<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; susu formula</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/susu-formula/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:50:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Koalisi Advokasi ASI Dialog bersama Media</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-koalisi-advokasi-asi-dialog-bersama-media/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-koalisi-advokasi-asi-dialog-bersama-media/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 03:38:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farahdibha Tenrilemba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=780</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta (09/06/2010) – Memberikan ASI memang menjadi perjuangan tersendiri bagi banyak ibu. Mulai dari minimnya dukungan terhadap ibu menyusui, baik dari keluarga, tenaga dan fasilitas kesehatan, pemerintah, masyarakat, maupun iklan-iklan produk susu formula yang begitu dahsyatnya. Ada ibu yang berhasil melalui semua tantangan yang dihadapi, namun banyak pula yang tidak berhasil. Hal ini seharusnya menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta (09/06/2010) – Memberikan ASI memang menjadi perjuangan tersendiri bagi banyak ibu. Mulai dari minimnya dukungan terhadap ibu menyusui, baik dari keluarga, tenaga dan fasilitas kesehatan, pemerintah, masyarakat, maupun iklan-iklan produk susu formula yang begitu dahsyatnya. Ada ibu yang berhasil melalui semua tantangan yang dihadapi, namun banyak pula yang tidak berhasil. Hal ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak – baik pemerintah, dinas kesehatan, pemberi kerja (pengusaha/perkantoran), dan keluarga.</p>
<p>Sayangnya belum banyak pihak yang memahami tentang keunggulan menyusui dan pemberian ASI pada bayi. Belum bayak pula yang mengetahui resiko dari pemakaian susu formula dan bahwa terdapatnya peraturan yang mengatur pemasaran dari produk-produk pengganti ASI.</p>
<p>Melihat fenomena seperti ini, Unicef dan organisasi-organisasi yang tergabung dalam Koalisi Advokasi ASI (AIMI, WHO, MERCY CORPS, SELASI, PERINASIA, HKI, KAKAK, Klasi-YOP, IBCLC Indonesia, dan YLKI) menggelar acara “Dialog bersama Media” mengenai Kode Etik Pemasaran Susu Pengganti ASI di Hotel Intercontinental, hari Rabu 9 Juni 2010.</p>
<p>Pada acara ini, dikemukakan tentang apa itu kode etik pemasaran susu pengganti ASI dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan terhadap kode etik tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat luas akan kode etik tersebut, guna meningkatkan angka ibu menyusui dan bayi yang mendapatkan ASI di Indonesia.</p>
<p>Tidak luput juga, akan terdapat pemaparan tentang situasi regulasi ASI dan pemasaran susu pengganti ASI di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar terdapat Kebijakan tertulis mengenai Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yang menjabarkan secara mendetail bentuk-bentuk dukungan fasilitas dan tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat.</p>
<p>Menurut salah satu anggota dari Koalisi, Agus Pambagyo, “Pelanggaran kode etik pemasaran susu formula di Indonesia adalah yang terbesar. Ini yang harus segera ditindak, jika kita ingin Indonesia memiliki generasi penerus bangsa yang lebih cerdas, sehat dan berakhlak baik.”</p>
<p>“Kami berharap, jurnalis dapat berperan sebagai perpanjangan tangan dari penyebaran informasi mengenai pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dan dampak negatif dari pemakaian susu formula pada anak-anak kita” seperti dikatakan Mia Sutanto, ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang juga anggota dari Koalisi Advokasi ASI. </p>
<p>Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi:</p>
<p>Koalisi Advokasi ASI Indonesia:  </p>
<p><strong>Kakak Foundation</strong><br />
Agus Pambagio<br />
Telp: 0271.716347 , 0271. 700145371, +62811802001<br />
pambagio@yahoo.com </p>
<p><strong>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)</strong><br />
Mia Sutanto SH, LL.M, KL<br />
Telp: 021.72790165, +6281510002584<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org </p>
<p><strong>Sentra Laktasi Indonesia (SELASI)</strong><br />
Dr.Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM<br />
Jl. Tebet Utara 1F no 12<br />
Telp: 021.83795168<br />
kontak@selasi.net </p>
<p><strong>Mercy Corps Indonesia</strong><br />
dr. Fransiska E. Mardiananingsih MPH, IBCLC<br />
Telp: 021.7194948<br />
fningsih@id.mercycorps.org </p>
<p><strong>Helen Keller International &#8211; Indonesia</strong><br />
Elviyanti Martini, MSc.<br />
Telp: 021.7199163<br />
emartini@hki.org </p>
<p><strong>World Health Organization (WHO)</strong><br />
Sugeng Eko Irianto, Ph.D<br />
Bina Mulia I, Floor 9.<br />
Jl. HR. Rasuna Said Kav. 10-11Jakarta 12950<br />
Telp : 021.5204349  </p>
<p><strong>Yayasan Orangtua Peduli (YOP) </strong><br />
Klub Peduli ASI<br />
Markas Sehat, Komp PWR No.60<br />
Jl Margasatwa Jakarta </p>
<p><strong>Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)</strong><br />
Pancoran Barat VII No. 1<br />
Duren Tiga, Jakarta 12760<br />
Telp: 021.7981858</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Siaran Pers ini telah dibaca 571 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-koalisi-advokasi-asi-dialog-bersama-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bincang ASI Bersama AIMI Episode 1</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/bincang-asi-bersama-aimi-episode-1/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/bincang-asi-bersama-aimi-episode-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 08:46:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=763</guid>
		<description><![CDATA[AIMI bekerjasama dengan QTV dan PT. Indo Tambang Megahraya, mempersembahkan acara talkshow yang berjudul 'Bincang ASI bersama AIMI'. Episode perdana ini mengangkat tema 'Bahaya Susu Formula pada Bayi' dengan narasumber dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" width="437" height="348" id="viddler_2ebeba03"><param name="movie" value="http://www.viddler.com/simple/2ebeba03/" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><embed src="http://www.viddler.com/simple/2ebeba03/" width="437" height="348" type="application/x-shockwave-flash" allowScriptAccess="always" allowFullScreen="true" name="viddler_2ebeba03"></embed></object></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Video ini telah dilihat 225 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/bincang-asi-bersama-aimi-episode-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Seminar Ustadz dan Ustadzah</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-seminar-ustadz-dan-ustadzah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-seminar-ustadz-dan-ustadzah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 02:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadz]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta (23/05/2010) – Berangkat dari tujuan, visi dan misi untuk meningkatkan prosentasi angka ibu menyusui di Indonesia, di ulang tahunnya yang ke-3 ini, kali ini Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) meluncurkan program baru, yaitu Seminar Ustadz dan Ustadzah yang mengangkat topik “Efek Samping Pemberian Susu Formula Pada Bayi dan ASI Sebagai Solusinya, Ditinjau dari Sisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta (23/05/2010) –  Berangkat dari tujuan, visi dan misi untuk meningkatkan prosentasi angka ibu menyusui di Indonesia, di ulang tahunnya yang ke-3 ini, kali ini Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) meluncurkan program baru, yaitu Seminar Ustadz dan Ustadzah yang mengangkat topik  “Efek Samping Pemberian Susu Formula Pada Bayi dan ASI Sebagai Solusinya, Ditinjau dari Sisi Medis dan Hukum Syariah”.</p>
<p>AIMI melihat bahwa perkataan, tindakan dan nasihat para tokoh masyarakat dan pemuka Agama selalu memiliki pengaruh dalam masyarakat. Peran mereka dalam menyebarluaskan berbagai kebijakan, ilmu yang berguna, dan ajaran yang berlaku, begitu besar. Salah satunya adalah dalam hal pemberian ASI dan menyusui yang tertera pengaturannya pada Al Qur’an. “Peran serta tokoh agama dapat menjadi salah satu kunci keberhasilan menyusui, karena mereka dapat meyakinkan nilai kebaikan dari pemberian ASI dari sisi syariahnya. Dengan seminar ini diharapkan para tokoh agama mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai ASI dari sisi medis sehingga perpaduan itu dapat menyempurnakan dan saling melengkapi agar supaya tidak terjadi informasi yang menyesatkan dikemudian hari pada masyarakat haruslah menjadi partner/rekan dekat dalam menyebarkan informasi mengenai ASI. Seperti yang kita ketahui, bahwa kebanyakan masyarakat lebih percaya pada perkataan tokoh agama/tokoh masyarakat yang dihormati dibandingkan dengan perkataan para tenaga kesehatan atau ahli laktasi. Oleh karena itu, jika informasi mengenai ASI diberikan oleh para tokoh masyarakat/agama, tentunya akan lebih mengena pada masyara”, jelas Mia Sutanto, Ketua AIMI, ketika ditanya mengenai ide awal mengadakan seminar untuk ustadz dan ustadzah ini.</p>
<p>Untuk itulah informasi mengenai pemberian ASI dan efek samping pemberian susu formula ditinjau dari sisi medis dan pendekatan agama diangkat pada seminar kali ini. Hal ini dimaksudkan agar para ustadz/ustadzah dapat menyebarluaskan informasi berharga ini kepada jamaah ataupun majilis taklim yang dipimpinnya. Diharapkan dengan pendekatan seperti ini lebih banyak masyarakat yang terpapar informasi yang tepat mengenai ASI dan mengetahui risiko pemberian susu formula secara berimbang. Oleh karena itu, AIMI mengajak para ahli di bidangnya seperti Dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA., IBCLC., FABM serta Dr. Muchlis M. Hanafi, M.A. dari Pusat Studi Qur’an menjadi pembicara ahli dalam seminar kali ini.</p>
<p>Ketika ditanya, mengapa mengangkat tema ASI dari kacamata agama, Ketua Penyelenggara Seminar, Fia Helmi mengatakan, “Untuk menyebarkan informasi mengenai ASI pada masyarakat banyak terkadang hanya diangkat dari sisi medis-nya saja. Akan lebih baik, jika tidak hanya dari sisi medis, tetapi dikuatkan juga oleh sisi agama. Hal ini tentunya akan mempertajam dakwah-dakwah yang dilakukan oleh para tokoh agama kepada para jemaah-nya. Ke depan, rencananya seminar semacam ini akan diadakan secara rutin setiap empat bulan sekali.” Jadi sangat disayangkan jika kesempatan ini dilewatkan khususnya bagi ustadz maupun ustadzah maupun  konselor laktasi dan pemerhati ASI lainnya.</p>
<p>***</p>
<p>Fact Sheet AIMI:</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.</p>
<p>***</p>
<p>Contact Person AIMI:</p>
<p>Mia Sutanto<br />
AIMI Chairwoman<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org, +6281510002584</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo<br />
Head of Communications Division<br />
sisca@aimi-asi.org, +62818765021</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS lt. 1<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. RS. Fatmawati no. 39, Jakarta<br />
Telp: 021.72790165 Fax: 021.72790166<br />
www.aimi-asi.org</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Siaran Pers ini telah dibaca sebanyak 183 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-seminar-ustadz-dan-ustadzah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Pertama Gagal ASI Eksklusif &#8211; Bagaimana Dengan Adik?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 01:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok pendukung]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu yang tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif kepada anak kedua bahkan ketiga ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama. Ini disebabkan mereka terpaku pada kegagalan anak pertama. Umumnya kegagalan ini disebabkan oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.  Saya ingin berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak ibu merasa tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya &#8211; baik kepada anak kedua atau ketiga, ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-mama-zach.jpg" alt="" title="04-mama-zach" width="300" height="241" class="alignleft size-full wp-image-648" />Hal ini seringkali terjadi, karena banyak ibu terpaku pada kegagalan memberikan ASI di masa lalu yang disebabkan  oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.</p>
<p>Menanggapi hal tersebut, ijinkan Saya berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi semua ibu yang membacanya.</p>
<p>Anak pertama saya lahir pada bulan Oktober 2004, hanya 10 bulan dari sejak saya menikah. Senang..? Pasti dong. Saya pun berniat untuk memberikan yang terbaik &#8211; yaitu ASI &#8211; untuk anak pertama saya.</p>
<p>Memberikan ASI ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Karena kekurangan informasi tentang ASI dan menyusui, saya mengawali perjalanan menyusui anak pertama saya dengan tidak tepat, misalnya: tidak meminta rawat gabung dengan anak sewaktu di Rumah Sakit sehingga saya yang harus bolak balik ke kamar bayi (dengan jam menyusui yang dibatasi / dijatah). Kondisi seperti ini membuat saya tidak dapat menyusui dikala anak saya membutuhkan ASI. Saya lebih sering menemui anak saya sedang tertidur sehingga tak mau menyusu.</p>
<p>Saat itu saya pikir ini kondisi seperti ini normal saja. Tetapi begitu saya pulang dari Rumah Sakit dan merawat bayi saya sendiri, barulah saya merasakan ketidaknyamanan. Bukan, bukan karena saya kecapekan menjaganya tapi saya mengalami puting lecet.</p>
<p>Saya bingung sekali kala itu,  tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya cara yang menurut saya dapat menyelesaikan permasalahan puting lecet kala itu adalah dengan memompa ASI dari payudara yang lecet dan hanya menyusui dari payudara yang tidak sakit. Karena kondisi ini pula, saya sempat mengalami ‘<em>mild baby blues</em>’, dimana saya menangis setiap harus menyusui dari payudara yang lecet tersebut. Untungnya cuma berlangsung sebentar, 3 hari saja.</p>
<p>Selama di berada rumah dan belum kembali bekerja, saya selalu menyusui anak saya secara langsung, sehingga saya pun jarang memerah, apalagi semenjak luka di puting pulih. Ternyata hal ini menimbulkan masalah ketika saya harus kembali lagi ke kantor. Saya tidak memiliki stok ASI perah ketika itu, sehingga saat harus kembali masuk kantor saya bingung bagaimana dengan asupan susu anak saya di rumah. Oleh orang tua, saya diminta membeli susu formula (sufor) sebagai cadangan kalau-kalau ASI yang saya perah di kantor tidak cukup untuk konsumsi anak saya selama saya tinggal bekerja. Dan terjadilah hal yang saya takutkan, di usianya yang ke- 2,5 bulan, anak saya sudah minum ASI campur sufor.</p>
<p>Selain itu, karena minimnya informasi yang saya punya, saya memperkenalkan MPASI dini pada anak saya, karena menurut orang tua,  anak saya pasti kelaparan kalo hanya minum ASI dan susu formula saja.</p>
<p>Sekembalinya bekerja, ternyata saya tidak konsisten memerah ASI. Kadang hanya 2x dalam waktu 9 jam, malah kadang hanya 1x kalau saya terlalu sibuk atau malas. Ini disebabkan di kepala saya sudah tertanam bahwa anak saya akan baik-baik saja karena ada back-up sufor dan MPASI di rumah jika ASI perah tidak mencukupi. Akhirnya pada usia 10 bulan, anak saya hanya minum sufor tanpa ASI lagi.</p>
<p>Ketika anak ke-2 lahir di tahun 2007, saya sudah bertekad untuk memberi ASI sekurang-nya 6 bulan tanpa tambahan susu formula maupun MPASI dini. Hal ini dikarenakan informasi yang saya dapatkan dari seminar tentang kesehatan anak pada tahun 2006 yang saya ikuti, menjelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif adalah 6 bulan tanpa tambahan apa pun. Ditambah lagi, tidak lama setelah saya melahirkan, saya pun ikut bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dimana saya dapat mencari informasi tentang ASI, menyusui dan tips memerah selama bekerja dengan lebih lengkap. Alhamdulillah, dengan banyaknya informasi yang saya dapat, anak ke-2 pun lulus ASI eksklusif tanpa bantuan dari susu formula dan MPASI dini.</p>
<p>Selain itu, untuk menambah wawasan dan jejaring, saya datang ke kopdar milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">Asiforbaby</a> pertama kali dan berkenalan dengan banyak ibu muda. Selain presentasi mengenai ASI yang dibawakan oleh dr. Utami Roesli, saat itu juga ada presentasi dari mbak Mia Sutanto yang menjelaskan bahwa akan dibentuk suatu organisasi yang bisa mewadahi para ibu menyusui. Saya melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk terlibat secara langsung didunia per-ASI-an dan ketemu dengan para ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>Singkat cerita, saya pun mengajukan diri untuk ikut bergabung dan Alhamdulillah, saya tidak salah berkumpul dengan ibu-ibu hebat di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena disini lah saya bisa bertanya, curhat dan bersenang-senang. Dari sini pun saya sadar, ternyata ilmu yang didapat dari internet atau milis saja tidak cukup. Kita perlu berkumpul dengan para ibu yang mempunyai pandangan yang sama dengan kita.</p>
<p>Saat kelahiran anak-3 dipertengahan 2008, saya jauh lebih percaya diri. Saya jadi lebih getol mencari dokter, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-family.jpg" alt="" title="04-family" width="300" height="200" class="alignright size-full wp-image-649" />tenaga kesehatan dan rumah sakit yang mengijinkan IMD dan rawat gabung. Sewaktu lahiran saya tenang karena anak langsung diletakkan di atas dada dan dibiarkan selama kurang lebih 1,5 jam. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan karena saya bisa melihat sendiri ayahnya meng-adzani anak di dada saya dan melihat serta merasakan IMD, dimana anak merangkak sendiri menuju payudara dan menyusu secara alami tanpa bantuan dari saya, mamanya.</p>
<p>Jadi kalau boleh saya rangkum dari pengalaman ini adalah tidak benar bahwa kegagalan pemberian ASI pada anak pertama berarti mustahil bagi anak ke-2 mau pun ke-3 untuk mendapat ASI. Ibu perlu membekali dirinya dengan ilmu yang cukup semenjak hamil tentang tata cara IMD, persiapan menyusui, dokter dan rumah sakit / bidan yang mendukung IMD &#038; rawat gabung. Tentu saja dukungan penuh dari suami juga akan membuat ibu lebih percaya diri.</p>
<p>Selain itu, jika memungkinkan bergabunglah dengan komunitas peduli ASI. Ini bisa diawali dengan bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dan dilanjutkan dengan bertemu langsung dengan para ibu di kota tempat kita tinggal atau sering disebut kopdar. Lebih bagus lagi jika pertemuan ini bisa diadakan rutin sehingga kita bisa saling berbagi ilmu dan saling mendukung sesama ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>So, ibu2, terbukti kan, kegagalan di masa lalu dapat menjadi pemicu keberhasilan untuk menyusui. Kalau saya bisa, Anda pun bisa!</p>
<p>Semangat ASI!</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 1212 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rangkuman Pemberian Makan Bayi Di Situasi Darurat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/rangkuman-pemberian-makan-bayi-di-situasi-darurat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/rangkuman-pemberian-makan-bayi-di-situasi-darurat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 11:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Tasya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[balita]]></category>
		<category><![CDATA[batuta]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[depkes]]></category>
		<category><![CDATA[emergancy response]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[IDAI]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[situasi darurat]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>
		<category><![CDATA[UNICEF]]></category>
		<category><![CDATA[WHO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Bencana telah sering menimpa negara kita, dan seperti biasa kita selalu tergerak untuk meringankan beban saudara kita yang terkena musibah, baik secara perorangan maupun melalui organisasi dan lembaga-lembaga. Sayang, banyak dari kita dan organisasi / lembaga yang masih kurang mengerti tentang bahaya pemberian susu formula maupun makanan instan untuk daerah bencana. Berikut rangkuman pemberian makanan bayi di saat darurat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rekomendasi Bersama UNICEF, WHO, IDAI &#8211; Jakarta, 7 Januari 2005</p>
<p><strong>Tentang menyusui dalam keadaan darurat</strong></p>
<ul>
<li>Menyusui menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan kesinambungan ketersediaan susu formula dalam jumlah yang memadai.</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus di monitor oleh tenaga yang terlatih, sesuai dengan beberapa prinsip dibawah ini:</li>
<p><strong>Susu formula hanya boleh diberikan pada keadaan sangat terbatas</strong>, yaitu:</p>
<ul>
<li>Telah dilakukan penilaian terhadap status menyusui dari ibu, dan relaktasi tidak memungkinkan</li>
<li>Diberikan hanya kepada anak yang tidak dapat menyusu, misalnya: anak piatu dll</li>
<li>Bagi bayi piatu dan bayi yang ibunya tidak lagi bisa menyusui, persediaan susu formula harus dijamin selama bayi membutuhkannya</li>
<li>Diusahakan agar pemberian susu formula dibawah supervisi dan monitoring yang ketat oleh tenaga kesehatan terlatih</li>
<li>Ibu atau pengasuh bayi perlu diberi informasi yang memadai dan konseling tentang cara penyajian susu formula yang aman dan praktek pemberian makan bayi yang tepat</li>
<li>Hanya susu formula yang memenuhi standar Codex Alimentarius yang bisa diterima</li>
<li>Sedapat mungkin susu formula yang di produksi oleh pabrik yang melanggar Kode Internasional Pemasaran Susu Formula jangan/tidak boleh diterima</li>
<li>Jika ada pengecualian untuk butir diatas, pabrik tersebut sama sekali tidak diperbolehkan mempromosikan susu formulanya</li>
<li>Susu Kental Manis dan Susu cair tidak boleh diberikan kepada bayi berumur kurang dari 12 bulan</li>
<li>Susu formula diberi label dengan petunjuk yang jelas tentang cara penyajian, masa kadaluwarsa minimal 1 tahun, dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu, pengasuh atau keluarga</li>
<li><strong>Botol dan dot tidak boleh di distribusikan dan tidak dianjurkan untuk digunakan</strong>. Pemberian susu formula hendaknya menggunakan cangkir atau gelas</li>
<li>Untuk mengurangi bahaya pemberian susu formula, beberapa hal dibawah ini sebisa mungkin dipenuhi:</li>
<ul>
<li>Gunakan cangkir atau gelas yang mudah dibersihkan, diberikan sabun untuk mencuci</li>
<li>Alat yang bersih untuk membuat susu dan menyimpannya</li>
<li>Sediakan alat untuk menakar air dan susu bubuk (jangan gunakan botol susu)</li>
<li>Bahan bakar dan air bersih yang cukup (bila memungkinkan gunakan air dalam kemasan)</li>
<li>Kunjungan ulang untuk perawatan tambahan dan konseling</li>
<li>Lanjutkan promosi menyusui untuk menghindari penggunaan susu formula bagi bayi yang ibunya masih bisa menyusui</li>
</ul>
<li>Susu bubuk skim tidak boleh diberikan sebagai komoditas tunggal atau sebagai bagian dari distribusi makanan secara umum, karena dikhawatirkan akan digunakan sebagai pengganti ASI</li>
<p>Rekomendasi tersebut diatas didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula, World Health Assembly (WHA) tahun 1994 and 1996, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Pemasaran Pengganti ASI, dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tahun 2004 tentang Pemberian ASI Eksklusif pada bayi di Indonesia. WHA ke 47 menyatakan ”Pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung. Semua sumbangan susu formula atau produk lain dalam lingkup Kode, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas”
</ul>
<p><strong>Tentang Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)</strong></p>
<ul>
<li>MP-ASI hanya boleh diberikan setelah bayi berumur 6 bulan</li>
<li>MP-ASI sebaiknya disediakan berdasarkan bahan lokal (bila memungkinkan)</li>
<li>MP-ASI harus yang mudah dicerna</li>
<li>Pemberian MP-ASI disesuaikan dengan umur dan kebutuhan gizi bayi</li>
<li>MP-ASI harus mengandung kalori dan mikronutrien yang cukup</li>
</ul>
</ul>
<p><strong>PEDOMAN PENGANGANAN GIZI DALAM SITUASI DARURAT &#8211; DEPKES 2007</strong></p>
<p>Pedoman Depkes lebih lengkap, tahap penyelamatan korban dibagi sbb:<br />
<strong>Fase pertama</strong> berlangsung maksimal 5 hari, adalah saat:</p>
<ol>
<li>Pengungsi baru terkena bencana</li>
<li>Petugas belum sempat mengidentifikasi pengungsi secara lengkap</li>
<li>Belum ada perencanaan pemberian makanan terinci sehingga semua golongan umur menerima bahan makanan yang sama.</li>
<li>Khusus untuk bayi dan baduta harus tetap diberikan ASI danMP-ASI</li>
</ol>
<p>Fase ini bertujuan memberikan makanan kepada masyarakat agar tidak lapar. Sasarannya adalah seluruh pengungsi, dengan kegiatan:</p>
<ol>
<li>Pemberian makanan jadi dalam waktu sesingkat mungkin</li>
<li>Pendataan awal : jumlah pengungsi, jenis kelamin, golongan umur</li>
<li>Penyelenggaraan dapur umum (merujuk ke Depsos), dengan standar minimal</li>
</ol>
<p><strong>Fase kedua</strong> adalah saat:</p>
<ol>
<li>Pengungsi sudah lebih dari 5 hari bermukim di tempat pengungsian</li>
<li>Sudah ada gambaran keadaan umum pengungsi (jumlah, golongan umur, jenis kelamin, keadaan lingkungan dan sebagainya), sehingga perencanaan pemberian bahan makanan sudah lebih terinci</li>
<li>Pada umumnya bantuan bahan makanan cukup tersedia</li>
</ol>
<p>Sasaran pada fase ini adalah <strong>seluruh pengungsi</strong> dengan kegiatan :</p>
<ol>
<li>Pengumpulan dan pengolahan data dasar status gizi</li>
<li>Menentukan strategi intervensi berdasarkan analisis status gizi.</li>
<li>Merencanakan kebutuhan pangan untuk suplementasi gizi</li>
<li>Menyediakan paket bantuan pangan (ransum) yang cukup, mudah di konsumsi oleh semua golongan umur dengan syarat minimal sebagai berikut:</li>
<ul>
<li>Setiap orang diperhitungkan menerima ransum senilai <strong>2.100 Kkal, 40 gram lemak dan 50 gram protein per hari</strong></li>
<li>Diusahakan memberikan pangan sesuai dengan kebiasaan dan ketersediaan setempat, mudah diangkut, disimpan dan didistribusikan</li>
<li>Harus memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral.</li>
<li>Mendistribusikan ransum sampai ditetapkannya jenis intervensi gizi berdasarkan hasil data dasar (maksimum 2 minggu)</li>
<li>Memberikan penyuluhan kepada pengungsi tentang kebutuhan gizi dan cara pengolahan bahan makanan masing-masing anggota keluarga</li>
</ul>
</ol>
<p><strong>Tahap Tanggap Darurat</strong>t<br />
Tahap ini dimulai selambat-lambatnya pada hari ke-20 di tempat pengungsian.</p>
<p><strong>Tujuan:</strong><br />
Menanggulangi masalah gizi melalui intervensi sesuai tingkat kedaruratan gizi.</p>
<p><strong>Kegiatan:</strong></p>
<ol>
<li>Melakukan penapisan (screening) bila prevalensi gizi kurang balita 10 -14,9% atau 5 &#8211; 9,9% yang disertai dengan faktor pemburuk</li>
<li>Menyelenggarakan pemberian makanan tambahan sesuai dengan jenis intervensi yang telah ditetapkan pada tahap 1 fase II (PMT darurat/Ransum, PMT darurat terbatas serta PMT Terapi)</li>
<li>Memantau perkembangan status gizi melalui Surveilans</li>
<li>Melakukan modifikasi/perbaikan intervensi sesuai dengan perubahan tingkat kedaruratan: </li>
<ol>
<li>Jika prevalensi <strong>gizi kurang > 15% atau 10-14,9% dengan faktor pemburuk</strong>, diberikan paket pangan dengan standar minimal per orang per hari (ransum), dan diberikan PMT darurat untuk balita, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia serta PMT terapi bagi penderita gizi buruk. Ketentuan kecukupan gizi pada PMT darurat sama seperti standar ransum</li>
<li>Jika prevalensi gizi kurang 10-14,9% atau 5-9,9% dengan faktor pemburuk diberikan PMT darurat terbatas pada balita, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia yang kurang gizi serta PMT terapi kepada penderita gizi buruk</li>
<li>Jika prevalensi <strong>gizi kurang <10% tanpa faktor pemburuk atau < 5% dengan faktor pemburuk</strong> maka dilakukan penanganan penderita gizi kurang melalui pelayanan kesehatan setempat</li>
</ol>
</ol>
<p><strong>PENANGANAN GIZI DARURAT PADA KELOMPOK RAWAN</strong></p>
<p><strong>A. Bayi dan Anak di bawah Usia Dua Tahun (Baduta)</strong></p>
<p>Dalam keadaan darurat bayi dan anak baduta merupakan kelompok yang paling rawan dan memerlukan penanganan khusus agar terhindar dari kesakitan dan kematian.</p>
<p>Pola pemberian makanan yang terbaik bagi bayi dan anak umur dibawah 2 tahun adalah:</p>
<ol>
<li>Memberikan Air Susu Ibu (ASI) segera setelah lahir dalam waktu ½ &#8211; 1 jam pertama</li>
<li>Memberikan <strong>hanya</strong> ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan (ASI eksklusif)</li>
<li>Memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi setelah umur 6 bulan sampai umur 2 tahun</li>
<li>Tetap memberikan ASI sampai anak berumur 2 tahun atau lebih</li>
<li>Diberikan suplementasi kapsul vitamin A dosis 100.000 IU untuk bayi umur 6-11 bulan dan dosis 200.000 IU untuk anak 1-5 tahun (2 kali setahun)</li>
</ol>
<p><strong>Menyusui</strong></p>
<p>Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian makanan bayi dan baduta pada situasi darurat sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Menyusui sangat penting karena terbatasnya sarana air bersih,bahan bakar dan kesinambungan ketersediaan susu formula dalam jumlah yang memadai</li>
<li>Susu formula tidak diperkenankan diberikan kepada bayi kecuali kepada bayi piatu, bayi terpisah dari ibunya, ibu bayi dalam keadaan sakit berat</li>
<li>Pemberian susu formula diberikan secara terbatas dengan mengikuti ketentuan berikut:</li>
<ol>
<li>Hanya diberikan dengan pengawasan petugas kesehatan</li>
<li>Diberikan dengan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan</li>
<li>Botol dan dot tidak dianjurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi</li>
<li>Bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, oleh karena itu relaktasi (menyusui kembali) harus diupayakan sesegera mungkin</li>
</ol>
<li>Sumbangan susu formula harus:</li>
<ol>
<li>Diberikan atas persetujuan Kepala Kantor Wilayah Depkes setempat dan saat ini adalah Kepala Dinas Kesehatan (sesuai dengan Kepmenkes RI Nomor :237/MENKES/SK/IV/1997 tentang pemasaran Pengganti Air Susu Ibu)</li>
<li>Memenuhi standar Codex Alimentarius</li>
<li>Mempunyai label yang jelas tentang cara penyajian dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu, pengasuh atau keluarga</li>
<li>Mempunyai masa kadaluarsa sekurang-kurangnya 1 tahun terhitung sejak tanggal didistribusikan oleh produsen. Disertai dengan air minum dalam kemasan (AMDK)</li>
</ol>
<li>Susu bubuk skim tidak boleh diberikan kepada bayi</li>
</ol>
<p><strong>Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI)</strong></p>
<p>MP-ASI hanya boleh diberikan setelah bayi berumur 6 bulan. Pemberian MP-ASI memenuhi ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Bila memungkinkan sebaiknya disediakan berdasarkan bahan lokal, menggunakan peralatan makan yang higienis</li>
<li>Bahan makanan yang digunakan mudah dimakan, mudah dicerna dan penyiapannya higienis</li>
<li>Sesuai dengan umur dan kebutuhan bayi</li>
<li>Mengandung zat gizi sesuai kecukupan gizi yang dianjurkan (energi, protein, vitamin dan mineral yang cukup terutama Fe, vitamin A dan vitamin C)</li>
</ol>
<p><strong>B. Makanan Anak Usia 2 &#8211; 5 Tahun</strong></p>
<p>Makanan utama yang diberikan adalah berasal dari makanan keluarga, yang tinggi energi, vitamin dan mineral. Makanan pokok yang dapat diberikan seperti nasi, ubi, singkong, jagung, lauk pauk, sayur dan buah. Bantuan pangan yang dapat diberikan berupa makanan pokok, kacang-kacangan dan minyak sayur.</p>
<p>Khusus pada anak yang menderita gizi kurang atau anak gizi buruk pada fase tindak lanjut (setelah perawatan) perlu diberikan makanan tambahan disamping makanan keluarga, seperti makanan kudapan/jajanan, dengan nilai zat gizi energi 350 kkal dan protein 15 gr.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/rangkuman-pemberian-makan-bayi-di-situasi-darurat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Baru Digoda oleh Perusahaan Susu Formula Secara &#8216;Ilegal&#8217;</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/ibu-baru-digoda-oleh-perusahaan-susu-formula-secara-ilegal/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/ibu-baru-digoda-oleh-perusahaan-susu-formula-secara-ilegal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 16:24:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia, produsen susu formula telah banyak melakukan pelanggaran terhadap cara pemasaran produk mereka. Hal ini menyebabkan banyak para ibu yang lebih mengerti tentang produk-produk susu formula dibandingkan dengan ASI. Lebih disayangkan, para tenaga kesehatan pun banyak yang terpengaruh sehingga melupakan tugas mereka untuk memberikan informasi tentang ASI kepada para ibu. Simak artikel berikut yang diterjemahkan dari harian Jakarta Post, tentang pengaruh pemasaran susu formula terhadap pemberian ASI di Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>diterjemahkan dari artikel di <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2008/08/21/new-mothers-039illegally039-lured-formula-milk-companies.html">Jakarta Post</a> tgl. 21 Agustus 2008.</small></p>
<p>Wilson baru saja melewati ulang tahun pertamanya akhir pekan yang lalu dan ibunya tidak hanya sibuk untuk menyiapkan pestanya tapi juga sibuk meladeni pemasar produsen susu formula.</p>
<p>&#8220;Saya mendapat telpon dari dua perusahaan susu formula dan telah dikirimi contoh susu formula dari salah satu perusahaan tersebut. Saya rasa ini disebabkan karena sudah saatnya Wilson mengganti susu formulanya,&#8221; kata ibunya Wilson, Melvin.</p>
<p>&#8220;Saya melahirkan melalui operasi caesar. Setelah lahir, perawat membawa bayi saya kepada saya &#8230; dan kami mencoba untuk memberikan ASI kepadanya tapi tidak setetes pun ASI yang keluar. Jadi perawat tersebut menanyakan jika saya mau memberikan susu formula untuk bayi saya,&#8221; katanya.</p>
<p>Ibu tersebut menerima saran tersebut walaupun dia bisa saja memilih untuk tetap memberikan ASI.</p>
<p>&#8220;Saya diberitahu bahwa ASI lebih baik tapi produksi ASI saya tidak mencukupi. Saya rasa tidak ada masalah dengan susu formula. Sejauh ini anak saya sehat,&#8221; katanya.</p>
<p>Reni Ningsih, ibu dari anak berusia 3 tahun dan sedang hamil 6 bulan, menceritakan hal yang sama.</p>
<p>Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa perusahaan susu formula tersebut telah melanggar peraturan internasional dalam memasarkan produk mereka, atau bahwa para praktisi kesehatan seharusnya memberikan semangat kepada mereka untuk memberikan ASI sesuai yang tertulis pada SK menteri tahun 2004 tentang menyusui.</p>
<p>Perusahaan susu formula tidak diijinkan untuk menghubungi para ibu, dan perawat diharuskan untuk mempromosikan pemberian ASI sebagaimana diatur dalam regulasi WHA (<em>World Health Assembly</em>) tahun 1981 tentang pemasaran susu pengganti ASI.</p>
<p>Regulasi tersebut menyatakan bahwa semua rumah sakit dan tempat umum tidak boleh mempromosikan materi susu pengganti ASI. Dan, acara yang mengikut sertakan bayi tidak boleh memasang sponsor dari merek apa pun.</p>
<p>&#8220;Pelanggaran ini telah terjadi selama bertahun-tahun. Tidak banyak perubahan yang dilakukan semenjak kami mengeluarkan pamflet tentang pelanggaran ini di tahun 2006,&#8221; kata Sri Sukotjo, ahli gizi dari <em>United Nations Children&#8217;s Fund</em> (UNICEF).</p>
<p>Beliau juga mengatakan bahwa banyak rumah sakit yang masih menampilkan atau mempromosikan produk dalam bentuk poster, kotak tisu, jam dinding, timbangan dan tag nama bayi.</p>
<p>Beberapa perusahaan mendistribusikan pamflet di acara anak-anak, sementara banyak dari acara tersebut seringnya diselenggarakan atau disponsori oleh perusahan susu formula.</p>
<p>Kepala kesehatan dan gizi Unicef di Indonesia, Anne H. Vincent, bulan lalu mengatakan bahwa pemasaran susu formula yang sangat agresif dan dapat membuat para ibu beralih dari kegiatan menyusui langsung ke penggunaan botol susu.</p>
<p>Menurut data dari pemerintah, rata-rata nasional pemberian ASI turun menjadi 32.4 persen di tahun 2007 dari 42.4 persen 10 tahun yang lalu. Sedangkan rata-rata pemberian botol meningkat menjadi 27.9 persen dari 21.1 di periode yang sama.</p>
<p>Pemerintah juga telah berusaha untuk membatasi perusahaan pemasaran melalui SK menteri pada tahun 1997 tentang pemasaran susu formula. Tetapi RUU terbaru tentang susu pengganti ASI telah terlantar selama tiga tahun tanpa kejelasan status, tambah Anne.</p>
<p>Walikota Jakarta Pusat, Sylviana Murni, mengatakan pemerintah, yang tidak mendapat hukuman untuk tidak mengikuti peraturan ini, masih mendistribusikan informasi tentang ASI.</p>
<p>&#8220;Memang telah ada penurunan. Kami telah mensirkulasikan surat yang mengharapkan pengurangan eksposur, terutama di rumah sakit,&#8221; katanya</p>
<p>&#8220;Kampanye tentang pemberian ASI sebenarnya sangat intens, seperti pada kampanye anti merokok. Tetapi orang masih merokok walaupun perusahaan rokok telah menyatakan bahwa merokok berbahaya,&#8221; kata Sylviana. </p>
<p>Tidak hanya ibu-ibu yang dibombardir oleh iklan, tetapi juga beberapa rumah sakit yang dianggap tidak mendukung kegiatan menyusui walaupun telah didorong oleh pemerintah. </p>
<p>Mia Sutanto, ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), mengatakan dokternya menyarankan untuk memberikan bayinya (sekarang berumur 4 tahun) susu formula dan menakutinya dengan mengatakan bahwa berat bayinya akan berkurang jika tidak diberikan susu formula.</p>
<p>&#8220;Tapi sebenarnya bayi baru lahir dapat bertahan hidup tanpa cairan selama 48 jam dan berkurangnya berat badan merupakan hal normal bagi mereka,&#8221; katanya.</p>
<p>Mia mengatakan bahwa para ibu harus mengerjakan PR mereka agar tetap yakin untuk memberikan ASI dan mencari rumah sakit yang mendukung keputusan ini.</p>
<p>&#8220;Praktek standar rumah sakit tidak mendukung kegiatan menyusui. Beberapa dokter segan untuk melakukannya. Tanpa dukungan yang mencukupi dari para dokter, rumah sakit dan keluarga, beberapa ibu akan merasa kesulitan untuk menyusui,&#8221; katanya.</p>
<p>dr. Utami Roesli dari Sentra Laktasi Indonesia mengatakan bahwa kampanye untuk kegiatan menyusui ini ditujukan kepada kegagalan dari tenaga kesehatan, bukan ke para ibu.</p>
<p>&#8220;Para ibu yang tidak menyusui jangan merasa bersalah, karena itu akan tambah menyulitkan mereka untuk menyusui,&#8221; kata beliau.</p>
<p>&#8220;Ayah memerankan peranan penting. Sekarang, menyusui tidak hanya antara ibu dan anak tapi juga dengan ayah,&#8221; katanya. (mri)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/ibu-baru-digoda-oleh-perusahaan-susu-formula-secara-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan BPOM tentang Lutein, Sphingomielin, Gangliosida, ARA, DHA</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/03/larangan-bpom-tentang-lutein-sphingomielin-gangliosida-ara-dha/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/03/larangan-bpom-tentang-lutein-sphingomielin-gangliosida-ara-dha/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 03:36:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ARA]]></category>
		<category><![CDATA[BPOM]]></category>
		<category><![CDATA[DHA]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Gangliosida]]></category>
		<category><![CDATA[Lutein]]></category>
		<category><![CDATA[Sphingomielin]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata BPOM telah mengeluarkan peraturan tentang pelarangan penambahan Lutein, Sphingomielin, Gangliosida pada formula bayi dan melarang penayangan iklan tentang zat2 diatas. Sekarang mari kita pro-aktif untuk melaporkan pelanggaran atas larangan ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/images/icons/lapor-aimi-small.jpg" alt="Logo lapor AIMI" />Informasi ini baru saja kami dapatkan, dokumennya dapat di download pula dari website resmi BPOM, tentang penambahan zat gizi dan non gizi pada makanan. Berikut kutipannya:</p>
<ul>
<li>Pasal 5 &#038; 6 dengan jelas melarang penambahan Lutein, Sphingomielin, Gangliosida pada formula bayi serta mencantumkan klaim gizi dan kesehatan pada ARA, DHA dll.</li>
<li>Pasal 8 melarang penayangan iklan tentang zat2 diatas, pasal 9 memberi tenggang pencabutan 12 bulan sejak 10 Juli 2008 untuk menyesuaikan produk pangan yang telah beredar.</li>
</ul>
<p>Berdasarkan hal tersebut di atas, kami menghimbau baik mitra AIMI atau umum jika melihat pelanggaran terhadap larangan ini agar melaporkannya ke kami melalui email lapor[at]aimi-asi[dot]org beserta bukti-buktinya.</p>
<p>Berikut dokomen lengkap tentang regulasi ini serta dokumen lain tentang acuan label gizi pada produk makanan (termasuk susu formula):</p>
<ul>
<li><a href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/files/bpom/bpom-regulation-on-nutrition-claims-jul08.pdf">BPOM Regulation on Nutrition Claims July 2008</a></li>
<li><a href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/files/bpom/AcuanLabelGizi.bpom2007.pdf">Acuan Label Gizi BPOM 2007</a></li>
</ul>
<p>Salam ASI!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/03/larangan-bpom-tentang-lutein-sphingomielin-gangliosida-ara-dha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui lah!!!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/10/menyusui-lah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/10/menyusui-lah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 23:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah artikel yang sangat bagus yang menggambarkan bagaimana gigihnya produsen susu formula dalam memasarkan produknya, yang mengakibatkan banyaknya para ibu beralih dari ASI. Simak pemaparan Pat Thomas dari The Ecologist dalam artikel ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>diterjemahkan dari artikel <a href="http://www.theecologist.org/pages/archive_detail.asp?content_id=586">Suck on This!</a></p>
<p>Manusia telah menyusui selama hampir setengah juta tahun. Hanya 60 tahun terakhir ini mulai memberikan makanan cepat saji yang diproses oleh pabrik, yang dikenal dengan &#8216;susu formula&#8217; kepada bayi kita. Akibatnya sangat mengejutkan, seperti kematian bayi pada 6 minggu pertama kehidupannya 2x lebih tinggi, 5x lebih tinggi kemungkinan mendapat <em>gastroenteritis</em>, 2x lebih tinggi terkena penyakit kulit (<em>eczema</em>) dan diabetes, dan sampai 8x kali lebih tinggi untuk mendapat kanker getah bening.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/10/10-menyusui-230x300.jpg" alt="Menyusui langsung dari dada ibu" width="230" height="300" class="right" />Pabrik susu formula di UK mengeluarkan uang sebesar £20 (Rp. 330,000) per bayi untuk mempromosikan &#8216;junk food&#8217; bayi, bandingkan dengan pengeluaran pemerintah yang hanya 14 pence (Rp. 2,300) per bayi untuk mempromosikan kegiatan menyusui. Artikel ini memaparkan dimana produsen susu bayi, profesional kesehatan yang cuek, and tidak adanya rasa peduli dari masyarakat telah secara tak langsung berkomplot untuk mejauhkan bayi dari dada ibunya dan memberikan dot sebagai pengganti. Dapatkah kita memutar balikkan kecendrungan ini?</p>
<p>Semua mamalia menghasilkan susu untuk anaknya, dan manusia telah mengasuh bayinya di payudara selama 400,000 tahun. Selama berabad-abad, kalau seorang wanita tidak bisa memberi makan bayinya sendiri maka wanita lain (ibu susu) akan menggantikannya. Hanya pada 60 tahun terakhir ini kita telah meninggalkan naluri mamalia kita, malahan merangkul budaya pemberian botol yang bukan hanya menganjurkan pemberikan susu formula semenjak bayi lahir, tapi juga meyakinkan bahwa pengganti ASI sama bagusnya, jika tidak lebih baik, dari pada ASI itu sendiri.</p>
<p>Susu formula tidak pernah dimaksudkan untuk dikonsumsi secara luas seperti sekarang ini. Susu formula dihasilkan pada akhir tahun 1800-an sebagai pengganti makanan yang diperlukan untuk bayi-bayi terlantar dan anak-anak yatim piatu yang akan kelaparan jika tidak mendapatkannya. Dalam konteks ini – dimana tidak ada makanan lain yang tersedia – susu formula menjadi penyelamat.</p>
<p>Tapi dengan sejalannya waktu dan kemajuan ilmu gizi manusia (khususnya nutrisi bayi secara) menjadi sangat &#8216;ilmiah&#8217;, pengganti ASI yang diproduksi dijual ke masyarakat umum sebagai perbaikan terhadap ASI itu sendiri.</p>
<p>&#8216;Jika seseorang menanyakan &#8220;Susu formula mana yang sebaiknya saya gunakan?&#8221; atau &#8220;Mana yang terdekat dengan ASI?&#8221;, jawabannya adalah &#8220;Tidak seorangpun tahu&#8221; karena tidak ada satu sumber pun yang objektif mengenai ini pernah dibuat,&#8217; kata Mary Smale, konselor ASI dari National Childbirth Trust (NCT) yang telah bekerja disana selama 28 tahun. &#8216;Hanya pembuat di pabrik-pabrik itu lah yang tahu isinya, dan mereka tidak memberitahu siapa pun.&#8217; Mereka bisa saja mengiklankan bahan-bahan &#8216;sehat&#8217; yang spesial seperti <em>oligosaccharides</em>, <em>long-chain fatty acids</em>, atau, beberapa waktu lalu, <em>beta-carotene</em>, tapi mereka tidak pernah memberitahukan kita dari mana produk dasarnya dibuat atau dari mana bahan-bahan tersebut diperoleh.</p>
<p>Bagian pokok dari ASI yang telah diketahui, dipakai sebagai referensi umum untuk ilmuwan meramu susu formula bayi. Tapi, sampai hari ini, tidak ada &#8216;formula&#8217; sebenarnya untuk susu formula. Malahan, proses pembuatan susu formula selama ini merupakan eksperimen.</p>
<p>Dengan alasan ini, produsen susu formula bisa menaruh apa saja ke dalam formula mereka. Sebenarnya, setiap produk mempunyai resep yang berbeda dari satu produksi ke produksi lainnya, tergantung dari harga dan ketersediaan dari bahan-bahan yang diperlukan. Selama ini kita berasumsi kalau susu formula diatur dengan ketat, padahal para produsen tersebut tidak diharuskan untuk transparan; contohnya, mereka tidak diharuskan untuk mencatatkan bahan-bahan spesifik dari produksi atau merek mereka ke pihak berwajib.</p>
<p>Sebagian besar susu formula yang ada dipasaran berasal dari susu sapi. Tapi sebelum bayi bisa meminum susu sapi dalam bentuk formula ini, susu tersebut harus dimodifikasi secara drastis. Isi protein dan mineral harus dikurangi dan isi karbohidratnya ditambah, biasanya dengan menambahkan gula. Lemak susu, yang biasanya tidak gampang terserap oleh tubuh, dihilangkan dan diganti dengan lemak tumbuhan, lemak binatang atau lemak mineral.</p>
<p>Vitamin dan zat tambahan masuk dalam proses penambahan, tapi tidak selalu dalam bentuk yang gampang dicerna. (Ini berarti klaim yang mengatakan bahwa susu formula &#8216;bergizi lengkap&#8217; memang benar, tapi hanya dalam artian yang paling kasar yaitu susu formula sudah menambahkan vitamin dan mineral selengkap mungkin ke dalam produk gizi bermutu rendah)</p>
<p>Banyak susu formula yang juga telah ditambahkan pemanis. Meskipun kebanyakan susu formula untuk bayi tidak mengandung gula dalam bentuk <em>sucrose</em>, mereka kadang dapat mengandung tipe gula bentuk lainnya yang sangat tinggi seperti <em>lactose</em> (gula susu), <em>fructose</em> (gula buah), <em>glucose</em> (juga dikenal dengan <em>dextrose</em>, sejenis gula yang ditemukan pada tumbuh-tumbuhan) dan <em>maltodextrose</em> (gula malt). Hal ini dikarenakan oleh adanya kekurangan dalam peraturan, sehingga segala bentuk gula ini masih bisa diiklankan sebagai ‘bebas gula’.</p>
<p>Formula juga mungkin mengandung zat pencemar yang tidak sengaja masuk sewaktu proses produksi. Beberapa mungkin mengandung soya dan jagung yang telah direkayasa secara genetis.</p>
<p>Bakteri Salmonella dan <em>aflatoxins</em> – <em>potent toxic</em>, <em>carcinogenic</em>, <em>mutagenic</em>, agen penahan imun yang dihasilkan oleh spesies jamur <em>Aspergillus</em> – telah sering ditemukan pada susu formula di pasaran, begitu juga dengan <em>Enterobacter sakazakii</em>, patogen yang dibawa oleh makanan yang dapat menyebabkan <em>sepsis</em> (infeksi bakteria yang berlebihan pada saluran darah), <em>meningitis</em> (radang selaput otak) dan <em>necrotising enterocolitis</em> (infeksi dan radang pada usus besar dan usus kecil) pada bayi baru lahir.</p>
<p>Pengepakan susu formula kadang-kadang tercemar dengan pecahan kaca dan pecahan-pecahan logam serta bahan-bahan industri kimia seperti <em>phthalates</em> dan <em>bispenol A</em> (keduanya merupakan penyebab kanker) dan baru-baru ini, di bagian pengepakan terdapat <em>isopropyl thioxanthone</em> (ITX; juga dicurigai sebagai penyebab kanker).</p>
<p>Susu formula bayi juga mungkin mengandung kadar racun atau logam berat, seperti aluminium, mangan, kadmium dan timbal yang berlebih.</p>
<p>Yang harus diperhatikan secara khusus adalah susu formula soya karena tingginya level tanaman yang dihasilkan dengan <em>oestrogen</em> (<em>phytoestrogen</em>) yang terdapat di dalamnya. Malahan, konsentrasi <em>phytoestrogen</em> yang terdeteksi di dalam darah bayi yang mengkonsumsi susu formula soya bisa mencapai 13,000 – 22,000 kali lebih tinggi dari konsentrasi <em>oestrogen</em> alami. <em>Oestrogen</em> dalam dosis yang lebih tinggi dari yang biasa ditemukan di dalam tubuh dapat menyebabkan kanker.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/10/menyusui-lah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IPB Temukan Bakteri Dalam Susu Bayi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/02/ipb-temukan-bakteri-dalam-susu-bayi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/02/ipb-temukan-bakteri-dalam-susu-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 10:09:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bakteri Enterobacter Sakazakii]]></category>
		<category><![CDATA[IPB]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Berita tentang tercemarnya susu formula bayi oleh bakteri Enterobacter Sakazakii yang dimuat di Pikiran Rakyat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sumber: <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;id=13292">Pikiran Rakyat</a></p>
<p>JAKARTA, (PR).-</p>
<p>Pemerintah diminta segera menarik produk susu formula dan bubur bayi yang tercemar bakteri Enterobacter sakazakii. &#8220;Masalah bakteri, konsumen tidak bisa melihatnya. Mereka baru merasakan apabila sudah terkena dampaknya. Oleh sebab itu, lebih baik bahan makanan yang tercemar harus ditarik dari pasaran,&#8221; kata Ketua YLKI Husna Zahir yang dikutip okezone, Minggu (24/2).</p>
<p>Husna mengatakan, penarikan produk itu perlu dilakukan sambil menunggu hasil keputusan yang diambil pemerintah terkait dengan temuan itu. &#8220;Sambil menunggu tim gabungan bekerja, pemerintah bisa menarik produk yang tercemar, sehingga konsumen tidak dirugikan,&#8221; katanya.</p>
<p>Hal itu dikemukakan Husna terkait penemuan para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) mengenai adanya Enterobacter sakazakii dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi. Bakteri jenis ini bisa menyebabkan radang selaput otak. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri beracun. Tiga dari 46 sampel bubur susu bayi juga tercemar bakteri itu.</p>
<p>&#8220;Awalnya kami hanya ingin meneliti penyebab diare pada bayi, tapi saya malah kaget dengan ditemukannya <em>Enterobacter sakazakii</em>, bukan bakteri <em>Escherichia coli</em> yang sering ditemukan itu,&#8221; kata Ketua Tim Peneliti IPB, Sri Estuningsih, yang juga seorang ahli susu sapi dan makanan anak.</p>
<p>Menurut dia, bakteri <em>Enterobacter sakazakii</em> sangat membahayakan. Selain bisa menyebabkan radang selaput otak, bakteri itu juga bisa menyebabkan radang usus dan peradangan jaringan di seluruh tubuh. &#8220;Apalagi, susu formula dan bubur bayi banyak diberikan kepada anak usia di bawah satu tahun. Ini sangat membahayakan,&#8221; katanya.</p>
<p>Penelitian ini dilakukan sejak tahun 2003 dan terus disempurnakan, sebelum akhirnya dipublikasikan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM). Namun, dengan alasan Badan POM tidak memiliki kewenangan, penelitian baru ditindaklanjuti dalam pertemuan dengan lembaga terkait, Sabtu (23/2).</p>
<p>Dijelaskan Sri, temuan bakteri Enterobacter sakazakii pada susu formula dan bubur bayi itu baru ditindaklanjuti oleh pemerintah, dengan membentuk tim gabungan untuk mengusut kasus itu. &#8220;Kami, (Sabtu) kemarin telah melakukan rapat dengan lembaga terkait di Kantor Departemen Pertanian untuk membahas temuan kami,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut dia, berdasarkan hasil pertemuan itu diputuskan pembentukan tim gabungan yang berasal dari Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Badan POM, dan tim peneliti IPB yang melakukan penelitian tersebut. &#8220;Nantinya, masing-masing tim akan bekerja sesuai dengan kapasitasnya,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Departemen Kesehatan, misalnya, akan meneliti tentang proses pembuatannya. Departemen Pertanian pada bahan dasarnya, dan Badan POM akan melakukan pendekatan kepada produsen. &#8220;Setelah tim gabungan ini bekerja, nanti akan ditentukan langkah konkretnya,&#8221; ujar Sri.</p>
<h3>Umumkan segera</h3>
<p>Sementara itu, masyarakat meminta agar pemerintah atau Balai Besar POM Bandung segera melakukan penelusuran seputar masalah susu formula dan bubur bayi yang ditengarai mengandung Enterobacter sakazakii. Hal itu diperlukan agar masyarakat terhindar dari efek yang tidak diinginkan.</p>
<p>&#8220;Tetapi yang lebih penting, pemerintah segera mengumumkan nama susu formula dan bubur bayi yang bermasalah, agar masyarakat bisa menghindari produk beracun tersebut,&#8221; ujar Dewi, ibu dari dua anak di daerah Pasteur yang mengaku mengetahui hal itu dari internet.</p>
<p>Ketika &#8220;PR&#8221; meminta konfirmasi seputar masalah tersebut ke Balai Besar POM di Bandung, mereka menyatakan belum menerima informasi seputar masalah tersebut dari Badan POM. &#8220;Saya juga malah baru mengetahui masalah tersebut dari salah satu media elektronik siang tadi,&#8221; ujar Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen Balai Besar POM Bandung, Dra. Siti Nuraniyah kepada &#8220;PR&#8221;, Minggu (24/2).</p>
<p>&#8220;Biasanya, jika ada masalah yang harus ditindaklanjuti, Balai Besar POM Bandung menerima faksimile, dan dari sana baru kita bisa melakukan tindakan selanjutnya, sesuai dengan tugas yang diberikan. Tapi sejak Jumat kemarin, kami tidak menerima surat apa pun,&#8221; katanya. (A-34/A-62)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/02/ipb-temukan-bakteri-dalam-susu-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>22,73 Persen Susu Formula dan 40 Persen Makanan Bayi Terkontaminasi Bakteri</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/02/susu-formula-dan-makanan-bayi-terkontaminasi-bakteri-2/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/02/susu-formula-dan-makanan-bayi-terkontaminasi-bakteri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 10:04:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bakteri Enterobacter Sakazakii]]></category>
		<category><![CDATA[IPB]]></category>
		<category><![CDATA[makanan bayi]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[Republika]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Berita mengenai hasil penemuan para ilmuwan IPB tentang tercemarnya susu formula dan makanan bayi oleh bacteri Enterobacter Sakazakii yang dimuat di Republika.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sumber: <a href="http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=324118&amp;kat_id=23">Republika Online, 19 Februari 2008</a></p>
<p><strong>Bogor-RoL&#8211;</strong> Para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan antara bulan April hingga Juni 2006 telah terkontaminasi &#8220;Enterobacter sakazakii&#8221;.</p>
<p>Berdasar pengujian pada bayi mencit (tikus percobaan), kontaminasi oleh E. Sakazakii yang menghasilkan enterotoksin tahan panas dapat menyebabkan enteritis (peradangan saluran pencernaan), sepsis (infeksi peredaran darah) dan meningitis (infeksi pada lapisan urat saraf tulang belakang dan otak).</p>
<p>Dr Sri Estuningsih, jurubicara tim peneliti dalam keterangan yang dipublikasikan Kantor Humas IPB, Selasa menyebutkan bahwa sampel makanan dan susu formula yang diteliti berasal dari produk lokal.</p>
<p>Tim tersebut terdiri dari staf pengajar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, yakni drh Hernomoadi Huminto MVS, Dr drh I Wayan T. Wibawan, dan Dr Rochman Naim.</p>
<p>Menurut Sri Estuningsih, penelitian itu dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama, isolasi dan identifikasi &#8220;E.sakazakii&#8221; dalam 22 sampel susu formula dan 15 sampel makanan bayi. Selanjutnya pada tahap kedua, menguji 12 isolat &#8220;E.sakazakii&#8221; dari hasil isolasi dan kemampuannya menghasilkan enteroksin (racun) melalui uji sitolisis (penghancuran sel).</p>
<p>Dari 12 isolat yang diujikan terdapat enam isolat yang menghasilkan enteroksin. Uji selanjutnya adalah menguji isolat tersebut pada kemampuan toksin setelah dipanaskan. &#8220;Terdapat lima dari enam isolat tersebut yang masih memiliki kemampuan sitolisis setelah dipanaskan,&#8221; katanya.</p>
<p>Selanjutnya, ditentukan satu kandidat dari isolat tersebut dan menguji enterotoksin serta bakteri vegetatifnya pada bayi &#8220;mencit&#8221; (tikus percobaan) berusia enam hari. Bayi mencit diinfeksi melalui rute oral (cekok mulut) menggunakan sonde lambung khusus dan steril.</p>
<p>Setelah tiga hari, kemudian dilakukan pengambilan sampel organ mencit tersebut. Hasil pengujian enteroksin murni dan enteroksin yang dipanaskan dan bakteri mengakibatkan enteritis, sepsis dan meningitis.</p>
<p>Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan metode hispatologi menggunakan pewarnaan &#8220;Hematoksilin Eosin&#8221;. Dari hasil pengamatan histopatologis yang diperoleh masih dibutuhkan penelitian senada yang lebih mendalam untuk mendukung hasil penelitian tersebut.</p>
<p>Ia menyatakan, amat penting dipahami bahwa susu formula bayi bukanlah produk steril, sehingga dalam penggunaannya serta penyimpanannya perlu perhatian khusus untuk menghindari kejadian infeksi karena mengonsumsi produk tersebut.</p>
<p>Sri Estuningsih secara pribadi telah melihat langsung fasilitas salah satu perusahaan makanan dan susu formula dengan omzet terbesar di Indonesia.</p>
<p>&#8220;Sebagian besar fasilitas tersebut telah memenuhi standar operasional prosedur perusahaan susu formula bayi, dan saat ini masih terus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi tersebut,&#8221; katanya. antara/<strong>abi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/02/susu-formula-dan-makanan-bayi-terkontaminasi-bakteri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
