<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; MPASI Home Made</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/mpasi-home-made/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>ASI dan MPASI Sehat, Awal Tumbuh Kembang Generasi Cemerlang</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/04/asi-dan-mpasi-sehat-awal-tumbuh-kembang-generasi-cemerlang/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/04/asi-dan-mpasi-sehat-awal-tumbuh-kembang-generasi-cemerlang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 01:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Etty Sulistiyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Home Made]]></category>
		<category><![CDATA[resep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1346</guid>
		<description><![CDATA[Aku adalah ibu dengan satu anak bernama Agrataya Rakha Anugra yang berusia 3 th 11 bln. Banyak hal yang sangat aku syukuri setelah aku menjadi seorang ibu, tetapi hal yang paling membahagiakanku adalah melihat anakku tumbuh dan berkembang dengan sehat baik fisik maupun mental. Alhamdulillah selama ini aku berusaha utk selalu memberi yang terbaik untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku adalah ibu dengan satu anak bernama Agrataya Rakha Anugra  yang berusia 3 th 11 bln. Banyak hal yang sangat aku syukuri setelah aku menjadi seorang ibu, tetapi hal yang paling membahagiakanku adalah melihat anakku tumbuh dan berkembang dengan sehat baik fisik maupun mental.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/04/04-etty-agra-300x225.jpg" alt="" title="04-etty-agra" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1349" />Alhamdulillah selama ini aku berusaha utk selalu memberi yang terbaik untuk Agra: sejak awal kelahirannya aku memutuskan untuk menyusuinya, walaupun pada saat itu pengetahuanku mengenai ASI masih sangat terbatas, hal ini bisa terjadi karena aku yakin bahwa ASI adalah satu-satunya asupan yang diperlukan bayiku. </p>
<p>Pertengahan tahun 2007, tepatnya pada akhir bulan Mei, Agra lahir dengan berat 3,65 kg  dan panjang 50 cm. Sayangnya, saat itu aku tak bisa melaksanakan  IMD (Inisiasi Menyusu Dini), dikarenakan informasi mengenai hal tersebut &#8211; termasuk info-info tentang ASI dan menyusui &#8211; sangatlah terbatas. </p>
<p>Aku ingat betul pada saat dokter kandunganku memutuskan untuk melakukan operasi caesar, untuk membantu persalinanku. Aku sedih sekali karena keinginanku untuk melakukan IMD tidak dapat aku jalani,  tetapi aku coba untuk tetap berfikir positif bahwa apapun proses kelahiran yang aku jalani adalah yang terbaik untuk aku dan bayiku, yang utama adalah bayiku dapat lahir dengan selamat serta sehat walafiat. </p>
<p>Selanjutnya adalah tugasku bagaimana  merawat Agra agar ia mendapatkan asupan yang terbaik, Alhamdulillah aku dapat menyusuinya dengan lancar dan bahkan pada saat memasuki usia 1 bulan, Agra mengalami kenaikan berat badan yang cukup banyak, yaitu 1,5 kg, jadi pada saat agra berusia 1 bulan berat badannya mencapai 5,15 kg dan terus mengalami kenaikan yang cukup tiap bulannya, sampai ia berusia 6 bulan, dan selama 6 bulan itu aku menyusui secara ekslusif. Pada saatnya Agra makan, aku memutuskan untuk tetap memberi makanan yang sehat dan alami, makanan pendamping ASI (MPASI) <em>homemade</em> yang aku buat sendiri menurutku tentu lebih terjamin kesehatan, gizi dan kehigenisannya. Aku ingin Agra selalu sehat dan cerdas, sehingga aku memikirkan tiap makanan yang aku berikan kepadanya, makanan sehat yang aku buat tentunya tidak mengandung garam, gula apalagi penyedap rasa (MSG, dll). </p>
<p>Awal Agra mendapatkan MPASI aku meberinya bubur susu ASI yang aku buat sendiri dengan menggunakan bahan dasar tepung beras merah dan dicampur dengan ASI perahku, kemudian setelah aku observasi tidak terjadi <em>food intolerance</em> atau alergi terhadap makanan itu, aku meneruskan memberinya sayuran dan buah-buahan yang aku jadikan makanan selingan setelah Agra sudah bisa makan 2 kali dalam sehari, yaitu pada saat Agra berusia 6,5-7 bulan. Sampai dengan usia 9 bulan Agra mulai aku perkenalkan dengan makanan yang mengadung protein, seperti putih telur, ikan, ayam, daging sapi, yang aku kukus atau rebus dan kemudian dijadikan bubur saring. Aku bersyukur sekali karena Agra termasuk anak yang mudah makan, semua berjalan lancar dan tidak ada kendala berarti yang aku lewati selama mengurusnya.</p>
<p>Aku berusaha membuat suasana makan selalu nyaman untuk Agra sehingga ia tidak merasa bahwa kegiatan makan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, aku biasakan Agra duduk di kursi makan bayi (<em>high chair</em>) setiap kali kegiatan makan berlangsung, dan tentunya akupun memberinya contoh yang baik bahwa kegiatan makan adalah duduk di kursi makan. Terkadang ia pun aku ikut sertakan duduk diruang makan dengan kursi makannya pada saat jam makan dirumah kami. Tepat usia 1 tahun Agra sudah dapat makan nasi dan makan masakan rumah yang aku buat sehari-hari, tentunya tetap makanan sehat yang tidak mengandung penyedap rasa, bahan pewarna, pengawet dan sejenisnya. </p>
<p>ASI yang aku berikan juga tetap lancar dan berjalan sesuai kebutuhannya. Pada usia ini aku merasa semakin nyaman dalam mengurus Agra, sehingga aku memutuskan untuk masuk dalam keanggotaan AIMI dengan menjadi pengurus dalam divisi konseling sebagai salah satu konselor laktasi. Aku mengikuti program pelatihan konseling laktasi 40 jam WHO – UNICEF yang diadakan oleh Sentra Laktasi yang diketuai oleh dr. Hj. Utami Roesli, SpA., MBA., IBCLC. Aku senang sekali karena pengetahuanku mengenai ASI semakin bertambah dan aku dapat membagi pengetahuan ini kepada sesama ibu menyusui, ibu hamil dan bahkan setiap orang yang ingin tau mengenai manfaat dan kebaikan ASI. </p>
<p>Setelah aku mendapat sertifikat sebagai konselor laktasi akhirnya aku mulai aktif dalam beberapa kegiatan AIMI, terutama dalam kegiatan kelas edukasi, sebagai pembicara dan kegiatan home visit yang menjadi fasilitas AIMI untuk para anggota maupun tidak.  </p>
<p>Pengalamanku yang paling membahagiakan adalah pada saat aku dan beberapa teman AIMI menjadi panitia dan membuat posko MPASI pada saat terjadi tragedi Situ Gintung  pada tahun 2009. Kami mendisitribusikan MPASI <em>homemade</em> untuk bayi- bayi malang yang tertimpa musibah pada saat itu. Alhamdulillah sampai saat ini kegiatanku di AIMI masih berjalan lancar dan aku senang sekali bisa berbagi pengalaman dan pengetahuanku dengan sesama ibu dan bahkan orang- orang yang ingin tahu  dan membutuhkan kami sebagai konselor dan berbagi ilmu mengenai MPASI, ASI, IMD, dsb. </p>
<p>Ilmu yang aku dapat dari AIMI dan Sentra Laktasi tentunya juga aku terapkan terus dalam mengurus Agra sampai saat ini. Aku tidak malu untuk mengakui ke setiap orang bahwa aku menyusui Agra sampai ia berusia 3 thn. Walaupun tidak sedikit orang yang kadang terbingung-bingung pada saat mendengarnya, bahkan sebaliknya, aku senang sekali bisa menyusui Agra sampai ia berusia 3 thn, karena menurutku merawat dan mebesarkan Agra dari awal kehidupannya adalah ASI sebagai faktor terpenting. Dimana aku dapat selalu merasa dekat secara fisik maupun batin dengannya, dan aku sangat beruntung karena tidak semua ibu dapat menyusui anak-anaknya sampai dengan usia tersebut, karena faktor-faktor tertentu yang mungkin membuat mereka tidak dapat menyusui anaknya secara ekslusif 6 bulan dan diteruskan sampai dengan usia anak-anak mereka mencapai 2 tahun lebih. </p>
<p>Semua manfaat ASI dan MPASI <em>homemade</em> yang aku berikan kepada anakku sangat dapat aku rasakan. Agra Alhamdulillah tumbuh menjadi anak yang sehat, walaupun sesekali mengalami sakit, tetapi sebatas flu dan demam yang insyaAllah dapat aku tangani sendiri tanpa harus mendapatkan pertolongan medis ataupun pertolongan obat-obatan antibiotik, dan lain sebagainya. Agra juga tetap menjadi anak yang suka makan, dan walaupun demikian, apapun yang ia makan aku usahakan selalu merupakan makan makanan sehat, sehingga aku tidak khawatir akan kenaikan berat  badan yang tidak normal atau obesitas yang terjadi pada banyak anak belakangan ini. </p>
<p>Untuk itu, dalam artikelku kali ini, aku ingin berbagi sedikit resep makanan sehat MPASI <em>homemade</em> yang dulu aku berikan kepada anakku, semoga bermanfaat bagi para ibu yang sedang atau akan segera memberi MPASI kepada bayi- bayinya. Selamat mencoba.</p>
<p><strong>MPASI 6-9 BULAN</strong></p>
<p><strong>Bubur Susu</strong><br />
Bahan :</p>
<ul>
<li>2 sendok makan tepung beras merah / tepung beras putih (20 gr)</li>
<li>Air matang secukupnya (+/- 50 cc)</li>
<li>ASI perah secukupnya (+/- 50 cc)</li>
</ul>
<p>Cara Membuat :</p>
<ol>
<li>Masukan air matang secukupnya hingga agak mendidih*</li>
<li>Masukan tepung beras sebanyak 20 gr</li>
<li>Aduk hingga matang</li>
<li>Tuangkan pada wadah yang aman utk bayi (BPA free/ food grade) </li>
<li>Tunggu hingga tepung beras agak hangat*</li>
<li>Kemudian tuangkan ASI perah secukupnya sehingga bubur agak cair, segera sajikan.</li>
</ol>
<p>*dapat menggunakan wadah kaca tahan api yang dapat digunakan utk memasak/ merebus<br />
*sebaiknya biasakan cicipi makanan terlebih dahulu sblm disajikan kepada bayi, dan pastikan ASI perah masih dalam kondisi baik.</p>
<p><strong>Pepaya pisang*</strong><br />
Bahan :</p>
<ul>
<li>50 gr pepaya matang dan manis</li>
<li>50 gr pisang raja matang dan manis</li>
</ul>
<p>Cara Membuat :</p>
<ol>
<li>Potong pepaya dan pisang kecil-kecil</li>
<li>Haluskan pepaya  dan pisang dengan saringan kawat/ dapat langsung dihaluskan dgn sendok</li>
<li>Tuang pada wadah yang aman utk bayi (BPA free/ food grade), segera sajikan.</li>
</ol>
<p>*pastikan bayi telah bebas dari intolerance food/ alergi thdp pepaya dan pisang </p>
<p><strong>Nasi Tim Saring Ayam Brokoli</strong><br />
Bahan :</p>
<ul>
<li>20 gr beras, cuci bersih</li>
<li>625 cc air</li>
<li>25 gr daging ayam giling</li>
<li>25 gr tempe, potong kecil-kecil</li>
<li>25 gr brokoli potong kecil-kecil kemudian rendam 10-15 menit dalam air garam (agar ulat mati)</li>
<li>25 gr tomat, potong kecil-kecil</li>
</ul>
<p>Cara Membuat :</p>
<ol>
<li>Campur beras yang sudah dibersihkan dgn air, daing ayam dan tempe</li>
<li>Rebus dan aduk hingga menjadi bubur</li>
<li>Masukan brokoli dan tomat, masak hingga sayuran matang</li>
<li>Kemudian angkat</li>
<li>Tunggu hingga hangat kemudian haluskan dgn saringan kawat, segera sajikan.</li>
</ol>
<p>Catatan ;<br />
Untuk mengetahui bahwa bayi mengalami alergi atau <em>food intolerance</em> caranya adalah, beri bayi satu jenis makanan yang sama selama 3 hari berturut-turut, kemudian lihat efeknya, apabila terdapat ruam pada kulit, gatal-gatal dan bisa juga berupa gejala seperti sesak nafas (biasanya terjadi pada jenis makanan yang berupa kacang-kacangan)  atau terjadi perubahan sistem tubuh  yang lain, artinya bayi mengalami alergi atau <em>food intolerance</em>. Alergi atau <em>food intolerance</em> biasanya terjadi beberapa jam setelah pemberian makanan sampai dengan 3 hari. Apabila smp 3 hari bayi tidak mengalami gejala alergi atau <em>food intolerance</em> artinya bayi dapat mengkonsumsi makanan tersebut.</p>
<p>Yang dimaksud dengan <em>food intolerance</em> adalah sistem pencernaan bayi yang belum sempurna belum dapat mencerna jenis makanan tertentu sehingga bayi akan mengalami perubahan sistem pada tubuhnya, misalnya keluar bercak atau ruam pada kulit. </p>
<p>Dikarenakan imunitasnya yang belum befungsi dengan baik maka untuk mengetahui bahwa hal tersebut merupakan gejala alergi ataupun <em>food intolerance</em> caranya adalah dengan mencoba memberi jenis makanan yang sama ketika usia bayi sudah lebih besar, misal 2-3 bulan kemudian, coba berikan makanan yang dicurigai sebagai pencetus terjadinya bercak atau ruam pada kulit tersebut. Biasanya <em>food intolerance</em> ini tidak terjadi lagi, kecuali pada saat sistem imunnya sedang tidak seimbang (tubuh sedang kurang fit)</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan alergi adalah terjadinya bercak atau ruam pada kulit ataupun gejala sesak nafas (perubahan sistem imunitas tubuh) yang berulang setiap kali anak mengkonsumsi makanan yang dicurigai sebagai pencrtus terjadinya hal-hal tersebut sampai anak beranjak dewasa dan bahkan sampai seumur hidupnya. </p>
<p>Jadi <em>food intolerance</em> sifatnya jangka pendek atau hanya sementara dan seiring perkembangan sistem imunitasnya, bayi akan dapat mencerna makanan tersebut dengan baik, walaupun disaat tertentu, seperti pada saat kondisi tubuhnya kurang baik hal ini dapat muncul lagi.</p>
<p>Sedangkan alergi sifatnya jangka panjang atau selamanya, bayi atau bahkan seseorang dapat mengalami perubahan sistem imunitas pada saat ia mengkonsumsi  jenis makanan yang dapat memicu terjadinya ruam, bercak atau bahkan sesak nafas.</p>
<p>Sekian artikel  yang saya tulis kali ini semoga bermanfaat dan dapat membantu para ibu yang ingin memberi makanan sehat sambil tetap terus memberi ASI kepada bayinya, dan maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/04/asi-dan-mpasi-sehat-awal-tumbuh-kembang-generasi-cemerlang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadwal Kelas Edukasi AIMI Februari-April 2011</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/02/jadwal-kelas-edukasi-aimi-februari-april-2011/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/02/jadwal-kelas-edukasi-aimi-februari-april-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 02:24:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tanti Djafar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kelas Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Basic]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Tips for Working Moms]]></category>
		<category><![CDATA[Common Problems in Breastfeeding]]></category>
		<category><![CDATA[Jadwal Kelas Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Home Made]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1287</guid>
		<description><![CDATA[Jangan sampai ketinggalan ya ikutan Kelas Edukasi &#038; Talkshow AIMI untuk bulan FEBRUARI &#8211; APRIL 2011. Tempat terbatas! Pendaftaran SUDAH DIBUKA!! (1) BREASTFEEDING BASICS (BB) Dalam kelas ini akan dibahas berbagai topik, seperti: (a) tatalaksana IMD; (b) mengapa ASI dan resiko pemberian susu formula, (c) manfaat ASI bagi ibu dan bayi, (d) perkenalan anatomi payudara, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jangan sampai ketinggalan ya ikutan Kelas Edukasi &#038; Talkshow AIMI untuk bulan FEBRUARI &#8211; APRIL 2011. Tempat terbatas!</p>
<p><strong>Pendaftaran SUDAH DIBUKA!!</strong></p>
<p><strong>(1) BREASTFEEDING BASICS (BB)</strong></p>
<p>Dalam kelas ini akan dibahas berbagai topik, seperti:<br />
(a) tatalaksana IMD;<br />
(b) mengapa ASI dan resiko pemberian susu formula,<br />
(c) manfaat ASI bagi ibu dan bayi,<br />
(d) perkenalan anatomi payudara,<br />
(e) berbagai posisi menyusui,<br />
(f) pelekatan yang benar, dan<br />
(g) kiat-kiat sukses menyusui.</p>
<p>Para peserta kelas ini juga akan mempraktekan secara langsung berbagai posisi menyusui, pijat ibu untuk melancarkan ASI, dan juga akan menonton video IMD serta video menyusui keluaran dr. Jack Newman, MD, pakar laktasi dari Kanada.</p>
<p><strong>(2) BREASTFEEDING TIPS FOR WORKING MOMS (WM)</strong></p>
<p>Ibu-ibu menyusui yang juga bekerja diluar rumah perlu diberikan dukungan penuh supaya tetap dapat menyusui, minimal secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayinya. Untuk ini, perlu diberikan informasi, dukungan serta pelatihan secara khusus mengenai beberapa topik yang dapat membantu dalam pencapaian target tersebut, seperti:<br />
- hak2 ibu bekerja untuk tetap menyusui<br />
- persiapan untuk kembali bekerja<br />
- tips meningkatkan supply ASI<br />
- anatomi payudara<br />
- teknik memerah, menyimpan dan memberikan ASIP</p>
<p>Tidak ketinggalan ada praktek langsung:<br />
- memijat payudara<br />
- memerah ASI dengan tangan<br />
- pijat punggung untuk melancarkan ASI</p>
<p>Ditambah lagi dengan menonton langsung video memerah ASI dengan tangan, demo memberikan ASIP dengan cangkir/cawan.</p>
<p><strong>(3) COMMON PROBLEMS IN BREASTFEEDING (CP)</strong></p>
<p>Puting lecet&#8230;luka&#8230;sampai berdarah? Payudara terasa keras, bengkak sampai badan meriang? Bayi menangis terus&#8230;bayi menolak menyusu langsung dari payudara&#8230;produksi ASIP tiba2 menurun&#8230;? memang ada saja permasalahan yang dapat dijumpai selama perjalanan kita menyusui sang buah hati. Mari kita bahas secara bersama2 berbagai common problems tersebut.<br />
- puting lecet dan luka, candida (thrush)<br />
- membedakan payudara bengkak, tersumbat, mastitis dan abses<br />
- mengapa bayiku menangis terus?<br />
- aneka bentuk, rupa dan warna feces bayi ASIX<br />
- breast refusal (menolak menyusu langsung dari payudara)<br />
- produksi ASI tiba2 menurun<br />
- beda nursing strike (tiba2 menolak menyusu) &#038; early weaning<br />
- weaning with love</p>
<p>Juga akan dipraktekkan metode pemberian tambahan asupan melalui sistem Supplementary Nursing.</p>
<h3>KELAS EDUKASI</h3>
<h4>JAKARTA</h4>
<p><strong>Lokasi</strong>:<br />
Sekolah Cikal<br />
Jl. TB. Simatupang Kav. 18<br />
Cilandak, Jakarta Selatan<br />
<strong>Jam</strong>: 08.30 &#8211; selesai<br />
<strong>HTM</strong>: (termasuk snack, cd materi, goodie bag dan kuis berhadiah)<br />
- Member AIMI: Rp 112.500/pax atau Rp 207.000/couple<br />
- Umum: Rp 125.000/pax atau Rp 230.000/couple<br />
<strong>Info</strong>: Tanti  0878 7718 6666 (sms only)<br />
<strong>Registrasi</strong>: daftar.jakarta[at]yahoo.co.id<br />
<strong>Note</strong>:<br />
- Kelas edukasi akan berlangsung apabila peserta minimal 5 orang.<br />
- Registrasi hanya dilayani via email.<br />
<strong>JADWAL</strong>:<br />
26 Februari: Breastfeeding Basic (BB)<br />
5 Maret: Breastfeeding Tips for Working Moms (WM)<br />
19 Maret: Common Problems in Breastfeeding (CP)<br />
2 April: Breastfeeding Basic (BB)<br />
16 April: Breastfeeding Tips for Working Moms (WM)</p>
<h4>BOGOR</h4>
<p><strong>Lokasi</strong>: akan diinfokan langsung oleh bagian pendaftaran kelas edukasi Bogor kepada calon peserta.<br />
<strong>Jam</strong>: 08.30 &#8211; selesai<br />
<strong>HTM</strong>: (termasuk snack, cd materi, goodie bag)<br />
- Member AIMI: Rp 65.000/pax atau Rp 120.000/couple<br />
- Umum: Rp 80.000/pax atau Rp 150.000/couple<br />
<strong>Info</strong>: Mitha 0813 8850 4949<br />
<strong>Registrasi</strong>: daftar.bogor[at]aimi-asi.org<br />
<strong>JADWAL</strong>:<br />
19 Februari: Breasteeding Tips for Working Moms (WM)<br />
12 Maret: Breastfeeding Basic (BB)<br />
26 Maret: Breastfeeding Tips for Working Moms (WM)<br />
16 April: Breastfeeding Basic (BB)<br />
<del datetime="2011-04-08T09:39:08+00:00">30 April</del> 7 Mei: Breastfeeding Tips for Working Moms (WM)</p>
<h4>BANDUNG</h4>
<p><strong>Lokasi</strong>: akan diinfokan langsung oleh bagian pendaftaran kelas edukasi Bogor kepada calon peserta.<br />
<strong>Jam</strong>: 09.00 &#8211; selesai<br />
<strong>HTM</strong>: (termasuk snack, cd materi, goodie bag)<br />
- Member AIMI: Rp 75.000/pax atau Rp 140.000/couple<br />
- Umum: Rp 90.000/pax atau Rp 170.000/couple<br />
<strong>Info</strong>: Marthia 0857 2152 5805 / 022-9209 2933<br />
<strong>Registrasi</strong>: daftar[at]jabar.aimi-asi.org<br />
<strong>Note</strong>:<br />
- Kelas edukasi akan berlangsung apabila peserta minimal 10 orang.<br />
<strong>JADWAL</strong>:<br />
6 Februari: Breastfeeding Basic (BB)<br />
6 Maret: Breastfeeding Tips for Working Moms (WM)<br />
3 April: Breastfeeding Basic (BB)</p>
<h4>SEMARANG</h4>
<p><strong>Lokasi</strong>:<br />
Wisma Diklit RS Dr. Karyadi<br />
(warna orange, sebelah masjid, dekat Paviliun Garuda)<br />
Ruang Flamboyan Lt. 1<br />
Jl. Dr. Sutomo, Semarang.<br />
<strong>Jam</strong>: 09.00 &#8211; selesai<br />
<strong>HTM</strong>: (termasuk snack, cd materi, blocknote)<br />
- Member AIMI: Rp 55.000/pax atau Rp 100.000/couple<br />
- Umum: Rp 60.000/pax atau Rp 110.000/couple<br />
<strong>Info</strong>: Yola 0812 8584 562<br />
<strong>Registrasi</strong>: semarang[at]jateng.aimi-asi.org<br />
<strong>JADWAL</strong>:<br />
27 Februari: Breastfeeding Basic (BB)<br />
27 Maret: Breastfeeding Tips for Working Moms (WM)</p>
<h4>PURWOKERTO</h4>
<p><strong>Lokasi</strong>:<br />
AULA DKK (kantor dinas Kesehatan)<br />
Jl. R.A Wiraandmadja (Jl. Bank) No. 4<br />
Purwokerto<br />
<strong>Jam</strong>: 09.00 &#8211; selesai<br />
<strong>HTM</strong>: (termasuk snack, cd materi, goodiebag)<br />
- Member AIMI Rp 30.000,00/ Rp 50.000,00 couple<br />
- Umum Rp 35.000,00/ Rp. 55.000,00 couple<br />
<strong>Info</strong>: Lila 0813 2700 2104<br />
<strong>JADWAL</strong>:<br />
27 Maret: Breastfeeding Basic (BB)</p>
<h4>SURABAYA</h4>
<p><strong>Lokasi</strong>:<br />
Virto Office, Ruko Galaxi Bumi Permai Tahap 2 Blok J1 No. 23A-45<br />
Jl. Suko Semolo, Surabaya<br />
<strong>HTM</strong>: (termasuk snack, cd materi, blocknote)<br />
- Member AIMI: Rp 75.000/pax atau Rp 140.000/couple<br />
- Umum: Rp 90.000/pax atau Rp 160.000/couple<br />
<strong>Info</strong>: Angel 0896 7579 9000<br />
<strong>Registrasi</strong>: daftar.kelas[at]jatim.aimi-asi.org<br />
<strong>JADWAL</strong>:<br />
13 Februari: Breastfeeding Tips for Working Moms (WM)<br />
26 Februarit: Breastfeeding Tips for Working Moms (WM)<br />
13 Maret: Breastfeeding Basic (BB)<br />
9 April: Common Problems in Breastfeeding (CP)</p>
<h4>SIDOARJO</h4>
<p><strong>Lokasi</strong>:<br />
R. Komite Medik RSD Sidoarjo, Jl. Mojopahit 667<br />
<strong>HTM</strong>: (termasuk snack, cd materi, blocknote)<br />
- Member AIMI: Rp 50.000/pax atau Rp 90.000/couple<br />
- Umum: Rp 65.000/pax atau Rp 120.000/couple<br />
<strong>Info</strong>: Angel 0896 7579 9000<br />
<strong>Registrasi</strong>: daftar.kelas[at]jatim.aimi-asi.org<br />
<strong>JADWAL</strong>:<br />
26 Februari: Breastfeeding Basic (BB)<br />
26 Maret: Breastfeeding Tips for Working Moms (WM)<br />
16 April: Common Problems in Breastfeeding (CP)</p>
<p>&#8212;-</p>
<h3>TALKSHOW MPASI</h3>
<h4>JAKARTA</h4>
<p>Talkshow MPASI diadakan setiap 2-3 bulang sekali dengan maksimal peserta adalah 50 orang. Untuk memperdalam ilmu para Ibu2 dalam urusan MPASI bayi dan anak, maka AIMI mengundang pakarnya langsung yaitu Pak Wied Harry Apriadji. Akan ada demo masak dan icip2 untuk setiap talkshow nya. Seru dan bermanfaat tentunya.</p>
<p><strong>Hari/TGL</strong>: Sabtu, 12 Maret 2011<br />
<strong>Jam</strong>: 09.00 &#8211; selesai<br />
<strong>Lokasi</strong>:<br />
Rest. Sambara<br />
Jl. Cipete Raya<br />
<strong>HTM</strong>: (termasuk snack, materi, goodie bag, icip2, demo masak dan kuis berhadiah)<br />
- Member AIMI: Rp 135.000/pax<br />
- Umum: Rp 150.000/pax<br />
<strong>Info &#038; Registrasi</strong>: daftar.mpasi[at]yahoo.co.id</p>
<p><strong>NOTE</strong>:<br />
Untuk memudahkan pendaftaran kelas edukasi dan talkshow, mohon mengirimkan email dengan mencantumkan:<br />
- Nama:<br />
- Kelas yang ingin diikuti:<br />
- TGL kelas:<br />
- Jumlah peserta:<br />
- Member AIMI/Umum:</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/02/jadwal-kelas-edukasi-aimi-februari-april-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIMI Sosialisasikan Pemberian Makanan Bayi pada Situasi Darurat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/aimi-sosialisasikan-pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/aimi-sosialisasikan-pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 11:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Home Made]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[AIMI mengeluarkan siaran pers mengenai keterlibatan AIMI dalam mensosialisasi cara pemberian makanan bayi ada situasi darurat, seperti yang dialami oleh bayi dan balita, korban bencana bobolnya tanggung Situ Gintung di Tangerang, Banten.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA &#8212; Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mensosialisasikan cara pemberian makanan bayi ada situasi darurat, seperti yang dialami oleh bayi dan balita, korban bencana bobolnya tanggung Situ Gintung di Tangerang, Banten. Dalam situasi darurat seperti ini, pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi harus diutamakan, harus dilindungi dan didukung.</p>
<p>Ketua Divisi Advokasi AIMI, Amanda Tasya mengatakan, untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat. Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat.</p>
<p>Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung.</p>
<p>Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai. ”<em>Bahkan semua sumbangan susu formula atau produk makanan bayi lainnya, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas dan harus ada ijin dari Dinas Kesehatan setempat</em>,” kata Tasya.</p>
<p>Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<p>Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) juga diatur dalam rekomendasi bersama tersebut antara lain disebutkan bahwa MPASI hanya boleh diberikan setelah bayi berusia 6 bulan, dibuat dengan bahan makanan lokal, MPASI harus mudah dicerna dan pemberiannya harus disesuaikan dengan umur dan gizi bayi serta makanan tersebut harus mengandung kalori dan nutrisi yang cukup.</p>
<h3>Pemberian MPASI untuk bayi dan balita korban Situ Gintung</h3>
<p>Untuk meringankan beban korban bencana Situ Gintung, AIMI memberikan bantuan berupa pemberian MPASI sehat untuk bayi dan balita di daerah tersebut. Ketua AIMI, Mia Sutanto mengatakan AIMI membuat dapur umum khusus untuk memasak MPASI yang kemudian didistribusikan kepada bayi dan balita di daerah Situ Gintung. ”<em>Kami membuka dapur umum di rumah salah satu pengurus AIMI dan kemudian kami menyusun menu, memasak dan mendistribusikannya ke Situ Gintung</em>,” kata Mia.</p>
<p>Mia menjelaskan, MPASI yang disediakan oleh AIMI diupayakan memenuhi ketentuan pemberian MPASI menurut rekomendasi WHO, UNICEF dan Departemen Kesehatan seperti menggunakan bahan makanan lokal, menggunakan peralatan yang higienis, bahan makanan mudah dicerna dan mengandung kecukupan gizi yang dianjurkan (energi, protein, vitamin dan mineral terutama Fe, vitamin A dan vitamin C).</p>
<p>Lebih lanjut Mia mengatakan, ini juga merupakan salah satu kampanye AIMI untuk mensosialisasikan pemberian MPASI sehat bagi bayi diatas 6 bulan. ”<em>Kami ingin menyampaikan bahwa makanan sehat untuk bayi itu mudah dibuat sendiri di rumah, jauh lebih murah biayanya dan tentu lebih sehat daripada makanan instant</em>.”</p>
<p>Biaya untuk pemberian MPASI kepada bayi dan balita korban bencana Situ Gintung ini diperoleh dari donasi para pengurus dan anggota AIMI, anggota milis ASIforbaby dan banyak pihak lainnya, melalui program ”AIMI Emergency Response for Situ Gintung” yang dibuka selama hampir satu minggu. Program ini, lanjut Mia, juga sejalan dengan tema Pekan ASI Sedunia yang akan digelar Agustus mendatang, yaitu ”Menyusui : Tanggapan Penting atas Keadaaan Darurat”. ***</p>
<p><strong>Fact Sheet  AIMI :</strong></p>
<p>AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.</p>
<p>Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to  Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya. ***</p>
<p><strong>Contact Person AIMI:</strong><br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584                            </p>
<p>Yuyuk Andriati, Divisi Komunikasi<br />
yeye@aimi-asi.org<br />
HP : 0811 971509</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS Lt. 1<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta Telpon : 021-72790165 Fax: 021-72790166<br />
www.aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/aimi-sosialisasikan-pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemberian Makanan Bayi Pada Situasi Darurat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 03:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Tasya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[emergancy response]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Home Made]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Dalam situasi darurat seperti yang terjadi di Situ Gintung, banyak yang tergerak untuk membantu, termasuk memberi bantuan untuk bayi dan balita. Sayangnya bantuan yang masuk untuk mereka sering kali berubah menjadi sumber masalah baru bagi mereka. Bagaimana kah cara membantu anak-anak, bayi dan balita. Simak penuturan dari ketua divisi Advokasi AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang tega melihat korban tewas akibat musibah jebolnya Situ Gintung, apalagi melihat wajah bayi, balita dan anak-anak yang tak berdosa menjadi korbannya. Berbagai bantuan telah mengalir, termasuk beberapa kebutuhan untuk bayi dan balita.</p>
<p>Dalam konteks penanganan bencana, pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak bisa dilakukan dengan sembarangan agar bantuan yang akan kita berikan dengan niat baik, tidak berubah menjadi sumber permasalahan baru bagi korban yang selamat.</p>
<p>Untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat. Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat.</p>
<h3>Menyusui lebih penting</h3>
<p>Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung.</p>
<p>Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai.</p>
<p>Bahkan, Kode WHO, semua sumbangan susu formula atau produk lain dalam lingkup kode tersebut, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas.</p>
<p>Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<h3>Ibu Menjadi Korban Bencana</h3>
<p>Tak seorangpun tahu, siapa yang akan menjadi korban dalam sebuah bencana. Bisa jadi ibu yang menjadi tumpuan anaknya yang baru lahir, atau anak usia balita. Bila ibu masih bisa bertahan, sedapat mungkin menyusui masih diutamakan, yaitu dengan penilaian terhadap status menyusui seorang ibu oleh petugas terlatih dan upaya relaktasi.</p>
<p>Namun apabila memang tidak dimungkinkan pemberian ASI, misalnya bayi yang kehilangan ibunya atau bayi piatu, maka barulah susu formula dapat diberikan dengan catatan persediaan susu formula tersebut harus dijamin selama bayi membutuhkannya.</p>
<p>Maksud dari terjaminnya persediaan susu formula ini adalah agar susu formula dapat diberikan sesuai dengan takaran yang seharusnya, tidak terlalu cair yang dapat menyebabkan kurang gizi, maupun terlalu kental dimana dapat menyebabkan sembelit. Sedapat mungkin pemberian susu formula harus dibawah supervisi dan monitoring yang ketat oleh tenaga kesehatan yang terlatih.</p>
<p>Susu formula yang boleh diberikan hanya susu formula yang memenuhi standar <em>Codex Alimentarius</em> dan sebisa mungkin, susu formula yang diproduksi oleh pabrik yang melangggar Kode WHO, tidak boleh diterima. </p>
<p>Petunjuk pemberian susu formula harus tercantum jelas dalam label dan mempunyai masa kedaluarsa minimal 1 tahun. Pemberian susu formula pun hendaknya menggunakan cangkir dan gelas, sementara botol dan dot tidak boleh didistribusikan dan tidak dianjurkan untuk digunakan.</p>
<p>Untuk mengurangi bahaya pemberian susu formula, diupayakan untuk :</p>
<ul>
<li>menggunakan cangkir atau gelas yang mudah dibersihkan, diberikan sabun untuk mencuci</li>
<li>alat yang bersih untuk membuat susu dan menyimpannya</li>
<li>sediakan alat untuk menakar air dan susu bubuk (jangan gunakan botol susu)</li>
<li>bahan bakar dan air bersih yang cukup (bila memungkinkan gunakan air dalam kemasan)</li>
<li>kunjungan ulang untuk perawatan tambahan dan konseling</li>
<li>lanjutkan promosi menyusui untuk menghindari penggunaan susu formula bagi bayi yang ibunya masih bisa menyusui.</li>
</ul>
<p>Sumbangan berupa susu kental manis dan susu cair tidak boleh diberikan kepada bayi berumur kurang dari 12 bulan, sedangkan susu bubuk skim tidak boleh diberikan sebagai komoditas tunggal atau sebagai bagian dari distribusi makanan secara umum, karena dikhawatirkan akan digunakan sebagi pengganti ASI.</p>
<h3>Pedoman dari Departemen Kesehatan</h3>
<p>Pada intinya, pedoman pemberian makanan dalam keadaan darurat yang diberikan oleh Departemen Kesehatan sejalan dengan apa yang telah direkomendasikan bersama oleh UNICEF, WHO dan IDAI, yaitu menyusui sangat penting dalam keadaan darurat. Susu formula tidak diperkenankan diberikan kepada bayi kecuali kepada bayi piatu, bayi yang terpisah dari ibunya atau bila ibu dan bayi dalam keadaan sakit berat.</p>
<p>Apabila memang susu formula harus diberikan dikarenakan hal-hal tersebut, maka harus diberikan secara terbatas dengan mengikuti ketentuan berikut ini:</p>
<ol>
<li>hanya diberikan dengan pengawasan petugas kesehatan</li>
<li>diberikan dengan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan. Botol dan dot tidak dianjurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi</li>
<li>bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, oleh karena itu relaktasi harus diupayakan sesegera mungkin.</li>
</ol>
<p>Sumbangan susu formula pun harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Diberikan atas persetujuan Kepala Kantor Wilayah Depkes Propinsi setempat dan saat ini adalah Kepada Dinas Kesehatan.</li>
<li>Memenuhi standar <em>Codex Alimentarius</em></li>
<li>Mempunyai label yang jelas tentang cara penyajian dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu, pengasuh atau keluarganya</li>
<li>Mempunyai masa kedaluarsa sekurang-kurangnya 1 tahun terhitung sejak tanggal didistribusikan oleh produsen.</li>
<li>Disertai dengan air minum dalam kemasan.</li>
</ol>
<p>Selain itu susu bubuk skim tidak boleh diberikan kepada bayi.</p>
<p>Semoga setelah mengetahui ketentuan-ketentuan tersebut di atas, kita dapat membantu para korban yang masih selamat tanpa menyebabkan timbulnya permasalahan baru yang sesungguhnya dapat dihindari.</p>
<p>Apabila kita bekerja di suatu perusahaan dimana program <em>Corporate Social Responsibility</em> (CSR) berniat untuk menyumbangkan susu formula, maka adalah tanggung jawab kita untuk memberitahukan pada mereka bahwa terdapat pembatasan-pembatasan atas sumbangan dalam bentuk susu formula sehingga perusahaan tidak salah langkah dalam membantu para korban bencana.</p>
<p>Doa kami semua untuk para korban musibah Situ Gintung, semoga musibah seperti ini tidak terjadi lagi di Negara kita tercinta.</p>
<p>Apabila memerlukan <em>backup</em> data seperti <em>copy</em> rekomendasi bersama UNICEF, WHO dan IDAI serta pedoman dari DEPKES, bisa menghubungi japri amanda[dot]tasya[at]aimi-asi[dot]org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mudik Menyenangkan dengan MPASI Buatan Sendiri</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/09/mudik-menyenangkan-dengan-mpasi-buatan-sendiri/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/09/mudik-menyenangkan-dengan-mpasi-buatan-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 03:32:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tengku Arisma Mellina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Blue Ice]]></category>
		<category><![CDATA[Cooler Box]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Beku]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Home Made]]></category>
		<category><![CDATA[Mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Saat mudik akan segera tiba! Mari kita siapkan semua kebutuhan keluarga agar mudik menjadi menyenangkan, termasuk menyiapkan MPASI buatan sendiri untuk si kecil.Kira-kira apa saja yaa yang harus dipersiapkan? Silahkan klik untuk informasi selengkapnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/09/pesawat2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-116" title="Mudik Menyenangkan dengan MPASI Buatan Sendiri" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/09/pesawat2.jpg" alt="MPASI,ASI,Snack,Cooler Box,Blue Ice,Mudik" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Selain menanti datangnya hari raya Idul Fitri, mudik pun menjadi suatu ritual yang sangat ditunggu-tunggu oleh kita. Terlebih lagi karena lebaran kali ini kita membawa sang buah hati untuk pertama kalinya. Namun, mudik juga dapat merusak jadwal dan kebiasaan kita dalam memberi makanan bagi si buah hati, karena biasanya kita mempersiapkannya di rumah dengan peralatan yang lengkap dan jadwal yang tetap. Kemungkinan ini dapat kita minimalkan dengan memberikan MPASI/snack selama dalam perjalanan.</p>
<p>Menjaga bayi agar tidak lapar melalui pemberian MPASI/snack pada saat mudik itu sebenarnya tidaklah sulit. Meskipun demikian, bagi yang menggunakan kendaraan darat, disarankan tidak memberi makan pada saat kendaraan sedang berjalan untuk menghindari dari kemungkinan tersedak. Khususnya pada bayi yang sering mengalami <em>motion sickness </em>(mabok), yakni mudah mengalami muntah akibat guncangan-guncangan kecil di dalam kendaraan selama perjalanan. Pemberian MPASI dapat dilakukan pada saat kendaraan menepi untuk beristirahat. Kondisi lain adalah saat terjadi kemacetan total yang cukup panjang dan lama.</p>
<p>Khusus untuk perjalanan udara, jika bayi menolak disusui atau ditutup telinganya dengan kapas saat pesawat akan mengudara atau mendarat, maka memberikan makanan adalah solusi terbaik untuk menghindari tekanan yang besar pada gendang telinga si kecil.</p>
<h3>Perjalanan Tanpa Rasa Lapar</h3>
<p>Pemberian snack/kudapan ditengah perjalanan juga merupakan pilihan yang tepat, misalnya dengan memberikan roti ataupun sayuran kukus/rebus seperti bunga brokoli, wortel stik, kentang dadu, juga tahu/tempe yang dipotong dadu.</p>
<p>Sekear tips, khusus selama perjalanan, pengenalan berbagai macam makanan distop dulu, lebih baik memberikan jenis makanan yang memang dia sukai. Karena perjalanan panjang sendiri sudah merupakan hal yang tidak menyenangkan untuk si kecil mengingat dia harus duduk terus selama perjalanan, belum lagi udara yang panas dan terik, tentu kita tidak ingin pula memperberat perjalanannya dengan memberikan makanan dengan rasa yang ‘aneh-aneh’ buat si kecil kan?</p>
<p>Untuk menambah semangat, sajikan potongan-potongan makanan tersebut dengan dekorasi yang menarik, misalnya dibuat berbentuk wajah badut, bintang, matahari, bulan, dll.. jadi mengingatkan kita akan bentuk bento (bekal makanan) lucu bikinan seorang ibu Jepang untuk anak mereka kan? Tentunya hal ini menuntut kita untuk berkreasi sekreatif mungkin yaa…</p>
<p>Taruh semua makanan/snack di dalam wadah yang kedap udara dan tahan air hangat atau jika perjalanan cukup jauh dan akan di makan dalam waktu yang lama, susunlah di dalam <em>cooler box</em> dengan <em>blue ice</em> di sekelilingnya. Saat akan disajikan, untuk mencegah kehilangan nutrisi, cukup keluarkan beberapa saat kemudian rendam di dalam mangkuk yang berisi air hangat, karena pada prinsipnya MPASI/snack tersebut sudah siap saji hanya suhunya masih dingin.. kemungkinan bayi tidak suka makan makanan dingin, makanya dihangatkan dulu.</p>
<p>Khusus untuk jenis purée buah, tidak masalah disajikan dingin (tidak beku, tapi masih mengandung bunga es) jika bayi menyukainya. Hal ini tidak akan menyebabkan bayi menjadi pilek, karena suhu dingin hanya saat makanan berada di dalam mulut. Saat melewati kerongkongan, suhu makan menjadi lebih hangat kemudian masuk ke dalam perut tidak lagi dengan suhu yang dingin tersebut.</p>
<p>Jangan lupa untuk selalu membawa peralatan makan dan minum bayi berserta slaber dan tissue basah. Siapkan juga kantong plastik untuk makanan yang tumpah atau terbuang. Kita tidak ingin kendaraan yang kita tumpangi menjadi kotor bukan?! Belum lagi nanti seisi kendaraan akan dipenuhi dengan kegerombolan semut! Tentu saja hal ini dapat mengganggu kenyamanan selama perjalanan.</p>
<h3>Persiapan Makanan Beku</h3>
<p>Berikut adalah tips membuat MPASI <em>homemade</em> Beku:</p>
<ul>
<li>Siapkan semua peralatan memasak dan wadah penyimpanan makanan SEBELUM mulai mengolah makanan yang akan dibekukan. Ada baiknya jika semua peralatan tersebut rendam di air panas terlebih dahulu sebentar.</li>
<li>Pilihlah wadah penyimpanan yang kedap udara serta tahan panas.</li>
<li>Siapkan semua bahan baku yang segar dan cuci bersih dibawah air keran yang mengalir.</li>
<li>Potong/bentuk makanan sesuai selera (misal, wortel dipotong membentuk stik, kentang membentuk dadu/bintang/bulat, brokoli dan kembang kol dipotong putiknya, dll…).</li>
<li>Olah makanan, baik direbus atau dikukus.</li>
<li>Setelah matang, segera sejukkan/dinginkan makanan tersebut dengan merendam wadah makanan di dalam air es. Untuk melakukan ini, pilih wadah makanan yang terbuat dari bahan yang mudah menyerap dingin, sehingga saat wadah direndam dalam air es, suhu makanan akan lebih cepat turun.</li>
<li>Untuk jenis makanan purée, tidak perlu dimasak.. cukup dibentuk purée lalu disimpan dalam wadahnya dan susun dalam <em>cooler box</em>. (jika ingin menggunakan <em>cooler bag</em>, jumlah blue ice harus lebih banyak agar MPASI beku tidak mudah cair).</li>
<li>Jangan lupa menuliskan label tanggal serta jam pembuatan MPASI tersebut, sehingga akan memudahkan Anda untuk menjadualkan makanan mana yang diberikan terlebih dahulu.</li>
<li>Jika di tengah jalan Anda menemukan MPASI beku tersebut mencair, jangan buru-buru membuangnya. Jika belum mencair secara keseluruhan, berarti masih bisa dibekukan kembali saat tiba di lokasi tujuan. Atau, Anda coba membauinya, jika masih berbau buah/sayuran segar berarti MPASI beku tersebut masih layak untuk disimpan kembali. Namun, jika memungkinkan, lebih baik segera dikonsumsi.</li>
</ul>
<p>MPASI pada prinsipnya adalah makanan pendamping, jadi tidak harus selalu diberikan nasi (meski bayi Anda sudah makan nasi) karena kebutuhan karbohidratnya telah dipenuhi oleh ASI (khususnya untuk jika bayi Anda berusia kurang dari 12 bulan). MPASI berupa sayuran/buah pun sebenarnya bisa loh membuat perut si mungil terasa kenyang selama dalam perjalanan. Jadi, tidak perlu khawatir karena merasa harus memberinya makan nasi.</p>
<p>Jika pun Anda ingin memberikan nasi dan lauk (sup, misalnya) bagi bayi Anda, bisa juga Anda persiapkan sejak dari rumah dan ditempatkan di wadah yang tahan panas. Hanya dikhawatirkan kalau perjalanan yang sangat panjang, makanan ini bisa cepat basi. Kalau ingin makanan jenis sup ini lebih awet, bisa diletakkan dalam kulkas dulu, setelah dingin baru ditempatkan bersama MPASI beku lainnya di dalam <em>cooler box</em>. Dan proses penyajiannya sama dengan menyajikan MPASI beku, yakni cukup direndam di air hangat, jangan direbus lagi di atas kompor.</p>
<h3>Persiapan Wadah</h3>
<p>Lalu, bagaimana cara mempersiapkan wadahnya? Yang pasti sih, harus dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian perhatikan jumlah <em>blue ice</em>, jika MPASI beku cukup banyak.. maka tidak akan cukup jika hanya 1 (satu) <em>blue ice</em>. Tapi tidak ada rumus matematika untuk menentukan ini (kalau mau diteliti sih mungkin saja ada, tapi berhubung kami tidak pernah menganalisisnya jadi kami tidak tahu, hehehe..), jadi cukup dikira-kira saja lah. </p>
<p>Pertimbangkan ukuran <em>cooler box/bag</em>-nya juga, yang penting setelah MPASI beku dan <em>blue ice</em> masuk di dalam, wadah ini harus bisa ditutup rapat. Kalau menggunakan <em>cooler box</em>, waktu penyimpanan sekitar 7-8 jam, sedangkan <em>cooler bag</em> dapat bertahan sekitar 4-5 jam, ini maksudnya lama waktu utnuk mempertahankan si MPASI itu untuk tetap beku yah. Mungkin kalau lebih lama, tidak <em>totally</em> beku, tapi mencair sedikit.. tidak mengapa, karena masih bisa dikonsumsi.</p>
<p>Wah, pasti makin seru nih persiapan perjalanan mudiknya!</span></strong><span> Semoga tips ini dapat membantu dan membuat perjalanan mudik Anda menjadi lebih menyenangkan dari tahun-tahun sebelumnya. Menyenangkan bagi bayi, tentu akan menyenangkan bagi semua anggota keluarga.</p>
<p><strong>Selamat mudik!</strong> Semoga selamat tiba di tempat tujuan. ***</p>
<p><small>Sumber Foto: dok. pribadi &#038; http://www.annabelkarmel.com/ (makanan beku)</small></p>
<p><strong>Artikel ini boleh diambil dan disebarluaskan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari AIMI, dengan syarat bahwa TIDAK digunakan dalam rangka pelanggaran Kode Etik WHO mengenai makanan-makanan pengganti ASI.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/09/mudik-menyenangkan-dengan-mpasi-buatan-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

