<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Relaktasi</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/relaktasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Relaktasi bagi yang ingin beralih dari susu formula ke ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/05/relaktasi-bagi-yang-ingin-beralih-dari-susu-formula-ke-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/05/relaktasi-bagi-yang-ingin-beralih-dari-susu-formula-ke-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 00:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farahdibha Tenrilemba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Relaktasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1402</guid>
		<description><![CDATA[Telah dimuat di Tabloid Nakita edisi Maret 2011 no. 622 Pada dasarnya, kami para pendukung gerakan menyusui bukanlah korban dari polemik keberadaan bakteri E. Sakazakii pada susu formula, karena ada atau tidak ada berita mengenai bakteri ini, kami tetap dengan kampanye kami: mendukung, mempromosikan, dan melindungi pemberian ASI di Indonesia. Namun harus saya akui, ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>Telah dimuat di Tabloid Nakita edisi Maret 2011 no. 622</small></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/05/05-nakita-300x262.jpg" alt="" title="05-nakita" width="300" height="262" class="alignleft size-medium wp-image-1404" />Pada dasarnya, kami para pendukung gerakan menyusui bukanlah korban dari polemik keberadaan bakteri E. Sakazakii pada susu formula, karena ada atau tidak ada berita mengenai bakteri ini, kami tetap dengan kampanye kami: mendukung, mempromosikan, dan melindungi pemberian ASI di Indonesia. Namun harus saya akui, ini menjadi salah satu momen yang tepat untuk kembali mengajak masyarakat akan pentingnya menyusui, dan mengingatkan untuk kembali ke ASI. </p>
<p>Alasan untuk Tidak Menggunakan Pengganti ASI:</p>
<ol>
<li>Kandungan susu formula. Susu formula berasal dari susu sapi yang komposisinya diubah menyerupai ASI. Susu formula saat ini sudah ditambahkan komposisi yang tidak secara alami terdapat pada susu sapi, misalnya DHA, AA, sfingomielin, lactofferin, dsb. Kandungan susu sapi sangat terbatas dibanding ASI. Dan komposisinya tidak berubah sesuai kebutuhan bayi.</li>
<li>Botol dan dot. Botol dan dot terdiri atas plastik jenis tertentu yang harus selalu bersih dan higienis. Oleh karenanya, botol dan dot perlu disterilkan. Untuk mensterilkan botol dan dot diperlukan bahan bakar dan air. Ditambah lagi, penggunaan dot dapat menyebabkan bingung puting (kondisi dimana bayi sulit melekat pada payudara ibu saat menyusui langsung) dan kerusakan dini pada gigi.</li>
<li>Sanitasi dan akses ke air. Membuat susu formula harus menggunakan air bersih yang dididihkan. Untuk diketahui saja, kurang dari 50% penduduk Jakarta punya akses ke air pipa, 90% air sumur dangkal terkontaminasi bakteri E. coli (menurut BPS 2006).</li>
<li>Alam dan polusi. Botol dan dot memerlukan plastik, kaca, karet, dan silikon yang semuanya tidak dapat didaur ulang. Juga memerlukan pabrik, distribusi, pengepakan yang menimbulkan masalah polusi.</li>
<li>Ekonomi. Dalam contoh ilustrasi perhitungan konsumsi susu formula berikut digambarkan, jika seorang bayi memerlukan minimal 7 kaleng/bulan @ Rp60.000, berarti untuk seorang bayi dikeluarkan minimal Rp 420.000. Bagaimana nasib orang yang miskin jika harus membeli susu formula?</li>
</ol>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/05/05-relaktasi-ngt-206x300.jpg" alt="" title="05-relaktasi-ngt" width="206" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1405" />Sebetulnya, seorang ibu dengan bayi usia 0-2 tahun dapat melakukan relaktasi agar dapat beralih dari susu formula. Relaktasi adalah praktik menyusui kembali bayi langsung ke payudara setelah dalam kurun waktu tertentu tidak menyusui atau menyusui secara parsial (mencampur pemberian ASI dengan  makanan / minuman selain ASI) karena alasan tertentu. Relaktasi dapat dilakukan dengan diawali niat yang kuat untuk kembali menyusui. Ajak pasangan dan anggota keluarga serta orang-orang terdekat untuk mendukung ibu melakukan relaktasi. Semakin muda usia bayi, semakin mudah relaktasi dilakukan dan berhasil. </p>
<p>Tahapan relaktasi:</p>
<ol>
<li>Hentikan total penggunaan dot dan botol, berikan susu atau makanan lain dengan menggunakan gelas atau sendok, agar bayi dapat lupa pada dotnya, dan mau mengisap payudara ibu.</li>
<li>Persering kontak kulit antara ibu dan bayi. Guna dari kontak kulit ini agar hormon laktasi  dirangsang oleh isapan mulut bayi. Kegunaan lain, bayi dapat mencium bau ibunya dan mengakrabkan diri dengan ibu.</li>
<li>Bila bayi sudah mau menetek langsung, siapkan selang NGT atau pipet untuk meneteskan/mengalirkan cairan dari dalam wadah. Letakkan wadah di posisi yang lebih tinggi daripada payudara ibu. Wadah bisa berisi ASI perah (ASIP) atau susu formula yang sedang dikonsumsi bayi saat itu. Ujung selang dimasukkan kedalam wadah berisi cairan, sementara ujung satu lagi dilekatkan di puting. Tahapan ini dilakukan agar ketika bayi ada dalam posisi menyusui, ia tidak akan frustrasi dengan jumlah ASI yang masih sedikit. Ini dilakukan untuk memancing produksi, karena isapan bayi dapat merangsang hormon laktasi  bekerja.</li>
<li>Jika selama ini anak mendapatkan cairan selain ASI, susu formula misalnya, gunakan susu formula tersebut sebagai cairan dalam wadah relaktasi. Secara perlahan kurangi jumlahnya dan ganti dengan ASI perah. Seiring stimulasi yang dilakukan oleh bayi dan ibu, ASI pun lebih banyak diproduksi dan dapat diperah.</li>
<li>Perbaiki posisi dan pelekatan  saat menyusui bayi. Cari posisi yang tepat dan nyaman untuk ibu dan bayi. JIka bayi merasa tidak nyaman dengan posisinya (biasanya karena tidak terbiasa disusui), maka sediakan waktu untuk berdekatan lebih lama. Selalu berkomunikasilah dengan bayi, ajak bicara tentang proses relaktasi yang harus dilalui bersama. </li>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/05/05-relaktasi-drips-300x208.jpg" alt="" title="05-relaktasi-drips" width="300" height="208" class="alignright size-medium wp-image-1406" />
<li>Minta bantuan orang lain untuk memegang wadah berisi ASIP/susu formula tersebut supaya jalannya lancar selama melintasi selang. Jika menggunakan pipet, orang lain dapat membantu meneteskan cairan tepat diatas puting. Pastikan tetesan itu tidak berhenti, agar bayi tidak kembali frustrasi. Jika di sekitar ibu tidak ada orang, maka gantunglah wadah disekitar leher ibu, atau letakkan wadah di meja yang tinggi.</li>
<li>Memerah ASI.  Mengeluarkan ASI dari payudara dapat menstimulasi hormon laktasi untuk mulai bekerja kembali dan meningkatkan persediaan ASI. Memerah ASI dilakukan setelah menyusui bayi secara langsung (bukan sebelum). Memerah dapat dilakukan dengan tangan atau pompa.</li>
<li>Siapkan waktu dan kesabaran yang tinggi dalam menjalani proses relaktasi karena proses ini tidak bisa diukur jangka waktunya. Semua bergantung pada niat dan usaha masing-masing individu.</li>
<li>Kontak konselor laktasi terdekat jika dirasa memerlukan bantuan praktis dalam menerapkan langkah-langkah kembali menyusui ini.</li>
</ol>
<p>Untuk anak yang berusia lebih dari 2 tahun, sekiranya di umur sekian anak sudah cukup besar untuk makan makanan yang ada di rumah, tentu dengan pola nutrisi berimbang. </p>
<p>Banyak yang bertanya pada saya, &#8220;Jadi apakah anak di atas 2 tahun perlu diberi susu?&#8221; Susu merupakan salah satu sumber protein. Protein bisa kita dapatkan dari makanan lain selain susu, seperti tempe, tahu, telur, dan sebagainya.<br />
Mari kita berpikir jangka panjang dalam mencari penyelesaian dari polemik susu formula ini. Tidak ada kata terlambat untuk kembali ke ASI, selamatkan generasi masa depan bangsa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/05/relaktasi-bagi-yang-ingin-beralih-dari-susu-formula-ke-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panduan Relaktasi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2007/10/panduan-relaktasi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2007/10/panduan-relaktasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 15:46:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Relaktasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Relaktasi sangat memungkinkan selama sang ibu punya keinginan kuat untuk ini dan yang terpenting harus sabar. Artikel ini akan membantu ibu yang ingin kembali memberikan ASI pada bayinya setelah sebelumnya terhenti karena satu dan lain hal.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Alasan</h3>
<p>Sebelum memutuskan untuk melakukan relaktasi, sebaiknya bertanyalah kepada diri Anda sendiri, apa sesungguhnya yang mendorong Anda untuk melakukan hal ini? Jujur pada diri sendiri mengenai motivasi untuk melakukan relaktasi, karena hal ini ikut berperan besar dalam menentukan keberhasilan upaya yang akan Anda lakukan untuk menyusui kembali bayi Anda.</p>
<h3>Persiapan Mental</h3>
<p>Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan Anda sebelum memutuskan untuk melakukan relaktasi. Sebaiknya, diskusikan terlebih dahulu alasan-alasan yang telah Anda kemukakan diatas, dan ajaklah keluarga Anda, terutama suami, untuk membantu Anda dalam melakukan persiapan mental:</p>
<ul>
<li>Bersiap-siaplah untuk menghadapi stres yang mungkin akan Anda alami selama minggu-minggu pertama dimulainya masa relaktasi. Ada kemungkinan bayi akan menolak menyusu langsung dari payudara Anda, atau bayi akan lebih banyak menangis karena merasa frustasi dengan sedikitnya ASI yang mulai keluar.</li>
<li>Mintalah dukungan mental dari orang-orang terdekat di sekitar Anda, selain suami dan keluarga. Misalnya, dokter, konsultan laktasi ataupun teman Anda yang pernah berhasil melakukan kegiatan relaktasi.</li>
<li>Mengatur mind set Anda. Sama halnya dengan ketika pertama kali mulai menyusui setelah melahirkan bayi Anda, CONFIDENCE dan COMMITMENT adalah kunci utama keberhasilan program relaktasi. Percaya bahwa Anda akan mampu untuk memberikan yang terbaik untuk bayi Anda, dan walaupun awalnya terasa sangat sulit, namun Anda yakin bahwa perjuangan Anda akan membuahkan hasil yang manis, yaitu Air Susu Ibu.</li>
</ul>
<h3>Persiapan Awal</h3>
<p>Jika Anda dan pasangan Anda telah dengan mantap memutuskan untuk melakukan relaktasi, berikut adalah persiapan awal yang dapat Anda lakukan:</p>
<ul>
<li>Pastikan Anda cukup makan dan minum. Mulai meningkatkan konsumsi protein dan cairan ke dalam menu makan Anda sehari-hari untuk membantu mempercepat tubuh dalam memproduksi ASI.</li>
<li>Mintalah kepada dokter Anda obat yang dapat membantu tubuh dalam memproduksi ASI, atau mulai mengkonsumsi jamu ataupun jenis makanan lainnya yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI.</li>
<li>Banyak beristirahat. Mulailah mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang sekiranya bisa Anda delegasikan, karena Anda akan menghabiskan hampir seluruh waktu Anda bersama bayi Anda selama minggu-minggu pertama program relaktasi.</li>
<li>Kurangi jadwal kegiatan Anda diluar rumah, dalam minggu-minggu pertama masa relaktasi sedapat mungkin Anda menghabiskan waktu 24 jam dalam sehari bersama bayi Anda.</li>
<li>Tingkatkan skin to skin contact dengan bayi Anda. Tidurlah bersamanya baik pada malam maupun siang hari, dekaplah dan gendonglah buah hati Anda sesering mungkin. Katakan kepadanya bahwa Anda sangat mencintainya, dan Anda ingin memberikan yang terbaik untuk bayi Anda, yaitu ASI Anda.</li>
<li>Sebisanya mungkin seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan bayi Anda dikerjakan oleh Anda sendiri. Memandikan, menggantikan popok, menidurkan dan mengajaknya bermain.</li>
<li>Berlatih memposisikan bayi pada payudara Anda. Cobalah dengan berbagai cara untuk menemukan kembali posisi yang paling nyaman ketika Anda mulai menyusui.</li>
</ul>
<h3>Cara Melakukan Relaktasi</h3>
<p>Relaktasi hanya bisa dilakukan dengan satu cara, yaitu : <em>membiarkan bayi Anda menyusu sesering mungkin pada payudara Anda</em>. Frekuensi menyusui ini setidaknya adalah 10 kali dalam 24 jam, atau lebih jika memang bayi Anda menginginkannya. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat Anda tempu untuk meningkatkan frekuensi menyusui bayi Anda:</p>
<ul>
<li>Cobalah untuk menyusui bayi Anda setiap 2 jam sekali.</li>
<li>Biarkan bayi Anda menyusu kapan pun, setiap kali ia terlihat berminat.</li>
<li>Anda harus membiarkan bayi Anda mengisap payudara sekitar 30 menit setiap kali ia menyusu, jika dimungkinkan. Atau secara bertahap dapat ditingkatkan durasi menghisapnya tersebut, dimulai dari sekurangnya 15 menit pada saat menyusu.</li>
<li>Cobalah untuk selalu bersama bayi Anda &#8211; terutama pada malam hari ketika hormon prolaktin (penghasil ASI) sedang banyak-banyaknya dihasilkan &#8211; sehingga dapat setiap saat menyusui bayi Anda.
<ul>
<li><a href='http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/09/supplementer-menyusui.jpg'><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/09/supplementer-menyusui.jpg" alt="Supplementer Menyusui" title="supplementer-menyusui" width="151" height="111" class="alignleft size-full wp-image-121" /></a>Gunakan <em>suplementer menyusui</em> sebagaimana yang telah ditunjukan oleh Konsultan Laktasi Anda. Sebagai permulaan, Anda harus memberikan seporsi penuh susu (formula atau Asper) sesuai dengan berat badan bayi Anda, atau dalam jumlah yang sama seperti yang dikonsumsi sebelumnya.</li>
<li>Segera setelah ASI Anda mulai keluar sedikit, porsi susu (formula atau ASIP) tersebut dapat dikurangi sebanyak 30-60ml dalam sehari, sampai habis.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jika bayi kadang-kadang masih menyusu, pasokan ASI dapat meningkat dalam beberapa hari. Jika bayi sudah berhenti menyusu, mungkin diperlukan beberapa minggu untuk menghasilkan kembali pasokan ASI.</li>
<li>Lamanya Anda berhenti menyusui dapat dijadikan tolak ukur kasar mengenai jangka waktu relatasi. Misalnya, jika Anda baru berhenti menyusui 2 hari, maka Anda akan membutuhkan 2 hari untuk menghasilkan kembali pasokan ASI Anda. Namun, jika Anda telah berhenti menyusui selama 1 bulan, mungkin akan dibutuhkan 1 bulan pula untuk menghasilkan ASI kembali.</li>
<li>Relaktasi lebih mudah jika bayi sangat muda (kurang dari 3 bulan), daripada jika bayi berumur lebih dari 6 bulan. Namun, relaktasi dimungkinkan pada usia berapa saja.</li>
<li>Relaktasi lebih mudah jika bayi baru saja berhenti menyusu dibandingkan dengan bayi yang sudah lebih lama berhenti menyusu. Namun, relaktasi dimungkinkan kapan saja.</li>
</ul>
</li>
<p>Pastikan bahwa ketika menyusui, posisi badan Anda, posisi badan dan posisi pelekatan bayi Anda sudah benar, nyaman dan tepat.</p>
<p>Secara perlahan, kurangi dan hentikan pemberian makanan (susu formula) lewat botol yang menggunakan dot bayi. Gantilah dengan metode pemberian melalui cangkir, sendok, pipet ataupun dengan jari tangan. Sebaiknya Anda tidak memberikan empeng pada bayi Anda. Gantilah kebiasaan <em>comfort sucking</em> bayi Anda pada empeng dengan <em>comfort sucking</em> pada payudara Anda.</p>
<p>Jika bayi Anda menolak mengisap payudara yang ’kosong’, Anda dapat memberikan susu (formula atau ASIP) pada saat bayi Anda sedang mengisap payudara Anda melalui cara berikut ini:</p>
<p>Selama masa relaktasi ini, periksalah secara teratur hal-hal sebagai berikut untuk memastikan bahwa bayi Anda tidak kekurangan makanan: (a) kenaikan berat badannya, yaitu sekurangnya 500gr dalam sebulan, dan (2) frekuensi harian BAK (5-6 kali) dan BAB (minimal 1 kali) bayi Anda.</p>
<h3>Jangka Waktu Relaktasi</h3>
<p>Jangka waktu yang dibutuhkan agar pasokan ASI seorang wanita meningkat sangat bervariasi. Akan sangat membantu jiga Anda sangat termotivasi dan bayi Anda sering menyusu sesuai dengan frekuensi yang telah disarankan. Namun, sebaiknya Anda tidak perlu cemas apabila waktu yang diperlukan oleh Anda untuk menghasilkan ASI kembali lebih lama dari yang diperkirakan.</p>
<p>Hal-hal berikut ini dapat dijadikan tolak ukur jangka waktu relaktasi, namun sekali lagi ditegaskan bahwa setiap wanita membutuhkan durasi yang berbeda-beda untuk meningkatkan atau menghasilkan pasokan ASI.</p>
<h3>Kenyataan dan Harapan</h3>
<p>Yang terpenting bagi Anda adalah hindari segala perasaan negatif, terutama perasaan kecewa, jika ternyata setelah berakhirnya masa relaktasi pasokan ASI Anda tidak sebanyak sebelum Anda berhenti menyusui. Memberikan bayi Anda ASI, berapapun jumlah, sangat jauh lebih bermanfaat daripada tidak memberikan ASI sama sekali. Jadi, walaupun pada akhirnya Anda tetap harus memberikan susu formula bersamaan dengan ASI Anda, Anda dan bayi Anda dapat bersama-sama menikmati kembali kedekatan fisik dan batin, serta masa-masa hangat kegiatan <em>breastfeeding</em>.</p>
<p>Fokuskan segala perasaan positif Anda pada bayi Anda, dan bukan pada seberapa banyak ASI yang dapt Anda hasilkan. Selamat mencoba.</ul>
<p><strong>Artikel ini boleh diambil dan disebarluaskan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari AIMI, dengan syarat bahwa TIDAK digunakan dalam rangka pelanggaran Kode Etik WHO mengenai makanan-makanan pengganti ASI.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2007/10/panduan-relaktasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

