<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Manajemen ASI</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/manajemen-asi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:50:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Ingin Berhasil Menyusui? Anda perlu TIM SUKSES!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 04:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arisma Rahmatsyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Father]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[Bukan hanya Pemilihan Kepala Negara, Kepala Daerah atau bahkan Ketua Partai saja lhoo yang memerlukan Tim Sukses. Menyusui juga perlu Tim Sukses untuk mengantarkan bayi kita menjadi sarjana S1, S2, bahkan S3 ASI! Ikuti sharing salah satu Konselor Laktasi AIMI mengenai pentingnya dukungan orang terdekat agar sukses menyusui.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selintas, menyusui terlihat sebagai kegiatan yang dilakukan oleh ibu dan bayi-nya saja, tetapi jika kita perhatikan lebih seksama, ada beberapa pihak yang memiliki peranan yang besar di dalam kegiatan menyusui, selain sang ibu dan bayi-nya. Mereka itu adalah suami, orangtua, mertua, keluarga besar, sahabat, bahkan rekan kerja dan tetangga. Adanya dukungan dari berbagai pihak merupakan salah satu kunci agar ibu dapat berhasil menyusui bayinya. Mereka adalah Tim Sukses ibu menyusui.</p>
<h3>Cerita Tim Sukses Saya</h3>
<p>Saya sangat menikmati kegiatan menyusui anak saya, Ba’i, hingga dia menyapih sendiri (33 bulan). Bagi saya menyusui bukanlah beban, ataupun kendala, karena saya selalu didampingi dan dukung oleh suami dan keluarga, terutama ibu.</p>
<p>Saat Ba’i lahir, pengetahuan saya akan ASI dan menyusui sangat minim. Bekal saya hanyalah tekad, tekad untuk menyusui bayi saya hingga berumur dua tahun.</p>
<p>Bermodal tekad saja ternyata tidak cukup, saya merasa masih masih perlu mengumpulkan informasi mengenai ASI serta dukungan dari orang terdekat. Saya merasakan sendiri, kekuarangan informasi ternyata berdampak tidak baik bagi saya maupun Ba&#8217;i sejak awal kelahiran. Saat itu, saya dan Ba&#8217;i sudah dipisahkan sejak kelahirannya. Kami baru bertemu kembali setelah enam jam pasca kelahiran. &#8220;Supaya ibu bisa istirahat. Tentunya ibu lelah sekali setelah melahirkan,&#8221; begitu kata seorang tenaga kesehatan ketika saya katakan bahwa saya ingin bertemu dengan bayi saya. Minimnya informasi yang saya punya, membuat saya HARUS pasrah dengan keadaan. Tak hanya itu, sejak awal kelahiran pun Ba&#8217;i sudah diberikan susu formula oleh pihak rumah sakit tanpa seijin dan sepengetahuan kami. Ingin marah rasanya.</p>
<p>Adalah suami saya yang ber-inisiatif untuk memberikan perahan kolostrum dan perahan ASI ke ruangan bayi <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/06/06-the-A-team.jpg" alt="" title="06-the-A-team" width="200" height="300" class="alignright size-full wp-image-775" />sebelum jadwal minum sufor oleh perawat. Suami mengetok ruangan perawat untuk mengambil pompa dan corongnya, setelah di perah, ASIP langsung di bawa ke ruang bayi dan minta ke susternya untuk segera diberikan langsung ke Ba’i. Hal ini terus dilakukan setiap 2 jam, bahkan tengah malam pun, suami tetap ke ruangan perawat (yang beda lantai) untuk meminta corong yang steril, membangunkan saya untuk memerah dan membawa perahannya ke ruangan bayi. Alhamdulilah, meskipun Ba’I terkena susu formula, tapi dengan semangat suami membantu memberikan ASI perah dan menyemangati saya untuk terus memerah, ASIP saya bisa “menyalip” waktu pemberian sufor.</p>
<p>Permasalahan lain muncul, ketika dokter spesialis anak (DSA) mendiagnosa Ba’i kuning karena kadar bilirubinnya tinggi (padahal setelah saya pelajari, ternyata angka tersebut masih normal). DSA mengatakan penyebab dari kuning karena golongan darah saya dan Ba’i berbeda. Saya B dan Bai O (lagi-lagi setelah saya baca dan konsultasi dengan pakar laktasi, ternyata perbedaan golongan darah B dan O tersebut bukan penyebab jadi kuning, berbedaan rhesus dan golongan darah AB-O yang mungkin dapat menyebabkan bayi kuning, itu pun dengan bilirubin yang langsung tinggi). Dokter kemudian menyarankan saya untuk menghentikan pemberian ASI sampai lima hari dan juga di bluelight. Saat itu DSA ini seperti “menindas” dengan kata-katanya yang menyindir karena saya tetap ingin memberikan ASI. Dia bahkan tidak melihat saya ketika sedang berbicara dan lebih memilih berbicara kepada suami dan ibu saya. Rasanya kesal sekali, merasa tidak di dengar dan tidak di perhatikan. Untung di saat seperti ini suami dan ibu saya terus mendukung saya memberikan ASI.</p>
<p>Ibu saya berpendapat, ”Rasanya tidak mungkin ya, Allah SWT memberikan &#8216;racun&#8217; untuk mahluk ciptaannya, apalagi yang baru lahir. ASI kan keluar dengan sendirinya setelah ibu melahirkan, berarti itu pemberian Allah SWT untuk bayi melalui sang ibu, jadi memang ASI yang harus diberikan kepada bayi, bukan susu formula”. Dari pemikiran ini, saya dan suami semakin mantap untuk terus menyusui, walaupun setiap hari dokter bilang, “Bu, billirubinnya lebih tinggi dari kemarin, ini karena ibu masih tetap memberikan ASI lho?!” Saya sempat ragu, tapi suami kembali mengingatkan untuk tetap menyusui. Di samping itu, ibu saya pun mencari-cari informasi mengenai bayi kuning ke beberapa temannya yang ber-profesi sebagai dokter. Hasil yang didapat, tenyata justru hanya ASI-lah yang dapat membantu mengeluarkan bilirubinnya. Pemberian susu formula justru akan memperberat kerja pencernaan bayi yang belum sepenuhnya matang, selain itu bayi harus di siangin di bawah sinar matahari yang tidak langsung, di pagi hari. Mendengar ini, saya semakin yakin lagi untuk tetap menyusui Ba’i. Tim sukses saya (suami dan Ibu) telah berhasil membawa saya dari keraguan dan kecemasan di awal kehidupan Ba’i di dunia.</p>
<h3>Ketua Tim Sukses: Suami</h3>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/06/06-bai-ayah-makan-300x194.jpg" alt="" title="06-bai-ayah-makan" width="300" height="194" class="alignleft size-medium wp-image-774" />Menurut saya, suami sebagai salah satu pemegang kunci dari keberhasilan menyusui, suami adalah ketua tim suksesnya.  Suami saya pernah berkata bahwa ia iri setiap kali melihat saya menyusui Ba’i, karena ada kelekatan/bonding  yang sangat dalam dan hal itu tidak dapat ia lakukan bersama Ba’i. Suami saya juga khawatir jika Ba’i akan sedikit lebih “jauh” ke dia dibandingkan ke saya. Memiliki pikiran seperti itu menurut saya sangatlah wajar dan di satu sisi merupakan kebanggaan buat saya sebagai ibu bahwa bonding yang saya miliki dengan Ba’i pada saat menyusui ternyata sangat eksklusif dan tidak dapat tergantikan oleh siapapun dan apapun juga di dunia ini.</p>
<p>Saya pernah membaca buku mengenai “<em>Attachment Parenting</em>” dari William Sears, M.D. dan Martha Sears, R.N, yang menurut saya, dapat menghilakan rasa “ke-iri-an” suami saya. William dan Martha Sears berpendapat bahwa banyak hal dapat di lakukan oleh sang ayah untuk dapat menjadi terikat dengan sang bayi. Salah satunya pada saat menyusui, sang ayah akan mendapatkan keterikatan dengan bayinya pada saat menggendong, mendekap bayinya, menggantikan popok, memandikan, memijat bayinya, sebelum di serahkan ke istrinya untuk di susui. Sang ayah juga dapat merawat istrinya untuk memudahkannya menyusui (seperti melakukan pijat punggung, membuatkan secangkir teh hangat, menyiapkan bantal untuk menyangga punggung istri pada saat menyusui,dll). Membaca ini saja, kita sudah terbayang betapa indahnya suasana yang di penuhi rasa cinta ini. Bagi kita, ibu menyusui, suasana indah ini sangat dapat merangsang hormon oksitosin untuk bekerja melancarkan jalan keluarnya ASI.</p>
<p>Saya merasa sangat beruntung, karena suami mendapat “<em>paternity leave</em>” (cuti dalam tanggungan karena istri melahirkan), dari kantornya selama 4 minggu. Kesempatan ini sangat dimanfaatkan oleh kami dengan sebaik mungkin. Disaat kondisi saya belum 100% pulih, suami dengan sigap membantu menggantikan popok, memandikan Ba’i serta memberikan ASIP. Terus terang, setiap kali saya melihat suami saya merawat Ba’i, terlihat sangat indah dan momen itu sering kali membuat jadi lebih bersemangat untuk menyusui. Aneh ya? Tapi setidaknya itu lah yang saya rasakan. Ada dorongan alami yang kadang saya sendiri juga tidak menyadarinya. </p>
<h3>Wakil Kehormatan Tim Sukses : Orangtua (Ibu)</h3>
<p>Saat saya kembali bekerja, Ibu saya yang menjaga dan merawat Ba’i. Ilmu manajemen laktasi saya masih nol, sehingga saya tidak tahu harus bagaimana seharusnya mempersiapkan ASIP, dll. Adalah Ibu saya yang membuat “matematika pemberian ASIP”nya. Ibu menyarankan, sebelum masuk kerja, melakukan simulasi meninggalkan rumah selama jam kerja untuk melihat berapa kali dan berapa banyak Ba’i minum. Ibu saya menulis jam berapa saja Ba’i bangun, tidur dan berapa cc ia minum satu kalinya. Alhasil, terciptalah rumus “matematika pemberian ASIP” yang kemudian, setelah saya belajar, “matematika pemberian ASIP” a’la ibu saya itu ternyata mirip dengan “Manajemen Laktasi”.</p>
<p>Ibu saya selalu mengingatkan beberapa hal: 1. Rajin memerah ASIP, baik yang fresh untuk diberikan langsung pada hari itu dan juga untuk dimasukkan ke dalam freezer. 2. Selalu meninggalkan sejumlah ASIP di kulkas (lima-enam botol ASIP) setiap kali saya pergi ke kantor dan, 3. Selalu menanyakan jam berapa pulang kantor. Setiap mendekati jam lima sore, ibu saya sms atau menelfon, menanyakan apakah saya sudah mau pulang atau akan lembur. Jika saya bilang langsung pulang, maka Ibu saya tidak akan memberikan ASIP di jadwal selanjutnya karena di perkirakan, saya  sudah sampai di rumah, jadi menghemat satu ASIP (dengan jam yang paling baru di perah) untuk di berikan esok paginya. Suatu hari saya pernah terjebak banjir, sehingga sampai rumahnya akan sangat larut. Stok ASIP untuk hari itu tinggal satu botol lagi, ibu saya langsung mengantisipasinya dengan mengeluarkan satu botol ASIP dari freezer yang memang berfungsi sebagai ASIP untuk cadangan jika ASIP fresh yang tersimpan di kulkas bawah, habis. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata disarankan untuk mencairakan ASIP yang dari freezer secara bertahap, akan tetapi saat itu keadaannya di luar kendali saya (dan juga saya belum tau informasi mengenai ini).</p>
<p>Syukur Alhamdulilah, dengan bantuan dan dukungan dari suami dan ibu lah, saya dapat berhasil menyusui Ba’i dengan tanpa beban. Kegiatan menyusui menjadi ritual sehari-hari yang menyenangkan buat saya, walaupun di kantor saya dihujani dengan berbagai tugas dan tekanan. Produksi ASI saya juga bukan termasuk yang berlimpah lho tapi sangat cukup untuk Ba’i. Terima kasih untuk ibu saya dengan “matematika pemberian ASIPnya” dan juga terima kasih saya untuk suami yang selalu setia mendukung saya dengan bantuan-bantuan praktisnya. Mereka adalah Tim sukses saya yang telah mengantarkan Ba’i jadi Sarjana S1 dan S2 ASI!</p>
<p>Ayoo persiapkan Tim Suksesnya Moms masing-masing yaaa… </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 1119 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Pertama Gagal ASI Eksklusif &#8211; Bagaimana Dengan Adik?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 01:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok pendukung]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu yang tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif kepada anak kedua bahkan ketiga ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama. Ini disebabkan mereka terpaku pada kegagalan anak pertama. Umumnya kegagalan ini disebabkan oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.  Saya ingin berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak ibu merasa tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya &#8211; baik kepada anak kedua atau ketiga, ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-mama-zach.jpg" alt="" title="04-mama-zach" width="300" height="241" class="alignleft size-full wp-image-648" />Hal ini seringkali terjadi, karena banyak ibu terpaku pada kegagalan memberikan ASI di masa lalu yang disebabkan  oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.</p>
<p>Menanggapi hal tersebut, ijinkan Saya berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi semua ibu yang membacanya.</p>
<p>Anak pertama saya lahir pada bulan Oktober 2004, hanya 10 bulan dari sejak saya menikah. Senang..? Pasti dong. Saya pun berniat untuk memberikan yang terbaik &#8211; yaitu ASI &#8211; untuk anak pertama saya.</p>
<p>Memberikan ASI ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Karena kekurangan informasi tentang ASI dan menyusui, saya mengawali perjalanan menyusui anak pertama saya dengan tidak tepat, misalnya: tidak meminta rawat gabung dengan anak sewaktu di Rumah Sakit sehingga saya yang harus bolak balik ke kamar bayi (dengan jam menyusui yang dibatasi / dijatah). Kondisi seperti ini membuat saya tidak dapat menyusui dikala anak saya membutuhkan ASI. Saya lebih sering menemui anak saya sedang tertidur sehingga tak mau menyusu.</p>
<p>Saat itu saya pikir ini kondisi seperti ini normal saja. Tetapi begitu saya pulang dari Rumah Sakit dan merawat bayi saya sendiri, barulah saya merasakan ketidaknyamanan. Bukan, bukan karena saya kecapekan menjaganya tapi saya mengalami puting lecet.</p>
<p>Saya bingung sekali kala itu,  tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya cara yang menurut saya dapat menyelesaikan permasalahan puting lecet kala itu adalah dengan memompa ASI dari payudara yang lecet dan hanya menyusui dari payudara yang tidak sakit. Karena kondisi ini pula, saya sempat mengalami ‘<em>mild baby blues</em>’, dimana saya menangis setiap harus menyusui dari payudara yang lecet tersebut. Untungnya cuma berlangsung sebentar, 3 hari saja.</p>
<p>Selama di berada rumah dan belum kembali bekerja, saya selalu menyusui anak saya secara langsung, sehingga saya pun jarang memerah, apalagi semenjak luka di puting pulih. Ternyata hal ini menimbulkan masalah ketika saya harus kembali lagi ke kantor. Saya tidak memiliki stok ASI perah ketika itu, sehingga saat harus kembali masuk kantor saya bingung bagaimana dengan asupan susu anak saya di rumah. Oleh orang tua, saya diminta membeli susu formula (sufor) sebagai cadangan kalau-kalau ASI yang saya perah di kantor tidak cukup untuk konsumsi anak saya selama saya tinggal bekerja. Dan terjadilah hal yang saya takutkan, di usianya yang ke- 2,5 bulan, anak saya sudah minum ASI campur sufor.</p>
<p>Selain itu, karena minimnya informasi yang saya punya, saya memperkenalkan MPASI dini pada anak saya, karena menurut orang tua,  anak saya pasti kelaparan kalo hanya minum ASI dan susu formula saja.</p>
<p>Sekembalinya bekerja, ternyata saya tidak konsisten memerah ASI. Kadang hanya 2x dalam waktu 9 jam, malah kadang hanya 1x kalau saya terlalu sibuk atau malas. Ini disebabkan di kepala saya sudah tertanam bahwa anak saya akan baik-baik saja karena ada back-up sufor dan MPASI di rumah jika ASI perah tidak mencukupi. Akhirnya pada usia 10 bulan, anak saya hanya minum sufor tanpa ASI lagi.</p>
<p>Ketika anak ke-2 lahir di tahun 2007, saya sudah bertekad untuk memberi ASI sekurang-nya 6 bulan tanpa tambahan susu formula maupun MPASI dini. Hal ini dikarenakan informasi yang saya dapatkan dari seminar tentang kesehatan anak pada tahun 2006 yang saya ikuti, menjelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif adalah 6 bulan tanpa tambahan apa pun. Ditambah lagi, tidak lama setelah saya melahirkan, saya pun ikut bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dimana saya dapat mencari informasi tentang ASI, menyusui dan tips memerah selama bekerja dengan lebih lengkap. Alhamdulillah, dengan banyaknya informasi yang saya dapat, anak ke-2 pun lulus ASI eksklusif tanpa bantuan dari susu formula dan MPASI dini.</p>
<p>Selain itu, untuk menambah wawasan dan jejaring, saya datang ke kopdar milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">Asiforbaby</a> pertama kali dan berkenalan dengan banyak ibu muda. Selain presentasi mengenai ASI yang dibawakan oleh dr. Utami Roesli, saat itu juga ada presentasi dari mbak Mia Sutanto yang menjelaskan bahwa akan dibentuk suatu organisasi yang bisa mewadahi para ibu menyusui. Saya melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk terlibat secara langsung didunia per-ASI-an dan ketemu dengan para ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>Singkat cerita, saya pun mengajukan diri untuk ikut bergabung dan Alhamdulillah, saya tidak salah berkumpul dengan ibu-ibu hebat di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena disini lah saya bisa bertanya, curhat dan bersenang-senang. Dari sini pun saya sadar, ternyata ilmu yang didapat dari internet atau milis saja tidak cukup. Kita perlu berkumpul dengan para ibu yang mempunyai pandangan yang sama dengan kita.</p>
<p>Saat kelahiran anak-3 dipertengahan 2008, saya jauh lebih percaya diri. Saya jadi lebih getol mencari dokter, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-family.jpg" alt="" title="04-family" width="300" height="200" class="alignright size-full wp-image-649" />tenaga kesehatan dan rumah sakit yang mengijinkan IMD dan rawat gabung. Sewaktu lahiran saya tenang karena anak langsung diletakkan di atas dada dan dibiarkan selama kurang lebih 1,5 jam. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan karena saya bisa melihat sendiri ayahnya meng-adzani anak di dada saya dan melihat serta merasakan IMD, dimana anak merangkak sendiri menuju payudara dan menyusu secara alami tanpa bantuan dari saya, mamanya.</p>
<p>Jadi kalau boleh saya rangkum dari pengalaman ini adalah tidak benar bahwa kegagalan pemberian ASI pada anak pertama berarti mustahil bagi anak ke-2 mau pun ke-3 untuk mendapat ASI. Ibu perlu membekali dirinya dengan ilmu yang cukup semenjak hamil tentang tata cara IMD, persiapan menyusui, dokter dan rumah sakit / bidan yang mendukung IMD &#038; rawat gabung. Tentu saja dukungan penuh dari suami juga akan membuat ibu lebih percaya diri.</p>
<p>Selain itu, jika memungkinkan bergabunglah dengan komunitas peduli ASI. Ini bisa diawali dengan bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dan dilanjutkan dengan bertemu langsung dengan para ibu di kota tempat kita tinggal atau sering disebut kopdar. Lebih bagus lagi jika pertemuan ini bisa diadakan rutin sehingga kita bisa saling berbagi ilmu dan saling mendukung sesama ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>So, ibu2, terbukti kan, kegagalan di masa lalu dapat menjadi pemicu keberhasilan untuk menyusui. Kalau saya bisa, Anda pun bisa!</p>
<p>Semangat ASI!</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 1212 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dinas Luar Negeri&#8230;?? Tak Masalah..!!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/02/dinas-luar-negeri-tak-masalah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/02/dinas-luar-negeri-tak-masalah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 15:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Tricks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Bingung gimana caranya agar tetap anak mendapatkan ASI sementara kita ditugaskan ke luar kota / negeri untuk jangka waktu yang cukup panjang..? Yuk simak cerita sukses dari salah satu ibu menyusui yang berhasil menjalankan tugas kantornya keluar negeri dan tetap bisa membawakan 'oleh-oleh' yang tak ternilai untuk buah hatinya, ASI Perah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat itu datang juga. Saat yang paling saya nanti-nantikan selama bekerja. Bertugas ke luar negeri. Tapi, kok rasanya campur aduk ya? Ada excited karena mau melihat Negara yang sudah lama saya impikan, sedih karena akan berpisah dalam waktu yang lama dengan Alle (yang kala itu berusia 18 bulan) dan yang paling dominan adalah bingung, bagaimana nanti saya bisa terus memberikan ASI selama jauh dari Alle?</p>
<h3>BUKAN ALASAN UNTUK BERHENTI MENYUSUI</h3>
<p>Banyak hal terlintas dalam pikiran saya saat itu, “cukup tidak ya, ASIP ku? Apa iya, dengan kepergian ini Alle harus ditambah susu lain (waktu itu alle belum doyan UHT)? Kira-kira sepulangnya aku nanti, Alle masih mau menyusu langsung, atau tersapih?” dan lain-lain yang menciutkan ke-PeDe-an saya. </p>
<p>Tapiii… setelah memikirkan kembali seluruh kebaikan dan manfaat ASI, kok ya sayang banget kalo kita menyerah dan patah semangat. Apalagi setelah membaca berbagai macam referensi tentang pengalaman ibu menyusui yang bepergian jauh dan tidak menyerah untuk terus memberikan ASI buat buah hatinya walaupun harus terpisah jauh. Saya jadi terinspirasi dan berpikir, kalau orang lain aja bisa, saya juga PASTI BISA. Asal yakin dan niat. Itu kuncinya…</p>
<h3>SEBELUM BERANGKAT..</h3>
<h4>PERTAMA: SIAPKAN DIRI..</h4>
<p>Begitu mandat itu datang, hal pertama yang saya lakukan adalah mengejar ketertinggalan stock ASIP saya dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang travelling ke luar negeri sambil membawa ASIP di dalam kabin. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/02/02-sisca-alle-300x210.jpg" alt="Ibu Bekerja tetap ASI" title="Ibu Bekerja tetap ASI" width="300" height="210" class="alignleft size-medium wp-image-182" />Mengingat perjalanan saya ini cukup jauh dan lama (trans-Atlantik ke benua Amerika), saya harus punya ‘sangu’ informasi yang cukup untuk menyimpan dan membawa kembali ASIP saya dengan selamat sampai di rumah..<br />
Mengejar ketertinggalan stok ASIP merupakan hal yang cukup ‘<em>challenging</em>’ buat saya. Kala itu usia Alle 18 bulan dan ‘cadangan’ ASIP saya per hari maksimal 300ml. Untuk meninggalkan Alle sekian hari, saya harus segera berhitung untuk mencukupi kebutuhan ASIP Alle ketika saya jauh darinya. </p>
<p>Dengan 300 ml ASIP, konsumsi ASI Alle tercukupi dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam ketika saya bertemu dengannya lagi di rumah. Untuk itu, jika dalam  24 jam Alle tidak bertemu saya, saya harus menyediakan 400 ml – 500 ml ASIP untuk cadangan jika malam hari Alle terbangun dan ingin minum ASI. </p>
<p>Mengingat tugas ini akan menempuh waktu 10 hari (4 hari perjalanan pulang-pergi dan 6 hari bertugas), dan kebutuhan ASI Alle yang 500 ml sehari, mulailah saya mengatur strategi untuk mengejar kekurangan stok ASIP saya di kulkas. Kebetulan saat itu saya masih memiliki 5 cadangan ASIP @ 120ml. Nah, karena kebutuhannya akan berjumlah 10 hari x 500 ml = 5 Liter ASI, maka saya harus dapat memperbanyak stok ASI saya 8 kali lipat.</p>
<p>WAhh.. stress juga saya. Secara di kantor hanya berhasil memerah 3x, itu saja tidak selalu dapat 120 ml, kadang hanya 80–90 ml. Tapi saya tidak patah arang dan coba atur strategi dengan cara makan makanan yang dipercaya memperbanyak ASI (favorit saya air rebusan kacang hijau dan sayur papaya juga buah papaya-nya), memperbanyak waktu memerah dari 3x menjadi 5x dalam sehari, dan PERCAYA DIRI kalau ASIP saya akan cukup selama pergi. Ternyata strategi yang saya tempuh membuahkan hasil.  Puji Tuhan, 1 hari sebelum keberangkatan kulkas saya sudah penuh dengan ASIP sesuai dengan kebutuhan Alle.</p>
<h4>KEDUA: CARI INFORMASI SEBANYAK MUNGKIN</h4>
<p>Tenang masalah ASI perah, masih bingung masalah BAWA ASI PERAH KEMBALI KE INDONESIA.</p>
<p>Peraturan penerbangan yang MELARANG MEMBAWA CAIRAN LEBIH DARI 100 ML KE DALAM KABIN adalah momok utama ketakutan saya. Teringat lagi, bahwa Negara yang akan saya kunjungi begitu ketatnya menerapkan peraturan ini. </p>
<p>Tapi saya tak habis semangat.  Tanya teman-teman yang pernah bepergian ke luar negeri sambil membawa ASIP, telpon maskapai penerbangan yang akan saya gunakan, dan <em>browsing</em> informasi sebanyak-banyaknya di internet. Walau sedikit menguras tenaga, tapi pencarian itu tak sia-sia.</p>
<p>Saya bertemu dengan web resmi milik <a href="http://www.tsa.gov/">Transportation Security  Administration (TSA)</a> United States of America. Lembaga inilah yang pertama kali mengeluarkan peraturan yang melarang untuk membawa cairan lebih dari 100 ml ke dalam kabin setelah peristiwa WTC 9/11 terjadi. </p>
<p>Puji Tuhan, di bulan Oktober 2006 mereka merevisi peraturan tersebut menjadi lebih BERSAHABAT  bagi ibu-ibu menyusui yang bepergian dengan, atau tanpa anak. Kalau boleh saya kutip, salah satu pasal dari peraturan tersebut berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>“<em>… ibu menyusui yang bepergian dengan atau tanpa membawa bayi/anak dapat membawa AIR SUSU IBU dalam jumlah berapapun ke dalam kabin pesawat selama ibu menyebutkan (declare) bahwa ibu membawa ASI pada setiap security check-point.</em>”<br />
(Sumber: <a href="http://www.tsa.gov/travelers/airtravel/children/formula.shtm">http://www.tsa.gov/travelers/airtravel/children/formula.shtm</a>) </p>
<p>Hal berikutnya yang saya lakukan adalah mencari informasi di hotel tempat saya menginap, apakah saya bisa mendapatkan kamar dengan <em>refrigerator</em> yang memiliki <em>freezer</em> untuk menyimpan ASIP. Untung saja, hotel yang saya tempati bentuknya seperti studio apartemen, sehingga kulkas dengan <em>freezer</em> memang disediakan di masing-masing kamar. Pfffiiiuuuhhh…. ☺</p>
<p>Suatu kelegaan yang luar biasa buat saya setelah berhasil mendapatkan seluruh informasi yang saya perlukan. Saya semakin mantap dan PeDe untuk berjuang membawa oleh-oleh ASIP dari luar negeri untuk Alle tercinta.</p>
<h4>KETIGA: SIAPKAN SEMUA DOKUMEN PENDUKUNG</h4>
<p>Selain Paspor, Visa dan tiket, dokumen-dokumen yang harus disiapkan untuk memperlancar membawa ASIP selama di perjalanan adalah:</p>
<ol>
<li><em>Copy/Print</em> dari peraturan TSA (in case petugas di <em>security check point</em> tidak mengetahui tentang peraturan ini, buat jaga2 saja)</li>
<li>Surat Keterangan Dokter yang menyatakan bahwa kita adalah ibu menyusui yang bepergian</li>
</ol>
<p>Selain itu, kita harus jujur dan menyebutkan semua barang bawaan kita (terutama ASIP) jika melalui <em>security check point</em>.</p>
<h4>KEEMPAT: SIAPKAN ANAK</h4>
<p>Setelah tiga hal diatas berhasil diatasi, akhirnya saya bertemu juga dengan fase yang paling berat: MENYIAPKAN ANAK.</p>
<p>Sejak satu bulan sebelum keberangkatan, saya sudah sering menyinggung-nyinggung soal kepergian saya pada Alle. Misalnya saja pada saat ia bermain, dengan mengajaknya mengobrol:</p>
<blockquote><p>Saya (S): Mas, bulan depan mami kerja di kantor yang jauh loohhhh..<br />
Alle (A): Cuma melirik, terus sibuk dengan mainannya lagi<br />
S	: Mas Alle manis ya, sama papi, utita (eyang putri), kungkungka (eyang kakung) dan hayus  (pengasuhnya)<br />
A	: senyum aja, terus minta ‘cucuacimami’ alias nenen.. hehe..</p></blockquote>
<p>Di waktu lain, saat ia tertidur nyenyak, saya coba bisikkan hal yang sama padanya. Bahwa saya akan pergi ke kantor yang jauh untuk tugas dalam waktu yang lama. Alle manis ya.. Mimik ‘cucuacimami’ sama utita dan kungkungka.. Nanti kalau mami pulang, mas Alle boleh mimik ‘cucuacimami’ langsung lagi.</p>
<p>Begitu terus berulang-ulang. Pokoknya setiap ada kesempatan, saya selalu informasikan pada Alle tentang kepergian saya.</p>
<p>Jangan lupa, sertakan juga Ayah dalam fase ini. Suami yang mendukung, pasti akan membuat kita tenang. Ia akan menjadi figure pengganti kita disaat kita jauh dari rumah, jadi, sertakan juga pada saat kita memberikan informasi kepergian kita.</p>
<p>Satu hal lagi, selain menginformasikan hal-hal tersebut, sebelum berangkat saya juga sengaja membawa baju Alle yang dipakai semalam selama bepergian. Saya juga meninggalkan salah satu baju saya yang sudah dipakai untuk digunakan sebagai selimut Alle di malam hari. Kata orang-orang tua zaman dahulu, bau tubuh ibu (walaupun secara fisik jauh) akan membuat anak tetap nyaman. Sebaliknya, bau tubuh anak akan membuat ibunya pun nyaman. <em>Believe it or not, it works for me</em>. ☺</p>
<h4>KELIMA: YAKINKAN DIRI KITA, BAHWA SEMUA AKAN AMAN DAN TERKENDALI</h4>
<p>Ini juga fase yang sulit buat saya. Karena terbiasa mengurus semuanya sendiri, terutama hal-hal yang berkaitan dengan keperluan Alle, saya tidak mudah percaya dengan orang lain, even itu suami saya sendiri. </p>
<p>Tapii… kita harus bisa percaya, apalagi dengan kasus seperti yang saya alami – harus pergi jauh dari rumah dalam jangka waktu yang relatif lama. Salah satu cara mengatasi kecemasan saya akan hal ini adalah saya membuat list semua keperluan Alle, dari menu makan tiap hari, jam memberikan ASIP di malam hari (karena kalau siang relative sudah oke, karena rutin), penanganan pertama apa yang harus dilakukan kalau Alle tiba-tiba panas/batuk/pilek, dan hal-hal lainnya. </p>
<p>List ini saya berikan pada orang tua saya (yang setiap hari kami titipi Alle) serta suami saya. <em>In case</em> sesuatu yang sangat <em>emergency</em>, mereka bisa menghubungi saya via telp hotel/hp (yang sengaja saya aktifkan saluran internasional-nya).</p>
<h4>KEENAM, SIAPKAN PERALATAN ‘PERANG’</h4>
<p>Peralatan perang yang saya maksud disini bukan untuk perang beneran loh, tapi lebih ke peralatan memerah ASI. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/02/02-peralatan-perang.jpg" alt="Peralatan Perang" title="Peralatan Perang" width="270" height="223" class="alignright size-full wp-image-185" />Karena saya nyaman memerah dengan menggunakan tangan, maka peralatan yang saya siapkan antara lain sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>1 (satu) buah <em>cooler bag</em> ukuran besar (bentuknya kebetulan seperti ransel, sehingga mudah dibawa)</li>
<li>3 (tiga) buah <em>ice gel</em> dan 4 (empat) buah <em>ice packs</em>. (catatan: <em>ice gel</em> tahan 12-18 jam, <em>ice packs</em> tahan sekitar 8 jam)</li>
<li>25 (dua puluh lima) buah plastik ASI</li>
<li>2 (dua) buah Tupperware ukuran besar (untuk menyimpan plastic ASI di kulkas/<em>cooler bag</em>)</li>
<li>3 (tiga) buah botol ASI dan <em>tablet cold sterilizer</em></li>
</ul>
<h4>DALAM PERJALANAN</h4>
<p>Akhirnya, tiba juga hari yang ditunggu. Hari dimana saya akan berangkat meninggalkan rumah dan Alle tercinta saya. Walau sudah dengan berbagai persiapan sebelum berangkat, tetap saja berurai air mata ketika melihat Alle melambaikan tangan pada saya. Alle-nya sih, oke-oke saja. Tapi ternyata saya yang lebih tidak siap berpisah dengannya.</p>
<p>Sambil terus menenangkan hati, saya mulai atur strategi pemerahan di dalam perjalanan. Kebetulan kota tujuan akhir saya adalah San Diego, California. Untuk sampai kesana, saya harus transit 3 kali dan 3 kali pula berganti pesawat. Transit di Singapura memakan waktu 6 jam, di Tokyo 45 menit dan di Seattle 45 menit. Dengan demikian saya dapat memerah 2 kali di Singapura, 1 kali di Tokyo dan 1 kali di Seattle.</p>
<p>Sesampainya di Singapura, rencana saya tidak berjalan dengan mulus. Karena harus mencari tempat untuk check in dahulu (kebetulan dengan noraknya saya sedikit tersesat di Changi.. hehe..) dan confirm transit lounge, jadilah saya hanya memerah 1x. Waktu itu ASI yang diperoleh 100ml (masih aman di bawa ke kabin), jadi saya tidak perlu men-declare apapun ketika boarding menuju Tokyo Jepang. </p>
<p>Perjalanan ke Tokyo menempuh waktu 7 jam perjalanan dan sialnya, saya tidak bisa memerah karena tidak ada tempat yang nyaman. Jadi saya putuskan untuk memerah di Tokyo. Sesampainya di Tokyo, sialnya lagi, saya juga tidak bisa memerah, karena waktu pemeriksaan di <em>security check point</em> terlalu lama, sehingga saya harus langsung boarding menuju Seattle. Payudara sudah mulai sedikit bengkak dan sakit. Akhirnya saya putuskan untuk memerah sedikit di toilet, tapi tidak sampai mengosongkan payudara. Yang penting tidak menyebabkan payudara bengkak (<em>breast engorgement</em>).</p>
<p>Perjalanan dari Tokyo ke Seattle menempuh waktu 8 jam. Saya cukup ‘teler’ di perjalanan, sehingga tidak juga memerah. Sesampainya di Seattle, setelah melalui pemeriksaan di Imigrasi dan melakukan ‘custom clearance’ saya harus langsung pergi ke San Diego, tanpa (lagi-lagi) sempat memerah. Perjalanan dari Seattle ke San Diego menempuh waktu 3 jam. Pada saat itu, Payudara sudah terasa sangat sakit, muncul benjolan-benjolan kecil, yang menandakan ASI sudah sangat banyak, tapi juga tidak dikeluarkan.</p>
<p>Ternyata, apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Sesampainya di hotel di San Diego, saya cek payudara saya dan ternyata benar, sudah keras alias bengkak. Mulai lah sesi kompres panas-dingin, pijat dan perah. Puji Tuhan, semua benjolan hilang semua. Hari itu, saya memerah banyak sekali, hampir 350 ml ASI sekali perah.</p>
<h4>SAAT MENJALANKAN TUGAS</h4>
<p>Kebetulan tugas yang dimandatkan pada saya selama berada di luar negeri adalah mengikuti konferensi manajemen serta melakukan <em>benchmarking</em> implementasi <em>management tools</em> di sana.</p>
<p>Setelah mengecek agenda acara selama di sana, saya atur strategi untuk memerah lagi. Ternyata, melakukan sesi perah seperti di kantor dapat dilakukan. Jadi aman, saya bisa memerah 3x di tempat kerja selama berada di San Diego.</p>
<p>Kebetulan sekali, San Diego sangat mendukung ibu untuk memberikan ASI. Di tempat konferensi dan tempat kerja terdapat <em>nursery room</em> dengan fasilitas yang baik, sehingga sesi perah memerah dapat dilalui dengan menyenangkan.</p>
<p>Untuk menyimpan ASI perah saya selama bekerja, <em>cooler bag</em> tercinta selalu saya bawa, termasuk <em>ice packs</em> dan <em>ice gels</em> nya.</p>
<h4>SAAT KEMBALI KE TANAH AIR</h4>
<p>Dalam 6 hari, tugas saya selesai. Berarti saatnya kembali ke rumah. Tak terasa, 20 plastik ASI bisa saya kumpulkan, masing-masing isinya 125 ml. </p>
<p>Itu berarti, saya harus atur kembali strategi untuk membawa ASIP kembali ke Indonesia, mengingat bawaan likuid saya sudah melebihi kuota yang ditentukan dan waktu transit yang harus saya lalui.</p>
<p>Untuk membawa ASIP kembali ke Indonesia, saya sengaja membeli beberapa <em>ice-packs</em> lagi untuk memastikan ASIP tetap dalam kondisi dingin. Karena saya akan melalui waktu 24 jam selama perjalanan, saya perlu memastikan bahwa seluruh <em>ice packs</em> dan <em>ice gel</em> saya akan cukup dingin sampai Jakarta. </p>
<p>Sengaja saya bekukan 10 kantong ASIP hasil perahan awal perjalanan dan 10 kantong ASIP lagi saya biarkan dingin (alias berada di kulkas bawah). Tujuannya adalah supaya 10 ASIP beku dapat langsung dikonsumsi Alle sesampainya di Jakarta, dan 10 lagi yang masih cair dapat saya bekukan ketika sampai di Jakarta. </p>
<p>Karena sudah dapat membaca situasi di dalam perjalanan, pengaturan strategi saya kali ini terasa lebih ringan dan mudah untuk dijalankan. Untuk itu saya memutuskan untuk memerah 1x sebelum berangkat ke airport, 1x ketika transit di Seattle, 1x ketika transit di Tokyo dan 2x ketika transit di Singapore. Modalnya, saya harus disiplin dan on-time pada saat memerah. Saya tidak mau mengulangi kesalahan pertama saya ketika berangkat, yang mengakibatkan saya terkena mastitis ringan. </p>
<p>Puji Tuhan, seluruh strategi perah saya berhasil dilalui dengan baik. Selama perjalanan panjang dan transit, saya dapat mengumpulkan 5 kantong ASIP lagi yang isinya masing-masing 150 ml. </p>
<p>Hal terakhir yang saya lakukan sebelum boarding menuju pesawat yang membawa saya ke Jakarta adalah menelpon suami saya untuk membawakan <em>cool box</em> penuh dengan es batu (karena persediaan <em>ice gels</em> dan <em>ice packs</em> saya bawa semua) untuk memindahkan ASIP bawaan saya ke <em>cool box</em> tersebut. </p>
<h4>KEMENANGAN YANG BERBUAH MANIS</h4>
<p>Setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya sampai juga saya di rumah. Begitu melihat Alle berjingkrak gembira melihat saya pulang, rasanya seluruh lelah dan letih saya menguap begitu saja.</p>
<p>Saya begitu rindu mendekap, memeluk dan menciuminya. Begitu melihat matanya, saya tahu bahwa ia pun merindukan saya. Yang membuat saya begitu terharu melihatnya adalah saya berhasil berjuang membawa oleh-oleh ASIP untuknya.</p>
<p>ASIP saya pun, Puji Tuhan, semua berada dalam kondisi yang baik. ASIP beku yang telah mencair segera dikonsumsi oleh Alle, sementara ASIP dingin yang cair segera saya bekukan di <em>freezer</em>. </p>
<p>Dalam perjalanan kali ini, saya merasa benar-benar MENANG, karena semua hal yang saya perjuangkan berbuah manis. </p>
<h3>AKHIRNYA..</h3>
<p>Sharing yang panjang ini sebetulnya bertujuan untuk memotivasi seluruh ibu menyusui, terutama mereka yang bekerja dan seringkali dihadapkan pada tugas-tugas kantor di luar kota/luar negeri untuk terus berjuang memberikan ASI.</p>
<p>Jangan ada kata menyerah dalam perjuangan mu, moms. Karena di garis finish nanti, kita juga yang akan memetik manisnya buah perjuangan kita.</p>
<p>ASI Rocks!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/02/dinas-luar-negeri-tak-masalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menyusui Ketika Puasa</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/08/tips-menyusui-ketika-puasa/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/08/tips-menyusui-ketika-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 14:54:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Tricks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan sudah dekat. Bagaimana dengan para ibu hamil dan ibu yang masih menyusui bayinya? Jika berpuasa, bagaimana dengan kualitas ASI sang ibu? Yuk, mari lihat tip dan trik berpuasa bagi ibu hamil dan menyusui.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>ASI Lancar, Puasa pun Tak Lewat</h3>
<p>Bulan Ramadhan telah tiba. Bulan penuh ibadah bagi umat muslim di dunia. Salah satu ibadah yang wajib dilakukan setiap muslim yang telah baligh (cukup umur) adalah berpuasa. Nah, bagaimana dengan ibu hamil dan menyusui?</p>
<p>Puasa Ramadhan hukumnya tetap wajib bagi ibu hamil dan menyusui. Alhamdulillah, Islam memberikan kelonggaran bagi ibu hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa dengan berpuasa di lain waktu atau membayar fidyah.</p>
<p>Yang pertama, dikembalikan kepada motivasi atau niat. Jika ibu hamil dan menyusui tidak melakukan ibadah puasa karena mengkhawatirkan kesehatan dirinya, maka dia menganggap dirinya seperti orang sakit. Sehingga cara mengganti puasa sama dengan mengganti puasa dikala orang sakit, yaitu dengan berpuasa di hari lain. Namun, jika mengkhawatirkan bayinya, dianggap seperti orang tua yang tak punya kemampuan sehingga cara menggantinya selain membayar puasa-seperti cara orang tua-yaitu dengan membayar fidyah.</p>
<p>Yang kedua, ibu hamil atau menyusui cukup membayar fidyah saja tanpa harus berpuasa. Karena keduanya tidak berpuasa bukan karena sakit, melainkan karena keadaan yang membuatnya tidak mampu puasa. Kasusnya lebih dekat dengan orang tua yang tidak mampu berpuasa.</p>
<p>Apa dan bagaimana cara membayar Fidyah? Fidyah adalah memberi makan orang fakir miskin. Satu hari puasa diganti dengan satu kali fidyah. Ukuran memberi makan adalah sebesar porsi kita makan 3 kali sehari, yakni sekitar 1 mud atau 600 gram. Jika dirupakan uang, sebesar biaya kita makan 3 kali sehari.</p>
<p>Ketika memberikan fidyah, ada tata caranya juga. Salah satu yang harus diingat adalah jangan lupa mengucapkan berita serah terima/ijab kabul. Misalnya &#8220;Saya membayar fidyah kepada saudara, mohon diterima dengan baik&#8221;. Jika meminta orang lain yang menyerahkan maka, &#8220;Ibu A membayar fidyah kepada saudara, mohon diterima dengan baik&#8221;.</p>
<p>Nah, bagi ibu menyusui yang ingin berpuasa bagaimana? Selama kondisi ibu dan bayi sehat, maka diperbolehkan berpuasa. Namun, jika dikuatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya kekurangan gizi, produksi ASI berkurang, sakit, dan lain sebagainya, maka Islam menyarankan untuk tidak berpuasa.</p>
<h3>Manajemen Laktasi Ibu Menyusui Yang Sedang Berpuasa</h3>
<p>Dengan perubahan jadwal makan, bukan berarti asupan makanan yang dikonsumsipun ikut berubah. Yang penting, ibu menyusui tetap makan 3 kali sehari dan secara disiplin mengkonsumsi makanan dengan gizi berimbang, yaitu dengan komposisi 50% karbohidrat, 30% protein dan 10-20% lemak.</p>
<p>Kemudian, hal-hal berikut dapat dilakukan untuk memastikan bahwa produksi ASI selama ibu berpuasa tetap lancar dan berkualitas:</p>
<ol>
<li>Asupan menu dengan gizi seimbang</li>
<p>Ibu yang sedang menyusui memang membutuhkan tambahan sekitar 700 kalori perhari, 500 kalori diambil dari makanan ibu dan 200 kalori diambil dari cadangan lemak dalam tubuh ibu. Oleh karena itu, penting bagi ibu menyusui yang sedang berpuasa untuk tetap mempertahankan pola makan 3x sehari dengan menu gizi seimbang. Pada saat sahur, ketika berbuka puasa dan menjelang tidur sesudah shalat tarawih. Makan sahur akan menghasilkan energi yang berguna untuk aktivitas kita hari itu. Komposisi makanan dengan gizi berimbang akan menghasilkan sari makanan yang bagus untuk anak.</p>
<li>Perbanyak konsumsi cairan, mulai dari berbuka hingga sahur</li>
<p>Jika bisa minum air putih selama sehari itu sebanyak dua liter, ditambah dengan jenis cairan lainnya seperti juice buah, teh manis hangat dan susu. Minum segelas susu setiap sahur bisa mengurangi ancaman anemia bagi ibu hamil dan menyusui. Anemia adalah berkurangnya kadar hemoglobin (Hb) dalam darah. Berbuka puasa dengan minum minuman hangat, akan merangsang kelancaran ASI bagi ibu menyusui.</p>
<li>Istirahat yang cukup</li>
<p>Merasa lemas saat berpuasa itu hal yang lumrah, apalagi jika si ibu baru saja menyusui. Cobalah untuk beristirahatlah sejenak, apakah dengan cara tidur atau sekadar relaks menenangkan pikiran. Perlu ibu menyusui ketahui, bahwa semakin sering payudara dihisap oleh bayi, maka produksi ASI akan semakin banyak. Jadi, bila selama puasa ibu tetap rajin menyusui, ASI akan tetap lancar.</ol>
<h3>Ibu Bekerja</h3>
<p>Ibu bekerja yang memerah ASI di tempat kerjanya disarankan untuk tetap melakukan kegiatan memerah ASI seperti biasa dengan tetap memperhatikan tips-tips seperti yang sudah disebutkan diatas ini. Kembali berpegang pada prinsip demand and supply, semakin banyak ASI dikeluarkan maka semakin banyak ASI yang akan diproduksi. Apabila ibu menyusui yang biasa memerah menghentikan kegiatan memerahnya selama bulan puasa, maka ASI yang diproduksi dapat berkurang, yang bukan disebabkan oleh kegiatan berpuasa tetapi karena mengurangi kegiatan memerah tadi.</p>
<p>Bagaimanapun, mendapatkan ASI adalah hak bayi. Jadi, dahulukan kepentingan bayi. Untuk ibu yang memiliki bayi di bawah 6 bulan, memang dianjurkan untuk tidak berpuasa karena bayi sedang dalam tahap ASI Eksklusif dan belum memperoleh makanan tambahan apapun kecuali ASI.</p>
<p>Selamat menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan dan salam ASI!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/08/tips-menyusui-ketika-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
