<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 02:00:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Menyusui; Dari &#8216;Biasa&#8217; Menjadi &#8216;Tidak Biasa&#8217;</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/07/menyusui-dari-biasa-menjadi-tidak-biasa/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/07/menyusui-dari-biasa-menjadi-tidak-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 02:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Internasional Pemasaran Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=918</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu sekali menyusui anak adalah hal wajar yang dilakukan oleh para ibu untuk bayinya. Tapi sekarang dengan bertambah majunya zaman, banyak ibu yang telah meninggalkan kebiasan ini, sehingga banyak anak yang terlihat memegang botol kemanapun mereka pergi. Sesuatu yang 'biasa' telah menjadi 'tidak biasa' dan begitu juga sebaliknya. Kenapa dan sejak kapan ini terjadi?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coba kita perhatikan di lingkungan sekitar kita, lingkungan rumah, pertokoan sampai kendaraan umum. Atau kita juga bisa lihat di media seperti televisi, koran, majalah dan internet. Mana yang lebih sering kita lihat? Gambaran ibu menyusui atau ibu memberikan susu dalam botol kepada bayi atau anaknya?</p>
<p>Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada saya, maka jawabannya adalah saya lebih sering lihat bayi yang diberikan susu melalui botol. Mulai dari yang bayi baru lahir sampai anak-anak usia dibawah lima tahun (bahkan kadang-kadang saya pernah menemui anak usia sekolah) yang masih memegang botol susu kemanapun mereka pergi. Ada yang isi botolnya terlihat seperti susu formula, tapi tidak sedikit yang saya lihat botolnya berisi air putih, teh dan juga susu yang berasal dari susu kental manis (yang sudah jelas-jelas tertulis di kemasannya: “Perhatikan! Tidak cocok untuk bayi.”) Sepertinya ini sudah merupakan hal yang ’biasa’ kita lihat sehari-hari. Padahal jika kita melihat kembali ke beberapa abad yang lampau, nampaknya menyusuilah yang yang ‘biasa’ dilihat.</p>
<p>Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah semua ibu pada beberapa abad silam tersebut menyusui bayinya? Jawabannya <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-nia-nabil-300x262.jpg" alt="" title="07-nia-nabil" width="300" height="262" class="alignright size-medium wp-image-922" />tidak semua, ada segelintir ibu yang tidak menyusui bayinya. Ada yang mempekerjakan ibu susuan (atau dikenal juga dengan istilah <em>wet nurse</em>). Biasanya ibu susuan ini dibayar untuk menggantikan ibu susu yang berhalangan untuk bisa menyusui karena bekerja atau karena profesinya sebagai bangsawan di kalangan elit di Eropa. Bisa dibilang, ibu susuan merupakan profesi yang cukup diminati. Pada masanya, menjadi ibu susuan mirip dengan memberikan layanan katering. Jasa katering yang biasa dipakai bangsawan dan kerajaan memiliki tarif berbeda dengan katering untuk rakyat biasa. Mirip dengan status ibu susuan yang juga bergantung pada anak siapa yang disusuin. Semakin tinggi derajat bayi yang disusui, maka semakin tinggi kelas si ibu susuan, walaupun tujuannya sama: memberikan nutrisi dan kepuasan bagi pelanggan akan ASI.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-1' id='fnref-918-1'>1</a></sup></p>
<p>Ada satu kisah yang sangat menarik juga mengenai ibu susuan dan merupakan salah satu ibu susuan yang ternama di tahun 1831, Judith Waterford. Di usianya yang ke 81 tahun, dia menunjukkan bahwa dia masih bisa menyusui dan memerah ASInya. Dia menyusui enam anaknya sendiri, delapan anak susuan rutin dan banyak lagi anak-anak teman dan tetangganya. Bahkan yang paling kita juga sering dengar kisahnya adalah Halimatus Saadiah yang menyusui Nabi Muhammad SAW dan ada juga kisah Naomi di kitab Perjanjian Lama yang menyusui kembali cucunya agar Ruth, ibu dari bayinya, bisa ikut berperang setelah suaminya terbunuh.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-2' id='fnref-918-2'>2</a></sup></p>
<p>Jadi saya kembali ke pertanyaan awal, mengapa sekarang, setelah ribuan tahun manusia yang tergolong mahluk mamalia yang bertahan hidup beribu-ribu tahun lamanya karena mendapatkan ASI ibunya setelah kelahirannya, pada beberapa abad terakhir justru malah melihat proses menyusui menjadi hal yang ‘tidak biasa’? Apa penyebabnya dan mengapa ini bisa terjadi? </p>
<h3>Awal Mulanya&#8230;</h3>
<p>Di  akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, dunia diguncangkan dengan adanya Revolusi Industri. Diawali dengan ditemukannya mesin uap oleh George Stevenson. Sejak saat ini, semua orang berlomba-lomba membuat mesin dan mulai meninggalkan peralatan kerja sederhana untuk mulai bekerja di pabrik-pabrik. Perekonomian di Inggris tumbuh pesat dan tidak lama kemudian Inggris menjadi sangat terkenal akan inovasi dan dihormati oleh banyak pihak di dunia. Revolusi Industri pun dengan cepat ditiru oleh banyak negara. Hal ini lalu diikuti dengan lahirnya produk makanan pengganti ASI. Pada tahun 1860an, seorang ahli kimia, Justus von Liebeg menemukan ‘makanan yang cocok untuk bayi’ yang terbuat dari campuran tepung gandum, susu sapi dan bahan-bahan lainnya dan dalam bentuk cair. Pada awalnya penjualan produk ini tidak terlalu bagus dan Liebig selalu merasa terganggu bila ada dokter yang melaporkan bahwa makanan ini tidak mudah dicerna oleh bayi.</p>
<p>Walaupun ada keluhan-keluhan tersebut, namun tidak mengurangi semangat seorang Jerman lainnya yang bernama Henri Nestlé, seorang penyalur makanan yang mengklaim telah menyelamatkan seorang bayi yang menolak menyusu pada ibunya dan menolak makanan lain. Bayi tersebut bisa mengonsumsi ‘Susu Makanan Nestlé’. Pada tahun 1873 saja Nestlé sudah berhasil 500.000 boks per tahun di Eropa, Amerika Serikat, Argentina dan Meksiko.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-3' id='fnref-918-3'>3</a></sup></p>
<p>Pada era ini inovasi dalam teknologi  dan metode ‘<em>modern</em>’ menjadi tren. Perempuan merasa ‘terbebaskan’ dari tugas alaminya dari penemuan ini dan banyak yang menganggap ini sebagai ‘pembebasan’. Membaiknya industri peternakan juga membuat produksi susu berlebih. Pada tahun 1853 susu kental manis ditemukan dan mulai sejak 1891 sudah muncul modifikasi lain dalam susu sapi sehingga membuat para bayi untuk pertama kalinya bisa meminum susu sapi tanpa melibatkan salah satu pun anggota keluarganya membuat ‘kontak langsung’ dengan seekor sapi. Pada 1897 botol susu mulai dipatenkan dan semua ini diiklankan dan dipromosikan sebagai produk ideal bagi bayi dan dijual langsung ke pasar. Ada pula para dokter yang melayani para pasien-pasien kaya, di mana dokternya membuatkan sendiri ‘formula’ khusus yang cocok untuk bagi setiap bayi. Namun ‘formula’ ini tidak bertahan lama karena sangat rentan dan tidak terlalu mudah diakses, karena campurannya berubah dan dalam beberapa minggu orangtua si bayi harus berulang kali kembali ke dokter tersebut untuk membeli susu dengan ‘formula’ baru.</p>
<p>Ketika para dokter berusaha menyebarkan manfaat ‘formula’ yang mereka buat, para orang tua lebih tertarik dengan makanan bayi yang dijual bebas di pasaran. Makanan ini mudah didapat dan sudah mulai diiklankan mulai dari majalah, jurnal kesehatan dan jauh lebih mudah diolah dibanding kan ‘formula’ yang dibuat khusus oleh dokter anak. Para produsen ini menyadari kelemahan ‘formula’ yang dibuat oleh para dokter dan mulai menggandeng dokter dalam memasarkan produk mereka. Pada tahun 1911 seorang dokter bernegosisasi dengan Mead-Jhonson untuk membuat formula yang dia miliki bernama Dextri-Maltrose dan produk ini dites pada bangsal bayi di New York Post-Graduate Hospital. Sejak saat itu pulalah para dokter mulai merekomendasikan merek-merek tertentu untuk diberikan kepada bayi. Kedekatan hubungan antara para dokter dan produsen di Amerika Serikat inilah yang akhirnya dijadikan model dan strategi pemasaran produk makanan pengganti untuk para bayi di belahan dunia lain.</p>
<p>Kemajuan teknologi dalam memproses makanan yang terbuat dari susu (termasuk membuat susu menjadi dalam bentuk bubuk) memudahkan transportasi dan distribusinya. Tidak lama setelah perang dunia kedua, pemberian susu botol menjadi metode yang lazim dilakukan di Amerika Serikat dan sebagain negara-negara di Eropa. Persentase menyusui menurun drastis hingga setengahnya mulai dari tahun 1946. Pada tahun 1967 hanya 25% bayi di Amerika Serikat yang dilahirkan di RS yang mendapatkan ASI.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-4' id='fnref-918-4'>4</a></sup> Hal ini mengakibatkan banyak ibu tidak bisa menyusui bayinya dan menyulitkan para ibu untuk bisa menyusui. Hanya sedikit ibu yang masih bisa menyusui dan inipun jika mendapatkan dukungan dan bantuan yang tepat. Pada tahun 1960an dan 1970an memberikan susu botol kepada bayi sudah menjadi hal yang ‘normal’ dilakukan kepada bayi.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-5' id='fnref-918-5'>5</a></sup></p>
<h3>Apa yang ‘Biasa’ Belum Tentu ‘Benar’</h3>
<p>Akibat dari maraknya penjualan susu formula dan menurunnya prosentase bayi yang mendapatkan ASI, ditambah banyaknya riset-riset yang menunjukkan keunggulan ASI, mengakibatkan lahirnya Kode Etik Pemasaran Produk Pengganti ASI oleh WHO. Kode ini bersifat fleksibel di setiap negara dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara dan bertujuan melindungi para orang tua untuk bisa memberikan ASI bagi anak-anak mereka. Ada pun isi dari kode etik ini adalah:</p>
<p>Kode etik ini berlaku untuk: Susu buatan untuk bayi, Produk-produk yang digunakan untuk memberi asupan kepada bayi, terutama produk yang digunakan dengan botol susu atau untuk bayi berumur di bawah 6 bulan. Kode etik ini juga berlaku untuk produk botol susu atau dot bayi/empeng.</p>
<p>Berikut adalah 10 poin penting dari Kode Etik tersebut:</p>
<ol>
<li>tidak boleh ada iklan dari semua produk dalam kategori di atas, yang ditujukan untuk publik.</li>
<li>tidak boleh ada contoh gratis untuk ibu-ibu.</li>
<li>tidak boleh ada media promosi (penempatan media atau iklan) di lokasi fasilitas kesehatan, termasuk pembagian contoh gratis atau contoh yang dimurahkan.</li>
<li>tidak boleh ada petugas penjualan (sales representatif) dari perusahaan yang menjadi/memberi konsultansi kepada ibu-ibu.</li>
<li>tidak boleh ada pembagian contoh produk gratis kepada petugas kesehatan.</li>
<li>tidak boleh ada kata-kata (slogan) atau gambar yang menunjukkan bahwa asupan non-asi itu lebih baik, atau gambar bayi (yang sehat) pada label kemasan produk susu.</li>
<li>informasi yang diberikan kepada petugas kesehatan hanyalah yang bersifat scientific/ilmiah dan faktual.</li>
<li>semua informasi tentang asupan non-asi, termasuk pada label kemasan produk, harus mencantumkan manfaat asi, dan risiko serta bahaya yang berkaitan dengan penggunaan asupan non-asi.</li>
<li>produk yang belum saatnya diberikan kepada bayi, seperti pemanis yang padat, tidak boleh dipromosikan kepada bayi (orang tua atau keluarga dengan bayi).</li>
<li>untuk menghindari benturan kepentingan, para profesional di bidang kesehatan yang bekerja untuk bayi dan anak-anak, tidak boleh menerima dukungan keuangan dari produsen makanan bayi atau anak.<sup class='footnote'><a href='#fn-918-6' id='fnref-918-6'>6</a></sup></li>
</ol>
<p>Namun sampai saat ini masih bisa kita temukan pelanggaran-pelanggaran kode etik ini. Salah satu yang paling kita sering jumpai adalah: iklan (walaupun iklannya membahas tentang ASI dan tidak memperlihatkan produk tertentu) atau poster di RS, hadiah-hadiah di RS seperti jam dinding, kalender, pulpen. Ini merupakan hal yang ‘biasa’ kita temukan dan dianggap sebagai hal yang ‘biasa’ saja oleh kita. Padahal hal ini melanggar kode etik dari pemasaran produk pengganti ASI. </p>
<p>Kita juga sudah ter‘biasa’ mendengar pertanyaan “oh masih ASI ya Bu? Sudah <em>dibantu</em> susu formula?”. Kenapa saya tulis miring kata ‘dibantu’? Karena dari berbagai sumber dan penelitian menunjukkan bahwa dalam manajemen laktasi yang baik, ketika seorang bayi mendapatkan ‘bantuan’ berupa susu formula, maka sedikit banyak itu akan mengakibat kesulitan menyusui pada si bayi. Padahal banyak orang berpikir susu formula ini hadir untuk ‘membantu’. </p>
<p>Beberapa hari yang lalu, saya mendapat sebuah undangan untuk menghadiri sebuah seminar mengenai ASI. Pada undangan tersebut, terdapat foto ibu sedang memberikan susu botol kepada bayinya. Ketika saya bertanya ke teman-teman saya, jawabannya adalah “yah berpikir positif saja.. jangan-jangan didalam botol itu ASI”. Padahal jika dipikir dengan bahasa komunikasi, foto tersebut jelas-jelas menggambarkan pemberian asupan selain ASI, karena ‘biasa’nya pemberian ASI dilakukan langsung dari payudara ibu. Bisa kita cermati bersama bagaimana kondisi ‘biasa’ ini bisa terputarbalikkan. </p>
<p>Mudah-mudahan seiring dengan kesadaran untuk kembali ke ASI dan majunya teknologi informasi seperti internet, media dan lain-lain bisa membantu para orang tua mengingatkan apa asupan yang sebenarnya ‘biasa’ dan alamiah untuk anak-anak mereka, yakni ASI.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 205 kali.</p>
<div class='footnotes'>
<div class='footnotedivider'></div>
<ol>
<li id='fn-918-1'>Palmer, G. The Politics of Breastfeeding, 1988. p. 134 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-1'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-2'>Groskop, Viv. <a href="http://www.guardian.co.uk/society/2007/jan/05/health.medicineandhealth">Not your mother&#8217;s milk</a> <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-2'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-3'>Palmer, G. The Politics of Breastfeeding, 1988. p. 163 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-3'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-4'>Jellife, Human Milk in the Modern World, 1978, p. 189 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-4'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-5'>Palmer, G. The Politics of Breastfeeding, 1988. p. 178 <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-5'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-918-6'>Terjemahan bebas dari <a href="http://www.asipasti.co.cc/2008/01/kode-etik-internasional-untuk-promosi.html">kode etik WHO</a> <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-918-6'>&#8617;</a></span></li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/07/menyusui-dari-biasa-menjadi-tidak-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Breastfeeding Fair Surabaya</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/07/breastfeeding-fair-surabaya/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/07/breastfeeding-fair-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 02:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Fair]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui Serentak]]></category>
		<category><![CDATA[Mitos ASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=905</guid>
		<description><![CDATA[BREASTFEEDING FAIR dalam rangka Pekan ASI Sedunia Hari Sabtu &#038; Minggu, tanggal 7-8 Agustus 2010 Tempat di City of Tomorrow (CITO) Jalan Ahmad Yani No. 1, Surabaya Sabtu, 7 Agustus 2010 : 10.00 &#8211; 21.00 : Breastfeeding Fair 10.30 &#8211; 12.30 : Talkshow 1 + demo &#8220;MPASI sehat dan alami&#8221; oleh Wied Harry Apriadjipendaftaran Rp. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BREASTFEEDING FAIR dalam rangka Pekan ASI Sedunia</p>
<p>Hari Sabtu &#038; Minggu, tanggal 7-8 Agustus 2010<br />
Tempat di City of Tomorrow (CITO)<br />
Jalan Ahmad Yani No. 1, Surabaya</p>
<p>Sabtu, 7 Agustus 2010 :</p>
<table width="100%">
<tr>
<td width="20%">10.00 &#8211; 21.00</td>
<td width="3%">:</td>
<td width="77%">
<div style="text-align: left; padding-left: 5px;">Breastfeeding Fair</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>10.30 &#8211; 12.30</td>
<td>:</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px;">Talkshow 1 + demo &#8220;MPASI sehat dan alami&#8221; oleh Wied Harry Apriadji<br />pendaftaran Rp. 25.000,- (sudah termasuk Goodie Bag)</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>15.30 &#8211; 17.00</td>
<td>:</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px;">Talkshow 2 &#8220;Peran Keluarga untuk Sarjana ASI&#8221; oleh dr. Astri Pramarini (free)</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>18.00 &#8211; 19.30</td>
<td>:</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px;">Talkshow 3 &#8220;Manfaat dan Mitos ASI&#8221; oleh dr. Hartojo, SpA (free)</div>
</td>
</tr>
</table>
<p>Minggu, 8 Agustus 2010 :</p>
<table width="100%">
<tr>
<td width="20%">10.00 &#8211; 21.00</td>
<td width="3%">:</td>
<td width="77%">
<div style="text-align: left; padding-left: 5px;">Breastfeeding Fair</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>09.30 &#8211; 12.00</td>
<td>:</td>
<td>
<div style="text-align: left; padding-left: 5px;">Menyusui Bersama dan Talkshow 4 &#8220;Breastfeeding : A New Life style&#8221; oleh Widi Mulia, Mia Sutanto dan dr. M. Rizal Altway, SpA<br />pendaftaran Rp. 25.000,- (sudah termasuk Goodie Bag)</div>
</td>
</tr>
</table>
<p>Informasi dan Pendaftaran :<br />
0888 671 8445<br />
081 133 2733<br />
031 7713 1100</p>
<p>Email : aimi.jatim[at]gmail.com atau jatim[at]aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/07/breastfeeding-fair-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minggu Pertama yang Menentukan</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/07/minggu-pertama-yang-menentukan/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/07/minggu-pertama-yang-menentukan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 08:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sari Intan Kailaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[baby blues]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[Jaundice]]></category>
		<category><![CDATA[Kuning]]></category>
		<category><![CDATA[pelekatan]]></category>
		<category><![CDATA[postpartum depression]]></category>
		<category><![CDATA[puting lecet]]></category>
		<category><![CDATA[Rawat gabung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=873</guid>
		<description><![CDATA[Orang tua mana pun pasti sangat menantikan kehadiran buah hatinya. Semua keperluan bayi sudah disiapkan, tidak ketinggalan niat untuk memberikan ASI. Tapi setelah bayi lahir dan diminggu-minggu pertama masih banyak orang tua atau ibu yang menemukan kendala dalam pemberian ASI. Apa sih yang harus orang tua ketahui pada minggu pertama menyusui? Ikuti sharing Konselor Laktasi AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat mengandung anak kedua kami, banyak pertanyaan dan keraguan hinggap di pikiran saya. Kondisinya sangat jauh berbeda dengan saat mengandung anak pertama (Deyka, sekarang 4 tahun).</p>
<p>Dulu, kami masih sangat ‘polos’. Sepanjang masa kehamilan ya hanya memikirkan kesehatan kehamilan dan bayi <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-sari-kids-300x206.jpg" alt="" title="07-sari-kids" width="300" height="206" class="alignleft size-medium wp-image-897" />dalam perut. Lebih banyak membaca info seputar kehamilan dan persalinan. Soal nanti apa yang harus dilakukan setelah bayi lahir, kami ‘pasrah’ 100% pada rumah sakit dan tenaga kesehatan, plus orangtua dan mertua yang pasti siap mendampingi.</p>
<p>Ketika mengandung anak kedua, kami sudah jauh lebih mengerti apa saja yang akan dihadapi dan harus dilakukan saat bayi lahir nanti.</p>
<p>Sudah hampir 2 tahun, saya menjadi Konselor Laktasi, sudah lebih paham ilmu manajemen laktasi, dan sudah berkali-kali memberi konseling menyusui dengan beragam kasus kesulitan menyusui.</p>
<p>Tetapi ternyata, pengalaman menjadi konselor malah membuat saya bertanya-tanya, apakah pengetahuan tersebut akan cukup membantu di saat saya menghadapi sendiri permasalahan dalam menyusui nantinya? Apalagi saya pernah bertemu dengan seorang konselor laktasi yang gagal menyusui bayinya, walaupun saat itu dia sudah punya pengetahuan yang cukup.</p>
<p>Alhamdulillah, saat ini saya sangat menikmati menyusui bayi kecil kami, Naqiya. Usianya saat ini baru 4 minggu dan kami sangat bersyukur tidak ada masalah yang berarti dalam menyusuinya sejak ia lahir.</p>
<p>Andai saja setiap ibu yang akan melahirkan tahu dan mengerti apa yang akan ia hadapi dalam MINGGU PERTAMA menyusui, dan apa yang harus ia lakukan, tentu akan sangat menolong mencegah terjadinya kasus-kasus tersebut. </p>
<p>Berikut ini saya ingin berbagi beberapa hal dari pengalaman saya, yang mungkin perlu diketahui seorang calon ibu agar bisa mendapatkan minggu pertama yang menyenangkan nantinya.</p>
<ol>
<li>Inisiasi Menyusu Dini</li>
<p>IMD adalah satu langkah penting untuk mengawali masa menyusui yang menyenangkan. <a href="http://aimi-asi.org/2010/05/imd/">Proses IMD</a> yang tepat selain sangat penting bagi kesehatan bayi, juga membantu ibu <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-IMD-300x225.jpg" alt="" title="07-IMD" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-898" />dan bayi lebih tenang setelah proses persalinan yang melelahkan, mempercepat produksi ASI, dan membantu bayi lebih cepat ‘mahir’ menyusu. Pastikan Anda menemukan <a href="http://aimi-asi.org/2010/05/inisiasi-menyusu-dini-repot-ya/">fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang paham benar mengenai IMD dan bersedia memberi kesempatan IMD</a> saat Anda melahirkan nanti.</p>
<p>Kontak kulit segera setelah kelahiran bayi, yang dilakukan selama minimal satu jam (dan sebaiknya dilanjutkan selama dan sesering mungkin di minggu-minggu pertama) memiliki banyak manfaat, di antaranya bayi menjadi:</p>
<ul>
<li>lebih mudah melakukan pelekatan</li>
<li>mampu mempertahankan suhu tubuh normal, bahkan lebih baik dibandingkan dengan penggunaan inkubator</li>
<li>mampu mempertahankan detak jantung, laju pernafasan dan tekanan darah yang normal</li>
<li>memiliki kadar gula darah lebih tinggi</li>
<li>lebih jarang menangis</li>
<li>lebih besar kemungkinannya untuk mendapat ASI eksklusif dan menyusu lebih lama</li>
<li>lebih mudah memberi tanda pada ibunya jika ingin menyusu<sup class='footnote'><a href='#fn-873-1' id='fnref-873-1'>1</a></sup></li>
</ul>
<p><em>Proses IMD Naqiya berlangsung 1 jam 50 menit. Ia berhasil mencapai puting di 1 jam 35 menit. Alhamdulillah, saya melahirkan di rumah sakit yang sudah menerapkan IMD dalam prosedur standar persalinannya. Namun, interupsi tetap ada. Setiap setengah jam bidan menghampiri dan menanyakan apakah bayi sudah boleh diangkat dari dada saya. Jika saya tidak tahu bahwa IMD harus dilakukan minimal selama 60 menit dan dapat dilanjutkan hingga 2 jam atau hingga bayi selesai menyusu, tentu saya sudah menurut. Itulah sebabnya, walaupun sudah menemukan fasilitas kesehatan yang menerapkan IMD, sebaiknya kita sebagai pasien tetap membekali diri dengan pengetahuan dasar mengenai IMD, ASI dan menyusui.</em></p>
<li>Rawat Gabung</li>
<p>IMD harus diikuti dengan rawat gabung ibu dan bayi. Prinsip utama IMD yaitu mendekatkan bayi pada ibu dan mengoptimalkan kontak kulit ibu dan bayi menjadi ”tidak tuntas” jika setelah itu bayi dipisahkan dari ibunya.</p>
<p>Tidak ada alasan medis untuk memisahkan bayi dan ibu yang sehat setelah persalinan, bahkan untuk waktu singkat, dan bahkan pada persalinan dengan tindakan operasi sekalipun. Penelitian membuktikan bahwa rawat gabung selama 24 jam sehari meningkatkan kesuksesan menyusui, mengurangi tingkat stres/frustrasi pada bayi, dan membuat ibu lebih bahagia. Salah satu alasan yang sering digunakan untuk memisahkan ibu dan bayi adalah bahwa bayi menelan mekonium (kotoran bayi saat di dalam rahim) sebelum lahir. Bayi yang menelan mekonium dan baik-baik saja beberapa menit setelah lahir sebenarnya akan baik-baik saja seterusnya dan tidak perlu ditempatkan di inkubator selama beberapa jam untuk ”observasi”.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-2' id='fnref-873-2'>2</a></sup></p>
<p><em>Setelah saya dibersihkan dan Naqiya dipakaikan baju, kami langsung diantar ke kamar inap (sekitar pukul 00.30 dini hari). Naqiya langsung tidur bersama saya di satu tempat tidur (bedding in).</p>
<p>Pukul 04.00 Naqiya terbangun dan gelisah. Saya refleks langsung menyusuinya. Namun ia menolak. Insting saya mengatakan saya harus memeluknya. Begitu dipeluk dekat ke dada saya, Naqiya tenang dan tertidur lagi. Lalu suami membantu saya memposisikan Naqiya di dada (seperti saat IMD) dan menyamankan posisi bantal dan kepala tempat tidur. Saya dan Naqiya tidur berpelukan dengan tangan saya dibawah bajunya (kontak kulit langsung) hingga pagi. Pagi hari sekitar pukul 07.00 barulah Naqiya mulai menyusu.</p>
<p>Suami saya berkomentar, ternyata memang Naqiya belum butuh menyusu di dini hari tadi, ia hanya butuh dekat Bundanya. Kami bertanya-tanya, kalau tidak rawat gabung, apa yang akan dilakukan perawat pada bayi baru lahir yang terbangun dan gelisah? Yang kami tahu, kemungkinan besar diberi susu formula atau empeng. Padahal mungkin dia hanya perlu pelukan ibunya dan belum perlu minum apa-apa. Kalaupun perlu minum, yang dibutuhkannya tentunya kolostrum, bukan cairan lain. Saat itu kami benar-benar bersyukur bahwa kami tidak menganggap remeh prosedur rawat gabung. Kami sengaja memilih rumah sakit yang lebih jauh dari rumah dan pelayanannya secara umum tidak begitu sempurna, demi mendapat jaminan rawat gabung 24 jam (karena rumah sakit tersebut tidak memiliki kamar bayi sehat, jadi semua pasien pasti rawat gabung).</p>
<p>Manfaat lain yang kami rasakan dari IMD dan rawat gabung yang optimal adalah, Naqiya (dan saya) sangat tenang. Keberadaan ibu yang selalu di dekat bayi, membuat ibu lebih responsif pada setiap kebutuhan bayi. Ibu yang responsif membuat bayi merasa lebih aman dan tenang. Bayi yang tenang dan tidak rewel membuat ibu merasa lebih percaya diri, memudahkannya menyusui dan mencegah baby blues.</em></p>
<p>Tahukah Anda bahwa bayi sudah menunjukkan tanda haus/lapar jauh sebelum ia menangis? Contohnya, tarikan nafasnya berubah atau ia meregangkan tubuh. Ibu yang tidur bersama bayi umumnya akan segera terbangun, ASInya akan mulai mengalir dan bayi yang masih cukup tenang akan dengan mudah melekat pada payudara. Bayi yang seringkali sudah mulai menangis sebelum mendapatkan payudara, umumnya akan lebih mudah menolak payudara walaupun ia sangat lapar, sehingga mempersulit pelekatan. Oleh sebab itu, prosedur fasilitas kesehatan yang kerap kali ”menawar” rawat gabung menjadi ”bayi diantar kalau ingin menyusu” atau ”ibu boleh ke ruang bayi jika ingin menyusui” harus diubah total menjadi rawat gabung 24 jam sehari. Rawat gabung adalah cara terbaik bagi ibu untuk dapat beristirahat sambil menyusui. Dengan demikian, menyusui menjadi menenangkan, dan bukan melelahkan.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-3' id='fnref-873-3'>3</a></sup></p>
<li>Belajar Menyusu dan Menyusui</li>
<p>Di hari pertama kelahiran bayi, ibu dan bayi akan saling belajar mengenal lewat proses menyusui. Walaupun sudah memiliki anak sebelumnya, setiap ibu tetap akan kembali belajar menyusui bayi barunya.</p>
<p>Hal pertama yang harus diperhatikan, bahkan disebut sebagai kunci sukses menyusui oleh pakar laktasi asal Kanada, dr. Jack Newman, MD, FRCPC, adalah pelekatan mulut bayi dengan payudara. Bayi baru lahir (dan ibu) seringkali mengalami kesulitan melakukan pelekatan yang sempurna di awal masa menyusui. Pelekatan yang tidak sempurna bisa berujung pada berbagai masalah, mulai dari puting lecet, bayi sering kolik, hingga kurangnya peningkatan berat badan bayi.</p>
<p>Tidak perlu kuatir, bayi yang mendapat kesempatan optimal untuk kontak kulit dengan ibunya, umumnya lebih cepat dan lebih mudah melakukan pelekatan yang sempurna. Dan tidak ada hal rumit yang perlu dilakukan untuk mendapatkan pelekatan yang sempurna. Kalimat yang seringkali saya ingat di hari-hari pertama ini adalah ”<em>babies and mothers learn to breastfeed by breastfeeding</em>”. Jadi, kalaupun terjadi pelekatan yang tidak sempurna, yang perlu dilakukan adalah selalu menyusuinya sesuai keinginannya.</p>
<p>Hindari mengulang-ulang pelekatan (melepas bayi dari payudara jika tidak melekat dengan baik kemudian mencoba pelekatan lagi) karena akan menambah rasa sakit pada payudara dan membuat ibu dan bayi lebih frustrasi. Perbaiki saja pelekatannya sambil tetap menyusuinya. Hal ini bisa dilakukan dengan mendorong bokong bayi agar badannya lebih dekat ke badan ibu serta posisi hidungnya menjauhi payudara, atau menarik sedikit dagunya agar payudara (areola) lebih banyak masuk ke dalam mulut bayi.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-4' id='fnref-873-4'>4</a></sup></p>
<p><em>Pengalaman saya belajar menyusui Naqiya agak berbeda dengan saat menyusui abangnya, Deyka. Proses belajar terbilang cukup cepat. Dalam beberapa hari pertama, kegagalan pelekatan sudah jarang sekali terjadi. Sedangkan pada saat menyusui Deyka, karena di rumah sakit tidak rawat gabung dan hanya mendapat kesempatan menyusui 3-4 kali sehari, proses belajar menyusui baru benar-benar dimulai setelah pulang ke rumah (kira-kira usia 3 hari). Walaupun tidak mengalami kesulitan yang berarti (mungkin karena Deyka tidak diberi susu menggunakan dot di rumah sakit, melainkan dengan sendok), namun saat itu sulit bagi saya untuk benar-benar menikmati menyusui di hari-hari pertama.</em></p>
<li>ASI sudah keluar atau belum</li>
<p>Rasanya pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling lazim ditanyakan orang (termasuk tenaga kesehatan) pada seorang ibu yang baru melahirkan. Jika si ibu tipe orang yang optimis dan tahu bahwa keluarnya kolostrum (ASI yang keluar di hari-hari pertama) umumnya tidak terasa dan tidak terlihat, mungkin pertanyaan ini tidak mengganggu. Tapi, bagi ibu yang tidak terlalu optimis dan tidak tahu bahwa yang harus ia lakukan hanyalah menyusui bayinya setiap saat bayinya mau, pertanyaan tersebut bisa jadi pertanyaan paling menekan di seluruh dunia.</p>
<p>Setiap calon ibu perlu tahu bahwa kolostrum sudah diproduksi sejak trimester kedua kehamilan dan akan siap diminum bayi begitu plasenta terlepas dari rahim saat proses persalinan. Kolostrum adalah satu-satunya yang dibutuhkan bayi baru lahir. Dan sang bayi akan mendapatkannya jika ia senantiasa berada dekat ibunya sehingga dapat menyusu kapanpun.</p>
<p>Percaya dirilah. Kalaupun ada pihak yang menekan karena menganggap ”ASI belum keluar”, tetaplah menikmati menyusui bayi kecil Anda, karena sebenarnya <a href="http://aimi-asi.org/2010/07/ulasan-polling-juni-2010/">bayi dapat bertahan 72 jam</a> sejak kelahirannya tanpa makanan / minuman apapun.</p>
<p><em>Saya sendiri, begitu masuk kamar inap, langsung diminta perawat untuk mencoba menekan areola untuk melihat apakah ASI sudah keluar. Saat itu tidak ada ASI yang kelihatan keluar. Perawat hanya bilang ”mungkin besok keluar”, yang menurut saya sudah lumayan positif, mengingat masih banyak perawat yang mudah menyarankan susu formula begitu tahu bahwa ASI ibu ”belum keluar”. Walaupun ASI tidak keluar saat payudara dipencet, saya tidak ambil pusing. Saya tetap sodorkan payudara pada Naqiya setiap saat dia menunjukkan tanda haus. Toh hanya bayi yang paling mahir mengeluarkan ASI dari payudara. Jika ASI tidak ada atau sedikit saat payudara dipencet, diperah atau dipompa, tidak berarti ASI belum keluar atau belum diproduksi.</em></p>
<li><em>Baby blues syndrome (postpartum depression)</em></li>
<p>Perasaan sedih dan tertekan sangat umum dirasakan ibu baru melahirkan. Sekitar 80% ibu mengalami <em>baby blues</em> berupa perasaan sedih, emosional dan <em>mood swing</em> mulai dari hari-hari pertama kelahiran bayi. <em>Baby blues</em> umumnya hanya berlangsung selama beberapa hari, tapi dapat juga bertahan hingga dua minggu.</p>
<p><em>Baby blues</em> terjadi sebagai efek dari perubahan hormon yang terjadi antara masa kehamilan dan kelahiran bayi. Level hormon kehamilan kembali ke level normal seperti sebelum hamil dalam waktu kurang lebih satu minggu. Oleh sebab itu umumnya baby blues akan mereda dengan sendirinya tanpa membutuhkan pengobatan khusus.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-5' id='fnref-873-5'>5</a></sup></p>
<p><em>Baby blues</em> dapat mempengaruhi proses menyusui. Ibu yang merasa sedih, tertekan dan kelelahan secara berlebihan akan kesulitan menikmati menyusui bayinya, bahkan bisa mempengaruhi produksi ASI. Apalagi, selain merupakan proses memberi ASI, menyusui juga merupakan aktivitas yang sangat intim antara ibu dan bayi. Setiap menyusu dan menyusui, selayaknya ibu dan bayi berkomunikasi dan berbagi perasaan bahagia dan saling menyayangi.</p>
<p>Untuk mencegah atau menanggulangi <em>baby blues</em>, ibu harus mendapat nutrisi, istirahat dan dukungan yang cukup. Sebaiknya ibu menentukan prioritas kegiatan sehari-hari. Tetapkan standar yang rendah pada kegiatan lain selain menyusui. Usahakan beristirahat saat tidak sedang menyusui atau merawat bayi. Jika ada, biarkan asisten rumah tangga atau keluarga dekat membantu beberapa pekerjaan rumah tangga. Biasakan makan makanan bergizi setiap hari. Jika perlu, bicaralah dengan orang terdekat atau cari kelompok pendukung sesama ibu menyusui atau ibu baru sehingga Anda bisa bertukar pikiran dan tidak merasa sendirian.</p>
<p><em>Saya mengalami <em>baby blues</em> pada minggu kedua setelah kelahiran Deyka. Penyebabnya, saya rasa, kelelahan dan sedikit kaget dengan ritme kegiatan sehari-hari yang sangat berbeda dengan sebelum memiliki bayi. Saya tidak mengalami baby blues pada kelahiran Naqiya. Padahal, menurut saya, kelelahan tetap ada, bahkan lebih, karena selain harus merawat Naqiya, juga harus mengurus Deyka. Namun, rasa ’berdaya’ yang saya miliki saat ini, karena dari awal kelahiran Naqiya saya merasa lebih sadar apa yang harus dihadapi dan dilakukan, serta rasa tenang karena Naqiya juga tenang, membuat saya lebih ’ringan’ dan santai menjalani perubahan-perubahan sehari-hari setelah kelahiran Naqiya.</em></p>
<li>Kuning (<em>Jaundice</em>)</li>
<p><em>Anak pertama saya, Deyka, mengalami kuning di usia 7 hari. Saat itu saya tidak mengerti sama sekali apa penyebab kuning dan bagaimana menanganinya. Saya hanya tahu bahwa banyak bayi baru lahir yang juga mengalaminya dan umumnya mereka diberi terapi sinar (<em>phototherapy</em>). Jadi pada saat itu, dengan kadar bilirubin Deyka 11 miligram, saya hanya menurut pada perintah dokter untuk menerapkan PT pada Deyka. Beruntung, saya mengikuti insting saya untuk tetap memberinya ASI. Saya dilarang untuk menginap di rumah sakit menunggui Deyka dan tidak diperkenankan menyusui Deyka kecuali pada jadwal yang sudah ditentukan rumah sakit, yaitu 2 kali sehari. Jadi, saya perah ASI saya di rumah setiap 2 jam sekali, dan mengantarkannya ke rumah sakit pada jam-jam besuk (jadwal menyusui). Alhamdulillah, ASI perah saya mencukupi kebutuhan Deyka selama di rumah sakit, sehingga tidak perlu diberi tambahan susu formula. Setelah menginap dua malam, Deyka sudah boleh pulang. Berbeda dengan Deyka, Naqiya tidak mengalami kuning sama sekali.</em></p>
<p><em>Jaundice</em> sangat umum terjadi pada bayi usia beberapa hari. Karena itu sangat baik jika calon ibu dan ayah mencari sedikit informasi mengenai kuning pada bayi baru lahir, sebelum kelahiran bayi. Selengkapnya mengenai kuning / jaundice bisa dibaca <a href="http://aimi-asi.org/2007/09/sakit-kuning-dan-menyusui/">disini</a>.</p>
<p>Walaupun kuning pada bayi baru lahir (muncul setelah bayi berusia lebih dari 24 jam) umumnya tidak berbahaya, tindakan medis yang sering dilakukan dapat mengganggu proses awal menyusui. Oleh karena itu, tenaga kesehatan dan orangtua harus berhati-hati dalam menentukan tindakan yang akan diambil dalam menangani kondisi <em>jaundice</em>, sehingga pemulihannya tidak justru menimbulkan masalah yang lebih berat daripada penyakit itu sendiri. Waspadalah terhadap tanda-tanda reaksi berlebihan terhadap jaundice pada bayi yang diberi ASI.</p>
<ul>
<li>Pada kebanyakan kasus, tidak perlu ada tindakan apapun terhadap kuning dengan kadar bilirubin kurang dari 20 miligram (usia bayi lebih dari 72 jam)</li>
<li>Hampir semua bayi yang kuning tidak membutuhkan suplementasi air, air gula atau susu formula. Menghentikan pemberian ASI selama 1-2 hari juga tidak perlu dilakukan untuk menurunkan kadar bilirubin.</li>
<li>Lupakan semua pendapat yang menyatakan ada yang salah dengan ASI. Selama bayi sehat, kuning tidak berlangsung lama dan tidak berbahaya. Kalaupun kuning pada bayi Anda berhubungan dengan masalah kesehatan lain, ASI Anda sangat berharga untuknya dan Anda sebaiknya melanjutkan menyusuinya.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-6' id='fnref-873-6'>6</a></sup></li>
</ul>
<p>Kesulitan yang kerap dihadapi dalam menyusui bayi kuning adalah bayi yang mulai mengalami kuning umumnya sangat mengantuk dan malas menyusu. Beberapa hal yang bisa dilakukan jika bayi mulai menunjukkan tanda terlalu mengantuk untuk menyusu, antara lain:</p>
<ul>
<li>Lakukan kontak kulit. Letakkan bayi tanpa pakaian di dada atau perut ibu yang terbuka, tutup bagian punggung bayi dengan selimut. Suhu tubuh ibu akan menghangatkannya (suhu tubuh ibu naik saat menyusui) tapi tidak terlalu hangat hingga membuatnya tertidur. Susui ia dalam kondisi kontak kulit ini.</li>
<li>Gendong bayi dalam posisi tegak dan bicara kepadanya agar ia membuka matanya.</li>
<li>Perah dengan tangan sedikit kolostrum agar membasahi puting, lalu tempelkan puting pada bibir bawahnya untuk memancingnya membuka mulut. Bicara dan bujuk ia untuk meneruskan menyusu, jika ia mulai tertidur, tepuk pelan kakinya atau punggungnya.</li>
<li>Lakukan <em>switch nursing</em>. Jika bayi tertidur saat menyusu pada payudara kiri, pindahkan ke payudara kanan, dan juga sebaliknya. Sendawakan atau gosok punggungnya sebelum berganti payudara.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-7' id='fnref-873-7'>7</a></sup></li>
</ul>
<li>Puting sakit/lecet dan payudara bengkak (<em>engorgement</em>)</li>
<p>Puting sakit/lecet dan payudara bengkak seringkali menjadi keluhan utama ibu yang baru saja punya bayi. Keluhan ini kerap muncul di minggu pertama kelahiran.</p>
<p>Sakit pada puting umumnya disebabkan kurang sempurnanya pelekatan mulut bayi ke payudara ibu. Pelekatan yang tidak sempurna menyebabkan bayi tidak dapat mengeluarkan ASI dengan benar. Yang sering terjadi adalah, payudara (areola) tidak cukup masuk ke dalam mulut bayi sehingga bayi hanya menghisap puting, dan puting menjadi sakit / lecet.</p>
<p>Puting yang sakit/lecet umumnya tidak membutuhkan perawatan apapun. Sebaiknya ibu segera berusaha memperbaiki teknik pelekatan agar sakit / lecet tidak berkepanjangan dan bayi tetap mendapat ASI dalam jumlah cukup.</p>
<p>Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi sakit/lecet pada puting antara lain:</p>
<ul>
<li>Hangatkan puting dalam waktu singkat setelah menyusui, dengan menggunakan pengering rambut pada kekuatan rendah.</li>
<li>Puting sebaiknya dibiarkan terbuka (diangin-anginkan) sesering mungkin.</li>
<li>Berbagai salep khusus puting dapat digunakan.</li>
<li>Hindari membersihkan puting terlalu sering, cukup pada saat mandi saja.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-8' id='fnref-873-8'>8</a></sup></li>
</ul>
<p><em>Engorgement</em> adalah pembengkakan payudara yang disebabkan oleh meregangnya pembuluh darah dan adanya tekanan air susu yang baru diproduksi. Kebanyakan ibu mengalaminya pada hari kedua hingga keenam setelah persalinan. Pembengkakan biasanya terjadi saat kolostrum mulai berubah menjadi ASI matang. Namun, pembengkakan dapat juga terjadi belakangan, jika ibu melewatkan beberapa sesi menyusui atau tidak cukup mengeluarkan/memerah ASI dari payudara.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-9' id='fnref-873-9'>9</a></sup></p>
<p>Bagaimana mencegah pembengkakan payudara di awal masa menyusui?</p>
<ul>
<li>Menyusuilah segera dan sering, jangan melewati sesi menyusui, termasuk di malam hari.</li>
<li>Menyusuilah sesuai dengan keinginan bayi.</li>
<li>Biarkan bayi selesai menyusu pada satu payudara sebelum menawarkan payudara yang lain. Jangan membatasi waktu bayi menyusu.</li>
<li>Pastikan pelekatan dan posisi menyusui sudah tepat sehingga bayi menyusu dengan baik dan membantu mengendurkan payudara.</li>
<li>Jika bayi tidak menyusu dengan baik, perah ASI secara rutin untuk menjaga produksi ASI dan mengurangi pembengkakan.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-10' id='fnref-873-10'>10</a></sup></li>
</ul>
<p>Pembengkakan ringan umum terjadi pada kebanyakan ibu. Pembengkakan biasanya pulih dalam 1 atau 2 hari tanpa penanganan apapun, walaupun terasa tidak nyaman. Memijat payudara dengan gerakan ke bawah tidak disarankan untuk payudara yang bengkak. Tetap susui bayi, pastikan ia dapat menyusu dengan baik, maka pembengkakan akan berkurang.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-11' id='fnref-873-11'>11</a></sup></p>
<p>Sebisa mungkin sebaiknya mencegah pembengkakan menjadi berkepanjangan atau menjadi pembengkakan berat. Payudara yang sangat bengkak akan terasa keras sehingga menyulitkan bayi untuk melekat dan juga sulit untuk diperah. Mengompres hangat selama beberapa menit sebelum menyusui dapat membantu agar ASI mengalir lebih baik. Lakukan pemijatan pada payudara saat menyusui untuk mengurangi pembengkakan. Memerah ASI dari payudara yang mulai membengkak sebaiknya dilakukan dengan tangan. Jika ingin memakai pompa, gunakan pada kekuatan rendah dan jangan lebih dari 10 menit karena jaringan payudara yang sedang membengkak lebih mudah rusak.<sup class='footnote'><a href='#fn-873-12' id='fnref-873-12'>12</a></sup></p>
<p><em>Pada hari ketiga setelah melahirkan Naqiya, saya mulai merasakan <em>mild engorgement</em> dan peningkatan produksi ASI. Produksi ASI saat kolostrum berubah menjadi ASI matang memang kerap lebih banyak daripada kebutuhan bayi, karena payudara belum beradaptasi. Untuk mengurangi ketidaknyamanan pada payudara dan agar Naqiya tetap bisa melekat dengan mudah pada payudara, saya mulai memerah ASI pada hari ketiga dengan menggunakan tangan.</em></p>
<p>Menyusui memang hal yang alami. Namun, di tengah banyaknya mitos turun-temurun dan maraknya pelanggaran di sana-sini, calon ibu dan ayah perlu membekali dirinya dengan informasi-informasi dasar mengenai ASI dan menyusui. Dengan demikian minimal ibu tidak mudah panik dan lebih percaya diri saat menyusui bayinya. Ketahui juga <a href="http://aimi-asi.org/2008/04/10-langkah-sukses-menyusui/">10 Langkah Menuju Kesuksesan Menyusui</a> yang diatur oleh Kepmenkes no. 450/2004, mengenai hal-hal yang harus diterapkan oleh fasilitas kesehatan dan menjadi hak ibu dan bayi baru lahir.</p>
<p>Selamat menyusui dengan nyaman, Moms.</p>
</ol>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 1125 kali.
<div class='footnotes'>
<div class='footnotedivider'></div>
<ol>
<li id='fn-873-1'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=82:the-importance-of-skin-to-skin-contact-&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">The Importance of Skin to Skin Contact</a>. Jack Newman, MD, FRCPC. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-1'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-2'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=45:breastfeeding-starting-out-right&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">Breastfeeding – Starting Out Right</a>. Jack Newman, MD, FRCPC. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-2'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-3'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=45:breastfeeding-starting-out-right&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">Breastfeeding – Starting Out Right</a>. Jack Newman, MD, FRCPC. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-3'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-4'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=45:breastfeeding-starting-out-right&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">Breastfeeding – Starting Out Right</a>. Jack Newman, MD, FRCPC. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-4'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-5'><a href="http://kidshealth.org/parent/emotions/feelings/ppd.html">Postpartum Depression</a>. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-5'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-6'><a href="http://www.askdrsears.com/html/2/t029600.asp">Breastfeeding A Newborn with Jaundice</a>. <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-6'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-7'><a href="http://www.askdrsears.com/html/2/T024800.asp">Techniques on Waking A Sleeping Baby</a> <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-7'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-8'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=48:sore-nipples&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">Sore Nipples</a>. Jack Newman, MD, FRCPC <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-8'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-9'><a href="http://www.breastfeeding.com/all_about/all_about_engorgement.html">Engorgement</a> &#8211; breastfeeding.com <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-9'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-10'><a href="http://www.kellymom.com/bf/concerns/mom/engorgement.html">Engorgement</a> &#8211; kellymom.com <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-10'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-11'><a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=83:engorgement&#038;catid=5:information&#038;Itemid=17">Engorgement</a>. Jack Newman, MD, FRCPC <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-11'>&#8617;</a></span></li>
<li id='fn-873-12'><a href="http://www.kellymom.com/bf/concerns/mom/engorgement.html">Engorgement</a> &#8211; kellymom.com <span class='footnotereverse'><a href='#fnref-873-12'>&#8617;</a></span></li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/07/minggu-pertama-yang-menentukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadwal Kelas EdukASI AIMI: Agustus &#8211; Oktober 2010</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/07/jadwal-kelas-edukasi-aimi-agustus-oktober-2010/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/07/jadwal-kelas-edukasi-aimi-agustus-oktober-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 02:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Putri Simanjuntak-Tambunan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kelas Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Basic]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Tips for Working Moms]]></category>
		<category><![CDATA[Common Problems in Breastfeeding]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[Jangan sampai ketinggalan ya ikutan Kelas Edukasi &#038; Talkshow AIMI untuk bulan Agustus-Oktober 2010. Tempat terbatas! Pendaftaran TELAH DIBUKA SENIN! (1) BREASTFEEDING BASICS (BB) Dalam kelas ini akan dibahas berbagai topik, seperti: (a) tatalaksana IMD; (b) mengapa ASI dan resiko pemberian susu formula, (c) manfaat ASI bagi ibu dan bayi, (d) perkenalan anatomi payudara, (e) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jangan sampai ketinggalan ya ikutan Kelas Edukasi &#038; Talkshow AIMI  untuk bulan Agustus-Oktober 2010. Tempat terbatas!</p>
<p>Pendaftaran TELAH DIBUKA SENIN!</p>
<p>(1) BREASTFEEDING BASICS (BB)</p>
<p>Dalam kelas ini akan dibahas berbagai topik, seperti:<br />
(a) tatalaksana IMD;<br />
(b) mengapa ASI dan resiko pemberian susu formula,<br />
(c) manfaat ASI bagi ibu dan bayi,<br />
(d) perkenalan anatomi payudara,<br />
(e) berbagai posisi menyusui,<br />
(f) pelekatan yang benar, dan<br />
(g) kiat-kiat sukses menyusui.</p>
<p>Para peserta kelas ini juga akan mempraktekan secara langsung berbagai posisi menyusui, pijat ibu untuk melancarkan ASI, dan juga akan menonton video IMD serta video menyusui keluaran dr. Jack Newman, MD, pakar laktasi dari Kanada.</p>
<p>(2) BREASTFEEDING TIPS FOR WORKING MOMS (WM)</p>
<p>Ibu-ibu menyusui yang juga bekerja diluar rumah perlu diberikan dukungan penuh supaya tetap dapat menyusui, minimal secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayinya. Untuk ini, perlu diberikan informasi, dukungan serta pelatihan secara khusus mengenai beberapa topik yang dapat membantu dalam pencapaian target tersebut, seperti:<br />
- hak2 ibu bekerja untuk tetap menyusui<br />
- persiapan untuk kembali bekerja<br />
- tips meningkatkan supply ASI<br />
- anatomi payudara<br />
- teknik memerah, menyimpan dan memberikan ASIP</p>
<p>Tidak ketinggalan ada praktek langsung:<br />
- memijat payudara<br />
- memerah ASI dengan tangan<br />
- pijat punggung untuk melancarkan ASI</p>
<p>Ditambah lagi dengan menonton langsung video memerah ASI dengan tangan, demo memberikan ASIP dengan cangkir/cawan&#8230;dan&#8230;presentasi dari Medela mengenai<br />
aneka Breastpump dan cara penggunaan yang benar.</p>
<p>(3) COMMON PROBLEMS IN BREASTFEEDING (CP)</p>
<p>Puting lecet&#8230;luka&#8230;sampai berdarah? Payudara terasa keras, bengkak sampai badan meriang? Bayi menangis terus&#8230;bayi menolak menyusu langsung dari payudara&#8230;produksi ASIP tiba2 menurun&#8230;? memang ada saja permasalahan yang dapat dijumpai selama perjalanan kita menyusui sang buah hati. Mari kita bahas secara bersama2 berbagai common problems tersebut.<br />
- puting lecet dan luka, candida (thrush)<br />
- membedakan payudara bengkak, tersumbat, mastitis dan abses<br />
- mengapa bayiku menangis terus?<br />
- aneka bentuk, rupa dan warna feces bayi ASIX<br />
- breast refusal (menolak menyusu langsung dari payudara)<br />
- produksi ASI tiba2 menurun<br />
- beda nursing strike (tiba2 menolak menyusu) &#038; early weaning<br />
- weaning with love</p>
<p>Juga akan dipraktekkan metode pemberian tambahan asupan melalui sistem Supplementary Nursing.</p>
<p>JAKARTA<br />
Lokasi:<br />
Sekolah Cikal<br />
Jl. TB. Simatupang Kav. 18<br />
Cilandak, Jakarta Selatan</p>
<p>Jam: 08.30 &#8211; selesai (kecuali, 14 dan 28 Agustus mulai pukul 09.00)</p>
<p>HTM: (termasuk snack, cd materi, goodie bag dan kuis berhadiah)<br />
- Member AIMI: Rp 112.500/pax atau Rp 207.000/couple<br />
- Umum: Rp 125.000/pax atau Rp 230.000/couple</p>
<p>Info: Putri 0813 8899 5151 (sms only)</p>
<p>Registrasi: daftar.jakarta[at]yahoo.co.id</p>
<p>Note:<br />
- Kelas edukasi akan berlangsung apabila peserta minimal 5 orang.<br />
- Registrasi hanya dilayani via email.</p>
<p>JADWAL:<br />
14 Agustus: Breastfeeding Basic (BB)<br />
28 Agustus: Breasteeding Tips for Working Moms (WM)<br />
2 Oktober: Common Problems in Breastfeeding (CP)<br />
16 Oktober: Breastfeeding Basic (BB)<br />
30 Oktober: Breastfeeding Tips for Working Moms (WM)</p>
<p>TALKSHOW MPASI JAKARTA<br />
Talkshow MPASI diadakan setiap 2-3 bulang sekali dengan maksimal peserta adalah 50 orang. Untuk memperdalam ilmu para Ibu2 dalam urusan MPASI bayi dan anak, maka AIMI mengundang pakarnya langsung yaitu Pak Wied Harry Apriadji. Akan ada demo masak dan icip2 untuk setiap talkshow nya. Seru dan bermanfaat tentunya.</p>
<p>Hari/tgl: Sabtu, 25 September 2010<br />
Jam: 09.00 &#8211; selesai<br />
Lokasi:<br />
Sekolah Cikal<br />
Jl. TB. Simatupang Kav. 18<br />
Cilandak, Jakarta Selatan</p>
<p>HTM: (termasuk snack, materi, goodie bag, icip2, demo masak dan kuis berhadiah)<br />
- Member AIMI: Rp 135.000/pax<br />
- Umum: Rp 150.000/pax</p>
<p>Info &#038; Registrasi: daftar.mpasi[at]yahoo.co.id</p>
<p>BOGOR<br />
Lokasi:<br />
Jl. Ahmad Yani No. 60, Bogor<br />
(Rumah pagar abu2 merah)<br />
Jam: 09.00 &#8211; selesai</p>
<p>HTM: (termasuk snack, cd materi, goodie bag)<br />
- Member AIMI: Rp 65.000/pax atau Rp 120.000/couple<br />
- Umum: Rp 80.000/pax atau Rp 150.000/couple</p>
<p>Info: Mitha 0813 8850 4949</p>
<p>Registrasi: daftar.bogor[at]aimi-asi.org</p>
<p>JADWAL:<br />
25 September: Breasteeding Tips for Working Moms (WM)<br />
2 Oktober: Breastfeeding Basic (BB)</p>
<p>BANDUNG<br />
Lokasi:<br />
AKATIGA<br />
Jl. Tubagus Ismail II No. 2, Bandung<br />
(sebelah Sophie Martin)</p>
<p>Jam: 08.30 &#8211; selesai</p>
<p>HTM: (termasuk snack, cd materi, goodie bag)<br />
- Member AIMI: Rp 90.000/pax atau Rp 160.000/couple<br />
- Umum: Rp 100.000/pax atau Rp 180.000/couple</p>
<p>Info:<br />
Registrasi: daftar.bandung[at]aimi-asi.org</p>
<p>JADWAL:<br />
29 Agustus: MPASI Awal<br />
3 Oktober: Breastfeeding Basic (BB)<br />
31 Oktober: Breastfeeding Tips for Working Moms (WM)</p>
<p>SEMARANG<br />
Lokasi:<br />
Wisma Diklit RS Dr. Karyadi<br />
(warna orange, sebelah masjid, dekat Paviliun Garuda)<br />
Ruang Flamboyan Lt. 1<br />
Jl. Dr. Sutomo, Semarang.</p>
<p>Jam: 09.00 &#8211; selesai</p>
<p>HTM: (termasuk snack, cd materi, blocknote)<br />
- Member AIMI: Rp 45.000/pax atau Rp 80.000/couple<br />
- Umum: Rp 50.000/pax atau Rp 90.000/couple</p>
<p>Info: Yola 0812 8584 562</p>
<p>Registrasi: yola[at]aimi-asi.org</p>
<p>JADWAL:<br />
24 Oktober: Breastfeeding Basic (BB)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/07/jadwal-kelas-edukasi-aimi-agustus-oktober-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Polling Juni 2010</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/07/ulasan-polling-juni-2010/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/07/ulasan-polling-juni-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 08:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[kolustrum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Poll: 72 Jam Dua jempol untuk semua responden. Hebat! Ternyata sudah banyak yang mengetahui dan memahami, bahwa dalam 72 jam pertama dalam hidupnya bayi dapat bertahan tanpa makanan/minuman apapun (48%) dan yang lain berpendapat bahwa bayi baru lahir dapat bertahan tanpa makanan/minuman apapun dalam 48 jam pertama (37%). Mengapa hal ini dapat terjadi? Bayi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Jawaban Poll: 72 Jam</p>
<p>Dua jempol untuk semua responden. Hebat! Ternyata sudah banyak yang mengetahui dan memahami, bahwa dalam 72 jam pertama dalam hidupnya bayi dapat bertahan tanpa makanan/minuman apapun (48%) dan yang lain berpendapat bahwa bayi baru lahir dapat bertahan tanpa makanan/minuman apapun dalam 48 jam pertama (37%).</p>
<p>Mengapa hal ini dapat terjadi?</p>
<p>Bayi baru lahir, memiliki cadangan makanan di dalam tubuhnya yang diperoleh dari plasenta selama berada di rahim ibu. Oleh karena itu, bayi baru lahir tidaklah memerlukan makanan/minuman apapun. Satu-satunya zat yang ia perlukan ketika baru lahir adalah kolostrum (ASI awal) yang akan menjadi imunisasi pertamanya, karena berfungsi untuk melapisi dinding usus bayi (yang sel-selnya belum rapat) menjadi tertutup dan akhirnya rapat.Seringkali banyak ibu yang bertanya. Di hari keberapa sebenarnya kolostrum diproduksi? Mengapa di hari-hari awal kelahiran, ASI tidak keluar? Bukankah jika bayi tidak diberi minum ASI dalam 72 jam pertama akan kelaparan?</p>
<p>Sebenarnya, ASI yang berbentuk kolostrum diproduksi pada trimester kedua kehamilan (minggu ke-16), dan terus diproduksi sampai hari ‘H’ kelahiran. Pada sebagian ibu, terkadang kolostrum sudah keluar pada trimester ketiga, tetapi pada banyak ibu kolostrum baru keluar pada hari ke-2 atau ke-3 setelah kelahiran. Kedua hal ini adalah normal, karena pada 48 – 72 jam pasca kelahiran, tubuh ibu mulai meningkatkan produksi ASI, sehingga ibu merasakan ‘sensasi ASI’, dimana payudara mengencang dan mengeluarkan kolostrum.</p>
<p>Oleh itu tak perlu khawatir, jika ASI/kolostrum belum keluar di hari 1 atau ke-2 setelah kelahiran. Hal ini dikarenakan jumlah kolostrum yang sangat sedikit (karena sesuai kebutuhan bayi) dan warnanya yang bening atau kekuningan, sehingga membuat keluarnya kolostrum tidak terasa/terlihat oleh ibu. Ini jugalah yang menjadi alasan mengapa bayi baru lahir tidak perlu diberikan makanan/minuman selain ASI. Dengan skin-to-skin contact yang sering dan bayi berada satu ruangan dengan ibu, akan mempercepat keluarnya ASI/kolostrum, sehingga proses menyusui dapat semakin lancar. Semakin sering ibu menyusui bayinya di hari-hari pertama setelah kelahiran, semakin banyak kolostrum yang diperoleh bayi, dan semakin banyak produksi ASI ibu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/07/ulasan-polling-juni-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rangkuman Breastfeeding Fair 2010</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/07/rangkuman-breastfeeding-fair-2010/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/07/rangkuman-breastfeeding-fair-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 02:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inna Banani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Fair]]></category>
		<category><![CDATA[Donor ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Sakit ramah ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=808</guid>
		<description><![CDATA[Breastfeeding Fair adalah acara rutin yang diadakan oleh AIMI yang mana tahun ini berlangsung dari tgl. 12 - 16 Mei 2010. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Breastfeeding Fair kali ini juga dimeriahkan dengan Talkshow gratis yang dikenal dengan Sharing &#038; Caring. Berikut rangkuman dari acara tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Breastfeeding Fair merupakan acara tahunan yang diselenggarakan AIMI sebagai salah satu acara rutin untuk <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-bf-spanduk-300x199.jpg" alt="" title="07-bf-spanduk" width="300" height="199" class="alignleft size-medium wp-image-812" />meningkatkan kepedulian tentang pentingnya pemberian ASI secara ekslusif.  Setiap tahunnya acara utama Breastfeeding Fair adalah Sharing and Caring (yang berisi sharing para pakar kesehatan seputar ASI, yang dimeriahkan oleh selebriti ibu kota), Bazaar pernak pernik ibu dan anak, dan Pojok Laktasi (untuk berkonsultasi tentang ASI dan menyusui dengan Konselor Laktasi AIMI).  Tentunya seluruh acara tersebut tidak dipungut biaya sama sekali.</p>
<p>Tahun ini pun tidak banyak berbeda, tema yang diangkat kali ini adalah <em>Breastfeeding: A New Life Style</em> yang mengacu pada tma besar Pekan ASI Dunia 2010: <strong>Menyusui: Hanya 10 Langkah! Sayang Bayi!</strong> Acara yang berlangsung dari tanggal 12 hingga 16 Mei 2010 ini diadakan di fX lifestyle X’nter, Senayan Jakarta. Untuk acara bazaar dibuka mengikuti jam operasi fX yaitu dari jam 10 pagi hingga 10 malam. Tentu saja menguntungkan bagi para ibu pekerja yang bisa mampir belanja usai jam kantor. </p>
<p>Selain berbelanja <em>Talkshow</em> adalah hal yang dinanti karena selain mendapat ilmu baru para peserta  tidak dipungut biaya apapun. Serunya, setiap peserta yang bertanya berhak mendapatkan hadiah dari para <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-bf-day-1-288x300.jpg" alt="" title="07-bf-day-1" width="288" height="300" class="alignright size-medium wp-image-813" />sponsor.  Seluruh acara talkshow ini direkam oleh QTv untuk nantinya disiarkan. Belum lagi para Konselor Laktasi AIMI yang siap membantu ibu yang kebetulan mempunyai kendala dalam menyusui anaknya. </p>
<p>Acara Talkshow pada hari Rabu tanggal 12 Juni 2010 diadakan tepat setelah pembukaan Breastfeeding Fair 2010. Topik hari itu adalah “ASI: Modal Utama Kesuksesan Pengasuhan” yang  dipresentasikan oleh Najeela Shihab (Kepala Sekolah Cikal). Najeela didampingi bintang tamu Moza Pramita dan moderator acara Tenik Hartono (Pemimpin Redaksi Majalah Ayahbunda). Meski diadakan pada sore hari tapi banyak peserta yang datang memenuhi kursi yang tersedia. </p>
<p>Talkshow yang dibawakan sangat menarik, Najeela Shihab sangat interaktif sekali dengan para penonton yang membuat mereka antusias bertanya pada saat sesi tanya-jawab dilaksanakan. Menurut Najeela Shihab, ada beberapa manfaat pemberian ASI yang bisa dirasakan dalam kaitannya dengan pengasuhan: Menumbuhkan orangtua yang sensitif dan responsif di mana orangtua bereaksi tepat dan cepat pada kebutuhan anak. Kemudian meningkatkan kehangatan hubungan orangtua dan anak dengan tidur bersama dan menyentuhnya setiap saat.  Selanjutnya pemberian ASI akan tingkatkan kemampuan komunikasi dan kognisi anak serta menumbuhkan  Self Regulation anak. Pemberian ASI membantu Ibu merasakan posisinya tak tergantikan. Sementara Ayah bisa mengambil peran yang lain, diantaranya  menyenangkan Ibu agar hormon Oksitosin terus bekerja dan menggendong bayi. </p>
<p>Acara talkshow hari kedua, Kamis tanggal 14 Juni 2010 bertepatan dengan hari libur nasional. Sehingga sejak pagi area bazaar dipenuhi para orangtua yang melihat-lihat dan tentunya berbelanja.  Meski semangat berberlanja, tetapi begitu talkshow akan dimulai semua langsung segera menempati tempat yang sudah disediakan.  Hari itu <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-peserta-bf-300x199.jpg" alt="" title="07-peserta-bf" width="300" height="199" class="alignleft size-medium wp-image-814" />talkshownya membahas “Mencari Rumah Sakit Sayang Bayi” bersama mbak Ninik Sukotjo dari Unicef dan bintang tamu Shinta Koesnadi  (Istri Nugie –The Dance Company) serta moderator Faradiba Tanrilemba (Sekjen AIMI). </p>
<p>Inti dari Talkshow tersebut adalah keberhasilan menyusui dimulai dari Rumah Sakit. Topik yang juga merupakan salah satu dari 10 langkah sukses menyusui ini menganjurkan agar kita “berbelanja” Rumah Sakit berikut Tenaga Kesehatannya yang mendukung IMD dan menyusui. Selain itu karena di Indonesia belum ada ada lembaga yang mengakreditasi RS Ramah ASI, sehingga memang sebagai calon orangtua kita harus aktif mencari tahu informasi yg lengkap agar sukses menjalani IMD dan menyusui yang benar. Sebagai tambahan, Mbak Ninik juga menyarankan rawat gabung  agar bayi dan Ibu  semakin sukses menyusui. Bagi pihak Rumah Sakit sendiri sebenarnya ini menguntungkan karena memangkas biaya operasional.</p>
<p>Di Hari Jumat tgl 14 Mei 2010 meski hujan dan angin, namun tidak menyurutkan peserta berhalangan hadir. Talkshow yang dibeicarakan hari itu memang lebih fokus mengenai Donor ASI dilihat dari sudut pandang agama Islam. Nara sumber Ibu Faizah Ali Sibromalisi, MA dengan bintang tamu Artika Sari Devi dan moderator Faradiba Tanrilemba, Sekjen AIMI. </p>
<p>Menurut Ibu Faizah, dalam pandangan Islam bayi yang mendapat ASI dari ibu lain sebetulnya bukan hal baru. Nabi Muhammad SAW pun memiliki ibu susu. Tentunya yang perlu diperhatikan menurut ajaran Islam adalah terjadinya <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-pojok-laktasi-300x200.jpg" alt="" title="07-pojok-laktasi" width="300" height="200" class="alignright size-medium wp-image-817" />hubungan/pertalian antara ibu yang memberikan ASI-nya dan anak yang mendapatkan ASI tersebut (mahrom). Anak-anak si ibu susu menjadi saudara persusuan anak-anak tersebut sehingga jatuh hukum tahrim  atau haram kawin, tutur salah satu anggota Komisi Fatwa MUI tersebut. </p>
<p>Meski ada berbagai mazhab dan menyerahkan keputusan pada masing-masing individu untuk mengikuti mazhab sesuai dengannya, Ibu Faizah lebih menekankan agar ibu tetap berusaha menyusui anaknya. Bila suatu dan lain hal mengakibatkan anak membutuhkan Donor ASI, catat siapa saja yang memberikan ASI tersebut. Lanjutkan dengan terus bersilaturahim agar terhindar dari kemungkinan adanya haram perkawinan.</p>
<p>Pada hari Sabtu tanggal 15 Mei 2010 talkshow membicarakan tentang “Sehat dan Produktif berkat Menyusui”. Pembicara adalah Dr Utami Roesli Sp.A., MBA., IBCLC., FABM dengang bintang tamu Anchor TV Najwa Shihab dan moderator Ketua Divisi Komunikasi AIMI, Sisca Baroto. Peserta pada hari itu memenuhi area talkshow, banyak di antara mereka merupakan ayah atau calon ayah. Mereka mendengarkan seksama penjelasan Dr. Utami bahwa sebenarnya ASI merupakan satu-satunya makanan dan minuman yang memiliki zat hidup. Inisiasi Menyusu Dini merupakan hak mutlak bayi yang harus diberikan. Peran Ayah juga penting terutama dalam member motivasi dan menumbuhkan emosi positif bagi Ibu. Termasuk mendukung istri yang bekerja yang sering merasa bersalah meninggalkan anaknya dan khawatir kebutuhan ASI Perahnya tidak terpenuhi. </p>
<p>Najwa  Shihab sebagai ibu pekerja didukung untuk menyusui secara eksklusif karena yakin ASI eksklusif menjadi <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/07/07-bf-day-5-300x201.jpg" alt="" title="07-bf-day-5" width="300" height="201" class="alignleft size-medium wp-image-815" />modal penting bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Efek lain yang dirasakan adalah menyusui bisa melangsingkan tubuh. Menyusui bisa membakar 500-600 kalori yang bisa disetarakan  dengan bersepeda satu jam atau renang 20 kali.</p>
<p>Hari Terakhir Breastfeeding fair ditutup dengan talkshow mengenai “Tips Sukses Menyusui” dengan Narasumber Mia Sutanto SH., LLM (Ketua Umum AIMI) dengan moderator Nia Umar (Wakil Ketua Umum AIMI). Menariknya hari ini bintang tamu Model/Bintang film Sigi Wimala hadir bersama Yenny Wahid yang sedang mengandung anak pertamanya. Selain itu kejutan dr Asti Praborini, SpA IBCLC yang datang dan ikut memberi tambahan informasi yang menarik.</p>
<p>Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar Ibu bisa sukses menyusui. Diawali dari mencari Rumah Sakit berikut tenaga kesehatannya yang peduli ASI, Pengetahuan yang memadai tentang ASI, IMD selama minimal 1 jam sejak bayi lahir. Hal lain yang menunjang keberhasilan seorang ibu dalam member ASI eksklusif pada bayinya adalah komitmen yang kuat, informasi dan pengetahuan cukup mengenai kegiatan menyusui serta dukungan dari berbagai pihak; keluarga, pemerintah dan masyarakat.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Artikel ini telah dibaca sebanyak 289 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/07/rangkuman-breastfeeding-fair-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar 3 Hari Tentang ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/seminar-3-hari-tentang-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/seminar-3-hari-tentang-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 03:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=803</guid>
		<description><![CDATA[Asosiasi IBCLC Indonesia dan AIMI akan mengadakan seminar ASI selama 3 hari dalam rangka menyambut persiapan ujian IBCLS tahun ini. Seminar ini terbuka untuk umum dan siapa pun yang tertarik pada ilmu laktasi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam rangka persiapan ujian IBCLC tahun ini di bulan Juli, Asosiasi IBCLC Indonesia bekerjasama dengan AIMI &#038; didukung penuh oleh Perinasia mengadakan Seminar 3 hari mengenai ASI yang akan diselenggarakan pada:</p>
<p>Tanggal: 1,2 &#038; 25 Juli 2010<br />
Tempat: the American Club<br />
Jl. Brawijaya IV no 20. Kebayoran Baru. JakSel<br />
Pukul: 08.00 &#8211; 17.00</p>
<p>Biaya: Rp 600.000,- /pax. Seluruh peserta acara ini akan mendapatkan poin CERPs sebesar 22 poin, terbuka untuk umum dan siapa pun yang tertarik pada ilmu laktasi.</p>
<p>Untuk pendaftaran, silahkan hub Saudari Puti di puti@aimi-asi.org atau +62811911499.</p>
<p>Silahkan unduh agenda seminar <a class="downloadlink" href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=Agenda-Pelatihan-IBCLC-Juli-2010-ver4.pdf" title="Version4 downloaded 53 times" >Agenda Pelatihan IBCLC Juli 2010 (53)</a>.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Artikel ini telah dibaca sebanyak 221 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/seminar-3-hari-tentang-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bicara ASI bersama AIMI Episode 3: IMD</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-3-imd/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-3-imd/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 06:01:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=788</guid>
		<description><![CDATA[Topik: Inisiasi Menyusu Dini Narasumber: dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, FABM Acara ini disponsori oleh PT. Indo Tambang Megahraya, tbk. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Video ini telah dilihat kali.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Topik: Inisiasi Menyusu Dini<br />
Narasumber: dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, FABM<br />
Acara ini disponsori oleh PT. Indo Tambang Megahraya, tbk.</p>
<p><object classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" width="437" height="348" id="viddlerplayer-91a1d8f6"><param name="movie" value="http://www.viddler.com/simple/91a1d8f6/" /><param name="autoplay" value="f" /><param name="disablebranding" value="f" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="name" value="viddlerplayer-91a1d8f6" /><embed src="http://www.viddler.com/simple/91a1d8f6/" width="437" height="348" type="application/x-shockwave-flash" allowScriptAccess="always" allowFullScreen="true" flashvars="autoplay=f&#038;disablebranding=f" name="viddlerplayer-91a1d8f6" ></embed></object></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Video ini telah dilihat 190 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-3-imd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bicara ASI bersama AIMI Episode 2: 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-2/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 07:44:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[10 langkah]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=783</guid>
		<description><![CDATA[Topik: 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui Narasumber: Prof. dr. Rulina Suradi, SpA(K), IBCLC Acara ini disponsori oleh PT. Indo Tambang Megahraya, tbk. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Video ini telah dilihat kali.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Topik: 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui<br />
Narasumber: Prof. dr. Rulina Suradi, SpA(K), IBCLC<br />
Acara ini disponsori oleh PT. Indo Tambang Megahraya, tbk.</p>
<p><object classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" width="437" height="348" id="viddlerplayer-f5f6c6f3"><param name="movie" value="http://www.viddler.com/simple/f5f6c6f3/" /><param name="autoplay" value="f" /><param name="disablebranding" value="f" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="name" value="viddlerplayer-f5f6c6f3" /><embed src="http://www.viddler.com/simple/f5f6c6f3/" width="437" height="348" type="application/x-shockwave-flash" allowScriptAccess="always" allowFullScreen="true" flashvars="autoplay=f&#038;disablebranding=f" name="viddlerplayer-f5f6c6f3" ></embed></object></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Video ini telah dilihat 353 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/bicara-asi-bersama-aimi-episode-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Koalisi Advokasi ASI Dialog bersama Media</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-koalisi-advokasi-asi-dialog-bersama-media/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-koalisi-advokasi-asi-dialog-bersama-media/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 03:38:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diba Jafar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=780</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta (09/06/2010) – Memberikan ASI memang menjadi perjuangan tersendiri bagi banyak ibu. Mulai dari minimnya dukungan terhadap ibu menyusui, baik dari keluarga, tenaga dan fasilitas kesehatan, pemerintah, masyarakat, maupun iklan-iklan produk susu formula yang begitu dahsyatnya. Ada ibu yang berhasil melalui semua tantangan yang dihadapi, namun banyak pula yang tidak berhasil. Hal ini seharusnya menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta (09/06/2010) – Memberikan ASI memang menjadi perjuangan tersendiri bagi banyak ibu. Mulai dari minimnya dukungan terhadap ibu menyusui, baik dari keluarga, tenaga dan fasilitas kesehatan, pemerintah, masyarakat, maupun iklan-iklan produk susu formula yang begitu dahsyatnya. Ada ibu yang berhasil melalui semua tantangan yang dihadapi, namun banyak pula yang tidak berhasil. Hal ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak – baik pemerintah, dinas kesehatan, pemberi kerja (pengusaha/perkantoran), dan keluarga.</p>
<p>Sayangnya belum banyak pihak yang memahami tentang keunggulan menyusui dan pemberian ASI pada bayi. Belum bayak pula yang mengetahui resiko dari pemakaian susu formula dan bahwa terdapatnya peraturan yang mengatur pemasaran dari produk-produk pengganti ASI.</p>
<p>Melihat fenomena seperti ini, Unicef dan organisasi-organisasi yang tergabung dalam Koalisi Advokasi ASI (AIMI, WHO, MERCY CORPS, SELASI, PERINASIA, HKI, KAKAK, Klasi-YOP, IBCLC Indonesia, dan YLKI) menggelar acara “Dialog bersama Media” mengenai Kode Etik Pemasaran Susu Pengganti ASI di Hotel Intercontinental, hari Rabu 9 Juni 2010.</p>
<p>Pada acara ini, dikemukakan tentang apa itu kode etik pemasaran susu pengganti ASI dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan terhadap kode etik tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat luas akan kode etik tersebut, guna meningkatkan angka ibu menyusui dan bayi yang mendapatkan ASI di Indonesia.</p>
<p>Tidak luput juga, akan terdapat pemaparan tentang situasi regulasi ASI dan pemasaran susu pengganti ASI di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar terdapat Kebijakan tertulis mengenai Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yang menjabarkan secara mendetail bentuk-bentuk dukungan fasilitas dan tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat.</p>
<p>Menurut salah satu anggota dari Koalisi, Agus Pambagyo, “Pelanggaran kode etik pemasaran susu formula di Indonesia adalah yang terbesar. Ini yang harus segera ditindak, jika kita ingin Indonesia memiliki generasi penerus bangsa yang lebih cerdas, sehat dan berakhlak baik.”</p>
<p>“Kami berharap, jurnalis dapat berperan sebagai perpanjangan tangan dari penyebaran informasi mengenai pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dan dampak negatif dari pemakaian susu formula pada anak-anak kita” seperti dikatakan Mia Sutanto, ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang juga anggota dari Koalisi Advokasi ASI. </p>
<p>Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi:</p>
<p>Koalisi Advokasi ASI Indonesia:  </p>
<p><strong>Kakak Foundation</strong><br />
Agus Pambagio<br />
Telp: 0271.716347 , 0271. 700145371, +62811802001<br />
pambagio@yahoo.com </p>
<p><strong>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)</strong><br />
Mia Sutanto SH, LL.M, KL<br />
Telp: 021.72790165, +6281510002584<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org </p>
<p><strong>Sentra Laktasi Indonesia (SELASI)</strong><br />
Dr.Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM<br />
Jl. Tebet Utara 1F no 12<br />
Telp: 021.83795168<br />
kontak@selasi.net </p>
<p><strong>Mercy Corps Indonesia</strong><br />
dr. Fransiska E. Mardiananingsih MPH, IBCLC<br />
Telp: 021.7194948<br />
fningsih@id.mercycorps.org </p>
<p><strong>Helen Keller International &#8211; Indonesia</strong><br />
Elviyanti Martini, MSc.<br />
Telp: 021.7199163<br />
emartini@hki.org </p>
<p><strong>World Health Organization (WHO)</strong><br />
Sugeng Eko Irianto, Ph.D<br />
Bina Mulia I, Floor 9.<br />
Jl. HR. Rasuna Said Kav. 10-11Jakarta 12950<br />
Telp : 021.5204349  </p>
<p><strong>Yayasan Orangtua Peduli (YOP) </strong><br />
Klub Peduli ASI<br />
Markas Sehat, Komp PWR No.60<br />
Jl Margasatwa Jakarta </p>
<p><strong>Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)</strong><br />
Pancoran Barat VII No. 1<br />
Duren Tiga, Jakarta 12760<br />
Telp: 021.7981858</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Siaran Pers ini telah dibaca 479 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-koalisi-advokasi-asi-dialog-bersama-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
