<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; IMD</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/imd/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Sentuhan kASIh Berjuta Manfaat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 01:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irawati Budiningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kontak kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1530</guid>
		<description><![CDATA[Sepucuk surat datang mengabarkan bahwa Anda harus mengikuti perintah tugas: pindah ke daerah lain nun jauh dari tempat tinggal sekarang, tak ada kerabat ataupun sanak saudara yang dikenal. Karena beban kerja dan terbatasnya sarana pendidikan di daerah nanti, Anda dilarang membawa serta keluarga, tapi Anda tak perlu khawatir, segala fasilitas tersedia disana: internet untuk menghubungkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepucuk surat datang mengabarkan bahwa Anda harus mengikuti perintah tugas: pindah ke daerah lain nun jauh dari tempat tinggal sekarang, tak ada kerabat ataupun sanak saudara yang dikenal. Karena beban kerja dan terbatasnya sarana pendidikan di daerah nanti, Anda dilarang membawa serta keluarga, tapi Anda tak perlu khawatir, segala fasilitas tersedia disana: internet untuk menghubungkan kita dengan orang-orang tercinta, telepon bertarif murah dan bebas digunakan kapanpun, segala sarana komunikasi canggih mendukung! Hanya saja transportasi untuk kembali ke kampung halaman sangat terbatas, tetapi Anda masih mendapat jatah pulang ke kampung halaman 2x setahun tidak termasuk cuti hari raya.</p>
<p>Kenapa hati ini tetap sedih? Tetap merasa berat memutuskannya? Apa yang kurang disana?</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Bayangkan situasi tersebut dialami oleh bayi Anda. Dari keadaannya yang nyaman, tenteram, hangat, ‘terpeluk’ oleh rahim penyayang ibu, lalu dilahirkan dan menemui dunia yang hiruk pikuk ini. Sinar dan cahaya terang, gegap gempita riuh ramai suara, di’cengkeram’ tangan-tangan dokter &#038; suster. Inikah dunia itu? Siapa mereka semua? Asing sekali suaranya, sentuhannya, aromanya. Sangat tidak biasa bagi si bayi mungil ini. Tak heran ia begitu mudahnya menangis seperti orang stress. Ya, walaupun dia manusia baru, manusia kecil, dia tetaplah seorang manusia yang juga bisa stress.</p>
<p>Saat saya melahirkan anak pertama saya dulu, saya belum mengenal apa itu Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Seperti yang biasa saya tonton di film atau dengar cerita, begitu bayi lahir segera dilakukan pengecekan medis dan dibersihkan, lalu terbungkus rapi dalam bedongan &#038; topi bayi untuk diberi sekali kecupan oleh ibunya, lalu dibawa ke ruang bayi – tempatnya mondok di rumah sakit ini. Nanti saat kerabat datang, bisa melihat lewat jendela kaca besar ruang bayi dan ‘<em>baby show</em>’ pun bisa dinikmati pada jam-jam tertentu. Indah ya kelihatannya? </p>
<p>Tapi yang saya rasakan adalah, anak saya menangis tidak karuan sepanjang hari saat diantar ke ruangan saya untuk menyusu (ya, tidak perlu ditanya lagi, saat itu pun saya tidak tahu tentang rawat gabung). Kebalikannya, pada hari ke-3 saat ASI mulai tak terkontrol membasahi kimono, bayi saya malah tertidur sulit untuk dibangunkan menyusu. Mulutnya terkunci rapat &#038; kalaupun terbuka sedikit, tidak melekat pada payudara dengan sempurna yang mengakibatkan lecet di puting. Begitu horornya kah punya anak? Saya tidak bisa mengendalikan tangisan bayi saya, bahkan badan saya yang terus menerus kesakitan &#038; pegal-pegal.</p>
<p>Berbeda jauh dengan cerita saat melahirkan anak kedua, yang sudah lebih berbekal ilmu tentang melahirkan, IMD, menyusui &#038; apa saja yang mungkin dihadapi pada hari-hari pertama di RS. Anak kedua kami memilih jam 23.00 untuk menyapa dunia. Jadilah hanya saya &#038; suami tanpa kerabat lain menunggu di RS saat lahiran. Proses IMD berhasil kami jalani dengan tenang selama kurang lebih 2 jam. Pastinya ada rasa khawatir sedikit pada saat bayi kami menangis begitu kencang saat badannya dibersihkan sekedarnya (kami berdua de ja vu apakah psikisnya akan seperti si kakak yang mudah menangis dan stress). Tapi ajaibnya saat si bayi diletakkan di dada saya, tangisannya berhenti seketika! Selanjutnya adalah cerita indah tentang IMD yang terlalu panjang untuk dibahas disini.</p>
<p>Yang ingin saya garis bawahi mengenai cerita kelahiran anak pertama dan kedua saya adalah ‘ke-segera-an terjadinya kontak kulit’ antara ibu &#038; bayi. Kontak kulit begitu dominan dalam proses IMD. Sejak awal hingga akhir adalah mengenai kontak kulit. Dan tanpa sadar, tangan ibu pasti mengelus-elus bayi saat IMD. Yang artinya, ibu tanpa sadar melakukan gerakan pijatan pada bayi. Terkadang ini juga menjadikan <em>cues</em> (tanda) bahwa elusan tangan ibu adalah ajakan bayi untuk menyusu. Kedua bayi saya terlahir berbeda golongan darah dengan saya, yang berpengaruh pada resiko bilirubin tinggi, dimana bilirubin ini bisa diturunkan dengan pemberian ASI. Bayi berbilirubin tinggi cenderung mengantuk dan sulit sekali dibangunkan untuk menyusu (seperti yang terjadi pada anak pertama saya). Pada anak kedua, bila tiba waktunya menyusu (2 jam sekali) saya cukup mengelusnya sambil membisikkan ajakan untuk menyusu ke telinganya, lalu dia pun membuka mulutnya (walaupun terkadang matanya masih tetap tertidur). <em>Cues</em> hanya bisa dibangun dengan kebiasaan. Oleh karenanya manfaatkan kesempatan saat IMD untuk membangun kebiasaan baik tersebut.</p>
<p>Saya tidak akan membahas terlalu detail mengenai manfaat pijat bayi disini, karena saya yakin banyak sekali <em>literature</em> yang sudah mengupas tentang hal tersebut secara mendalam. Tapi yang ingin saya tekankan, pijat bayi bukanlah suatu keahlian khusus yang hanya bisa dilakukan oleh ‘orang pintar’ atau ‘dukun pijat’. </p>
<p><strong>Esensi dari pijat adalah skin to skin contact. </strong></p>
<p>Silahkan anda merasakan sendiri, mana lebih nyaman : pijat di kursi pijat elektronik atau dipijat langsung dengan tangan orang? </p>
<p>Saya yakin jawabannya pasti dipijat tangan orang <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, kita tingkatkan lagi tantangannya, mana yang lebih nyaman : dipijat oleh orang yang baru anda kenal tanpa anda tahu keahliannya atau dipijat oleh orang yang sudah pernah memijat anda dan pijatannya enak?</p>
<p>Saya 1000% yakin jawabannya lebih enak dipijat orang yang jago pijat. Betul?</p>
<p>Kembali ke bayi, mereka yang baru saja dilahirkan belum mengenal standard pijatan enak atau tidak. Tekanan keras <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-artikel-irawati-300x229.jpg" alt="" title="08-artikel-irawati" width="300" height="229" class="alignleft size-medium wp-image-1531" />atau terlalu keras. Tehnik pijatan tradisional atau Swedish massage. Yang mereka ketahui: aroma, suara &#038; degup jantung ibunya. Jadi pastinya pijatan yang paling nyaman untuk si bayi adalah bila yang memijat ibunya sendiri: tidak asing &#038; terasa aman melindunginya. Nah, persoalannya sekarang, banyak ibu yang tidak pede akan tehnik memijat &#038; tingkat tekanan pijatannya untuk badan kecil bayinya. Sehingga mereka lebih percaya ‘pemijat profesional’ yang memijat bayinya. Sebenarnya tidak menjadi masalah bila si bayi nyaman-nyaman saja (dalam artian tidak stress saat dipijat). Tapi akan menjadi bumerang apabila si bayi tidak nyaman. Percaya atau tidak, ini juga berpengaruh kepada ASI si ibu. Pada saat ibu melihat bayinya menangis (bahkan dipaksa diurut terlalu kencang) oleh ‘pemijat profesional’ tadi, oksitosin ibu malah menurun. Akibatnya distribusi ASI terganggu.</p>
<p>Kembali saya tekankan, kunci utama memijat bayi adalah: skin to skin contact. Jadi tidak bertekanan (hanya sekedar elusan) juga tidak masalah. Jadikan pijat bayi sebagai sarana berkomunikasi. Manfaat lainnya adalah bonus. Dengan berfikir seperti itu, akan lebih mudah bagi ibu untuk melakukan pijat bayi tanpa ada rasa takut atau terpaksa. </p>
<p>Jangan terperangkap ‘rutinitas pijat bayi’. Ada beberapa bayi yang tidak terbiasa dipijat secara rutin, tapi karena ibunya begitu bersemangat jadi memaksa bayi, sehingga bayi stress. Sesungguhnya yang seharusnya adalah manfaatkan pijat bayi sebagai alat komunikasi menciptakan <em>cues</em> (rutinitas). Contohnya adalah tadi seperti yang saya ceritakan : membangunkan bayi yang tidur untuk menyusu dengan mengelusnya. Bonus lain dari kegiatan ini adalah ‘menyalakan alarm’ LDR (let down reflects) pada si ibu setiap bayi mau menyusu. </p>
<p>Kembali ke pengalaman pribadi saya, saat kami sudah tidak ‘berkejar-kejaran’ dengan bilirubin yang menyusu menjadi rutinitas setiap 2 jam sekali, kini kehidupan kami sudah lebih nyaman dan terkendali. Bayi saya kadang tidak tentu jam menyusunya, saya sudah lebih mengikuti ‘demand’ nya saja kapan harus menyusui. Tapi hebatnya, setiap kali dia mau menyusu, LDR saya pun mengalir seperti memberi alarm, bahkan saat saya sedang pergi tidak bersama bayi saya. Biasanya saat itu saya akan telpon ke rumah untuk menanyakan apakah dia sedang minum ASI perah? Beberapa kesempatan begitu pas, saat LDR ya saat dia minta minum ASI perah. Dan ada beberapa keadaan dia masih tertidur atau bermain dan saya LDR, saat saya telpon beberapa waktu kemudian dia minta minum ASI perah. Ajaib? Saya rasa tidak, saya lebih percaya itu adalah ikatan yang sudah dibangun sejak kehamilan, dilanjutkan dengan rutinitas yang terbangun dari pijat ibu &#038; bayi <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;</p>
<p>Lalu saat akhirnya Anda memutuskan untuk tetap berangkat memenuhi panggilan tugas tersebut, kesempatan pulang ke kampung halaman begitu menyenangkan dan menghangatkan. Yang sangat menyamankan bukanlah komunikasi langsungnya, atau tatap muka langsungnya, sesuatu yang begitu priceless adalah kesempatan berjabat tangan, memeluk pasangan &#038; anak kita, mencium aroma kampung halaman. Ada berbagai hal yang tidak bisa tergantikan bukan? <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Poling Mei 2011 &#8211; Standar Emas Makanan Bayi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/06/ulasan-poling-mei-2011-standar-emas-makanan-bayi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/06/ulasan-poling-mei-2011-standar-emas-makanan-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 00:22:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Clodi Stepantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[Rawat gabung]]></category>
		<category><![CDATA[Standar Emas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1413</guid>
		<description><![CDATA[Wah, pada pinter nih. Selamat yah! Memang benar bahwa pemberian susu formula sejak usia 2 tahun bukan merupakan Standar Emas Nutrisi Bayi yang telah ditetapkan oleh WHO. Ada 4 (empat) hal yang dijadikan standar oleh WHO, yakni : Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan rawat gabung Kenapa ini penting? Karena IMD memungkinkan bayi mendapatkan manfaat dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Wah, pada pinter nih. Selamat yah!</p>
<p>Memang benar bahwa pemberian susu formula sejak usia 2 tahun bukan merupakan Standar Emas Nutrisi Bayi yang telah ditetapkan oleh WHO. </p>
<p>Ada 4 (empat) hal yang dijadikan standar oleh WHO, yakni :  </p>
<ol>
<li>Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan rawat gabung</li>
<p>Kenapa ini penting? Karena IMD memungkinkan bayi mendapatkan manfaat dari kontak kulit pertama dengan ibu, dimana bayi akan terpapar bakteri baik dari ibu yang TIDAK BERBAHAYA dan bakteri tersebut kemudian membentuk koloni dalam usus bayi yang bertugas memerangi bakteri lainnya yang jahat. </p>
<p>Dengan IMD, bayi akan mendapatkan kolostrum (<em>liquid gold</em>) yang mengandung zat kekebalan terutama IgA yang berfungsi melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare. IMD membantu memantapkan insting menyusu pada bayi dan pelekatan mulut bayi pada payudara sehingga dapat meningkatkan berat badan bayi secara maksimal. IMD juga dapat mengurangi tingkat kematian bayi hingga 22%.</p>
<p>Rawat gabung penuh selama 24 jam sehari diperlukan untuk memastikan proses menyusui dimulai secara optimal. Dengan rawat gabung, ibu bisa beristirahat sambil tetap menyusui sesuai keinginan bayi, sehingga mencegah pemberian cairan prelakteal. Rawat gabung juga membuat bayi lebih tenang. Bayi yang sering terlanjur menangis akan lebih mudah menolak payudara walaupun lapar.</p>
<li>ASI eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan.</li>
<p>ASI eksklusif adalah menyusui bayi tanpa memberi asupan/tambahan apapun selain ASI, bahkan tidak juga air putih.</p>
<p>Kenapa harus ASI eksklusif selama 6 bulan pertama? Karena kalori dari ASI memenuhi 100% kebutuhan bayi yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air, garam, gula dan semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh bayi. Selain itu ASI mengandung zat hidup yang tidak dapat ditiru oleh cairan manapun, seperti sel darah putih (antiinfeksi), enzim pencernaan, dan hormon pertumbuhan.</p>
<li>MPASI berkualitas sejak 6 bulan</li>
<p>Yang dimaksud MPASI berkualitas adalah makanan buatan rumah yang memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi bayi, dari bahan baku lokal dan harga terjangkau.<br />
Mengapa? Karena saat bayi berusia 6-12 bulan ASI memenuhi 70% kebutuhan kalori bayi, sehingga bayi butuh tambahan dari asupan lain. Sangat dianjurkan untuk memberikan MPASI buatan sendiri karena lebih mampu menjaga kandungan gizi alami, mikronutrien serta bioavalabilitas makanan.</p>
<li>ASI diteruskan sampai 2 tahun atau lebih.</li>
<p>Kenapa pemberian ASI diteruskan setelah anak berusia setahun? Karena meskipun jumlah kalori diberikan oleh ASI hanya sekitar 30% namun zat immun yang diberikan dari ASI justru meningkat. Zat ini berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh bayi. Meningkatnya zat immun adalah sesuai dengan kebutuhan anak, dimana anak pada usia ini sudah lebih banyak aktivitas dan interaksi dengan lingkungan, sehingga rawan infeksi kuman.
</ol>
<p>Jadi, mari berikan nutrisi terlengkap bagi bayi. Melalui standar emas nutrisi bayi, kita ciptakan generasi gemilang!</p>
<p><small>Sumber : Materi Kelas EdukASI AIMI.</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/06/ulasan-poling-mei-2011-standar-emas-makanan-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Tua Bekerja pun Bisa Sukses Memberi ASI Eksklusif</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Oct 2010 00:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Selvie Amalia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Tips for Working Moms]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1102</guid>
		<description><![CDATA[Siapa bilang orang tua yang bekerja di luar rumah tidak bisa memberikan ASI Eksklusif pada anaknya? Pasti bisa, jika memiliki pengetahuan dan dukungan yang cukup dalam manajemen laktasi. Mengapa saya gunakan kata orang tua, bukan ibu? Padahal yang memproduksi ASI kan ibu? Mari kita simak pemaparan Konselor Laktasi AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa bilang orang tua yang bekerja di luar rumah tidak bisa memberikan ASI Eksklusif pada anaknya? Pasti bisa, jika memiliki pengetahuan dan dukungan yang cukup dalam manajemen laktasi. Ya, pengetahuan dan dukungan diperlukan agar proses pemberian <img class="alignleft size-medium wp-image-1105" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-selvie-family-135x300.jpg" alt="" width="135" height="300" />ASI Eksklusif pada  bayi yang kedua orang tuanya bekerja tidak memiliki hambatan yang berarti. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendapatkan pengetahuan dan dukungan ASI Eksklusif dari lingkungan keluarga hingga lingkungan pekerjaan sejak sebelum melahirkan.</p>
<p>Mengapa saya gunakan kata orang tua, bukan ibu? Padahal yang memproduksi ASI kan ibu? Karena proses pemberian ASI tidak hanya melibatkan ibu dan bayi saja. Ayah memiliki peranan penting dalam mensukseskan pemberian ASI. Apa peranan ayah? Yang pertama tentu memberi dukungan penuh pada istrinya memberikan ASI Eksklusif pada bayi mereka. Yang kedua melindungi istri dan bayi, jika ada pihak yang kontra terhadap pemberian ASI. Yang ketiga, bersama-sama istri merawat dan mengasuh bayi.</p>
<p>Keterlibatan ayah dalam pemberian ASI, akan meningkatkan kepercayaan diri ibu dan lingkungan. Dengan demikian, ibu akan terhindar dari rasa tidak percaya diri, kuatir, gelisah yang dapat mengakibatkan turunnya produksi hormon oksitosin. Hormon oksitosin merupakan hormon penting untuk pengaliran ASI. Turunnya produksi hormon ini dapat berakibat pada turunnya produksi ASI akibat pengaliran ASI yang kurang lancar.</p>
<p>***</p>
<p>Saat ini, sudah banyak orang tua yang berhasil memberikan bayi mereka ASI Eksklusif, meskipun kedua orang tua bekerja. Bahkan banyak pula yang mampu meneruskan menyusui hingga anaknya berusia dua tahun atau lebih. Semua itu mungkin dilakukan jika ibu mendapatkan informasi yang benar mengenai pemberian ASI maupun penggantinya (susu formula, dan berbagai jenis cairan lain) sejak masa kehamilannya.</p>
<p>Dengan mendapatkan informasi yang benar, manfaat dan risikonya, maka ibu dan ayah dapat  memilih akan memberikan nutrisi apa pada anaknya dengan kesiapan untuk menanggung risikonya. Sebagian besar orang tua (ibu dan ayah) yang gagal memberikan ASI pada anaknya adalah karena ketidak tahuan bahwa pengganti ASI memiliki berbagai macam risiko kesehatan yang cukup tinggi bagi anaknya, saat ini hingga ia dewasa kelak.</p>
<p>Oleh karena itu, pengetahuan dasar yang perlu diketahui oleh orang tua adalah apa manfaat ASI? Manfaat ASI banyak sekali, dan tidak ada efek samping yang buruk sama sekali. Meskipun ibunya sedang sakit. Atau bayinya sedang sakit. ASI akan mempercepat kesembuhan ibu maupun bayi. Dan, masih banyak manfaat ASI lainnya.</p>
<p>***</p>
<p>Jadi, apa sih yang perlu dipersiapkan orang tua yang bekerja agar anak-anaknya bisa mendapatkan ASI Eksklusif?<br />
Kuatkan NIAT!  Pahami alasan-alasan mengapa harus tetap memberikan ASI. Yakinkan diri dan lingkungan terhadap manfaat-manfaatnya, terutama untuk kesehatan ibu dan bayi, serta menjaga “bonding” ibu dan bayi, meskipun ibu harus bekerja.<br />
Bulatkan TEKAD! Siapa saja yang perlu membulatkan tekad? Ayah dan ibu harus satu kata.  Setelah itu apa? PERCAYA DIRI! Caranya bagaimana? Dengan mengikuti edukasi atau mencari informasi yang sebenar-benarnya, dan mencari atau membentuk dukungan  untuk memberikan ASI Eksklusif.</p>
<p>Apabila rasa PERCAYA DIRI untuk menyusui sudah kuat, maka langkah kedua adalah memantapkan KOMITMEN! Jika sudah berkomitmen kuat, maka pastikan langkah ketiga ini Anda lakukan: MULAI DENGAN BENAR.</p>
<p>Bagaimana memulai dengan benar?<br />
1) Inisiasi menyusu Dini (IMD),<br />
2) Rawat Gabung 24 jam,<br />
3) Hanya ASI saja, dan<br />
4) yang terpenting susuilah dengan SEPENUH HATI!</p>
<p>Nah, jika pemahaman sudah sampai tahap ini, maka bagi orang tua yang bekerja perlu mempersiapkan segala sesuatunya, agar ketika ibu mulai masuk bekerja sudah memiliki stok ASI Perah (ASIP), sudah memiliki kemampuan manajemen laktasi yang baik, sudah memiliki pengasuh yang handal dan dapat dipercaya untuk mengasuh dan memberikan ASIP.</p>
<p><strong>Apa saja persiapan yang perlu dilakukan?</strong></p>
<p>Persiapan saat hamil</p>
<ul>
<li>Rencanakan porsi cuti melahirkan lebih lama ketika bayi sudah lahir.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1109" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-kelas-edukasi-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></p>
<li>Beritahukan rencana Anda untuk tetap memberikan ASI ketika sudah kembali bekerja.</li>
<li>Periksa juga apakah ada ruangan yang bisa digunakan untuk memerah ASI.</li>
<li>Mintalah dukungan pada rekan-rekan kantor, atasan, dan juga serikat pekerja yang ada.</li>
<li>Bergabunglah dengan organisasi/kelompok pendukung ibu-ibu ASI.</li>
<li>Belajarlah cara memerah ASI dengan tangan, atau mulai mencari breastpump (pompa ASI) yang sesuai.</li>
<li>Pertimbangkan pilihan cara/pekerjaan yang dapat mensukseskan pemberian ASI. Mulai dari pilihan jenis pekerjaan (jika ada) paruh waktu atau penuh waktu.</li>
<li>Kemudian pilihan cara pengantaran ASIP, apakah dibawa oleh Anda sendiri ketika pulang kerja, atau menggunakan jasa pengantaran ASIP untuk dikirim ke rumah.</li>
<li>Mantapkan komitmen Anda untuk terus memberikan ASI pada sang buah hati, walaupun harus kembali bekerja.</li>
</ul>
<p>Persiapan setelah melahirkan</p>
<ul>
<li>IMD secara langsung minimal 1 jam setelah kelahiran.</li>
<li>Perbanyak kontak kulit dengan bayi.</li>
<li>Istirahat yang cukup, relaks, dan fokuskan diri Anda untuk memantapkan kegiatan menyusui.</li>
<li>Tingkatkan pasokan ASI Anda denganmenyusui bayi sesuai dengan pemintaan.</li>
<li>Perah ASI di sela-sela setelah menyusui.</li>
<li>Hindari pemberian ASIP menggunakan dot, karena berisiko terkena gejala “bingung puting”.</li>
<li>Belajar untuk memberikan ASIP kepada bayi dengan menggunakan metode selain dot: cangkir, pipet, sendok kecil, dsb.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1107" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-ASIP-freezer-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<li>Pilih dan latih pengasuh bayi yang juga mendukung pemberian ASI.</li>
<li>Mantapkan teknik memerah ASI dengan tangan, atau menggunakan pompa ASI.</li>
<li>Mulai menabung ASIP 1 bulan sebelum mulai masuk kerja. Simpan ASIP sesuai dengan tata cara yang benar.</li>
<li>Konfirmasikan kembali dengan pihak kantor / atasan anda  mengenai rencana Anda untuk tetap memberikan ASI. Serta informasikan jadwal dan lokasi Anda akan memerah ASI.</li>
<li>Jika memungkinkan, gunakan 1 hari untuk uji coba meninggalkan bayi di rumah dengan pengasuh, dan Anda melakukan aktifitas perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya . Serta aktifitas memerah dan menyimpan ASIP di tempat kerja.</li>
</ul>
<p>Persiapan ketika sudah kembali bekerja</p>
<ul>
<li>Pertimbangkan untuk kembali bekerja pada hari Kamis, agar lebih mudah bagi Anda dan bayi untuk menyesuaikan ritme baru, karena hari sabtu sudah bisa bersama lagi.</li>
<li>Persiapkan segala kebuthan esok hari, pada malam hari sebelumnya.</li>
<li>Susui bayi Anda sebelum berangkat ke kantor.</li>
<li>Usahakan agar perpisahan dan pertemuan kembali dengan bayi dilaksanakan dalam suasana gembira.</li>
</ul>
<p>Ketika berada di kantor:</p>
<ul>
<li>Perah atau pompa ASI sesuai jadwal menyusu bayi Anda atau minimal dalam rentang waktu 3 jam.</li>
<li>Perah atau pompa ASI secara teratur sesuai dengan jadwal dan sebelum payudara Anda terasa penuh.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1108" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-persiapan-kerja-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<li>Gunakan cara yang benar untuk menyimpan dan mengangkut ASIP.</li>
<li>Pastikan bahwa pengasuh bayi Anda mengeri tata cara pemberian ASIP yang benar.</li>
<li>Minta kepada pengasuh bayi Anda untuk tidak memberikan ASIP ketika anda sudah dekat rumah.</li>
<li>Susuilah bayi Anda ketika sudah kembali pulang, pada malam hari, di akhir pekan dan setiap saat Anda sedang bersama bayi.</li>
<li>Minta dukungan sesama rekan kantor dalam upaya anda untuk terus memberikan ASI.</li>
<li>Carilah sesama ibu bekerja yang juga menyusui untuk saling tukar pendapat pengalamam dan saling mendukung.</li>
</ul>
<p>Pelaksanaan langkah-langkah itu memang tak semudah membacanya. Tapi percayalah, dengan bekal rasa cinta terhadap anak-anak Anda, Anda akan mampu melewati tahap demi tahap, langkah demi langkah. Semua itu demi memberikan bekal yang menjadi pondasi anak-anak Anda  untuk tumbuh menjadi manusia utuh dan seperti harapan sebagian besar orang tua, anak harus lebih baik dari orang tuanya.</p>
<p>***</p>
<p>Sekarang Anda sudah mendapatkan berbagai informasi dan langkah-langkah apa yang harus Anda berdua (dengan suami/istri) lakukan. Saatnya memantapkan KOMITMEN, bahwa HANYA ASI saja nutrisi terbaik untuk bayi 0-6 bulan, dan setelah bayi Anda berusia di atas 6 bulan TETAP BERIKAN ASI tanpa campuran susu lainnya dan tambahkan Makanan Pendamping ASI buatan rumah.</p>
<p>Semoga Anda dan pasangan Anda bisa satu kata, satu asa, dan satu langkah dalam memberikan asupan gizi bagi anak-anak Anda. Selamat berjuang wahai orang tua yang mencintai anak-anaknya.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber:<br />
Materi Kelas Edukasi AIMI – Breastfeeding Tips for Working Mothers, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minggu Pertama yang Menentukan</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/07/minggu-pertama-yang-menentukan/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/07/minggu-pertama-yang-menentukan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 08:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sari Intan Kailaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[baby blues]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[Jaundice]]></category>
		<category><![CDATA[Kuning]]></category>
		<category><![CDATA[pelekatan]]></category>
		<category><![CDATA[postpartum depression]]></category>
		<category><![CDATA[puting lecet]]></category>
		<category><![CDATA[Rawat gabung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=873</guid>
		<description><![CDATA[Orang tua mana pun pasti sangat menantikan kehadiran buah hatinya. Semua keperluan bayi sudah disiapkan, tidak ketinggalan niat untuk memberikan ASI. Tapi setelah bayi lahir dan diminggu-minggu pertama masih banyak orang tua atau ibu yang menemukan kendala dalam pemberian ASI. Apa sih yang harus orang tua ketahui pada minggu pertama menyusui? Ikuti sharing Konselor Laktasi AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat mengandung anak kedua kami, banyak pertanyaan dan keraguan hinggap di pikiran saya. Kondisinya sangat jauh berbeda dengan saat mengandung anak pertama (Deyka, sekarang 4 tahun).</p>
<p>Dulu, kami masih sangat ‘polos’. Sepanjang masa kehamilan ya hanya memikirkan kesehatan kehamilan dan bayi <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-sari-kids-300x206.jpg" alt="" title="07-sari-kids" width="300" height="206" class="alignleft size-medium wp-image-897" />dalam perut. Lebih banyak membaca info seputar kehamilan dan persalinan. Soal nanti apa yang harus dilakukan setelah bayi lahir, kami ‘pasrah’ 100% pada rumah sakit dan tenaga kesehatan, plus orangtua dan mertua yang pasti siap mendampingi.</p>
<p>Ketika mengandung anak kedua, kami sudah jauh lebih mengerti apa saja yang akan dihadapi dan harus dilakukan saat bayi lahir nanti.</p>
<p>Sudah hampir 2 tahun, saya menjadi Konselor Laktasi, sudah lebih paham ilmu manajemen laktasi, dan sudah berkali-kali memberi konseling menyusui dengan beragam kasus kesulitan menyusui.</p>
<p>Tetapi ternyata, pengalaman menjadi konselor malah membuat saya bertanya-tanya, apakah pengetahuan tersebut akan cukup membantu di saat saya menghadapi sendiri permasalahan dalam menyusui nantinya? Apalagi saya pernah bertemu dengan seorang konselor laktasi yang gagal menyusui bayinya, walaupun saat itu dia sudah punya pengetahuan yang cukup.</p>
<p>Alhamdulillah, saat ini saya sangat menikmati menyusui bayi kecil kami, Naqiya. Usianya saat ini baru 4 minggu dan kami sangat bersyukur tidak ada masalah yang berarti dalam menyusuinya sejak ia lahir.</p>
<p>Andai saja setiap ibu yang akan melahirkan tahu dan mengerti apa yang akan ia hadapi dalam MINGGU PERTAMA menyusui, dan apa yang harus ia lakukan, tentu akan sangat menolong mencegah terjadinya kasus-kasus tersebut. </p>
<p>Berikut ini saya ingin berbagi beberapa hal dari pengalaman saya, yang mungkin perlu diketahui seorang calon ibu agar bisa mendapatkan minggu pertama yang menyenangkan nantinya.</p>
<ol>
<li>Inisiasi Menyusu Dini</li>
<p>IMD adalah satu langkah penting untuk mengawali masa menyusui yang menyenangkan. <a href="http://aimi-asi.org/2010/05/imd/">Proses IMD</a> yang tepat selain sangat penting bagi kesehatan bayi, juga membantu ibu <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-IMD-300x225.jpg" alt="" title="07-IMD" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-898" />dan bayi lebih tenang setelah proses persalinan yang melelahkan, mempercepat produksi ASI, dan membantu bayi lebih cepat ‘mahir’ menyusu. Pastikan Anda menemukan <a href="http://aimi-asi.org/2010/05/inisiasi-menyusu-dini-repot-ya/">fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang paham benar mengenai IMD dan bersedia memberi kesempatan IMD</a> saat Anda melahirkan nanti.</p>
<p>Kontak kulit segera setelah kelahiran bayi, yang dilakukan selama minimal satu jam (dan sebaiknya dilanjutkan selama dan sesering mungkin di minggu-minggu pertama) memiliki banyak manfaat, di antaranya bayi menjadi:</p>
<ul>
<li>lebih mudah melakukan pelekatan</li>
<li>mampu mempertahankan suhu tubuh normal, bahkan lebih baik dibandingkan dengan penggunaan inkubator</li>
<li>mampu mempertahankan detak jantung, laju pernafasan dan tekanan darah yang normal</li>
<li>memiliki kadar gula darah lebih tinggi</li>
<li>lebih jarang menangis</li>
<li>lebih besar kemungkinannya untuk mendapat ASI eksklusif dan menyusu lebih lama</li>
<li>lebih mudah memberi tanda pada ibunya jika ingin menyusu<sup class='footnote'><a href='#fn-873-1' id='fnref-873-1'>1</a></sup></li>
</ul>
<p><em>Proses IMD Naqiya berlangsung 1 jam 50 menit. Ia berhasil mencapai puting di 1 jam 35 menit. Alhamdulillah, saya melahirkan di rumah sakit yang sudah menerapkan IMD dalam prosedur standar persalinannya. Namun, interupsi tetap ada. Setiap setengah jam bidan menghampiri dan menanyakan apakah bayi sudah boleh diangkat dari dada saya. Jika saya tidak tahu bahwa IMD harus dilakukan minimal selama 60 menit dan dapat dilanjutkan hingga 2 jam atau hingga bayi selesai menyusu, tentu saya sudah menurut. Itulah sebabnya, walaupun sudah menemukan fasilitas kesehatan yang menerapkan IMD, sebaiknya kita sebagai pasien tetap membekali diri dengan pengetahuan dasar mengenai IMD, ASI dan menyusui.</em></p>
<li>Rawat Gabung</li>
<p>IMD harus diikuti dengan rawat gabung ibu dan bayi. Prinsip utama IMD yaitu mendekatkan bayi pada ibu dan mengoptimalkan kontak kulit ibu dan bayi menjadi ”tidak tuntas” jika setelah itu bayi dipisahkan dari ibunya.</p>
<p>Tidak ada alasan medis untuk memisahkan bayi dan ibu yang sehat setelah persalinan, bahkan untuk waktu singkat, dan bahkan pada persalinan dengan tindakan operasi sekalipun. Penelitian membuktikan bahwa rawat gabung selama 24 jam sehari meningkatkan kesuksesan menyusui, mengurangi tingkat stres/frustrasi pada bayi, dan membuat ibu lebih bahagia. Salah satu alasan yang sering digunakan untuk memisahkan ibu dan bayi adalah bahwa bayi menelan mekonium (kotoran bayi saat di dalam rahim) sebelum lahir. Bayi yang menelan mekonium dan baik-baik saja beberapa menit setelah lahir sebenarnya akan baik-baik saja seterusnya dan tidak perlu ditempatkan di inkubator selama beberapa jam untuk ”observasi”.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-2' id='fnref-873-2'>2</a></sup></p>
<p><em>Setelah saya dibersihkan dan Naqiya dipakaikan baju, kami langsung diantar ke kamar inap (sekitar pukul 00.30 dini hari). Naqiya langsung tidur bersama saya di satu tempat tidur (bedding in).</p>
<p>Pukul 04.00 Naqiya terbangun dan gelisah. Saya refleks langsung menyusuinya. Namun ia menolak. Insting saya mengatakan saya harus memeluknya. Begitu dipeluk dekat ke dada saya, Naqiya tenang dan tertidur lagi. Lalu suami membantu saya memposisikan Naqiya di dada (seperti saat IMD) dan menyamankan posisi bantal dan kepala tempat tidur. Saya dan Naqiya tidur berpelukan dengan tangan saya dibawah bajunya (kontak kulit langsung) hingga pagi. Pagi hari sekitar pukul 07.00 barulah Naqiya mulai menyusu.</p>
<p>Suami saya berkomentar, ternyata memang Naqiya belum butuh menyusu di dini hari tadi, ia hanya butuh dekat Bundanya. Kami bertanya-tanya, kalau tidak rawat gabung, apa yang akan dilakukan perawat pada bayi baru lahir yang terbangun dan gelisah? Yang kami tahu, kemungkinan besar diberi susu formula atau empeng. Padahal mungkin dia hanya perlu pelukan ibunya dan belum perlu minum apa-apa. Kalaupun perlu minum, yang dibutuhkannya tentunya kolostrum, bukan cairan lain. Saat itu kami benar-benar bersyukur bahwa kami tidak menganggap remeh prosedur rawat gabung. Kami sengaja memilih rumah sakit yang lebih jauh dari rumah dan pelayanannya secara umum tidak begitu sempurna, demi mendapat jaminan rawat gabung 24 jam (karena rumah sakit tersebut tidak memiliki kamar bayi sehat, jadi semua pasien pasti rawat gabung).</p>
<p>Manfaat lain yang kami rasakan dari IMD dan rawat gabung yang optimal adalah, Naqiya (dan saya) sangat tenang. Keberadaan ibu yang selalu di dekat bayi, membuat ibu lebih responsif pada setiap kebutuhan bayi. Ibu yang responsif membuat bayi merasa lebih aman dan tenang. Bayi yang tenang dan tidak rewel membuat ibu merasa lebih percaya diri, memudahkannya menyusui dan mencegah baby blues.</em></p>
<p>Tahukah Anda bahwa bayi sudah menunjukkan tanda haus/lapar jauh sebelum ia menangis? Contohnya, tarikan nafasnya berubah atau ia meregangkan tubuh. Ibu yang tidur bersama bayi umumnya akan segera terbangun, ASInya akan mulai mengalir dan bayi yang masih cukup tenang akan dengan mudah melekat pada payudara. Bayi yang seringkali sudah mulai menangis sebelum mendapatkan payudara, umumnya akan lebih mudah menolak payudara walaupun ia sangat lapar, sehingga mempersulit pelekatan. Oleh sebab itu, prosedur fasilitas kesehatan yang kerap kali ”menawar” rawat gabung menjadi ”bayi diantar kalau ingin menyusu” atau ”ibu boleh ke ruang bayi jika ingin menyusui” harus diubah total menjadi rawat gabung 24 jam sehari. Rawat gabung adalah cara terbaik bagi ibu untuk dapat beristirahat sambil menyusui. Dengan demikian, menyusui menjadi menenangkan, dan bukan melelahkan.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-3' id='fnref-873-3'>3</a></sup></p>
<li>Belajar Menyusu dan Menyusui</li>
<p>Di hari pertama kelahiran bayi, ibu dan bayi akan saling belajar mengenal lewat proses menyusui. Walaupun sudah memiliki anak sebelumnya, setiap ibu tetap akan kembali belajar menyusui bayi barunya.</p>
<p>Hal pertama yang harus diperhatikan, bahkan disebut sebagai kunci sukses menyusui oleh pakar laktasi asal Kanada, dr. Jack Newman, MD, FRCPC, adalah pelekatan mulut bayi dengan payudara. Bayi baru lahir (dan ibu) seringkali mengalami kesulitan melakukan pelekatan yang sempurna di awal masa menyusui. Pelekatan yang tidak sempurna bisa berujung pada berbagai masalah, mulai dari puting lecet, bayi sering kolik, hingga kurangnya peningkatan berat badan bayi.</p>
<p>Tidak perlu kuatir, bayi yang mendapat kesempatan optimal untuk kontak kulit dengan ibunya, umumnya lebih cepat dan lebih mudah melakukan pelekatan yang sempurna. Dan tidak ada hal rumit yang perlu dilakukan untuk mendapatkan pelekatan yang sempurna. Kalimat yang seringkali saya ingat di hari-hari pertama ini adalah ”<em>babies and mothers learn to breastfeed by breastfeeding</em>”. Jadi, kalaupun terjadi pelekatan yang tidak sempurna, yang perlu dilakukan adalah selalu menyusuinya sesuai keinginannya.</p>
<p>Hindari mengulang-ulang pelekatan (melepas bayi dari payudara jika tidak melekat dengan baik kemudian mencoba pelekatan lagi) karena akan menambah rasa sakit pada payudara dan membuat ibu dan bayi lebih frustrasi. Perbaiki saja pelekatannya sambil tetap menyusuinya. Hal ini bisa dilakukan dengan mendorong bokong bayi agar badannya lebih dekat ke badan ibu serta posisi hidungnya menjauhi payudara, atau menarik sedikit dagunya agar payudara (areola) lebih banyak masuk ke dalam mulut bayi.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-4' id='fnref-873-4'>4</a></sup></p>
<p><em>Pengalaman saya belajar menyusui Naqiya agak berbeda dengan saat menyusui abangnya, Deyka. Proses belajar terbilang cukup cepat. Dalam beberapa hari pertama, kegagalan pelekatan sudah jarang sekali terjadi. Sedangkan pada saat menyusui Deyka, karena di rumah sakit tidak rawat gabung dan hanya mendapat kesempatan menyusui 3-4 kali sehari, proses belajar menyusui baru benar-benar dimulai setelah pulang ke rumah (kira-kira usia 3 hari). Walaupun tidak mengalami kesulitan yang berarti (mungkin karena Deyka tidak diberi susu menggunakan dot di rumah sakit, melainkan dengan sendok), namun saat itu sulit bagi saya untuk benar-benar menikmati menyusui di hari-hari pertama.</em></p>
<li>ASI sudah keluar atau belum</li>
<p>Rasanya pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling lazim ditanyakan orang (termasuk tenaga kesehatan) pada seorang ibu yang baru melahirkan. Jika si ibu tipe orang yang optimis dan tahu bahwa keluarnya kolostrum (ASI yang keluar di hari-hari pertama) umumnya tidak terasa dan tidak terlihat, mungkin pertanyaan ini tidak mengganggu. Tapi, bagi ibu yang tidak terlalu optimis dan tidak tahu bahwa yang harus ia lakukan hanyalah menyusui bayinya setiap saat bayinya mau, pertanyaan tersebut bisa jadi pertanyaan paling menekan di seluruh dunia.</p>
<p>Setiap calon ibu perlu tahu bahwa kolostrum sudah diproduksi sejak trimester kedua kehamilan dan akan siap diminum bayi begitu plasenta terlepas dari rahim saat proses persalinan. Kolostrum adalah satu-satunya yang dibutuhkan bayi baru lahir. Dan sang bayi akan mendapatkannya jika ia senantiasa berada dekat ibunya sehingga dapat menyusu kapanpun.</p>
<p>Percaya dirilah. Kalaupun ada pihak yang menekan karena menganggap ”ASI belum keluar”, tetaplah menikmati menyusui bayi kecil Anda, karena sebenarnya <a href="http://aimi-asi.org/2010/07/ulasan-polling-juni-2010/">bayi dapat bertahan 72 jam</a> sejak kelahirannya tanpa makanan / minuman apapun.</p>
<p><em>Saya sendiri, begitu masuk kamar inap, langsung diminta perawat untuk mencoba menekan areola untuk melihat apakah ASI sudah keluar. Saat itu tidak ada ASI yang kelihatan keluar. Perawat hanya bilang ”mungkin besok keluar”, yang menurut saya sudah lumayan positif, mengingat masih banyak perawat yang mudah menyarankan susu formula begitu tahu bahwa ASI ibu ”belum keluar”. Walaupun ASI tidak keluar saat payudara dipencet, saya tidak ambil pusing. Saya tetap sodorkan payudara pada Naqiya setiap saat dia menunjukkan tanda haus. Toh hanya bayi yang paling mahir mengeluarkan ASI dari payudara. Jika ASI tidak ada atau sedikit saat payudara dipencet, diperah atau dipompa, tidak berarti ASI belum keluar atau belum diproduksi.</em></p>
<li><em>Baby blues syndrome (postpartum depression)</em></li>
<p>Perasaan sedih dan tertekan sangat umum dirasakan ibu baru melahirkan. Sekitar 80% ibu mengalami <em>baby blues</em> berupa perasaan sedih, emosional dan <em>mood swing</em> mulai dari hari-hari pertama kelahiran bayi. <em>Baby blues</em> umumnya hanya berlangsung selama beberapa hari, tapi dapat juga bertahan hingga dua minggu.</p>
<p><em>Baby blues</em> terjadi sebagai efek dari perubahan hormon yang terjadi antara masa kehamilan dan kelahiran bayi. Level hormon kehamilan kembali ke level normal seperti sebelum hamil dalam waktu kurang lebih satu minggu. Oleh sebab itu umumnya baby blues akan mereda dengan sendirinya tanpa membutuhkan pengobatan khusus.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-5' id='fnref-873-5'>5</a></sup></p>
<p><em>Baby blues</em> dapat mempengaruhi proses menyusui. Ibu yang merasa sedih, tertekan dan kelelahan secara berlebihan akan kesulitan menikmati menyusui bayinya, bahkan bisa mempengaruhi produksi ASI. Apalagi, selain merupakan proses memberi ASI, menyusui juga merupakan aktivitas yang sangat intim antara ibu dan bayi. Setiap menyusu dan menyusui, selayaknya ibu dan bayi berkomunikasi dan berbagi perasaan bahagia dan saling menyayangi.</p>
<p>Untuk mencegah atau menanggulangi <em>baby blues</em>, ibu harus mendapat nutrisi, istirahat dan dukungan yang cukup. Sebaiknya ibu menentukan prioritas kegiatan sehari-hari. Tetapkan standar yang rendah pada kegiatan lain selain menyusui. Usahakan beristirahat saat tidak sedang menyusui atau merawat bayi. Jika ada, biarkan asisten rumah tangga atau keluarga dekat membantu beberapa pekerjaan rumah tangga. Biasakan makan makanan bergizi setiap hari. Jika perlu, bicaralah dengan orang terdekat atau cari kelompok pendukung sesama ibu menyusui atau ibu baru sehingga Anda bisa bertukar pikiran dan tidak merasa sendirian.</p>
<p><em>Saya mengalami <em>baby blues</em> pada minggu kedua setelah kelahiran Deyka. Penyebabnya, saya rasa, kelelahan dan sedikit kaget dengan ritme kegiatan sehari-hari yang sangat berbeda dengan sebelum memiliki bayi. Saya tidak mengalami baby blues pada kelahiran Naqiya. Padahal, menurut saya, kelelahan tetap ada, bahkan lebih, karena selain harus merawat Naqiya, juga harus mengurus Deyka. Namun, rasa ’berdaya’ yang saya miliki saat ini, karena dari awal kelahiran Naqiya saya merasa lebih sadar apa yang harus dihadapi dan dilakukan, serta rasa tenang karena Naqiya juga tenang, membuat saya lebih ’ringan’ dan santai menjalani perubahan-perubahan sehari-hari setelah kelahiran Naqiya.</em></p>
<li>Kuning (<em>Jaundice</em>)</li>
<p><em>Anak pertama saya, Deyka, mengalami kuning di usia 7 hari. Saat itu saya tidak mengerti sama sekali apa penyebab kuning dan bagaimana menanganinya. Saya hanya tahu bahwa banyak bayi baru lahir yang juga mengalaminya dan umumnya mereka diberi terapi sinar (<em>phototherapy</em>). Jadi pada saat itu, dengan kadar bilirubin Deyka 11 miligram, saya hanya menurut pada perintah dokter untuk menerapkan PT pada Deyka. Beruntung, saya mengikuti insting saya untuk tetap memberinya ASI. Saya dilarang untuk menginap di rumah sakit menunggui Deyka dan tidak diperkenankan menyusui Deyka kecuali pada jadwal yang sudah ditentukan rumah sakit, yaitu 2 kali sehari. Jadi, saya perah ASI saya di rumah setiap 2 jam sekali, dan mengantarkannya ke rumah sakit pada jam-jam besuk (jadwal menyusui). Alhamdulillah, ASI perah saya mencukupi kebutuhan Deyka selama di rumah sakit, sehingga tidak perlu diberi tambahan susu formula. Setelah menginap dua malam, Deyka sudah boleh pulang. Berbeda dengan Deyka, Naqiya tidak mengalami kuning sama sekali.</em></p>
<p><em>Jaundice</em> sangat umum terjadi pada bayi usia beberapa hari. Karena itu sangat baik jika calon ibu dan ayah mencari sedikit informasi mengenai kuning pada bayi baru lahir, sebelum kelahiran bayi. Selengkapnya mengenai kuning / jaundice bisa dibaca <a href="http://aimi-asi.org/2007/09/sakit-kuning-dan-menyusui/">disini</a>.</p>
<p>Walaupun kuning pada bayi baru lahir (muncul setelah bayi berusia lebih dari 24 jam) umumnya tidak berbahaya, tindakan medis yang sering dilakukan dapat mengganggu proses awal menyusui. Oleh karena itu, tenaga kesehatan dan orangtua harus berhati-hati dalam menentukan tindakan yang akan diambil dalam menangani kondisi <em>jaundice</em>, sehingga pemulihannya tidak justru menimbulkan masalah yang lebih berat daripada penyakit itu sendiri. Waspadalah terhadap tanda-tanda reaksi berlebihan terhadap jaundice pada bayi yang diberi ASI.</p>
<ul>
<li>Pada kebanyakan kasus, tidak perlu ada tindakan apapun terhadap kuning dengan kadar bilirubin kurang dari 20 miligram (usia bayi lebih dari 72 jam)</li>
<li>Hampir semua bayi yang kuning tidak membutuhkan suplementasi air, air gula atau susu formula. Menghentikan pemberian ASI selama 1-2 hari juga tidak perlu dilakukan untuk menurunkan kadar bilirubin.</li>
<li>Lupakan semua pendapat yang menyatakan ada yang salah dengan ASI. Selama bayi sehat, kuning tidak berlangsung lama dan tidak berbahaya. Kalaupun kuning pada bayi Anda berhubungan dengan masalah kesehatan lain, ASI Anda sangat berharga untuknya dan Anda sebaiknya melanjutkan menyusuinya.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-6' id='fnref-873-6'>6</a></sup></li>
</ul>
<p>Kesulitan yang kerap dihadapi dalam menyusui bayi kuning adalah bayi yang mulai mengalami kuning umumnya sangat mengantuk dan malas menyusu. Beberapa hal yang bisa dilakukan jika bayi mulai menunjukkan tanda terlalu mengantuk untuk menyusu, antara lain:</p>
<ul>
<li>Lakukan kontak kulit. Letakkan bayi tanpa pakaian di dada atau perut ibu yang terbuka, tutup bagian punggung bayi dengan selimut. Suhu tubuh ibu akan menghangatkannya (suhu tubuh ibu naik saat menyusui) tapi tidak terlalu hangat hingga membuatnya tertidur. Susui ia dalam kondisi kontak kulit ini.</li>
<li>Gendong bayi dalam posisi tegak dan bicara kepadanya agar ia membuka matanya.</li>
<li>Perah dengan tangan sedikit kolostrum agar membasahi puting, lalu tempelkan puting pada bibir bawahnya untuk memancingnya membuka mulut. Bicara dan bujuk ia untuk meneruskan menyusu, jika ia mulai tertidur, tepuk pelan kakinya atau punggungnya.</li>
<li>Lakukan <em>switch nursing</em>. Jika bayi tertidur saat menyusu pada payudara kiri, pindahkan ke payudara kanan, dan juga sebaliknya. Sendawakan atau gosok punggungnya sebelum berganti payudara.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-7' id='fnref-873-7'>7</a></sup></li>
</ul>
<li>Puting sakit/lecet dan payudara bengkak (<em>engorgement</em>)</li>
<p>Puting sakit/lecet dan payudara bengkak seringkali menjadi keluhan utama ibu yang baru saja punya bayi. Keluhan ini kerap muncul di minggu pertama kelahiran.</p>
<p>Sakit pada puting umumnya disebabkan kurang sempurnanya pelekatan mulut bayi ke payudara ibu. Pelekatan yang tidak sempurna menyebabkan bayi tidak dapat mengeluarkan ASI dengan benar. Yang sering terjadi adalah, payudara (areola) tidak cukup masuk ke dalam mulut bayi sehingga bayi hanya menghisap puting, dan puting menjadi sakit / lecet.</p>
<p>Puting yang sakit/lecet umumnya tidak membutuhkan perawatan apapun. Sebaiknya ibu segera berusaha memperbaiki teknik pelekatan agar sakit / lecet tidak berkepanjangan dan bayi tetap mendapat ASI dalam jumlah cukup.</p>
<p>Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi sakit/lecet pada puting antara lain:</p>
<ul>
<li>Hangatkan puting dalam waktu singkat setelah menyusui, dengan menggunakan pengering rambut pada kekuatan rendah.</li>
<li>Puting sebaiknya dibiarkan terbuka (diangin-anginkan) sesering mungkin.</li>
<li>Berbagai salep khusus puting dapat digunakan.</li>
<li>Hindari membersihkan puting terlalu sering, cukup pada saat mandi saja.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-8' id='fnref-873-8'>8</a></sup></li>
</ul>
<p><em>Engorgement</em> adalah pembengkakan payudara yang disebabkan oleh meregangnya pembuluh darah dan adanya tekanan air susu yang baru diproduksi. Kebanyakan ibu mengalaminya pada hari kedua hingga keenam setelah persalinan. Pembengkakan biasanya terjadi saat kolostrum mulai berubah menjadi ASI matang. Namun, pembengkakan dapat juga terjadi belakangan, jika ibu melewatkan beberapa sesi menyusui atau tidak cukup mengeluarkan/memerah ASI dari payudara.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-9' id='fnref-873-9'>9</a></sup></p>
<p>Bagaimana mencegah pembengkakan payudara di awal masa menyusui?</p>
<ul>
<li>Menyusuilah segera dan sering, jangan melewati sesi menyusui, termasuk di malam hari.</li>
<li>Menyusuilah sesuai dengan keinginan bayi.</li>
<li>Biarkan bayi selesai menyusu pada satu payudara sebelum menawarkan payudara yang lain. Jangan membatasi waktu bayi menyusu.</li>
<li>Pastikan pelekatan dan posisi menyusui sudah tepat sehingga bayi menyusu dengan baik dan membantu mengendurkan payudara.</li>
<li>Jika bayi tidak menyusu dengan baik, perah ASI secara rutin untuk menjaga produksi ASI dan mengurangi pembengkakan.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-10' id='fnref-873-10'>10</a></sup></li>
</ul>
<p>Pembengkakan ringan umum terjadi pada kebanyakan ibu. Pembengkakan biasanya pulih dalam 1 atau 2 hari tanpa penanganan apapun, walaupun terasa tidak nyaman. Memijat payudara dengan gerakan ke bawah tidak disarankan untuk payudara yang bengkak. Tetap susui bayi, pastikan ia dapat menyusu dengan baik, maka pembengkakan akan berkurang.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-11' id='fnref-873-11'>11</a></sup></p>
<p>Sebisa mungkin sebaiknya mencegah pembengkakan menjadi berkepanjangan atau menjadi pembengkakan berat. Payudara yang sangat bengkak akan terasa keras sehingga menyulitkan bayi untuk melekat dan juga sulit untuk diperah. Mengompres hangat selama beberapa menit sebelum menyusui dapat membantu agar ASI mengalir lebih baik. Lakukan pemijatan pada payudara saat menyusui untuk mengurangi pembengkakan. Memerah ASI dari payudara yang mulai membengkak sebaiknya dilakukan dengan tangan. Jika ingin memakai pompa, gunakan pada kekuatan rendah dan jangan lebih dari 10 menit karena jaringan payudara yang sedang membengkak lebih mudah rusak.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-12' id='fnref-873-12'>12</a></sup></p>
<p><em>Pada hari ketiga setelah melahirkan Naqiya, saya mulai merasakan <em>mild engorgement</em> dan peningkatan produksi ASI. Produksi ASI saat kolostrum berubah menjadi ASI matang memang kerap lebih banyak daripada kebutuhan bayi, karena payudara belum beradaptasi. Untuk mengurangi ketidaknyamanan pada payudara dan agar Naqiya tetap bisa melekat dengan mudah pada payudara, saya mulai memerah ASI pada hari ketiga dengan menggunakan tangan.</em></p>
<p>Menyusui memang hal yang alami. Namun, di tengah banyaknya mitos turun-temurun dan maraknya pelanggaran di sana-sini, calon ibu dan ayah perlu membekali dirinya dengan informasi-informasi dasar mengenai ASI dan menyusui. Dengan demikian minimal ibu tidak mudah panik dan lebih percaya diri saat menyusui bayinya. Ketahui juga <a href="http://aimi-asi.org/2008/04/10-langkah-sukses-menyusui/">10 Langkah Menuju Kesuksesan Menyusui</a> yang diatur oleh Kepmenkes no. 450/2004, mengenai hal-hal yang harus diterapkan oleh fasilitas kesehatan dan menjadi hak ibu dan bayi baru lahir.</p>
<p>Selamat menyusui dengan nyaman, Moms.</p>
</ol>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 7215 kali.</p>
<div class='footnotes'>
<div class='footnotedivider'></div>
<ol>
<li id='fn-873-1'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=82:the-importance-of-skin-to-skin-contact-&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">The Importance of Skin to Skin Contact</a>. Jack Newman, MD, FRCPC. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-1'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-2'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=45:breastfeeding-starting-out-right&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">Breastfeeding – Starting Out Right</a>. Jack Newman, MD, FRCPC. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-2'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-3'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=45:breastfeeding-starting-out-right&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">Breastfeeding – Starting Out Right</a>. Jack Newman, MD, FRCPC. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-3'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-4'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=45:breastfeeding-starting-out-right&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">Breastfeeding – Starting Out Right</a>. Jack Newman, MD, FRCPC. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-4'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-5'><a href="http://kidshealth.org/parent/emotions/feelings/ppd.html">Postpartum Depression</a>. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-5'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-6'><a href="http://www.askdrsears.com/html/2/t029600.asp">Breastfeeding A Newborn with Jaundice</a>. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-6'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-7'><a href="http://www.askdrsears.com/html/2/T024800.asp">Techniques on Waking A Sleeping Baby</a> <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-7'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-8'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=48:sore-nipples&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">Sore Nipples</a>. Jack Newman, MD, FRCPC <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-8'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-9'><a href="http://www.breastfeeding.com/all_about/all_about_engorgement.html">Engorgement</a> &#8211; breastfeeding.com <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-9'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-10'><a href="http://www.kellymom.com/bf/concerns/mom/engorgement.html">Engorgement</a> &#8211; kellymom.com <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-10'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-11'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=83:engorgement&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">Engorgement</a>. Jack Newman, MD, FRCPC <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-11'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-12'><a href="http://www.kellymom.com/bf/concerns/mom/engorgement.html">Engorgement</a> &#8211; kellymom.com <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-12'>&#8617;</a></span></li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/07/minggu-pertama-yang-menentukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bicara ASI bersama AIMI Episode 3: IMD</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-3-imd/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-3-imd/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 06:01:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=788</guid>
		<description><![CDATA[Topik: Inisiasi Menyusu Dini Narasumber: dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, FABM Acara ini disponsori oleh PT. Indo Tambang Megahraya, tbk. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Video ini telah dilihat kali.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Topik: Inisiasi Menyusu Dini<br />
Narasumber: dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, FABM<br />
Acara ini disponsori oleh PT. Indo Tambang Megahraya, tbk.</p>
<p><object classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" width="437" height="348" id="viddlerplayer-91a1d8f6"><param name="movie" value="http://www.viddler.com/simple/91a1d8f6/" /><param name="autoplay" value="f" /><param name="disablebranding" value="f" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="name" value="viddlerplayer-91a1d8f6" /><embed src="http://www.viddler.com/simple/91a1d8f6/" width="437" height="348" type="application/x-shockwave-flash" allowScriptAccess="always" allowFullScreen="true" flashvars="autoplay=f&#038;disablebranding=f" name="viddlerplayer-91a1d8f6" ></embed></object></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Video ini telah dilihat 825 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-3-imd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inisiasi Menyusu Dini, Repot Ya?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/05/inisiasi-menyusu-dini-repot-ya/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/05/inisiasi-menyusu-dini-repot-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 01:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puti Herryanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=735</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kita yang sudah memahami informasi mengenai Inisiasi Menyusu Dini (IMD) tentu saja tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Bukankah bayi baru lahir dapat segera mencari puting susu ibunya sesaat ketika lahir, karena hal tersebut merupakan naluri alamiah yang dimilikinya. Pertanyaannya adalah, apakah semua tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang akan membantu ibu untuk melahirkan bayinya sudah memahami dan mau melakukan hal ini? Yuk simak bersama sharing salah satu Konselor Laktasi AIMI berikut ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca judul diatas, beberapa dari kita tentu bertanya-tanya. Repot? Apanya yang repot ya?</p>
<p>Bagi kita yang sudah memahami informasi mengenai Inisiasi Menyusu Dini (IMD) tentu saja tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Bukankah bayi baru lahir dapat segera mencari puting susu ibunya sesaat ketika lahir, karena hal tersebut merupakan naluri alamiah yang dimilikinya.</p>
<p>Pertanyaannya adalah, apakah semua tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang akan membantu ibu untuk melahirkan bayinya sudah memahami dan mau melakukan hal ini? Yuk simak bersama sharing saya berikut ini.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/05/05-puti-andra.jpg" alt="" title="05-puti-andra" width="300" height="207" class="alignleft size-full wp-image-737" />Mencari rumah sakit yang bersedia melakukan Inisiasi Menyusu Dini memang gampang-gampang susah. Mengapa demikian? Karena bisa saja ibu sudah menemukan tenaga kesehatan yang bersedia untuk melakukan IMD pada kelahiran normal maupun caesar, tetapi rumah sakitnya tidak menyetujui. Terdengar familiar?</p>
<p>Kejadian ini terjadi pada saya ketika hamil anak kedua. Untuk mendapatkan hak yang satu ini saya dan suami harus sering-sering &#8216;<em>shopping</em>&#8216; dokter dan rumah sakit. Saat itu kami sudah bertemu dengan dokter kandungan yang cocok, tetapi beliau belum memahami tentang tata laksana IMD dengan baik.</p>
<p>Di lain pihak rumah sakit bersalin tempat dokter tersebut praktek telah meng-&#8217;<em>claim</em>&#8216; dirinya sebagai rumah sakit sayang Ibu dan bayi dengan mendukung pemberian ASI dan tidak memberikan dot/botol pada bayi. Tetapi sayang, belum banyak cerita sukses tentang IMD di rumah sakit tersebut, terlebih yang ditangani oleh dokter kandungan saya.</p>
<p>Setelah mencari tahu informasi mengenai IMD yang dilakukan disana, ternyata IMD belum dilakukan dengan tata laksana yang benar, dimana bayi baru lahir langsung  diletakkan diatas dada ibu selama 5 menit saja, kemudian langsung dipisahkan dari ibu untuk diobservasi dan dipertemukan kembali setelah 6 jam persalinan. Bayi tidak diberikan kesempatan untuk menemukan puting susu ibu-nya. Hal ini diperparah dengan tidak diijinkannya rawat gabung untuk bayi dengan ibunya dengan berbagai macam alasan. Rawat gabung baru dilakukan ketika pasien memaksa, dan pihak rumah sakit berulang kali menegaskan bahwa segala konsekuensi harus ditanggung oleh pasien karena bayi tidak berada dalam pengawasan mereka. Padahal, bayi yang selama 24 jam selalu bersama ibu-nya akan semakin sehat dan jauh dari risiko-risiko medis yang mungkin terjadi pada bayi baru lahir.</p>
<p>Rumah sakit ini  memang menganjurkan pemberian ASI,  tapi tidak ada bimbingan langsung untuk menyusui saat baru melahirkan dan baru diajarkan pada hari terakhir di ruang bayi bersamaan dengan mengajarkan perawatan bayi baru lahir. Rumah sakit inipun langsung menyetujui bila ada ibu yang meminta sufor untuk bayinya.</p>
<p>Mengetahui hal ini tentu saja kepanikan melanda saya. Kami dihadapkan pada dua pilihan, yaitu ganti dokter atau ganti rumah sakit. Tetapi karena malas beradaptasi dengan dokter yang baru lagi serta sudah nyaman dengan dokter yang menangani saat ini, saya memutuskan untuk meneruskan saja periksa kehamilan dan melahirkan dengan dokter saya di rumah sakit yang saya pilih.</p>
<p>Dengan mengucap Bismillah, saya berkeyakinan bisa melakukan IMD untuk kebaikan Ibu dan Bayi. Melalui milis AFB, aku kumpulkan testimoni dari yang pernah melahirkan di rumah sakit bersalin tersebut, terkumpullah 6 testimoni terdiri dari 5 testimoni IMD yang hanya 5 menit dan 1 yang sukses. Saya berikan testimoni tersebut ke dokter kandungan saya, dan sepertinya sang dokter menjadi ‘tertantang’, dalam diskusi terungkaplah bahwa beliau belum terinformasi bahwa minimal waktu IMD adalah 60 menit.</p>
<p>Kendala lain yang dirasakan adalah canggung, karena dokter kandungan banyak yang laki-laki. Setelah dijelaskan kalau dokter tidak perlu menunggui selama proses IMD berlangsung yang penting pastikan para suster dan bidan mengerti prosedurnya, tidak menyulitkan seperti menakut-nakuti bayi dingin dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan saya belikan VCD IMD dari AIMI untuk dipelajari. Alhamdullillah, gayung bersambut. Sebelum saya melahirkan, dokter memperkenalkan kami dengan para bidan dan suster yang akan membantu saat kelahiran. Senangnya!</p>
<p>Hari H-pun tiba. Saya sudah merasakan kontraksi datang dan pergi selama satu minggu. Saat periksa di usia 38 minggu ternyata ketubanku sudah berkurang dan semakin sedikit. Perkiraan dokter malam ini saya akan melahirkan, namun bila tidak maka harus diinduksi. Ternyata sampai besok pagi tidak ada kontraksi, akhirnya saya harus kembali diinduksi. Baru 2 jam diinduksi, ketuban lagi-lagi pecah dan kali ini sudah berwarna hijau. Maka dokter memutuskan untu melakukan cesar harus dilakukan. Hampir pupus harapan untuk IMD, tapi Alhamdulilah ternyata dokter kandungan menepati janji dan komitmennya. Andra menangis sangat kencang ketika dilahirkan dan setelah dipastikan sehat, Andra dibersihkan seadanya dan langsung diletakkan ke dadaku untuk IMD.</p>
<p>IMD berlangsung lancar, tidak sempurna memang, tapi aku cukup puas. Beberapa kali perawat menyodorkan ‘puting’ pada Andra. Tetapi bagaimana mau meminumnya, Andra belum siap, jadi biarpun disodorkan puting, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/03/03-imd-300x199.jpg" alt="" title="Bayi Baru Lahir Sedang IMD" width="300" height="199" class="alignright size-medium wp-image-217" />Andra tetap saja diam. Tidak hanya itu tantangannya, belum juga 60 menit, para perawat juga berusaha untuk menghentikan proses IMD dengan berkata: &#8220;Yang penting <em>skin to skin</em> bu, itu namanya udah IMD” kata perawat padahal saat itu IMD baru berlangsung 15menit. Karena Andra dilahirkan cesar dia masih asyik menikmati kehangatan bundanya, bergerak sedikit lalu tidur lagi. Menit ke 60 Andra mulai bergerak, bidan dan perawat yang berada dalam ruangan bahkan diluar ruangan langsung masuk kesenangan melihat bayi yang baru berumur 60 menit, menendang maju dan mengangkat tinggi kepalanya untuk menggapai puting bundanya. Mereka sangat antusias melontarkan komentar ‘hebat ya’, ‘coba tuh lihat, Subhanallah’ dan masih banyak komentar lainnya. Belum lagi ketika melihat Andra menemukan sendiri puting di menit ke 110 dan dengan asyiknya melahap kolostrum pertamanya. Alhamdulillah ya Allah!</p>
<p>Kejadian itu membuatku terhenyak, ternyata para perawat tadi belum pernah melihat IMD secara langsung. Tak kenal maka tak sayang, ternyata selama ini mereka tidak percaya diri, mereka belum menyaksikan langsung kehebatan dada ibu yang mampu menghangatkan bayi baru lahir. Mereka belum pernah menyaksikan indahnya bayi berusia kurang dari 2 jam berhasil merangkak di perut bundanya. IMD terlaksana cukup baik, aku cukup puas. Ternyata tidak hanya aku yang merasa puas. Perawat bayi yang setia menungguiku ketika IMD,  senang sekali datang ke kamarku ketika jam besuk tiba. Dengan semangat’45 perawat tersebut menceritakan proses IMD yang menurutnya sangat menakjubkan kesetiap orang yang mengunjungiku. Ini dilakukannya selama 3 hari aku berada dirumah sakit.</p>
<p>Berarti selama ini disinilah masalahnya kita sebagai pasien, perawat, dan dokter sama-sama belajar. Ketika banyak dari kita yang berusaha mencari rumah sakit sayang bayi dan pro IMD, sebaiknya kita mulai dari diri kita, kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Adalah penting untuk menyamakan persepsi IMD dan rooming in dengan tenaga kesehatan yang terlibat. Tapi sekarang aku yakin, banyak perawat dan dokter yang kurang percaya diri bukannya tidak pro ASI atau IMD, seperti kata dokter hebat pejuang ASI dr Utami Roesli ‘mereka ini orang-orang yang belum mendapatkan hidayah’, jadi tidak ada salahnya sebagai pasien kita yang memulai.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Artikel ini telah dibaca sebanyak 2713 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/05/inisiasi-menyusu-dini-repot-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Poling April 2010 &#8211; IMD</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/05/imd/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/05/imd/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 09:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sari Intan Kailaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Poll: lebih dari 60 menit. Luar biasa, ternyata sudah banyak responden yang menjawab dengan tepat, yaitu lebih dari 60 menit (32%). Sebagian masih menganggap 60 menit sudah cukup (31%). Seperti apakah sebenarnya proses IMD yang benar dan mengapa harus minimal 60 menit? Proses IMD (Inisiasi Menyusu Dini) dilakukan segera setelah bayi lahir, selama minimal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Jawaban Poll: lebih dari 60 menit.</p>
<p>Luar biasa, ternyata sudah banyak responden yang menjawab dengan tepat, yaitu lebih dari 60 menit (32%). Sebagian masih menganggap 60 menit sudah cukup (31%).</p>
<p>Seperti apakah sebenarnya proses IMD yang benar dan mengapa harus minimal 60 menit?</p>
<p>Proses IMD (Inisiasi Menyusu Dini) dilakukan segera setelah bayi lahir, selama minimal 60 menit. Bayi tidak dimandikan, hanya dibersihkan kering keuali bagian tangan dan telapak tangan.</p>
<p>Umumnya pada 30-45 menit pertama, bayi hanya akan diam di dada ibu, yaitu untuk menenangkan dirinya setelah proses kelahiran. Tahapan ini juga memberikan ketenangan bagi sang ibu. Selanjutnya bayi akan bergerak mendekati puting ibu. Dalam prosesnya bayi akan memijat perut dan payudara ibu. Pada akhirnya bayi akan mencapai areola dan puting ibu untuk kemudiam memulai proses menyusu.</p>
<p>Hal yang penting dalam proses IMD adalah terjadinya kontak kulit (skin-to-skin contact) antara bayi dan ibu. Bayi mendapatkan bakteri-bakteri baik dari dada ibu yang bermanfaat bagi pencernaannya yang masih rentan. Selain itu manfaat besar dari kontak kulit ini adalah meningkatkan rasa percaya diri ibu sehingga melancarkan ASI.</p>
<p>Oleh sebab itu, IMD harus dilakukan lebih dari 60 menit agar ibu dan bayi bisa mendapatkan kesempatan kontak kulit yang optimal dan melakukan proses menyusu sesegera mungkin pada saat refleks menghisap bayi muncul.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Ulasan ini telah dibaca 1802 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/05/imd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Pertama Gagal ASI Eksklusif &#8211; Bagaimana Dengan Adik?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 01:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok pendukung]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu yang tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif kepada anak kedua bahkan ketiga ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama. Ini disebabkan mereka terpaku pada kegagalan anak pertama. Umumnya kegagalan ini disebabkan oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.  Saya ingin berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak ibu merasa tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya &#8211; baik kepada anak kedua atau ketiga, ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-mama-zach.jpg" alt="" title="04-mama-zach" width="300" height="241" class="alignleft size-full wp-image-648" />Hal ini seringkali terjadi, karena banyak ibu terpaku pada kegagalan memberikan ASI di masa lalu yang disebabkan  oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.</p>
<p>Menanggapi hal tersebut, ijinkan Saya berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi semua ibu yang membacanya.</p>
<p>Anak pertama saya lahir pada bulan Oktober 2004, hanya 10 bulan dari sejak saya menikah. Senang..? Pasti dong. Saya pun berniat untuk memberikan yang terbaik &#8211; yaitu ASI &#8211; untuk anak pertama saya.</p>
<p>Memberikan ASI ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Karena kekurangan informasi tentang ASI dan menyusui, saya mengawali perjalanan menyusui anak pertama saya dengan tidak tepat, misalnya: tidak meminta rawat gabung dengan anak sewaktu di Rumah Sakit sehingga saya yang harus bolak balik ke kamar bayi (dengan jam menyusui yang dibatasi / dijatah). Kondisi seperti ini membuat saya tidak dapat menyusui dikala anak saya membutuhkan ASI. Saya lebih sering menemui anak saya sedang tertidur sehingga tak mau menyusu.</p>
<p>Saat itu saya pikir ini kondisi seperti ini normal saja. Tetapi begitu saya pulang dari Rumah Sakit dan merawat bayi saya sendiri, barulah saya merasakan ketidaknyamanan. Bukan, bukan karena saya kecapekan menjaganya tapi saya mengalami puting lecet.</p>
<p>Saya bingung sekali kala itu,  tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya cara yang menurut saya dapat menyelesaikan permasalahan puting lecet kala itu adalah dengan memompa ASI dari payudara yang lecet dan hanya menyusui dari payudara yang tidak sakit. Karena kondisi ini pula, saya sempat mengalami ‘<em>mild baby blues</em>’, dimana saya menangis setiap harus menyusui dari payudara yang lecet tersebut. Untungnya cuma berlangsung sebentar, 3 hari saja.</p>
<p>Selama di berada rumah dan belum kembali bekerja, saya selalu menyusui anak saya secara langsung, sehingga saya pun jarang memerah, apalagi semenjak luka di puting pulih. Ternyata hal ini menimbulkan masalah ketika saya harus kembali lagi ke kantor. Saya tidak memiliki stok ASI perah ketika itu, sehingga saat harus kembali masuk kantor saya bingung bagaimana dengan asupan susu anak saya di rumah. Oleh orang tua, saya diminta membeli susu formula (sufor) sebagai cadangan kalau-kalau ASI yang saya perah di kantor tidak cukup untuk konsumsi anak saya selama saya tinggal bekerja. Dan terjadilah hal yang saya takutkan, di usianya yang ke- 2,5 bulan, anak saya sudah minum ASI campur sufor.</p>
<p>Selain itu, karena minimnya informasi yang saya punya, saya memperkenalkan MPASI dini pada anak saya, karena menurut orang tua,  anak saya pasti kelaparan kalo hanya minum ASI dan susu formula saja.</p>
<p>Sekembalinya bekerja, ternyata saya tidak konsisten memerah ASI. Kadang hanya 2x dalam waktu 9 jam, malah kadang hanya 1x kalau saya terlalu sibuk atau malas. Ini disebabkan di kepala saya sudah tertanam bahwa anak saya akan baik-baik saja karena ada back-up sufor dan MPASI di rumah jika ASI perah tidak mencukupi. Akhirnya pada usia 10 bulan, anak saya hanya minum sufor tanpa ASI lagi.</p>
<p>Ketika anak ke-2 lahir di tahun 2007, saya sudah bertekad untuk memberi ASI sekurang-nya 6 bulan tanpa tambahan susu formula maupun MPASI dini. Hal ini dikarenakan informasi yang saya dapatkan dari seminar tentang kesehatan anak pada tahun 2006 yang saya ikuti, menjelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif adalah 6 bulan tanpa tambahan apa pun. Ditambah lagi, tidak lama setelah saya melahirkan, saya pun ikut bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dimana saya dapat mencari informasi tentang ASI, menyusui dan tips memerah selama bekerja dengan lebih lengkap. Alhamdulillah, dengan banyaknya informasi yang saya dapat, anak ke-2 pun lulus ASI eksklusif tanpa bantuan dari susu formula dan MPASI dini.</p>
<p>Selain itu, untuk menambah wawasan dan jejaring, saya datang ke kopdar milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">Asiforbaby</a> pertama kali dan berkenalan dengan banyak ibu muda. Selain presentasi mengenai ASI yang dibawakan oleh dr. Utami Roesli, saat itu juga ada presentasi dari mbak Mia Sutanto yang menjelaskan bahwa akan dibentuk suatu organisasi yang bisa mewadahi para ibu menyusui. Saya melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk terlibat secara langsung didunia per-ASI-an dan ketemu dengan para ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>Singkat cerita, saya pun mengajukan diri untuk ikut bergabung dan Alhamdulillah, saya tidak salah berkumpul dengan ibu-ibu hebat di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena disini lah saya bisa bertanya, curhat dan bersenang-senang. Dari sini pun saya sadar, ternyata ilmu yang didapat dari internet atau milis saja tidak cukup. Kita perlu berkumpul dengan para ibu yang mempunyai pandangan yang sama dengan kita.</p>
<p>Saat kelahiran anak-3 dipertengahan 2008, saya jauh lebih percaya diri. Saya jadi lebih getol mencari dokter, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-family.jpg" alt="" title="04-family" width="300" height="200" class="alignright size-full wp-image-649" />tenaga kesehatan dan rumah sakit yang mengijinkan IMD dan rawat gabung. Sewaktu lahiran saya tenang karena anak langsung diletakkan di atas dada dan dibiarkan selama kurang lebih 1,5 jam. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan karena saya bisa melihat sendiri ayahnya meng-adzani anak di dada saya dan melihat serta merasakan IMD, dimana anak merangkak sendiri menuju payudara dan menyusu secara alami tanpa bantuan dari saya, mamanya.</p>
<p>Jadi kalau boleh saya rangkum dari pengalaman ini adalah tidak benar bahwa kegagalan pemberian ASI pada anak pertama berarti mustahil bagi anak ke-2 mau pun ke-3 untuk mendapat ASI. Ibu perlu membekali dirinya dengan ilmu yang cukup semenjak hamil tentang tata cara IMD, persiapan menyusui, dokter dan rumah sakit / bidan yang mendukung IMD &#038; rawat gabung. Tentu saja dukungan penuh dari suami juga akan membuat ibu lebih percaya diri.</p>
<p>Selain itu, jika memungkinkan bergabunglah dengan komunitas peduli ASI. Ini bisa diawali dengan bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dan dilanjutkan dengan bertemu langsung dengan para ibu di kota tempat kita tinggal atau sering disebut kopdar. Lebih bagus lagi jika pertemuan ini bisa diadakan rutin sehingga kita bisa saling berbagi ilmu dan saling mendukung sesama ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>So, ibu2, terbukti kan, kegagalan di masa lalu dapat menjadi pemicu keberhasilan untuk menyusui. Kalau saya bisa, Anda pun bisa!</p>
<p>Semangat ASI!</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 2908 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Menyusu Dini Menjadi Menyusui Dini</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/03/saat-menyusu-dini-menjadi-menyusui-dini/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/03/saat-menyusu-dini-menjadi-menyusui-dini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 04:26:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Clodi Stepantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Basic]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu kini mendambakan agar dapat bayi mereka bisa melakukan IMD, maka mereka pun sibuk mengumpulkan berbagai informasi tentang IMD dan tata laksananya. Kadang walau ilmu yang kita punya telah cukup dan kuasai dengan benar, tapi pada akhirnya sering juga gagal dikarenakan kurangnya informasi yang dimiliki oleh tenaga kesehatan. Berikut pengalaman konselor laktasi AIMI tentang minimnya informasi para tenaga kesehatan kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pasti semua ibu hamil memimpikan momen ini. Momen dimana orang tua dan bayi bertemu untuk pertama kalinya sambil membiarkan si kecil yang masih berusia beberapa menit itu bersentuhan kulit ibunya. Dimana si kecil, dihantarkan oleh nalurinya, berjuang untuk dapat mereguk cairan kehidupannya. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/03/03-imd-300x199.jpg" alt="Bayi Baru Lahir Sedang IMD" title="Bayi Baru Lahir Sedang IMD" width="300" height="199" class="alignleft size-medium wp-image-217" />Saat sang ayah mengumandangkan nyanyian surgawi di telinga si kecil. Betapa romantisnya. Namun sayang, momen ini masih tergolong langka bahkan masih banyak tenaga kesehatan yang menganggap ini hanya sebagai tren, bukan kebutuhan, sehingga tidak selalu menjadi prioritas dalam proses persalinan. Sehingga sering kali harus berubah menjadi Menyusui Dini. Namun, apa yang dapat kita lakukan untuk memaksimalkan proses ini?</p>
<p>Sekitar bulan yang lalu, saya berkesempatan menemani proses persalinan seorang teman. Hal ini merupakan momen yang sangat berarti bagi saya, karena saya diijinkan masuk ke ruang bersalin bersama-sama dengan suaminya. Saya, yang bukan anggota keluarga, diijinkan masuk tentu saja merupakan kesempatan yang sangat langka. Salah satu alasan teman saya meminta saya menemaninya dalam proses melahirkan adalah agar dapat membantu proses IMD yang akan berlangsung.</p>
<p>Kebetulan teman saya tersebut melahirkan di sebuah klinik sederhana. Sejak awal, teman saya sudah meminta ijin pada dokternya agar dia boleh ditemani oleh seorang yang lain selain suaminya pada proses persalinan. Dan dokter mengijinkan. Sejak itu juga teman saya telah menyampaikan keinginannya menjalani proses IMD, dokternya pun mengiyakan meski mengakui bahwa di klinik tersebut belum pernah dilaksanakan proses IMD.</p>
<p>Saya tiba di klinik pukul 8 pagi, hari itu hari minggu. Diantarkan oleh suami dan anak saya, kemudian saya bertemu dengan teman saya, sewaktu dia masih cukup segar karena kontraksi yang dirasakan belum cukup kuat, suami dan kedua orang tuanya. Kemudian suami dan anak saya berangkat ke Gereja, tinggallah saya di situ sendirian. Sempat ada rasa canggung di hati saya, merasa asing sendirian di situ karena sejujurnya teman saya ini pun bukanlah seorang sobat dekat, melainkan baru berkenalan beberapa bulan sebelumnya.</p>
<p>Kemudian saya mengirimkan pesan ke beberapa teman konselor, meminta saran mereka tentang tips-tips apa saja yang harus saya perhatikan. Ada satu teman saya yang mengingatkan (<em>thanks kak Sophie..!</em>), bahwa posisi saya di situ adalah tetap sebagai orang asing, jadi saya mesti bisa menarik simpati pihak keluarga teman saya tersebut. Ikuti saja apa mau mereka, karena posisi saya adalah sebagai konselor, bukan tenaga kesehatan. Sehingga saya tidak punya hak untuk memaksakan suatu kondisi apa pun, melainkan hanya boleh menyarankan.</p>
<p>Saya camkan saran itu baik-baik dalam hati saya, lalu berdoa semoga saja saya tidak gegabah. Ini adalah pertama kalinya saya mendampingi seseorang yang akan melahirkan. Malam sebelumnya sampai berkali-kali saya menonton video proses pelaksanaan IMD, meski sebenarnya saya sudah cukup hafal langkah-langkah penerapannya. Tapi rasa ragu tetap saja muncul, karena pada dasarnya saya sendiri belum pernah menjalani proses ini sehingga saya hanya tau teori, tapi tidak prakteknya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/03/saat-menyusu-dini-menjadi-menyusui-dini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah IMD di Kampung Halaman</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/08/kisah-imd-di-kampung-halaman/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/08/kisah-imd-di-kampung-halaman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 01:36:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Bidan]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata pelaksanaan IMD tidah hanya dapat dilakukan di kota besar saja, sekarang di daerah mau pun kota kecil bahkan pedesaan juga bisa melakukan IMD. Pelaksanaan ini juga tidak hanya bisa dilakukan oleh para dokter OBGYN tapi juga bisa dilakukan oleh bidan. Kuncinya adalah cukupnya ilmu yang kita punya sebagai konsumen sehingga bisa mendiskusikannya dengan tenaga kesehatan. Silahkan simak kisah sukses seorang ibu yang berhasil melakukan IMD di desa kelahirannya dengan hanya dengan berbekal ilmu yang didapat dari berbagai sumber.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemberian ASI adalah langkah terbaik untuk bayi. Pelajaran itu kami simpulkan dari referensi bacaan maupun konsultasi laktasi. Jadi tak ada alasan untuk tidak memberikan ASI bagi bayi. Dengan dukungan penuh dari suami, aku bertekad untuk melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sehingga bisa memberi ASI ekslusif  untuk si kecil, apapun kendalanya.</p>
<p>Bagi pasangan yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, mencari informasi tentang RS yang pro IMD atau dokter kandungan yang mendukung gerakan pemberian ASI bagi si kecil dengan mudah bisa didapatkan.</p>
<p>Namun lain ceritanya bagiku yang merencanakan kelahiran di kampung. Tepatnya di Ciamis. sebuah kota kecil dimana kedua orangtuaku tinggal. Aku tidak yakin sudah ada RS yang pro IMD dan ASI di sana. Ini terbukti dari cerita sahabat. Dimana Dokter kandungan yang membantu persalinannya bilang “Bu, anaknya harus dibiasakan minum sufor ya. Biar tidak kaget ketika nanti ditinggal kerja”. Oups!!! Tidak! Bagaimana mungkin bisa dilakukan IMD. Karena pro ASI pun tidak.</p>
<p>Pesimisnya segera membayang di benak. Untungnya aku ingat bahwa ada saudara yang berprofesi sebagai bidan. Segera aku mencari tahu apakah di Ciamis sudah ada sosialisasi mengenai IMD. Jawabannya ternyata sangat melegakan. Ternyata sudah. Segera kusampaikan niat untuk bisa melahirkan dengan bantuan beliau. Sayang, rumahku berjauhan dengan tempat tinggalnya. Tentu sedikit menyulitkan jika aku kontraksi pada tengah malam. Walhasil, mamaku menyarankan untuk menggunakan jasa bidan terdekat saja.</p>
<p>Pertimbangan melahirkan di kampung halaman adalah selain ekonomis, juga kenyamanan psikologis. Didampingi oleh keluarga besar yang tentu akan sangat membantu. Dan berdasarkan pemeriksaan medis, Alhamdulillah kondisi kandunganku baik – baik saja, sehingga makin mantap keinginan untuk segera pulang kampung untuk persiapan menyambut kelahiran buah hati.</p>
<p>Berbagai persiapan kami lakukan begitu ijin cuti keluar. Mulai dari konsultasi dan cek rutin ke bidan terdekat. Sebelumnya, aku dan suami telah menyiapkan segala hal tentang IMD. Dari artikel hingga video. Aku juga mensosialisasikannya di lingkungan keluarga. Orang tuaku, kerabat dan siapapun, bahwa jika aku melahirkan, aku ingin melakukan IMD. Setelah tahu dan menyaksikan video IMD, mamaku memberi dukungan sepenuhnya. Dan meyakinkan bahwa bidan pun akan berusaha merealisasikan apa yang diinginkan pasiennya. Apalagi sekarang, dalam ilmu kebidanan diterapkan “sayang ibu, sayang bayi” (informasi ini aku peroleh dari saudaraku yang berprofesi bidan). Artinya, bidan harus bisa mengikuti keinginan pasien untuk kenyamanannya. Dari mulai posisi melahirkan yang ditentukan sendiri oleh si ibu, hingga perawatan setelah melahirkan (sebaiknya diberikan anestesi sebelum dijahit). Bahkan harus diusahakan tanpa induksi, karena hal itu akan sangat menyakitkan ibu.</p>
<p>Mengungkapkan sebuah keinginan, terkadang tidak semudah yang dibayangkan. Belum lagi menyusun tata bahasanya agar tidak terkesan menggurui. Setelah mereka – reka kata, ketika bidan tengah memeriksa detak janin, akhirnya keluar juga dari mulutku “maaf ibu. Nanti ketika saya melahirkan, saya ingin sekali melaksanakan IMD”. Aku tunggu sejenak, melihat reaksi yang ditimbulkannya. Sengaja aku membuat pernyataan seperti itu, karena aku yakin beliau sebenarnya sudah tahu banyak tentang IMD. Beliau tersenyum. Bu bidan ini sangat sangat lembut. Tutur katanya santun. Menenangkan sekali. Maklum beliau bidan senior. Jam terbangnya tinggi. Terkadang aku jadi belepotan juga cari kata yang pas ketika berbicara dengan beliau. “Bagus neng. Bagus sekali jika neng ingin melakukan IMD. Memang, ilmu kebidanan itu selalu berubah seiring waktu. Jika dulu, cukup dengan ibu menyusui bayinya sesaat setelah melahirkan untuk dapat kolostrumnya. Sekarang justru bayi menyusu<br />
 di saat – saat kehidupan pertamanya”. Lega sekali.</p>
<p>Benar dugaanku, beliau memang telah mengetahuinya “tapi neng, jika bayi langsung diletakkan di dada ibu tanpa memotong terlebih dahulu tali pusatnya, kita lihat kondisinya dulu nanti ya”. Waduh! Bagaimana ibu ini. Kok terkesan ragu – ragu “tapi bu, saya mohon, saya bisa IMD nanti. Yang saya pahami. Tali pusat bayi dipotong terlebih dahulu juga tidak apa – apa jika tidak memungkinkan”. Aku mulai ngotot. Lagi – lagi beliau Cuma tersenyum “baiklah. Nanti kita usahakan”. Hhh!!! Musti terus diingetin nih pikirku. “Ehmm, sebelumnya apa sudah pernah ada bu yang melakukan IMD?”, keluar juga pertanyaan itu. Penasaran soalnya. “Ehmmm sudah, sudah”. Jawabnya terkesan tidak meyakinkan. Tapi aku positive thinking saja. Semoga memang aku bukan yg pertama kali melakukan IMD di desaku. Andaipun aku yang pertama -tanpa kuketahui-, semoga setelahnya setiap ibu melahirkan akan melakukan IMD tanpa harus diminta.</p>
<p>Pada hari H aku melahirkan, ternyata tidak serta merta aku bisa langsung IMD, meskipun dalam keadaan perut mulas, sempat juga kuutarakan “Ibu, jangan lupa saya mau IMD”. Sebelumnya pun, aku sudah mempersiapkan diri dengan menggunakan baju bukaan depan untuk memudahkan prosesnya. Bahkan ketika sedang menikmati masa kontraksi, yang ada dalam pikiranku adalah lahiran normal dan lancar, terus bisa IMD, IMD dan IMD.</p>
<p>Kelegaan dan kebahagiaan menyergapku begitu bayi lahir, melenyapkan semua rasa sakit. Apalagi kemudian bayi montok yang masih berlumur darah dan lendir itu diletakkan di dadaku dengan tali pusat yang masih menyatu. Subhanallah, betapa indahnya. Begitu menakjubkan. Tapi belum juga si kecil merangkak rangkak, dengan cepat dia diangkat dari dadaku. Aku kaget. Sebenarnya aku masih punya banyak sisa tenaga untuk berdebat dengan bu bidan saat itu. Tapi demi melihat situasi dan mama yang ‘agak’ memohon padaku untuk mengikuti apa yang bu bidan katakan. Aku hanya mengangguk. Sesak dadaku. Aku nggak mau jika IMD ku gagal…</p>
<p>Segera setelah jagoanku diangkat, tali pusatnya digunting dan diikat lalu diberikan ke mamaku dengan tanpa dibersihkan. Ah! Masih ada kesempatan IMD pikirku. Asal jangan lebih dari 20 menit. Bu bidanpun seolah merasa bersalah. Dengan muka tegang beliau bilang “maaf ya neng. Plasentanya belum keluar, agak lengket, jadi harus diambil  ke dalam”. Hhh!!! Rupanya ini yang membuat beliau tegang. Padahal dalam teori IMD. Dengan bayi diletakkan di atas dada dan dia menendang – nendang perut untuk mencapai payudara, maka pada saat itulah plasenta akan –terbantu- terdorong dan keluar. Untunglah, tidak sampai 15 menit, semuanya selesai. “IMD nya mau dilanjutkan neng?” kalimat itu yang keluar dari bu bidan. “tentu saja bu, saya mau anak saya IMD”. Aduh! Ibu! IMD kan cita – cita saya sejak saya masih hamil. Ingin rasanya aku bilang begitu. Aku lihat ada keengganan sebenarnya aku meneruskan IMD. Aku tahu ini merepotkannya. Karena beliau sempat bilang “Sebenarnya saya nggak sanggup jika melakukan IMD tanpa asisten”. Oouuww!!! Mungkin bukan cuma bidanku yang bilang begitu. Mungkin banyak pelaku medis yang masih merasa ‘ribet’ jika harus diterapkan IMD  pada pasiennya. Wallahu’alam. Yang pasti pada saat itu, aku tidak peduli. Yang penting si kecil sudah di dadaku lagi. Dan tidak ada seorang pun yang boleh mengambilnya sampai dia menemukan sendiri puting dan menghisapnya.</p>
<p>Setiap detik rasanya tak ingin kulewatkan saat itu. Masih terasa bagaimana kakunya rambut – rambut halusnya karena darah dan lendir. Tangan mungilnya yang mengepal dan mulai dikecapnya. Matanya yang merem melek. Lidahnya yang menjilat – jilat dadaku. Kakinya menendang – nendang seolah merangkak. Dia menuju ke payudaraku sebelah kiri. Baru mau sampai, dia melorot lagi ke arah perut. Begitu terus sampai beberapa kali. Aku dengan semangat terus membisikinya bahwa dia pasti bisa. Sesaat sempat dia terdiam. Mungkin sedang mengumpulkan tenaga atau malah sedang mencari arah melalui instingnya. Bu bidan pun ikut takjub melihat si kecil yang merangkak mencari cari. Kepalanya tengok kanan kiri, kadang nyungsep di dada. Kemudian dia akan terpejam, hidungnya mengendus endus. Waktu 1 jam tak terasa sama sekali. Rasanya baru sekejap ketika dia mulai menyangga PD ku dengan tangan kanannya sementara mulutnya menganga lebar. Kuasa Allah, tangan mungilnya seolah<br />
 mendorong PD ku untuk masuk ke mulutnya. Dan hap!!! Dalam waktu 1 jam, Alhamdulillah, akhirnya dia berhasil menemukan sumber makanan pertamanya sendiri.</p>
<p>Lega…Benar – benar lega dan bahagia. Dengan perjuangan -yang hampir saja menggagalkan IMD ku-, aku bisa juga merasakan nikmatnya IMD. Dalam hal ini dukungan suami terutama, kemudian orangtua dan orang – orang terdekat adalah faktor penting dalam keberhasilan IMD. Selain itu faktor tempat yang dapat membuat ibu dan bayi merasa nyaman. Hal yang paling penting sebenarnya dukungan dari para pelaku medis yang sebenarnya lebih paham baik dari segi teori maupun praktek tentang IMD.</p>
<p>Salam,<br />
Indry (mamanya Rama 4m3w2d)<br />
<a href="http://cintasempurna.multiply.com">http://cintasempurna.multiply.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/08/kisah-imd-di-kampung-halaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

