<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; ASI</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/asi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Peranan ASI Dalam Mencegah Obesitas Anak</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/04/peranan-asi-dalam-mencegah-obesitas-anak/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/04/peranan-asi-dalam-mencegah-obesitas-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 03:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stella Tinia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Obesitas anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1812</guid>
		<description><![CDATA[Angka kejadian obesitas pada anak sangat meningkat beberapa dekade terakhir. Data di Amerika menunjukkan 10,4% anak usia 2-5 tahun mengalami kelebihan berat badan, 15,3% pada anak 6 sampai 11 tahun, dan 15,5 % pada anak usia 12 sampai 19 tahun (Ogden et al. 2002). Kelebihan berat badan pada anak cenderung akan terbawa terus sampai anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/04/obese-baby-287x300.jpg" alt="" title="obese-baby" width="287" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1813" />Angka kejadian obesitas pada anak sangat meningkat beberapa dekade terakhir. Data di Amerika menunjukkan 10,4% anak usia 2-5 tahun mengalami kelebihan berat badan, 15,3% pada anak 6 sampai 11 tahun, dan 15,5 % pada anak usia 12 sampai 19 tahun (Ogden et al. 2002). Kelebihan berat badan pada anak cenderung akan terbawa terus sampai anak tersebut dewasa; 77 % anak dengan berat badan berlebih akan menjadi orang dewasa yang juga kelebihan berat badan (Freedman et al. 2001). </p>
<p>Apa bahaya obesitas? Obesitas merupakan faktor risiko penting pada penyakit kanker, penyakit jantung dan hipertensi, diabetes, batu empedu, serta penyakit ginjal. Mencegah anak mengalami obesitas/overweight merupakan salah satu investasi penting yg dapat orangt tua lakukan untuk kesehatan anaknya di masa mendatang.</p>
<p>Berbagai  penelitian menunjukkan bahwa menyusui dapat secara bermakna menurunkan risko serta mencegah anak dari berat badan berlebih dan obesitas.</p>
<p>Bayi yang diberi ASI memiliki kadar lemak yang lebih rendah dibandingkan bayi dengan susu formula. Pada usia 5-6 tahun, anak yg tidak pernah mendapat ASI memiliki angka obesitas 4.5%, jauh lebih tinggi dibandingkan bayi yg mendapat ASI lebih dari 12 bulan, yang memiliki angka obesitas hanya 0,8% (von Kries et al. 1999). </p>
<p>Bayi yang disusui oleh ibunya belajar mengendalikan jumlah ASI dan kalori yang dikonsumsinya dibandingkan bayi yg minum dengan botol, yg biasanya lebih sering &#8220;ditarget&#8221; untuk menghabiskan isi botol sekalipun telah merasa kenyang. Selain itu, kandungan susu formula yg padat energi dapat merangsang sistem endokrin untuk mengeluarkan lebih banyak insulin dan growth factor sehingga meningkatkan kadar lemak tubuh pada bayi tersebut. (Hediger et al. 2001).</p>
<p>Disarikan dari berbagai sumber.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/04/peranan-asi-dalam-mencegah-obesitas-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASI: Cairan Ajaib Yang Selamatkan Bayiku</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 00:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Muzdalifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[bayi prematur]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kuning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1628</guid>
		<description><![CDATA[Bahagia rasanya saat mengetahui kehamilan pertama yang ternyata kembar identik. Tapi manusia boleh berencana, Tuhan tetaplah Maha Penentu. Salah satu bayi kembarnya meninggal di dalam kandungan dan harus dilahirkan. Kembarannya yang selamat, lahir prematur. Bagaimana perjuangan ibu Lia? Yuk kita simak penuturannya ke AIMI beberapa waktu lalu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika mengetahui bahwa aku hamil kembar identik (satu kantung kehamilan), rasanya aku bahagia sekali. Aku akan dikarunia dua bayi sekaligus! Setiap bulan aku rutin memeriksakan kandungan ke dokter, untuk memastikan kedua bayiku tumbuh sehat di dalam rahimku. Kedua bayi tampak sangat sehat menurut dokterku, hingga kontrol terakhir pada usia kandungan 6 bulan.</p>
<p><strong>Ternyata Tuhan berkehendak lain</strong></p>
<p>Pada usia kandungan sekitar 6,5 bulan, keluar cairan bening yang banyak sekali dari vagina. Aku hubungi dokter dan beliau bilang tidak apa-apa, kemungkinan hanya akibat peregangan. Namun aku kemudian merasa kesakitan dan ada flek berupa darah segar. Pada hari Senin, 28 Maret 2011, dari kantor, aku segera dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, sesuai arahan dokter kandungan.</p>
<p>Ternyata menurut hasil USG, salah satu bayiku sudah meninggal. Rasa sedih tak terkira kurasakan waktu itu.</p>
<p>Setelah berkonsultasi dengan dokter, kami sepakat untuk menahan kelahiran bayi yg selamat setidaknya hingga berat badannya cukup dan usia kandungan lewat 7 bulan. Tapi ternyata badanku sudah tidak sanggup menahan kontraksi-kontraksi yang terjadi. Ternyata sudah ada pembukaan 3 cm yang terhalang dengan semacam balon.</p>
<p>Pada hari ke-3 aku dipindahkan ke RS yang lebih besar karena aku semakin kesakitan, demam, kontraksi terus menerus, dan HB turun terus. Kondisiku semakin melemah ditambah lagi harus menahan semua obat-obatan yang <div id="attachment_1636" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1101-Alhamdulillah1-abel-300x225.jpg" alt="" title="1101-Alhamdulillah(1)-abel" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1636" /><p class="wp-caption-text">Annabelle sesaat setelah lahir</p></div>masuk (termasuk penahan kontraksi yang akhirnya membuat jantungku tidak kuat). Di RS ini aku bertahan hingga hampir 2 minggu. Namun kondisiku terus melemah sehingga keluarga memutuskan agar aku segera melahirkan bayiku.</p>
<p>Hari Jum&#8217;at, 8 April 2011 aku menjalani operasi caesar dan melahirkan bayi kembarku. Annabelle (Abelle) selamat dengan berat badan 934 gram. Sedangkan Isabelle meninggal dan dimakamkan esok harinya oleh suami dan ibuku serta keluarga besarku.</p>
<p><strong>ASI untuk hidup bayiku</strong></p>
<p>Saat dirawat pasca melahirkan, para perawat bertanya apakah ASI sudah keluar. Dalam suasana duka yang terasa berat, aku kebingungan. Perawat mencoba memencet dan memijat payudaraku, tidak ada ASI yang keluar hingga beberapa hari. Sempat terpikir untuk menghubungi AIMI untuk meminta bantuan, tapi waktu itu rasanya aku tidak punya tenaga untuk berpikir. Padahal aku baru saja menjadi anggota AIMI dan menerima paket member saat dirawat di RS.</p>
<p>Aku baru bisa menemui Abelle pada hari ke-3, di ruang NICU. Dia begitu mungil dan kelihatan tidak berdaya. Banyak yang dialami Abelle, mulai dari kuning, menjalani cuci darah, nyaris menjalani operasi penutupan saluran jantung dan lain-lain. Syukurlah beberapa teman kantorku bersedia menjadi donor darah buat Abelle. Sementara ASI ku <div id="attachment_1637" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah-300x225.jpg" alt="" title="1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1637" /><p class="wp-caption-text">Beberapa hari setelah lahir, seusai disinar. Lengan Abelle hanya sejari ayah.</p></div>belum keluar, Abelle diberikan cairan NaCl (kalau tidak salah) melalui tali pusarnya yang disambung dengan semacam selang kecil seolah-olah tali pusar masih tersambung dengan ibu.  </p>
<p>Aku berniat tidak membiarkan Abelle diberi formula. Aku bertekad bagaimanapun caranya, ASI ku harus keluar! Hanya ASI yang baik untuk perkembangan berat badan dan kesehatannya. Semua dokter dan perawat mengatakan bahwa ASI penting sekali untuk perkembangan bayi prematur.</p>
<p>Mendengar penjelasan dokter dan perawat, aku makin stress karena ASI masih belum keluar. Tapi aku terus berusaha. Memijat, mengompres terus aku lakukan walau belum kelihatan hasilnya. Semua teman dan keluarga selalu memberi dukungan, khususnya Mamaku dan suamiku.</p>
<p>Akhirnya suatu hari keluar sedikit cairan bening seperti susu.  Subhanallah. Aku meneteskan air mata saat itu. ASI hanya keluar setetes demi setetes, namun aku terus berusaha. Dalam waktu 2-3 jam aku berhasil mendapatkan 5-6 ml ASI. Walau sedikit, aku merasa sangat bahagia dan langsung aku antar untuk Abelle di ruang NICU.  Keesokan harinya aku pompa lagi dan dalam 2 jam dapat 10 ml. Aku makin semangat.</p>
<p>Hari demi hari aku jalani dengan niat dan semangat. ASI-ku harus ada untuk asupan bayiku yang sangat membutuhkannya. Alhamdulillah, hari demi hari ASI terus bertambah. Dari 2 jam 10 ml, menjadi 20 ml, 30ml. Dari 2 jam menjadi 1 jam. Sekarang aku bisa memompa 100-250 ml dalam 15 – 20 menit. Subhanallah. </p>
<p>Saat itulah aku percaya, jika kita terus berusaha, pasti akan berhasil, dalam keadaan apapun. Ternyata benar kata orang, setiap wanita pasti bisa menyusui, termasuk aku. Melahirkan bayi prematur, dalam keadaan sakit. Dengan semangat dan niat, akhirnya berhasil juga memproduksi ASI yang cukup. </p>
<p>Abelle akhirnya bisa pulang ke rumah pada 3 Juni 2011 di usia hampir 2 bulan dengan BB 1,770 kg.</p>
<p><strong>Menikmati perjuangan</strong></p>
<p><div id="attachment_1653" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-Juni-2011-1770kg-300x225.jpg" alt="" title="1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1653" /><p class="wp-caption-text">3 Juni 2011 - Persiapan pulang ke rumah (BB: 1770 gr)</p></div>Alhamdulillah hingga kini Abelle hanya minum ASI dari aku saja. Selama 3 hari pertama ia dipuasakan, dan hanya dengan cairan NaCl melalui tali pusar hingga aku dapat menyetor ASI kepada Abelle.</p>
<p>Sekarang Abelle sudah menginjak usia 7 bulan sejak usia kelahirannya dan masih full ASI. Berat badannya sudah lebih dari 5 kg! Abelle belum diberikan MPASI, karena dokter menyarankan untuk menunda MPASI dulu.</p>
<p>Aku sadar perjuanganku tidak berhenti sampai disini. Setelah cuti dari pekerjaan selama 6 bulan lamanya, aku kembali bekerja sebulan yang lalu. Rasa khawatir sempat menyerang, pikiran dipenuhi akan cukup atau tidak ASI-ku untuk Abelle serta bagaimana manajemen ASIP di hari-hari yang sangat sibuk.</p>
<p>Aku menyampaikan pada rekan kerja dan atasan bahwa pada jam kerja aku akan meminta izin untuk memompa ASI. Syukurlah mereka bisa mengerti. Sekarang tugasku adalah semangat dan rajin memompa!</p>
<p>Walau kadang-kadang jumlah ASIP yang diminum Abelle lebih banyak daripada yang aku perah, namun Alhamdulillah hingga hari ini ASIP untuk Abelle cukup dan ready stock hehehe. Namun, aku selalu susui Abelle langsung jika aku di rumah.  Sempat mesin pompa rusak, masya Allah paniknya setengah mati, karena sudah sangat cocok dengan produk tersebut. Akhirnya aku mulai belajar memerah dengan tangan, Subhanallah ternyata mudah!</p>
<p><strong>Menyusui itu berkah</strong></p>
<p><div id="attachment_1658" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1123-Annabelle-today-300x225.jpg" alt="" title="1123-Annabelle-today" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1658" /><p class="wp-caption-text">Annabelle sekarang</p></div>Untuk para ibu dan calon ibu, semangat terus yaaa. Never give up! Give the best for your baby(ies). Anak adalah berkah dan amanat dari Tuhan yang tak ternilai. ASI lah yang terbaik untuk anak kita.</p>
<p>Merasa sedih, ketakutan hingga menangis, berkali-kali aku alami tapi aku berusaha untuk kembali <em>positive thinking</em>. Suami terus mendukung dan menyemangatiku. Sekarang aku percaya bahwa setiap Ibu pasti bisa menyusui. </p>
<p>Mohon doa agar anakku Annabelle Maleeka Victoria Putransyah selalu disehatkan dan disempurnakan tumbuh kembangnya. Semoga aku bisa lanjuuuutt menyusuinya sampai semaksimal yang aku mampu. Aamiin.</p>
<p>PS. Terimakasih Ayah Alfa yang sudah sangat baik dan sangat supportive selama ini, Ibu tidak bisa lakukan ini semua tanpa dukungan Ayah&#8230; (hiks hiks terharu lagi)&#8230;</p>
<p><small>*) seperti diceritakan oleh Lia Muzdalifah kepada AIMI</small></p>

<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1101-alhamdulillah1-abel/' title='1101-Alhamdulillah(1)-abel'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1101-Alhamdulillah1-abel-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sesaat setelah lahir" title="1101-Alhamdulillah(1)-abel" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah/' title='1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Beberapa hari setelah lahir, seusai disinar. Lengan Abelle hanya sejari ayah." title="1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n/' title='1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n" title="1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n/' title='1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n" title="1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/attachment/1105/' title='1105'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1105-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1105" title="1105" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1106-abelborn1/' title='1106-abelborn1'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1106-abelborn1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1106-abelborn1" title="1106-abelborn1" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1107-cuci-darah-ke-2/' title='1107-Cuci-darah-ke-2'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1107-Cuci-darah-ke-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Cuci darah ke-2" title="1107-Cuci-darah-ke-2" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1108-img01764-20110425-1122/' title='1108-IMG01764-20110425-1122'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1108-IMG01764-20110425-1122-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1108-IMG01764-20110425-1122" title="1108-IMG01764-20110425-1122" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1109-img01864-20110426-1135/' title='1109-IMG01864-20110426-1135'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1109-IMG01864-20110426-1135-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1109-IMG01864-20110426-1135" title="1109-IMG01864-20110426-1135" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1110-img01898-20110427-1124/' title='1110-IMG01898-20110427-1124'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1110-IMG01898-20110427-1124-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1110-IMG01898-20110427-1124" title="1110-IMG01898-20110427-1124" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1111-img01916-20110427-1139/' title='1111-IMG01916-20110427-1139'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1111-IMG01916-20110427-1139-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1111-IMG01916-20110427-1139" title="1111-IMG01916-20110427-1139" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1112-img01999-20110428-1221/' title='1112-IMG01999-20110428-1221'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1112-IMG01999-20110428-1221-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1112-IMG01999-20110428-1221" title="1112-IMG01999-20110428-1221" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1113-alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas/' title='1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Alhamdulillah, alat bantu napas sudah bisa dilepas" title="1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1114-img02295-20110511-1744/' title='1114-IMG02295-20110511-1744'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1114-IMG02295-20110511-1744-150x150.png" class="attachment-thumbnail" alt="1114-IMG02295-20110511-1744" title="1114-IMG02295-20110511-1744" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan/' title='1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Belajar adaptasi suhu ruangan" title="1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1116-kangaroo-mother-care/' title='1116-kangaroo-mother-care'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1116-kangaroo-mother-care-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Kangoroo Mother Care (KMC)" title="1116-kangaroo-mother-care" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1117-proses-kangaroo-mother-care/' title='1117-proses-Kangaroo-mother-care'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1117-proses-Kangaroo-mother-care-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Proses KMC" title="1117-proses-Kangaroo-mother-care" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-juni-2011-1770kg/' title='1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-Juni-2011-1770kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="3 Juni 2011 - Persiapan pulang ke rumah (BB: 1770 gr)" title="1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1119-persiapan-pulang-ke-rumah-1770kg/' title='1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1,770kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1770kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Persiapan  pulang ke rumah" title="1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1,770kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1120-21kg/' title='1120-2,1kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1120-21kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="2,1 kg" title="1120-2,1kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1121-img_0404/' title='1121-IMG_0404'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1121-IMG_0404-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1121-IMG_0404" title="1121-IMG_0404" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1122-3kg/' title='1122-3kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1122-3kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="3 kg..!!!" title="1122-3kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1123-annabelle-today/' title='1123-Annabelle-today'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1123-Annabelle-today-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1123-Annabelle-today" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1124-annabelle-today-2/' title='1124-Annabelle-today-2'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1124-Annabelle-today-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1124-Annabelle-today-2" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1125-annabelle-today-3/' title='1125-Annabelle-today-3'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1125-Annabelle-today-3-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1125-Annabelle-today-3" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1126-annabelle-today-4/' title='1126-Annabelle-today-4'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1126-Annabelle-today-4-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1126-Annabelle-today-4" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1127-annabelle-today-5/' title='1127-Annabelle-today-5'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1127-Annabelle-today-5-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1127-Annabelle-today-5" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>135</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASI Eksklusif Untuk Bayi Kembarku</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 00:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wilda Choir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui bayi kembar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1444</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah cerita sukses dari seorang ibu yang berhasil memberikan ASI Eksklusif bagi bayi kembarnya, walaupun beliau merupakan ibu bekerja. Simak perjuangannya dan tips agar kedua bayi kembarnya mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I got twin. How blessed I am.</strong></p>
<p>Dianugrahi  ‘satu paket’ bayi kembar yang cantik bagi saya merupakan  doa yang menjadi kenyataan.  Memiliki anak kembar adalah salah satu ‘obsesi’ saya sejak dulu. Rasanya amat sangat bahagia dan ajaib banget bisa merasakan  ada dua makhluk hidup yang berkembang di dalam tubuh kita. Pihak kakek saya mempunyai banyak keturunan anak kembar, jadilah saya punya harapan besar kepada Tuhan agar bisa diberikan keturunan kembar.</p>
<p>Alhamdulillah doa saya didengar &#038; dikabulkan Allah SWT. Tepat pada ulang tahun ke 29, saya ‘divonis’ dokter <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-twins-300x217.jpg" alt="" title="06-twins" width="300" height="217" class="alignleft size-medium wp-image-1446" />sedang hamil dengan dua telur alias kembar!! Waahh, <em>speechless</em> rasanya. Saya menjadi wanita paling beruntung di seluruh jagad raya. 9 bulan menikmati masa kehamilan, akhirnya tanggal 27 Juli 2010 saya bisa merasakan si kembar hangat dalam pelukan. Air mata bahagia menetes. Bersyukur atas semua karunia Allah SWT. Lalu saya dedikasikan kepada ibu dan mertua untuk memberikan nama buat si kembar, Amira Tsania Nazmi (2580gr) &#038; Azkiya Aufa Khateen (2200gr). Selamat datang, Sayaang.</p>
<p><strong>Having twin is not double trouble, but twice blessed.</strong></p>
<p>Ok, jadi saya memiliki satu anak usia 4 tahun, Alika, yang sedang aktif-aktifnya, dan bayi kembar perempuan yang selalu membuat suasana tambah heboh dan seru hohoho. Ini bukan teori atau mitos loh, tapi saya mengalami sendiri punya anak kembar itu nangisnya bareng, BABnya bareng, bangun tidurnya bareng, saat tidur pun bergerak ke arah yg sama juga bareng. BBA deh (bener-bener ajaib). Untungnya saya memiliki ‘partner hidup’ yang canggihnya luar biasa yaitu suami. Kalau dulu mengurus anak pertama kami bisa bekerja sama dengan baik, kenapa sekarang tidak?</p>
<p><div id="attachment_1454" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-menyusui-kembar-1-240x300.jpg" alt="" title="06-menyusui-kembar-1" width="240" height="300" class="size-medium wp-image-1454" /><p class="wp-caption-text">Menyusui si kembar saat berusia 2 bulan</p></div>Karena terbiasa olahraga (saya pencinta alam yg hobi naik gunung loh), hasilnya fisik saya tetap sehat selama mengurus si kembar, walau sesekali terkena flu. Jadi saat punya anak kembar yang hampir tiap jam menyusui dan terjaga semalaman – seharian pun, saya tetap dengan menikmati ‘bermain-main’ bersama. Dan kalau ditengah malam si kakak akhirnya terbangun ikutan main, saya tetap tersenyum walau sambil merem melek *ngantuk maksudnya*. Alhamdulillah saya gak pernah mengeluh kecapean. Selalu takjub dan terharu melihat ada dua bayi sekaligus dalam dekapan saya. Bahkan saat Alika, Amira + Azkiya jejeritan tengah malam, saya malah merasa lucu melihatnya dan akhirnya ikutan jerit-jerit/main-main juga. Ga bisa di jelaskan dengan kata-kata gimana bahagianya. </p>
<p>Peran suami terasa sangat besar terutama di saat-saat begadang tersebut. Sering terjadi saat begadang saya kelaparan. Biasanya dengan sangat pengertian, suami akan membuatkan saya kentang atau nasi goreng. Atau bergantian menjaga si kembar sementara saya tidur sebentar.</p>
<p>Suami saya jago memandikan si kembar loh. Ganti popok gak ada masalah. Gendong pake kain pun bisa. Ada perkataannya yang sampai sekarang membuat saya selalu bersyukur, ”Bun, cuma dua hal yang gak bisa aku lakuin, yaitu hamil dan melahirkan. Tapi selain itu, gak ada yang bisa menghalangi aku untuk menunjukkan rasa sayang terhadap bunbun. Maafin bapak ya cuma bisa bantuin bunbun sebisanya. Mudah2an bunbun iklhas”. Hiks, terharu. Pokoknya suamiku hebat deh, Insya Allah.</p>
<p>Selain itu semua anggota keluarga juga sangat membantu dengan baik dalam merawat. Memang sih kadang-kadang orang tua panik kalau si kembar rewel, nangis bareng gak bisa diam. Bingung takut ada apa-apa sama si kembar. Tapi untungnya saya gak ikut-ikutan panik. Biasanya saya lebih banyak diam, menahan diri untuk tidak bersikap responsif walau sulit. Kalau gak bisa menahan emosi, saya lebih memilih menangis pelan-pelan. Sambil nangis, sambil peluk si kembar. Waahh, obat paling mujarab menyembuhkan segala macam penyakit hati. Jadi gak ada alasan buat saya merasa stress punya anak kembar. Apalagi ‘<em>baby blues</em>’, Alhamdulillah gak ngalamin. Kalau saya merasa bosan di rumah terus, dengan senang hati suami membawa saya dan semua anak-anak sekedar jalan-jalan ke mall.</p>
<p><strong>Bunda bekerja, memberikan ASIX buat si kembar? Pasti bisa!</strong></p>
<p>Seheboh dan serepot apapun mengurus anak kembar saya selalu yakin bahwa Tuhan sudah menseleksi, mengukur kemampuan umat-Nya dan kemudian memilih saya untuk dititipi anak kembar. Jadi saya selalu yakin semua masalah PASTI ada jalan keluarnya.</p>
<p>Tetap menjadi seorang wanita karier adalah pilihan saya, dengan resikonya yang harus saya tanggung. Dibalik kebahagiaan pasti selalu Tuhan selipkan ujian kepada umatnya semata-mata untuk mengukur kesabaran umat-Nya. Buat saya bekerja tidak menjadi halangan ataupun alasan untuk tidak memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya. Selain IMD, sukses ASI eksklusif untuk si kembar menjadi prioritas utama setelah melahirkan.</p>
<p>Ini bukan kali pertama saya menyusui. Waktu anak pertama dulu, Alika (4 tahun), Alhamdulillah saya bisa menyusui sampai usia 2,5thn. Saya pikir kalau dulu bisa, kenapa sekarang tidak. Berharap bisa berhasil seperti kakaknya, saya dengan optimis mempersiapkan segala sesuatunya. Membekali diri saya dengan informasi yang berhubungan dengan anak kembar, konsultasi dan berbagi pengalaman dengan teman yang memiliki anak kembar, menjaga kondisi tubuh agar selalu sehat dan mengkonsumsi hanya makanan bergizi, selalu berusaha berpikir positif –jangan stress- serta menyiapkan mental untuk menghadapi ‘medan perang’. </p>
<p><div id="attachment_1455" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-menyusui-kembar-2-240x300.jpg" alt="" title="06-menyusui-kembar-2" width="240" height="300" class="size-medium wp-image-1455" /><p class="wp-caption-text">Menyusui si kembar saat berusia 8 bulan</p></div>Sayangnya semua teman yang memiliki anak kembar tidak berhasil memberikan ASI eksklusif kepada anak-anaknya. Padahal mereka tidak bekerja. Lalu bagaimana dengan saya yang bekerja? Saya mulai gak pede. Permasalahan lain timbul ketika kami kesulitan mencari babysitter untuk si kembar. Karena gaji babysitter yang tinggi, kami memutuskan untuk mencari satu babysitter dengan dibantu PRT. Tapi ternyata hampir semua yayasan memiliki kebijakan yang sama, satu bayi di urus satu babysitter. Huhuhu mahal banget. Setelah mencari sana sini, akhirnya dapat rekomendasi yayasan yang bagus, yang bersedia mengurus anak kembar dengan hanya dibantu PRT. Dan bersyukur sampai saat ini babysitter saya terbukti sayang sama si kembar, bisa diandalkan dan bekerjasama baik dengan PRT saya. Alhamdulillah, satu masalah terlewati. </p>
<p>Rasanya waktu berjalan sangat cepat, gak sadar hampir sebulan lagi saya harus kembali bekerja. Dan saya masih belum dapat jawaban berapa kira-kira kebutuhan ASI perah (ASIP) bayi kembar selama ditinggal bekerja. Masalah lain timbul ketika si kembar saya coba kasih ASI perah dengan dot, gelas kecil ataupun sendok selalu menolak. Bagaimana ini?</p>
<p>Ok, permasalahan yang sama juga timbul saat dulu anak pertama. Jadi kurang lebih saya sudah punya gambaran solusinya. Dan dengan terpaksa saya pisah kamar selama dicoba kasih ASIP dan membiarkan anak saya menangis. Hiks hiks, ngilu dan sakit dengernya. (Saya sering nangis diam-diam loh demi ga keliatan sama orangtua). Tapi harus dijalanin supaya nanti saat ditinggal bekerja mereka terbiasa. Alhamdulillah, si kembar Azkiya akhirnya mau minum ASIP. Jadi tinggal si kembar Amira yang saat itu belum berhasil mau minum ASIP. Perjuangan masih panjang, jreng jreng jreng jreng..!!!</p>
<p><strong>Manajemen ASIP</strong></p>
<p>Secara teori ada yang mengatakan kebutuhan ASIP bayi per hari berdasarkan BB x 100ml. Jadi kalau BB bayi 5 kg, dibutuhkan 500 ml ASIP per harinya. Dan teori tersebut terbantahkan saat saya coba memberikan Azkiya ASIP. Dalam waktu setengah hari (pagi – siang) saja stok ASIP saya sudah habis 6 botol @120 ml. Artinya sekitar 700ml habis dalam waktu beberapa jam dan oleh satu bayi saja. Langsung panik dan mulai stress. Tarik nafas dalam-dalam dan berpikir jernih lagi. Saat itu masih ada waktu sekitar 3 minggu untuk perbanyak stok ASIP. Bismillah.</p>
<p>Alhamdulillah, saya dikasih ASI yang cukup berlimpah oleh Tuhan. Ga ada makanan khusus perbanyak ASI ko. Cuma saya sudah komitmen pada diri sendiri aja demi anak, saya makan yang bergizi dan sehat. Susu kaya kalsium yang saya suka aja, gak harus susu untuk ibu menyusui. Saya juga gak konsumsi vitamin apa-apa. Pokoknya makan apa aja, alhamdulillah diganti menjadi ASI. Dan pastinya harus selalu berpikir postif. Kalau ada masalah cuek aja, jangan terlalu kepikiran apalagi sampai stress karena pasti sangat berpengaruh ke produksi ASI. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-asip-300x225.jpg" alt="" title="06-asip" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1447" />Untuk stok ASIP biasanya saya lakukan sebelum menyusui si kembar. Karena saya lebih sering menyusui tandem, jadi sepertinya gak ada kesempatan memerah ASI kalau dilakukan setelah menyusui dan dibiasakan minum air hangat satu gelas penuh setelah menyusui. Kira-kira 2 minggu sebelum mulai bekerja saya sudah mulai stok ASIP. Peralatan ‘tempur’ juga sudah siap. Karena saya ‘pejuang ASI tangan sakti’ yang memerah ASI hanya dengan menggunakan tangan, jadi gak perlu beli pompa. Beberapa botol kaca, bantal menyusui, botol susu, dan cooler bag. Untuk simpan ASIP saya hanya memakai kulkas kecil, yang setiap harinya selalu ada maksimal 35 botol ASIP @120-150 ml untuk stok (kulkasnya gak cukup untuk menyimpan lebih dari 35 botol). Kulkas yang besar gak memungkinkan untuk menyimpan ASIP. Selain itu juga rotasi keluar-masuk ASIP saya sangat besar dan gak pernah ASIP bertahan lama di kulkas, jadi gak perlu beli freezer khusus ASIP.</p>
<p>Hari pertama masuk kerja saya pergi dengan memikul beban berat di hati. Selain gak tega ninggalin anak, ternyata si kembar Amira masih ga mau minum ASIP menggunakan media apapun. Bingung dan gelisah tingkat tinggi waktu itu. Kepikiran nanti gimana kalau Amira kelaperan, kecapean nangis, dll. Untungnya mama, suami, babysitter dan semua anggota keluarga menenangkan saya dan meyakinkan Insya Allah pasti mau. </p>
<p>Untuk kesekian kalinya saya percaya Tuhan bekerja dengan cara misterius. Entah gimana caranya Amira langsung mau minum ASIP. Gak pake nangis, gak pake nolak tinggal glek glek glek trus tidur. ALHAMDULILLAH, terlewati lagi satu masalah. Bunda senang, hati riang, kerja pun tenang.</p>
<p>Lagi-lagi saya dapat ‘<em>shock therapy</em>’ sepulang kerja hari pertama. Ternyata eh ternyata selama ditinggal kerja dari jam 8 pagi – 6 sore si kembar menghabiskan ASIP sebanyak 1300-an ml. Dan berdasarkan laporan dari babysitter, si kembar kalau gak ditidurin bisa minum ASIP setiap 1 jam sekali *hampir pingsan* Beruntung ASI saya cukup. Pernah loh dalam sehari saya menghasilkan 1000-an ml ASIP. Gak percaya juga. Saya termasuk tipe orang ‘<em>easy going</em>’, gak takut memikirkan kalau-kalau ASI saya gak cukup untuk si kembar. Dan teratur perah ASI harus menjadi komitmen yg kuat dalam diri sendiri. </p>
<p>Ini kira-kira gambaran jadwal perah ASI saya waktu target memberikan ASI eksklusif 6 bulan pertama:</p>
<ul>
<li>Jam dua dinihari</li>
<li>Sekitar jam 4 atau jam 5 subuh</li>
<li>Jam 7 pagi, lalu sebelum berangkat kerja menyusui si kembar sampai payudara terasa kosong</li>
<li>Jam 10 pagi (di kantor)</li>
<li>Jam 1 siang (setelah makan siang)</li>
<li>Jam 3 sore. Diselingi shalat Ashar lalu lanjut lagi (biasanya payudara sedang terasa penuh banget jam segini)</li>
<li>1 kali memerah selama perjalanan pulang</li>
<li>Jam 8 malam</li>
<li>Jam 11 malam</li>
</ul>
<p>Dengan ‘pendapatan’ ASIP yang lebih sedikit dibandingkan yang diminum si kembar, adakalanya saya ‘kejar-kejaran’ stok ASIP. Setelah dihitung-hitung, harus selalu tersedia MINIMAL stok ASIP sebanyak 3000 ml per hari. Pernah terpaksa saya harus ijin gak masuk kerja demi memenuhi stok ASIP yang berkurang. Pernah juga produksi ASI sedikit karena sakit. Yang membuat saya senang, di kantor banyak yang sama-sama menjadi pejuang ASI. Jadi kalau waktunya memerah, nursing room pasti rame dan seru, sambil ngomongin anak-anak. Kadang-kadang kami iseng ‘balapan’ perah ASI. Siapa yang selalu menjadi pemenang? Akuuu. Selalu lebih cepat peras dan lebih banyak. Hihihi.</p>
<p>Oiya, ada tips lucu agar rutinitas pemberian ASIP tidak membosankan. Biasanya suami ‘mendominasi’ pemberian label pada stok ASIP. Selain diberi tanggal perah, volume ASIP juga ditambahi judul yang lucu-lucu. Misalnya ‘obat cantik, obat sabar, obat keren kaya bapak, obat mirip bapak, dll’. Dan hasilnya? Tetep si kembar miripnya sama bunda, bukan sm bapaknya <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-jilbab-twin-300x227.jpg" alt="" title="06-jilbab-twin" width="300" height="227" class="alignleft size-medium wp-image-1445" /><em>I really enjoy breastfeeding my twins</em>. Alhamdulillah si kembar Amira-Azkiya bisa melewati journey of ASI eksklusif-nya, sedikit tersendat tapi berhasil melewati semua rintangan. Dan bersyukur sampai saat ini masih diberikan ASI (dan MPASI) tanpa dicampur sufor. Lebih bersyukur lagi saya bisa mendonorkan ASIP saya kepada bayi lain yang membutuhkan. Subhanallah, Alhamdulillah wa Syukurillah. Atas ijin dan semua karunia dari-Mu Ya Allah saya bisa menjalankan tugas sebagai ibu yang selalu berusaha menjadi lebih baik dari kemarin. Semoga tiap tetes ASI yang berharga bisa menghantarkan anak-anakku menjadi manusia yang cantik, shalihah, baik &#038; bermanfaat bagi sesama.  Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>99</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Poling Januari 2011 &#8211; Tanda Bayi Menyusu dengan Baik</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/02/ulasan-poling-januari-2011-tanda-bayi-menyusu-dengan-baik/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/02/ulasan-poling-januari-2011-tanda-bayi-menyusu-dengan-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 03:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inna Banani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Posisi Menyusui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1268</guid>
		<description><![CDATA[Senang sekali melihat jawaban polling dari pertanyaan “yang BUKAN tanda bayi menyusu dengan baik” Ada sebanyak 42% yang menjawab “ Kepala bayi menengok pada ibu”. Jawaban tersebut memang merupakan jawaban yang benar. Kelahiran bayi merupakan suatu yang ditunggu. Di awal kehidupan bayi, baik ibu dan bayi sama-sama belajar bagaimana agar kegiatan menyusu menjadi nyaman. Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Senang sekali melihat jawaban polling dari pertanyaan “yang BUKAN tanda bayi menyusu dengan baik” Ada sebanyak 42% yang menjawab “ Kepala bayi menengok pada ibu”. Jawaban tersebut memang merupakan jawaban yang benar. </p>
<p>Kelahiran bayi merupakan suatu yang ditunggu. Di awal kehidupan bayi, baik ibu dan bayi sama-sama belajar bagaimana agar kegiatan menyusu menjadi nyaman. Dalam proses tersebut ibu baru sering kali menemukan bahwa bayinya terlihat mudah lapar dan sering menangis. Tidak jarang puting ibu juga luka atau lecet.</p>
<p>Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan kondisi tersebut. Segera datangi Konselor Laktasi merupakan hal terbaik sehingga Konselor dapat melihat langsung apa yang bisa dibantu. Namun ibu baru juga bisa melihat sendiri terlebih dahulu apakah posisi dan perlekatan bayi dalam menyusu sudah benar.</p>
<p><strong>Posisi yang Nyaman</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/01-bf-positions-270x300.jpg" alt="" title="01-bf-positions" width="270" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1269" />Cari posisi yang nyaman untuk menyusui. Dekatkan bayi ke payudara dengan kepala dan badan bayi satu garis lurus, seluruh badan bayi menghadap ke ibu.  Mulut bayi berhadapan langsung dengan payudara ibu.</p>
<p><strong>Tanda Perlekatan yang baik</strong></p>
<p>Ketika posisi yang nyaman sudah di dapat, pastikan bayi membuka mulutnya dengan lebar. Langkah ini penting karena bila bayi hanya mendapat puting saja maka bayi tidak mendapat ASI cukup dan puting ibu akan lecet.  Pastikan sebagian besar aerola (area gelap sekitar puting) masuk ke dalam mulut bayi dengan aerola bagian atas terlihat lebih banyak dibanding  bagian bawah.  Bibir bawah bayi harus terpuntir keluar , di mana mulut bayi akan terlihat seperti mulut ikan. Terakhir dagu menempel pada payudara agar hidung bayi tetap dapat bernapas. Jika semua berjalan dengan baik, maka bayi akan mendapat ASI secara maksimal. Tentunya butuh beberapa kali latihan sampai <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/01-latch-on.jpg" alt="" title="01-latch-on" width="197" height="207" class="alignright size-full wp-image-1270" />akhirnya ibu dan bayi menjadi mahir. Yang terpenting selalu rileks dan sabar agar ibu dan bayi bisa sama-sama merasa nyaman dalam kegiatan yang menyenangkan ini.</p>
<p>Terima kasih atas partisipasi untuk mengikuti polling ini. Nantikan ulasan polling selanjutnya!</p>
<p><small>Sumber:<br />
<a href="http://www.llli.org/FAQ/positioning.html#Is%20My%20Baby%20Latched%20on%20Well?">http://www.llli.org/FAQ/positioning.html#Is%20My%20Baby%20Latched%20on%20Well?</a><br />
<a href="http://www.askdrsears.com/html/2/t021000.asp">http://www.askdrsears.com/html/2/t021000.asp</a><br />
<a href="http://selasi.net/artikel/kliping-artikel/tips-menyusui/26-posisi-dan-pelekatan-menyusui.html">http://selasi.net/artikel/kliping-artikel/tips-menyusui/26-posisi-dan-pelekatan-menyusui.html</a></small></p>
<p><small>Gambar:<br />
Breastfeeding position <a href="http://gomestic.com/family/proper-breastfeeding/">http://gomestic.com/family/proper-breastfeeding/</a><br />
Latch on <a href="http://www.drugs.com/cg/breastfeeding-twins-aftercare-instructions.html">http://www.drugs.com/cg/breastfeeding-twins-aftercare-instructions.html</a> </small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/02/ulasan-poling-januari-2011-tanda-bayi-menyusu-dengan-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASI dan Penggunaan Obat Rasional</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/01/asi-dan-penggunaan-obat-rasional/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/01/asi-dan-penggunaan-obat-rasional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 05:01:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dr. Fransisca Handy, SpA, IBCLC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Rational Used of Drugs]]></category>
		<category><![CDATA[RUD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1206</guid>
		<description><![CDATA[Air susu ibu (ASI) tidaklah asing lagi ditelinga kita dan semua orangtua yang mendapatkan informasi dan dukungan yang tepat pasti berharap dapat memberi ASI pada bayinya sesuai dengan standard emas pemberian makan pada bayi. Namun apakah yang dimaksud dengan penggunaan obat rasional (POR)? Apa hubungan ASI dengan POR ?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Air susu ibu (ASI) tidaklah asing lagi ditelinga kita dan semua orangtua yang mendapatkan informasi dan dukungan yang tepat pasti berharap dapat memberi ASI pada bayinya sesuai dengan standard emas pemberian makan pada bayi. Namun apakah yang dimaksud dengan penggunaan obat rasional (POR)? Apa hubungan ASI dengan POR ?</p>
<p>Tahukah ayah ibu sekalian, bahwa menggunakan obat secara rasional pada bayi di saat sakit ternyata amat membantu agar manfaat ASI dapat benar-benar optimal diperoleh sang bayi?</p>
<p>Mari kita telaah apa saja yang ada dalam standard emas makanan bayi. Yang pertama tentu Inisiasi Menyusu Dini. Selama proses IMD bayi diletakkan di dada ibu, bersentuhan kulit dengan kulit dan ketika bayi mulai berusaha mencari dia akan menjilati kulit dada dan payudara ibunya. Apakah yang didapat sang bayi dari kulit ibu: bakteri baik. Ya, di kulit kita terdapat jutaan sel bakteri baik yang melindungi kulit agar bakteri jahat dan jamur tidak tumbuh. Bakteri baik ini akan masuk ke dalam usus bayi dan berkembang biak di sana, melindungi bayi dari penyakit diare akibat bakteri jahat. Terlebih bila sang bayi lahir secara normal, ada begitu banyak bakteri baik di sepanjang jalan lahirnya. Setelah IMD, tentu dilanjutkan dengan ASI eksklusif selama 6 bulan. Setiap kali menyusu pada payudara, tentu bayi mendapat asupan bakteri baik tembahan baik lewat sentuhan mulut bayi dengan payudara maupun lewat ASI itu sendiri. Zat kekebalan yang dibawa ASI tentu bukan hanya bakteri baik, tapi ada aneka sel darah putih dengan macam-macam fungsi dalam jumlah berlimpah mulai dari anti-in26feksi, anti radang, pelapis usus, anti alergi dan sebagainya. Setelah berusia 6 bulan, bayi mulai mendapat makanan pendamping alami. Apakah yang terkandung dalam makanan pendamping alami yang tidak akan terdapat dalam makanan olahan pabirk? Enzim, vitamin dan mineral alami yang juga punya daya perlidungan luar biasa bagi bayi.</p>
<p>Sekarang, mari kita telaah perjalanan kesehatan bayi kita. Secara umum ketika usia 6 bulan, bayi akan mulai sakit ringan yang ditandai dengan gejala seperti batuk, pilek, demam dan diare atau muntah. Hal ini disebabkan oleh zat kekebalan dari ibu yang telah mulai menurun kadarnya, ASI yang mulai tergantikan dengan makanan pendamping ASI serta mobilitas / pergerakan bayi yang mulai meningkat.  Batuk, pilek, demam dan diare dialami semua bayi karena ini adalah bagian dari tumbuh kembang bayi. Coba kita perhatikan di sekitar kita, adakah balita di atas usia 6 bulan yang sama sekali tidak pernah batuk pilek demam dan diare?</p>
<p>Namun, apakah yang umumnya terjadi pada bayi di saat ia sakit? Orangtua akan membawanya ke fasilitas kesehatan (dokter atau bidan) dan sepulang dari dokter / bidan orangtua akan dibekali dengan satu atau lebih obat. Puyer berisikan beberapa obat yang disatukan disertai sirup anti demam umumnya diberikan. Antibiotik tak lupa disertakan, dapat disertakan dalam puyer atau pun dalam bentuk sirup yang terpisah. Lihatlah 2 contoh resep di bawah ini:</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1213" title="01-resep" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-resep.jpg" alt="" width="430" height="260" /></p>
<p>Resep yg sisi kiri diberikan pada bayi 1 bulan, ASI eksklusif, dgn keluhan “flu”. Resep sisi kanan diberikan pada bayi 3 bulan, ASI eksklusif, dengan diare akut, tanpa perdarahan.  Rasionalkah? Kedua resep puyer ini mengandung Luminal, obat anti kejang, untuk apa bayi batuk pilek atau diare dapat obat anti kejang? Efek sampingnya amat berbahaya: perlambatan irama jantung, tekanan darah rendah, henti napas dan depresi sistem saraf pusat. Rewel bukan indikasi pemberian obat anti kejang, rewel lumrah terjadi saat sakit, tenangkan dengan menyusui. Kedua resep ini juga mengandung antibiotik (eritrhomycin dan nifural) yang sama sekali tidak diperlukan. Obat-obat lain dalam resep ini juga tidak ada pada pedoman batuk pilek dan diare tanpa perdarahan.</p>
<p>Gejala batuk pilek demam dan diare sebagian besar disebabkan oleh virus.  Virus ini pada umumnya adalah self limiting disease atau sembuh sendiri.  Sementara antibiotik  HANYA dapat mematikan atau melemahkan bakteri, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-obat-anak-300x300.jpg" alt="" title="01-obat-anak" width="200" height="200" class="alignleft size-medium wp-image-1217" />bukan virus. Antibiotik tidak dapat mengenali mana bakteri baik dan mana yang jahat, sehingga bakteri baik akan selalu ikut dihantam  oleh antibiotic yang dikonsumsi anak kita.  Sia-sia lah usaha mengumpulkan bakteri baik dari proses IMD dan ASI eksklusif.  Semakin sering anak minum antibiotik, semakin sering ia sakit, karena berkurangnya bakteri baik yang membantu pertahanan tubuh.  Penggunaan antibiotik secara tidak rasional juga menyebabkan timbulnya resistensi atau berubahnya sifat bakteri menjadi tahan terhadap antibiotik sehingga suatu saat kita dapat kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan.  Antibiotik menyelamatkan hidup, maka kita harus menyelamatkan antibiotik dengan menggunakannya secara rasional.  Bila tidak ada indikasi untuk pemberian antibiotik, STOP segera, tidak ada isitilah “terlanjur minum antibiotik”, sebaliknya bila memang ada indikas taati aturan minumnya dengan baik.</p>
<p>Ayah dan ibu sekalian, batuk pilek demam dan diare sampai tahap tertentu sesungguhnya adalah cara tubuh untuk bertahan ketika virus masuk ke dalam tubuh (infeksi virus).  Batuk menjaga supaya jalan napas bersih dari lendir yang dihasilkan lebih banyak ketika ada infeksi virus dan batuk juga menjaga supaya kuman baru tidak masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan di saat tubuh sedang berusaha melawan virus yang sudah masuk.  Begitu juga dengan pilek, tubuh berusaha mengeluarkan virus melalui lendir yang diproduksi hidung.  Pilek yang mulai kehijauan sama sekali tidak berarti bahwa ada infeksi bakteri.  Kehijauan semata-mata karena banyak sel darah putih yang terkandung dalam lendir yang bereaksi dengan oksigen yang terjadi justru di akhir masa sakit atau dalam proses penyembuhan.  Bila hidung tersumbat, ASI dapat diteteskan pada lubang hidung untuk membantu mengurangi sumbatan karena ASI mengandung anti infeksi dan anti radang.</p>
<p>Bagaimana dengan demam ? Demam adalah tanda bahwa pertahanan tubuh sedang bekerja. Setiap kali ada kuman masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan bereaksi dan reaksi ini menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh naik. Suhu tubuh yang naik ini juga membuat sel pertahanan tubuh dapat bekerja lebih optimal. Oleh karena itu kita tidak disarankan untuk mengobati demam yang ringan agar masa sakit dapat berlangsung lebih singkat karena tubuh diberi kesempatan untuk melawan si kuman. Benar bahwa demam dapat menyebabkan dehidrasi dan kejang, oleh karena itu perlu dipantau, diberi cairan lebih banyak (ASI lebih baik), dikompres hangat dan diberi obat demam hanya bila suhu di atas 38,5&amp;derC (pada anak usia 1 tahun atau lebih).  Diare akut tanpa perdarahan umumnya disebabkan juga oleh virus. Diare membantu tubuh membuang virus yang masuk, sehingga pemberian anti diare pada anak tidaklah dianjurkan oleh WHO.  Tata laksana diare yang utama adalah mengganti cairan yang keluar.  ASI adalah pengganti cairan terbaik, oralit dapat diberikan jika diperlukan.</p>
<p>Pedoman tata laksana kasus bagi dokter maupun bidan dan perawat sebenarnya telah lama ada.  WHO telah mengenalkan Manajemen Terpadu Balita Sakit untuk bidan dan perawat. Untuk dokter WHO telah mengenalkan Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.  Sebetulnya dengan mematuhi pedoman yang ada, rasionalitas  tata laksana yang dilakukan tenaga kesehatan dapat lebih terarah. Namun, hal ini juga memerlukan kerjasama dari para ayah dan ibu.  Tekanan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan resep, terutama resep tertentu seperti antibiotik atau puyer atau vitamin botolan kerap terjadi (vitamin jauh lebih baik yang berasal dari ASI dan buah bukan?).  Tahukan ayah ibu, bahwa Indonesia adalah satu-satunya Negara yang masih meresepkan obat berbentuk puyer.  Puyernya sendiri tidak terlalu masalah, yang berbahaya adalah praktik mencampur aneka obat menjadi satu yang belum tentu diperlukan bayi kita.  Padahal berdasarkan pedoman untuk tata laksana kasus-kasus ringan yang saya ceritakan di atas tidak memerlukan peresepan apapun, kecuali untuk obat anti demam bila ada indikasi. Setiap kunjungan ke tenaga kesehatan, pastikan buah hati kita mendapatkan hanya yang terbaik.</p>
<p>ASI adalah investasi yang luar biasa bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak kita, jangan sampai penggunaan obat yang tidak rasional merusak investasi ini.  Mari kita bersama mengusahakan agar setiap anak Indonesia mendapatkan semuanya serba Standard Emas, tidak saja soal feeding, tapi juga ketika sakit dia mendapatkan tata laksana yg berstandar emas: bedasarkan pedoman, berbasis bukti yang kuat.  Hanya yang terbaik yang pantas kita berikan bagi anak-anak kita bukan ? Hidup ASI, Hidup POR !!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/01/asi-dan-penggunaan-obat-rasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui &#8211; Anugerah Terindah yang Tak Tergantikan</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/12/menyusui-anugerah-terindah-yang-tak-tergantikan/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/12/menyusui-anugerah-terindah-yang-tak-tergantikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 00:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewi Indira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1178</guid>
		<description><![CDATA[Rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa saya ucapkan berulang kali jika saya ingat perjalanan saya menjadi ibu dari 2 anak saya, Miura Anniesha (4 tahun 2 bulan) dan Micha Nara Satya (1 tahun 9 bulan). Ketika kehamilan saya yang pertama, saya belum paham mengenai ASI, saya hanya tahu bahwa ASI adalah yang terbaik untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa saya ucapkan berulang kali jika saya ingat perjalanan saya menjadi ibu dari 2 anak saya, Miura Anniesha (4 tahun 2 bulan) dan Micha Nara Satya (1 tahun 9 bulan).</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/12/12-dewi-kids-300x225.jpg" alt="" title="12-dewi-kids" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1181" />Ketika kehamilan saya yang pertama, saya belum paham mengenai ASI, saya hanya tahu bahwa ASI adalah yang terbaik untuk anak saya. Namun pada saat itu saya hanya pasrah (lihat nanti deh bisa kasih ASI atau tidak) karena riwayat di keluarga saya yang menyusui sedikit sekali, itu pun hanya beberapa minggu atau beberapa bulan saja.</p>
<p>Ketika hamil Miura, saya tidak mencari informasi mengenai ASI, karena ketidaktahuan saya akan pentingnya mempelajari ASI sebelum kelahiran anak saya  tsb. Pada saat itu yang sibuk saya persiapkan adalah mencari nama untuk anak saya, mencari tahu bagaimana merawat bayi, mencari tahu makanan apa saja yang sebaiknya saya konsumsi selama hamil, dll.  </p>
<p>Sampai pada saatnya melahirkan, saya pun tidak melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) juga tidak rawat gabung. Namun ‘insting’ saya sebagai ibu pada saat itu sudah ‘jalan’. Setelah saya melahirkan dan langsung dipisah dengan anak saya, beberapa saat kemudian saya dipindahkan ke kamar perawatan, saya langsung menanyakan kapan anak saya akan diberikan kepada saya. Pihak Rumah Sakit pada saat itu hanya menjawab ‘nanti bu, ibu istirahat saja dulu.’  Namun tentu saja saya tidak bisa istirahat, yang saya pikirkan saat itu adalah ingin lekas bertemu dan bersama kembali dengan anak saya yang saya kandung selama 39 minggu. Dan saya pun tidak bisa tidur. Sungguh tidak nyaman sekali rasanya, sakit dan letih sehabis melahirkan dan dipisahkan pula dengan anak saya.</p>
<p>Saya melahirkan Miura pukul 23.50 WIB dan anak saya baru diberikan kepada saya keesokan harinya pada pukul 09.15 WIB dan dalam keadaan sedang tidur. Pada saat itu saya merasa sangat canggung dan bingung dengan anak saya sendiri, namun saya tetap mencoba <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/12/12-miura-300x225.jpg" alt="" title="12-miura" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1183" />menyusuinya.  Proses menyusui Miura pada saat itu berlangsung cukup menantang, karena dipisahkan cukup lama dengan saya yang menyebabkan Miura kembali harus belajar lagi menyusu lagi kepada saya. Saya pun harus belajar kembali menyusui anak saya. Pada saat itu saya pun dibantu oleh suster-suster di rumah sakit untuk dipijat payudaranya, karena pada saat itu saya merasa ASI saya belum keluar. Sehingga waktu keluar dari Rumah Sakit, saya pun bertanya kepada suster di Rumah Sakit itu, sebaiknya anak saya diberikan susu formula apa, dan suster pun memberikan nama merk salah satu susu formula. Saya pun langsung beli susu tsb.</p>
<p>Sambil terus tetap terus menyusui Miura, karena menurut orang-orang di sekitar saya, ASI saya sedikit, maka saya pun memberikan susu formula kepada Miura pada hari pertama saya pulang kembali ke rumah. Alhamdulillah setelah hari kedua di rumah, ASI matang saya pun keluar, sehingga ASI saya mulai terasa banyak dan saya menjadi lebih percaya diri untuk hanya memberikan ASI saja kepada Miura. Sebenarnya sejak awal, saya cukup percaya diri untuk hanya memberikan ASI saja kepada Miura, namun karena ketidaktahuan dan kurangnya dukungan lingkungan sehingga akhirnya saya pun ragu.  </p>
<p>Tidak beberapa lama setelah itu saya mengetahui informasi mengenai seminar ASI oleh dr Utami Roesli, dan saya pun mengikuti seminar tsb, dari situ saya langsung jatuh cinta kepada ilmu ASI ini dan bertekad untuk membantu ibu-ibu yang seperti saya, yang kurang informasi mengenai ASI, yang kurang paham mengenai ASI, dll. Dan akhirnya saya bertemu dengan teman-teman di milis asiforbaby, kemudian ikut mendirikan AIMI.  </p>
<p>Miura menyusu kepada saya hingga usia 2 tahun 4 bulan, dan Alhamdulillah saya berhasil menyapihnya dengan cinta.  Walaupun pada saat itu kebetulan juga saya telah mengandung anak saya yang kedua, yaitu Micha Nara Satya.</p>
<p>Berbeda dengan Miura, sewaktu Micha lahir, saya sudah lebih percaya diri untuk menyusui Micha. Saya pun melakukan IMD (Inisiasi <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/12/12-micha-300x225.jpg" alt="" title="12-micha" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1184" />Menyusu Dini) dan saya rawat gabung dengan Micha. Karena saya sudah cukup dibekali ilmu mengenai ASI dan saya pun sudah cukup percaya diri, Alhamdulillah proses menyusui Micha sangatlah penuh makna dan rasa syukur. Saat ini saya masih menyusui Micha, dan masih ingin terus menyusuinya dan belum tahu sampai kapan, biarlah nanti Micha dan saya yang memutuskan kapan kami akan mengakhirinya.</p>
<p>Berikut ini saya akan berbagi tips-tips agar proses menyusui berhasil:</p>
<ol>
<li>Persiapkan payudara (menggunakan nursing bra)</li>
<li>Pelajari ASI dan tatalaksana pemberian asi (buku, seminar, konseling, dll)</li>
<li>Ciptakanlah lingkungan yang mendukung ASI (keluarga, dokter kandungan, dokter anak, tenaga kesehatan, dll)</li>
<li>Carilah Rumah Sakit yang sayang bayi</li>
<li>Percayalah bahwa asi Ibu selalu cukup untuk anak ibu.</li>
<li>Komitmen.  Bulatkan niat untuk memberikan yang terbaik untuk anak kita (ASI)</li>
</ol>
<p>Menurut saya, menyusui kedua anak saya adalah anugerah terindah dari Tuhan yang sangat luar biasa. Saya sangat bersyukur diberikan kesempatan menyusui sampai saat ini oleh Tuhan. Semoga saya dapat selalu bersyukur dan terus memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya, salah satunya dengan menyusui. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/12/menyusui-anugerah-terindah-yang-tak-tergantikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Susu dan Kekuasaan oleh Tobias Zick</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/11/susu-dan-kekuasaan/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/11/susu-dan-kekuasaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 01:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sari Intan Kailaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Makanan Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Pelanggaran Kode]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1122</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu wartawan Jerman, Tobias Zick, datang ke Indonesia untuk melihat pelanggaran yang dilakukan oleh produsen susu formula. Berikut terjemahan dari laporannya yang sudah terbit di Majalah Nido, Jerman.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>diterjemahkan oleh AIMI; Sari Intan Kaylaku &#038; Chandra Mita</p>
<blockquote><p>Benarkah menyusui adalah hal yang paling alami di dunia? Tidak di Indonesia, di mana perusahaan makanan bayi internasional bersaing memasarkan produknya dengan segala cara.</p>
<p>Oleh <strong>Tobias Zick</strong></p></blockquote>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-tobias-zick-1-300x203.jpg" alt="" title="11-tobias-zick-1" width="300" height="203" class="alignleft size-medium wp-image-1125" />Bintik-bintik merah menghiasi dahi Zulfa, lengan kecilnya terkulai lemas, matanya terlihat sangat besar; beratnya hanya 4,5 kg &#8211;  pada umur 8 bulan. Jelas ini merupakan kasus malnutrisi.<br />
Sesaat setelah lahir, perawat memberi Zulfa susu formula; ibunya diberi satu kaleng susu formula untuk dibawa pulang. Sejak saat itu, dia berjuang mengumpulkan uang untuk membeli susu formula. Suaminya adalah penjahit dan bagian terbesar dari penghasilan mereka dihabiskan untuk membeli susu formula. Kadang mereka mencampurkan lebih banyak air daripada yang diinstruksikan.</p>
<p>Setelah beberapa lama, dia mencoba menyusui Zulfa, tapi tidak ada ASI yang keluar. Sering kali Zulfa sakit diare, muntah, infeksi saluran pernapasan – dan membuat orang tuanya sangat ketakutan. Akhirnya seorang tetangga merekomedasikan agar mereka pergi ke Layanan Kesehatan Cuma-Cuma di Rumah Sakit Islam dan mencari Dr. Asti, seorang ahli dalam hal tersebut.</p>
<p><a href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-tobias-zick-2.jpg"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-tobias-zick-2-300x203.jpg" alt="" title="11-tobias-zick-2" width="300" height="203" class="alignleft size-medium wp-image-1126" /></a>Dr. Asti Praborini memutuskan untuk merawat sang ibu di rumah sakit selama 3 minggu dan mengatasi bingung puting yang dialami hingga dia bisa meyusui Zulfa. Sejak saat itu, kondisi bayinya sedikit demi sedikit membaik, diare tidak datang lagi, dan berat badannya naik. “Sering kali penyebab malnutrisi tidak bisa diketahui secara pasti”, jelas Dr. Asti, “tetapi kasus ini sangat jelas: Bayi tersebut adalah korban dari menyusu susu botol.”</p>
<p>Menurut UNICEF, setiap tahun 30.000 anak Indonesia meninggal karena tidak diberi ASI eksklusif selama 6 bulan. Sekitar 45% keluarga Indonesia tidak memiliki akses ke air bersih. Dan susu formula yang dibuat dengan air yang terkontaminasi dapat menghasilkan campuran mematikan. Daftar resikonya terhadap kesehatan panjang: malnutrisi, diare, infeksi saluran pernapasan, alergi, anemia. Sehingga World Health Organization (WHO) merekomendasikan secara global untuk memberikan ASI eksklusif di 6 bulan pertama dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun, denga memperkenalkan makanan padat secara bertahap.</p>
<p>Di Indonesia, sebagaimana banyak negara di dunia, rekomendasi ini hanyalah teori. Hanya 32% bayi di bawah usia 6 bulan yang diberi ASI eksklusif – yang angkanya terus menurun. Antara tahun 2002-2007, menurut UNICEF, persentasi bayi umur 2 bulan yang diberi ASI eksklusif menurun drastis, dari 64% menjadi 48,3%. Di saat yang sama, jumlah yang diberi susu formula meningkat.<br />
Mengapa demikian? Menurut UNICEF, tantangan memberikan ASI termasuk “Yang tak kalah pentingnya adalah pemasaran secara agresif oleh perusahaan makanan bayi yang tidak hanya mempengaruhi para ibu, namun juga tenaga kesehatan profesional”.</p>
<p>Dr. Asti Praborini mengatakan, “Saya melihat kasus seperti Zulfa hampir setiap hari. Dan banyak yang tidak selamat. Dari pengalaman saya, saya bisa mengatakan bahwa menyusu susu botol bisa membunuh.”<br />
Selama 30 tahun, dia telah berjuang melawan kurangnya informasi.<br />
Dia bekerja di berbagai rumah sakit dan hampir di semua tempat, pertama kali dia masuk, hal yang dilihat adalah selasar dan bangsal penuh dengan iklan. Bayi baru lahir dirawat di “ruang bayi” dan diberi susu formula dari perusahaan yang “bekerja sama” dengan rumah sakit tersebut, misalnya dengan memberi dana kepada bidan dan dokter.</p>
<p>Berulang kali Dr. Asti Praborini melihat pasien yang mengatakan hal seperti ini, “Tapi iklan di TV mengatakan akan membuat bayi saya sehat, kenyang, dan pintar.” Atau, “Bidan bilang air susu saya tidak akan cukup untuk bayi saya.”</p>
<p>Dia mengambil tas kecil, mengeluarkan kelereng kecil, sarana ilustrasi untuk kasus seperti ini. Memegang kelereng di antara jempol dan telunjuk, dia menjelaskan:<br />
Ini adalah besarnya lambung bayi anda begitu lahir – dan mereka mengatakan bahwa ASI anda tidak cukup untuk mengisi ini? Dia mengeluarkan kelereng yang agak lebih besar: ukuran lambung bayi setelah 3 hari. Bola tenis meja: ukuran lambung setelah 1 minggu.<br />
“Tentu saja susu formula bisa berguna”, kata Dr. Asti, “dalam hal kelahiran prematur. Tapi tentunya bukan sebagai produk massal.”</p>
<p>Sebuah supermarket Carrefour di Jakarta: Dua rak tinggi terisi warna warni menarik dari berbagai perusahaan makanan bayi internasional; pramuniaga dari produsen Eropa dan Amerika tersenyum lebar: Nestlé, Frisian Flag, Numico, Wyeth, Abbott – semua ada di sana. “Mencukupi gizi bayi anda” tertulis di salah satu kemasan, menunjukkan untuk usia 0 hingga 6 bulan; “Mencukupi gizi bayi Anda”, tertulis di kemasan untuk bayi 6-12 bulan. “Formula Bayi untuk Perkembangan Otak dan Tubuh” janji sebuah produk lain untuk bayi 0 hingga 12 bulan, huruf-huruf “IQ” berkilau di kalengnya. “Gain school advance” adalah pesan mengikuti batasan umur tersebut. Terdapat formula untuk ibu hamil, ibu menyusui – dan bahkan untuk wanita mengenakan kerudung, dengan tambahan vitamin D untuk mengkompensasi kekurangan paparan sinar matahari. </p>
<p>Majalah Indonesia penuh dengan iklan susu formula, berikut di jalan-jalan utama Jakarta, anda melihat papan iklan besar, di bangsal bayi di rumah sakit terpampang logo perusahaan di dinding, kartu pasien, bahkan di kepala tempat tidur bayi.</p>
<p>Tetapi apa yang berlangsung dalam bayang-bayang bahkan lebih efektif. Di sebuah kedai kopi di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, kita bertemu Ibu Magdalena, seorang bidan, yang melihat 20 tahun sejarah pekerjaannya. Dia sudah melihat banyak  pantai spektakuler di Asia: Thailand, Bali &#8230; dia juga sudah pernah ke Jepang, walaupun biasanya bidan tidak termasuk golongan berpenghasilan besar di Indonesia. Bagaimana dia bisa begitu?</p>
<p>Dengan mencapai target penjualan yang ditetapkan perusahaan susu formula, dia menjelaskan. Untuk rata-rata 20 paket per bulan, imbalannya adalah sebuah seminar, diikuti 4 hari liburan di pantai. Suatu kali, dia mengingat, 4 pesawat penuh bidan terbang ke Bali, atas undangan Numico. Mereka yang mencapai penjualan luar biasa bisa pergi ke Mekkah, dibayar oleh perusahaan. Kadang kompensasi tidak berbentuk perjalanan, tetapi uang tunai, penyejuk udara atau lemari es, baik untuk tempat kerjanya maupun rumahnya. Selama karirnya, Ibu Magdalena memberikan susu formula kepada ratusan bayi baru lahir. “Kini saya malu atas apa yang saya lakukan”, dia mengatakan. “Tapi saya melakukannya karena kurangnya pengetahuan.”</p>
<p>Dokumen yang diperoleh majalah kami menunjukkan cerita Ibu Magdalena bukan sebuah kasus tunggal. Sejak 2007, Numico telah menjadi bagian dari korporasi global Danone, berpusat di Paris. Permohonan majalah kami untuk sebuah pernyataan diteruskan oleh departemen komunikasi Danone ke Numico di Indonesia, yang juru bicaranya menjawab lewat e-mail, bahwa tidak membantah keberadaan sistem kompensasi penjualan untuk bidan dan merujuk pada keberhasilan program “pendidikan bidan” dari perusahaan, melalui “di 2010 kami akan mengirim 30.000 bidan ke seminar dan lokakarya. (&#8230;) Keunggulannya adalah kemampuan ini akan diteruskan dari bidan ke ibu melalui pelayanan dan pedidikan yang lebih baik.” Lebih lanjut, juru bicara tersebut mengatakan, “Di 2010, kami memiliki lebih dari 200 proyek di Indonesia. Kami menelusuri dampak proyek terhadap angka kematian ibu dan bayi.”</p>
<p><a href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-tobias-zick-3.jpg"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-tobias-zick-3-300x203.jpg" alt="" title="11-tobias-zick-3" width="300" height="203" class="alignleft size-medium wp-image-1127" /></a>Untuk memahami dimensi dari pasar susu bubuk dunia, kita perlu melihat jauh ke belakang – pada tahun 1867, saat Heinrich Nestle, seorang apoteker dari Frankfurt, Jerman, yang saat itu tinggal di Swiss, dari keterbatasan uang dan improvisasi menemukan apa yang ia sebut “Kindermehl” (makanan anak-Red). Sebelum itu, ia telah berusaha menghasilkan uang dengan menjual limun dan gas cair – kedua usaha tersebut gagal. Namun, Kindermehl ternyata menjadi terobosan baginya, walaupun, menurut sejarah perusahaan, ia tetap berperilaku sederhana: “Penemuan saya bukanlah temuan baru tapi merupakan implementasi yang tepat dan rasional dari bahan-bahan yang telah lama diketahui sumber nutrisi yang baik untuk anak: susu, roti dan gula dari kualitas terbaik adalah bahan utamanya.”</p>
<p>Kindermehl mendorong perkembangan perusahaan Nestle dengan sangat cepat hingga menjadi korporat global. “Dalam waktu singkat, ia menunjukkan bakat dalam pemikiran strategi pemasaran”, kata sejarah perusahaan mengenai Heinrich Nestle. “Dalam 7 tahun, ia telah menjual 1,6 juta kaleng Kindermehl di 18 negara di seluruh benua.”</p>
<p>Kritikan atas kesuksesan dan ekspansifnya kebijakan perusahaan pertama kali muncul pada 1975 dalam film pendek ”Bottle Babies” oleh pembuat film dokumenter Peter Krieg. Adegan pertama menunjukkan seorang ibu asal Kenya menggendong bayinya yang sedang menangis ke rumah sakit. Suara dokter menyebutkan gejala-gejalanya: diare, muntah, takikardia (denyut jantung cepat-Red), apnea (nafas berhenti tiba-tiba). Anak tersebut sedang di ambang kematian akibat malnutrisi – setelah sang ibu mengikuti, bukannya menyusui, pesan iklan susu formula yang ada dimana-mana. Film tersebut menunjukkan contoh dari pemasaran secara agresif oleh perusahaan: hadiah sampel didistribusikan di rumah sakit-rumah sakit, hadiah promosional untuk dokter dan bidan, siaran radio dengan slogan: “Susu bubuk milik kaum kulit putih yang membuat bayi Anda tumbuh cerdas dan cemerlang”.</p>
<p>NGO dari Swiss &#8220;Aktionsgruppe Dritte Welt&#8221; menerbitkan sebuah laporan berjudul: “Nestle membunuh bayi-bayi”. Nestle dengan sukses melakukan perlawanan hukum terhadap publikasi itu, namun dugaan-dugaan terus berlanjut, dan kampanye boikot terhadap Nestle bermunculan di seluruh dunia.</p>
<p>Pada 1981, World Health Assembly mengadopsi Kode Internasional yang dengan tegas mengatur pemasaran dan promosi pengganti Air Susu Ibu: melarang promosi kepada masyarakat umum, melarang promosi melalui fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan, dan melarang pelabelan yang menyesatkan.</p>
<p><a href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-tobias-zick-4.jpg"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-tobias-zick-4-300x203.jpg" alt="" title="11-tobias-zick-4" width="300" height="203" class="alignleft size-medium wp-image-1128" /></a>Namun, saat ini International Baby Food Action Network (IBFAN) secara periodik masih menerbitkan laporan-laporan pelanggaran terhadap Kode WHO. Kritik-kritik menyebutkan analogi dengan industri rokok: membantah hasil penelitian ilmiah, selalu menemukan celah untuk menghindari pembatasan oleh hukum. Pada 1999, direktur eksekutif UNICEF pada saat itu, menyatakan: “Siapapun yang membuat klaim tentang susu formula untuk bayi yang dengan sengaja merusak keyakinan wanita untuk menyusui tidak pantas dianggap sebagai pengusaha cerdas yang hanya sedang melakukan pekerjaannya, namun sebagai pelanggar hak asasi manusia yang paling buruk.”</p>
<p>Nestle, yang seringkali menjadi sorotan kritik IBFAN, secara rutin menerbitkan laporannya sendiri mengenai berbagai dugaan. Pada banyak kasus, perusahaan menegaskan bahwa tuduhan tersebut “tidak beralasan”, seringkali berurusan dengan produk-produk yang “tidak termasuk dalam Kode, seperti makanan pendamping untuk bayi berusia 6 bulan.” Di situsnya, Nestle menyatakan: “Kami mengikuti langkah-langkah pemerintah nasional menerapkan Kode WHO di semua negara di seluruh dunia.”</p>
<p>Saat ini Nestle sudah menjadi salah satu dari banyak perusahaan yang berjuang untuk mendapatkan bagian pemasaran di pasar yang sedang tumbuh di Afrika dan Asia. Numico, contohnya, adalah pemegang pasar terbesar di Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia. Menurut dokumen yang berhasil kami himpun, Numico Indonesia berencana untuk “secara agresif meningkatkan cakupan dan distribusi”. Salah satu target yang telah dicanangkan adalah “memperkuat Tim Medis untuk memperluas cakupan petugas kesehatan dan rumah sakit”. Dalam segmen “premium dan standar”, perusahaan ini akan berfokus pada dokter; sedangkan pada segmen “ekonomi”, bidan menjadi fokusnya.</p>
<p>Berdasarkan analisis pasar mendalam yang terakhir oleh UNICEF pada 2006, semua perusahaan susu formula di pasar Indonesia telah melanggar Kode WHO. Namun, Indonesia hanya satu contoh menonjol dari masalah yang global. Wilayah konflik, khususnya, menjadi arena pemasaran yang disukai oleh perusahaan barat – karena pada wilayah-wilayah tersebut, dalam hal hukum dan pengendalian, kekacauan secara luas masih terjadi. Di Afghanistan, sebuah perusahaan Eropa dapat mengiklankan susu bubuknya di televisi dengan “bermutu tinggi untuk bayi Anda sejak lahir.” Seorang aktor terkenal muncul di acara TV sebagai duta dari pesan tersebut. Afghanistan merupakan salah satu negara dengan angka kematian bayi tertinggi di dunia, yaitu 151 bayi dari setiap 1000 kelahiran.</p>
<p>Saat Diba Jafar (30), seorang ibu dari Jakarta, sedang hamil, ia mengedukasi dirinya sendiri mengenai nutrisi bayi, menyusui dan hal-hal terkait melalui internet. Ia menemukan rekomendasi dan tatalaksana yang dikeluarkan oleh WHO dan UNICEF tentang menyusui eksklusif. Namun, kemanapun dia pergi di Jakarta, dia menemukan yang sebaliknya. </p>
<p>Di rumah sakit dimana ia melahirkan putranya, Rafa, semua bayi baru lahir segera dibawa ke ”kamar bayi”oleh perawat, dua lantai di bawah kamar ibu, dimana perawat kemudian memberi bayi-bayi susu formula dengan menggunakan botol. Diba berkeras ingin menyusui bayinya, bahkan melewatkan beberapa malam duduk di sebuah kursi plastik kecil di dalam kamar bayi dan menempelkan kertas bertuliskan ”ASI Eksklusif!” di tempat tidur Rafa.</p>
<p>Beberapa bulan kemudian, Diba duduk bersama dengan beberapa ibu muda lain. Mereka menemukan bahwa mereka semua menghadapi masalah yang sama: nyaris tidak ada informasi dari petugas di rumah sakit mengenai menyusui, dan harus berjuang terus menerus melawan perawat dan bidan yang menjaga bayi mereka di kamar bayi, yang hanya mengizinkan mereka untuk menyusui pada jadwal tertentu.</p>
<p>Diba dan teman-temannya mendirikan sebuah jaringan, AIMI, untuk membantu menyediakan informasi bagi para ibu. Dalam beberapa minggu pertama, mereka menerima ratusan telepon dan email dari para ibu yang membutuhkan saran&#8230;sehingga mereka sadar bahwa jelas sekali ada yang salah di negara ini. Mereka memperluas organisasinya, dan saat ini mereka tidak hanya mengadakan pelatihan dan menyediakan informasi mengenai menyusui, namun juga memberikan advis hukum, memantau Kode, melobi dukungan untuk menyusui dan membuat draf rekomendasi untuk Kementerian Kesehatan. ”Jika para ibu tahu hak mereka,”, kata Diba, ”mereka bisa bersikeras untuk mendapatkannya. Masalahnya adalah, banyak yang belum tahu haknya.”</p>
<p>Kesuksesan AIMI menimbulkan harapan – tapi apakah akan cukup untuk mengubah berbagai hal secara prinsip di negara yang besar seperti Indonesia?</p>
<p>Untuk mengubah keadaan, seringkali perlu pukulan keras. Untuk Bidan Budi, pukulan keras itu terjadi pada bulan Mei 2006. Terjadi gempa di kota tempat tinggalnya, Klaten, Jawa Tengah; dekat letusan gunung berapi Merapi; enam ribu orang meninggal, dan empat puluh ribu orang terluka. Salah satu bantuan yang datang dari segala penjuru dunia adalah berton-ton susu bubuk, yang didistribusikan secara tidak terkoordinasi. Bahkan ibu yang tadinya menyusui mulai memberi bayinya susu formula. Dalam waktu singkat sejumlah besar bayi menderita diare berat – karena bencana, air disana telah sangat tercemar.</p>
<p>UNICEF menggelar program pelatihan untuk bidan mengenai manfaat dan teknik menyusui eksklusif. Mulanya Bidan Budi curiga: caranya bekerja selama dua puluh tahun tiba-tiba dinyatakan salah? Lalu datanglah saat itu, apa yang ia sebut sebagai ”momen pencerahan”. Ia melihat seorang bayi yang baru lahir, berbaring di atas dada ibunya dan kurang dari setengah jam setelah lahir bayi itu mulai merangkak menuju payudara dan mulai menghisap, persis seperti telah diprediksikan pada bagian teori di seminar tersebut. ”Itu seperti pertanda dari Tuhan”, katanya, ”saat itu saya sadar: selama dua puluh tahun, karena ketidakpedulian, saya telah mempertaruhkan kesehatan anak-anak.”</p>
<p>Pemerintah Klaten telah menerapkan peraturan regional dimana siapa saja yang menghambat dan membatasi seorang ibu untuk mendapatkan hak dasarnya untuk menyusui dapat dituntut karena melakukan perbuatan kriminal.</p>
<p><a href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-tobias-zick-5.jpg"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-tobias-zick-5-218x300.jpg" alt="" title="11-tobias-zick-5" width="218" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1129" /></a>Rony Rukmito, Kepala Dinas Kesehatan Klaten, menceritakan bahwa tidak lama setelah penerapan peraturan baru tersebut, dua wakil dari perusahaan susu formula bayi datang padanya dan bertanya berapa jumlah uang yang ia inginkan agar ia mau mencabut peraturan itu. ”Saya katakan pada mereka”, ingatnya, ”kami harus memulai kampanye yang sukses demi kesehatan anak-anak kami, tolong jangan rusak itu.”<br />
Perundang-undangan regional Klaten dapat menjadi contoh bagi perundang-undangan nasional di masa depan. Pemerintah Indonesia telah mengadakan sidang bersama sebuah panel berisi para ahli untuk menyusun draf perundang-undangan yang lebih ramah pada kegiatan menyusui. Diba Jafar dan rekan-rekannya di AIMI menjadi bagian dari panel tersebut. Sementara itu, UNICEF melakukan pengkajian yang membantah argumen para pelobi bahwa industri makanan bayi menciptakan lapangan pekerjaan yang besar: Menurut temuan-temuan pertama dari analisis UNICEF, manfaat yang didapat oleh tenaga kerja Indonesia adalah minimal, karena susu bubuk diimpor dari luar negeri dan dikemas secara otomatis di Indonesia.</p>
<p>Saat ini, sinar harapan meningkat: Menteri Kesehatan telah mengumumkan bahwa masalah gizi bayi adalah satu dari dua prioritas utama – bersama industri tembakau.</p>
<p>Namun, Kementerian Kesehatan seperti biasa harus berjuang dengan persaingan kepentingan, bahkan dengan kabinetnya sendiri. Baru-baru ini, misalnya, Nestle mengumumkan bahwa mereka sedang melipatgandakan kapasitas pengolahan susu mereka di Indonesia dan telah meresmikan pabrik barunya di Jakarta. Berdiri di baris paling depan pada acara pengguntingan pita: Menteri Ekonomi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/11/susu-dan-kekuasaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>63</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Polling Oktober 2010 &#8211; Kondisi ASI Perah</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/11/ulasan-polling-oktober-2010-kondisi-asi-perah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/11/ulasan-polling-oktober-2010-kondisi-asi-perah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 01:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiki Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1118</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa kondisi yang mengharuskan ibu untuk tidak selalu berada dekat dengan bayi, namun ini jelas tidak menghalangi ibu untuk bisa tetap memberikan ASI kepada buah hati tercinta bukan? Memerah ASI bisa menggunakan tangan ataupun alat bantu, hasil perahan sebaiknya disimpan dalam suhu dingin untuk menjaga kualitas nutrisinya. Seperti layaknya jenis makanan lain, ASIP memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Ada beberapa kondisi yang mengharuskan ibu untuk tidak selalu berada dekat dengan bayi, namun ini jelas tidak menghalangi ibu untuk bisa tetap memberikan ASI kepada buah hati tercinta bukan?</p>
<p>Memerah ASI bisa menggunakan tangan ataupun alat bantu, hasil perahan sebaiknya disimpan dalam suhu dingin untuk menjaga kualitas nutrisinya. Seperti layaknya jenis makanan lain, ASIP memiliki daya simpan tertentu. Oleh karena itu penting untuk memberi label tanggal memerah agar ASIP terpantau usia simpannya dan manajemen ASIP berjalan lancar.</p>
<p>Berikut ini tabel daya simpan ASI perah: </p>
<table>
<tr>
<th>ASI</th>
<th>Suhu Ruangan</th>
<th>Lemari Es/Kulkas</th>
<th>Freezer</th>
</tr>
<tr>
<td> ASI yang baru saja diperah (ASI segar)</td>
<td> <strong>Kolostrum</strong> – hari ke-5 (12-24 jam dalam suhu <25ºC)<br />
<strong>ASI matang</strong>:24 jam dalam suhu 15ºC10 jam dalam suhu 19-22ºC4-6 jam dalam suhu 25ºC </td>
<td>3–8 hari dengan suhu 0-4ºC.<br />
Jangan simpan di bagian pintu, tetapi simpan di bagian paling belakang lemari es/kulkas – paling dingin dan tidak terlalu terpengaruh perubahan suhu </td>
<td>2 minggu dalam freezer yang terdapat di dalam lemari es/kulkas (1 pintu).<br />
3-4 bulan dalam freezer yang terpisah dari lemari es/kulkas (2 pintu).<br />
6–12 bulan dalam freezer khusus yang sangat dingin(<18ºC)</td>
</tr>
<tr>
<td> ASIP beku— dicairkan dalam lemari es/kulkas tapi belum dihangatkan </td>
<td> Tidak lebih dari 4 jam(yaitu jadwal minum ASIP berikutnya)</td>
<td> Simpan di dalam lemari es/kulkas sampai dengan 24 jam </td>
<td> JANGAN masukkan kembali dalam freezer </td>
</tr>
<tr>
<td> ASIP yang sudah dicairkan dengan air hangat </td>
<td> Untuk diminum sekaligus </td>
<td> Dapat disimpan selama 4 jam atau sampai jadwal minum ASIP berikutnya </td>
<td> JANGAN masukkan kembali dalam freezer </td>
</tr>
<tr>
<td> ASIP yang sudah mulai diminum oleh bayi dari botol yang sama </td>
<td> Sisa yang tidak dihabiskan harus dibuang </td>
<td> Dibuang </td>
<td> Dibuang </td>
</tr>
</table>
<p>Kembali ke pertanyaan polling kita, berapa lama daya tahan ASI beku di dalam freezer dua pintu? Maka jawabannya adalah sekitar 3-4 bulan. Wowww&#8230;.hasil polling 76% sudah menjawab dengan benar&#8230;ini menandakan sudah cukup banyak yang tahu mengenai manajemen ASI perah. Bravo moms!! </p>
<p>Pedoman daya simpan ASI perah ini juga sangat tergantung dengan kondisi yang ada, untuk freezer atau kulkas yang memang jarang sekali dibuka maka bisa bertahan lebih lama, karena jarang terjadi perubahan suhu ketika pintu kulkas sering dibuka dan tutup. Oleh karena itu penting untuk meng-edukasi orang rumah mengenai do’s dan don’ts nya. </p>
<p>Terimakasih atas partisipasinya untuk mengikuti polling ini ya, mari kita nantikan polling AIMI di bulan berikutnya dan nantikan ilmu baru apa yang bisa kita dapatkan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/11/ulasan-polling-oktober-2010-kondisi-asi-perah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Tua Bekerja pun Bisa Sukses Memberi ASI Eksklusif</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Oct 2010 00:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Selvie Amalia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Tips for Working Moms]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1102</guid>
		<description><![CDATA[Siapa bilang orang tua yang bekerja di luar rumah tidak bisa memberikan ASI Eksklusif pada anaknya? Pasti bisa, jika memiliki pengetahuan dan dukungan yang cukup dalam manajemen laktasi. Mengapa saya gunakan kata orang tua, bukan ibu? Padahal yang memproduksi ASI kan ibu? Mari kita simak pemaparan Konselor Laktasi AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa bilang orang tua yang bekerja di luar rumah tidak bisa memberikan ASI Eksklusif pada anaknya? Pasti bisa, jika memiliki pengetahuan dan dukungan yang cukup dalam manajemen laktasi. Ya, pengetahuan dan dukungan diperlukan agar proses pemberian <img class="alignleft size-medium wp-image-1105" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-selvie-family-135x300.jpg" alt="" width="135" height="300" />ASI Eksklusif pada  bayi yang kedua orang tuanya bekerja tidak memiliki hambatan yang berarti. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendapatkan pengetahuan dan dukungan ASI Eksklusif dari lingkungan keluarga hingga lingkungan pekerjaan sejak sebelum melahirkan.</p>
<p>Mengapa saya gunakan kata orang tua, bukan ibu? Padahal yang memproduksi ASI kan ibu? Karena proses pemberian ASI tidak hanya melibatkan ibu dan bayi saja. Ayah memiliki peranan penting dalam mensukseskan pemberian ASI. Apa peranan ayah? Yang pertama tentu memberi dukungan penuh pada istrinya memberikan ASI Eksklusif pada bayi mereka. Yang kedua melindungi istri dan bayi, jika ada pihak yang kontra terhadap pemberian ASI. Yang ketiga, bersama-sama istri merawat dan mengasuh bayi.</p>
<p>Keterlibatan ayah dalam pemberian ASI, akan meningkatkan kepercayaan diri ibu dan lingkungan. Dengan demikian, ibu akan terhindar dari rasa tidak percaya diri, kuatir, gelisah yang dapat mengakibatkan turunnya produksi hormon oksitosin. Hormon oksitosin merupakan hormon penting untuk pengaliran ASI. Turunnya produksi hormon ini dapat berakibat pada turunnya produksi ASI akibat pengaliran ASI yang kurang lancar.</p>
<p>***</p>
<p>Saat ini, sudah banyak orang tua yang berhasil memberikan bayi mereka ASI Eksklusif, meskipun kedua orang tua bekerja. Bahkan banyak pula yang mampu meneruskan menyusui hingga anaknya berusia dua tahun atau lebih. Semua itu mungkin dilakukan jika ibu mendapatkan informasi yang benar mengenai pemberian ASI maupun penggantinya (susu formula, dan berbagai jenis cairan lain) sejak masa kehamilannya.</p>
<p>Dengan mendapatkan informasi yang benar, manfaat dan risikonya, maka ibu dan ayah dapat  memilih akan memberikan nutrisi apa pada anaknya dengan kesiapan untuk menanggung risikonya. Sebagian besar orang tua (ibu dan ayah) yang gagal memberikan ASI pada anaknya adalah karena ketidak tahuan bahwa pengganti ASI memiliki berbagai macam risiko kesehatan yang cukup tinggi bagi anaknya, saat ini hingga ia dewasa kelak.</p>
<p>Oleh karena itu, pengetahuan dasar yang perlu diketahui oleh orang tua adalah apa manfaat ASI? Manfaat ASI banyak sekali, dan tidak ada efek samping yang buruk sama sekali. Meskipun ibunya sedang sakit. Atau bayinya sedang sakit. ASI akan mempercepat kesembuhan ibu maupun bayi. Dan, masih banyak manfaat ASI lainnya.</p>
<p>***</p>
<p>Jadi, apa sih yang perlu dipersiapkan orang tua yang bekerja agar anak-anaknya bisa mendapatkan ASI Eksklusif?<br />
Kuatkan NIAT!  Pahami alasan-alasan mengapa harus tetap memberikan ASI. Yakinkan diri dan lingkungan terhadap manfaat-manfaatnya, terutama untuk kesehatan ibu dan bayi, serta menjaga “bonding” ibu dan bayi, meskipun ibu harus bekerja.<br />
Bulatkan TEKAD! Siapa saja yang perlu membulatkan tekad? Ayah dan ibu harus satu kata.  Setelah itu apa? PERCAYA DIRI! Caranya bagaimana? Dengan mengikuti edukasi atau mencari informasi yang sebenar-benarnya, dan mencari atau membentuk dukungan  untuk memberikan ASI Eksklusif.</p>
<p>Apabila rasa PERCAYA DIRI untuk menyusui sudah kuat, maka langkah kedua adalah memantapkan KOMITMEN! Jika sudah berkomitmen kuat, maka pastikan langkah ketiga ini Anda lakukan: MULAI DENGAN BENAR.</p>
<p>Bagaimana memulai dengan benar?<br />
1) Inisiasi menyusu Dini (IMD),<br />
2) Rawat Gabung 24 jam,<br />
3) Hanya ASI saja, dan<br />
4) yang terpenting susuilah dengan SEPENUH HATI!</p>
<p>Nah, jika pemahaman sudah sampai tahap ini, maka bagi orang tua yang bekerja perlu mempersiapkan segala sesuatunya, agar ketika ibu mulai masuk bekerja sudah memiliki stok ASI Perah (ASIP), sudah memiliki kemampuan manajemen laktasi yang baik, sudah memiliki pengasuh yang handal dan dapat dipercaya untuk mengasuh dan memberikan ASIP.</p>
<p><strong>Apa saja persiapan yang perlu dilakukan?</strong></p>
<p>Persiapan saat hamil</p>
<ul>
<li>Rencanakan porsi cuti melahirkan lebih lama ketika bayi sudah lahir.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1109" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-kelas-edukasi-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></p>
<li>Beritahukan rencana Anda untuk tetap memberikan ASI ketika sudah kembali bekerja.</li>
<li>Periksa juga apakah ada ruangan yang bisa digunakan untuk memerah ASI.</li>
<li>Mintalah dukungan pada rekan-rekan kantor, atasan, dan juga serikat pekerja yang ada.</li>
<li>Bergabunglah dengan organisasi/kelompok pendukung ibu-ibu ASI.</li>
<li>Belajarlah cara memerah ASI dengan tangan, atau mulai mencari breastpump (pompa ASI) yang sesuai.</li>
<li>Pertimbangkan pilihan cara/pekerjaan yang dapat mensukseskan pemberian ASI. Mulai dari pilihan jenis pekerjaan (jika ada) paruh waktu atau penuh waktu.</li>
<li>Kemudian pilihan cara pengantaran ASIP, apakah dibawa oleh Anda sendiri ketika pulang kerja, atau menggunakan jasa pengantaran ASIP untuk dikirim ke rumah.</li>
<li>Mantapkan komitmen Anda untuk terus memberikan ASI pada sang buah hati, walaupun harus kembali bekerja.</li>
</ul>
<p>Persiapan setelah melahirkan</p>
<ul>
<li>IMD secara langsung minimal 1 jam setelah kelahiran.</li>
<li>Perbanyak kontak kulit dengan bayi.</li>
<li>Istirahat yang cukup, relaks, dan fokuskan diri Anda untuk memantapkan kegiatan menyusui.</li>
<li>Tingkatkan pasokan ASI Anda denganmenyusui bayi sesuai dengan pemintaan.</li>
<li>Perah ASI di sela-sela setelah menyusui.</li>
<li>Hindari pemberian ASIP menggunakan dot, karena berisiko terkena gejala “bingung puting”.</li>
<li>Belajar untuk memberikan ASIP kepada bayi dengan menggunakan metode selain dot: cangkir, pipet, sendok kecil, dsb.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1107" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-ASIP-freezer-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<li>Pilih dan latih pengasuh bayi yang juga mendukung pemberian ASI.</li>
<li>Mantapkan teknik memerah ASI dengan tangan, atau menggunakan pompa ASI.</li>
<li>Mulai menabung ASIP 1 bulan sebelum mulai masuk kerja. Simpan ASIP sesuai dengan tata cara yang benar.</li>
<li>Konfirmasikan kembali dengan pihak kantor / atasan anda  mengenai rencana Anda untuk tetap memberikan ASI. Serta informasikan jadwal dan lokasi Anda akan memerah ASI.</li>
<li>Jika memungkinkan, gunakan 1 hari untuk uji coba meninggalkan bayi di rumah dengan pengasuh, dan Anda melakukan aktifitas perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya . Serta aktifitas memerah dan menyimpan ASIP di tempat kerja.</li>
</ul>
<p>Persiapan ketika sudah kembali bekerja</p>
<ul>
<li>Pertimbangkan untuk kembali bekerja pada hari Kamis, agar lebih mudah bagi Anda dan bayi untuk menyesuaikan ritme baru, karena hari sabtu sudah bisa bersama lagi.</li>
<li>Persiapkan segala kebuthan esok hari, pada malam hari sebelumnya.</li>
<li>Susui bayi Anda sebelum berangkat ke kantor.</li>
<li>Usahakan agar perpisahan dan pertemuan kembali dengan bayi dilaksanakan dalam suasana gembira.</li>
</ul>
<p>Ketika berada di kantor:</p>
<ul>
<li>Perah atau pompa ASI sesuai jadwal menyusu bayi Anda atau minimal dalam rentang waktu 3 jam.</li>
<li>Perah atau pompa ASI secara teratur sesuai dengan jadwal dan sebelum payudara Anda terasa penuh.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1108" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-persiapan-kerja-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<li>Gunakan cara yang benar untuk menyimpan dan mengangkut ASIP.</li>
<li>Pastikan bahwa pengasuh bayi Anda mengeri tata cara pemberian ASIP yang benar.</li>
<li>Minta kepada pengasuh bayi Anda untuk tidak memberikan ASIP ketika anda sudah dekat rumah.</li>
<li>Susuilah bayi Anda ketika sudah kembali pulang, pada malam hari, di akhir pekan dan setiap saat Anda sedang bersama bayi.</li>
<li>Minta dukungan sesama rekan kantor dalam upaya anda untuk terus memberikan ASI.</li>
<li>Carilah sesama ibu bekerja yang juga menyusui untuk saling tukar pendapat pengalamam dan saling mendukung.</li>
</ul>
<p>Pelaksanaan langkah-langkah itu memang tak semudah membacanya. Tapi percayalah, dengan bekal rasa cinta terhadap anak-anak Anda, Anda akan mampu melewati tahap demi tahap, langkah demi langkah. Semua itu demi memberikan bekal yang menjadi pondasi anak-anak Anda  untuk tumbuh menjadi manusia utuh dan seperti harapan sebagian besar orang tua, anak harus lebih baik dari orang tuanya.</p>
<p>***</p>
<p>Sekarang Anda sudah mendapatkan berbagai informasi dan langkah-langkah apa yang harus Anda berdua (dengan suami/istri) lakukan. Saatnya memantapkan KOMITMEN, bahwa HANYA ASI saja nutrisi terbaik untuk bayi 0-6 bulan, dan setelah bayi Anda berusia di atas 6 bulan TETAP BERIKAN ASI tanpa campuran susu lainnya dan tambahkan Makanan Pendamping ASI buatan rumah.</p>
<p>Semoga Anda dan pasangan Anda bisa satu kata, satu asa, dan satu langkah dalam memberikan asupan gizi bagi anak-anak Anda. Selamat berjuang wahai orang tua yang mencintai anak-anaknya.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber:<br />
Materi Kelas Edukasi AIMI – Breastfeeding Tips for Working Mothers, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayi = Botol dan Dot? Benarkah?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/10/bayi-botol-dan-dot-benarkah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/10/bayi-botol-dan-dot-benarkah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 08:45:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiki Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[botol]]></category>
		<category><![CDATA[cup feeder]]></category>
		<category><![CDATA[dot]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[gelas sloki]]></category>
		<category><![CDATA[softcup feeder]]></category>
		<category><![CDATA[spuit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1086</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu yang membeli botol dan dot sebagai salah satu persiapan menyambut kelahiran anaknya karena sebagian besar kita hanya tau bahwa bayi cuma bisa minum langsung melalui payudara ibu atau dengan menggunakan botol dan dot. Apa kah ini benar? Yuk simak penjelasan konselor laktasi AIMI tentang cara pemberian ASI perah yang tepat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa diantara kita yang setuju, bahwa rata-rata ibu membeli botol dan dot dalam mempersiapkan kehadiran bayi mungilnya. Hal yang sama juga terjadi pada saya ketika mempersiapkan kelahiran anak pertama 6 tahun silam. Dalam bayangan saya yang namanya bayi ya minum susunya (baik susu formula ataupun ASI Perah) adalah melalui botol dan dot. Belum lagi tawaran dan iklan menarik mengenai puting dot yang dibuat semirip dengan puting ibu ataupun iklan yang mengatakan botol ini anti kolik dan tidak membuat bayi kembung. </p>
<p>6 tahun silam saya belum banyak tahu tentang pemberian susu melalui media lain selain botol dan dot. Sekarang, selain mulai banyak belajar saya juga menerapkan hal ini pada anak kedua saya dan ternyata berhasil, tidak sesulit yang saya bayangkan. Ini semakin membuat saya yakin untuk bisa membagikan pengalaman saya disini, karena sulit bagi saya untuk membagi sesuatu yang tidak saya yakini.</p>
<p>Banyak ibu yang bertanya pada saya, ”Apa sih keuntungannya memberikan ASIP melalui media selain botol dan dot?”. Biasanya, saya lalu mencoba menjawab seperti ini:</p>
<ul>
<li>Bayi terhindar dari bingung puting.<br />
Bingung puting adalah keadaan dimana bayi memilih untuk menggunakan botol dan dot karena cara kerja meminum ASI dari botol dan dot dan payudara berbeda. Melalui botol dan dot bayi tidak harus suckling melainkan hanya sucking. Sedangkan pada payudara bayi harus menggunakan lidahnya untuk merangsang keluarnya ASI. Sedangkan pada botol dan dot bayi hanya menyedot dan aliran ASIP sudah keluar dengan derasnya.</li>
<li>Bayi mendapatkan kepuasan oral hanya dari puting payudara ibunya tidak dari puting botol dan dot.<br />
Ketika ibu pulang dari bepergian atau bekerja, bayi akan bersemangat untuk menyusu langsung ke payudara ibunya. Hal ini tentunya bermanfaat karena bonding dengan ibu tetap terjalin kuat meskipun ibu tidak bisa selalu berada bersama bayi.</li>
<li>Penggunaan botol dan dot meningkatkan resiko infeksi telinga pada bayi.</li>
<li>Menyapih anak dari botol dan dot lebih sulit dibanding menyapih dari payudara. Sedangkan bayi yang tidak menggunakan dot kita tidak usah memikirkan bagaimana menyapih dari gelas kan? Krn seumur hidup kita minum pake gelas.</li>
</ul>
<p>Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, ”lalu, bagaimana memberikan ASI Perah pada bayi jika penggunaan botol dan dot dapat menimbulkan banyak risiko?”</p>
<p>Banyak ibu yang belum mengetahui, bahwa pemberian ASI Perah dapat menggunakan beberapa media, seperti: gelas sloki, sendok, pipet, spuit dan softcup feeder. Seperti apa media pemberian ASI dan bagaimana cara menjelaskannya, yuk, kita baca bersama sharing saya di bawah ini:</p>
<ol>
<li>CUP FEEDER (GELAS SLOKI)<br />
Pemberian ASIP melalui gelas sloki dapat dilihat pada www.drjacknewman.com → Video clips. Langkah-langkah yang dilakukan jika <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-cup-feeding-300x225.jpg" alt="" title="10-cup-feeding" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1091" />ingin memberikan ASIP melalui gelas sloki adalah:</p>
<ol>
<li>Gendong bayi di pangkuan dan posisikan bayi dengan kepala agak tegak, gunakan tangan untuk menopang bahu dan leher bayi. </li>
<li>Gunakan gelas sloki kecil. </li>
<li>Tempelkan bibir gelas sloki ke bibir bayi.</li>
<li>Miringkan gelas sloki hingga ASIP menyentuh bibir bawah bayi dan biarkan bayi menyeruput seperti kucing yang sedang minum. <strong>Jangan menuangkan ASIP ke mulut bayi</strong>. </li>
<li>Penting untuk menjaga aliran ASIP agar bayi tetap dapat menyeruput secara terus menerus. </li>
<li>Lakukan perlahan karena bayi dan pemberi ASIP sedang sama-sama belajar.</li>
</ol>
<p>Diambil dari <a href="http://www.drjacknewman.com/">www.drjacknewman.com</a> → cup feeding.</p>
<p>Coba lakukan langkah-langkah diatas berkali-kali hingga bayi dan pemberi ASIP sama-sama merasa nyaman. </li>
<li>SPOON FEEDER<br />
Pemberian susu melalui sendok sudah ada sejak dahulu kala, mungkin sejak botol dan dot belum ditemukan karena sendok adalah peralatan yang sangat mudah ditemukan. Ketika tiba-tiba seorang ibu harus keluar rumah dan meninggalkan bayinya dengan orang lain maka sendok adalah peralatan yang pasti ada di rumah. </p>
<p>Pemberian ASIP dengan sendok pada intinya sama dengan penggunaan gelas sloki. Posisikan bayi agak tegak, kemudian tempelkan sendok yang telah diisi ASIP ke bibir bayi, biarkan mulut bayi terbuka dan sendokkan ASIP ke dalam mulut bayi. Resiko ASIP berceceran lebih banyak karena pemberi ASIP harus membawa sendok yang berisi ASIP dari gelas ke bibir bayi. </li>
<li>PIPET dan SPUIT FEEDER.<br />
Pipet yang digunakan adalah pipet yang terbuat dari plastik, hindari pipet yang terbuat dari kaca karena khawatir akan melukai bayi. Cara penggunaan pipet adalah masukkan ujung pipet ke mulut bayi kemudian teteskan beberapa tetes ASIP, tunggu hingga bayi menelan ASIP nya kemudian ulangi lagi.</p>
<p>Spuit yang digunakan adalah spuit ukuran besar tanpa jarum suntiknya. Isi spuit dengan ASIP kemudian dekatkan ujung spuit ke mulut bayi hingga mulut bayi terbuka, kemudian tuangkan sedikit-sedikit ke mulut bayi dan bayi akan menelan ASIPnya. </li>
<li>SOFTCUP FEEDER<br />
<img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-soft-cup-feeding-300x225.jpg" alt="" title="10-soft-cup-feeding" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1093" />Softcup feeeder yang ada di pasaran sekarang adalah merek Medela. Bentuknya hanpir seperti spuit besar hanya saja ujungnya lebar seperti ujung gelas sloki. Cara pemakaiannya, isi tabungnya dengan ASIP kemudian tekan ujung tabung yang dekat mulut softcup hingga ASIP mengalir ke mulut softcupnya, kemudian sama seperti cup feeder, tempelkan ke bibir bawah bayi dan biarkan dia menyeruput, jika ASIP yang di mulut softcup sudah habis tekan kembali tabungnya hingga ASIP mengalir kembali.</li>
</ol>
<p>Yang perlu diingat ketika memberikan ASI Perah melalui media-media ini adalah: </p>
<ol>
<li>Berikan ketika bayi dalam keadaan tidak terlalu haus atau lapar. Karena kalau bayi sudah sangat lapar maka bayi menjadi tidak sabaran dan akhirnya menangis, apalagi jika bayi dan pemberi ASIP masih sama-sama belajar. </li>
<li>Serahkan tugas memberi ASIP kepada orang lain selain ibu. Karena bayi memiliki kecenderungan untuk mengenali sekali ibunya dan ia akan memilih untuk menyusu langsung dibanding meminum ASIP. </li>
<li>Latih bayi sedini mungkin karena semakin sering latihan maka bayi akan semakin mahir meminum ASIP dan yang memberikan ASIP juga mengetahui apa yang nyaman dan tidak nyaman bagi dirinya.</li>
<li>Mintalah orang yang akan memberikan ASIP mencoba semua media yang ada, cup, sendok, pipet ataupun spuit dan biarkan ia memutuskan media apa yang paling nyaman buat dia dan bayi kita.</li>
<li>Masih banyak orang yang menganggap memberikan ASIP tanpa dot adalah sesuatu yang ribet dan menyusahkan dan karena kita merasa tidak enak meninggalkan bayi kita pada mereka kita akan mudah menyerah dan membiarkan bayi diberi ASIP melalui dot, pada kasus saya, saya ajak ibu saya ke klinik laktasi dan biarkan konselor laktasi menjelaskan panjang lebar mengenai keuntungan memberikan ASIP tanpa dot dan ia lebih percaya (dibanding dengan anaknya sendiri yang ngomong). Dan terbukti saat ini baik ibu saya maupun si mbak yang di rumah menyatakan jauh lebih enak ketika anak terbiasa untuk minum dari gelas dari bayi, di umur 1 tahun 5 bulan ini dia sudah bisa minum menggunakan gelas apapun juga, tidak sibuk mensteril dan mencuci botol dan dot. </li>
</ol>
<p>Semoga sharing ini bermanfaat.. ☺ Selamat menyusui dengan cinta, moms..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/10/bayi-botol-dan-dot-benarkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

