<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; sumatera</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/sumatera/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:50:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Himbauan AIMI Untuk Donasi Gempa Padang</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 16:08:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[depkes]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[WHO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[AIMI menghimbau agar rekan-rekan dari kalangan profesional, pemerhati kesehatan dan CSR organisasi / perusahaan agar tidak mendonasikan susu formula dan / atau makanan instan ke daerah bencana. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yth Rekan-rekan Profesional, Pemerhati Kesehatan dan CSR Organisasi,</p>
<p>Sedih rasanya melihat Indonesia kembali diguncang gempa berskala besar di kawasan Sumatera &#8211; Padang dan Jambi &#8211; pada tanggal 30 September dan 1 Oktober yang lalu. Tidak terhitung berapa banyak saudara kita yang kehilangan orang tua, anak, sanak saudara, rumah tinggal dan nyawa. Menurut berbagai sumber, sampai dengan hari Jumat, 2 Oktober 2009 yang lalu, jumlah korban meninggal di Padang sudah mencapai 529 orang,  luka berat 83 orang, dan luka ringan 2094 orang. Sementara di Jambi pun tidak kalah banyaknya. </p>
<p>Dari setiap bencana yang terjadi, korban yang paling menderita tentu saja ibu, bayi dan anak-anak di bawah dua tahun. Sayangnya, penanganan terhadap mereka (khususnya bayi dan anak-anak baduta) seringkali tidak sesuai. Alih-allih menyelamatkan mereka, banyak bayi dan anak-anak baduta yang menjadi sakit dan yang parah, angka kematian mereka pun meningkat.</p>
<p>Dalam konteks penanganan bencana, pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak bisa dilakukan dengan sembarangan agar bantuan yang akan kita berikan dengan niat baik, tidak berubah menjadi sumber permasalahan baru bagi korban yang selamat. Untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat. </p>
<p>Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat Menyusui lebih penting Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung. </p>
<p>Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai. Bahkan, Kode WHO, semua sumbangan susu formula atau produk lain dalam lingkup kode tersebut, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas. Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut : </p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.
</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<p>Pada intinya, pedoman pemberian makanan dalam keadaan darurat yang diberikan oleh Departemen Kesehatan sejalan dengan apa yang telah direkomendasikan bersama oleh UNICEF, WHO dan IDAI, yaitu menyusui sangat penting dalam keadaan darurat. Susu formula tidak diperkenankan diberikan kepada bayi kecuali kepada bayi piatu, bayi yang terpisah dari ibunya atau bila ibu dan bayi dalam keadaan sakit berat.</p>
<p>Apabila memang susu formula harus diberikan dikarenakan hal-hal tersebut, maka harus diberikan secara terbatas dengan mengikuti ketentuan berikut ini: </p>
<ol>
<li>Hanya diberikan dengan pengawasan petugas kesehatan </li>
<li>Diberikan dengan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan. Botol dan dot tidak dianjurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi </li>
<li>Bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, oleh karena itu relaktasi harus diupayakan sesegera mungkin </li>
</ol>
<p>Oleh karena itu, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan dan menghimbau kepada seluruh organisasi profesi, kesehatan, profesional dan perusahaan untuk tidak memberikan sumbangan dalam bentuk susu formula / makanan instan yang bertujuan untuk menggantikan ASI. </p>
<p>Adalah tanggungjawab kita bersama untuk menjamin kesehatan dan keselesamatan korban bencana, terutama ibu, bayi dan anak-anak baduta dengan mendukung dan mengutamakan pemberian ASI sebagai langkah utama dalam situasi darurat. </p>
<p>Salam,<br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584</p>
<p>Fact Sheet AIMI :<br />
AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.</p>
<p>Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rangkuman Pemberian Makan Bayi Di Situasi Darurat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/rangkuman-pemberian-makan-bayi-di-situasi-darurat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/rangkuman-pemberian-makan-bayi-di-situasi-darurat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 11:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Tasya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[balita]]></category>
		<category><![CDATA[batuta]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[depkes]]></category>
		<category><![CDATA[emergancy response]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[IDAI]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[situasi darurat]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>
		<category><![CDATA[UNICEF]]></category>
		<category><![CDATA[WHO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Bencana telah sering menimpa negara kita, dan seperti biasa kita selalu tergerak untuk meringankan beban saudara kita yang terkena musibah, baik secara perorangan maupun melalui organisasi dan lembaga-lembaga. Sayang, banyak dari kita dan organisasi / lembaga yang masih kurang mengerti tentang bahaya pemberian susu formula maupun makanan instan untuk daerah bencana. Berikut rangkuman pemberian makanan bayi di saat darurat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rekomendasi Bersama UNICEF, WHO, IDAI &#8211; Jakarta, 7 Januari 2005</p>
<p><strong>Tentang menyusui dalam keadaan darurat</strong></p>
<ul>
<li>Menyusui menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan kesinambungan ketersediaan susu formula dalam jumlah yang memadai.</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus di monitor oleh tenaga yang terlatih, sesuai dengan beberapa prinsip dibawah ini:</li>
<p><strong>Susu formula hanya boleh diberikan pada keadaan sangat terbatas</strong>, yaitu:</p>
<ul>
<li>Telah dilakukan penilaian terhadap status menyusui dari ibu, dan relaktasi tidak memungkinkan</li>
<li>Diberikan hanya kepada anak yang tidak dapat menyusu, misalnya: anak piatu dll</li>
<li>Bagi bayi piatu dan bayi yang ibunya tidak lagi bisa menyusui, persediaan susu formula harus dijamin selama bayi membutuhkannya</li>
<li>Diusahakan agar pemberian susu formula dibawah supervisi dan monitoring yang ketat oleh tenaga kesehatan terlatih</li>
<li>Ibu atau pengasuh bayi perlu diberi informasi yang memadai dan konseling tentang cara penyajian susu formula yang aman dan praktek pemberian makan bayi yang tepat</li>
<li>Hanya susu formula yang memenuhi standar Codex Alimentarius yang bisa diterima</li>
<li>Sedapat mungkin susu formula yang di produksi oleh pabrik yang melanggar Kode Internasional Pemasaran Susu Formula jangan/tidak boleh diterima</li>
<li>Jika ada pengecualian untuk butir diatas, pabrik tersebut sama sekali tidak diperbolehkan mempromosikan susu formulanya</li>
<li>Susu Kental Manis dan Susu cair tidak boleh diberikan kepada bayi berumur kurang dari 12 bulan</li>
<li>Susu formula diberi label dengan petunjuk yang jelas tentang cara penyajian, masa kadaluwarsa minimal 1 tahun, dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu, pengasuh atau keluarga</li>
<li><strong>Botol dan dot tidak boleh di distribusikan dan tidak dianjurkan untuk digunakan</strong>. Pemberian susu formula hendaknya menggunakan cangkir atau gelas</li>
<li>Untuk mengurangi bahaya pemberian susu formula, beberapa hal dibawah ini sebisa mungkin dipenuhi:</li>
<ul>
<li>Gunakan cangkir atau gelas yang mudah dibersihkan, diberikan sabun untuk mencuci</li>
<li>Alat yang bersih untuk membuat susu dan menyimpannya</li>
<li>Sediakan alat untuk menakar air dan susu bubuk (jangan gunakan botol susu)</li>
<li>Bahan bakar dan air bersih yang cukup (bila memungkinkan gunakan air dalam kemasan)</li>
<li>Kunjungan ulang untuk perawatan tambahan dan konseling</li>
<li>Lanjutkan promosi menyusui untuk menghindari penggunaan susu formula bagi bayi yang ibunya masih bisa menyusui</li>
</ul>
<li>Susu bubuk skim tidak boleh diberikan sebagai komoditas tunggal atau sebagai bagian dari distribusi makanan secara umum, karena dikhawatirkan akan digunakan sebagai pengganti ASI</li>
<p>Rekomendasi tersebut diatas didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula, World Health Assembly (WHA) tahun 1994 and 1996, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Pemasaran Pengganti ASI, dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tahun 2004 tentang Pemberian ASI Eksklusif pada bayi di Indonesia. WHA ke 47 menyatakan ”Pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung. Semua sumbangan susu formula atau produk lain dalam lingkup Kode, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas”
</ul>
<p><strong>Tentang Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)</strong></p>
<ul>
<li>MP-ASI hanya boleh diberikan setelah bayi berumur 6 bulan</li>
<li>MP-ASI sebaiknya disediakan berdasarkan bahan lokal (bila memungkinkan)</li>
<li>MP-ASI harus yang mudah dicerna</li>
<li>Pemberian MP-ASI disesuaikan dengan umur dan kebutuhan gizi bayi</li>
<li>MP-ASI harus mengandung kalori dan mikronutrien yang cukup</li>
</ul>
</ul>
<p><strong>PEDOMAN PENGANGANAN GIZI DALAM SITUASI DARURAT &#8211; DEPKES 2007</strong></p>
<p>Pedoman Depkes lebih lengkap, tahap penyelamatan korban dibagi sbb:<br />
<strong>Fase pertama</strong> berlangsung maksimal 5 hari, adalah saat:</p>
<ol>
<li>Pengungsi baru terkena bencana</li>
<li>Petugas belum sempat mengidentifikasi pengungsi secara lengkap</li>
<li>Belum ada perencanaan pemberian makanan terinci sehingga semua golongan umur menerima bahan makanan yang sama.</li>
<li>Khusus untuk bayi dan baduta harus tetap diberikan ASI danMP-ASI</li>
</ol>
<p>Fase ini bertujuan memberikan makanan kepada masyarakat agar tidak lapar. Sasarannya adalah seluruh pengungsi, dengan kegiatan:</p>
<ol>
<li>Pemberian makanan jadi dalam waktu sesingkat mungkin</li>
<li>Pendataan awal : jumlah pengungsi, jenis kelamin, golongan umur</li>
<li>Penyelenggaraan dapur umum (merujuk ke Depsos), dengan standar minimal</li>
</ol>
<p><strong>Fase kedua</strong> adalah saat:</p>
<ol>
<li>Pengungsi sudah lebih dari 5 hari bermukim di tempat pengungsian</li>
<li>Sudah ada gambaran keadaan umum pengungsi (jumlah, golongan umur, jenis kelamin, keadaan lingkungan dan sebagainya), sehingga perencanaan pemberian bahan makanan sudah lebih terinci</li>
<li>Pada umumnya bantuan bahan makanan cukup tersedia</li>
</ol>
<p>Sasaran pada fase ini adalah <strong>seluruh pengungsi</strong> dengan kegiatan :</p>
<ol>
<li>Pengumpulan dan pengolahan data dasar status gizi</li>
<li>Menentukan strategi intervensi berdasarkan analisis status gizi.</li>
<li>Merencanakan kebutuhan pangan untuk suplementasi gizi</li>
<li>Menyediakan paket bantuan pangan (ransum) yang cukup, mudah di konsumsi oleh semua golongan umur dengan syarat minimal sebagai berikut:</li>
<ul>
<li>Setiap orang diperhitungkan menerima ransum senilai <strong>2.100 Kkal, 40 gram lemak dan 50 gram protein per hari</strong></li>
<li>Diusahakan memberikan pangan sesuai dengan kebiasaan dan ketersediaan setempat, mudah diangkut, disimpan dan didistribusikan</li>
<li>Harus memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral.</li>
<li>Mendistribusikan ransum sampai ditetapkannya jenis intervensi gizi berdasarkan hasil data dasar (maksimum 2 minggu)</li>
<li>Memberikan penyuluhan kepada pengungsi tentang kebutuhan gizi dan cara pengolahan bahan makanan masing-masing anggota keluarga</li>
</ul>
</ol>
<p><strong>Tahap Tanggap Darurat</strong>t<br />
Tahap ini dimulai selambat-lambatnya pada hari ke-20 di tempat pengungsian.</p>
<p><strong>Tujuan:</strong><br />
Menanggulangi masalah gizi melalui intervensi sesuai tingkat kedaruratan gizi.</p>
<p><strong>Kegiatan:</strong></p>
<ol>
<li>Melakukan penapisan (screening) bila prevalensi gizi kurang balita 10 -14,9% atau 5 &#8211; 9,9% yang disertai dengan faktor pemburuk</li>
<li>Menyelenggarakan pemberian makanan tambahan sesuai dengan jenis intervensi yang telah ditetapkan pada tahap 1 fase II (PMT darurat/Ransum, PMT darurat terbatas serta PMT Terapi)</li>
<li>Memantau perkembangan status gizi melalui Surveilans</li>
<li>Melakukan modifikasi/perbaikan intervensi sesuai dengan perubahan tingkat kedaruratan: </li>
<ol>
<li>Jika prevalensi <strong>gizi kurang > 15% atau 10-14,9% dengan faktor pemburuk</strong>, diberikan paket pangan dengan standar minimal per orang per hari (ransum), dan diberikan PMT darurat untuk balita, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia serta PMT terapi bagi penderita gizi buruk. Ketentuan kecukupan gizi pada PMT darurat sama seperti standar ransum</li>
<li>Jika prevalensi gizi kurang 10-14,9% atau 5-9,9% dengan faktor pemburuk diberikan PMT darurat terbatas pada balita, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia yang kurang gizi serta PMT terapi kepada penderita gizi buruk</li>
<li>Jika prevalensi <strong>gizi kurang <10% tanpa faktor pemburuk atau < 5% dengan faktor pemburuk</strong> maka dilakukan penanganan penderita gizi kurang melalui pelayanan kesehatan setempat</li>
</ol>
</ol>
<p><strong>PENANGANAN GIZI DARURAT PADA KELOMPOK RAWAN</strong></p>
<p><strong>A. Bayi dan Anak di bawah Usia Dua Tahun (Baduta)</strong></p>
<p>Dalam keadaan darurat bayi dan anak baduta merupakan kelompok yang paling rawan dan memerlukan penanganan khusus agar terhindar dari kesakitan dan kematian.</p>
<p>Pola pemberian makanan yang terbaik bagi bayi dan anak umur dibawah 2 tahun adalah:</p>
<ol>
<li>Memberikan Air Susu Ibu (ASI) segera setelah lahir dalam waktu ½ &#8211; 1 jam pertama</li>
<li>Memberikan <strong>hanya</strong> ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan (ASI eksklusif)</li>
<li>Memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi setelah umur 6 bulan sampai umur 2 tahun</li>
<li>Tetap memberikan ASI sampai anak berumur 2 tahun atau lebih</li>
<li>Diberikan suplementasi kapsul vitamin A dosis 100.000 IU untuk bayi umur 6-11 bulan dan dosis 200.000 IU untuk anak 1-5 tahun (2 kali setahun)</li>
</ol>
<p><strong>Menyusui</strong></p>
<p>Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian makanan bayi dan baduta pada situasi darurat sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Menyusui sangat penting karena terbatasnya sarana air bersih,bahan bakar dan kesinambungan ketersediaan susu formula dalam jumlah yang memadai</li>
<li>Susu formula tidak diperkenankan diberikan kepada bayi kecuali kepada bayi piatu, bayi terpisah dari ibunya, ibu bayi dalam keadaan sakit berat</li>
<li>Pemberian susu formula diberikan secara terbatas dengan mengikuti ketentuan berikut:</li>
<ol>
<li>Hanya diberikan dengan pengawasan petugas kesehatan</li>
<li>Diberikan dengan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan</li>
<li>Botol dan dot tidak dianjurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi</li>
<li>Bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, oleh karena itu relaktasi (menyusui kembali) harus diupayakan sesegera mungkin</li>
</ol>
<li>Sumbangan susu formula harus:</li>
<ol>
<li>Diberikan atas persetujuan Kepala Kantor Wilayah Depkes setempat dan saat ini adalah Kepala Dinas Kesehatan (sesuai dengan Kepmenkes RI Nomor :237/MENKES/SK/IV/1997 tentang pemasaran Pengganti Air Susu Ibu)</li>
<li>Memenuhi standar Codex Alimentarius</li>
<li>Mempunyai label yang jelas tentang cara penyajian dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu, pengasuh atau keluarga</li>
<li>Mempunyai masa kadaluarsa sekurang-kurangnya 1 tahun terhitung sejak tanggal didistribusikan oleh produsen. Disertai dengan air minum dalam kemasan (AMDK)</li>
</ol>
<li>Susu bubuk skim tidak boleh diberikan kepada bayi</li>
</ol>
<p><strong>Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI)</strong></p>
<p>MP-ASI hanya boleh diberikan setelah bayi berumur 6 bulan. Pemberian MP-ASI memenuhi ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Bila memungkinkan sebaiknya disediakan berdasarkan bahan lokal, menggunakan peralatan makan yang higienis</li>
<li>Bahan makanan yang digunakan mudah dimakan, mudah dicerna dan penyiapannya higienis</li>
<li>Sesuai dengan umur dan kebutuhan bayi</li>
<li>Mengandung zat gizi sesuai kecukupan gizi yang dianjurkan (energi, protein, vitamin dan mineral yang cukup terutama Fe, vitamin A dan vitamin C)</li>
</ol>
<p><strong>B. Makanan Anak Usia 2 &#8211; 5 Tahun</strong></p>
<p>Makanan utama yang diberikan adalah berasal dari makanan keluarga, yang tinggi energi, vitamin dan mineral. Makanan pokok yang dapat diberikan seperti nasi, ubi, singkong, jagung, lauk pauk, sayur dan buah. Bantuan pangan yang dapat diberikan berupa makanan pokok, kacang-kacangan dan minyak sayur.</p>
<p>Khusus pada anak yang menderita gizi kurang atau anak gizi buruk pada fase tindak lanjut (setelah perawatan) perlu diberikan makanan tambahan disamping makanan keluarga, seperti makanan kudapan/jajanan, dengan nilai zat gizi energi 350 kkal dan protein 15 gr.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/rangkuman-pemberian-makan-bayi-di-situasi-darurat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Donasi Gempa Sumatera &#8212; updated 13 Okt 2009</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/laporan-donasi-gempa-sumatera/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/laporan-donasi-gempa-sumatera/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 10:24:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irawati Budiningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[laporan donasi]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[AIMI, mewakili lembaga peduli ASI lainnya mengucapkan banyak terima kasih atas sumbangan dari teman-teman semua. Donasi yang masuk ini akan kami pakai untuk pengiriman Konselor Laktasi dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk kelancaran proses menyusui bagi korban gempa sumatera. Berikut data penyumbang yang telah masuk.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak dibukanya rekening donasi untuk sumbangan Gempa Sumatera semenjak tgl. 1 Oktober 2009, banyak donasi yang masuk. Berikut rincian yang masuk baik dari BCA maupun dari Bank Mandiri</p>
<p>BCA</p>
<table>
<tr>
<td width="10%">No.</td>
<td width="45%">Nama</td>
<td width="45%">Jumlah</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">1.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Putri Kemala Sari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">2.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Meutia Miranti</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">3.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Ira Hasyda Harahap</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp2.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">4.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Lea Hambali</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">5.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Uswatun</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">6.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Febyana Roosalyn</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">7.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Anandita Witoelar</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp750.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">8.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Fitri Hayatunisma Ogi Suprayogi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp50.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">9.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Jenni</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">10.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dewi Indira</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">11.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Yuyuk Andriati Isk</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">12.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Siti Arimbi Pulungan</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp1.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">13.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp75.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">14.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rini Suluhaningtiy</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">15.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Fr Fenti B S Sani Kusnadi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">16.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">R Primasti Gondokusu</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp300.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">17.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Amanda Tasya</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp1.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">18.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Hesti Saptirini</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">19.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Miselina Sinulingg</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">20.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Selvi Amalia</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">21.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">22.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Amalia Sekar</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">23.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Fransisca Rini Eka</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">24.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">25.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Eka Faradhila</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">26.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Nurul Widyaningrum</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp600.000-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">27.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Andi Purnomowati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp150.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">28.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dwi Media Kristant</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">29.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Indo BB</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp3.400.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">30.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Komunitas Yoga Indonesia</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp20.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">31.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;"></div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;"></div>
</td>
</tr>
</table>
<p>Bank Mandiri</p>
<table>
<tr>
<td width="10%">No.</td>
<td width="45%">Nama</td>
<td width="45%">Jumlah</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">1.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Andini Saraswati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">2.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">3.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Vircillia Admadjaja</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">4.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Pravita Sari Purnama Ardini</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">5.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Alma Fanniya Idral</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">6.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp2.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">7.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Andriana Dahlan</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp300.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">8.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dita Rizky Paramita</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">9.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Nurul Hidayati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">10.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp5.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">11.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">12.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Sri Hartati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">13.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Galuh Astuti Dewati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">14.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rachmadani</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">15.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Angga Prasetya Pakpahan</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp1.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">16.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Devina Alfarani Ghautami</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">17.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Annisa Kusuma Hapsari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp630.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">18.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;"></div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;"></div>
</td>
</tr>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/laporan-donasi-gempa-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
