<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; ASI Eksklusif</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/asi-eksklusif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 01:59:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>ASI: Cairan Ajaib Yang Selamatkan Bayiku</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 00:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Muzdalifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[bayi prematur]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kuning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1628</guid>
		<description><![CDATA[Bahagia rasanya saat mengetahui kehamilan pertama yang ternyata kembar identik. Tapi manusia boleh berencana, Tuhan tetaplah Maha Penentu. Salah satu bayi kembarnya meninggal di dalam kandungan dan harus dilahirkan. Kembarannya yang selamat, lahir prematur. Bagaimana perjuangan ibu Lia? Yuk kita simak penuturannya ke AIMI beberapa waktu lalu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika mengetahui bahwa aku hamil kembar identik (satu kantung kehamilan), rasanya aku bahagia sekali. Aku akan dikarunia dua bayi sekaligus! Setiap bulan aku rutin memeriksakan kandungan ke dokter, untuk memastikan kedua bayiku tumbuh sehat di dalam rahimku. Kedua bayi tampak sangat sehat menurut dokterku, hingga kontrol terakhir pada usia kandungan 6 bulan.</p>
<p><strong>Ternyata Tuhan berkehendak lain</strong></p>
<p>Pada usia kandungan sekitar 6,5 bulan, keluar cairan bening yang banyak sekali dari vagina. Aku hubungi dokter dan beliau bilang tidak apa-apa, kemungkinan hanya akibat peregangan. Namun aku kemudian merasa kesakitan dan ada flek berupa darah segar. Pada hari Senin, 28 Maret 2011, dari kantor, aku segera dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, sesuai arahan dokter kandungan.</p>
<p>Ternyata menurut hasil USG, salah satu bayiku sudah meninggal. Rasa sedih tak terkira kurasakan waktu itu.</p>
<p>Setelah berkonsultasi dengan dokter, kami sepakat untuk menahan kelahiran bayi yg selamat setidaknya hingga berat badannya cukup dan usia kandungan lewat 7 bulan. Tapi ternyata badanku sudah tidak sanggup menahan kontraksi-kontraksi yang terjadi. Ternyata sudah ada pembukaan 3 cm yang terhalang dengan semacam balon.</p>
<p>Pada hari ke-3 aku dipindahkan ke RS yang lebih besar karena aku semakin kesakitan, demam, kontraksi terus menerus, dan HB turun terus. Kondisiku semakin melemah ditambah lagi harus menahan semua obat-obatan yang <div id="attachment_1636" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1101-Alhamdulillah1-abel-300x225.jpg" alt="" title="1101-Alhamdulillah(1)-abel" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1636" /><p class="wp-caption-text">Annabelle sesaat setelah lahir</p></div>masuk (termasuk penahan kontraksi yang akhirnya membuat jantungku tidak kuat). Di RS ini aku bertahan hingga hampir 2 minggu. Namun kondisiku terus melemah sehingga keluarga memutuskan agar aku segera melahirkan bayiku.</p>
<p>Hari Jum&#8217;at, 8 April 2011 aku menjalani operasi caesar dan melahirkan bayi kembarku. Annabelle (Abelle) selamat dengan berat badan 934 gram. Sedangkan Isabelle meninggal dan dimakamkan esok harinya oleh suami dan ibuku serta keluarga besarku.</p>
<p><strong>ASI untuk hidup bayiku</strong></p>
<p>Saat dirawat pasca melahirkan, para perawat bertanya apakah ASI sudah keluar. Dalam suasana duka yang terasa berat, aku kebingungan. Perawat mencoba memencet dan memijat payudaraku, tidak ada ASI yang keluar hingga beberapa hari. Sempat terpikir untuk menghubungi AIMI untuk meminta bantuan, tapi waktu itu rasanya aku tidak punya tenaga untuk berpikir. Padahal aku baru saja menjadi anggota AIMI dan menerima paket member saat dirawat di RS.</p>
<p>Aku baru bisa menemui Abelle pada hari ke-3, di ruang NICU. Dia begitu mungil dan kelihatan tidak berdaya. Banyak yang dialami Abelle, mulai dari kuning, menjalani cuci darah, nyaris menjalani operasi penutupan saluran jantung dan lain-lain. Syukurlah beberapa teman kantorku bersedia menjadi donor darah buat Abelle. Sementara ASI ku <div id="attachment_1637" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah-300x225.jpg" alt="" title="1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1637" /><p class="wp-caption-text">Beberapa hari setelah lahir, seusai disinar. Lengan Abelle hanya sejari ayah.</p></div>belum keluar, Abelle diberikan cairan NaCl (kalau tidak salah) melalui tali pusarnya yang disambung dengan semacam selang kecil seolah-olah tali pusar masih tersambung dengan ibu.  </p>
<p>Aku berniat tidak membiarkan Abelle diberi formula. Aku bertekad bagaimanapun caranya, ASI ku harus keluar! Hanya ASI yang baik untuk perkembangan berat badan dan kesehatannya. Semua dokter dan perawat mengatakan bahwa ASI penting sekali untuk perkembangan bayi prematur.</p>
<p>Mendengar penjelasan dokter dan perawat, aku makin stress karena ASI masih belum keluar. Tapi aku terus berusaha. Memijat, mengompres terus aku lakukan walau belum kelihatan hasilnya. Semua teman dan keluarga selalu memberi dukungan, khususnya Mamaku dan suamiku.</p>
<p>Akhirnya suatu hari keluar sedikit cairan bening seperti susu.  Subhanallah. Aku meneteskan air mata saat itu. ASI hanya keluar setetes demi setetes, namun aku terus berusaha. Dalam waktu 2-3 jam aku berhasil mendapatkan 5-6 ml ASI. Walau sedikit, aku merasa sangat bahagia dan langsung aku antar untuk Abelle di ruang NICU.  Keesokan harinya aku pompa lagi dan dalam 2 jam dapat 10 ml. Aku makin semangat.</p>
<p>Hari demi hari aku jalani dengan niat dan semangat. ASI-ku harus ada untuk asupan bayiku yang sangat membutuhkannya. Alhamdulillah, hari demi hari ASI terus bertambah. Dari 2 jam 10 ml, menjadi 20 ml, 30ml. Dari 2 jam menjadi 1 jam. Sekarang aku bisa memompa 100-250 ml dalam 15 – 20 menit. Subhanallah. </p>
<p>Saat itulah aku percaya, jika kita terus berusaha, pasti akan berhasil, dalam keadaan apapun. Ternyata benar kata orang, setiap wanita pasti bisa menyusui, termasuk aku. Melahirkan bayi prematur, dalam keadaan sakit. Dengan semangat dan niat, akhirnya berhasil juga memproduksi ASI yang cukup. </p>
<p>Abelle akhirnya bisa pulang ke rumah pada 3 Juni 2011 di usia hampir 2 bulan dengan BB 1,770 kg.</p>
<p><strong>Menikmati perjuangan</strong></p>
<div id="attachment_1653" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-Juni-2011-1770kg-300x225.jpg" alt="" title="1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1653" /><p class="wp-caption-text">3 Juni 2011 - Persiapan pulang ke rumah (BB: 1770 gr)</p></div>Alhamdulillah hingga kini Abelle hanya minum ASI dari aku saja. Selama 3 hari pertama ia dipuasakan, dan hanya dengan cairan NaCl melalui tali pusar hingga aku dapat menyetor ASI kepada Abelle.</p>
<p>Sekarang Abelle sudah menginjak usia 7 bulan sejak usia kelahirannya dan masih full ASI. Berat badannya sudah lebih dari 5 kg! Abelle belum diberikan MPASI, karena dokter menyarankan untuk menunda MPASI dulu.</p>
<p>Aku sadar perjuanganku tidak berhenti sampai disini. Setelah cuti dari pekerjaan selama 6 bulan lamanya, aku kembali bekerja sebulan yang lalu. Rasa khawatir sempat menyerang, pikiran dipenuhi akan cukup atau tidak ASI-ku untuk Abelle serta bagaimana manajemen ASIP di hari-hari yang sangat sibuk.</p>
<p>Aku menyampaikan pada rekan kerja dan atasan bahwa pada jam kerja aku akan meminta izin untuk memompa ASI. Syukurlah mereka bisa mengerti. Sekarang tugasku adalah semangat dan rajin memompa!</p>
<p>Walau kadang-kadang jumlah ASIP yang diminum Abelle lebih banyak daripada yang aku perah, namun Alhamdulillah hingga hari ini ASIP untuk Abelle cukup dan ready stock hehehe. Namun, aku selalu susui Abelle langsung jika aku di rumah.  Sempat mesin pompa rusak, masya Allah paniknya setengah mati, karena sudah sangat cocok dengan produk tersebut. Akhirnya aku mulai belajar memerah dengan tangan, Subhanallah ternyata mudah!</p>
<p><strong>Menyusui itu berkah</strong></p>
<p><div id="attachment_1658" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1123-Annabelle-today-300x225.jpg" alt="" title="1123-Annabelle-today" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1658" /><p class="wp-caption-text">Annabelle sekarang</p></div>Untuk para ibu dan calon ibu, semangat terus yaaa. Never give up! Give the best for your baby(ies). Anak adalah berkah dan amanat dari Tuhan yang tak ternilai. ASI lah yang terbaik untuk anak kita.</p>
<p>Merasa sedih, ketakutan hingga menangis, berkali-kali aku alami tapi aku berusaha untuk kembali <em>positive thinking</em>. Suami terus mendukung dan menyemangatiku. Sekarang aku percaya bahwa setiap Ibu pasti bisa menyusui. </p>
<p>Mohon doa agar anakku Annabelle Maleeka Victoria Putransyah selalu disehatkan dan disempurnakan tumbuh kembangnya. Semoga aku bisa lanjuuuutt menyusuinya sampai semaksimal yang aku mampu. Aamiin.</p>
<p>PS. Terimakasih Ayah Alfa yang sudah sangat baik dan sangat supportive selama ini, Ibu tidak bisa lakukan ini semua tanpa dukungan Ayah&#8230; (hiks hiks terharu lagi)&#8230;</p>
<p><small>*) seperti diceritakan oleh Lia Muzdalifah kepada AIMI</small></p>
<p>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1101-alhamdulillah1-abel/' title='1101-Alhamdulillah(1)-abel'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1101-Alhamdulillah1-abel-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sesaat setelah lahir" title="1101-Alhamdulillah(1)-abel" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah/' title='1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Beberapa hari setelah lahir, seusai disinar. Lengan Abelle hanya sejari ayah." title="1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n/' title='1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n" title="1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n/' title='1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n" title="1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/attachment/1105/' title='1105'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1105-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1105" title="1105" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1106-abelborn1/' title='1106-abelborn1'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1106-abelborn1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1106-abelborn1" title="1106-abelborn1" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1107-cuci-darah-ke-2/' title='1107-Cuci-darah-ke-2'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1107-Cuci-darah-ke-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Cuci darah ke-2" title="1107-Cuci-darah-ke-2" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1108-img01764-20110425-1122/' title='1108-IMG01764-20110425-1122'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1108-IMG01764-20110425-1122-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1108-IMG01764-20110425-1122" title="1108-IMG01764-20110425-1122" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1109-img01864-20110426-1135/' title='1109-IMG01864-20110426-1135'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1109-IMG01864-20110426-1135-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1109-IMG01864-20110426-1135" title="1109-IMG01864-20110426-1135" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1110-img01898-20110427-1124/' title='1110-IMG01898-20110427-1124'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1110-IMG01898-20110427-1124-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1110-IMG01898-20110427-1124" title="1110-IMG01898-20110427-1124" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1111-img01916-20110427-1139/' title='1111-IMG01916-20110427-1139'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1111-IMG01916-20110427-1139-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1111-IMG01916-20110427-1139" title="1111-IMG01916-20110427-1139" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1112-img01999-20110428-1221/' title='1112-IMG01999-20110428-1221'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1112-IMG01999-20110428-1221-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1112-IMG01999-20110428-1221" title="1112-IMG01999-20110428-1221" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1113-alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas/' title='1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Alhamdulillah, alat bantu napas sudah bisa dilepas" title="1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1114-img02295-20110511-1744/' title='1114-IMG02295-20110511-1744'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1114-IMG02295-20110511-1744-150x150.png" class="attachment-thumbnail" alt="1114-IMG02295-20110511-1744" title="1114-IMG02295-20110511-1744" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan/' title='1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Belajar adaptasi suhu ruangan" title="1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1116-kangaroo-mother-care/' title='1116-kangaroo-mother-care'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1116-kangaroo-mother-care-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Kangoroo Mother Care (KMC)" title="1116-kangaroo-mother-care" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1117-proses-kangaroo-mother-care/' title='1117-proses-Kangaroo-mother-care'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1117-proses-Kangaroo-mother-care-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Proses KMC" title="1117-proses-Kangaroo-mother-care" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-juni-2011-1770kg/' title='1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-Juni-2011-1770kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="3 Juni 2011 - Persiapan pulang ke rumah (BB: 1770 gr)" title="1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1119-persiapan-pulang-ke-rumah-1770kg/' title='1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1,770kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1770kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Persiapan  pulang ke rumah" title="1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1,770kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1120-21kg/' title='1120-2,1kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1120-21kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="2,1 kg" title="1120-2,1kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1121-img_0404/' title='1121-IMG_0404'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1121-IMG_0404-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1121-IMG_0404" title="1121-IMG_0404" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1122-3kg/' title='1122-3kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1122-3kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="3 kg..!!!" title="1122-3kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1123-annabelle-today/' title='1123-Annabelle-today'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1123-Annabelle-today-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1123-Annabelle-today" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1124-annabelle-today-2/' title='1124-Annabelle-today-2'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1124-Annabelle-today-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1124-Annabelle-today-2" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1125-annabelle-today-3/' title='1125-Annabelle-today-3'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1125-Annabelle-today-3-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1125-Annabelle-today-3" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1126-annabelle-today-4/' title='1126-Annabelle-today-4'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1126-Annabelle-today-4-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1126-Annabelle-today-4" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1127-annabelle-today-5/' title='1127-Annabelle-today-5'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1127-Annabelle-today-5-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1127-Annabelle-today-5" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>115</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BAB Bayi ASI Eksklusif</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/07/bab-bayi-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/07/bab-bayi-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jul 2011 01:08:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Miranda Yusuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[BAB]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1458</guid>
		<description><![CDATA[ASI saya cukup gak ya. Kekhawatiran seperti ini seringkali dialami oleh para ibu menyusui. Apalagi jika sang bayi sering menangis, mudah terbangun, atau suka menghisap/mengenyot tangannya. Mari baca tulisan dari salah satu konselor AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ASI saya cukup gak ya. Kekhawatiran seperti ini seringkali dialami oleh para ibu menyusui. Apalagi jika sang bayi sering menangis, mudah terbangun, atau suka menghisap/mengenyot tangannya.</p>
<p>Sebenarnya adakah tanda-tanda yang dapat menunjukkan bahwa bayi mendapatkan cukup ASI (Air Susu Ibu)? Dalam jangka panjang indikasi atau tanda kecukupan yang paling utama adalah peningkatan berat badan. Ada juga tiga tanda sederhana yang dapat diperhatikan ibu, yakni dengan mengamati cara bayi menyusu, buang air kecil (BAK), dan buang air besar (BAB). Tulisan ini membahas BAB bayi yang hanya mendapat ASI atau yang lebih dikenal dengan istilah ASI eksklusif (ASIX).</p>
<p><strong>Tiga Hari Pertama</strong></p>
<p>Beberapa hari pertama setelah kelahirannya bayi mengeluarkan mekonium, yakni bahan lengket berwarna hijau pekat mendekati hitam yang terkumpul di dalam usus bayi selama berada di kandungan. Pada hari ketiga, bayi yang mendapatkan lebih banyak ASI akan buang air besar lebih mudah. Biasanya bayi sudah mengeluarkan seluruh mekonium dan bentuk tinja bayi berubah di hari keempat.</p>
<p><strong>Bulan Pertama</strong></p>
<p>Tinja bayi yang wajar berwarna kuning, sedikit berbau, memiliki bentuk lunak agak cair dan berbij-biji. Bentuk tinja juga dapat sedikit berbeda, misalnya berwarna lebih hijau atau kuning pekat, berlendir atau berbuih. Perbedaan warna ini tidak menunjukkan masalah apapun. Bayi ASIX yang semakin mudah buang air besar di hari ketiga kehidupannya berarti dalam keadaan yang baik.</p>
<p>Bayi yang sehat dan mendapat cukup asupan ASI akan buang air kecil lebih dari enam kali dalam sehari. Walaupun begitu, segera periksakan bayi kepada tenaga atau fasilitas kesehatan jika ia mengalami salah satu dari tanda-tanda di bawah.</p>
<ol>
<li>Bayi masih mengeluarkan mekonium pada usia 4 atau 5 hari</li>
<li>Bayi usia 5-21 hari tidak buang air besar dalam 24 jam</li>
<li>Tinja bayi berwarna coklat, jarang buang air besar, atau tinja sedikit</li>
</ol>
<p>Selain mengamati asupan bayi, memantau frekuensi buang air besar dan jumlah tinja merupakan cara untuk menilai bilamana bayi mendapatkan cukup ASI. Jumlah tinja bayi seharusnya meningkat setidaknya pada hari kelima dengan frekuensi buang air besar 2-3 kali setiap hari. Bahkan beberapa bayi buang air besar setiap selesai menyusu dan ini bukan berarti bayi menderita diare.</p>
<p>Diare adalah kondisi perubahan frekuensi buang air besar secara mendadak dengan jumlah tinja lebih banyak dan dalam bentuk yang sangat cair. Terus berikan ASI dan perbanyak asupannya untuk mencegah dehidrasi atau kekurangan cairan pada bayi. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi berikut ini:</p>
<ul>
<li>Mata kering, bayi menangis tanpa mengeluarkan air mata atau hanya sedikit;</li>
<li>Kulit, mulut dan bibir lebih kering;</li>
<li>Air seni berwarna gelap, keluar sedikit atau tidak keluar sama sekali;</li>
<li>Mata tampak cekung atau terbenam;</li>
<li>Sangat lemas dan kesadaran menurun;</li>
<li>Selalu merasa haus atau malah menolak minum;</li>
<li>Ubun-ubun terlihat cekung;</li>
<li>Ketika kulit dicubit dengan dua jari kulit sulit kembali ke bentuk asal.</li>
</ul>
<p>Segera hubungi tenaga atau fasilitas kesehatan bila menemukan tanda dehidrasi, diare yang disertai dengan darah, kejang, nafas cepat dan dangkal, muntah terus-menerus, panas tinggi di atas 38,5°C yang tidak berkurang dalam 2 hari, diare berlangsung lebih dari 14 hari, atau bayi tampak kesakitan atau kolik. Bayi yang kesakitan akan menangis kuat sambil menekuk kaki, gelisah serta berkeringat.</p>
<p><strong>Usia 2-6 Bulan</strong></p>
<p>Frekuensi buang air besar setiap bayi berbeda-beda. Secara umum frekuensi buang air besar bayi akan semakin berkurang seiring pertambahan usianya karena usus telah berkembang lebih sempurna dan dapat menyerap ASI lebih baik. Memasuki bulan kedua, beberapa bayi ASIX mendadak mengubah frekuensi buang air besar mereka dari sering menjadi sekali dalam tiga hari. Bahkan ada bayi yang tidak buang air besar selama 20 hari atau lebih. Selama bayi sehat dan bentuk tinja wajar maka hal tidak menjadi masalah. Memang bayi ASIX lebih jarang mengalami sembelit atau konstipasi karena nutrisi ASI mudah dicerna dan diserap oleh tubuh serta mengandung zat laksatif yang dapat mengencerkan tinja.</p>
<p><strong>Setelah Bulan Keenam</strong></p>
<p>Setelah bayi mendapat Makanan Pendamping ASI (MPASI) biasanya frekuensi buang air besar, bentuk dan jumlah tinja akan berubah tergantung dari asupan makanannya. Jika tinja bayi keras hingga saat buang air besar ia mengalami kesulitan, rasa nyeri, atau bahkan luka anus yang berdarah, hal ini dinamakan sembelit. Tambahkan cairan, buah, dan serat ke dalam makanannya. Sembelit yang disebabkan oleh diet makan yang tidak seimbang akan hilang dengan sendirinya. Segera hubungi tenaga kesehatan apabila sembelit disertai dengan sakit perut hebat atau muntah.</p>
<p>Sumber:</p>
<ul>
<li>Newman, Jack. Kernerman, Edith. 2009. <a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=23:is-my-baby-getting-enough-milk&amp;catid=5:information&amp;Itemid=17">Is My Baby Getting Enough Milk?</a>, diakses April 2011).</li>
<li>Pujiarto, Purnamawati S. 2008. Q&amp;A Smart Parents for Healthy Children. Jakarta: Intisari.</li>
<li>Suririnah. 2009. Buku Pintar Merawat Bayi 0-24 Bulan. Jakarta: Gramedia.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/07/bab-bayi-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASI Eksklusif Untuk Bayi Kembarku</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 00:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wilda Choir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui bayi kembar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1444</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah cerita sukses dari seorang ibu yang berhasil memberikan ASI Eksklusif bagi bayi kembarnya, walaupun beliau merupakan ibu bekerja. Simak perjuangannya dan tips agar kedua bayi kembarnya mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I got twin. How blessed I am.</strong></p>
<p>Dianugrahi  ‘satu paket’ bayi kembar yang cantik bagi saya merupakan  doa yang menjadi kenyataan.  Memiliki anak kembar adalah salah satu ‘obsesi’ saya sejak dulu. Rasanya amat sangat bahagia dan ajaib banget bisa merasakan  ada dua makhluk hidup yang berkembang di dalam tubuh kita. Pihak kakek saya mempunyai banyak keturunan anak kembar, jadilah saya punya harapan besar kepada Tuhan agar bisa diberikan keturunan kembar.</p>
<p>Alhamdulillah doa saya didengar &#038; dikabulkan Allah SWT. Tepat pada ulang tahun ke 29, saya ‘divonis’ dokter <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-twins-300x217.jpg" alt="" title="06-twins" width="300" height="217" class="alignleft size-medium wp-image-1446" />sedang hamil dengan dua telur alias kembar!! Waahh, <em>speechless</em> rasanya. Saya menjadi wanita paling beruntung di seluruh jagad raya. 9 bulan menikmati masa kehamilan, akhirnya tanggal 27 Juli 2010 saya bisa merasakan si kembar hangat dalam pelukan. Air mata bahagia menetes. Bersyukur atas semua karunia Allah SWT. Lalu saya dedikasikan kepada ibu dan mertua untuk memberikan nama buat si kembar, Amira Tsania Nazmi (2580gr) &#038; Azkiya Aufa Khateen (2200gr). Selamat datang, Sayaang.</p>
<p><strong>Having twin is not double trouble, but twice blessed.</strong></p>
<p>Ok, jadi saya memiliki satu anak usia 4 tahun, Alika, yang sedang aktif-aktifnya, dan bayi kembar perempuan yang selalu membuat suasana tambah heboh dan seru hohoho. Ini bukan teori atau mitos loh, tapi saya mengalami sendiri punya anak kembar itu nangisnya bareng, BABnya bareng, bangun tidurnya bareng, saat tidur pun bergerak ke arah yg sama juga bareng. BBA deh (bener-bener ajaib). Untungnya saya memiliki ‘partner hidup’ yang canggihnya luar biasa yaitu suami. Kalau dulu mengurus anak pertama kami bisa bekerja sama dengan baik, kenapa sekarang tidak?</p>
<p><div id="attachment_1454" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-menyusui-kembar-1-240x300.jpg" alt="" title="06-menyusui-kembar-1" width="240" height="300" class="size-medium wp-image-1454" /><p class="wp-caption-text">Menyusui si kembar saat berusia 2 bulan</p></div>Karena terbiasa olahraga (saya pencinta alam yg hobi naik gunung loh), hasilnya fisik saya tetap sehat selama mengurus si kembar, walau sesekali terkena flu. Jadi saat punya anak kembar yang hampir tiap jam menyusui dan terjaga semalaman – seharian pun, saya tetap dengan menikmati ‘bermain-main’ bersama. Dan kalau ditengah malam si kakak akhirnya terbangun ikutan main, saya tetap tersenyum walau sambil merem melek *ngantuk maksudnya*. Alhamdulillah saya gak pernah mengeluh kecapean. Selalu takjub dan terharu melihat ada dua bayi sekaligus dalam dekapan saya. Bahkan saat Alika, Amira + Azkiya jejeritan tengah malam, saya malah merasa lucu melihatnya dan akhirnya ikutan jerit-jerit/main-main juga. Ga bisa di jelaskan dengan kata-kata gimana bahagianya. </p>
<p>Peran suami terasa sangat besar terutama di saat-saat begadang tersebut. Sering terjadi saat begadang saya kelaparan. Biasanya dengan sangat pengertian, suami akan membuatkan saya kentang atau nasi goreng. Atau bergantian menjaga si kembar sementara saya tidur sebentar.</p>
<p>Suami saya jago memandikan si kembar loh. Ganti popok gak ada masalah. Gendong pake kain pun bisa. Ada perkataannya yang sampai sekarang membuat saya selalu bersyukur, ”Bun, cuma dua hal yang gak bisa aku lakuin, yaitu hamil dan melahirkan. Tapi selain itu, gak ada yang bisa menghalangi aku untuk menunjukkan rasa sayang terhadap bunbun. Maafin bapak ya cuma bisa bantuin bunbun sebisanya. Mudah2an bunbun iklhas”. Hiks, terharu. Pokoknya suamiku hebat deh, Insya Allah.</p>
<p>Selain itu semua anggota keluarga juga sangat membantu dengan baik dalam merawat. Memang sih kadang-kadang orang tua panik kalau si kembar rewel, nangis bareng gak bisa diam. Bingung takut ada apa-apa sama si kembar. Tapi untungnya saya gak ikut-ikutan panik. Biasanya saya lebih banyak diam, menahan diri untuk tidak bersikap responsif walau sulit. Kalau gak bisa menahan emosi, saya lebih memilih menangis pelan-pelan. Sambil nangis, sambil peluk si kembar. Waahh, obat paling mujarab menyembuhkan segala macam penyakit hati. Jadi gak ada alasan buat saya merasa stress punya anak kembar. Apalagi ‘<em>baby blues</em>’, Alhamdulillah gak ngalamin. Kalau saya merasa bosan di rumah terus, dengan senang hati suami membawa saya dan semua anak-anak sekedar jalan-jalan ke mall.</p>
<p><strong>Bunda bekerja, memberikan ASIX buat si kembar? Pasti bisa!</strong></p>
<p>Seheboh dan serepot apapun mengurus anak kembar saya selalu yakin bahwa Tuhan sudah menseleksi, mengukur kemampuan umat-Nya dan kemudian memilih saya untuk dititipi anak kembar. Jadi saya selalu yakin semua masalah PASTI ada jalan keluarnya.</p>
<p>Tetap menjadi seorang wanita karier adalah pilihan saya, dengan resikonya yang harus saya tanggung. Dibalik kebahagiaan pasti selalu Tuhan selipkan ujian kepada umatnya semata-mata untuk mengukur kesabaran umat-Nya. Buat saya bekerja tidak menjadi halangan ataupun alasan untuk tidak memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya. Selain IMD, sukses ASI eksklusif untuk si kembar menjadi prioritas utama setelah melahirkan.</p>
<p>Ini bukan kali pertama saya menyusui. Waktu anak pertama dulu, Alika (4 tahun), Alhamdulillah saya bisa menyusui sampai usia 2,5thn. Saya pikir kalau dulu bisa, kenapa sekarang tidak. Berharap bisa berhasil seperti kakaknya, saya dengan optimis mempersiapkan segala sesuatunya. Membekali diri saya dengan informasi yang berhubungan dengan anak kembar, konsultasi dan berbagi pengalaman dengan teman yang memiliki anak kembar, menjaga kondisi tubuh agar selalu sehat dan mengkonsumsi hanya makanan bergizi, selalu berusaha berpikir positif –jangan stress- serta menyiapkan mental untuk menghadapi ‘medan perang’. </p>
<p><div id="attachment_1455" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-menyusui-kembar-2-240x300.jpg" alt="" title="06-menyusui-kembar-2" width="240" height="300" class="size-medium wp-image-1455" /><p class="wp-caption-text">Menyusui si kembar saat berusia 8 bulan</p></div>Sayangnya semua teman yang memiliki anak kembar tidak berhasil memberikan ASI eksklusif kepada anak-anaknya. Padahal mereka tidak bekerja. Lalu bagaimana dengan saya yang bekerja? Saya mulai gak pede. Permasalahan lain timbul ketika kami kesulitan mencari babysitter untuk si kembar. Karena gaji babysitter yang tinggi, kami memutuskan untuk mencari satu babysitter dengan dibantu PRT. Tapi ternyata hampir semua yayasan memiliki kebijakan yang sama, satu bayi di urus satu babysitter. Huhuhu mahal banget. Setelah mencari sana sini, akhirnya dapat rekomendasi yayasan yang bagus, yang bersedia mengurus anak kembar dengan hanya dibantu PRT. Dan bersyukur sampai saat ini babysitter saya terbukti sayang sama si kembar, bisa diandalkan dan bekerjasama baik dengan PRT saya. Alhamdulillah, satu masalah terlewati. </p>
<p>Rasanya waktu berjalan sangat cepat, gak sadar hampir sebulan lagi saya harus kembali bekerja. Dan saya masih belum dapat jawaban berapa kira-kira kebutuhan ASI perah (ASIP) bayi kembar selama ditinggal bekerja. Masalah lain timbul ketika si kembar saya coba kasih ASI perah dengan dot, gelas kecil ataupun sendok selalu menolak. Bagaimana ini?</p>
<p>Ok, permasalahan yang sama juga timbul saat dulu anak pertama. Jadi kurang lebih saya sudah punya gambaran solusinya. Dan dengan terpaksa saya pisah kamar selama dicoba kasih ASIP dan membiarkan anak saya menangis. Hiks hiks, ngilu dan sakit dengernya. (Saya sering nangis diam-diam loh demi ga keliatan sama orangtua). Tapi harus dijalanin supaya nanti saat ditinggal bekerja mereka terbiasa. Alhamdulillah, si kembar Azkiya akhirnya mau minum ASIP. Jadi tinggal si kembar Amira yang saat itu belum berhasil mau minum ASIP. Perjuangan masih panjang, jreng jreng jreng jreng..!!!</p>
<p><strong>Manajemen ASIP</strong></p>
<p>Secara teori ada yang mengatakan kebutuhan ASIP bayi per hari berdasarkan BB x 100ml. Jadi kalau BB bayi 5 kg, dibutuhkan 500 ml ASIP per harinya. Dan teori tersebut terbantahkan saat saya coba memberikan Azkiya ASIP. Dalam waktu setengah hari (pagi – siang) saja stok ASIP saya sudah habis 6 botol @120 ml. Artinya sekitar 700ml habis dalam waktu beberapa jam dan oleh satu bayi saja. Langsung panik dan mulai stress. Tarik nafas dalam-dalam dan berpikir jernih lagi. Saat itu masih ada waktu sekitar 3 minggu untuk perbanyak stok ASIP. Bismillah.</p>
<p>Alhamdulillah, saya dikasih ASI yang cukup berlimpah oleh Tuhan. Ga ada makanan khusus perbanyak ASI ko. Cuma saya sudah komitmen pada diri sendiri aja demi anak, saya makan yang bergizi dan sehat. Susu kaya kalsium yang saya suka aja, gak harus susu untuk ibu menyusui. Saya juga gak konsumsi vitamin apa-apa. Pokoknya makan apa aja, alhamdulillah diganti menjadi ASI. Dan pastinya harus selalu berpikir postif. Kalau ada masalah cuek aja, jangan terlalu kepikiran apalagi sampai stress karena pasti sangat berpengaruh ke produksi ASI. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-asip-300x225.jpg" alt="" title="06-asip" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1447" />Untuk stok ASIP biasanya saya lakukan sebelum menyusui si kembar. Karena saya lebih sering menyusui tandem, jadi sepertinya gak ada kesempatan memerah ASI kalau dilakukan setelah menyusui dan dibiasakan minum air hangat satu gelas penuh setelah menyusui. Kira-kira 2 minggu sebelum mulai bekerja saya sudah mulai stok ASIP. Peralatan ‘tempur’ juga sudah siap. Karena saya ‘pejuang ASI tangan sakti’ yang memerah ASI hanya dengan menggunakan tangan, jadi gak perlu beli pompa. Beberapa botol kaca, bantal menyusui, botol susu, dan cooler bag. Untuk simpan ASIP saya hanya memakai kulkas kecil, yang setiap harinya selalu ada maksimal 35 botol ASIP @120-150 ml untuk stok (kulkasnya gak cukup untuk menyimpan lebih dari 35 botol). Kulkas yang besar gak memungkinkan untuk menyimpan ASIP. Selain itu juga rotasi keluar-masuk ASIP saya sangat besar dan gak pernah ASIP bertahan lama di kulkas, jadi gak perlu beli freezer khusus ASIP.</p>
<p>Hari pertama masuk kerja saya pergi dengan memikul beban berat di hati. Selain gak tega ninggalin anak, ternyata si kembar Amira masih ga mau minum ASIP menggunakan media apapun. Bingung dan gelisah tingkat tinggi waktu itu. Kepikiran nanti gimana kalau Amira kelaperan, kecapean nangis, dll. Untungnya mama, suami, babysitter dan semua anggota keluarga menenangkan saya dan meyakinkan Insya Allah pasti mau. </p>
<p>Untuk kesekian kalinya saya percaya Tuhan bekerja dengan cara misterius. Entah gimana caranya Amira langsung mau minum ASIP. Gak pake nangis, gak pake nolak tinggal glek glek glek trus tidur. ALHAMDULILLAH, terlewati lagi satu masalah. Bunda senang, hati riang, kerja pun tenang.</p>
<p>Lagi-lagi saya dapat ‘<em>shock therapy</em>’ sepulang kerja hari pertama. Ternyata eh ternyata selama ditinggal kerja dari jam 8 pagi – 6 sore si kembar menghabiskan ASIP sebanyak 1300-an ml. Dan berdasarkan laporan dari babysitter, si kembar kalau gak ditidurin bisa minum ASIP setiap 1 jam sekali *hampir pingsan* Beruntung ASI saya cukup. Pernah loh dalam sehari saya menghasilkan 1000-an ml ASIP. Gak percaya juga. Saya termasuk tipe orang ‘<em>easy going</em>’, gak takut memikirkan kalau-kalau ASI saya gak cukup untuk si kembar. Dan teratur perah ASI harus menjadi komitmen yg kuat dalam diri sendiri. </p>
<p>Ini kira-kira gambaran jadwal perah ASI saya waktu target memberikan ASI eksklusif 6 bulan pertama:</p>
<ul>
<li>Jam dua dinihari</li>
<li>Sekitar jam 4 atau jam 5 subuh</li>
<li>Jam 7 pagi, lalu sebelum berangkat kerja menyusui si kembar sampai payudara terasa kosong</li>
<li>Jam 10 pagi (di kantor)</li>
<li>Jam 1 siang (setelah makan siang)</li>
<li>Jam 3 sore. Diselingi shalat Ashar lalu lanjut lagi (biasanya payudara sedang terasa penuh banget jam segini)</li>
<li>1 kali memerah selama perjalanan pulang</li>
<li>Jam 8 malam</li>
<li>Jam 11 malam</li>
</ul>
<p>Dengan ‘pendapatan’ ASIP yang lebih sedikit dibandingkan yang diminum si kembar, adakalanya saya ‘kejar-kejaran’ stok ASIP. Setelah dihitung-hitung, harus selalu tersedia MINIMAL stok ASIP sebanyak 3000 ml per hari. Pernah terpaksa saya harus ijin gak masuk kerja demi memenuhi stok ASIP yang berkurang. Pernah juga produksi ASI sedikit karena sakit. Yang membuat saya senang, di kantor banyak yang sama-sama menjadi pejuang ASI. Jadi kalau waktunya memerah, nursing room pasti rame dan seru, sambil ngomongin anak-anak. Kadang-kadang kami iseng ‘balapan’ perah ASI. Siapa yang selalu menjadi pemenang? Akuuu. Selalu lebih cepat peras dan lebih banyak. Hihihi.</p>
<p>Oiya, ada tips lucu agar rutinitas pemberian ASIP tidak membosankan. Biasanya suami ‘mendominasi’ pemberian label pada stok ASIP. Selain diberi tanggal perah, volume ASIP juga ditambahi judul yang lucu-lucu. Misalnya ‘obat cantik, obat sabar, obat keren kaya bapak, obat mirip bapak, dll’. Dan hasilnya? Tetep si kembar miripnya sama bunda, bukan sm bapaknya <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-jilbab-twin-300x227.jpg" alt="" title="06-jilbab-twin" width="300" height="227" class="alignleft size-medium wp-image-1445" /><em>I really enjoy breastfeeding my twins</em>. Alhamdulillah si kembar Amira-Azkiya bisa melewati journey of ASI eksklusif-nya, sedikit tersendat tapi berhasil melewati semua rintangan. Dan bersyukur sampai saat ini masih diberikan ASI (dan MPASI) tanpa dicampur sufor. Lebih bersyukur lagi saya bisa mendonorkan ASIP saya kepada bayi lain yang membutuhkan. Subhanallah, Alhamdulillah wa Syukurillah. Atas ijin dan semua karunia dari-Mu Ya Allah saya bisa menjalankan tugas sebagai ibu yang selalu berusaha menjadi lebih baik dari kemarin. Semoga tiap tetes ASI yang berharga bisa menghantarkan anak-anakku menjadi manusia yang cantik, shalihah, baik &#038; bermanfaat bagi sesama.  Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>95</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Tua Bekerja pun Bisa Sukses Memberi ASI Eksklusif</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Oct 2010 00:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Selvie Amalia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Tips for Working Moms]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1102</guid>
		<description><![CDATA[Siapa bilang orang tua yang bekerja di luar rumah tidak bisa memberikan ASI Eksklusif pada anaknya? Pasti bisa, jika memiliki pengetahuan dan dukungan yang cukup dalam manajemen laktasi. Mengapa saya gunakan kata orang tua, bukan ibu? Padahal yang memproduksi ASI kan ibu? Mari kita simak pemaparan Konselor Laktasi AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa bilang orang tua yang bekerja di luar rumah tidak bisa memberikan ASI Eksklusif pada anaknya? Pasti bisa, jika memiliki pengetahuan dan dukungan yang cukup dalam manajemen laktasi. Ya, pengetahuan dan dukungan diperlukan agar proses pemberian <img class="alignleft size-medium wp-image-1105" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-selvie-family-135x300.jpg" alt="" width="135" height="300" />ASI Eksklusif pada  bayi yang kedua orang tuanya bekerja tidak memiliki hambatan yang berarti. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendapatkan pengetahuan dan dukungan ASI Eksklusif dari lingkungan keluarga hingga lingkungan pekerjaan sejak sebelum melahirkan.</p>
<p>Mengapa saya gunakan kata orang tua, bukan ibu? Padahal yang memproduksi ASI kan ibu? Karena proses pemberian ASI tidak hanya melibatkan ibu dan bayi saja. Ayah memiliki peranan penting dalam mensukseskan pemberian ASI. Apa peranan ayah? Yang pertama tentu memberi dukungan penuh pada istrinya memberikan ASI Eksklusif pada bayi mereka. Yang kedua melindungi istri dan bayi, jika ada pihak yang kontra terhadap pemberian ASI. Yang ketiga, bersama-sama istri merawat dan mengasuh bayi.</p>
<p>Keterlibatan ayah dalam pemberian ASI, akan meningkatkan kepercayaan diri ibu dan lingkungan. Dengan demikian, ibu akan terhindar dari rasa tidak percaya diri, kuatir, gelisah yang dapat mengakibatkan turunnya produksi hormon oksitosin. Hormon oksitosin merupakan hormon penting untuk pengaliran ASI. Turunnya produksi hormon ini dapat berakibat pada turunnya produksi ASI akibat pengaliran ASI yang kurang lancar.</p>
<p>***</p>
<p>Saat ini, sudah banyak orang tua yang berhasil memberikan bayi mereka ASI Eksklusif, meskipun kedua orang tua bekerja. Bahkan banyak pula yang mampu meneruskan menyusui hingga anaknya berusia dua tahun atau lebih. Semua itu mungkin dilakukan jika ibu mendapatkan informasi yang benar mengenai pemberian ASI maupun penggantinya (susu formula, dan berbagai jenis cairan lain) sejak masa kehamilannya.</p>
<p>Dengan mendapatkan informasi yang benar, manfaat dan risikonya, maka ibu dan ayah dapat  memilih akan memberikan nutrisi apa pada anaknya dengan kesiapan untuk menanggung risikonya. Sebagian besar orang tua (ibu dan ayah) yang gagal memberikan ASI pada anaknya adalah karena ketidak tahuan bahwa pengganti ASI memiliki berbagai macam risiko kesehatan yang cukup tinggi bagi anaknya, saat ini hingga ia dewasa kelak.</p>
<p>Oleh karena itu, pengetahuan dasar yang perlu diketahui oleh orang tua adalah apa manfaat ASI? Manfaat ASI banyak sekali, dan tidak ada efek samping yang buruk sama sekali. Meskipun ibunya sedang sakit. Atau bayinya sedang sakit. ASI akan mempercepat kesembuhan ibu maupun bayi. Dan, masih banyak manfaat ASI lainnya.</p>
<p>***</p>
<p>Jadi, apa sih yang perlu dipersiapkan orang tua yang bekerja agar anak-anaknya bisa mendapatkan ASI Eksklusif?<br />
Kuatkan NIAT!  Pahami alasan-alasan mengapa harus tetap memberikan ASI. Yakinkan diri dan lingkungan terhadap manfaat-manfaatnya, terutama untuk kesehatan ibu dan bayi, serta menjaga “bonding” ibu dan bayi, meskipun ibu harus bekerja.<br />
Bulatkan TEKAD! Siapa saja yang perlu membulatkan tekad? Ayah dan ibu harus satu kata.  Setelah itu apa? PERCAYA DIRI! Caranya bagaimana? Dengan mengikuti edukasi atau mencari informasi yang sebenar-benarnya, dan mencari atau membentuk dukungan  untuk memberikan ASI Eksklusif.</p>
<p>Apabila rasa PERCAYA DIRI untuk menyusui sudah kuat, maka langkah kedua adalah memantapkan KOMITMEN! Jika sudah berkomitmen kuat, maka pastikan langkah ketiga ini Anda lakukan: MULAI DENGAN BENAR.</p>
<p>Bagaimana memulai dengan benar?<br />
1) Inisiasi menyusu Dini (IMD),<br />
2) Rawat Gabung 24 jam,<br />
3) Hanya ASI saja, dan<br />
4) yang terpenting susuilah dengan SEPENUH HATI!</p>
<p>Nah, jika pemahaman sudah sampai tahap ini, maka bagi orang tua yang bekerja perlu mempersiapkan segala sesuatunya, agar ketika ibu mulai masuk bekerja sudah memiliki stok ASI Perah (ASIP), sudah memiliki kemampuan manajemen laktasi yang baik, sudah memiliki pengasuh yang handal dan dapat dipercaya untuk mengasuh dan memberikan ASIP.</p>
<p><strong>Apa saja persiapan yang perlu dilakukan?</strong></p>
<p>Persiapan saat hamil</p>
<ul>
<li>Rencanakan porsi cuti melahirkan lebih lama ketika bayi sudah lahir.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1109" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-kelas-edukasi-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></p>
<li>Beritahukan rencana Anda untuk tetap memberikan ASI ketika sudah kembali bekerja.</li>
<li>Periksa juga apakah ada ruangan yang bisa digunakan untuk memerah ASI.</li>
<li>Mintalah dukungan pada rekan-rekan kantor, atasan, dan juga serikat pekerja yang ada.</li>
<li>Bergabunglah dengan organisasi/kelompok pendukung ibu-ibu ASI.</li>
<li>Belajarlah cara memerah ASI dengan tangan, atau mulai mencari breastpump (pompa ASI) yang sesuai.</li>
<li>Pertimbangkan pilihan cara/pekerjaan yang dapat mensukseskan pemberian ASI. Mulai dari pilihan jenis pekerjaan (jika ada) paruh waktu atau penuh waktu.</li>
<li>Kemudian pilihan cara pengantaran ASIP, apakah dibawa oleh Anda sendiri ketika pulang kerja, atau menggunakan jasa pengantaran ASIP untuk dikirim ke rumah.</li>
<li>Mantapkan komitmen Anda untuk terus memberikan ASI pada sang buah hati, walaupun harus kembali bekerja.</li>
</ul>
<p>Persiapan setelah melahirkan</p>
<ul>
<li>IMD secara langsung minimal 1 jam setelah kelahiran.</li>
<li>Perbanyak kontak kulit dengan bayi.</li>
<li>Istirahat yang cukup, relaks, dan fokuskan diri Anda untuk memantapkan kegiatan menyusui.</li>
<li>Tingkatkan pasokan ASI Anda denganmenyusui bayi sesuai dengan pemintaan.</li>
<li>Perah ASI di sela-sela setelah menyusui.</li>
<li>Hindari pemberian ASIP menggunakan dot, karena berisiko terkena gejala “bingung puting”.</li>
<li>Belajar untuk memberikan ASIP kepada bayi dengan menggunakan metode selain dot: cangkir, pipet, sendok kecil, dsb.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1107" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-ASIP-freezer-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<li>Pilih dan latih pengasuh bayi yang juga mendukung pemberian ASI.</li>
<li>Mantapkan teknik memerah ASI dengan tangan, atau menggunakan pompa ASI.</li>
<li>Mulai menabung ASIP 1 bulan sebelum mulai masuk kerja. Simpan ASIP sesuai dengan tata cara yang benar.</li>
<li>Konfirmasikan kembali dengan pihak kantor / atasan anda  mengenai rencana Anda untuk tetap memberikan ASI. Serta informasikan jadwal dan lokasi Anda akan memerah ASI.</li>
<li>Jika memungkinkan, gunakan 1 hari untuk uji coba meninggalkan bayi di rumah dengan pengasuh, dan Anda melakukan aktifitas perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya . Serta aktifitas memerah dan menyimpan ASIP di tempat kerja.</li>
</ul>
<p>Persiapan ketika sudah kembali bekerja</p>
<ul>
<li>Pertimbangkan untuk kembali bekerja pada hari Kamis, agar lebih mudah bagi Anda dan bayi untuk menyesuaikan ritme baru, karena hari sabtu sudah bisa bersama lagi.</li>
<li>Persiapkan segala kebuthan esok hari, pada malam hari sebelumnya.</li>
<li>Susui bayi Anda sebelum berangkat ke kantor.</li>
<li>Usahakan agar perpisahan dan pertemuan kembali dengan bayi dilaksanakan dalam suasana gembira.</li>
</ul>
<p>Ketika berada di kantor:</p>
<ul>
<li>Perah atau pompa ASI sesuai jadwal menyusu bayi Anda atau minimal dalam rentang waktu 3 jam.</li>
<li>Perah atau pompa ASI secara teratur sesuai dengan jadwal dan sebelum payudara Anda terasa penuh.</li>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-1108" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-persiapan-kerja-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<li>Gunakan cara yang benar untuk menyimpan dan mengangkut ASIP.</li>
<li>Pastikan bahwa pengasuh bayi Anda mengeri tata cara pemberian ASIP yang benar.</li>
<li>Minta kepada pengasuh bayi Anda untuk tidak memberikan ASIP ketika anda sudah dekat rumah.</li>
<li>Susuilah bayi Anda ketika sudah kembali pulang, pada malam hari, di akhir pekan dan setiap saat Anda sedang bersama bayi.</li>
<li>Minta dukungan sesama rekan kantor dalam upaya anda untuk terus memberikan ASI.</li>
<li>Carilah sesama ibu bekerja yang juga menyusui untuk saling tukar pendapat pengalamam dan saling mendukung.</li>
</ul>
<p>Pelaksanaan langkah-langkah itu memang tak semudah membacanya. Tapi percayalah, dengan bekal rasa cinta terhadap anak-anak Anda, Anda akan mampu melewati tahap demi tahap, langkah demi langkah. Semua itu demi memberikan bekal yang menjadi pondasi anak-anak Anda  untuk tumbuh menjadi manusia utuh dan seperti harapan sebagian besar orang tua, anak harus lebih baik dari orang tuanya.</p>
<p>***</p>
<p>Sekarang Anda sudah mendapatkan berbagai informasi dan langkah-langkah apa yang harus Anda berdua (dengan suami/istri) lakukan. Saatnya memantapkan KOMITMEN, bahwa HANYA ASI saja nutrisi terbaik untuk bayi 0-6 bulan, dan setelah bayi Anda berusia di atas 6 bulan TETAP BERIKAN ASI tanpa campuran susu lainnya dan tambahkan Makanan Pendamping ASI buatan rumah.</p>
<p>Semoga Anda dan pasangan Anda bisa satu kata, satu asa, dan satu langkah dalam memberikan asupan gizi bagi anak-anak Anda. Selamat berjuang wahai orang tua yang mencintai anak-anaknya.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber:<br />
Materi Kelas Edukasi AIMI – Breastfeeding Tips for Working Mothers, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayi = Botol dan Dot? Benarkah?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/10/bayi-botol-dan-dot-benarkah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/10/bayi-botol-dan-dot-benarkah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 08:45:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiki Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[botol]]></category>
		<category><![CDATA[cup feeder]]></category>
		<category><![CDATA[dot]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[gelas sloki]]></category>
		<category><![CDATA[softcup feeder]]></category>
		<category><![CDATA[spuit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1086</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu yang membeli botol dan dot sebagai salah satu persiapan menyambut kelahiran anaknya karena sebagian besar kita hanya tau bahwa bayi cuma bisa minum langsung melalui payudara ibu atau dengan menggunakan botol dan dot. Apa kah ini benar? Yuk simak penjelasan konselor laktasi AIMI tentang cara pemberian ASI perah yang tepat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa diantara kita yang setuju, bahwa rata-rata ibu membeli botol dan dot dalam mempersiapkan kehadiran bayi mungilnya. Hal yang sama juga terjadi pada saya ketika mempersiapkan kelahiran anak pertama 6 tahun silam. Dalam bayangan saya yang namanya bayi ya minum susunya (baik susu formula ataupun ASI Perah) adalah melalui botol dan dot. Belum lagi tawaran dan iklan menarik mengenai puting dot yang dibuat semirip dengan puting ibu ataupun iklan yang mengatakan botol ini anti kolik dan tidak membuat bayi kembung. </p>
<p>6 tahun silam saya belum banyak tahu tentang pemberian susu melalui media lain selain botol dan dot. Sekarang, selain mulai banyak belajar saya juga menerapkan hal ini pada anak kedua saya dan ternyata berhasil, tidak sesulit yang saya bayangkan. Ini semakin membuat saya yakin untuk bisa membagikan pengalaman saya disini, karena sulit bagi saya untuk membagi sesuatu yang tidak saya yakini.</p>
<p>Banyak ibu yang bertanya pada saya, ”Apa sih keuntungannya memberikan ASIP melalui media selain botol dan dot?”. Biasanya, saya lalu mencoba menjawab seperti ini:</p>
<ul>
<li>Bayi terhindar dari bingung puting.<br />
Bingung puting adalah keadaan dimana bayi memilih untuk menggunakan botol dan dot karena cara kerja meminum ASI dari botol dan dot dan payudara berbeda. Melalui botol dan dot bayi tidak harus suckling melainkan hanya sucking. Sedangkan pada payudara bayi harus menggunakan lidahnya untuk merangsang keluarnya ASI. Sedangkan pada botol dan dot bayi hanya menyedot dan aliran ASIP sudah keluar dengan derasnya.</li>
<li>Bayi mendapatkan kepuasan oral hanya dari puting payudara ibunya tidak dari puting botol dan dot.<br />
Ketika ibu pulang dari bepergian atau bekerja, bayi akan bersemangat untuk menyusu langsung ke payudara ibunya. Hal ini tentunya bermanfaat karena bonding dengan ibu tetap terjalin kuat meskipun ibu tidak bisa selalu berada bersama bayi.</li>
<li>Penggunaan botol dan dot meningkatkan resiko infeksi telinga pada bayi.</li>
<li>Menyapih anak dari botol dan dot lebih sulit dibanding menyapih dari payudara. Sedangkan bayi yang tidak menggunakan dot kita tidak usah memikirkan bagaimana menyapih dari gelas kan? Krn seumur hidup kita minum pake gelas.</li>
</ul>
<p>Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, ”lalu, bagaimana memberikan ASI Perah pada bayi jika penggunaan botol dan dot dapat menimbulkan banyak risiko?”</p>
<p>Banyak ibu yang belum mengetahui, bahwa pemberian ASI Perah dapat menggunakan beberapa media, seperti: gelas sloki, sendok, pipet, spuit dan softcup feeder. Seperti apa media pemberian ASI dan bagaimana cara menjelaskannya, yuk, kita baca bersama sharing saya di bawah ini:</p>
<ol>
<li>CUP FEEDER (GELAS SLOKI)<br />
Pemberian ASIP melalui gelas sloki dapat dilihat pada www.drjacknewman.com → Video clips. Langkah-langkah yang dilakukan jika <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-cup-feeding-300x225.jpg" alt="" title="10-cup-feeding" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1091" />ingin memberikan ASIP melalui gelas sloki adalah:</p>
<ol>
<li>Gendong bayi di pangkuan dan posisikan bayi dengan kepala agak tegak, gunakan tangan untuk menopang bahu dan leher bayi. </li>
<li>Gunakan gelas sloki kecil. </li>
<li>Tempelkan bibir gelas sloki ke bibir bayi.</li>
<li>Miringkan gelas sloki hingga ASIP menyentuh bibir bawah bayi dan biarkan bayi menyeruput seperti kucing yang sedang minum. <strong>Jangan menuangkan ASIP ke mulut bayi</strong>. </li>
<li>Penting untuk menjaga aliran ASIP agar bayi tetap dapat menyeruput secara terus menerus. </li>
<li>Lakukan perlahan karena bayi dan pemberi ASIP sedang sama-sama belajar.</li>
</ol>
<p>Diambil dari <a href="http://www.drjacknewman.com/">www.drjacknewman.com</a> → cup feeding.</p>
<p>Coba lakukan langkah-langkah diatas berkali-kali hingga bayi dan pemberi ASIP sama-sama merasa nyaman. </li>
<li>SPOON FEEDER<br />
Pemberian susu melalui sendok sudah ada sejak dahulu kala, mungkin sejak botol dan dot belum ditemukan karena sendok adalah peralatan yang sangat mudah ditemukan. Ketika tiba-tiba seorang ibu harus keluar rumah dan meninggalkan bayinya dengan orang lain maka sendok adalah peralatan yang pasti ada di rumah. </p>
<p>Pemberian ASIP dengan sendok pada intinya sama dengan penggunaan gelas sloki. Posisikan bayi agak tegak, kemudian tempelkan sendok yang telah diisi ASIP ke bibir bayi, biarkan mulut bayi terbuka dan sendokkan ASIP ke dalam mulut bayi. Resiko ASIP berceceran lebih banyak karena pemberi ASIP harus membawa sendok yang berisi ASIP dari gelas ke bibir bayi. </li>
<li>PIPET dan SPUIT FEEDER.<br />
Pipet yang digunakan adalah pipet yang terbuat dari plastik, hindari pipet yang terbuat dari kaca karena khawatir akan melukai bayi. Cara penggunaan pipet adalah masukkan ujung pipet ke mulut bayi kemudian teteskan beberapa tetes ASIP, tunggu hingga bayi menelan ASIP nya kemudian ulangi lagi.</p>
<p>Spuit yang digunakan adalah spuit ukuran besar tanpa jarum suntiknya. Isi spuit dengan ASIP kemudian dekatkan ujung spuit ke mulut bayi hingga mulut bayi terbuka, kemudian tuangkan sedikit-sedikit ke mulut bayi dan bayi akan menelan ASIPnya. </li>
<li>SOFTCUP FEEDER<br />
<img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/10/10-soft-cup-feeding-300x225.jpg" alt="" title="10-soft-cup-feeding" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1093" />Softcup feeeder yang ada di pasaran sekarang adalah merek Medela. Bentuknya hanpir seperti spuit besar hanya saja ujungnya lebar seperti ujung gelas sloki. Cara pemakaiannya, isi tabungnya dengan ASIP kemudian tekan ujung tabung yang dekat mulut softcup hingga ASIP mengalir ke mulut softcupnya, kemudian sama seperti cup feeder, tempelkan ke bibir bawah bayi dan biarkan dia menyeruput, jika ASIP yang di mulut softcup sudah habis tekan kembali tabungnya hingga ASIP mengalir kembali.</li>
</ol>
<p>Yang perlu diingat ketika memberikan ASI Perah melalui media-media ini adalah: </p>
<ol>
<li>Berikan ketika bayi dalam keadaan tidak terlalu haus atau lapar. Karena kalau bayi sudah sangat lapar maka bayi menjadi tidak sabaran dan akhirnya menangis, apalagi jika bayi dan pemberi ASIP masih sama-sama belajar. </li>
<li>Serahkan tugas memberi ASIP kepada orang lain selain ibu. Karena bayi memiliki kecenderungan untuk mengenali sekali ibunya dan ia akan memilih untuk menyusu langsung dibanding meminum ASIP. </li>
<li>Latih bayi sedini mungkin karena semakin sering latihan maka bayi akan semakin mahir meminum ASIP dan yang memberikan ASIP juga mengetahui apa yang nyaman dan tidak nyaman bagi dirinya.</li>
<li>Mintalah orang yang akan memberikan ASIP mencoba semua media yang ada, cup, sendok, pipet ataupun spuit dan biarkan ia memutuskan media apa yang paling nyaman buat dia dan bayi kita.</li>
<li>Masih banyak orang yang menganggap memberikan ASIP tanpa dot adalah sesuatu yang ribet dan menyusahkan dan karena kita merasa tidak enak meninggalkan bayi kita pada mereka kita akan mudah menyerah dan membiarkan bayi diberi ASIP melalui dot, pada kasus saya, saya ajak ibu saya ke klinik laktasi dan biarkan konselor laktasi menjelaskan panjang lebar mengenai keuntungan memberikan ASIP tanpa dot dan ia lebih percaya (dibanding dengan anaknya sendiri yang ngomong). Dan terbukti saat ini baik ibu saya maupun si mbak yang di rumah menyatakan jauh lebih enak ketika anak terbiasa untuk minum dari gelas dari bayi, di umur 1 tahun 5 bulan ini dia sudah bisa minum menggunakan gelas apapun juga, tidak sibuk mensteril dan mencuci botol dan dot. </li>
</ol>
<p>Semoga sharing ini bermanfaat.. ☺ Selamat menyusui dengan cinta, moms..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/10/bayi-botol-dan-dot-benarkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Poling Mei 2010 &#8211; Tanda-tanda Bayi Tidak Menyusu dengan Baik</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/tanda-tanda-bayi-tidak-menyusu-dengan-baik/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/tanda-tanda-bayi-tidak-menyusu-dengan-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 08:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Niken Emerianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[BAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=752</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban: BAK kurang dari 6 kali Hebaat! Ternyata voters sudah banyak mengetahui kalau tanda-tanda bayi kurang minum ASI adalah BAK kurang dari 6 kali (46%, 61 org). Secara umum, bayi ASI eksklusif harus ada 1 kali popok basah di hari pertama dlm hidupnya, dan jumlah itu akan terus bertambah. Bayi yang berusia seminggu atau lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Jawaban: BAK kurang dari 6 kali  </p>
<p>Hebaat! Ternyata voters sudah banyak mengetahui kalau tanda-tanda bayi kurang minum ASI adalah BAK kurang dari 6 kali (46%, 61 org).</p>
<p>Secara umum, bayi ASI eksklusif harus  ada  1 kali popok basah di hari pertama dlm hidupnya, dan jumlah itu akan terus bertambah. Bayi yang berusia seminggu atau lebih dengan BAK (buang air kecil) 6 kali tapi sedikit atau tidak basah sama sekali dalam 24 jam, kemungkinan besar tidak mendapatkan cukup ASI atau tidak menyusu dengan baik (misalnya disebabkan pelekatan dan posisi menyusu yang tidak tepat).</p>
<p>Bayi rewel, tidak bisa dijadikan patokan kalau bayi kurang mendapatkan ASI, karena bayi akan menangis apabila ia merasa ada hal yg tidak sesuai dengannya (tidak selalu berarti ia ingin menyusu atau lapar).</p>
<p>Begitu pun bayi kurang montok, tidak bisa dijadikan ukuran kalau bayi kurang mendapatkan ASI. Menilai pertumbuhan bayi harus dilakukan dengan memantau berat badan, panjang/tinggi badan serta lingkar kepala. Tidak disarankan hanya menilai dari penampilan bayi saja.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Ulasan polling ini telah dibaca sebanyak 3248 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/tanda-tanda-bayi-tidak-menyusu-dengan-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inisiasi Menyusu Dini, Repot Ya?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/05/inisiasi-menyusu-dini-repot-ya/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/05/inisiasi-menyusu-dini-repot-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 01:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puti Herryanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=735</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kita yang sudah memahami informasi mengenai Inisiasi Menyusu Dini (IMD) tentu saja tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Bukankah bayi baru lahir dapat segera mencari puting susu ibunya sesaat ketika lahir, karena hal tersebut merupakan naluri alamiah yang dimilikinya. Pertanyaannya adalah, apakah semua tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang akan membantu ibu untuk melahirkan bayinya sudah memahami dan mau melakukan hal ini? Yuk simak bersama sharing salah satu Konselor Laktasi AIMI berikut ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca judul diatas, beberapa dari kita tentu bertanya-tanya. Repot? Apanya yang repot ya?</p>
<p>Bagi kita yang sudah memahami informasi mengenai Inisiasi Menyusu Dini (IMD) tentu saja tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Bukankah bayi baru lahir dapat segera mencari puting susu ibunya sesaat ketika lahir, karena hal tersebut merupakan naluri alamiah yang dimilikinya.</p>
<p>Pertanyaannya adalah, apakah semua tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang akan membantu ibu untuk melahirkan bayinya sudah memahami dan mau melakukan hal ini? Yuk simak bersama sharing saya berikut ini.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/05/05-puti-andra.jpg" alt="" title="05-puti-andra" width="300" height="207" class="alignleft size-full wp-image-737" />Mencari rumah sakit yang bersedia melakukan Inisiasi Menyusu Dini memang gampang-gampang susah. Mengapa demikian? Karena bisa saja ibu sudah menemukan tenaga kesehatan yang bersedia untuk melakukan IMD pada kelahiran normal maupun caesar, tetapi rumah sakitnya tidak menyetujui. Terdengar familiar?</p>
<p>Kejadian ini terjadi pada saya ketika hamil anak kedua. Untuk mendapatkan hak yang satu ini saya dan suami harus sering-sering &#8216;<em>shopping</em>&#8216; dokter dan rumah sakit. Saat itu kami sudah bertemu dengan dokter kandungan yang cocok, tetapi beliau belum memahami tentang tata laksana IMD dengan baik.</p>
<p>Di lain pihak rumah sakit bersalin tempat dokter tersebut praktek telah meng-&#8217;<em>claim</em>&#8216; dirinya sebagai rumah sakit sayang Ibu dan bayi dengan mendukung pemberian ASI dan tidak memberikan dot/botol pada bayi. Tetapi sayang, belum banyak cerita sukses tentang IMD di rumah sakit tersebut, terlebih yang ditangani oleh dokter kandungan saya.</p>
<p>Setelah mencari tahu informasi mengenai IMD yang dilakukan disana, ternyata IMD belum dilakukan dengan tata laksana yang benar, dimana bayi baru lahir langsung  diletakkan diatas dada ibu selama 5 menit saja, kemudian langsung dipisahkan dari ibu untuk diobservasi dan dipertemukan kembali setelah 6 jam persalinan. Bayi tidak diberikan kesempatan untuk menemukan puting susu ibu-nya. Hal ini diperparah dengan tidak diijinkannya rawat gabung untuk bayi dengan ibunya dengan berbagai macam alasan. Rawat gabung baru dilakukan ketika pasien memaksa, dan pihak rumah sakit berulang kali menegaskan bahwa segala konsekuensi harus ditanggung oleh pasien karena bayi tidak berada dalam pengawasan mereka. Padahal, bayi yang selama 24 jam selalu bersama ibu-nya akan semakin sehat dan jauh dari risiko-risiko medis yang mungkin terjadi pada bayi baru lahir.</p>
<p>Rumah sakit ini  memang menganjurkan pemberian ASI,  tapi tidak ada bimbingan langsung untuk menyusui saat baru melahirkan dan baru diajarkan pada hari terakhir di ruang bayi bersamaan dengan mengajarkan perawatan bayi baru lahir. Rumah sakit inipun langsung menyetujui bila ada ibu yang meminta sufor untuk bayinya.</p>
<p>Mengetahui hal ini tentu saja kepanikan melanda saya. Kami dihadapkan pada dua pilihan, yaitu ganti dokter atau ganti rumah sakit. Tetapi karena malas beradaptasi dengan dokter yang baru lagi serta sudah nyaman dengan dokter yang menangani saat ini, saya memutuskan untuk meneruskan saja periksa kehamilan dan melahirkan dengan dokter saya di rumah sakit yang saya pilih.</p>
<p>Dengan mengucap Bismillah, saya berkeyakinan bisa melakukan IMD untuk kebaikan Ibu dan Bayi. Melalui milis AFB, aku kumpulkan testimoni dari yang pernah melahirkan di rumah sakit bersalin tersebut, terkumpullah 6 testimoni terdiri dari 5 testimoni IMD yang hanya 5 menit dan 1 yang sukses. Saya berikan testimoni tersebut ke dokter kandungan saya, dan sepertinya sang dokter menjadi ‘tertantang’, dalam diskusi terungkaplah bahwa beliau belum terinformasi bahwa minimal waktu IMD adalah 60 menit.</p>
<p>Kendala lain yang dirasakan adalah canggung, karena dokter kandungan banyak yang laki-laki. Setelah dijelaskan kalau dokter tidak perlu menunggui selama proses IMD berlangsung yang penting pastikan para suster dan bidan mengerti prosedurnya, tidak menyulitkan seperti menakut-nakuti bayi dingin dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan saya belikan VCD IMD dari AIMI untuk dipelajari. Alhamdullillah, gayung bersambut. Sebelum saya melahirkan, dokter memperkenalkan kami dengan para bidan dan suster yang akan membantu saat kelahiran. Senangnya!</p>
<p>Hari H-pun tiba. Saya sudah merasakan kontraksi datang dan pergi selama satu minggu. Saat periksa di usia 38 minggu ternyata ketubanku sudah berkurang dan semakin sedikit. Perkiraan dokter malam ini saya akan melahirkan, namun bila tidak maka harus diinduksi. Ternyata sampai besok pagi tidak ada kontraksi, akhirnya saya harus kembali diinduksi. Baru 2 jam diinduksi, ketuban lagi-lagi pecah dan kali ini sudah berwarna hijau. Maka dokter memutuskan untu melakukan cesar harus dilakukan. Hampir pupus harapan untuk IMD, tapi Alhamdulilah ternyata dokter kandungan menepati janji dan komitmennya. Andra menangis sangat kencang ketika dilahirkan dan setelah dipastikan sehat, Andra dibersihkan seadanya dan langsung diletakkan ke dadaku untuk IMD.</p>
<p>IMD berlangsung lancar, tidak sempurna memang, tapi aku cukup puas. Beberapa kali perawat menyodorkan ‘puting’ pada Andra. Tetapi bagaimana mau meminumnya, Andra belum siap, jadi biarpun disodorkan puting, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/03/03-imd-300x199.jpg" alt="" title="Bayi Baru Lahir Sedang IMD" width="300" height="199" class="alignright size-medium wp-image-217" />Andra tetap saja diam. Tidak hanya itu tantangannya, belum juga 60 menit, para perawat juga berusaha untuk menghentikan proses IMD dengan berkata: &#8220;Yang penting <em>skin to skin</em> bu, itu namanya udah IMD” kata perawat padahal saat itu IMD baru berlangsung 15menit. Karena Andra dilahirkan cesar dia masih asyik menikmati kehangatan bundanya, bergerak sedikit lalu tidur lagi. Menit ke 60 Andra mulai bergerak, bidan dan perawat yang berada dalam ruangan bahkan diluar ruangan langsung masuk kesenangan melihat bayi yang baru berumur 60 menit, menendang maju dan mengangkat tinggi kepalanya untuk menggapai puting bundanya. Mereka sangat antusias melontarkan komentar ‘hebat ya’, ‘coba tuh lihat, Subhanallah’ dan masih banyak komentar lainnya. Belum lagi ketika melihat Andra menemukan sendiri puting di menit ke 110 dan dengan asyiknya melahap kolostrum pertamanya. Alhamdulillah ya Allah!</p>
<p>Kejadian itu membuatku terhenyak, ternyata para perawat tadi belum pernah melihat IMD secara langsung. Tak kenal maka tak sayang, ternyata selama ini mereka tidak percaya diri, mereka belum menyaksikan langsung kehebatan dada ibu yang mampu menghangatkan bayi baru lahir. Mereka belum pernah menyaksikan indahnya bayi berusia kurang dari 2 jam berhasil merangkak di perut bundanya. IMD terlaksana cukup baik, aku cukup puas. Ternyata tidak hanya aku yang merasa puas. Perawat bayi yang setia menungguiku ketika IMD,  senang sekali datang ke kamarku ketika jam besuk tiba. Dengan semangat’45 perawat tersebut menceritakan proses IMD yang menurutnya sangat menakjubkan kesetiap orang yang mengunjungiku. Ini dilakukannya selama 3 hari aku berada dirumah sakit.</p>
<p>Berarti selama ini disinilah masalahnya kita sebagai pasien, perawat, dan dokter sama-sama belajar. Ketika banyak dari kita yang berusaha mencari rumah sakit sayang bayi dan pro IMD, sebaiknya kita mulai dari diri kita, kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Adalah penting untuk menyamakan persepsi IMD dan rooming in dengan tenaga kesehatan yang terlibat. Tapi sekarang aku yakin, banyak perawat dan dokter yang kurang percaya diri bukannya tidak pro ASI atau IMD, seperti kata dokter hebat pejuang ASI dr Utami Roesli ‘mereka ini orang-orang yang belum mendapatkan hidayah’, jadi tidak ada salahnya sebagai pasien kita yang memulai.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Artikel ini telah dibaca sebanyak 2604 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/05/inisiasi-menyusu-dini-repot-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIMI Breastfeeding Fair 2010</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/05/aimi-breastfeeding-fair-2010/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/05/aimi-breastfeeding-fair-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 15:12:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inna Banani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[bazaar]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Fair]]></category>
		<category><![CDATA[Donor ASI]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[Sharing and Caring]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=670</guid>
		<description><![CDATA[Seperti tahun-tahun sebelumnya, AIMI kembali mengadakan Breastfeeding Fair. Kali ini kami mengangkat tema 'Breastfeeding: A New Lifestyle'. Lihat daftar acara kami tahun ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/05/banner.jpg" alt="" title="banner" width="250" height="231" class="alignright size-full wp-image-687" />Tahun ini AIMI kembali mengadakan Breastfeeding Fair dimana akan banyak bazaar yang menjual segala macam pernak-pernik yang diperlukan oleh ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak-anak. Selain itu, tentu saja akan ada talkshow gratis setiap harinya, yang biasa kami sebut dengan Sharing &#038; Caring. </p>
<p>Breastfeeding Fair tahun ini mengangkat tema &#8216;<strong><em>Breastfeeding: A New Lifestyle</em></strong>&#8216; yang akan diadakan:</p>
<p>tgl  : 12 &#8211;  16 Mei 2010<br />
jam: 10.00 &#8211; 22.00</p>
<p>Lokasi:<br />
<a href="http://www.fx-generation.com/">fX lifestyle X’nter</a> | f1 atrium<br />
Jl Jend. Sudirman &#8211; Pintu Satu Senayan<br />
Jakarta 10270</p>
<p><strong>Daftar Acara Sharing &#038; Caring</strong></p>
<table>
<tr>
<th width=20%>Waktu</th>
<th width=30%>Topik</th>
<th width=25%>Narasumber</th>
<th width=25%>Bintang Tamu</th>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Rabu<br />12 Mei 2010<br />16.30 &#8211; 18.30</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Attachment Parenting, dimulai dari ASI</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Najeela Shihab<br />Moderator: Tenik Hartono (Pimred. Ayahbunda)</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Moza Paramita</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Kamis<br />13 Mei 2010<br />13.00 &#8211; 15.00</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Mencari Rumah Sakit Sayang Bayi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Ninik Sukotjo (UNICEF Nutrition Specialist)</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Ami Gumelar Hidayat</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Jum&#8217;at<br />14 Mei 2010<br />16.30 &#8211; 18.30</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Donor ASI</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Faizah Ali Sibromalisi, MA (Ustadzah Pusat Studi Quran)</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Artika Sari Devi</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Sabtu<br />15 Mei 2010<br />13.00 &#8211; 15.00</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Sehat dan Produktif berkat Menyusui</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">dr. Utami SpA., MBA, IBCLC, FAMB</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Najwa Shihab (Anchor TV / Host &#8216;Mata Najwa&#8217;)</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Minggu<br />16 Mei 2010<br />13.00 &#8211; 15.00</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Persiapan Sukses Menyusui</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Mia Sutanto</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px; padding-right: 5px; vertical-align: top; font-weight: normal;">Sigi Wilmala</div>
</td>
</tr>
</table>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Halaman ini telah dilihat 1464 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/05/aimi-breastfeeding-fair-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Pertama Gagal ASI Eksklusif &#8211; Bagaimana Dengan Adik?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 01:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok pendukung]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu yang tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif kepada anak kedua bahkan ketiga ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama. Ini disebabkan mereka terpaku pada kegagalan anak pertama. Umumnya kegagalan ini disebabkan oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.  Saya ingin berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak ibu merasa tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya &#8211; baik kepada anak kedua atau ketiga, ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-mama-zach.jpg" alt="" title="04-mama-zach" width="300" height="241" class="alignleft size-full wp-image-648" />Hal ini seringkali terjadi, karena banyak ibu terpaku pada kegagalan memberikan ASI di masa lalu yang disebabkan  oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.</p>
<p>Menanggapi hal tersebut, ijinkan Saya berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi semua ibu yang membacanya.</p>
<p>Anak pertama saya lahir pada bulan Oktober 2004, hanya 10 bulan dari sejak saya menikah. Senang..? Pasti dong. Saya pun berniat untuk memberikan yang terbaik &#8211; yaitu ASI &#8211; untuk anak pertama saya.</p>
<p>Memberikan ASI ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Karena kekurangan informasi tentang ASI dan menyusui, saya mengawali perjalanan menyusui anak pertama saya dengan tidak tepat, misalnya: tidak meminta rawat gabung dengan anak sewaktu di Rumah Sakit sehingga saya yang harus bolak balik ke kamar bayi (dengan jam menyusui yang dibatasi / dijatah). Kondisi seperti ini membuat saya tidak dapat menyusui dikala anak saya membutuhkan ASI. Saya lebih sering menemui anak saya sedang tertidur sehingga tak mau menyusu.</p>
<p>Saat itu saya pikir ini kondisi seperti ini normal saja. Tetapi begitu saya pulang dari Rumah Sakit dan merawat bayi saya sendiri, barulah saya merasakan ketidaknyamanan. Bukan, bukan karena saya kecapekan menjaganya tapi saya mengalami puting lecet.</p>
<p>Saya bingung sekali kala itu,  tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya cara yang menurut saya dapat menyelesaikan permasalahan puting lecet kala itu adalah dengan memompa ASI dari payudara yang lecet dan hanya menyusui dari payudara yang tidak sakit. Karena kondisi ini pula, saya sempat mengalami ‘<em>mild baby blues</em>’, dimana saya menangis setiap harus menyusui dari payudara yang lecet tersebut. Untungnya cuma berlangsung sebentar, 3 hari saja.</p>
<p>Selama di berada rumah dan belum kembali bekerja, saya selalu menyusui anak saya secara langsung, sehingga saya pun jarang memerah, apalagi semenjak luka di puting pulih. Ternyata hal ini menimbulkan masalah ketika saya harus kembali lagi ke kantor. Saya tidak memiliki stok ASI perah ketika itu, sehingga saat harus kembali masuk kantor saya bingung bagaimana dengan asupan susu anak saya di rumah. Oleh orang tua, saya diminta membeli susu formula (sufor) sebagai cadangan kalau-kalau ASI yang saya perah di kantor tidak cukup untuk konsumsi anak saya selama saya tinggal bekerja. Dan terjadilah hal yang saya takutkan, di usianya yang ke- 2,5 bulan, anak saya sudah minum ASI campur sufor.</p>
<p>Selain itu, karena minimnya informasi yang saya punya, saya memperkenalkan MPASI dini pada anak saya, karena menurut orang tua,  anak saya pasti kelaparan kalo hanya minum ASI dan susu formula saja.</p>
<p>Sekembalinya bekerja, ternyata saya tidak konsisten memerah ASI. Kadang hanya 2x dalam waktu 9 jam, malah kadang hanya 1x kalau saya terlalu sibuk atau malas. Ini disebabkan di kepala saya sudah tertanam bahwa anak saya akan baik-baik saja karena ada back-up sufor dan MPASI di rumah jika ASI perah tidak mencukupi. Akhirnya pada usia 10 bulan, anak saya hanya minum sufor tanpa ASI lagi.</p>
<p>Ketika anak ke-2 lahir di tahun 2007, saya sudah bertekad untuk memberi ASI sekurang-nya 6 bulan tanpa tambahan susu formula maupun MPASI dini. Hal ini dikarenakan informasi yang saya dapatkan dari seminar tentang kesehatan anak pada tahun 2006 yang saya ikuti, menjelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif adalah 6 bulan tanpa tambahan apa pun. Ditambah lagi, tidak lama setelah saya melahirkan, saya pun ikut bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dimana saya dapat mencari informasi tentang ASI, menyusui dan tips memerah selama bekerja dengan lebih lengkap. Alhamdulillah, dengan banyaknya informasi yang saya dapat, anak ke-2 pun lulus ASI eksklusif tanpa bantuan dari susu formula dan MPASI dini.</p>
<p>Selain itu, untuk menambah wawasan dan jejaring, saya datang ke kopdar milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">Asiforbaby</a> pertama kali dan berkenalan dengan banyak ibu muda. Selain presentasi mengenai ASI yang dibawakan oleh dr. Utami Roesli, saat itu juga ada presentasi dari mbak Mia Sutanto yang menjelaskan bahwa akan dibentuk suatu organisasi yang bisa mewadahi para ibu menyusui. Saya melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk terlibat secara langsung didunia per-ASI-an dan ketemu dengan para ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>Singkat cerita, saya pun mengajukan diri untuk ikut bergabung dan Alhamdulillah, saya tidak salah berkumpul dengan ibu-ibu hebat di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena disini lah saya bisa bertanya, curhat dan bersenang-senang. Dari sini pun saya sadar, ternyata ilmu yang didapat dari internet atau milis saja tidak cukup. Kita perlu berkumpul dengan para ibu yang mempunyai pandangan yang sama dengan kita.</p>
<p>Saat kelahiran anak-3 dipertengahan 2008, saya jauh lebih percaya diri. Saya jadi lebih getol mencari dokter, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-family.jpg" alt="" title="04-family" width="300" height="200" class="alignright size-full wp-image-649" />tenaga kesehatan dan rumah sakit yang mengijinkan IMD dan rawat gabung. Sewaktu lahiran saya tenang karena anak langsung diletakkan di atas dada dan dibiarkan selama kurang lebih 1,5 jam. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan karena saya bisa melihat sendiri ayahnya meng-adzani anak di dada saya dan melihat serta merasakan IMD, dimana anak merangkak sendiri menuju payudara dan menyusu secara alami tanpa bantuan dari saya, mamanya.</p>
<p>Jadi kalau boleh saya rangkum dari pengalaman ini adalah tidak benar bahwa kegagalan pemberian ASI pada anak pertama berarti mustahil bagi anak ke-2 mau pun ke-3 untuk mendapat ASI. Ibu perlu membekali dirinya dengan ilmu yang cukup semenjak hamil tentang tata cara IMD, persiapan menyusui, dokter dan rumah sakit / bidan yang mendukung IMD &#038; rawat gabung. Tentu saja dukungan penuh dari suami juga akan membuat ibu lebih percaya diri.</p>
<p>Selain itu, jika memungkinkan bergabunglah dengan komunitas peduli ASI. Ini bisa diawali dengan bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dan dilanjutkan dengan bertemu langsung dengan para ibu di kota tempat kita tinggal atau sering disebut kopdar. Lebih bagus lagi jika pertemuan ini bisa diadakan rutin sehingga kita bisa saling berbagi ilmu dan saling mendukung sesama ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>So, ibu2, terbukti kan, kegagalan di masa lalu dapat menjadi pemicu keberhasilan untuk menyusui. Kalau saya bisa, Anda pun bisa!</p>
<p>Semangat ASI!</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 2774 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Positif HIV Dianjurkan Menyusui Eksklusif Bayinya</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/12/ibu-positif-hiv-dianjurkan-menyusui-eksklusif-bayinya/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/12/ibu-positif-hiv-dianjurkan-menyusui-eksklusif-bayinya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 13:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=505</guid>
		<description><![CDATA[AIMI, Jakarta (9/12): Seorang ibu yang positif mengidap HIV dan mengkonsumsi obat antiretroviral dapat menyusui secara eksklusif enam (6) bulan pada bayinya, tanpa menularkan virus HIV tersebut ke bayinya. Demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh NACA (National Agency for the Control of AIDS ) Nigeria di Bostwana – Nigeria. Hasil penelitian ini dirilis oleh Professor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AIMI, Jakarta (9/12): Seorang ibu yang positif mengidap HIV dan mengkonsumsi obat antiretroviral dapat menyusui secara eksklusif enam (6) bulan pada bayinya, tanpa menularkan virus HIV tersebut ke bayinya. Demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh NACA (National Agency for the Control of AIDS ) Nigeria di Bostwana – Nigeria. Hasil penelitian ini dirilis  oleh Professor John Idoko Direktur NACA &#8211; Nigeria, pada 26 November 2009 dalam pembukaan peringatan hari AIDS sedunia di Nigeria dengan tema &#8220;Universal Access and Human Rights&#8217;, Closing the Wide Gap in Preventing Mother To Child Transmission (PMTCT)&#8221;.</p>
<p>Hal ini disambut positif oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). “Sebelum ada pengumuman dari hasil penelitian ini, pihak internasional masih ragu untuk menyarankan ibu yang positif HIV untuk menyusui bayi mereka. Dengan adanya hasil penelitian ini, maka ketakutan bahwa bayi yang lahir dari ibu positif HIV akan tertular melalui air susu ibunya menjadi terminimalisir. Selama ibu positif HIV tersebut mengkonsumsi obat antiretroviral,” demikian jelas Mia Sutanto – Ketua AIMI.</p>
<p>AIMI sedari awal selalu menyarankan agar ibu dapat menyusui secara eksklusif meskipun dalam keadaan sakit. Hal ini dikarenakan, selain bayi mendapatkan segala kebaikan air susu ibu (ASI),  bayi juga akan mendapatkan antibodi dari ibu terhadap penyakit tersebut. </p>
<p>Bayi baru lahir sangat rentan terkena infeksi ataupun berbagai penyakit yang sudah diderita oleh lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, cara terbaik untuk melindungi bayi tersebut dari infeksi dan berbagai penyakit yang terdapat di lingkungannya adalah dengan memberikan ASI, jelas Mia.</p>
<p>“Mengapa demikian? Karena ASI adalah asupan nutrisi yang paling higienis, yang memiliki gizi paling lengkap, dan terutama memiliki kandungan antibodi yang dihasilkan oleh tubuh ibunya. Antibodi inilah yang tidak dimiliki susu pengganti manapun, yang bisa melindungi bayi dari infeksi sekitarnya,” kata Mia. Pemberian ASI tidak bisa dibandingkan  atau digantikan dengan pemberian susu formula. Karena susu formula bukanlah produk steril. Belum lagi untuk proses penyajiannya yang memerlukan tempat dan air, yang belum tentu disterilkan terlebih dahulu. Maka, pemberian susu formula akan meningkatkan bahaya berbagai penyakit infeksi dan mal-nutrisi.</p>
<p>Dengan adanya rekomendasi dari NACA tersebut, maka semakin menguatkan gerakan AIMI  dalam mendorong pemerintah dan pihak swasta untuk memberikan dukungan terhadap ibu menyusui.</p>
<p>Indonesia termasuk negara dengan laju pertumbuhan penderita kasus HIV AIDS yang tercepat di Asia. Dalam setahun diperkirakan terjadi 1 juta kasus baru HIV di Indonesia. Tragisnya 92% di antaranya adalah usia produktif termasuk anak dan remaja. Sampai bulan September 2009 DEPKES telah melaporkan jumlah penderita AIDS pada anak dibawah 15 tahun telah mencapai 464 anak. </p>
<p>Menurut laporan yang dikeluarkan Depkes hingga bulan September 2009, dilaporkan sudah 464 anak Indonesia berusia di bawah 15 tahun yang positif terinfeksi AIDS. Sebagian besar terinfeksi karena lahir dari ibu yang positif HIV. Hal inipun mungkin jumlahnya akan lebih besar lagi karena semua kasus belum tentu dilaporkan, kasus HIV/AIDS baik di Indonesia maupun negara-negara lain merupakan sebuah fenomena gunung es. </p>
<p>Penderita HIV/AIDS pada bayi dan anak kian meningkat pesat. Bertambahnya prevalensi ini diduga mudahnya jalur penularan:  selama kehamilan, persalinan atau selama menyusui. ODHA yang tidak mendapat terapi ARV berisiko 15 – 45 persen anaknya tertular HIV/AIDS. </p>
<p>Berdasarkan berbagai fakta-fakta tersebut AIMI mendorong pemerintah dan swasta, terutama yang bergerak di bidang kesehatan untuk memberikan dukungan  kepada ibu penderita HIV untuk tetap menyusui bayinya.***</p>
<p>***</p>
<p>Fact Sheet AIMI :</p>
<p>AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.</p>
<p>Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
<p>***</p>
<p>Contact Person AIMI:</p>
<p>Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo,<br />
Media Relations<br />
sisca@aimi-asi.org<br />
HP : 0818765021</p>
<p>Sekretariat:</p>
<p>Graha MDS Lt. 1<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta Telpon : 021-72790165 Fax: 021-72790166<br />
www.aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/12/ibu-positif-hiv-dianjurkan-menyusui-eksklusif-bayinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

