<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Menyusui</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/menyusui/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:50:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Bicara ASI bersama AIMI Episode 2: 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-2/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 07:44:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[10 langkah]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=783</guid>
		<description><![CDATA[Topik: 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui Narasumber: Prof. dr. Rulina Suradi, SpA(K), IBCLC Acara ini disponsori oleh PT. Indo Tambang Megahraya, tbk. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Video ini telah dilihat kali.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Topik: 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui<br />
Narasumber: Prof. dr. Rulina Suradi, SpA(K), IBCLC<br />
Acara ini disponsori oleh PT. Indo Tambang Megahraya, tbk.</p>
<p><object classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" width="437" height="348" id="viddlerplayer-f5f6c6f3"><param name="movie" value="http://www.viddler.com/simple/f5f6c6f3/" /><param name="autoplay" value="f" /><param name="disablebranding" value="f" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="name" value="viddlerplayer-f5f6c6f3" /><embed src="http://www.viddler.com/simple/f5f6c6f3/" width="437" height="348" type="application/x-shockwave-flash" allowScriptAccess="always" allowFullScreen="true" flashvars="autoplay=f&#038;disablebranding=f" name="viddlerplayer-f5f6c6f3" ></embed></object></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Video ini telah dilihat 432 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Pertama Gagal ASI Eksklusif &#8211; Bagaimana Dengan Adik?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 01:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok pendukung]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu yang tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif kepada anak kedua bahkan ketiga ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama. Ini disebabkan mereka terpaku pada kegagalan anak pertama. Umumnya kegagalan ini disebabkan oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.  Saya ingin berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak ibu merasa tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya &#8211; baik kepada anak kedua atau ketiga, ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-mama-zach.jpg" alt="" title="04-mama-zach" width="300" height="241" class="alignleft size-full wp-image-648" />Hal ini seringkali terjadi, karena banyak ibu terpaku pada kegagalan memberikan ASI di masa lalu yang disebabkan  oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.</p>
<p>Menanggapi hal tersebut, ijinkan Saya berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi semua ibu yang membacanya.</p>
<p>Anak pertama saya lahir pada bulan Oktober 2004, hanya 10 bulan dari sejak saya menikah. Senang..? Pasti dong. Saya pun berniat untuk memberikan yang terbaik &#8211; yaitu ASI &#8211; untuk anak pertama saya.</p>
<p>Memberikan ASI ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Karena kekurangan informasi tentang ASI dan menyusui, saya mengawali perjalanan menyusui anak pertama saya dengan tidak tepat, misalnya: tidak meminta rawat gabung dengan anak sewaktu di Rumah Sakit sehingga saya yang harus bolak balik ke kamar bayi (dengan jam menyusui yang dibatasi / dijatah). Kondisi seperti ini membuat saya tidak dapat menyusui dikala anak saya membutuhkan ASI. Saya lebih sering menemui anak saya sedang tertidur sehingga tak mau menyusu.</p>
<p>Saat itu saya pikir ini kondisi seperti ini normal saja. Tetapi begitu saya pulang dari Rumah Sakit dan merawat bayi saya sendiri, barulah saya merasakan ketidaknyamanan. Bukan, bukan karena saya kecapekan menjaganya tapi saya mengalami puting lecet.</p>
<p>Saya bingung sekali kala itu,  tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya cara yang menurut saya dapat menyelesaikan permasalahan puting lecet kala itu adalah dengan memompa ASI dari payudara yang lecet dan hanya menyusui dari payudara yang tidak sakit. Karena kondisi ini pula, saya sempat mengalami ‘<em>mild baby blues</em>’, dimana saya menangis setiap harus menyusui dari payudara yang lecet tersebut. Untungnya cuma berlangsung sebentar, 3 hari saja.</p>
<p>Selama di berada rumah dan belum kembali bekerja, saya selalu menyusui anak saya secara langsung, sehingga saya pun jarang memerah, apalagi semenjak luka di puting pulih. Ternyata hal ini menimbulkan masalah ketika saya harus kembali lagi ke kantor. Saya tidak memiliki stok ASI perah ketika itu, sehingga saat harus kembali masuk kantor saya bingung bagaimana dengan asupan susu anak saya di rumah. Oleh orang tua, saya diminta membeli susu formula (sufor) sebagai cadangan kalau-kalau ASI yang saya perah di kantor tidak cukup untuk konsumsi anak saya selama saya tinggal bekerja. Dan terjadilah hal yang saya takutkan, di usianya yang ke- 2,5 bulan, anak saya sudah minum ASI campur sufor.</p>
<p>Selain itu, karena minimnya informasi yang saya punya, saya memperkenalkan MPASI dini pada anak saya, karena menurut orang tua,  anak saya pasti kelaparan kalo hanya minum ASI dan susu formula saja.</p>
<p>Sekembalinya bekerja, ternyata saya tidak konsisten memerah ASI. Kadang hanya 2x dalam waktu 9 jam, malah kadang hanya 1x kalau saya terlalu sibuk atau malas. Ini disebabkan di kepala saya sudah tertanam bahwa anak saya akan baik-baik saja karena ada back-up sufor dan MPASI di rumah jika ASI perah tidak mencukupi. Akhirnya pada usia 10 bulan, anak saya hanya minum sufor tanpa ASI lagi.</p>
<p>Ketika anak ke-2 lahir di tahun 2007, saya sudah bertekad untuk memberi ASI sekurang-nya 6 bulan tanpa tambahan susu formula maupun MPASI dini. Hal ini dikarenakan informasi yang saya dapatkan dari seminar tentang kesehatan anak pada tahun 2006 yang saya ikuti, menjelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif adalah 6 bulan tanpa tambahan apa pun. Ditambah lagi, tidak lama setelah saya melahirkan, saya pun ikut bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dimana saya dapat mencari informasi tentang ASI, menyusui dan tips memerah selama bekerja dengan lebih lengkap. Alhamdulillah, dengan banyaknya informasi yang saya dapat, anak ke-2 pun lulus ASI eksklusif tanpa bantuan dari susu formula dan MPASI dini.</p>
<p>Selain itu, untuk menambah wawasan dan jejaring, saya datang ke kopdar milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">Asiforbaby</a> pertama kali dan berkenalan dengan banyak ibu muda. Selain presentasi mengenai ASI yang dibawakan oleh dr. Utami Roesli, saat itu juga ada presentasi dari mbak Mia Sutanto yang menjelaskan bahwa akan dibentuk suatu organisasi yang bisa mewadahi para ibu menyusui. Saya melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk terlibat secara langsung didunia per-ASI-an dan ketemu dengan para ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>Singkat cerita, saya pun mengajukan diri untuk ikut bergabung dan Alhamdulillah, saya tidak salah berkumpul dengan ibu-ibu hebat di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena disini lah saya bisa bertanya, curhat dan bersenang-senang. Dari sini pun saya sadar, ternyata ilmu yang didapat dari internet atau milis saja tidak cukup. Kita perlu berkumpul dengan para ibu yang mempunyai pandangan yang sama dengan kita.</p>
<p>Saat kelahiran anak-3 dipertengahan 2008, saya jauh lebih percaya diri. Saya jadi lebih getol mencari dokter, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-family.jpg" alt="" title="04-family" width="300" height="200" class="alignright size-full wp-image-649" />tenaga kesehatan dan rumah sakit yang mengijinkan IMD dan rawat gabung. Sewaktu lahiran saya tenang karena anak langsung diletakkan di atas dada dan dibiarkan selama kurang lebih 1,5 jam. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan karena saya bisa melihat sendiri ayahnya meng-adzani anak di dada saya dan melihat serta merasakan IMD, dimana anak merangkak sendiri menuju payudara dan menyusu secara alami tanpa bantuan dari saya, mamanya.</p>
<p>Jadi kalau boleh saya rangkum dari pengalaman ini adalah tidak benar bahwa kegagalan pemberian ASI pada anak pertama berarti mustahil bagi anak ke-2 mau pun ke-3 untuk mendapat ASI. Ibu perlu membekali dirinya dengan ilmu yang cukup semenjak hamil tentang tata cara IMD, persiapan menyusui, dokter dan rumah sakit / bidan yang mendukung IMD &#038; rawat gabung. Tentu saja dukungan penuh dari suami juga akan membuat ibu lebih percaya diri.</p>
<p>Selain itu, jika memungkinkan bergabunglah dengan komunitas peduli ASI. Ini bisa diawali dengan bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dan dilanjutkan dengan bertemu langsung dengan para ibu di kota tempat kita tinggal atau sering disebut kopdar. Lebih bagus lagi jika pertemuan ini bisa diadakan rutin sehingga kita bisa saling berbagi ilmu dan saling mendukung sesama ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>So, ibu2, terbukti kan, kegagalan di masa lalu dapat menjadi pemicu keberhasilan untuk menyusui. Kalau saya bisa, Anda pun bisa!</p>
<p>Semangat ASI!</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 1214 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meski Dalam Pengobatan, Ibu Tetap Dapat Menyusui Lho!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/04/menyusui-dalam-pengobatan/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/04/menyusui-dalam-pengobatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 02:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[antidepresan]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[CT scan]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[MRI scan]]></category>
		<category><![CDATA[Obat]]></category>
		<category><![CDATA[rontgen]]></category>
		<category><![CDATA[X-Ray]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=630</guid>
		<description><![CDATA[Selama bertahun-tahun, banyak ibu diminta untuk <strong>berhenti menyusui</strong> karena mereka mengonsumsi obat-obatan tertentu atau sedang dalam masa pengobatan. Apakah benar, ASI ibu akan mengandung obat yg dikosumsi oleh si ibu? Simak pembahasannya di artikel terjemahan ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, seorang teman baik datang kepada saya setelah beberapa waktu tidak bertemu. Kami mengobrol dan menceritakan kabar masing-masing dengan seru-nya. Sampai pada suatu topic, teman saya ini menceritakan kondisi kesehatannya pada saya.</p>
<p>Ia adalah seorang ibu dengan dua putra-putri yang lucu, yang saat ini masih menyusui putri bungsunya (10 bulan). Permasalahan yang ia hadapi adalah, ia menderita suatu penyakit yang harus diatasi dengan obat-obatan tertentu, dan diminta untuk berhenti menyusui oleh dokter-nya.</p>
<p>Sebagai seorang ibu yang berniat menyusui putri-nya sampai 2 tahun, ia kemudian meminta pendapat saya mengenai hal ini. Langsung saja kami berdua mencari tahu tentang efek obat-obatan yang dikonsumsi terhadap ibu menyusui melalui website. Dan betapa gembiranya kami ketika menemukan link <a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=26:breastfeeding-and-medications&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">ini</a>, yaitu website resmi milik dr. Jack Newman &#8211; seorang pakar ASI Internasional yang pernah AIMI undang untuk memberikan seminar di bulan Agustus 2009 lalu – yang menjelaskan dan mendorong ibu yang sedang dalam pengobatan untuk tetap menyusui.</p>
<p>Sedikit berbagi, berikut saya sarikan dan terjemahkan secara bebas dari artikel <strong><em>Breastfeeding and Medications</em></strong> yang ditulis oleh Jack Newman:</p>
<p>Selama bertahun-tahun, banyak ibu diminta untuk <strong>berhenti menyusui</strong> karena mereka mengonsumsi obat-obatan tertentu atau sedang dalam masa pengobatan. Keputusan untuk terus menyusui ketika ibu berada dalam masa pengobatan, seringkali dipengaruhi oleh kekhawatiran akan masuknya zat kimia obat di dalam Air Susu Ibu (ASI). Sebenarnya, hal seharusnya dikhawatirkan adalah risiko karena tidak menyusui yang akan diderita ibu, bayi dan keluarga ibu serta tentu saja masyarakat. Tentu saja hal ini karena <strong>banyak sekali risiko yang akan muncul</strong> jika ibu memilih untuk berhenti menyusui, jadi pertanyaan yang seharusnya diajukan kepada mereka yang menyarankan ibu untuk berhenti menyusui adalah: <strong>apakah ASI yang mengandung obat dengan kadar yang sangat kecil menjadikannya lebih berbahaya dibandingkan susu formula?</strong> Jawabannya tentu saja tidak, ASI akan <strong>selalu lebih baik dan tidak tertandingi nilai nutrisi-nya</strong> dibandingkan susu formula manapun.</p>
<p>Perlu diingat, bahwa menghentikan proses menyusui selama satu minggu dapat mengakibatkan bayi tersapih secara dini, karena tidak terbiasa menyusu secara langsung pada ibu. Di sisi lain, perlu dipikirkan juga bayi-bayi yang menolak botol susu untuk minum ASI, sehingga saran untuk berhenti menyusui bukan saja tidak tepat, tetapi juga tidak praktis. Memang mudah untuk meminta ibu memerah ASI ketika ibu tidak menyusui langsung, tetapi hal ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan, karena beberapa ibu malah menderita payudara bengkak karena tidak dapat mengosongkan payudara-nya secara menyeluruh dengan cara memerah. </p>
<h3>Menyusui dan Pengobatan pada ibu</h3>
<p>Umumnya, obat-obatan yang dikonsumsi ibu akan terserap di dalam ASI, namun dalam kadar yang sangat sedikit. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-obat-1.jpg" alt="" title="04-obat-1" width="300" height="200" class="alignleft size-full wp-image-633" />Meskipun ada sebagian obat yang dapat menimbulkan efek samping bagi bayi – meskipun dalam kadar yang sangat rendah – hal ini bukanlah alas an bagi siapapun untuk membuat ibu berhenti menyusui. </p>
<p>Mengapa sebagian besar obat hanya terserap / terbawa dalam kadar yang sangat rendah dalam ASI? Karena apa yang masuk / terserap di dalam ASI sangat tergantung pada kadar yang terbawa di dalam darah ibu, dan hal ini biasanya diukur dengan mikro-atau-miligrams. Lebih jauh lagi, tidak seluruh obat yang terbawa / terserap di dalam darah ibu akan masuk / terserap di dalam ASI. Hanya obat-obatan yang tidak tercampur dengan protein dalam darah ibu yang dapat terserap oleh ASI. Jadi, bayi yang minum ASI dari ibu yang sedang mengonsumsi obat / dalam masa pengobatan tidak akan terpapar / terkontaminasi oleh obat yang dikonsumsi ibu.</p>
<p><strong>Kebanyakan obat aman, jika:</strong></p>
<ol>
<li><u>Secara umum diresepkan untuk bayi dan anak-anak</u>: jumlah yang dikonsumsi bayi melalui ASI akan lebih sedikit dibandingkan jika bayi langsung meminum obat tersebut.</li>
<li><u>Aman dikonsumsi selama kehamilan</u>: hal ini tidaklah selalu tepat, mengingat selama kehamilan tubuh ibu akan membantu mengeluarkan pengaruh obat dari tubuh bayi. Oleh karena itu, secara teoritis, dapat <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-obat-2.jpg" alt="" title="04-obat-2" width="113" height="113" class="alignright size-full wp-image-638" />disimpulkan bahwa sebagian kecil zat obat akan terbawa di dalam ASI, namun tidak akan berpengaruh pada ibu dan bayi selama kehamilan (mesikipun kondisi seperti ini jarang terjadi). Meskipun demikian, jika ada kekhawatiran bahwa bayi akan terkontaminasi obat – misalnya obat-obatan antidepresan – kemungkinannya akan lebih besar pada saat ibu mengkonsumsinya ketika hamil dibandingkan ketika menyusui. Penelitian terbaru yang mengemukakan tentang <em>withdrawal symptoms</em> (efek pengeluaran) pada bayi baru lahir yang terkena efek obat-obatan anti depresan SSRI (misalnya: Paxil) selama periode kehamilan, sepertinya semakin menguatkan banyak ibu untuk berhenti menyusui ketika ibu menderita penyakit ini (suatu contoh yang baik untuk menyalahkan ASI untuk segalanya). Pada kenyataannya, Anda tidak dapat mencegal <em>withdrawal symptoms</em> pada bayi melalui ASI, karena hanya <strong>sedikit sekali</strong> obat yang masuk ke dalam ASI. </li>
<li><u>Tidak diserap oleh pencernaan</u>: biasanya terjadi pada obat-obatan yang diberikan dengan cara disuntik, misalnya: gentamicin (dan obat-obatan lain dalam keluarga antibiotika), heparin, interferon, anestesi loka, omeprazole. Omeprazole (Losec, prilosec) merupakan salah satu obat yang cukup menarik, karena dapat dilarutkan/dihancurkan dengan sangat cepat oleh pencernaan. Dalam proses pembuatannya, omeprazole dilapisi suatu lapisan pelindung untuk mencegah penghancuran/pelarutan obat, sehingga dapat diserap oleh tubuh ibu. Oleh karena itu, jika ibu menyusui mengonsumsi omeprazole, tetap dapat menyusui, karena obat tersebut hanya sedikit sekali diserap melalui ASI. Kalaupun bayi terpapar oleh obat tersebut, maka jumlahnya akan sangat sedikit dan langsung dihancurkan oleh pencernaan bayi. </li>
<li><u>Tidak dikeluarkan melalui ASI</u>: beberapa obat-obatan hampir tidak mungkin diserap atau dikeluarkan oleh ASI, misalnya saja: heparin, interferon, insulin, infliximab (Remicade), etanrcept (Enbrel).</li>
</ol>
<p><strong>Berikut ini adalah obat-obatan yang dinyatakan aman untuk dikonsumsi selama menyusui:</strong></p>
<p>Acetaminophen/Paracetamol (Tylenol, Tempra), <strong>alcohol</strong> (dalam jumlah yang aman), aspirin (dalam dosis aman dan jangka pendek). Sebagian besar obat-obatan antiepileptic, obat-obatan antihipertensi, <strong>tetracycline</strong>, codeine, obat-obatan nonsteroidal antiimflammatory (Ibuprofen), <strong>prednisone</strong>, thyroxin, <strong>propylthiourocil</strong> (PTU),  <strong>warfarin</strong>, trcyclic antidepressants, <strong>sentraline (Zoloft), paroxetine (Paxil), obat-obatan antidepresan lainnya, metronidazole (Flagyl), omperazole (Losec), Nix, Kwellada</strong>.</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Meskipun aman untuk digunakan selama menyusui, Fluoxetine (Prozac) memiliki kecenderungan untuk tinggal di dalam tubuh dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengonsumsi obat-obatan jenis ini selama kehamilan, akan menyerap obat ini dalam jumlah yang cukup besar, dan akan ditambah dengan jumlah kecil yang terbawa di dalam ASI ibu. Hal ini dapat mengakibatkan akumulasi fluoxetine yang besar dalam tubuh bayi dan dapat menimbukan efek samping. Hal ini memang jarang sekali terjadi, tetapi jika memang terjadi, ada dua pilihan yang dapat diambil oleh ibu:</p>
<ul>
<li>Menghentikan konsumsi fluoxetine (Prozac) pada 4-8 minggu sebelum kelahiran (due dateI). Dengan cara ini ibu akan menghilangkan pengaruh obat dari tubuhnya, juga dari tubuh bayi. Ketika bayi lahir, ia tidak akan terkontaminasi oleh obat tersebut dan sejumlah kecil fluoxetine yang terbawa di dalam ASI cukup aman untuk dikonsumsi bayi.</li>
<li>Jika tidak memungkinkan untuk menghentikan pengobatan dengan Prozac selama kehamilan, cobalah untuk mengganti Prozac dengan obat-obatan lain yang tidak secara signifikan terserap di dalam ASI. Dua pilihan yang cukup baik untuk mengganti Prozac adalah Setraline (Zoloft) dan Paroxetine (Paxil). </li>
</ul>
<p>Obat-obatan yang digunakan secara eksternal &#8211; misalnya obat-obatan untuk asthma, obat-obatan yang dioleskan di mata atau hidung – secara umum aman digunakan selama masa menyusui.</p>
<p>Anestesi local atau regional tidak akan terserap pencernaan bayi dan aman untuk digunakan. Anestesi general akan terserap di dalam ASI dalam jumlah yang <strong>sangat sedikit</strong>, seperti umumnya obat-obatan lain dan tidak akan menimbulkan efek samping pada bayi. Obat-obatan anestesi memiliki masa tinggal yang sangat pendek dalam tubuh ibu dan dapat dihilangkan dengan sangat cepat dari tubuh. Ibu dapat kembali menyusui sesaat setelah ibu sadar dan nyaman untuk menyusui. </p>
<p>Imunisasi yang diberikan kepada ibu menyusui bukanlah halangan untuk terus menyusui. Imunisasi yang diterima ibu membantu bayi mengembangkan antibody / zat imunitas dari imunisasi tersebut, Rontgen yang menggunakan sinar X biasa tidak mengharuskan ibu untuk berhenti menyusui ketika digunakan dengan material yang kontras (misalnya: intravenous pyelogram). Alasan yang dikemukakan secara medis adalah material tersebut tidak akan terserap di dalam ASI, dan meskipun terserap tidak akan mungkin masuk / terserap oleh tubuh bayi. Hal ini berlaku juga untuk CT scans dan MRI scans. <strong>Ibu tidak perlu berhenti menyusi sedetikpun</strong>.</p>
<h3>Bagaimana dengan scan yang menggunakan radioaktif?</h3>
<p>Tidak ada seorang ibu pun yang ingin bayi-nya terkena radioaktif, namun ketika hal ini tidak dapat dihindari, apa yang harus dilakukan?</p>
<p>Ketika seorang ibu diharuskan melakukan rontgen paru-paru atau <em>lymhangiogram</em> atau rontgen tulang dengan material radioaktif, bahan biasa digunakan adalah <em>technetium</em> (meskipun material yang lainpun dapat digunakan).</p>
<p><em>Technetium</em> memiliki masa hidup setengah / <em>half life</em> (waktu yang diperlukan tubuh untuk menghilangkan ½ dari efek obat) selama 6 jam. Hal ini berarti setelah 5 <em>half lives</em> efek <em>technetium</em> akan hilang dari tubuh ibu. Oleh karena itu, 30 jam setelah terpapar <em>technetium</em> seluruh efek obat akan hilang dan ibu dapat menyusui kembali bayinya dengan aman. </p>
<p>Tetapi, apakah seluruh zat radioaktif harus dihilangkan dari tubuh ibu? Setelah 12 jam, 75% dari <em>technetium</em> akan hilang, dan zat yang terbawa di dalam ASI sangatlah rendah. Dr. Jack Newman berpendapat, setelah 2 <em>half-lives</em>, sebenarnya seluruh <em>technetium</em> akan hilang. Yang penting diingat adalah <strong>tidak seluruh scan / pemindaian yang menggunakan technetium mengharuskan ibu untuk berhenti menyusui sementara waktu (misalkan saja rontgen dengan HIDA scan). Hal ini sangat tergantung dari jenis molekul tempat <em>technetium</em> terbawa / <em>attached</em></strong>. </p>
<p>Beberapa hari setelah penggunakan <em>technetium</em>, biasanya produksi / volume ASI akan berkurang. Tetapi hal ini tidak berarti mengharuskan ibu untuk berhenti menyusui setelah melakukan rontgen paru, misalnya. CT scan lebih aman untuk dilakukan dalam kasus ini, karena tidak mengharuskan ibu untuk berhenti menyusui sedetik pun. </p>
<p>Rontgen yang dilakukan pada kasus thyroid berbeda. Radioaktif Iodine (I131) akan terserap di dalam ASI dan dapat tercerna oleh bayi. Hal ini bisa menimbulkan dampak pada kelenjar thyroid bayi. Hal ini harus menjadi perhatian. Oleh karena itu, apakah ibu harus berhenti menyusui? Jawabnya tentu saja tidak, karena kadangkala test yang menggunakan iodine tidak diperlukan untuk kasus thyoroid. </p>
<p><em>Thyroid</em> yang muncul setelah kelahiran (<em>postpartum thyroiditis</em>) sampai ke penyakit <em>Graves</em> (penyakit thyroid stadium lanjut yang membutuhkan treatment rontgen), tidak memerlukan rontgen thyroid. Ibu harus mencari informasi selengkapnya dari tenaga kesehatan dan fasilitasn kesehatan mengenai hal ini. Jika tidak dapat dihindari, dimungkinkan melakukan rontgen thyroid I123  yang hanya memerlukan waktu 12 sampai 24 jam bagi ibu untuk berhenti menyusui (tergantung dari dosis <em>technetium</em> yang diberikan). Jangan lupa untuk memerah ASI sebelum melakukan rontgen thyroid, agar bayi tetap dapat mengonsumsi ASI.</p>
<p>Jadi, walaupun dalam masa pengobatan, ibu tetap bisa dan sangat dianjurkan untuk menyusui anaknya.</p>
<p><strong>Disclaimer:</strong><br />
Artikel ini merupakan ringkasan dan terjemahan bebas dari artikel yang berjudul <a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=26:breastfeeding-and-medications&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">Breastfeeding and Medications</a>. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk berbagi informasi &#038; pembelajaran bersama.</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 1410 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/04/menyusui-dalam-pengobatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diet Sambil Menyusui</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/01/diet-sambil-menyusui/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/01/diet-sambil-menyusui/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 13:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inna Banani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Diet]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya menyenangkan sekali ya pada akhirnya bayi yang sudah ditunggu akhirnya lahir juga.  Tapi oh tapi, kenapa orang masih suka menyangka masih hamil sih? Gimana cara mengembalikan bentuk badan seperti dulu lagi? Yuk, simak artikel bulan ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/01/01-diet-makan-150x150.jpg" alt="Makanan Diet" title="Makanan Diet" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-153" />Rasanya menyenangkan sekali ya pada akhirnya bayi yang sudah ditunggu akhirnya lahir juga.  Tapi oh tapi, kenapa orang masih suka menyangka masih hamil sih? Banyak dari kita mengeluhkan badan yang masih terlihat subur dan kurang oke setelah melahirkan, ingin sekali segera kembali ke bentuk badan semula. ’Ya, habis lihat deh artis-artis kok bisa kembali singset. Mereka pakai apa ya supaya bisa balik lagi ukuran badannnya?’ Atau mungkin melihat beberapa teman yang juga mudah kembali ke bentuk semula setelah melahirkan. ’Aduh bikin iri deh! Sebenarnya boleh tidak diet segera supaya kembali normal? Boleh olahraga? Bagaimana kalau minum obat pelangsing?’ </p>
<h3>Menyusui Menurunkan Berat Badan</h3>
<p>Sebenarnya ada cara paling aman dan paling murah yang bisa dilakukan. Menyusui merupakan cara terbaik untuk mengurangi berat badan. Bahkan akan lebih mudah buat ibu yang menyusui untuk mengurangi lemak di badan terutama di area 3P (paha, pinggul dan pantat), ketimbang ibu yang tidak menyusui.</p>
<p>Kalau kita memberikan ASI pada bayi kita maka dalam jangka waktu 4-6 bulan berat badan dapat turun meski sangat perlahan. Jadi memang harus bersabar. Namun sayangnya, tidak semua berat badan ibu bisa turun meski sudah menyusui. Beberapa malah ada yang beratnya beranjak naik. Hmmm, mulai deh berpikir untuk diet. Tetapi di sisi lain, juga kawatir bahwa ada kemungkinan diet akan berpengaruh pada jumlah ASI padahal bayi kita masih sangat membutuhkannya.</p>
<h3>Pengaruh Diet yang buruk</h3>
<p>Perlu diketahui bahwa seberapapun jeleknya pola makan maupun asupan gizi ibu, tubuh tetap memproduksi ASI dengan kualitas yang baik untuk bayi. ASI yang diproduksi berasal dari persediaan makanan dalam tubuh ibu. Itulah sebabnya kenapa setelah menyusui kita merasa capek dan lemas. Sayangnya, lebih sering kita mengkonsumsi makanan dalam porsi yang banyak tanpa memperhatikan kandungan gizinya. Ini yang mungkin terjadi pada ibu yang cenderung naik berat badannya meski sedang menyusui. Atau malah menjadi malas makan. Hal ini pada jangka panjang dapat membuat ibu menderita anemia.</p>
<p>Penggunaan obat penurun berat badan yang dalam bentuk apapun tidak diperkenankan. Beberapa obat penurunan berat badan bahkan sering menjanjikan perubahan tubuh yang fantastis.</p>
<p>Apa yang terjadi jika berat badan ibu yang menyusui turun secara drastis?</p>
<p>Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bukan produksi ASI yang akan berubah. Pengaruh berat badan yang turun drastis justru pada kesehatan dan/atau asupan gizi ibu.</p>
<p>Diet terlalu ketat atau pola makan yang buruk dapat mempengaruhi perasaan ibu seperti perasaan lemas berlebihan, mudah lelah dan lesu. Gangguan tersebut kemudian akan mempengaruhi persediaan ASI dalam tubuh ibu dan refleks pengeluaran ASI (let-down reflex).</p>
<h3>Makan teratur lebih baik</h3>
<p>Cara yang benar dan aman untuk menurunkan berat badan tanpa harus kawatir tentunya dengan pola makan yang baik. Variasikan makanan yang masuk supaya kebutuhan gizi tetap terpenuhi. Lebih baik makan dalam jumlah sedikit tapi lebih sering. Sebaiknya membuat masakan yang mudah diolah sehingga dapat cepat tersaji. Jangan lupa untuk menyiapkan porsi-porsi kecil itu sebelum lapar datang.</p>
<p>Berikut merupakan makanan yang dianjurkan:</p>
<ul>
<li>Makanan penambah energi bisa didapat dari nasi, sereal, roti gandum, pasta dan kentang</li>
<li>Segala jenis sayuran dan buah-buahan. Terutama buah segar, porsi kecil tapi sering sangat membantu mencegah kita makan cemilan yang mengandung kalori tinggi. Kita beruntung tinggal di negara tropis dengan segala jenis sayur dan buah yang mudah didapat serta harganya pun terjangkau.</li>
<li>Protein. Didapat dari daging sapi, ayam, telur dan ikan. Lebih baik lagi jika memperbanyak ikan yang mengandung omega-3.</li>
<li>Harap diingat susu bukan hal yang wajib. Beberapa bayi ternyata memiliki toleransi yang rendah terhadap susu sapi. Perolehan kalsium bisa didapat dari sayuran warna hijau (brokoli dan kangkung), ikan salmon, tahu dan tempe.</li>
<li>Jangan lupa perbanyak konsumsi cairan, terutama air mineral. Jus segar dan sup merupakan pilihan yang baik. Selalu sediakan botol minuman di sebelah kita ketika sedang menyusui.</li>
</ul>
<h3>Kafein dan Alkohol</h3>
<p>Minuman beralkohol sebaiknya tidak dikonsumsi seperti pada massa kehamilan. Minuman beralkohol menghambat produksi hormon oksitosin, hormon yang melancarkan pengeluaran ASI. Penelitian juga menunjukkan bahwa alkohol memberikan aroma yang tajam pada ASI. Bayi kemungkinan besar akan menolak untuk menyusu.</p>
<p>Bagaimana dengan kafein? Aduh, rasanya kangen sekali untuk minum kopi, setelah ’puasa’ minum selama masa hamil. Sayangnya kita suka lupa bahwa kafein tidak hanyak berada dalam kopi. Teh, soda dan coklat juga mengandung kafein dalam jumlah yang berbeda-beda. Meski tidak dilarang, batasi jumlah konsumsinya. Bayi seperti juga orang dewasa akan merasakan hal yang sama bila terlalu banyak kafein. Merasa gugup berlebihan, mudah marah, bahkan sulit tidur. Lebih baik hentikan konsumsi kafein ketika bayi menjadi lebih rewel.</p>
<p>Namun, perlu diingat untuk menghindari konsumsi teh diet, karena mengandung kafein yang tinggi yang dapat menghambat produksi ASI.</p>
<h3>Menyusui akibatkan Osteoporosis?</h3>
<p>Ada anggapan bahwa menyusui menyebabkan osteoporosis. Pada kenyataannya tidaklah begitu. Saat menyusui ibu memang kehilangan massa tulang. Namun satu tahun setelah menyapih bayinya, massa tulang akan kembali sediakala. Tidak hanya itu, dari hasil penelitian menunjukkan bahwa resiko kerusakan tulang pada ibu yang tidak memberikan ASI 50% lebih besar dibanding dengan ibu yang memberikan ASI. Semakin lama menyusui maka resikonya akan semakin kecil. Kesimpulannya adalah menyusui berarti melindungi ibu dari kemungkinan osteoporosis.</p>
<h3>Olahraga</h3>
<p>Olahraga yang cukup juga sudah pasti mampu membantu untuk mengencangkan kembali otot-otot dan memadatkan massa tulang. Kalau tidak punya banyak waktu, ajaklah bayi jalan-jalan disekitar rumah. Terutama Ibu yang baru melahirkan keluar rumah sesekali dapat mengurangi stres. Jalan-jalan ke mall pun juga tidak dilarang. Berani menggendong bayi dibelakang punggung? Berat badannya bisa menjadi beban ekstra untuk membakar kalori. Bagaimana jika cuaca tidak mengijinkan seperti sekarang ini? Gendong bayi dengan selendang atau sling sambil mengerjakan pekerjaan rumah, seperti menyapu atau mengepel. Jika bayi sudah bisa berinteraksi, ajaklah menari. Pasti dia akan suka. Tidak perlu kawatir terlihat konyol, bukankah tidak ada yang melihat? Lagi pula bergerak sambil tertawa dengannya menyenangkan sekali bukan?</p>
<p>Jadi kesimpulan yang bisa diambil adalah diet khusus tidak diperlukan. Lebih baik mengkonsumsi makanan bergizi dengan porsi kecil tapi sering. Aktif bergerak dan ajak bayi ikut serta. Nikmati saja untuk terus menyusui sampai anak berusia dua tahun. Jika tetap ingin menjalankan diet menurunkan berat badan konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/01/diet-sambil-menyusui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
