Singapura, rencana saya tidak berjalan dengan mulus. Karena harus mencari tempat untuk check in dahulu (kebetulan dengan noraknya saya sedikit tersesat di Changi.. hehe..) dan confirm transit lounge, jadilah saya hanya memerah 1x. Waktu itu ASI yang diperoleh 100ml (masih aman di bawa ke kabin), jadi saya tidak perlu men-declare apapun ketika boarding menuju Tokyo Jepang. </p>
<p>Perjalanan ke Tokyo menempuh waktu 7 jam perjalanan dan sialnya, saya tidak bisa memerah karena tidak ada tempat yang nyaman. Jadi saya putuskan untuk memerah di Tokyo. Sesampainya di Tokyo, sialnya lagi, saya juga tidak bisa memerah, karena waktu pemeriksaan di <em>security check point</em> terlalu lama, sehingga saya harus langsung boarding menuju Seattle. Payudara sudah mulai sedikit bengkak dan sakit. Akhirnya saya putuskan untuk memerah sedikit di toilet, tapi tidak sampai mengosongkan payudara. Yang penting tidak menyebabkan payudara bengkak (<em>breast engorgement</em>).</p>
<p>Perjalanan dari Tokyo ke Seattle menempuh waktu 8 jam. Saya cukup ‘teler’ di perjalanan, sehingga tidak juga memerah. Sesampainya di Seattle, setelah melalui pemeriksaan di Imigrasi dan melakukan ‘custom clearance’ saya harus langsung pergi ke San Diego, tanpa (lagi-lagi) sempat memerah. Perjalanan dari Seattle ke San Diego menempuh waktu 3 jam. Pada saat itu, Payudara sudah terasa sangat sakit, muncul benjolan-benjolan kecil, yang menandakan ASI sudah sangat banyak, tapi juga tidak dikeluarkan.</p>
<p>Ternyata, apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Sesampainya di hotel di San Diego, saya cek payudara saya dan ternyata benar, sudah keras alias bengkak. Mulai lah sesi kompres panas-dingin, pijat dan perah. Puji Tuhan, semua benjolan hilang semua. Hari itu, saya memerah banyak sekali, hampir 350 ml ASI sekali perah.</p>
<h4>SAAT MENJALANKAN TUGAS</h4>
<p>Kebetulan tugas yang dimandatkan pada saya selama berada di luar negeri adalah mengikuti konferensi manajemen serta melakukan <em>benchmarking</em> implementasi <em>management tools</em> di sana.</p>
<p>Setelah mengecek agenda acara selama di sana, saya atur strategi untuk memerah lagi. Ternyata, melakukan sesi perah seperti di kantor dapat dilakukan. Jadi aman, saya bisa memerah 3x di tempat kerja selama berada di San Diego.</p>
<p>Kebetulan sekali, San Diego sangat mendukung ibu untuk memberikan ASI. Di tempat konferensi dan tempat kerja terdapat <em>nursery room</em> dengan fasilitas yang baik, sehingga sesi perah memerah dapat dilalui dengan menyenangkan.</p>
<p>Untuk menyimpan ASI perah saya selama bekerja, <em>cooler bag</em> tercinta selalu saya bawa, termasuk <em>ice packs</em> dan <em>ice gels</em> nya.</p>
<h4>SAAT KEMBALI KE TANAH AIR</h4>
<p>Dalam 6 hari, tugas saya selesai. Berarti saatnya kembali ke rumah. Tak terasa, 20 plastik ASI bisa saya kumpulkan, masing-masing isinya 125 ml. </p>
<p>Itu berarti, saya harus atur kembali strategi untuk membawa ASIP kembali ke Indonesia, mengingat bawaan likuid saya sudah melebihi kuota yang ditentukan dan waktu transit yang harus saya lalui.</p>
<p>Untuk membawa ASIP kembali ke Indonesia, saya sengaja membeli beberapa <em>ice-packs</em> lagi untuk memastikan ASIP tetap dalam kondisi dingin. Karena saya akan melalui waktu 24 jam selama perjalanan, saya perlu memastikan bahwa seluruh <em>ice packs</em> dan <em>ice gel</em> saya akan cukup dingin sampai Jakarta. </p>
<p>Sengaja saya bekukan 10 kantong ASIP hasil perahan awal perjalanan dan 10 kantong ASIP lagi saya biarkan dingin (alias berada di kulkas bawah). Tujuannya adalah supaya 10 ASIP beku dapat langsung dikonsumsi Alle sesampainya di Jakarta, dan 10 lagi yang masih cair dapat saya bekukan ketika sampai di Jakarta. </p>
<p>Karena sudah dapat membaca situasi di dalam perjalanan, pengaturan strategi saya kali ini terasa lebih ringan dan mudah untuk dijalankan. Untuk itu saya memutuskan untuk memerah 1x sebelum berangkat ke airport, 1x ketika transit di Seattle, 1x ketika transit di Tokyo dan 2x ketika transit di Singapore. Modalnya, saya harus disiplin dan on-time pada saat memerah. Saya tidak mau mengulangi kesalahan pertama saya ketika berangkat, yang mengakibatkan saya terkena mastitis ringan. </p>
<p>Puji Tuhan, seluruh strategi perah saya berhasil dilalui dengan baik. Selama perjalanan panjang dan transit, saya dapat mengumpulkan 5 kantong ASIP lagi yang isinya masing-masing 150 ml. </p>
<p>Hal terakhir yang saya lakukan sebelum boarding menuju pesawat yang membawa saya ke Jakarta adalah menelpon suami saya untuk membawakan <em>cool box</em> penuh dengan es batu (karena persediaan <em>ice gels</em> dan <em>ice packs</em> saya bawa semua) untuk memindahkan ASIP bawaan saya ke <em>cool box</em> tersebut. </p>
<h4>KEMENANGAN YANG BERBUAH MANIS</h4>
<p>Setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya sampai juga saya di rumah. Begitu melihat Alle berjingkrak gembira melihat saya pulang, rasanya seluruh lelah dan letih saya menguap begitu saja.</p>
<p>Saya begitu rindu mendekap, memeluk dan menciuminya. Begitu melihat matanya, saya tahu bahwa ia pun merindukan saya. Yang membuat saya begitu terharu melihatnya adalah saya berhasil berjuang membawa oleh-oleh ASIP untuknya.</p>
<p>ASIP saya pun, Puji Tuhan, semua berada dalam kondisi yang baik. ASIP beku yang telah mencair segera dikonsumsi oleh Alle, sementara ASIP dingin yang cair segera saya bekukan di <em>freezer</em>. </p>
<p>Dalam perjalanan kali ini, saya merasa benar-benar MENANG, karena semua hal yang saya perjuangkan berbuah manis. </p>
<h3>AKHIRNYA..</h3>
<p>Sharing yang panjang ini sebetulnya bertujuan untuk memotivasi seluruh ibu menyusui, terutama mereka yang bekerja dan seringkali dihadapkan pada tugas-tugas kantor di luar kota/luar negeri untuk terus berjuang memberikan ASI.</p>
<p>Jangan ada kata menyerah dalam perjuangan mu, moms. Karena di garis finish nanti, kita juga yang akan memetik manisnya buah perjuangan kita.</p>
<p>ASI Rocks!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/02/dinas-luar-negeri-tak-masalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menyusui Ketika Puasa</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/08/tips-menyusui-ketika-puasa/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/08/tips-menyusui-ketika-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 14:54:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Tricks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan sudah dekat. Bagaimana dengan para ibu hamil dan ibu yang masih menyusui bayinya? Jika berpuasa, bagaimana dengan kualitas ASI sang ibu? Yuk, mari lihat tip dan trik berpuasa bagi ibu hamil dan menyusui.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>ASI Lancar, Puasa pun Tak Lewat</h3>
<p>Bulan Ramadhan telah tiba. Bulan penuh ibadah bagi umat muslim di dunia. Salah satu ibadah yang wajib dilakukan setiap muslim yang telah baligh (cukup umur) adalah berpuasa. Nah, bagaimana dengan ibu hamil dan menyusui?</p>
<p>Puasa Ramadhan hukumnya tetap wajib bagi ibu hamil dan menyusui. Alhamdulillah, Islam memberikan kelonggaran bagi ibu hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa dengan berpuasa di lain waktu atau membayar fidyah.</p>
<p>Yang pertama, dikembalikan kepada motivasi atau niat. Jika ibu hamil dan menyusui tidak melakukan ibadah puasa karena mengkhawatirkan kesehatan dirinya, maka dia menganggap dirinya seperti orang sakit. Sehingga cara mengganti puasa sama dengan mengganti puasa dikala orang sakit, yaitu dengan berpuasa di hari lain. Namun, jika mengkhawatirkan bayinya, dianggap seperti orang tua yang tak punya kemampuan sehingga cara menggantinya selain membayar puasa-seperti cara orang tua-yaitu dengan membayar fidyah.</p>
<p>Yang kedua, ibu hamil atau menyusui cukup membayar fidyah saja tanpa harus berpuasa. Karena keduanya tidak berpuasa bukan karena sakit, melainkan karena keadaan yang membuatnya tidak mampu puasa. Kasusnya lebih dekat dengan orang tua yang tidak mampu berpuasa.</p>
<p>Apa dan bagaimana cara membayar Fidyah? Fidyah adalah memberi makan orang fakir miskin. Satu hari puasa diganti dengan satu kali fidyah. Ukuran memberi makan adalah sebesar porsi kita makan 3 kali sehari, yakni sekitar 1 mud atau 600 gram. Jika dirupakan uang, sebesar biaya kita makan 3 kali sehari.</p>
<p>Ketika memberikan fidyah, ada tata caranya juga. Salah satu yang harus diingat adalah jangan lupa mengucapkan berita serah terima/ijab kabul. Misalnya &#8220;Saya membayar fidyah kepada saudara, mohon diterima dengan baik&#8221;. Jika meminta orang lain yang menyerahkan maka, &#8220;Ibu A membayar fidyah kepada saudara, mohon diterima dengan baik&#8221;.</p>
<p>Nah, bagi ibu menyusui yang ingin berpuasa bagaimana? Selama kondisi ibu dan bayi sehat, maka diperbolehkan berpuasa. Namun, jika dikuatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya kekurangan gizi, produksi ASI berkurang, sakit, dan lain sebagainya, maka Islam menyarankan untuk tidak berpuasa.</p>
<h3>Manajemen Laktasi Ibu Menyusui Yang Sedang Berpuasa</h3>
<p>Dengan perubahan jadwal makan, bukan berarti asupan makanan yang dikonsumsipun ikut berubah. Yang penting, ibu menyusui tetap makan 3 kali sehari dan secara disiplin mengkonsumsi makanan dengan gizi berimbang, yaitu dengan komposisi 50% karbohidrat, 30% protein dan 10-20% lemak.</p>
<p>Kemudian, hal-hal berikut dapat dilakukan untuk memastikan bahwa produksi ASI selama ibu berpuasa tetap lancar dan berkualitas:</p>
<ol>
<li>Asupan menu dengan gizi seimbang</li>
<p>Ibu yang sedang menyusui memang membutuhkan tambahan sekitar 700 kalori perhari, 500 kalori diambil dari makanan ibu dan 200 kalori diambil dari cadangan lemak dalam tubuh ibu. Oleh karena itu, penting bagi ibu menyusui yang sedang berpuasa untuk tetap mempertahankan pola makan 3x sehari dengan menu gizi seimbang. Pada saat sahur, ketika berbuka puasa dan menjelang tidur sesudah shalat tarawih. Makan sahur akan menghasilkan energi yang berguna untuk aktivitas kita hari itu. Komposisi makanan dengan gizi berimbang akan menghasilkan sari makanan yang bagus untuk anak.</p>
<li>Perbanyak konsumsi cairan, mulai dari berbuka hingga sahur</li>
<p>Jika bisa minum air putih selama sehari itu sebanyak dua liter, ditambah dengan jenis cairan lainnya seperti juice buah, teh manis hangat dan susu. Minum segelas susu setiap sahur bisa mengurangi ancaman anemia bagi ibu hamil dan menyusui. Anemia adalah berkurangnya kadar hemoglobin (Hb) dalam darah. Berbuka puasa dengan minum minuman hangat, akan merangsang kelancaran ASI bagi ibu menyusui.</p>
<li>Istirahat yang cukup</li>
<p>Merasa lemas saat berpuasa itu hal yang lumrah, apalagi jika si ibu baru saja menyusui. Cobalah untuk beristirahatlah sejenak, apakah dengan cara tidur atau sekadar relaks menenangkan pikiran. Perlu ibu menyusui ketahui, bahwa semakin sering payudara dihisap oleh bayi, maka produksi ASI akan semakin banyak. Jadi, bila selama puasa ibu tetap rajin menyusui, ASI akan tetap lancar.</ol>
<h3>Ibu Bekerja</h3>
<p>Ibu bekerja yang memerah ASI di tempat kerjanya disarankan untuk tetap melakukan kegiatan memerah ASI seperti biasa dengan tetap memperhatikan tips-tips seperti yang sudah disebutkan diatas ini. Kembali berpegang pada prinsip demand and supply, semakin banyak ASI dikeluarkan maka semakin banyak ASI yang akan diproduksi. Apabila ibu menyusui yang biasa memerah menghentikan kegiatan memerahnya selama bulan puasa, maka ASI yang diproduksi dapat berkurang, yang bukan disebabkan oleh kegiatan berpuasa tetapi karena mengurangi kegiatan memerah tadi.</p>
<p>Bagaimanapun, mendapatkan ASI adalah hak bayi. Jadi, dahulukan kepentingan bayi. Untuk ibu yang memiliki bayi di bawah 6 bulan, memang dianjurkan untuk tidak berpuasa karena bayi sedang dalam tahap ASI Eksklusif dan belum memperoleh makanan tambahan apapun kecuali ASI.</p>
<p>Selamat menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan dan salam ASI!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/08/tips-menyusui-ketika-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>57</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Menyikapi Kritik Orang Lain tentang ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2007/11/bagaimana-menyikapi-kritik-orang-lain-tentang-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2007/11/bagaimana-menyikapi-kritik-orang-lain-tentang-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Nov 2007 13:37:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Tricks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Memberikan ASI saja kepada anak selama 6 bulan dan dilanjutkan terus hingga 2 tahun sering kali gagal dilakukan oleh para ibu. Sedihnya sering kali ini disebabkan oleh kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar seperti keluarga. Bagaimana menyikapi tanggapan 'negatif' mereka? Coba ikuti tip dan trik berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Pengantar</h3>
<p>Sangat disayangkan, banyak ibu menyusui yang akhirnya harus melawan kritik dari pihak lain mengenai pilihan mereka untuk menyusui. Kritik dari orang tak dikenal bisa datang sesekali, namun kritik tipe ini masih lebih mudah untuk dihadapi. Yang tersulit adalah kritik dari kalangan keluarga atau pihak yang dekat dengan si ibu.</p>
<p>Terkadang orang-orang yang dekat dengan kita – terutama orang tua kita sendiri – merasa bahwa pilihan lain dalam pola pengasuhan anak, adalah bukti penolakan kita akan pola asuh mereka dulu. Mereka akan merasa menerima pola asuh yang kita lakukan sekarang akan sama dengan mengakui pola asuh mereka dulu adalah salah.</p>
<p>Ada baiknya kita jelaskan dari awal, apapun yang kita pilih dalam pola asuh anak kita bukan berdasarkan pengalaman kita masa kecil, tetapi merupakan pilihan setelah menerima banyak informasi lain yang kita peroleh dan kita berhak memilih apa yang terbaik untuk anak dan keluarga kita.</p>
<p>Harap selalu kita ingat bahwa anggota keluarga dan teman dekat yang membuat komentar negatif tentang ASI biasanya melakukan itu karena mereka peduli dengan kita dan anak kita, walaupun komentar mereka tidak tepat atau kurang enak didengar.</p>
<p>Informasi ini dibuat untuk menyikapi kritik tentang ASI, namun teknik dan cara ini bisa juga diaplikasikan di persoalan lain dalam topik pengasuhan anak.</p>
<h3>Teknik-teknik dalam menyikapi kritik</h3>
<ol>
<li>Edukasi</li>
<p>Banyak orang tidak sadar bahwa memberikan ASI adalah sangat menguntungkan bagi ibu dan anak. Mereka juga tidak tahu bahwa ada banyak sekali riset yang mendukung pemberian ASI berkelanjutan – terutama kelebihan ASI dari segi medis. Coba jelaskan <em>fakta-fakta dari penelitian-penelitian</em> tentang kelebihan ASI. Print beberapa materi tentang ASI dan letakkan di beberapa tempat di dalam rumah, misalkan di kamar mandi, atau ruang keluarga. Perlahan minta orang yang mengkritik anda untuk membaca artikel tersebut – bukan untuk diajak berdebat, namun untuk diajak berpikir kembali apa yang terbaik untuk anak anda.</p>
<li>Merespon pada komentar yang spesifik</li>
<p>Coba cari tahu lebih jauh kenapa mereka merasa menyusui adalah sebuah masalah – dengan begitu kita bisa langsung merespon dan mengoreksin informasi yang salah. Apakah mereka merasa pemberian ASI tidak memberikan keuntungan apa pun ke bayi? Apakah mereka khawatir akan komentar orang lain? Apakah mereka pernah membaca penelitian-penelitian seputar ASI? Apakah mereka pernah bertemu dengan keluarga lain yang menyusui anak-anaknya sampai lebih dari satu tahun?</p>
<li>Beritahu mereka perasaan Anda terhadap komentar-komentar mereka</li>
<p>Mungkin akan sangat membantu jika kita bisa saling bicara dari hati ke hati dengan seseorang yang memiliki prasangka negatif tentang ASI. Individu yang tidak suportif ini bisa kita beritahu bagaimana komentar mereka juga <em>menyakiti</em> anda dan anak anda (terutama jika anak anda sudah agak besar), dan anda mengharapkan mereka untuk bisa <em>berhenti</em> memberikan komentar negatif. Anak-anak seringkali bisa memahami banyak hal diluar dugaan kita, dan komentar negatif bisa membingungkan dan membuat mereka kesal. Kata-kata anda bisa membantu ini, atau paling tidak mencegah orang lain untuk mengkritik pilihan anda dalam menyusui.</p>
<li>Kutiplah dari pihak yang berwenang</li>
<p>Ada orang-orang yang mungkin tidak akan percaya jika anda yang bicara, tapi mereka akan dengar jika yang menyampaikan itu adalah dokter atau tenaga medis. Bilang saja bahwa dokter anak anda merekomendasikan anda untuk terus menyusui anak anda. Jika dokter anda sangat mendukung pemberian ASI, jika diperlukan ajak pihak yang kurang suportif tersebut pada saat anda berkonsultasi dengan dokter anda, sehingga dia bisa mendengar sendiri pernyataan dari dokter tesebut. The American Academy of Pediatrics merekomendasikan pemberian ASI sampai 12 bulan dan dilanjutkan sampai kedua belah pihak masih ingin melanjutkan. Sedangkan WHO merekomendasikan pemberian ASI paling tidak 2 tahun.</p>
<li>Buat lelucon tentang menyusui</li>
<p>Terkadang lelucon bisa menjadi cara yang efektif untuk menyingkirkan komentar negatif. Kita bisa aja membuat lelucon seperti, &#8220;Jangan takut&#8230; Aku tidak akan terus-terusan sekamar dengan anak saya sampai dia kuliah kok!&#8221;</p>
<li>Menghindar dari topik ASI</li>
<p>Salah satu cara untuk mengatasi kritik adalah menghindari topik pembicaraan seputar ASI. Jika isu ini diangkat, usahakan ganti topik dengan sopan. Coba pindah ke ruangan lain untuk menyusui untuk menghindari atau meminimalisir komentar-komentar yang ditujukan kepada anak anda.</p>
<li>Menjadikan subyek ASI ini sebagai bahan yang tidak bisa diargumentasikan</li>
<p>Sebagian orangtua (terutama orangtua yang sering berhadapan dengan banyak orang yang menentang ASI) menemukan cara yang ekektif untuk menolak berargumen tentang hal ini dalam kondisi apa pun. Terkadang kita sebaiknya menyatakan dengan baik-baik namun tegas, &#8220;Ini adalah anak saya dan saya harap kita tidak usah membicarakan bagaimana saya mengasuh anak saya lagi.&#8221; Jika mereka MASIH membahas topik ASI ini, jawablah dengan jawaban yang sama atau &#8220;Ini adalah pola asuh yang sudah kami lakukan di rumah tangga kami&#8221;) sampai mereka menyadari bahwa topik ini sudah tidak bisa didiskusikan lagi. Jika cara ini masih tidak bisa dilakukan, sebaiknya anda <em>pergi atau menjauh</em>.</p>
<li>Bagaimana jika semua cara sudah dicoba dan masih tidak bisa?</li>
<p>Ketika anda bersedia untuk berdebat mengenai topik ASI ini, maka beberapa orang akan merasa mereka punya kesempatan untuk membuktikan bahwa kita salah—dan ini akan dijadikan alasan untuk mereka untuk terus mencari alasan. Terkadang ada orang-orang sebenarnya tidak ingin mendengarkan alasan kita, tapi mereka hanya ingin kita &#8220;merasa capek dan mengalah&#8221; untuk mengikuti kemauan mereka. Jika ini hanya respons emosional dari orang-orang itu, dan mereka tidak bisa memberikan alasan yang logis mengenai ini (atau terus menerus mencari alasan-alasan jelek lainnya dari setiap kali kita memberikan penjelasan, tanpa dia mau mendengarkan dengan jelas pernyataan dari anda), maka ada baiknya jika kita menyikapi ini dengan humor atau menghindari pembicaraan seputar ASI, atau tekankan bahwa kita tidak ingin membicarakan ini.</p>
<p>Dengan percaya diri, tunjukkan semua sanggahan anda dengan cara yang diplomatis (tergantung dengan siapa anda bicara). Dan ketika mereka menyadari bahwa kita sudah sangat mantap dengan pilihan kita ini, maka bisa jadi mereka akan menyerah atau paling tidak menurunkan intonasi. Ulangi semua pernyataan yang anda ketahui setiap topik ini diangkat. Mudah-mudahan suatu saat semua akan berlalu.
</ol>
<p>Kalimat-kalimat sakti yang bisa digunakan untuk menjawab kritik orang lain akan ASI:</p>
<ul>
<li>&#8220;Ooh sungguh menarik ya&#8230; Bagaimana Anda bisa berpikir seperti itu?&#8221;</li>
<li>&#8220;Pola asuh yang saya lakukan adalah pola asuh yang saya rasa tepat untuk keluarga saya&#8221;</li>
<li>&#8220;Saya menghargai opini dan pendapat Anda, tetapi saya sudah memikirkan ini dengan matang dan saya telah banyak membaca dan melakukan riset mengenai ini dan tekad saya sudah bulat. Saya dengan senang hati menghargai dan mau mendengarkan pendapat Anda, dan saya harap Anda melakukan yang sebaliknya – dan ini adalah keputusan saya.&#8221;</li>
<li>&#8220;sebagai ibu dari anak ini, dan setelah saya banyak belajar mengenai pentingnya ASI, maka saya yakin dengan sepenuh hatu bahwa ini adalah yang terbaik untuk anak saya. Jika Anda mencintai saya dan bayi ini, harap mendukung pilihan saya ini.&#8221;</li>
<li>&#8220;Anda tahu kan di dunia kedokteran selalu saja ada rekomendasi yang berbeda-beda seputar pemberian nutrisi. Nah, rekomendasi yang sekarang dan saat ini digalakkan adalah pemberian ASI – ini terbukti yang terbaik dan saya merasa nyaman dan senang dengan memberikan ASI.&#8221;</li>
<li>Ketika anak sudah mendapatkan MPASI, bilang saja &#8220;saya sudah mulai menyapih pelan-pelan kok&#8230;&#8221; (walaupun proses pemberian MPASI kan bisa berlangsung bertahun-tahun sesuai keinginan ibu dan anak)</li>
<li>&#8220;Ini adalah metode yang keluarga kami lakukan selama ini, dan kami tidak berniat mengubahnya&#8221; (ketika kita sudah mengeluarkan alasan ini, maka dianggap pembicaraan selesai)</li>
<li>&#8220;Kenapa saya harus menggantikan ASI saya dengan sesuatu yang mahal dan secara nutrisi dan imunitas tidak sebaik ASI?&#8221; (hati-hati menggunakan pernyataan ini dan perhatikan baik-baik lawan bicara anda).</li>
<li>Jawaban untuk para orang tua kita:
<ul>
<li>&#8220;sekarang saya sudah menjadi seorang ibu juga, saya sangat menghargai apa yang sudah Ibu/Ayah lakukan untuk saya dan saya sangat berterimakasih atas semua saran dan bantuannya selama ini. Akan sangat membantu jika Ibu/Ayah turut mendukung saya dalam memberikan ASI untuk buah hati saya, karena dukungan kalian akan sangat berarti buat kami berdua.&#8221;</li>
<li>&#8220;bukannya saya menyesali keputusan Ibu untuk tidak menyusui saya dulu – Saya yakin Ibu sudah memberikan yang hal yang tepat untuk saya dulu. Dan sekarang biarkan saya menentukan apa yang tepat untuk saya dan anak saya.&#8221;</li>
<li>Teknik ”sandwich” biasanya biasanya efektif juga untuk digunakan:
<ul>
<li>Katakan pujian diawal lalu: &#8220;Saya sangat senang kamu di sini bersama anak saya; Anak saya beruntung sekali mempunyai Nenek sepertimu; Oh, kamu memang nenek yang baik dan hebat.&#8221;</li>
<li>Lalu selipkan pernyataan yang ingin kita sampaikan: &#8220;Sebenarnya saya sedih sekali jika ada orang yang mengkritik pilihan dan rekomendasi dokter saya dalam memberikan ASI.&#8221;</li>
<li>Lalu katakan kalimat yang manis lagi, seperti: &#8220;Ini membuat saya sedih jika kamu tidak bisa menerima saya memberikan ASI, karena saya yakin Ibu mencintai anak saya, dan anak saya pasti juga menginginkan ada nenek yang baik mendampinginya.&#8221;</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><strong>Sumber</strong>: Kelly Bonyata, IBCLC (diterjemahkan bebas oleh Nia Umar)</p>
<p><strong>Artikel ini boleh diambil dan disebarluaskan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari AIMI, dengan syarat bahwa TIDAK digunakan dalam rangka pelanggaran Kode Etik WHO mengenai makanan-makanan pengganti ASI.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2007/11/bagaimana-menyikapi-kritik-orang-lain-tentang-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

