<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; AIMI Emergency Response</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/tag/aimi-emergency-response/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Siaran Pers: AIMI Salurkan Sumbangan untuk Merapi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-aimi-salurkan-sumbangan-untuk-merapi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-aimi-salurkan-sumbangan-untuk-merapi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 00:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang membuka pengumpulan dana untuk korban bencana Merapi sejak tanggal 28 Oktober lalu telah menggunakan dana sumbangan yang terkumpul untuk berbagai kebutuhan pengungsi, terutama ibu, bayi dan balita di Jogjakarta. Dana yang terkumpul hingga 4 November 2010 sebesar Rp 4 juta dan telah disalurkan kepada para korban bencana letusan Merapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang membuka pengumpulan dana untuk korban bencana Merapi sejak tanggal 28 Oktober lalu telah menggunakan dana sumbangan yang terkumpul untuk berbagai kebutuhan pengungsi, terutama ibu, bayi dan balita di Jogjakarta.</p>
<p>Dana yang terkumpul hingga 4 November 2010 sebesar Rp 4 juta dan telah disalurkan kepada para korban bencana letusan Merapi oleh Konselor Laktasi AIMI yang mengunjungi para korban sekaligus memberikan konseling kepada ibu hamil dan menyusui agar bisa tetap menyusui dalam kondisi darurat.</p>
<p>dr. Astri Pramarini, Konselor Laktasi AIMI yang juga Ketua AIMI Jawa Timur mengunjungi pos pengungsi di Hargobinangun. Di sana menemui 27 ibu hamil dan menyusui yang tinggal di pos dan sekitarnya untuk memberi dukungan menyusui.</p>
<p>Uang sumbangan dari donatur yang masuk ke AIMI, kata Astri, juga diberikan peralatan memasak karena ibu-ibu mengalami kesulitan untuk memberikan MPASI buatan sendiri karena di pengungsian tidak ada peralatan memasak yang bisa digunakan. “Mereka mengeluhkan bayi-bayi menolak MPASI (bubur instan) yang disediakan, bahkan akan yang mengalami konstipasi setelah mengonsumsi makanan instan.”</p>
<p>Untuk itu, AIMI kemudian bekerja sama dengan Jogja Parenting Club menyediakan MPASI untuk bayi berusia 6 bulan ke atas dengan menggunakan dana yang ada.</p>
<p>AIMI juga membagikan flyer mengenai cara memberikan makanan kepada bayi pada saat terjadi bencana, panduan menyusui dan cara memerah ASI. Menurut Astri, dalam kondisi serba darurat seperti ini, ASI menjadi satu-satunya cara yang paling pasti untuk melindungi bayi. “Karena itu, AIMI langsung turun untuk memberikan konseling dan motivasi, agar ibu tetap bisa menyusui.”</p>
<p>Dia menambahkan, seorang ibu, dalam kondisi apapun pasti bisa menyusui bayinya. Sebaiknya, ibu melindungi bayinya dengan tidak memberikan susu formula secara sembarangan yang bisa membahayakan kondisi bayi. Dalam situasi darurat di pengungsian, lanjut Astri, persediaan air bersih sangat terbatas sehingga itu sangat tidak memungkinkan untuk bayi bisa mengonsumsi susu formula. “Air bersih dibutuhkan untuk mencuci botol dan membuat susu, padahal saat ini persediaan air bersih sangat terbatas.”</p>
<p>AIMI masih membuka sumbangan dana untuk korban Merapi yang akan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan MPASI bayi dan balita bekerja sama dengan Jogja Parenting Club. Jika Anda ingin membantu, dana bisa ditransfer melalui</p>
<blockquote><p>Rekening AIMI<br />
Bank Mandiri Cabang Jakarta Kyai Tapa,<br />
a/n. <strong>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia</strong><br />
nomor rekening <strong>11700 2464 274 6</strong> (<strong>11700 AIMI ASI 6</strong>)</p></blockquote>
<p>dan mencantumkan Bantuan Mentawai dan Merapi di berita transfer.</p>
<p>***</p>
<p>Fact Sheet AIMI:</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Contact Person AIMI</strong>:<br />
<strong>Mia Sutanto</strong><br />
AIMI Chairwoman<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org, +6281510002584</p>
<p><strong>Sisca Baroto-Utomo</strong><br />
Head of Communications Division<br />
sisca@aimi-asi.org, +62818765021</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS lt. 3<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. RS. Fatmawati no. 39, Jakarta<br />
Telp: 021.72790165 Fax: 021.72790166</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<a class="downloadlink" href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=MELINDUNGI-BAYI-DALAM-KEADAAN-DARURAT.pdf" title=" downloaded 465 times" >Melindungi Bayi Dalam Keadaan Darurat (465)</a>
<h3>MELINDUNGI BAYI DALAM KEADAAN DARURAT</h3>
<p><strong>Informasi untuk Media</strong></p>
<p>Bencana alam yang melanda Indonesia terlalu kerap menyisakan kepedihan pada kita semua, rintihan dan tangis korban bencana banjir, gempa bumi, tsunami, kekeringan dan bencana lainnya, seakan menguji ketabahan kita sebagai manusia. Ibu dan anak-anak, terutama bayi, adalah korban yang paling rentan ketika terjadi bencana.</p>
<p>Media memiliki peran yang penting untuk melindungi bayi dalam keadaan darurat dengan tidak memberikan dukungan pada donator yang menyumbangkan susu formula dan mengingatkan pembaca bahwa Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang paling steril dan bisa mencegah penyakit pada bayi, sedangkan makanan buatan akan menambah risiko bagi bayi.</p>
<p><strong>MENGAPA BAYI BEGITU RENTAN?</strong></p>
<p>Bayi memiliki kebutuhan nutrisi khusus dan dilahirkan dengan sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Untuk bayi yang masih menyusui, ASI akan memenuhi kebutuhan makanan untuk mereka dan sekaligus kekebalan tubuh yang melindungi mereka dalam kondisi darurat.</p>
<p>Situasi berbeda dialami oleh bayi yang tidak menyusui. Dalam keadaan darurat, persediaaan makanan terhambat dan tidak ada persediaan air bersih untuk membuat susu formula atau membersihkan botol susu yang akan digunakan. Dalam kondisi seperti ini, bayi yang tidak menyusui rentan terhadap infeksi dan diare. Bayi yang menderita diare sangat mudah terserang malnutrisi dan dehidrasi serta meningkatkan risiko kematian.</p>
<p><strong>BAGAIMANA DENGAN ANAK-ANAK?</strong></p>
<p>Tidak hanya bayi yang memiliki kerentanan dalam kondisi darurat bencana, anak-anak dibawah 5 tahun dan terutama anak dibawah 2 tahun memiliki risiko lebih mudah sakit dan menemui ajalnya dalam kondisi darurat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan bayi tetap disusui hingga usia 2 tahun atau lebih. Anak-anak juga membutuhkan makanan bergizi yang aman untuk dikonsumsi, dan hal seperti ini tentu tidak mudah dilakukan dalam kondisi darurat.</p>
<p>MASALAH YANG DIHADAPI</p>
<p>Berkaca dari pengalaman lalu ketika terjadi bencana, susu bubuk dan susu formula untuk bayi lazim disumbangkan kepada korban bencana. Bahkan beberapa perusahaan susu formula, langsung menyumbang kepada korban bencana, juga dari beberapa lembaga bantuan, pemerintah dan juga individu yang ingin membantu.</p>
<p>Liputan media bisa menghasilkan tekanan kepada pemerintah dan masyarakat untuk tidak lagi menyumbangkan susu formula saat bencana datang.</p>
<p>Dalam kondisi darurat, produk susu bubuk dan susu formula ini sering dibagikan dengan tidak terkontrol dan digunakan oleh ibu yang bahkan masih menyusui bayinya. Ini mengakibatkan sakit dan kematian bayi yang sangat tidak diharapkan.</p>
<p>Hasil penelitian UNICEF setelah gempa di Yogyakarta tahun 2006 lalu menunjukkan, meskipun awalnya tingkat menyusui di kota tersebut sangat tinggi, 70% bayi dibawah usia 6 bulan diberi sumbangan susu formula. Contoh lain, <em>Centre for Disease Classification (CDC)</em> menemukan setelah terjadi bencana banjir, sekitar 500 anak di Botswana (tahun 2005-2006) ditemukan meninggal dunia setelah mengonsumsi susu formula dari hasil sumbangan.</p>
<p><strong>BAGAIMANA MEDIA BISA MEMBANTU?</strong></p>
<p>Media memiliki peran yang sangat penting untuk melindungi bayi dan anak-anak dalam kondisi darurat dengan menyebaran informasi dukungan terhadap ibu menyusui dan penggunaan susu bubuk dan susu formula yang tepat. Media bisa membantu dengan memasukkan cerita-cerita seperti ini :</p>
<ul>
<li>Dukung ibu untuk tetap menyusui adalah cara yang paling pasti untuk melindungi bayi dalam kondisi darurat.</li>
<li>Menyusui bisa dilakukan seorang ibu dalam kondisi apapun, termasuk jika sedang stress, ibu tetap bisa memberikan susu yang cukup untuk bayinya.</li>
<li>Penggunaan susu bubuk dan susu formula secara sembarangan sangat membahayakan kondisi bayi, menyebabkan sakit bahkan kematian.</li>
<li>Relawan harap menyampaikan bahwa tidak ada kebutuhan untuk susu formula dalam jumlah yang sangat besar pada saat kondisi darurat dan jika benar-benar membutuhkan bisa disediakan secara lokal. Tidak perlu sumbangan susu formula, susu bubuk dan botol bayi dalam kondisi darurat bencana.</li>
<li>Anggota masyarakat dan lembaga bantuan disadarkan bahwa distribusi susu formula dan susu bubuk yang tidak tepat akan dilaporkan kepada pihak yang berwenang.</li>
</ul>
<p><strong>BAGAIMANA MELINDUNGI BAYI DAN ANAK-ANAK DALAM KONDISI DARURAT?</strong></p>
<p>Berikut ini pedoman dan pengelolaan pemberian makanan bayi dalam kondisi darurat :</p>
<ol>
<li>Ibu yang menyusui anaknya harus diberikan dukungan dan bantuan praktis untuk meneruskan menyusui, mereka tidak boleh sembarangan diberikan bantuan susu formula dan susu bubuk.</li>
<li>Ibu yang sudah tidak lagi menyusui, misalnya ibu yang telah menyapih anaknya, harus didukung untuk memulai relaktasi dan mencari ibu susu untuk bayi tanpa ibu.</li>
<li>Jika ada bayi yang tidak bisa disusui, bayi tersebut harus diberikan susu formula dan perlengkapan untuk menyiapkan susu tersebut, dibawah pengawasan yang ketat dan kondisi kesehatan bayi harus tetap dimonitor. Botol bayi sebaiknya tidak digunakan karena risiko terkontaminasi, kesulitan untuk membersihkan botol-gunakan sendok atau cangkir untuk memberikan susu kepada bayi.</li>
<li>Jika susu bubuk yang tersedia dicampur dengan makanan lokal yang ada sebelum didistribusikan, itu juga bukan merupakan pengganti ASI.</li>
<li>Upayakan untuk melindungi dan mendukung menyusui dan memastikan pemberian makanan yang aman untuk anak-anak.</li>
<li>Keadaan darurat bisa digunakan oleh perusahaan susu formula masuk ke ceruk pasar baru dan meningkatkan penjualan. Pemasaran susu formula yang tidak etis adalah masalah dunia dan kode etik internasional telah dikeluarkan untuk memberikan dukungan kepada ibu dan bayi dari pemasaran yang tidak etis ini.</li>
</ol>
<p>Pesan ini disampaikan kepada media yang memiliki dampak pemberitaan sangat luas, mengenai kebutuhan bayi dalam kondisi darurat. Anggota masyarakat, lembaga bantuan dan donor yang ingin memberikan bantuan kepada bayi dan anak-anak bisa mencapatkan informasi yang tepat dan ini bisa membantu untuk melindungi mereka dari praktik-praktik yang berbahaya dan melindungi mereka yang rentan malnutrisi dan ancaman kematian. *****</p>
<p><em>Informasi ini disadur oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dari Operational Guidance for Emergency Relief Staff and Programme Managers in Infant and Young Child Feeding in Emergencies. IFE core Group. <a href="http://www.ennonline.net/">www.ennonline.net</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-aimi-salurkan-sumbangan-untuk-merapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Himbauan AIMI Untuk Donasi Gempa Padang</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 16:08:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[depkes]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[WHO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[AIMI menghimbau agar rekan-rekan dari kalangan profesional, pemerhati kesehatan dan CSR organisasi / perusahaan agar tidak mendonasikan susu formula dan / atau makanan instan ke daerah bencana. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yth Rekan-rekan Profesional, Pemerhati Kesehatan dan CSR Organisasi,</p>
<p>Sedih rasanya melihat Indonesia kembali diguncang gempa berskala besar di kawasan Sumatera &#8211; Padang dan Jambi &#8211; pada tanggal 30 September dan 1 Oktober yang lalu. Tidak terhitung berapa banyak saudara kita yang kehilangan orang tua, anak, sanak saudara, rumah tinggal dan nyawa. Menurut berbagai sumber, sampai dengan hari Jumat, 2 Oktober 2009 yang lalu, jumlah korban meninggal di Padang sudah mencapai 529 orang,  luka berat 83 orang, dan luka ringan 2094 orang. Sementara di Jambi pun tidak kalah banyaknya. </p>
<p>Dari setiap bencana yang terjadi, korban yang paling menderita tentu saja ibu, bayi dan anak-anak di bawah dua tahun. Sayangnya, penanganan terhadap mereka (khususnya bayi dan anak-anak baduta) seringkali tidak sesuai. Alih-allih menyelamatkan mereka, banyak bayi dan anak-anak baduta yang menjadi sakit dan yang parah, angka kematian mereka pun meningkat.</p>
<p>Dalam konteks penanganan bencana, pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak bisa dilakukan dengan sembarangan agar bantuan yang akan kita berikan dengan niat baik, tidak berubah menjadi sumber permasalahan baru bagi korban yang selamat. Untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat. </p>
<p>Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat Menyusui lebih penting Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung. </p>
<p>Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai. Bahkan, Kode WHO, semua sumbangan susu formula atau produk lain dalam lingkup kode tersebut, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas. Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut : </p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.
</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<p>Pada intinya, pedoman pemberian makanan dalam keadaan darurat yang diberikan oleh Departemen Kesehatan sejalan dengan apa yang telah direkomendasikan bersama oleh UNICEF, WHO dan IDAI, yaitu menyusui sangat penting dalam keadaan darurat. Susu formula tidak diperkenankan diberikan kepada bayi kecuali kepada bayi piatu, bayi yang terpisah dari ibunya atau bila ibu dan bayi dalam keadaan sakit berat.</p>
<p>Apabila memang susu formula harus diberikan dikarenakan hal-hal tersebut, maka harus diberikan secara terbatas dengan mengikuti ketentuan berikut ini: </p>
<ol>
<li>Hanya diberikan dengan pengawasan petugas kesehatan </li>
<li>Diberikan dengan cangkir atau gelas karena mudah dibersihkan. Botol dan dot tidak dianjurkan karena sulit dibersihkan dan mudah terkontaminasi </li>
<li>Bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, oleh karena itu relaktasi harus diupayakan sesegera mungkin </li>
</ol>
<p>Oleh karena itu, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan dan menghimbau kepada seluruh organisasi profesi, kesehatan, profesional dan perusahaan untuk tidak memberikan sumbangan dalam bentuk susu formula / makanan instan yang bertujuan untuk menggantikan ASI. </p>
<p>Adalah tanggungjawab kita bersama untuk menjamin kesehatan dan keselesamatan korban bencana, terutama ibu, bayi dan anak-anak baduta dengan mendukung dan mengutamakan pemberian ASI sebagai langkah utama dalam situasi darurat. </p>
<p>Salam,<br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584</p>
<p>Fact Sheet AIMI :<br />
AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.</p>
<p>Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/himbauan-aimi-untuk-donasi-gempa-padang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Gempa Sumatera</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/gempa-sumatera/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/gempa-sumatera/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 15:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia bersedih lagi akibat gempa yang mengguncang Sumatera (Padang dan Jambi) pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 2009 yang lalu. Begitu banyak penduduk yang tidak berdosa – orang tua, remaja, bayi dan anak-anak – yang menjadi korban. Organisasi peduli ASI mengirimkan Tim Lastasi Siaga Bencana yang terdiri dari para Konselor Laktasi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AIMI, Jakarta (1/10): Indonesia bersedih lagi akibat gempa yang mengguncang Sumatera (Padang dan Jambi) pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 2009 yang lalu. Begitu banyak penduduk yang tidak berdosa – orang tua, remaja, bayi dan anak-anak – yang menjadi korban. Dari berbagai sumber diketahui bahwa jumlah korban meninggal di Sumatera Barat sudah mencapai 529 orang, luka berat 83 orang dan luka ringan 2094 orang. Belum lagi korban di Jambi yang tidak kalah banyaknya.</p>
<p>Suasana duka dan kengerian akan terjadinya gempa susulan masih terlihat di wajah penduduk, khususnya mereka yang tinggal di titik-titik gempa. Tidaklah mengherankan jika puskesmas, rumah sakit, serta rumah ibadah yang tidak runtuh akibat gempa menjadi tempat pengungsian sementara yang relatif aman.</p>
<p>Penanganan terhadap korban bencana dilakukan oleh tenaga medis setempat serta para relawan dari berbagai organisasi. Demikian pula penanganan bagi para korban bencana yang lain, terutama kaum ibu, anak-anak, bayi  serta baduta.</p>
<p>Sayangnya, ada penanganan yang kurang tepat dari organisasi-organisasi ini, terutama untuk para bayi dan  baduta (bawah umur dua tahun). Alih-alih mendukung para ibu untuk memberikan ASI, sebagai respon pertama pada situasi darurat (seperti yang dikutip dari tema pekan ASI sedunia 2009: <strong>Breastfeeding, a vital emergency response. Are you ready?</strong>), organisasi dan sebagian besar pendonor malah mengirimkan susu / makanan instan pengganti ASI.</p>
<p>Dalam menanggapi hal ini, Mia Sutanto &#8211; Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) &#8211; mengatakan, &#8220;Dalam situasi darurat, ASI wajib diutamakan. Nilai gizi dan higienitasnya tidak dapat dibandingkan dengan susu formula / makanan pengganti ASI apapun. Penggunaan susu formula / Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tidak tepat, terutama dalam situasi darurat (bencana alam, dll) dapat menimbulkan berbagai persoalan pada bayi dan baduta, misalkan saja diare, ISPA, dan yang terparah adalah kematian.&#8221;</p>
<p>Mia menambahkan, untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi bayi dan balita, dua lembaga kesehatan dunia yaitu UNICEF dan WHO, yang di Indonesia bersama-sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tanggal 7 Januari 2005 mengeluarkan rekomendasi bersama tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat.</p>
<p>Lebih lanjut, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007 pun telah mengeluarkan Pedoman Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat.  Rekomendasi bersama tersebut didasarkan pada Kode Internasional Pemasaran Susu Formula WHO (”Kode WHO”) yang menyatakan bahwa pada operasi penanggulangan bencana, pemberian ASI pada bayi harus dilindungi, dipromosikan dan didukung. Bagaimanapun, menyusui dalam kondisi darurat bencana menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga persediaan susu formula dalam jumlah yang memadai. ”Bahkan semua sumbangan susu formula atau produk makanan bayi lainnya, hanya boleh diberikan dalam keadaan terbatas dan harus ada ijin dari Dinas Kesehatan setempat,” kata Mia.</p>
<p>Lebih rinci, rekomendasi bersama mengatur pemberian makanan utama bagi bayi, sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Menyusui justru menjadi lebih penting karena sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan juga kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.
</li>
<li>Pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.
</li>
<li>Sumbangan susu formula yang diperoleh dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih.</li>
</ul>
<p>Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) juga diatur dalam rekomendasi bersama tersebut antara lain disebutkan bahwa MPASI hanya boleh diberikan setelah bayi berusia 6 bulan, dibuat dengan bahan makanan lokal, MPASI harus mudah dicerna dan pemberiannya harus disesuaikan dengan umur dan gizi bayi serta makanan tersebut harus mengandung kalori dan nutrisi yang cukup.</p>
<p>Oleh karena itulah, AIMI beserta organisasi dan masyarakat pendukung ASI menghimbau seluruh masyarakat terutama tenaga kesehatan untuk mendukung ibu memberikan ASI dalam situasi darurat. Donasi atau bantuan yang diperlukan dapat saja berupa selimut, pakaian layak pakai, obat2an dan hal lain, tetapi janganlah memberikan / menyumbang susu formula atau makanan instan pengganti ASI.</p>
<p>Dalam hal ini AIMI mendukung pengiriman Tim Laktasi Siaga Bencana yang terdiri dari para Konselor Laktasi yang berasal dari berbagai organisasi peduli ASI ke tempat bencana serta membuka dompet donasi untuk mendukung didirikannya posko laktasi di wilayah bencana. Untuk keterangan lebih lanjut tentang donasi ini silahkan mengunjungi website AIMI – www.aimi-asi.org.</p>
<p>***</p>
<p>Fact Sheet AIMI :<br />
AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta.</p>
<p>Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP-ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
<p>***<br />
Contact Person AIMI:<br />
Mia Sutanto, Ketua<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
HP: 081510002584</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo,<br />
Media Relations<br />
sisca@aimi-asi.org<br />
HP : 0818765021</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/gempa-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penggalangan Dana Bencana Gempa Sumatera Barat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/penggalangan-dana-bencana-gempa-sumatera-barat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/penggalangan-dana-bencana-gempa-sumatera-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 04:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia kembali berduka. Setelah tragedi Situ Gintung, gempa di Jawa Barat, sekarang Sumatera Barat juga diguncang gempa. Korban jiwa terus bertambah karena masih banyak yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sedih rasanya mendengar berita bahwa bencana alam kembali lagi mengunjungi tanah air kita yang tercinta ini. Semoga mereka diberikan ketabahan dan kekuatan untuk melewati hari-hari yg berat ini. Amin.</p>
<p>Kami dari AIMI merasa sangat tergerak untuk membantu saudara-saudara kita yg terkena musibah ini, terutama para ibu-ibu yang masih memiliki bayi dan balita, apalagi jika anak-anak yg tidak berdosa tersebut masih menyusui.</p>
<p>Beberapa organisasi dan LSM peduli ASI akan mengirimkan konselor laktasi yg tergabung dalam Tim Laktasi Bencana, dan AIMI bermaksud untuk membantu dalam hal penggalangan dana.</p>
<p>Bagi yang tergerak hatinya untuk turut menyumbangkan dana, bisa disalurkan melalui AIMI ke rekening-rekening berikut ini:</p>
<blockquote><p>BCA cab Gondangdia Jakarta Pusat, no rek. <strong>4551165722</strong><br />
Bank Mandiri cab Cikini Jakarta Pusat, no rek <strong>1230004510253</strong></p>
<p>Kedua rekening tersebut adalah atas nama: <strong>Irawati Budiningsih</strong>.
</p></blockquote>
<p>Jangan lupa dibagian keterangan ditulis: Donasi Gempa Padang (AIMI).</p>
<p>Sama dengan halnya pada waktu bencana Situ Gintung, seluruh dana yg dikumpulkan akan secara transparan dilaporkan dan dipublish di website AIMI sehingga siapapun bisa mengaksesnya.</p>
<p>Terima kasih dari lubuk hati kami yang paling dalam atas kepedulian para moms and dads semua, hanya Tuhan YME yang bisa membalas kebaikan hati kalian.</p>
<p>Salam ASI,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/penggalangan-dana-bencana-gempa-sumatera-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Donasi AIMI Emergency Response for Situ Gintung</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/04/laporan-donasi-aimi-emergency-response-for-situ-gintung/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/04/laporan-donasi-aimi-emergency-response-for-situ-gintung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 14:23:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[Response yang diberikan untuk AIMI Emergency Response for Situ Gintung, cukup menggembirakan. Berikut laporan yang kami terima dari tg. 31 Maret 2009 hingga 2 April 209.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear moms &#038; dads,</p>
<p>Terima kasih banyak atas donasi yang sudah diberikan lewat program AIMI Emergency Response for Situ Gintung.</p>
<p>Berikut ini data laporan donasi berupa uang tunai yang masuk ke rekening yang digunakan untuk AIMI Emergency Response for Situ Gintung, mulai 31 Maret 2009 hingga 2 April 2009.</p>
<p>Melalui Rekening BCA</p>
<table>
<tr>
<td width="10%">No.</td>
<td width="45%">Nama</td>
<td width="45%">Jumlah</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">1.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rumiris T Simanjuntak</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">2.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Oki Suprayogi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 50.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">3.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Sri Kriscahyani WU</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 300.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">4.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Laura Lalitanaya </div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 2.100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">5.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rina Dwikharisti</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">6.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Setoran Tunai</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">7.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN, Sidney</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">8.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dyatar Wahyu Dwi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">9.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Esti Puji Lestari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 300.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">10.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Pangastuti Sri Han</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 50.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">11.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rini Suluhaningti</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">12.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Irvan Imandaris</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">13.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dhiti Ismawardhani</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">14.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Chrisandini</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">15.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dian Kristiani</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">16.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Ronald Hartanto</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">17.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dwi Ria Andari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 800.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">18.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">SuryaWidyanto</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">19.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dwi Ria Andari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">20.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Abdul Fattah</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 1.000.000,-</div>
</td>
</tr>
</table>
<p>Melalui Bank Mandiri</p>
<table>
<tr>
<td width="10%">No.</td>
<td width="45%">Nama</td>
<td width="45%">Jumlah</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">1.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Farida Kenyawati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 300.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">2.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Errina Hadisavitri</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">3.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Tunai</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 5.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">4.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Ratna Hartanti</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">5.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Fitria Widyasari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">6.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rachmadhani</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">7.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Astari Wirastuti</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">8.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Prishy Ratrisadewi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">9.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Titin Yunaini</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">10.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Nyekarini Puspita</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">11.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Miselina Sinulingga</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp 200.000,-</div>
</td>
</tr>
</table>
<p>Sedangkan donasi berupa pakaian dan selimut bayi-balita layak pakai, masih kami kumpulkan dari beberapa drop box yang ada dan akan kami sampaikan menyusul.</p>
<p>Untuk donasi pakaian dan selimut bayi-balita layak pakai, terakhir pengumpulan adalah hari Minggu, 5 April 2009 jam 12.00 siang di drop box berikut ini :</p>
<ol>
<li>Sekretariat AIMI – Graha MDS lt.4, Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34 Jln. RS Fatmawati No.39 Jakarta Telp : 021-72790165 (CP. Yuli)</li>
<li>Untuk wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Pusat : Jl. Alu-Alu No. 29, Rawamangun (CP. Putri – 08111909060)</li>
<li>Untuk wilayah Jakarta Barat : Jl. Pos Pengumben Kompleks Bulog A-1 (CP. Niken – 08161918850)</li>
<li>Untuk wilayah Bintaro dan BSD : Jl. Unggun Blok U no.319 Mabad 25, Rempoa Bintaro (CP. Antie – 085710007715)</li>
<li>Untuk wilayah Depok : Jl. Tebu 151, Depok Utara (CP. Sisca – 0818765021)</li>
</ol>
<p>Sedangkan untuk donasi berupa Dana, masih kami tunggu hingga waktu yang ditentukan kemudian dan kami akan memberikan laporan penerimaan donasi uang per 3 hari.</p>
<p>Donasi berupa uang bisa disalurkan melalui rekening berikut ini :</p>
<blockquote><p>BCA cab. Gondangdia Lama<br />
No. Rek. 4551165722 a/n IRAWATI BUDININGSIH</p></blockquote>
<p>Atau</p>
<blockquote><p>Bank Mandiri cab. Jkt Cikini<br />
No. Rek. 123-00-0451025-3 a/n IRAWATI BUDININGSIH</p></blockquote>
<p>Untuk konfirmasi sumbangan dapat mengirimkan email ke irawati[at]aimi-asi.org atau melalui sms ke 0811804682 dengan format : AIMIGintung <spasi> Nama <spasi> Jumlah Donasi <spasi> Nama Bank Tujuan Transfer</p>
<p>Contoh : AIMIGintung Muhammad Ammar Rp. 200.000 Bank Mandiri</p>
<h3>PENGGUNAAN DANA</h3>
<p>Untuk penggunaan dana, akan kami laporkan perinciannya setelah program ini dinyatakan ditutup. Untuk informasi, donasi dana yang kami terima dipergunakan untuk pengadaan MPASI bagi bayi dan balita di Situ Gintung.</p>
<p>Sekali lagi kami ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas partisipasi dan bantuannya. Insya Allah semua akan diberikan balasan oleh Allah SWT..amiin..</p>
<p>Untuk info program AIMI Emergency Response for Situ Gintung bisa melalui email ke: yeye [at] aimi-asi [dot]org</p>
<p>Salam ASI!</p>
<p>Divisi Komunikasi AIMI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/04/laporan-donasi-aimi-emergency-response-for-situ-gintung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

