<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; situ gintung</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/situ-gintung/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:50:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>AIMI Dari Lokal Menuju Internasional</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/12/aimi-dari-lokal-menuju-internasional/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/12/aimi-dari-lokal-menuju-internasional/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 14:17:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[depkes]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[IMBEX]]></category>
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>
		<category><![CDATA[selasi]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar AIMI]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>
		<category><![CDATA[WBW]]></category>
		<category><![CDATA[wbw 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Akhir tahun semakin dekat, maka saatnya AIMI merangkum kegiatan-kegiatannya selama tahun 2009. Di tahun ini AIMI telah melakukan banyak hal. Bukan hanya ditingkat lokal dan nasional, tapi sudah melangkah ke tingkat internasional. Berikut berita lengkapnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AIMI, Jakarta (21/12): Tahun 2009 ini Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) telah melakukan banyak hal. Mulai dari tingkat lokal, nasional, bahkan sudah melangkah menuju dunia internasional.</p>
<p>“Agenda yang sudah dilaksanakan oleh AIMI tahun 2009 ini cukup banyak, mulai dari kegiatan untuk komunitas sendiri, untuk negara ini, bahkan dua di antaranya adalah event internasional. Begitu juga dengan 3 kali kegiatan tanggap darurat yang dilaksanakan AIMI pada tahun ini. Bagi organisasi yang masih seumur jagung, hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami, karena apa yang kami lakukan diakui dan dirasakan manfaatnya,” kata Mia Sutanto – Ketua AIMI. Dukungan yang diberikan masyarakat pun dirasakan terus mengalir, salah satunya dari penggalangan dana yang dilakukan AIMI untuk kegiatan social selalu mencapai jutaan rupiah.</p>
<p>Tak jauh beda dengan dari organisasi kesehatan. Tercatat pada tahun 2009, AIMI memperoleh penghargaan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 14 Juni 2009 atas perhatian dan dedikasi yang begitu besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia, khususnya di bidang pemberian ASI eksklusif.</p>
<p>Konsistensi AIMI untuk dalam menciptakan lingkungan dan masyarakat yang breastfeeding-friendly, menggerakkan AIMI bersama gabungan lembaga dan masyarakat peduli ASI  untuk membuat Pernyataan Bersama (PB) menolak RUU Kesehatan. Hal mendasar yang ditolak yaitu terkait dengan adanya kata-kata &#8220;Susu Formula&#8221; dalam pasal pemberian ASI. PB tersebut disampaikan ke pemerintah, legislative dan masyarakat melalui Press Conference pada 20 Agustus 2009. Pernyataan ini kemudian ditindaklanjuti dengan bertemu para wakil rakyat Komisi IX DPR. Hasil dari pertemuan dalam UU no. 36/2009 tentang Kesehatan, menghapuskan kata &#8220;Susu Formula&#8221; serta memunculkan pasal sanksi bagi semua pihak yang menghalangi pemberian ASI.</p>
<p><strong>Rangkaian kegiatan AIMI</strong></p>
<p>Tahun 2009 ini kegiatan AIMI diawali dengan pembentukan AIMI cabang Semarang, dengan ditandai dilaksanakannya Kelas EdukASI AIMI pada 21 Desember 2008 di Rumah Bersalin (RB) Ibu Semarang dengan topic Breastfeeding Basic. AIMI Semarang saat ini sudah sangat aktif dalam melakukan kegiatan konseling, mengedukasi masyarakat tentang manfaat ASI melalui ekspos di media serta rutin mengadakan Kelas Edukasi dengan bekerjasama dengan fasilitas kesehatan setempat.</p>
<p>Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-2 pada tanggal 21 April 2009, AIMI menyelenggarakan workshop Hypnobreastfeeding dengan tema “<strong>Afirmasi Positif untuk Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas ASI</strong>”. Salah satu tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk memperkenalkan teknik relaksasi terbaru, sehingga dapat membantu para ibu menyusui untuk memaksimalkan kuantitas dan kualitas ASI-nya. Kegiatan yang dilaksanakan di Jakarta, pada hari Minggu, 19 April 2009 bertempat di Anahata Wellness Center fX Lifestyle X&#8217;nter lt f5, jl Jend. Sudirman, Jakarta mampu menyedot banyak peminat, terbukti dengan dibukanya 2 kelas untuk menampung seluruh peminat. Lanny Kuswandi, seorang pakar Hypnotherapy, di daulat untuk memandu sekitar 100 ibu menyusui dalam workshop tersebut.</p>
<p>Pada Agustus 2009, AIMI berpartisipasi dalam peringatan World breastfeeding Week (WBW), dengan mengadakan Seminar ASI yang mendatangkan seorang pakar ASI Internasional, Jack Newman, MD, FRCPC. Seminar ini mengambil tema “<strong>Numbers on Demand</strong>”, dimana disampaikan oleh Dr. Jack Newman bahwa hal terpenting dalam memberikan ASI pada bayi bukan pada seberapa banyak (berapa kali, berapa mili, dll), tapi jumlah yang sesuai dengan yang diminta/diinginkan oleh bayinya. Dr. Jack Newman juga menegaskan setiap bayi adalah unik, oleh karena itu jumlah yang diminta/diinginkan oleh bayi akan berbeda satu dan lainnya.</p>
<p>Masih dalam rangka peringatan WBW 2009, AIMI menyelenggarakan Breastfeeding Fair (BF) di Dharmawangsa Square Jakarta, 6-10 Agustus 2009. Dalam Breastfeeding fair ini selain <strong>bazaar</strong>, AIMI juga menggelar mini talkshow : <strong>Sharing &#038; Caring</strong> setiap hari selama BF berlangsung. Dalam sharing &#038; Caring ini AIMI mendatangkan narasumber public figure yang peduli ASI serta para pakar di bidang kesehatan – khususnya ASI, untuk mengupas berbagai hal seputar menyusui. Mulai dari cara Jitu pancing ASI dengan hypnobreastfeeding: “<strong>Affirmasi Positif melancarkan ASI</strong>” bersama Lanny Kuswandi. Trik menyajikan: “<strong>MPASI Berkualitas</strong>” bersama Wied Harry Apriadji. Untuk mewadahi keinginan ibu yang Ingin segera langsing tapi tetap menyusui? Maka, tema di hari ketiga: “<strong>Langsing &#038; ASI berlimpah dengan Pilates</strong>” bersama Svarga Pilates. Ibu ASI Indonesia akan berbagi kisah keajaiban-keajaiban ASI: “<strong>The Miracle of ASI</strong>” bersama dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC &#038; Artika Sari Devi. Dan di hari terakhir: “<strong>Bahaya penggunaan susu formula yang tidak tepat</strong>” bersama dr. Asti Praborini &#038; Nola AB Three.</p>
<p>Pada 12 November 2009, AIMI diundang Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) cabang Tarakan – Kalimantan dalam seminar ASI dengan pembicara ketua AIMI, Mia Sutanto serta dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLCL, FABM. Acara tersebut dihadiri 250 orang serta diliput media setempat</p>
<p>Di penghujung tahun 2009, AIMI menjadi local partner Panorama untuk mengadakan kegiatan <strong>IMBEX</strong> (Indonesia Maternity and Baby Expo) 2009. Acara ini diadakan selama 3 hari,  20-22 November 2009 di Asembly Hall, JCC, Jakarta. Dalam kesempatan ini AIMI berpartisipasi mengisi bazaar, mengadakan talkshow dan mini Kelas Edukasi ASI serta membuka konsultasi/konseling menyusui pada stand-nya.</p>
<p><strong>Tanggap bencana</strong></p>
<p>Pada April 2009, ketika bencana Situ Gintung – Tangerang terjadi, AIMI membuka posko bantuan berupa dapur umum. Posko yang didirikan 2-5 April 2009 ini bertujuan untuk meringankan beban korban bencana Situ Gintung. AIMI yang memberikan perhatian khusus pada kesehatan serta gizi bayi dan balita memberikan bantuan berupa pemberian MPASI sehat untuk bayi dan balita di daerah tersebut, serta memberikan makanan lengkap gizi untuk ibu menyusui. Misi yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah mensosialisasikan untuk mengutamakan pemberian ASI dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) sehat bagi bayi dan balita dalam keadaan darurat, serta memberikan dukungan bagi ibu menyusui untuk tetap menyusui anaknya dalam kondisi seperti ini. Pihak yang telibat dalam posko ini terdiri dari pengurus AIMI, relawan peduli ASI, guru dan orang tua murid PAUD Strawberry serta ComDev MDS – Jakarta.</p>
<p>Ketika untuk ke-2 kalinya bencana gempa bumi terjadi di bumi Indonesia, tepatnya di Tasikmalaya, selama kurang lebih 1 minggu, yaitu 16-22 September 2009, Konselor Laktasi AIMI dibawah koordinasi World Vision Indonesia (WVI) terjun langsung ke daerah bencana untuk memberikan bantuan konseling untuk membantu ibu menyusui untuk tetap menyusui bayinya, serta memberikan perlengkapan yang diperlukan ibu dan bayi.</p>
<p>Pada tanggal 30 September dan 1 Oktober saat gempa melanda bumi Sumatera, AIMI mengadakan penggalangan dana dari anggota AIMI, anggota milis asiforbaby@yahoogroups.com maupun dari masyarakat umum. Sebagai upaya dan wujud solidaritas kemanusiaan AIMI, dibentuklah tim Laktasi Siaga Bencana (LSB) yang bertujuan untuk memberikan bantuan langsung pada korban bencana di Padang. Tim LSB I yang terdiri dari konselor laktasi AIMI berada di Padang 2-9 Oktober 2009, turun langsung ke daerah bencana untuk melakukan penyuluhan, konseling serta pendataan pemberian ASI pada situasi bencana. Kegiatan yang dilakukan oleh tim LSB 1 lebih diutamakan kepada pencegahan penggunaan susu formula atau MPASI instan terhadap bayi dibawah dua tahun (baduta), karena keterbatasan sanitasi (air bersih sulit di dapat, dll), sehingga pemberian susu formula dan MPASI instan akan memperkeruh keadaan karena dapat mengakibatkan bencana lain, yaitu diare sampai kematian pada baduta.</p>
<p>Tim LSB II berada di padang pada 20-24 Oktober 2009. Dengan bantuan dari ACT untuk penentuan lokasi, diprioritaskan daerah Nagari VII Koto, Kab. Pariaman, sebagai daerah bencana yang diatasi sebagai lanjutan kegiatan dari Tim I. Bentuk kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan ASI &#038; MPASI.</p>
<p>Kedatangan Tim LSB I dan II, dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam menyadarkan masyarakat akan kualitas dan komposisi ASI yang tidak tertandingi oleh susu apapun. Demikian pula dengan manfaat pengelolaan MP-ASI sehat yang jauh lebih bergizi dibandingkan dengan MP-ASI (termasuk di dalamnya bubur) instan. Pengetahuan ini sedikit banyak mempengaruhi masyarakat setempat untuk tetap mengutamakan pemberian ASI dibandingkan susu formula pada baduta serta memberikan MP-ASI sehat dibandingkan MP-ASI instan. Banyak pihak berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan dalam bentuk pelatihan</p>
<h3>Berperan di Internasional</h3>
<p><strong>World Breastfeeding Trends Initiative (WBTi)</strong></p>
<p>AIMI ditunjuk oleh International Baby Food Action Network (IBFAN) Asia untuk mengerjakan report yg berisikan kondisi dan status pemberian ASI di Indonesia pada Agustus 2008, setelah mengikuti seminar di Thailand.</p>
<p>Ada 12 indikator penting yang menjadi kunci pertanyaan dari WBTi ini, diantaranya data besaran bayi yang mendapatkan ASI, berapa jumlah RS sayang ibu dan bayi &#8211; yang sedihnya di Indonesia sampai saat ini tidak ada, Undang-undang dan peraturan yang mendukung ASI sampai ke prosedur pemberian ASI pada ibu yang menderita HIV/AIDS.</p>
<p>AIMI bekerjasama dengan Sentra Laktasi Indonesia (Selasi), Perinasia dan Departemen Kesehatan RI telah mengumpulkan data-data terkait WBTi ini pada Februari 2009 dan dikirim kembali ke IBFAN Asia dan telah di-publish di web mereka pada Agustus 2009 lalu.</p>
<p>Tujuan adanya data-data ini adalah sebagai perangkat untuk mendorong pemerintah agar terus memperhatikan kondisi pemberian ASI di negara kita yang ternyata berdasarkan laporan WBTi ini kondisinya cukup memprihatinkan.</p>
<p>Untuk melihat lebih jelas kondisi menyusui di Indonesia dan negara-negara lain di dunia bisa dilihat di: <a href="http://www.worldbreastfeedingtrends.org/">www.worldbreastfeedingtrends.org</a></p>
<p><strong>Konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 6 di Colombo, Srilanka</strong></p>
<p>Pada tanggal 18-21 November 2009, AIMI sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia diundang dalam konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 6 di Colombo, Srilanka. Konferensi yang dihadiri oleh 17 negara ini mengangkat tema &#8220;<strong>Breastfeeding in Emergencies: Challenges and Solutions</strong>&#8220;. AIMI mempresentasikan kegiatan <strong>emergency response</strong> untuk Sumbar serta laporan WBTi. Hasil dari konferensi Colombo adalah Colombo Declaration yang rencananya akan dikirimkan ke media pada awal 2010. Tahun 2010 rencananya AIMI akan menjadi host untuk konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 7 yang akan diselenggarakan di Indonesia. **</p>
<p>***</p>
<p>Fact Sheet AIMI :</p>
<p>AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.</p>
<p>Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
<p>*** </p>
<p>Contact Person AIMI:<br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584 </p>
<p>Sisca Baroto-Utomo, Media Relations<br />
sisca@aimi-asi.org<br />
HP : 0818765021</p>
<p>Sekretariat:<br />
Graha MDS Lt. 1<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta<br />
Telpon : 021-72790165 Fax: 021-72790166<br />
www.aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/12/aimi-dari-lokal-menuju-internasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Donasi AIMI Emergency Response for Situ Gintung</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/laporan-donasi-aimi-emergency-response-for-situ-gintung/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/laporan-donasi-aimi-emergency-response-for-situ-gintung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 14:23:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[Response yang diberikan untuk AIMI Emergency Response for Situ Gintung, cukup menggembirakan. Berikut laporan yang kami terima dari tg. 31 Maret 2009 hingga 2 April 209.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear moms &#038; dads,</p>
<p>Terima kasih banyak atas donasi yang sudah diberikan lewat program AIMI Emergency Response for Situ Gintung.</p>
<p>Berikut ini data laporan donasi berupa uang tunai yang masuk ke rekening yang digunakan untuk AIMI Emergency Response for Situ Gintung, mulai 31 Maret 2009 hingga 2 April 2009.</p>
<p>Melalui Rekening BCA</p>
<table>
<tr>
<td width="10%">No.</td>
<td width="45%">Nama</td>
<td width="45%">Jumlah</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">1.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rumiris T Simanjuntak</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">2.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Oki Suprayogi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 50.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">3.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Sri Kriscahyani WU</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 300.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">4.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Laura Lalitanaya </div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 2.100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">5.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rina Dwikharisti</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">6.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Setoran Tunai</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">7.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN, Sidney</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">8.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dyatar Wahyu Dwi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">9.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Esti Puji Lestari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 300.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">10.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Pangastuti Sri Han</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 50.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">11.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rini Suluhaningti</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">12.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Irvan Imandaris</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">13.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dhiti Ismawardhani</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">14.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Chrisandini</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">15.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dian Kristiani</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">16.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Ronald Hartanto</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">17.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dwi Ria Andari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 800.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">18.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">SuryaWidyanto</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">19.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dwi Ria Andari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">20.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Abdul Fattah</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 1.000.000,-</div>
</td>
</tr>
</table>
<p>Melalui Bank Mandiri</p>
<table>
<tr>
<td width="10%">No.</td>
<td width="45%">Nama</td>
<td width="45%">Jumlah</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">1.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Farida Kenyawati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 300.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">2.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Errina Hadisavitri</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">3.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Tunai</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 5.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">4.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Ratna Hartanti</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">5.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Fitria Widyasari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">6.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rachmadhani</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">7.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Astari Wirastuti</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">8.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Prishy Ratrisadewi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">9.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Titin Yunaini</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">10.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Nyekarini Puspita</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">11.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Miselina Sinulingga</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
</table>
<p>Sedangkan donasi berupa pakaian dan selimut bayi-balita layak pakai, masih kami kumpulkan dari beberapa drop box yang ada dan akan kami sampaikan menyusul.</p>
<p>Untuk donasi pakaian dan selimut bayi-balita layak pakai, terakhir pengumpulan adalah hari Minggu, 5 April 2009 jam 12.00 siang di drop box berikut ini :</p>
<ol>
<li>Sekretariat AIMI – Graha MDS lt.4, Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34 Jln. RS Fatmawati No.39 Jakarta Telp : 021-72790165 (CP. Yuli)</li>
<li>Untuk wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Pusat : Jl. Alu-Alu No. 29, Rawamangun (CP. Putri – 08111909060)</li>
<li>Untuk wilayah Jakarta Barat : Jl. Pos Pengumben Kompleks Bulog A-1 (CP. Niken – 08161918850)</li>
<li>Untuk wilayah Bintaro dan BSD : Jl. Unggun Blok U no.319 Mabad 25, Rempoa Bintaro (CP. Antie – 085710007715)</li>
<li>Untuk wilayah Depok : Jl. Tebu 151, Depok Utara (CP. Sisca – 0818765021)</li>
</ol>
<p>Sedangkan untuk donasi berupa Dana, masih kami tunggu hingga waktu yang ditentukan kemudian dan kami akan memberikan laporan penerimaan donasi uang per 3 hari.</p>
<p>Donasi berupa uang bisa disalurkan melalui rekening berikut ini :</p>
<blockquote><p>BCA cab. Gondangdia Lama<br />
No. Rek. 4551165722 a/n IRAWATI BUDININGSIH</p></blockquote>
<p>Atau</p>
<blockquote><p>Bank Mandiri cab. Jkt Cikini<br />
No. Rek. 123-00-0451025-3 a/n IRAWATI BUDININGSIH</p></blockquote>
<p>Untuk konfirmasi sumbangan dapat mengirimkan email ke irawati[at]aimi-asi.org atau melalui sms ke 0811804682 dengan format : AIMIGintung <spasi> Nama <spasi> Jumlah Donasi <spasi> Nama Bank Tujuan Transfer</p>
<p>Contoh : AIMIGintung Muhammad Ammar Rp. 200.000 Bank Mandiri</p>
<h3>PENGGUNAAN DANA</h3>
<p>Untuk penggunaan dana, akan kami laporkan perinciannya setelah program ini dinyatakan ditutup. Untuk informasi, donasi dana yang kami terima dipergunakan untuk pengadaan MPASI bagi bayi dan balita di Situ Gintung.</p>
<p>Sekali lagi kami ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas partisipasi dan bantuannya. Insya Allah semua akan diberikan balasan oleh Allah SWT..amiin..</p>
<p>Untuk info program AIMI Emergency Response for Situ Gintung bisa melalui email ke: yeye [at] aimi-asi [dot]org</p>
<p>Salam ASI!</p>
<p>Divisi Komunikasi AIMI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/laporan-donasi-aimi-emergency-response-for-situ-gintung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIMI Sosialisasikan Pemberian Makanan Bayi pada Situasi Darurat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/aimi-sosialisasikan-pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/aimi-sosialisasikan-pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 11:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Home Made]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[AIMI mengeluarkan siaran pers mengenai keterlibatan AIMI dalam mensosialisasi cara pemberian makanan bayi ada situasi darurat, seperti yang dialami oleh bayi dan balita, korban bencana bobolnya tanggung Situ Gintung di Tangerang, Banten.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA &#8212; Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mensosialisasikan cara pemberian makanan bayi ada situasi darurat, seperti yang dialami oleh bayi dan balita, korban bencana bobolnya tanggung Situ Gintung di Tangerang, Banten. Dalam situasi darurat seperti ini, pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi harus diutamakan, harus dilindungi dan didukung.</p>
<p>Ketua Divisi Advokasi AIMI, Amanda Tasya mengatakan, untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat. Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat.</p>
<p>Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung.</p>
<p>Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai. ”<em>Bahkan semua sumbangan susu formula atau produk makanan bayi lainnya, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas dan harus ada ijin dari Dinas Kesehatan setempat</em>,” kata Tasya.</p>
<p>Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<p>Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) juga diatur dalam rekomendasi bersama tersebut antara lain disebutkan bahwa MPASI hanya boleh diberikan setelah bayi berusia 6 bulan, dibuat dengan bahan makanan lokal, MPASI harus mudah dicerna dan pemberiannya harus disesuaikan dengan umur dan gizi bayi serta makanan tersebut harus mengandung kalori dan nutrisi yang cukup.</p>
<h3>Pemberian MPASI untuk bayi dan balita korban Situ Gintung</h3>
<p>Untuk meringankan beban korban bencana Situ Gintung, AIMI memberikan bantuan berupa pemberian MPASI sehat untuk bayi dan balita di daerah tersebut. Ketua AIMI, Mia Sutanto mengatakan AIMI membuat dapur umum khusus untuk memasak MPASI yang kemudian didistribusikan kepada bayi dan balita di daerah Situ Gintung. ”<em>Kami membuka dapur umum di rumah salah satu pengurus AIMI dan kemudian kami menyusun menu, memasak dan mendistribusikannya ke Situ Gintung</em>,” kata Mia.</p>
<p>Mia menjelaskan, MPASI yang disediakan oleh AIMI diupayakan memenuhi ketentuan pemberian MPASI menurut rekomendasi WHO, UNICEF dan Departemen Kesehatan seperti menggunakan bahan makanan lokal, menggunakan peralatan yang higienis, bahan makanan mudah dicerna dan mengandung kecukupan gizi yang dianjurkan (energi, protein, vitamin dan mineral terutama Fe, vitamin A dan vitamin C).</p>
<p>Lebih lanjut Mia mengatakan, ini juga merupakan salah satu kampanye AIMI untuk mensosialisasikan pemberian MPASI sehat bagi bayi diatas 6 bulan. ”<em>Kami ingin menyampaikan bahwa makanan sehat untuk bayi itu mudah dibuat sendiri di rumah, jauh lebih murah biayanya dan tentu lebih sehat daripada makanan instant</em>.”</p>
<p>Biaya untuk pemberian MPASI kepada bayi dan balita korban bencana Situ Gintung ini diperoleh dari donasi para pengurus dan anggota AIMI, anggota milis ASIforbaby dan banyak pihak lainnya, melalui program ”AIMI Emergency Response for Situ Gintung” yang dibuka selama hampir satu minggu. Program ini, lanjut Mia, juga sejalan dengan tema Pekan ASI Sedunia yang akan digelar Agustus mendatang, yaitu ”Menyusui : Tanggapan Penting atas Keadaaan Darurat”. ***</p>
<p><strong>Fact Sheet  AIMI :</strong></p>
<p>AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.</p>
<p>Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to  Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya. ***</p>
<p><strong>Contact Person AIMI:</strong><br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584                            </p>
<p>Yuyuk Andriati, Divisi Komunikasi<br />
yeye@aimi-asi.org<br />
HP : 0811 971509</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS Lt. 1<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta Telpon : 021-72790165 Fax: 021-72790166<br />
www.aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/aimi-sosialisasikan-pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemberian Makanan Bayi Pada Situasi Darurat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 03:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Tasya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[emergancy response]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Home Made]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Dalam situasi darurat seperti yang terjadi di Situ Gintung, banyak yang tergerak untuk membantu, termasuk memberi bantuan untuk bayi dan balita. Sayangnya bantuan yang masuk untuk mereka sering kali berubah menjadi sumber masalah baru bagi mereka. Bagaimana kah cara membantu anak-anak, bayi dan balita. Simak penuturan dari ketua divisi Advokasi AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang tega melihat korban tewas akibat musibah jebolnya Situ Gintung, apalagi melihat wajah bayi, balita dan anak-anak yang tak berdosa menjadi korbannya. Berbagai bantuan telah mengalir, termasuk beberapa kebutuhan untuk bayi dan balita.</p>
<p>Dalam konteks penanganan bencana, pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak bisa dilakukan dengan sembarangan agar bantuan yang akan kita berikan dengan niat baik, tidak berubah menjadi sumber permasalahan baru bagi korban yang selamat.</p>
<p>Untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat. Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat.</p>
<h3>Menyusui lebih penting</h3>
<p>Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung.</p>
<p>Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai.</p>
<p>Bahkan, Kode WHO, semua sumbangan susu formula atau produk lain dalam lingkup kode tersebut, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas.</p>
<p>Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<h3>Ibu Menjadi Korban Bencana</h3>
<p>Tak seorangpun tahu, siapa yang akan menjadi korban dalam sebuah bencana. Bisa jadi ibu yang menjadi tumpuan anaknya yang baru lahir, atau anak usia balita. Bila ibu masih bisa bertahan, sedapat mungkin menyusui masih diutamakan, yaitu dengan penilaian terhadap status menyusui seorang ibu oleh petugas terlatih dan upaya relaktasi.</p>
<p>Namun apabila memang tidak dimungkinkan pemberian ASI, misalnya bayi yang kehilangan ibunya atau bayi piatu, maka barulah susu formula dapat diberikan dengan catatan persediaan susu formula tersebut harus dijamin selama bayi membutuhkannya.</p>
<p>Maksud dari terjaminnya persediaan susu formula ini adalah agar susu formula dapat diberikan sesuai dengan takaran yang seharusnya, tidak terlalu cair yang dapat menyebabkan kurang gizi, maupun terlalu kental dimana dapat menyebabkan sembelit. Sedapat mungkin pemberian susu formula harus dibawah supervisi dan monitoring yang ketat oleh tenaga kesehatan yang terlatih.</p>
<p>Susu formula yang boleh diberikan hanya susu formula yang memenuhi standar <em>Codex Alimentarius</em> dan sebisa mungkin, susu formula yang diproduksi oleh pabrik yang melangggar Kode WHO, tidak boleh diterima. </p>
<p>Petunjuk pemberian susu formula harus tercantum jelas dalam label dan mempunyai masa kedaluarsa minimal 1 tahun. Pemberian susu formula pun hendaknya menggunakan cangkir dan gelas, sementara botol dan dot tidak boleh didistribusikan dan tidak dianjurkan untuk digunakan.</p>
<p>Untuk mengurangi bahaya pemberian susu formula, diupayakan untuk :</p>
<ul>
<li>menggunakan cangkir atau gelas yang mudah dibersihkan, diberikan sabun untuk mencuci</li>
<li>alat yang bersih untuk membuat susu dan menyimpannya</li>
<li>sediakan alat untuk menakar air dan susu bubuk (jangan gunakan botol susu)</li>
<li>bahan bakar dan air bersih yang cukup (bila memungkinkan gunakan air dalam kemasan)</li>
<li>kunjungan ulang untuk perawatan tambahan dan konseling</li>
<li>lanjutkan promosi menyusui untuk menghindari penggunaan susu formula bagi bayi yang ibunya masih bisa menyusui.</li>
</ul>
<p>Sumbangan berupa susu kental manis dan susu cair tidak boleh diberikan kepada bayi berumur kurang dari 12 bulan, sedangkan susu bubuk skim tidak boleh diberikan sebagai komoditas tunggal atau sebagai bagian dari distribusi makanan secara umum, karena dikhawatirkan akan digunakan sebagi pengganti ASI.</p>
<h3>Pedoman dari Departemen Kesehatan</h3>
<p>Pada intinya, pedoman pemberian makanan dalam keadaan darurat yang diberikan oleh Departemen Kesehatan sejalan dengan apa yang telah direkomendasikan bersama oleh UNICEF, WHO dan IDAI, yaitu menyusui sangat penting dalam keadaan darurat. Susu formula tidak diperkenankan diberikan kepada bayi kecuali kepada bayi piatu, bayi yang terpisah dari ibunya atau bila ibu dan bayi dalam keadaan sakit berat.</p>
<p>Apabila memang susu formula harus diberikan dikarenakan hal-hal tersebut, maka harus diberikan secara terbatas dengan mengikuti ketentuan berikut ini:</p>
<ol>
<li>hanya diberikan dengan pengawasan petugas kesehatan</li>
<li>diberikan dengan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan. Botol dan dot tidak dianjurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi</li>
<li>bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, oleh karena itu relaktasi harus diupayakan sesegera mungkin.</li>
</ol>
<p>Sumbangan susu formula pun harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Diberikan atas persetujuan Kepala Kantor Wilayah Depkes Propinsi setempat dan saat ini adalah Kepada Dinas Kesehatan.</li>
<li>Memenuhi standar <em>Codex Alimentarius</em></li>
<li>Mempunyai label yang jelas tentang cara penyajian dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu, pengasuh atau keluarganya</li>
<li>Mempunyai masa kedaluarsa sekurang-kurangnya 1 tahun terhitung sejak tanggal didistribusikan oleh produsen.</li>
<li>Disertai dengan air minum dalam kemasan.</li>
</ol>
<p>Selain itu susu bubuk skim tidak boleh diberikan kepada bayi.</p>
<p>Semoga setelah mengetahui ketentuan-ketentuan tersebut di atas, kita dapat membantu para korban yang masih selamat tanpa menyebabkan timbulnya permasalahan baru yang sesungguhnya dapat dihindari.</p>
<p>Apabila kita bekerja di suatu perusahaan dimana program <em>Corporate Social Responsibility</em> (CSR) berniat untuk menyumbangkan susu formula, maka adalah tanggung jawab kita untuk memberitahukan pada mereka bahwa terdapat pembatasan-pembatasan atas sumbangan dalam bentuk susu formula sehingga perusahaan tidak salah langkah dalam membantu para korban bencana.</p>
<p>Doa kami semua untuk para korban musibah Situ Gintung, semoga musibah seperti ini tidak terjadi lagi di Negara kita tercinta.</p>
<p>Apabila memerlukan <em>backup</em> data seperti <em>copy</em> rekomendasi bersama UNICEF, WHO dan IDAI serta pedoman dari DEPKES, bisa menghubungi japri amanda[dot]tasya[at]aimi-asi[dot]org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIMI Emergency Response for Situ Gintung</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/03/aimi-emergency-response-fro-situ-gintung/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/03/aimi-emergency-response-fro-situ-gintung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 08:46:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuyuk Andriati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/2009/03/aimi-emergency-response-fro-situ-gintung/</guid>
		<description><![CDATA[Sekali lagi Indonesia tertimpa bencana. Disaat seperti ini hati kita pasti akan tergerak untuk membantu saudara-saudara yang lagi kesusahan. AIMI pun akan ikut membantu dalam program yang kami namakan 'AIMI Emergency Response'. Yuk ikut bergabung bersama kami.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-257" title="emergency" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/03/emergency.jpg" alt="emergency" width="100" height="135" />Dear AFBers dan para mitra AIMI,</p>
<p>Bencana Situ Gintung tentu menggerakkan hati siapapun yang melihatnya. Bukan maksud kami ikut-ikutan latah memberi bantuan kesana, namun berdasarkan pemantauan di lapangan, masih banyak balita yang membutuhkan uluran tangan kita.</p>
<p>Kami memberikan nama program ini AIMI Emergency Response, sesuai dengan tema World Breastfeeding Week tahun 2009.</p>
<p>Sesuai dengan “core” AIMI, kami ingin membantu balita yang masih kesulitan untuk mendapatkan makanan tambahan home made, baju bayi dan balita layak pakai, dan selimut. AIMI akan membuat dapur umum yang menyediakan MPASI home made bagi balita dan menyalurkannya langsung kepada mereka selama satu minggu.</p>
<p>Untuk moms yang mau berpartisipasi, berikut ini caranya :</p>
<ol>
<li>DONASI BERUPA UANG</li>
<p>Sumbangan berupa dana dapat ditransfer ke rekening berikut :</p>
<blockquote><p>BCA cab. Gondangdia Lama<br />
No. Rek. 4551165722 a/n IRAWATI BUDININGSIH</p></blockquote>
<p>Atau</p>
<blockquote><p>Bank Mandiri cab. Jkt Cikini<br />
No. Rek. 123-00-0451025-3 a/n IRAWATI BUDININGSIH</p></blockquote>
<p>Untuk konfirmasi sumbangan dapat mengirimkan email ke irawati[at]aimi-asi[dot]org atau melalui sms ke 0811804682 dengan format : AIMIGintung Nama Jumlah Donasi Nama Bank Tujuan Transfer<br />
Contoh : AIMIGintung Muhammad Ammar Rp. 200.000 Bank Mandiri</p>
<li>DONASI BERUPA BARANG</li>
<p>Karena keterbatasan tenaga dan waktu, AIMI hanya menerima sumbangan barang berupa baju bayi dan balita layak pakai dan selimut.</p>
<p>Bagi moms yang ingin menyumbangkan barang tersebut, bisa mengirimkan ke beberapa drop box yang kami sediakan berikut ini :</p>
<ul>
<li>Sekretariat AIMI – Graha MDS lt.4, Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34 Jln. RS Fatmawati No.39 Jakarta Telp : 021-72790165 (CP. Yuli)</li>
<li>Untuk wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Pusat : Jl. Alu-Alu No. 29, Rawamangun (CP. Putri – 08111909060)</li>
<li>Untuk wilayah Jakarta Barat : Jl. Pos Pengumben Kompleks Bulog A-1 (CP. Niken – 08161918850)</li>
<li>Untuk wilayah Bintaro dan BSD : Jl. Unggun Blok U no.319 Mabad 25, Rempoa Bintaro (CP. Antie – 085710007715)</li>
<li>Untuk wilayah Depok : Jl. Tebu 151, Depok Utara (CP. Sisca – 0818765021)</li>
</ul>
</ol>
<p>Berapapun donasi yang moms berikan akan sangat berarti bagi mereka..AIMI akan mengupdate laporan semua donasi yang diberikan melalui milis asiforbaby dan website AIMI di www.aimi-asi.org</p>
<p>FYI, selain donasi ini, AIMI bekerja sama dengan SELASI juga mengadakan penyuluhan mengenai pentingnya ASI di situasi gawat darurat seperti yang terjadi di Situ Gintung. Nantikan update infonya di milis dan website AIMI.</p>
<p>Kami tunggu donasi dari moms semua.. sebelumnya, terima kasih banyak atas apa yang moms donasikan melalui AIMI.</p>
<p>Untuk INFO mengenai AIMI Emergancy Response, hubungi prapti[at]aimi-asi[dot]org atau yeye[at]aimi-asi[dot]org</p>
<p>Salam ASI!<br />
Divisi Komunikasi AIMI<br />
www.aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/03/aimi-emergency-response-fro-situ-gintung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
