<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; emergency response</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/emergency-response/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:50:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>One Asia Breastfeeding Partners Forum 6: Oleh-Oleh Dari Srilanka</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/04/one-asia-breastfeeding-partners-forum-6/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/04/one-asia-breastfeeding-partners-forum-6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 09:11:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[breastfeeding in emergency]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[infant feeding in emergencies]]></category>
		<category><![CDATA[one asia forum]]></category>
		<category><![CDATA[srilanka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[18-21 November 2009 menjadi suatu kenangan indah yang tak terlupakan. Mewakili AIMI yang diundang oleh IBFAN (International Baby Food Action Network) Asia sebagai delegasi dari Indonesia untuk menghadiri konferensi regional yaitu <strong>One Asia Breastfeeding Partners Forum 6</strong> di Colombo, Srilanka, dengan tema “<em>Breastfeeding in Emergencies: Challenges &#038; Solutions</em>”. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>18-21 November 2009 menjadi suatu kenangan indah yang tak terlupakan. Mewakili AIMI yang diundang oleh <a href="http://www.ibfanasia.org/">IBFAN</a> (International Baby Food Action Network) Asia sebagai delegasi dari Indonesia untuk menghadiri konferensi regional yaitu <strong>One Asia Breastfeeding Partners Forum 6</strong> di Colombo, Srilanka, dengan tema “<em>Breastfeeding in Emergencies: Challenges &#038; Solutions</em>”. </p>
<h3>Apa sih One Asia Breastfeeding Partners Forum?</h3>
<blockquote><p>“In the year 2003, the Breastfeeding Promotion Network of India (BPNI) and The International Baby Food Action Network (IBFAN) Asia, organized a landmark event, the Asia Pacific Conference on Breastfeeding’ to promote the implementation of the Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. As a follow up, the south Asia participants met and took a decision to mobilize groups, governments, UN and others to focus on related issues. It led to the organizing of the South Asia Breastfeeding Partners Forum each year in different countries. The major objective was to strengthen the breastfeeding movement and its linkages with the governments and the UN agencies. Enhancing interest and action on infant and young child feeding was the considered outcome.” </p></blockquote>
<p>Forum yang ke-6, adalah pertama kalinya konferensi ini melibatkan negara-negara dari Asia Selatan dan Asia Tenggara.</p>
<p>Yang menjadi pikiran pada saat menerima berita bahwa AIMI diundang untuk hadir di konferensi ini adalah; kalau saya jadi pergi, bagaimana dengan kebutuhan ASIP-nya Ascha yang pada saat itu berusia 18 bulan. Bagaimana pula dengan mekanisme penyimpanan dan pengangkutan ASIP selama perjalanan saya disana? Ternyata karena baru pada saat-saat terakhir memutuskan untuk pergi ke Colombo, persediaan ASIP saya tidak mencukupi kebutuhan Ascha selama ditinggal. Sepertinya saya juga tidak punya cukup waktu untuk mengejar ketertinggalan stock ASIP tersebut. Apa boleh buat, akhirnya saya memutuskan untuk minta donor ASI dari seorang sahabat untuk menutupi kekurangan. Kenapa tidak dikasih UHT saja? Toh usianya sudah 18 bulan. Memang sampai dengan saat itu (dan juga sekarang di usia 22 bulan), Ascha belum pernah sama sekali tersentuh oleh susu sapi. Saya pikir sayang juga, kalau bisa tetapi ASI – walaupun bukan ASI saya – kenapa tidak? Karena saya pernah berada dalam posisi yang mendonorkan ASI, saya juga tidak ada masalah kalau pada saat itu beralih posisi menjadi penerima donor. Itu semua saya jalankan karena tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa tidak ada susu lain yang bisa menggantikan ASI.</p>
<p>Oke, masalah persediaan ASIP sudah teratasi. Sekarang masalah penyimpanan dan pengangkutan ASIP saya hasil perahan selama di Colombo (dan tentu, di perjalanan). Untung salah satu pengurus AIMI sudah ada yang sangat berpengalaman mengenai hal ini. Selanjutnya saya banyak bertanya-tanya ke dia, banyak browsing juga, dan akhirnya saya jadi semakin mantap dan percaya diri untuk menjalankannya (oya, sharingnya pengurus AIMI ini bisa dibaca juga loh <a href="http://aimi-asi.org/2009/02/dinas-luar-negeri-tak-masalah/">disini</a>).</p>
<p>Tanpa saya sadari, hari H keberangkatan saya sudah tinggal esok hari. Sedih rasanya membayangkan akan meninggalkan anak-anak, tapi disisi lain, <em>I was very excited!</em>  </p>
<p><strong>Day 1: Selasa 17 November 2009</strong></p>
<p>Perjalanan ke bandara lumayan lancar, tidak ketinggalan tas laptop saya dan juga cooler bag ASIP berserta perlengkapannya yang saya masukkan ke dalam koper kecil untuk masuk di cabin. Berhubung tidak ada penerbangan langsung Jakarta – Colombo, maka saya harus ganti pesawat di Singapura. Pada saat melakukan <em>check-in</em> di Soekarno-Hatta antrian lumayan sepi, pada saat mau mengurus bebas fiskal&#8230; wah, ternyata kartu NPWP saya ketinggalan!! Untung saya mencatat nomor NPWP-nya, jadi tetap dapat stiker bebas fiskal tersebut (kalau tidak harus bayar 2,5juta loh). </p>
<p>Karena maskapai penerbangannya delay selama 1 jam, sampai di bandara Changi, Singapura semuanya serba terburu-buru. Untung bagasi sudah <em>check through</em> dari Jakarta, jadi saya masih sempat merah ASI. Dapat deh 1 kantong ASIP. Senangnya!</p>
<p>Perjalanan cukup melelahkan, karena 1 kali ganti pesawat dan 1 kali transit di Kuala Lumpur. Sampai di Colombo sudah malam. Perjalanan Bandaranaike International Airport ke hotel memakan waktu kurang lebih 1 jam 15 menit. Begitu sampai di hotel, saya hanya menyempatkan diri untuk makan malam dan memerah ASI sebelum tidur.</p>
<p><strong>Day 2: Rabu 18 November 2009</strong></p>
<p><em>First day of the conference!</em> Pertama-tama sebelum sarapan pagi tentu menyempatkan diri untuk memerah dulu. Setelah itu, naik kendaraan yang sudah disediakan panitia menuju ke lokasi konferensi (di hotel lain). Deg-degan dan bangga, karena ternyata saya satu-satunya delegasi perwakilan Indonesia di konferensi tersebut! Senang bertemu dengan sesama pejuang ASI dari negara-negara tetangga se-Asia. </p>
<p>Setelah <em>opening ceremony</em> oleh ketua IBFAN Asia, IBFAN Southeast Asia dan juga ketua panitia penyelenggara, ternyata untuk sesi pertama di hari itu adalah presentasi para delegasi dari negara-negara yang baru saja terkena bencana alam. Tentu termasuk Indonesia, karena saat itu baru saja mengalami bencana gempa di Tasikmalaya dan Sumatera Barat. Pada materi presentasi yang saya sampaikan, topik pembahasan adalah, bagaimana menangani para korban gempa yang terdiri dari kelompok para ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/201004-IFE-in-Sumbar-300x225.jpg" alt="" title="201004-IFE-in-Sumbar" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-608" /> Ternyata meskipun sudah ada peraturan nasional mengenai pembatasan pemberian bantuan berupa susu formula, tetap saja masih ditemui berbagai pelanggaran di lokasi bencana, baik oleh lembaga-lembaga nasional maupun internasional. <a class="downloadlink" href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=IFE+in+Sumbar%28web%29.pdf" title=" downloaded 52 times" >IFE in Sumbar (52)</a> </p>
<p>Selama konferensi berlangsung, tentu tidak boleh lupa untuk memerah ASI (yang kemudian saya simpan di kulkas kamar hotel), dan juga pada malam hari sebelum tidur.</p>
<p><strong>Day 3: Kamis, 19 November 2009</strong></p>
<p>Pagi hari dimulai dengan kegiatan rutin memerah ASI, kemudian bersiap-siap untuk sarapan dan langsung menuju ke ruang konferensi. Hari iitu saya juga mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk presentasi di hadapan para peserta delegasi. Kali ini topiknya adalah mengenai pelaksanaan pengumpulan data untuk <a href="http://www.worldbreastfeedingtrends.org/countrysubmit.php?country=Indonesia">WBTi</a> (World Breastfeeding Trends Initiative) di masing-masing negara. Apa saja kesukaran yang dihadapi dan bagaimana mengatasinya.</p>
<p>Ternyata sore harinya Menteri Kesehatan Srilanka melakukan pembukaan secara resmi konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 6, dan kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan malam secara resmi di kediaman Ibu Negara (yang dijaga dengan sangat ketat). <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/201004-dinner-banquet-300x197.jpg" alt="" title="201004-dinner-banquet" width="300" height="197" class="alignright size-medium wp-image-609" />Acara ini berlangsung sampai larut malam, dan ketika tiba kembali di hotel rasanya sudah ingin langsung merebahkan badan ke kasur, tapi tidak boleh lupa 1 sesi memerah ASI sebelum tidur.</p>
<p><strong>Day 4: Jumat, 20 November 2009</strong></p>
<p>Di hari ke-empat ini, kebetulan saya sudah tidak ada lagi kewajiban untuk presentasi, jadi lebih santai meskipun tetap serius menyimak materi-materi yang disampai selama sesi berlangsung. Di hari ini pula akhirnya pada peserta konferensi berkesempatan untuk sedikit melakukan shopping pada sore hari, meskipun belum secara maksimal!</p>
<p><strong>Day 5: Sabtu, 21 November 2009</strong></p>
<p>Hari terakhir dari konferensi. Seluruh negara peserta mempresentasikan <em>action plan</em> untuk tahun 2010, dan pada kesempatan ini juga ternyata Indonesia dipilih menjadi salah satu kandidat tuan rumah untuk penyelenggaraan konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 7 (yang ternyata memang pada akhirnya negara kita tercinta ini yang terpilih!). Tidak seperti pada hari-hari sebelumnya, kali ini konferensi ditutup setelah makan siang, sehingga para delegasi masih mempunyai kesempatan untuk melakukan tur setengah hari keliling kota Colombo. Tentu tidak ketinggalan untuk belanja teh ceylon yang terkenal itu&#8230;!!</p>
<p><strong>Day 6: Minggu, 22 November 2009 </strong></p>
<p>Hari ini harus bangun jam 3 dini hari karena harus berangkat menuju bandara paling telat pukul 04.30 pagi. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/201004-holiday-inn-day-3-300x225.jpg" alt="" title="201004-holiday-inn-day-3" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-610" />Kembali lagi, perasaan bercampur aduk antara senang karena akan segera bertemu lagi dengan keluarga, dan sedih karena harus berpisah dengan teman-teman para peserta konferensi lainnya. Tentu merekapun harus kembali pulang ke negara masing-masing.</p>
<p>Konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 6 ini, pada akhirnya menghasilkan suatu deklarasi bersama 18 negara peserta konferensi, yang disebut dengan <strong>Colombo Declaration</strong>. Deklarasi ini adalah suatu kesepakatan bersama mengenai tatacara penanganan bencana dan kaitannya dengan upaya-upaya untuk senantiasa mempromosikan, melindungi dan mendukung kegiatan menyusui.</p>
<a class="downloadlink" href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=colombo.pdf" title=" downloaded 41 times" >Colombo Declaration (41)</a>
<p>Perjalanan kali ini memang benar-benar tak terlupakan. Oleh-oleh yang saya bawa pulang dari Colombo juga luar biasa. Persahabatan baru dengan sesama  pecinta ASI dari negara-negara tetangga (mereka sempat terheran-heran loh melihat saya mengangkut ASIP pulang), networking internasional untuk AIMI, wawasan dan ilmu yang semakin bertambah, pengalaman yang semakin matang, dan tentu yang tidak kalah penting adalah lebih dari 10 kantong ASIP oleh-oleh khusus untuk Ascha tercinta.</p>
<p>Salam ASI!<br />
Mia Sutanto, SH, LL.M, Konselor Laktasi<br />
Ketua AIMI</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 398 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/04/one-asia-breastfeeding-partners-forum-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIMI Dari Lokal Menuju Internasional</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/12/aimi-dari-lokal-menuju-internasional/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/12/aimi-dari-lokal-menuju-internasional/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 14:17:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[depkes]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[IMBEX]]></category>
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>
		<category><![CDATA[selasi]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar AIMI]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>
		<category><![CDATA[WBW]]></category>
		<category><![CDATA[wbw 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Akhir tahun semakin dekat, maka saatnya AIMI merangkum kegiatan-kegiatannya selama tahun 2009. Di tahun ini AIMI telah melakukan banyak hal. Bukan hanya ditingkat lokal dan nasional, tapi sudah melangkah ke tingkat internasional. Berikut berita lengkapnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AIMI, Jakarta (21/12): Tahun 2009 ini Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) telah melakukan banyak hal. Mulai dari tingkat lokal, nasional, bahkan sudah melangkah menuju dunia internasional.</p>
<p>“Agenda yang sudah dilaksanakan oleh AIMI tahun 2009 ini cukup banyak, mulai dari kegiatan untuk komunitas sendiri, untuk negara ini, bahkan dua di antaranya adalah event internasional. Begitu juga dengan 3 kali kegiatan tanggap darurat yang dilaksanakan AIMI pada tahun ini. Bagi organisasi yang masih seumur jagung, hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami, karena apa yang kami lakukan diakui dan dirasakan manfaatnya,” kata Mia Sutanto – Ketua AIMI. Dukungan yang diberikan masyarakat pun dirasakan terus mengalir, salah satunya dari penggalangan dana yang dilakukan AIMI untuk kegiatan social selalu mencapai jutaan rupiah.</p>
<p>Tak jauh beda dengan dari organisasi kesehatan. Tercatat pada tahun 2009, AIMI memperoleh penghargaan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 14 Juni 2009 atas perhatian dan dedikasi yang begitu besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia, khususnya di bidang pemberian ASI eksklusif.</p>
<p>Konsistensi AIMI untuk dalam menciptakan lingkungan dan masyarakat yang breastfeeding-friendly, menggerakkan AIMI bersama gabungan lembaga dan masyarakat peduli ASI  untuk membuat Pernyataan Bersama (PB) menolak RUU Kesehatan. Hal mendasar yang ditolak yaitu terkait dengan adanya kata-kata &#8220;Susu Formula&#8221; dalam pasal pemberian ASI. PB tersebut disampaikan ke pemerintah, legislative dan masyarakat melalui Press Conference pada 20 Agustus 2009. Pernyataan ini kemudian ditindaklanjuti dengan bertemu para wakil rakyat Komisi IX DPR. Hasil dari pertemuan dalam UU no. 36/2009 tentang Kesehatan, menghapuskan kata &#8220;Susu Formula&#8221; serta memunculkan pasal sanksi bagi semua pihak yang menghalangi pemberian ASI.</p>
<p><strong>Rangkaian kegiatan AIMI</strong></p>
<p>Tahun 2009 ini kegiatan AIMI diawali dengan pembentukan AIMI cabang Semarang, dengan ditandai dilaksanakannya Kelas EdukASI AIMI pada 21 Desember 2008 di Rumah Bersalin (RB) Ibu Semarang dengan topic Breastfeeding Basic. AIMI Semarang saat ini sudah sangat aktif dalam melakukan kegiatan konseling, mengedukasi masyarakat tentang manfaat ASI melalui ekspos di media serta rutin mengadakan Kelas Edukasi dengan bekerjasama dengan fasilitas kesehatan setempat.</p>
<p>Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-2 pada tanggal 21 April 2009, AIMI menyelenggarakan workshop Hypnobreastfeeding dengan tema “<strong>Afirmasi Positif untuk Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas ASI</strong>”. Salah satu tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk memperkenalkan teknik relaksasi terbaru, sehingga dapat membantu para ibu menyusui untuk memaksimalkan kuantitas dan kualitas ASI-nya. Kegiatan yang dilaksanakan di Jakarta, pada hari Minggu, 19 April 2009 bertempat di Anahata Wellness Center fX Lifestyle X&#8217;nter lt f5, jl Jend. Sudirman, Jakarta mampu menyedot banyak peminat, terbukti dengan dibukanya 2 kelas untuk menampung seluruh peminat. Lanny Kuswandi, seorang pakar Hypnotherapy, di daulat untuk memandu sekitar 100 ibu menyusui dalam workshop tersebut.</p>
<p>Pada Agustus 2009, AIMI berpartisipasi dalam peringatan World breastfeeding Week (WBW), dengan mengadakan Seminar ASI yang mendatangkan seorang pakar ASI Internasional, Jack Newman, MD, FRCPC. Seminar ini mengambil tema “<strong>Numbers on Demand</strong>”, dimana disampaikan oleh Dr. Jack Newman bahwa hal terpenting dalam memberikan ASI pada bayi bukan pada seberapa banyak (berapa kali, berapa mili, dll), tapi jumlah yang sesuai dengan yang diminta/diinginkan oleh bayinya. Dr. Jack Newman juga menegaskan setiap bayi adalah unik, oleh karena itu jumlah yang diminta/diinginkan oleh bayi akan berbeda satu dan lainnya.</p>
<p>Masih dalam rangka peringatan WBW 2009, AIMI menyelenggarakan Breastfeeding Fair (BF) di Dharmawangsa Square Jakarta, 6-10 Agustus 2009. Dalam Breastfeeding fair ini selain <strong>bazaar</strong>, AIMI juga menggelar mini talkshow : <strong>Sharing &#038; Caring</strong> setiap hari selama BF berlangsung. Dalam sharing &#038; Caring ini AIMI mendatangkan narasumber public figure yang peduli ASI serta para pakar di bidang kesehatan – khususnya ASI, untuk mengupas berbagai hal seputar menyusui. Mulai dari cara Jitu pancing ASI dengan hypnobreastfeeding: “<strong>Affirmasi Positif melancarkan ASI</strong>” bersama Lanny Kuswandi. Trik menyajikan: “<strong>MPASI Berkualitas</strong>” bersama Wied Harry Apriadji. Untuk mewadahi keinginan ibu yang Ingin segera langsing tapi tetap menyusui? Maka, tema di hari ketiga: “<strong>Langsing &#038; ASI berlimpah dengan Pilates</strong>” bersama Svarga Pilates. Ibu ASI Indonesia akan berbagi kisah keajaiban-keajaiban ASI: “<strong>The Miracle of ASI</strong>” bersama dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC &#038; Artika Sari Devi. Dan di hari terakhir: “<strong>Bahaya penggunaan susu formula yang tidak tepat</strong>” bersama dr. Asti Praborini &#038; Nola AB Three.</p>
<p>Pada 12 November 2009, AIMI diundang Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) cabang Tarakan – Kalimantan dalam seminar ASI dengan pembicara ketua AIMI, Mia Sutanto serta dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLCL, FABM. Acara tersebut dihadiri 250 orang serta diliput media setempat</p>
<p>Di penghujung tahun 2009, AIMI menjadi local partner Panorama untuk mengadakan kegiatan <strong>IMBEX</strong> (Indonesia Maternity and Baby Expo) 2009. Acara ini diadakan selama 3 hari,  20-22 November 2009 di Asembly Hall, JCC, Jakarta. Dalam kesempatan ini AIMI berpartisipasi mengisi bazaar, mengadakan talkshow dan mini Kelas Edukasi ASI serta membuka konsultasi/konseling menyusui pada stand-nya.</p>
<p><strong>Tanggap bencana</strong></p>
<p>Pada April 2009, ketika bencana Situ Gintung – Tangerang terjadi, AIMI membuka posko bantuan berupa dapur umum. Posko yang didirikan 2-5 April 2009 ini bertujuan untuk meringankan beban korban bencana Situ Gintung. AIMI yang memberikan perhatian khusus pada kesehatan serta gizi bayi dan balita memberikan bantuan berupa pemberian MPASI sehat untuk bayi dan balita di daerah tersebut, serta memberikan makanan lengkap gizi untuk ibu menyusui. Misi yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah mensosialisasikan untuk mengutamakan pemberian ASI dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) sehat bagi bayi dan balita dalam keadaan darurat, serta memberikan dukungan bagi ibu menyusui untuk tetap menyusui anaknya dalam kondisi seperti ini. Pihak yang telibat dalam posko ini terdiri dari pengurus AIMI, relawan peduli ASI, guru dan orang tua murid PAUD Strawberry serta ComDev MDS – Jakarta.</p>
<p>Ketika untuk ke-2 kalinya bencana gempa bumi terjadi di bumi Indonesia, tepatnya di Tasikmalaya, selama kurang lebih 1 minggu, yaitu 16-22 September 2009, Konselor Laktasi AIMI dibawah koordinasi World Vision Indonesia (WVI) terjun langsung ke daerah bencana untuk memberikan bantuan konseling untuk membantu ibu menyusui untuk tetap menyusui bayinya, serta memberikan perlengkapan yang diperlukan ibu dan bayi.</p>
<p>Pada tanggal 30 September dan 1 Oktober saat gempa melanda bumi Sumatera, AIMI mengadakan penggalangan dana dari anggota AIMI, anggota milis asiforbaby@yahoogroups.com maupun dari masyarakat umum. Sebagai upaya dan wujud solidaritas kemanusiaan AIMI, dibentuklah tim Laktasi Siaga Bencana (LSB) yang bertujuan untuk memberikan bantuan langsung pada korban bencana di Padang. Tim LSB I yang terdiri dari konselor laktasi AIMI berada di Padang 2-9 Oktober 2009, turun langsung ke daerah bencana untuk melakukan penyuluhan, konseling serta pendataan pemberian ASI pada situasi bencana. Kegiatan yang dilakukan oleh tim LSB 1 lebih diutamakan kepada pencegahan penggunaan susu formula atau MPASI instan terhadap bayi dibawah dua tahun (baduta), karena keterbatasan sanitasi (air bersih sulit di dapat, dll), sehingga pemberian susu formula dan MPASI instan akan memperkeruh keadaan karena dapat mengakibatkan bencana lain, yaitu diare sampai kematian pada baduta.</p>
<p>Tim LSB II berada di padang pada 20-24 Oktober 2009. Dengan bantuan dari ACT untuk penentuan lokasi, diprioritaskan daerah Nagari VII Koto, Kab. Pariaman, sebagai daerah bencana yang diatasi sebagai lanjutan kegiatan dari Tim I. Bentuk kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan ASI &#038; MPASI.</p>
<p>Kedatangan Tim LSB I dan II, dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam menyadarkan masyarakat akan kualitas dan komposisi ASI yang tidak tertandingi oleh susu apapun. Demikian pula dengan manfaat pengelolaan MP-ASI sehat yang jauh lebih bergizi dibandingkan dengan MP-ASI (termasuk di dalamnya bubur) instan. Pengetahuan ini sedikit banyak mempengaruhi masyarakat setempat untuk tetap mengutamakan pemberian ASI dibandingkan susu formula pada baduta serta memberikan MP-ASI sehat dibandingkan MP-ASI instan. Banyak pihak berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan dalam bentuk pelatihan</p>
<h3>Berperan di Internasional</h3>
<p><strong>World Breastfeeding Trends Initiative (WBTi)</strong></p>
<p>AIMI ditunjuk oleh International Baby Food Action Network (IBFAN) Asia untuk mengerjakan report yg berisikan kondisi dan status pemberian ASI di Indonesia pada Agustus 2008, setelah mengikuti seminar di Thailand.</p>
<p>Ada 12 indikator penting yang menjadi kunci pertanyaan dari WBTi ini, diantaranya data besaran bayi yang mendapatkan ASI, berapa jumlah RS sayang ibu dan bayi &#8211; yang sedihnya di Indonesia sampai saat ini tidak ada, Undang-undang dan peraturan yang mendukung ASI sampai ke prosedur pemberian ASI pada ibu yang menderita HIV/AIDS.</p>
<p>AIMI bekerjasama dengan Sentra Laktasi Indonesia (Selasi), Perinasia dan Departemen Kesehatan RI telah mengumpulkan data-data terkait WBTi ini pada Februari 2009 dan dikirim kembali ke IBFAN Asia dan telah di-publish di web mereka pada Agustus 2009 lalu.</p>
<p>Tujuan adanya data-data ini adalah sebagai perangkat untuk mendorong pemerintah agar terus memperhatikan kondisi pemberian ASI di negara kita yang ternyata berdasarkan laporan WBTi ini kondisinya cukup memprihatinkan.</p>
<p>Untuk melihat lebih jelas kondisi menyusui di Indonesia dan negara-negara lain di dunia bisa dilihat di: <a href="http://www.worldbreastfeedingtrends.org/">www.worldbreastfeedingtrends.org</a></p>
<p><strong>Konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 6 di Colombo, Srilanka</strong></p>
<p>Pada tanggal 18-21 November 2009, AIMI sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia diundang dalam konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 6 di Colombo, Srilanka. Konferensi yang dihadiri oleh 17 negara ini mengangkat tema &#8220;<strong>Breastfeeding in Emergencies: Challenges and Solutions</strong>&#8220;. AIMI mempresentasikan kegiatan <strong>emergency response</strong> untuk Sumbar serta laporan WBTi. Hasil dari konferensi Colombo adalah Colombo Declaration yang rencananya akan dikirimkan ke media pada awal 2010. Tahun 2010 rencananya AIMI akan menjadi host untuk konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 7 yang akan diselenggarakan di Indonesia. **</p>
<p>***</p>
<p>Fact Sheet AIMI :</p>
<p>AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.</p>
<p>Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
<p>*** </p>
<p>Contact Person AIMI:<br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584 </p>
<p>Sisca Baroto-Utomo, Media Relations<br />
sisca@aimi-asi.org<br />
HP : 0818765021</p>
<p>Sekretariat:<br />
Graha MDS Lt. 1<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta<br />
Telpon : 021-72790165 Fax: 021-72790166<br />
www.aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/12/aimi-dari-lokal-menuju-internasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Himbauan AIMI Untuk Donasi Gempa Padang</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 16:08:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[depkes]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[WHO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[AIMI menghimbau agar rekan-rekan dari kalangan profesional, pemerhati kesehatan dan CSR organisasi / perusahaan agar tidak mendonasikan susu formula dan / atau makanan instan ke daerah bencana. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yth Rekan-rekan Profesional, Pemerhati Kesehatan dan CSR Organisasi,</p>
<p>Sedih rasanya melihat Indonesia kembali diguncang gempa berskala besar di kawasan Sumatera &#8211; Padang dan Jambi &#8211; pada tanggal 30 September dan 1 Oktober yang lalu. Tidak terhitung berapa banyak saudara kita yang kehilangan orang tua, anak, sanak saudara, rumah tinggal dan nyawa. Menurut berbagai sumber, sampai dengan hari Jumat, 2 Oktober 2009 yang lalu, jumlah korban meninggal di Padang sudah mencapai 529 orang,  luka berat 83 orang, dan luka ringan 2094 orang. Sementara di Jambi pun tidak kalah banyaknya. </p>
<p>Dari setiap bencana yang terjadi, korban yang paling menderita tentu saja ibu, bayi dan anak-anak di bawah dua tahun. Sayangnya, penanganan terhadap mereka (khususnya bayi dan anak-anak baduta) seringkali tidak sesuai. Alih-allih menyelamatkan mereka, banyak bayi dan anak-anak baduta yang menjadi sakit dan yang parah, angka kematian mereka pun meningkat.</p>
<p>Dalam konteks penanganan bencana, pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak bisa dilakukan dengan sembarangan agar bantuan yang akan kita berikan dengan niat baik, tidak berubah menjadi sumber permasalahan baru bagi korban yang selamat. Untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat. </p>
<p>Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat Menyusui lebih penting Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung. </p>
<p>Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai. Bahkan, Kode WHO, semua sumbangan susu formula atau produk lain dalam lingkup kode tersebut, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas. Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut : </p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.
</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<p>Pada intinya, pedoman pemberian makanan dalam keadaan darurat yang diberikan oleh Departemen Kesehatan sejalan dengan apa yang telah direkomendasikan bersama oleh UNICEF, WHO dan IDAI, yaitu menyusui sangat penting dalam keadaan darurat. Susu formula tidak diperkenankan diberikan kepada bayi kecuali kepada bayi piatu, bayi yang terpisah dari ibunya atau bila ibu dan bayi dalam keadaan sakit berat.</p>
<p>Apabila memang susu formula harus diberikan dikarenakan hal-hal tersebut, maka harus diberikan secara terbatas dengan mengikuti ketentuan berikut ini: </p>
<ol>
<li>Hanya diberikan dengan pengawasan petugas kesehatan </li>
<li>Diberikan dengan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan. Botol dan dot tidak dianjurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi </li>
<li>Bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, oleh karena itu relaktasi harus diupayakan sesegera mungkin </li>
</ol>
<p>Oleh karena itu, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan dan menghimbau kepada seluruh organisasi profesi, kesehatan, profesional dan perusahaan untuk tidak memberikan sumbangan dalam bentuk susu formula / makanan instan yang bertujuan untuk menggantikan ASI. </p>
<p>Adalah tanggungjawab kita bersama untuk menjamin kesehatan dan keselesamatan korban bencana, terutama ibu, bayi dan anak-anak baduta dengan mendukung dan mengutamakan pemberian ASI sebagai langkah utama dalam situasi darurat. </p>
<p>Salam,<br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584</p>
<p>Fact Sheet AIMI :<br />
AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.</p>
<p>Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Gempa Sumatera</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/gempa-sumatera/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/gempa-sumatera/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 15:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia bersedih lagi akibat gempa yang mengguncang Sumatera (Padang dan Jambi) pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 2009 yang lalu. Begitu banyak penduduk yang tidak berdosa – orang tua, remaja, bayi dan anak-anak – yang menjadi korban. Organisasi peduli ASI mengirimkan Tim Lastasi Siaga Bencana yang terdiri dari para Konselor Laktasi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AIMI, Jakarta (1/10): Indonesia bersedih lagi akibat gempa yang mengguncang Sumatera (Padang dan Jambi) pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 2009 yang lalu. Begitu banyak penduduk yang tidak berdosa – orang tua, remaja, bayi dan anak-anak – yang menjadi korban. Dari berbagai sumber diketahui bahwa jumlah korban meninggal di Sumatera Barat sudah mencapai 529 orang, luka berat 83 orang dan luka ringan 2094 orang. Belum lagi korban di Jambi yang tidak kalah banyaknya.</p>
<p>Suasana duka dan kengerian akan terjadinya gempa susulan masih terlihat di wajah penduduk, khususnya mereka yang tinggal di titik-titik gempa. Tidaklah mengherankan jika puskesmas, rumah sakit, serta rumah ibadah yang tidak runtuh akibat gempa menjadi tempat pengungsian sementara yang relatif aman.</p>
<p>Penanganan terhadap korban bencana dilakukan oleh tenaga medis setempat serta para relawan dari berbagai organisasi. Demikian pula penanganan bagi para korban bencana yang lain, terutama kaum ibu, anak-anak, bayi  serta baduta.</p>
<p>Sayangnya, ada penanganan yang kurang tepat dari organisasi-organisasi ini, terutama untuk para bayi dan  baduta (bawah umur dua tahun). Alih-alih mendukung para ibu untuk memberikan ASI, sebagai respon pertama pada situasi darurat (seperti yang dikutip dari tema pekan ASI sedunia 2009: <strong>Breastfeeding, a vital emergency response. Are you ready?</strong>), organisasi dan sebagian besar pendonor malah mengirimkan susu / makanan instan pengganti ASI.</p>
<p>Dalam menanggapi hal ini, Mia Sutanto &#8211; Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) &#8211; mengatakan, &#8220;Dalam situasi darurat, ASI wajib diutamakan. Nilai gizi dan higienitasnya tidak dapat dibandingkan dengan susu formula / makanan pengganti ASI apapun. Penggunaan susu formula / Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tidak tepat, terutama dalam situasi darurat (bencana alam, dll) dapat menimbulkan berbagai persoalan pada bayi dan baduta, misalkan saja diare, ISPA, dan yang terparah adalah kematian.&#8221;</p>
<p>Mia menambahkan, untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat.</p>
<p>Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat.  Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung. Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai. ”Bahkan semua sumbangan susu formula atau produk makanan bayi lainnya, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas dan harus ada ijin dari Dinas Kesehatan setempat,” kata Mia.</p>
<p>Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.
</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.
</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<p>Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) juga diatur dalam rekomendasi bersama tersebut antara lain disebutkan bahwa MPASI hanya boleh diberikan setelah bayi berusia 6 bulan, dibuat dengan bahan makanan lokal, MPASI harus mudah dicerna dan pemberiannya harus disesuaikan dengan umur dan gizi bayi serta makanan tersebut harus mengandung kalori dan nutrisi yang cukup.</p>
<p>Oleh karena itulah, AIMI beserta organisasi dan masyarakat pendukung ASI menghimbau seluruh masyarakat terutama tenaga kesehatan untuk mendukung ibu memberikan ASI dalam situasi darurat. Donasi atau bantuan yang diperlukan dapat saja berupa selimut, pakaian layak pakai, obat2an dan hal lain, tetapi janganlah memberikan / menyumbang susu formula atau makanan instan pengganti ASI.</p>
<p>Dalam hal ini AIMI mendukung pengiriman Tim Laktasi Siaga Bencana yang terdiri dari para Konselor Laktasi yang berasal dari berbagai organisasi peduli ASI ke tempat bencana serta membuka dompet donasi untuk mendukung didirikannya posko laktasi di wilayah bencana. Untuk keterangan lebih lanjut tentang donasi ini silahkan mengunjungi website AIMI – www.aimi-asi.org.</p>
<p>***</p>
<p>Fact Sheet AIMI :<br />
AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.</p>
<p>Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
<p>***<br />
Contact Person AIMI:<br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo,<br />
Media Relations<br />
sisca@aimi-asi.org<br />
HP : 0818765021</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/gempa-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIMI Emergency Response for Situ Gintung</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/03/aimi-emergency-response-fro-situ-gintung/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/03/aimi-emergency-response-fro-situ-gintung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 08:46:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuyuk Andriati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/2009/03/aimi-emergency-response-fro-situ-gintung/</guid>
		<description><![CDATA[Sekali lagi Indonesia tertimpa bencana. Disaat seperti ini hati kita pasti akan tergerak untuk membantu saudara-saudara yang lagi kesusahan. AIMI pun akan ikut membantu dalam program yang kami namakan 'AIMI Emergency Response'. Yuk ikut bergabung bersama kami.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-257" title="emergency" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/03/emergency.jpg" alt="emergency" width="100" height="135" />Dear AFBers dan para mitra AIMI,</p>
<p>Bencana Situ Gintung tentu menggerakkan hati siapapun yang melihatnya. Bukan maksud kami ikut-ikutan latah memberi bantuan kesana, namun berdasarkan pemantauan di lapangan, masih banyak balita yang membutuhkan uluran tangan kita.</p>
<p>Kami memberikan nama program ini AIMI Emergency Response, sesuai dengan tema World Breastfeeding Week tahun 2009.</p>
<p>Sesuai dengan “core” AIMI, kami ingin membantu balita yang masih kesulitan untuk mendapatkan makanan tambahan home made, baju bayi dan balita layak pakai, dan selimut. AIMI akan membuat dapur umum yang menyediakan MPASI home made bagi balita dan menyalurkannya langsung kepada mereka selama satu minggu.</p>
<p>Untuk moms yang mau berpartisipasi, berikut ini caranya :</p>
<ol>
<li>DONASI BERUPA UANG</li>
<p>Sumbangan berupa dana dapat ditransfer ke rekening berikut :</p>
<blockquote><p>BCA cab. Gondangdia Lama<br />
No. Rek. 4551165722 a/n IRAWATI BUDININGSIH</p></blockquote>
<p>Atau</p>
<blockquote><p>Bank Mandiri cab. Jkt Cikini<br />
No. Rek. 123-00-0451025-3 a/n IRAWATI BUDININGSIH</p></blockquote>
<p>Untuk konfirmasi sumbangan dapat mengirimkan email ke irawati[at]aimi-asi[dot]org atau melalui sms ke 0811804682 dengan format : AIMIGintung Nama Jumlah Donasi Nama Bank Tujuan Transfer<br />
Contoh : AIMIGintung Muhammad Ammar Rp. 200.000 Bank Mandiri</p>
<li>DONASI BERUPA BARANG</li>
<p>Karena keterbatasan tenaga dan waktu, AIMI hanya menerima sumbangan barang berupa baju bayi dan balita layak pakai dan selimut.</p>
<p>Bagi moms yang ingin menyumbangkan barang tersebut, bisa mengirimkan ke beberapa drop box yang kami sediakan berikut ini :</p>
<ul>
<li>Sekretariat AIMI – Graha MDS lt.4, Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34 Jln. RS Fatmawati No.39 Jakarta Telp : 021-72790165 (CP. Yuli)</li>
<li>Untuk wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Pusat : Jl. Alu-Alu No. 29, Rawamangun (CP. Putri – 08111909060)</li>
<li>Untuk wilayah Jakarta Barat : Jl. Pos Pengumben Kompleks Bulog A-1 (CP. Niken – 08161918850)</li>
<li>Untuk wilayah Bintaro dan BSD : Jl. Unggun Blok U no.319 Mabad 25, Rempoa Bintaro (CP. Antie – 085710007715)</li>
<li>Untuk wilayah Depok : Jl. Tebu 151, Depok Utara (CP. Sisca – 0818765021)</li>
</ul>
</ol>
<p>Berapapun donasi yang moms berikan akan sangat berarti bagi mereka..AIMI akan mengupdate laporan semua donasi yang diberikan melalui milis asiforbaby dan website AIMI di www.aimi-asi.org</p>
<p>FYI, selain donasi ini, AIMI bekerja sama dengan SELASI juga mengadakan penyuluhan mengenai pentingnya ASI di situasi gawat darurat seperti yang terjadi di Situ Gintung. Nantikan update infonya di milis dan website AIMI.</p>
<p>Kami tunggu donasi dari moms semua.. sebelumnya, terima kasih banyak atas apa yang moms donasikan melalui AIMI.</p>
<p>Untuk INFO mengenai AIMI Emergancy Response, hubungi prapti[at]aimi-asi[dot]org atau yeye[at]aimi-asi[dot]org</p>
<p>Salam ASI!<br />
Divisi Komunikasi AIMI<br />
www.aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/03/aimi-emergency-response-fro-situ-gintung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
