<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/kode-pemasaran-internasional-dari-pengganti-asi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Alasan Medis untuk Tidak Menggunakan Pengganti ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/02/alasan-medis-pengganti-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/02/alasan-medis-pengganti-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 17:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[resiko susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1188</guid>
		<description><![CDATA[Ketika menyusui secara eksklusif tidak lagi menjadi suatu &#8216;keharusan&#8217;, biasanya para ibu dengan mudahnya berpaling pada susu formula. Kode Etik Internasional tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI (breastmilk substitute) yang dikeluarkan oleh WHO ditujukan untuk memberikan informasi pada orangtua tentang bahaya kesehatan akibat penggunaan susu formula yang tidak tepat. Makalah ini memberikan beberapa contoh hasil penelitian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika menyusui secara eksklusif tidak lagi menjadi suatu &#8216;keharusan&#8217;, biasanya para ibu dengan mudahnya berpaling pada susu formula. Kode Etik Internasional tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI (<em>breastmilk substitute</em>) yang dikeluarkan oleh WHO ditujukan untuk memberikan informasi pada orangtua tentang bahaya kesehatan akibat penggunaan susu formula yang tidak tepat. Makalah ini memberikan beberapa contoh hasil penelitian bertahun-tahun tentang pentingnya menyusui serta resiko yang ditimbulkan akibat penggunaan susu formula.  </p>
<h3>REKOMENDASI WHO</h3>
<p>WHO merekomendasikan para ibu untuk menyusui secara ekslusif selama 6 bulan, melanjutkannya dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dari bahan-bahan lokal yang kaya nutrisi sambil tetap memberikan ASI / menyusui sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. (World Health Assembly Resolution 54.2, 2001) </p>
<h3>RESIKO PEMBERIAN SUSU FORMULA UNTUK BAYI DAN ANAK-ANAK</h3>
<ol>
<li>Meningkatkan resiko asma</li>
<li>Meningkatkan resiko alergi</li>
<li>Menghambat perkembangan kognitif</li>
<li>Meningkatkan resiko infeksi saluran pernapasan akut</li>
<li>Meningkatkan resiko oklusi pada gigi anak</li>
<li>Meningkatkan resiko infeksi dari susu formula yang terkontaminasi</li>
<li>Meningkatkan resiko kurang gizi</li>
<li>Meningkatkan resiko kanker pada anak-anak</li>
<li>Meningkatkan resiko penyakit kronis</li>
<li>Meningkatkan resiko diabetes</li>
<li>Meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular (jantung)</li>
<li>Meningkatkan resiko obesitas</li>
<li>Meningkatkan resiko infeksi saluran pencernaan</li>
<li>Meningkatkan resiko kematian pada bayi dan akan-kanak</li>
<li>Meningkatkan resiko infeksi telinga dan otitis media</li>
<li>Meningkatkan resiko terkena efek samping dari kontaminasi lingkungan</li>
</ol>
<h4>1. Meningkatkan resiko asma</h4>
<ul>
<li>Sebuah penelitian di Arizona, Amerika Serikat yang menggunakan sampel 1.246 bayi sehat menunjukkan hubungan yang kuat antara menyusui dan gangguan pernafasan pada bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di bawah umur 6 tahun yang tidak disusui sama sekali, akan memiliki resiko gangguan pernafasan tiga kali lebih besar dibandingkan dengan anak-anak  yang disusui.
<p>      (Wright AL, Holberg CJ, Taussig LM, Martinez FD. <strong>Relationship of infant feeding to recurrent wheezing at age 6 years</strong>. Arch Pediatr Adolesc Med 149:758-763, 1995)</li>
<li>Penelitian pada 2.184 anak yang dilakukan oleh Hospital for Sick Children di Toronto, Kanada menunjukkan bahwa resiko asma dan gangguan pernapasan mencapai angka 50% lebih tinggi pada bayi yang diberi susu formula, dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI sampai dengan usia 9 bulan atau lebih.
<p>      (Dell S, To T. <strong>Breastfeeding and Asthma in Young Children</strong>. Arch PediatrAdolesc Med 155: 1261-1265, 2001)</li>
<li>Para peneliti di Australia Barat melakukan penelitian terhadap 2602 anak-anak untuk melihat peningkatan resiko asma dan gangguan pernafasan pada 6 tahun pertama. Anak-anak yang tidak mendapatkan ASI beresiko 40% lebih tinggi terkena asma dan gangguan pernafasan dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan. Para peneliti ini merekomendasikan untuk memberikan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan untuk mengurangi resiko terkena asma dan gangguan pernafasan.
<p>      (Oddy WH, Peat JK, de Klerk NH. <strong>Maternal asthma, infant feeding, and the risk for asthma in childhood</strong>. J. Allergy Clin Immunol. 110: 65-67, 2002)</li>
<li>Para ahli melihat pada 29 penelitian terbaru untuk mengevaluasi dampak &#8216;melindungi&#8217; terhadap asma dan penyakit pernapasan atopik lainnya yang diberikan oleh ASI. Setelah menggunakan kriteria penilaian yang ketat, terdapat 15 penelitian yang memenuhi persyaratan untuk dievaluasi, dan ke-15 penelitian tersebut menunjukkan manfaat/efek melindungi yang diberikan oleh ASI dari resiko asma. Para ahli menyimpulkan, tidak menyusui atau memberikan ASI pada bayi akan meningkatkan resiko asma dan penyakit pernafasan atopik.
<p>      (Oddy WH, Peat JK. <strong>Breastfeeding, Asthma and Atopic Disease: An Epidemiological Review of Literature</strong>. J Hum Lact 19: 250-261, 2003)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit asma dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui:</p>
<ol>
<li>Porro E, Indinnimeo L, Antognoni G, Midulla F, Criscione S. Early wheezing and breastfeeding (<em>Menyusui dan kejadian sesak napas dini</em>). J Asthma 1993;30:23-8</li>
<li>Burr ML, Limb ES, Maguire JM, Amarah L, Eldridge BA, Layzell JCM, Merret TG. Infant feeding, wheezing, and allergy: a prospective study (<em>Pemberian makan pada bayi, sesak napas, dan alergi : Kajian prospektif</em>). Arch Dis Child 1993;68:724-28</li>
<li>Wright AL, Holberg CJ, Taussig LM, Martinez FD. Relationship of infant feeding to recurrent wheezing at age 6 years (<em>Hubungan antara pemberian makan pada bayi terhadap kejadian sesak napas berulang pada usia 6 tahun</em>). Arch Pediatr Adolesc Med 1995;149:758-63</li>
<li>Oddy WH, Holt PG, Sly PD, Read AW, Landau LI, Stanley FJ, Kendall GE, Burton PR. Association between breastfeeding and asthma in 6 year old children: findings of a prospective birth cohort study (<em>Hubungan antara menyusui dan asma pada anak usia 6 tahun : temuan pada studi lanjutan kelahiran prospektif</em>). Br Med J 1999;319:815-9</li>
<li>Gdlavevich M, Minouni D, Minouni M. Breastfeeding and the risk of bronchial asthma in childhood: a systematic review with meta-analysis of prospective studies (<em>Menyusui dan resiko asmabronkial pada masa kanak-kanak : tinjauan sistematik dengan meta-analisis dari studi prospektif</em>). J Pediatr 2001;139:261-6</li>
</ol>
<h4>2. Meningkatkan resiko alergi</h4>
<ul>
<li>Anak-anak di Finlandia yang mendapatkan ASI lebih lama memiliki resiko lebih rendah untuk terkena penyakit atopik, eksim, alergi makanan dan gangguan pernafasan karena alergi. Pada usia 17 tahun, resiko gangguan pernafasan karena alergi pada mereka yang tidak mendapatkan ASI (atau mendapat ASI dalam jangka waktu pendek) adalah 65%, sementara pada mereka yang disusui lebih lama hanya 42%.
<p>      (Saarinen UM, Kajosarri M. <strong>Breastfeeding as a prophylactic against atopic disease: Prospective follow-up study until 17 years old</strong>. Lancet 346: 1065-1069, 1995)</li>
<li>Bayi yang memiliki riwayat asma/gangguan pernafasan karena memiliki riwayat alergi dari keluarganya, diteliti untuk penyakit dermatitis atopik dalam tahun pertama kehidupannya. Menyusui eksklusif selama tiga bulan pertama diakui dapat melindungi bayi dari penyakit dermatitis.
<p>      (Kerkhof M, Koopman LP, van Strien RT, et al. <strong>Risk factors for atopic dermatitis in infants at high risk of allergy: The PIAMA study</strong>. Clin Exp Allergy 33: 1336-1341, 2003)</li>
<li>Pengaruh dari konsumsi harian ibu akan vitamin C dan E pada komposisi anti-oksidan di ASI sebagai zat yang melindungi bayi dari kemungkinan terkena penyakit atopik diteliti. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu yang menderita penyakit atopik dipantau selama 4 hari, kemudian diambil sampel ASI dari ibu yang memiliki bayi dengan usia 1 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi vitamin C sehari-hari pada makanan ibu dapat meningkatkan kadar vitamin C pada ASI. Semakin tinggi kadar vitamin C pada ASI dapat menurunkan risiko terkena penyakit atopik pada bayi.
<p>      (Hoppu U, Rinne M, Salo-Vaeaenaenen P, Lampi A-M, Piironen V, Isolauri E. <strong>Vitamin C in breast milk may reduce the risk of atopy in the infant</strong>. Eur J of Clin Nutr 59: 123-128, 2005) </li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit alergi dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui </p>
<ol>
<li>Lucas A, Brooke OG, Morley R, Cole TJ, Bamford MF. Early diet of preterm infants and development of allergic or atopic disease: randomized prospective study (<em>Diet awal pada bayi prematur dan perkembangan alergi atau penyakit atopik : studi prospektif acak</em>). Br Med J 1990;300:837-40</li>
<li>Kajosaari M, Saarinen UM. Prophylaxis of atopic disease by six months&#8217; total solid food elimination (<em>Profilaksis penyakit atopik dengan penundaan total enam bulan makanan padat</em>). Acta Pediatr Scand 1983;72:411-14</li>
<li>Ellis MH, Short JA, Heiner DC. Anaphylaxis after ingestion of a recently introduced hydrolyzed whey protein protein formula (<em>Anafilaksis setelah penyerapan protein whey terhidrolisasi baru pada protein susu formula bayi</em>). J Pediatr 1991;118:74-7</li>
<li>Saarinen UM, Kajosaari M. Breastfeeding as prophylaxis against atopic disease: prospective follow-up study until 17 years old (<em>Menyusui sebagai profilaksis terhadap penyakit atopik : studi lanjutan hingga usia 17 tahun</em>). Lancet 1995;346:1065-69</li>
<li>Saylor JD, Bahna SL. Anaphylaxis to casein hydrolysate formula (<em>Anafilaksis pada susu formula kasein hidrolisat</em>). J Pediatr 1991;118:71-4</li>
<li>Marini A, Agosti M, Motta G, Mosca F. Effects of a dietary and environmental prevention programme on the incidence of allergic symptoms in high atopic risk infants: three years&#8217; followup (<em>Pengaruh program pencegahan lingkungan dan diet terhadap kejadian gejala alergi pada bayi dengan resiko tinggi atopik : lanjutan tiga tahun</em>). Acta Pædiatr 1996;Suppl 414 vol 85:1-19</li>
<li>Wright AL, Holberg CJ, Martinez FD, Halonen M, Morgan W, Taussig LM. Epidemiology of physician diagnosed allergic rhinitis In childhood (<em>Epidemiologi dari diagnosis alergi rhinitis pada anak-anak</em>). Pediatrics 1994:94:895-901</li>
<li>Bloch AM, Mimouni D, Minouni M, Gdalevich M. Does breastfeeding protect against allergic rhinitis during childhood? A meta-analysis of protective studies (<em>Apakah menyusui melindungi dari alergi rhinitis selama masa kanak-kanak? Sebuah meta-analisis studi prospektif</em>). Acta Paediatr 2002;91:275-9</li>
</ol>
<h4>3. Menghambat perkembangan kognitif</h4>
<ul>
<li>Untuk menentukan dampak dari memberikan ASI eksklusif dengan perkembangan kognitif pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah, digunakanlah metode “<em>Bayley scale of infant development</em>” ketika bayi berumur 13 bulan dan “<em>Wechler Preschool and Primary Scales of Intelligence</em>” pada anak ketika berumur 5 tahun. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut adalah memberikan ASI secara eksklusif (tanpa tambahan vitamin/supplemen apapun) pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah terbukti memberikan keuntungan yang signifikan pada perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisik yang lebih baik.
<p>      (Rao MR, Hediger ML, Levine RJ, Naficy AB, Vik T. <strong>Effect of breastfeeding on cognitive development of infants born small for gestational age</strong>. Arch Pediatr Adolesc 156: 651-655, 2002)</li>
<li>Menyusui terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang, karena memiliki pengaruh positif pada pendidikan dan perkembangan kognitif di masa kanak-kanak, tegas sebuah penelitian di Inggris. Analisis regresi yang dilakukan pada sebuah penelitian menyatakan bahwa menyusui secara signifikan berkorelasi positif dengan pendidikan dan kecerdasan.
<p>      (Richards M, Hardy R, Wadsworth ME. <strong>Long-tern effects of breast-feeding in a national cohort: educational attainment and midlife cognition function</strong>. Publ Health Nutr 5: 631-635, 2002)</li>
<li>439 anak sekolah di Amerika Serikat yang lahir antara tahun 1991 &#8211; 1993 serta memiliki berat badan lahir rendah (di bawah 1,500 gram) diberikan beberapa jenis tes kognitif. Hasilnya, anak-anak yang memiliki berat badan lahir rendah dan tidak pernah disusui cenderung memiliki nilai/hasil tes yang rendah pada tes IQ, kemampuan verbal, kemampuan visual dan motorik dibandingkan mereka yang disusui/mendapatkan ASI.
<p>      (Smith MM, Durkin M, Hinton VJ, Bellinger D, Kuhn L. <strong>Influence of breastfeeding on cognitive outcomes at age 6-8 year follow-up of very low-birth weight infants</strong>. Am J Epidemiol 158:1075-1082, 2003)</li>
<li>Penelitian pada anak-anak yang lahir dari keluarga miskin di Filipina membuktikan bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI sampai umur 12-18 bulan memiliki nilai yang lebih tinggi pada “nonverbal intelligence test”. Efek seperti ini akan lebih besar dampaknya pada bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah (1.6 dan 9.8 poin lebih tinggi). Para peneliti menyimpulkan, bahwa memberikan ASI/menyusui dalam jangka waktu yang lama sangatlah penting, apalagi setelah mengenalkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), terutama untuk bayi berat badan lahir rendah.
<p>      (Daniels M C, Adair L S. <strong>Breast-feeding influences cognitive development of Filipino children</strong>. J Nutr. 135: 2589-2595, 2005)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko perkembangan kognitif dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui:</p>
<ol>
<li>(review): Andraca I, Uauy R. Breastfeeding for optimal mental development (<em>Menyusui mendorong perkembangan mental yang optimal</em>). Simopoulos AP, Dutra de Oliveira JE, Desai ID (eds): Behavioral and Metabolic Aspects of Breastfeeding (<em>Aspek Perilaku dan Metabolik dari Menyusui</em>). World Rev Nutr Diet. Basel, Karger, 1995;78:1-27</li>
<li>(review): Gordon N. Nutrition and cognitive function (<em>Nutrisi dan Fungsi Kognitif</em>). Brain and Development 1997;19:165-70</li>
<li>Morrow-Tlucak M, Haude RH, Ernhart CB. Breastfeeding and cognitive development in the first 2 years of life (<em>Menyusui dan perkembangan kognitif pada usia 2 tahun pertama</em>). Soc Sci Med 1988;26:635-9</li>
<li>Taylor B, Wadsworth J. Breastfeeding and child development at five years (<em>Menyusui dan perkembangan pada usia 5 tahun</em>). Dev Med Child Neurol 1984;26:73-80</li>
<li>Lucas A, Morley R, Cole TJ, Lister G, Leeson-Payne C. Breastmilk and subsequent intelligence quotient in children born preterm (<em>Menyusui dan angka kecerdasan anak yang lahir kurang bulan</em>). Lancet 1992;339:261-4</li>
<li>Nettleton JA. Are n-3 fatty acids essential nutrients for fetal and infant development (<em>Apakah asam lemak n-3 nutrisi esensial untuk perkembangan janin dan bayi</em>). J Am Diet Assoc 1993;93:58-64</li>
<li>Rogan WJ, Gladen BC. Breastfeeding and cognitive development (<em>Menyusui dan perkembangan kognitif</em>). Early Hum Dev 1993;31:181-93</li>
<li>Silver LB, Levinson RB, Laskin CR, Pilot LJ. Learning disabilities as a probable consequence of using chloride-deficient infant formula (<em>Probabilitas gangguan belajar sebagai konsekuensi penggunaan sufor rendah klorida</em>). J Pediatr 1989;115:97-9</li>
<li>Willoughby A, Moss HA, Hubbard VS, Bercu BB, Graubard BI, Vietze PM, et al. Developmental outcome in children exposed to chloride deficient formula (<em>Perkembangan pada anak yang mengkonsumsi susu formula rendah klorida</em>). Pediatrics 1987;79:851-7</li>
<li>Wing CS. Defective infant formulas and expressive language problems: a case study (<em>Studi kasus: kerusakan susu formula bayi dan masalah bicara dan bahasa</em>). Language, Speech and Hearing Services in Schools 1990;21:22-7</li>
<li>Crawford MA. The role of essential fatty acids in neural development: implications for perinatal nutrition (<em>Peranan asam lemak esensial pada perkembangan syaraf: Implikasi untuk nutrisi perinatal</em>). Am J Clin Nutr 1993;57(suppl):703S-10S</li>
<li>Temboury MC, Otero A, Polanco I, Arribas E. Influence of breastfeeding on the infant&#8217;s intellectual development (<em>Pengaruh menyusui pada perkembangan kecerdasan bayi</em>). J Pediatric Gastroenterol Nutr 1994;18:32-36</li>
<li>Pollock JI. Longterm associations with infant feeding in a clinically advantaged population of babies (<em>Hubungan jangka panjang pemberian makan pada populasi bayi dengan kondisi klinis baik</em>). Dev Med Child Neur 1994;36:429-40</li>
<li>Makrides M, Neumann MA, Byard RW, Simmer K, Gibson RA. Fatty acid composition of brain, retina and erythrocytes in breast and formula fed infants (<em>Komposisi asam lemak pada otak, retina, dan eritrokit pada bayi yang mengkonsumsi ASI dan susu formula</em>). Am J Clin Nutr 1994;60:189-94</li>
<li>Anderson GJ, Connor WE, Corliss JD. Docosohexaenoic acid is the preferred dietary n-3 fatty acid for the development of the brain and retina (<em>Asam dokosolexanoat sebagai asam lemak n-3 pilihan untuk perkembangan otak dan retina</em>). Pediatr Res 1990;27:87-97</li>
<li>Neuringer M, Connor WE, Lin DS, Barstad L, Luck S. Biochemical and functional effects of prenatal and postnatal fatty acid deficiency on retina and brain in rhesus monkeys (<em>Pengaruh biokimia dan fungsional dari kekurangan asam lemak prenatal dan antenatal terhadap retina dan otak pada monyet resus</em>). Proc Natl Acad Sc USA 1986;83:4021-5</li>
<li>Florey C Du V, Leech AM, Blackhall A. Infant feeding and mental and motor development at 18 months of age in first born singletons (<em>Makanan bayi dan perkembangan mental dan motorik pada usia 18 bulan pada anak pertama/sulung</em>). Int J Epidem 1995;24 (Suppl 1):S21-6</li>
<li>Wang YS, Wu SY. The effect of exclusive breastfeeding on development and incidence of infection in infants (<em>Pengaruh menyusui eksklusif terhadap perkembangan dan kejadian infeksi pada bayi</em>). JHL 1996;12:27-30</li>
<li>Greene LC, Lucas A, Livingstone BE, Harland PSEG, Baker BA. Relationship between early diet and subsequent cognitive performance during adolescence (<em>Hubungan antara makanan pertama dan performa kognitif pada remaja</em>). Biochem Soc Trans 1995;23:376S</li>
<li>Riva E, Agostoni C, Biasucci G, Trojan S, Luotti D, Fiori L, et al. Early breastfeeding is linked to higher intelligence quotient scores in dietary treated phenylketonuric children (<em>Menyusu usia dini dihubungkan dengan tingkat kecerdasan lebih tinggi pada anak dengan diet khusus penyakit PKU</em>). Acta Pædiatr 1996;85:56-8</li>
<li>Niemelä A, Järvenpää A-L. Is breastfeeding beneficial and maternal smoking harmful to the cognitive development of children? (<em>Apakah menyusui bermanfaat dan ibu merokok berbahaya bagi perkembangan kognitif anak?</em>) Acta Pædiatr 1996;85:1202-6</li>
<li>Rodgers B. Feeding in infancy and later ability and attainment: a longitudinal study (<em>Pemberian makan pada bayi dan kemampuan dan pencapaian di masa depannya: Kajian longitudinal</em>). Devel Med Child Neurol 1978;20:421-6</li>
<li>Horwood LJ, Fergusson DM. Breastfeeding and later cognitive and academic outcomes (<em>Menyusui dan pencapaian akademik dan kognitif di kemudian hari</em>). Pediatrics 1998;101:p. e9</li>
<li>Paine BJ, Makrides M, Gibson RA. Duration of breastfeeding and Bayley&#8217;s mental developmental Index at 1 year of age (<em>Durasi menyusui dan indeks perkembangan mental Bayley pada usia 1 tahun</em>). J Paediatr Child Health 1999;35:82-5</li>
<li>Fergusson DM, Beautrais AL, Silva PA. Breastfeeding and cognitive development In the first seven years of life (<em>Menyusui dan perkembangan kognitif pada 7 tahun pertama</em>). Soc Sci Med 1982;16:1705-8</li>
<li>Vestergaard M, Obel C, Henriksen TB, Sørensen HT, Skajaa E, Østergaard J. Duration of breastfeeding and developmental milestones during the latter half of Infancy (<em>Durasi menyusui dan tahapan perkembangan selama 6 bulan kedua usia bayi</em>). Acta Paediatr 1999;88:1327-32</li>
<li> Rao MR, Hediger ML, Levine RJ, Naficy AB, Vik T. Effect of breastfeeding on cognitive development of infants born small for gestational age (<em>Pengaruh menyusui pada perkembangan kognitif bayi yang lahir kecil untuk usia gestasi</em>). Acta Paediatr 2002;91:267-74</li>
<li>Lanting CI, Fidler V, Huisman M, Touwen BCL, Boersma ER. Neurological differences between 9 year old children fed breastmilk or formula milk as babies (<em>Perbedaan neurologis antara anak usia 9 tahun yang diberi ASI atau susu formula saat bayi</em>). Lancet 1994;344:1319-22</li>
<li>Lanting CI, Patandin S, Weisglas-Kuperus N, Touwen BCL, Boersma ER.Breastfeeding and neurological outcome at 42 months (<em>Menyusui dan perkembangan syaraf pada usia 42 bulan</em>). Acta Paediatr 1998;87:1224-9</li>
</ol>
<h4>4. Meningkatkan resiko infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)</h4>
<ul>
<li>Anak-anak di Brazil yang tidak disusui/mendapatkan ASI beresiko 16,7 kali lebih tinggi terkena pneumonia dibandingkan anak-anak yang semasa bayinya disusui secara eksklusif.
<p>      (Cesar JA, Victora CG, Barros FC, et al. <strong>Impact of breastfeeding on admission for pneumonia during postneonatal period in Brazil: Nested casecontrolled study</strong>. BMJ 318: 1316-1320, 1999)</li>
<li>Untuk menentukan faktor-faktor resiko dalam mendeteksi ISPA pada balita, sebuah rumah sakit di India membandingkan 201 kasus dengan 311 kunjungan pemeriksaan. Menyusui adalah salah satu dari sekian faktor yang dapat menurunkan tingkat risiko ISPA pada balita.
<p>      (Broor S, Pandey RM, Ghosh M, Maitreyi RS, Lodha R, Singhal T, Kabra SK. <strong>Risk factors for severe acute lower respiratory tract infection in under-five children</strong>. Indian Pediatr 38: 1361-1369, 2001)</li>
<li>Beberapa sumber yang digunakan untuk meneliti hubungan antara menyusui dan resiko ISPA pada bayi yang lahir cukup bulan. Analisis dari data-data yang diteliti menunjukkan pada negara-negara berkembang, bayi yang diberikan susu formula mengalami 3 kali lebih sering gangguan pernafasan yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 4 bulan atau lebih.
<p>      (Bachrach VRG, Schwarz E, Bachrach LR. <strong>Breastfeeding and the risk of hospitalization for respiratory disease in infancy</strong>. Arch Pediatr Adolesc Med. 157: 237-243, 2003) </li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit saluran pernafasan dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui:</p>
<ol>
<li>Pullan CR, Toms GL, Martin AJ, Gardner PS, Webb JKG, Appleton DR. Breastfeeding and respiratory syncytial virus infection (<em>Menyusui dan kejadian infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan</em>). Br Med J 1980;281:1034-6</li>
<li>Chiba Y, Minagawa T, Mito K, Nakane A, Suga K, Honjo T, Nakao T. Effect of breastfeeding on responses of systemic interferon and virus-specific lymphocyte transformation with respiratory syncytial virus infection (<em>Pengaruh menyusui pada respon interferon sistemik dan transformasi spesifik-virus limfosit dengan infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan</em>). J Med Virology 1987;21:7-14</li>
<li>Wright AL, Holberg CJ, Martinez FD, Morgan WJ, Taussig LM. Breastfeeding and lower respiratory tract illness in the first year of life (<em>Menyusui dan penyakit saluran pernapasan bagian bawah pada usia 1 tahun</em>). Br Med J 1989;299:946-9</li>
<li>Pisacane A, Graziano L, Zona G, Granata G, Dolezalova H, Cafiero M, et al. Breastfeeding and acute lower respiratory infection (<em>Menyusui dan infeksi saluran pernapasan bagian bawah akut</em>). Acta Pædiatr 1994;83:714-18</li>
<li>Beaudry M, Dufour R, Marcoux S. Relation between infant feeding and infections during the first six months of life (<em>Hubungan antara pemberian makan pada bayi dan infeksi selama 6 bulan pertama kehidupan</em>). J Pediatr 1995;126:191-7</li>
<li>Okamoto Y, Ogra PL. Antiviral factors in human milk: implications in respiratory syncytial virus infection (<em>Faktor antivirus dalam susu manusia: implikasi terhadap infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan</em>). Acta Pædiatr Scand Suppl 1989;351:137-43</li>
<li>Downham MAPS, Scott R, Sims DG, Webb JKG, Gardner PS. Breastfeeding protects against respiratory syncytial virus infections (<em>Menyusui memberikan perlindungan terhadap infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan</em>). Br Med J 1976;2:274-6</li>
<li>Yue Chen. Synergistic effect of passive smoking and artificial feeding on hospitalization for respiratory illness in early childhood (<em>Pengaruh sinergis dari merokok pasif dan pemberian pengganti air susu ibu terhadap kejadian penyakit saluran pernapasan selama masa kanak-kanak</em>). Chest 1989;95:1004-07</li>
<li>Wilson AC, Forsyth JS, Greene SA, Irvine L, Hau C, Howie PW. Relation of infant diet to childhood health: seven year follow-up of cohort of children in Dundee infant feeding study (Hubungan antara asupan bayi dengan kesehatan masa kanak-kanak: tindak lanjut tujuh tahun setelahnya atas anak-anak pada kajian pemberian makan bayi di Dundee). Br Med J 1998;316:21-5 (<em>hasil penelitian juga menunjukkan tekanan darah yang lebih tinggi pada anak-anak yang diberikan susu formula</em>)</li>
<li>César JA, Victora CG, Barros FC, Santos IS, Flores JA. Impact of breastfeeding on admission for pneumonia during postneonatal period in Brazil: nested case-control study (<em>Pengaruh menyusui terhadap resiko pneumonia selama periode pasca-neonatal di Brazil: studi kontrol-kasus tersarang</em>). Br Med J 1999;318:1316-20</li>
<li>Pisacane A, Impagliazzo N, De Caprio C, Criscuolo L, Inglese A, da Silva MCMP. Breastfeeding and tonsillectomy (<em>Menyusui dan tonsilektomi</em>). BMJ. 1996 Mar 23;312(7033):746-7.</li>
<li>López-Alarcón M, Villalpando S, Fajardo A. Breastfeeding lowers the frequency and duration of acute respiratory infection and diarrhea in infants under 6 months of age (<em>Menyusui dapat mengurangi frekuensi dan durasi infeksi saluran pernapasan akut dan diare pada bayi di bawah 6 bulan</em>). J Nutr 1997;127:436-43</li>
</ol>
<h4>5. Meningkatkan resiko oklusi gigi pada anak</h4>
<ul>
<li>Salah satu keuntungan menyusui adalah membuat gigi anak tumbuh rapih dan teratur. Penelitian yang dilakukan pada 1.130 balita (usia 3-5 tahun) untuk mengetahui dampak dari tipe pemberikan makanan dan aktivitas menghisap yang tidak tepat terhadap pertumbuhan gigi yang kurang baik. Aktivitas menghisap yang kurang baik (menghisap botol) memberikan dampak yang substansial pada kerusakan gigi/oklusi gigi pada anak. Terjadinya ”posterior cross-bite” pada gigi anak lebih banyak ditemukan pada anak-anak yang menggunakan botol susu serta anak-anak yang suka &#8216;mengempeng&#8217;. Persentase terkena cross-bite pada anak ASI yang menyusu langsung 13% lebih kecil dibandingkan mereka yang menyusu dari botol. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa semakin awal bayi menyusu dari botol dua kali lebih besar besar terkena risiko maloklusi/kerusakan pada gigi dibandingkan bayi yang menyusu langsung/tidak menyusu dari botol.
<p>      (Viggiano D. et al. <strong>Breast feeding, bottle feeding, and non-nutritive sucking; effects on occlusion in deciduous dentition</strong>. Arch Dis Child 89:1121-1123, 2004) </li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko kerusakan gigi dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui </p>
<ol>
<li>Labbock MH, Hendershot GE. Does breastfeeding protect against malocclusion? An analysis of the 1981 child health supplement to the national health interview survey (<em>Apakah menyusui melindungi dari maloklusi? Sebuah analisis pada 1981 suplemen kesehatan anak untuk survei wawancara kesehatan nasional</em>). Am J Prev Med 1987;3:227-32</li>
<li>Palmer B. The influence of breastfeeding on the development of the oral cavity: A commentary (<em>Pengaruh menyusui terhadap perkembangan rongga mulut: suatu komentar</em>). J Hum Lact 1998;14:93-8</li>
<li>Erickson PR, Mazhari E. Investigation of the role of human breastmilk in caries development (<em>Penelitian terhadap peranan air susu ibu pada perkembangan karies</em>). Pediatr Dent 1999;21:86-90</li>
</ol>
<h4>6. Meningkatkan resiko infeksi dari susu formula yang terkontaminasi</h4>
<ul>
<li>Pada kasus tercemarnya susu formula dengan Enterobacter Sakazakii di Belgia, ditemukan 12 bayi yang menderita Necrotizing Enetrocolitis (NEC) dan 2 bayi yang meninggal setelah mengkonsumsi susu formula yang tercemar bakteri tersebut.</li>
<p>      (Van Acker J, de Smet F, Muyldermans G, Bougatef A. Naessens A, Lauwers S. <strong>Outbreak of necrotizing enterocolitis associated with Enterobactersakazakii in powdered infant formulas</strong>. J Clin Microbiol 39: 293-297, 2001)</p>
<li>Sebuah kasus di Amerika Serikat menyebutkan bahwa seorang bayi berusia 20 hari meninggal dunia karena menderita panas, tachyardia¸dan mengalami penurunan fungsi pembuluh darah setelah diberikan susu formula yang tercemar bakteri E-Sakazakii di NICU.</li>
<p>      (Weir E, <strong>Powdered infant formula and fatal infection with Enterobacter sakazakii</strong>. CMAJ 166, 2002)
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit infeksi dengan susu formula yang tercemar </p>
<ol>
<li>Koo WWK, Kaplan LA, Krug-Wispe SK. Aluminum contamination of infant formulas (<em>Kontaminasi aluminium pada susu formula bayi</em>). J Parenteral Enteral Nutrition 1988;12:170-3</li>
<li>Davidsson L, Cederblad Å, Lönnerdal B, Sandström B. Manganese absorption from human milk, cow&#8217;s milk and infant formulas in humans (<em>Penyerapan mangan dari air susu ibu, susu sapi dan susu formula bayi pada manusia</em>). Am J Dis Child 1989;143:823-7</li>
<li>Dabeka RW, McKenzie AD. Lead and cadmium levels in commercial infant foods and dietary intake by infants 0-1 year old (<em>Tingkat logam dan kadmium pada makanan bayi komersil dan asupan pada bayi 0-1 tahun</em>). Food Additives and Contaminants 1988;5:333-42</li>
<li>Mytjens HL, Roelofs-Willemse H, Jaspar GHJ. Quality of powdered substitutes for breastmilk with regard to members of the family Enterobacteriaceæ (<em>Kualitas bubuk pengganti susu ibu berkaitan dengan famili Enterobactericea</em>). J Clin Microbiol 1988;26:743-6</li>
<li>Biering G, Karlsson S, Clark NC, Jonsdottir KE, Ludvigsson P, Steingrimsson O. Three cases of neonatal meningitis caused by Enterobacter sakazakii in powdered milk (<em>Tiga kasus meningitis neonatal yang disebabkan oleh Enterobacter sakazakii pada susu bubuk</em>). J Clin Microbiol 1989;27:2054-6</li>
<li>Westin JB. Ingestion of carcinogenic N-nitrosamines by infants and children (<em>Penyerapan bahan karsinogenik N-nitrosamina oleh bayi dan anak-anak</em>). Arch Environmental Health 1990;45:359-63</li>
<li>Schwarz KB, Cox JM, Sharma S, Clement L, Witter F, Abbey H, et al. Prooxidant effects of maternal smoking and formula In newborn Infants (<em>Pengaruh prooksidan dari ibu merokok dan susu formula pada bayi baru lahir</em>). J Pediatr Gastroenterol Nutr 1997;24:68-74</li>
</ol>
<h4>7. Meningkatkan resiko kurang gizi / gizi buruk</h4>
<ul>
<li>Pada tahun 2003 ditemukan bayi yang mengkonsumsi susu formula berbahan dasar kedelai di Israel harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit akibat encephalopathy. Dua diantaranya meninggal akibat cardiomyopathy. Analisis dari kasus ini menyebutkan bahwa tingkat tiamin pada susu formula tidak dapat diidentifikasikan. Pada bayi yang mengkonsumsi susu formula berbasis kedelai sering ditemukan gejala kekurangan tiamin, yang harus ditangani oleh terapi tiamin.
<p>      (Fattal-Valevski A, Kesler A, Seal B, Nitzan-Kaluski D, Rotstein M, Mestermen R, Tolendano-Alhadef H, Stolovitch C, Hoffman C. Globus O, Eshel G. <strong>Outbreak of Life-Threatening Thiamine Deficiency in Infants in Israel Caused by a Defective Soy-Based Formula</strong>. Pediatrics 115: 223-238, 2005) </li>
</ul>
<h4>8. Meningkatkan resiko kanker pada anak-anak</h4>
<ul>
<li>Pusat Studi Kanker Anak di Inggris melakukan penelitian terhadap 3.500 kasus kanker anak dan hubungannya dengan menyusui. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengurangan tingkat resiko terkena leukemia dan kanker lain apabila seorang anak memperoleh ASI ketika bayi.<br />
(UK Childhood Cancer Investigators. <strong>Breastfeeding and Childhood Cancer</strong>. <em>Br J Cancer 85: 1685-1694, 2001</em>)</li>
<li>Studi pada 117 kasus acute <em>lymphotic</em> leukemia yang dilakukan di United Arab Emirates menunjukkan bahwa menyusui secara eksklusif selama 6 bulan atau lebih akan meminimalkan resiko terkena kanker leukemia dan lymphoma (getah bening) pada anak.<br />
(Bener A, Denic S, Galadari S. <strong>Longer breast-feeding and protection against childhood leukaemia and lymphomas</strong>. <em>Eur J Cancer 37: 234-238, 2001</em>)</li>
<li>Tidak menyusui adalah salah satu penyebab terbesar kanker pada ibu. Suatu penelitian mengemukakan tingkat kerusakan genetis yang signifikan pada bayi usia 9-12 bulan yang sama sekali tidak disusui. Para peneliti menyimpulkan bahwa kerusakan genetis berperan penting dalam pembentukan kanker pada anak atau setelah anak-anak tsb tumbuh dewasa.<br />
(Dundaroz R, Aydin HA, Ulucan H, Baltac V, Denli M, Gokcay E. <strong>Preliminary study on DNA in non-breastfed infants</strong>. <em>Ped Internat 44: 127-130, 2002</em>)</li>
<li>Sebuah penelitian yang menggunakan bukti-bukti atas dampak menyusui pada risiko terkena leukemia mempelajari 111 kasus yang 32 diantaranya mengemukakan hal tersebut. Dari 32 kasus ini dipelajari 10 kasus utama dan ditemukan 4 kasus yang mengemukakan hubungan antara menyusui dan leukemia. Kesimpulan yang diambil adalah: semakin lama menyusui/memberikan ASI pada bayi, semakin kecil risiko terkena leukemia. Mereka mencatat, diperlukan dana sebesar USD 1,4M tiap tahunnya untuk mengobati anak-anak yang terkena leukemia.<br />
(Guise JM et al. <strong>Review of case-controlled studies related to breastfeeding and reduced risk of childhood leukemia.</strong> <em>Pediatrics 116: 724-731, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit kanker pada anak-anak dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Schwartzbaum JA, George SL, Pratt CB, Davis B. An exploratory study of environmental and medical factors potentially related to childhood cancer (<em>Studi terhadap faktor lingkungan dan medis yang potensial berhubungan dengan kanker pada anak-anak</em>). Med pediatr Oncol 1991;19:115-21</li>
<li>Davis MK, Savitz DA. Graubard BI. Infant feeding and childhood cancer (<em>Pemberian makanan pada bayi dan kanker pada masa kanak-kanak</em>). Lancet 1988;2:365-8</li>
<li>Freudenheim JL, Marshall JR, Graham S, Laughlin R, Vena JE, Bandera E, et al. Exposure to breastmilk in infancy and the risk of breast cancer (<em>Pemberian air susu pada bayi dan resiko kanker payudara</em>). Epidemiology 1994;5:324-31</li>
<li>Shu XO, Linet MS, Steinbuch M, Wen WQ, Buckley JD, Neglia JP, Potter JD et al. Breastfeeding and the risk of childhood acute leukemia (<em>Menyusui dan resiko leukemia akut pada anak-anak</em>). J Nat Cancer Institute 1999;91:1765-72</li>
<li>Davis MK. Review of the evidence for an association between Infant feeding and childhood cancer (<em>Kajian terhadap bukti adanya hubungan antara pemberian makan pada bayi dan kanker pada masa kanak-kanak</em>). Int J Cancer 1998;Supplement II:29-33</li>
</ol>
<h4>9. Meningkatkan resiko penyakit kronis</h4>
<ul>
<li>Penyakit kronis dapat dipicu oleh respon auto-imun tubuh anak ketika mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten. Ivarsson dan tim-nya melakukan penelitian terhadap pola menyusui 627 anak yang terkena penyakit kronis dan 1.254 anak sehat untuk melihat dampak menyusui pada konsumsi makanan yang mengandung protein gluten serta resiko terkena penyakit kronis. Secara mengejutkan ditemukan bukti bahwa 40% anak-anak bawah umur dua tahun (baduta) yang disusui/mendapatkan ASI berisiko lebih kecil terhadap penyakit kronis, walaupun mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten.<br />
(Ivarsson, A. et al. <strong>Breast-Feeding May Protect Against Celiac Disease</strong> <em>Am J Clin Nutr 75:914-921, 2002</em>)</li>
<li>Rasa terbakar pada saat BAB dan penyakit Crohn adalah penyakit gastrointestinal kronis yang sering terjadi pada bayi susu formula. Suatu meta-analisis pada 17 kasus yang mendukung hipotesis bahwa menyusui mengurangi resiko penyakit Crohn dan ulcerative colitis.<br />
(Klement E, Cohen RV, Boxman V, Joseph A, Reif s. <strong>Breastfeeding and risk of inflammatory bowel disease: a systematic review with meta-analysis.</strong> <em>Am J Clin Nutr 80: 1342-1352, 2004</em>)</li>
<li>Untuk memperjelas dampak dari pemberian MPASI yang terlalu dini (contoh: dampak dari menyusui dibandingkan tidak menyusui; lama menyusui; dampak menyusui dan hubungannya dengan pemberian makanan yang mengandung protein gluten) pada resiko penyakit kronis, para peneliti melihat kembali literatur tentang menyusui dan penyakit kronis. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang menderita penyakit kronis hanya mendapatkan ASI/disusui dalam jangka waktu pendek. Sementara anak-anak yang disusui lebih lama resiko terkena penyakit kronis ini 52% lebih rendah. Para peneliti mendefinisikan 2 mekanisme perlindungan yang diberikan ASI, yaitu: (1) melanjutkan pemberian ASI/menyusui menghambat penyerapan gluten pada tubuh, (2) ASI melindungi tubuh dari infeksi intestinal. Infeksi dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh bayi sehingga gluten dapat masuk ke dalam lamina propria. Penelitian yang lain menyebutkan bahwa IgA dapat menurunkan respon antibody terhadap gluten yang dicerna.<br />
(Akobeng A K et al. <strong>Effects of breast feeding on risk of coeliac disease: a systematic review and meta-analysis of observational studies.</strong> <em>Arch DisChild 91: 39-43, 2006</em>)</li>
</ul>
<h4>10. Meningkatkan resiko diabetes</h4>
<ul>
<li>Untuk memastikan hubungan antara konsumsi susu sapi (dan susu formula bayi berbahan dasar susu sapi) dan respon antibodi bayi pada protein susu sapi, peneliti di Italia mengukur respon antibodi pada 16 bayi ASI dan 12 bayi usia 4 bulan yang mengkonsumsi susu formula. Bayi susu formula meningkatkan antibodi beta-casein yang bisa menyebabkan diabetes type 1, dibandingkan dengan bayi ASI. Para peneliti tersebut menyimpulkan bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan beresiko lebih rendah terhadap diabetes type 1, karena ASI dapat mencegah pembentukan anti-bodi beta-casein.<br />
(Monetini L, Cavallo MG, Stefanini L, Ferrazzoli F, Bizzarri C, Marietti G, Curro V, Cervoni M, Pozzilli P, IMDIAB Group. <strong>Bovine beta-casein antibodies in breast-and bottle-fed infants: their relevance in Type 1 diabetes.</strong> <em>Hormone Metab Res 34: 455-459, 2002</em>)</li>
<li>Studi yang dilakukan pada 46 suku Indian Kanada yang menderita diabetes tipe II dicocokkan dengan 92 jenis control penyakit diabetes. Kemudian dibandingkanlah resiko pre dan post-natal dari suku Indian yang disusui dan yang tidak disusui. Menariknya, ditemukan suatu fakta baru bahwa ASI dapat menurunkan resiko terkena penyakit diabetes tipe II.<br />
(Young TK, Martens PJ, Taback SP, Sellers EA, Dean HJ, Cheang M, Flett B. <strong>Type 2 diabetes mellitus in children: prenatal and early infancy risk factors among native Canadians.</strong> <em>Arch Pediatr Adolesc Med 156: 651-655, 2002</em>)</li>
<li>Penggunaan susu formula, makanan pengganti ASI dan susu sapi yang lebih dini pada bayi, adalah factor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terkena diabetes tipe I ketika dewasa. Sebayak 517 anak Swedia dan 286 anak Lithuania usia 15 tahun yang didiagnosa menderita penyakit diabetes tipe I dibandingkan dengan pasien non-diabets. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memberikan ASI secara eksklusif sekurangnya 5 bulan dan dilanjutkan sampai usia 7 atau 9 bulan (dengan MP-ASI) dapat mengurangi resiko terkena diabetes.<br />
(Sadauskaite-Kuehne V, Ludvigsson J, Padaiga Z, Jasinskiene E, Samuel U. <strong>Longer breastfeeding is an independent protective factor against development of type I diabetes mellitus in childhood</strong>. <em>Diabet Metab Res Rev 20: 150-157, 2004</em>)</li>
<li>Data yang didapatkan dari 868 anak penderita diabetes asal Cekoslovakia dan 1466 kunjungan dar pasien yang terkena diabetes, mengkonfirmasi bahwa resiko terkena diabetes tipe I dapat dikurangi dengan memperpanjang lama/periode menyusui. Menyusui bayi selama 12 bulan atau lebih mengurangi risiko terkena diabetes tipe I secara signifikan.<br />
(Malcove H et al. <strong>Absence of breast-feeding is associated with the risk of type 1 diabetes: a case-control study in a population with rapidly increasing incidence.</strong> <em>Eur J Pediatr 165: 114-119, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit diabetes pada anak-anak dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Working Group on Cow&#8217;s Milk Protein and Diabetes Mellitus of the American Academy of Pediatrics. Infant feeding practices and their possible relationship to the etiology of diabetes mellitus (Kelompok kerja AAP: untuk protein susu sapi dan diabetes melitus. Praktek pemberian makan pada bayi dan kemungkinan hubungan dengan etiologi diabetes melitus). Pediatrics 1994;94:752-4<br />
Karjalainen J, Martin JM, Knip M, Ilonen J, Robinson BH, Savilahti E, et al. A bovine albumin peptide as a possible trigger of insulin-dependent diabetes mellitus (<em>Kemungkinan peptida albumin sapi sebagai pencetus diabetes melitus ketergantungan insulin</em>). N Eng J Med 1992;327:302-7 (Editorial: 1992:327:348-9)</li>
<li>Mayer EJ, Hamman RF, Gay EC, Lezotte DC, Savitz DA, Klingensmith J. Reduced risk of IDDM among breastfed children (<em>Penurunan resiko diabetes melitus ketergantungan insulin pada bayi yang disusui</em>). Diabetes 1988;37:1625-32</li>
<li>Virtanen SM, Räsänen L, Ylönen K, Aro A, Clayton D, Langlholz B, et al. Early introduction of dairy products associated with increased risk of IDDM in Finnish children (<em>Pengenalan awal produk susu dihubungkan dengan meningkatnya resiko diabetes melitus ketergantungan insulin pada anak-anak Finlandia</em>). Diabetes 1993;42:1786-90</li>
<li>Virtanen SM, Räsänen L, Aro A, Lindström J, Sippola H, Lounamaa R, et al. Infant feeding in Finnish children <7 yr of age with newly diagnosed IDDM (<em>Pemberian makan pada anak Finlandia kurang dari 7 tahun dengan diagnosis diabetes melitus ketergantungan insulin</em>). Diabetes Care 1991;14:415-17</li>
<li>Gerstein HC. Cow&#8217;s milk exposure and type I diabetes mellitus (<em>Pemberian susu sapi dan diabetes melitus tipe 1</em>). Diabetes Care 1994;17:13-9</li>
<li>Kostraba JN, Cruickshanks KJ, Lawler-Heavner J, Jobim LF, Rewers MJ, Gay EC, et al. Early exposure to cow&#8217;s milk and solid foods in infancy, genetic predisposition, and risk of IDDM (<em>Pemberian dini susu sapi dan makanan padat, sifat genetik bawaan, dan resiko diabetes melitus ketergantungan insulin</em>). Diabetes 1993;42:288-95</li>
<li>Pérez-Bravo F, Carrasco E, Gutierrez-López MD, Martínez MT, López G, García de los Rios M. Genetic predisposition and environmental factors leading to the development of insulin-dependent diabetes mellitus in Chilean children (<em>Sifat genetik bawaan dan faktor lingkungan berakibat pada perkembangan diabetes melitus ketergantungan insulin pada anak-anak Chile</em>). J Mol Med 1996;74:105-9</li>
<li>Gimeno SGA, De Souza JMP. IDDM and milk consumption (<em>Diabetes melitus ketergantungan insulin dan konsumsi susu</em>). Diabetes Care 1997;20:1256-60</li>
<li>Hammond-McKibbon D, Karges W, Gaedigk R, Dosch H-M. Immunological mechanisms that link cow milk protein and insulin dependent diabetes: a synopsis (<em>Sinopsis: Mekanisme immunologis yang menghubungi protein susu sapi dan diabetes ketergantungan insulin</em>). Can J Allergy and Clin Immunol 1997;2:136-46</li>
<li>Shehadeh N. Gelertner L, Blazer S, Perlman R, Solovachik L, Etzioni A. Importance of insulin content in infant diet: suggestion for a new infant formula (Pentingnya kandungan insulin dalam diet bayi: saran bagi formula baru untuk bayi). Acta Paediatrica 2001;90:93<br />
Høst A. Importance of the first meal on the development of cow&#8217;s milk allergy and intolerance (<em>Pentingnya makanan pertama pada perkembangan alergi dan intoleransi susu sapi</em>). Allergy Proc 1991;12:227-32</li>
</ol>
<h4>11. Meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular</h4>
<ul>
<li>Untuk mempertegas hubungan antara gizi bagi bayi dengan resiko kesehatan setelah dewasa, peneliti dari Inggris mengukur tekanan darah pada sampel 216 remaja usia 13 sampai 16 tahun yang lahir prematur. Mereka yang mengkonsumsi susu formula pada awal kehidupannya memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mendapatkan ASI ketika bayi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pada bayi yang lahir prematur maupun cukup bulan, ASI dapat mengendalikan tekanan darah pada batas normal sampai mereka tumbuh dewasa.<br />
(Singhal A, Cole TJ, Lucas A. <strong>Early nutrition in preterm infants and later blood pressure: two cohorts after randomized trials</strong>. <em>The Lancet 357: 413-419, 2001</em>)</li>
<li>Sebuah penelitian di UK mengevaluasi tingkat kolesterol pada 1.500 anak dan remaja usia 13-16 tahun dan menyimpulkan bahwa ASI mencegah penyakit kardiovaskular karena dapat mengurangi kadar total kolesterol dan kadar LDL (low-density lipid cholesterol). Hasil penelitian ini menyebutkan, bayi yang memperoleh ASI terbukti dapat mengendalikan metabolisme pengolahan lemak di tubuh dengan baik, yang menyebabkan kadar kolesterol yang rendah dan menghindarkan dari resiko penyakit kardiovaskular.<br />
(Owen GC, Whipcup PH, Odoki JA, Cook DG. <strong>Infant feeding and blood cholesterol: a study in adolescents and systematic review</strong>. <em>Pediatrics 110:597-608, 2002</em>)</li>
<li>Sebuah studi di Inggris yang meneliti 4.763 anak-anak usia 7,5 tahun menyebutkan bahwa anak-anak berusia 7 tahun dan tidak pernah mendapatkan ASI memiliki kecenderungan tekanan systolic dan diastolic yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang mendapatkan ASI semasa bayinya. Ada pengurangan sebesar 0.2mmHg setiap 3 bulan apabila anak mendapatkan ASI eksklusif. Para peneliti menyarankan pemberian ASI eksklusif sekurangnya 3 bulan, karena terbukti dapat mengurangi 1% populasi orang-orang yang menderita penyakit tenakan darah tinggi, dan mengurangi 1,5% tingkat kematian penduduk karena darah tinggi.<br />
(Martin RM, Ness AR, Gunnelle D, Emmet P, Smith GD. <strong>Does breast-feeding in infancy lower blood pressure in childhood?</strong> <em>Circulation 109: 1259-1266, 2004</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit jantung dan tekanan darah tinggi dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Osborn GR. Stages in development of coronary disease observed from 1,500 young subjects. Relationship of hypotension and infant feeding to ætiology (Tahapan perkembangan penyakit koroner diobservasi dari 1500 orang remaja. Hubungan antara hipotensi dan pemberian makanan pada bayi terhadap etiologi). Watson Smith Lecture, delivered to the Royal College of Physicians of London, January 11, 1965<br />
Bergström E, Hernell O, Persson LÅ, Vessby B. Serum lipid values in adolescents are related to family history, infant feeding, and physical growth (<em>Nilai lipid serum pada remaja dihubungkan dengan riwayat keluarga, pemberian makanan pada bayi, dan pertumbuhan fisik</em>). Atherosclerosis 1995;117:1-13</li>
<li>Routi T, Rönnemaa T, Lapinleimu H, Salo P, Viikari J, Leino A, et al. Effect of weaning on serum lipoprotein (a) concentration: the STRIP baby study (<em>Pengaruh penyapihan pada konsentrasi lipoprotein serum (a): studi bayi STRIP</em>). Pediatric Research 1995;38:522-27</li>
<li>Singhal A, Cole T, Lucas A. Early nutrition in preterm infants and later blood pressure: two cohorts after randomised trials (<em>Nutrisi awal pada bayi prematur dan tekanan darah dikemudian hari: dua kelompok populasi setelah studi acak</em>). Lancet 2001;357:413-9</li>
</ol>
<h4>12. Meningkatkan resiko obesitas</h4>
<ul>
<li>Untuk menentukan dampak pemberian makanan bayi pada obesitas masa kanak-kanak, studi besar di Skotlandia meneliti indeks massa tubuh dari 32.200 anak usia 39-42 bulan. Setelah eliminasi faktor-faktor yang bias, status sosial ekonomi, berat lahir dan jenis kelamin, prevalensi obesitas secara signifikan lebih tinggi pada anak-anak diberi susu formula, mengarah pada kesimpulan bahwa pemberian susu formula terkait dengan peningkatan risiko obesitas.<br />
(Armstrong, J. et al. <strong>Breastfeeding and lowering the risk of childhood obesity</strong>. <em>Lancet 359:2003-2004, 2002</em>)</li>
<li>Dalam rangka untuk menentukan faktor yang terkait dengan pengembangan kelebihan berat badan dan obesitas, 6.650 anak-anak usia sekolah di Jerman yang berusia antara  lima sampai 14 tahun diperiksa. Mengkonsumsi ASI ditemukan sebagai pelindung terhadap obesitas. Efek perlindungan ini lebih besar pada bayi yang secara eksklusif disusui ASI.<br />
(Frye C, Heinrich J. <strong>Trend and predictors of overweight and obesity in East German children</strong>. <em>Int J Obesitas 27: 963-969, 2003</em>)</li>
<li>Tindak lanjut aktif dari 855 pasang ibu dan bayi di Jerman digunakan untuk menentukan hubungan antara tidak menyusui dan peningkatan risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Setelah dua tahun tindak lanjut, 8,4 persen dari anak-anak kelebihan berat badan dan 2,8 persen sangat kelebihan berat badan: 8,9 persen tidak pernah disusui, sementara 62,3 persen disusui selama paling sedikit enam bulan.<br />
Anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif lebih dari tiga bulan dan kurang dari enam bulan memiliki 20 persen pengurangan resiko, sementara mereka yang telah ASI eksklusif selama paling sedikit enam bulan memiliki 60 persen pengurangan resiko untuk menjadi gemuk dibandingkan kepada mereka yang diberi susu formula.<br />
(Weyerman M et al. <strong>Duration of breastfeeding and risk of overweight in childhood: a prospective birth cohort study from Germany</strong>. <em>Int J Obes muka publikasi online 28 Februari 2006</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko obesitas dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Kramer MS. Do breastfeeding and delayed introduction of solid foods protect against subsequent obesity? (<em>Apakah menyusui dan penundaan pengenalan makanan padat dapat melindungi dari obesitas di kemudian hari?</em>) J Pediatr 1981;98:883-7</li>
<li>Von Kries R, Sauerwald T, von Mutius E, Barnert D, Grunert V, von Voss H. Breastfeeding and obesity: cross sectional study (<em>Menyusui dan obesitas: studi silang seksional</em>). Br Med J 1999;319:147-50</li>
<li>Tulldahl J, Pettersson K, Andersson SW, Hulthén. Mode of Infant feeding and achieved growth In adolescence: early feeding patterns In relation to growth and body composition In adolescence (<em>Cara pemberian makanan pada bayi dan pencapaian pertumbuhan pada remaja: pola pemberian makanan awal dihubungkan dengan pertumbuhan dan komposisi tubuh pada saat remaja</em>). Obesity Research 1999;7:431-7</li>
<li>Gillman MW, Rifas-Shiman SL, Camargo CA, Berkey CS, Frasier AL, Rockett HRH, et al. Risk of overweight among adolescents who were breastfed as infants (<em>Resiko kelebihan berat badan diantara remaja yang disusui saat bayi</em>). J Am Med Assoc 2001;285:2461-7 (Editorial by WH Dietz, 2506-7)</li>
</ol>
<h4>13. Meningkatkan resiko infeksi saluran pencernaan</h4>
<ul>
<li>Tujuh ratus tujuh puluh enam bayi dari New Brunswick, Kanada, diteliti untuk mengetahui hubungan antara pernapasan dan penyakit gastrointestinal dengan menyusui selama enam bulan pertama kehidupan.  Meskipun angka pemberian ASI ekslusif rendah, hasil menunjukkan efek perlindungan yang signifikan terhadap total penyakit selama enam bulan pertama kehidupan. Bagi mereka yang disusui ASI , insidensi infeksi gastrointestinal adalah 47 per persen lebih rendah; tingkat penyakit pernapasan adalah 34 persen lebih rendah daripada mereka yang tidak disusui.<br />
(Beaudry M, Dufour R, S. Marcoux. <strong>Relationship between infant feeding and infections during the first six months of life</strong>.<em> J Pediatr 126: 191-197, 1995</em>)</li>
<li>Perbandingan antara bayi yang menerima ASI terutama selama 12 bulan pertama kehidupan dan bayi yang secara eksklusif diberikan susu formula atau disusui ASI selama selama tiga bulan atau kurang, menemukan bahwa penyakit diare dua kali lebih tinggi untuk bayi yang diberikan susu formula dibandingkan mereka yang disusui ASI.<br />
(Dewey KG, Heinig MJ, Nommsen-Rivers LA. <strong>Differences in morbidity between breast-fed and formula-fed infants</strong>.  <em>J Pediatr 126: 696-702, 1995</em>)</li>
<li>Dukungan  menyusui di Belarus secara signifikan mengurangi insiden infeksi gastrointestinal sampai dengan 40 persen.<br />
(Kramer MS, Chalmers B, Hodnett ED, et al. <strong>Promotion of Breastfeeding Intervention Trial (PROBIT): a randomized trial in the Republic of Belarus</strong>.  <em>JAMA 285: 413-420, 2001</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko infeksi saluran pencernaan dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Koletzko S, Sherman P, Corey M, Griffiths A, Smith C. Role of infant feeding practices in the developement of Crohn&#8217;s disease in childhood (<em>Peranan praktek pemberian makanan terhadap perkembangan penyakit Crohn pada masa kanak-kanak</em>). Br Med J 1989;298:1617-8</li>
<li>Greco L, Auricchio S, Mayer M, Grimaldi M. Case control study on nutritional risk factors in celiac disease (<em>Studi kasus pada faktor-faktor resiko nutrisi pada penyakit celiac</em>). J Pediatr Gastroenterol Nutr 1988;7:395-8</li>
<li>Duffy LC, Byers TE, Riepenhoff-Talty M, La Scolea L, Zielezny M, Ogra PL. The effects of infant feeding on rotavirus-induced gastroenteritis (<em>Pengaruh pemberian makan pada gastroenteritis yang disebabkan oleh rotavirus</em>). A prospective study. Am J Pub Health 1986;76:259-63 </li>
<li>Hanson LA, Lindquist B, Hofvander Y, Zetterstrom R. Breastfeeding as a protection against gastroenteritis and other infections (<em>Menyusui sebagai perlindungan terhadap gastroenteritis dan infeksi lainnya</em>). Acta Pediatr Scand 1985;74:641-2</li>
<li>Ruiz-Palacios GM, Calva JJ, Pickering LK, Lopez-Vidal Y, Volkow P, Pezzarossi H, et al. Protection of breastfed infants against Campylobacter diarrhea by antibodies in human milk (<em>Perlindungan pada bayi yang disusui terhadap diare Campylobacter dari antibodi dalam air susu ibu</em>). J Pediatr 1990;116:707-13</li>
<li>Cruz JR, Gil L, Cano F, Caceres P, Pareja G. Breastmilk anti-Escherichia coli heat labile toxin IgA antibodies protect against toxin-induced infantile diarrhea (<em>Anti-Escherichia coli dalam air susu melumpuhkan racun antibodi IgA melindungi dari diare yang disebabkan oleh racun</em>). Acta Pediatr Scand 1988;77:658-62</li>
<li>Gillin FD, Reiner DS, Wang C-S. Human milk kills parasitic intestinal protozoa (<em>Susu manusia membunuh protozoa parasit dalam saluran pencernaan</em>). Science 1983;221:1290-2</li>
<li>France GL, Marmer DJ, Steele RW. Breastfeeding and Salmonella infection (<em>Menyusui dan infeksi Salmonella</em>). Am J Dis Child 1980;134:147-52</li>
<li>Haffejee IE. Cow&#8217;s milk-based formula, human milk and soya feeds in acute infantile diarrhea: A therapeutic trial (<em>Pemberian formula berbasis susu sapi, susu manusia dan susu kedelai pada diare akut pada bayi: Percobaan terapi</em>). J Pediatr Gastroenterol Nutr 1990;10:193-8</li>
<li>Lerman Y, Slepon R, Cohen D. Epidemiology of acute diarrheal diseases in children in a high standard of living rural settlement in Israel (<em>Epidemiologis dari penyakit diare akut pada anak-anak yang tinggal dalam suatu lingkungan perumahan standar tinggi di Israel</em>). Pediatr Infect Dis J. 1994;13:116-22</li>
<li>Howie PW, Forsyth JS, Ogston SA, Clark A, Du V Florey C. Protective effect of breastfeeding against infection (<em>Efek perlindungan dari menyusui terhadap penyakit infeksi</em>). Br Med J 1990;300:11-6</li>
<li>Duffy LC, Riepenhoff-Talty M, Byers TE, La Scolea LJ, Zielezny MA, Dryja DM et al. Modulation of rotavirum enteritis during breastfeeding (<em>Modulasi rotavirum enteritis selama masa menyusui</em>). Am J Dis Child 1986;140:1164-8</li>
<li>13.	Haddock RL, Cousens SN, Guzman CC. Infant diet and salmonellosis (<em>Pola makan anak dan salmonelosis</em>). Am J Pub Health 1991;81:997-1000</li>
<li>Scariati PD, Grummer-Strawn LM, Fein SB. A longitudinal analysis of infant morbidity and the extent of breastfeeding in the United States (<em>Suatu analisis longitudal terhadap tingkat kematian anak dan pengaruh menyusui di Amerika Serikat</em>). Pediatrics 1997;99, June 1997;e5 (juga berlaku untuk otitis media)</li>
<li>Heacock HJ, Jeffery HE, BAker JL, Page M. Influence of breast versus formula milk on physiological gastroesophageal reflux In healthy, newborn Infants (<em>Pengaruh air susu ibu dan susu formula terhadap refluks fisiologis gastroesofageal pada bayi sehat baru lahir</em>). J Pediatr Gastroenterol Nutr 1992:14:41-6</li>
<li>Kramer MS, Chalmers B, Hodnett ED, Sevkovskaya Z, Dzikovich I, Shapiro S, et al. Promotion of breastfeeding intervention trial (<em>Peningkatan percobaan intervensi menyusui</em>). JAMA 2001;285:413-20 </li>
<li>MacFarlane PI, Miller V. Human milk in the management of protracted diarrhœa of infancy (<em>Susu manusia dalam manajemen diare berkepanjangan pada bayi</em>). Arch Dis Child 1984;59, 260-65</li>
</ol>
<h4>14. Meningkatkan resiko kematian</h4>
<ul>
<li>Dibandingkan dengan pemberian ASI eksklusif, anak-anak yang sebagian disusui ASI memiliki 4,2 kali peningkatan risiko kematian karena untuk penyakit diare. Tidak disusui dikaitkan dengan 14,2 kali peningkatan risiko kematian akibat penyakit diare pada anak-anak di Brazil.
<p>(Victora CG, Smith PG, Patrick J, et al. <strong>Infant feeding and deaths due to diarrhea: a case-controlled study</strong>.  <em>Amer J Epidemiol 129: 1032-1041, 1989</em>) </li>
<li>Bayi di Bangladesh yang disusui secara sebagian atau tidak disusui sama sekali, memiliki resiko kematian 2,4 kali lebih besar akibat infeksi saluran pernafasan akut dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Pada anak-anak yang mendapatkan campuran lebih banyak ASI dibandingkan susu formula, resiko kematian karena pernapasan akut infeksi yang sama dengan anak-anak ASI eksklusif.
<p>(Arifeen S, Black RE, Atbeknab G, Baqui A, Caulfield L, Becker S, <strong>Exclusive breastfeeding reduces acute respiratory infenction and diarrhea deaths among infants in Dhaka slums</strong>. <em>Pediatrics 108: e67, 2001</em>)</li>
<li>Para peneliti meneliti 1.204 bayi yang meninggal antara 28 hari dan satu tahun dari penyebab selain dari anomali bawaan atau tumor ganas dan 7.740 anak-anak yang masih hidup di satu tahun untuk menghitung angka kematian dan apakah bayi tersebut mendapatkan ASI serta efek durasi-respons.
<p>Anak-anak yang tidak pernah disusui memiliki 21 persen lebih besar resiko kematian dalam periode pasca-neonatal daripada mereka yang disusui. Semakin lama disusui, semakin rendah resikonya. Mendukung kegiatan menyusui memiliki potensi untuk mengurangi sekitar 720 kematian pasca-neonatal di Amerika Serikat setiap tahun. Di Kanada ini akan mengurangi sekitar 72 kematian. </p>
<p>(Chen A, Rogan WJ. <strong>Breastfeeding and the risk of postneonatal death in the United States</strong>.  <em>Pediatrics 113: 435-439, 2004</em>)</li>
<li>Penelitian penting dari Ghana dirancang untuk mengevaluasi apakah waktu yang tepat untuk inisiasi menyusui dan praktek menyusui berhubungan dengan resiko kematian bayi. Studi ini melibatkan 10.947 bayi yang selamat melewati hari kedua dan yang ibunya dikunjungi selama periode neonatal.
<p>Menyusui dimulai pada hari pertama pada 71 persen bayi dan 98,7 persen dimulai pada hari ketiga. Menyusui dilakukan secara eksklusif oleh 70 persen selama periode neonatal. Resiko kematian neonatal empat kali lipat lebih tinggi pada bayi yang diberi susu berbasis cairan atau makanan padat selain ASI. Terdapat tanda bahwa respon-dosis terhadap resiko peningkatan kematian bayi dibandingkan dengan inisiasi menyusui yang tertunda dari satu jam pertama sampai tujuh hari. Inisiasi setelah hari pertama terkait dengan 2,4 kali lipat peningkatan risiko kematian. Penulis menyimpulkan bahwa 16 persen kematian bayi dapat dicegah jika semua bayi disusui sejak hari pertama dan 22 persen dapat dicegah bila menyusui dimulai selama satu jam pertama. </p>
<p>(Edmond KM, Zandoh C, Quigley MA, Amenga-Etego S, Owusu-Agyei S, Kirkwood BR. <strong>Delayed breastfeeding initiation increases risk of neonatal mortality</strong>. <em>Pediatrics 117: 380-386, 2006</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko kematian dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Mitchell EA, Scragg R, Stewart AW, Becroft DMO, Taylor BJ, For RPK, et al. Results from the first year of the New Zealand cot death study (<em>Hasil tahun pertama kajian kematian saat tidur di Selandia Baru</em>). NZ Med J 1991;104:71-6</li>
<li>Arnon SS, Damus K, Thompson B, Midura TF, Chin J. Protective role of human milk against sudden death from infant botulism (<em>Peranan perlindungan air susu manusia terhadap kejadian meninggal mendadak akibat botulisme pada bayi</em>). J Pediatr 1982;100:568-73</li>
</ol>
<h4>15. Meningkatkan resiko otitis media dan infeksi saluran telinga</h4>
<ul>
<li>Jumlah otitis media akut meningkat secara signifikan dengan menurunnya durasi dan eksklusivitas menyusui. Bayi Amerika yang diberikan ASI eksklusif selama empat bulan atau lebih mengalami penurunan 50 persen dibandingkan dengan bayi yang tidak disusui. Penurunan sebesar 40 persen kejadian dilaporkan berasal dari bayi ASI yang diberikan tambahan (makanan/susu formula) lain sebelum usia empat bulan.<br />
(Duncan B, Ey J, Holberg CJ, Wright AL, martines M, Taussig LM. <strong>Exclusive breastfeeding for at least 4 months protects againsts otitis media</strong>. <em>Pediatrics 91: 867-872, 1993</em>)</li>
<li>Antara usia enam dan 12 bulan insiden pertama otitis media lebih besar untuk bayi susu formula daripada untuk bayi ASI eksklusif. Untuk bayi ASI eksklusif insidensi ini meningkat dari 25 persen menjadi 51 persen dibandingkan kenaikan dari 54 persen menjadi 76 persen untuk bayi ang hanya diberikan susu formula. Para penulis menyimpulkan bahwa menyusui bahkan untuk jangka pendek (tiga bulan) akan secara signifikan mengurangi episode dari otitis media selama masa kanak-kanak.<br />
(Duffy LC, Faden H, Wasielewski R, Wolf J, Krystofik D. <strong>Exclusive breastfeeding protects against bacterial colonization and day care exposure to otitis media</strong>. <em>Pediatrics 100: E7, 1997</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko infeksi saluran telinga dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Saarinen UM. Prolonged breastfeeding as prophylaxis for recurrent otitis media (<em>Menyusui lebih lama sebagai profilaksis (pencegahan) otitis media berulang</em>). Acta Pediatr Scand 1982;71:567-71</li>
<li>Teele DW, Klein JO, Rosner B. Epidemiology of otitis media during the first seven years of life in children in greater Boston: a prospective cohort study (<em>Epidemiologi otitis media selama tujuh tahun pertama kehidupan pada anak di Boston: studi lanjutan prospektif</em>). J Infect Dis 1989;160:83-94</li>
<li>Duncan B, Ey J, Holberg CJ, Wright AL, Martinez FD, Taussig LJ. Exclusive breastfeeding for at least 4 months protects against otitis media (<em>Menyusui secara eksklusif selama minimal 4 bulan memberikan perlindungan terhadap otitis media</em>). Pediatrics 1993;91:867-72</li>
<li>Owen MJ, Baldwin CD, Swank PR, Pannu AK, Johnson DL, Howie VM. Relation of infant feeding practices, cigarette smoke exposure and group child care to the onset and duration of otitis media with effusion in the first two years of life (<em>Hubungan antara praktek pemberian makanan pada bayi, ekspos terhadap asap rokok, dan tempat penitipan/perawatan anak umum terhadap kejadian dan durasi otitis media dengan efusi pada dua tahun pertama kehidupan</em>). J Pediatr 1993;123:702-11</li>
<li>Harabuchi Y, Faden H, Yamanaka N, Duffy L, Wolf J, Krystofik D. Human milk secretory IgA antibody to nontypeable Hæmophilus influenzæ: Possible protective effects against nasopharyngeal colonization (<em>Susu manusia sekretori antibodi IgA pada influenza Haemophilus nontypeable: pengaruh protektif terhadap kolonisasi nasopharyngeal</em>). J Pediatr 1994;124:193-8</li>
<li>Aniansson G, Alm B, Andersson B, Håkansson A, Larsson P, Nylén O, et al. A prospective cohort study on breastfeeding and otitis media in Swedish infants (<em>Studi lanjutan prospektif pada menyusui dan otitis media pada bayi Swedia</em>). Pediatr Infect Dis J 1994;13:183-8</li>
<li>Paradise JL, Elster BA, Tan L. Evidence in infants with cleft palate that breast milk protects against otitis media (<em>Bukti pada bayi dengan celah langit-langit mulut: air susu ibu memberikan perlindungan terhadap otitis media</em>). Pediatrics 1994;94:853-60</li>
<li>Sassen ML, Brand R, Grote JJ. Breastfeeding and acute otitis media (<em>Menyusui dan otitits media akut</em>). Am J Otolaryn 1994;15:351-7</li>
<li>Dewey KG, Heinig J, Nommsen-Rivers LA. Differences in morbidity between breastfed and formula fed infants (<em>Perbedaan kejadian sakit pada bayi yang disusui dan bayi yang diberi susu formula</em>). J Pediatr 1995;126:696-702 (risk also increased in FF infant for diarrhea)</li>
<li>Scariati PD, Grummer-Strawn LM, Fein SB. A longitudinal analysis of infant morbidity and the extent of breastfeeding in the United States (<em>Analisis longitudinal terhadap kejadian sakit pada bayi dan masa menyusui di Amerika Serikat</em>). Pediatrics 1997;99:e5</li>
</ol>
<h4>16. Meningkatkan resiko efek samping kontaminasi lingkungan</h4>
<ul>
<li>Sebuah studi Belanda menunjukkan bahwa pada usia enam tahun, perkembangan kognitif dipengaruhi oleh paparan pra-lahir terhadap poliklorinasi bifenil (PCB) dan dioksin. Efek buruk paparan pra-lahir pada hasil neurologis juga ditunjukkan dalam kelompok susu formula tetapi tidak dalam kelompok yang diberikan ASI. Meskipun terjadi paparan PCB mealui ASI, studi ini menemukan bahwa pada usia 18 bulan, 42 bulan, dan pada usia enam tahun suatu efek yang menguntungkan dari menyusui ASI terlihat pada kualitas gerakan, dalam hal kelancaran, dan dalam tes perkembangan kognitif.
<p>Data memberikan bukti bahwa paparan PCB saat pra-lahir telah memberikan efek negatif secara halus pada neurologis dan perkembangan kognitif anak sampai usia sekolah. Penelitian ini juga memberikan bukti menyusui ASI melawan perkembangan merugikan dari efek PCB dan dioksin. </p>
<p>(Boersma ER, lanting CI. <strong>Environmental exposure to polychlorinated biphenyls (PCBs) and dioxins. Consequences for longterm neurological and congnitive development of the child</strong>.  <em>Adv Exp Med Biol 478:271-287, 2000</em>)</li>
<li>Penelitian yang lain dilakukan di Belanda untuk menentukan efek paparan pra- lahir terhadap poliklorinasi bifenil (PCB), mempelajari bayi yang disusui ASI dan bayi yang diberikan susu formula pada saat mereka berusia sembilan tahun. <br />
Dengan mengukur latency pendengaran P300  (waktu reaksi terhadap rangsangan yang masuk, yang diketahui dipengaruhi secara negatif oleh PCB) mereka menemukan bahwa mereka yang diberi susu formula atau yang disusui ASI selama kurang dari enam sampai 16 minggu, mengalami latency yag loebih besar dan mekanisme melambat di tengah sistem saraf yang mengevaluasi dan memproses rangsangan. Di sisi lain, proses menyusui mempercepat mekanisme ini. </p>
<p>(Vreugedenhill HJI, Van Zanten GA, Brocaar MP, Mulder PGH, Weisglas &#8211; Kuperus, N. <strong>Prenatal exposure to polychlorinated biphenols and breastfeeding: opposing effects on auditory P300 latencies in 9-year old Dutch children</strong>. <em>Devlop Med &#038; Anak Neurol 46: 398-405, 2004</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko infeksi akibat efek samping kontaminasi lingkungan dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Setchell KDR, Zimmer-Nechmias L, Cai J, Heubi JE. Exposure of infants to phyto-oestrogens from soy-based infant formula (<em>Paparan fitoestrogen pada bayi dari susu formula berbasis kedelai</em>). Lancet 1997;350:23-27</li>
<li>Fitzpatrick M, Mitchell K, et al. Soy formulas and the effects of Isoflavones on the thyroid (<em>Susu kedelai formula dan pengaruh isoflavon pada tiroid</em>). N Z Med J. 2000 Feb 11;113(1103):24-6.</li>
<li>Keating JP, Schears GJ, Dodge PR. Oral water intoxication in infants (<em>Keracunan air pada bayi</em>). Am J Dis Child 1991;145:985-90</li>
<li>Bruce RC, Kiegman RM. Hyponatremic seizures secondary to oral water intoxication in infancy: association wiht commercial bottled drinking water (Kejang hiponatremik akibat keracunan air minum pada bayi: hubungan dengan minuman botol komersial). Pediatrics 1997;100; p e4<br />
Finberg L. Water intoxication (<em>Keracunan air</em>). (editorial). Am J Dis Child 1991;145:981-2 </li>
<li>Shannon MW, Graef JW. Lead intoxication in infancy (<em>Keracunan logam timbal pada bayi</em>). Pediatrics 1992;89:87-90</li>
</ol>
<h3>RESIKO PEMBERIAN SUSU FORMULA UNTUK IBU</h3>
<ol>
<li>Meningkatkan resiko kanker payudara</li>
<li>Meningkatkan resiko kelebihan berat badan (overweight)</li>
<li>Meningkatn resiko kanker ovarium dan kanker endometrium</li>
<li>Meningkatkan resiko osteoporosis</li>
<li>Mengurangi kedekatan ibu dan anak (bonding kurang)</li>
<li>Meningkatkan resiko peradangan pada tulang (rheumatoid arthritis)</li>
<li>Meningkatan resiko stress dan keresahan pada ibu</li>
<li>Meningkatkan resiko diabetes</li>
</ol>
<h4>1. Meningkatkan resiko kanker payudara</h4>
<ul>
<li>Menyusui mengurangi resiko kanker payudara pada ibu dan infeksi, alergi, dan autoimun pada bayi. Kehadiran mediator dari sistem kekebalan bawaan ASI, termasuk defensins, cathelicidins, dan reseptor seperti-tol (TLRs), diekstrak dan dianalisa dari pecahan whey dari kolostrum dan susu masa-transisi dan susu matang (n = 40) dari ibu-ibu normal (n =18) dan dari ibu dengan autoimun atau penyakit alergi.
<p>Para penulis menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh bawaan ASI sangat kompleks dan memberikan perlindungan bagi payudara ibu dan pengembangan jaringan saluran pencernaan bayi yang baru lahir.</p>
<p>(Armogida, Sheila A.; Yannaras, Niki M.; Melton, Alton L.; Srivastava, Maya D. <strong>Identification and quantification of innate immune system mediators in human breast milk</strong>. <em>Alergi dan Asma Proc 25: 297-304, 2004</em></li>
<p>)</p>
<li>Para peneliti dari Inggris mengevaluasi kemungkinan hubungan antara insiden kanker dan proses menyusui selama masa kanak-kanak.  Studi ini melibatkan hampir 4.000 orang dewasa yang pada awalnya disurvei pada tahun 1937-1939.  Data yang dimasukkan di meta-analisis menunjukkan bahwa tingkat kanker payudara didiagnosis pada wanita premenopause adalah sekitar 12 persen lebih rendah di antara wanita yang telah disusui saat bayi.
<p>(Martin R, Middleton N, Gunnell D, Owen C, Smith G. <strong>Breastfeeding and Cancer: The Boyd Orr Cohort and a Systematic Review with Meta-Analysis</strong>. <em>Jurnal Institut Kanker Nasional. 97: 1446-1457, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit kanker payudara dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Layde PM, Webster LA, Baughman AL, Wingo PA, Rubin GL, Ory HW and the cancer and steroid hormone study group. The independent associations of parity, age at first full term pregnancy, and duration of breastfeeding with the risk of breast cancer (Hubungan independen antara keseimbangan, usia kehamilan pertama, dan durasi menyusui dengan resiko kanker payudara). J Clin Epidemiol 1989;42:963-73<br />
Ing R, Ho JHC, Petrakis NL. Unilateral breastfeeding and breast cancer (<em>Menyusui unilateral dan kanker payudara</em>). Lancet July 16, 19977;124-27</li>
<li>McTiernan A, Thomas DB. Evidence for a protective effect of lactation on risk of breast cancer in young women (<em>Bukti pengaruh perlindungan dari laktasi terhadap resiko kanker payudara pada wanita muda</em>). Am J Epidemiol 1986;124:353-74</li>
<li>Yuan J-M, Yu MC, Ross RK, Gao Y-T, Henderson BE. Risk factors for breast cancer in Chinese women in Shanghai (<em>Faktor resiko kanker payudara pada wanita China di Shanghai</em>). Cancer Res 1988;58:99-104</li>
<li>Yoo K-Y, Tajima K, Kuroishi T, Hirose K, Yoshida M, Miura S, Murai H. Independent protective effect of lactation against breast cancer: a case-control study in Japan (<em>Pengaruh perlindungan independen dari laktasi terhadap kanker payudara: studi kasus di Jepang</em>). Am J Epidemiol 1992;135:726-33</li>
<li>Reuter KL, Baker SP, Krolikowski FJ. Risk factors for breast cancer in women undergoing mammography (<em>Faktor resiko kanker payudara pada wanita yang menjalani mamografi</em>). Am J Radiol 1992;158:273-8</li>
<li>United Kingdom National Case-Control Study Group. Breastfeeding and risk of breast cancer in young women (
<li>Menyusui dan resiko kanker payudara pada wanita muda</li>
<p>). Br Med J 1993;307:17-20</li>
<li>Newcomb PA, Storer BE, Longnecker MP, Mittendorf R, Greenberg ER, Clapp RW, et al. Lactation and a reduced risk of premenopausal breast cancer (<em>Laktasi dan penurunan resiko kanker payudara premenopause</em>). N Eng J Med 1994;330:81-7</li>
<li>Tao S-C, Yu MC, Ross RK, Xiu K-W. Risk factors for breast cancer in Chinese women of Beijing (<em>Faktor resiko kanker payudara pada wanita China di Beijing</em>). Int J Cancer 1988;42:495-98</li>
<li>Siskind V, Schofield F, Rice D, Bain C. Breast cancer and breastfeeding: results from an Australian case-control study (<em>Kanker payudara dan menyusui: hasil studi kasus Australia</em>). Am J Epidemiol 1989;130:229-36</li>
<li> Romieu I, Hernández-Avila M, Lazcano E, Lopez L, Romero-Jaime R. Breast cancer and lactation history in Mexican women (<em>Kanker payudara dan riwayat laktasi pada wanita Meksiko</em>). Am J Epidemiol 1996;143:543-52 </li>
<li>Furberg H, Newman B, Moorman P, Millikan R. Lactation and breast cancer risk (<em>Laktasi dan resiko kanker payudara</em>). Int J Epidemiol 1999;28:396-402</li>
<li>Tryggvadóttir L, Tulinius H, Eyfjord JE, Sigurvinsson T. Breastfeeding and reduced risk of breast cancer in an Icelandic cohort study (<em>Menyusui dan penurunan resiko kanker payudara pada studi kelompok populasi di Islandia</em>). Am J Epidemiol 2001;154:37-42</li>
</ol>
<h4>2. Meningkatkan resiko kelebihan berat badan</h4>
<ul>
<li>Sebuah kelompok dibentuk di Brasil, terdiri dari 405 wanita di enam dan sembilan bulan setelah melahirkan untuk menentukan hubungan antara penumpukan berat badan dan praktek menyusui. Ketika wanita yang memiliki 22 persen lemak tubuh dan menyusui selama 180 hari dibandingkan dengan mereka yang telah menyusui hanya 30 hari, setiap bulan masa menyusui mengurangi rata-rata 0,44 kg berat badan. Di kesimpulan para penulis mengkonfirmasi hubungan antara menyusui dan berat badan setelah melahirkan dan bahwa dukungan durasi yang lebih lama dapat memberikan kontribusi untuk penurunan penumpukan berat badan setelah melahirkan.<br />
(Kac G, Benicio MHDA, Band-Meléndez G, Valente JG, Struchiner CJ. <strong>Breastfeeding and postpartum weight retention in a cohort of Brazilian women</strong>. <em>Am J Clin Nutr 79: 487-493, 2004</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan penurunan berat badan dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Dewey KG, Heinig MJ, Nommsen LA. Maternal weight loss patterns during prolonged lactation (<em>Pola penurunan berat badan maternal selama laktasi jangka panjang</em>). Am J Clin Nutr 1993;58:162-6</li>
</ol>
<h4>3. Meningkatkan resiko kanker ovarium dan kanker endometrium</h4>
<ul>
<li>Tidak menyusui telah dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker ovarium. Sebuah studi kasus terkontrol yang cukup besar Italia mempelajari 1.031 wanita dengan kanker ovarium epitelial dibandingkan dengan 2.411 wanita  yang dirawat di rumah sakit yang sama untuk berbagai spektrum akut kondisi non-neoplastik, tidak terkait dengan faktor-faktor resiko yang diketahui untuk kanker ovarium. Hasilnya menunjukkan tren terbalik dengan resiko meningkatkan durasi menyusui dan jumlah anak yang disusui. Tambahan analisis oleh subtipe histologis menunjukkan bahwa peran proteksi dari menyusui akan lebih besar untuk neoplasma serius.<br />
(Chiaffarino F, Pelucchi C, Negri E, Parazzini F, Franceschi S, Talamini R, Montella F, Ramazzotti V, La Vecchia C. <strong>Breastfeeding and the risk of epithelial ovarian cancer in an Intalian population</strong>. <em>Gynecol Oncol. 98: 304 -308, 2005</em>)</li>
<li>■ Untuk menentukan hubungan antara menyusui dan kanker endometrium, penelitian kasus-terkontrol di sebuah rumah sakit di Jepang membandingkan kasus wanita dengan kanker endometrium (155) dan kelompok yang terkontrol (96) dipilih dari para wanita yang menghadiri klinik rawat jalan untuk skrining kanker rahim. Para wanita ini diwawancarai untuk mengetahui praktik menyusui, penggunaan alat kontrasepsi, serta potensi faktor resiko kanker endometrium. Para penulis mengamati resiko kanker endometrium lebih tinggi pada wanita yang belum pernah menyusui, dan menyimpulkan bahwa menyusui mengurangi risiko kanker endometrium pada wanita Jepang.<br />
(Okamura C, Tsubono Y, Ito K, Niikura H, Takano T, Nagase S, Yoshinaga K, Terada Y, Murakami T, Sato S, Aoki D, Jobo T, Okamura K, N. Yaegashi Tohoku. <strong>Lactation and risk of endometrial cancer in Japan: a case-control study</strong>. <em>J Exp Med 208: 109-115, 2006</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit kanker ovarium dan kanker endometrium dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Hartge P, Schiffman MH, Hoover R, McGowan L, Lesher L, Norris HJ. A case control study of <strong>epithelial ovarian cancer</strong> (Studi <em>kasus kanker ovarium epitelia</em>). Am J Obstet Gynecol 1989;161:10-6</li>
<li>Gwinn ML, Lee NC, Rhodes PH, Layde PM, Rubin GL. Pregnancy, breastfeeding and oral contraceptives and the risk of <strong>epithelial ovarian cancer</strong> (<em>Kehamilan, menyusui dan kontrasepsi oral dan resiko kanker ovarium epitelia</em>). J Clin Epidemiol 1990;43:559-68</li>
<li>Rosenblatt KA, Thomas DB, and the WHO collaborative study of neoplasia and steroid contraceptives. Lactation and the risk of <strong>epithelial ovarian cancer</strong> (<em>Kolaborasi studi Rosenblatt KA, Thomas DB, dan WHO pada kontrasepsi steroid dan neoplasia. Laktasi dan resiko kanker ovarium epitelia</em>). International J Epidemiol 1993;22:192-7</li>
<li>Petterson B, Hans-Olov A, Berström R, Johansson EDB. Menstruation span-a time-limited risk factor for endometrial carcinoma (<em>Faktor resiko terbatas menstruasi dengan cakupan waktu tertentu untuk karsinoma endometrial</em>). Acta Obstet Gynecol Scand 1986;65:247-55</li>
<li>Rosenblatt KA, Thomas DB, and the WHO collaborative study of neoplasia and steroid contraceptives. Prolonged Lactation and endometrial cancer (<em>Kolaborasi studi Rosenblatt KA, Thomas DB, dan WHO pada kontrasepsi steroid dan neoplasia. Laktasi jangka panjang dan kanker endometrium</em>). Int J Epidemiol 1995;24:499-503</li>
</ol>
<h4>4. Meningkatkan resiko osteoporosis</h4>
<ul>
<li>Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa baik kehamilan dan laktasi berhubungan dengan hilangnya kepadatan mineral tulang hingga ke lima persen, dan bahwa kehilangan tersebut akan pulih setelah penyapihan.  Penelitian silang telah menunjukkan bahwa wanita dengan banyak anak dan periode total durasi laktasi memiliki kepadatan mineral tulang yang sama atau lebih tinggi dan risiko fraktur yang sama atau lebih rendah daripada teman sebaya mereka yang tidak pernah melahirkan dan menyusui. Tren ini telah diamati dan ditemukan di penampang studi kasus-terkontrol. Hubungan kausal masih belum ditentukan.<br />
(Karlsson MK, Ahlborg HG, Karlsson C. <strong>Maternity and mineral density</strong>. <em>Acta Orthopaedica 76: 2-13, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit osteoporosis dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Aloia JF, Cohn SH, Vaswani A, Yeh JK, Yuen K, Ellis K. Risks factors for postmenopausal osteoporosis (<em>Faktor resiko osteoporosis pasca menopause</em>). Am J Med 1985;78:95-100</li>
<li>Melton LJ, Bryant SC, Wahner HW, O&#8217;Fallon WM, Malkasian GD, Judd HL, Riggs BL. Influence of breastfeeding and other reproductive factors on bone mass later in life (<em>Pengaruh menyusui dan faktor reproduktif lainnya pada massa tulang di usia lanjut</em>). Osteoporosis Int 1993;3:76-83</li>
<li>Cumming RG, Klineberg RJ. Breastfeeding and other reproductive factors and the risk of hip fractures in elderly women (<em>Menyusui dan faktor resiko lainnya dan resiko retak tulang panggul pada wanita usia lanjut</em>). International J Epidemiol 1993;22:684-91</li>
<li>Blaauw R, Albertse EC, Beneke T, Lombard CJ, Laubscher R, Hough FS. Risk factors for the development of osteoporosis in a South African population (<em>Faktor resiko perkembangan osteoporosis di populasi Afrika Selatan</em>). S Afr Med J 1994;84:328-32</li>
<li>Krieger N, Kelsey JL, Holford TR. O&#8217;Connor T. An epidemiologic study of hip fractures in potmenopausal women (<em>Studi epidemiologi terhadap retak tulang panggul pada wanita pasca menopause</em>). Am J Epidemiol 1982;116:141-8</li>
</ol>
<h4>5. Mengurangi jarak alami kelahiran anak</h4>
<ul>
<li>Kuesioner digunakan untuk memperoleh data dari ibu-ibu menyusui di Nigeria untuk menentukan dampak dari praktik menyusui pada amenorrheoa laktasi. Pemberian ASI eksklusif yang dipraktekkan oleh 100 persen dari ibu-ibu yang pulang dari rumah sakit. Kemudian turun menjadi 3,9 persen setelah enam bulan. Menyusui dengan menuruti isyarat bayi dipraktikkan oleh 98,9 persen dari ibu tersebut. Dalam enam minggu 33,8 persen dari ibu kembali mengalami mensus dan meningkat menjadi 70,2 persen pada enam bulan. Durasi amenorrheoa laktasi lebih panjang di ibu yang menyusui eksklusif daripada mereka yang tidak. Tak satu pun dari 178 ibu-ibu yang berpartisipasi dalam survei menjadi hamil.<br />
(Egbuonu Aku, Ezechukwu CC, Chukwuka JO, Ikechebelu JI. <strong>Breastfeeding, return of menses, sexual activity and contraceptive practices among mothers in the first six months of lactation in Onitsha, South Eastern Nigeria</strong>. <em>J Obstet Gynaecol. 25: 500-503, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan jarak alami kelahiran anak dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Thapa S, Short RV, Potts M. Breastfeeding, birth spacing, and their effects on child survival (<em>Menyusui, jarak kelahiran, dan pengaruhnya pada keselamatan bayi</em>). Nature 1988;335:679-82</li>
<li>Short. Breastfeeding (contraceptive effect) (<em>Menyusui (pengaruh kontrasepsi)</em>). Scientific American 1984;250:35-41</li>
<li>Gross BA. Is the lactational amenorrhea method a part of natural family planning? Biology and policy (<em>Apakah metode amenorrhea laktasi bagian dari program keluarga berencana alami?</em>). Am J Obstet Gynecol 1991;165:2014-9</li>
<li>Kennedy KI, River R, McNeilly AS. Consensus statement on the use of breastfeeding as a family planning method (<em>Pernyataan konsensus atas penerapan menyusui sebagai metode keluarga berencana</em>). Contraception 1989;39:477-96</li>
</ol>
<h4>6. Meningkatkan resiko rheumatoid arthritis</h4>
<ul>
<li>Faktor-faktor resiko hormon dan reproduksi wanita dan dipelajari dalam kelompok 121.700 wanita yang terdaftar dalam Nurses &#8216;Health Study. Menyusui selama lebih dari 12 bulan berbanding terbalik dengan perkembangan rheumatoid arthritis. Efek ini ditemukan terkait dengan dosis. Mereka yang lebih singkat menyusui memiliki resiko yang lebih tinggi.<br />
(Karlson E W et al. <strong>Do breastfeeding and other reproductive factors influence future risk of rheumatoid arthritis?: Results from the Nurses Health Study</strong>. <em>Arthiritis &#038; Rematik 50: 3.458-3.467, 2004</em>)</li>
</ul>
<h4>7. Meningkatkan stres dan kecemasan</h4>
<ul>
<li>Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara praktik menyusui, stres, dan suasana hati dan tingkat serum kortisol, prolaktin dan ACTH (<em>hormon adrenocorticotrophic</em>) pada ibu, penulis membandingkan tanggapan emosional dari 84 ibu yang menyusui secara eksklusif, 99 ibu yang hanya memberikan susu formula dan 33 wanita sehat non pasca-melahirkan. Respon para ibu tersebut dipelajari pada empat sampai enam minggu pasca melahirkan.<br />
Secara keseluruhan ibu menyusui memiliki suasana hati lebih positif, melaporkan peristiwa lebih positif, dan merasakan stres yang lebih sedikit daripada yang memberikan susu formula. Para ibu menyusui memiliki depresi dan kemarahan yang lebih rendah daripada yang memberikan susu formula dan kadar prolaktin serum berbanding terbalik dengan stres dan suasana hati pada ibu yang memberikan susu formula.<br />
(Groer M W. <strong>Differences between exclusive breastfeeders, formula-feeders, and controls: a study of stress, mood and endocrine variables</strong>. <em>Biol. Res Nurs. 7: 106-117, 2005</em>)</li>
</ul>
<h4>8. Meningkatkan resiko dibetes pada ibu</h4>
<ul>
<li>Menyusui juga mengurangi risiko ibu diabetes tipe II dalam kehidupan di kemudian hari. Semakin lama durasi menyusui, semakin menurunkan insiden diabetes, menurut studi yag dilaksanakan di Harvard. Para peneliti mempelajari 83.585 ibu di Nurses &#8216; Health Study (NHS) dan 73.418 ibu di Nurses &#8216;Health Studi II (NHS II), dan menentukan bahwa setiap tahun menyusui akan mengurangi resiko diabetes ibu sebesar 15 persen.<br />
(Stuebe PM, Rich-Edwards JW, Willett WC, <strong>Duration of lactation and incidence of type 2 diabetes</strong>. <em>JAMA 294: 2601-2610, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Sumber:<br />
<small></p>
<ul>
<li>Risks of Formula Feeding: a Brief Annotated Bibliography, (INFACT Canada, 2nd rev. 2006), prepared by Elisabeth Sterken, BSc, MSc, Nutritionist</li>
<li>Risks of Artificial Feeding, compiled by dr. Jack Newman (rev. 2002), <a href="http://www.kellymom.com/newman/risks_of_formula_08-02.html">http://www.kellymom.com/newman/risks_of_formula_08-02.html</a></li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/02/alasan-medis-pengganti-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rapat Dengar Pendapat Umum AIMI dengan Komisi IX DPR RI &#8212; Selasa, 25 Januari 2011</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/01/rapat-dengar-pendapat-umum-aimi-dengan-komisi-ix-dpr-ri-selasa-25-januari-2011/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/01/rapat-dengar-pendapat-umum-aimi-dengan-komisi-ix-dpr-ri-selasa-25-januari-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jan 2011 03:21:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[DPR-RI]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Komisi IX]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1248</guid>
		<description><![CDATA[KONDISI MENYUSUI DI INDONESIA Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, hanya 32% (tiga puluh dua persen) bayi dibawah usia 6 (enam) bulan mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Jika dibandingkan dengan SDKI tahun 2003, proporsi bayi dibawah 6 (enam) bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun sebanyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>KONDISI MENYUSUI DI INDONESIA</h2>
<h3>Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007</h3>
<p>Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, hanya 32% (tiga puluh dua persen) bayi dibawah usia 6 (enam) bulan <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-rdpu-aimi-300x225.jpg" alt="" title="01-rdpu-aimi" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1257" />mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Jika dibandingkan dengan SDKI tahun 2003, proporsi bayi dibawah 6 (enam) bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun sebanyak 6 (enam) poin. Rata-rata, bayi Indonesia hanya disusui selama 2 (dua) bulan pertama, ini terlihat dari penurunan prosentase menyusui dari SDKI 2003 yaitu sebanyak 64% (enampuluh empat persen) menjadi 48% (empatpuluh delapan persen) pada SDKI 2007. Sebaliknya, sebanyak 65% (enam puluh lima persen) bayi baru lahir mendapatkan makanan selain ASI selama tiga hari pertama.</p>
<h3>World Breastfeeding Trends Initiative</h3>
<p>Dalam buku laporan “<em>The State of Breastfeeding in 33 Countries, 2010</em>” yang diterbitkan oleh <strong><em>International Baby Food Action Network</em> (IBFAN), Asia</strong>, secara jelas tercantum bahwa dari 33 negara yang telah mengirimkan laporan dan telah dievaluasi, Indonesia mendapatkan ranking ke 30, dibawah Mozambique, Bangladesh dan Afghanistan. Dari 10 indikator yang digunakan, rapor Indonesia masih merah untuk 7 kategori, yaitu: rumah sakit sayang bayi, implementasi Kode WHO tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI (PASI), perlindungan untuk wanita bekerja, kelompok pendukung ibu dan sosialisasi masyarakat, dukungan informasi, pemberian makan pada anak dalam situasi HIV/AIDS, serta monitoring dan evaluasi. </p>
<h2>SIAPAKAH AIMI</h2>
<p>Kami adalah Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), yaitu suatu organisasi nirlaba, non-pemerintah yang berbasis kelompok pendukung sesama ibu menyusui. AIMI didirikan pada tanggal 21 April 2007. Tujuan kami hanya satu, meningkatkan prosentasi ibu menyusui dan bayi yang disusui di Indonesia, dengan cara melindungi, meningkatkan, mendukung dan memberdayakan kegiatan menyusui di Indonesia. Saat ini AIMI sudah mempunyai cabang di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan anggota yang sudah mencapai ribuan. Inti dari kegiatan-kegiatan yang kami jalankan adalah edukasi, pemberian dukungan dan advokasi. AIMI merupakan salah satu penggagas dari Koalisi Advokasi ASI Indonesia yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat peduli ASI, baik perorangan maupun LSM nasional dan internasional. AIMI juga sudah berafiliasi dengan organisasi international yang menaungi gerakan ASI di seluruh dunia, seperti WABA (<em>World Alliance for Breastfeeding Action</em>) dan IBFAN (<em>International Baby Food Action Network</em>). Pada tanggal 14 Juni 2009, AIMI mendapatkan penghargaan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) atas perhatian dan dedikasi yang begitu besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia, khususnya di bidang pemberian ASI eksklusif.</p>
<h2>HARAPAN KAMI</h2>
<p>Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan para anggota Komisi XI yang terhormat ini, kami para pengurus dan anggota AIMI yang bersama ini mewakili para ibu menyusui di Indonesia, bermaksud untuk menyampaikan aspirasi kami mengenai 3 (tiga) permasalah pokok seputar kondisi menyusui Indonesia, dengan harapan para wakil rakyat yang terhormat dapat memberikan dukungan sebesar-besarnya bagi terlaksananya dan tercapainya :</p>
<ol>
<li>Rancangan Peraturan Pemerintah tentang ASI Eksklusif</li>
<p>Sesuai dengan amanat Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan), hal-hal yang berkenaan dengan ASI dan menyusui akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Dalam draft Rancangan Peraturan Pemerintah tentang ASI Eksklusif (RPP) tertanggal 13 Desember 2010, yang saat ini sedang dalam tahap harmonisasi di Kementrian Hukum dan HAM, AIMI  sebagai salah satu anggota Koalisi Advokasi ASI Indonesia yang turut aktif memantau perkembangan RPP ini, menemukan salah satu pasal yang cukup meresahkan kami, yaitu Pasal 5 yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>Pasal 5</p>
<p>(1) Ibu yang melahirkan berkewajiban memberikan ASI eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya.<br />
Selanjutnya dalam Pasal 6 disebutkan bahwa kewajiban tersebut dapat dikesampingkan bila terdapat indikasi medis.  </p>
<p>Pasal 5 yang mewajibkan seorang ibu untuk memberikan ASI eksklusif sangat meresahkan kami, karena:</p>
<ol>
<li>Para ibu WAJIB memberikan ASI Eksklusif (kecuali bila ada indikasi medis).  Padahal kami yakin bahwa memberikan asi adalah hak si ibu. Dengan adanya kata-kata wajib tersebut, ini membenarkan anggapan yang selama ini beredar di masyarakat bahwa ibu yang tidak menyusui dapat terkena sanksi pidana.</li>
<li>Harusnya, peraturan tersebut tidak memberatkan si ibu, namun, sesuai dengan UU Kesehatan haruslah lebih menitikberatkan kewajiban keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendukung ibu untuk menyusui.</li>
<li>Saat ini perangkat peraturan perundangan, dukungan, sarana dan prasarana yang terdapat di Indonesia belum mendukung seorang ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif:</li>
<ul>
<li>Cuti melahirkan dalam UU 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan hanya 3 bulan (diatur untuk diambil 1,5 bulan sebelum dan sesudah perkiraan tanggal kelahiran), sedangkan masa ASI eksklusif sebagaimana rekomendasi WHO adalah 6 bulan.</li>
<li>UU Ketenagakerjaan hanya ditujukan untuk sektor formal saja. Lalu bagaimana para pekerja yang bekerja di sektor informal? Mereka wajib memberikan ASI eksklusif 6 bulan, sedangkan jatah cuti melahirkan pun mereka tidak punya karena tidak diatur dalam UU.</li>
<li>Belum banyak sarana ruang menyusui yang tersedia baik di fasilitas publik maupun swasta (perkantoran).</li>
<li>Pemahaman tenaga medis akan ASI masih rendah, sehingga seringkali kegagalan ASI eksklusif berawal dari rumah sakit ketika ibu melahirkan.</li>
<li>Belum banyaknya informasi yang tersedia dan berimbang tentang ASI, sehingga para ibu tidak dapat mengambil keputusan yang telah mereka ketahui kebenarannya (<em>informed decision</em>).</li>
<li>Gencarnya promosi dan pemasaran produk pengganti ASI (PASI) yang tidak etis dan melanggar Kode Etik WHO tentang Pemasaran Produk PASI, sehingga mempengaruhi dan berpotensi untuk menggagalkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.</li>
</ul>
</ol>
<p>Atas berbagai pertimbangan tersebut, kami memohon hendaknya Komisi IX DPR dapat membantu kami dalam mendorong pihak-pihak yang saat ini sedang dalam proses finalisasi RPP agar dapat mengubah ketentuan Pasal 5 sehingga tidak mewajibkan ibu untuk menyusui, tetapi MEWAJIBKAN seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung ibu dalam melaksanakan program ASI Eksklusif.</p>
<li>Promosi dan Pemasaran Produk Pengganti ASI</li>
<p>Pada tanggal 9-12 November 2010, AIMI dan IBFAN Asia berkolaborasi dengan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dalam menyelenggarakan <strong>One Asia Breastfeeding Partners Forum 7</strong>, di Jakarta. Tema dari konferensi internasional yang dihadiri oleh para delegasi dari 16 negara adalah “Seruan Untuk mengakhiri Promosi Makanan Bayi!”. Forum ini kemudian menghasilkan Jakarta Declaration, yang salah satu butir seruan dari para peserta dalam deklarasi tersebut adalah mengakhiri semua bentuk promosi makanan bayi. </p>
<p>Sebagai organisasi yang anggotanya adalah para ibu menyusui, AIMI merasakan, menerima banyak keluhan dan mengalami bagaimana promosi makanan bayi yang tidak etis, baik secara langsung maupun tidak langsung,  mempengaruhi keputusan seorang ibu untuk tidak memberikan ASI. Untuk itulah, AIMI menginginkan perlindungan penuh terhadap kegiatan menyusui, salah satunya dengan menghentikan semua bentuk promosi makanan bayi.  </p>
<p><strong>Promosi Makanan Bayi di Kode Etik WHO</strong></p>
<p>Larangan total atas promosi makanan bayi bukanlah hal baru, hal ini secara tegas disebutkan dalam Pasal 5.1. Kode Etik WHO tentang Pemasaran Produk PASI tahun 1981 (Kode WHO) sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>“There should be <strong>no advertising or other form of promotion to the general public</strong> of products within the scope of this Code”</p></blockquote>
<p>Hal ini berarti bahwa iklan dan semua bentuk promosi atas produk yang diatur dalam Kode WHO ini tidak diperbolehkan. Pasal ini merupakan salah satu pasal paling penting dalam Kode WHO. Pasal ini secara jelas melarang berbagai bentuk promosi mulai dari iklan di media massa sampai pembagian brosur di apotik maupun supermarket.</p>
<p>Cakupan Kode WHO berdasarkan Pasal 2 adalah:</p>
<p>Pasal 2:</p>
<blockquote><p>“The Code applies to the marketing, and practices related thereto, of the following products: breastmilk substitutes, including infant formula; other milk products, foods and beverages, including bottle-fed complementary foods, when marketed or otherwise represented to be suitable, with or without modification, for use as a partial or total replacement of breast-milk; feeding bottles and teats. It also applies to their quality and availability, and to information concerning their use.”</p></blockquote>
<p>Jelas bahwa yg diatur dalam Kode WHO bukan hanya infant formula saja, tetapi juga semua produk susu, makanan dan minuman yang dipromosikan untuk dapat menggantikan seluruhnya maupun sebagian dari ASI. Sesuai anjuran WHO yang menyatakan bahwa menyusui dapat dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih, maka susu lanjutan untuk 2 tahun atau lebih, termasuk dalam cakupan Kode WHO ini.</p>
<p>Pengaturan Tentang Pemasaran Susu Formula di Indonesia </p>
<p>Tentang iklan susu formula di Indonesia, pengaturannya terdapat di Kepmenkes 237/MENKES/SK/IV/1997, dinyatakan bahwa susu formula bayi (0-4/6 bulan) dan susu formula lanjutan (6-12 bulan) hanya dapat dilakukan di media kesehatan yang telah mendapatkan persetujuan menteri, lebih lengkap sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>iklan susu formula lanjutan harus mencantumkan pernyataan keunggulan air susu ibu dan tulisan yang berbunyi tidak cocok untuk bayi berumur kurang dari 4 bulan [pasal 10 ayat (1)]</li>
<li>iklan makanan pendamping asi harus mencantumkan pernyataan bahwa produk hanya diberikan kepada bayi berumur di atas 4 bulan. [pasal 10 ayat (2)]</li>
<li>Iklan susu formula bayi hanya boleh di media ilmu kesehatan yang mendapat persetujuan dari menteri [pasal 11 ayat (3)] </li>
<li>Iklan susu formula lanjutan tidak boleh mencantumkan nama dagang dengan ciri-ciri yang menyerupai nama dagang susu formula bayi, selain hanya dalam media ilmu kesehatan yang mendapat persetunjuan dari menteri  [pasal 11 ayat (4)] </li>
</ul>
<p>Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan disebutkan bahwa iklan pangan bagi bayi sampai dengan berumur 1 tahun dilarang dimuat di media massa, dan hanya dapat di media kesehatan yang telah mendapat persetujuan menteri.  </p>
<p>Pasal 47 (4)</p>
<blockquote><p>Iklan tentang pangan yang diperuntukkan bagi bayi yang berusia sampai dengan (1) tahun dilarang dimuat dalam media massa, kecuali dalam media cetak khusus untuk kesehatan, setelah mendapat persetujuan Menteri kesehatan, dan dalam iklan yang bersangkutan wajib memuat keterangan bahwa pangan yang bersangkutan bukan pengganti ASI.</p></blockquote>
<p><strong>Bagaimana Iklan Susu Diatas 1 Tahun Mempengaruhi Kegiatan Menyusui Secara Keseluruhan </strong></p>
<p>Berikut adalah Iklan Nutrilon Royal 3 (diperuntukkan bagi anak 1-3 tahun. Berdasarkan peraturan nasional Indonesia, iklan ini tidak melanggar karena diperuntukkan bagi anak di atas 1 tahun.  <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-nutrilon-royal.jpg" alt="" title="01-nutrilon-royal" width="200" height="268" class="aligncenter size-full wp-image-1250" /></p>
<p>Sekarang, perhatikan pajangan susu formula di ritel (dapat ditemui dengan mudah di berbagai toko swalayan, supermarket hingga kios-kios susu):</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-sufor.jpg" alt="" title="01-sufor" width="300" height="212" class="aligncenter size-full wp-image-1251" /></p>
<p>Di tingkat ritel dimana konsumen melakukan pembelian, Nutrilon Royal 3 sebagaimana diiklankan di berbagai majalah, disandingkan dengan Nutrilon Royal 1 dan 2 yang masing-masing untuk bayi 0-6 bulan dan 6 bulan-1 tahun.  </p>
<p>Efek dari iklan Nutrilon Royal 3 ini dalam kegiatan menyusui adalah: bila si ibu mengalami kesulitan menyusui (yang sesungguhnya dapat diperbaiki dengan manajemen laktasi yang benar): sebagamana diiklankan oleh Nutrilon Royal 3 yang mengandung FOS GOS Nukleotida, untuk mempertahankan fungsi saluran cerna dan daya tahan tubuh kuat, maka Nutrilon Royal 1 dan 2 pun mempunyai keunggulan yang sama dengan Nutrilon Royal 3. Sehingga susu inilah yang akan dipilih si ibu untuk menggantikan menyusui. Hal ini berlaku bagi iklan-iklan susu lanjutan lainnya, bukan hanya iklan dan display Nutrilon sebagaimana disajikan dalam dokumen ini. Karena tidak adanya pembedaan merek maka si ibu akan melakukan generalisasi bahwa susu di bawah 1 tahun pun sama khasiatnya  dengan susu di atas 1 tahun (sebagaimana diiklankan). </p>
<p>Hal yang sama akan terjadi bila peraturan di Indonesia mengubah larangan iklan menjadi susu formula di bawah 2 tahun. Produsen akan dengan mudah mengganti materi kampanye mereka dengan iklan di atas 2 tahun, NAMUN tetap dengan merek yang sama dengan susu di bawah 1 tahun, hanya pembedaan nomor saja.  Ini yang sangat mengganggu kegiatan menyusui. Sehingga tidak bisa lain, bila ingin angka menyusui di Indonesia meningkat sebagaimana di negara India, pelarangan iklan susu formula harus dilakukan secara keseluruhan, tanpa pembedaan umur dan jenis produk. </p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Rendahnya tingkat pemberian ASI di Indonesia, salah satu faktor utama dan terbesar yang menyebabkannya adalah maraknya iklan susu formula yang ditujukan bagi masyarakat. Dalam dokumen ini, kami hanya menyajikan iklan-iklan dari media cetak.  Iklan di media elektronik, yang setiap hari membombardir masyarakat pada jam prime time, dapat kami pastikan mempunyai efek yang lebih kuat bagi seorang ibu dalam memutuskan pemberian makan bagi bayinya. Permintaan kami untuk melarang secara total iklan susu formula mungkin pada awalnya terdengar terlalu ekstrim, namun, percayalah, ini salah satu cara untuk menaikkan tingkat pemberian ASI di Indonesia. Karena itulah, kami meminta perlindungan secara penuh kepada pemerintah dan para wakil rakyat, agar mempromosikan, melindungi dan mendukung kegiatan menyusui secara maksimal, salah satunya dengan produk hukum tertinggi (undang-undang) yang mengatur secara tegas tentang promosi dan pemasaran produk PASI.   </p>
<li>Cuti Melahirkan</li>
<p>Sekitar 40% dari <em>workforce</em> di Indonesia adalah para perempuan. Mereka bekerja baik di sektor formal, maupun informal. Mereka bekerja secara penuh maupun paruh waktu. Mereka adalah para ibu menyusui. Tidak bisa dipungkiri lagi, ketentuan cuti melahirkan sebagaimana terdapat dalam UU no. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan saat ini sudah dirasakan sangat tidak mendukung program pemberian ASI eksklusif di Indonesia. Terlebih lagi, ketentuan pengambilan cuti melahirkan tersebut yang disyaratkan 1,5 bulan sebelum tanggal melahirkan, dan 1,5 bulan sesudahnya. Dalam hal manajemen laktasi, periode 1,5 bulan pasca kelahiran masih sangat kurang bagi seorang ibu, terutama ibu yang baru pertama kali melahirkan, untuk memantapkan kegiatan menyusui. Sekarang, bagaimana dengan ibu yang bekerja di sektor informal? Mereka harus bisa secepatnya kembali bekerja, karena memang cuti melahirkan sebagaimana terdapat dalam UU Ketenagakerjaan tersebut tidak melindungi golongan ini. </p>
<p>Di Eropa, terutama negara-negara Skandinavia seperti Norwegia dan Finlandia, dimana angka menyusuinya termasuk tertinggi di dunia, tidak berlaku cuti melahirkan (<em>maternity leave</em>), melainkan cuti orangtua (<em>parental leave</em>). Pasca kelahiran, ibu dan ayah berhak untuk mengambil cuti ini selama 16 bulan, yang menjadi tanggungan pemerintah dan perusahaan. Tentu cuti diambil secara bergantian, dimana ibu diwajibkan untuk mengambil cuti yang 4 bulan pertama.</p>
<p>Tentu kami sadar, situasi di Indonesia belum memungkinkan untuk memberlakukan hal tersebut. Tidak perlu mencontoh Swedia ataupun Finlandia, tapi bisa mencontoh Bangladesh. Beberapa bulan yang lalu, salah satu negara di Asia ini telah mengeluarkan peraturan yang memberikan cuti melahirkan bagi para wanita yang bekerja sebagai pegawai negeri, sebanyak 6 bulan penuh. Sesuai tentunya dengan masa pemberian ASI eksklusif.</p>
<p>Kami sangat berharap, revisi tentang ketentuan cuti melahirkan dalam UU Ketenagakerjaan dapat dilakukan, sehingga semua ibu yang bekerja, baik di sektor formal maupun informal, dapat terlindungi untuk menjalankan haknya memberikan, setidaknya ASI eksklusif selama 6 bulan penuh.
</ol>
<p><strong>PENUTUPAN</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-after-hearing-300x225.jpg" alt="" title="01-after-hearing" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1259" />Sekian sekiranya harapan dan aspirasi dari kami, para ibu menyusui di Indonesia. Demi masa depan anak bangsa, agar mereka mempunyai bekal yang ampuh untuk dapat bersaing dengan para temannya dari negara-negara lain, agar mereka bica secara penuh mencapai potensi diri dan menggapai cita-cita. <em>The future is not ours to give, it is theirs to fulfill</em>. Terima kasih.  </p>
<p>*********************</p>
<p>ASOSIASI IBU MENYUSUI INDONESIA (AIMI)</p>
<p>Graha MDS Lantai 1<br />
Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. R.S. Fatmawati No. 39<br />
Jakarta 12150, Indonesia</p>
<p>tel: (021) 72767243, 72790165<br />
fax: (021) 72790166<br />
email: kontak@aimi-asi.org</p>
<p>http://aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/01/rapat-dengar-pendapat-umum-aimi-dengan-komisi-ix-dpr-ri-selasa-25-januari-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kode WHO – Penjamin Pemberian ASI Eksklusif</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/08/kode-who-%e2%80%93-penjamin-pemberian-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/08/kode-who-%e2%80%93-penjamin-pemberian-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 03:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Tasya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=993</guid>
		<description><![CDATA[Pernah kah ibu yang baru melahirkan dapat telpon dari produsen susu formula? Pasti hampir semua ibu menjawab pernah dan sering. Sekarang, tahu kah ibu bahwa yang dilakukan oleh produsen susu formula ini melanggar kode etik? Yuk simak pemaparan Ketua Divisi Advokasi AIMI tentang Kode Etik ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Apa kabar baby adis? Sekarang minum nya apa? ASI saja? Bagus bu, ASI memang yang terbaik. Tapi nih, kalau <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/08/08-tasya.jpg" alt="" title="08-tasya" width="300" height="303" class="alignleft size-full wp-image-1000" />merasa ASI-nya kurang kita punya produk XYZ lhoo, dilengkapi AA dan DHA komposisinya menyerupai ASI lho, boleh dicoba ibu&#8230;”</p>
<p>3 bulan kemudian</p>
<p>“Gimana adek adis keadaannya? Wah ibu udah mau masuk kerja? Boleh dicoba lho produk kami XYZ. Jadi selama ibu bekerja, adek adis kasih XYZ saja, sama kok kandungannya dengan ASI”</p>
<p>3 bulan selanjutnya&#8230;.</p>
<p>“Waah selamat bu, adek adis sudah mau makan yaa, dicoba bubur susu KLM nya bu, daripada repot-repot bikin, ini udah lengkap banget kandungan gizinya. ASInya masih juga? Wah udah waktunya dicampur, kandungan gizi ASI udah berkurang, coba XYZ plus ya bunda.”</p>
<p>Kejadian ini terjadi 5 tahun lalu. Tanpa henti, dengan agresifnya, marketing perusahaan susu formula terus menghubungi saya melalui telepon. Sayangnya, saat itu saya belum tergabung dalam AIMI. Saya belum tahu bahwa hal tersebut merupakan salah satu bentuk pelanggaran pemasaran pengganti ASI.  Jadi saya biarkan saja. </p>
<p>Untungnya lingkungan mendukung saya memberikan ASI hingga 2 tahun, sehingga tidak terpikir sama sekali untuk beralih ke susu formula.  Di luar sana, banyak yang tidak seberuntung saya dengan didukung lingkungan sekitar, sehingga tak jarang para ibu menjadi goyah dan termakan hasutan beralih ke susu formula.</p>
<p><strong>Apa yang salah?</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/08/08-kode.gif" alt="" title="08-kode" width="247" height="171" class="alignleft size-full wp-image-1002" />Promosi secara langsung dengan menghubungi ibu yang baru mempunyai anak sebenarnya dilarang menurut ‘<em>The International Code of Marketing of Breastmilk Subsitutes</em>&#8216; yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 1981, selanjutnya kita sebut Kode WHO. </p>
<p>Pasal 5.5 Kode WHO secara jelas menyebutkan:<br />
“<em>5.5	Personil pemasaran, dalam kapasitas bisnisnya, hendaknya tidak melakukan kontak langsung atau tidak langsung dalam bentuk apapun juga dengan perempuan hamil atau dengan ibu dari bayi atau anak (balita).</em>”</p>
<p>Cakupan Kode WHO ini adalah setiap pemasaran dan praktek terkait lainnya terhadap produk berikut:</p>
<ul>
<li>Pengganti ASI, termasuk susu formula.</li>
<li>Produk susu lainnya, makanan dan minuman termasuk MPASI dalam botol, yang dipasarkan atau direpresentasikan cocok untuk digunakan sebagai pengganti ASI baik seluruhnya maupun sebagian, dengan atau tanpa modifikasi.</li>
<li>Botol dan dot.</li>
</ul>
<p>Dikarenakan WHO merekomendasikan menyusui hingga 2 tahun, maka cakupan tersebut juga berlaku untuk produk pengganti ASI hingga anak berumur 2 tahun.</p>
<p>Selain berpromosi langsung, berikut beberapa larangan pemasaran Pengganti ASI oleh Kode WHO dalam memasarkan produk pengganti ASI:</p>
<ul>
<li>Dilarang mengiklankan susu formula dan produk lain kepada masyarakat.</li>
<li>Dilarang memberikan sampel gratis kepada ibu-ibu.</li>
<li>Dilarang promosi susu formula di sarana pelayanan kesehatan.</li>
<li>Staf perusahaan tidak diperkenankan memberikan nasihat tentang susu formula kepada ibu-ibu.</li>
<li>Dilarang memberikan hadiah atau sampel kepada petugas kesehatan.</li>
<li>Dilarang membuat gambar bayi atau gambar lainnya yang mengidealkan susu formula pada label produk.</li>
<li>Informasi kepada petugas kesehatan harus bersifat faktual dan ilmiah.</li>
<li>Informasi tentang susu formula, termasuk pada label, harus menjelaskan keuntungan menyusui dan biaya serta bahaya pemberian susu buatan.</li>
<li>Produk yang tidak cocok seperti susu kental manis, dilarang dipromosikan untuk bayi.</li>
<li>Penjelasan tentang penggunaan susu formula hanya dibolehkan untuk beberapa ibu yang betul-betul memerlukannya.</li>
</ul>
<p>Lalu, mengapa perusahaan susu formula tetap melakukan pelanggaran terhadap Kode WHO itu? Apakah mereka <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/08/08-corporate-greed.jpg" alt="" title="08-corporate-greed" width="200" height="206" class="alignleft size-full wp-image-1003" />tidak mengetahuinya? Jawabannya TIDAK. Mereka mengetahui secara jelas tentang Kode WHO ini, bahkan pada saat penyusunan kode, mereka dilibatkan.  Itu merupakan salah satu strategi dalam memasarkan produk mereka.</p>
<p>Lihat laporan berikut ini:<br />
“<em>as breastfeeding rates are set to increase in the short term, iternational companies should focus on launching new products targeting breastfeeding mothers</em>”  Euromonitor International, 2008.</p>
<p>“<em>&#8230;manufactureres are expected to continue adopting similar strategies to those used in 2008/2009&#8230;incorporating their existing products with more ingredients, introducing value-for-money products and promotional efforts to boost volume sales such as offering gifts with certain purchases.</em>” Baby food in Indonesia, Euromonitor International, November 2009.</p>
<p>Jelas disana dijelaskan, bahwa mereka <strong>dengan sengaja</strong> melakukan aktivitas-aktivitas promosi untuk meningkatkan penjualan produk pengganti ASI, dengan target yang sangat jelas, yaitu Ibu menyusui. Dan negara berkembang seperti Indonesia menjadi sasaran yang ‘empuk’, karena masih banyak orang tua dan ibu yang belum terinformasi tentang manfaat menyusui dan bahaya susu formula. </p>
<p><strong>Lalu, bagaimana Peraturan di Indonesia?</strong></p>
<p>Khusus mengenai pemasaran pengganti ASI, Indonesia telah mengadopsi sebagian dari Kode WHO dalam KEPMENKES NO 237/MENKES/SK/1997 tentang PEMASARAN PENGGANTI AIR SUSU IBU.  Dalam Kepmenkes ini, diatur mengenai pemasaran Pengganti ASI dari 0-12 bulan, dengan ketentuan-ketentuan yang sama dengan Kode WHO.</p>
<p>Selain mengenai pemasaran, sebenarnya saat ini peraturan lokal yang melindungi hak anak mendapatkan ASI dan hak ibu untuk memberi ASI di Indonesia sudah cukup banyak, diantaranya:</p>
<ul>
<li>Pasal 83 UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan</li>
<li>Pasal 22 UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak </li>
<li>Pasal 49 ayat (2)UU No. 49 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia</li>
<li>Pasal 128, 129 dan 200 UU No 36/2009 tentang KESEHATAN</li>
<li>UU NO. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen</li>
<li>UU No.7/1992 tentang Pangan</li>
<li>PP NO. 69/1999 tentang LABEL DAN IKLAN PANGAN</li>
<li>Keppres No. 36 tahun 1990 tentang PENGESAHAN CONVENTION ON THE RIGHTS OF THE CHILD (KONVENSI TENTANG HAK-HAK ANAK).</li>
<li>KEPMENKES NO 450/MENKES/SK/VI/2004 tentang PEMBERIAN ASI SECARA EKSKLUSIF DI INDONESIA</li>
<li>PERATURAN BERSAMA MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DAN METERI KESEHATAN NO 48/MEN.PP/XII/2008, PER.27/MEN/XII/2008 DAN 1177/MENKES/PB/XII/2008 tahun 2008 tentang PENINGKATAN PEMBERIAN AIR SUSU IBU SELAMA WAKTU KERJA DI TEMPAT KERJA</li>
<li>PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NO. HK. OO.O5.1.52.3572 tgl 10 Juli 2008 TENTANG PENAMBAHAN ZAT GIZI DAN NON GIZI DALAM PRODUK PANGAN</li>
<li>KEPUTUSAN KEPALA DINAS KESEHATAN PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NO. 435/2008 TENTANG PEMBERIAN ASI SECARA DINI (INISIASI MENYUSU DINI) BAGI IBU MELAHIRKAN DI PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA </li>
<li>PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NO. HK.00.05.52.0085 TENTANG PENGELOMPOKAN PRODUK FORMULA BAYI DAN FORMULA LANJUTAN</li>
<li>PERDA KABUPATEN KLATEN NO. 7/2008 TENTANG INISIASI MENYUSU DINI DAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF.</li>
<li>PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA NO 03 TAHUN 2010 TENTANG PENERAPAN SEPULUH LANGKAH MENUJU KEBERHASILAN MENYUSUI</li>
</ul>
<p><strong>Adakah Sanksinya?</strong><br />
Dengan adanya UU kesehatan terbaru yaitu UU No. 36 tahun 2009, pemberian ASI eksklusif sangat dilindungi, terbukti dengan adanya 3 pasal yang mengatur tentang pemberian ASI, salah satunya mengatur tentang ancaman pidana bagi mereka yang menghalangi ibu melakukan program asi eksklusif.</p>
<p><strong>Pasal 128</strong></p>
<ol>
<li><em>Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis.</em></li>
<li><em>Selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.</em></li>
<li><em>Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.</em></li>
</ol>
<p><strong>Pasal 129</strong></p>
<ol>
<li><em>Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif.</em></li>
<li><em>Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.</em></li>
</ol>
<p><strong>Pasal 200</strong></p>
<p><em>Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).</em></p>
<p>Belakangan, terdapat beberapa kekhawatiran bahwa sanksi pidana dalam UU Kesehatan ini dapat menjaring seorang ibu yang tidak menyusui bayinya. Bila dilihat dari unsur-unsur pasal tersebut, yang dapat terkena ancaman sanksi pidana pasal 200 adalah keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat yang menghalangi si IBU untuk menyusui eksklusif bayinya.  Penghalangan tersebut dapat berupa tidak diberikan waktu menyusui maupun tidak disediakan fasilitas khusus untuk melakukan kegiatan menyusui. Sehingga dalam hal ini, justru pasal ini MELINDUNGI ibu untuk melaksanakan program ASI Eksklusif, bukan malahan mengancamnya dengan hukuman pidana bila tidak melaksanakan program ASI eksklusif.</p>
<p>Undang-undang ini baru ditetapkan tahun 2009 dan saat ini Peraturan Pemerintah sebagai peraturan pelaksananya masih dalam proses, diharapkan pada akhir 2010 sudah ditetapkan, sehingga sosialisasi akan undang-undang ini masih terus berjalan.</p>
<p>Penegakan hukum memang membutuhkan waktu dan membutuhkan dukungan dari semua elemen masyarakat, termasuk didalamnya mengawasi setiap pelangaran yang dilakukan oleh perusahaan susu formula dalam memasarkan produknya.  </p>
<p>AIMI yang sejak awal berdiri pada awal tahun 2007 telah menghimbau masyarakat untuk melaporkan setiap dugaan pelanggaran promosi susu formula melalui e-mail ke lapor[at]aimi-asi.org.  Untuk menindaklanjuti dugaan pelanggaran, tentunya kami memerlukan bukti-bukti yang cukup, untuk itu sertakan bukti pelanggaran seperti foto, rekaman suara, potongan iklan maupun bukti lainnya yang dapat mendukung kami mengawasi setiap praktek pemasaran pengganti ASI yang tidak etis.  </p>
<p>Mengawasi praktek pemasaran pengganti ASI adalah kewajiban setiap orang, dengan demikian, diharapkan ibu dapat terlindungi dari praktek pemasaran pengganti ASI yang memberikan informasi yang salah tentang menyusui dan mengunggulkan produk pengganti ASI.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/08/kode-who-%e2%80%93-penjamin-pemberian-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui; Dari &#8216;Biasa&#8217; Menjadi &#8216;Tidak Biasa&#8217;</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/07/menyusui-dari-biasa-menjadi-tidak-biasa/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/07/menyusui-dari-biasa-menjadi-tidak-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 02:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=918</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu sekali menyusui anak adalah hal wajar yang dilakukan oleh para ibu untuk bayinya. Tapi sekarang dengan bertambah majunya zaman, banyak ibu yang telah meninggalkan kebiasan ini, sehingga banyak anak yang terlihat memegang botol kemanapun mereka pergi. Sesuatu yang 'biasa' telah menjadi 'tidak biasa' dan begitu juga sebaliknya. Kenapa dan sejak kapan ini terjadi?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coba kita perhatikan di lingkungan sekitar kita, lingkungan rumah, pertokoan sampai kendaraan umum. Atau kita juga bisa lihat di media seperti televisi, koran, majalah dan internet. Mana yang lebih sering kita lihat? Gambaran ibu menyusui atau ibu memberikan susu dalam botol kepada bayi atau anaknya?</p>
<p>Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada saya, maka jawabannya adalah saya lebih sering lihat bayi yang diberikan susu melalui botol. Mulai dari yang bayi baru lahir sampai anak-anak usia dibawah lima tahun (bahkan kadang-kadang saya pernah menemui anak usia sekolah) yang masih memegang botol susu kemanapun mereka pergi. Ada yang isi botolnya terlihat seperti susu formula, tapi tidak sedikit yang saya lihat botolnya berisi air putih, teh dan juga susu yang berasal dari susu kental manis (yang sudah jelas-jelas tertulis di kemasannya: “Perhatikan! Tidak cocok untuk bayi.”) Sepertinya ini sudah merupakan hal yang ’biasa’ kita lihat sehari-hari. Padahal jika kita melihat kembali ke beberapa abad yang lampau, nampaknya menyusuilah yang yang ‘biasa’ dilihat.</p>
<p>Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah semua ibu pada beberapa abad silam tersebut menyusui bayinya? Jawabannya <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-nia-nabil-300x262.jpg" alt="" title="07-nia-nabil" width="300" height="262" class="alignright size-medium wp-image-922" />tidak semua, ada segelintir ibu yang tidak menyusui bayinya. Ada yang mempekerjakan ibu susuan (atau dikenal juga dengan istilah <em>wet nurse</em>). Biasanya ibu susuan ini dibayar untuk menggantikan ibu susu yang berhalangan untuk bisa menyusui karena bekerja atau karena profesinya sebagai bangsawan di kalangan elit di Eropa. Bisa dibilang, ibu susuan merupakan profesi yang cukup diminati. Pada masanya, menjadi ibu susuan mirip dengan memberikan layanan katering. Jasa katering yang biasa dipakai bangsawan dan kerajaan memiliki tarif berbeda dengan katering untuk rakyat biasa. Mirip dengan status ibu susuan yang juga bergantung pada anak siapa yang disusuin. Semakin tinggi derajat bayi yang disusui, maka semakin tinggi kelas si ibu susuan, walaupun tujuannya sama: memberikan nutrisi dan kepuasan bagi pelanggan akan ASI.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-1' id='fnref-918-1'>1</a></sup></p>
<p>Ada satu kisah yang sangat menarik juga mengenai ibu susuan dan merupakan salah satu ibu susuan yang ternama di tahun 1831, Judith Waterford. Di usianya yang ke 81 tahun, dia menunjukkan bahwa dia masih bisa menyusui dan memerah ASInya. Dia menyusui enam anaknya sendiri, delapan anak susuan rutin dan banyak lagi anak-anak teman dan tetangganya. Bahkan yang paling kita juga sering dengar kisahnya adalah Halimatus Saadiah yang menyusui Nabi Muhammad SAW dan ada juga kisah Naomi di kitab Perjanjian Lama yang menyusui kembali cucunya agar Ruth, ibu dari bayinya, bisa ikut berperang setelah suaminya terbunuh.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-2' id='fnref-918-2'>2</a></sup></p>
<p>Jadi saya kembali ke pertanyaan awal, mengapa sekarang, setelah ribuan tahun manusia yang tergolong mahluk mamalia yang bertahan hidup beribu-ribu tahun lamanya karena mendapatkan ASI ibunya setelah kelahirannya, pada beberapa abad terakhir justru malah melihat proses menyusui menjadi hal yang ‘tidak biasa’? Apa penyebabnya dan mengapa ini bisa terjadi? </p>
<h3>Awal Mulanya&#8230;</h3>
<p>Di  akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, dunia diguncangkan dengan adanya Revolusi Industri. Diawali dengan ditemukannya mesin uap oleh George Stevenson. Sejak saat ini, semua orang berlomba-lomba membuat mesin dan mulai meninggalkan peralatan kerja sederhana untuk mulai bekerja di pabrik-pabrik. Perekonomian di Inggris tumbuh pesat dan tidak lama kemudian Inggris menjadi sangat terkenal akan inovasi dan dihormati oleh banyak pihak di dunia. Revolusi Industri pun dengan cepat ditiru oleh banyak negara. Hal ini lalu diikuti dengan lahirnya produk makanan pengganti ASI. Pada tahun 1860an, seorang ahli kimia, Justus von Liebeg menemukan ‘makanan yang cocok untuk bayi’ yang terbuat dari campuran tepung gandum, susu sapi dan bahan-bahan lainnya dan dalam bentuk cair. Pada awalnya penjualan produk ini tidak terlalu bagus dan Liebig selalu merasa terganggu bila ada dokter yang melaporkan bahwa makanan ini tidak mudah dicerna oleh bayi.</p>
<p>Walaupun ada keluhan-keluhan tersebut, namun tidak mengurangi semangat seorang Jerman lainnya yang bernama Henri Nestlé, seorang penyalur makanan yang mengklaim telah menyelamatkan seorang bayi yang menolak menyusu pada ibunya dan menolak makanan lain. Bayi tersebut bisa mengonsumsi ‘Susu Makanan Nestlé’. Pada tahun 1873 saja Nestlé sudah berhasil 500.000 boks per tahun di Eropa, Amerika Serikat, Argentina dan Meksiko.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-3' id='fnref-918-3'>3</a></sup></p>
<p>Pada era ini inovasi dalam teknologi  dan metode ‘<em>modern</em>’ menjadi tren. Perempuan merasa ‘terbebaskan’ dari tugas alaminya dari penemuan ini dan banyak yang menganggap ini sebagai ‘pembebasan’. Membaiknya industri peternakan juga membuat produksi susu berlebih. Pada tahun 1853 susu kental manis ditemukan dan mulai sejak 1891 sudah muncul modifikasi lain dalam susu sapi sehingga membuat para bayi untuk pertama kalinya bisa meminum susu sapi tanpa melibatkan salah satu pun anggota keluarganya membuat ‘kontak langsung’ dengan seekor sapi. Pada 1897 botol susu mulai dipatenkan dan semua ini diiklankan dan dipromosikan sebagai produk ideal bagi bayi dan dijual langsung ke pasar. Ada pula para dokter yang melayani para pasien-pasien kaya, di mana dokternya membuatkan sendiri ‘formula’ khusus yang cocok untuk bagi setiap bayi. Namun ‘formula’ ini tidak bertahan lama karena sangat rentan dan tidak terlalu mudah diakses, karena campurannya berubah dan dalam beberapa minggu orangtua si bayi harus berulang kali kembali ke dokter tersebut untuk membeli susu dengan ‘formula’ baru.</p>
<p>Ketika para dokter berusaha menyebarkan manfaat ‘formula’ yang mereka buat, para orang tua lebih tertarik dengan makanan bayi yang dijual bebas di pasaran. Makanan ini mudah didapat dan sudah mulai diiklankan mulai dari majalah, jurnal kesehatan dan jauh lebih mudah diolah dibanding kan ‘formula’ yang dibuat khusus oleh dokter anak. Para produsen ini menyadari kelemahan ‘formula’ yang dibuat oleh para dokter dan mulai menggandeng dokter dalam memasarkan produk mereka. Pada tahun 1911 seorang dokter bernegosisasi dengan Mead-Jhonson untuk membuat formula yang dia miliki bernama Dextri-Maltrose dan produk ini dites pada bangsal bayi di New York Post-Graduate Hospital. Sejak saat itu pulalah para dokter mulai merekomendasikan merek-merek tertentu untuk diberikan kepada bayi. Kedekatan hubungan antara para dokter dan produsen di Amerika Serikat inilah yang akhirnya dijadikan model dan strategi pemasaran produk makanan pengganti untuk para bayi di belahan dunia lain.</p>
<p>Kemajuan teknologi dalam memproses makanan yang terbuat dari susu (termasuk membuat susu menjadi dalam bentuk bubuk) memudahkan transportasi dan distribusinya. Tidak lama setelah perang dunia kedua, pemberian susu botol menjadi metode yang lazim dilakukan di Amerika Serikat dan sebagain negara-negara di Eropa. Persentase menyusui menurun drastis hingga setengahnya mulai dari tahun 1946. Pada tahun 1967 hanya 25% bayi di Amerika Serikat yang dilahirkan di RS yang mendapatkan ASI.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-4' id='fnref-918-4'>4</a></sup> Hal ini mengakibatkan banyak ibu tidak bisa menyusui bayinya dan menyulitkan para ibu untuk bisa menyusui. Hanya sedikit ibu yang masih bisa menyusui dan inipun jika mendapatkan dukungan dan bantuan yang tepat. Pada tahun 1960an dan 1970an memberikan susu botol kepada bayi sudah menjadi hal yang ‘normal’ dilakukan kepada bayi.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-5' id='fnref-918-5'>5</a></sup></p>
<h3>Apa yang ‘Biasa’ Belum Tentu ‘Benar’</h3>
<p>Akibat dari maraknya penjualan susu formula dan menurunnya prosentase bayi yang mendapatkan ASI, ditambah banyaknya riset-riset yang menunjukkan keunggulan ASI, mengakibatkan lahirnya Kode Etik Pemasaran Produk Pengganti ASI oleh WHO. Kode ini bersifat fleksibel di setiap negara dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara dan bertujuan melindungi para orang tua untuk bisa memberikan ASI bagi anak-anak mereka. Ada pun isi dari kode etik ini adalah:</p>
<p>Kode etik ini berlaku untuk: Susu buatan untuk bayi, Produk-produk yang digunakan untuk memberi asupan kepada bayi, terutama produk yang digunakan dengan botol susu atau untuk bayi berumur di bawah 6 bulan. Kode etik ini juga berlaku untuk produk botol susu atau dot bayi/empeng.</p>
<p>Berikut adalah 10 poin penting dari Kode Etik tersebut:</p>
<ol>
<li>tidak boleh ada iklan dari semua produk dalam kategori di atas, yang ditujukan untuk publik.</li>
<li>tidak boleh ada contoh gratis untuk ibu-ibu.</li>
<li>tidak boleh ada media promosi (penempatan media atau iklan) di lokasi fasilitas kesehatan, termasuk pembagian contoh gratis atau contoh yang dimurahkan.</li>
<li>tidak boleh ada petugas penjualan (sales representatif) dari perusahaan yang menjadi/memberi konsultansi kepada ibu-ibu.</li>
<li>tidak boleh ada pembagian contoh produk gratis kepada petugas kesehatan.</li>
<li>tidak boleh ada kata-kata (slogan) atau gambar yang menunjukkan bahwa asupan non-asi itu lebih baik, atau gambar bayi (yang sehat) pada label kemasan produk susu.</li>
<li>informasi yang diberikan kepada petugas kesehatan hanyalah yang bersifat scientific/ilmiah dan faktual.</li>
<li>semua informasi tentang asupan non-asi, termasuk pada label kemasan produk, harus mencantumkan manfaat asi, dan risiko serta bahaya yang berkaitan dengan penggunaan asupan non-asi.</li>
<li>produk yang belum saatnya diberikan kepada bayi, seperti pemanis yang padat, tidak boleh dipromosikan kepada bayi (orang tua atau keluarga dengan bayi).</li>
<li>untuk menghindari benturan kepentingan, para profesional di bidang kesehatan yang bekerja untuk bayi dan anak-anak, tidak boleh menerima dukungan keuangan dari produsen makanan bayi atau anak.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-6' id='fnref-918-6'>6</a></sup></li>
</ol>
<p>Namun sampai saat ini masih bisa kita temukan pelanggaran-pelanggaran kode etik ini. Salah satu yang paling kita sering jumpai adalah: iklan (walaupun iklannya membahas tentang ASI dan tidak memperlihatkan produk tertentu) atau poster di RS, hadiah-hadiah di RS seperti jam dinding, kalender, pulpen. Ini merupakan hal yang ‘biasa’ kita temukan dan dianggap sebagai hal yang ‘biasa’ saja oleh kita. Padahal hal ini melanggar kode etik dari pemasaran produk pengganti ASI. </p>
<p>Kita juga sudah ter‘biasa’ mendengar pertanyaan “oh masih ASI ya Bu? Sudah <em>dibantu</em> susu formula?”. Kenapa saya tulis miring kata ‘dibantu’? Karena dari berbagai sumber dan penelitian menunjukkan bahwa dalam manajemen laktasi yang baik, ketika seorang bayi mendapatkan ‘bantuan’ berupa susu formula, maka sedikit banyak itu akan mengakibat kesulitan menyusui pada si bayi. Padahal banyak orang berpikir susu formula ini hadir untuk ‘membantu’. </p>
<p>Beberapa hari yang lalu, saya mendapat sebuah undangan untuk menghadiri sebuah seminar mengenai ASI. Pada undangan tersebut, terdapat foto ibu sedang memberikan susu botol kepada bayinya. Ketika saya bertanya ke teman-teman saya, jawabannya adalah “yah berpikir positif saja.. jangan-jangan didalam botol itu ASI”. Padahal jika dipikir dengan bahasa komunikasi, foto tersebut jelas-jelas menggambarkan pemberian asupan selain ASI, karena ‘biasa’nya pemberian ASI dilakukan langsung dari payudara ibu. Bisa kita cermati bersama bagaimana kondisi ‘biasa’ ini bisa terputarbalikkan. </p>
<p>Mudah-mudahan seiring dengan kesadaran untuk kembali ke ASI dan majunya teknologi informasi seperti internet, media dan lain-lain bisa membantu para orang tua mengingatkan apa asupan yang sebenarnya ‘biasa’ dan alamiah untuk anak-anak mereka, yakni ASI.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 1947 kali.</p>
<div class='footnotes'>
<div class='footnotedivider'></div>
<ol>
<li id='fn-918-1'>Palmer, G. The Politics of Breastfeeding, 1988. p. 134 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-1'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-2'>Groskop, Viv. <a href="http://www.guardian.co.uk/society/2007/jan/05/health.medicineandhealth">Not your mother&#8217;s milk</a> <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-2'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-3'>Palmer, G. The Politics of Breastfeeding, 1988. p. 163 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-3'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-4'>Jellife, Human Milk in the Modern World, 1978, p. 189 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-4'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-5'>Palmer, G. The Politics of Breastfeeding, 1988. p. 178 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-5'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-6'>Terjemahan bebas dari <a href="http://www.asipasti.co.cc/2008/01/kode-etik-internasional-untuk-promosi.html">kode etik WHO</a> <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-6'>&#8617;</a></span></li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/07/menyusui-dari-biasa-menjadi-tidak-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Koalisi Advokasi ASI Dialog bersama Media</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-koalisi-advokasi-asi-dialog-bersama-media/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-koalisi-advokasi-asi-dialog-bersama-media/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 03:38:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farahdibha Tenrilemba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=780</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta (09/06/2010) – Memberikan ASI memang menjadi perjuangan tersendiri bagi banyak ibu. Mulai dari minimnya dukungan terhadap ibu menyusui, baik dari keluarga, tenaga dan fasilitas kesehatan, pemerintah, masyarakat, maupun iklan-iklan produk susu formula yang begitu dahsyatnya. Ada ibu yang berhasil melalui semua tantangan yang dihadapi, namun banyak pula yang tidak berhasil. Hal ini seharusnya menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta (09/06/2010) – Memberikan ASI memang menjadi perjuangan tersendiri bagi banyak ibu. Mulai dari minimnya dukungan terhadap ibu menyusui, baik dari keluarga, tenaga dan fasilitas kesehatan, pemerintah, masyarakat, maupun iklan-iklan produk susu formula yang begitu dahsyatnya. Ada ibu yang berhasil melalui semua tantangan yang dihadapi, namun banyak pula yang tidak berhasil. Hal ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak – baik pemerintah, dinas kesehatan, pemberi kerja (pengusaha/perkantoran), dan keluarga.</p>
<p>Sayangnya belum banyak pihak yang memahami tentang keunggulan menyusui dan pemberian ASI pada bayi. Belum bayak pula yang mengetahui resiko dari pemakaian susu formula dan bahwa terdapatnya peraturan yang mengatur pemasaran dari produk-produk pengganti ASI.</p>
<p>Melihat fenomena seperti ini, Unicef dan organisasi-organisasi yang tergabung dalam Koalisi Advokasi ASI (AIMI, WHO, MERCY CORPS, SELASI, PERINASIA, HKI, KAKAK, Klasi-YOP, IBCLC Indonesia, dan YLKI) menggelar acara “Dialog bersama Media” mengenai Kode Etik Pemasaran Susu Pengganti ASI di Hotel Intercontinental, hari Rabu 9 Juni 2010.</p>
<p>Pada acara ini, dikemukakan tentang apa itu kode etik pemasaran susu pengganti ASI dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan terhadap kode etik tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat luas akan kode etik tersebut, guna meningkatkan angka ibu menyusui dan bayi yang mendapatkan ASI di Indonesia.</p>
<p>Tidak luput juga, akan terdapat pemaparan tentang situasi regulasi ASI dan pemasaran susu pengganti ASI di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar terdapat Kebijakan tertulis mengenai Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yang menjabarkan secara mendetail bentuk-bentuk dukungan fasilitas dan tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat.</p>
<p>Menurut salah satu anggota dari Koalisi, Agus Pambagyo, “Pelanggaran kode etik pemasaran susu formula di Indonesia adalah yang terbesar. Ini yang harus segera ditindak, jika kita ingin Indonesia memiliki generasi penerus bangsa yang lebih cerdas, sehat dan berakhlak baik.”</p>
<p>“Kami berharap, jurnalis dapat berperan sebagai perpanjangan tangan dari penyebaran informasi mengenai pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dan dampak negatif dari pemakaian susu formula pada anak-anak kita” seperti dikatakan Mia Sutanto, ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang juga anggota dari Koalisi Advokasi ASI. </p>
<p>Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi:</p>
<p>Koalisi Advokasi ASI Indonesia:  </p>
<p><strong>Kakak Foundation</strong><br />
Agus Pambagio<br />
Telp: 0271.716347 , 0271. 700145371, +62811802001<br />
pambagio@yahoo.com </p>
<p><strong>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)</strong><br />
Mia Sutanto SH, LL.M, KL<br />
Telp: 021.72790165, +6281510002584<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org </p>
<p><strong>Sentra Laktasi Indonesia (SELASI)</strong><br />
Dr.Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM<br />
Jl. Tebet Utara 1F no 12<br />
Telp: 021.83795168<br />
kontak@selasi.net </p>
<p><strong>Mercy Corps Indonesia</strong><br />
dr. Fransiska E. Mardiananingsih MPH, IBCLC<br />
Telp: 021.7194948<br />
fningsih@id.mercycorps.org </p>
<p><strong>Helen Keller International &#8211; Indonesia</strong><br />
Elviyanti Martini, MSc.<br />
Telp: 021.7199163<br />
emartini@hki.org </p>
<p><strong>World Health Organization (WHO)</strong><br />
Sugeng Eko Irianto, Ph.D<br />
Bina Mulia I, Floor 9.<br />
Jl. HR. Rasuna Said Kav. 10-11Jakarta 12950<br />
Telp : 021.5204349  </p>
<p><strong>Yayasan Orangtua Peduli (YOP) </strong><br />
Klub Peduli ASI<br />
Markas Sehat, Komp PWR No.60<br />
Jl Margasatwa Jakarta </p>
<p><strong>Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)</strong><br />
Pancoran Barat VII No. 1<br />
Duren Tiga, Jakarta 12760<br />
Telp: 021.7981858</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Siaran Pers ini telah dibaca 1353 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-koalisi-advokasi-asi-dialog-bersama-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Baru Digoda oleh Perusahaan Susu Formula Secara &#8216;Ilegal&#8217;</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/ibu-baru-digoda-oleh-perusahaan-susu-formula-secara-ilegal/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/ibu-baru-digoda-oleh-perusahaan-susu-formula-secara-ilegal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 16:24:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia, produsen susu formula telah banyak melakukan pelanggaran terhadap cara pemasaran produk mereka. Hal ini menyebabkan banyak para ibu yang lebih mengerti tentang produk-produk susu formula dibandingkan dengan ASI. Lebih disayangkan, para tenaga kesehatan pun banyak yang terpengaruh sehingga melupakan tugas mereka untuk memberikan informasi tentang ASI kepada para ibu. Simak artikel berikut yang diterjemahkan dari harian Jakarta Post, tentang pengaruh pemasaran susu formula terhadap pemberian ASI di Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>diterjemahkan dari artikel di <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2008/08/21/new-mothers-039illegally039-lured-formula-milk-companies.html">Jakarta Post</a> tgl. 21 Agustus 2008.</small></p>
<p>Wilson baru saja melewati ulang tahun pertamanya akhir pekan yang lalu dan ibunya tidak hanya sibuk untuk menyiapkan pestanya tapi juga sibuk meladeni pemasar produsen susu formula.</p>
<p>&#8220;Saya mendapat telpon dari dua perusahaan susu formula dan telah dikirimi contoh susu formula dari salah satu perusahaan tersebut. Saya rasa ini disebabkan karena sudah saatnya Wilson mengganti susu formulanya,&#8221; kata ibunya Wilson, Melvin.</p>
<p>&#8220;Saya melahirkan melalui operasi caesar. Setelah lahir, perawat membawa bayi saya kepada saya &#8230; dan kami mencoba untuk memberikan ASI kepadanya tapi tidak setetes pun ASI yang keluar. Jadi perawat tersebut menanyakan jika saya mau memberikan susu formula untuk bayi saya,&#8221; katanya.</p>
<p>Ibu tersebut menerima saran tersebut walaupun dia bisa saja memilih untuk tetap memberikan ASI.</p>
<p>&#8220;Saya diberitahu bahwa ASI lebih baik tapi produksi ASI saya tidak mencukupi. Saya rasa tidak ada masalah dengan susu formula. Sejauh ini anak saya sehat,&#8221; katanya.</p>
<p>Reni Ningsih, ibu dari anak berusia 3 tahun dan sedang hamil 6 bulan, menceritakan hal yang sama.</p>
<p>Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa perusahaan susu formula tersebut telah melanggar peraturan internasional dalam memasarkan produk mereka, atau bahwa para praktisi kesehatan seharusnya memberikan semangat kepada mereka untuk memberikan ASI sesuai yang tertulis pada SK menteri tahun 2004 tentang menyusui.</p>
<p>Perusahaan susu formula tidak diijinkan untuk menghubungi para ibu, dan perawat diharuskan untuk mempromosikan pemberian ASI sebagaimana diatur dalam regulasi WHA (<em>World Health Assembly</em>) tahun 1981 tentang pemasaran susu pengganti ASI.</p>
<p>Regulasi tersebut menyatakan bahwa semua rumah sakit dan tempat umum tidak boleh mempromosikan materi susu pengganti ASI. Dan, acara yang mengikut sertakan bayi tidak boleh memasang sponsor dari merek apa pun.</p>
<p>&#8220;Pelanggaran ini telah terjadi selama bertahun-tahun. Tidak banyak perubahan yang dilakukan semenjak kami mengeluarkan pamflet tentang pelanggaran ini di tahun 2006,&#8221; kata Sri Sukotjo, ahli gizi dari <em>United Nations Children&#8217;s Fund</em> (UNICEF).</p>
<p>Beliau juga mengatakan bahwa banyak rumah sakit yang masih menampilkan atau mempromosikan produk dalam bentuk poster, kotak tisu, jam dinding, timbangan dan tag nama bayi.</p>
<p>Beberapa perusahaan mendistribusikan pamflet di acara anak-anak, sementara banyak dari acara tersebut seringnya diselenggarakan atau disponsori oleh perusahan susu formula.</p>
<p>Kepala kesehatan dan gizi Unicef di Indonesia, Anne H. Vincent, bulan lalu mengatakan bahwa pemasaran susu formula yang sangat agresif dan dapat membuat para ibu beralih dari kegiatan menyusui langsung ke penggunaan botol susu.</p>
<p>Menurut data dari pemerintah, rata-rata nasional pemberian ASI turun menjadi 32.4 persen di tahun 2007 dari 42.4 persen 10 tahun yang lalu. Sedangkan rata-rata pemberian botol meningkat menjadi 27.9 persen dari 21.1 di periode yang sama.</p>
<p>Pemerintah juga telah berusaha untuk membatasi perusahaan pemasaran melalui SK menteri pada tahun 1997 tentang pemasaran susu formula. Tetapi RUU terbaru tentang susu pengganti ASI telah terlantar selama tiga tahun tanpa kejelasan status, tambah Anne.</p>
<p>Walikota Jakarta Pusat, Sylviana Murni, mengatakan pemerintah, yang tidak mendapat hukuman untuk tidak mengikuti peraturan ini, masih mendistribusikan informasi tentang ASI.</p>
<p>&#8220;Memang telah ada penurunan. Kami telah mensirkulasikan surat yang mengharapkan pengurangan eksposur, terutama di rumah sakit,&#8221; katanya</p>
<p>&#8220;Kampanye tentang pemberian ASI sebenarnya sangat intens, seperti pada kampanye anti merokok. Tetapi orang masih merokok walaupun perusahaan rokok telah menyatakan bahwa merokok berbahaya,&#8221; kata Sylviana. </p>
<p>Tidak hanya ibu-ibu yang dibombardir oleh iklan, tetapi juga beberapa rumah sakit yang dianggap tidak mendukung kegiatan menyusui walaupun telah didorong oleh pemerintah. </p>
<p>Mia Sutanto, ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), mengatakan dokternya menyarankan untuk memberikan bayinya (sekarang berumur 4 tahun) susu formula dan menakutinya dengan mengatakan bahwa berat bayinya akan berkurang jika tidak diberikan susu formula.</p>
<p>&#8220;Tapi sebenarnya bayi baru lahir dapat bertahan hidup tanpa cairan selama 48 jam dan berkurangnya berat badan merupakan hal normal bagi mereka,&#8221; katanya.</p>
<p>Mia mengatakan bahwa para ibu harus mengerjakan PR mereka agar tetap yakin untuk memberikan ASI dan mencari rumah sakit yang mendukung keputusan ini.</p>
<p>&#8220;Praktek standar rumah sakit tidak mendukung kegiatan menyusui. Beberapa dokter segan untuk melakukannya. Tanpa dukungan yang mencukupi dari para dokter, rumah sakit dan keluarga, beberapa ibu akan merasa kesulitan untuk menyusui,&#8221; katanya.</p>
<p>dr. Utami Roesli dari Sentra Laktasi Indonesia mengatakan bahwa kampanye untuk kegiatan menyusui ini ditujukan kepada kegagalan dari tenaga kesehatan, bukan ke para ibu.</p>
<p>&#8220;Para ibu yang tidak menyusui jangan merasa bersalah, karena itu akan tambah menyulitkan mereka untuk menyusui,&#8221; kata beliau.</p>
<p>&#8220;Ayah memerankan peranan penting. Sekarang, menyusui tidak hanya antara ibu dan anak tapi juga dengan ayah,&#8221; katanya. (mri)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/ibu-baru-digoda-oleh-perusahaan-susu-formula-secara-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemberian Makanan Bayi Pada Situasi Darurat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 03:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Tasya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[emergancy response]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Home Made]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Dalam situasi darurat seperti yang terjadi di Situ Gintung, banyak yang tergerak untuk membantu, termasuk memberi bantuan untuk bayi dan balita. Sayangnya bantuan yang masuk untuk mereka sering kali berubah menjadi sumber masalah baru bagi mereka. Bagaimana kah cara membantu anak-anak, bayi dan balita. Simak penuturan dari ketua divisi Advokasi AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang tega melihat korban tewas akibat musibah jebolnya Situ Gintung, apalagi melihat wajah bayi, balita dan anak-anak yang tak berdosa menjadi korbannya. Berbagai bantuan telah mengalir, termasuk beberapa kebutuhan untuk bayi dan balita.</p>
<p>Dalam konteks penanganan bencana, pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak bisa dilakukan dengan sembarangan agar bantuan yang akan kita berikan dengan niat baik, tidak berubah menjadi sumber permasalahan baru bagi korban yang selamat.</p>
<p>Untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat. Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat.</p>
<h3>Menyusui lebih penting</h3>
<p>Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung.</p>
<p>Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai.</p>
<p>Bahkan, Kode WHO, semua sumbangan susu formula atau produk lain dalam lingkup kode tersebut, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas.</p>
<p>Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<h3>Ibu Menjadi Korban Bencana</h3>
<p>Tak seorangpun tahu, siapa yang akan menjadi korban dalam sebuah bencana. Bisa jadi ibu yang menjadi tumpuan anaknya yang baru lahir, atau anak usia balita. Bila ibu masih bisa bertahan, sedapat mungkin menyusui masih diutamakan, yaitu dengan penilaian terhadap status menyusui seorang ibu oleh petugas terlatih dan upaya relaktasi.</p>
<p>Namun apabila memang tidak dimungkinkan pemberian ASI, misalnya bayi yang kehilangan ibunya atau bayi piatu, maka barulah susu formula dapat diberikan dengan catatan persediaan susu formula tersebut harus dijamin selama bayi membutuhkannya.</p>
<p>Maksud dari terjaminnya persediaan susu formula ini adalah agar susu formula dapat diberikan sesuai dengan takaran yang seharusnya, tidak terlalu cair yang dapat menyebabkan kurang gizi, maupun terlalu kental dimana dapat menyebabkan sembelit. Sedapat mungkin pemberian susu formula harus dibawah supervisi dan monitoring yang ketat oleh tenaga kesehatan yang terlatih.</p>
<p>Susu formula yang boleh diberikan hanya susu formula yang memenuhi standar <em>Codex Alimentarius</em> dan sebisa mungkin, susu formula yang diproduksi oleh pabrik yang melangggar Kode WHO, tidak boleh diterima. </p>
<p>Petunjuk pemberian susu formula harus tercantum jelas dalam label dan mempunyai masa kedaluarsa minimal 1 tahun. Pemberian susu formula pun hendaknya menggunakan cangkir dan gelas, sementara botol dan dot tidak boleh didistribusikan dan tidak dianjurkan untuk digunakan.</p>
<p>Untuk mengurangi bahaya pemberian susu formula, diupayakan untuk :</p>
<ul>
<li>menggunakan cangkir atau gelas yang mudah dibersihkan, diberikan sabun untuk mencuci</li>
<li>alat yang bersih untuk membuat susu dan menyimpannya</li>
<li>sediakan alat untuk menakar air dan susu bubuk (jangan gunakan botol susu)</li>
<li>bahan bakar dan air bersih yang cukup (bila memungkinkan gunakan air dalam kemasan)</li>
<li>kunjungan ulang untuk perawatan tambahan dan konseling</li>
<li>lanjutkan promosi menyusui untuk menghindari penggunaan susu formula bagi bayi yang ibunya masih bisa menyusui.</li>
</ul>
<p>Sumbangan berupa susu kental manis dan susu cair tidak boleh diberikan kepada bayi berumur kurang dari 12 bulan, sedangkan susu bubuk skim tidak boleh diberikan sebagai komoditas tunggal atau sebagai bagian dari distribusi makanan secara umum, karena dikhawatirkan akan digunakan sebagi pengganti ASI.</p>
<h3>Pedoman dari Departemen Kesehatan</h3>
<p>Pada intinya, pedoman pemberian makanan dalam keadaan darurat yang diberikan oleh Departemen Kesehatan sejalan dengan apa yang telah direkomendasikan bersama oleh UNICEF, WHO dan IDAI, yaitu menyusui sangat penting dalam keadaan darurat. Susu formula tidak diperkenankan diberikan kepada bayi kecuali kepada bayi piatu, bayi yang terpisah dari ibunya atau bila ibu dan bayi dalam keadaan sakit berat.</p>
<p>Apabila memang susu formula harus diberikan dikarenakan hal-hal tersebut, maka harus diberikan secara terbatas dengan mengikuti ketentuan berikut ini:</p>
<ol>
<li>hanya diberikan dengan pengawasan petugas kesehatan</li>
<li>diberikan dengan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan. Botol dan dot tidak dianjurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi</li>
<li>bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, oleh karena itu relaktasi harus diupayakan sesegera mungkin.</li>
</ol>
<p>Sumbangan susu formula pun harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Diberikan atas persetujuan Kepala Kantor Wilayah Depkes Propinsi setempat dan saat ini adalah Kepada Dinas Kesehatan.</li>
<li>Memenuhi standar <em>Codex Alimentarius</em></li>
<li>Mempunyai label yang jelas tentang cara penyajian dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu, pengasuh atau keluarganya</li>
<li>Mempunyai masa kedaluarsa sekurang-kurangnya 1 tahun terhitung sejak tanggal didistribusikan oleh produsen.</li>
<li>Disertai dengan air minum dalam kemasan.</li>
</ol>
<p>Selain itu susu bubuk skim tidak boleh diberikan kepada bayi.</p>
<p>Semoga setelah mengetahui ketentuan-ketentuan tersebut di atas, kita dapat membantu para korban yang masih selamat tanpa menyebabkan timbulnya permasalahan baru yang sesungguhnya dapat dihindari.</p>
<p>Apabila kita bekerja di suatu perusahaan dimana program <em>Corporate Social Responsibility</em> (CSR) berniat untuk menyumbangkan susu formula, maka adalah tanggung jawab kita untuk memberitahukan pada mereka bahwa terdapat pembatasan-pembatasan atas sumbangan dalam bentuk susu formula sehingga perusahaan tidak salah langkah dalam membantu para korban bencana.</p>
<p>Doa kami semua untuk para korban musibah Situ Gintung, semoga musibah seperti ini tidak terjadi lagi di Negara kita tercinta.</p>
<p>Apabila memerlukan <em>backup</em> data seperti <em>copy</em> rekomendasi bersama UNICEF, WHO dan IDAI serta pedoman dari DEPKES, bisa menghubungi japri amanda[dot]tasya[at]aimi-asi[dot]org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui lah!!!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/10/menyusui-lah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/10/menyusui-lah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 23:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah artikel yang sangat bagus yang menggambarkan bagaimana gigihnya produsen susu formula dalam memasarkan produknya, yang mengakibatkan banyaknya para ibu beralih dari ASI. Simak pemaparan Pat Thomas dari The Ecologist dalam artikel ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>diterjemahkan dari artikel <a href="http://www.theecologist.org/pages/archive_detail.asp?content_id=586">Suck on This!</a></p>
<p>Manusia telah menyusui selama hampir setengah juta tahun. Hanya 60 tahun terakhir ini mulai memberikan makanan cepat saji yang diproses oleh pabrik, yang dikenal dengan &#8216;susu formula&#8217; kepada bayi kita. Akibatnya sangat mengejutkan, seperti kematian bayi pada 6 minggu pertama kehidupannya 2x lebih tinggi, 5x lebih tinggi kemungkinan mendapat <em>gastroenteritis</em>, 2x lebih tinggi terkena penyakit kulit (<em>eczema</em>) dan diabetes, dan sampai 8x kali lebih tinggi untuk mendapat kanker getah bening.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/10/10-menyusui-230x300.jpg" alt="Menyusui langsung dari dada ibu" width="230" height="300" class="right" />Pabrik susu formula di UK mengeluarkan uang sebesar £20 (Rp. 330,000) per bayi untuk mempromosikan &#8216;junk food&#8217; bayi, bandingkan dengan pengeluaran pemerintah yang hanya 14 pence (Rp. 2,300) per bayi untuk mempromosikan kegiatan menyusui. Artikel ini memaparkan dimana produsen susu bayi, profesional kesehatan yang cuek, and tidak adanya rasa peduli dari masyarakat telah secara tak langsung berkomplot untuk mejauhkan bayi dari dada ibunya dan memberikan dot sebagai pengganti. Dapatkah kita memutar balikkan kecendrungan ini?</p>
<p>Semua mamalia menghasilkan susu untuk anaknya, dan manusia telah mengasuh bayinya di payudara selama 400,000 tahun. Selama berabad-abad, kalau seorang wanita tidak bisa memberi makan bayinya sendiri maka wanita lain (ibu susu) akan menggantikannya. Hanya pada 60 tahun terakhir ini kita telah meninggalkan naluri mamalia kita, malahan merangkul budaya pemberian botol yang bukan hanya menganjurkan pemberikan susu formula semenjak bayi lahir, tapi juga meyakinkan bahwa pengganti ASI sama bagusnya, jika tidak lebih baik, dari pada ASI itu sendiri.</p>
<p>Susu formula tidak pernah dimaksudkan untuk dikonsumsi secara luas seperti sekarang ini. Susu formula dihasilkan pada akhir tahun 1800-an sebagai pengganti makanan yang diperlukan untuk bayi-bayi terlantar dan anak-anak yatim piatu yang akan kelaparan jika tidak mendapatkannya. Dalam konteks ini – dimana tidak ada makanan lain yang tersedia – susu formula menjadi penyelamat.</p>
<p>Tapi dengan sejalannya waktu dan kemajuan ilmu gizi manusia (khususnya nutrisi bayi secara) menjadi sangat &#8216;ilmiah&#8217;, pengganti ASI yang diproduksi dijual ke masyarakat umum sebagai perbaikan terhadap ASI itu sendiri.</p>
<p>&#8216;Jika seseorang menanyakan &#8220;Susu formula mana yang sebaiknya saya gunakan?&#8221; atau &#8220;Mana yang terdekat dengan ASI?&#8221;, jawabannya adalah &#8220;Tidak seorangpun tahu&#8221; karena tidak ada satu sumber pun yang objektif mengenai ini pernah dibuat,&#8217; kata Mary Smale, konselor ASI dari National Childbirth Trust (NCT) yang telah bekerja disana selama 28 tahun. &#8216;Hanya pembuat di pabrik-pabrik itu lah yang tahu isinya, dan mereka tidak memberitahu siapa pun.&#8217; Mereka bisa saja mengiklankan bahan-bahan &#8216;sehat&#8217; yang spesial seperti <em>oligosaccharides</em>, <em>long-chain fatty acids</em>, atau, beberapa waktu lalu, <em>beta-carotene</em>, tapi mereka tidak pernah memberitahukan kita dari mana produk dasarnya dibuat atau dari mana bahan-bahan tersebut diperoleh.</p>
<p>Bagian pokok dari ASI yang telah diketahui, dipakai sebagai referensi umum untuk ilmuwan meramu susu formula bayi. Tapi, sampai hari ini, tidak ada &#8216;formula&#8217; sebenarnya untuk susu formula. Malahan, proses pembuatan susu formula selama ini merupakan eksperimen.</p>
<p>Dengan alasan ini, produsen susu formula bisa menaruh apa saja ke dalam formula mereka. Sebenarnya, setiap produk mempunyai resep yang berbeda dari satu produksi ke produksi lainnya, tergantung dari harga dan ketersediaan dari bahan-bahan yang diperlukan. Selama ini kita berasumsi kalau susu formula diatur dengan ketat, padahal para produsen tersebut tidak diharuskan untuk transparan; contohnya, mereka tidak diharuskan untuk mencatatkan bahan-bahan spesifik dari produksi atau merek mereka ke pihak berwajib.</p>
<p>Sebagian besar susu formula yang ada dipasaran berasal dari susu sapi. Tapi sebelum bayi bisa meminum susu sapi dalam bentuk formula ini, susu tersebut harus dimodifikasi secara drastis. Isi protein dan mineral harus dikurangi dan isi karbohidratnya ditambah, biasanya dengan menambahkan gula. Lemak susu, yang biasanya tidak gampang terserap oleh tubuh, dihilangkan dan diganti dengan lemak tumbuhan, lemak binatang atau lemak mineral.</p>
<p>Vitamin dan zat tambahan masuk dalam proses penambahan, tapi tidak selalu dalam bentuk yang gampang dicerna. (Ini berarti klaim yang mengatakan bahwa susu formula &#8216;bergizi lengkap&#8217; memang benar, tapi hanya dalam artian yang paling kasar yaitu susu formula sudah menambahkan vitamin dan mineral selengkap mungkin ke dalam produk gizi bermutu rendah)</p>
<p>Banyak susu formula yang juga telah ditambahkan pemanis. Meskipun kebanyakan susu formula untuk bayi tidak mengandung gula dalam bentuk <em>sucrose</em>, mereka kadang dapat mengandung tipe gula bentuk lainnya yang sangat tinggi seperti <em>lactose</em> (gula susu), <em>fructose</em> (gula buah), <em>glucose</em> (juga dikenal dengan <em>dextrose</em>, sejenis gula yang ditemukan pada tumbuh-tumbuhan) dan <em>maltodextrose</em> (gula malt). Hal ini dikarenakan oleh adanya kekurangan dalam peraturan, sehingga segala bentuk gula ini masih bisa diiklankan sebagai ‘bebas gula’.</p>
<p>Formula juga mungkin mengandung zat pencemar yang tidak sengaja masuk sewaktu proses produksi. Beberapa mungkin mengandung soya dan jagung yang telah direkayasa secara genetis.</p>
<p>Bakteri Salmonella dan <em>aflatoxins</em> – <em>potent toxic</em>, <em>carcinogenic</em>, <em>mutagenic</em>, agen penahan imun yang dihasilkan oleh spesies jamur <em>Aspergillus</em> – telah sering ditemukan pada susu formula di pasaran, begitu juga dengan <em>Enterobacter sakazakii</em>, patogen yang dibawa oleh makanan yang dapat menyebabkan <em>sepsis</em> (infeksi bakteria yang berlebihan pada saluran darah), <em>meningitis</em> (radang selaput otak) dan <em>necrotising enterocolitis</em> (infeksi dan radang pada usus besar dan usus kecil) pada bayi baru lahir.</p>
<p>Pengepakan susu formula kadang-kadang tercemar dengan pecahan kaca dan pecahan-pecahan logam serta bahan-bahan industri kimia seperti <em>phthalates</em> dan <em>bispenol A</em> (keduanya merupakan penyebab kanker) dan baru-baru ini, di bagian pengepakan terdapat <em>isopropyl thioxanthone</em> (ITX; juga dicurigai sebagai penyebab kanker).</p>
<p>Susu formula bayi juga mungkin mengandung kadar racun atau logam berat, seperti aluminium, mangan, kadmium dan timbal yang berlebih.</p>
<p>Yang harus diperhatikan secara khusus adalah susu formula soya karena tingginya level tanaman yang dihasilkan dengan <em>oestrogen</em> (<em>phytoestrogen</em>) yang terdapat di dalamnya. Malahan, konsentrasi <em>phytoestrogen</em> yang terdeteksi di dalam darah bayi yang mengkonsumsi susu formula soya bisa mencapai 13,000 – 22,000 kali lebih tinggi dari konsentrasi <em>oestrogen</em> alami. <em>Oestrogen</em> dalam dosis yang lebih tinggi dari yang biasa ditemukan di dalam tubuh dapat menyebabkan kanker.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/10/menyusui-lah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

