<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Kode Internasional Pemasaran Susu Formula</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/kode-internasional-pemasaran-susu-formula/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 01:59:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Ulasan Poling November 2010 &#8211; Pelanggaran Marketing Susu Formula</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/12/ulasan-poling-november-2010-pelanggaran-marketing-susu-formula/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/12/ulasan-poling-november-2010-pelanggaran-marketing-susu-formula/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Dec 2010 00:39:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggie Mursyidan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1164</guid>
		<description><![CDATA[Penggunaan susu formula di Indonesia semakin meningkat sedangkan pemberian ASI justru menurun. Meski mulai banyak kesadaran akan pemberian air susu ibu secara eksklusif, para ibu sering kali ragu dan tergoda menggunakan susu formula saat proses menyusuinya tidak lancar atau terjadi permasalahan pada bayi. Padahal jika ada kendala saat menyusui, para ibu bersama bayinya bisa segera [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Penggunaan susu formula di Indonesia semakin meningkat sedangkan pemberian ASI justru menurun. Meski mulai banyak kesadaran akan pemberian air susu ibu secara eksklusif, para ibu sering kali ragu dan tergoda menggunakan susu formula saat proses menyusuinya tidak lancar atau terjadi permasalahan pada bayi. Padahal jika ada kendala saat menyusui, para ibu bersama bayinya bisa segera mendapatkan bantuan ke klinik laktasi. </p>
<p>Penyebab meningkatnya penggunaan susu formula sebagai pengganti ASI antara lain dikarenakan gencarnya pemasaran produk susu formula, bahkan promosi dilakukan secara berlebihan hingga melanggar <em>The International Code of Marketing of Breastmilk Substitutes</em> yang dikeluarkan WHO  pada tahun 1981, selanjutnya disebut KODE WHO.</p>
<p>Merupakan pelanggaran jika menawarkan produk susu formula lewat telepon kepada ibu yang baru melahirkan. Pasal 5.5 Kode WHO secara jelas menyebutkan:</p>
<blockquote><p>“Personil pemasaran, dalam kapasitas bisnisnya, harusnya tidak melakukan kontak langsung atau tidak langsung dalam bentuk apapun juga dengan perempuan hamil atau dengan ibu dari bayi atau anak (balita).”</p></blockquote>
<p>Selain berpromosi langsung, berikut beberapa larangan pemasaran susu formula / pengganti ASI oleh Kode WHO dalam memasarkan produknya:</p>
<ul>
<li>Dilarang mengiklankan susu formula dan produk lain kepada masyarakat.</li>
<li>Dilarang memberikan sampel gratis kepada ibu-ibu.</li>
<li>Dilarang promosi susu formula di sarana pelayanan kesehatan.</li>
<li>Staf perusahaan tidak diperkenankan memberikan nasihat tentang susu formula kepada ibu-ibu.</li>
<li>Dilarang memberikan hadiah atau sampel kepada petugas kesehatan.</li>
<li>Dilarang membuat gambar bayi atau gambar lainnya yang mengidealkan susu formula pada label produk.</li>
<li>Informasi kepada petugas kesehatan harus bersifat faktual dan ilmiah.</li>
<li>Informasi tentang susu formula, termasuk pada label, harus menjelaskan keuntungan menyusui dan biaya serta bahaya pemberian susu buatan.</li>
<li>Penjelasan tentang penggunaan susu formula hanya dibolehkan untuk beberapa ibu yang betul-betul memerlukannya. </li>
</ul>
<p>Jadi semua pilihan jawaban pada polling adalah benar.</p>
<p>Selain itu, gencarnya promosi susu formula menyebabkan masyarakat menganggap susu formula adalah pilihan selain ASI, dengan menyebutkan keunggulan zat yang ditambahkan pada susu formula. Padahal ASI mengandung segala zat yang dibutuhkan bayi, termasuk zat-zat yang ditambahkan dan diiklankan pada susu formula.</p>
<p>Di negara-negara lain, susu formula hanya boleh dijual di farmasi, bahkan di beberapa negara tertentu pembelian susu formula harus menggunakan resep. Susu formula diberikan sebagai obat rujukan apabila bayi berada pada kondisi tertentu.</p>
<p>Penerapan kode etik pemasaran produk di Indonesia harus secepatnya dilakukan. Karena menurut penelitian UNICEF, Indonesia merupakan salah satu negara yang angka pemberian ASI eksklusifnya sangat rendah. Pelanggaran kode etik pemasaran  produk khususnya susu formula sangat luar biasa, yaitu terjadi semua media, menembus jajaran petugas kesehatan, dan langsung ke konsumen.</p>
<p>Untuk melawan iklan penggunaan susu formula oleh perusahaan susu formula memang sulit. Promosi pentingnya pemberian ASI kalah jauh dengan iklan susu formula buatan pabrik.  Hal yang bisa dilakukan adalah membangun kesadaran penggunaan ASI secara terus-menerus.</p>
<p>Jika praktek pemasaran susu formula pengganti ASI diawasi, diharapkan ibu dapat terlindungi dari praktek pemasaran susu formula pengganti ASI yang tidak etis dan melanggar larangan KODE WHO.</p>
<p>Anda pernah melihat atau mengalami pelanggaran promosi susu formula? AIMI menghimbau masyarakat untuk segera melaporkan setiap dugaan pelanggaran promosi susu formula melalui e-mail ke lapor[at]aimi-asi.org. Agar AIMI dapat menindaklanjuti dugaan pelanggaran, sertakan bukti pelanggaran seperti foto, rekaman suara, potongan iklan maupun bukti lainnya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/12/ulasan-poling-november-2010-pelanggaran-marketing-susu-formula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui; Dari &#8216;Biasa&#8217; Menjadi &#8216;Tidak Biasa&#8217;</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/07/menyusui-dari-biasa-menjadi-tidak-biasa/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/07/menyusui-dari-biasa-menjadi-tidak-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 02:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=918</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu sekali menyusui anak adalah hal wajar yang dilakukan oleh para ibu untuk bayinya. Tapi sekarang dengan bertambah majunya zaman, banyak ibu yang telah meninggalkan kebiasan ini, sehingga banyak anak yang terlihat memegang botol kemanapun mereka pergi. Sesuatu yang 'biasa' telah menjadi 'tidak biasa' dan begitu juga sebaliknya. Kenapa dan sejak kapan ini terjadi?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coba kita perhatikan di lingkungan sekitar kita, lingkungan rumah, pertokoan sampai kendaraan umum. Atau kita juga bisa lihat di media seperti televisi, koran, majalah dan internet. Mana yang lebih sering kita lihat? Gambaran ibu menyusui atau ibu memberikan susu dalam botol kepada bayi atau anaknya?</p>
<p>Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada saya, maka jawabannya adalah saya lebih sering lihat bayi yang diberikan susu melalui botol. Mulai dari yang bayi baru lahir sampai anak-anak usia dibawah lima tahun (bahkan kadang-kadang saya pernah menemui anak usia sekolah) yang masih memegang botol susu kemanapun mereka pergi. Ada yang isi botolnya terlihat seperti susu formula, tapi tidak sedikit yang saya lihat botolnya berisi air putih, teh dan juga susu yang berasal dari susu kental manis (yang sudah jelas-jelas tertulis di kemasannya: “Perhatikan! Tidak cocok untuk bayi.”) Sepertinya ini sudah merupakan hal yang ’biasa’ kita lihat sehari-hari. Padahal jika kita melihat kembali ke beberapa abad yang lampau, nampaknya menyusuilah yang yang ‘biasa’ dilihat.</p>
<p>Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah semua ibu pada beberapa abad silam tersebut menyusui bayinya? Jawabannya <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-nia-nabil-300x262.jpg" alt="" title="07-nia-nabil" width="300" height="262" class="alignright size-medium wp-image-922" />tidak semua, ada segelintir ibu yang tidak menyusui bayinya. Ada yang mempekerjakan ibu susuan (atau dikenal juga dengan istilah <em>wet nurse</em>). Biasanya ibu susuan ini dibayar untuk menggantikan ibu susu yang berhalangan untuk bisa menyusui karena bekerja atau karena profesinya sebagai bangsawan di kalangan elit di Eropa. Bisa dibilang, ibu susuan merupakan profesi yang cukup diminati. Pada masanya, menjadi ibu susuan mirip dengan memberikan layanan katering. Jasa katering yang biasa dipakai bangsawan dan kerajaan memiliki tarif berbeda dengan katering untuk rakyat biasa. Mirip dengan status ibu susuan yang juga bergantung pada anak siapa yang disusuin. Semakin tinggi derajat bayi yang disusui, maka semakin tinggi kelas si ibu susuan, walaupun tujuannya sama: memberikan nutrisi dan kepuasan bagi pelanggan akan ASI.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-1' id='fnref-918-1'>1</a></sup></p>
<p>Ada satu kisah yang sangat menarik juga mengenai ibu susuan dan merupakan salah satu ibu susuan yang ternama di tahun 1831, Judith Waterford. Di usianya yang ke 81 tahun, dia menunjukkan bahwa dia masih bisa menyusui dan memerah ASInya. Dia menyusui enam anaknya sendiri, delapan anak susuan rutin dan banyak lagi anak-anak teman dan tetangganya. Bahkan yang paling kita juga sering dengar kisahnya adalah Halimatus Saadiah yang menyusui Nabi Muhammad SAW dan ada juga kisah Naomi di kitab Perjanjian Lama yang menyusui kembali cucunya agar Ruth, ibu dari bayinya, bisa ikut berperang setelah suaminya terbunuh.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-2' id='fnref-918-2'>2</a></sup></p>
<p>Jadi saya kembali ke pertanyaan awal, mengapa sekarang, setelah ribuan tahun manusia yang tergolong mahluk mamalia yang bertahan hidup beribu-ribu tahun lamanya karena mendapatkan ASI ibunya setelah kelahirannya, pada beberapa abad terakhir justru malah melihat proses menyusui menjadi hal yang ‘tidak biasa’? Apa penyebabnya dan mengapa ini bisa terjadi? </p>
<h3>Awal Mulanya&#8230;</h3>
<p>Di  akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, dunia diguncangkan dengan adanya Revolusi Industri. Diawali dengan ditemukannya mesin uap oleh George Stevenson. Sejak saat ini, semua orang berlomba-lomba membuat mesin dan mulai meninggalkan peralatan kerja sederhana untuk mulai bekerja di pabrik-pabrik. Perekonomian di Inggris tumbuh pesat dan tidak lama kemudian Inggris menjadi sangat terkenal akan inovasi dan dihormati oleh banyak pihak di dunia. Revolusi Industri pun dengan cepat ditiru oleh banyak negara. Hal ini lalu diikuti dengan lahirnya produk makanan pengganti ASI. Pada tahun 1860an, seorang ahli kimia, Justus von Liebeg menemukan ‘makanan yang cocok untuk bayi’ yang terbuat dari campuran tepung gandum, susu sapi dan bahan-bahan lainnya dan dalam bentuk cair. Pada awalnya penjualan produk ini tidak terlalu bagus dan Liebig selalu merasa terganggu bila ada dokter yang melaporkan bahwa makanan ini tidak mudah dicerna oleh bayi.</p>
<p>Walaupun ada keluhan-keluhan tersebut, namun tidak mengurangi semangat seorang Jerman lainnya yang bernama Henri Nestlé, seorang penyalur makanan yang mengklaim telah menyelamatkan seorang bayi yang menolak menyusu pada ibunya dan menolak makanan lain. Bayi tersebut bisa mengonsumsi ‘Susu Makanan Nestlé’. Pada tahun 1873 saja Nestlé sudah berhasil 500.000 boks per tahun di Eropa, Amerika Serikat, Argentina dan Meksiko.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-3' id='fnref-918-3'>3</a></sup></p>
<p>Pada era ini inovasi dalam teknologi  dan metode ‘<em>modern</em>’ menjadi tren. Perempuan merasa ‘terbebaskan’ dari tugas alaminya dari penemuan ini dan banyak yang menganggap ini sebagai ‘pembebasan’. Membaiknya industri peternakan juga membuat produksi susu berlebih. Pada tahun 1853 susu kental manis ditemukan dan mulai sejak 1891 sudah muncul modifikasi lain dalam susu sapi sehingga membuat para bayi untuk pertama kalinya bisa meminum susu sapi tanpa melibatkan salah satu pun anggota keluarganya membuat ‘kontak langsung’ dengan seekor sapi. Pada 1897 botol susu mulai dipatenkan dan semua ini diiklankan dan dipromosikan sebagai produk ideal bagi bayi dan dijual langsung ke pasar. Ada pula para dokter yang melayani para pasien-pasien kaya, di mana dokternya membuatkan sendiri ‘formula’ khusus yang cocok untuk bagi setiap bayi. Namun ‘formula’ ini tidak bertahan lama karena sangat rentan dan tidak terlalu mudah diakses, karena campurannya berubah dan dalam beberapa minggu orangtua si bayi harus berulang kali kembali ke dokter tersebut untuk membeli susu dengan ‘formula’ baru.</p>
<p>Ketika para dokter berusaha menyebarkan manfaat ‘formula’ yang mereka buat, para orang tua lebih tertarik dengan makanan bayi yang dijual bebas di pasaran. Makanan ini mudah didapat dan sudah mulai diiklankan mulai dari majalah, jurnal kesehatan dan jauh lebih mudah diolah dibanding kan ‘formula’ yang dibuat khusus oleh dokter anak. Para produsen ini menyadari kelemahan ‘formula’ yang dibuat oleh para dokter dan mulai menggandeng dokter dalam memasarkan produk mereka. Pada tahun 1911 seorang dokter bernegosisasi dengan Mead-Jhonson untuk membuat formula yang dia miliki bernama Dextri-Maltrose dan produk ini dites pada bangsal bayi di New York Post-Graduate Hospital. Sejak saat itu pulalah para dokter mulai merekomendasikan merek-merek tertentu untuk diberikan kepada bayi. Kedekatan hubungan antara para dokter dan produsen di Amerika Serikat inilah yang akhirnya dijadikan model dan strategi pemasaran produk makanan pengganti untuk para bayi di belahan dunia lain.</p>
<p>Kemajuan teknologi dalam memproses makanan yang terbuat dari susu (termasuk membuat susu menjadi dalam bentuk bubuk) memudahkan transportasi dan distribusinya. Tidak lama setelah perang dunia kedua, pemberian susu botol menjadi metode yang lazim dilakukan di Amerika Serikat dan sebagain negara-negara di Eropa. Persentase menyusui menurun drastis hingga setengahnya mulai dari tahun 1946. Pada tahun 1967 hanya 25% bayi di Amerika Serikat yang dilahirkan di RS yang mendapatkan ASI.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-4' id='fnref-918-4'>4</a></sup> Hal ini mengakibatkan banyak ibu tidak bisa menyusui bayinya dan menyulitkan para ibu untuk bisa menyusui. Hanya sedikit ibu yang masih bisa menyusui dan inipun jika mendapatkan dukungan dan bantuan yang tepat. Pada tahun 1960an dan 1970an memberikan susu botol kepada bayi sudah menjadi hal yang ‘normal’ dilakukan kepada bayi.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-5' id='fnref-918-5'>5</a></sup></p>
<h3>Apa yang ‘Biasa’ Belum Tentu ‘Benar’</h3>
<p>Akibat dari maraknya penjualan susu formula dan menurunnya prosentase bayi yang mendapatkan ASI, ditambah banyaknya riset-riset yang menunjukkan keunggulan ASI, mengakibatkan lahirnya Kode Etik Pemasaran Produk Pengganti ASI oleh WHO. Kode ini bersifat fleksibel di setiap negara dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara dan bertujuan melindungi para orang tua untuk bisa memberikan ASI bagi anak-anak mereka. Ada pun isi dari kode etik ini adalah:</p>
<p>Kode etik ini berlaku untuk: Susu buatan untuk bayi, Produk-produk yang digunakan untuk memberi asupan kepada bayi, terutama produk yang digunakan dengan botol susu atau untuk bayi berumur di bawah 6 bulan. Kode etik ini juga berlaku untuk produk botol susu atau dot bayi/empeng.</p>
<p>Berikut adalah 10 poin penting dari Kode Etik tersebut:</p>
<ol>
<li>tidak boleh ada iklan dari semua produk dalam kategori di atas, yang ditujukan untuk publik.</li>
<li>tidak boleh ada contoh gratis untuk ibu-ibu.</li>
<li>tidak boleh ada media promosi (penempatan media atau iklan) di lokasi fasilitas kesehatan, termasuk pembagian contoh gratis atau contoh yang dimurahkan.</li>
<li>tidak boleh ada petugas penjualan (sales representatif) dari perusahaan yang menjadi/memberi konsultansi kepada ibu-ibu.</li>
<li>tidak boleh ada pembagian contoh produk gratis kepada petugas kesehatan.</li>
<li>tidak boleh ada kata-kata (slogan) atau gambar yang menunjukkan bahwa asupan non-asi itu lebih baik, atau gambar bayi (yang sehat) pada label kemasan produk susu.</li>
<li>informasi yang diberikan kepada petugas kesehatan hanyalah yang bersifat scientific/ilmiah dan faktual.</li>
<li>semua informasi tentang asupan non-asi, termasuk pada label kemasan produk, harus mencantumkan manfaat asi, dan risiko serta bahaya yang berkaitan dengan penggunaan asupan non-asi.</li>
<li>produk yang belum saatnya diberikan kepada bayi, seperti pemanis yang padat, tidak boleh dipromosikan kepada bayi (orang tua atau keluarga dengan bayi).</li>
<li>untuk menghindari benturan kepentingan, para profesional di bidang kesehatan yang bekerja untuk bayi dan anak-anak, tidak boleh menerima dukungan keuangan dari produsen makanan bayi atau anak.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-6' id='fnref-918-6'>6</a></sup></li>
</ol>
<p>Namun sampai saat ini masih bisa kita temukan pelanggaran-pelanggaran kode etik ini. Salah satu yang paling kita sering jumpai adalah: iklan (walaupun iklannya membahas tentang ASI dan tidak memperlihatkan produk tertentu) atau poster di RS, hadiah-hadiah di RS seperti jam dinding, kalender, pulpen. Ini merupakan hal yang ‘biasa’ kita temukan dan dianggap sebagai hal yang ‘biasa’ saja oleh kita. Padahal hal ini melanggar kode etik dari pemasaran produk pengganti ASI. </p>
<p>Kita juga sudah ter‘biasa’ mendengar pertanyaan “oh masih ASI ya Bu? Sudah <em>dibantu</em> susu formula?”. Kenapa saya tulis miring kata ‘dibantu’? Karena dari berbagai sumber dan penelitian menunjukkan bahwa dalam manajemen laktasi yang baik, ketika seorang bayi mendapatkan ‘bantuan’ berupa susu formula, maka sedikit banyak itu akan mengakibat kesulitan menyusui pada si bayi. Padahal banyak orang berpikir susu formula ini hadir untuk ‘membantu’. </p>
<p>Beberapa hari yang lalu, saya mendapat sebuah undangan untuk menghadiri sebuah seminar mengenai ASI. Pada undangan tersebut, terdapat foto ibu sedang memberikan susu botol kepada bayinya. Ketika saya bertanya ke teman-teman saya, jawabannya adalah “yah berpikir positif saja.. jangan-jangan didalam botol itu ASI”. Padahal jika dipikir dengan bahasa komunikasi, foto tersebut jelas-jelas menggambarkan pemberian asupan selain ASI, karena ‘biasa’nya pemberian ASI dilakukan langsung dari payudara ibu. Bisa kita cermati bersama bagaimana kondisi ‘biasa’ ini bisa terputarbalikkan. </p>
<p>Mudah-mudahan seiring dengan kesadaran untuk kembali ke ASI dan majunya teknologi informasi seperti internet, media dan lain-lain bisa membantu para orang tua mengingatkan apa asupan yang sebenarnya ‘biasa’ dan alamiah untuk anak-anak mereka, yakni ASI.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 1877 kali.</p>
<div class='footnotes'>
<div class='footnotedivider'></div>
<ol>
<li id='fn-918-1'>Palmer, G. The Politics of Breastfeeding, 1988. p. 134 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-1'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-2'>Groskop, Viv. <a href="http://www.guardian.co.uk/society/2007/jan/05/health.medicineandhealth">Not your mother&#8217;s milk</a> <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-2'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-3'>Palmer, G. The Politics of Breastfeeding, 1988. p. 163 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-3'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-4'>Jellife, Human Milk in the Modern World, 1978, p. 189 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-4'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-5'>Palmer, G. The Politics of Breastfeeding, 1988. p. 178 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-5'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-6'>Terjemahan bebas dari <a href="http://www.asipasti.co.cc/2008/01/kode-etik-internasional-untuk-promosi.html">kode etik WHO</a> <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-6'>&#8617;</a></span></li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/07/menyusui-dari-biasa-menjadi-tidak-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Himbauan AIMI Untuk Donasi Gempa Padang</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 16:08:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[depkes]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[WHO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[AIMI menghimbau agar rekan-rekan dari kalangan profesional, pemerhati kesehatan dan CSR organisasi / perusahaan agar tidak mendonasikan susu formula dan / atau makanan instan ke daerah bencana. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yth Rekan-rekan Profesional, Pemerhati Kesehatan dan CSR Organisasi,</p>
<p>Sedih rasanya melihat Indonesia kembali diguncang gempa berskala besar di kawasan Sumatera &#8211; Padang dan Jambi &#8211; pada tanggal 30 September dan 1 Oktober yang lalu. Tidak terhitung berapa banyak saudara kita yang kehilangan orang tua, anak, sanak saudara, rumah tinggal dan nyawa. Menurut berbagai sumber, sampai dengan hari Jumat, 2 Oktober 2009 yang lalu, jumlah korban meninggal di Padang sudah mencapai 529 orang,  luka berat 83 orang, dan luka ringan 2094 orang. Sementara di Jambi pun tidak kalah banyaknya. </p>
<p>Dari setiap bencana yang terjadi, korban yang paling menderita tentu saja ibu, bayi dan anak-anak di bawah dua tahun. Sayangnya, penanganan terhadap mereka (khususnya bayi dan anak-anak baduta) seringkali tidak sesuai. Alih-allih menyelamatkan mereka, banyak bayi dan anak-anak baduta yang menjadi sakit dan yang parah, angka kematian mereka pun meningkat.</p>
<p>Dalam konteks penanganan bencana, pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak bisa dilakukan dengan sembarangan agar bantuan yang akan kita berikan dengan niat baik, tidak berubah menjadi sumber permasalahan baru bagi korban yang selamat. Untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat. </p>
<p>Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat Menyusui lebih penting Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung. </p>
<p>Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai. Bahkan, Kode WHO, semua sumbangan susu formula atau produk lain dalam lingkup kode tersebut, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas. Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut : </p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.
</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<p>Pada intinya, pedoman pemberian makanan dalam keadaan darurat yang diberikan oleh Departemen Kesehatan sejalan dengan apa yang telah direkomendasikan bersama oleh UNICEF, WHO dan IDAI, yaitu menyusui sangat penting dalam keadaan darurat. Susu formula tidak diperkenankan diberikan kepada bayi kecuali kepada bayi piatu, bayi yang terpisah dari ibunya atau bila ibu dan bayi dalam keadaan sakit berat.</p>
<p>Apabila memang susu formula harus diberikan dikarenakan hal-hal tersebut, maka harus diberikan secara terbatas dengan mengikuti ketentuan berikut ini: </p>
<ol>
<li>Hanya diberikan dengan pengawasan petugas kesehatan </li>
<li>Diberikan dengan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan. Botol dan dot tidak dianjurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi </li>
<li>Bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, oleh karena itu relaktasi harus diupayakan sesegera mungkin </li>
</ol>
<p>Oleh karena itu, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan dan menghimbau kepada seluruh organisasi profesi, kesehatan, profesional dan perusahaan untuk tidak memberikan sumbangan dalam bentuk susu formula / makanan instan yang bertujuan untuk menggantikan ASI. </p>
<p>Adalah tanggungjawab kita bersama untuk menjamin kesehatan dan keselesamatan korban bencana, terutama ibu, bayi dan anak-anak baduta dengan mendukung dan mengutamakan pemberian ASI sebagai langkah utama dalam situasi darurat. </p>
<p>Salam,<br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584</p>
<p>Fact Sheet AIMI :<br />
AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.</p>
<p>Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rangkuman Pemberian Makan Bayi Di Situasi Darurat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/rangkuman-pemberian-makan-bayi-di-situasi-darurat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/rangkuman-pemberian-makan-bayi-di-situasi-darurat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 11:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Tasya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[balita]]></category>
		<category><![CDATA[batuta]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[depkes]]></category>
		<category><![CDATA[emergancy response]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[IDAI]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[situasi darurat]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>
		<category><![CDATA[UNICEF]]></category>
		<category><![CDATA[WHO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Bencana telah sering menimpa negara kita, dan seperti biasa kita selalu tergerak untuk meringankan beban saudara kita yang terkena musibah, baik secara perorangan maupun melalui organisasi dan lembaga-lembaga. Sayang, banyak dari kita dan organisasi / lembaga yang masih kurang mengerti tentang bahaya pemberian susu formula maupun makanan instan untuk daerah bencana. Berikut rangkuman pemberian makanan bayi di saat darurat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rekomendasi Bersama UNICEF, WHO, IDAI &#8211; Jakarta, 7 Januari 2005</p>
<p><strong>Tentang menyusui dalam keadaan darurat</strong></p>
<ul>
<li>Menyusui menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan kesinambungan ketersediaan susu formula dalam jumlah yang memadai.</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus di monitor oleh tenaga yang terlatih, sesuai dengan beberapa prinsip dibawah ini:</li>
<p><strong>Susu formula hanya boleh diberikan pada keadaan sangat terbatas</strong>, yaitu:</p>
<ul>
<li>Telah dilakukan penilaian terhadap status menyusui dari ibu, dan relaktasi tidak memungkinkan</li>
<li>Diberikan hanya kepada anak yang tidak dapat menyusu, misalnya: anak piatu dll</li>
<li>Bagi bayi piatu dan bayi yang ibunya tidak lagi bisa menyusui, persediaan susu formula harus dijamin selama bayi membutuhkannya</li>
<li>Diusahakan agar pemberian susu formula dibawah supervisi dan monitoring yang ketat oleh tenaga kesehatan terlatih</li>
<li>Ibu atau pengasuh bayi perlu diberi informasi yang memadai dan konseling tentang cara penyajian susu formula yang aman dan praktek pemberian makan bayi yang tepat</li>
<li>Hanya susu formula yang memenuhi standar Codex Alimentarius yang bisa diterima</li>
<li>Sedapat mungkin susu formula yang di produksi oleh pabrik yang melanggar Kode Internasional Pemasaran Susu Formula jangan/tidak boleh diterima</li>
<li>Jika ada pengecualian untuk butir diatas, pabrik tersebut sama sekali tidak diperbolehkan mempromosikan susu formulanya</li>
<li>Susu Kental Manis dan Susu cair tidak boleh diberikan kepada bayi berumur kurang dari 12 bulan</li>
<li>Susu formula diberi label dengan petunjuk yang jelas tentang cara penyajian, masa kadaluwarsa minimal 1 tahun, dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu, pengasuh atau keluarga</li>
<li><strong>Botol dan dot tidak boleh di distribusikan dan tidak dianjurkan untuk digunakan</strong>. Pemberian susu formula hendaknya menggunakan cangkir atau gelas</li>
<li>Untuk mengurangi bahaya pemberian susu formula, beberapa hal dibawah ini sebisa mungkin dipenuhi:</li>
<ul>
<li>Gunakan cangkir atau gelas yang mudah dibersihkan, diberikan sabun untuk mencuci</li>
<li>Alat yang bersih untuk membuat susu dan menyimpannya</li>
<li>Sediakan alat untuk menakar air dan susu bubuk (jangan gunakan botol susu)</li>
<li>Bahan bakar dan air bersih yang cukup (bila memungkinkan gunakan air dalam kemasan)</li>
<li>Kunjungan ulang untuk perawatan tambahan dan konseling</li>
<li>Lanjutkan promosi menyusui untuk menghindari penggunaan susu formula bagi bayi yang ibunya masih bisa menyusui</li>
</ul>
<li>Susu bubuk skim tidak boleh diberikan sebagai komoditas tunggal atau sebagai bagian dari distribusi makanan secara umum, karena dikhawatirkan akan digunakan sebagai pengganti ASI</li>
<p>Rekomendasi tersebut diatas didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula, World Health Assembly (WHA) tahun 1994 and 1996, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Pemasaran Pengganti ASI, dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tahun 2004 tentang Pemberian ASI Eksklusif pada bayi di Indonesia. WHA ke 47 menyatakan ”Pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung. Semua sumbangan susu formula atau produk lain dalam lingkup Kode, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas”
</ul>
<p><strong>Tentang Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)</strong></p>
<ul>
<li>MP-ASI hanya boleh diberikan setelah bayi berumur 6 bulan</li>
<li>MP-ASI sebaiknya disediakan berdasarkan bahan lokal (bila memungkinkan)</li>
<li>MP-ASI harus yang mudah dicerna</li>
<li>Pemberian MP-ASI disesuaikan dengan umur dan kebutuhan gizi bayi</li>
<li>MP-ASI harus mengandung kalori dan mikronutrien yang cukup</li>
</ul>
</ul>
<p><strong>PEDOMAN PENGANGANAN GIZI DALAM SITUASI DARURAT &#8211; DEPKES 2007</strong></p>
<p>Pedoman Depkes lebih lengkap, tahap penyelamatan korban dibagi sbb:<br />
<strong>Fase pertama</strong> berlangsung maksimal 5 hari, adalah saat:</p>
<ol>
<li>Pengungsi baru terkena bencana</li>
<li>Petugas belum sempat mengidentifikasi pengungsi secara lengkap</li>
<li>Belum ada perencanaan pemberian makanan terinci sehingga semua golongan umur menerima bahan makanan yang sama.</li>
<li>Khusus untuk bayi dan baduta harus tetap diberikan ASI danMP-ASI</li>
</ol>
<p>Fase ini bertujuan memberikan makanan kepada masyarakat agar tidak lapar. Sasarannya adalah seluruh pengungsi, dengan kegiatan:</p>
<ol>
<li>Pemberian makanan jadi dalam waktu sesingkat mungkin</li>
<li>Pendataan awal : jumlah pengungsi, jenis kelamin, golongan umur</li>
<li>Penyelenggaraan dapur umum (merujuk ke Depsos), dengan standar minimal</li>
</ol>
<p><strong>Fase kedua</strong> adalah saat:</p>
<ol>
<li>Pengungsi sudah lebih dari 5 hari bermukim di tempat pengungsian</li>
<li>Sudah ada gambaran keadaan umum pengungsi (jumlah, golongan umur, jenis kelamin, keadaan lingkungan dan sebagainya), sehingga perencanaan pemberian bahan makanan sudah lebih terinci</li>
<li>Pada umumnya bantuan bahan makanan cukup tersedia</li>
</ol>
<p>Sasaran pada fase ini adalah <strong>seluruh pengungsi</strong> dengan kegiatan :</p>
<ol>
<li>Pengumpulan dan pengolahan data dasar status gizi</li>
<li>Menentukan strategi intervensi berdasarkan analisis status gizi.</li>
<li>Merencanakan kebutuhan pangan untuk suplementasi gizi</li>
<li>Menyediakan paket bantuan pangan (ransum) yang cukup, mudah di konsumsi oleh semua golongan umur dengan syarat minimal sebagai berikut:</li>
<ul>
<li>Setiap orang diperhitungkan menerima ransum senilai <strong>2.100 Kkal, 40 gram lemak dan 50 gram protein per hari</strong></li>
<li>Diusahakan memberikan pangan sesuai dengan kebiasaan dan ketersediaan setempat, mudah diangkut, disimpan dan didistribusikan</li>
<li>Harus memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral.</li>
<li>Mendistribusikan ransum sampai ditetapkannya jenis intervensi gizi berdasarkan hasil data dasar (maksimum 2 minggu)</li>
<li>Memberikan penyuluhan kepada pengungsi tentang kebutuhan gizi dan cara pengolahan bahan makanan masing-masing anggota keluarga</li>
</ul>
</ol>
<p><strong>Tahap Tanggap Darurat</strong>t<br />
Tahap ini dimulai selambat-lambatnya pada hari ke-20 di tempat pengungsian.</p>
<p><strong>Tujuan:</strong><br />
Menanggulangi masalah gizi melalui intervensi sesuai tingkat kedaruratan gizi.</p>
<p><strong>Kegiatan:</strong></p>
<ol>
<li>Melakukan penapisan (screening) bila prevalensi gizi kurang balita 10 -14,9% atau 5 &#8211; 9,9% yang disertai dengan faktor pemburuk</li>
<li>Menyelenggarakan pemberian makanan tambahan sesuai dengan jenis intervensi yang telah ditetapkan pada tahap 1 fase II (PMT darurat/Ransum, PMT darurat terbatas serta PMT Terapi)</li>
<li>Memantau perkembangan status gizi melalui Surveilans</li>
<li>Melakukan modifikasi/perbaikan intervensi sesuai dengan perubahan tingkat kedaruratan: </li>
<ol>
<li>Jika prevalensi <strong>gizi kurang > 15% atau 10-14,9% dengan faktor pemburuk</strong>, diberikan paket pangan dengan standar minimal per orang per hari (ransum), dan diberikan PMT darurat untuk balita, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia serta PMT terapi bagi penderita gizi buruk. Ketentuan kecukupan gizi pada PMT darurat sama seperti standar ransum</li>
<li>Jika prevalensi gizi kurang 10-14,9% atau 5-9,9% dengan faktor pemburuk diberikan PMT darurat terbatas pada balita, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia yang kurang gizi serta PMT terapi kepada penderita gizi buruk</li>
<li>Jika prevalensi <strong>gizi kurang <10% tanpa faktor pemburuk atau < 5% dengan faktor pemburuk</strong> maka dilakukan penanganan penderita gizi kurang melalui pelayanan kesehatan setempat</li>
</ol>
</ol>
<p><strong>PENANGANAN GIZI DARURAT PADA KELOMPOK RAWAN</strong></p>
<p><strong>A. Bayi dan Anak di bawah Usia Dua Tahun (Baduta)</strong></p>
<p>Dalam keadaan darurat bayi dan anak baduta merupakan kelompok yang paling rawan dan memerlukan penanganan khusus agar terhindar dari kesakitan dan kematian.</p>
<p>Pola pemberian makanan yang terbaik bagi bayi dan anak umur dibawah 2 tahun adalah:</p>
<ol>
<li>Memberikan Air Susu Ibu (ASI) segera setelah lahir dalam waktu ½ &#8211; 1 jam pertama</li>
<li>Memberikan <strong>hanya</strong> ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan (ASI eksklusif)</li>
<li>Memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi setelah umur 6 bulan sampai umur 2 tahun</li>
<li>Tetap memberikan ASI sampai anak berumur 2 tahun atau lebih</li>
<li>Diberikan suplementasi kapsul vitamin A dosis 100.000 IU untuk bayi umur 6-11 bulan dan dosis 200.000 IU untuk anak 1-5 tahun (2 kali setahun)</li>
</ol>
<p><strong>Menyusui</strong></p>
<p>Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian makanan bayi dan baduta pada situasi darurat sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Menyusui sangat penting karena terbatasnya sarana air bersih,bahan bakar dan kesinambungan ketersediaan susu formula dalam jumlah yang memadai</li>
<li>Susu formula tidak diperkenankan diberikan kepada bayi kecuali kepada bayi piatu, bayi terpisah dari ibunya, ibu bayi dalam keadaan sakit berat</li>
<li>Pemberian susu formula diberikan secara terbatas dengan mengikuti ketentuan berikut:</li>
<ol>
<li>Hanya diberikan dengan pengawasan petugas kesehatan</li>
<li>Diberikan dengan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan</li>
<li>Botol dan dot tidak dianjurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi</li>
<li>Bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, oleh karena itu relaktasi (menyusui kembali) harus diupayakan sesegera mungkin</li>
</ol>
<li>Sumbangan susu formula harus:</li>
<ol>
<li>Diberikan atas persetujuan Kepala Kantor Wilayah Depkes setempat dan saat ini adalah Kepala Dinas Kesehatan (sesuai dengan Kepmenkes RI Nomor :237/MENKES/SK/IV/1997 tentang pemasaran Pengganti Air Susu Ibu)</li>
<li>Memenuhi standar Codex Alimentarius</li>
<li>Mempunyai label yang jelas tentang cara penyajian dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu, pengasuh atau keluarga</li>
<li>Mempunyai masa kadaluarsa sekurang-kurangnya 1 tahun terhitung sejak tanggal didistribusikan oleh produsen. Disertai dengan air minum dalam kemasan (AMDK)</li>
</ol>
<li>Susu bubuk skim tidak boleh diberikan kepada bayi</li>
</ol>
<p><strong>Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI)</strong></p>
<p>MP-ASI hanya boleh diberikan setelah bayi berumur 6 bulan. Pemberian MP-ASI memenuhi ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Bila memungkinkan sebaiknya disediakan berdasarkan bahan lokal, menggunakan peralatan makan yang higienis</li>
<li>Bahan makanan yang digunakan mudah dimakan, mudah dicerna dan penyiapannya higienis</li>
<li>Sesuai dengan umur dan kebutuhan bayi</li>
<li>Mengandung zat gizi sesuai kecukupan gizi yang dianjurkan (energi, protein, vitamin dan mineral yang cukup terutama Fe, vitamin A dan vitamin C)</li>
</ol>
<p><strong>B. Makanan Anak Usia 2 &#8211; 5 Tahun</strong></p>
<p>Makanan utama yang diberikan adalah berasal dari makanan keluarga, yang tinggi energi, vitamin dan mineral. Makanan pokok yang dapat diberikan seperti nasi, ubi, singkong, jagung, lauk pauk, sayur dan buah. Bantuan pangan yang dapat diberikan berupa makanan pokok, kacang-kacangan dan minyak sayur.</p>
<p>Khusus pada anak yang menderita gizi kurang atau anak gizi buruk pada fase tindak lanjut (setelah perawatan) perlu diberikan makanan tambahan disamping makanan keluarga, seperti makanan kudapan/jajanan, dengan nilai zat gizi energi 350 kkal dan protein 15 gr.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/rangkuman-pemberian-makan-bayi-di-situasi-darurat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemberian Makanan Bayi Pada Situasi Darurat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 03:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Tasya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[emergancy response]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Home Made]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Dalam situasi darurat seperti yang terjadi di Situ Gintung, banyak yang tergerak untuk membantu, termasuk memberi bantuan untuk bayi dan balita. Sayangnya bantuan yang masuk untuk mereka sering kali berubah menjadi sumber masalah baru bagi mereka. Bagaimana kah cara membantu anak-anak, bayi dan balita. Simak penuturan dari ketua divisi Advokasi AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang tega melihat korban tewas akibat musibah jebolnya Situ Gintung, apalagi melihat wajah bayi, balita dan anak-anak yang tak berdosa menjadi korbannya. Berbagai bantuan telah mengalir, termasuk beberapa kebutuhan untuk bayi dan balita.</p>
<p>Dalam konteks penanganan bencana, pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak bisa dilakukan dengan sembarangan agar bantuan yang akan kita berikan dengan niat baik, tidak berubah menjadi sumber permasalahan baru bagi korban yang selamat.</p>
<p>Untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat. Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat.</p>
<h3>Menyusui lebih penting</h3>
<p>Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung.</p>
<p>Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai.</p>
<p>Bahkan, Kode WHO, semua sumbangan susu formula atau produk lain dalam lingkup kode tersebut, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas.</p>
<p>Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<h3>Ibu Menjadi Korban Bencana</h3>
<p>Tak seorangpun tahu, siapa yang akan menjadi korban dalam sebuah bencana. Bisa jadi ibu yang menjadi tumpuan anaknya yang baru lahir, atau anak usia balita. Bila ibu masih bisa bertahan, sedapat mungkin menyusui masih diutamakan, yaitu dengan penilaian terhadap status menyusui seorang ibu oleh petugas terlatih dan upaya relaktasi.</p>
<p>Namun apabila memang tidak dimungkinkan pemberian ASI, misalnya bayi yang kehilangan ibunya atau bayi piatu, maka barulah susu formula dapat diberikan dengan catatan persediaan susu formula tersebut harus dijamin selama bayi membutuhkannya.</p>
<p>Maksud dari terjaminnya persediaan susu formula ini adalah agar susu formula dapat diberikan sesuai dengan takaran yang seharusnya, tidak terlalu cair yang dapat menyebabkan kurang gizi, maupun terlalu kental dimana dapat menyebabkan sembelit. Sedapat mungkin pemberian susu formula harus dibawah supervisi dan monitoring yang ketat oleh tenaga kesehatan yang terlatih.</p>
<p>Susu formula yang boleh diberikan hanya susu formula yang memenuhi standar <em>Codex Alimentarius</em> dan sebisa mungkin, susu formula yang diproduksi oleh pabrik yang melangggar Kode WHO, tidak boleh diterima. </p>
<p>Petunjuk pemberian susu formula harus tercantum jelas dalam label dan mempunyai masa kedaluarsa minimal 1 tahun. Pemberian susu formula pun hendaknya menggunakan cangkir dan gelas, sementara botol dan dot tidak boleh didistribusikan dan tidak dianjurkan untuk digunakan.</p>
<p>Untuk mengurangi bahaya pemberian susu formula, diupayakan untuk :</p>
<ul>
<li>menggunakan cangkir atau gelas yang mudah dibersihkan, diberikan sabun untuk mencuci</li>
<li>alat yang bersih untuk membuat susu dan menyimpannya</li>
<li>sediakan alat untuk menakar air dan susu bubuk (jangan gunakan botol susu)</li>
<li>bahan bakar dan air bersih yang cukup (bila memungkinkan gunakan air dalam kemasan)</li>
<li>kunjungan ulang untuk perawatan tambahan dan konseling</li>
<li>lanjutkan promosi menyusui untuk menghindari penggunaan susu formula bagi bayi yang ibunya masih bisa menyusui.</li>
</ul>
<p>Sumbangan berupa susu kental manis dan susu cair tidak boleh diberikan kepada bayi berumur kurang dari 12 bulan, sedangkan susu bubuk skim tidak boleh diberikan sebagai komoditas tunggal atau sebagai bagian dari distribusi makanan secara umum, karena dikhawatirkan akan digunakan sebagi pengganti ASI.</p>
<h3>Pedoman dari Departemen Kesehatan</h3>
<p>Pada intinya, pedoman pemberian makanan dalam keadaan darurat yang diberikan oleh Departemen Kesehatan sejalan dengan apa yang telah direkomendasikan bersama oleh UNICEF, WHO dan IDAI, yaitu menyusui sangat penting dalam keadaan darurat. Susu formula tidak diperkenankan diberikan kepada bayi kecuali kepada bayi piatu, bayi yang terpisah dari ibunya atau bila ibu dan bayi dalam keadaan sakit berat.</p>
<p>Apabila memang susu formula harus diberikan dikarenakan hal-hal tersebut, maka harus diberikan secara terbatas dengan mengikuti ketentuan berikut ini:</p>
<ol>
<li>hanya diberikan dengan pengawasan petugas kesehatan</li>
<li>diberikan dengan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan. Botol dan dot tidak dianjurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi</li>
<li>bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, oleh karena itu relaktasi harus diupayakan sesegera mungkin.</li>
</ol>
<p>Sumbangan susu formula pun harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Diberikan atas persetujuan Kepala Kantor Wilayah Depkes Propinsi setempat dan saat ini adalah Kepada Dinas Kesehatan.</li>
<li>Memenuhi standar <em>Codex Alimentarius</em></li>
<li>Mempunyai label yang jelas tentang cara penyajian dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu, pengasuh atau keluarganya</li>
<li>Mempunyai masa kedaluarsa sekurang-kurangnya 1 tahun terhitung sejak tanggal didistribusikan oleh produsen.</li>
<li>Disertai dengan air minum dalam kemasan.</li>
</ol>
<p>Selain itu susu bubuk skim tidak boleh diberikan kepada bayi.</p>
<p>Semoga setelah mengetahui ketentuan-ketentuan tersebut di atas, kita dapat membantu para korban yang masih selamat tanpa menyebabkan timbulnya permasalahan baru yang sesungguhnya dapat dihindari.</p>
<p>Apabila kita bekerja di suatu perusahaan dimana program <em>Corporate Social Responsibility</em> (CSR) berniat untuk menyumbangkan susu formula, maka adalah tanggung jawab kita untuk memberitahukan pada mereka bahwa terdapat pembatasan-pembatasan atas sumbangan dalam bentuk susu formula sehingga perusahaan tidak salah langkah dalam membantu para korban bencana.</p>
<p>Doa kami semua untuk para korban musibah Situ Gintung, semoga musibah seperti ini tidak terjadi lagi di Negara kita tercinta.</p>
<p>Apabila memerlukan <em>backup</em> data seperti <em>copy</em> rekomendasi bersama UNICEF, WHO dan IDAI serta pedoman dari DEPKES, bisa menghubungi japri amanda[dot]tasya[at]aimi-asi[dot]org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/pemberian-makanan-bayi-pada-situasi-darurat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

