<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; ASI Perah</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/asi-perah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 02:50:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Ingin Berhasil Menyusui? Anda perlu TIM SUKSES!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 04:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arisma Rahmatsyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Father]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[Bukan hanya Pemilihan Kepala Negara, Kepala Daerah atau bahkan Ketua Partai saja lhoo yang memerlukan Tim Sukses. Menyusui juga perlu Tim Sukses untuk mengantarkan bayi kita menjadi sarjana S1, S2, bahkan S3 ASI! Ikuti sharing salah satu Konselor Laktasi AIMI mengenai pentingnya dukungan orang terdekat agar sukses menyusui.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selintas, menyusui terlihat sebagai kegiatan yang dilakukan oleh ibu dan bayi-nya saja, tetapi jika kita perhatikan lebih seksama, ada beberapa pihak yang memiliki peranan yang besar di dalam kegiatan menyusui, selain sang ibu dan bayi-nya. Mereka itu adalah suami, orangtua, mertua, keluarga besar, sahabat, bahkan rekan kerja dan tetangga. Adanya dukungan dari berbagai pihak merupakan salah satu kunci agar ibu dapat berhasil menyusui bayinya. Mereka adalah Tim Sukses ibu menyusui.</p>
<h3>Cerita Tim Sukses Saya</h3>
<p>Saya sangat menikmati kegiatan menyusui anak saya, Ba’i, hingga dia menyapih sendiri (33 bulan). Bagi saya menyusui bukanlah beban, ataupun kendala, karena saya selalu didampingi dan dukung oleh suami dan keluarga, terutama ibu.</p>
<p>Saat Ba’i lahir, pengetahuan saya akan ASI dan menyusui sangat minim. Bekal saya hanyalah tekad, tekad untuk menyusui bayi saya hingga berumur dua tahun.</p>
<p>Bermodal tekad saja ternyata tidak cukup, saya merasa masih masih perlu mengumpulkan informasi mengenai ASI serta dukungan dari orang terdekat. Saya merasakan sendiri, kekuarangan informasi ternyata berdampak tidak baik bagi saya maupun Ba&#8217;i sejak awal kelahiran. Saat itu, saya dan Ba&#8217;i sudah dipisahkan sejak kelahirannya. Kami baru bertemu kembali setelah enam jam pasca kelahiran. &#8220;Supaya ibu bisa istirahat. Tentunya ibu lelah sekali setelah melahirkan,&#8221; begitu kata seorang tenaga kesehatan ketika saya katakan bahwa saya ingin bertemu dengan bayi saya. Minimnya informasi yang saya punya, membuat saya HARUS pasrah dengan keadaan. Tak hanya itu, sejak awal kelahiran pun Ba&#8217;i sudah diberikan susu formula oleh pihak rumah sakit tanpa seijin dan sepengetahuan kami. Ingin marah rasanya.</p>
<p>Adalah suami saya yang ber-inisiatif untuk memberikan perahan kolostrum dan perahan ASI ke ruangan bayi <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/06/06-the-A-team.jpg" alt="" title="06-the-A-team" width="200" height="300" class="alignright size-full wp-image-775" />sebelum jadwal minum sufor oleh perawat. Suami mengetok ruangan perawat untuk mengambil pompa dan corongnya, setelah di perah, ASIP langsung di bawa ke ruang bayi dan minta ke susternya untuk segera diberikan langsung ke Ba’i. Hal ini terus dilakukan setiap 2 jam, bahkan tengah malam pun, suami tetap ke ruangan perawat (yang beda lantai) untuk meminta corong yang steril, membangunkan saya untuk memerah dan membawa perahannya ke ruangan bayi. Alhamdulilah, meskipun Ba’I terkena susu formula, tapi dengan semangat suami membantu memberikan ASI perah dan menyemangati saya untuk terus memerah, ASIP saya bisa “menyalip” waktu pemberian sufor.</p>
<p>Permasalahan lain muncul, ketika dokter spesialis anak (DSA) mendiagnosa Ba’i kuning karena kadar bilirubinnya tinggi (padahal setelah saya pelajari, ternyata angka tersebut masih normal). DSA mengatakan penyebab dari kuning karena golongan darah saya dan Ba’i berbeda. Saya B dan Bai O (lagi-lagi setelah saya baca dan konsultasi dengan pakar laktasi, ternyata perbedaan golongan darah B dan O tersebut bukan penyebab jadi kuning, berbedaan rhesus dan golongan darah AB-O yang mungkin dapat menyebabkan bayi kuning, itu pun dengan bilirubin yang langsung tinggi). Dokter kemudian menyarankan saya untuk menghentikan pemberian ASI sampai lima hari dan juga di bluelight. Saat itu DSA ini seperti “menindas” dengan kata-katanya yang menyindir karena saya tetap ingin memberikan ASI. Dia bahkan tidak melihat saya ketika sedang berbicara dan lebih memilih berbicara kepada suami dan ibu saya. Rasanya kesal sekali, merasa tidak di dengar dan tidak di perhatikan. Untung di saat seperti ini suami dan ibu saya terus mendukung saya memberikan ASI.</p>
<p>Ibu saya berpendapat, ”Rasanya tidak mungkin ya, Allah SWT memberikan &#8216;racun&#8217; untuk mahluk ciptaannya, apalagi yang baru lahir. ASI kan keluar dengan sendirinya setelah ibu melahirkan, berarti itu pemberian Allah SWT untuk bayi melalui sang ibu, jadi memang ASI yang harus diberikan kepada bayi, bukan susu formula”. Dari pemikiran ini, saya dan suami semakin mantap untuk terus menyusui, walaupun setiap hari dokter bilang, “Bu, billirubinnya lebih tinggi dari kemarin, ini karena ibu masih tetap memberikan ASI lho?!” Saya sempat ragu, tapi suami kembali mengingatkan untuk tetap menyusui. Di samping itu, ibu saya pun mencari-cari informasi mengenai bayi kuning ke beberapa temannya yang ber-profesi sebagai dokter. Hasil yang didapat, tenyata justru hanya ASI-lah yang dapat membantu mengeluarkan bilirubinnya. Pemberian susu formula justru akan memperberat kerja pencernaan bayi yang belum sepenuhnya matang, selain itu bayi harus di siangin di bawah sinar matahari yang tidak langsung, di pagi hari. Mendengar ini, saya semakin yakin lagi untuk tetap menyusui Ba’i. Tim sukses saya (suami dan Ibu) telah berhasil membawa saya dari keraguan dan kecemasan di awal kehidupan Ba’i di dunia.</p>
<h3>Ketua Tim Sukses: Suami</h3>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/06/06-bai-ayah-makan-300x194.jpg" alt="" title="06-bai-ayah-makan" width="300" height="194" class="alignleft size-medium wp-image-774" />Menurut saya, suami sebagai salah satu pemegang kunci dari keberhasilan menyusui, suami adalah ketua tim suksesnya.  Suami saya pernah berkata bahwa ia iri setiap kali melihat saya menyusui Ba’i, karena ada kelekatan/bonding  yang sangat dalam dan hal itu tidak dapat ia lakukan bersama Ba’i. Suami saya juga khawatir jika Ba’i akan sedikit lebih “jauh” ke dia dibandingkan ke saya. Memiliki pikiran seperti itu menurut saya sangatlah wajar dan di satu sisi merupakan kebanggaan buat saya sebagai ibu bahwa bonding yang saya miliki dengan Ba’i pada saat menyusui ternyata sangat eksklusif dan tidak dapat tergantikan oleh siapapun dan apapun juga di dunia ini.</p>
<p>Saya pernah membaca buku mengenai “<em>Attachment Parenting</em>” dari William Sears, M.D. dan Martha Sears, R.N, yang menurut saya, dapat menghilakan rasa “ke-iri-an” suami saya. William dan Martha Sears berpendapat bahwa banyak hal dapat di lakukan oleh sang ayah untuk dapat menjadi terikat dengan sang bayi. Salah satunya pada saat menyusui, sang ayah akan mendapatkan keterikatan dengan bayinya pada saat menggendong, mendekap bayinya, menggantikan popok, memandikan, memijat bayinya, sebelum di serahkan ke istrinya untuk di susui. Sang ayah juga dapat merawat istrinya untuk memudahkannya menyusui (seperti melakukan pijat punggung, membuatkan secangkir teh hangat, menyiapkan bantal untuk menyangga punggung istri pada saat menyusui,dll). Membaca ini saja, kita sudah terbayang betapa indahnya suasana yang di penuhi rasa cinta ini. Bagi kita, ibu menyusui, suasana indah ini sangat dapat merangsang hormon oksitosin untuk bekerja melancarkan jalan keluarnya ASI.</p>
<p>Saya merasa sangat beruntung, karena suami mendapat “<em>paternity leave</em>” (cuti dalam tanggungan karena istri melahirkan), dari kantornya selama 4 minggu. Kesempatan ini sangat dimanfaatkan oleh kami dengan sebaik mungkin. Disaat kondisi saya belum 100% pulih, suami dengan sigap membantu menggantikan popok, memandikan Ba’i serta memberikan ASIP. Terus terang, setiap kali saya melihat suami saya merawat Ba’i, terlihat sangat indah dan momen itu sering kali membuat jadi lebih bersemangat untuk menyusui. Aneh ya? Tapi setidaknya itu lah yang saya rasakan. Ada dorongan alami yang kadang saya sendiri juga tidak menyadarinya. </p>
<h3>Wakil Kehormatan Tim Sukses : Orangtua (Ibu)</h3>
<p>Saat saya kembali bekerja, Ibu saya yang menjaga dan merawat Ba’i. Ilmu manajemen laktasi saya masih nol, sehingga saya tidak tahu harus bagaimana seharusnya mempersiapkan ASIP, dll. Adalah Ibu saya yang membuat “matematika pemberian ASIP”nya. Ibu menyarankan, sebelum masuk kerja, melakukan simulasi meninggalkan rumah selama jam kerja untuk melihat berapa kali dan berapa banyak Ba’i minum. Ibu saya menulis jam berapa saja Ba’i bangun, tidur dan berapa cc ia minum satu kalinya. Alhasil, terciptalah rumus “matematika pemberian ASIP” yang kemudian, setelah saya belajar, “matematika pemberian ASIP” a’la ibu saya itu ternyata mirip dengan “Manajemen Laktasi”.</p>
<p>Ibu saya selalu mengingatkan beberapa hal: 1. Rajin memerah ASIP, baik yang fresh untuk diberikan langsung pada hari itu dan juga untuk dimasukkan ke dalam freezer. 2. Selalu meninggalkan sejumlah ASIP di kulkas (lima-enam botol ASIP) setiap kali saya pergi ke kantor dan, 3. Selalu menanyakan jam berapa pulang kantor. Setiap mendekati jam lima sore, ibu saya sms atau menelfon, menanyakan apakah saya sudah mau pulang atau akan lembur. Jika saya bilang langsung pulang, maka Ibu saya tidak akan memberikan ASIP di jadwal selanjutnya karena di perkirakan, saya  sudah sampai di rumah, jadi menghemat satu ASIP (dengan jam yang paling baru di perah) untuk di berikan esok paginya. Suatu hari saya pernah terjebak banjir, sehingga sampai rumahnya akan sangat larut. Stok ASIP untuk hari itu tinggal satu botol lagi, ibu saya langsung mengantisipasinya dengan mengeluarkan satu botol ASIP dari freezer yang memang berfungsi sebagai ASIP untuk cadangan jika ASIP fresh yang tersimpan di kulkas bawah, habis. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata disarankan untuk mencairakan ASIP yang dari freezer secara bertahap, akan tetapi saat itu keadaannya di luar kendali saya (dan juga saya belum tau informasi mengenai ini).</p>
<p>Syukur Alhamdulilah, dengan bantuan dan dukungan dari suami dan ibu lah, saya dapat berhasil menyusui Ba’i dengan tanpa beban. Kegiatan menyusui menjadi ritual sehari-hari yang menyenangkan buat saya, walaupun di kantor saya dihujani dengan berbagai tugas dan tekanan. Produksi ASI saya juga bukan termasuk yang berlimpah lho tapi sangat cukup untuk Ba’i. Terima kasih untuk ibu saya dengan “matematika pemberian ASIPnya” dan juga terima kasih saya untuk suami yang selalu setia mendukung saya dengan bantuan-bantuan praktisnya. Mereka adalah Tim sukses saya yang telah mengantarkan Ba’i jadi Sarjana S1 dan S2 ASI!</p>
<p>Ayoo persiapkan Tim Suksesnya Moms masing-masing yaaa… </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 1122 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Pertama Gagal ASI Eksklusif &#8211; Bagaimana Dengan Adik?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 01:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok pendukung]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu yang tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif kepada anak kedua bahkan ketiga ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama. Ini disebabkan mereka terpaku pada kegagalan anak pertama. Umumnya kegagalan ini disebabkan oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.  Saya ingin berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak ibu merasa tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya &#8211; baik kepada anak kedua atau ketiga, ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-mama-zach.jpg" alt="" title="04-mama-zach" width="300" height="241" class="alignleft size-full wp-image-648" />Hal ini seringkali terjadi, karena banyak ibu terpaku pada kegagalan memberikan ASI di masa lalu yang disebabkan  oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.</p>
<p>Menanggapi hal tersebut, ijinkan Saya berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi semua ibu yang membacanya.</p>
<p>Anak pertama saya lahir pada bulan Oktober 2004, hanya 10 bulan dari sejak saya menikah. Senang..? Pasti dong. Saya pun berniat untuk memberikan yang terbaik &#8211; yaitu ASI &#8211; untuk anak pertama saya.</p>
<p>Memberikan ASI ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Karena kekurangan informasi tentang ASI dan menyusui, saya mengawali perjalanan menyusui anak pertama saya dengan tidak tepat, misalnya: tidak meminta rawat gabung dengan anak sewaktu di Rumah Sakit sehingga saya yang harus bolak balik ke kamar bayi (dengan jam menyusui yang dibatasi / dijatah). Kondisi seperti ini membuat saya tidak dapat menyusui dikala anak saya membutuhkan ASI. Saya lebih sering menemui anak saya sedang tertidur sehingga tak mau menyusu.</p>
<p>Saat itu saya pikir ini kondisi seperti ini normal saja. Tetapi begitu saya pulang dari Rumah Sakit dan merawat bayi saya sendiri, barulah saya merasakan ketidaknyamanan. Bukan, bukan karena saya kecapekan menjaganya tapi saya mengalami puting lecet.</p>
<p>Saya bingung sekali kala itu,  tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya cara yang menurut saya dapat menyelesaikan permasalahan puting lecet kala itu adalah dengan memompa ASI dari payudara yang lecet dan hanya menyusui dari payudara yang tidak sakit. Karena kondisi ini pula, saya sempat mengalami ‘<em>mild baby blues</em>’, dimana saya menangis setiap harus menyusui dari payudara yang lecet tersebut. Untungnya cuma berlangsung sebentar, 3 hari saja.</p>
<p>Selama di berada rumah dan belum kembali bekerja, saya selalu menyusui anak saya secara langsung, sehingga saya pun jarang memerah, apalagi semenjak luka di puting pulih. Ternyata hal ini menimbulkan masalah ketika saya harus kembali lagi ke kantor. Saya tidak memiliki stok ASI perah ketika itu, sehingga saat harus kembali masuk kantor saya bingung bagaimana dengan asupan susu anak saya di rumah. Oleh orang tua, saya diminta membeli susu formula (sufor) sebagai cadangan kalau-kalau ASI yang saya perah di kantor tidak cukup untuk konsumsi anak saya selama saya tinggal bekerja. Dan terjadilah hal yang saya takutkan, di usianya yang ke- 2,5 bulan, anak saya sudah minum ASI campur sufor.</p>
<p>Selain itu, karena minimnya informasi yang saya punya, saya memperkenalkan MPASI dini pada anak saya, karena menurut orang tua,  anak saya pasti kelaparan kalo hanya minum ASI dan susu formula saja.</p>
<p>Sekembalinya bekerja, ternyata saya tidak konsisten memerah ASI. Kadang hanya 2x dalam waktu 9 jam, malah kadang hanya 1x kalau saya terlalu sibuk atau malas. Ini disebabkan di kepala saya sudah tertanam bahwa anak saya akan baik-baik saja karena ada back-up sufor dan MPASI di rumah jika ASI perah tidak mencukupi. Akhirnya pada usia 10 bulan, anak saya hanya minum sufor tanpa ASI lagi.</p>
<p>Ketika anak ke-2 lahir di tahun 2007, saya sudah bertekad untuk memberi ASI sekurang-nya 6 bulan tanpa tambahan susu formula maupun MPASI dini. Hal ini dikarenakan informasi yang saya dapatkan dari seminar tentang kesehatan anak pada tahun 2006 yang saya ikuti, menjelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif adalah 6 bulan tanpa tambahan apa pun. Ditambah lagi, tidak lama setelah saya melahirkan, saya pun ikut bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dimana saya dapat mencari informasi tentang ASI, menyusui dan tips memerah selama bekerja dengan lebih lengkap. Alhamdulillah, dengan banyaknya informasi yang saya dapat, anak ke-2 pun lulus ASI eksklusif tanpa bantuan dari susu formula dan MPASI dini.</p>
<p>Selain itu, untuk menambah wawasan dan jejaring, saya datang ke kopdar milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">Asiforbaby</a> pertama kali dan berkenalan dengan banyak ibu muda. Selain presentasi mengenai ASI yang dibawakan oleh dr. Utami Roesli, saat itu juga ada presentasi dari mbak Mia Sutanto yang menjelaskan bahwa akan dibentuk suatu organisasi yang bisa mewadahi para ibu menyusui. Saya melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk terlibat secara langsung didunia per-ASI-an dan ketemu dengan para ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>Singkat cerita, saya pun mengajukan diri untuk ikut bergabung dan Alhamdulillah, saya tidak salah berkumpul dengan ibu-ibu hebat di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena disini lah saya bisa bertanya, curhat dan bersenang-senang. Dari sini pun saya sadar, ternyata ilmu yang didapat dari internet atau milis saja tidak cukup. Kita perlu berkumpul dengan para ibu yang mempunyai pandangan yang sama dengan kita.</p>
<p>Saat kelahiran anak-3 dipertengahan 2008, saya jauh lebih percaya diri. Saya jadi lebih getol mencari dokter, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-family.jpg" alt="" title="04-family" width="300" height="200" class="alignright size-full wp-image-649" />tenaga kesehatan dan rumah sakit yang mengijinkan IMD dan rawat gabung. Sewaktu lahiran saya tenang karena anak langsung diletakkan di atas dada dan dibiarkan selama kurang lebih 1,5 jam. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan karena saya bisa melihat sendiri ayahnya meng-adzani anak di dada saya dan melihat serta merasakan IMD, dimana anak merangkak sendiri menuju payudara dan menyusu secara alami tanpa bantuan dari saya, mamanya.</p>
<p>Jadi kalau boleh saya rangkum dari pengalaman ini adalah tidak benar bahwa kegagalan pemberian ASI pada anak pertama berarti mustahil bagi anak ke-2 mau pun ke-3 untuk mendapat ASI. Ibu perlu membekali dirinya dengan ilmu yang cukup semenjak hamil tentang tata cara IMD, persiapan menyusui, dokter dan rumah sakit / bidan yang mendukung IMD &#038; rawat gabung. Tentu saja dukungan penuh dari suami juga akan membuat ibu lebih percaya diri.</p>
<p>Selain itu, jika memungkinkan bergabunglah dengan komunitas peduli ASI. Ini bisa diawali dengan bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dan dilanjutkan dengan bertemu langsung dengan para ibu di kota tempat kita tinggal atau sering disebut kopdar. Lebih bagus lagi jika pertemuan ini bisa diadakan rutin sehingga kita bisa saling berbagi ilmu dan saling mendukung sesama ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>So, ibu2, terbukti kan, kegagalan di masa lalu dapat menjadi pemicu keberhasilan untuk menyusui. Kalau saya bisa, Anda pun bisa!</p>
<p>Semangat ASI!</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 1214 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HYPNOBREASTFEEDING: Bantu Ibu Sukses Meyusui</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/hypnobreastfeeding-bantu-ibu-sukses-meyusui/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/hypnobreastfeeding-bantu-ibu-sukses-meyusui/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 07:03:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuyuk Andriati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[hypnobreastfeeding]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[ultah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA – Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menggelar workshop Hypnobreastfeeding dengan tema “Afirmasi Positif untuk Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas ASI”, dalam rangka perayaan Ulang Tahun ke-2 organisasi ini, di Jakarta, Minggu (19/4). Workshop yang diikuti sekitar 100 ibu menyusui ini dipandu oleh pakar hypnotherapy, Lanny Kuswandi. Salah satu tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk memperkenalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/04/04-press-hypnobf-300x180.jpg" alt="Hypnobreastfeeding Logo" title="Hypnobreastfeeding Logo" width="300" height="180" class="alignright size-medium wp-image-343" />JAKARTA – Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menggelar workshop Hypnobreastfeeding dengan tema “Afirmasi Positif untuk Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas ASI”, dalam rangka perayaan Ulang Tahun ke-2 organisasi ini, di Jakarta, Minggu (19/4).<br />
<span id="more-341"></span><br />
Workshop yang diikuti sekitar 100 ibu menyusui ini dipandu oleh pakar hypnotherapy, Lanny Kuswandi. Salah satu tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk memperkenalkan teknik relaksasi terbaru, sehingga dapat membantu para ibu menyusui untuk memaksimalkan kuantitas dan kualitas ASI-nya.</p>
<p>“AIMI ingin membantu para ibu untuk memastikan agar ibu menyusui bisa terus memberikan ASI, minimal secara eksklusif selama 6 bulan pertama, terutama apabila para ibu menyusui tersebut harus kembali bekerja,” kata Ketua AIMI, Mia Sutanto. Dukungan untuk menyusui di Indonesia dirasakan  masih kurang, oleh karena itu para ibu menyusui harus senantiasa berusaha menciptakan kondisi yang positif bagi dirinya untuk terus bisa menyusui. </p>
<p>Hypnobreastfeeding adalah teknik relaksasi untuk membantu kelancaran proses menyusui. Caranya adalah dengan memasukkan kalimat-kalimat afirmasi positif yang membantu proses menyusui disaat si ibu dalam keadaan sangat rileks atau sangat berkonsentrasi pada suatu hal (keadaan hipnosis).</p>
<p>Definisi hipnosis sendiri adalah suatu kondisi nirsadar yang terjadi secara alami, dimana seseorang menjadi mampu menghayati pikiran dan sugesti tertentu untuk mencapai perubahan psikologis, fisik maupun spiritual yang diinginkan. Hipnosis otomatis terjadi kapanpun seseorang menjadi rileks yang dalam dan/atau berkonsentrasi penuh.</p>
<p>Dalam hypnobreastfeeding, perubahan yang diinginkan adalah segala hal yang mempermudah dan memperlancar proses menyusui. Contoh kalimat sugesti atau afirmasinya: “<em>ASI saya cukup untuk bayi saya sesuai dengan kebutuhannya</em>”, “<em>Saya selalu merasa tenang dan rileks disaat mulai memerah</em>”, dan sebagainya.</p>
<p><strong>Ulang Tahun ke-2 AIMI</strong></p>
<p>Memasuki usia dua tahun, AIMI telah melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya pemberian ASI bagi bayi. Berbagai kegiatan yang rutin digelar AIMI adalah Kelas Edukasi AIMI dengan pembahasan-pembahasan antara lain Breastfeeding Basics, Breastfeeding for Working Moms, MPASI sehat untuk bayi, selain itu AIMI juga mengadakan kampanye di perkantoran lewat program AIMI Goes to Office, di berbagai komunitas seperti gereja, masjid dan perkumpulan lainnya.</p>
<p>Selama 2 tahun ini AIMI telah menghasilkan sekitar 20 konselor laktasi yang siap memberikan dukungan dan bantuan untuk ibu-ibu yang memerlukan konseling dan dukungan lain seputar menyusui bayinya.</p>
<p>Kegiatan fenomenal yang diadakan AIMI tahun 2008 lalu adalah Menyusui Serentak Ibu Indonesia dalam rangka peringatan Pekan ASI Sedunia. ***</p>
<p><strong>Contact Person AIMI:</strong><br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584                            </p>
<p>Yuyuk Andriati, Divisi Komunikasi<br />
yeye@aimi-asi.org<br />
HP : 0811 971509</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS Lt. 1<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta Telpon : 021-72790165 Fax: 021-72790166<br />
www.aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/hypnobreastfeeding-bantu-ibu-sukses-meyusui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dinas Luar Negeri&#8230;?? Tak Masalah..!!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/02/dinas-luar-negeri-tak-masalah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/02/dinas-luar-negeri-tak-masalah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 15:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Tricks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Bingung gimana caranya agar tetap anak mendapatkan ASI sementara kita ditugaskan ke luar kota / negeri untuk jangka waktu yang cukup panjang..? Yuk simak cerita sukses dari salah satu ibu menyusui yang berhasil menjalankan tugas kantornya keluar negeri dan tetap bisa membawakan 'oleh-oleh' yang tak ternilai untuk buah hatinya, ASI Perah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat itu datang juga. Saat yang paling saya nanti-nantikan selama bekerja. Bertugas ke luar negeri. Tapi, kok rasanya campur aduk ya? Ada excited karena mau melihat Negara yang sudah lama saya impikan, sedih karena akan berpisah dalam waktu yang lama dengan Alle (yang kala itu berusia 18 bulan) dan yang paling dominan adalah bingung, bagaimana nanti saya bisa terus memberikan ASI selama jauh dari Alle?</p>
<h3>BUKAN ALASAN UNTUK BERHENTI MENYUSUI</h3>
<p>Banyak hal terlintas dalam pikiran saya saat itu, “cukup tidak ya, ASIP ku? Apa iya, dengan kepergian ini Alle harus ditambah susu lain (waktu itu alle belum doyan UHT)? Kira-kira sepulangnya aku nanti, Alle masih mau menyusu langsung, atau tersapih?” dan lain-lain yang menciutkan ke-PeDe-an saya. </p>
<p>Tapiii… setelah memikirkan kembali seluruh kebaikan dan manfaat ASI, kok ya sayang banget kalo kita menyerah dan patah semangat. Apalagi setelah membaca berbagai macam referensi tentang pengalaman ibu menyusui yang bepergian jauh dan tidak menyerah untuk terus memberikan ASI buat buah hatinya walaupun harus terpisah jauh. Saya jadi terinspirasi dan berpikir, kalau orang lain aja bisa, saya juga PASTI BISA. Asal yakin dan niat. Itu kuncinya…</p>
<h3>SEBELUM BERANGKAT..</h3>
<h4>PERTAMA: SIAPKAN DIRI..</h4>
<p>Begitu mandat itu datang, hal pertama yang saya lakukan adalah mengejar ketertinggalan stock ASIP saya dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang travelling ke luar negeri sambil membawa ASIP di dalam kabin. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/02/02-sisca-alle-300x210.jpg" alt="Ibu Bekerja tetap ASI" title="Ibu Bekerja tetap ASI" width="300" height="210" class="alignleft size-medium wp-image-182" />Mengingat perjalanan saya ini cukup jauh dan lama (trans-Atlantik ke benua Amerika), saya harus punya ‘sangu’ informasi yang cukup untuk menyimpan dan membawa kembali ASIP saya dengan selamat sampai di rumah..<br />
Mengejar ketertinggalan stok ASIP merupakan hal yang cukup ‘<em>challenging</em>’ buat saya. Kala itu usia Alle 18 bulan dan ‘cadangan’ ASIP saya per hari maksimal 300ml. Untuk meninggalkan Alle sekian hari, saya harus segera berhitung untuk mencukupi kebutuhan ASIP Alle ketika saya jauh darinya. </p>
<p>Dengan 300 ml ASIP, konsumsi ASI Alle tercukupi dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam ketika saya bertemu dengannya lagi di rumah. Untuk itu, jika dalam  24 jam Alle tidak bertemu saya, saya harus menyediakan 400 ml – 500 ml ASIP untuk cadangan jika malam hari Alle terbangun dan ingin minum ASI. </p>
<p>Mengingat tugas ini akan menempuh waktu 10 hari (4 hari perjalanan pulang-pergi dan 6 hari bertugas), dan kebutuhan ASI Alle yang 500 ml sehari, mulailah saya mengatur strategi untuk mengejar kekurangan stok ASIP saya di kulkas. Kebetulan saat itu saya masih memiliki 5 cadangan ASIP @ 120ml. Nah, karena kebutuhannya akan berjumlah 10 hari x 500 ml = 5 Liter ASI, maka saya harus dapat memperbanyak stok ASI saya 8 kali lipat.</p>
<p>WAhh.. stress juga saya. Secara di kantor hanya berhasil memerah 3x, itu saja tidak selalu dapat 120 ml, kadang hanya 80–90 ml. Tapi saya tidak patah arang dan coba atur strategi dengan cara makan makanan yang dipercaya memperbanyak ASI (favorit saya air rebusan kacang hijau dan sayur papaya juga buah papaya-nya), memperbanyak waktu memerah dari 3x menjadi 5x dalam sehari, dan PERCAYA DIRI kalau ASIP saya akan cukup selama pergi. Ternyata strategi yang saya tempuh membuahkan hasil.  Puji Tuhan, 1 hari sebelum keberangkatan kulkas saya sudah penuh dengan ASIP sesuai dengan kebutuhan Alle.</p>
<h4>KEDUA: CARI INFORMASI SEBANYAK MUNGKIN</h4>
<p>Tenang masalah ASI perah, masih bingung masalah BAWA ASI PERAH KEMBALI KE INDONESIA.</p>
<p>Peraturan penerbangan yang MELARANG MEMBAWA CAIRAN LEBIH DARI 100 ML KE DALAM KABIN adalah momok utama ketakutan saya. Teringat lagi, bahwa Negara yang akan saya kunjungi begitu ketatnya menerapkan peraturan ini. </p>
<p>Tapi saya tak habis semangat.  Tanya teman-teman yang pernah bepergian ke luar negeri sambil membawa ASIP, telpon maskapai penerbangan yang akan saya gunakan, dan <em>browsing</em> informasi sebanyak-banyaknya di internet. Walau sedikit menguras tenaga, tapi pencarian itu tak sia-sia.</p>
<p>Saya bertemu dengan web resmi milik <a href="http://www.tsa.gov/">Transportation Security  Administration (TSA)</a> United States of America. Lembaga inilah yang pertama kali mengeluarkan peraturan yang melarang untuk membawa cairan lebih dari 100 ml ke dalam kabin setelah peristiwa WTC 9/11 terjadi. </p>
<p>Puji Tuhan, di bulan Oktober 2006 mereka merevisi peraturan tersebut menjadi lebih BERSAHABAT  bagi ibu-ibu menyusui yang bepergian dengan, atau tanpa anak. Kalau boleh saya kutip, salah satu pasal dari peraturan tersebut berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>“<em>… ibu menyusui yang bepergian dengan atau tanpa membawa bayi/anak dapat membawa AIR SUSU IBU dalam jumlah berapapun ke dalam kabin pesawat selama ibu menyebutkan (declare) bahwa ibu membawa ASI pada setiap security check-point.</em>”<br />
(Sumber: <a href="http://www.tsa.gov/travelers/airtravel/children/formula.shtm">http://www.tsa.gov/travelers/airtravel/children/formula.shtm</a>) </p>
<p>Hal berikutnya yang saya lakukan adalah mencari informasi di hotel tempat saya menginap, apakah saya bisa mendapatkan kamar dengan <em>refrigerator</em> yang memiliki <em>freezer</em> untuk menyimpan ASIP. Untung saja, hotel yang saya tempati bentuknya seperti studio apartemen, sehingga kulkas dengan <em>freezer</em> memang disediakan di masing-masing kamar. Pfffiiiuuuhhh…. ☺</p>
<p>Suatu kelegaan yang luar biasa buat saya setelah berhasil mendapatkan seluruh informasi yang saya perlukan. Saya semakin mantap dan PeDe untuk berjuang membawa oleh-oleh ASIP dari luar negeri untuk Alle tercinta.</p>
<h4>KETIGA: SIAPKAN SEMUA DOKUMEN PENDUKUNG</h4>
<p>Selain Paspor, Visa dan tiket, dokumen-dokumen yang harus disiapkan untuk memperlancar membawa ASIP selama di perjalanan adalah:</p>
<ol>
<li><em>Copy/Print</em> dari peraturan TSA (in case petugas di <em>security check point</em> tidak mengetahui tentang peraturan ini, buat jaga2 saja)</li>
<li>Surat Keterangan Dokter yang menyatakan bahwa kita adalah ibu menyusui yang bepergian</li>
</ol>
<p>Selain itu, kita harus jujur dan menyebutkan semua barang bawaan kita (terutama ASIP) jika melalui <em>security check point</em>.</p>
<h4>KEEMPAT: SIAPKAN ANAK</h4>
<p>Setelah tiga hal diatas berhasil diatasi, akhirnya saya bertemu juga dengan fase yang paling berat: MENYIAPKAN ANAK.</p>
<p>Sejak satu bulan sebelum keberangkatan, saya sudah sering menyinggung-nyinggung soal kepergian saya pada Alle. Misalnya saja pada saat ia bermain, dengan mengajaknya mengobrol:</p>
<blockquote><p>Saya (S): Mas, bulan depan mami kerja di kantor yang jauh loohhhh..<br />
Alle (A): Cuma melirik, terus sibuk dengan mainannya lagi<br />
S	: Mas Alle manis ya, sama papi, utita (eyang putri), kungkungka (eyang kakung) dan hayus  (pengasuhnya)<br />
A	: senyum aja, terus minta ‘cucuacimami’ alias nenen.. hehe..</p></blockquote>
<p>Di waktu lain, saat ia tertidur nyenyak, saya coba bisikkan hal yang sama padanya. Bahwa saya akan pergi ke kantor yang jauh untuk tugas dalam waktu yang lama. Alle manis ya.. Mimik ‘cucuacimami’ sama utita dan kungkungka.. Nanti kalau mami pulang, mas Alle boleh mimik ‘cucuacimami’ langsung lagi.</p>
<p>Begitu terus berulang-ulang. Pokoknya setiap ada kesempatan, saya selalu informasikan pada Alle tentang kepergian saya.</p>
<p>Jangan lupa, sertakan juga Ayah dalam fase ini. Suami yang mendukung, pasti akan membuat kita tenang. Ia akan menjadi figure pengganti kita disaat kita jauh dari rumah, jadi, sertakan juga pada saat kita memberikan informasi kepergian kita.</p>
<p>Satu hal lagi, selain menginformasikan hal-hal tersebut, sebelum berangkat saya juga sengaja membawa baju Alle yang dipakai semalam selama bepergian. Saya juga meninggalkan salah satu baju saya yang sudah dipakai untuk digunakan sebagai selimut Alle di malam hari. Kata orang-orang tua zaman dahulu, bau tubuh ibu (walaupun secara fisik jauh) akan membuat anak tetap nyaman. Sebaliknya, bau tubuh anak akan membuat ibunya pun nyaman. <em>Believe it or not, it works for me</em>. ☺</p>
<h4>KELIMA: YAKINKAN DIRI KITA, BAHWA SEMUA AKAN AMAN DAN TERKENDALI</h4>
<p>Ini juga fase yang sulit buat saya. Karena terbiasa mengurus semuanya sendiri, terutama hal-hal yang berkaitan dengan keperluan Alle, saya tidak mudah percaya dengan orang lain, even itu suami saya sendiri. </p>
<p>Tapii… kita harus bisa percaya, apalagi dengan kasus seperti yang saya alami – harus pergi jauh dari rumah dalam jangka waktu yang relatif lama. Salah satu cara mengatasi kecemasan saya akan hal ini adalah saya membuat list semua keperluan Alle, dari menu makan tiap hari, jam memberikan ASIP di malam hari (karena kalau siang relative sudah oke, karena rutin), penanganan pertama apa yang harus dilakukan kalau Alle tiba-tiba panas/batuk/pilek, dan hal-hal lainnya. </p>
<p>List ini saya berikan pada orang tua saya (yang setiap hari kami titipi Alle) serta suami saya. <em>In case</em> sesuatu yang sangat <em>emergency</em>, mereka bisa menghubungi saya via telp hotel/hp (yang sengaja saya aktifkan saluran internasional-nya).</p>
<h4>KEENAM, SIAPKAN PERALATAN ‘PERANG’</h4>
<p>Peralatan perang yang saya maksud disini bukan untuk perang beneran loh, tapi lebih ke peralatan memerah ASI. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/02/02-peralatan-perang.jpg" alt="Peralatan Perang" title="Peralatan Perang" width="270" height="223" class="alignright size-full wp-image-185" />Karena saya nyaman memerah dengan menggunakan tangan, maka peralatan yang saya siapkan antara lain sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>1 (satu) buah <em>cooler bag</em> ukuran besar (bentuknya kebetulan seperti ransel, sehingga mudah dibawa)</li>
<li>3 (tiga) buah <em>ice gel</em> dan 4 (empat) buah <em>ice packs</em>. (catatan: <em>ice gel</em> tahan 12-18 jam, <em>ice packs</em> tahan sekitar 8 jam)</li>
<li>25 (dua puluh lima) buah plastik ASI</li>
<li>2 (dua) buah Tupperware ukuran besar (untuk menyimpan plastic ASI di kulkas/<em>cooler bag</em>)</li>
<li>3 (tiga) buah botol ASI dan <em>tablet cold sterilizer</em></li>
</ul>
<h4>DALAM PERJALANAN</h4>
<p>Akhirnya, tiba juga hari yang ditunggu. Hari dimana saya akan berangkat meninggalkan rumah dan Alle tercinta saya. Walau sudah dengan berbagai persiapan sebelum berangkat, tetap saja berurai air mata ketika melihat Alle melambaikan tangan pada saya. Alle-nya sih, oke-oke saja. Tapi ternyata saya yang lebih tidak siap berpisah dengannya.</p>
<p>Sambil terus menenangkan hati, saya mulai atur strategi pemerahan di dalam perjalanan. Kebetulan kota tujuan akhir saya adalah San Diego, California. Untuk sampai kesana, saya harus transit 3 kali dan 3 kali pula berganti pesawat. Transit di Singapura memakan waktu 6 jam, di Tokyo 45 menit dan di Seattle 45 menit. Dengan demikian saya dapat memerah 2 kali di Singapura, 1 kali di Tokyo dan 1 kali di Seattle.</p>
<p>Sesampainya di Singapura, rencana saya tidak berjalan dengan mulus. Karena harus mencari tempat untuk check in dahulu (kebetulan dengan noraknya saya sedikit tersesat di Changi.. hehe..) dan confirm transit lounge, jadilah saya hanya memerah 1x. Waktu itu ASI yang diperoleh 100ml (masih aman di bawa ke kabin), jadi saya tidak perlu men-declare apapun ketika boarding menuju Tokyo Jepang. </p>
<p>Perjalanan ke Tokyo menempuh waktu 7 jam perjalanan dan sialnya, saya tidak bisa memerah karena tidak ada tempat yang nyaman. Jadi saya putuskan untuk memerah di Tokyo. Sesampainya di Tokyo, sialnya lagi, saya juga tidak bisa memerah, karena waktu pemeriksaan di <em>security check point</em> terlalu lama, sehingga saya harus langsung boarding menuju Seattle. Payudara sudah mulai sedikit bengkak dan sakit. Akhirnya saya putuskan untuk memerah sedikit di toilet, tapi tidak sampai mengosongkan payudara. Yang penting tidak menyebabkan payudara bengkak (<em>breast engorgement</em>).</p>
<p>Perjalanan dari Tokyo ke Seattle menempuh waktu 8 jam. Saya cukup ‘teler’ di perjalanan, sehingga tidak juga memerah. Sesampainya di Seattle, setelah melalui pemeriksaan di Imigrasi dan melakukan ‘custom clearance’ saya harus langsung pergi ke San Diego, tanpa (lagi-lagi) sempat memerah. Perjalanan dari Seattle ke San Diego menempuh waktu 3 jam. Pada saat itu, Payudara sudah terasa sangat sakit, muncul benjolan-benjolan kecil, yang menandakan ASI sudah sangat banyak, tapi juga tidak dikeluarkan.</p>
<p>Ternyata, apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Sesampainya di hotel di San Diego, saya cek payudara saya dan ternyata benar, sudah keras alias bengkak. Mulai lah sesi kompres panas-dingin, pijat dan perah. Puji Tuhan, semua benjolan hilang semua. Hari itu, saya memerah banyak sekali, hampir 350 ml ASI sekali perah.</p>
<h4>SAAT MENJALANKAN TUGAS</h4>
<p>Kebetulan tugas yang dimandatkan pada saya selama berada di luar negeri adalah mengikuti konferensi manajemen serta melakukan <em>benchmarking</em> implementasi <em>management tools</em> di sana.</p>
<p>Setelah mengecek agenda acara selama di sana, saya atur strategi untuk memerah lagi. Ternyata, melakukan sesi perah seperti di kantor dapat dilakukan. Jadi aman, saya bisa memerah 3x di tempat kerja selama berada di San Diego.</p>
<p>Kebetulan sekali, San Diego sangat mendukung ibu untuk memberikan ASI. Di tempat konferensi dan tempat kerja terdapat <em>nursery room</em> dengan fasilitas yang baik, sehingga sesi perah memerah dapat dilalui dengan menyenangkan.</p>
<p>Untuk menyimpan ASI perah saya selama bekerja, <em>cooler bag</em> tercinta selalu saya bawa, termasuk <em>ice packs</em> dan <em>ice gels</em> nya.</p>
<h4>SAAT KEMBALI KE TANAH AIR</h4>
<p>Dalam 6 hari, tugas saya selesai. Berarti saatnya kembali ke rumah. Tak terasa, 20 plastik ASI bisa saya kumpulkan, masing-masing isinya 125 ml. </p>
<p>Itu berarti, saya harus atur kembali strategi untuk membawa ASIP kembali ke Indonesia, mengingat bawaan likuid saya sudah melebihi kuota yang ditentukan dan waktu transit yang harus saya lalui.</p>
<p>Untuk membawa ASIP kembali ke Indonesia, saya sengaja membeli beberapa <em>ice-packs</em> lagi untuk memastikan ASIP tetap dalam kondisi dingin. Karena saya akan melalui waktu 24 jam selama perjalanan, saya perlu memastikan bahwa seluruh <em>ice packs</em> dan <em>ice gel</em> saya akan cukup dingin sampai Jakarta. </p>
<p>Sengaja saya bekukan 10 kantong ASIP hasil perahan awal perjalanan dan 10 kantong ASIP lagi saya biarkan dingin (alias berada di kulkas bawah). Tujuannya adalah supaya 10 ASIP beku dapat langsung dikonsumsi Alle sesampainya di Jakarta, dan 10 lagi yang masih cair dapat saya bekukan ketika sampai di Jakarta. </p>
<p>Karena sudah dapat membaca situasi di dalam perjalanan, pengaturan strategi saya kali ini terasa lebih ringan dan mudah untuk dijalankan. Untuk itu saya memutuskan untuk memerah 1x sebelum berangkat ke airport, 1x ketika transit di Seattle, 1x ketika transit di Tokyo dan 2x ketika transit di Singapore. Modalnya, saya harus disiplin dan on-time pada saat memerah. Saya tidak mau mengulangi kesalahan pertama saya ketika berangkat, yang mengakibatkan saya terkena mastitis ringan. </p>
<p>Puji Tuhan, seluruh strategi perah saya berhasil dilalui dengan baik. Selama perjalanan panjang dan transit, saya dapat mengumpulkan 5 kantong ASIP lagi yang isinya masing-masing 150 ml. </p>
<p>Hal terakhir yang saya lakukan sebelum boarding menuju pesawat yang membawa saya ke Jakarta adalah menelpon suami saya untuk membawakan <em>cool box</em> penuh dengan es batu (karena persediaan <em>ice gels</em> dan <em>ice packs</em> saya bawa semua) untuk memindahkan ASIP bawaan saya ke <em>cool box</em> tersebut. </p>
<h4>KEMENANGAN YANG BERBUAH MANIS</h4>
<p>Setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya sampai juga saya di rumah. Begitu melihat Alle berjingkrak gembira melihat saya pulang, rasanya seluruh lelah dan letih saya menguap begitu saja.</p>
<p>Saya begitu rindu mendekap, memeluk dan menciuminya. Begitu melihat matanya, saya tahu bahwa ia pun merindukan saya. Yang membuat saya begitu terharu melihatnya adalah saya berhasil berjuang membawa oleh-oleh ASIP untuknya.</p>
<p>ASIP saya pun, Puji Tuhan, semua berada dalam kondisi yang baik. ASIP beku yang telah mencair segera dikonsumsi oleh Alle, sementara ASIP dingin yang cair segera saya bekukan di <em>freezer</em>. </p>
<p>Dalam perjalanan kali ini, saya merasa benar-benar MENANG, karena semua hal yang saya perjuangkan berbuah manis. </p>
<h3>AKHIRNYA..</h3>
<p>Sharing yang panjang ini sebetulnya bertujuan untuk memotivasi seluruh ibu menyusui, terutama mereka yang bekerja dan seringkali dihadapkan pada tugas-tugas kantor di luar kota/luar negeri untuk terus berjuang memberikan ASI.</p>
<p>Jangan ada kata menyerah dalam perjuangan mu, moms. Karena di garis finish nanti, kita juga yang akan memetik manisnya buah perjuangan kita.</p>
<p>ASI Rocks!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/02/dinas-luar-negeri-tak-masalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui lah!!!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/10/menyusui-lah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/10/menyusui-lah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 23:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah artikel yang sangat bagus yang menggambarkan bagaimana gigihnya produsen susu formula dalam memasarkan produknya, yang mengakibatkan banyaknya para ibu beralih dari ASI. Simak pemaparan Pat Thomas dari The Ecologist dalam artikel ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>diterjemahkan dari artikel <a href="http://www.theecologist.org/pages/archive_detail.asp?content_id=586">Suck on This!</a></p>
<p>Manusia telah menyusui selama hampir setengah juta tahun. Hanya 60 tahun terakhir ini mulai memberikan makanan cepat saji yang diproses oleh pabrik, yang dikenal dengan &#8216;susu formula&#8217; kepada bayi kita. Akibatnya sangat mengejutkan, seperti kematian bayi pada 6 minggu pertama kehidupannya 2x lebih tinggi, 5x lebih tinggi kemungkinan mendapat <em>gastroenteritis</em>, 2x lebih tinggi terkena penyakit kulit (<em>eczema</em>) dan diabetes, dan sampai 8x kali lebih tinggi untuk mendapat kanker getah bening.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/10/10-menyusui-230x300.jpg" alt="Menyusui langsung dari dada ibu" width="230" height="300" class="right" />Pabrik susu formula di UK mengeluarkan uang sebesar £20 (Rp. 330,000) per bayi untuk mempromosikan &#8216;junk food&#8217; bayi, bandingkan dengan pengeluaran pemerintah yang hanya 14 pence (Rp. 2,300) per bayi untuk mempromosikan kegiatan menyusui. Artikel ini memaparkan dimana produsen susu bayi, profesional kesehatan yang cuek, and tidak adanya rasa peduli dari masyarakat telah secara tak langsung berkomplot untuk mejauhkan bayi dari dada ibunya dan memberikan dot sebagai pengganti. Dapatkah kita memutar balikkan kecendrungan ini?</p>
<p>Semua mamalia menghasilkan susu untuk anaknya, dan manusia telah mengasuh bayinya di payudara selama 400,000 tahun. Selama berabad-abad, kalau seorang wanita tidak bisa memberi makan bayinya sendiri maka wanita lain (ibu susu) akan menggantikannya. Hanya pada 60 tahun terakhir ini kita telah meninggalkan naluri mamalia kita, malahan merangkul budaya pemberian botol yang bukan hanya menganjurkan pemberikan susu formula semenjak bayi lahir, tapi juga meyakinkan bahwa pengganti ASI sama bagusnya, jika tidak lebih baik, dari pada ASI itu sendiri.</p>
<p>Susu formula tidak pernah dimaksudkan untuk dikonsumsi secara luas seperti sekarang ini. Susu formula dihasilkan pada akhir tahun 1800-an sebagai pengganti makanan yang diperlukan untuk bayi-bayi terlantar dan anak-anak yatim piatu yang akan kelaparan jika tidak mendapatkannya. Dalam konteks ini – dimana tidak ada makanan lain yang tersedia – susu formula menjadi penyelamat.</p>
<p>Tapi dengan sejalannya waktu dan kemajuan ilmu gizi manusia (khususnya nutrisi bayi secara) menjadi sangat &#8216;ilmiah&#8217;, pengganti ASI yang diproduksi dijual ke masyarakat umum sebagai perbaikan terhadap ASI itu sendiri.</p>
<p>&#8216;Jika seseorang menanyakan &#8220;Susu formula mana yang sebaiknya saya gunakan?&#8221; atau &#8220;Mana yang terdekat dengan ASI?&#8221;, jawabannya adalah &#8220;Tidak seorangpun tahu&#8221; karena tidak ada satu sumber pun yang objektif mengenai ini pernah dibuat,&#8217; kata Mary Smale, konselor ASI dari National Childbirth Trust (NCT) yang telah bekerja disana selama 28 tahun. &#8216;Hanya pembuat di pabrik-pabrik itu lah yang tahu isinya, dan mereka tidak memberitahu siapa pun.&#8217; Mereka bisa saja mengiklankan bahan-bahan &#8216;sehat&#8217; yang spesial seperti <em>oligosaccharides</em>, <em>long-chain fatty acids</em>, atau, beberapa waktu lalu, <em>beta-carotene</em>, tapi mereka tidak pernah memberitahukan kita dari mana produk dasarnya dibuat atau dari mana bahan-bahan tersebut diperoleh.</p>
<p>Bagian pokok dari ASI yang telah diketahui, dipakai sebagai referensi umum untuk ilmuwan meramu susu formula bayi. Tapi, sampai hari ini, tidak ada &#8216;formula&#8217; sebenarnya untuk susu formula. Malahan, proses pembuatan susu formula selama ini merupakan eksperimen.</p>
<p>Dengan alasan ini, produsen susu formula bisa menaruh apa saja ke dalam formula mereka. Sebenarnya, setiap produk mempunyai resep yang berbeda dari satu produksi ke produksi lainnya, tergantung dari harga dan ketersediaan dari bahan-bahan yang diperlukan. Selama ini kita berasumsi kalau susu formula diatur dengan ketat, padahal para produsen tersebut tidak diharuskan untuk transparan; contohnya, mereka tidak diharuskan untuk mencatatkan bahan-bahan spesifik dari produksi atau merek mereka ke pihak berwajib.</p>
<p>Sebagian besar susu formula yang ada dipasaran berasal dari susu sapi. Tapi sebelum bayi bisa meminum susu sapi dalam bentuk formula ini, susu tersebut harus dimodifikasi secara drastis. Isi protein dan mineral harus dikurangi dan isi karbohidratnya ditambah, biasanya dengan menambahkan gula. Lemak susu, yang biasanya tidak gampang terserap oleh tubuh, dihilangkan dan diganti dengan lemak tumbuhan, lemak binatang atau lemak mineral.</p>
<p>Vitamin dan zat tambahan masuk dalam proses penambahan, tapi tidak selalu dalam bentuk yang gampang dicerna. (Ini berarti klaim yang mengatakan bahwa susu formula &#8216;bergizi lengkap&#8217; memang benar, tapi hanya dalam artian yang paling kasar yaitu susu formula sudah menambahkan vitamin dan mineral selengkap mungkin ke dalam produk gizi bermutu rendah)</p>
<p>Banyak susu formula yang juga telah ditambahkan pemanis. Meskipun kebanyakan susu formula untuk bayi tidak mengandung gula dalam bentuk <em>sucrose</em>, mereka kadang dapat mengandung tipe gula bentuk lainnya yang sangat tinggi seperti <em>lactose</em> (gula susu), <em>fructose</em> (gula buah), <em>glucose</em> (juga dikenal dengan <em>dextrose</em>, sejenis gula yang ditemukan pada tumbuh-tumbuhan) dan <em>maltodextrose</em> (gula malt). Hal ini dikarenakan oleh adanya kekurangan dalam peraturan, sehingga segala bentuk gula ini masih bisa diiklankan sebagai ‘bebas gula’.</p>
<p>Formula juga mungkin mengandung zat pencemar yang tidak sengaja masuk sewaktu proses produksi. Beberapa mungkin mengandung soya dan jagung yang telah direkayasa secara genetis.</p>
<p>Bakteri Salmonella dan <em>aflatoxins</em> – <em>potent toxic</em>, <em>carcinogenic</em>, <em>mutagenic</em>, agen penahan imun yang dihasilkan oleh spesies jamur <em>Aspergillus</em> – telah sering ditemukan pada susu formula di pasaran, begitu juga dengan <em>Enterobacter sakazakii</em>, patogen yang dibawa oleh makanan yang dapat menyebabkan <em>sepsis</em> (infeksi bakteria yang berlebihan pada saluran darah), <em>meningitis</em> (radang selaput otak) dan <em>necrotising enterocolitis</em> (infeksi dan radang pada usus besar dan usus kecil) pada bayi baru lahir.</p>
<p>Pengepakan susu formula kadang-kadang tercemar dengan pecahan kaca dan pecahan-pecahan logam serta bahan-bahan industri kimia seperti <em>phthalates</em> dan <em>bispenol A</em> (keduanya merupakan penyebab kanker) dan baru-baru ini, di bagian pengepakan terdapat <em>isopropyl thioxanthone</em> (ITX; juga dicurigai sebagai penyebab kanker).</p>
<p>Susu formula bayi juga mungkin mengandung kadar racun atau logam berat, seperti aluminium, mangan, kadmium dan timbal yang berlebih.</p>
<p>Yang harus diperhatikan secara khusus adalah susu formula soya karena tingginya level tanaman yang dihasilkan dengan <em>oestrogen</em> (<em>phytoestrogen</em>) yang terdapat di dalamnya. Malahan, konsentrasi <em>phytoestrogen</em> yang terdeteksi di dalam darah bayi yang mengkonsumsi susu formula soya bisa mencapai 13,000 – 22,000 kali lebih tinggi dari konsentrasi <em>oestrogen</em> alami. <em>Oestrogen</em> dalam dosis yang lebih tinggi dari yang biasa ditemukan di dalam tubuh dapat menyebabkan kanker.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/10/menyusui-lah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berhasil membawa ASI on board</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/06/berhasil-membawa-asi-on-board/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/06/berhasil-membawa-asi-on-board/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 11:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/wp/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Cerita tentang keberhasilan seorang ibu memerah ASI-nya walau berada di negara lain karena tugas. Ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang, selama ada kemauan pasti ada jalan. Mudah-mudahan cerita ini bisa menambah semangat para ibu menyusui lainnya untuk tetap memberikan yang terbaik bagi bayinya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, tak henti-hentinya saya mengucap syukur setelah berhasil melewati x-ray terakhir sebelum memasuki badan pesawat. Beberapa waktu yang lalu saya sempat bertanya kiri kanan mengenai bagaimana caranya supaya ASI yang sudah saya perah selama perjalanan bisa lolos masuk cabin dengan cooler tanpa masalah. Kekhawatiran tersebut karena belakangan airlines memberlakukan batasan membawa liquid kedalam cabin.</p>
<p>Sambil duduk tenang didalam pesawat saya mencoba menceritakan kepada para moms siapa tahu suatu saat nanti melakukan travelling dan berencana membawa ASI pulang untuk oleh-oleh si kecil.</p>
<ol>
<li>Sebelum berangkat saya sudah menghubungi tempat tujuan dimana saya nanti akan bekerja, kebetulan saya seorang ibu yang aktif pada satu cabang olahraga, jadi hampir seharian ada dilapangan. Untuk meyakinkan dilokasi pertandingan ada kulkas yang proper tentunya hal tersebut saya konfirmasikan sebelum keberangkatan. Saya juga bertanya apakah ada tempat untuk memerah ASI atau ruang tertutup dan juga air panas.</li>
<li>Sebelum berangkat tentunya mempersiapkan beberapa hal seperti:
<ul>
<li>cool box yang berukuran cukup, alias nggak kekecilan/kebesaran untuk menyimpan ASI perah selama 3 hari.</li>
<li>Pompa asi berikut botolnya.</li>
<li>Karena saya pergi selama 3 hari, nggak mungkin rasanya menyimpan ASI tersebut didalam cup yang biasanya saya lakukan kalau saya memerah ASI dikantor. Alhamdulilah saya menemukan kantong penampung ASI yang oke banget (menurut saya lho). Kantong ASI tersebut cukup tebal bahannya dengan double zip, cukup besar kok ukurannya. Setelah ASI diperah dibotol, saya pindahkan kedalam plastik tersebut dan diseal. Keuntungan dari plastik ini karena bentuknya agak lebar, sewaktu disimpan di freezer bentuknya bisa rata, gak makan tempat.</li>
<li>Plastik ziplock untuk menjaga agar plastik yang menampung ASI tersebut aman dari segala kotoran. Kita kan nggak tahu kebersihan freezer tempat kita menyimpan ASI nantinya, mendingan cari aman plastiknya didobel. Disamping itu, dengan plastik dobel kita bisa menempelkan label extra. Kalau saya sih saya print label sebelum berangkat dengan tulisan besar-besar BREASTMILK, KEEP FROZEN!</li>
<li>Tablet untuk sterilisasi alat-alat pompa dan botol. Kan ga mungkin juga travelling bawa-bawa alat steril yang besar. Tapi ingat lho, setelah disteril, cuci ulang pakai air panas hingga benar-benar bersih.</li>
</ul>
</li>
<li>Sampai ditujuan, setelah check-in di hotel, saya juga sampaikan kepada bagian front desk bahwa saya akan menitipkan ASI perah didapur mereka. Karena umumnya kamar hotel nggak punya freezer. Makanya label-label dan extra plastik ziplock sangat dibutuhkan.</li>
<li>Selelah memerah, saya double plastiknya pakai ziplock, tempel stiker dan tulis nomor kamar. Setiap plastik ASI juga dicantumkan tanggal dan jam kapan kita memerah.</li>
<li>Hubungi pihak hotel/antar sendiri ASI tersebut kedapur dah ingatkan kembali untuk menyimpannya di freezer. Duhhh untuk urusan ini saya bawel banget. Setiap menyerahkan ASI selalu bilang, please keep this in your freezer, below zero please… dah mati bosen kali tuh staf dapur diingetin terus.</li>
<li>Menjelang pulang ASI tersebut saya masukkan kedalam cooler. Saya sih masukin es batu sedikit trus susun plastik-plastik ASI dan tutup kembali dengan es batu.</li>
<li>Selama bertugas, saya menyimpan ASI perah tersebut didua tempat berbeda. Satu dihotel dan satu ditempat pertandingan supaya ASI nggak mondar mandir. Setelah check out dari hotel saya toh harus bertugas dulu dilokasi pertandingan. ASI tersebut saya gabungkan semuanya difreezer sampai menunggu tugas selesai sore hari dan merapikannya kembali ke coolbox dan berangkat ke bandara.</li>
</ol>
<p>Terus terang, semua itu memang kalo dipikir-pikir merepotkan dan melelahkan. Tapi kalau dijalani gak berasa juga kok, ditambah niat memberikan ASIX kepada anak tercinta yang hampir berusia 3 bulan. Beberapa teman saya terheran-heran dengan semua itu. Diwaktu-waktu break saya selalu menyempatkan memerah, kemudian membersihkan alat-alat pompa dan botol. Walaupun badan secapek apapun saya tetap fokus bahwa Rafa tercinta menunggu ASI mamanya dirumah.</p>
<p>Waktu check in di bandara KLIA, saya bertanya kepada petugas bahwa saya akan membawa ASI on board, apakah diijinkan? Tentunya mereka menanyakan hal-hal standar seperti berapa banyak, sampe 1 liter nggak? Wahhh kalau mau jujur banget sih ya pasti lebih banget dari 1 liter. Tapi pertanyaan tersebut saya jawab dengan cukup diplomatis, “you may check my cooler, I will show you the size of each package”. Dengan pernyataan tersebut mereka toh nggak ngecek juga, dah males kali buka-buka coolbox yang isinya ASI. Saya sih alhamdulilah, nggak mo bohong tapi ga mo juga ASI nya disita karena lebih dari kuota seharusnya. Saya minta staf check in untuk nelpon ke gate dimana saya nanti akan masuk dan menanyakan boleh nggak bawa cooler. Duhhh, saya pikir-pikir saya ini bener-bener bawel dalam segala hal. Tapi mending bawel daripada sok tahulah, jadi saya cuek aja.</p>
<p>Setelah melewati imigrasi, tidak satu pertanyaan pun keluar dari mulut para petugas. Lewat x-ray begitu saja, padahal bawa-bawa coolbox yang ukurannya nggak kecil kan harusnya obvious bawa liquid ya walaupun frozen. Lolos satu gate saya relax sebentar, soalnya deg degan banget. Harus bilang apa ya kalo kantong-kantong ASI tersebut dibongkar dan dicek satu persatu?</p>
<p>Waktunya boarding tiba, nah ini dia yang lebih nakutin. Biasanya petugas-petugas yang ada lebih reseh, ya maklum aja kan dah langsung mau masuk pesawat. Hmmm, saya berharap petugasnya berbaik hati kalau nanti coolboxnya beneran mo dibuka dan dicek. Ehhh, alhamdulilah lolos lho, ga ditanya ini itu. Phewwww…. Legaaaa banget rasanya. Walaupun beberapa moms bilang ga pa apa bawa ASI masuk kedalam pesawat tapi mungkin belum mengalami sendiri jadi deg degannya tetep ada.</p>
<p>Hal ini akan berlangsung dalam beberapa minggu kedepan hingga bulan Agustus karena saya harus bolak balik. Insya Allah diberi kelancaran pada penerbangan berikutnya. Buat para moms yang sudah membantu memberikan saran dan menenangkan hati saya, terima kasih ya. Pengalaman ini nggak terlupakan rasanya, mudah-mudahan sharing ini berguna bagi moms lain.</p>
<p>Titien<br />
(memberikan ASI memang harus niat, jadi apa aja rintangannya bisa dilewati!)</p>
<p>http://theibrahims.blogspot.com</p>
<p>http://taranur.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/06/berhasil-membawa-asi-on-board/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
