<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Bakteri Enterobacter Sakazakii</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/bakteri-enterobacter-sakazakii/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Sakazakii</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/02/sakazakii/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/02/sakazakii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 00:35:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Clodi Stepantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bakteri Enterobacter Sakazakii]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1293</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar : Artikel ini re-post karena sudah pernah saya rangkum dari beberapa sumber sekitar 3 tahun yang lalu&#8230; saat isu serupa pernah merebak. Kenapa berulang ya? Apaan sih Sakazakii? Emangnya berbahaya ya? Nama Lengkapnya: ENTEROBACTER SAKAZAKII. Ini jenis bakteri yang berasal dari keluarga: ENTEROBACTERIACEAE yang terdiri dari sejumlah spesies bakteri yang nangkring di usus besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengantar : Artikel ini re-post karena sudah pernah saya rangkum dari beberapa sumber sekitar 3 tahun yang lalu&#8230; saat isu serupa pernah merebak. Kenapa berulang ya?</p>
<p><strong>Apaan sih Sakazakii? Emangnya berbahaya ya?</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1298" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/02-sakazakii.jpg" alt="" width="285" height="192" />Nama Lengkapnya: <strong>ENTEROBACTER SAKAZAKII</strong>. Ini jenis bakteri yang berasal dari keluarga: <strong>ENTEROBACTERIACEAE</strong> yang terdiri dari sejumlah spesies bakteri yang nangkring di usus besar manusia atau binatang, tapi ada juga sih di lingkungan sekitar. Nah, mikroorganisme ini dapat mengakibatkan penyakit <strong>MENINGITIS (radang selaput otak)</strong>, <strong>SEPSIS (radang pada peredaran darah)</strong>, serta <strong>ENTERITIS (radang usus)</strong> pada bayi.</p>
<p>Pada penelitian terdahulu, diketahui sekitar 20% sampai &gt;50% bayi yang terpapar penyakit akibat bakteri meninggal dunia. Beberapa penyakit yang ditelusuri merupakan dampak dari sufor yang terkontaminasi banyak terjadi di Ruang Isolasi Bayi di Rumah Sakit di seluruh dunia. Bayi yang dapat bertahan hidup justru mengalami komplikasi serta <strong>gangguan syaraf (neurological disorder)</strong>. Sedangkan dampak terhadap orang dewasa tidak berbahaya. Faktor utamanya adalah karena tingkat keasaman perut bayi lebih rendah daripada pada orang dewasa.</p>
<p><strong>Siapa yang paling mungkin kena?</strong></p>
<p>Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit pada semua golongan usia, tapi berdasarkan penelitian sih.. yang PALING MUNGKIN terpapar adalah <strong>bayi baru lahir</strong> (khususnya yang usia &lt;28 hari), <strong>bayi prematur</strong> (usia janin &lt;36 minggu), <strong>bayi dari ibu yang mengidap HIV+</strong> (khususnya yang mengkonsumsi sufor), <strong>BBLR</strong> (bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah, yakni &lt;2000 gram) yang biasa disebut <strong>IMMUNICOMPROMISED INFANT</strong>. Karena di Indonesia banyak banget kasus <strong>BBLR</strong> cukup banyak, mestinya hal ini mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.</p>
<p><strong>Bakteri ini datang darimana? Apakah terdapat pula dalam usus besar manusia?</strong></p>
<p>Habitat alami bakteri ini belum diketahui dengan pasti, namun bakteri ini ditemukan dalam usus besar manusia sehat, yang kemungkinan besar berbentuk intermittent guest. Dapat pula ditemukan dalam usus besar binatang serta pada lingkungan yang lembab.</p>
<p><strong>Trus, kok bisa mengkontaminasi susu formula? Apa ada di jenis makanan lain juga?</strong></p>
<p>Ada 3 (tiga) cara bakteri ini masuk ke dalam komponen susu formula, yakni :</p>
<ol>
<li>Melalui bahan mentah yang dipakai dalam sufor;</li>
<li>Melalui kontaminasi pencampuran atau jenis komponen kering lain setelah proses pasteurisasi; serta</li>
<li>Melalui kontaminasi pencampuran susu dengan air pada saat penyajian sebelum diminum oleh bayi.</li>
</ol>
<p>Sebenernya bakteri ini ditemukan juga dalam beragam jenis makanan lain, tapi yang terkait dengan munculnya penyakit yah baru di kasus sufor (dan kasus di negri kita ini yah makanan instan).</p>
<p><strong>Apakah Sufor hanya mengandung bakteri ini ? Atau sebenarnya ada juga jenis bakteri lain?</strong></p>
<p>Standar internasional sudah tidak memperbolehkan adanya patogen jenis <strong>SALMONELLA</strong> dalam produk sufor bubuk. Standar Codex WHO adalah tidak boleh terdapat Salmonella dalam 60 sampel (masing-masing 25 gram). Peraturan ini sangat ditekankan khususnya di Uni-Eropa. Tapi, tetap ada aja ditemukan Salmonella dalam produk sufor bubuk. Penyebabnya belum begitu jelas, bisa jadi terkontaminasi di rumah atau di Tempat Penitipan Anak (TPA).</p>
<p><strong>Trus, kalo bayi ASIX (ASI eksklusif), mungkin terkena juga nga?</strong></p>
<p>Berdasarkan penelitian, belum pernah ada kasus bayi ASIX yang terpapar bakteri ini, yang ada juga dari 50-80% kasus, <strong>sufor bubuk adalah SUMBER dan SARANA (baik langsung maupun tidak langsung) bakteri ini untuk menyebabkan penyakit.</strong></p>
<p><strong>Resiko dari kasus ini di negara maju apakah sama juga?</strong></p>
<p>Yah, data yang ada menunjukkan bahwa resiko di negara maju lebih sedikit. Kemungkinan bisa saja disebabkan oleh kurangnya perhatian akan masalah ini atau memang tidak munculnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri tersebut. Karena penggunaan sufor sangat banyak maka dampaknya pada bayi mestinya menjadi perhatian khalayak. <strong>Herannya, di Indonesia hal ini kok malah ditutup-tutupi?</strong> Pantesan aja banyak ibu yang masih merasa enggan menyusui bayi mereka (ini khusus untuk para ibu yang emang tidak berkeinginan loh lah.. bukan yang tidak bisa karena alasan medis&#8230;) <strong>karena tidak pernah tau dampak buruk dari sufor.</strong></p>
<p><strong>Lalu gimana dengan resiko yang mungkin terjadi di TPA?</strong></p>
<p>WHO merekomendasikan supaya para pengasuh bayi, khususnya bayi yang paling mungkin terpapar (&lt;1 tahun), menyadari bahwa : <strong>Sufor bukanlah produk yang steril !</strong> Pada kasus ibu yang tidak dapat menyusui maka mereka dianjurkan untuk memberikan, jika memungkinkan, produk susu formula cair yang steril. Tapi produk ini cukup sulit untuk dicari, kalau pun ada biasanya harganya mahal banget.</p>
<p>Atau yah, sufor bubuk yang paling tidak sudah mengikuti tahapan dekontaminasi saat proses penyaduhan, yakni disaduh dengan air mendidih (&gt;70˚C: bukan air dari dispenser) atau dengan memanaskan sufor yang sudah dicampur. Rentang waktu pemberian susu setelah disaduh katanya sih dapat mengurangi resiko terjangkitnya penyakit oleh bakteri ini.</p>
<p><strong>Kalau terpapar, gejalanya seperti apa?</strong></p>
<p><strong>SEPSIS</strong> (radang pada peredaran darah), <strong>MENINGITIS</strong> (radang selaput otak) serta <strong>ENTERITIS</strong> (radang usus) adalah gejala infeksi bakteri ini yang terjadi khususnya pada bayi. Tanda-tanda ini biasanya diikuti juga dengan <em>seizure</em> (fenomena temporer ketidaknormalan fisio-elektro otak akibat ketidaknormalan syaraf), kelumpuhan otak, hidrosefalus, keterlambatan perkembangan, serta kematian ! Infeksi ini juga berdampak pada defisiensi syaraf khususnya yang terkait dengan bakteri meningitis dan cerebritis (berhubungan dengan otak). Penulis artikel <strong>Emerging Infectious Disease</strong> (yang dipublikasikan oleh <em>Centers of Disease Control and Prevention</em> pada Agustus 2006) menyatakan <strong>bahwa 40-80% bayi yang terinfeksi bakteri ini meninggal.</strong></p>
<p>Sayangnya, sangat sedikit pengetahuan tentang faktor patogensi (sifat yang berdampak sebagai penyakit) dari bakteri ini. Beberapa <em>strain</em>/galur yang terdapat dalam kultur jaringan di laboratorium menunjukkan perbedaan <em>strain</em>/galur bakteri ini dengan <em>strain</em>/galur yang tidak bersifat patogen.</p>
<p>Biasanya penyakit tersebut membutuhkan terapi antibiotik, namun akibat reaksinya yang cukup responsif terhadap pengaruh terapi tersebut, sehingga Enterobacter yang sudah terbentuk menjadi semakin resisten (jadi <em>SUPER BUGS</em> yang membutuhkan dosis yang makin tinggi, sehingga pemberian AB harus lewat infus).</p>
<p><strong>Sebenernya, masih bisa dicegah tidak ya?</strong></p>
<p>Meskipun tempat penampungan organisme ini masih belum dikenal, namun berdasarkan banyaknya pertumbuhan infeksi yang terjadi pada bayi menekankan bahwa <strong>Sufor bubuk merupakan sumber dari infeksi tersebut.</strong> Pada beberapa penelitian tentang infeksi yang muncul pada bayi oleh bakteri ini, khususnya pada bayi yang baru lahir (&lt;28 hari), para peneliti telah mampu membuktikan baik secara statistik maupun hubungannya dengan mikrobiologi antara infeksi dengan konsumsi sufor bubuk.</p>
<p>Seperti ditegaskan sebelumnya bahwa <strong>SUFOR BUBUK bukanlah produk yang steril.</strong> Karena susu jenis ini melalui prosesnya (proses pemanasan) dapat dimasuki oleh jenis bakteri ini. Berbeda dengan sufor cair yang tidak berada pada suhu tinggi dalam beberapa waktu sebelum akhirnya dikemas secara steril.</p>
<p>FDA (<em>Food and Drugs Administration</em>) menegaskan bahwa resiko dari infeksi ini tergantung dari beberapa faktor, di antaranya adalah:</p>
<ul>
<li>berapa banyak jumlahnya di dalam produk tersebut,</li>
<li>bagaimana cara penyajian susu,</li>
<li>serta kondisi penderita (misal bayi baru lahir, bayi prematur, BBLR, serta <em>immunosuppression</em>/kelainan antibodi).</li>
</ul>
<p><strong>Sufor bubuk dapat menjadi media pertumbuhan bakteri ini, sehingga perpanjangan periode penyimpanan dapat meningkatkan jumlah bakteri yang sudah bernaung.</strong> Para petugas kesehatan mungkin dapat mengurangi resiko bagi bayi-bayi baru lahir yang sedang dirawat melalui pemberian susu alternatif sebagai pengganti sufor bubuk jika memungkinkan.</p>
<p><strong>FDA merekomendasikan UNTUK TIDAK MEMBERIKAN SUFOR BUBUK KEPADA BAYI-BAYI YANG BARU LAHIR !</strong> Kecuali tidak ada pilihan lain.</p>
<p>Namun, jika memang tidak ada pilihan lain, maka untuk mengurangi resiko dapat dilakukan beberapa hal berikut:</p>
<ul>
<li>Siapkan hanya sedikit sufor pada setiap waktu menyusu untuk mengurangi jumlah dan waktu susu ini berada pada suhu kamar sebelum dikonsumsi;</li>
<li>Minimalkan jarak penyajian dengan konsumsi, baik dalam suhu kamar maupun di dalam kulkas, misal dengan jarak masimum 4 jam. Sebab semakin lama rentang waktunya maka kemungkinan bakteri untuk berkembang biak akan semakin besar.</li>
</ul>
<p>Tapi maaf saya tidak bisa memberikan info lebih lengkap soal ini. Tapi ada juga solusi lain untuk masalah ini, yakni : Kembali ke ASI.</p>
<p><strong>Kembali ke ASI, Bagaimana caranya?</strong></p>
<p>Ada beberapa cara untuk kembali ke ASI, bisa dengan cara relaktasi. Apa itu relaktasi? Yakni upaya untuk kembali menyusui. Upaya ini bukan hanya berlaku bagi ibu yang pernah menyusui lalu berhenti karena sesuatu dan lain hal, tapi <strong>dapat pula diupayakan oleh seorang ibu adopsi untuk dapat menyusui anak adopsinya</strong>. <em>Amazing</em> yah ! Jika dibutuhkan, para konselor laktasi AIMI siap mendampingi para ibu yang ingin kembali menyusui. Salam ASI.</p>
<p>Beberapa link terkait berita ini:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.foodborneillness.com/enterobacter_sakazakii_food_poisoning/">http://www.foodborneillness.com/enterobacter_sakazakii_food_poisoning/</a></li>
<li><a href="http://www.who.int/foodsafety/publications/micro/en/qa2.pdf">http://www.who.int/foodsafety/publications/micro/en/qa2.pdf</a></li>
<li><a href="http://www.fao.org/ag/agn/agns/jemra_riskassessment_enterobacter_docs_en.asp">http://www.fao.org/ag/agn/agns/jemra_riskassessment_enterobacter_docs_en.asp</a></li>
<li><a href="http://selasi.net/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=30:mengenal-bakteri-sakazakii&amp;catid=15:sakazakii&amp;Itemid=56">http://selasi.net/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=30:mengenal-bakteri-sakazakii&amp;catid=15:sakazakii&amp;Itemid=56</a></li>
</ul>
<p>Waktu kasus ini merebak di tahun 2008, AIMI sempat melakukan aksi turun ke jalan untuk mengajak para ibu kembali ke ASI. Bisa klik di sini: <a href="http://mapetitelentera.multiply.com/photos/album/56/AIMI_turun_ke_jalan">http://mapetitelentera.multiply.com/photos/album/56/AIMI_turun_ke_jalan</a></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1300" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/02-spanduk-ASI.jpg" alt="" width="500" height="280" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/02/sakazakii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IPB Temukan Bakteri Dalam Susu Bayi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/02/ipb-temukan-bakteri-dalam-susu-bayi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/02/ipb-temukan-bakteri-dalam-susu-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 10:09:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bakteri Enterobacter Sakazakii]]></category>
		<category><![CDATA[IPB]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Berita tentang tercemarnya susu formula bayi oleh bakteri Enterobacter Sakazakii yang dimuat di Pikiran Rakyat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sumber: <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;id=13292">Pikiran Rakyat</a></p>
<p>JAKARTA, (PR).-</p>
<p>Pemerintah diminta segera menarik produk susu formula dan bubur bayi yang tercemar bakteri Enterobacter sakazakii. &#8220;Masalah bakteri, konsumen tidak bisa melihatnya. Mereka baru merasakan apabila sudah terkena dampaknya. Oleh sebab itu, lebih baik bahan makanan yang tercemar harus ditarik dari pasaran,&#8221; kata Ketua YLKI Husna Zahir yang dikutip okezone, Minggu (24/2).</p>
<p>Husna mengatakan, penarikan produk itu perlu dilakukan sambil menunggu hasil keputusan yang diambil pemerintah terkait dengan temuan itu. &#8220;Sambil menunggu tim gabungan bekerja, pemerintah bisa menarik produk yang tercemar, sehingga konsumen tidak dirugikan,&#8221; katanya.</p>
<p>Hal itu dikemukakan Husna terkait penemuan para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) mengenai adanya Enterobacter sakazakii dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi. Bakteri jenis ini bisa menyebabkan radang selaput otak. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri beracun. Tiga dari 46 sampel bubur susu bayi juga tercemar bakteri itu.</p>
<p>&#8220;Awalnya kami hanya ingin meneliti penyebab diare pada bayi, tapi saya malah kaget dengan ditemukannya <em>Enterobacter sakazakii</em>, bukan bakteri <em>Escherichia coli</em> yang sering ditemukan itu,&#8221; kata Ketua Tim Peneliti IPB, Sri Estuningsih, yang juga seorang ahli susu sapi dan makanan anak.</p>
<p>Menurut dia, bakteri <em>Enterobacter sakazakii</em> sangat membahayakan. Selain bisa menyebabkan radang selaput otak, bakteri itu juga bisa menyebabkan radang usus dan peradangan jaringan di seluruh tubuh. &#8220;Apalagi, susu formula dan bubur bayi banyak diberikan kepada anak usia di bawah satu tahun. Ini sangat membahayakan,&#8221; katanya.</p>
<p>Penelitian ini dilakukan sejak tahun 2003 dan terus disempurnakan, sebelum akhirnya dipublikasikan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM). Namun, dengan alasan Badan POM tidak memiliki kewenangan, penelitian baru ditindaklanjuti dalam pertemuan dengan lembaga terkait, Sabtu (23/2).</p>
<p>Dijelaskan Sri, temuan bakteri Enterobacter sakazakii pada susu formula dan bubur bayi itu baru ditindaklanjuti oleh pemerintah, dengan membentuk tim gabungan untuk mengusut kasus itu. &#8220;Kami, (Sabtu) kemarin telah melakukan rapat dengan lembaga terkait di Kantor Departemen Pertanian untuk membahas temuan kami,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut dia, berdasarkan hasil pertemuan itu diputuskan pembentukan tim gabungan yang berasal dari Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Badan POM, dan tim peneliti IPB yang melakukan penelitian tersebut. &#8220;Nantinya, masing-masing tim akan bekerja sesuai dengan kapasitasnya,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Departemen Kesehatan, misalnya, akan meneliti tentang proses pembuatannya. Departemen Pertanian pada bahan dasarnya, dan Badan POM akan melakukan pendekatan kepada produsen. &#8220;Setelah tim gabungan ini bekerja, nanti akan ditentukan langkah konkretnya,&#8221; ujar Sri.</p>
<h3>Umumkan segera</h3>
<p>Sementara itu, masyarakat meminta agar pemerintah atau Balai Besar POM Bandung segera melakukan penelusuran seputar masalah susu formula dan bubur bayi yang ditengarai mengandung Enterobacter sakazakii. Hal itu diperlukan agar masyarakat terhindar dari efek yang tidak diinginkan.</p>
<p>&#8220;Tetapi yang lebih penting, pemerintah segera mengumumkan nama susu formula dan bubur bayi yang bermasalah, agar masyarakat bisa menghindari produk beracun tersebut,&#8221; ujar Dewi, ibu dari dua anak di daerah Pasteur yang mengaku mengetahui hal itu dari internet.</p>
<p>Ketika &#8220;PR&#8221; meminta konfirmasi seputar masalah tersebut ke Balai Besar POM di Bandung, mereka menyatakan belum menerima informasi seputar masalah tersebut dari Badan POM. &#8220;Saya juga malah baru mengetahui masalah tersebut dari salah satu media elektronik siang tadi,&#8221; ujar Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen Balai Besar POM Bandung, Dra. Siti Nuraniyah kepada &#8220;PR&#8221;, Minggu (24/2).</p>
<p>&#8220;Biasanya, jika ada masalah yang harus ditindaklanjuti, Balai Besar POM Bandung menerima faksimile, dan dari sana baru kita bisa melakukan tindakan selanjutnya, sesuai dengan tugas yang diberikan. Tapi sejak Jumat kemarin, kami tidak menerima surat apa pun,&#8221; katanya. (A-34/A-62)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/02/ipb-temukan-bakteri-dalam-susu-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>22,73 Persen Susu Formula dan 40 Persen Makanan Bayi Terkontaminasi Bakteri</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/02/susu-formula-dan-makanan-bayi-terkontaminasi-bakteri-2/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/02/susu-formula-dan-makanan-bayi-terkontaminasi-bakteri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 10:04:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bakteri Enterobacter Sakazakii]]></category>
		<category><![CDATA[IPB]]></category>
		<category><![CDATA[makanan bayi]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[Republika]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Berita mengenai hasil penemuan para ilmuwan IPB tentang tercemarnya susu formula dan makanan bayi oleh bacteri Enterobacter Sakazakii yang dimuat di Republika.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sumber: <a href="http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=324118&amp;kat_id=23">Republika Online, 19 Februari 2008</a></p>
<p><strong>Bogor-RoL&#8211;</strong> Para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan antara bulan April hingga Juni 2006 telah terkontaminasi &#8220;Enterobacter sakazakii&#8221;.</p>
<p>Berdasar pengujian pada bayi mencit (tikus percobaan), kontaminasi oleh E. Sakazakii yang menghasilkan enterotoksin tahan panas dapat menyebabkan enteritis (peradangan saluran pencernaan), sepsis (infeksi peredaran darah) dan meningitis (infeksi pada lapisan urat saraf tulang belakang dan otak).</p>
<p>Dr Sri Estuningsih, jurubicara tim peneliti dalam keterangan yang dipublikasikan Kantor Humas IPB, Selasa menyebutkan bahwa sampel makanan dan susu formula yang diteliti berasal dari produk lokal.</p>
<p>Tim tersebut terdiri dari staf pengajar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, yakni drh Hernomoadi Huminto MVS, Dr drh I Wayan T. Wibawan, dan Dr Rochman Naim.</p>
<p>Menurut Sri Estuningsih, penelitian itu dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama, isolasi dan identifikasi &#8220;E.sakazakii&#8221; dalam 22 sampel susu formula dan 15 sampel makanan bayi. Selanjutnya pada tahap kedua, menguji 12 isolat &#8220;E.sakazakii&#8221; dari hasil isolasi dan kemampuannya menghasilkan enteroksin (racun) melalui uji sitolisis (penghancuran sel).</p>
<p>Dari 12 isolat yang diujikan terdapat enam isolat yang menghasilkan enteroksin. Uji selanjutnya adalah menguji isolat tersebut pada kemampuan toksin setelah dipanaskan. &#8220;Terdapat lima dari enam isolat tersebut yang masih memiliki kemampuan sitolisis setelah dipanaskan,&#8221; katanya.</p>
<p>Selanjutnya, ditentukan satu kandidat dari isolat tersebut dan menguji enterotoksin serta bakteri vegetatifnya pada bayi &#8220;mencit&#8221; (tikus percobaan) berusia enam hari. Bayi mencit diinfeksi melalui rute oral (cekok mulut) menggunakan sonde lambung khusus dan steril.</p>
<p>Setelah tiga hari, kemudian dilakukan pengambilan sampel organ mencit tersebut. Hasil pengujian enteroksin murni dan enteroksin yang dipanaskan dan bakteri mengakibatkan enteritis, sepsis dan meningitis.</p>
<p>Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan metode hispatologi menggunakan pewarnaan &#8220;Hematoksilin Eosin&#8221;. Dari hasil pengamatan histopatologis yang diperoleh masih dibutuhkan penelitian senada yang lebih mendalam untuk mendukung hasil penelitian tersebut.</p>
<p>Ia menyatakan, amat penting dipahami bahwa susu formula bayi bukanlah produk steril, sehingga dalam penggunaannya serta penyimpanannya perlu perhatian khusus untuk menghindari kejadian infeksi karena mengonsumsi produk tersebut.</p>
<p>Sri Estuningsih secara pribadi telah melihat langsung fasilitas salah satu perusahaan makanan dan susu formula dengan omzet terbesar di Indonesia.</p>
<p>&#8220;Sebagian besar fasilitas tersebut telah memenuhi standar operasional prosedur perusahaan susu formula bayi, dan saat ini masih terus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi tersebut,&#8221; katanya. antara/<strong>abi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/02/susu-formula-dan-makanan-bayi-terkontaminasi-bakteri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIMI: Kembali ke ASI sebagai Nutrisi Terbaik untuk Bayi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/02/aimi-kembali-ke-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/02/aimi-kembali-ke-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 03:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Bakteri Enterobacter Sakazakii]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[AIMI mengeluarkan siaran pers mengenai pencemaran bacteri Enterobacter Sakazakii pada susu formula dengan mengajak para ibu untuk kembali ke ASI, karena ASI adalah satu-satunya nutrisi terbaik bagi bayi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditengah maraknya berita mengenai bakteri Enterobacter Sakazakii yang mencemari berbagai produk susu formula dan makanan instan untuk bayi dan balita (yang hasil penelitiannya sebenar sudah dirampungkan oleh para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan dilaporkan kepada BPOM sejak tahun 2006), Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan ajakan untuk kembali ke Air Susu Ibu (ASI) sebagai satu-satunya sumber nutrisi yang terlengkap dan terbaik untuk bayi dan balita.</p>
<p>Ketua AIMI Mia Sutanto dalam siaran persnya mengatakan, bukti yang menguatkan pernyataan tersebut semakin tak terbantahkan. “Nutrisi dan kalori yang terkandung di dalam ASI sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi, jadi tak perlu tambahan susu formula apapun” katanya di Jakarta, kemarin (26/2).</p>
<p>ASI mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air garam dan gula yang semuanya sudah secara khusus dikomposisikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing bayi. Lebih lanjut Mia menjelaskan, ASI mengandung sel-sel hidup yang berperan sebagai zat anti infeksi dan imunitas alami untuk melindungi bayi dari berbagai ancaman penyakit. “Tentu sel-sel hidup ini tidak ada dalam produk susu formula.” katanya.</p>
<p>Oleh karena itu, “Bicara mengenai keunggulan ASI dibandingkan dengan susu formula sudah pasti sangat banyak, selain dari segi kandungan dan kecukupan nutrisi, kemudian faktor imunitas atau perlindungan tubuh, juga dari segi kedekatan ibu dan anak (bonding) yang tak akan tertandingi oleh apapun,” tambahnya.</p>
<p>Mia kemudian melanjutkan, AIMI akan secara konsisten terus menyerukan kepada seluruh ibu-ibu di Indonesia untuk kembali memberikan ASI kepada bayinya. “Jangan mempertaruhkan masa depan bayi-bayi Indonesia dengan tidak memberikan ASI, yang sudah terbukti merupakan makanan yang paling bagus, paling lengkap dan paling higienis untuk dikonsumsi oleh bayi.”</p>
<p>Memberikan ASI sebagai satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi, lanjut Mia, memang membutuhkan persiapan khusus sejak masa kehamilan. “Namun semua proses persiapan untuk memberikan ASI bisa dilakukan dengan mudah karena bekal utamanya hanyalah pengetahuan yang memadai dan pikiran positif dan niat si ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya serta dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar,” jelasnya.</p>
<p>Sesuai dengan rekomendasi WHO/UNICEF dan juga Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), untuk bayi harus diberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama dan kemudian dilanjutkan dengan MPASI (makanan pendamping ASI) yang berkualitas. ASI diteruskan hingga 2 tahun atau lebih sesuai dengan keinginan ibu dan bayi.</p>
<p>Selanjutnya, karena ASI bisa memenuhi kebutuhan kalori sebesar 100% untuk bayi yang berusia 0-6 bulan, 70% untuk usia bayi 6-12 bulan dan 30% untuk usia anak diatas 12 bulan, maka pemberian susu tambahan setelah masa ASI Eksklusif juga tidak diperlukan. “Saat ini masih banyak ibu yang berpendapat bahwa setelah masa ASI Eksklusif pemberian susu formula untuk bayi diatas 6 bulan atau diatas 1 tahun menjadi kebutuhan wajib, padahal selama anak masih mendapatkan ASI hal tersebut tidak diperlukan,” tandasnya. Mia kemudian menambahkan bahwa, apabila karena sesuatu hal orangtua memilih untuk memberikan susu formula kepada bayinya, ada 3 hal yang perlu diingat, “Susu formula bukanlah produk yang steril, tidak ada satupun susu formula yang komposisi dan kualitasnya mendekati ASI, dan pemberian susu formula bukannya tanpa resiko,” tegasnya.</p>
<p>AIMI juga sangat menyayangkan pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari bahwa temuan IPB ini merupakan salah satu bentuk perang produk. “Sangat tidak pada tempatnya Menteri Kesehatan yang seharusnya menyikapi temuan ini dengan arif dan mencermatinya secara positif, malah mengeluarkan pernyataan prematur yang cenderung bersifat defensif dan memihak pada produsen susu formula dengan mendiskriditkan temuan tersebut,” tegas Mia. Seharusnya dalam kapasitasnya sebagai Menteri Kesehatan, tujuan utamanya adalah melindungi kepentingan masyarakat (bukan kepentingan pengusaha) dengan segera menindaklanjuti temuan tersebut dan selanjutnya mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah timbulnya keresahan serta terjadinya kerugian yang lebih besar pada masyarakat. *******</p>
<p>Contact Person AIMI:</p>
<p>Mia Sutanto, Ketua<br />
<a href="mailto:mia.sutanto@aimi-asi.org">mia.sutanto@aimi-asi.org</a><br />
HP: 0815 1000 2584</p>
<p>Yuyuk Andriati, Divisi Komunikasi<br />
<a href="mailto:yeye@aimi-asi.org">yeye@aimi-asi.org</a><br />
HP: 0811 971509</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS Lt.3<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta</p>
<p>www.aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/02/aimi-kembali-ke-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.327 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-05-21 17:37:47 -->

