<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Donor ASI</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/donor-asi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 01:59:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Donor ASI; Kapan dan Bagaimana?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 16:20:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Astri Pramarini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Donor ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1743</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor? Yuk kita bahas bersama–sama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering kali kita membaca di milis dan media sosial adanya permintaan ASI donor karena beberapa sebab, misalnya: ibu meninggal, ibu sakit, bayi masuk NICU, bayi masuk inkubator, bayi terlantar, persediaan ASI perah habis, ASI belum keluar, persiapan menjelang melahirkan ataupun tidak mencantumkan alasan kenapa membutuhkan ASI donor.</p>
<p>Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor? Yuk kita bahas bersama–sama.</p>
<p><strong>Pada dasarnya bayi baru lahir sehat dari ibu yang sehat bisa mendapat ASI secara penuh tanpa perlu tambahan asalkan mendapat kesempatan menjalani Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Rawat Gabung penuh 24 jam bersama ibu, serta bayi menyusu tanpa jadwal dengan posisi dan pelekatan yang efektif.</strong></p>
<p>Lalu kondisi apa saja yang membuat bayi mungkin perlu mendapatkan suplementasi baik berupa tambahan atau pengganti selain menyusu? WHO dan UNICEF mengeluarkan dokumen Alasan Medis Menggunakan Pengganti ASI yang telah dirangkum sebagai berikut:</p>
<p>Indikasi pada Bayi yang Memerlukan Pengganti ASI:</p>
<ul>
<li><em>Inborn errors of metabolism</em> atau kelainan metabolisme bawaan (galaktosemia, fenilkotenouria, penyakit urin sirup mapel)</li>
</ul>
<p>Indikasi pada Bayi yang Mungkin Memerlukan Suplementasi:</p>
<ul>
<li>Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (kurang dari 1500 gram) atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu</li>
<li>Bayi berisiko hipoglikemia karena gangguan adaptasi metabolik atau peningkatan kebutuhan glukosa (Kecil Masa Kehamilan, prematur, mengalami stres hipoksik/iskemik, bayi sakit, bayi dengan ibu yang menderita diabetes) jika kadar gula darahnya gagal merespon pemberian ASI</li>
<li>Bayi dengan kehilangan cairan akut (misal karena fototerapi untuk jaundice) dan menyusui serta memerah ASI belum bisa mengimbangi kebutuhan cairan</li>
<li>Turunnya berat badan bayi berkisar 7 – 10% setelah hari ke 3 – 5 karena terlambatnya laktogenesis II</li>
<li>BAB bayi masih berupa mekonium pada hari ke 5 pasca persalinan</li>
</ul>
<p>Indikasi pada Ibu:</p>
<ul>
<li>Ibu dengan HIV + (keputusan pemberian minum pada bayi sebaiknya melalui proses konseling saat ibu hamil)</li>
<li>Ibu sakit berat (psikosis, sepsis, eklamsia atau mengalami renjatan/syok), infeksi virus Herpes Simpleks tipe 1 dengan lesi di payudara, infeksi varicella zoster pada ibu dalam kurun waktu 5 hari sebelum dan 2 hari sesudah melahirkan</li>
<li>Ibu mendapat sitostatika, radioaktif tertentu seperti Iodine 131, obat – obatan antitiroid selain Propylthiouracil</li>
<li>Ibu pengguna obat terlarang</li>
<li>Ibu mengalami kelainan payudara, riwayat operasi pada payudara, atau jaringan payudara tidak berkembang</li>
</ul>
<p>Kita lihat dari kedua tabel di atas maka sebagian besar kondisi di atas terjadi di hari–hari awal kelahiran. Dengan mempertimbangkan keuntungan dan risikonya, keputusan menggunakan suplementasi harusnya berdasarkan penilaian dan evaluasi dari konselor laktasi, dokter anak dan dokter kebidanan mengenai proses menyusui yang meliputi; observasi saat menyusu langsung pada payudara, evaluasi pasokan ASI, riwayat persalinan, evaluasi posisi, pelekatan, kekuatan hisap, kemampuan menelan, dan penilaian kondisi bayi secara menyeluruh. Kondisi pada ibu dan bayi akan menentukan apakah suplementasi ini bersifat sementara atau menetap. <strong>Perlu diingat juga, tujuan akhir dari suplementasi ini adalah untuk mempertahankan menyusui.</strong></p>
<p>Hierarki Suplementasi</p>
<ul>
<li>ASI/Kolostrum perah segar dari ibu</li>
<li>ASI perah ibu didinginkan</li>
<li>ASI perah ibu pernah dibekukan dan sudah dicairkan</li>
<li>ASI perah ibu sendiri yang difortifikasi (bila perlu) untuk bayi prematur</li>
<li>ASI donor dari Bank ASI dan dipasteurisasi</li>
<li>Formula bayi hipoalergenik</li>
<li>Formula bayi elemental</li>
<li>Formula berbasis susu sapi</li>
<li>Formula berbasis soya</li>
<li>Air atau air gula</li>
</ul>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/01-nourin-asip.jpg" alt="" title="01-nourin-asip" width="263" height="209" class="alignleft size-full wp-image-1752" />Dari tabel di atas serta tujuan akhir suplementasi bisa kita lihat utamanya adalah memaksimalkan produksi ASI ibu baik dalam menyusu langsung, ASI perah segar ataupun sudah dibekukan. Di sini peranan seorang konselor laktasi sangat penting untuk membantu ibu mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksi ASInya. Jika dirasa belum cukup, barulah dicarikan tambahan yang bisa berupa ASI donor yang sudah dipasteurisasi ataupun formula bayi, yang diberikan sedemikian rupa sehingga tetap menjaga dan mempertahankan keberlangsungan proses menyusui ibu dan bayi.</p>
<p><strong>ASI Donor di Indonesia</strong></p>
<p>Dalam hierarki suplementasi, ASI donor dari bank ASI dan sudah dipasteurisasi menjadi urutan berikutnya setelah ASI dari ibu si bayi. Hanya saja, di Indonesia tidak ada Bank ASI yang melakukan skrining terhadap pendonor ASI serta kultur dan pasteurisasi terhadap ASI donor. </p>
<p>Lalu bagaimana kita menyikapinya? Meskipun ASI memang yang terbaik bagi bayi, kita tidak bisa menutup mata terhadap kemungkinan ASI terpengaruh dengan penyakit yang diderita atau gaya hidup pendonor ASI (infeksi HIV, Hepatitis B dan C, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, bertato atau <em>body piercing</em>). Apalagi sebagian besar penerima ASI donor adalah bayi baru lahir, bayi prematur atau bahkan bayi sakit.</p>
<p>Ada baiknya bagi ibu yang akan mendonorkan ASInya bagi bayi lain menyeleksi dirinya sendiri dengan hal-hal sebagai berikut:</p>
<p>Tidak Disarankan Mendonorkan ASI:</p>
<ul>
<li>Menerima donor darah atau produk darah lainnya dalam 12 bulan terakhir</li>
<li>Menerima transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir</li>
<li>Minum alkohol secara rutin sebanyak 2 ounces atau lebih dalam periode 24 jam</li>
<li>Pengguna rutin obat-obatan Over the Counter (aspirin, acetaminophen, dll), pengobatan sistemik lainnya (pengguna kontrasepsi atau hormon pengganti tertentu masih dimungkinkan)</li>
<li>Pengguna vitamin megadosis atau obat-obatan herbal</li>
<li>Pengguna produk tembakau</li>
<li>Memakai implan silikon pada payudara</li>
<li>Vegetarian total yang tidak memakai suplementasi vitamin B12</li>
<li>Penyalah guna obat-obatan terlarang</li>
<li>Riwayat Hepatitis, gangguan sistemik lainnya atau infeksi kronis (contohnya: HIV, HTLV, sifilis, CMV – pada bayi prematur) </li>
<li>Beresiko HIV (pasangan HIV positif, mempunyai tato/<em>body piercing</em>)</li>
</ul>
<p>Disarankan memeriksakan dirinya dan terbukti negatif secara serologis terhadap: HIV-1 dan HIV-2, HTLV-I dan HTLV-II, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis. Pemeriksaan ini juga berguna jika dilakukan setiap ibu yang hamil untuk mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi. Pemeriksaan dan kriteria donor di atas juga perlu diulangi setiap kehamilan atau persalinan baru.</p>
<p>Sedangkan bagi orang tua yang memutuskan menerima ASI donor (tanpa melalui Bank ASI) ada baiknya mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:</p>
<ul>
<li>Bagaimana kondisi kesehatan ibu/pendonor? → pola makan terkait religi/keyakinan</li>
<li>Apakah uji serologis ibu terhadap HIV, Hepatitis B, HTLV negatif?</li>
<li>Apakah ASI tidak tercemar obat, nikotin, alkohol, dsb?</li>
<li>Apakah ASI tidak tercampur air, bahan/zat/nutrisi lain?</li>
<li>Apakah ASI diperah dan disimpan secara higienis dan tidak terkontaminasi? </li>
<li>Apakah jangka waktu penyimpanan dan tempat penyimpanannya sesuai?</li>
<li>Bagaimana kondisi bayi ibu/pendonor? → usia bayi pendonor <1 th , pernah menderita jaundice saat baru lahir?</li>
</ul>
<p><strong>Menyiapkan ASI Donor</strong></p>
<p>Jika pada akhirnya diputuskan menggunakan ASI donor yang belum dipasteurisasi, ada 3 teknik perlakuan terhadap ASI yang bisa dilakukan yang biasa mengurangi penularan penyakit (terutama HIV) melalui ASI.</p>
<ol>
<li>Pasteurisasi Holder </li>
<p>ASI dipanaskan dalam wadah kaca tertutup di suhu 62,5˚C selama 30 menit. Biasanya dilakukan di Bank ASI karena membutuhkan pengukur suhu dan pengukur waktu.</p>
<li>Teknik Flash Heating</li>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/01-flash-heating.jpg" alt="" title="01-flash-heating" width="253" height="156" class="alignright size-full wp-image-1753" />ASI sebanyak 50 ml ditaruh dalam botol kaca/botol selai  ukuran sktr 450 ml terbuka di dalam panci alumunium berukuran 1 L berisi 450 ml air. Kemudian panci dipanaskan di atas kompor sampai air mendidih, matikan, kemudian botol kaca berisi ASI diangkat dan didiamkan sampai suhunya siap untuk diminum bayi.</p>
<li>Pasteurisasi Pretoria</li>
<p>Panaskan air sebanyak 450 ml di panci alumunium berukuran 1 L sampai mendidih. Matikan kompor. Letakkan botol kaca terbuka yang berisi ASI sebanyak 50ml di dalam panci selama 20 menit. Kemudian angkat dan diamkan sampai suhu ASI siap diminum bayi.
</ol>
<p>Kalau kita lihat dari 3 teknik tadi, yang paling mungkin dilakukan adalah teknik nomor 2 dan 3. Manapun, pilih yang paling nyaman bagi ibu dan keluarga. Jika donor ASI dilakukan karena bayi sakit di Rumah Sakit, ingatkan perawat untuk melakukan pemanasan ini sebelum memberikan ASI donor kepada bayi anda.</p>
<p>Semoga bisa menjadi pertimbangan bagi ibu yang akan menerima atau mendonorkan ASI. Salam ASI!</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><small><br />
<strong>Referensi  Donor ASI</strong></p>
<ul>
<li>Walker, M. (2011) Breastfeeding Management for the Clinician: using the evidence. 2nd ed. Sudburry, MA. Jones and Bartlett</li>
<li>Lawrence, RA. (2011) Breastfeeding: A Guide for the Medical Profession. 7th ed. Maryland Heights, MI. Mosby</li>
<li>ABM Protocol #3. Hospital Guidelines for the Use of Supplementary Feedings in the Healthy Term Breastfed Neonate. (2009) Revised Edition. <a href="http://www.bfmed.org">www.bfmed.org</a></li>
<li>Israel-Ballard, K., et al. (2008) Flash-heated and Pretoria Pasteurized destroys HIV in breast milk &#038; Preserves Nutrients! Advanced Biotech. <a href="http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdf">http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdf</a> accessed January 8, 2012</li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rangkuman Breastfeeding Fair 2010</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/07/rangkuman-breastfeeding-fair-2010/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/07/rangkuman-breastfeeding-fair-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 02:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inna Banani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Fair]]></category>
		<category><![CDATA[Donor ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Sakit ramah ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=808</guid>
		<description><![CDATA[Breastfeeding Fair adalah acara rutin yang diadakan oleh AIMI yang mana tahun ini berlangsung dari tgl. 12 - 16 Mei 2010. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Breastfeeding Fair kali ini juga dimeriahkan dengan Talkshow gratis yang dikenal dengan Sharing &#038; Caring. Berikut rangkuman dari acara tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Breastfeeding Fair merupakan acara tahunan yang diselenggarakan AIMI sebagai salah satu acara rutin untuk <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-bf-spanduk-300x199.jpg" alt="" title="07-bf-spanduk" width="300" height="199" class="alignleft size-medium wp-image-812" />meningkatkan kepedulian tentang pentingnya pemberian ASI secara ekslusif.  Setiap tahunnya acara utama Breastfeeding Fair adalah Sharing and Caring (yang berisi sharing para pakar kesehatan seputar ASI, yang dimeriahkan oleh selebriti ibu kota), Bazaar pernak pernik ibu dan anak, dan Pojok Laktasi (untuk berkonsultasi tentang ASI dan menyusui dengan Konselor Laktasi AIMI).  Tentunya seluruh acara tersebut tidak dipungut biaya sama sekali.</p>
<p>Tahun ini pun tidak banyak berbeda, tema yang diangkat kali ini adalah <em>Breastfeeding: A New Life Style</em> yang mengacu pada tma besar Pekan ASI Dunia 2010: <strong>Menyusui: Hanya 10 Langkah! Sayang Bayi!</strong> Acara yang berlangsung dari tanggal 12 hingga 16 Mei 2010 ini diadakan di fX lifestyle X’nter, Senayan Jakarta. Untuk acara bazaar dibuka mengikuti jam operasi fX yaitu dari jam 10 pagi hingga 10 malam. Tentu saja menguntungkan bagi para ibu pekerja yang bisa mampir belanja usai jam kantor. </p>
<p>Selain berbelanja <em>Talkshow</em> adalah hal yang dinanti karena selain mendapat ilmu baru para peserta  tidak dipungut biaya apapun. Serunya, setiap peserta yang bertanya berhak mendapatkan hadiah dari para <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-bf-day-1-288x300.jpg" alt="" title="07-bf-day-1" width="288" height="300" class="alignright size-medium wp-image-813" />sponsor.  Seluruh acara talkshow ini direkam oleh QTv untuk nantinya disiarkan. Belum lagi para Konselor Laktasi AIMI yang siap membantu ibu yang kebetulan mempunyai kendala dalam menyusui anaknya. </p>
<p>Acara Talkshow pada hari Rabu tanggal 12 Juni 2010 diadakan tepat setelah pembukaan Breastfeeding Fair 2010. Topik hari itu adalah “ASI: Modal Utama Kesuksesan Pengasuhan” yang  dipresentasikan oleh Najeela Shihab (Kepala Sekolah Cikal). Najeela didampingi bintang tamu Moza Pramita dan moderator acara Tenik Hartono (Pemimpin Redaksi Majalah Ayahbunda). Meski diadakan pada sore hari tapi banyak peserta yang datang memenuhi kursi yang tersedia. </p>
<p>Talkshow yang dibawakan sangat menarik, Najeela Shihab sangat interaktif sekali dengan para penonton yang membuat mereka antusias bertanya pada saat sesi tanya-jawab dilaksanakan. Menurut Najeela Shihab, ada beberapa manfaat pemberian ASI yang bisa dirasakan dalam kaitannya dengan pengasuhan: Menumbuhkan orangtua yang sensitif dan responsif di mana orangtua bereaksi tepat dan cepat pada kebutuhan anak. Kemudian meningkatkan kehangatan hubungan orangtua dan anak dengan tidur bersama dan menyentuhnya setiap saat.  Selanjutnya pemberian ASI akan tingkatkan kemampuan komunikasi dan kognisi anak serta menumbuhkan  Self Regulation anak. Pemberian ASI membantu Ibu merasakan posisinya tak tergantikan. Sementara Ayah bisa mengambil peran yang lain, diantaranya  menyenangkan Ibu agar hormon Oksitosin terus bekerja dan menggendong bayi. </p>
<p>Acara talkshow hari kedua, Kamis tanggal 14 Juni 2010 bertepatan dengan hari libur nasional. Sehingga sejak pagi area bazaar dipenuhi para orangtua yang melihat-lihat dan tentunya berbelanja.  Meski semangat berberlanja, tetapi begitu talkshow akan dimulai semua langsung segera menempati tempat yang sudah disediakan.  Hari itu <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-peserta-bf-300x199.jpg" alt="" title="07-peserta-bf" width="300" height="199" class="alignleft size-medium wp-image-814" />talkshownya membahas “Mencari Rumah Sakit Sayang Bayi” bersama mbak Ninik Sukotjo dari Unicef dan bintang tamu Shinta Koesnadi  (Istri Nugie –The Dance Company) serta moderator Faradiba Tanrilemba (Sekjen AIMI). </p>
<p>Inti dari Talkshow tersebut adalah keberhasilan menyusui dimulai dari Rumah Sakit. Topik yang juga merupakan salah satu dari 10 langkah sukses menyusui ini menganjurkan agar kita “berbelanja” Rumah Sakit berikut Tenaga Kesehatannya yang mendukung IMD dan menyusui. Selain itu karena di Indonesia belum ada ada lembaga yang mengakreditasi RS Ramah ASI, sehingga memang sebagai calon orangtua kita harus aktif mencari tahu informasi yg lengkap agar sukses menjalani IMD dan menyusui yang benar. Sebagai tambahan, Mbak Ninik juga menyarankan rawat gabung  agar bayi dan Ibu  semakin sukses menyusui. Bagi pihak Rumah Sakit sendiri sebenarnya ini menguntungkan karena memangkas biaya operasional.</p>
<p>Di Hari Jumat tgl 14 Mei 2010 meski hujan dan angin, namun tidak menyurutkan peserta berhalangan hadir. Talkshow yang dibeicarakan hari itu memang lebih fokus mengenai Donor ASI dilihat dari sudut pandang agama Islam. Nara sumber Ibu Faizah Ali Sibromalisi, MA dengan bintang tamu Artika Sari Devi dan moderator Faradiba Tanrilemba, Sekjen AIMI. </p>
<p>Menurut Ibu Faizah, dalam pandangan Islam bayi yang mendapat ASI dari ibu lain sebetulnya bukan hal baru. Nabi Muhammad SAW pun memiliki ibu susu. Tentunya yang perlu diperhatikan menurut ajaran Islam adalah terjadinya <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-pojok-laktasi-300x200.jpg" alt="" title="07-pojok-laktasi" width="300" height="200" class="alignright size-medium wp-image-817" />hubungan/pertalian antara ibu yang memberikan ASI-nya dan anak yang mendapatkan ASI tersebut (mahrom). Anak-anak si ibu susu menjadi saudara persusuan anak-anak tersebut sehingga jatuh hukum tahrim  atau haram kawin, tutur salah satu anggota Komisi Fatwa MUI tersebut. </p>
<p>Meski ada berbagai mazhab dan menyerahkan keputusan pada masing-masing individu untuk mengikuti mazhab sesuai dengannya, Ibu Faizah lebih menekankan agar ibu tetap berusaha menyusui anaknya. Bila suatu dan lain hal mengakibatkan anak membutuhkan Donor ASI, catat siapa saja yang memberikan ASI tersebut. Lanjutkan dengan terus bersilaturahim agar terhindar dari kemungkinan adanya haram perkawinan.</p>
<p>Pada hari Sabtu tanggal 15 Mei 2010 talkshow membicarakan tentang “Sehat dan Produktif berkat Menyusui”. Pembicara adalah Dr Utami Roesli Sp.A., MBA., IBCLC., FABM dengang bintang tamu Anchor TV Najwa Shihab dan moderator Ketua Divisi Komunikasi AIMI, Sisca Baroto. Peserta pada hari itu memenuhi area talkshow, banyak di antara mereka merupakan ayah atau calon ayah. Mereka mendengarkan seksama penjelasan Dr. Utami bahwa sebenarnya ASI merupakan satu-satunya makanan dan minuman yang memiliki zat hidup. Inisiasi Menyusu Dini merupakan hak mutlak bayi yang harus diberikan. Peran Ayah juga penting terutama dalam member motivasi dan menumbuhkan emosi positif bagi Ibu. Termasuk mendukung istri yang bekerja yang sering merasa bersalah meninggalkan anaknya dan khawatir kebutuhan ASI Perahnya tidak terpenuhi. </p>
<p>Najwa  Shihab sebagai ibu pekerja didukung untuk menyusui secara eksklusif karena yakin ASI eksklusif menjadi <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-bf-day-5-300x201.jpg" alt="" title="07-bf-day-5" width="300" height="201" class="alignleft size-medium wp-image-815" />modal penting bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Efek lain yang dirasakan adalah menyusui bisa melangsingkan tubuh. Menyusui bisa membakar 500-600 kalori yang bisa disetarakan  dengan bersepeda satu jam atau renang 20 kali.</p>
<p>Hari Terakhir Breastfeeding fair ditutup dengan talkshow mengenai “Tips Sukses Menyusui” dengan Narasumber Mia Sutanto SH., LLM (Ketua Umum AIMI) dengan moderator Nia Umar (Wakil Ketua Umum AIMI). Menariknya hari ini bintang tamu Model/Bintang film Sigi Wimala hadir bersama Yenny Wahid yang sedang mengandung anak pertamanya. Selain itu kejutan dr Asti Praborini, SpA IBCLC yang datang dan ikut memberi tambahan informasi yang menarik.</p>
<p>Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar Ibu bisa sukses menyusui. Diawali dari mencari Rumah Sakit berikut tenaga kesehatannya yang peduli ASI, Pengetahuan yang memadai tentang ASI, IMD selama minimal 1 jam sejak bayi lahir. Hal lain yang menunjang keberhasilan seorang ibu dalam member ASI eksklusif pada bayinya adalah komitmen yang kuat, informasi dan pengetahuan cukup mengenai kegiatan menyusui serta dukungan dari berbagai pihak; keluarga, pemerintah dan masyarakat.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Artikel ini telah dibaca sebanyak 700 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/07/rangkuman-breastfeeding-fair-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIMI Breastfeeding Fair 2010</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/05/aimi-breastfeeding-fair-2010/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/05/aimi-breastfeeding-fair-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 15:12:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inna Banani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[bazaar]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Fair]]></category>
		<category><![CDATA[Donor ASI]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[Sharing and Caring]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=670</guid>
		<description><![CDATA[Seperti tahun-tahun sebelumnya, AIMI kembali mengadakan Breastfeeding Fair. Kali ini kami mengangkat tema 'Breastfeeding: A New Lifestyle'. Lihat daftar acara kami tahun ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/05/banner.jpg" alt="" title="banner" width="250" height="231" class="alignright size-full wp-image-687" />Tahun ini AIMI kembali mengadakan Breastfeeding Fair dimana akan banyak bazaar yang menjual segala macam pernak-pernik yang diperlukan oleh ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak-anak. Selain itu, tentu saja akan ada talkshow gratis setiap harinya, yang biasa kami sebut dengan Sharing &#038; Caring. </p>
<p>Breastfeeding Fair tahun ini mengangkat tema &#8216;<strong><em>Breastfeeding: A New Lifestyle</em></strong>&#8216; yang akan diadakan:</p>
<p>tgl  : 12 &#8211;  16 Mei 2010<br />
jam: 10.00 &#8211; 22.00</p>
<p>Lokasi:<br />
<a href="http://www.fx-generation.com/">fX lifestyle X’nter</a> | f1 atrium<br />
Jl Jend. Sudirman &#8211; Pintu Satu Senayan<br />
Jakarta 10270</p>
<p><strong>Daftar Acara Sharing &#038; Caring</strong></p>
<table>
<tr>
<th width=20%>Waktu</th>
<th width=30%>Topik</th>
<th width=25%>Narasumber</th>
<th width=25%>Bintang Tamu</th>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Rabu<br />12 Mei 2010<br />16.30 &#8211; 18.30</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Attachment Parenting, dimulai dari ASI</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Najeela Shihab<br />Moderator: Tenik Hartono (Pimred. Ayahbunda)</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Moza Paramita</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Kamis<br />13 Mei 2010<br />13.00 &#8211; 15.00</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Mencari Rumah Sakit Sayang Bayi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Ninik Sukotjo (UNICEF Nutrition Specialist)</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Ami Gumelar Hidayat</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Jum&#8217;at<br />14 Mei 2010<br />16.30 &#8211; 18.30</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Donor ASI</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Faizah Ali Sibromalisi, MA (Ustadzah Pusat Studi Quran)</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Artika Sari Devi</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Sabtu<br />15 Mei 2010<br />13.00 &#8211; 15.00</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Sehat dan Produktif berkat Menyusui</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">dr. Utami SpA., MBA, IBCLC, FAMB</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Najwa Shihab (Anchor TV / Host &#8216;Mata Najwa&#8217;)</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Minggu<br />16 Mei 2010<br />13.00 &#8211; 15.00</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Persiapan Sukses Menyusui</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Mia Sutanto</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Sigi Wilmala</div>
</td>
</tr>
</table>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Halaman ini telah dilihat 1463 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/05/aimi-breastfeeding-fair-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Donor ASI &#8211; Aman Ngga Ya?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 17:43:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Donor ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Saudara Persusuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[ASI kurang, boleh ngga ya kalau memberikan ASI ibu lain...? ASI berlimpah, dibuang sayang. Ada ngga ya yang mau ASI ini..? Yuk lihat pembahasannya disini, ditulis oleh Ketua AIMI, Mia Sutanto dari referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Mia Sutanto, SH, LLM, Konselor Laktasi</p>
<p>Keunggulan Air Susu Ibu (ASI) memang sudah lama diyakini dan dibuktikan baik oleh para peneliti, tenaga kesehatan maupun para ibu-ibu yang menyusui dan bayi mereka masing-masing yang mengkonsumsi ASI. WHO (Badan Kesehatan Dunia) sendiri telah secara resmi merekomendasikan bahwa ASI diberikan secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan seorang bayi, pada saat usia 6 bulan mulai diberikan makanan pendamping ASI yang berkualitas dan pemberian ASI diteruskan hingga bayi berusia 2 tahun atau lebih.</p>
<p>Hal ini semakin menegaskan perlunya dan pentingnya pemberian ASI bagi seorang bayi, terutama bayi prematur. Sayang sekali, karena satu dan lain hal banyak wanita yang tidak dapat menyusui bayinya, namun karena mengakui keunggulan ASI dan ingin menghindari berbagai macam masalah kesehatan dan tumbuh kembang bayi dan anak yang terkait dengan penggunaan susu formula, maka para wanita tersebut tetap ingin memberikan ASI kepada bayi-bayi mereka. Di sisi lain, beberapa ibu mempunyai produksi dan simpanan ASI perah yang berlebih, sehingga sayang untuk dibuang dan mereka memilih untuk mendonorkan ASI perah tersebut. WHO sendiri telah menetapkan protokol pemberian asupan bagi bayi sesuai dengan urutannya sebagai berikut: (1) ASI langsung dari ibunya, (2) ASI perah dari ibunya, (3) ASI donor dari ibu lain, dan (4) susu formula.</p>
<p>Dalam hal berbagi ASI atau melakukan dan menerima donor ASI, memang ada beberapa hal yang patut menjadi pertimbangan. Artikel ini akan membahas dari segi kesehatan dan pandangan hukum agama Islam.</p>
<h3>Kesehatan</h3>
<ol>
<li>HIV/AIDS<br />
Walaupun penelitian terbaru yang dilakukan telah menemukan bahwa apabila seorang ibu yang positif HIV menyusui secara eksklusif bayinya selama 6 bulan, maka justru akan <a href="http://news.bbc.co.uk/1/hi/health/6507309.stm">menurunkan resiko penularan</a> terhadap bayinya, namun dalam hal berbagi ASI, seorang ibu yang positif HIV tidak dianjurkan untuk mendonorkan ASI (kekhawatiran terhadap resiko penularan serta efek sampingan dan terapi pengobatan yang sedang dijalankan). Di luar negeri, ASI donor secara rutin dipanaskan dengan metode <em>flash heating</em>, karena virus HIV dapat di non-aktifkan dengan memanaskan ASI pada suhu derajat yang tinggi. <em>Flash heating</em> dapat juga dilakukan di rumah. Berikut link dari youtube mengenai <a href='http://www.youtube.com/watch?v=NNw1odieIoI' >Flash Heating Breast Milk Kills HIV</a>  </li>
<p></p>
<li>Hepatitis B dan C<br />
Secara teori, memang ada kemungkin resiko penularan virus Hepatitis B dan C, tetapi ini hanya akan terjadi apabila ASI yang didonorkan terkontaminasi oleh darah seorang ibu yang menderita penyakit tersebut (kontaminasi darah dalam ASI yang disebabkan, misalnya, oleh putting luka/lecet).</li>
<p></p>
<li>TBC<br />
Resiko penularan TBC melalui ASI donor hampir tidak ada, kecuali apabila ibu yang mendonorkan ASI menderita infeksi TBC yang memang terlokalisasi di daerah payudara, kasus yang sangat jarang terjadi. Resiko penularan TBC pada seorang bayi yang sedang menyusu akan terjadi ketika ibunya yang terinfeksi dengan penyakit tersebut bernafas atau batuk tepat di muka bayinya, sehingga partikel-partikel TBC akan terhirup langsung oleh bayi. Penularan tidak terjadi melalui ASI.</li>
<p></p>
<li>CMV (cytomegalovirus) dan HTLV (human T lymphotropic virus)<br />
Seorang ibu yang terinfeksi dengan CMV, maka ada kemungkinan ASI-nya juga mengadung virus tersebut sehingga timbul resiko penularan terhadap bayinya. Namun demikian, karena manfaat pemberian ASI jauh melebihi resiko penularan itu sendiri (resiko penularannya tergolong <a href="http://www.americanpregnancy.org/pregnancycomplications/cytomegalovirusinfection.html">kecil</a>), dan karena ASI mengadung zat-zat antibodi yang melindungi terhadap penyakit CMV, maka ibu yang terinfeksi CMV tetap dianjurkan untuk <a href="http://pedclerk.bsd.uchicago.edu/breastfeeding.html">terus menyusui bayinya</a>. Untuk donor ASI, ibu yang terinfeksi dengan CMV tidak dianjurkan untuk menyumbangkan ASI-nya.</p>
<p>Sama dengan kasus seorang ibu yang menderita penyakit HIV/AIDS dan CMV, seorang ibu yang terinfeksi HTLV juga tidak disarankan untuk menyumbangkan ASI-nya. Namun demikian, HTLV-1 (dan seluruh sel-selnya) akan musnah dalam jangka waktu 20 menit dengan memanaskan pada suhu 56°C (atau dalam jangka waktu 10 menit pada suhu 56°C), atau membekukan pada suhu -20°C selama 12 jam. (56 May JT. Molecular Virology: Tables of Antimicrobial Factors and <a href="http://www.latrobe.edu.au/microbiology/table7.html">Microbial Contaminants in Human Milk. Table 7: Effect of heat treatment or storage on antimicrobial factors in human milk</a>).</p>
</li>
<p></p>
<li>Rokok, Narkoba dan Alkohol<br />
Penting untuk mengetahui apakah ibu yang mendonorkan ASI adalah seorang perokok, sering mengkonsumsi alkohol (kurang dari 1 gelas per hari biasanya dianggap aman – tetapi alkohol dapat menyebabkan gangguan tidur pada bayi), dan mengkonsumsi kafein dalam jumlah yang besar (lebih dari 1-2 cangkir perhari – dapat menyebabkan bayi menjadi rewel). Penggunaan seluruh jenis narkotika dan obat-obatan terlarang adalah tidak aman.</li>
<p></p>
<li>Obat-obatan<br />
Sebagian besar obat-obatan yang dijual secara bebas maupun yang diresepkan oleh dokter adalah tergolong aman, dan daftar obat-obatan yang termasuk tidak aman bagi seorang ibu yang menyusui sangat pendek. Contoh obat-obatan yang aman termasuk antibiotika, obat asma, tiroid dan anti-depresan. Untuk referensi tingkat keamanan obat-obatan yang dikonsumsi oleh seorang ibu menyusui, dapat menggunakan buku karangan Thomas Hale, berjudul “Medications and Mothers Milk”, atau gunakan daftar yang diterbitkan oleh AAP (American Academy of Pediatrics) (The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk &#8212; Committee on Drugs 108 (3): 776 &#8212; AAP Policy), atau gunakan <a href="http://toxnet.nlm.nih.gov/cgi-bin/sis/htmlgen?LACT">LactMed Search</a>. Catatan, bank ASI yang terdapat di luar negeri sebagian besar tidak menerima donor ASI dari seorang ibu yang sedang mengkonsumsi obat-obatan maupun seorang ibu yang merokok.</li>
</ol>
<p>(sumber: <a href="http://www.massbfc.org/news/index.html#isItSafe">Massachusetts Breastfeeding Coalition, March 2005</a> dan <a href="http://ep.bmj.com/cgi/content/extract/89/1/ep27">GUIDELINES FOR THE ESTABLISHMENT AND OPERATION OF HUMAN MILK BANKS IN THE UK</a> dan <a href="http://www.cpqcc.org/Documents/NutritionToolkit/NutriDoc/APPENDIX_G3.3.pdf">Nutritional Support of the VLBW Infant</a>)</p>
<h3>Hukum Islam</h3>
<p>Pertama-tama, yang harus diingat adalah tulisan ini hanya menjadi bahan acuan dan sumber referensi saja, terutama jika menyangkut masalah agama dan kepercayaan. Silahkan anda mengambil yang terbaik untuk kemudian menentukan sendiri pilihan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Memang dalam hal donor ASI, yang seringkali menjadi bahan perdebatan bagi kalangan muslim adalah apakah bayi yang menerima donor ASI akan otomatis menjadi saudara sepersusuan dengan bayi yang ibunya mendonorkan ASI tersebut?</p>
<ol>
<li>Berbagi ASI – Otomatis Menjadi Saudara Sepersusuan<br />
Ada sebagian golongan yang menyatakan bahwa apabila seorang bayi minum ASI dari ibu lain, baik secara langsung (dari payudara) atau tidak (dengan ASI perah), maka secara MUTLAK bayi tersebut akan menjadi saudara sepersusuan dengan bayi ibu yang mendonorkan ASI tersebut (apabila kedua bayi tersebut berlainan jenis, perempuan dan laki-laki, maka di kemudian hari dilarang untuk menikah). Dalam hal ini, sudut pandangan yang diambil adalah bahwa dengan minum 3 tegukan ASI (langsung dari payudara ataupun ASI perah), maka kedua bayi tersebut sudah otomatis menjadi saudara sepersusuan karena pertimbangan cairan ASI yang sudah masuk ke dalam tubuh bayi penerima donor.</li>
<p></p>
<li>Berbagi ASI – Tidak Otomatis Menjadi Saudara Sepersusuan<br />
Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dalam Fatwa-Fatwa Kontemporer (Gema Insani Press), tidak semudah itu seorang bayi yang menyusu pada ibu lain menjadi saudara sepersusuan dengan bayi ibu tersebut. Syarat utama adalah apabila seorang bayi yang disusui oleh ibu lain, maka hal tersebut menimbulkan “&#8230;rasa keibuan yang menyerupai rasa keibuan karena nasab, yang menumbuhkan rasa kekanakan (sebagai anak), persaudaraan (sesusuan), dan kekerabatan-kekerabatan lainnya.” Kemudian, diterangkan pula bahwa, “&#8221;Adapun sifat penyusuan yang mengharamkan (perkawinan) hanyalah yang menyusu dengan cara menghisap tetek wanita yang menyusui dengan mulutnya.”Sehingga menurut pandangan Dr. Yusuf Qardhawi, bayi yang mendapatkan donor ASI dari ibu lain, yaitu ASI perah dan bukan menyusu langsung pada ibu donor tersebut, maka TIDAK akan menjadi saudara sepersusuan dengan bayi si ibu pendonor. (Sumber: <a href="http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/BankSusu1.html">Bank Susu, hal. 1</a> dan <a href="http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/BankSusu2.html">Bank Susu, hal. 2</a>)</li>
<p></p>
<li>Hubungan Anak dengan Ibu Susu dan Saudara Sepersusuan (sumber: <a href="http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=07319&amp;rubrik=bayi">Tabloid Nakita</a>)<br />
ASI adalah filtrasi darah ibu sehingga ASI bisa menjadi pembawa sifat. Maka dari itulah ada hukum yang menyebutkan ibu susu dengan anak yang mendapatkan susu dari dirinya, hukumnya sama seperti halnya ibu dengan anak kandung. Begitu juga, anak-anak si ibu susu menjadi saudara sepersusuan anak tersebut.&#8221;Antara ibu susu dengan anak yang mendapat susu darinya jatuh hukum Tahrim (haram kawin-Red.) kepada mereka, tak terkecuali kepada saudara sepersusuan mereka,&#8221; (makalah Hj. Nur Endah Nizar Lc., fungsionaris Nahdatul Ulama (NU) Jatim yang juga anggota DPRD Jatim, dengan judul *Keutamaan Air Susu Ibu (ASI) Ditinjau dari Syariat Agama Islam dan Kesehatan*), karena:</p>
<ol>
<li>Dalam kegiatan menyusui anak akan selalu timbul hubungan batin antara ibu yang menyusui dan bayi atau anak yang menerima ASI, yakni hubungan batin dalam bentuk kasih sayang. Sekalipun anak yang disusukan itu bukan anak kandung.</li>
<p></p>
<li>Jika seorang anak disusukan wanita yang bukan ibu kandungnya, otomatis dia akan menjadi ibunya. Oleh sebab itu berlaku Tahrim sebagaimana sabda Rasullah SAW, &#8220;Bahwa menyusukan menyebabkan tahrim, sama seperti tahrimnya melahirkan, atau pengharaman sebab kelahiran.&#8221; (HR Muslim).Sekalipun begitu, antara ibu susu, anak yang disusukan, dan saudara sepersusuan bisa tidak timbul hukum Tahrim, jika:
<ol>
<li>Pemberian ASI melalui jarum suntik. Maksudnya, secara tak langsung; diperah dulu lalu diberikan lewat botol susu atau sendok;</li>
<li>ASI diencerkan, dikentalkan, dibekukan, atau dibuat bahan makanan terlebih dulu sebelum dikonsumsi;</li>
<li>ASI dicampur air, obat, minyak, dan atau sebaliknya;</li>
<li>ASI dicampur ke dalam makanan anak, dan atau sebaliknya;</li>
<li>ASI ibu yang satu telah dicampur dengan ASI ibu lain baru kemudian diminumkan pada anak.</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong>Artikel ini boleh diambil dan disebarluaskan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari AIMI, dengan syarat bahwa TIDAK digunakan dalam rangka pelanggaran Kode Etik WHO mengenai makanan-makanan pengganti ASI.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

