<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; features</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/features/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 01:59:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Donor ASI; Kapan dan Bagaimana?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 16:20:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Astri Pramarini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Donor ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1743</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor? Yuk kita bahas bersama–sama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering kali kita membaca di milis dan media sosial adanya permintaan ASI donor karena beberapa sebab, misalnya: ibu meninggal, ibu sakit, bayi masuk NICU, bayi masuk inkubator, bayi terlantar, persediaan ASI perah habis, ASI belum keluar, persiapan menjelang melahirkan ataupun tidak mencantumkan alasan kenapa membutuhkan ASI donor.</p>
<p>Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor? Yuk kita bahas bersama–sama.</p>
<p><strong>Pada dasarnya bayi baru lahir sehat dari ibu yang sehat bisa mendapat ASI secara penuh tanpa perlu tambahan asalkan mendapat kesempatan menjalani Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Rawat Gabung penuh 24 jam bersama ibu, serta bayi menyusu tanpa jadwal dengan posisi dan pelekatan yang efektif.</strong></p>
<p>Lalu kondisi apa saja yang membuat bayi mungkin perlu mendapatkan suplementasi baik berupa tambahan atau pengganti selain menyusu? WHO dan UNICEF mengeluarkan dokumen Alasan Medis Menggunakan Pengganti ASI yang telah dirangkum sebagai berikut:</p>
<p>Indikasi pada Bayi yang Memerlukan Pengganti ASI:</p>
<ul>
<li><em>Inborn errors of metabolism</em> atau kelainan metabolisme bawaan (galaktosemia, fenilkotenouria, penyakit urin sirup mapel)</li>
</ul>
<p>Indikasi pada Bayi yang Mungkin Memerlukan Suplementasi:</p>
<ul>
<li>Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (kurang dari 1500 gram) atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu</li>
<li>Bayi berisiko hipoglikemia karena gangguan adaptasi metabolik atau peningkatan kebutuhan glukosa (Kecil Masa Kehamilan, prematur, mengalami stres hipoksik/iskemik, bayi sakit, bayi dengan ibu yang menderita diabetes) jika kadar gula darahnya gagal merespon pemberian ASI</li>
<li>Bayi dengan kehilangan cairan akut (misal karena fototerapi untuk jaundice) dan menyusui serta memerah ASI belum bisa mengimbangi kebutuhan cairan</li>
<li>Turunnya berat badan bayi berkisar 7 – 10% setelah hari ke 3 – 5 karena terlambatnya laktogenesis II</li>
<li>BAB bayi masih berupa mekonium pada hari ke 5 pasca persalinan</li>
</ul>
<p>Indikasi pada Ibu:</p>
<ul>
<li>Ibu dengan HIV + (keputusan pemberian minum pada bayi sebaiknya melalui proses konseling saat ibu hamil)</li>
<li>Ibu sakit berat (psikosis, sepsis, eklamsia atau mengalami renjatan/syok), infeksi virus Herpes Simpleks tipe 1 dengan lesi di payudara, infeksi varicella zoster pada ibu dalam kurun waktu 5 hari sebelum dan 2 hari sesudah melahirkan</li>
<li>Ibu mendapat sitostatika, radioaktif tertentu seperti Iodine 131, obat – obatan antitiroid selain Propylthiouracil</li>
<li>Ibu pengguna obat terlarang</li>
<li>Ibu mengalami kelainan payudara, riwayat operasi pada payudara, atau jaringan payudara tidak berkembang</li>
</ul>
<p>Kita lihat dari kedua tabel di atas maka sebagian besar kondisi di atas terjadi di hari–hari awal kelahiran. Dengan mempertimbangkan keuntungan dan risikonya, keputusan menggunakan suplementasi harusnya berdasarkan penilaian dan evaluasi dari konselor laktasi, dokter anak dan dokter kebidanan mengenai proses menyusui yang meliputi; observasi saat menyusu langsung pada payudara, evaluasi pasokan ASI, riwayat persalinan, evaluasi posisi, pelekatan, kekuatan hisap, kemampuan menelan, dan penilaian kondisi bayi secara menyeluruh. Kondisi pada ibu dan bayi akan menentukan apakah suplementasi ini bersifat sementara atau menetap. <strong>Perlu diingat juga, tujuan akhir dari suplementasi ini adalah untuk mempertahankan menyusui.</strong></p>
<p>Hierarki Suplementasi</p>
<ul>
<li>ASI/Kolostrum perah segar dari ibu</li>
<li>ASI perah ibu didinginkan</li>
<li>ASI perah ibu pernah dibekukan dan sudah dicairkan</li>
<li>ASI perah ibu sendiri yang difortifikasi (bila perlu) untuk bayi prematur</li>
<li>ASI donor dari Bank ASI dan dipasteurisasi</li>
<li>Formula bayi hipoalergenik</li>
<li>Formula bayi elemental</li>
<li>Formula berbasis susu sapi</li>
<li>Formula berbasis soya</li>
<li>Air atau air gula</li>
</ul>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/01-nourin-asip.jpg" alt="" title="01-nourin-asip" width="263" height="209" class="alignleft size-full wp-image-1752" />Dari tabel di atas serta tujuan akhir suplementasi bisa kita lihat utamanya adalah memaksimalkan produksi ASI ibu baik dalam menyusu langsung, ASI perah segar ataupun sudah dibekukan. Di sini peranan seorang konselor laktasi sangat penting untuk membantu ibu mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksi ASInya. Jika dirasa belum cukup, barulah dicarikan tambahan yang bisa berupa ASI donor yang sudah dipasteurisasi ataupun formula bayi, yang diberikan sedemikian rupa sehingga tetap menjaga dan mempertahankan keberlangsungan proses menyusui ibu dan bayi.</p>
<p><strong>ASI Donor di Indonesia</strong></p>
<p>Dalam hierarki suplementasi, ASI donor dari bank ASI dan sudah dipasteurisasi menjadi urutan berikutnya setelah ASI dari ibu si bayi. Hanya saja, di Indonesia tidak ada Bank ASI yang melakukan skrining terhadap pendonor ASI serta kultur dan pasteurisasi terhadap ASI donor. </p>
<p>Lalu bagaimana kita menyikapinya? Meskipun ASI memang yang terbaik bagi bayi, kita tidak bisa menutup mata terhadap kemungkinan ASI terpengaruh dengan penyakit yang diderita atau gaya hidup pendonor ASI (infeksi HIV, Hepatitis B dan C, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, bertato atau <em>body piercing</em>). Apalagi sebagian besar penerima ASI donor adalah bayi baru lahir, bayi prematur atau bahkan bayi sakit.</p>
<p>Ada baiknya bagi ibu yang akan mendonorkan ASInya bagi bayi lain menyeleksi dirinya sendiri dengan hal-hal sebagai berikut:</p>
<p>Tidak Disarankan Mendonorkan ASI:</p>
<ul>
<li>Menerima donor darah atau produk darah lainnya dalam 12 bulan terakhir</li>
<li>Menerima transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir</li>
<li>Minum alkohol secara rutin sebanyak 2 ounces atau lebih dalam periode 24 jam</li>
<li>Pengguna rutin obat-obatan Over the Counter (aspirin, acetaminophen, dll), pengobatan sistemik lainnya (pengguna kontrasepsi atau hormon pengganti tertentu masih dimungkinkan)</li>
<li>Pengguna vitamin megadosis atau obat-obatan herbal</li>
<li>Pengguna produk tembakau</li>
<li>Memakai implan silikon pada payudara</li>
<li>Vegetarian total yang tidak memakai suplementasi vitamin B12</li>
<li>Penyalah guna obat-obatan terlarang</li>
<li>Riwayat Hepatitis, gangguan sistemik lainnya atau infeksi kronis (contohnya: HIV, HTLV, sifilis, CMV – pada bayi prematur) </li>
<li>Beresiko HIV (pasangan HIV positif, mempunyai tato/<em>body piercing</em>)</li>
</ul>
<p>Disarankan memeriksakan dirinya dan terbukti negatif secara serologis terhadap: HIV-1 dan HIV-2, HTLV-I dan HTLV-II, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis. Pemeriksaan ini juga berguna jika dilakukan setiap ibu yang hamil untuk mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi. Pemeriksaan dan kriteria donor di atas juga perlu diulangi setiap kehamilan atau persalinan baru.</p>
<p>Sedangkan bagi orang tua yang memutuskan menerima ASI donor (tanpa melalui Bank ASI) ada baiknya mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:</p>
<ul>
<li>Bagaimana kondisi kesehatan ibu/pendonor? → pola makan terkait religi/keyakinan</li>
<li>Apakah uji serologis ibu terhadap HIV, Hepatitis B, HTLV negatif?</li>
<li>Apakah ASI tidak tercemar obat, nikotin, alkohol, dsb?</li>
<li>Apakah ASI tidak tercampur air, bahan/zat/nutrisi lain?</li>
<li>Apakah ASI diperah dan disimpan secara higienis dan tidak terkontaminasi? </li>
<li>Apakah jangka waktu penyimpanan dan tempat penyimpanannya sesuai?</li>
<li>Bagaimana kondisi bayi ibu/pendonor? → usia bayi pendonor <1 th , pernah menderita jaundice saat baru lahir?</li>
</ul>
<p><strong>Menyiapkan ASI Donor</strong></p>
<p>Jika pada akhirnya diputuskan menggunakan ASI donor yang belum dipasteurisasi, ada 3 teknik perlakuan terhadap ASI yang bisa dilakukan yang biasa mengurangi penularan penyakit (terutama HIV) melalui ASI.</p>
<ol>
<li>Pasteurisasi Holder </li>
<p>ASI dipanaskan dalam wadah kaca tertutup di suhu 62,5˚C selama 30 menit. Biasanya dilakukan di Bank ASI karena membutuhkan pengukur suhu dan pengukur waktu.</p>
<li>Teknik Flash Heating</li>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/01-flash-heating.jpg" alt="" title="01-flash-heating" width="253" height="156" class="alignright size-full wp-image-1753" />ASI sebanyak 50 ml ditaruh dalam botol kaca/botol selai  ukuran sktr 450 ml terbuka di dalam panci alumunium berukuran 1 L berisi 450 ml air. Kemudian panci dipanaskan di atas kompor sampai air mendidih, matikan, kemudian botol kaca berisi ASI diangkat dan didiamkan sampai suhunya siap untuk diminum bayi.</p>
<li>Pasteurisasi Pretoria</li>
<p>Panaskan air sebanyak 450 ml di panci alumunium berukuran 1 L sampai mendidih. Matikan kompor. Letakkan botol kaca terbuka yang berisi ASI sebanyak 50ml di dalam panci selama 20 menit. Kemudian angkat dan diamkan sampai suhu ASI siap diminum bayi.
</ol>
<p>Kalau kita lihat dari 3 teknik tadi, yang paling mungkin dilakukan adalah teknik nomor 2 dan 3. Manapun, pilih yang paling nyaman bagi ibu dan keluarga. Jika donor ASI dilakukan karena bayi sakit di Rumah Sakit, ingatkan perawat untuk melakukan pemanasan ini sebelum memberikan ASI donor kepada bayi anda.</p>
<p>Semoga bisa menjadi pertimbangan bagi ibu yang akan menerima atau mendonorkan ASI. Salam ASI!</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><small><br />
<strong>Referensi  Donor ASI</strong></p>
<ul>
<li>Walker, M. (2011) Breastfeeding Management for the Clinician: using the evidence. 2nd ed. Sudburry, MA. Jones and Bartlett</li>
<li>Lawrence, RA. (2011) Breastfeeding: A Guide for the Medical Profession. 7th ed. Maryland Heights, MI. Mosby</li>
<li>ABM Protocol #3. Hospital Guidelines for the Use of Supplementary Feedings in the Healthy Term Breastfed Neonate. (2009) Revised Edition. <a href="http://www.bfmed.org">www.bfmed.org</a></li>
<li>Israel-Ballard, K., et al. (2008) Flash-heated and Pretoria Pasteurized destroys HIV in breast milk &#038; Preserves Nutrients! Advanced Biotech. <a href="http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdf">http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdf</a> accessed January 8, 2012</li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop Ustadz dan Ustadzah ke-3</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/01/workshop-ustadz-dan-ustadzah-ke-3/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/01/workshop-ustadz-dan-ustadzah-ke-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 02:51:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Miranda Yusuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadz]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadzah]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>
		<category><![CDATA[WUU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1707</guid>
		<description><![CDATA[Selaras dengan misinya untuk melakukan sosialisASI ke seluruh lapisan masyarakat, AIMI secara rutin mengadakan Workshop Ustadz dan Ustadzah (WUU) sejak tahun 2010. Harapan kami Ustadz dan Ustadzah dapat berperan sebagai duta ASI di masyarakat dan membantu peningkatan angka pemberian ASI di Indonesia. Tahun ini AIMI akan kembali menyelenggarakan kegiatan WUU yang ke-3 pada: Hari, tanggal: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selaras dengan misinya untuk melakukan  sosialisASI ke seluruh lapisan masyarakat, AIMI secara rutin mengadakan Workshop  Ustadz dan Ustadzah (WUU) sejak tahun 2010. Harapan kami Ustadz dan Ustadzah  dapat berperan sebagai duta ASI di masyarakat dan membantu peningkatan  angka pemberian ASI di Indonesia.</p>
<p>Tahun ini AIMI akan kembali menyelenggarakan kegiatan WUU yang ke-3 pada:</p>
<ul>
<li>Hari, tanggal: Ahad, 29 Januari 2012</li>
<li>Waktu: 09.00 – 14.30 WIB
<p><div id="attachment_1717" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><img class="size-medium wp-image-1717" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/100_78711-300x225.jpg" alt="" width="240" height="180" /><p class="wp-caption-text">Workshop Ustadz &amp; Ustadzah ke-1</p></div></li>
<li>Tempat: Jakarta Pusat</li>
<li>Tema: “Keajaiban ASI dan Efek Samping Pemberian Susu Formula pada Bayi, Ditinjau dari Sisi Medis dan Hukum Syariah”</li>
<li> Pengisi Acara:</li>
</ul>
<ol>
<li>dr. UtamiRoesli, SpA., IBCLC., FABM,</li>
<li>dr. Asti Praborini, Sp.A,</li>
<li>Dr. Ali Nurdin, MA</li>
</ol>
<ul>
<li>Biaya: GRATIS</li>
</ul>
<p>***</p>
<p>Bagi Ibu dan Bapak yang berminat untuk ikut serta dalam kegiatan ini, silakan kirim data diri berikut melalui email ke <a href="mailto:elfira@aimi-asi.org" target="_blank">elfira@aimi-asi.org</a> atau fax ke <a href="%28021%29%207279%200166" target="_blank">(021) 7279 0166</a> selambat-lambatnya tanggal 20 Januari 2012.</p>
<ul>
<li>Nama lengkap: &#8230;
<p><div id="attachment_1718" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><img class="size-medium wp-image-1718" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/wuu21-300x225.jpg" alt="" width="240" height="180" /><p class="wp-caption-text">Workshop Ustadz &amp; Ustadzah ke-2</p></div></li>
<li>Nomor HP/telfon: &#8230;</li>
<li>Alamat email (jika ada): &#8230;</li>
<li>Nama kelompok/majelis binaan: &#8230; sejak tahun &#8230;</li>
<li>Jumlah anggota kelompok/majelis binaan: &#8230;</li>
<li>Nama dan nomor HP/telfon anggota kelompok/majelis binaan (isi minimal 3 orang sebagai referensi):</li>
</ul>
<ol>
<li>&#8230; (&#8230;)</li>
<li>&#8230; (&#8230;)</li>
<li>&#8230; (&#8230;)</li>
</ol>
<p>Untuk keterangan lebih lanjut mengenai pendaftaran peserta WUU3 dapat mengubungi nomor <a href="081584043432" target="_blank">081584043432</a> pada jam kerja. Kami akan melakukan konfirmasi pendaftaran dan  mengirimkan undangan kepada pendaftar yang memenuhi kriteria,  berdasarkan ketersediaan tempat pada saat pendaftaran dilakukan.</p>
<p>***</p>
<p>Bagi Ibu dan Bapak yang ingin membantu pelaksanaan kegiatan ini dapat melakukan transfer ke:</p>
<p>Bank  Mandiri Cabang Jakarta Kyai Tapa | a/n. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia  | nomor rekening 11700 2464 274 6 (11700 AIMI ASI 6)</p>
<p>atau</p>
<p>BCA KCP Mal Pondok Indah | a/n Ratna Armiyani | nomor rekening 7310042018</p>
<p>Mohon konfirmasi keikutsertaan dengan mengirimkan bukti transfer melalui melalui email ke <a href="mailto:miranda@aimi-asi.org" target="_blank">miranda@aimi-asi.org</a> atau fax ke <a href="%28021%29%207279%200166" target="_blank">(021) 7279 0166</a>. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai sponsorship WUU3 dapat menghubungi nomor <a href="08128161212" target="_blank">08128161212</a> atau <a href="0811836336" target="_blank">0811836336</a> pada jam kerja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/01/workshop-ustadz-dan-ustadzah-ke-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kilas Balik Kinerja AIMI Di Tahun 2011</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/01/kilas-balik-kinerja-aimi-di-tahun-2011/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/01/kilas-balik-kinerja-aimi-di-tahun-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 00:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sari Intan Kailaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1689</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2011 telah berakhir. AIMI sebagai organisasi nirlaba yang dibentuk, dijalankan, didanai dan didukung masyarakat merasa perlu meninjau kembali kegiatan dan capaian-capaian pada 2011 untuk menyusun target dan rencana pada 2012. Sebagai salah satu wujud tanggung jawab kepada para anggota, donator, sponsor, rekanan dan seluruh masyarakat, berikut ini secara ringkas rangkuman kegiatan AIMI sepanjang 2011. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2011 telah berakhir. AIMI sebagai organisasi nirlaba yang dibentuk, dijalankan, didanai dan didukung masyarakat merasa perlu meninjau kembali kegiatan dan capaian-capaian pada 2011 untuk menyusun target dan rencana pada 2012. Sebagai salah satu wujud tanggung jawab kepada para anggota, donator, sponsor, rekanan dan seluruh masyarakat, berikut ini secara ringkas rangkuman kegiatan AIMI sepanjang 2011.</p>
<ol>
<li><strong>Penyebaran InformASI</strong></li>
<ol>
<li>Menjaring anggota, jumlah anggota mencapai 1443 orang pada akhir Desember 2011.</li>
<li>Mengadakan workshop, seminar dan penyuluhan gratis dengan sasaran <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/03/workshop-ustadz-ustadzah-2/">Ustadz/ah</a>, bidan, Puskesmas dan masyarakat umum di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Purwokerto, Jogjakarta, Grobogan dan Surabaya.</li>
<li>Mengadakan Kelas EdukASI untuk masyarakat umum di Jakarta, Bandung, Bogor, Bekasi, Cirebon, Semarang, Purwokerto, Jogjakarta, Solo, Tegal, Cilacap, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Lumajang, Jember, Medan, Makassar, Denpasar dan Pekanbaru.</li>
<li>Mengadakan AIMI Goes to Office dan AIMI Goes to Community di Jakarta, Serang, Bogor, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Pati.</li>
<li>Menjadi narasumber pada <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/11/seminar-asi-di-kab-empat-lawang/">sosialisASI di Kab. Empat Lawang, Sumatera Selatan</a> atas undangan Bapak/Ibu Bupati.</li>
<li>Menjadi narasumber pada pembekalan bidan di Malang, Jawa Timur.</li>
<li>Mengadakan <em>Breastfeeding Fair</em> dengan rangkaian talkshow gratis dan diikuti dengan berbagai kampanye ASI di media cetak dan radio.</li>
<li>Bekerjasama dengan situs mommiesdaily.com mempublikasikan 7 artikel mengenai ASI dan menyusui selama Pekan ASI Sedunia.</li>
<li>Meluncurkan buku cerita anak-anak bergambar untuk edukASI dini berjudul &#8220;<em>Mama, Adik Bayi Makan Apa Sih?</em>&#8220;</li>
<li>Memproduksi, meluncurkan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=n7qrtVoB3ds">Iklan Layanan Masyarakat</a> dengan tema Ayah ASI serta menayangkan di media televisi (Metro TV).</li>
</ol>
<li><strong>Peningkatan Kualitas InformASI</strong></li>
<ol>
<li>Merevisi materi dan format Kelas EdukASI.</li>
<li>Merampungkan materi AGtO khusus buruh/pabrik.</li>
<li>Menyusun materi Kelas MPASI.</li>
<li>Menyediakan layanan pijat laktasi untuk kasus khusus dalam konseling (terbatas di Jakarta).</li>
</ol>
<li><strong>Perluasan Layanan dan Dukungan</strong></li>
<ol>
<li><div class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><img alt="" src="http://kultwit.aimi-asi.org/wp-content/uploads/2011/12/pelantikan-pengurus-sulsel.jpg" width="200" height="150" /><p class="wp-caption-text">Peresmian AIMI cabang Sulawesi Selatan</p></div>Menambah lokasi penyelenggaraan Kelas EdukASI, dari 4 provinsi menjadi 8 provinsi.</li>
<li>Meresmikan 2 Cabang di luar Jawa: <a href="http://sumut.aimi-asi.org/">Sumatera Utara</a> dan Sulawesi Selatan.</li>
</ol>
<li><strong>Dukungan terhadap Perumusan Kebijakan dan Regulasi</strong></li>
<ol>
<li>Mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi IX DPR RI, mengusulkan dan membahas masalah Rancangan Peraturan Pemerintah tentang ASI Eksklusif, promosi dan pemasaran produk pengganti ASI serta kesempatan cuti melahirkan bagi ibu bekerja.</li>
<li>Berpartisipasi dalam rapat-rapat finalisasi penyusunan Juknis Peningkatan Pemberian ASI di Tempat Kerja yang diselenggarakan oleh Kemenkes, KemenegPP dan Kemenakertrans.</li>
<li>Menjadi narasumber dalam SosialisASI Pemberian ASI di Tempat Kerja di Blitar.</li>
<li>Menjadi anggota Tim Pembina Peningkatan Pemberian ASI Jateng untuk memantau <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/12/sosialisasi-pergub-tentang-peningkatan-pemberian-asi/">pelaksanaan Pergub 56/2011 tentang ASI Eksklusif</a>.</li>
<li>Memberikan masukan untuk Rancangan Perda ASI untuk Gubernur Jawa Barat.</li>
</ol>
<li><strong>Peningkatan Kompetensi dan Keilmuan Pengurus dan Konselor Laktasi</strong></li>
<ol>
<li>Mengikuti seminar dan workshop Refreshment Modul Konseling Menyusui 40 Jam WHO/Unicef.</li>
<li>Mengikuti Training for Trainers Pemberian Makanan bagi Bayi dan Anak bersama Kemenkes dan Unicef.</li>
<li>Mengikuti pelatihan Lactation Massage di Filipina.</li>
<li>Mengadakan <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/09/tot-ke-aimi/">workshop Teknik Mengajar dan Pendalaman Materi Baru</a> bagi Konselor Laktasi pengajar Kelas EdukASI.</li>
<li>Memiliki 3 orang Konselor Laktasi dengan sertifikat IBCLC (International Board Certified Lactation Consultants).</li>
<li>Mengikuti pelatihan MoT IYCF Community Counselors bersama delegasi dari Bangladesh dan Timor Leste.</li>
</ol>
<li><strong>Kerjasama Dalam Negeri</strong></li>
<ol>
<li>Kerjasama dengan Kemang Medical Care Jakarta dalam penyelenggaraan program kelompok pendukung ibu menyusui ”kASIh Ibu”.</li>
<li>Kerjasama riset dengan Save The Children dalam pemantauan implementasi kebijakan menyusui di provinsi Aceh, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur.</li>
<li>Kerjasama riset dengan MercyCorps dalam pengembangan dan pemberdayaan klinik laktasi dan pusat pelatihan manajemen laktasi di RSUD Koja Jakarta Utara.</li>
<li>Dukungan riset bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia di dalam dan luar negeri dengan berbagai topik ASI, menyusui dan pemberian makan pada bayi dan anak.</li>
</ol>
<li><strong>Hubungan Luar Negeri</strong></li>
<ol>
<li>Menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/09/one-asia-breastfeeding-partners-forum/">One Asia Breastfeeding Partners Forum 8</a> di Ulan Bator, Mongolia.</li>
<li>Menghadiri Australian Breastfeeding Association (ABA) Conference di Sydney, Australia.</li>
<li>Menghadiri <a href="http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/">ABA International Conference di Canberra</a>, Australia.</li>
<li>Menghadiri <a href="http://kultwit.aimi-asi.org/2011/12/ibfan-complementary-feeding-policy-meeting/">Complementary Feeding Policy Meeting</a> yang diselenggarakan International Breastfeeding Action Network (IBFAN) di Chiang Mai, Thailand.</li>
</ol>
<li><strong>Peningkatan Jumlah Relawan Pengurus dan Konselor Laktasi</strong></li>
<ol>
<li>Menambah jumlah relawan pengurus dari + 90 orang menjadi + 150 orang.</li>
<li>Menambah jumlah Konselor Laktasi dari + 30 orang menjadi + 80 orang.</li>
</ol>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/01/kilas-balik-kinerja-aimi-di-tahun-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Australian Breastfeeding Association (ABA) International Conference</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 00:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tengku Arisma Mellina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ABA]]></category>
		<category><![CDATA[Australian Breastfeeding Association]]></category>
		<category><![CDATA[Conference]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1672</guid>
		<description><![CDATA[Syukur Alhamdulillah saya dapat mengikuti konferensi internasional yang di selenggarakan oleh Australian Breastfeeding Association (ABA) di Canberra tanggal 20 &#8211; 21 Oktober 2011 dengan tema “Step Up Reach Up: Developing an Inclusive Breastfeeding Society“. Peserta konferensi sebagian besar berasal dari Australia, baik para relawan ABA maupun tenaga medis. Perwakilan dari Indonesia antara lain dr. Asti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syukur Alhamdulillah saya dapat mengikuti konferensi internasional yang di selenggarakan oleh <em>Australian Breastfeeding Association (ABA)</em> di Canberra tanggal 20 &#8211; 21 Oktober 2011 dengan tema “<em>Step Up Reach Up: Developing an Inclusive Breastfeeding Society</em>“. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1674" />Peserta konferensi sebagian besar berasal dari Australia, baik para relawan ABA maupun tenaga medis. Perwakilan dari Indonesia antara lain dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC, dr. B. Wirastari, SpA, IBCLC dan saya sendiri sebagai perwakilan dari AIMI.</p>
<p>Senang sekali rasanya berkesempatan untuk bertatap muka langsung dengan beberapa “petinggi” di ABA untuk mengenalkan AIMI. Respon dari mereka sangat positif. AIMI mengingatkan mereka pada ABA pada tahun 1964, saat didirikan oleh beberapa orang saja dan saat ini sudah menjadi organisasi skala nasional yang besar. Mereka optimis AIMI akan menjadi sebesar ABA karena apa yang dilakukan AIMI adalah hal yang mulia dan didukung oleh orang banyak. Amiiin ☺</p>
<p>Sebelum konferensi dimulai pada tanggal 20 Oktober 2011, saya mengikuti workshop Pra-konferensi yang diselenggarakan pada tanggal 19 Oktober 2011 di National Gallery of Australia, Canberra. Dari ketiga pilihan workshop:</p>
<p>a.	Baby Friendly Initiatives<br />
b.	Communication Skills to Support Breastfeeding<br />
c.	Breastfeeding Essentials for Medical Practitioners</p>
<p>Saya memilih workshop yang kedua. Workshop “<em>Communication Skills to Support Breastfeeding</em>” dibawakan oleh Janet Sullivan (Cert IV Breastfeeding Education (counseling &#038; community), Cert IV Training &#038; Assessment, Diploma of Training &#038; Assessment) dan Janette Timmermans (IBCLC, Cert IV Breastfeeding Education, Facilitator Breastfeeding Drop-in Centre).</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-2-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference-2" width="300" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1676" />Workshop ini di selenggarakan dengan cara presentasi yang interaktif dengan role-play dan diskusi terbuka. Tujuan dari workshop ini pengkinian teknik konseling dan juga sharing pengalaman melakukan konseling antar sesama konselor menyusui. Ada beberapa hal yang menarik dari workshop ini. Misalnya, ternyata di Australia produk formula yang ada label paling tinggi tingkatannya “gold” sedangkan di Indonesia sudah “platinum”. Kalau dari artinya sih kelihatannya lebih bagus yang platinum ya. Tapi dalam hal ini hanyalah sebuah nama untuk kepentingan komersil saja, jadinya sedih deh ☹. Hal lain yang menarik yaitu, ternyata di Indonesia lebih bebas untuk dapat menyusui di tempat umum terlebih belakangan ini sudah semakin banyak fasilitas ruang menyusui di tempat-tempat umum. Sedangkan di Australia sendiri, masih susah untuk dapat menysui di tempat umum tanpa mendapat pandangan yang sinis atau tidak menyenangkan. Bahkan di tempat-tempat umum seperti restoran, ibu yang sedang menyusui akan di tegur oleh pelayan atau manager restoran dengan alasan bukan tempat yang tepat untuk menyusui. Untuk hal ini, saya sangat bersyukur Indonesia lebih baik.</p>
<p><strong>Konferensi</strong></p>
<p>Waah deg-degan banget  waktu datang ke National Convention Centre pada 20 Oktober 2011 jam 8:30 pagi. Tempatnya sangat besar dan pesertanya banyak banget. Untuk daftar ulang saja, dari abjad A sampai Z antrian panjang semua. Pemandangan yang menyenangkan terlihat dimana ada panitia yang melayani peserta konferensi dengan ramah sambil menggendong bayinya. Selain itu, pada saat Opening Plenary session, peserta berlomba mencari tenpat duduk di paling depan. Peserta yang membawa stroller mendapat kemudahan untuk dapat duduk di depan. Selama acara berlangsung pun sangat bebas bagi peserta untuk menyusui  dan duduk di bawah bersama anaknya (ada juga yang selonjoran di dekat pintu keluar). Hal-hal ini tidak mengurangi konsentrasi peserta lain untuk mendengarkan seluruh presentasi yang diberikan oleh narasumber.</p>
<p>Konferensi dibuka oleh Mrs. Jannette Philips dengan pidato “<em>Welcome to Country</em>”. Kemudian opening speech dibawakan oleh Tara Moss, mantan model Australia, penulis novel kriminal dan UNICEF Patron for Breastfeeding. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-tara-moss-300x225.jpg" alt="" title="12-tara-moss" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1679" />Opening speech Tara Moss “<em>A new Role and an old debate</em>” sangat inspiratif terutama bagi ibu baru. Tara menceritakan bagaimana dia mulai peduli tentang menyusui pada saat ia melahirkan putri pertamanya. Pada masa kehamilan, ia cemas karena akan merasa malu jika menyusui di tempat umum. Ia pun dihantui cerita-cerita “horror” mengenai menyusui. Setelah mengetahui lebih dalam tentang menyusui, ia sangat terkesima dengan kenyataan bahwa ASI bukan hanya sebagai sumber nutrisi bagi bayinya tapi juga mengandung stem cells and antibodi. Tara juga takjub bahwa menyusui adalah kegiatan yang sangat natural dan menyenangkan bagi ibu dan bayi. </p>
<p>Dalam pidatonya, Tara mengutip kalimat dari Helena Bonham Carter (aktris pemeran Belatrix di film Harry Potter): </p>
<blockquote><p>“People say, ‘you’re still breastfeeding, that’s so generous. Generous, No! It gives me boobs and it takes my thighs away! It’s sort of like natural liposuction. I’d carry on breastfeeding for the rest of my life if I could”.</p></blockquote>
<p>Peserta bertepuk tangan setelah Tara mengucapkan kalimat tersebut. Suatu kalimat yang “dibenarkan” oleh  banyak ibu-ibu yang berhasil menyusui. Pidato Tara Moss dapat dibaca di blog pribadinya <a href="http://blog.taramoss.com/">http://blog.taramoss.com</a> (<a href="http://blog.taramoss.com/index.php?itemid=679">23/10: A new role and and old debate</a>).</p>
<p>Selanjutnya presentasi dari Prof. Peter Hartmann dari Human Lactation Research Group dengan tema “<em>Developing an inclusive breastfeeding society in Australia</em>”.  Prof. Hartmann menyinggung mengenai &#8220;<em>why breast beats formula</em>&#8221; atau mengapa menyusui mengalahkan formula. Salah satu diantaranya adalah menyusui dapat meningkatkan IQ ibu. Prof. Hartmann menyebutkan hasil riset Kingsley CH and Lambert KG (2006) yang dipublikasikan dalam Journal of Scientific American 294:58-65 (the maternal brain): </p>
<blockquote><p>“Perubahan pada otak wanita yang disebabkan hormon di masa kehamilan, kelahiran dan menyusui membuat para ibu lebih berhati-hati dan penyayang. Selain itu, kemampuan belajar dan memori spasial menunjukkan peningkatan dalam jangka panjang&#8221;.</p></blockquote>
<p>Berikutnya Randa Saadeh dari WHO memberikan presentasi berjudul “<em>Breastfeeding and Child Survival: Translating Policies into Action</em>” yang dilanjutkan dengan morning tea.</p>
<p>Pada hari kedua, plenary session diisi dengan presentasi dari Dr. Suzanne Colson dari Church University, England mengenai “<em>Biological Nurturing and The Laid-Back Breastfeeding Revolution: The Research Evidence</em>”. Dr. Colson memperkenalkan sebuah revolusi terbaru dalam menyusui, yaitu posisi menyusui “<em>laid back</em>” atau bersandar yang membuat ibu lebih rileks, bayi dapat menyusu/melekat sendiri, ruang untuk bayi menyusui juga lebih luas karena perut ibu menjadi lebih panjang. Berbagai informasi mengenai <em>Biological Nurturing</em> dan <em>Laid-Back Position</em> dapat dilihat di <a href="http://www.biologicalnurturing.com/">www.biologicalnurturing.com</a>.</p>
<p>Dalam konferensi dua hari ini terdapat 24 sesi yang dapat dipilih oleh peserta. Sayangnya, peserta hanya bisa memilih 2 sesi per hari, padahal semua tema sangat menarik. Dengan penuh kebingungan mau memilih yang mana akhirnya saya memilih:</p>
<ol>
<li><strong>Breastfeeding Support in Challenging Circumstances</strong>. Dibawakan oleh 3 narasumber. Gwen Moody dari Westmead Hospital, NSW, berbicara mengenai penanganan ibu yang sakit tetapi tetap menyusui. Judy Russel dan Ms. Anita Moorhead dari Royal Women’s Hospital Melbourne, Victoria, berbicara mengenai rumah sakit yang mendukung dan yang tidak mendukung menyusui. Dan yang terakhir – dan menurut saya paling menarik &#8211; yaitu presentasi dari Dr. Lenore Goldfarb dari Goldfarb Breastfeeding Clinic, Montreal, Quebec, Kanada mengenai “Induced Lactation”, seorang ibu yang mengadopsi anak pun bisa menyusui bayinya. Pada saat sesi tanya jawab, Dr. Goldfarb menegaskan bahwa tidak ada yang bisa menentukan berasa lama fase kolostrum menjadi asi matang, karena setiap ibu berbeda dan yang tahu hanya bayinya.  Jadi, proses menyusui harus dilakukan dari awal dan tidak berhenti.</li>
<li><strong>Breastfeeding Support, what mothers want and what works</strong>. Dengan 3 narasumber dari ABA breastfeeding help-line yaitu Ruth Berkowitz, Debbie Yates dan Nerida May, sebagai Managers ABA Breastfeeding Help-line. Ruth Berkowitz menerangkan bagaimana tipe-tipe penelepon selama 20 tahun dan bagaimana konselor menyusui menanganinya. Debbie Yates dan Nerida May menjelaskan mengenai hotline menyusui 24 jam dengan nomor telepon 1800-mum-2-mum. Hotline ini sebagian disponsori oleh pemerintah dan perusahaan telekomunikasi sehingga dapat berkembang hingga jangkauan nasional dan sistematis. Profil penelepon terbanyak yaitu ibu (98%), dengan 1 anak (69%), berumur 34-42 tahun (42%) dan tinggal di kota (76%). Pertanyaan–pertanyaan yang sering ditanyakan antara lain permasalahan puting dan payudara (24,4%), meyakinkan ibu (18,7%), posisi dan pelekatan (10%), khawatir ASI sedikit (19,4%), memerah dan menyimpan asi (15%) dan lamanya menyusui (11%). Yang menarik, pertanyaan-pertanyaan tersebut juga merupakan pertanyaan yang umum ditanyakan dalam konseling melalui telepon ke AIMI. Jadi setidaknya di dua negara (Indonesia dan Australia) permasalahan ibu menyusui sama dan solusi yang ditawarkan pun sama.</li>
<li><strong>Evidence Based Management of Three Breastfeeding Issues</strong>. Tiga masalah dalam menyusui yang dibahas disini salah satunya All Burns is not Thrush oleh Dr. Moira McCaul dari Adeleide Health Care. Catatan penting dari presentasi ini adalah perlunya pengamatan lebih jauh jika menemukan permasalahan dengan puting, akan tetapi umumnya disebabkan oleh pelekatan yang kurang tepat. Pelekatan yang kurang tepat bisa juga disebabkan bayi memiliki tongue tie. Presentasi kedua dibawakan oleh Lynette Slatter dari Royal Women’s Hospital, Melbourne mengenai Tongue Tie, Score Low-Score High, Way to Go? Topik yang paling menarik karena sedang menjadi perdebatan di kalangan medis juga umum, teruatama dalam hal menyikapi tongue tie/ankyloglossia atau tali lidah pendek. Dikutip dari buku “Tongue Tie and Breastfeeding: a review of the literature” (J. Edmunds, S. Miles and P. Fulbrook, 2001):</li>
<ul>
<li>Tongue tie secara negatif mempengaruhi proses menyusui, </li>
<li>Jika tidak ada pengaruh terhadap proses menyusui, maka tidak perlu dilakukan tindakan apapun, </li>
<li>Bukti menunjukkan bahwa jika tongue tie mempengaruhi proses menyusui, maka frenotomi dapat membantu dan merupakan prosedur yang sederhana, aman dan efektif,</li>
<li>Bukti kurangnya konsensus mengenai manajemen tongue tie dengan beberapa tenaga medis tidak mendukung intervensi bedah,</li>
<li>Adalah penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya keefektifan dan keamanan frenotomi </li>
</ul>
<p>Selanjutnya adalah presentasi dari Carole Dobrich dari Goldfarb Breastfeeding Clinic, Canada, mengenai <em>Breasfeeding Mothers and Open Nipple Wounds, Standard Care vs Novel Treatment</em>, yang lagi-lagi menyinggung mengenai salah satu penyebab utama dari puting luka adalah karena pelekatan yang kurang tepat.</p>
<li><strong>Removing Barriers to Breastfeeding</strong>. Diambil dari The Victorian Breastfeeding Project serta presentasi mengenai peranan ayah dalam mendukung menyusui di kebudayaan yang berbeda (Australia, Jepang, China, Vietnam, Malaysia dan kepulauan Maldives). Menurut penelitian, dukungan ayah terhadap proses menyusui masih sangat kurang terutama di kalangan muda. Padahal peranan ayah sangat penting dalam menentukan keberhasilan menyusui. Dukungan suami adalah dukungan yang paling besar dampaknya. Untuk itu, sangat diperlukan sosialisasi peranan penting seorang ayah mendukung istrinya menyusui.</li>
</ol>
<p>Konferensi ditutup dengan diskusi panel bersama seluruh narasumber, mengenai dukungan untuk ibu menyusui.</p>
<p>Diluar ruang konferensi, terdapat beberapa booth dari sponsor, ABA, Lactation Resource Centre, Mothers Direct, IBCLE (International Board of Lactation Consultant Examiners). Juga terdapat presentasi poster dari beberapa negara.</p>
<p><strong>Konselor Menyusui, Sahabat Ibu Menyusui</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-3-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference-3" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1677" />Pengalaman ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Kesempatan yang sangat jarang dimana saya dapat bertemu dan mendengar langsung berbagai informasi dari para pakar laktasi. </p>
<p>Belum lagi kesempatan bertukar cerita dan pengalaman dengan para konselor menyusui dan sukarelawan ABA.  AIMI yang umurnya belum sampai 5 tahun dapat belajar banyak dari pengalaman mereka yang sudah terjun langsung mendampingi dan mendukung ibu menyusui dengan <em>peer-to-peer support</em> selama hampir 50 tahun.</p>
<p>Dari semua teori dan hasil penelitian yang telah dipaparkan, yang terpenting bagi seorang konselor menyusui adalah menjadi sahabat bagi ibu menyusui, yang mendukung dan memberikan informasi yang relevan. Peranan peer-group, antara sesama ibu juga sangat dirasakan manfaatnya. Para ibu menyusui dalam kelompoknya dapat saling menguatkan dan mendukung karena berada pada satu level yang sama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASI: Cairan Ajaib Yang Selamatkan Bayiku</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 00:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Muzdalifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[bayi prematur]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kuning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1628</guid>
		<description><![CDATA[Bahagia rasanya saat mengetahui kehamilan pertama yang ternyata kembar identik. Tapi manusia boleh berencana, Tuhan tetaplah Maha Penentu. Salah satu bayi kembarnya meninggal di dalam kandungan dan harus dilahirkan. Kembarannya yang selamat, lahir prematur. Bagaimana perjuangan ibu Lia? Yuk kita simak penuturannya ke AIMI beberapa waktu lalu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika mengetahui bahwa aku hamil kembar identik (satu kantung kehamilan), rasanya aku bahagia sekali. Aku akan dikarunia dua bayi sekaligus! Setiap bulan aku rutin memeriksakan kandungan ke dokter, untuk memastikan kedua bayiku tumbuh sehat di dalam rahimku. Kedua bayi tampak sangat sehat menurut dokterku, hingga kontrol terakhir pada usia kandungan 6 bulan.</p>
<p><strong>Ternyata Tuhan berkehendak lain</strong></p>
<p>Pada usia kandungan sekitar 6,5 bulan, keluar cairan bening yang banyak sekali dari vagina. Aku hubungi dokter dan beliau bilang tidak apa-apa, kemungkinan hanya akibat peregangan. Namun aku kemudian merasa kesakitan dan ada flek berupa darah segar. Pada hari Senin, 28 Maret 2011, dari kantor, aku segera dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, sesuai arahan dokter kandungan.</p>
<p>Ternyata menurut hasil USG, salah satu bayiku sudah meninggal. Rasa sedih tak terkira kurasakan waktu itu.</p>
<p>Setelah berkonsultasi dengan dokter, kami sepakat untuk menahan kelahiran bayi yg selamat setidaknya hingga berat badannya cukup dan usia kandungan lewat 7 bulan. Tapi ternyata badanku sudah tidak sanggup menahan kontraksi-kontraksi yang terjadi. Ternyata sudah ada pembukaan 3 cm yang terhalang dengan semacam balon.</p>
<p>Pada hari ke-3 aku dipindahkan ke RS yang lebih besar karena aku semakin kesakitan, demam, kontraksi terus menerus, dan HB turun terus. Kondisiku semakin melemah ditambah lagi harus menahan semua obat-obatan yang <div id="attachment_1636" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1101-Alhamdulillah1-abel-300x225.jpg" alt="" title="1101-Alhamdulillah(1)-abel" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1636" /><p class="wp-caption-text">Annabelle sesaat setelah lahir</p></div>masuk (termasuk penahan kontraksi yang akhirnya membuat jantungku tidak kuat). Di RS ini aku bertahan hingga hampir 2 minggu. Namun kondisiku terus melemah sehingga keluarga memutuskan agar aku segera melahirkan bayiku.</p>
<p>Hari Jum&#8217;at, 8 April 2011 aku menjalani operasi caesar dan melahirkan bayi kembarku. Annabelle (Abelle) selamat dengan berat badan 934 gram. Sedangkan Isabelle meninggal dan dimakamkan esok harinya oleh suami dan ibuku serta keluarga besarku.</p>
<p><strong>ASI untuk hidup bayiku</strong></p>
<p>Saat dirawat pasca melahirkan, para perawat bertanya apakah ASI sudah keluar. Dalam suasana duka yang terasa berat, aku kebingungan. Perawat mencoba memencet dan memijat payudaraku, tidak ada ASI yang keluar hingga beberapa hari. Sempat terpikir untuk menghubungi AIMI untuk meminta bantuan, tapi waktu itu rasanya aku tidak punya tenaga untuk berpikir. Padahal aku baru saja menjadi anggota AIMI dan menerima paket member saat dirawat di RS.</p>
<p>Aku baru bisa menemui Abelle pada hari ke-3, di ruang NICU. Dia begitu mungil dan kelihatan tidak berdaya. Banyak yang dialami Abelle, mulai dari kuning, menjalani cuci darah, nyaris menjalani operasi penutupan saluran jantung dan lain-lain. Syukurlah beberapa teman kantorku bersedia menjadi donor darah buat Abelle. Sementara ASI ku <div id="attachment_1637" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah-300x225.jpg" alt="" title="1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1637" /><p class="wp-caption-text">Beberapa hari setelah lahir, seusai disinar. Lengan Abelle hanya sejari ayah.</p></div>belum keluar, Abelle diberikan cairan NaCl (kalau tidak salah) melalui tali pusarnya yang disambung dengan semacam selang kecil seolah-olah tali pusar masih tersambung dengan ibu.  </p>
<p>Aku berniat tidak membiarkan Abelle diberi formula. Aku bertekad bagaimanapun caranya, ASI ku harus keluar! Hanya ASI yang baik untuk perkembangan berat badan dan kesehatannya. Semua dokter dan perawat mengatakan bahwa ASI penting sekali untuk perkembangan bayi prematur.</p>
<p>Mendengar penjelasan dokter dan perawat, aku makin stress karena ASI masih belum keluar. Tapi aku terus berusaha. Memijat, mengompres terus aku lakukan walau belum kelihatan hasilnya. Semua teman dan keluarga selalu memberi dukungan, khususnya Mamaku dan suamiku.</p>
<p>Akhirnya suatu hari keluar sedikit cairan bening seperti susu.  Subhanallah. Aku meneteskan air mata saat itu. ASI hanya keluar setetes demi setetes, namun aku terus berusaha. Dalam waktu 2-3 jam aku berhasil mendapatkan 5-6 ml ASI. Walau sedikit, aku merasa sangat bahagia dan langsung aku antar untuk Abelle di ruang NICU.  Keesokan harinya aku pompa lagi dan dalam 2 jam dapat 10 ml. Aku makin semangat.</p>
<p>Hari demi hari aku jalani dengan niat dan semangat. ASI-ku harus ada untuk asupan bayiku yang sangat membutuhkannya. Alhamdulillah, hari demi hari ASI terus bertambah. Dari 2 jam 10 ml, menjadi 20 ml, 30ml. Dari 2 jam menjadi 1 jam. Sekarang aku bisa memompa 100-250 ml dalam 15 – 20 menit. Subhanallah. </p>
<p>Saat itulah aku percaya, jika kita terus berusaha, pasti akan berhasil, dalam keadaan apapun. Ternyata benar kata orang, setiap wanita pasti bisa menyusui, termasuk aku. Melahirkan bayi prematur, dalam keadaan sakit. Dengan semangat dan niat, akhirnya berhasil juga memproduksi ASI yang cukup. </p>
<p>Abelle akhirnya bisa pulang ke rumah pada 3 Juni 2011 di usia hampir 2 bulan dengan BB 1,770 kg.</p>
<p><strong>Menikmati perjuangan</strong></p>
<div id="attachment_1653" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-Juni-2011-1770kg-300x225.jpg" alt="" title="1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1653" /><p class="wp-caption-text">3 Juni 2011 - Persiapan pulang ke rumah (BB: 1770 gr)</p></div>Alhamdulillah hingga kini Abelle hanya minum ASI dari aku saja. Selama 3 hari pertama ia dipuasakan, dan hanya dengan cairan NaCl melalui tali pusar hingga aku dapat menyetor ASI kepada Abelle.</p>
<p>Sekarang Abelle sudah menginjak usia 7 bulan sejak usia kelahirannya dan masih full ASI. Berat badannya sudah lebih dari 5 kg! Abelle belum diberikan MPASI, karena dokter menyarankan untuk menunda MPASI dulu.</p>
<p>Aku sadar perjuanganku tidak berhenti sampai disini. Setelah cuti dari pekerjaan selama 6 bulan lamanya, aku kembali bekerja sebulan yang lalu. Rasa khawatir sempat menyerang, pikiran dipenuhi akan cukup atau tidak ASI-ku untuk Abelle serta bagaimana manajemen ASIP di hari-hari yang sangat sibuk.</p>
<p>Aku menyampaikan pada rekan kerja dan atasan bahwa pada jam kerja aku akan meminta izin untuk memompa ASI. Syukurlah mereka bisa mengerti. Sekarang tugasku adalah semangat dan rajin memompa!</p>
<p>Walau kadang-kadang jumlah ASIP yang diminum Abelle lebih banyak daripada yang aku perah, namun Alhamdulillah hingga hari ini ASIP untuk Abelle cukup dan ready stock hehehe. Namun, aku selalu susui Abelle langsung jika aku di rumah.  Sempat mesin pompa rusak, masya Allah paniknya setengah mati, karena sudah sangat cocok dengan produk tersebut. Akhirnya aku mulai belajar memerah dengan tangan, Subhanallah ternyata mudah!</p>
<p><strong>Menyusui itu berkah</strong></p>
<p><div id="attachment_1658" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1123-Annabelle-today-300x225.jpg" alt="" title="1123-Annabelle-today" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1658" /><p class="wp-caption-text">Annabelle sekarang</p></div>Untuk para ibu dan calon ibu, semangat terus yaaa. Never give up! Give the best for your baby(ies). Anak adalah berkah dan amanat dari Tuhan yang tak ternilai. ASI lah yang terbaik untuk anak kita.</p>
<p>Merasa sedih, ketakutan hingga menangis, berkali-kali aku alami tapi aku berusaha untuk kembali <em>positive thinking</em>. Suami terus mendukung dan menyemangatiku. Sekarang aku percaya bahwa setiap Ibu pasti bisa menyusui. </p>
<p>Mohon doa agar anakku Annabelle Maleeka Victoria Putransyah selalu disehatkan dan disempurnakan tumbuh kembangnya. Semoga aku bisa lanjuuuutt menyusuinya sampai semaksimal yang aku mampu. Aamiin.</p>
<p>PS. Terimakasih Ayah Alfa yang sudah sangat baik dan sangat supportive selama ini, Ibu tidak bisa lakukan ini semua tanpa dukungan Ayah&#8230; (hiks hiks terharu lagi)&#8230;</p>
<p><small>*) seperti diceritakan oleh Lia Muzdalifah kepada AIMI</small></p>
<p>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1101-alhamdulillah1-abel/' title='1101-Alhamdulillah(1)-abel'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1101-Alhamdulillah1-abel-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sesaat setelah lahir" title="1101-Alhamdulillah(1)-abel" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah/' title='1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Beberapa hari setelah lahir, seusai disinar. Lengan Abelle hanya sejari ayah." title="1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n/' title='1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n" title="1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n/' title='1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n" title="1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/attachment/1105/' title='1105'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1105-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1105" title="1105" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1106-abelborn1/' title='1106-abelborn1'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1106-abelborn1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1106-abelborn1" title="1106-abelborn1" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1107-cuci-darah-ke-2/' title='1107-Cuci-darah-ke-2'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1107-Cuci-darah-ke-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Cuci darah ke-2" title="1107-Cuci-darah-ke-2" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1108-img01764-20110425-1122/' title='1108-IMG01764-20110425-1122'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1108-IMG01764-20110425-1122-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1108-IMG01764-20110425-1122" title="1108-IMG01764-20110425-1122" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1109-img01864-20110426-1135/' title='1109-IMG01864-20110426-1135'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1109-IMG01864-20110426-1135-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1109-IMG01864-20110426-1135" title="1109-IMG01864-20110426-1135" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1110-img01898-20110427-1124/' title='1110-IMG01898-20110427-1124'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1110-IMG01898-20110427-1124-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1110-IMG01898-20110427-1124" title="1110-IMG01898-20110427-1124" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1111-img01916-20110427-1139/' title='1111-IMG01916-20110427-1139'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1111-IMG01916-20110427-1139-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1111-IMG01916-20110427-1139" title="1111-IMG01916-20110427-1139" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1112-img01999-20110428-1221/' title='1112-IMG01999-20110428-1221'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1112-IMG01999-20110428-1221-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1112-IMG01999-20110428-1221" title="1112-IMG01999-20110428-1221" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1113-alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas/' title='1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Alhamdulillah, alat bantu napas sudah bisa dilepas" title="1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1114-img02295-20110511-1744/' title='1114-IMG02295-20110511-1744'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1114-IMG02295-20110511-1744-150x150.png" class="attachment-thumbnail" alt="1114-IMG02295-20110511-1744" title="1114-IMG02295-20110511-1744" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan/' title='1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Belajar adaptasi suhu ruangan" title="1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1116-kangaroo-mother-care/' title='1116-kangaroo-mother-care'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1116-kangaroo-mother-care-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Kangoroo Mother Care (KMC)" title="1116-kangaroo-mother-care" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1117-proses-kangaroo-mother-care/' title='1117-proses-Kangaroo-mother-care'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1117-proses-Kangaroo-mother-care-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Proses KMC" title="1117-proses-Kangaroo-mother-care" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-juni-2011-1770kg/' title='1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-Juni-2011-1770kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="3 Juni 2011 - Persiapan pulang ke rumah (BB: 1770 gr)" title="1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1119-persiapan-pulang-ke-rumah-1770kg/' title='1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1,770kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1770kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Persiapan  pulang ke rumah" title="1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1,770kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1120-21kg/' title='1120-2,1kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1120-21kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="2,1 kg" title="1120-2,1kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1121-img_0404/' title='1121-IMG_0404'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1121-IMG_0404-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1121-IMG_0404" title="1121-IMG_0404" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1122-3kg/' title='1122-3kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1122-3kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="3 kg..!!!" title="1122-3kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1123-annabelle-today/' title='1123-Annabelle-today'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1123-Annabelle-today-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1123-Annabelle-today" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1124-annabelle-today-2/' title='1124-Annabelle-today-2'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1124-Annabelle-today-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1124-Annabelle-today-2" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1125-annabelle-today-3/' title='1125-Annabelle-today-3'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1125-Annabelle-today-3-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1125-Annabelle-today-3" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1126-annabelle-today-4/' title='1126-Annabelle-today-4'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1126-Annabelle-today-4-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1126-Annabelle-today-4" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1127-annabelle-today-5/' title='1127-Annabelle-today-5'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1127-Annabelle-today-5-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1127-Annabelle-today-5" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>115</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui; InvestASI untuk Masa Depan GenerASI &amp; Dunia yang Sehat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/09/menyusui-investasi-untuk-masa-depan-generasi-dunia-yang-sehat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/09/menyusui-investasi-untuk-masa-depan-generasi-dunia-yang-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 02:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[OABF8]]></category>
		<category><![CDATA[One Asia Breastfeeding Forum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1589</guid>
		<description><![CDATA[One Asia Breastfeeding Forum ke-8 telah berlangsung tgl. 14-16 September 2011 lalu. AIMI sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia turut menghadiri acara tahunan ini yang diwakili oleh wakil ketua umum, Nia Umar. Berikut oleh-oleh dari beliau tentang OABF8 yang diselenggarakan di Mongolia tersebut. Semoga bermanfaat bagi kita semua.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Antara Beijing menuju Jakarta, 20 September 2011.</em></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-OABF8-1-300x176.jpg" alt="" title="09-OABF8-1" width="300" height="176" class="alignleft size-medium wp-image-1592" />Buat saya, tidak ada yang lebih berat selain perasaan campur aduk antara hendak pergi ke suatu tempat yang benar-benar belum pernah dikunjungi sebelumnya tapi dibarengi juga perasaan sedih harus meninggalkan keluarga di Indonesia. Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan yang amat menarik (dan mudah-mudahan bermanfaat juga) untuk menghadiri &#8216;One Asia Breastfeeding Partners Forum 8&#8242; (OABPF8) yang diselenggarakan di Ulaan Baatar, Mongolia pada 14-16 September 2011 lalu. Kebetulan saya mewakili AIMI dan juga satu-satunya perwakilan Indonesia pada forum ini.</p>
<p>OABPF8 ini sudah setiap tahun diadakan di negara-negara Asia yang tahun lalu baru saja diadakan di Jakarta. Tema yang diangkat tahun ini adalah &#8220;<em><strong>Food Security &#038; Climate Change</strong></em>&#8220;. Ada pun negara-negara yang berpartisipasi tahun ini dibagi dalam 3 region; </p>
<ol>
<li>Asia Selatan yang terdiri dari: India, Srilanka, Bhutan, Nepal, Bangladesh dan Afghanistan. </li>
<li>Asia Timur yang terdiri dari: Mongolia, Republik Rakyat China, Korea Selatan, Taiwan dan Hong Kong.</li>
<li>Asia Tenggara yang terdiri dari: Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam dan Thailand.</li>
</ol>
<p>Tema kali ini bukan tanpa alasan diangkat pada OABPF8 kali ini. Sudah banyak penelitian dan riset yang menunjukkan resiko pemberian formula pada bayi, namun seringkali kita luput bahwa pemberian formula juga menghasilkan banyak sekali sampah dan limbah yang mempengaruhi lingkungan. Belum lagi ketersediaan pangan yang ikut terpengaruh dengan kondisi pemanasan global yang merupakan dampak langsung dari pencemaran yang manusia sendiri lakukan di dunia ini.</p>
<p><strong>Hari Pertama: Kaitan Menyusui dengan Ketersediaan Pangan &#038; Perubahan Iklim</strong> </p>
<p>Hari Rabu 14 September 2011 acara OABPF8 resmi dibuka oleh Menteri Kesehatan Mongolia yang secara langsung memberikan sambutan dengan memaparkan kondisi menyusui dan status pemberian makan pada anak di Mongolia. Banyak hal menarik yang beliau sampaikan dalam sambutannya diantaranya bagaimana menyusui merupakan kebiasaan yang alamiah dan dilakukan banyak sekali ibu di Mongolia. Keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen pemerintah Mongolia mejalankan program Rumah Sakit Sayang Bayi di semua RS di Mongolia.</p>
<p>Tingginya angka ibu yang menyusui juga diikuti dengan rendahnya angka kematian ibu dan bayi di Mongolia. Hal ini sangat menarik untuk menjadi catatan bagi kita, karena sampai saat ini program RS Sayang Bayi belum (kembali) menjadi program pemerintah yang wajib dijalankan di setiap fasilitas kesehatan.</p>
<p>Acara lalu dilanjutkan dengan sambutan dari beberapa pihak seperti dr. Arun Gupta yang merupakan Ketua IBFAN Asia yang menjadi penyelenggara dari OABPF8 bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan Mongolia dan didukung penuh juga oleh <em>Mongolian Pediatric Society</em> dan <em>Mongolian Maternal &#038; Child Health Center</em>.</p>
<p>Setelah itu acara dilanjutkan dengan presentasi mengenai emisi gas buang yang dihasilkan dalam rantai produksi pembuatan formula. Presentasi ini sangat mencerahkan buat saya karena banyak sekali informasi yang menunjukkan bahwa rantai produksi formula yang begitu panjang mulai dari peternakan sapi yang menghasilkan banyak sekali limbah yang mengotori lahan dan air. Belum lagi emisi gas buang yang dihasilkan sapi yang punya peran besar juga dalam pemanasan global. Rantai produksi ini masih terus berjalan yang diteruskan dengan dibawanya susu sapi ke pabrik dengan truk yang membutuhkan bahan bakar, lalu susu masuk pabrik yang membutuhkan banyak sekali tenaga listrik dan juga menghasilkan limbah yang juga besar. Lalu formula dimasukkan ke dalam kemasan (kemasan ini biasanya datang dari pabrik lain yang menggunakan transportasi dan rantai produksi yang juga tidak kalah rumitnya) dan lalu kembali masuk ke kendaraan pengangkut untuk didistribusikan. Ini menambah lagi emisi gas buang dari truk. </p>
<p>Singkatnya, formula sampai di toko dan ingat, produk ini belum sampai ke tangan pembeli loh! Para konsumen musti harus mengeluarkan biaya dan energi untuk mendapatkan formula ini yang lagi-lagi menghasilkan emisi gas buang seperti asap dari kendaraan yang dipakai, gas yang dipakai untuk memasak air, air bersih yang dipakai untuk menyeduh formula dan seterusnya. Bandingkan dengan menyusui yang mungkin satu-satunya energi yang dikeluarkan adalah pembakaran energi pada tubuh ibu (yang buat banyak ibu ini menyenangkan karena sekalian membakar lemak dalam tubuh hehehe). Presentasi ini dibawakan dengan baik oleh seorang mahasiswi dari <em>South Carolina University</em>, Amerika Serikat, Melisa Tinling.</p>
<p>PresentASI berikutnya disampaikan oleh Velvet Escario-Roxas, delegASI dari Filipina yang juga ibu menyusui dua putri yang menyampaikan sisa karbon yang tersisa pada rantai produksi formula yang mungkin sering luput dari pengamatan kita dan meninggalkan bekas pada tanah, air dan udara yang kita tinggali.</p>
<p>Velvet juga menyampaikan bahwa limbah yang dihasilkan formula punya banyak sekali peran dalam kondisi perubahan iklim di dunia saat ini. Beberapa riset dipaparkan pada presentasinya yang menyoroti betapa menyusui merupakan kegiatan alamiah yang tidak menghasilkan sampah sama sekali. Sedangkan formula sebaliknya sangat tidak ramah lingkungan. Penuturan yang disampaikan bisa akan lebih panjang lagi jika kita akan membahas penggunaan botol, dot, empeng dan alat-alat lainnya yang biasanya dipakai dalam pemberian formula.</p>
<p>Kedua presentASI diatas menunjukkan bahwa menyusui adalah investASI yang tidak hanya untuk kesehatan anak-anak kita namun untuk dunia yang akan mereka tinggali kelak. Menyusui tidak hanya dilihat dari aspek kesehatan, banyak sekali aspek lain yang terlibat dan membutuhkan banyak sekali pihak yang harus turut mendukung keberhasilan seorang ibu menyusui.</p>
<p>Setelah makan siang, acara OABPF8 dilanjutkan dengan presentASI dari masing-masing negara tentang status World Breastfeeding Trends initiatives (cek: <a href="http://www.worldbreastfeedingtrends.org">www.worldbreastfeedingtrends.org</a>).</p>
<p>Acara hari pertama ini diakhiri dengan presentASI dari dr. Soh delegASI Korea Selatan yang menuturkan bahwa kampanye untuk mencintai dan menjaga lingkungan sudah sering didengungkan pemerintah dan banyak lembaga. Hal ini sudah menjadi agenda dari banyak negara juga. Menyusui yang merupakan kegiatan yang tidak menghasilkan sampah (kecuali mungkin emisi gas buang si ibu dan bayi hehehe&#8230; :p). Beliau menunjukkan betapa menyusui seharusnya menjadi salah satu kegiatan utama dari kampanye lingkungan.</p>
<p><strong>Hari Kedua: Pemberian MP-ASI dalam Konteks Lokal</strong></p>
<p>Pada hari kedua ini pembahasan masuk ke <em>complementary feeding</em> atau MP-ASI. Bagaimana pemberian MP-ASI yang berkualitas dan menggunakan bahan-bahan dalam konteks lokal menjadi prioritas tugas kita bersama dalam agenda kerja. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-nia-present-300x210.jpg" alt="" title="09-nia-present" width="300" height="210" class="alignleft size-medium wp-image-1593" />Semua delegASI mempresentasikan resep-resep lokal untuk anak usia 6-8 bulan, 8-10 bulan, 10-12 bulan dan resep MP-ASI untuk anak malnutrisi. Ini adalah contoh presentasi saya untuk resep dalam konteks lokal dengan menggunakan tempe yang merupakan salah satu bahan makanan yang mudah dan murah untuk Indonesia.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-mpasi-recipes-300x224.jpg" alt="" title="09-mpasi-recipes" width="300" height="224" class="alignright size-medium wp-image-1594" />Semua peserta memberikan resep-resep yang menarik dan rencananya IBFAN akan membuat kompilASI buku resep MP-ASI ini untuk bisa menjadi bahan acuan untuk kita semua. Khusus delegASI Mongolia, mereka dengan khusus mendatangkan semua resep yang ditampilkan dalam satu sesi sehingga kita semua bisa mencobanya.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-cultural-night-300x225.jpg" alt="" title="09-cultural-night" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1595" />Hari kedua ini ditutup dengan <em>cultural night</em>, semua peserta harus memberikan hiburan dari negara asal. Kebetulan saya dan teman dari Malaysia sama-sama menyanyikan lagu melayu untuk mewakili kedua negara tetangga ini. Kami juga sempat disuguhi pertunjukkan menarik dari Mongolia yakni <em>throat singing</em>, yakni nyanyian khas pria Mongolia yang mengeluarkan suara khas berdengung dari tenggorokannya. Selain itu ada tarian dan senam ritmik yang juga menjadi andalan di Mongolia.</p>
<p><strong>Hari Ketiga: Rencana Tindak Lanjut untuk Penilaian ‘World Breastfeeding Trends initiatives’</strong></p>
<p>Hari terakhir dari konferensi ini diadakan diskusi dan rencana tindak lanjut kelompok kerja IBFAN Asia dan Regional serta finalisasi “Deklarasi Ulaan Baatar” yang merupakan hasil akhir dari One Asia Forum 8 kali ini.</p>
<p>Program kerja pertama yang akan menjadi pekerjaan bersama adalah <em>update assesment</em> dari <em>World Breastfeeding Trends initiatives</em> yang terakhir sudah dikerjakan tiga tahun yang lalu. Selain itu, akan akan rencana kerja bersama antar regional negara-negara Asia Tenggara dalam kaitannya promosi dan advokASI. </p>
<p>Kami menyadari pekerjaan ini banyak dan tantangan ke depannya masih akan sangat besar. Namun melihat antusiasme para delegASI dan sikap positif dan ingin berbagi dari mereka, seakan-akan menyulut semangat kerja untuk terus berbagi. Mudah-mudahan langkah kecil ini bisa berbuah manis kelak, yakni menyusui menjadi hal yang alamiah untuk generASI masa depan dan investASI lingkungan yang lebih baik. Salam menyusui!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/09/menyusui-investasi-untuk-masa-depan-generasi-dunia-yang-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menabung ASI Antara Jeddah &#8211; Jakarta</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/menabung-asi-antara-jeddah-jakarta/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/menabung-asi-antara-jeddah-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 01:06:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI perah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1558</guid>
		<description><![CDATA[Perjuangan Ratih, ibunya El, Pramugari “Selamat Ulang Tahun El Nino Ahmad Hussain Nasution, semoga menjadi anak yang sholeh, berakhlak mulia, cerdas, sehat, pintar dan menjadi penyejuk hati papa dan ibu dan membawa kebahagiaan untuk orang banyak. You always me heart, Papa&#038;Ibu love u!” Hanya Allah yang Maha Tahu betapa bahagianya ibu di hari ini, 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Perjuangan Ratih, ibunya El, Pramugari</strong></p>
<blockquote><p>“Selamat Ulang Tahun El Nino Ahmad Hussain Nasution, semoga menjadi anak yang sholeh, berakhlak mulia, cerdas, sehat, pintar dan menjadi penyejuk hati papa dan ibu dan membawa kebahagiaan untuk orang banyak. You always me heart, Papa&#038;Ibu love u!”</p></blockquote>
<p>Hanya Allah yang Maha Tahu betapa bahagianya ibu di hari ini, 2 Juli 2011. Hari ini Alhamdullilah genap satu tahun  ibu berjuang memberikan full ASI untuk kamu. Awalnya ini hanya niat untuk bisa terus memberikan &#8216;cairan emas&#8217; , <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-ibu-el-300x225.jpg" alt="" title="08-ibu-el" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1560" />karena  ibu harus bekerja di tempat yang  jauh. Tentu sangatlah sulit untuk bisa  merealisasikannya. Sampai suatu hari, ibu membawamu ke dokter anak untuk imunisasi. Dokter itu yang kemudian meyakinkan dan mendukung ibu, tidak ada yang mustahil bagi ibu untuk terus bisa memberikan ASI, meski ibu dan kamu terpisah jarak yang sangat jauh. Sebagai pramugari, ibu sering meninggalkanmu untuk berkeliling dari negara satu ke negara lain. Saat ini kamu di Jakarta, sedangkan ibu di Jeddah.</p>
<p>Dukungan dari dokter itu membuat ibu bertekad kuat untuk memberikan ASI apapun yang terjadi. Setelah 27 hari bekerja, ibu baru kembali ke Jakarta hanya untuk waktu 9 hari dan saat itu kamu tidak mau menyusu langsung kepada ibu sampai 2 hari. Ibu sedih sekali karena penolakan itu. Tapi selama 2 hari itu ibu tetap memompa dan bahkan sudah berniat untuk bertemu konselor laktasi untuk mengatasi masalah ini. Alhamdulillah dalam 2 hari ternyata kamu sudah mau kembali menyusu dengan ibu.  Sejak itu meskipun lama ditinggal bekerja lagi, kamu tidak pernah menolak disusuin kalau ibu libur. Kamu makin besar makin pintar ya nak.</p>
<p><strong>Perjalanan Panjang ASI Perah</strong></p>
<p>ASI Perah untuk El awalnya hanya ibu sediakan untuk menambah stok di freezer. Namun selama bulan Maret, jadwal terbang ibu penuh untuk 15 hari dan itu tidak memungkinkan untuk menyimpan ASI di freezer karena ijin dari manager pantry belum ada. Selama itu pula akhirnya ibu tetap memompa ASI tapi membuangnya. Mulai dari situ, episode “kejar tayang”. Setiap ibu libur, kerjaan ibu hanya memompa ASI lagi dan lagi untuk mengejar ketinggalan selama 15 hari sebelumnya.</p>
<p>Sementara telpon dari rumah mengabarkan stok ASIP untuk El semakin sedikit. Meski ibu sempat lemes, panik dan stress membayangkan kamu tidak punya stok ASIP, namun ibu selalu bisa kembali meyakinkan diri.”<em>Ratih, you can do it!</em>” dan ibu selalu tetap berpikir positif.</p>
<p>Penerbangan Jeddah-Jakarta dibawah operasional Cengkareng base, dimana banyak senior yang tidak semua ibu kenal. Tapi entah mengapa, ibu selalu punya keberanian dan “bermuka tembok” untuk mencari crew yang beroperasi di hari itu. Kadang informasi ibu dapat dari teman-teman, broadcast BBM atau dari sistem jadwal. Biasanya atas nama ASI untukmu El, mereka bersedia menolong. Meski ada juga senior yang jutek ketika dimintai tolong karena mereka mengira ibu menitipkan nido (susu kaleng besar yang harganya lumayan murah). </p>
<p>Tetapi mereka biasanya selalu mau karena yang ibu titip adalah ASIP. Ibu mengingatkan mereka untuk meletakkan ASIP di cargo saja, jadi tidak memberatkan bawaan mereka di cabin. Ibu siapkan ASIP dengan packing yang bagus sehingga ASIP masih dalam kondisi beku sampai di Jakarta.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-el1-225x300.jpg" alt="" title="08-el" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1568" />Ada tantangan yang tak kalah seru, ketika stok ASIP di rumah menipis, sementara hanya ada penerbangan dari Riyadh ke Jakarta. Artinya, ibu butuh perjuangan untuk mencari bantuan dari crew yang terbang hanya dari Jeddah ke Riyadh. Ibu cek ke sistem penjadwalan dan syukurlah ada crew orang Indonesia yang bisa dititipin. Jadi crew itu membawa ASIP ke Riyadh dan dia hanya meletakkan di pojokan koper crew yang akan ke Jakarta. Ibu juga sudah janjian dengan crew yang terbang dari Riyadh ke Jakarta. Perjalanan ASIP untuk El lumayan panjang juga.</p>
<p>Ketika tidak ada orang Indonesia, ibu mencari orang Asia yang bisa dititipin ASIP. Kali ini ibu berhasil minta tolong crew dari Malaysia untuk membawakan 20 botol ASIP untukmu, El. Pokoknya target ibu hanya menyambung ASIP untuk El besok dan lusa saja. </p>
<p>Dua hari berturut-turut mengirim ASIP karena kejar tayang, membuat Papamu kaget karena setiap mengambil ASIP dari temen-temen ibu, ongkos kurir bisa 70 ribu sekali jalan. Tergantung lokasi penjemputan, kalau harus mengambil dari rumah teman ibu yang agak jauh dari Cinere, bisa 100-150 ribu juga ongkos kurirnya. Ibu selalu meyakinkan Papamu bahwa kita sudah berjanji untuk menjadi pejuang ASI buat El. “Ini salah satu risikonya. Sebentar lagi El setahun dan perjuangan akan sedikit berkurang.”</p>
<p>Ibu merasa beruntung kalau pas dapat penerbangan internasional. Hotelnya lebih fleksibel, jadi begitu sampai di hotel ibu biasanya langsng menghubungi pantry untuk menanyakan izin menyimpan ASIP di freezer mereka. Ada hotel yang menyediakan freezer kecil yang benar-benar bisa bikin beku, seperti di Johannesberg beberapa waktu lalu. Bikin ibu makin semangat nabung ASIP buat kamu, El.</p>
<p>Sekarang ibu sedikit bisa bernafas lega ya El. Ibu akan meneruskan pemberian ASI sampai kamu 2 tahun nanti, Insya Allah. Ibu tau perjalanan El masih panjang dan ASI bukanlah titik final dalam proses tumbuh kembangmu hingga nanti kamu menjadi menusia dewasa yang cerdas dan bersahaja.</p>
<p>Maafkan ibu ya nak, sering jauh dari kamu, sementara kamu masih membutuhkan dekapan ibu, kamu membutuhkan ibu untuk memperhatikan pertumbuhanmu dari hari ke hari. Apalagi kalau kamu sedang sakit, rasanya dunia ibu hancur..berasa gak butuh kerjaan, gak butuh uang, ibu hanya ingin dekat dengan El, mendekap dan menciummu, menyusuimu dan menatap matamu yang seperti magnet buat ibu. Mata yang bikin damai hati ibu.</p>
<p>Tetapi ini jalan yang ibu dan papa pilih, juga demi El yang kami sayangi. Sabar ya nak, maafkan ibu. Ibu akan segera kembali mendekapmu nak. Di ultahnya kemarin, El juga sudah terima gift dari markas sehat yaa, langsung dua deh! Varicella dan Hep A.</p>
<ul>
<img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-el-bday-300x225.jpg" alt="" title="08-el-bday" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1564" />
<li>Ucapan syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan keajaiban ditengah-tengah  hal yg kayaknya gak mungkin tapi selalu dengan mudah ibu jalani, Alhamdulillaahhhh.</li>
<li>Untuk suamiku tercinta yg slalu memberikan supportnya menjadi pejuang ASI  dan pejuang RUM utk EL (luv u pa)</li>
<li>Keluargaku (yangti, yangkung, nenek n&#8217; adek-adek yg selalu aku repotin untuk ambil ASIP di Mulia saat weekend or blanja lauk,sayur &#038; buah EL yg abis, hehehe luv u sis)</li>
<li>Seluruh CGK base &#038; JED base, tanpa perpanjangan tangan &#038; kebaikan hati kalian, EL ga akan sukses dapat full ASI til now (even one time, salah seorang temen ibu nyeletuk &#8216;ya oloooo ibu EL, ribet bnerrr sihhh ngerebus botol blablabla. Kalo gue sih mendingan ngeluarin uang 1,5jt/bln deh daripada harus repot dan pusing kayak loe.&#8217; Hmmm 2 anaknya memang tidak ASI, jadi ibu better silent than sakit ati dengernya)</li>
<li>Mas Pur &#8211; kurir ASIP EL, yang selalu setia jemput ASIP EL dimanapun (Allah bless u mas)</li>
<li>All smart parents di milis asiforbaby yang cerita-ceritanya selalu menginspirasi saya untuk tetap terus<br />
semangat berjuang demi ASI</li>
</ul>
<p>(Ratih &#8211; ibu EL 1y3d)<br />
*lagi menghadiri sumpah dokter adikku di balai sudirman, merinding denger isi sumpahnya. Berat bener pertanggung jawabannya di depan Tuhan &#038; masyarakat.</p>
<p>Ditulis ulang oleh AIMI atas ijin ibu El.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/menabung-asi-antara-jeddah-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>106</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sentuhan kASIh Berjuta Manfaat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 01:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irawati Budiningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kontak kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1530</guid>
		<description><![CDATA[Sepucuk surat datang mengabarkan bahwa Anda harus mengikuti perintah tugas: pindah ke daerah lain nun jauh dari tempat tinggal sekarang, tak ada kerabat ataupun sanak saudara yang dikenal. Karena beban kerja dan terbatasnya sarana pendidikan di daerah nanti, Anda dilarang membawa serta keluarga, tapi Anda tak perlu khawatir, segala fasilitas tersedia disana: internet untuk menghubungkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepucuk surat datang mengabarkan bahwa Anda harus mengikuti perintah tugas: pindah ke daerah lain nun jauh dari tempat tinggal sekarang, tak ada kerabat ataupun sanak saudara yang dikenal. Karena beban kerja dan terbatasnya sarana pendidikan di daerah nanti, Anda dilarang membawa serta keluarga, tapi Anda tak perlu khawatir, segala fasilitas tersedia disana: internet untuk menghubungkan kita dengan orang-orang tercinta, telepon bertarif murah dan bebas digunakan kapanpun, segala sarana komunikasi canggih mendukung! Hanya saja transportasi untuk kembali ke kampung halaman sangat terbatas, tetapi Anda masih mendapat jatah pulang ke kampung halaman 2x setahun tidak termasuk cuti hari raya.</p>
<p>Kenapa hati ini tetap sedih? Tetap merasa berat memutuskannya? Apa yang kurang disana?</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Bayangkan situasi tersebut dialami oleh bayi Anda. Dari keadaannya yang nyaman, tenteram, hangat, ‘terpeluk’ oleh rahim penyayang ibu, lalu dilahirkan dan menemui dunia yang hiruk pikuk ini. Sinar dan cahaya terang, gegap gempita riuh ramai suara, di’cengkeram’ tangan-tangan dokter &#038; suster. Inikah dunia itu? Siapa mereka semua? Asing sekali suaranya, sentuhannya, aromanya. Sangat tidak biasa bagi si bayi mungil ini. Tak heran ia begitu mudahnya menangis seperti orang stress. Ya, walaupun dia manusia baru, manusia kecil, dia tetaplah seorang manusia yang juga bisa stress.</p>
<p>Saat saya melahirkan anak pertama saya dulu, saya belum mengenal apa itu Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Seperti yang biasa saya tonton di film atau dengar cerita, begitu bayi lahir segera dilakukan pengecekan medis dan dibersihkan, lalu terbungkus rapi dalam bedongan &#038; topi bayi untuk diberi sekali kecupan oleh ibunya, lalu dibawa ke ruang bayi – tempatnya mondok di rumah sakit ini. Nanti saat kerabat datang, bisa melihat lewat jendela kaca besar ruang bayi dan ‘<em>baby show</em>’ pun bisa dinikmati pada jam-jam tertentu. Indah ya kelihatannya? </p>
<p>Tapi yang saya rasakan adalah, anak saya menangis tidak karuan sepanjang hari saat diantar ke ruangan saya untuk menyusu (ya, tidak perlu ditanya lagi, saat itu pun saya tidak tahu tentang rawat gabung). Kebalikannya, pada hari ke-3 saat ASI mulai tak terkontrol membasahi kimono, bayi saya malah tertidur sulit untuk dibangunkan menyusu. Mulutnya terkunci rapat &#038; kalaupun terbuka sedikit, tidak melekat pada payudara dengan sempurna yang mengakibatkan lecet di puting. Begitu horornya kah punya anak? Saya tidak bisa mengendalikan tangisan bayi saya, bahkan badan saya yang terus menerus kesakitan &#038; pegal-pegal.</p>
<p>Berbeda jauh dengan cerita saat melahirkan anak kedua, yang sudah lebih berbekal ilmu tentang melahirkan, IMD, menyusui &#038; apa saja yang mungkin dihadapi pada hari-hari pertama di RS. Anak kedua kami memilih jam 23.00 untuk menyapa dunia. Jadilah hanya saya &#038; suami tanpa kerabat lain menunggu di RS saat lahiran. Proses IMD berhasil kami jalani dengan tenang selama kurang lebih 2 jam. Pastinya ada rasa khawatir sedikit pada saat bayi kami menangis begitu kencang saat badannya dibersihkan sekedarnya (kami berdua de ja vu apakah psikisnya akan seperti si kakak yang mudah menangis dan stress). Tapi ajaibnya saat si bayi diletakkan di dada saya, tangisannya berhenti seketika! Selanjutnya adalah cerita indah tentang IMD yang terlalu panjang untuk dibahas disini.</p>
<p>Yang ingin saya garis bawahi mengenai cerita kelahiran anak pertama dan kedua saya adalah ‘ke-segera-an terjadinya kontak kulit’ antara ibu &#038; bayi. Kontak kulit begitu dominan dalam proses IMD. Sejak awal hingga akhir adalah mengenai kontak kulit. Dan tanpa sadar, tangan ibu pasti mengelus-elus bayi saat IMD. Yang artinya, ibu tanpa sadar melakukan gerakan pijatan pada bayi. Terkadang ini juga menjadikan <em>cues</em> (tanda) bahwa elusan tangan ibu adalah ajakan bayi untuk menyusu. Kedua bayi saya terlahir berbeda golongan darah dengan saya, yang berpengaruh pada resiko bilirubin tinggi, dimana bilirubin ini bisa diturunkan dengan pemberian ASI. Bayi berbilirubin tinggi cenderung mengantuk dan sulit sekali dibangunkan untuk menyusu (seperti yang terjadi pada anak pertama saya). Pada anak kedua, bila tiba waktunya menyusu (2 jam sekali) saya cukup mengelusnya sambil membisikkan ajakan untuk menyusu ke telinganya, lalu dia pun membuka mulutnya (walaupun terkadang matanya masih tetap tertidur). <em>Cues</em> hanya bisa dibangun dengan kebiasaan. Oleh karenanya manfaatkan kesempatan saat IMD untuk membangun kebiasaan baik tersebut.</p>
<p>Saya tidak akan membahas terlalu detail mengenai manfaat pijat bayi disini, karena saya yakin banyak sekali <em>literature</em> yang sudah mengupas tentang hal tersebut secara mendalam. Tapi yang ingin saya tekankan, pijat bayi bukanlah suatu keahlian khusus yang hanya bisa dilakukan oleh ‘orang pintar’ atau ‘dukun pijat’. </p>
<p><strong>Esensi dari pijat adalah skin to skin contact. </strong></p>
<p>Silahkan anda merasakan sendiri, mana lebih nyaman : pijat di kursi pijat elektronik atau dipijat langsung dengan tangan orang? </p>
<p>Saya yakin jawabannya pasti dipijat tangan orang <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, kita tingkatkan lagi tantangannya, mana yang lebih nyaman : dipijat oleh orang yang baru anda kenal tanpa anda tahu keahliannya atau dipijat oleh orang yang sudah pernah memijat anda dan pijatannya enak?</p>
<p>Saya 1000% yakin jawabannya lebih enak dipijat orang yang jago pijat. Betul?</p>
<p>Kembali ke bayi, mereka yang baru saja dilahirkan belum mengenal standard pijatan enak atau tidak. Tekanan keras <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-artikel-irawati-300x229.jpg" alt="" title="08-artikel-irawati" width="300" height="229" class="alignleft size-medium wp-image-1531" />atau terlalu keras. Tehnik pijatan tradisional atau Swedish massage. Yang mereka ketahui: aroma, suara &#038; degup jantung ibunya. Jadi pastinya pijatan yang paling nyaman untuk si bayi adalah bila yang memijat ibunya sendiri: tidak asing &#038; terasa aman melindunginya. Nah, persoalannya sekarang, banyak ibu yang tidak pede akan tehnik memijat &#038; tingkat tekanan pijatannya untuk badan kecil bayinya. Sehingga mereka lebih percaya ‘pemijat profesional’ yang memijat bayinya. Sebenarnya tidak menjadi masalah bila si bayi nyaman-nyaman saja (dalam artian tidak stress saat dipijat). Tapi akan menjadi bumerang apabila si bayi tidak nyaman. Percaya atau tidak, ini juga berpengaruh kepada ASI si ibu. Pada saat ibu melihat bayinya menangis (bahkan dipaksa diurut terlalu kencang) oleh ‘pemijat profesional’ tadi, oksitosin ibu malah menurun. Akibatnya distribusi ASI terganggu.</p>
<p>Kembali saya tekankan, kunci utama memijat bayi adalah: skin to skin contact. Jadi tidak bertekanan (hanya sekedar elusan) juga tidak masalah. Jadikan pijat bayi sebagai sarana berkomunikasi. Manfaat lainnya adalah bonus. Dengan berfikir seperti itu, akan lebih mudah bagi ibu untuk melakukan pijat bayi tanpa ada rasa takut atau terpaksa. </p>
<p>Jangan terperangkap ‘rutinitas pijat bayi’. Ada beberapa bayi yang tidak terbiasa dipijat secara rutin, tapi karena ibunya begitu bersemangat jadi memaksa bayi, sehingga bayi stress. Sesungguhnya yang seharusnya adalah manfaatkan pijat bayi sebagai alat komunikasi menciptakan <em>cues</em> (rutinitas). Contohnya adalah tadi seperti yang saya ceritakan : membangunkan bayi yang tidur untuk menyusu dengan mengelusnya. Bonus lain dari kegiatan ini adalah ‘menyalakan alarm’ LDR (let down reflects) pada si ibu setiap bayi mau menyusu. </p>
<p>Kembali ke pengalaman pribadi saya, saat kami sudah tidak ‘berkejar-kejaran’ dengan bilirubin yang menyusu menjadi rutinitas setiap 2 jam sekali, kini kehidupan kami sudah lebih nyaman dan terkendali. Bayi saya kadang tidak tentu jam menyusunya, saya sudah lebih mengikuti ‘demand’ nya saja kapan harus menyusui. Tapi hebatnya, setiap kali dia mau menyusu, LDR saya pun mengalir seperti memberi alarm, bahkan saat saya sedang pergi tidak bersama bayi saya. Biasanya saat itu saya akan telpon ke rumah untuk menanyakan apakah dia sedang minum ASI perah? Beberapa kesempatan begitu pas, saat LDR ya saat dia minta minum ASI perah. Dan ada beberapa keadaan dia masih tertidur atau bermain dan saya LDR, saat saya telpon beberapa waktu kemudian dia minta minum ASI perah. Ajaib? Saya rasa tidak, saya lebih percaya itu adalah ikatan yang sudah dibangun sejak kehamilan, dilanjutkan dengan rutinitas yang terbangun dari pijat ibu &#038; bayi <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;</p>
<p>Lalu saat akhirnya Anda memutuskan untuk tetap berangkat memenuhi panggilan tugas tersebut, kesempatan pulang ke kampung halaman begitu menyenangkan dan menghangatkan. Yang sangat menyamankan bukanlah komunikasi langsungnya, atau tatap muka langsungnya, sesuatu yang begitu priceless adalah kesempatan berjabat tangan, memeluk pasangan &#038; anak kita, mencium aroma kampung halaman. Ada berbagai hal yang tidak bisa tergantikan bukan? <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Suami Menjadi Ayah ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/agar-suami-menjadi-ayah-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/agar-suami-menjadi-ayah-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Aug 2011 01:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ernest Prakasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1518</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menjadi pemahaman umum, bahwa laki-laki dan perempuan punya tugas yang berbeda. Ayah kerja, cari uang. Ibu mengurus anak. Dan dikotomi job description inilah yang membuat laki-laki, pada saat menjelang dan baru saja memiliki bayi, tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli. Saya ulangi: laki-laki bukan tidak peduli, melainkan tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli. Bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah menjadi pemahaman umum, bahwa laki-laki dan perempuan punya tugas yang berbeda. Ayah kerja, cari uang. Ibu mengurus anak. Dan dikotomi <em>job description</em> inilah yang membuat laki-laki, pada saat menjelang dan baru saja memiliki bayi, tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli.</p>
<p><strong>Saya ulangi: laki-laki bukan tidak peduli, melainkan tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli.</strong> </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-ernest-300x300.jpg" alt="" title="08-ernest" width="300" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1519" />Bila kita menggunakan istilah &#8220;tidak peduli&#8221;, maka pengertiannya adalah mereka sudah mengetahui, tapi memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa. <em>That&#8217;s not the case</em>. Masalahnya adalah, sebagian besar bahkan tidak menyadari sama sekali &#8220;kenapa mereka harus melakukan sesuatu&#8221;. Apalagi hingga ke tahap &#8220;apa yang harus dilakukan&#8221;.</p>
<p>Menurut norma awam, mengurus bayi memang pada dasarnya adalah bukan domain utama ayah. Kalo mau dirunut, yang paling berwenang adalah: ibu si bayi; lalu dilanjutkan oleh ibu dari ibu si bayi. Dengan demikian, cukup bisa dimaklumi apabila banyak ayah yang &#8220;mundur&#8221; dan menurut saja. Ini bukan sebuah ketidakpedulian, melainkan lebih kepada &#8220;udahlah daripada malah nambah ribet&#8221;. Ingin yang praktis.</p>
<p>Tingkat keterlibatan yang casual inilah yang membuat laki-laki kehilangan rasa kritisnya. &#8220;Susu formula? Kayaknya semua orang juga ngasih, harusnya sih gapapa ya?&#8221;, begitu mungkin pemikiran mereka. Belum lagi bombardir iklan, terutama di televisi, yang menendang ASI dari posisi &#8220;<em>top of mind</em>&#8221; kala orang mengingat soal susu bayi.</p>
<p>Jadi, bila berbicara tentang keterlibatan ayah dalam pemberian ASI, langkah awal tetap harus dimulai dari ibu. Oleh karena itu, berikut beberapa alasan yang bisa dikemukakan oleh ibu untuk meyakinkan ayah agar mendukung pemberian ASI:</p>
<ul>
<li>ASI = cairan ajaib.</li>
<p>Ayah manapun pasti ingin yang terbaik bagi bayinya. Itulah yang harus dijadikan &#8220;<em>entry point</em>&#8221; bagi ibu untuk meyakinkan bahwa ayah harus memilih ASI. Apalagi, laki-laki biasanya akan lebih bisa menerima alasan yang logis ketimbang emosional. Paparkan bahwa ASI itu adalah ciptaan langsung dari Tuhan. Sudah pasti, kandungan gizinya ideal. Sementara susu formula? Bukan hanya berasal dari sapi, namun telah melewati pemrosesan yang begitu panjang (dan belum tentu steril), hingga bisa sampai ke tangan konsumen. Masa iya masih tidak memilih ASI?</p>
<li>ASI = hemat.</li>
<p>Berikan ilustrasi biaya yang bisa dihemat dalam sebulan apabila tidak perlu membeli susu formula. Tentu ini adalah hitungan yang sederhana namun faktual. Tanpa membeli susu formula, uang yang ada bisa digunakan untuk keperluan yang lain.</p>
<li>ASI = tidak repot.</li>
<p>Setelah seharian bekerja, ayah pasti akan letih apabila harus terbangun di tengah malam untuk membuatkan susu. Dengan ASI, ayah bisa istirahat dengan lebih tenang, karna sewaktu-waktu bayi terbangun, yang perlu dilakukan oleh ibu hanyalah langsung menyumpal mulut bayi dengan puting susunya. Praktis, bukan?
</ul>
<p>Tidak dapat dipungkiri, kesuksesan pemberian ASI lahir berkat kerjasama yang solid antara ibu dan ayah. Sayangnya, seperti pemaparan diatas, banyak ayah yg belum sadar ASI. Melalui tiga poin diatas, semoga ibu dapat membukakan pandangan ayah agar dapat menjadi partner ASI yang ideal. Goodluck!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/agar-suami-menjadi-ayah-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui: Menabung Untuk Masa Depan</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/menyusui-menabung-untuk-masa-depan/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/menyusui-menabung-untuk-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 01:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sari Intan Kailaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Harga Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1502</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, kita dibuat sedih oleh kisah seorang bayi bernama Zidan. Bayi (saat itu berusia 2 bulan) yang dirawat di klinik Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC), Ciputat, Tangerang ini menderita infeksi berat, nyaris pada sekujur tubuhnya dan berada dalam kondisi gizi buruk saat dibawa ke klinik tersebut. Konon, Zidan tidak mendapat ASI, karena ibunya mendapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_1524" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-zidan-ibu-300x198.jpg" alt="" title="08-zidan-ibu" width="300" height="198" class="size-medium wp-image-1524" /><p class="wp-caption-text">Zidan &#038; ibu Zukini saat mulai dirawat di LKC-DD (Sumber: www.lkc-dd.co.id)</p></div>Beberapa waktu lalu, kita dibuat sedih oleh kisah seorang bayi bernama Zidan. Bayi (saat itu berusia 2 bulan) yang dirawat di klinik Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC), Ciputat, Tangerang ini menderita infeksi berat, nyaris pada sekujur tubuhnya dan berada dalam kondisi gizi buruk saat dibawa ke klinik tersebut. Konon, Zidan tidak mendapat ASI, karena ibunya mendapat anjuran untuk memberi susu formula oleh RS sejak melahirkan. Keadaan ekonomi yang terbatas membuat orangtua Zidan kesulitan menyediakan susu formula yang cukup, ditambah lagi sulitnya menyajikan susu formula dengan higienis.</p>
<p>Syukurlah kisah Zidan berakhir dengan <em>happy ending</em>. Zidan mendapat bantuan donor ASI dan ibunya berhasil melakukan <a href="http://aimi-asi.org/2011/05/relaktasi-bagi-yang-ingin-beralih-dari-susu-formula-ke-asi/">relaktasi</a> dengan bimbingan dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC di LKC. Sekarang Zidan sudah berusia 9 bulan, full ASI dan kondisinya sangat sehat serta segar bugar. Bahkan, sang ibu berkenan hadir dan berbagi kisahnya di Seminar Nasional Zakat dan ASI “Tuntaskan balita gizi buruk di Indonesia” yang diadakan LKC dan Dompet Dhuafa 2 Juni 2011 lalu.</p>
<p>Pada kesempatan lain, seorang teman bercerita tentang petugas keamanan di kantornya yang bersemangat menabung, agar bisa memberikan susu formula termahal bagi bayinya yang akan lahir. Katanya, “supaya anak saya nanti cerdas, tidak seperti saya.”</p>
<p><div id="attachment_1525" class="wp-caption alignright" style="width: 236px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-zidan-ibu-2-226x300.jpg" alt="" title="08-zidan-ibu-2" width="226" height="300" class="size-medium wp-image-1525" /><p class="wp-caption-text">Zidan dalam keadaan sehat, bersama ibunya di Seminar Nasional Zakat dan ASI (2 Juni 2011)</p></div>Kisah Zidan bukan satu-satunya di Indonesia. Banyak yang sebenarnya mampu menyusui, justru memilih (atau dibuat memilih) untuk memberi susu formula kepada bayi mereka. Banyak juga, seperti petugas keamanan tadi, yang memaksakan diri memberikan susu formula, bahkan meniatkannya jauh sebelum bayi lahir. Minimnya informasi tentang manfaat ASI dan resiko susu formula menjadi pemicu utama dari keadaan di atas.</p>
<p>Harga susu formula yang terus naik ternyata tidak membuat angka penjualan susu formula mengalami penurunan. Pada tahun 2010 tercatat beberapa perusahaan produsen susu formula mengalami peningkatan angka penjualan sekitar 15,7%. Bahkan ada produk susu formula yang mengalami peningkatan angka penjualan hingga 85% dibandingkan 2009 (IMS, 2011).</p>
<p>Angka kelahiran di Indonesia yang mencapai 4,5 juta bayi per tahun merupakan pangsa pasar yang besar. Di samping itu, longgarnya pengawasan terhadap pemasaran produk pengganti ASI yang sesuai <a href="http://aimi-asi.org/2010/08/kode-who-%E2%80%93-penjamin-pemberian-asi-eksklusif/">Kode Etik WHO</a> (1981), membuat kita lengah akan resiko rendahnya angka menyusui di Indonesia.</p>
<p>Melihat kondisi di atas, pernahkah kita menyadari, berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah keluarga untuk memberikan susu formula? Berapa pula ‘harga’ yang harus dibayar sebuah negara jika masyarakatnya lebih memilih susu formula ketimbang ASI?</p>
<p>HARGA SUSU FORMULA – BAGI KELUARGA</p>
<p>Saat ini terdapat lebih dari 40 merk susu formula yang beredar di Indonesia dengan harga yang variatif. Berdasarkan hasil survey kami, harga susu formula (di hipermarket lokal, per Maret 2011) bervariasi antara Rp. 21.190,- hingga Rp. 103.490,- per kemasan 300 – 400 gram, atau berkisar antara Rp. 70,63 hingga Rp. 258,73 per gram. Kami memilih tiga merk susu formula yang bisa mewakili tiga kelompok harga, yaitu kelas harga menengah ke bawah, menengah dan menengah ke atas (Tabel 1).</p>
<p>Tabel 1. Kelompok harga susu formula di pasaran.</p>
<table>
<tr>
<td>KELAS HARGA</td>
<td>HARGA PER KEMASAN (Rp)</td>
<td>UKURAN KEMASAN (gr)</td>
<td>HARGA PER GRAM (Rp)</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Keatas</td>
<td>103.490,-</td>
<td>400</td>
<td>258,73</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah</td>
<td>51.990</td>
<td>400</td>
<td>129,98</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Kebawah</td>
<td>21.190</td>
<td>300</td>
<td>70,63</td>
</tr>
</table>
<p>Dengan mengikuti petunjuk pemakaian yang terdapat pada kemasan, kami mensimulasikan biaya konsumsi susu formula secara eksklusif hingga usia anak 2 tahun. Simulasi biaya tersebut disajikan pada Tabel 2.</p>
<p>Tabel 2. Simulasi biaya konsumsi susu formula berdasarkan kelompok harga.</p>
<table>
<tr>
<td rowspan="2">KELAS HARGA</td>
<td colspan="3">Biaya Konsumsi Susu Formula (Rp)</td>
<td rowspan="2">TOTAL (Rp)</td>
</tr>
<tr>
<td>0-6 bln</td>
<td>6-12 bln</td>
<td>1-2 thn</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Keatas</td>
<td>5.146.040</td>
<td>5.835.215</td>
<td>7.507.247</td>
<td>18.488.502</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah</td>
<td>2.779.385</td>
<td>2.541.652</td>
<td>5.689.998</td>
<td>11.011.035</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Kebawah</td>
<td>1.364.664</td>
<td>1.028.647</td>
<td>1.867.386</td>
<td>4.260.697</td>
</tr>
</table>
<p>Hasil simulasi cukup mencengangkan. Susu formula termurah saja membutuhkan biaya sebesar Rp. 1.364.664,- selama 6 bulan pertama, atau sekitar Rp. 227.444,- per bulan. Mengapa mencengangkan? Karena menurut BPS (2011), pendapatan per kapita masyarakat Indonesia pada 2010 hanya Rp. 27 juta per tahun atau Rp. 2.250.000,- per bulan. Artinya, sebagian orangtua harus menghabiskan lebih dari 10% penghasilannya untuk membeli susu formula (untuk satu anak)! </p>
<p>Bagaimana dengan masyarakat yang penghasilannya di bawah rata-rata? Bagaimana juga dengan keluarga-keluarga seperti keluarga Zidan yang mendapat ’rekomendasi’ susu formula dengan harga yang tidak terjangkau? Berapa banyak keluarga seperti keluarga petugas keamanan seperti cerita di atas, yang berusaha menjangkau kelas harga yang tinggi?</p>
<p>Simulasi kemudian diperlebar dengan melakukan sebuah survey kecil di milis asiforbaby@yahoogroups.com. Kami mempelajari pola konsumsi susu formula secara eksklusif. Dari survey diketahui, 90% ibu selalu membaca petunjuk pemakaian yang tercantum di kemasan susu formula yang dibelinya. 85% responden menganggap bahwa petunjuk pemakaian tersebut mudah dipahami dan wajar. Namun ternyata, hanya 15% saja yang mengaku memberikan susu formula sesuai petunjuk pemakaian. Hasil survey juga menunjukkan bahwa para ibu tersebut rata-rata memberikan susu formula 20-30% lebih banyak dari petujuk yang tertera pada kemasan.</p>
<p>Simulasi biaya yang disesuaikan dengan hasil survey pola konsumsi susu formula tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.</p>
<p>Tabel 3. Simulasi biaya konsumsi susu formula sesuai survey pola konsumsi (30% lebih banyak dari petunjuk pemakaian).</p>
<table>
<tr>
<td rowspan="2">KELAS HARGA</td>
<td colspan="3">Biaya Konsumsi Susu Formula (Rp)</td>
<td rowspan="2">TOTAL (Rp)</td>
</tr>
<tr>
<td>0-6 bln</td>
<td>6-12 bln</td>
<td>1-2 thn</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Keatas</td>
<td>6.689.852</td>
<td>7.585.780</td>
<td>11.260.871</td>
<td>25.536.871</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah</td>
<td>3.613.201</td>
<td>3.304.147</td>
<td>3.734.771</td>
<td>6.846.077</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Kebawah</td>
<td>1.364.664</td>
<td>1.028.647</td>
<td>1.867.386</td>
<td>4.260.697</td>
</tr>
</table>
<p>Tulisan ini tidak akan membahas konsumsi berlebih dari susu formula tersebut. Tapi lihat angka di kolom paling kanan. Jika saya memilih memberikan susu formula termahal pada bayi saya selama 2 tahun, saya harus siap merogoh kocek sampai lebih dari Rp. 25 juta! Angka yang (menurut saya) fantastis.</p>
<p>Sedikit iseng, saya hitung-hitung, kalau uang sejumlah itu dibelikan emas atau produk investasi lain, bisa jadi dua kali lipat pada 5 tahun mendatang, atau 6 kali lipat 10 tahun dari sekarang! Tidak perlu pusing mikirin dana pendidikan <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  </p>
<p>Simulasi biaya yang kami lakukan baru hanya menghitung pengeluaran belanja susu formula. Sesungguhnya, biaya konsumsi susu formula perlu memasukkan biaya-biaya lain yang ‘tersembunyi’ seperti biaya penyajian susu formula (memasak air hingga matang; membeli, mencuci, dan mensterilkan botol dan dot; dan biaya pengobatan).</p>
<p>Jika seorang ibu memutuskan untuk memperbaiki gizinya dan menyusui, ia hanya akan mengeluarkan biaya tidak lebih dari seperenam (kurang dari 17%) biaya memberikan susu formula selama 1 tahun (Bitoun, 1994). Kelly Bonyata, BS, IBCLC dalam situs <a href="http://www.kellymom.com/">www.kellymom.com</a> (2005) menghitung bahwa jika seorang ibu ingin menyusui dengan gaya, “peralatan perang” lengkap, plus berkonsultasi dengan ahli laktasi profesional, ia hanya akan menghabiskan tidak lebih dari seperlima (20%) biaya konsumsi susu formula selama 1 tahun.</p>
<p>Dampak ekonomi pemberian susu formula dapat dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Dampak secara langsung meliputi biaya pembelian susu formula dan biaya perawatan kesehatan. Sedangkan dampak tidak langsungnya adalah manfaat yang berhubungan dengan waktu dan penghasilan yang tidak didapat orangtua (khususnya ibu) akibat merawat bayi/anak yang sakit (Weimer, 2001). </p>
<p>Secara ideal, biaya, waktu dan penghasilan yang hilang karena orangtua merawat anak yang sakit harus dianggap sebagai salah satu kerugian dari tidak menyusui. Kenapa? Karena penyebab paling umum seorang wanita tidak masuk kerja adalah karena anaknya sakit (Weimer, 2001). Dan riset menunjukkan bahwa bayi yang diberi susu formula lebih rentan terhadap penyakit dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (WHO, 2010).</p>
<p><strong>HARGA SUSU FORMULA – BAGI NEGARA</strong></p>
<p>Apa hubungannya dengan negara?<br />
Banyak! </p>
<p>Manfaat pemberian ASI dari sisi ekonomi telah disadari di beberapa negara maju. Berdasarkan hasil penelitian epidemiologis oleh Department of Agriculture Amerika Serikat (USDA), estimasi biaya yang dihemat dengan menurunnya resiko berbagai penyakit pada bayi dan anak-anak karena pemberian ASI dapat mencapai USD 3,6 milyar atau lebih dari Rp. 30 triliun per tahun (Weimer, 2001).</p>
<p>Peningkatan pemberian ASI di Australia dapat menambah AUD 3,4 miliar (lebih dari Rp. 30 triliun) pada output makanan nasional, atau sama dengan tambahan 0,7% dari GNP Australia (Smith, 1997). Secara keseluruhan, Australia dapat menghemat AUD 115 miliar (lebih dari Rp. 1.000 triliun) per tahun dengan meningkatkan angka menyusui menjadi 80%. Angka ini didapat hanya dengan memperhitungkan pemberian ASI minimal selama 3 bulan dan penurunan resiko otitis media, diabetes melitus, penyakit gastrointestinal dan eczema (Drane, 1997).<br />
Di Inggris, National Health Service menghabiskan £ 35 juta setiap tahunnya (lebih dari Rp. 420 miliar) hanya untuk menangani gastroenteritis pada bayi susu formula. Untuk setiap 1% peningkatan angka menyusui selama 13 minggu, terjadi penghematan biaya sebesar £ 500.000 (sekitar Rp. 6 milyar) dalam perawatan gastroenteritis (Department of Health, UK, 1995). </p>
<p>Riset mengenai biaya dan penghematan dari promosi menyusui di El Salvador (Wong et. al., 1994) menemukan manfaat ekonomi sebesar USD 2.808.378 (hampir Rp. 24 milyar) dari aktivitas promosi ASI dan menyusui yang hanya mengeluarkan biaya USD 32.830 (sekitar Rp. 279 juta). Hal ini karena menurunnya angka kejadian diare, infeksi saluran pernafasan, jarak kelahiran dekat, dan biaya konsumsi susu formula.</p>
<p>Sebuah RS di Filipina (Gonzales, 1990) melakukan pengaturan ruang bayi dan menerapkan peningkatan pemberian ASI. Aktivitas ini menghemat anggaran RS sebanyak 8%. Penghematan ini berasal dari penurunan biaya listrik, air, sabun cuci, boks bayi, botol susu, dll. Anggaran yang berhasil dihemat ini sekarang dimanfaatkan untuk penyediaan obat-obatan yang lengkap sepanjang waktu, peningkatan kualitas pakaian, makanan dan gizi pasien, penyediaan darah sepanjang waktu, penambahan jumlah staf perawat dan pendamping di ruang ibu dan bayi baru lahir. </p>
<p>Ball and Wright (1999) mengkaji biaya perawatan kesehatan yang dikeluarkan selama tahun pertama kehidupan pada bayi yang mendapat susu formula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1000 bayi yang tidak pernah mendapat ASI, mengalami 60 kali lebih sering sakit saluran napas bawah, 580 kali lebih sering otitis media, dan 1053 kali lebih sering sakit saluran pencernaan. Total biaya langsung yang dibutuhkan oleh bayi yang tidak pernah mendapat ASI selama 12 bulan pertama kehidupannya akibat sakit saluran pernapasan bawah, otitis media, dan sakit saluran pencernaan adalah antara USD 331 hingga USD 475 per orang. </p>
<p>Bagaimana dengan di Indonesia?</p>
<p>Salah satu contoh yang menonjol saat ini adalah kasus gizi buruk atau malnutrisi pada batita di berbagai daerah. Untuk menangani ribuan kasus gizi buruk, pemerintah harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Pada tahun 2007 saja, Kemenkes harus mengeluarkan dana sebesar Rp. 600 milyar untuk menangani kasus gizi buruk. Padahal, ASI dapat memenuhi 100% kebutuhan nutrisi bayi usia 0-6 bulan, 70% pada usia 6-12 bulan dan 30% pada usia 1-2 tahun (WHO, 2010).</p>
<p>&#8211;</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-botol-uang-222x300.jpg" alt="" title="08-botol-uang" width="222" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-1516" /></p>
<p>Membaca fakta-fakta ’menarik’ di atas, perlu segera kita sadari bersama bahwa ASI, selain secara medis terbukti sebagai satu-satunya makanan terbaik untuk bayi, juga memberikan dampak yang luar biasa terhadap perekonomian keluarga, masyarakat dan negara. Sudah saatnya kita tingkatkan angka menyusui yang saat ini di Indonesia baru berada di angka 15,3 % saja. Salam ASI ! ☺</p>
<p><small><br />
Referensi:</p>
<ul>
<li>Ball TM, Wright AL. 1999. Health care cost of formula-feeding in the first year of life. Pediatrics 1999;103:870–6.</li>
<li>Bitoun. 1994. The Economic value of breastfeeding in France. Les Dossiers de l’Obstetrique, 1994, 216:10-13.</li>
<li>Bonyata, K. 2005. Financial costs of not breastfeeding. <a href="http://www.kellymom.com/">www.kellymom.com</a></li>
<li>Drane, D. 1997. Breastfeeding and formula feeding: a preliminary economic analysis. Breastfeed Rev 1997; 5:7-15.</li>
<li>Dept. of Health. Breastfeeding. 1995. Good practice guidance to the NHS.  London, United Kingdom of Great Britain.</li>
<li>Gonzales R. 1990. Cost analysis of maintaining a newborn nursery at Dr. Jose Fabella Memorial Hospital, Manila. (Transparencies presented in meeting in Manila, Philippines). </li>
<li>IMS. 2011. IMS data – Infant formula 2008 – Q1 2011.</li>
<li>Smith, J. 1997. The economics of breastfeeding. Australian Financial Review 24th July 1997.</li>
<li>Weimer J. 2001. The economic benefits of breastfeeding: A review and analysis. ERS Food Assistance and Nutrition Research Report No. 13. USDA Economic Research Service, Washington, D.C.</li>
<li>WHO. 2010. Fact sheet: Infant and young child feeding. <a href="http://www.who.int/">www.who.int</a> </li>
<li>Wong et al. An analysis of the economic value of breastfeeding in El Salvador: Policy &#038; technical monographs. Washington D.C., Wellstart Intl. and Nuture, 1994.</li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/menyusui-menabung-untuk-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

