<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; ASI Perah</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/asi-perah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Ulasan Poling Agustus 2011: Mencairkan ASIP</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/09/ulasan-polling-agustus-2011-mencairkan-asip/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/09/ulasan-polling-agustus-2011-mencairkan-asip/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 01:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Miranda Yusuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI perah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1535</guid>
		<description><![CDATA[Terima kasih bagi peserta polling kali ini. Hampir semua memilih jawaban yang tepat! Wadah ASIP yang akan dikonsumsi bayi setelah keluar dari kulkas sebaiknya dialiri/rendam dengan air hangat. Pencairan ASIP beku sebaiknya dicairkan terlebih dahulu di dalam kulkas selama 12 jam, letakkan wadah di kulkas (chiller/refrigerator) pada malam sebelum ASIP dibutuhkan. Hindari membiarkan wadah pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Terima kasih bagi peserta polling kali ini. Hampir semua memilih jawaban yang tepat! Wadah ASIP yang akan dikonsumsi bayi setelah keluar dari kulkas sebaiknya dialiri/rendam dengan air hangat.</p>
<p><strong>Pencairan</strong></p>
<p>ASIP beku sebaiknya dicairkan terlebih dahulu di dalam kulkas selama 12 jam, letakkan wadah di kulkas (<em>chiller/refrigerator</em>) pada malam sebelum ASIP dibutuhkan. Hindari membiarkan wadah pada suhu kamar untuk mencairkan ASIP. Jika diperlukan cara pencairan yang lebih cepat, ASIP dapat dicairkan dengan cara dialiri atau direndam dengan air. Pegang wadah ASIP di bawah aliran air dengan suhu ruang dan tingkatkan temperatur air secara bertahap hingga ASIP mencair. Atau letakkan wadah ASIP di dalam mangkuk berisi air pada suhu ruang lalu ganti air rendaman beberapa kali dengan air yang lebih hangat hingga ASIP mencair. Perubahan suhu yang bertahap berguna untuk menjaga kandungan ASIP. ASIP yang sudah dicairkan tidak dapat dibekukan kembali namun dapat disimpan di dalam kulkas selama 24 jam.</p>
<p><strong>Penghangatan</strong></p>
<p>Cara pencairan dan penghangatan yang lebih cepat dapat dilakukan dengan menggunakan<em> bottle warmer</em>. Jika menggunakan alat ini perhatikan cara kerjanya, pastikan perubahan suhu terjadi secara bertahap dan alat benar-benar telah diuji kepada ASIP. Setelah ASIP hangat, segera keluarkan dari warmer dan jangan dibiarkan untuk dihangatkan terus menerus. </p>
<p>ASI tidak boleh dipanaskan dengan microwave atau dipanaskan di atas kompor (direbus). Kedua cara pemanasan ini selain mengubah kandungan ASI juga dapat menimbulkan bintik panas di dalam ASI yang dapat menimbulkan luka bakar pada mulut dan kerongkongan bayi.</p>
<p>Tidak ada keharusan untuk menghangatkan ASIP, biasanya hal ini dipengaruhi oleh kebiasan dalam suatu keluarga. Bayi juga akan menunjukkan kesukaannya sendiri terhadap suhu ASI hangat atau dingin. Penelitian menunjukkan bahwa temperatur ASIP yang diberikan tidak mempengaruhi pengosongan lambung bayi. ASIP yang sudah dihangatkan tidak boleh dihangatkan kembali.</p>
<p>Utamakan keselamatan bayi dan anak, selalu lakukan pencairan dan penghangatan ASIP di bawah pengawasan orang dewasa dan jauh dari jangkauan anak-anak.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-mencairkan-ASIP-300x234.jpg" alt="" title="08-mencairkan-ASIP" width="300" height="234" class="aligncenter size-medium wp-image-1536" /></p>
<p><small><br />
<strong>Sumber</strong>:</p>
<ul>
<li>Wilar R. 2010.  Sukses Menyusui saat Bekerja. Dalam: Indonesia Menyusui. Suradi R, dkk, ed. 255-266. Jakarta. Badan Penerbit IDAI.</li>
<li>Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Protocol #8: Human Milk Storage Information for Home Use for Full-Term Infants (Original Protocol: March 2004. Revision #1: March 2010). (<a href="http://www.bfmed.org/Media/Files/Protocols/Protocol%208%20-%20English%20revised%202010.pdf">PDF</a>)</li>
<li><a href="http://www.bmj.com/content/320/7229/235.full">Lesson of the week Warming milk—a preventable cause of scalds in children</a></li>
<li><a href="http://www.bflrc.com/ljs/breastfeeding/shakenot.htm">Don&#8217;t Shake the Milk</a></li>
<li><a href="http://www.kellymom.com/bf/pumping/milkstorage.html">Breastmilk Storage &#038; Handling</a></li>
<li><a href="http://www.toronto.ca/health/breastfeeding/storing.htm">Storing breast milk/Thawing frozen breast milk</a></li>
<li><a href="http://www.motherandchildhealth.com/Breastfeeding/Becky/storage_breastmilk.html">Storage &#038; Handling of Breastmilk</a></li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/09/ulasan-polling-agustus-2011-mencairkan-asip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Poling Juni 2011 &#8211; Penyimpanan ASI Perah</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/ulasan-poling-juni-2011-penyimpanan-asi-perah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/ulasan-poling-juni-2011-penyimpanan-asi-perah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 02:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Miranda Yusuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1581</guid>
		<description><![CDATA[Walau jawaban polling kali ini agak tricky ternyata cukup banyak juga peserta yang memilih jawaban dengan tepat, yakni ASI yang baru diperah sebaiknya segera dimasukkan ke kulkas bawah. Selamat ya!! Dan terima kasih untuk semua yang telah berpartisipasi ☺ Sebenarnya tiga pilihan lain di atas juga tidak sepenuhnya keliru karena penanganan ASI perah (ASIP) disesuaikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Walau jawaban polling kali ini agak tricky ternyata cukup banyak juga peserta yang memilih jawaban dengan tepat, yakni ASI yang baru diperah sebaiknya segera dimasukkan ke kulkas bawah. Selamat ya!! Dan terima kasih untuk semua yang telah berpartisipasi ☺</p>
<p>Sebenarnya tiga pilihan lain di atas juga tidak sepenuhnya keliru karena penanganan ASI perah (ASIP) disesuaikan dengan kebutuhan/manajemen ASIP yang dijalani. Prinsip-prinsipnya antara lain: menyimpan ASIP dalam suhu dingin dapat meningkatkan daya tahannya; perubahan suhu diusahakan tidak drastis; dan semakin sebentar waktu penyimpanan ASIP maka akan semakin baik kualitasnya. </p>
<p>Menyimpan ASIP di freezer dilakukan jika Ibu perlu menyimpan ASIP untuk jangka waktu lebih dari 8 hari, dimana penyimpanan disarankan menggunakan freezer dengan suhu <-15°C, setelah mendinginkan ASIP terlebih dahulu dalam kulkas bawah. Jika Ibu akan menggabung ASIP dari beberapa kali pemerahan maka sebaiknya ASIP didiamkan sebentar (tidak lebih dari 4 jam) pada suhu ruang (25°C) sebelum dimasukkan ke kulkas. Tabel daya simpan ASIP dapat dilihat <a href="http://aimi-asi.org/2010/11/ulasan-polling-oktober-2010-kondisi-asi-perah/">disini</a>.</p>
<p>Berikut cara menambahkan/menggabungkan ASIP segar yang baru diperah dengan ASIP dingin di kulkas. ASIP yang lebih baru perlu didinginkan terlebih dahulu di kulkas (bukan freezer), dalam wadah terpisah dengan ASIP yang pertama. Setelah suhu ASIP pada kedua wadah sama dingin, maka ASIP dari jadwal perah yang berbeda tersebut dapat digabungkan. Jarak perah tidak lebih dari 24 jam serta daya simpan ASIP yang berlaku berdasarkan tanggal dan waktu perah ASIP yang pertama. Jangan menggabungkan ASIP yang sudah beku dengan ASIP cair ataupun hangat.</p>
<p>Disarankan untuk menyimpan ASIP dalam wadah 25-100 ml dan mengambil ASIP dari wadah seperlunya saja. Selain ASIP dapat lebih cepat dicairkan dan atau dihangatkan, ASIP yang sudah dicairkan tidak dapat dibekukan kembali namun dapat disimpan di dalam kulkas selama 24 jam. Sedangkan ASI yang sudah dihangatkan tidak boleh dihangatkan kembali.</p>
<p><small><br />
Sumber:</p>
<ul>
<li>Wilar R. 2010.  Sukses Menyusui saat Bekerja. Dalam: Indonesia Menyusui. Suradi R, dkk, ed. 255-266. Jakarta. Badan Penerbit IDAI.</li>
<li>Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Protocol #8: Human Milk Storage Information for Home Use for Full-Term Infants (Original Protocol: March 2004. Revision #1: March 2010) (<a href="http://www.bfmed.org/Media/Files/Protocols/Protocol%208%20-%20English%20revised%202010.pdf">PDF</a>).  (last accessed 22 August 2011)</li>
<li><a href="http://www.llli.org/faq/milkstorage.html">What are the LLLI guidelines for storing my pumped milk?</a>  (last accessed 22 August 2011)</li>
<li><a href="http://www.fda.gov/Food/ResourcesForYou/Consumers/Seniors/ucm182679.htm">To Your Health! Food Safety for Seniors</a>.  (last accessed 22 August 2011)</li>
<li><a href="http://www.breastfeedingbasics.com/html/collecting_and_storing.shtml">Pumping, Collecting, and Storing Breastmilk</a>.  (last accessed 22 August 2011)</li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/ulasan-poling-juni-2011-penyimpanan-asi-perah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menabung ASI Antara Jeddah &#8211; Jakarta</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/menabung-asi-antara-jeddah-jakarta/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/menabung-asi-antara-jeddah-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 01:06:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI perah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1558</guid>
		<description><![CDATA[Perjuangan Ratih, ibunya El, Pramugari “Selamat Ulang Tahun El Nino Ahmad Hussain Nasution, semoga menjadi anak yang sholeh, berakhlak mulia, cerdas, sehat, pintar dan menjadi penyejuk hati papa dan ibu dan membawa kebahagiaan untuk orang banyak. You always me heart, Papa&#038;Ibu love u!” Hanya Allah yang Maha Tahu betapa bahagianya ibu di hari ini, 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Perjuangan Ratih, ibunya El, Pramugari</strong></p>
<blockquote><p>“Selamat Ulang Tahun El Nino Ahmad Hussain Nasution, semoga menjadi anak yang sholeh, berakhlak mulia, cerdas, sehat, pintar dan menjadi penyejuk hati papa dan ibu dan membawa kebahagiaan untuk orang banyak. You always me heart, Papa&#038;Ibu love u!”</p></blockquote>
<p>Hanya Allah yang Maha Tahu betapa bahagianya ibu di hari ini, 2 Juli 2011. Hari ini Alhamdullilah genap satu tahun  ibu berjuang memberikan full ASI untuk kamu. Awalnya ini hanya niat untuk bisa terus memberikan &#8216;cairan emas&#8217; , <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-ibu-el-300x225.jpg" alt="" title="08-ibu-el" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1560" />karena  ibu harus bekerja di tempat yang  jauh. Tentu sangatlah sulit untuk bisa  merealisasikannya. Sampai suatu hari, ibu membawamu ke dokter anak untuk imunisasi. Dokter itu yang kemudian meyakinkan dan mendukung ibu, tidak ada yang mustahil bagi ibu untuk terus bisa memberikan ASI, meski ibu dan kamu terpisah jarak yang sangat jauh. Sebagai pramugari, ibu sering meninggalkanmu untuk berkeliling dari negara satu ke negara lain. Saat ini kamu di Jakarta, sedangkan ibu di Jeddah.</p>
<p>Dukungan dari dokter itu membuat ibu bertekad kuat untuk memberikan ASI apapun yang terjadi. Setelah 27 hari bekerja, ibu baru kembali ke Jakarta hanya untuk waktu 9 hari dan saat itu kamu tidak mau menyusu langsung kepada ibu sampai 2 hari. Ibu sedih sekali karena penolakan itu. Tapi selama 2 hari itu ibu tetap memompa dan bahkan sudah berniat untuk bertemu konselor laktasi untuk mengatasi masalah ini. Alhamdulillah dalam 2 hari ternyata kamu sudah mau kembali menyusu dengan ibu.  Sejak itu meskipun lama ditinggal bekerja lagi, kamu tidak pernah menolak disusuin kalau ibu libur. Kamu makin besar makin pintar ya nak.</p>
<p><strong>Perjalanan Panjang ASI Perah</strong></p>
<p>ASI Perah untuk El awalnya hanya ibu sediakan untuk menambah stok di freezer. Namun selama bulan Maret, jadwal terbang ibu penuh untuk 15 hari dan itu tidak memungkinkan untuk menyimpan ASI di freezer karena ijin dari manager pantry belum ada. Selama itu pula akhirnya ibu tetap memompa ASI tapi membuangnya. Mulai dari situ, episode “kejar tayang”. Setiap ibu libur, kerjaan ibu hanya memompa ASI lagi dan lagi untuk mengejar ketinggalan selama 15 hari sebelumnya.</p>
<p>Sementara telpon dari rumah mengabarkan stok ASIP untuk El semakin sedikit. Meski ibu sempat lemes, panik dan stress membayangkan kamu tidak punya stok ASIP, namun ibu selalu bisa kembali meyakinkan diri.”<em>Ratih, you can do it!</em>” dan ibu selalu tetap berpikir positif.</p>
<p>Penerbangan Jeddah-Jakarta dibawah operasional Cengkareng base, dimana banyak senior yang tidak semua ibu kenal. Tapi entah mengapa, ibu selalu punya keberanian dan “bermuka tembok” untuk mencari crew yang beroperasi di hari itu. Kadang informasi ibu dapat dari teman-teman, broadcast BBM atau dari sistem jadwal. Biasanya atas nama ASI untukmu El, mereka bersedia menolong. Meski ada juga senior yang jutek ketika dimintai tolong karena mereka mengira ibu menitipkan nido (susu kaleng besar yang harganya lumayan murah). </p>
<p>Tetapi mereka biasanya selalu mau karena yang ibu titip adalah ASIP. Ibu mengingatkan mereka untuk meletakkan ASIP di cargo saja, jadi tidak memberatkan bawaan mereka di cabin. Ibu siapkan ASIP dengan packing yang bagus sehingga ASIP masih dalam kondisi beku sampai di Jakarta.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-el1-225x300.jpg" alt="" title="08-el" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1568" />Ada tantangan yang tak kalah seru, ketika stok ASIP di rumah menipis, sementara hanya ada penerbangan dari Riyadh ke Jakarta. Artinya, ibu butuh perjuangan untuk mencari bantuan dari crew yang terbang hanya dari Jeddah ke Riyadh. Ibu cek ke sistem penjadwalan dan syukurlah ada crew orang Indonesia yang bisa dititipin. Jadi crew itu membawa ASIP ke Riyadh dan dia hanya meletakkan di pojokan koper crew yang akan ke Jakarta. Ibu juga sudah janjian dengan crew yang terbang dari Riyadh ke Jakarta. Perjalanan ASIP untuk El lumayan panjang juga.</p>
<p>Ketika tidak ada orang Indonesia, ibu mencari orang Asia yang bisa dititipin ASIP. Kali ini ibu berhasil minta tolong crew dari Malaysia untuk membawakan 20 botol ASIP untukmu, El. Pokoknya target ibu hanya menyambung ASIP untuk El besok dan lusa saja. </p>
<p>Dua hari berturut-turut mengirim ASIP karena kejar tayang, membuat Papamu kaget karena setiap mengambil ASIP dari temen-temen ibu, ongkos kurir bisa 70 ribu sekali jalan. Tergantung lokasi penjemputan, kalau harus mengambil dari rumah teman ibu yang agak jauh dari Cinere, bisa 100-150 ribu juga ongkos kurirnya. Ibu selalu meyakinkan Papamu bahwa kita sudah berjanji untuk menjadi pejuang ASI buat El. “Ini salah satu risikonya. Sebentar lagi El setahun dan perjuangan akan sedikit berkurang.”</p>
<p>Ibu merasa beruntung kalau pas dapat penerbangan internasional. Hotelnya lebih fleksibel, jadi begitu sampai di hotel ibu biasanya langsng menghubungi pantry untuk menanyakan izin menyimpan ASIP di freezer mereka. Ada hotel yang menyediakan freezer kecil yang benar-benar bisa bikin beku, seperti di Johannesberg beberapa waktu lalu. Bikin ibu makin semangat nabung ASIP buat kamu, El.</p>
<p>Sekarang ibu sedikit bisa bernafas lega ya El. Ibu akan meneruskan pemberian ASI sampai kamu 2 tahun nanti, Insya Allah. Ibu tau perjalanan El masih panjang dan ASI bukanlah titik final dalam proses tumbuh kembangmu hingga nanti kamu menjadi menusia dewasa yang cerdas dan bersahaja.</p>
<p>Maafkan ibu ya nak, sering jauh dari kamu, sementara kamu masih membutuhkan dekapan ibu, kamu membutuhkan ibu untuk memperhatikan pertumbuhanmu dari hari ke hari. Apalagi kalau kamu sedang sakit, rasanya dunia ibu hancur..berasa gak butuh kerjaan, gak butuh uang, ibu hanya ingin dekat dengan El, mendekap dan menciummu, menyusuimu dan menatap matamu yang seperti magnet buat ibu. Mata yang bikin damai hati ibu.</p>
<p>Tetapi ini jalan yang ibu dan papa pilih, juga demi El yang kami sayangi. Sabar ya nak, maafkan ibu. Ibu akan segera kembali mendekapmu nak. Di ultahnya kemarin, El juga sudah terima gift dari markas sehat yaa, langsung dua deh! Varicella dan Hep A.</p>
<ul>
<img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-el-bday-300x225.jpg" alt="" title="08-el-bday" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1564" />
<li>Ucapan syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan keajaiban ditengah-tengah  hal yg kayaknya gak mungkin tapi selalu dengan mudah ibu jalani, Alhamdulillaahhhh.</li>
<li>Untuk suamiku tercinta yg slalu memberikan supportnya menjadi pejuang ASI  dan pejuang RUM utk EL (luv u pa)</li>
<li>Keluargaku (yangti, yangkung, nenek n&#8217; adek-adek yg selalu aku repotin untuk ambil ASIP di Mulia saat weekend or blanja lauk,sayur &#038; buah EL yg abis, hehehe luv u sis)</li>
<li>Seluruh CGK base &#038; JED base, tanpa perpanjangan tangan &#038; kebaikan hati kalian, EL ga akan sukses dapat full ASI til now (even one time, salah seorang temen ibu nyeletuk &#8216;ya oloooo ibu EL, ribet bnerrr sihhh ngerebus botol blablabla. Kalo gue sih mendingan ngeluarin uang 1,5jt/bln deh daripada harus repot dan pusing kayak loe.&#8217; Hmmm 2 anaknya memang tidak ASI, jadi ibu better silent than sakit ati dengernya)</li>
<li>Mas Pur &#8211; kurir ASIP EL, yang selalu setia jemput ASIP EL dimanapun (Allah bless u mas)</li>
<li>All smart parents di milis asiforbaby yang cerita-ceritanya selalu menginspirasi saya untuk tetap terus<br />
semangat berjuang demi ASI</li>
</ul>
<p>(Ratih &#8211; ibu EL 1y3d)<br />
*lagi menghadiri sumpah dokter adikku di balai sudirman, merinding denger isi sumpahnya. Berat bener pertanggung jawabannya di depan Tuhan &#038; masyarakat.</p>
<p>Ditulis ulang oleh AIMI atas ijin ibu El.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/menabung-asi-antara-jeddah-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>124</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASI Eksklusif Untuk Bayi Kembarku</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 00:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wilda Choir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui bayi kembar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1444</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah cerita sukses dari seorang ibu yang berhasil memberikan ASI Eksklusif bagi bayi kembarnya, walaupun beliau merupakan ibu bekerja. Simak perjuangannya dan tips agar kedua bayi kembarnya mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I got twin. How blessed I am.</strong></p>
<p>Dianugrahi  ‘satu paket’ bayi kembar yang cantik bagi saya merupakan  doa yang menjadi kenyataan.  Memiliki anak kembar adalah salah satu ‘obsesi’ saya sejak dulu. Rasanya amat sangat bahagia dan ajaib banget bisa merasakan  ada dua makhluk hidup yang berkembang di dalam tubuh kita. Pihak kakek saya mempunyai banyak keturunan anak kembar, jadilah saya punya harapan besar kepada Tuhan agar bisa diberikan keturunan kembar.</p>
<p>Alhamdulillah doa saya didengar &#038; dikabulkan Allah SWT. Tepat pada ulang tahun ke 29, saya ‘divonis’ dokter <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-twins-300x217.jpg" alt="" title="06-twins" width="300" height="217" class="alignleft size-medium wp-image-1446" />sedang hamil dengan dua telur alias kembar!! Waahh, <em>speechless</em> rasanya. Saya menjadi wanita paling beruntung di seluruh jagad raya. 9 bulan menikmati masa kehamilan, akhirnya tanggal 27 Juli 2010 saya bisa merasakan si kembar hangat dalam pelukan. Air mata bahagia menetes. Bersyukur atas semua karunia Allah SWT. Lalu saya dedikasikan kepada ibu dan mertua untuk memberikan nama buat si kembar, Amira Tsania Nazmi (2580gr) &#038; Azkiya Aufa Khateen (2200gr). Selamat datang, Sayaang.</p>
<p><strong>Having twin is not double trouble, but twice blessed.</strong></p>
<p>Ok, jadi saya memiliki satu anak usia 4 tahun, Alika, yang sedang aktif-aktifnya, dan bayi kembar perempuan yang selalu membuat suasana tambah heboh dan seru hohoho. Ini bukan teori atau mitos loh, tapi saya mengalami sendiri punya anak kembar itu nangisnya bareng, BABnya bareng, bangun tidurnya bareng, saat tidur pun bergerak ke arah yg sama juga bareng. BBA deh (bener-bener ajaib). Untungnya saya memiliki ‘partner hidup’ yang canggihnya luar biasa yaitu suami. Kalau dulu mengurus anak pertama kami bisa bekerja sama dengan baik, kenapa sekarang tidak?</p>
<p><div id="attachment_1454" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-menyusui-kembar-1-240x300.jpg" alt="" title="06-menyusui-kembar-1" width="240" height="300" class="size-medium wp-image-1454" /><p class="wp-caption-text">Menyusui si kembar saat berusia 2 bulan</p></div>Karena terbiasa olahraga (saya pencinta alam yg hobi naik gunung loh), hasilnya fisik saya tetap sehat selama mengurus si kembar, walau sesekali terkena flu. Jadi saat punya anak kembar yang hampir tiap jam menyusui dan terjaga semalaman – seharian pun, saya tetap dengan menikmati ‘bermain-main’ bersama. Dan kalau ditengah malam si kakak akhirnya terbangun ikutan main, saya tetap tersenyum walau sambil merem melek *ngantuk maksudnya*. Alhamdulillah saya gak pernah mengeluh kecapean. Selalu takjub dan terharu melihat ada dua bayi sekaligus dalam dekapan saya. Bahkan saat Alika, Amira + Azkiya jejeritan tengah malam, saya malah merasa lucu melihatnya dan akhirnya ikutan jerit-jerit/main-main juga. Ga bisa di jelaskan dengan kata-kata gimana bahagianya. </p>
<p>Peran suami terasa sangat besar terutama di saat-saat begadang tersebut. Sering terjadi saat begadang saya kelaparan. Biasanya dengan sangat pengertian, suami akan membuatkan saya kentang atau nasi goreng. Atau bergantian menjaga si kembar sementara saya tidur sebentar.</p>
<p>Suami saya jago memandikan si kembar loh. Ganti popok gak ada masalah. Gendong pake kain pun bisa. Ada perkataannya yang sampai sekarang membuat saya selalu bersyukur, ”Bun, cuma dua hal yang gak bisa aku lakuin, yaitu hamil dan melahirkan. Tapi selain itu, gak ada yang bisa menghalangi aku untuk menunjukkan rasa sayang terhadap bunbun. Maafin bapak ya cuma bisa bantuin bunbun sebisanya. Mudah2an bunbun iklhas”. Hiks, terharu. Pokoknya suamiku hebat deh, Insya Allah.</p>
<p>Selain itu semua anggota keluarga juga sangat membantu dengan baik dalam merawat. Memang sih kadang-kadang orang tua panik kalau si kembar rewel, nangis bareng gak bisa diam. Bingung takut ada apa-apa sama si kembar. Tapi untungnya saya gak ikut-ikutan panik. Biasanya saya lebih banyak diam, menahan diri untuk tidak bersikap responsif walau sulit. Kalau gak bisa menahan emosi, saya lebih memilih menangis pelan-pelan. Sambil nangis, sambil peluk si kembar. Waahh, obat paling mujarab menyembuhkan segala macam penyakit hati. Jadi gak ada alasan buat saya merasa stress punya anak kembar. Apalagi ‘<em>baby blues</em>’, Alhamdulillah gak ngalamin. Kalau saya merasa bosan di rumah terus, dengan senang hati suami membawa saya dan semua anak-anak sekedar jalan-jalan ke mall.</p>
<p><strong>Bunda bekerja, memberikan ASIX buat si kembar? Pasti bisa!</strong></p>
<p>Seheboh dan serepot apapun mengurus anak kembar saya selalu yakin bahwa Tuhan sudah menseleksi, mengukur kemampuan umat-Nya dan kemudian memilih saya untuk dititipi anak kembar. Jadi saya selalu yakin semua masalah PASTI ada jalan keluarnya.</p>
<p>Tetap menjadi seorang wanita karier adalah pilihan saya, dengan resikonya yang harus saya tanggung. Dibalik kebahagiaan pasti selalu Tuhan selipkan ujian kepada umatnya semata-mata untuk mengukur kesabaran umat-Nya. Buat saya bekerja tidak menjadi halangan ataupun alasan untuk tidak memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya. Selain IMD, sukses ASI eksklusif untuk si kembar menjadi prioritas utama setelah melahirkan.</p>
<p>Ini bukan kali pertama saya menyusui. Waktu anak pertama dulu, Alika (4 tahun), Alhamdulillah saya bisa menyusui sampai usia 2,5thn. Saya pikir kalau dulu bisa, kenapa sekarang tidak. Berharap bisa berhasil seperti kakaknya, saya dengan optimis mempersiapkan segala sesuatunya. Membekali diri saya dengan informasi yang berhubungan dengan anak kembar, konsultasi dan berbagi pengalaman dengan teman yang memiliki anak kembar, menjaga kondisi tubuh agar selalu sehat dan mengkonsumsi hanya makanan bergizi, selalu berusaha berpikir positif –jangan stress- serta menyiapkan mental untuk menghadapi ‘medan perang’. </p>
<p><div id="attachment_1455" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-menyusui-kembar-2-240x300.jpg" alt="" title="06-menyusui-kembar-2" width="240" height="300" class="size-medium wp-image-1455" /><p class="wp-caption-text">Menyusui si kembar saat berusia 8 bulan</p></div>Sayangnya semua teman yang memiliki anak kembar tidak berhasil memberikan ASI eksklusif kepada anak-anaknya. Padahal mereka tidak bekerja. Lalu bagaimana dengan saya yang bekerja? Saya mulai gak pede. Permasalahan lain timbul ketika kami kesulitan mencari babysitter untuk si kembar. Karena gaji babysitter yang tinggi, kami memutuskan untuk mencari satu babysitter dengan dibantu PRT. Tapi ternyata hampir semua yayasan memiliki kebijakan yang sama, satu bayi di urus satu babysitter. Huhuhu mahal banget. Setelah mencari sana sini, akhirnya dapat rekomendasi yayasan yang bagus, yang bersedia mengurus anak kembar dengan hanya dibantu PRT. Dan bersyukur sampai saat ini babysitter saya terbukti sayang sama si kembar, bisa diandalkan dan bekerjasama baik dengan PRT saya. Alhamdulillah, satu masalah terlewati. </p>
<p>Rasanya waktu berjalan sangat cepat, gak sadar hampir sebulan lagi saya harus kembali bekerja. Dan saya masih belum dapat jawaban berapa kira-kira kebutuhan ASI perah (ASIP) bayi kembar selama ditinggal bekerja. Masalah lain timbul ketika si kembar saya coba kasih ASI perah dengan dot, gelas kecil ataupun sendok selalu menolak. Bagaimana ini?</p>
<p>Ok, permasalahan yang sama juga timbul saat dulu anak pertama. Jadi kurang lebih saya sudah punya gambaran solusinya. Dan dengan terpaksa saya pisah kamar selama dicoba kasih ASIP dan membiarkan anak saya menangis. Hiks hiks, ngilu dan sakit dengernya. (Saya sering nangis diam-diam loh demi ga keliatan sama orangtua). Tapi harus dijalanin supaya nanti saat ditinggal bekerja mereka terbiasa. Alhamdulillah, si kembar Azkiya akhirnya mau minum ASIP. Jadi tinggal si kembar Amira yang saat itu belum berhasil mau minum ASIP. Perjuangan masih panjang, jreng jreng jreng jreng..!!!</p>
<p><strong>Manajemen ASIP</strong></p>
<p>Secara teori ada yang mengatakan kebutuhan ASIP bayi per hari berdasarkan BB x 100ml. Jadi kalau BB bayi 5 kg, dibutuhkan 500 ml ASIP per harinya. Dan teori tersebut terbantahkan saat saya coba memberikan Azkiya ASIP. Dalam waktu setengah hari (pagi – siang) saja stok ASIP saya sudah habis 6 botol @120 ml. Artinya sekitar 700ml habis dalam waktu beberapa jam dan oleh satu bayi saja. Langsung panik dan mulai stress. Tarik nafas dalam-dalam dan berpikir jernih lagi. Saat itu masih ada waktu sekitar 3 minggu untuk perbanyak stok ASIP. Bismillah.</p>
<p>Alhamdulillah, saya dikasih ASI yang cukup berlimpah oleh Tuhan. Ga ada makanan khusus perbanyak ASI ko. Cuma saya sudah komitmen pada diri sendiri aja demi anak, saya makan yang bergizi dan sehat. Susu kaya kalsium yang saya suka aja, gak harus susu untuk ibu menyusui. Saya juga gak konsumsi vitamin apa-apa. Pokoknya makan apa aja, alhamdulillah diganti menjadi ASI. Dan pastinya harus selalu berpikir postif. Kalau ada masalah cuek aja, jangan terlalu kepikiran apalagi sampai stress karena pasti sangat berpengaruh ke produksi ASI. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-asip-300x225.jpg" alt="" title="06-asip" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1447" />Untuk stok ASIP biasanya saya lakukan sebelum menyusui si kembar. Karena saya lebih sering menyusui tandem, jadi sepertinya gak ada kesempatan memerah ASI kalau dilakukan setelah menyusui dan dibiasakan minum air hangat satu gelas penuh setelah menyusui. Kira-kira 2 minggu sebelum mulai bekerja saya sudah mulai stok ASIP. Peralatan ‘tempur’ juga sudah siap. Karena saya ‘pejuang ASI tangan sakti’ yang memerah ASI hanya dengan menggunakan tangan, jadi gak perlu beli pompa. Beberapa botol kaca, bantal menyusui, botol susu, dan cooler bag. Untuk simpan ASIP saya hanya memakai kulkas kecil, yang setiap harinya selalu ada maksimal 35 botol ASIP @120-150 ml untuk stok (kulkasnya gak cukup untuk menyimpan lebih dari 35 botol). Kulkas yang besar gak memungkinkan untuk menyimpan ASIP. Selain itu juga rotasi keluar-masuk ASIP saya sangat besar dan gak pernah ASIP bertahan lama di kulkas, jadi gak perlu beli freezer khusus ASIP.</p>
<p>Hari pertama masuk kerja saya pergi dengan memikul beban berat di hati. Selain gak tega ninggalin anak, ternyata si kembar Amira masih ga mau minum ASIP menggunakan media apapun. Bingung dan gelisah tingkat tinggi waktu itu. Kepikiran nanti gimana kalau Amira kelaperan, kecapean nangis, dll. Untungnya mama, suami, babysitter dan semua anggota keluarga menenangkan saya dan meyakinkan Insya Allah pasti mau. </p>
<p>Untuk kesekian kalinya saya percaya Tuhan bekerja dengan cara misterius. Entah gimana caranya Amira langsung mau minum ASIP. Gak pake nangis, gak pake nolak tinggal glek glek glek trus tidur. ALHAMDULILLAH, terlewati lagi satu masalah. Bunda senang, hati riang, kerja pun tenang.</p>
<p>Lagi-lagi saya dapat ‘<em>shock therapy</em>’ sepulang kerja hari pertama. Ternyata eh ternyata selama ditinggal kerja dari jam 8 pagi – 6 sore si kembar menghabiskan ASIP sebanyak 1300-an ml. Dan berdasarkan laporan dari babysitter, si kembar kalau gak ditidurin bisa minum ASIP setiap 1 jam sekali *hampir pingsan* Beruntung ASI saya cukup. Pernah loh dalam sehari saya menghasilkan 1000-an ml ASIP. Gak percaya juga. Saya termasuk tipe orang ‘<em>easy going</em>’, gak takut memikirkan kalau-kalau ASI saya gak cukup untuk si kembar. Dan teratur perah ASI harus menjadi komitmen yg kuat dalam diri sendiri. </p>
<p>Ini kira-kira gambaran jadwal perah ASI saya waktu target memberikan ASI eksklusif 6 bulan pertama:</p>
<ul>
<li>Jam dua dinihari</li>
<li>Sekitar jam 4 atau jam 5 subuh</li>
<li>Jam 7 pagi, lalu sebelum berangkat kerja menyusui si kembar sampai payudara terasa kosong</li>
<li>Jam 10 pagi (di kantor)</li>
<li>Jam 1 siang (setelah makan siang)</li>
<li>Jam 3 sore. Diselingi shalat Ashar lalu lanjut lagi (biasanya payudara sedang terasa penuh banget jam segini)</li>
<li>1 kali memerah selama perjalanan pulang</li>
<li>Jam 8 malam</li>
<li>Jam 11 malam</li>
</ul>
<p>Dengan ‘pendapatan’ ASIP yang lebih sedikit dibandingkan yang diminum si kembar, adakalanya saya ‘kejar-kejaran’ stok ASIP. Setelah dihitung-hitung, harus selalu tersedia MINIMAL stok ASIP sebanyak 3000 ml per hari. Pernah terpaksa saya harus ijin gak masuk kerja demi memenuhi stok ASIP yang berkurang. Pernah juga produksi ASI sedikit karena sakit. Yang membuat saya senang, di kantor banyak yang sama-sama menjadi pejuang ASI. Jadi kalau waktunya memerah, nursing room pasti rame dan seru, sambil ngomongin anak-anak. Kadang-kadang kami iseng ‘balapan’ perah ASI. Siapa yang selalu menjadi pemenang? Akuuu. Selalu lebih cepat peras dan lebih banyak. Hihihi.</p>
<p>Oiya, ada tips lucu agar rutinitas pemberian ASIP tidak membosankan. Biasanya suami ‘mendominasi’ pemberian label pada stok ASIP. Selain diberi tanggal perah, volume ASIP juga ditambahi judul yang lucu-lucu. Misalnya ‘obat cantik, obat sabar, obat keren kaya bapak, obat mirip bapak, dll’. Dan hasilnya? Tetep si kembar miripnya sama bunda, bukan sm bapaknya <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-jilbab-twin-300x227.jpg" alt="" title="06-jilbab-twin" width="300" height="227" class="alignleft size-medium wp-image-1445" /><em>I really enjoy breastfeeding my twins</em>. Alhamdulillah si kembar Amira-Azkiya bisa melewati journey of ASI eksklusif-nya, sedikit tersendat tapi berhasil melewati semua rintangan. Dan bersyukur sampai saat ini masih diberikan ASI (dan MPASI) tanpa dicampur sufor. Lebih bersyukur lagi saya bisa mendonorkan ASIP saya kepada bayi lain yang membutuhkan. Subhanallah, Alhamdulillah wa Syukurillah. Atas ijin dan semua karunia dari-Mu Ya Allah saya bisa menjalankan tugas sebagai ibu yang selalu berusaha menjadi lebih baik dari kemarin. Semoga tiap tetes ASI yang berharga bisa menghantarkan anak-anakku menjadi manusia yang cantik, shalihah, baik &#038; bermanfaat bagi sesama.  Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>99</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Polling Oktober 2010 &#8211; Kondisi ASI Perah</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/11/ulasan-polling-oktober-2010-kondisi-asi-perah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/11/ulasan-polling-oktober-2010-kondisi-asi-perah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 01:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiki Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1118</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa kondisi yang mengharuskan ibu untuk tidak selalu berada dekat dengan bayi, namun ini jelas tidak menghalangi ibu untuk bisa tetap memberikan ASI kepada buah hati tercinta bukan? Memerah ASI bisa menggunakan tangan ataupun alat bantu, hasil perahan sebaiknya disimpan dalam suhu dingin untuk menjaga kualitas nutrisinya. Seperti layaknya jenis makanan lain, ASIP memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Ada beberapa kondisi yang mengharuskan ibu untuk tidak selalu berada dekat dengan bayi, namun ini jelas tidak menghalangi ibu untuk bisa tetap memberikan ASI kepada buah hati tercinta bukan?</p>
<p>Memerah ASI bisa menggunakan tangan ataupun alat bantu, hasil perahan sebaiknya disimpan dalam suhu dingin untuk menjaga kualitas nutrisinya. Seperti layaknya jenis makanan lain, ASIP memiliki daya simpan tertentu. Oleh karena itu penting untuk memberi label tanggal memerah agar ASIP terpantau usia simpannya dan manajemen ASIP berjalan lancar.</p>
<p>Berikut ini tabel daya simpan ASI perah: </p>
<table>
<tr>
<th>ASI</th>
<th>Suhu Ruangan</th>
<th>Lemari Es/Kulkas</th>
<th>Freezer</th>
</tr>
<tr>
<td> ASI yang baru saja diperah (ASI segar)</td>
<td> <strong>Kolostrum</strong> – hari ke-5 (12-24 jam dalam suhu <25ºC)<br />
<strong>ASI matang</strong>:24 jam dalam suhu 15ºC10 jam dalam suhu 19-22ºC4-6 jam dalam suhu 25ºC </td>
<td>3–8 hari dengan suhu 0-4ºC.<br />
Jangan simpan di bagian pintu, tetapi simpan di bagian paling belakang lemari es/kulkas – paling dingin dan tidak terlalu terpengaruh perubahan suhu </td>
<td>2 minggu dalam freezer yang terdapat di dalam lemari es/kulkas (1 pintu).<br />
3-4 bulan dalam freezer yang terpisah dari lemari es/kulkas (2 pintu).<br />
6–12 bulan dalam freezer khusus yang sangat dingin(<18ºC)</td>
</tr>
<tr>
<td> ASIP beku— dicairkan dalam lemari es/kulkas tapi belum dihangatkan </td>
<td> Tidak lebih dari 4 jam(yaitu jadwal minum ASIP berikutnya)</td>
<td> Simpan di dalam lemari es/kulkas sampai dengan 24 jam </td>
<td> JANGAN masukkan kembali dalam freezer </td>
</tr>
<tr>
<td> ASIP yang sudah dicairkan dengan air hangat </td>
<td> Untuk diminum sekaligus </td>
<td> Dapat disimpan selama 4 jam atau sampai jadwal minum ASIP berikutnya </td>
<td> JANGAN masukkan kembali dalam freezer </td>
</tr>
<tr>
<td> ASIP yang sudah mulai diminum oleh bayi dari botol yang sama </td>
<td> Sisa yang tidak dihabiskan harus dibuang </td>
<td> Dibuang </td>
<td> Dibuang </td>
</tr>
</table>
<p>Kembali ke pertanyaan polling kita, berapa lama daya tahan ASI beku di dalam freezer dua pintu? Maka jawabannya adalah sekitar 3-4 bulan. Wowww&#8230;.hasil polling 76% sudah menjawab dengan benar&#8230;ini menandakan sudah cukup banyak yang tahu mengenai manajemen ASI perah. Bravo moms!! </p>
<p>Pedoman daya simpan ASI perah ini juga sangat tergantung dengan kondisi yang ada, untuk freezer atau kulkas yang memang jarang sekali dibuka maka bisa bertahan lebih lama, karena jarang terjadi perubahan suhu ketika pintu kulkas sering dibuka dan tutup. Oleh karena itu penting untuk meng-edukasi orang rumah mengenai do’s dan don’ts nya. </p>
<p>Terimakasih atas partisipasinya untuk mengikuti polling ini ya, mari kita nantikan polling AIMI di bulan berikutnya dan nantikan ilmu baru apa yang bisa kita dapatkan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/11/ulasan-polling-oktober-2010-kondisi-asi-perah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Tua Bekerja pun Bisa Sukses Memberi ASI Eksklusif</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Oct 2010 00:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Selvie Amalia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Tips for Working Moms]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1102</guid>
		<description><![CDATA[Siapa bilang orang tua yang bekerja di luar rumah tidak bisa memberikan ASI Eksklusif pada anaknya? Pasti bisa, jika memiliki pengetahuan dan dukungan yang cukup dalam manajemen laktasi. Mengapa saya gunakan kata orang tua, bukan ibu? Padahal yang memproduksi ASI kan ibu? Mari kita simak pemaparan Konselor Laktasi AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa bilang orang tua yang bekerja di luar rumah tidak bisa memberikan ASI Eksklusif pada anaknya? Pasti bisa, jika memiliki pengetahuan dan dukungan yang cukup dalam manajemen laktasi. Ya, pengetahuan dan dukungan diperlukan agar proses pemberian <img class="alignleft size-medium wp-image-1105" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-selvie-family-135x300.jpg" alt="" width="135" height="300" />ASI Eksklusif pada  bayi yang kedua orang tuanya bekerja tidak memiliki hambatan yang berarti. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendapatkan pengetahuan dan dukungan ASI Eksklusif dari lingkungan keluarga hingga lingkungan pekerjaan sejak sebelum melahirkan.</p>
<p>Mengapa saya gunakan kata orang tua, bukan ibu? Padahal yang memproduksi ASI kan ibu? Karena proses pemberian ASI tidak hanya melibatkan ibu dan bayi saja. Ayah memiliki peranan penting dalam mensukseskan pemberian ASI. Apa peranan ayah? Yang pertama tentu memberi dukungan penuh pada istrinya memberikan ASI Eksklusif pada bayi mereka. Yang kedua melindungi istri dan bayi, jika ada pihak yang kontra terhadap pemberian ASI. Yang ketiga, bersama-sama istri merawat dan mengasuh bayi.</p>
<p>Keterlibatan ayah dalam pemberian ASI, akan meningkatkan kepercayaan diri ibu dan lingkungan. Dengan demikian, ibu akan terhindar dari rasa tidak percaya diri, kuatir, gelisah yang dapat mengakibatkan turunnya produksi hormon oksitosin. Hormon oksitosin merupakan hormon penting untuk pengaliran ASI. Turunnya produksi hormon ini dapat berakibat pada turunnya produksi ASI akibat pengaliran ASI yang kurang lancar.</p>
<p>***</p>
<p>Saat ini, sudah banyak orang tua yang berhasil memberikan bayi mereka ASI Eksklusif, meskipun kedua orang tua bekerja. Bahkan banyak pula yang mampu meneruskan menyusui hingga anaknya berusia dua tahun atau lebih. Semua itu mungkin dilakukan jika ibu mendapatkan informasi yang benar mengenai pemberian ASI maupun penggantinya (susu formula, dan berbagai jenis cairan lain) sejak masa kehamilannya.</p>
<p>Dengan mendapatkan informasi yang benar, manfaat dan risikonya, maka ibu dan ayah dapat  memilih akan memberikan nutrisi apa pada anaknya dengan kesiapan untuk menanggung risikonya. Sebagian besar orang tua (ibu dan ayah) yang gagal memberikan ASI pada anaknya adalah karena ketidak tahuan bahwa pengganti ASI memiliki berbagai macam risiko kesehatan yang cukup tinggi bagi anaknya, saat ini hingga ia dewasa kelak.</p>
<p>Oleh karena itu, pengetahuan dasar yang perlu diketahui oleh orang tua adalah apa manfaat ASI? Manfaat ASI banyak sekali, dan tidak ada efek samping yang buruk sama sekali. Meskipun ibunya sedang sakit. Atau bayinya sedang sakit. ASI akan mempercepat kesembuhan ibu maupun bayi. Dan, masih banyak manfaat ASI lainnya.</p>
<p>***</p>
<p>Jadi, apa sih yang perlu dipersiapkan orang tua yang bekerja agar anak-anaknya bisa mendapatkan ASI Eksklusif?<br />
Kuatkan NIAT!  Pahami alasan-alasan mengapa harus tetap memberikan ASI. Yakinkan diri dan lingkungan terhadap manfaat-manfaatnya, terutama untuk kesehatan ibu dan bayi, serta menjaga “bonding” ibu dan bayi, meskipun ibu harus bekerja.<br />
Bulatkan TEKAD! Siapa saja yang perlu membulatkan tekad? Ayah dan ibu harus satu kata.  Setelah itu apa? PERCAYA DIRI! Caranya bagaimana? Dengan mengikuti edukasi atau mencari informasi yang sebenar-benarnya, dan mencari atau membentuk dukungan  untuk memberikan ASI Eksklusif.</p>
<p>Apabila rasa PERCAYA DIRI untuk menyusui sudah kuat, maka langkah kedua adalah memantapkan KOMITMEN! Jika sudah berkomitmen kuat, maka pastikan langkah ketiga ini Anda lakukan: MULAI DENGAN BENAR.</p>
<p>Bagaimana memulai dengan benar?<br />
1) Inisiasi menyusu Dini (IMD),<br />
2) Rawat Gabung 24 jam,<br />
3) Hanya ASI saja, dan<br />
4) yang terpenting susuilah dengan SEPENUH HATI!</p>
<p>Nah, jika pemahaman sudah sampai tahap ini, maka bagi orang tua yang bekerja perlu mempersiapkan segala sesuatunya, agar ketika ibu mulai masuk bekerja sudah memiliki stok ASI Perah (ASIP), sudah memiliki kemampuan manajemen laktasi yang baik, sudah memiliki pengasuh yang handal dan dapat dipercaya untuk mengasuh dan memberikan ASIP.</p>
<p><strong>Apa saja persiapan yang perlu dilakukan?</strong></p>
<p>Persiapan saat hamil</p>
<ul>
<li>Rencanakan porsi cuti melahirkan lebih lama ketika bayi sudah lahir.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1109" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-kelas-edukasi-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></p>
<li>Beritahukan rencana Anda untuk tetap memberikan ASI ketika sudah kembali bekerja.</li>
<li>Periksa juga apakah ada ruangan yang bisa digunakan untuk memerah ASI.</li>
<li>Mintalah dukungan pada rekan-rekan kantor, atasan, dan juga serikat pekerja yang ada.</li>
<li>Bergabunglah dengan organisasi/kelompok pendukung ibu-ibu ASI.</li>
<li>Belajarlah cara memerah ASI dengan tangan, atau mulai mencari breastpump (pompa ASI) yang sesuai.</li>
<li>Pertimbangkan pilihan cara/pekerjaan yang dapat mensukseskan pemberian ASI. Mulai dari pilihan jenis pekerjaan (jika ada) paruh waktu atau penuh waktu.</li>
<li>Kemudian pilihan cara pengantaran ASIP, apakah dibawa oleh Anda sendiri ketika pulang kerja, atau menggunakan jasa pengantaran ASIP untuk dikirim ke rumah.</li>
<li>Mantapkan komitmen Anda untuk terus memberikan ASI pada sang buah hati, walaupun harus kembali bekerja.</li>
</ul>
<p>Persiapan setelah melahirkan</p>
<ul>
<li>IMD secara langsung minimal 1 jam setelah kelahiran.</li>
<li>Perbanyak kontak kulit dengan bayi.</li>
<li>Istirahat yang cukup, relaks, dan fokuskan diri Anda untuk memantapkan kegiatan menyusui.</li>
<li>Tingkatkan pasokan ASI Anda denganmenyusui bayi sesuai dengan pemintaan.</li>
<li>Perah ASI di sela-sela setelah menyusui.</li>
<li>Hindari pemberian ASIP menggunakan dot, karena berisiko terkena gejala “bingung puting”.</li>
<li>Belajar untuk memberikan ASIP kepada bayi dengan menggunakan metode selain dot: cangkir, pipet, sendok kecil, dsb.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1107" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-ASIP-freezer-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<li>Pilih dan latih pengasuh bayi yang juga mendukung pemberian ASI.</li>
<li>Mantapkan teknik memerah ASI dengan tangan, atau menggunakan pompa ASI.</li>
<li>Mulai menabung ASIP 1 bulan sebelum mulai masuk kerja. Simpan ASIP sesuai dengan tata cara yang benar.</li>
<li>Konfirmasikan kembali dengan pihak kantor / atasan anda  mengenai rencana Anda untuk tetap memberikan ASI. Serta informasikan jadwal dan lokasi Anda akan memerah ASI.</li>
<li>Jika memungkinkan, gunakan 1 hari untuk uji coba meninggalkan bayi di rumah dengan pengasuh, dan Anda melakukan aktifitas perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya . Serta aktifitas memerah dan menyimpan ASIP di tempat kerja.</li>
</ul>
<p>Persiapan ketika sudah kembali bekerja</p>
<ul>
<li>Pertimbangkan untuk kembali bekerja pada hari Kamis, agar lebih mudah bagi Anda dan bayi untuk menyesuaikan ritme baru, karena hari sabtu sudah bisa bersama lagi.</li>
<li>Persiapkan segala kebuthan esok hari, pada malam hari sebelumnya.</li>
<li>Susui bayi Anda sebelum berangkat ke kantor.</li>
<li>Usahakan agar perpisahan dan pertemuan kembali dengan bayi dilaksanakan dalam suasana gembira.</li>
</ul>
<p>Ketika berada di kantor:</p>
<ul>
<li>Perah atau pompa ASI sesuai jadwal menyusu bayi Anda atau minimal dalam rentang waktu 3 jam.</li>
<li>Perah atau pompa ASI secara teratur sesuai dengan jadwal dan sebelum payudara Anda terasa penuh.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1108" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-persiapan-kerja-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<li>Gunakan cara yang benar untuk menyimpan dan mengangkut ASIP.</li>
<li>Pastikan bahwa pengasuh bayi Anda mengeri tata cara pemberian ASIP yang benar.</li>
<li>Minta kepada pengasuh bayi Anda untuk tidak memberikan ASIP ketika anda sudah dekat rumah.</li>
<li>Susuilah bayi Anda ketika sudah kembali pulang, pada malam hari, di akhir pekan dan setiap saat Anda sedang bersama bayi.</li>
<li>Minta dukungan sesama rekan kantor dalam upaya anda untuk terus memberikan ASI.</li>
<li>Carilah sesama ibu bekerja yang juga menyusui untuk saling tukar pendapat pengalamam dan saling mendukung.</li>
</ul>
<p>Pelaksanaan langkah-langkah itu memang tak semudah membacanya. Tapi percayalah, dengan bekal rasa cinta terhadap anak-anak Anda, Anda akan mampu melewati tahap demi tahap, langkah demi langkah. Semua itu demi memberikan bekal yang menjadi pondasi anak-anak Anda  untuk tumbuh menjadi manusia utuh dan seperti harapan sebagian besar orang tua, anak harus lebih baik dari orang tuanya.</p>
<p>***</p>
<p>Sekarang Anda sudah mendapatkan berbagai informasi dan langkah-langkah apa yang harus Anda berdua (dengan suami/istri) lakukan. Saatnya memantapkan KOMITMEN, bahwa HANYA ASI saja nutrisi terbaik untuk bayi 0-6 bulan, dan setelah bayi Anda berusia di atas 6 bulan TETAP BERIKAN ASI tanpa campuran susu lainnya dan tambahkan Makanan Pendamping ASI buatan rumah.</p>
<p>Semoga Anda dan pasangan Anda bisa satu kata, satu asa, dan satu langkah dalam memberikan asupan gizi bagi anak-anak Anda. Selamat berjuang wahai orang tua yang mencintai anak-anaknya.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber:<br />
Materi Kelas Edukasi AIMI – Breastfeeding Tips for Working Mothers, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayi = Botol dan Dot? Benarkah?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/10/bayi-botol-dan-dot-benarkah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/10/bayi-botol-dan-dot-benarkah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 08:45:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiki Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[botol]]></category>
		<category><![CDATA[cup feeder]]></category>
		<category><![CDATA[dot]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[gelas sloki]]></category>
		<category><![CDATA[softcup feeder]]></category>
		<category><![CDATA[spuit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1086</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu yang membeli botol dan dot sebagai salah satu persiapan menyambut kelahiran anaknya karena sebagian besar kita hanya tau bahwa bayi cuma bisa minum langsung melalui payudara ibu atau dengan menggunakan botol dan dot. Apa kah ini benar? Yuk simak penjelasan konselor laktasi AIMI tentang cara pemberian ASI perah yang tepat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa diantara kita yang setuju, bahwa rata-rata ibu membeli botol dan dot dalam mempersiapkan kehadiran bayi mungilnya. Hal yang sama juga terjadi pada saya ketika mempersiapkan kelahiran anak pertama 6 tahun silam. Dalam bayangan saya yang namanya bayi ya minum susunya (baik susu formula ataupun ASI Perah) adalah melalui botol dan dot. Belum lagi tawaran dan iklan menarik mengenai puting dot yang dibuat semirip dengan puting ibu ataupun iklan yang mengatakan botol ini anti kolik dan tidak membuat bayi kembung. </p>
<p>6 tahun silam saya belum banyak tahu tentang pemberian susu melalui media lain selain botol dan dot. Sekarang, selain mulai banyak belajar saya juga menerapkan hal ini pada anak kedua saya dan ternyata berhasil, tidak sesulit yang saya bayangkan. Ini semakin membuat saya yakin untuk bisa membagikan pengalaman saya disini, karena sulit bagi saya untuk membagi sesuatu yang tidak saya yakini.</p>
<p>Banyak ibu yang bertanya pada saya, ”Apa sih keuntungannya memberikan ASIP melalui media selain botol dan dot?”. Biasanya, saya lalu mencoba menjawab seperti ini:</p>
<ul>
<li>Bayi terhindar dari bingung puting.<br />
Bingung puting adalah keadaan dimana bayi memilih untuk menggunakan botol dan dot karena cara kerja meminum ASI dari botol dan dot dan payudara berbeda. Melalui botol dan dot bayi tidak harus suckling melainkan hanya sucking. Sedangkan pada payudara bayi harus menggunakan lidahnya untuk merangsang keluarnya ASI. Sedangkan pada botol dan dot bayi hanya menyedot dan aliran ASIP sudah keluar dengan derasnya.</li>
<li>Bayi mendapatkan kepuasan oral hanya dari puting payudara ibunya tidak dari puting botol dan dot.<br />
Ketika ibu pulang dari bepergian atau bekerja, bayi akan bersemangat untuk menyusu langsung ke payudara ibunya. Hal ini tentunya bermanfaat karena bonding dengan ibu tetap terjalin kuat meskipun ibu tidak bisa selalu berada bersama bayi.</li>
<li>Penggunaan botol dan dot meningkatkan resiko infeksi telinga pada bayi.</li>
<li>Menyapih anak dari botol dan dot lebih sulit dibanding menyapih dari payudara. Sedangkan bayi yang tidak menggunakan dot kita tidak usah memikirkan bagaimana menyapih dari gelas kan? Krn seumur hidup kita minum pake gelas.</li>
</ul>
<p>Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, ”lalu, bagaimana memberikan ASI Perah pada bayi jika penggunaan botol dan dot dapat menimbulkan banyak risiko?”</p>
<p>Banyak ibu yang belum mengetahui, bahwa pemberian ASI Perah dapat menggunakan beberapa media, seperti: gelas sloki, sendok, pipet, spuit dan softcup feeder. Seperti apa media pemberian ASI dan bagaimana cara menjelaskannya, yuk, kita baca bersama sharing saya di bawah ini:</p>
<ol>
<li>CUP FEEDER (GELAS SLOKI)<br />
Pemberian ASIP melalui gelas sloki dapat dilihat pada www.drjacknewman.com → Video clips. Langkah-langkah yang dilakukan jika <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-cup-feeding-300x225.jpg" alt="" title="10-cup-feeding" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1091" />ingin memberikan ASIP melalui gelas sloki adalah:</p>
<ol>
<li>Gendong bayi di pangkuan dan posisikan bayi dengan kepala agak tegak, gunakan tangan untuk menopang bahu dan leher bayi. </li>
<li>Gunakan gelas sloki kecil. </li>
<li>Tempelkan bibir gelas sloki ke bibir bayi.</li>
<li>Miringkan gelas sloki hingga ASIP menyentuh bibir bawah bayi dan biarkan bayi menyeruput seperti kucing yang sedang minum. <strong>Jangan menuangkan ASIP ke mulut bayi</strong>. </li>
<li>Penting untuk menjaga aliran ASIP agar bayi tetap dapat menyeruput secara terus menerus. </li>
<li>Lakukan perlahan karena bayi dan pemberi ASIP sedang sama-sama belajar.</li>
</ol>
<p>Diambil dari <a href="http://www.drjacknewman.com/">www.drjacknewman.com</a> → cup feeding.</p>
<p>Coba lakukan langkah-langkah diatas berkali-kali hingga bayi dan pemberi ASIP sama-sama merasa nyaman. </li>
<li>SPOON FEEDER<br />
Pemberian susu melalui sendok sudah ada sejak dahulu kala, mungkin sejak botol dan dot belum ditemukan karena sendok adalah peralatan yang sangat mudah ditemukan. Ketika tiba-tiba seorang ibu harus keluar rumah dan meninggalkan bayinya dengan orang lain maka sendok adalah peralatan yang pasti ada di rumah. </p>
<p>Pemberian ASIP dengan sendok pada intinya sama dengan penggunaan gelas sloki. Posisikan bayi agak tegak, kemudian tempelkan sendok yang telah diisi ASIP ke bibir bayi, biarkan mulut bayi terbuka dan sendokkan ASIP ke dalam mulut bayi. Resiko ASIP berceceran lebih banyak karena pemberi ASIP harus membawa sendok yang berisi ASIP dari gelas ke bibir bayi. </li>
<li>PIPET dan SPUIT FEEDER.<br />
Pipet yang digunakan adalah pipet yang terbuat dari plastik, hindari pipet yang terbuat dari kaca karena khawatir akan melukai bayi. Cara penggunaan pipet adalah masukkan ujung pipet ke mulut bayi kemudian teteskan beberapa tetes ASIP, tunggu hingga bayi menelan ASIP nya kemudian ulangi lagi.</p>
<p>Spuit yang digunakan adalah spuit ukuran besar tanpa jarum suntiknya. Isi spuit dengan ASIP kemudian dekatkan ujung spuit ke mulut bayi hingga mulut bayi terbuka, kemudian tuangkan sedikit-sedikit ke mulut bayi dan bayi akan menelan ASIPnya. </li>
<li>SOFTCUP FEEDER<br />
<img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-soft-cup-feeding-300x225.jpg" alt="" title="10-soft-cup-feeding" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1093" />Softcup feeeder yang ada di pasaran sekarang adalah merek Medela. Bentuknya hanpir seperti spuit besar hanya saja ujungnya lebar seperti ujung gelas sloki. Cara pemakaiannya, isi tabungnya dengan ASIP kemudian tekan ujung tabung yang dekat mulut softcup hingga ASIP mengalir ke mulut softcupnya, kemudian sama seperti cup feeder, tempelkan ke bibir bawah bayi dan biarkan dia menyeruput, jika ASIP yang di mulut softcup sudah habis tekan kembali tabungnya hingga ASIP mengalir kembali.</li>
</ol>
<p>Yang perlu diingat ketika memberikan ASI Perah melalui media-media ini adalah: </p>
<ol>
<li>Berikan ketika bayi dalam keadaan tidak terlalu haus atau lapar. Karena kalau bayi sudah sangat lapar maka bayi menjadi tidak sabaran dan akhirnya menangis, apalagi jika bayi dan pemberi ASIP masih sama-sama belajar. </li>
<li>Serahkan tugas memberi ASIP kepada orang lain selain ibu. Karena bayi memiliki kecenderungan untuk mengenali sekali ibunya dan ia akan memilih untuk menyusu langsung dibanding meminum ASIP. </li>
<li>Latih bayi sedini mungkin karena semakin sering latihan maka bayi akan semakin mahir meminum ASIP dan yang memberikan ASIP juga mengetahui apa yang nyaman dan tidak nyaman bagi dirinya.</li>
<li>Mintalah orang yang akan memberikan ASIP mencoba semua media yang ada, cup, sendok, pipet ataupun spuit dan biarkan ia memutuskan media apa yang paling nyaman buat dia dan bayi kita.</li>
<li>Masih banyak orang yang menganggap memberikan ASIP tanpa dot adalah sesuatu yang ribet dan menyusahkan dan karena kita merasa tidak enak meninggalkan bayi kita pada mereka kita akan mudah menyerah dan membiarkan bayi diberi ASIP melalui dot, pada kasus saya, saya ajak ibu saya ke klinik laktasi dan biarkan konselor laktasi menjelaskan panjang lebar mengenai keuntungan memberikan ASIP tanpa dot dan ia lebih percaya (dibanding dengan anaknya sendiri yang ngomong). Dan terbukti saat ini baik ibu saya maupun si mbak yang di rumah menyatakan jauh lebih enak ketika anak terbiasa untuk minum dari gelas dari bayi, di umur 1 tahun 5 bulan ini dia sudah bisa minum menggunakan gelas apapun juga, tidak sibuk mensteril dan mencuci botol dan dot. </li>
</ol>
<p>Semoga sharing ini bermanfaat.. ☺ Selamat menyusui dengan cinta, moms..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/10/bayi-botol-dan-dot-benarkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Berhasil Menyusui? Anda perlu TIM SUKSES!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 04:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tengku Arisma Mellina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Father]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[Bukan hanya Pemilihan Kepala Negara, Kepala Daerah atau bahkan Ketua Partai saja lhoo yang memerlukan Tim Sukses. Menyusui juga perlu Tim Sukses untuk mengantarkan bayi kita menjadi sarjana S1, S2, bahkan S3 ASI! Ikuti sharing salah satu Konselor Laktasi AIMI mengenai pentingnya dukungan orang terdekat agar sukses menyusui.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selintas, menyusui terlihat sebagai kegiatan yang dilakukan oleh ibu dan bayi-nya saja, tetapi jika kita perhatikan lebih seksama, ada beberapa pihak yang memiliki peranan yang besar di dalam kegiatan menyusui, selain sang ibu dan bayi-nya. Mereka itu adalah suami, orangtua, mertua, keluarga besar, sahabat, bahkan rekan kerja dan tetangga. Adanya dukungan dari berbagai pihak merupakan salah satu kunci agar ibu dapat berhasil menyusui bayinya. Mereka adalah Tim Sukses ibu menyusui.</p>
<h3>Cerita Tim Sukses Saya</h3>
<p>Saya sangat menikmati kegiatan menyusui anak saya, Ba’i, hingga dia menyapih sendiri (33 bulan). Bagi saya menyusui bukanlah beban, ataupun kendala, karena saya selalu didampingi dan dukung oleh suami dan keluarga, terutama ibu.</p>
<p>Saat Ba’i lahir, pengetahuan saya akan ASI dan menyusui sangat minim. Bekal saya hanyalah tekad, tekad untuk menyusui bayi saya hingga berumur dua tahun.</p>
<p>Bermodal tekad saja ternyata tidak cukup, saya merasa masih masih perlu mengumpulkan informasi mengenai ASI serta dukungan dari orang terdekat. Saya merasakan sendiri, kekuarangan informasi ternyata berdampak tidak baik bagi saya maupun Ba&#8217;i sejak awal kelahiran. Saat itu, saya dan Ba&#8217;i sudah dipisahkan sejak kelahirannya. Kami baru bertemu kembali setelah enam jam pasca kelahiran. &#8220;Supaya ibu bisa istirahat. Tentunya ibu lelah sekali setelah melahirkan,&#8221; begitu kata seorang tenaga kesehatan ketika saya katakan bahwa saya ingin bertemu dengan bayi saya. Minimnya informasi yang saya punya, membuat saya HARUS pasrah dengan keadaan. Tak hanya itu, sejak awal kelahiran pun Ba&#8217;i sudah diberikan susu formula oleh pihak rumah sakit tanpa seijin dan sepengetahuan kami. Ingin marah rasanya.</p>
<p>Adalah suami saya yang ber-inisiatif untuk memberikan perahan kolostrum dan perahan ASI ke ruangan bayi <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/06/06-the-A-team.jpg" alt="" title="06-the-A-team" width="200" height="300" class="alignright size-full wp-image-775" />sebelum jadwal minum sufor oleh perawat. Suami mengetok ruangan perawat untuk mengambil pompa dan corongnya, setelah di perah, ASIP langsung di bawa ke ruang bayi dan minta ke susternya untuk segera diberikan langsung ke Ba’i. Hal ini terus dilakukan setiap 2 jam, bahkan tengah malam pun, suami tetap ke ruangan perawat (yang beda lantai) untuk meminta corong yang steril, membangunkan saya untuk memerah dan membawa perahannya ke ruangan bayi. Alhamdulilah, meskipun Ba’I terkena susu formula, tapi dengan semangat suami membantu memberikan ASI perah dan menyemangati saya untuk terus memerah, ASIP saya bisa “menyalip” waktu pemberian sufor.</p>
<p>Permasalahan lain muncul, ketika dokter spesialis anak (DSA) mendiagnosa Ba’i kuning karena kadar bilirubinnya tinggi (padahal setelah saya pelajari, ternyata angka tersebut masih normal). DSA mengatakan penyebab dari kuning karena golongan darah saya dan Ba’i berbeda. Saya B dan Bai O (lagi-lagi setelah saya baca dan konsultasi dengan pakar laktasi, ternyata perbedaan golongan darah B dan O tersebut bukan penyebab jadi kuning, berbedaan rhesus dan golongan darah AB-O yang mungkin dapat menyebabkan bayi kuning, itu pun dengan bilirubin yang langsung tinggi). Dokter kemudian menyarankan saya untuk menghentikan pemberian ASI sampai lima hari dan juga di bluelight. Saat itu DSA ini seperti “menindas” dengan kata-katanya yang menyindir karena saya tetap ingin memberikan ASI. Dia bahkan tidak melihat saya ketika sedang berbicara dan lebih memilih berbicara kepada suami dan ibu saya. Rasanya kesal sekali, merasa tidak di dengar dan tidak di perhatikan. Untung di saat seperti ini suami dan ibu saya terus mendukung saya memberikan ASI.</p>
<p>Ibu saya berpendapat, ”Rasanya tidak mungkin ya, Allah SWT memberikan &#8216;racun&#8217; untuk mahluk ciptaannya, apalagi yang baru lahir. ASI kan keluar dengan sendirinya setelah ibu melahirkan, berarti itu pemberian Allah SWT untuk bayi melalui sang ibu, jadi memang ASI yang harus diberikan kepada bayi, bukan susu formula”. Dari pemikiran ini, saya dan suami semakin mantap untuk terus menyusui, walaupun setiap hari dokter bilang, “Bu, billirubinnya lebih tinggi dari kemarin, ini karena ibu masih tetap memberikan ASI lho?!” Saya sempat ragu, tapi suami kembali mengingatkan untuk tetap menyusui. Di samping itu, ibu saya pun mencari-cari informasi mengenai bayi kuning ke beberapa temannya yang ber-profesi sebagai dokter. Hasil yang didapat, tenyata justru hanya ASI-lah yang dapat membantu mengeluarkan bilirubinnya. Pemberian susu formula justru akan memperberat kerja pencernaan bayi yang belum sepenuhnya matang, selain itu bayi harus di siangin di bawah sinar matahari yang tidak langsung, di pagi hari. Mendengar ini, saya semakin yakin lagi untuk tetap menyusui Ba’i. Tim sukses saya (suami dan Ibu) telah berhasil membawa saya dari keraguan dan kecemasan di awal kehidupan Ba’i di dunia.</p>
<h3>Ketua Tim Sukses: Suami</h3>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/06/06-bai-ayah-makan-300x194.jpg" alt="" title="06-bai-ayah-makan" width="300" height="194" class="alignleft size-medium wp-image-774" />Menurut saya, suami sebagai salah satu pemegang kunci dari keberhasilan menyusui, suami adalah ketua tim suksesnya.  Suami saya pernah berkata bahwa ia iri setiap kali melihat saya menyusui Ba’i, karena ada kelekatan/bonding  yang sangat dalam dan hal itu tidak dapat ia lakukan bersama Ba’i. Suami saya juga khawatir jika Ba’i akan sedikit lebih “jauh” ke dia dibandingkan ke saya. Memiliki pikiran seperti itu menurut saya sangatlah wajar dan di satu sisi merupakan kebanggaan buat saya sebagai ibu bahwa bonding yang saya miliki dengan Ba’i pada saat menyusui ternyata sangat eksklusif dan tidak dapat tergantikan oleh siapapun dan apapun juga di dunia ini.</p>
<p>Saya pernah membaca buku mengenai “<em>Attachment Parenting</em>” dari William Sears, M.D. dan Martha Sears, R.N, yang menurut saya, dapat menghilakan rasa “ke-iri-an” suami saya. William dan Martha Sears berpendapat bahwa banyak hal dapat di lakukan oleh sang ayah untuk dapat menjadi terikat dengan sang bayi. Salah satunya pada saat menyusui, sang ayah akan mendapatkan keterikatan dengan bayinya pada saat menggendong, mendekap bayinya, menggantikan popok, memandikan, memijat bayinya, sebelum di serahkan ke istrinya untuk di susui. Sang ayah juga dapat merawat istrinya untuk memudahkannya menyusui (seperti melakukan pijat punggung, membuatkan secangkir teh hangat, menyiapkan bantal untuk menyangga punggung istri pada saat menyusui,dll). Membaca ini saja, kita sudah terbayang betapa indahnya suasana yang di penuhi rasa cinta ini. Bagi kita, ibu menyusui, suasana indah ini sangat dapat merangsang hormon oksitosin untuk bekerja melancarkan jalan keluarnya ASI.</p>
<p>Saya merasa sangat beruntung, karena suami mendapat “<em>paternity leave</em>” (cuti dalam tanggungan karena istri melahirkan), dari kantornya selama 4 minggu. Kesempatan ini sangat dimanfaatkan oleh kami dengan sebaik mungkin. Disaat kondisi saya belum 100% pulih, suami dengan sigap membantu menggantikan popok, memandikan Ba’i serta memberikan ASIP. Terus terang, setiap kali saya melihat suami saya merawat Ba’i, terlihat sangat indah dan momen itu sering kali membuat jadi lebih bersemangat untuk menyusui. Aneh ya? Tapi setidaknya itu lah yang saya rasakan. Ada dorongan alami yang kadang saya sendiri juga tidak menyadarinya. </p>
<h3>Wakil Kehormatan Tim Sukses : Orangtua (Ibu)</h3>
<p>Saat saya kembali bekerja, Ibu saya yang menjaga dan merawat Ba’i. Ilmu manajemen laktasi saya masih nol, sehingga saya tidak tahu harus bagaimana seharusnya mempersiapkan ASIP, dll. Adalah Ibu saya yang membuat “matematika pemberian ASIP”nya. Ibu menyarankan, sebelum masuk kerja, melakukan simulasi meninggalkan rumah selama jam kerja untuk melihat berapa kali dan berapa banyak Ba’i minum. Ibu saya menulis jam berapa saja Ba’i bangun, tidur dan berapa cc ia minum satu kalinya. Alhasil, terciptalah rumus “matematika pemberian ASIP” yang kemudian, setelah saya belajar, “matematika pemberian ASIP” a’la ibu saya itu ternyata mirip dengan “Manajemen Laktasi”.</p>
<p>Ibu saya selalu mengingatkan beberapa hal: 1. Rajin memerah ASIP, baik yang fresh untuk diberikan langsung pada hari itu dan juga untuk dimasukkan ke dalam freezer. 2. Selalu meninggalkan sejumlah ASIP di kulkas (lima-enam botol ASIP) setiap kali saya pergi ke kantor dan, 3. Selalu menanyakan jam berapa pulang kantor. Setiap mendekati jam lima sore, ibu saya sms atau menelfon, menanyakan apakah saya sudah mau pulang atau akan lembur. Jika saya bilang langsung pulang, maka Ibu saya tidak akan memberikan ASIP di jadwal selanjutnya karena di perkirakan, saya  sudah sampai di rumah, jadi menghemat satu ASIP (dengan jam yang paling baru di perah) untuk di berikan esok paginya. Suatu hari saya pernah terjebak banjir, sehingga sampai rumahnya akan sangat larut. Stok ASIP untuk hari itu tinggal satu botol lagi, ibu saya langsung mengantisipasinya dengan mengeluarkan satu botol ASIP dari freezer yang memang berfungsi sebagai ASIP untuk cadangan jika ASIP fresh yang tersimpan di kulkas bawah, habis. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata disarankan untuk mencairakan ASIP yang dari freezer secara bertahap, akan tetapi saat itu keadaannya di luar kendali saya (dan juga saya belum tau informasi mengenai ini).</p>
<p>Syukur Alhamdulilah, dengan bantuan dan dukungan dari suami dan ibu lah, saya dapat berhasil menyusui Ba’i dengan tanpa beban. Kegiatan menyusui menjadi ritual sehari-hari yang menyenangkan buat saya, walaupun di kantor saya dihujani dengan berbagai tugas dan tekanan. Produksi ASI saya juga bukan termasuk yang berlimpah lho tapi sangat cukup untuk Ba’i. Terima kasih untuk ibu saya dengan “matematika pemberian ASIPnya” dan juga terima kasih saya untuk suami yang selalu setia mendukung saya dengan bantuan-bantuan praktisnya. Mereka adalah Tim sukses saya yang telah mengantarkan Ba’i jadi Sarjana S1 dan S2 ASI!</p>
<p>Ayoo persiapkan Tim Suksesnya Moms masing-masing yaaa… </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 2455 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Pertama Gagal ASI Eksklusif &#8211; Bagaimana Dengan Adik?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 01:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok pendukung]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu yang tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif kepada anak kedua bahkan ketiga ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama. Ini disebabkan mereka terpaku pada kegagalan anak pertama. Umumnya kegagalan ini disebabkan oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.  Saya ingin berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak ibu merasa tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya &#8211; baik kepada anak kedua atau ketiga, ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-mama-zach.jpg" alt="" title="04-mama-zach" width="300" height="241" class="alignleft size-full wp-image-648" />Hal ini seringkali terjadi, karena banyak ibu terpaku pada kegagalan memberikan ASI di masa lalu yang disebabkan  oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.</p>
<p>Menanggapi hal tersebut, ijinkan Saya berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi semua ibu yang membacanya.</p>
<p>Anak pertama saya lahir pada bulan Oktober 2004, hanya 10 bulan dari sejak saya menikah. Senang..? Pasti dong. Saya pun berniat untuk memberikan yang terbaik &#8211; yaitu ASI &#8211; untuk anak pertama saya.</p>
<p>Memberikan ASI ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Karena kekurangan informasi tentang ASI dan menyusui, saya mengawali perjalanan menyusui anak pertama saya dengan tidak tepat, misalnya: tidak meminta rawat gabung dengan anak sewaktu di Rumah Sakit sehingga saya yang harus bolak balik ke kamar bayi (dengan jam menyusui yang dibatasi / dijatah). Kondisi seperti ini membuat saya tidak dapat menyusui dikala anak saya membutuhkan ASI. Saya lebih sering menemui anak saya sedang tertidur sehingga tak mau menyusu.</p>
<p>Saat itu saya pikir ini kondisi seperti ini normal saja. Tetapi begitu saya pulang dari Rumah Sakit dan merawat bayi saya sendiri, barulah saya merasakan ketidaknyamanan. Bukan, bukan karena saya kecapekan menjaganya tapi saya mengalami puting lecet.</p>
<p>Saya bingung sekali kala itu,  tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya cara yang menurut saya dapat menyelesaikan permasalahan puting lecet kala itu adalah dengan memompa ASI dari payudara yang lecet dan hanya menyusui dari payudara yang tidak sakit. Karena kondisi ini pula, saya sempat mengalami ‘<em>mild baby blues</em>’, dimana saya menangis setiap harus menyusui dari payudara yang lecet tersebut. Untungnya cuma berlangsung sebentar, 3 hari saja.</p>
<p>Selama di berada rumah dan belum kembali bekerja, saya selalu menyusui anak saya secara langsung, sehingga saya pun jarang memerah, apalagi semenjak luka di puting pulih. Ternyata hal ini menimbulkan masalah ketika saya harus kembali lagi ke kantor. Saya tidak memiliki stok ASI perah ketika itu, sehingga saat harus kembali masuk kantor saya bingung bagaimana dengan asupan susu anak saya di rumah. Oleh orang tua, saya diminta membeli susu formula (sufor) sebagai cadangan kalau-kalau ASI yang saya perah di kantor tidak cukup untuk konsumsi anak saya selama saya tinggal bekerja. Dan terjadilah hal yang saya takutkan, di usianya yang ke- 2,5 bulan, anak saya sudah minum ASI campur sufor.</p>
<p>Selain itu, karena minimnya informasi yang saya punya, saya memperkenalkan MPASI dini pada anak saya, karena menurut orang tua,  anak saya pasti kelaparan kalo hanya minum ASI dan susu formula saja.</p>
<p>Sekembalinya bekerja, ternyata saya tidak konsisten memerah ASI. Kadang hanya 2x dalam waktu 9 jam, malah kadang hanya 1x kalau saya terlalu sibuk atau malas. Ini disebabkan di kepala saya sudah tertanam bahwa anak saya akan baik-baik saja karena ada back-up sufor dan MPASI di rumah jika ASI perah tidak mencukupi. Akhirnya pada usia 10 bulan, anak saya hanya minum sufor tanpa ASI lagi.</p>
<p>Ketika anak ke-2 lahir di tahun 2007, saya sudah bertekad untuk memberi ASI sekurang-nya 6 bulan tanpa tambahan susu formula maupun MPASI dini. Hal ini dikarenakan informasi yang saya dapatkan dari seminar tentang kesehatan anak pada tahun 2006 yang saya ikuti, menjelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif adalah 6 bulan tanpa tambahan apa pun. Ditambah lagi, tidak lama setelah saya melahirkan, saya pun ikut bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dimana saya dapat mencari informasi tentang ASI, menyusui dan tips memerah selama bekerja dengan lebih lengkap. Alhamdulillah, dengan banyaknya informasi yang saya dapat, anak ke-2 pun lulus ASI eksklusif tanpa bantuan dari susu formula dan MPASI dini.</p>
<p>Selain itu, untuk menambah wawasan dan jejaring, saya datang ke kopdar milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">Asiforbaby</a> pertama kali dan berkenalan dengan banyak ibu muda. Selain presentasi mengenai ASI yang dibawakan oleh dr. Utami Roesli, saat itu juga ada presentasi dari mbak Mia Sutanto yang menjelaskan bahwa akan dibentuk suatu organisasi yang bisa mewadahi para ibu menyusui. Saya melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk terlibat secara langsung didunia per-ASI-an dan ketemu dengan para ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>Singkat cerita, saya pun mengajukan diri untuk ikut bergabung dan Alhamdulillah, saya tidak salah berkumpul dengan ibu-ibu hebat di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena disini lah saya bisa bertanya, curhat dan bersenang-senang. Dari sini pun saya sadar, ternyata ilmu yang didapat dari internet atau milis saja tidak cukup. Kita perlu berkumpul dengan para ibu yang mempunyai pandangan yang sama dengan kita.</p>
<p>Saat kelahiran anak-3 dipertengahan 2008, saya jauh lebih percaya diri. Saya jadi lebih getol mencari dokter, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-family.jpg" alt="" title="04-family" width="300" height="200" class="alignright size-full wp-image-649" />tenaga kesehatan dan rumah sakit yang mengijinkan IMD dan rawat gabung. Sewaktu lahiran saya tenang karena anak langsung diletakkan di atas dada dan dibiarkan selama kurang lebih 1,5 jam. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan karena saya bisa melihat sendiri ayahnya meng-adzani anak di dada saya dan melihat serta merasakan IMD, dimana anak merangkak sendiri menuju payudara dan menyusu secara alami tanpa bantuan dari saya, mamanya.</p>
<p>Jadi kalau boleh saya rangkum dari pengalaman ini adalah tidak benar bahwa kegagalan pemberian ASI pada anak pertama berarti mustahil bagi anak ke-2 mau pun ke-3 untuk mendapat ASI. Ibu perlu membekali dirinya dengan ilmu yang cukup semenjak hamil tentang tata cara IMD, persiapan menyusui, dokter dan rumah sakit / bidan yang mendukung IMD &#038; rawat gabung. Tentu saja dukungan penuh dari suami juga akan membuat ibu lebih percaya diri.</p>
<p>Selain itu, jika memungkinkan bergabunglah dengan komunitas peduli ASI. Ini bisa diawali dengan bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dan dilanjutkan dengan bertemu langsung dengan para ibu di kota tempat kita tinggal atau sering disebut kopdar. Lebih bagus lagi jika pertemuan ini bisa diadakan rutin sehingga kita bisa saling berbagi ilmu dan saling mendukung sesama ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>So, ibu2, terbukti kan, kegagalan di masa lalu dapat menjadi pemicu keberhasilan untuk menyusui. Kalau saya bisa, Anda pun bisa!</p>
<p>Semangat ASI!</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 2908 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HYPNOBREASTFEEDING: Bantu Ibu Sukses Meyusui</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/hypnobreastfeeding-bantu-ibu-sukses-meyusui/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/hypnobreastfeeding-bantu-ibu-sukses-meyusui/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 07:03:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuyuk Andriati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[hypnobreastfeeding]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[ultah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA – Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menggelar workshop Hypnobreastfeeding dengan tema “Afirmasi Positif untuk Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas ASI”, dalam rangka perayaan Ulang Tahun ke-2 organisasi ini, di Jakarta, Minggu (19/4). Workshop yang diikuti sekitar 100 ibu menyusui ini dipandu oleh pakar hypnotherapy, Lanny Kuswandi. Salah satu tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk memperkenalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/04/04-press-hypnobf-300x180.jpg" alt="Hypnobreastfeeding Logo" title="Hypnobreastfeeding Logo" width="300" height="180" class="alignright size-medium wp-image-343" />JAKARTA – Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menggelar workshop Hypnobreastfeeding dengan tema “Afirmasi Positif untuk Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas ASI”, dalam rangka perayaan Ulang Tahun ke-2 organisasi ini, di Jakarta, Minggu (19/4).<br />
<span id="more-341"></span><br />
Workshop yang diikuti sekitar 100 ibu menyusui ini dipandu oleh pakar hypnotherapy, Lanny Kuswandi. Salah satu tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk memperkenalkan teknik relaksasi terbaru, sehingga dapat membantu para ibu menyusui untuk memaksimalkan kuantitas dan kualitas ASI-nya.</p>
<p>“AIMI ingin membantu para ibu untuk memastikan agar ibu menyusui bisa terus memberikan ASI, minimal secara eksklusif selama 6 bulan pertama, terutama apabila para ibu menyusui tersebut harus kembali bekerja,” kata Ketua AIMI, Mia Sutanto. Dukungan untuk menyusui di Indonesia dirasakan  masih kurang, oleh karena itu para ibu menyusui harus senantiasa berusaha menciptakan kondisi yang positif bagi dirinya untuk terus bisa menyusui. </p>
<p>Hypnobreastfeeding adalah teknik relaksasi untuk membantu kelancaran proses menyusui. Caranya adalah dengan memasukkan kalimat-kalimat afirmasi positif yang membantu proses menyusui disaat si ibu dalam keadaan sangat rileks atau sangat berkonsentrasi pada suatu hal (keadaan hipnosis).</p>
<p>Definisi hipnosis sendiri adalah suatu kondisi nirsadar yang terjadi secara alami, dimana seseorang menjadi mampu menghayati pikiran dan sugesti tertentu untuk mencapai perubahan psikologis, fisik maupun spiritual yang diinginkan. Hipnosis otomatis terjadi kapanpun seseorang menjadi rileks yang dalam dan/atau berkonsentrasi penuh.</p>
<p>Dalam hypnobreastfeeding, perubahan yang diinginkan adalah segala hal yang mempermudah dan memperlancar proses menyusui. Contoh kalimat sugesti atau afirmasinya: “<em>ASI saya cukup untuk bayi saya sesuai dengan kebutuhannya</em>”, “<em>Saya selalu merasa tenang dan rileks disaat mulai memerah</em>”, dan sebagainya.</p>
<p><strong>Ulang Tahun ke-2 AIMI</strong></p>
<p>Memasuki usia dua tahun, AIMI telah melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya pemberian ASI bagi bayi. Berbagai kegiatan yang rutin digelar AIMI adalah Kelas Edukasi AIMI dengan pembahasan-pembahasan antara lain Breastfeeding Basics, Breastfeeding for Working Moms, MPASI sehat untuk bayi, selain itu AIMI juga mengadakan kampanye di perkantoran lewat program AIMI Goes to Office, di berbagai komunitas seperti gereja, masjid dan perkumpulan lainnya.</p>
<p>Selama 2 tahun ini AIMI telah menghasilkan sekitar 20 konselor laktasi yang siap memberikan dukungan dan bantuan untuk ibu-ibu yang memerlukan konseling dan dukungan lain seputar menyusui bayinya.</p>
<p>Kegiatan fenomenal yang diadakan AIMI tahun 2008 lalu adalah Menyusui Serentak Ibu Indonesia dalam rangka peringatan Pekan ASI Sedunia. ***</p>
<p><strong>Contact Person AIMI:</strong><br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584                            </p>
<p>Yuyuk Andriati, Divisi Komunikasi<br />
yeye@aimi-asi.org<br />
HP : 0811 971509</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS Lt. 1<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta Telpon : 021-72790165 Fax: 021-72790166<br />
www.aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/hypnobreastfeeding-bantu-ibu-sukses-meyusui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

