<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; features</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/features/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Sayangi Bumi Dengan ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/05/sayangi-bumi-dengan-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/05/sayangi-bumi-dengan-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 01:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky Maharani Eka Putri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1849</guid>
		<description><![CDATA[Bumi adalah salah satu planet yang Allah ciptakan yang didalamnya dihuni oleh berbagai makhluk hidup. Beraneka flora, fauna, biota laut, makhluk berakal yang paling dimuliakan bernama manusia adalah penghuni bumi yang setia. Bumi membawa banyak manfaat bagi seluruh penghuninya baik yang hidup di darat, laut maupun udara. Diatas bumi banyak manusia biasa berteduh. Melepas lelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bumi adalah salah satu planet yang Allah ciptakan yang didalamnya dihuni oleh berbagai makhluk hidup. Beraneka flora, fauna, biota laut, makhluk berakal yang paling dimuliakan bernama manusia adalah penghuni bumi yang setia.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/05/05-go-green-253x300.jpg" alt="" title="05-go-green" width="253" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1854" />Bumi membawa banyak manfaat bagi seluruh penghuninya baik yang hidup di darat, laut maupun udara. Diatas bumi banyak manusia biasa berteduh. Melepas lelah di bawah pohon rimbun, mendengar gemericik air sungai, deru ombak yang bergulung-gulung dan semua kenikmatan duniawi yang tidak mungkin kita hitung satu persatu.</p>
<p>Lalu apa saja yang telah dilakukan oleh manusia dan makhluk Tuhan lain pada bumi? Sudahkah mereka dan kita semua memperlakukan bumi dengan indah? Seberapa sering kita ramah padanya? Sampah bekas pakai, asap rokok, asap pembakaran, asap mobil, minimnya penyerapan air pada bumi karena pohon rindang yang ditebangi demi gedung pencakar langit dan mungkin masih banyak perilaku manusia yang terus membebani bumi. Namun, ternyata diluar itu semua ada sebuah cara yang begitu alami yang bisa dilakukan makhluk perempuan untuk menyayangi, yaitu menyusui.</p>
<p>Seperti kita tahu, menyusui adalah sesuatu yang alamiah. Kucing menyusui anak-anak kucing, monyet menyusui anak-anak monyet, kangguru yang selalu menggendong anaknya kemana-mana pun menyusui bayi kangguru. Lucu, kagum dan membuat yang melihatnya senyum sambil berpikir betapa Air Susu Ibu adalah yang terbaik. Bayi kucing mencari payudara ibu kucing dan menghisap air susu ibu kucing, hal ini juga berlaku pada tiap jenis fauna lainnya. Mereka tidak pernah berebut air susu ibu pada fauna lain. Kucing tidak akan meminta air susu ibu kucing yang kurang pada air susu ibu anjing. Bayi-bayi marmut selalu mencari air susu ibu marmut dan tidak berusaha mencari air susu ibu kangguru dan fauna lainnya.</p>
<p>Manusia sebagai makhluk berakal yang cerdas pastilah berusaha sekuat tenaga untuk memberi yang terbaik bagi bayi mulai awal bayi lahir hingga tumbuh kembangnya menuju dewasa. Menyusui pada manusia adalah sesuatu yang biasa kita lihat pada sekitar. Betapa bahagianya ibu yang memberikan ASI, demikian juga yang melihatnya. Pastilah si bayi mendapat tidak hanya sekedar air susu namun juga kasih sayang, perhatian, suara detak jantung ibu, kehangatan pelukan ibu, tatapan mata ibu dan anak dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Menyusui sangat membantu bumi untuk tetap mempertahankan beban bumi yang ditimpakan selama ini. Beberapa fakta bahwa dengan menyusui kita juga sudah berkontribusi menyayangi bumi, diantaranya : </p>
<ol>
<li>Menghemat sampah pembuangan seperti karton susu formula (susu sapi yang olah sedemikian rupa menjadi bubuk), kaleng susu formula, pembungkus dot, pembungkus botol, pembungkus pelengkap pemberian susu non ASI dengan media botol.</li>
<li>Menghemat energi listrik seperti tidak harus memanaskan air panas dengan dispenser, atau memasak dengan kompor gas, listrik untuk mensterilkan botol dan perlengkapan lainnya.</li>
<li>Menghemat air, hal ini jelas karena susu non ASI biasanya harus di cairkan untuk bisa dikonsumsi.</li>
<li>Menghemat sampah segala keperluan pemberian dengan botol apabila sudah tidak bisa dipakai lagi dan tidak semua alat tersebut bisa di daur ulang.</li>
<li>Mungkin masih banyak beberapa fakta lainnya yang bisa ditambahkan pada poin ini. Betapa dampak menyusui begitu positif bukan hanya pada generasi, tapi juga terhadap bumi.</li>
</ol>
<p>ASI yang berlimpah adalah harapan setiap ibu dan keluarga. Berbagai media disediakan untuk hal ini mulai dari berbagai macam pompa ASI, pendingin ASI, hingga wadah penyimpan ASI. Semua tetap bisa dilakukan dengan murah demi mengurangi sampah pada beban bumi. Kita bisa memanfaatkan barang-barang pada rumah tangga seperti sisa botol selai dan botol minuman berenergi sebagai wadah penyimpan ASI dengan mencuci dan mensterilkannya. Bagaimana steril yang hemat energi? Botol  bekas pakai di cuci bersih dengan sabun, di lap bersih lalu jemur di bawah terik matahari. </p>
<p>Lalu wadah pembawa ASI, yang biasa dibawa ibu bekerja, bisa menggunakan termos yang diisi es batu. Tentu saja tetap menjaga keutuhan es batu. Lebih hemat dan termos bisa digunakan untuk wadah penyimpan yang lain. Tidak harus besar. Tidak harus mahal. </p>
<p>Pompa ASI pun beragam harga. Bagaimana agar ASI bisa tetap diperah agar terus berpoduksi namun tetap hemat energi? Tetap bisa!</p>
<p>Hal ini sangat mudah, aman, bersih, hemat dan bisa dilakukan dimana saja. Perah ASI dengan tangan. Caranya: kondisikan tangan dan payudara dalam keadaan bersih. Posisikan jempol pada aerola atas dan telunjuk pada aerola bawah. Tekan lalu lepas maka ASI akan keluar dan siap ditampung pada wadah ASI yang sudah dicuci bersih. Begitu seteruskan. Bisa posisikan pada jam 12-6, jam 3-9 dan tekan bagian2 yang dirasa masih keras.</p>
<p>Mulai sekarang dan seterusnya kita terus sayangi bumi, sayangi penghuni bumi, sayangi peninggalan bumi demi anak cucu kita yang terus akan membawa jejak kebaikan hingga hari akhir.</p>
<p>Mari, sayangi bumi dengan menyusui.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/05/sayangi-bumi-dengan-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui, Tapi Sulit Berhenti Merokok?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/04/menyusui-tapi-sulit-berhenti-merokok/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/04/menyusui-tapi-sulit-berhenti-merokok/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 01:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiki Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1826</guid>
		<description><![CDATA[Banyak di antara perempuan perokok berhenti merokok ketika mengetahui bahwa mereka sedang hamil, namun mereka seringkali kembali merokok ketika bayi sudah dilahirkan. Mari kita bahas efek samping dari rokok bagi ibu menyusui dan bayinya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun sudah banyak yang tahu bahwa merokok adalah sesuatu yang membahayakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, banyak pula yang sudah tahu berbagai efek samping merokok, namun tidak bisa dipungkiri tetap ada sebagian perempuan yang merokok. Mereka ini merokok mulai dari level ‘ringan’ (social smoker) sampai level ‘berat’ yang bisa menghabiskan 2 hingga 3 bungkus sehari. </p>
<p>Banyak di antara perempuan perokok berhenti merokok ketika mengetahui bahwa mereka sedang hamil, namun mereka seringkali kembali merokok ketika bayi sudah dilahirkan. Pada banyak kasus yang saya temui, dengan alasan sudah kembali merokok mereka berhenti menyusui. Mereka khawatir efek samping dari rokok yang mereka hisap akan masuk ke dalam ASI. Betul, bahwa ada ada efek samping dari rokok yang mempengaruhi ASI. Tetapi perlu juga dipikirkan, tidakkah lebih berbahaya jika seorang bayi, yang hidup di lingkungan perokok yang penuh polusi, justru tidak mendapatkan ASI sebagai asupan yang kita ketahui mampu meningkatkan daya tahan tubuhnya?</p>
<p>Mari kita bahas lebih detail mengenai efek samping dari rokok pada ibu menyusui dan bayinya:</p>
<ul>
<img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/04/04-smoking-breastfeeding.jpg" alt="" title="04-smoking-breastfeeding" width="104" height="180" class="alignright size-full wp-image-1827" />
<li>Merokok bisa mengurangi hormon prolaktin di tubuh ibu, sehingga menurunkan produksi ASI. Jika jumlah produksi ASI berkurang secara tidak langsung akan memunculkan peluang untuk early weaning atau menyapih terlalu dini. </li>
<li>Merokok juga mempengaruhi LDR (<em>let down reflects</em>), sehingga meskipun tubuh memproduksi ASI namun tubuh lebih sulit untuk melepaskannya keluar untuk dinikmati bayi.</li>
<li>Bayi yang terpapar asap rokok memiliki tingkat resiko mengidap penyakit radang paru-paru, asma, infeksi telinga, bronkitis, infeksi sinus, dan juga iritasi mata.</li>
<li>Bayi lebih cenderung mudah kolik. Para peneliti mempercayai bahwa hal ini terjadi tidak hanya karena kandungan nikotin yang masuk ke dalam ASI namun juga bayi sebagai perokok pasif di dalam rumah tersebut menjadi mudah gelisah dan rewel. Menghadapi bayi baru lahir yang normal saja sudah membuat ibu baru kewalahan apalagi jika ditambah dengan kegelisahan bayi yang lebih tinggi levelnya karena efek samping asap rokok. Bisa dibayangkan bukan keribetannya?</li>
<li>Bayi dari ayah dan ibu yang merokok 7 kali lebih berpeluang untuk meninggal karena SIDS (<em>Sudden Infant Death Syndrome</em>).</li>
<li>Anak-anak dari ayah dan ibu yang merokok biasanya 2 hingga 3 kali lebih sering ke dokter karena infeksi saluran pernapasan atau penyakit yang berkaitan dengan alergi.</li>
<li>Anak-anak yang terpapar asap rokok di rumah cenderung untuk memiliki kadar darah HDL yang rendah, padahal kolesterol baik ini mampu melindungi mereka dari penyakit jantung koroner.</li>
<li>Anak-anak dari orang tua yang merokok biasanya juga akan menjadi perokok ketika mereka sudah beranjak dewasa.</li>
<li>Penelitian baru-baru ini juga menemukan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan tercemar asap rokok memiliki tingkat resiko mengidap kanker paru-paru di kemudian hari.</li>
</ul>
<p>Sederetan resiko dari bahaya merokok yang disebutkan di atas seringkali tidak cukup untuk membuat seorang ibu mau berhenti sepenuhnya dari merokok. Lalu bagaimana dong? </p>
<ul>
<li>Jalan terbaik adalah belajar berhenti merokok sekarang juga! Bayangkan mengenai kesehatan bayi anda dan juga kesehatan diri anda sendiri. Kondisi yang sehat memungkinkan anda untuk memiliki energi yang maksimal dalam mendidik dan membesarkan buah hati tercinta.</li>
<li>Namun jika berhenti sepenuhnya belum dapat dilakukan, jangan berhenti menyusui. Bayi Anda berhak mendapatkan ASI, karena ASI adalah cairan emas yang mereka butuhkan untuk tumbuh kembang mereka. Bayi yang tidak mendapatkan ASI dan diberi asupan formula melalui botol dot memiliki resiko terkena penyakit di saluran pernapasan dibanding bayi ASI. Apalagi jika bayi yang tidak mendapat ASI tadi berada di lingkungan penuh asap rokok juga, akan semakin tinggi tingat resikonya.  </li>
<li>Semakin sedikit jumlah rokok yang dihisap maka semakin sedikit resiko yang timbul. Sadari bahwa jika Anda merokok lebih dari 20 batang sehari maka resiko bagi bayi semakin tinggi.</li>
<li>Jangan pernah merokok di ruangan yang sama dengan bayi apalagi menyusui sambil merokok.</li>
<li>Beri jarak minimal 1,5 jam antara merokok dan menyusui karena penelitian menyebutkan bahwa itu waktu yang dibutuhkan untuk tubuh mengeliminasi nikotin yang masuk.</li>
<li>Penggunaan <em>nicotine patch</em> ataupun permen karet nikotin sebagai pengganti merokok juga tetap memberikan pengaruh sama seperti merokok, tergantung dari kadar nikotin yang masuk ke tubuh.</li>
</ul>
<p>Sebagai orang tua sudah pasti ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Semoga tulisan singkat mengenai ibu menyusui dan merokok ini mampu menambah wawasan kita. Sehingga apa pun pilihan yang di ambil, sudah berdasarkan informasi yang cukup dan sudah dipikirkan matang-matang. <em>Life is a choice and as a parent you are the decision maker – your baby depends on you!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/04/menyusui-tapi-sulit-berhenti-merokok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan ASI Dalam Mencegah Obesitas Anak</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/04/peranan-asi-dalam-mencegah-obesitas-anak/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/04/peranan-asi-dalam-mencegah-obesitas-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 03:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stella Tinia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Obesitas anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1812</guid>
		<description><![CDATA[Angka kejadian obesitas pada anak sangat meningkat beberapa dekade terakhir. Data di Amerika menunjukkan 10,4% anak usia 2-5 tahun mengalami kelebihan berat badan, 15,3% pada anak 6 sampai 11 tahun, dan 15,5 % pada anak usia 12 sampai 19 tahun (Ogden et al. 2002). Kelebihan berat badan pada anak cenderung akan terbawa terus sampai anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/04/obese-baby-287x300.jpg" alt="" title="obese-baby" width="287" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1813" />Angka kejadian obesitas pada anak sangat meningkat beberapa dekade terakhir. Data di Amerika menunjukkan 10,4% anak usia 2-5 tahun mengalami kelebihan berat badan, 15,3% pada anak 6 sampai 11 tahun, dan 15,5 % pada anak usia 12 sampai 19 tahun (Ogden et al. 2002). Kelebihan berat badan pada anak cenderung akan terbawa terus sampai anak tersebut dewasa; 77 % anak dengan berat badan berlebih akan menjadi orang dewasa yang juga kelebihan berat badan (Freedman et al. 2001). </p>
<p>Apa bahaya obesitas? Obesitas merupakan faktor risiko penting pada penyakit kanker, penyakit jantung dan hipertensi, diabetes, batu empedu, serta penyakit ginjal. Mencegah anak mengalami obesitas/overweight merupakan salah satu investasi penting yg dapat orangt tua lakukan untuk kesehatan anaknya di masa mendatang.</p>
<p>Berbagai  penelitian menunjukkan bahwa menyusui dapat secara bermakna menurunkan risko serta mencegah anak dari berat badan berlebih dan obesitas.</p>
<p>Bayi yang diberi ASI memiliki kadar lemak yang lebih rendah dibandingkan bayi dengan susu formula. Pada usia 5-6 tahun, anak yg tidak pernah mendapat ASI memiliki angka obesitas 4.5%, jauh lebih tinggi dibandingkan bayi yg mendapat ASI lebih dari 12 bulan, yang memiliki angka obesitas hanya 0,8% (von Kries et al. 1999). </p>
<p>Bayi yang disusui oleh ibunya belajar mengendalikan jumlah ASI dan kalori yang dikonsumsinya dibandingkan bayi yg minum dengan botol, yg biasanya lebih sering &#8220;ditarget&#8221; untuk menghabiskan isi botol sekalipun telah merasa kenyang. Selain itu, kandungan susu formula yg padat energi dapat merangsang sistem endokrin untuk mengeluarkan lebih banyak insulin dan growth factor sehingga meningkatkan kadar lemak tubuh pada bayi tersebut. (Hediger et al. 2001).</p>
<p>Disarikan dari berbagai sumber.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/04/peranan-asi-dalam-mencegah-obesitas-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayimu Menolak Menyusu, Itu Bukan Jalan Buntu!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/02/bayimu-menolak-menyusu-itu-bukan-jalan-buntu/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/02/bayimu-menolak-menyusu-itu-bukan-jalan-buntu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 01:28:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Clodi Stepantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[nursing strike]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1773</guid>
		<description><![CDATA[Si malaikat kecil menolak lagi, kali ini bahkan kaki mungilnya menendang-nendang dada ibunya dengan sangat keras. Wanita setengah baya itu merasa penolakan ini lebih menyakitkan daripada ditolak oleh cinta pertamanya. Dunia serasa hancur, fikiran negatif mulai menggelitik… haruskah menyerah ? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Si malaikat kecil menolak lagi, kali ini bahkan kaki mungilnya menendang-nendang dada ibunya dengan sangat keras. Wanita setengah baya itu merasa penolakan ini lebih menyakitkan daripada ditolak oleh cinta pertamanya. Dunia serasa hancur, fikiran negatif mulai menggelitik… haruskah menyerah ? </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/02/02-nangis.jpg" alt="" title="02-nangis" width="300" height="225" class="alignleft size-full wp-image-1777" />Biasanya mogok menyusu ini berlangsung antara dua hingga lima hari, tapi bisa juga menjadi lebih lama. Kalau berkepanjangan maka Ibu akan kelelahan jika harus terus menerus memerah ASI yang tentu saja jumlahnya kian hari akan kian menipis. Duh, bagaimana ini ?</p>
<p>Saat bayi mogok menyusu memang saat yang sungguh memusingkan. Bayi jadi lebih sering menangis dan frustasi akibat rasa lapar dan fase oral (untuk menghisap atau <em>suckling</em>) yang tidak tersalurkan, beberapa bayi bahkan jadi mengalami penurunan berat badan. </p>
<p>Namun ternyata yang susah bukan hanya bayi, tapi ibunya juga. Perasaan sedih kerap menghampiri dan secara perlahan akan memutuskan motivasi untuk melanjutkan menyusui si kecil. Jika bayi mendadak mogok menyusu, segera pelajari apa yang terjadi agar tak ragu temukan solusi !</p>
<p>Saat bayi mendadak menolak menyusu, yang terpenting adalah <strong>berfikir positif</strong>. Hindari godaan yang berbisik bahwa :</p>
<ul>
<li><strong>bayi tidak suka pada ibunya</strong>; hal ini tidak mungkin terjadi karena secara insting bayi belum mengenal arti membenci atau tidak suka,</li>
<li><strong>bayi sedang menyapih dini (<em>early weaning</em>)</strong>; hal ini kurang tepat karena penyapihan adalah proses dan tidak terjadi secara tiba-tiba, <em>wong kemarin masih mau menyusu kok hari ini mendadak tidak mau?</em></li>
<li><strong>bayi tidak suka rasa ASI</strong>; hal ini kurang pas, karena meskipun jenis makanan ibu beragam tapi rasa ASI cenderung stabil dan bayi sudah biasa dengan perubahan rasa makanan sejak dalam rahim.</li>
<li><strong>ASI basi atau ASI terpolusi</strong>, biasanya dikatakan seperti ini pada kondisi ibu yang baru saja pulang dari berpanas-panasan; hal ini tidak benar karena payudara merupakan tempat penyimpanan ASI yang paling higenis dimana tidak mungkin menjadi terpapar kuman sehingga menjadi basi apalagi terpapar polusi.</li>
<li><strong>ASI tidak cukup</strong> sehingga bayi menolak karena tidak puas; hal ini tentu tidak tepat karena produksi ASI bersifat <em>supply based on demand</em> dimana ASI akan diproduksi sesuai dengan jumlah ASI yang dikeluarkan dari payudara (baik melalui pelekatan langsung oleh bayi maupun melalui kegiatan memerah ASI dengan tangan atau dengan pompa). Yang lebih sering terjadi adalah bahwa <strong>ASI keluar tersendat-sendat</strong>, hal ini dapat membuat bayi menjadi tidak sabar dan marah. Untuk ini perlu diberikan rangsangan terhadap <em>let down reflex</em> dengan memerah ASI sedikit. Hal ini dilakukan untuk memancing hormon oksitosin yang mendorong ASI keluar sehingga bayi bisa mendapatkan ASI dengan lebih cepat di awal proses menyusu.</li>
<li><em>dan mungkin masih banyak alasan negatif lain</em></li>
</ul>
<p><em>Ahh</em>, daripada berfikir negatif, lebih baik mencoba cari tahu dulu, kenapa sih malaikat kecil itu menolak menyusu secara mendadak ? Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan : </p>
<p><strong>Apakah bayi dibiasakan minum ASI perah dengan menggunakan botol dot?</strong> Jika ya, maka kemungkinan besar penyebabnya adalah bingung puting (<em>nipple préférence</em>) yakni suatu kondisi dimana bayi lebih memilih minum ASI melalui botol dot ketimbang langsung dari <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/02/02-teriak.jpg" alt="" title="02-teriak" width="300" height="225" class="alignright size-full wp-image-1781" />payudara ibu. Kenapa ? Karena menyusu melalui botol dot lebih mudah dan mekanismenya berbeda dengan menyusu pada payudara. Saat minum melalui botol dot, aliran ASI lebih lancar dan bayi tidak perlu memijat payudara untuk dapat mengeluarkan air susu. Dianjurkan untuk mencoba ganti cara pemberian botol dot dengan cangkir kecil, pipet tetes atau sendok. Saat bayi terbiasa terpisah dari botol dot maka secara perlahan akan lebih mudah kembali ke payudara ibu karena bayi tengah mengalami fase oral dimana menyusu dapat memuaskan hasratnya.</p>
<p><strong>Apakah puting susu mengalami luka pada hari-hari terakhir sebelum bayi mendadak menolak menyusu?</strong> Jika ya, maka kemungkinan besar luka pada puting susu memberi rasa yang berbeda pada ASI sehingga membuat bayi menolak. Dianjurkan untuk memperbaiki posisi mulut bayi saat menyusu agar menyusu menjadi lebih efektif dan puting susu terhindar dari iritasi dan luka.</p>
<p><strong>Apakah pada bagian tubuh bayi  terdapat luka yang terlihat, misal luka memar?</strong> Atau mungkin lukanya kasat mata ? Jika ya, maka kemungkinan cara menggendong membuat bayi merasa kesakitan dan tidak nyaman. Dianjurkan untuk mencoba menyusui dengan posisi tidur sehingga lebih sedikit bagian tubuh bayi yang tertekan.</p>
<p><strong>Apakah ada perilaku dari ibu yang berubah?</strong> Misalnya ibu mengganti merk parfum atau mengganti aroma sabun mandi / shampoo ? Jika ya, maka kemungkinan bayi merasa kurang nyaman dengan aroma yang baru tersebut. Dianjurkan untuk sebisa mungkin kembali ke prilaku awal.</p>
<p><strong>Apakah ibu bereaksi berlebihan?</strong> Misalnya tanpa sengaja berteriak kesakitan saat bayi menggigit (atau menggusit – menggigit pakai gusi) payudara ? Jika ya, maka kemungkinan bayi trauma. Ia belum memahami kenapa ibunya menjerit waktu itu sehingga saat hendak mulai menyusu lagi, bayi sudah menolak terlebih dahulu. Dianjurkan untuk bercanda dulu dengan si kecil sebelum menawarkan payudara, tersenyum dan ajak dia tertawa dulu.</p>
<p><strong>Apakah ibu stres belakangan ini?</strong> Jika ya, ini dapat berpengaruh karena bayi yang menyusu pada ibunya memiliki ikatan atau <em>bonding</em> yang cukup kuat. Ketidaknyamanan ibu dapat dirasakan oleh bayi sehingga membuat bayi menjadi rewel. Lupakan hal lain saat hendak menyusui si kecil, jika perlu putar musik lembut dan nikmati waktu berdua saja dengannya.</p>
<p><strong>Apakah bayi berganti pengasuh?</strong> Misalnya saat ibu kembali bekerja, atau setelah memiliki pengasuh  baru, bayi mendadak menolak menyusu pada ibu. Jika ya, tidak perlu buru-buru memecat <em>nanny</em> barunya tapi lebih dianjurkan untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengannya setelah pulang dari kantor, misalnya gendonglah si bayi lebih sering serta tidurlah di sampingnya.</p>
<p>Haduh, bingung juga yah karena ternyata banyak sebab kenapa bayi bisa mendadak menolak menyusu. Berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu ibu mengatasi masalah mogok menyusu ini, yakni :</p>
<ol>
<li><strong>Lakukan lebih banyak kontak kulit</strong>, habiskan lebih banyak waktu bersama si malaikat kecil berdua saja dalam suatu ruangan dimana ibu tidak mengenakan pakaian atas (<em>topless</em>) dan si dedek hanya menggunakan celana dalam atau popok. Biarkan si kecil bereksplorasi sendiri, tidak perlu dipaksa untuk mendekat pada ibu karena dengan sendirinya ia akan mendekati ibunya. Tidak perlu memaksa si kecil untuk langsung menyusu karena mungkin dia akan mendekati ibunya lalu mungkin hanya akan tertidur di dada ibunya tanpa sempat menyusu, begini saja sudah menunjukkan tanda positif. Jika satu kali belum berhasil, coba lagi. Cara ini membantu si kecil untuk ‘mengenal kembali’ ibunya.</li>
<li><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/02/02-menyusu.jpg" alt="" title="02-menyusu" width="300" height="225" class="alignright size-full wp-image-1779" /><strong>Tunggu hingga bayi sangat mengantuk</strong>, karena banyak bayi yang cenderung tidak menolak saat dalam kondisi setengah teler. Hindari memaksa bayi menyusu ke payudara, misalnya dengan mendorong kepalanya agar mendekat ke payudara, karena penolakan bisa berlanjut menjadi semakin panjang.</li>
<li><strong>Tawarkan lebih sering</strong>, khususnya saat bayi sedang merasa senang dan sedang berada di tempat favoritnya, misalnya saat dia tengah bermain, saat dia selesai makan, saat dia mandi…. di mana pun, kapan pun. Namun jangan paksa jika ia menolak.</li>
<li><strong>Coba menyusui sambil menimang-nimang</strong> misalnya sambil berjalan-jalan atau sambil duduk di kursi goyang, karena gerakan lembut dapat mengurangi emosinya untuk menolak. Misal, ajak si kecil muter-muter komplek rumah dengan mobil, duduk berdua dengan dia di kursi belakang, ayunan mobil dapat membantu si kecil meredakan emosinya.</li>
<li><strong>Redupkan lampu kamar</strong>, redakan suara-suara yang keras agar bayi merasa lebih tenang dan nyaman. Biasanya bayi yang berusia 6-9 bulan sudah lebih waspada terhadap keadaan di sekitarnya sehingga gangguan sedikit saja dapat membuatnya tidak benar-benar menyusu melainkan hanya sekedar menempel saja pada payudara.</li>
<li><strong>Coba ganti posisi menggendong si kecil</strong>, seperti telah dijelaskan sebelumnya bisa jadi posisi atau cara menggendong membuat bayi tidak nyaman sehingga ia menolak untuk menyusu.</li>
<li><strong>Kenakan pakaian yang simpel dan <em>ga ribet</em></strong>, yang memungkinkan bayi sangat mudah mendapatkan akses ke payudara, jika memungkinkan kenakan lebih sering baju menyusui sehingga ibu tidak perlu membuang waktu banyak untuk membuka kancing baju terlebih dahulu. Hanya berbeda beberapa detik, tapi saat dirasa terlalu lama oleh bayi maka ia sudah keburu kehilangan minat untuk menyusu.</li>
<li><strong>Bawa ke dokter anak</strong>, <em>just in case</em> ternyata bayi mengalami luka yang tidak terlihat seperti infeksi telinga, lidah berjamur (<em>thrust</em>), dsb. Ada kalanya bayi membutuhkan tindakan medis karena tengah mengalami sakit yang membuatnya tidak nyaman saat menyusu.</li>
</ol>
<p>Intinya, saat bayimu menolak menyusu itu bukan akhir dunia. Kenali dulu penyebabnya kemudian coba lakukan beberapa trik tersebut. Yang sabar yah, karena kesabaranmu akan berbuah manis. Selamat (kembali) menyusui !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/02/bayimu-menolak-menyusu-itu-bukan-jalan-buntu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Donor ASI; Kapan dan Bagaimana?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 16:20:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Astri Pramarini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Donor ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1743</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor? Yuk kita bahas bersama–sama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering kali kita membaca di milis dan media sosial adanya permintaan ASI donor karena beberapa sebab, misalnya: ibu meninggal, ibu sakit, bayi masuk NICU, bayi masuk inkubator, bayi terlantar, persediaan ASI perah habis, ASI belum keluar, persiapan menjelang melahirkan ataupun tidak mencantumkan alasan kenapa membutuhkan ASI donor.</p>
<p>Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor? Yuk kita bahas bersama–sama.</p>
<p><strong>Pada dasarnya bayi baru lahir sehat dari ibu yang sehat bisa mendapat ASI secara penuh tanpa perlu tambahan asalkan mendapat kesempatan menjalani Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Rawat Gabung penuh 24 jam bersama ibu, serta bayi menyusu tanpa jadwal dengan posisi dan pelekatan yang efektif.</strong></p>
<p>Lalu kondisi apa saja yang membuat bayi mungkin perlu mendapatkan suplementasi baik berupa tambahan atau pengganti selain menyusu? WHO dan UNICEF mengeluarkan dokumen Alasan Medis Menggunakan Pengganti ASI yang telah dirangkum sebagai berikut:</p>
<p>Indikasi pada Bayi yang Memerlukan Pengganti ASI:</p>
<ul>
<li><em>Inborn errors of metabolism</em> atau kelainan metabolisme bawaan (galaktosemia, fenilkotenouria, penyakit urin sirup mapel)</li>
</ul>
<p>Indikasi pada Bayi yang Mungkin Memerlukan Suplementasi:</p>
<ul>
<li>Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (kurang dari 1500 gram) atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu</li>
<li>Bayi berisiko hipoglikemia karena gangguan adaptasi metabolik atau peningkatan kebutuhan glukosa (Kecil Masa Kehamilan, prematur, mengalami stres hipoksik/iskemik, bayi sakit, bayi dengan ibu yang menderita diabetes) jika kadar gula darahnya gagal merespon pemberian ASI</li>
<li>Bayi dengan kehilangan cairan akut (misal karena fototerapi untuk jaundice) dan menyusui serta memerah ASI belum bisa mengimbangi kebutuhan cairan</li>
<li>Turunnya berat badan bayi berkisar 7 – 10% setelah hari ke 3 – 5 karena terlambatnya laktogenesis II</li>
<li>BAB bayi masih berupa mekonium pada hari ke 5 pasca persalinan</li>
</ul>
<p>Indikasi pada Ibu:</p>
<ul>
<li>Ibu dengan HIV + (keputusan pemberian minum pada bayi sebaiknya melalui proses konseling saat ibu hamil)</li>
<li>Ibu sakit berat (psikosis, sepsis, eklamsia atau mengalami renjatan/syok), infeksi virus Herpes Simpleks tipe 1 dengan lesi di payudara, infeksi varicella zoster pada ibu dalam kurun waktu 5 hari sebelum dan 2 hari sesudah melahirkan</li>
<li>Ibu mendapat sitostatika, radioaktif tertentu seperti Iodine 131, obat – obatan antitiroid selain Propylthiouracil</li>
<li>Ibu pengguna obat terlarang</li>
<li>Ibu mengalami kelainan payudara, riwayat operasi pada payudara, atau jaringan payudara tidak berkembang</li>
</ul>
<p>Kita lihat dari kedua tabel di atas maka sebagian besar kondisi di atas terjadi di hari–hari awal kelahiran. Dengan mempertimbangkan keuntungan dan risikonya, keputusan menggunakan suplementasi harusnya berdasarkan penilaian dan evaluasi dari konselor laktasi, dokter anak dan dokter kebidanan mengenai proses menyusui yang meliputi; observasi saat menyusu langsung pada payudara, evaluasi pasokan ASI, riwayat persalinan, evaluasi posisi, pelekatan, kekuatan hisap, kemampuan menelan, dan penilaian kondisi bayi secara menyeluruh. Kondisi pada ibu dan bayi akan menentukan apakah suplementasi ini bersifat sementara atau menetap. <strong>Perlu diingat juga, tujuan akhir dari suplementasi ini adalah untuk mempertahankan menyusui.</strong></p>
<p>Hierarki Suplementasi</p>
<ul>
<li>ASI/Kolostrum perah segar dari ibu</li>
<li>ASI perah ibu didinginkan</li>
<li>ASI perah ibu pernah dibekukan dan sudah dicairkan</li>
<li>ASI perah ibu sendiri yang difortifikasi (bila perlu) untuk bayi prematur</li>
<li>ASI donor dari Bank ASI dan dipasteurisasi</li>
<li>Formula bayi hipoalergenik</li>
<li>Formula bayi elemental</li>
<li>Formula berbasis susu sapi</li>
<li>Formula berbasis soya</li>
<li>Air atau air gula</li>
</ul>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/01-nourin-asip.jpg" alt="" title="01-nourin-asip" width="263" height="209" class="alignleft size-full wp-image-1752" />Dari tabel di atas serta tujuan akhir suplementasi bisa kita lihat utamanya adalah memaksimalkan produksi ASI ibu baik dalam menyusu langsung, ASI perah segar ataupun sudah dibekukan. Di sini peranan seorang konselor laktasi sangat penting untuk membantu ibu mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksi ASInya. Jika dirasa belum cukup, barulah dicarikan tambahan yang bisa berupa ASI donor yang sudah dipasteurisasi ataupun formula bayi, yang diberikan sedemikian rupa sehingga tetap menjaga dan mempertahankan keberlangsungan proses menyusui ibu dan bayi.</p>
<p><strong>ASI Donor di Indonesia</strong></p>
<p>Dalam hierarki suplementasi, ASI donor dari bank ASI dan sudah dipasteurisasi menjadi urutan berikutnya setelah ASI dari ibu si bayi. Hanya saja, di Indonesia tidak ada Bank ASI yang melakukan skrining terhadap pendonor ASI serta kultur dan pasteurisasi terhadap ASI donor. </p>
<p>Lalu bagaimana kita menyikapinya? Meskipun ASI memang yang terbaik bagi bayi, kita tidak bisa menutup mata terhadap kemungkinan ASI terpengaruh dengan penyakit yang diderita atau gaya hidup pendonor ASI (infeksi HIV, Hepatitis B dan C, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, bertato atau <em>body piercing</em>). Apalagi sebagian besar penerima ASI donor adalah bayi baru lahir, bayi prematur atau bahkan bayi sakit.</p>
<p>Ada baiknya bagi ibu yang akan mendonorkan ASInya bagi bayi lain menyeleksi dirinya sendiri dengan hal-hal sebagai berikut:</p>
<p>Tidak Disarankan Mendonorkan ASI:</p>
<ul>
<li>Menerima donor darah atau produk darah lainnya dalam 12 bulan terakhir</li>
<li>Menerima transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir</li>
<li>Minum alkohol secara rutin sebanyak 2 ounces atau lebih dalam periode 24 jam</li>
<li>Pengguna rutin obat-obatan Over the Counter (aspirin, acetaminophen, dll), pengobatan sistemik lainnya (pengguna kontrasepsi atau hormon pengganti tertentu masih dimungkinkan)</li>
<li>Pengguna vitamin megadosis atau obat-obatan herbal</li>
<li>Pengguna produk tembakau</li>
<li>Memakai implan silikon pada payudara</li>
<li>Vegetarian total yang tidak memakai suplementasi vitamin B12</li>
<li>Penyalah guna obat-obatan terlarang</li>
<li>Riwayat Hepatitis, gangguan sistemik lainnya atau infeksi kronis (contohnya: HIV, HTLV, sifilis, CMV – pada bayi prematur) </li>
<li>Beresiko HIV (pasangan HIV positif, mempunyai tato/<em>body piercing</em>)</li>
</ul>
<p>Disarankan memeriksakan dirinya dan terbukti negatif secara serologis terhadap: HIV-1 dan HIV-2, HTLV-I dan HTLV-II, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis. Pemeriksaan ini juga berguna jika dilakukan setiap ibu yang hamil untuk mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi. Pemeriksaan dan kriteria donor di atas juga perlu diulangi setiap kehamilan atau persalinan baru.</p>
<p>Sedangkan bagi orang tua yang memutuskan menerima ASI donor (tanpa melalui Bank ASI) ada baiknya mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:</p>
<ul>
<li>Bagaimana kondisi kesehatan ibu/pendonor? → pola makan terkait religi/keyakinan</li>
<li>Apakah uji serologis ibu terhadap HIV, Hepatitis B, HTLV negatif?</li>
<li>Apakah ASI tidak tercemar obat, nikotin, alkohol, dsb?</li>
<li>Apakah ASI tidak tercampur air, bahan/zat/nutrisi lain?</li>
<li>Apakah ASI diperah dan disimpan secara higienis dan tidak terkontaminasi? </li>
<li>Apakah jangka waktu penyimpanan dan tempat penyimpanannya sesuai?</li>
<li>Bagaimana kondisi bayi ibu/pendonor? → usia bayi pendonor <1 th , pernah menderita jaundice saat baru lahir?</li>
</ul>
<p><strong>Menyiapkan ASI Donor</strong></p>
<p>Jika pada akhirnya diputuskan menggunakan ASI donor yang belum dipasteurisasi, ada 3 teknik perlakuan terhadap ASI yang bisa dilakukan yang biasa mengurangi penularan penyakit (terutama HIV) melalui ASI.</p>
<ol>
<li>Pasteurisasi Holder </li>
<p>ASI dipanaskan dalam wadah kaca tertutup di suhu 62,5˚C selama 30 menit. Biasanya dilakukan di Bank ASI karena membutuhkan pengukur suhu dan pengukur waktu.</p>
<li>Teknik Flash Heating</li>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/01-flash-heating.jpg" alt="" title="01-flash-heating" width="253" height="156" class="alignright size-full wp-image-1753" />ASI sebanyak 50 ml ditaruh dalam botol kaca/botol selai  ukuran sktr 450 ml terbuka di dalam panci alumunium berukuran 1 L berisi 450 ml air. Kemudian panci dipanaskan di atas kompor sampai air mendidih, matikan, kemudian botol kaca berisi ASI diangkat dan didiamkan sampai suhunya siap untuk diminum bayi.</p>
<li>Pasteurisasi Pretoria</li>
<p>Panaskan air sebanyak 450 ml di panci alumunium berukuran 1 L sampai mendidih. Matikan kompor. Letakkan botol kaca terbuka yang berisi ASI sebanyak 50ml di dalam panci selama 20 menit. Kemudian angkat dan diamkan sampai suhu ASI siap diminum bayi.
</ol>
<p>Kalau kita lihat dari 3 teknik tadi, yang paling mungkin dilakukan adalah teknik nomor 2 dan 3. Manapun, pilih yang paling nyaman bagi ibu dan keluarga. Jika donor ASI dilakukan karena bayi sakit di Rumah Sakit, ingatkan perawat untuk melakukan pemanasan ini sebelum memberikan ASI donor kepada bayi anda.</p>
<p>Semoga bisa menjadi pertimbangan bagi ibu yang akan menerima atau mendonorkan ASI. Salam ASI!</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><small><br />
<strong>Referensi  Donor ASI</strong></p>
<ul>
<li>Walker, M. (2011) Breastfeeding Management for the Clinician: using the evidence. 2nd ed. Sudburry, MA. Jones and Bartlett</li>
<li>Lawrence, RA. (2011) Breastfeeding: A Guide for the Medical Profession. 7th ed. Maryland Heights, MI. Mosby</li>
<li>ABM Protocol #3. Hospital Guidelines for the Use of Supplementary Feedings in the Healthy Term Breastfed Neonate. (2009) Revised Edition. <a href="http://www.bfmed.org">www.bfmed.org</a></li>
<li>Israel-Ballard, K., et al. (2008) Flash-heated and Pretoria Pasteurized destroys HIV in breast milk &#038; Preserves Nutrients! Advanced Biotech. <a href="http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdf">http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdf</a> accessed January 8, 2012</li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop Ustadz dan Ustadzah ke-3</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/01/workshop-ustadz-dan-ustadzah-ke-3/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/01/workshop-ustadz-dan-ustadzah-ke-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 02:51:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Miranda Yusuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadz]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadzah]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>
		<category><![CDATA[WUU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1707</guid>
		<description><![CDATA[Selaras dengan misinya untuk melakukan sosialisASI ke seluruh lapisan masyarakat, AIMI secara rutin mengadakan Workshop Ustadz dan Ustadzah (WUU) sejak tahun 2010. Harapan kami Ustadz dan Ustadzah dapat berperan sebagai duta ASI di masyarakat dan membantu peningkatan angka pemberian ASI di Indonesia. Tahun ini AIMI akan kembali menyelenggarakan kegiatan WUU yang ke-3 pada: Hari, tanggal: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selaras dengan misinya untuk melakukan  sosialisASI ke seluruh lapisan masyarakat, AIMI secara rutin mengadakan Workshop  Ustadz dan Ustadzah (WUU) sejak tahun 2010. Harapan kami Ustadz dan Ustadzah  dapat berperan sebagai duta ASI di masyarakat dan membantu peningkatan  angka pemberian ASI di Indonesia.</p>
<p>Tahun ini AIMI akan kembali menyelenggarakan kegiatan WUU yang ke-3 pada:</p>
<ul>
<li>Hari, tanggal: Ahad, 29 Januari 2012</li>
<li>Waktu: 09.00 – 14.30 WIB
<p><div id="attachment_1717" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><img class="size-medium wp-image-1717" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/100_78711-300x225.jpg" alt="" width="240" height="180" /><p class="wp-caption-text">Workshop Ustadz &amp; Ustadzah ke-1</p></div></li>
<li>Tempat: Jakarta Pusat</li>
<li>Tema: “Keajaiban ASI dan Efek Samping Pemberian Susu Formula pada Bayi, Ditinjau dari Sisi Medis dan Hukum Syariah”</li>
<li> Pengisi Acara:</li>
</ul>
<ol>
<li>dr. UtamiRoesli, SpA., IBCLC., FABM,</li>
<li>dr. Asti Praborini, Sp.A,</li>
<li>Dr. Ali Nurdin, MA</li>
</ol>
<ul>
<li>Biaya: GRATIS</li>
</ul>
<p>***</p>
<p>Bagi Ibu dan Bapak yang berminat untuk ikut serta dalam kegiatan ini, silakan kirim data diri berikut melalui email ke <a href="mailto:elfira@aimi-asi.org" target="_blank">elfira@aimi-asi.org</a> atau fax ke <a href="%28021%29%207279%200166" target="_blank">(021) 7279 0166</a> selambat-lambatnya tanggal 20 Januari 2012.</p>
<ul>
<li>Nama lengkap: &#8230;
<p><div id="attachment_1718" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><img class="size-medium wp-image-1718" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/wuu21-300x225.jpg" alt="" width="240" height="180" /><p class="wp-caption-text">Workshop Ustadz &amp; Ustadzah ke-2</p></div></li>
<li>Nomor HP/telfon: &#8230;</li>
<li>Alamat email (jika ada): &#8230;</li>
<li>Nama kelompok/majelis binaan: &#8230; sejak tahun &#8230;</li>
<li>Jumlah anggota kelompok/majelis binaan: &#8230;</li>
<li>Nama dan nomor HP/telfon anggota kelompok/majelis binaan (isi minimal 3 orang sebagai referensi):</li>
</ul>
<ol>
<li>&#8230; (&#8230;)</li>
<li>&#8230; (&#8230;)</li>
<li>&#8230; (&#8230;)</li>
</ol>
<p>Untuk keterangan lebih lanjut mengenai pendaftaran peserta WUU3 dapat mengubungi nomor <a href="081584043432" target="_blank">081584043432</a> pada jam kerja. Kami akan melakukan konfirmasi pendaftaran dan  mengirimkan undangan kepada pendaftar yang memenuhi kriteria,  berdasarkan ketersediaan tempat pada saat pendaftaran dilakukan.</p>
<p>***</p>
<p>Bagi Ibu dan Bapak yang ingin membantu pelaksanaan kegiatan ini dapat melakukan transfer ke:</p>
<p>Bank  Mandiri Cabang Jakarta Kyai Tapa | a/n. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia  | nomor rekening 11700 2464 274 6 (11700 AIMI ASI 6)</p>
<p>atau</p>
<p>BCA KCP Mal Pondok Indah | a/n Ratna Armiyani | nomor rekening 7310042018</p>
<p>Mohon konfirmasi keikutsertaan dengan mengirimkan bukti transfer melalui melalui email ke <a href="mailto:miranda@aimi-asi.org" target="_blank">miranda@aimi-asi.org</a> atau fax ke <a href="%28021%29%207279%200166" target="_blank">(021) 7279 0166</a>. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai sponsorship WUU3 dapat menghubungi nomor <a href="08128161212" target="_blank">08128161212</a> atau <a href="0811836336" target="_blank">0811836336</a> pada jam kerja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/01/workshop-ustadz-dan-ustadzah-ke-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kilas Balik Kinerja AIMI Di Tahun 2011</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/01/kilas-balik-kinerja-aimi-di-tahun-2011/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/01/kilas-balik-kinerja-aimi-di-tahun-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 00:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sari Intan Kailaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1689</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2011 telah berakhir. AIMI sebagai organisasi nirlaba yang dibentuk, dijalankan, didanai dan didukung masyarakat merasa perlu meninjau kembali kegiatan dan capaian-capaian pada 2011 untuk menyusun target dan rencana pada 2012. Sebagai salah satu wujud tanggung jawab kepada para anggota, donator, sponsor, rekanan dan seluruh masyarakat, berikut ini secara ringkas rangkuman kegiatan AIMI sepanjang 2011. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2011 telah berakhir. AIMI sebagai organisasi nirlaba yang dibentuk, dijalankan, didanai dan didukung masyarakat merasa perlu meninjau kembali kegiatan dan capaian-capaian pada 2011 untuk menyusun target dan rencana pada 2012. Sebagai salah satu wujud tanggung jawab kepada para anggota, donator, sponsor, rekanan dan seluruh masyarakat, berikut ini secara ringkas rangkuman kegiatan AIMI sepanjang 2011.</p>
<ol>
<li><strong>Penyebaran InformASI</strong></li>
<ol>
<li>Menjaring anggota, jumlah anggota mencapai 1443 orang pada akhir Desember 2011.</li>
<li>Mengadakan workshop, seminar dan penyuluhan gratis dengan sasaran <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/03/workshop-ustadz-ustadzah-2/">Ustadz/ah</a>, bidan, Puskesmas dan masyarakat umum di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Purwokerto, Jogjakarta, Grobogan dan Surabaya.</li>
<li>Mengadakan Kelas EdukASI untuk masyarakat umum di Jakarta, Bandung, Bogor, Bekasi, Cirebon, Semarang, Purwokerto, Jogjakarta, Solo, Tegal, Cilacap, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Lumajang, Jember, Medan, Makassar, Denpasar dan Pekanbaru.</li>
<li>Mengadakan AIMI Goes to Office dan AIMI Goes to Community di Jakarta, Serang, Bogor, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Pati.</li>
<li>Menjadi narasumber pada <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/11/seminar-asi-di-kab-empat-lawang/">sosialisASI di Kab. Empat Lawang, Sumatera Selatan</a> atas undangan Bapak/Ibu Bupati.</li>
<li>Menjadi narasumber pada pembekalan bidan di Malang, Jawa Timur.</li>
<li>Mengadakan <em>Breastfeeding Fair</em> dengan rangkaian talkshow gratis dan diikuti dengan berbagai kampanye ASI di media cetak dan radio.</li>
<li>Bekerjasama dengan situs mommiesdaily.com mempublikasikan 7 artikel mengenai ASI dan menyusui selama Pekan ASI Sedunia.</li>
<li>Meluncurkan buku cerita anak-anak bergambar untuk edukASI dini berjudul &#8220;<em>Mama, Adik Bayi Makan Apa Sih?</em>&#8220;</li>
<li>Memproduksi, meluncurkan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=n7qrtVoB3ds">Iklan Layanan Masyarakat</a> dengan tema Ayah ASI serta menayangkan di media televisi (Metro TV).</li>
</ol>
<li><strong>Peningkatan Kualitas InformASI</strong></li>
<ol>
<li>Merevisi materi dan format Kelas EdukASI.</li>
<li>Merampungkan materi AGtO khusus buruh/pabrik.</li>
<li>Menyusun materi Kelas MPASI.</li>
<li>Menyediakan layanan pijat laktasi untuk kasus khusus dalam konseling (terbatas di Jakarta).</li>
</ol>
<li><strong>Perluasan Layanan dan Dukungan</strong></li>
<ol>
<li><div class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><img alt="" src="http://kultwit.aimi-asi.org/wp-content/uploads/2011/12/pelantikan-pengurus-sulsel.jpg" width="200" height="150" /><p class="wp-caption-text">Peresmian AIMI cabang Sulawesi Selatan</p></div>Menambah lokasi penyelenggaraan Kelas EdukASI, dari 4 provinsi menjadi 8 provinsi.</li>
<li>Meresmikan 2 Cabang di luar Jawa: <a href="http://sumut.aimi-asi.org/">Sumatera Utara</a> dan Sulawesi Selatan.</li>
</ol>
<li><strong>Dukungan terhadap Perumusan Kebijakan dan Regulasi</strong></li>
<ol>
<li>Mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi IX DPR RI, mengusulkan dan membahas masalah Rancangan Peraturan Pemerintah tentang ASI Eksklusif, promosi dan pemasaran produk pengganti ASI serta kesempatan cuti melahirkan bagi ibu bekerja.</li>
<li>Berpartisipasi dalam rapat-rapat finalisasi penyusunan Juknis Peningkatan Pemberian ASI di Tempat Kerja yang diselenggarakan oleh Kemenkes, KemenegPP dan Kemenakertrans.</li>
<li>Menjadi narasumber dalam SosialisASI Pemberian ASI di Tempat Kerja di Blitar.</li>
<li>Menjadi anggota Tim Pembina Peningkatan Pemberian ASI Jateng untuk memantau <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/12/sosialisasi-pergub-tentang-peningkatan-pemberian-asi/">pelaksanaan Pergub 56/2011 tentang ASI Eksklusif</a>.</li>
<li>Memberikan masukan untuk Rancangan Perda ASI untuk Gubernur Jawa Barat.</li>
</ol>
<li><strong>Peningkatan Kompetensi dan Keilmuan Pengurus dan Konselor Laktasi</strong></li>
<ol>
<li>Mengikuti seminar dan workshop Refreshment Modul Konseling Menyusui 40 Jam WHO/Unicef.</li>
<li>Mengikuti Training for Trainers Pemberian Makanan bagi Bayi dan Anak bersama Kemenkes dan Unicef.</li>
<li>Mengikuti pelatihan Lactation Massage di Filipina.</li>
<li>Mengadakan <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/09/tot-ke-aimi/">workshop Teknik Mengajar dan Pendalaman Materi Baru</a> bagi Konselor Laktasi pengajar Kelas EdukASI.</li>
<li>Memiliki 3 orang Konselor Laktasi dengan sertifikat IBCLC (International Board Certified Lactation Consultants).</li>
<li>Mengikuti pelatihan MoT IYCF Community Counselors bersama delegasi dari Bangladesh dan Timor Leste.</li>
</ol>
<li><strong>Kerjasama Dalam Negeri</strong></li>
<ol>
<li>Kerjasama dengan Kemang Medical Care Jakarta dalam penyelenggaraan program kelompok pendukung ibu menyusui ”kASIh Ibu”.</li>
<li>Kerjasama riset dengan Save The Children dalam pemantauan implementasi kebijakan menyusui di provinsi Aceh, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur.</li>
<li>Kerjasama riset dengan MercyCorps dalam pengembangan dan pemberdayaan klinik laktasi dan pusat pelatihan manajemen laktasi di RSUD Koja Jakarta Utara.</li>
<li>Dukungan riset bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia di dalam dan luar negeri dengan berbagai topik ASI, menyusui dan pemberian makan pada bayi dan anak.</li>
</ol>
<li><strong>Hubungan Luar Negeri</strong></li>
<ol>
<li>Menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/09/one-asia-breastfeeding-partners-forum/">One Asia Breastfeeding Partners Forum 8</a> di Ulan Bator, Mongolia.</li>
<li>Menghadiri Australian Breastfeeding Association (ABA) Conference di Sydney, Australia.</li>
<li>Menghadiri <a href="http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/">ABA International Conference di Canberra</a>, Australia.</li>
<li>Menghadiri <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/12/ibfan-complementary-feeding-policy-meeting/">Complementary Feeding Policy Meeting</a> yang diselenggarakan International Breastfeeding Action Network (IBFAN) di Chiang Mai, Thailand.</li>
</ol>
<li><strong>Peningkatan Jumlah Relawan Pengurus dan Konselor Laktasi</strong></li>
<ol>
<li>Menambah jumlah relawan pengurus dari + 90 orang menjadi + 150 orang.</li>
<li>Menambah jumlah Konselor Laktasi dari + 30 orang menjadi + 80 orang.</li>
</ol>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/01/kilas-balik-kinerja-aimi-di-tahun-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Australian Breastfeeding Association (ABA) International Conference</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 00:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tengku Arisma Mellina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ABA]]></category>
		<category><![CDATA[Australian Breastfeeding Association]]></category>
		<category><![CDATA[Conference]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1672</guid>
		<description><![CDATA[Syukur Alhamdulillah saya dapat mengikuti konferensi internasional yang di selenggarakan oleh Australian Breastfeeding Association (ABA) di Canberra tanggal 20 &#8211; 21 Oktober 2011 dengan tema “Step Up Reach Up: Developing an Inclusive Breastfeeding Society“. Peserta konferensi sebagian besar berasal dari Australia, baik para relawan ABA maupun tenaga medis. Perwakilan dari Indonesia antara lain dr. Asti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syukur Alhamdulillah saya dapat mengikuti konferensi internasional yang di selenggarakan oleh <em>Australian Breastfeeding Association (ABA)</em> di Canberra tanggal 20 &#8211; 21 Oktober 2011 dengan tema “<em>Step Up Reach Up: Developing an Inclusive Breastfeeding Society</em>“. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1674" />Peserta konferensi sebagian besar berasal dari Australia, baik para relawan ABA maupun tenaga medis. Perwakilan dari Indonesia antara lain dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC, dr. B. Wirastari, SpA, IBCLC dan saya sendiri sebagai perwakilan dari AIMI.</p>
<p>Senang sekali rasanya berkesempatan untuk bertatap muka langsung dengan beberapa “petinggi” di ABA untuk mengenalkan AIMI. Respon dari mereka sangat positif. AIMI mengingatkan mereka pada ABA pada tahun 1964, saat didirikan oleh beberapa orang saja dan saat ini sudah menjadi organisasi skala nasional yang besar. Mereka optimis AIMI akan menjadi sebesar ABA karena apa yang dilakukan AIMI adalah hal yang mulia dan didukung oleh orang banyak. Amiiin ☺</p>
<p>Sebelum konferensi dimulai pada tanggal 20 Oktober 2011, saya mengikuti workshop Pra-konferensi yang diselenggarakan pada tanggal 19 Oktober 2011 di National Gallery of Australia, Canberra. Dari ketiga pilihan workshop:</p>
<p>a.	Baby Friendly Initiatives<br />
b.	Communication Skills to Support Breastfeeding<br />
c.	Breastfeeding Essentials for Medical Practitioners</p>
<p>Saya memilih workshop yang kedua. Workshop “<em>Communication Skills to Support Breastfeeding</em>” dibawakan oleh Janet Sullivan (Cert IV Breastfeeding Education (counseling &#038; community), Cert IV Training &#038; Assessment, Diploma of Training &#038; Assessment) dan Janette Timmermans (IBCLC, Cert IV Breastfeeding Education, Facilitator Breastfeeding Drop-in Centre).</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-2-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference-2" width="300" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1676" />Workshop ini di selenggarakan dengan cara presentasi yang interaktif dengan role-play dan diskusi terbuka. Tujuan dari workshop ini pengkinian teknik konseling dan juga sharing pengalaman melakukan konseling antar sesama konselor menyusui. Ada beberapa hal yang menarik dari workshop ini. Misalnya, ternyata di Australia produk formula yang ada label paling tinggi tingkatannya “gold” sedangkan di Indonesia sudah “platinum”. Kalau dari artinya sih kelihatannya lebih bagus yang platinum ya. Tapi dalam hal ini hanyalah sebuah nama untuk kepentingan komersil saja, jadinya sedih deh ☹. Hal lain yang menarik yaitu, ternyata di Indonesia lebih bebas untuk dapat menyusui di tempat umum terlebih belakangan ini sudah semakin banyak fasilitas ruang menyusui di tempat-tempat umum. Sedangkan di Australia sendiri, masih susah untuk dapat menysui di tempat umum tanpa mendapat pandangan yang sinis atau tidak menyenangkan. Bahkan di tempat-tempat umum seperti restoran, ibu yang sedang menyusui akan di tegur oleh pelayan atau manager restoran dengan alasan bukan tempat yang tepat untuk menyusui. Untuk hal ini, saya sangat bersyukur Indonesia lebih baik.</p>
<p><strong>Konferensi</strong></p>
<p>Waah deg-degan banget  waktu datang ke National Convention Centre pada 20 Oktober 2011 jam 8:30 pagi. Tempatnya sangat besar dan pesertanya banyak banget. Untuk daftar ulang saja, dari abjad A sampai Z antrian panjang semua. Pemandangan yang menyenangkan terlihat dimana ada panitia yang melayani peserta konferensi dengan ramah sambil menggendong bayinya. Selain itu, pada saat Opening Plenary session, peserta berlomba mencari tenpat duduk di paling depan. Peserta yang membawa stroller mendapat kemudahan untuk dapat duduk di depan. Selama acara berlangsung pun sangat bebas bagi peserta untuk menyusui  dan duduk di bawah bersama anaknya (ada juga yang selonjoran di dekat pintu keluar). Hal-hal ini tidak mengurangi konsentrasi peserta lain untuk mendengarkan seluruh presentasi yang diberikan oleh narasumber.</p>
<p>Konferensi dibuka oleh Mrs. Jannette Philips dengan pidato “<em>Welcome to Country</em>”. Kemudian opening speech dibawakan oleh Tara Moss, mantan model Australia, penulis novel kriminal dan UNICEF Patron for Breastfeeding. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-tara-moss-300x225.jpg" alt="" title="12-tara-moss" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1679" />Opening speech Tara Moss “<em>A new Role and an old debate</em>” sangat inspiratif terutama bagi ibu baru. Tara menceritakan bagaimana dia mulai peduli tentang menyusui pada saat ia melahirkan putri pertamanya. Pada masa kehamilan, ia cemas karena akan merasa malu jika menyusui di tempat umum. Ia pun dihantui cerita-cerita “horror” mengenai menyusui. Setelah mengetahui lebih dalam tentang menyusui, ia sangat terkesima dengan kenyataan bahwa ASI bukan hanya sebagai sumber nutrisi bagi bayinya tapi juga mengandung stem cells and antibodi. Tara juga takjub bahwa menyusui adalah kegiatan yang sangat natural dan menyenangkan bagi ibu dan bayi. </p>
<p>Dalam pidatonya, Tara mengutip kalimat dari Helena Bonham Carter (aktris pemeran Belatrix di film Harry Potter): </p>
<blockquote><p>“People say, ‘you’re still breastfeeding, that’s so generous. Generous, No! It gives me boobs and it takes my thighs away! It’s sort of like natural liposuction. I’d carry on breastfeeding for the rest of my life if I could”.</p></blockquote>
<p>Peserta bertepuk tangan setelah Tara mengucapkan kalimat tersebut. Suatu kalimat yang “dibenarkan” oleh  banyak ibu-ibu yang berhasil menyusui. Pidato Tara Moss dapat dibaca di blog pribadinya <a href="http://blog.taramoss.com/">http://blog.taramoss.com</a> (<a href="http://blog.taramoss.com/index.php?itemid=679">23/10: A new role and and old debate</a>).</p>
<p>Selanjutnya presentasi dari Prof. Peter Hartmann dari Human Lactation Research Group dengan tema “<em>Developing an inclusive breastfeeding society in Australia</em>”.  Prof. Hartmann menyinggung mengenai &#8220;<em>why breast beats formula</em>&#8221; atau mengapa menyusui mengalahkan formula. Salah satu diantaranya adalah menyusui dapat meningkatkan IQ ibu. Prof. Hartmann menyebutkan hasil riset Kingsley CH and Lambert KG (2006) yang dipublikasikan dalam Journal of Scientific American 294:58-65 (the maternal brain): </p>
<blockquote><p>“Perubahan pada otak wanita yang disebabkan hormon di masa kehamilan, kelahiran dan menyusui membuat para ibu lebih berhati-hati dan penyayang. Selain itu, kemampuan belajar dan memori spasial menunjukkan peningkatan dalam jangka panjang&#8221;.</p></blockquote>
<p>Berikutnya Randa Saadeh dari WHO memberikan presentasi berjudul “<em>Breastfeeding and Child Survival: Translating Policies into Action</em>” yang dilanjutkan dengan morning tea.</p>
<p>Pada hari kedua, plenary session diisi dengan presentasi dari Dr. Suzanne Colson dari Church University, England mengenai “<em>Biological Nurturing and The Laid-Back Breastfeeding Revolution: The Research Evidence</em>”. Dr. Colson memperkenalkan sebuah revolusi terbaru dalam menyusui, yaitu posisi menyusui “<em>laid back</em>” atau bersandar yang membuat ibu lebih rileks, bayi dapat menyusu/melekat sendiri, ruang untuk bayi menyusui juga lebih luas karena perut ibu menjadi lebih panjang. Berbagai informasi mengenai <em>Biological Nurturing</em> dan <em>Laid-Back Position</em> dapat dilihat di <a href="http://www.biologicalnurturing.com/">www.biologicalnurturing.com</a>.</p>
<p>Dalam konferensi dua hari ini terdapat 24 sesi yang dapat dipilih oleh peserta. Sayangnya, peserta hanya bisa memilih 2 sesi per hari, padahal semua tema sangat menarik. Dengan penuh kebingungan mau memilih yang mana akhirnya saya memilih:</p>
<ol>
<li><strong>Breastfeeding Support in Challenging Circumstances</strong>. Dibawakan oleh 3 narasumber. Gwen Moody dari Westmead Hospital, NSW, berbicara mengenai penanganan ibu yang sakit tetapi tetap menyusui. Judy Russel dan Ms. Anita Moorhead dari Royal Women’s Hospital Melbourne, Victoria, berbicara mengenai rumah sakit yang mendukung dan yang tidak mendukung menyusui. Dan yang terakhir – dan menurut saya paling menarik &#8211; yaitu presentasi dari Dr. Lenore Goldfarb dari Goldfarb Breastfeeding Clinic, Montreal, Quebec, Kanada mengenai “Induced Lactation”, seorang ibu yang mengadopsi anak pun bisa menyusui bayinya. Pada saat sesi tanya jawab, Dr. Goldfarb menegaskan bahwa tidak ada yang bisa menentukan berasa lama fase kolostrum menjadi asi matang, karena setiap ibu berbeda dan yang tahu hanya bayinya.  Jadi, proses menyusui harus dilakukan dari awal dan tidak berhenti.</li>
<li><strong>Breastfeeding Support, what mothers want and what works</strong>. Dengan 3 narasumber dari ABA breastfeeding help-line yaitu Ruth Berkowitz, Debbie Yates dan Nerida May, sebagai Managers ABA Breastfeeding Help-line. Ruth Berkowitz menerangkan bagaimana tipe-tipe penelepon selama 20 tahun dan bagaimana konselor menyusui menanganinya. Debbie Yates dan Nerida May menjelaskan mengenai hotline menyusui 24 jam dengan nomor telepon 1800-mum-2-mum. Hotline ini sebagian disponsori oleh pemerintah dan perusahaan telekomunikasi sehingga dapat berkembang hingga jangkauan nasional dan sistematis. Profil penelepon terbanyak yaitu ibu (98%), dengan 1 anak (69%), berumur 34-42 tahun (42%) dan tinggal di kota (76%). Pertanyaan–pertanyaan yang sering ditanyakan antara lain permasalahan puting dan payudara (24,4%), meyakinkan ibu (18,7%), posisi dan pelekatan (10%), khawatir ASI sedikit (19,4%), memerah dan menyimpan asi (15%) dan lamanya menyusui (11%). Yang menarik, pertanyaan-pertanyaan tersebut juga merupakan pertanyaan yang umum ditanyakan dalam konseling melalui telepon ke AIMI. Jadi setidaknya di dua negara (Indonesia dan Australia) permasalahan ibu menyusui sama dan solusi yang ditawarkan pun sama.</li>
<li><strong>Evidence Based Management of Three Breastfeeding Issues</strong>. Tiga masalah dalam menyusui yang dibahas disini salah satunya All Burns is not Thrush oleh Dr. Moira McCaul dari Adeleide Health Care. Catatan penting dari presentasi ini adalah perlunya pengamatan lebih jauh jika menemukan permasalahan dengan puting, akan tetapi umumnya disebabkan oleh pelekatan yang kurang tepat. Pelekatan yang kurang tepat bisa juga disebabkan bayi memiliki tongue tie. Presentasi kedua dibawakan oleh Lynette Slatter dari Royal Women’s Hospital, Melbourne mengenai Tongue Tie, Score Low-Score High, Way to Go? Topik yang paling menarik karena sedang menjadi perdebatan di kalangan medis juga umum, teruatama dalam hal menyikapi tongue tie/ankyloglossia atau tali lidah pendek. Dikutip dari buku “Tongue Tie and Breastfeeding: a review of the literature” (J. Edmunds, S. Miles and P. Fulbrook, 2001):</li>
<ul>
<li>Tongue tie secara negatif mempengaruhi proses menyusui, </li>
<li>Jika tidak ada pengaruh terhadap proses menyusui, maka tidak perlu dilakukan tindakan apapun, </li>
<li>Bukti menunjukkan bahwa jika tongue tie mempengaruhi proses menyusui, maka frenotomi dapat membantu dan merupakan prosedur yang sederhana, aman dan efektif,</li>
<li>Bukti kurangnya konsensus mengenai manajemen tongue tie dengan beberapa tenaga medis tidak mendukung intervensi bedah,</li>
<li>Adalah penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya keefektifan dan keamanan frenotomi </li>
</ul>
<p>Selanjutnya adalah presentasi dari Carole Dobrich dari Goldfarb Breastfeeding Clinic, Canada, mengenai <em>Breasfeeding Mothers and Open Nipple Wounds, Standard Care vs Novel Treatment</em>, yang lagi-lagi menyinggung mengenai salah satu penyebab utama dari puting luka adalah karena pelekatan yang kurang tepat.</p>
<li><strong>Removing Barriers to Breastfeeding</strong>. Diambil dari The Victorian Breastfeeding Project serta presentasi mengenai peranan ayah dalam mendukung menyusui di kebudayaan yang berbeda (Australia, Jepang, China, Vietnam, Malaysia dan kepulauan Maldives). Menurut penelitian, dukungan ayah terhadap proses menyusui masih sangat kurang terutama di kalangan muda. Padahal peranan ayah sangat penting dalam menentukan keberhasilan menyusui. Dukungan suami adalah dukungan yang paling besar dampaknya. Untuk itu, sangat diperlukan sosialisasi peranan penting seorang ayah mendukung istrinya menyusui.</li>
</ol>
<p>Konferensi ditutup dengan diskusi panel bersama seluruh narasumber, mengenai dukungan untuk ibu menyusui.</p>
<p>Diluar ruang konferensi, terdapat beberapa booth dari sponsor, ABA, Lactation Resource Centre, Mothers Direct, IBCLE (International Board of Lactation Consultant Examiners). Juga terdapat presentasi poster dari beberapa negara.</p>
<p><strong>Konselor Menyusui, Sahabat Ibu Menyusui</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-3-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference-3" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1677" />Pengalaman ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Kesempatan yang sangat jarang dimana saya dapat bertemu dan mendengar langsung berbagai informasi dari para pakar laktasi. </p>
<p>Belum lagi kesempatan bertukar cerita dan pengalaman dengan para konselor menyusui dan sukarelawan ABA.  AIMI yang umurnya belum sampai 5 tahun dapat belajar banyak dari pengalaman mereka yang sudah terjun langsung mendampingi dan mendukung ibu menyusui dengan <em>peer-to-peer support</em> selama hampir 50 tahun.</p>
<p>Dari semua teori dan hasil penelitian yang telah dipaparkan, yang terpenting bagi seorang konselor menyusui adalah menjadi sahabat bagi ibu menyusui, yang mendukung dan memberikan informasi yang relevan. Peranan peer-group, antara sesama ibu juga sangat dirasakan manfaatnya. Para ibu menyusui dalam kelompoknya dapat saling menguatkan dan mendukung karena berada pada satu level yang sama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASI: Cairan Ajaib Yang Selamatkan Bayiku</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 00:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Muzdalifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[bayi prematur]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kuning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1628</guid>
		<description><![CDATA[Bahagia rasanya saat mengetahui kehamilan pertama yang ternyata kembar identik. Tapi manusia boleh berencana, Tuhan tetaplah Maha Penentu. Salah satu bayi kembarnya meninggal di dalam kandungan dan harus dilahirkan. Kembarannya yang selamat, lahir prematur. Bagaimana perjuangan ibu Lia? Yuk kita simak penuturannya ke AIMI beberapa waktu lalu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika mengetahui bahwa aku hamil kembar identik (satu kantung kehamilan), rasanya aku bahagia sekali. Aku akan dikarunia dua bayi sekaligus! Setiap bulan aku rutin memeriksakan kandungan ke dokter, untuk memastikan kedua bayiku tumbuh sehat di dalam rahimku. Kedua bayi tampak sangat sehat menurut dokterku, hingga kontrol terakhir pada usia kandungan 6 bulan.</p>
<p><strong>Ternyata Tuhan berkehendak lain</strong></p>
<p>Pada usia kandungan sekitar 6,5 bulan, keluar cairan bening yang banyak sekali dari vagina. Aku hubungi dokter dan beliau bilang tidak apa-apa, kemungkinan hanya akibat peregangan. Namun aku kemudian merasa kesakitan dan ada flek berupa darah segar. Pada hari Senin, 28 Maret 2011, dari kantor, aku segera dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, sesuai arahan dokter kandungan.</p>
<p>Ternyata menurut hasil USG, salah satu bayiku sudah meninggal. Rasa sedih tak terkira kurasakan waktu itu.</p>
<p>Setelah berkonsultasi dengan dokter, kami sepakat untuk menahan kelahiran bayi yg selamat setidaknya hingga berat badannya cukup dan usia kandungan lewat 7 bulan. Tapi ternyata badanku sudah tidak sanggup menahan kontraksi-kontraksi yang terjadi. Ternyata sudah ada pembukaan 3 cm yang terhalang dengan semacam balon.</p>
<p>Pada hari ke-3 aku dipindahkan ke RS yang lebih besar karena aku semakin kesakitan, demam, kontraksi terus menerus, dan HB turun terus. Kondisiku semakin melemah ditambah lagi harus menahan semua obat-obatan yang <div id="attachment_1636" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1101-Alhamdulillah1-abel-300x225.jpg" alt="" title="1101-Alhamdulillah(1)-abel" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1636" /><p class="wp-caption-text">Annabelle sesaat setelah lahir</p></div>masuk (termasuk penahan kontraksi yang akhirnya membuat jantungku tidak kuat). Di RS ini aku bertahan hingga hampir 2 minggu. Namun kondisiku terus melemah sehingga keluarga memutuskan agar aku segera melahirkan bayiku.</p>
<p>Hari Jum&#8217;at, 8 April 2011 aku menjalani operasi caesar dan melahirkan bayi kembarku. Annabelle (Abelle) selamat dengan berat badan 934 gram. Sedangkan Isabelle meninggal dan dimakamkan esok harinya oleh suami dan ibuku serta keluarga besarku.</p>
<p><strong>ASI untuk hidup bayiku</strong></p>
<p>Saat dirawat pasca melahirkan, para perawat bertanya apakah ASI sudah keluar. Dalam suasana duka yang terasa berat, aku kebingungan. Perawat mencoba memencet dan memijat payudaraku, tidak ada ASI yang keluar hingga beberapa hari. Sempat terpikir untuk menghubungi AIMI untuk meminta bantuan, tapi waktu itu rasanya aku tidak punya tenaga untuk berpikir. Padahal aku baru saja menjadi anggota AIMI dan menerima paket member saat dirawat di RS.</p>
<p>Aku baru bisa menemui Abelle pada hari ke-3, di ruang NICU. Dia begitu mungil dan kelihatan tidak berdaya. Banyak yang dialami Abelle, mulai dari kuning, menjalani cuci darah, nyaris menjalani operasi penutupan saluran jantung dan lain-lain. Syukurlah beberapa teman kantorku bersedia menjadi donor darah buat Abelle. Sementara ASI ku <div id="attachment_1637" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah-300x225.jpg" alt="" title="1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1637" /><p class="wp-caption-text">Beberapa hari setelah lahir, seusai disinar. Lengan Abelle hanya sejari ayah.</p></div>belum keluar, Abelle diberikan cairan NaCl (kalau tidak salah) melalui tali pusarnya yang disambung dengan semacam selang kecil seolah-olah tali pusar masih tersambung dengan ibu.  </p>
<p>Aku berniat tidak membiarkan Abelle diberi formula. Aku bertekad bagaimanapun caranya, ASI ku harus keluar! Hanya ASI yang baik untuk perkembangan berat badan dan kesehatannya. Semua dokter dan perawat mengatakan bahwa ASI penting sekali untuk perkembangan bayi prematur.</p>
<p>Mendengar penjelasan dokter dan perawat, aku makin stress karena ASI masih belum keluar. Tapi aku terus berusaha. Memijat, mengompres terus aku lakukan walau belum kelihatan hasilnya. Semua teman dan keluarga selalu memberi dukungan, khususnya Mamaku dan suamiku.</p>
<p>Akhirnya suatu hari keluar sedikit cairan bening seperti susu.  Subhanallah. Aku meneteskan air mata saat itu. ASI hanya keluar setetes demi setetes, namun aku terus berusaha. Dalam waktu 2-3 jam aku berhasil mendapatkan 5-6 ml ASI. Walau sedikit, aku merasa sangat bahagia dan langsung aku antar untuk Abelle di ruang NICU.  Keesokan harinya aku pompa lagi dan dalam 2 jam dapat 10 ml. Aku makin semangat.</p>
<p>Hari demi hari aku jalani dengan niat dan semangat. ASI-ku harus ada untuk asupan bayiku yang sangat membutuhkannya. Alhamdulillah, hari demi hari ASI terus bertambah. Dari 2 jam 10 ml, menjadi 20 ml, 30ml. Dari 2 jam menjadi 1 jam. Sekarang aku bisa memompa 100-250 ml dalam 15 – 20 menit. Subhanallah. </p>
<p>Saat itulah aku percaya, jika kita terus berusaha, pasti akan berhasil, dalam keadaan apapun. Ternyata benar kata orang, setiap wanita pasti bisa menyusui, termasuk aku. Melahirkan bayi prematur, dalam keadaan sakit. Dengan semangat dan niat, akhirnya berhasil juga memproduksi ASI yang cukup. </p>
<p>Abelle akhirnya bisa pulang ke rumah pada 3 Juni 2011 di usia hampir 2 bulan dengan BB 1,770 kg.</p>
<p><strong>Menikmati perjuangan</strong></p>
<p><div id="attachment_1653" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-Juni-2011-1770kg-300x225.jpg" alt="" title="1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1653" /><p class="wp-caption-text">3 Juni 2011 - Persiapan pulang ke rumah (BB: 1770 gr)</p></div>Alhamdulillah hingga kini Abelle hanya minum ASI dari aku saja. Selama 3 hari pertama ia dipuasakan, dan hanya dengan cairan NaCl melalui tali pusar hingga aku dapat menyetor ASI kepada Abelle.</p>
<p>Sekarang Abelle sudah menginjak usia 7 bulan sejak usia kelahirannya dan masih full ASI. Berat badannya sudah lebih dari 5 kg! Abelle belum diberikan MPASI, karena dokter menyarankan untuk menunda MPASI dulu.</p>
<p>Aku sadar perjuanganku tidak berhenti sampai disini. Setelah cuti dari pekerjaan selama 6 bulan lamanya, aku kembali bekerja sebulan yang lalu. Rasa khawatir sempat menyerang, pikiran dipenuhi akan cukup atau tidak ASI-ku untuk Abelle serta bagaimana manajemen ASIP di hari-hari yang sangat sibuk.</p>
<p>Aku menyampaikan pada rekan kerja dan atasan bahwa pada jam kerja aku akan meminta izin untuk memompa ASI. Syukurlah mereka bisa mengerti. Sekarang tugasku adalah semangat dan rajin memompa!</p>
<p>Walau kadang-kadang jumlah ASIP yang diminum Abelle lebih banyak daripada yang aku perah, namun Alhamdulillah hingga hari ini ASIP untuk Abelle cukup dan ready stock hehehe. Namun, aku selalu susui Abelle langsung jika aku di rumah.  Sempat mesin pompa rusak, masya Allah paniknya setengah mati, karena sudah sangat cocok dengan produk tersebut. Akhirnya aku mulai belajar memerah dengan tangan, Subhanallah ternyata mudah!</p>
<p><strong>Menyusui itu berkah</strong></p>
<p><div id="attachment_1658" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1123-Annabelle-today-300x225.jpg" alt="" title="1123-Annabelle-today" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1658" /><p class="wp-caption-text">Annabelle sekarang</p></div>Untuk para ibu dan calon ibu, semangat terus yaaa. Never give up! Give the best for your baby(ies). Anak adalah berkah dan amanat dari Tuhan yang tak ternilai. ASI lah yang terbaik untuk anak kita.</p>
<p>Merasa sedih, ketakutan hingga menangis, berkali-kali aku alami tapi aku berusaha untuk kembali <em>positive thinking</em>. Suami terus mendukung dan menyemangatiku. Sekarang aku percaya bahwa setiap Ibu pasti bisa menyusui. </p>
<p>Mohon doa agar anakku Annabelle Maleeka Victoria Putransyah selalu disehatkan dan disempurnakan tumbuh kembangnya. Semoga aku bisa lanjuuuutt menyusuinya sampai semaksimal yang aku mampu. Aamiin.</p>
<p>PS. Terimakasih Ayah Alfa yang sudah sangat baik dan sangat supportive selama ini, Ibu tidak bisa lakukan ini semua tanpa dukungan Ayah&#8230; (hiks hiks terharu lagi)&#8230;</p>
<p><small>*) seperti diceritakan oleh Lia Muzdalifah kepada AIMI</small></p>

<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1101-alhamdulillah1-abel/' title='1101-Alhamdulillah(1)-abel'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1101-Alhamdulillah1-abel-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sesaat setelah lahir" title="1101-Alhamdulillah(1)-abel" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah/' title='1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Beberapa hari setelah lahir, seusai disinar. Lengan Abelle hanya sejari ayah." title="1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n/' title='1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n" title="1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n/' title='1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n" title="1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/attachment/1105/' title='1105'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1105-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1105" title="1105" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1106-abelborn1/' title='1106-abelborn1'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1106-abelborn1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1106-abelborn1" title="1106-abelborn1" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1107-cuci-darah-ke-2/' title='1107-Cuci-darah-ke-2'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1107-Cuci-darah-ke-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Cuci darah ke-2" title="1107-Cuci-darah-ke-2" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1108-img01764-20110425-1122/' title='1108-IMG01764-20110425-1122'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1108-IMG01764-20110425-1122-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1108-IMG01764-20110425-1122" title="1108-IMG01764-20110425-1122" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1109-img01864-20110426-1135/' title='1109-IMG01864-20110426-1135'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1109-IMG01864-20110426-1135-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1109-IMG01864-20110426-1135" title="1109-IMG01864-20110426-1135" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1110-img01898-20110427-1124/' title='1110-IMG01898-20110427-1124'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1110-IMG01898-20110427-1124-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1110-IMG01898-20110427-1124" title="1110-IMG01898-20110427-1124" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1111-img01916-20110427-1139/' title='1111-IMG01916-20110427-1139'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1111-IMG01916-20110427-1139-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1111-IMG01916-20110427-1139" title="1111-IMG01916-20110427-1139" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1112-img01999-20110428-1221/' title='1112-IMG01999-20110428-1221'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1112-IMG01999-20110428-1221-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1112-IMG01999-20110428-1221" title="1112-IMG01999-20110428-1221" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1113-alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas/' title='1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Alhamdulillah, alat bantu napas sudah bisa dilepas" title="1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1114-img02295-20110511-1744/' title='1114-IMG02295-20110511-1744'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1114-IMG02295-20110511-1744-150x150.png" class="attachment-thumbnail" alt="1114-IMG02295-20110511-1744" title="1114-IMG02295-20110511-1744" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan/' title='1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Belajar adaptasi suhu ruangan" title="1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1116-kangaroo-mother-care/' title='1116-kangaroo-mother-care'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1116-kangaroo-mother-care-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Kangoroo Mother Care (KMC)" title="1116-kangaroo-mother-care" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1117-proses-kangaroo-mother-care/' title='1117-proses-Kangaroo-mother-care'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1117-proses-Kangaroo-mother-care-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Proses KMC" title="1117-proses-Kangaroo-mother-care" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-juni-2011-1770kg/' title='1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-Juni-2011-1770kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="3 Juni 2011 - Persiapan pulang ke rumah (BB: 1770 gr)" title="1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1119-persiapan-pulang-ke-rumah-1770kg/' title='1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1,770kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1770kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Persiapan  pulang ke rumah" title="1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1,770kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1120-21kg/' title='1120-2,1kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1120-21kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="2,1 kg" title="1120-2,1kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1121-img_0404/' title='1121-IMG_0404'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1121-IMG_0404-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1121-IMG_0404" title="1121-IMG_0404" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1122-3kg/' title='1122-3kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1122-3kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="3 kg..!!!" title="1122-3kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1123-annabelle-today/' title='1123-Annabelle-today'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1123-Annabelle-today-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1123-Annabelle-today" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1124-annabelle-today-2/' title='1124-Annabelle-today-2'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1124-Annabelle-today-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1124-Annabelle-today-2" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1125-annabelle-today-3/' title='1125-Annabelle-today-3'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1125-Annabelle-today-3-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1125-Annabelle-today-3" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1126-annabelle-today-4/' title='1126-Annabelle-today-4'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1126-Annabelle-today-4-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1126-Annabelle-today-4" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1127-annabelle-today-5/' title='1127-Annabelle-today-5'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1127-Annabelle-today-5-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1127-Annabelle-today-5" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>135</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui; InvestASI untuk Masa Depan GenerASI &amp; Dunia yang Sehat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/09/menyusui-investasi-untuk-masa-depan-generasi-dunia-yang-sehat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/09/menyusui-investasi-untuk-masa-depan-generasi-dunia-yang-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 02:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[OABF8]]></category>
		<category><![CDATA[One Asia Breastfeeding Forum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1589</guid>
		<description><![CDATA[One Asia Breastfeeding Forum ke-8 telah berlangsung tgl. 14-16 September 2011 lalu. AIMI sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia turut menghadiri acara tahunan ini yang diwakili oleh wakil ketua umum, Nia Umar. Berikut oleh-oleh dari beliau tentang OABF8 yang diselenggarakan di Mongolia tersebut. Semoga bermanfaat bagi kita semua.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Antara Beijing menuju Jakarta, 20 September 2011.</em></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-OABF8-1-300x176.jpg" alt="" title="09-OABF8-1" width="300" height="176" class="alignleft size-medium wp-image-1592" />Buat saya, tidak ada yang lebih berat selain perasaan campur aduk antara hendak pergi ke suatu tempat yang benar-benar belum pernah dikunjungi sebelumnya tapi dibarengi juga perasaan sedih harus meninggalkan keluarga di Indonesia. Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan yang amat menarik (dan mudah-mudahan bermanfaat juga) untuk menghadiri &#8216;One Asia Breastfeeding Partners Forum 8&#8242; (OABPF8) yang diselenggarakan di Ulaan Baatar, Mongolia pada 14-16 September 2011 lalu. Kebetulan saya mewakili AIMI dan juga satu-satunya perwakilan Indonesia pada forum ini.</p>
<p>OABPF8 ini sudah setiap tahun diadakan di negara-negara Asia yang tahun lalu baru saja diadakan di Jakarta. Tema yang diangkat tahun ini adalah &#8220;<em><strong>Food Security &#038; Climate Change</strong></em>&#8220;. Ada pun negara-negara yang berpartisipasi tahun ini dibagi dalam 3 region; </p>
<ol>
<li>Asia Selatan yang terdiri dari: India, Srilanka, Bhutan, Nepal, Bangladesh dan Afghanistan. </li>
<li>Asia Timur yang terdiri dari: Mongolia, Republik Rakyat China, Korea Selatan, Taiwan dan Hong Kong.</li>
<li>Asia Tenggara yang terdiri dari: Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam dan Thailand.</li>
</ol>
<p>Tema kali ini bukan tanpa alasan diangkat pada OABPF8 kali ini. Sudah banyak penelitian dan riset yang menunjukkan resiko pemberian formula pada bayi, namun seringkali kita luput bahwa pemberian formula juga menghasilkan banyak sekali sampah dan limbah yang mempengaruhi lingkungan. Belum lagi ketersediaan pangan yang ikut terpengaruh dengan kondisi pemanasan global yang merupakan dampak langsung dari pencemaran yang manusia sendiri lakukan di dunia ini.</p>
<p><strong>Hari Pertama: Kaitan Menyusui dengan Ketersediaan Pangan &#038; Perubahan Iklim</strong> </p>
<p>Hari Rabu 14 September 2011 acara OABPF8 resmi dibuka oleh Menteri Kesehatan Mongolia yang secara langsung memberikan sambutan dengan memaparkan kondisi menyusui dan status pemberian makan pada anak di Mongolia. Banyak hal menarik yang beliau sampaikan dalam sambutannya diantaranya bagaimana menyusui merupakan kebiasaan yang alamiah dan dilakukan banyak sekali ibu di Mongolia. Keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen pemerintah Mongolia mejalankan program Rumah Sakit Sayang Bayi di semua RS di Mongolia.</p>
<p>Tingginya angka ibu yang menyusui juga diikuti dengan rendahnya angka kematian ibu dan bayi di Mongolia. Hal ini sangat menarik untuk menjadi catatan bagi kita, karena sampai saat ini program RS Sayang Bayi belum (kembali) menjadi program pemerintah yang wajib dijalankan di setiap fasilitas kesehatan.</p>
<p>Acara lalu dilanjutkan dengan sambutan dari beberapa pihak seperti dr. Arun Gupta yang merupakan Ketua IBFAN Asia yang menjadi penyelenggara dari OABPF8 bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan Mongolia dan didukung penuh juga oleh <em>Mongolian Pediatric Society</em> dan <em>Mongolian Maternal &#038; Child Health Center</em>.</p>
<p>Setelah itu acara dilanjutkan dengan presentasi mengenai emisi gas buang yang dihasilkan dalam rantai produksi pembuatan formula. Presentasi ini sangat mencerahkan buat saya karena banyak sekali informasi yang menunjukkan bahwa rantai produksi formula yang begitu panjang mulai dari peternakan sapi yang menghasilkan banyak sekali limbah yang mengotori lahan dan air. Belum lagi emisi gas buang yang dihasilkan sapi yang punya peran besar juga dalam pemanasan global. Rantai produksi ini masih terus berjalan yang diteruskan dengan dibawanya susu sapi ke pabrik dengan truk yang membutuhkan bahan bakar, lalu susu masuk pabrik yang membutuhkan banyak sekali tenaga listrik dan juga menghasilkan limbah yang juga besar. Lalu formula dimasukkan ke dalam kemasan (kemasan ini biasanya datang dari pabrik lain yang menggunakan transportasi dan rantai produksi yang juga tidak kalah rumitnya) dan lalu kembali masuk ke kendaraan pengangkut untuk didistribusikan. Ini menambah lagi emisi gas buang dari truk. </p>
<p>Singkatnya, formula sampai di toko dan ingat, produk ini belum sampai ke tangan pembeli loh! Para konsumen musti harus mengeluarkan biaya dan energi untuk mendapatkan formula ini yang lagi-lagi menghasilkan emisi gas buang seperti asap dari kendaraan yang dipakai, gas yang dipakai untuk memasak air, air bersih yang dipakai untuk menyeduh formula dan seterusnya. Bandingkan dengan menyusui yang mungkin satu-satunya energi yang dikeluarkan adalah pembakaran energi pada tubuh ibu (yang buat banyak ibu ini menyenangkan karena sekalian membakar lemak dalam tubuh hehehe). Presentasi ini dibawakan dengan baik oleh seorang mahasiswi dari <em>South Carolina University</em>, Amerika Serikat, Melisa Tinling.</p>
<p>PresentASI berikutnya disampaikan oleh Velvet Escario-Roxas, delegASI dari Filipina yang juga ibu menyusui dua putri yang menyampaikan sisa karbon yang tersisa pada rantai produksi formula yang mungkin sering luput dari pengamatan kita dan meninggalkan bekas pada tanah, air dan udara yang kita tinggali.</p>
<p>Velvet juga menyampaikan bahwa limbah yang dihasilkan formula punya banyak sekali peran dalam kondisi perubahan iklim di dunia saat ini. Beberapa riset dipaparkan pada presentasinya yang menyoroti betapa menyusui merupakan kegiatan alamiah yang tidak menghasilkan sampah sama sekali. Sedangkan formula sebaliknya sangat tidak ramah lingkungan. Penuturan yang disampaikan bisa akan lebih panjang lagi jika kita akan membahas penggunaan botol, dot, empeng dan alat-alat lainnya yang biasanya dipakai dalam pemberian formula.</p>
<p>Kedua presentASI diatas menunjukkan bahwa menyusui adalah investASI yang tidak hanya untuk kesehatan anak-anak kita namun untuk dunia yang akan mereka tinggali kelak. Menyusui tidak hanya dilihat dari aspek kesehatan, banyak sekali aspek lain yang terlibat dan membutuhkan banyak sekali pihak yang harus turut mendukung keberhasilan seorang ibu menyusui.</p>
<p>Setelah makan siang, acara OABPF8 dilanjutkan dengan presentASI dari masing-masing negara tentang status World Breastfeeding Trends initiatives (cek: <a href="http://www.worldbreastfeedingtrends.org">www.worldbreastfeedingtrends.org</a>).</p>
<p>Acara hari pertama ini diakhiri dengan presentASI dari dr. Soh delegASI Korea Selatan yang menuturkan bahwa kampanye untuk mencintai dan menjaga lingkungan sudah sering didengungkan pemerintah dan banyak lembaga. Hal ini sudah menjadi agenda dari banyak negara juga. Menyusui yang merupakan kegiatan yang tidak menghasilkan sampah (kecuali mungkin emisi gas buang si ibu dan bayi hehehe&#8230; :p). Beliau menunjukkan betapa menyusui seharusnya menjadi salah satu kegiatan utama dari kampanye lingkungan.</p>
<p><strong>Hari Kedua: Pemberian MP-ASI dalam Konteks Lokal</strong></p>
<p>Pada hari kedua ini pembahasan masuk ke <em>complementary feeding</em> atau MP-ASI. Bagaimana pemberian MP-ASI yang berkualitas dan menggunakan bahan-bahan dalam konteks lokal menjadi prioritas tugas kita bersama dalam agenda kerja. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-nia-present-300x210.jpg" alt="" title="09-nia-present" width="300" height="210" class="alignleft size-medium wp-image-1593" />Semua delegASI mempresentasikan resep-resep lokal untuk anak usia 6-8 bulan, 8-10 bulan, 10-12 bulan dan resep MP-ASI untuk anak malnutrisi. Ini adalah contoh presentasi saya untuk resep dalam konteks lokal dengan menggunakan tempe yang merupakan salah satu bahan makanan yang mudah dan murah untuk Indonesia.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-mpasi-recipes-300x224.jpg" alt="" title="09-mpasi-recipes" width="300" height="224" class="alignright size-medium wp-image-1594" />Semua peserta memberikan resep-resep yang menarik dan rencananya IBFAN akan membuat kompilASI buku resep MP-ASI ini untuk bisa menjadi bahan acuan untuk kita semua. Khusus delegASI Mongolia, mereka dengan khusus mendatangkan semua resep yang ditampilkan dalam satu sesi sehingga kita semua bisa mencobanya.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-cultural-night-300x225.jpg" alt="" title="09-cultural-night" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1595" />Hari kedua ini ditutup dengan <em>cultural night</em>, semua peserta harus memberikan hiburan dari negara asal. Kebetulan saya dan teman dari Malaysia sama-sama menyanyikan lagu melayu untuk mewakili kedua negara tetangga ini. Kami juga sempat disuguhi pertunjukkan menarik dari Mongolia yakni <em>throat singing</em>, yakni nyanyian khas pria Mongolia yang mengeluarkan suara khas berdengung dari tenggorokannya. Selain itu ada tarian dan senam ritmik yang juga menjadi andalan di Mongolia.</p>
<p><strong>Hari Ketiga: Rencana Tindak Lanjut untuk Penilaian ‘World Breastfeeding Trends initiatives’</strong></p>
<p>Hari terakhir dari konferensi ini diadakan diskusi dan rencana tindak lanjut kelompok kerja IBFAN Asia dan Regional serta finalisasi “Deklarasi Ulaan Baatar” yang merupakan hasil akhir dari One Asia Forum 8 kali ini.</p>
<p>Program kerja pertama yang akan menjadi pekerjaan bersama adalah <em>update assesment</em> dari <em>World Breastfeeding Trends initiatives</em> yang terakhir sudah dikerjakan tiga tahun yang lalu. Selain itu, akan akan rencana kerja bersama antar regional negara-negara Asia Tenggara dalam kaitannya promosi dan advokASI. </p>
<p>Kami menyadari pekerjaan ini banyak dan tantangan ke depannya masih akan sangat besar. Namun melihat antusiasme para delegASI dan sikap positif dan ingin berbagi dari mereka, seakan-akan menyulut semangat kerja untuk terus berbagi. Mudah-mudahan langkah kecil ini bisa berbuah manis kelak, yakni menyusui menjadi hal yang alamiah untuk generASI masa depan dan investASI lingkungan yang lebih baik. Salam menyusui!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/09/menyusui-investasi-untuk-masa-depan-generasi-dunia-yang-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

