<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Informasi</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/category/informasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Sayangi Bumi Dengan ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/05/sayangi-bumi-dengan-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/05/sayangi-bumi-dengan-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 01:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rizky Maharani Eka Putri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1849</guid>
		<description><![CDATA[Bumi adalah salah satu planet yang Allah ciptakan yang didalamnya dihuni oleh berbagai makhluk hidup. Beraneka flora, fauna, biota laut, makhluk berakal yang paling dimuliakan bernama manusia adalah penghuni bumi yang setia. Bumi membawa banyak manfaat bagi seluruh penghuninya baik yang hidup di darat, laut maupun udara. Diatas bumi banyak manusia biasa berteduh. Melepas lelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bumi adalah salah satu planet yang Allah ciptakan yang didalamnya dihuni oleh berbagai makhluk hidup. Beraneka flora, fauna, biota laut, makhluk berakal yang paling dimuliakan bernama manusia adalah penghuni bumi yang setia.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/05/05-go-green-253x300.jpg" alt="" title="05-go-green" width="253" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1854" />Bumi membawa banyak manfaat bagi seluruh penghuninya baik yang hidup di darat, laut maupun udara. Diatas bumi banyak manusia biasa berteduh. Melepas lelah di bawah pohon rimbun, mendengar gemericik air sungai, deru ombak yang bergulung-gulung dan semua kenikmatan duniawi yang tidak mungkin kita hitung satu persatu.</p>
<p>Lalu apa saja yang telah dilakukan oleh manusia dan makhluk Tuhan lain pada bumi? Sudahkah mereka dan kita semua memperlakukan bumi dengan indah? Seberapa sering kita ramah padanya? Sampah bekas pakai, asap rokok, asap pembakaran, asap mobil, minimnya penyerapan air pada bumi karena pohon rindang yang ditebangi demi gedung pencakar langit dan mungkin masih banyak perilaku manusia yang terus membebani bumi. Namun, ternyata diluar itu semua ada sebuah cara yang begitu alami yang bisa dilakukan makhluk perempuan untuk menyayangi, yaitu menyusui.</p>
<p>Seperti kita tahu, menyusui adalah sesuatu yang alamiah. Kucing menyusui anak-anak kucing, monyet menyusui anak-anak monyet, kangguru yang selalu menggendong anaknya kemana-mana pun menyusui bayi kangguru. Lucu, kagum dan membuat yang melihatnya senyum sambil berpikir betapa Air Susu Ibu adalah yang terbaik. Bayi kucing mencari payudara ibu kucing dan menghisap air susu ibu kucing, hal ini juga berlaku pada tiap jenis fauna lainnya. Mereka tidak pernah berebut air susu ibu pada fauna lain. Kucing tidak akan meminta air susu ibu kucing yang kurang pada air susu ibu anjing. Bayi-bayi marmut selalu mencari air susu ibu marmut dan tidak berusaha mencari air susu ibu kangguru dan fauna lainnya.</p>
<p>Manusia sebagai makhluk berakal yang cerdas pastilah berusaha sekuat tenaga untuk memberi yang terbaik bagi bayi mulai awal bayi lahir hingga tumbuh kembangnya menuju dewasa. Menyusui pada manusia adalah sesuatu yang biasa kita lihat pada sekitar. Betapa bahagianya ibu yang memberikan ASI, demikian juga yang melihatnya. Pastilah si bayi mendapat tidak hanya sekedar air susu namun juga kasih sayang, perhatian, suara detak jantung ibu, kehangatan pelukan ibu, tatapan mata ibu dan anak dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Menyusui sangat membantu bumi untuk tetap mempertahankan beban bumi yang ditimpakan selama ini. Beberapa fakta bahwa dengan menyusui kita juga sudah berkontribusi menyayangi bumi, diantaranya : </p>
<ol>
<li>Menghemat sampah pembuangan seperti karton susu formula (susu sapi yang olah sedemikian rupa menjadi bubuk), kaleng susu formula, pembungkus dot, pembungkus botol, pembungkus pelengkap pemberian susu non ASI dengan media botol.</li>
<li>Menghemat energi listrik seperti tidak harus memanaskan air panas dengan dispenser, atau memasak dengan kompor gas, listrik untuk mensterilkan botol dan perlengkapan lainnya.</li>
<li>Menghemat air, hal ini jelas karena susu non ASI biasanya harus di cairkan untuk bisa dikonsumsi.</li>
<li>Menghemat sampah segala keperluan pemberian dengan botol apabila sudah tidak bisa dipakai lagi dan tidak semua alat tersebut bisa di daur ulang.</li>
<li>Mungkin masih banyak beberapa fakta lainnya yang bisa ditambahkan pada poin ini. Betapa dampak menyusui begitu positif bukan hanya pada generasi, tapi juga terhadap bumi.</li>
</ol>
<p>ASI yang berlimpah adalah harapan setiap ibu dan keluarga. Berbagai media disediakan untuk hal ini mulai dari berbagai macam pompa ASI, pendingin ASI, hingga wadah penyimpan ASI. Semua tetap bisa dilakukan dengan murah demi mengurangi sampah pada beban bumi. Kita bisa memanfaatkan barang-barang pada rumah tangga seperti sisa botol selai dan botol minuman berenergi sebagai wadah penyimpan ASI dengan mencuci dan mensterilkannya. Bagaimana steril yang hemat energi? Botol  bekas pakai di cuci bersih dengan sabun, di lap bersih lalu jemur di bawah terik matahari. </p>
<p>Lalu wadah pembawa ASI, yang biasa dibawa ibu bekerja, bisa menggunakan termos yang diisi es batu. Tentu saja tetap menjaga keutuhan es batu. Lebih hemat dan termos bisa digunakan untuk wadah penyimpan yang lain. Tidak harus besar. Tidak harus mahal. </p>
<p>Pompa ASI pun beragam harga. Bagaimana agar ASI bisa tetap diperah agar terus berpoduksi namun tetap hemat energi? Tetap bisa!</p>
<p>Hal ini sangat mudah, aman, bersih, hemat dan bisa dilakukan dimana saja. Perah ASI dengan tangan. Caranya: kondisikan tangan dan payudara dalam keadaan bersih. Posisikan jempol pada aerola atas dan telunjuk pada aerola bawah. Tekan lalu lepas maka ASI akan keluar dan siap ditampung pada wadah ASI yang sudah dicuci bersih. Begitu seteruskan. Bisa posisikan pada jam 12-6, jam 3-9 dan tekan bagian2 yang dirasa masih keras.</p>
<p>Mulai sekarang dan seterusnya kita terus sayangi bumi, sayangi penghuni bumi, sayangi peninggalan bumi demi anak cucu kita yang terus akan membawa jejak kebaikan hingga hari akhir.</p>
<p>Mari, sayangi bumi dengan menyusui.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/05/sayangi-bumi-dengan-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui, Tapi Sulit Berhenti Merokok?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/04/menyusui-tapi-sulit-berhenti-merokok/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/04/menyusui-tapi-sulit-berhenti-merokok/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 01:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiki Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1826</guid>
		<description><![CDATA[Banyak di antara perempuan perokok berhenti merokok ketika mengetahui bahwa mereka sedang hamil, namun mereka seringkali kembali merokok ketika bayi sudah dilahirkan. Mari kita bahas efek samping dari rokok bagi ibu menyusui dan bayinya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun sudah banyak yang tahu bahwa merokok adalah sesuatu yang membahayakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, banyak pula yang sudah tahu berbagai efek samping merokok, namun tidak bisa dipungkiri tetap ada sebagian perempuan yang merokok. Mereka ini merokok mulai dari level ‘ringan’ (social smoker) sampai level ‘berat’ yang bisa menghabiskan 2 hingga 3 bungkus sehari. </p>
<p>Banyak di antara perempuan perokok berhenti merokok ketika mengetahui bahwa mereka sedang hamil, namun mereka seringkali kembali merokok ketika bayi sudah dilahirkan. Pada banyak kasus yang saya temui, dengan alasan sudah kembali merokok mereka berhenti menyusui. Mereka khawatir efek samping dari rokok yang mereka hisap akan masuk ke dalam ASI. Betul, bahwa ada ada efek samping dari rokok yang mempengaruhi ASI. Tetapi perlu juga dipikirkan, tidakkah lebih berbahaya jika seorang bayi, yang hidup di lingkungan perokok yang penuh polusi, justru tidak mendapatkan ASI sebagai asupan yang kita ketahui mampu meningkatkan daya tahan tubuhnya?</p>
<p>Mari kita bahas lebih detail mengenai efek samping dari rokok pada ibu menyusui dan bayinya:</p>
<ul>
<img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/04/04-smoking-breastfeeding.jpg" alt="" title="04-smoking-breastfeeding" width="104" height="180" class="alignright size-full wp-image-1827" />
<li>Merokok bisa mengurangi hormon prolaktin di tubuh ibu, sehingga menurunkan produksi ASI. Jika jumlah produksi ASI berkurang secara tidak langsung akan memunculkan peluang untuk early weaning atau menyapih terlalu dini. </li>
<li>Merokok juga mempengaruhi LDR (<em>let down reflects</em>), sehingga meskipun tubuh memproduksi ASI namun tubuh lebih sulit untuk melepaskannya keluar untuk dinikmati bayi.</li>
<li>Bayi yang terpapar asap rokok memiliki tingkat resiko mengidap penyakit radang paru-paru, asma, infeksi telinga, bronkitis, infeksi sinus, dan juga iritasi mata.</li>
<li>Bayi lebih cenderung mudah kolik. Para peneliti mempercayai bahwa hal ini terjadi tidak hanya karena kandungan nikotin yang masuk ke dalam ASI namun juga bayi sebagai perokok pasif di dalam rumah tersebut menjadi mudah gelisah dan rewel. Menghadapi bayi baru lahir yang normal saja sudah membuat ibu baru kewalahan apalagi jika ditambah dengan kegelisahan bayi yang lebih tinggi levelnya karena efek samping asap rokok. Bisa dibayangkan bukan keribetannya?</li>
<li>Bayi dari ayah dan ibu yang merokok 7 kali lebih berpeluang untuk meninggal karena SIDS (<em>Sudden Infant Death Syndrome</em>).</li>
<li>Anak-anak dari ayah dan ibu yang merokok biasanya 2 hingga 3 kali lebih sering ke dokter karena infeksi saluran pernapasan atau penyakit yang berkaitan dengan alergi.</li>
<li>Anak-anak yang terpapar asap rokok di rumah cenderung untuk memiliki kadar darah HDL yang rendah, padahal kolesterol baik ini mampu melindungi mereka dari penyakit jantung koroner.</li>
<li>Anak-anak dari orang tua yang merokok biasanya juga akan menjadi perokok ketika mereka sudah beranjak dewasa.</li>
<li>Penelitian baru-baru ini juga menemukan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan tercemar asap rokok memiliki tingkat resiko mengidap kanker paru-paru di kemudian hari.</li>
</ul>
<p>Sederetan resiko dari bahaya merokok yang disebutkan di atas seringkali tidak cukup untuk membuat seorang ibu mau berhenti sepenuhnya dari merokok. Lalu bagaimana dong? </p>
<ul>
<li>Jalan terbaik adalah belajar berhenti merokok sekarang juga! Bayangkan mengenai kesehatan bayi anda dan juga kesehatan diri anda sendiri. Kondisi yang sehat memungkinkan anda untuk memiliki energi yang maksimal dalam mendidik dan membesarkan buah hati tercinta.</li>
<li>Namun jika berhenti sepenuhnya belum dapat dilakukan, jangan berhenti menyusui. Bayi Anda berhak mendapatkan ASI, karena ASI adalah cairan emas yang mereka butuhkan untuk tumbuh kembang mereka. Bayi yang tidak mendapatkan ASI dan diberi asupan formula melalui botol dot memiliki resiko terkena penyakit di saluran pernapasan dibanding bayi ASI. Apalagi jika bayi yang tidak mendapat ASI tadi berada di lingkungan penuh asap rokok juga, akan semakin tinggi tingat resikonya.  </li>
<li>Semakin sedikit jumlah rokok yang dihisap maka semakin sedikit resiko yang timbul. Sadari bahwa jika Anda merokok lebih dari 20 batang sehari maka resiko bagi bayi semakin tinggi.</li>
<li>Jangan pernah merokok di ruangan yang sama dengan bayi apalagi menyusui sambil merokok.</li>
<li>Beri jarak minimal 1,5 jam antara merokok dan menyusui karena penelitian menyebutkan bahwa itu waktu yang dibutuhkan untuk tubuh mengeliminasi nikotin yang masuk.</li>
<li>Penggunaan <em>nicotine patch</em> ataupun permen karet nikotin sebagai pengganti merokok juga tetap memberikan pengaruh sama seperti merokok, tergantung dari kadar nikotin yang masuk ke tubuh.</li>
</ul>
<p>Sebagai orang tua sudah pasti ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Semoga tulisan singkat mengenai ibu menyusui dan merokok ini mampu menambah wawasan kita. Sehingga apa pun pilihan yang di ambil, sudah berdasarkan informasi yang cukup dan sudah dipikirkan matang-matang. <em>Life is a choice and as a parent you are the decision maker – your baby depends on you!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/04/menyusui-tapi-sulit-berhenti-merokok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan ASI Dalam Mencegah Obesitas Anak</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/04/peranan-asi-dalam-mencegah-obesitas-anak/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/04/peranan-asi-dalam-mencegah-obesitas-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 03:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stella Tinia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Obesitas anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1812</guid>
		<description><![CDATA[Angka kejadian obesitas pada anak sangat meningkat beberapa dekade terakhir. Data di Amerika menunjukkan 10,4% anak usia 2-5 tahun mengalami kelebihan berat badan, 15,3% pada anak 6 sampai 11 tahun, dan 15,5 % pada anak usia 12 sampai 19 tahun (Ogden et al. 2002). Kelebihan berat badan pada anak cenderung akan terbawa terus sampai anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/04/obese-baby-287x300.jpg" alt="" title="obese-baby" width="287" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1813" />Angka kejadian obesitas pada anak sangat meningkat beberapa dekade terakhir. Data di Amerika menunjukkan 10,4% anak usia 2-5 tahun mengalami kelebihan berat badan, 15,3% pada anak 6 sampai 11 tahun, dan 15,5 % pada anak usia 12 sampai 19 tahun (Ogden et al. 2002). Kelebihan berat badan pada anak cenderung akan terbawa terus sampai anak tersebut dewasa; 77 % anak dengan berat badan berlebih akan menjadi orang dewasa yang juga kelebihan berat badan (Freedman et al. 2001). </p>
<p>Apa bahaya obesitas? Obesitas merupakan faktor risiko penting pada penyakit kanker, penyakit jantung dan hipertensi, diabetes, batu empedu, serta penyakit ginjal. Mencegah anak mengalami obesitas/overweight merupakan salah satu investasi penting yg dapat orangt tua lakukan untuk kesehatan anaknya di masa mendatang.</p>
<p>Berbagai  penelitian menunjukkan bahwa menyusui dapat secara bermakna menurunkan risko serta mencegah anak dari berat badan berlebih dan obesitas.</p>
<p>Bayi yang diberi ASI memiliki kadar lemak yang lebih rendah dibandingkan bayi dengan susu formula. Pada usia 5-6 tahun, anak yg tidak pernah mendapat ASI memiliki angka obesitas 4.5%, jauh lebih tinggi dibandingkan bayi yg mendapat ASI lebih dari 12 bulan, yang memiliki angka obesitas hanya 0,8% (von Kries et al. 1999). </p>
<p>Bayi yang disusui oleh ibunya belajar mengendalikan jumlah ASI dan kalori yang dikonsumsinya dibandingkan bayi yg minum dengan botol, yg biasanya lebih sering &#8220;ditarget&#8221; untuk menghabiskan isi botol sekalipun telah merasa kenyang. Selain itu, kandungan susu formula yg padat energi dapat merangsang sistem endokrin untuk mengeluarkan lebih banyak insulin dan growth factor sehingga meningkatkan kadar lemak tubuh pada bayi tersebut. (Hediger et al. 2001).</p>
<p>Disarikan dari berbagai sumber.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/04/peranan-asi-dalam-mencegah-obesitas-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayimu Menolak Menyusu, Itu Bukan Jalan Buntu!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/02/bayimu-menolak-menyusu-itu-bukan-jalan-buntu/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/02/bayimu-menolak-menyusu-itu-bukan-jalan-buntu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 01:28:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Clodi Stepantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[nursing strike]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1773</guid>
		<description><![CDATA[Si malaikat kecil menolak lagi, kali ini bahkan kaki mungilnya menendang-nendang dada ibunya dengan sangat keras. Wanita setengah baya itu merasa penolakan ini lebih menyakitkan daripada ditolak oleh cinta pertamanya. Dunia serasa hancur, fikiran negatif mulai menggelitik… haruskah menyerah ? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Si malaikat kecil menolak lagi, kali ini bahkan kaki mungilnya menendang-nendang dada ibunya dengan sangat keras. Wanita setengah baya itu merasa penolakan ini lebih menyakitkan daripada ditolak oleh cinta pertamanya. Dunia serasa hancur, fikiran negatif mulai menggelitik… haruskah menyerah ? </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/02/02-nangis.jpg" alt="" title="02-nangis" width="300" height="225" class="alignleft size-full wp-image-1777" />Biasanya mogok menyusu ini berlangsung antara dua hingga lima hari, tapi bisa juga menjadi lebih lama. Kalau berkepanjangan maka Ibu akan kelelahan jika harus terus menerus memerah ASI yang tentu saja jumlahnya kian hari akan kian menipis. Duh, bagaimana ini ?</p>
<p>Saat bayi mogok menyusu memang saat yang sungguh memusingkan. Bayi jadi lebih sering menangis dan frustasi akibat rasa lapar dan fase oral (untuk menghisap atau <em>suckling</em>) yang tidak tersalurkan, beberapa bayi bahkan jadi mengalami penurunan berat badan. </p>
<p>Namun ternyata yang susah bukan hanya bayi, tapi ibunya juga. Perasaan sedih kerap menghampiri dan secara perlahan akan memutuskan motivasi untuk melanjutkan menyusui si kecil. Jika bayi mendadak mogok menyusu, segera pelajari apa yang terjadi agar tak ragu temukan solusi !</p>
<p>Saat bayi mendadak menolak menyusu, yang terpenting adalah <strong>berfikir positif</strong>. Hindari godaan yang berbisik bahwa :</p>
<ul>
<li><strong>bayi tidak suka pada ibunya</strong>; hal ini tidak mungkin terjadi karena secara insting bayi belum mengenal arti membenci atau tidak suka,</li>
<li><strong>bayi sedang menyapih dini (<em>early weaning</em>)</strong>; hal ini kurang tepat karena penyapihan adalah proses dan tidak terjadi secara tiba-tiba, <em>wong kemarin masih mau menyusu kok hari ini mendadak tidak mau?</em></li>
<li><strong>bayi tidak suka rasa ASI</strong>; hal ini kurang pas, karena meskipun jenis makanan ibu beragam tapi rasa ASI cenderung stabil dan bayi sudah biasa dengan perubahan rasa makanan sejak dalam rahim.</li>
<li><strong>ASI basi atau ASI terpolusi</strong>, biasanya dikatakan seperti ini pada kondisi ibu yang baru saja pulang dari berpanas-panasan; hal ini tidak benar karena payudara merupakan tempat penyimpanan ASI yang paling higenis dimana tidak mungkin menjadi terpapar kuman sehingga menjadi basi apalagi terpapar polusi.</li>
<li><strong>ASI tidak cukup</strong> sehingga bayi menolak karena tidak puas; hal ini tentu tidak tepat karena produksi ASI bersifat <em>supply based on demand</em> dimana ASI akan diproduksi sesuai dengan jumlah ASI yang dikeluarkan dari payudara (baik melalui pelekatan langsung oleh bayi maupun melalui kegiatan memerah ASI dengan tangan atau dengan pompa). Yang lebih sering terjadi adalah bahwa <strong>ASI keluar tersendat-sendat</strong>, hal ini dapat membuat bayi menjadi tidak sabar dan marah. Untuk ini perlu diberikan rangsangan terhadap <em>let down reflex</em> dengan memerah ASI sedikit. Hal ini dilakukan untuk memancing hormon oksitosin yang mendorong ASI keluar sehingga bayi bisa mendapatkan ASI dengan lebih cepat di awal proses menyusu.</li>
<li><em>dan mungkin masih banyak alasan negatif lain</em></li>
</ul>
<p><em>Ahh</em>, daripada berfikir negatif, lebih baik mencoba cari tahu dulu, kenapa sih malaikat kecil itu menolak menyusu secara mendadak ? Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan : </p>
<p><strong>Apakah bayi dibiasakan minum ASI perah dengan menggunakan botol dot?</strong> Jika ya, maka kemungkinan besar penyebabnya adalah bingung puting (<em>nipple préférence</em>) yakni suatu kondisi dimana bayi lebih memilih minum ASI melalui botol dot ketimbang langsung dari <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/02/02-teriak.jpg" alt="" title="02-teriak" width="300" height="225" class="alignright size-full wp-image-1781" />payudara ibu. Kenapa ? Karena menyusu melalui botol dot lebih mudah dan mekanismenya berbeda dengan menyusu pada payudara. Saat minum melalui botol dot, aliran ASI lebih lancar dan bayi tidak perlu memijat payudara untuk dapat mengeluarkan air susu. Dianjurkan untuk mencoba ganti cara pemberian botol dot dengan cangkir kecil, pipet tetes atau sendok. Saat bayi terbiasa terpisah dari botol dot maka secara perlahan akan lebih mudah kembali ke payudara ibu karena bayi tengah mengalami fase oral dimana menyusu dapat memuaskan hasratnya.</p>
<p><strong>Apakah puting susu mengalami luka pada hari-hari terakhir sebelum bayi mendadak menolak menyusu?</strong> Jika ya, maka kemungkinan besar luka pada puting susu memberi rasa yang berbeda pada ASI sehingga membuat bayi menolak. Dianjurkan untuk memperbaiki posisi mulut bayi saat menyusu agar menyusu menjadi lebih efektif dan puting susu terhindar dari iritasi dan luka.</p>
<p><strong>Apakah pada bagian tubuh bayi  terdapat luka yang terlihat, misal luka memar?</strong> Atau mungkin lukanya kasat mata ? Jika ya, maka kemungkinan cara menggendong membuat bayi merasa kesakitan dan tidak nyaman. Dianjurkan untuk mencoba menyusui dengan posisi tidur sehingga lebih sedikit bagian tubuh bayi yang tertekan.</p>
<p><strong>Apakah ada perilaku dari ibu yang berubah?</strong> Misalnya ibu mengganti merk parfum atau mengganti aroma sabun mandi / shampoo ? Jika ya, maka kemungkinan bayi merasa kurang nyaman dengan aroma yang baru tersebut. Dianjurkan untuk sebisa mungkin kembali ke prilaku awal.</p>
<p><strong>Apakah ibu bereaksi berlebihan?</strong> Misalnya tanpa sengaja berteriak kesakitan saat bayi menggigit (atau menggusit – menggigit pakai gusi) payudara ? Jika ya, maka kemungkinan bayi trauma. Ia belum memahami kenapa ibunya menjerit waktu itu sehingga saat hendak mulai menyusu lagi, bayi sudah menolak terlebih dahulu. Dianjurkan untuk bercanda dulu dengan si kecil sebelum menawarkan payudara, tersenyum dan ajak dia tertawa dulu.</p>
<p><strong>Apakah ibu stres belakangan ini?</strong> Jika ya, ini dapat berpengaruh karena bayi yang menyusu pada ibunya memiliki ikatan atau <em>bonding</em> yang cukup kuat. Ketidaknyamanan ibu dapat dirasakan oleh bayi sehingga membuat bayi menjadi rewel. Lupakan hal lain saat hendak menyusui si kecil, jika perlu putar musik lembut dan nikmati waktu berdua saja dengannya.</p>
<p><strong>Apakah bayi berganti pengasuh?</strong> Misalnya saat ibu kembali bekerja, atau setelah memiliki pengasuh  baru, bayi mendadak menolak menyusu pada ibu. Jika ya, tidak perlu buru-buru memecat <em>nanny</em> barunya tapi lebih dianjurkan untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengannya setelah pulang dari kantor, misalnya gendonglah si bayi lebih sering serta tidurlah di sampingnya.</p>
<p>Haduh, bingung juga yah karena ternyata banyak sebab kenapa bayi bisa mendadak menolak menyusu. Berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu ibu mengatasi masalah mogok menyusu ini, yakni :</p>
<ol>
<li><strong>Lakukan lebih banyak kontak kulit</strong>, habiskan lebih banyak waktu bersama si malaikat kecil berdua saja dalam suatu ruangan dimana ibu tidak mengenakan pakaian atas (<em>topless</em>) dan si dedek hanya menggunakan celana dalam atau popok. Biarkan si kecil bereksplorasi sendiri, tidak perlu dipaksa untuk mendekat pada ibu karena dengan sendirinya ia akan mendekati ibunya. Tidak perlu memaksa si kecil untuk langsung menyusu karena mungkin dia akan mendekati ibunya lalu mungkin hanya akan tertidur di dada ibunya tanpa sempat menyusu, begini saja sudah menunjukkan tanda positif. Jika satu kali belum berhasil, coba lagi. Cara ini membantu si kecil untuk ‘mengenal kembali’ ibunya.</li>
<li><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/02/02-menyusu.jpg" alt="" title="02-menyusu" width="300" height="225" class="alignright size-full wp-image-1779" /><strong>Tunggu hingga bayi sangat mengantuk</strong>, karena banyak bayi yang cenderung tidak menolak saat dalam kondisi setengah teler. Hindari memaksa bayi menyusu ke payudara, misalnya dengan mendorong kepalanya agar mendekat ke payudara, karena penolakan bisa berlanjut menjadi semakin panjang.</li>
<li><strong>Tawarkan lebih sering</strong>, khususnya saat bayi sedang merasa senang dan sedang berada di tempat favoritnya, misalnya saat dia tengah bermain, saat dia selesai makan, saat dia mandi…. di mana pun, kapan pun. Namun jangan paksa jika ia menolak.</li>
<li><strong>Coba menyusui sambil menimang-nimang</strong> misalnya sambil berjalan-jalan atau sambil duduk di kursi goyang, karena gerakan lembut dapat mengurangi emosinya untuk menolak. Misal, ajak si kecil muter-muter komplek rumah dengan mobil, duduk berdua dengan dia di kursi belakang, ayunan mobil dapat membantu si kecil meredakan emosinya.</li>
<li><strong>Redupkan lampu kamar</strong>, redakan suara-suara yang keras agar bayi merasa lebih tenang dan nyaman. Biasanya bayi yang berusia 6-9 bulan sudah lebih waspada terhadap keadaan di sekitarnya sehingga gangguan sedikit saja dapat membuatnya tidak benar-benar menyusu melainkan hanya sekedar menempel saja pada payudara.</li>
<li><strong>Coba ganti posisi menggendong si kecil</strong>, seperti telah dijelaskan sebelumnya bisa jadi posisi atau cara menggendong membuat bayi tidak nyaman sehingga ia menolak untuk menyusu.</li>
<li><strong>Kenakan pakaian yang simpel dan <em>ga ribet</em></strong>, yang memungkinkan bayi sangat mudah mendapatkan akses ke payudara, jika memungkinkan kenakan lebih sering baju menyusui sehingga ibu tidak perlu membuang waktu banyak untuk membuka kancing baju terlebih dahulu. Hanya berbeda beberapa detik, tapi saat dirasa terlalu lama oleh bayi maka ia sudah keburu kehilangan minat untuk menyusu.</li>
<li><strong>Bawa ke dokter anak</strong>, <em>just in case</em> ternyata bayi mengalami luka yang tidak terlihat seperti infeksi telinga, lidah berjamur (<em>thrust</em>), dsb. Ada kalanya bayi membutuhkan tindakan medis karena tengah mengalami sakit yang membuatnya tidak nyaman saat menyusu.</li>
</ol>
<p>Intinya, saat bayimu menolak menyusu itu bukan akhir dunia. Kenali dulu penyebabnya kemudian coba lakukan beberapa trik tersebut. Yang sabar yah, karena kesabaranmu akan berbuah manis. Selamat (kembali) menyusui !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/02/bayimu-menolak-menyusu-itu-bukan-jalan-buntu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Donor ASI; Kapan dan Bagaimana?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 16:20:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Astri Pramarini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Donor ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1743</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor? Yuk kita bahas bersama–sama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering kali kita membaca di milis dan media sosial adanya permintaan ASI donor karena beberapa sebab, misalnya: ibu meninggal, ibu sakit, bayi masuk NICU, bayi masuk inkubator, bayi terlantar, persediaan ASI perah habis, ASI belum keluar, persiapan menjelang melahirkan ataupun tidak mencantumkan alasan kenapa membutuhkan ASI donor.</p>
<p>Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor? Yuk kita bahas bersama–sama.</p>
<p><strong>Pada dasarnya bayi baru lahir sehat dari ibu yang sehat bisa mendapat ASI secara penuh tanpa perlu tambahan asalkan mendapat kesempatan menjalani Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Rawat Gabung penuh 24 jam bersama ibu, serta bayi menyusu tanpa jadwal dengan posisi dan pelekatan yang efektif.</strong></p>
<p>Lalu kondisi apa saja yang membuat bayi mungkin perlu mendapatkan suplementasi baik berupa tambahan atau pengganti selain menyusu? WHO dan UNICEF mengeluarkan dokumen Alasan Medis Menggunakan Pengganti ASI yang telah dirangkum sebagai berikut:</p>
<p>Indikasi pada Bayi yang Memerlukan Pengganti ASI:</p>
<ul>
<li><em>Inborn errors of metabolism</em> atau kelainan metabolisme bawaan (galaktosemia, fenilkotenouria, penyakit urin sirup mapel)</li>
</ul>
<p>Indikasi pada Bayi yang Mungkin Memerlukan Suplementasi:</p>
<ul>
<li>Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (kurang dari 1500 gram) atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu</li>
<li>Bayi berisiko hipoglikemia karena gangguan adaptasi metabolik atau peningkatan kebutuhan glukosa (Kecil Masa Kehamilan, prematur, mengalami stres hipoksik/iskemik, bayi sakit, bayi dengan ibu yang menderita diabetes) jika kadar gula darahnya gagal merespon pemberian ASI</li>
<li>Bayi dengan kehilangan cairan akut (misal karena fototerapi untuk jaundice) dan menyusui serta memerah ASI belum bisa mengimbangi kebutuhan cairan</li>
<li>Turunnya berat badan bayi berkisar 7 – 10% setelah hari ke 3 – 5 karena terlambatnya laktogenesis II</li>
<li>BAB bayi masih berupa mekonium pada hari ke 5 pasca persalinan</li>
</ul>
<p>Indikasi pada Ibu:</p>
<ul>
<li>Ibu dengan HIV + (keputusan pemberian minum pada bayi sebaiknya melalui proses konseling saat ibu hamil)</li>
<li>Ibu sakit berat (psikosis, sepsis, eklamsia atau mengalami renjatan/syok), infeksi virus Herpes Simpleks tipe 1 dengan lesi di payudara, infeksi varicella zoster pada ibu dalam kurun waktu 5 hari sebelum dan 2 hari sesudah melahirkan</li>
<li>Ibu mendapat sitostatika, radioaktif tertentu seperti Iodine 131, obat – obatan antitiroid selain Propylthiouracil</li>
<li>Ibu pengguna obat terlarang</li>
<li>Ibu mengalami kelainan payudara, riwayat operasi pada payudara, atau jaringan payudara tidak berkembang</li>
</ul>
<p>Kita lihat dari kedua tabel di atas maka sebagian besar kondisi di atas terjadi di hari–hari awal kelahiran. Dengan mempertimbangkan keuntungan dan risikonya, keputusan menggunakan suplementasi harusnya berdasarkan penilaian dan evaluasi dari konselor laktasi, dokter anak dan dokter kebidanan mengenai proses menyusui yang meliputi; observasi saat menyusu langsung pada payudara, evaluasi pasokan ASI, riwayat persalinan, evaluasi posisi, pelekatan, kekuatan hisap, kemampuan menelan, dan penilaian kondisi bayi secara menyeluruh. Kondisi pada ibu dan bayi akan menentukan apakah suplementasi ini bersifat sementara atau menetap. <strong>Perlu diingat juga, tujuan akhir dari suplementasi ini adalah untuk mempertahankan menyusui.</strong></p>
<p>Hierarki Suplementasi</p>
<ul>
<li>ASI/Kolostrum perah segar dari ibu</li>
<li>ASI perah ibu didinginkan</li>
<li>ASI perah ibu pernah dibekukan dan sudah dicairkan</li>
<li>ASI perah ibu sendiri yang difortifikasi (bila perlu) untuk bayi prematur</li>
<li>ASI donor dari Bank ASI dan dipasteurisasi</li>
<li>Formula bayi hipoalergenik</li>
<li>Formula bayi elemental</li>
<li>Formula berbasis susu sapi</li>
<li>Formula berbasis soya</li>
<li>Air atau air gula</li>
</ul>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/01-nourin-asip.jpg" alt="" title="01-nourin-asip" width="263" height="209" class="alignleft size-full wp-image-1752" />Dari tabel di atas serta tujuan akhir suplementasi bisa kita lihat utamanya adalah memaksimalkan produksi ASI ibu baik dalam menyusu langsung, ASI perah segar ataupun sudah dibekukan. Di sini peranan seorang konselor laktasi sangat penting untuk membantu ibu mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksi ASInya. Jika dirasa belum cukup, barulah dicarikan tambahan yang bisa berupa ASI donor yang sudah dipasteurisasi ataupun formula bayi, yang diberikan sedemikian rupa sehingga tetap menjaga dan mempertahankan keberlangsungan proses menyusui ibu dan bayi.</p>
<p><strong>ASI Donor di Indonesia</strong></p>
<p>Dalam hierarki suplementasi, ASI donor dari bank ASI dan sudah dipasteurisasi menjadi urutan berikutnya setelah ASI dari ibu si bayi. Hanya saja, di Indonesia tidak ada Bank ASI yang melakukan skrining terhadap pendonor ASI serta kultur dan pasteurisasi terhadap ASI donor. </p>
<p>Lalu bagaimana kita menyikapinya? Meskipun ASI memang yang terbaik bagi bayi, kita tidak bisa menutup mata terhadap kemungkinan ASI terpengaruh dengan penyakit yang diderita atau gaya hidup pendonor ASI (infeksi HIV, Hepatitis B dan C, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, bertato atau <em>body piercing</em>). Apalagi sebagian besar penerima ASI donor adalah bayi baru lahir, bayi prematur atau bahkan bayi sakit.</p>
<p>Ada baiknya bagi ibu yang akan mendonorkan ASInya bagi bayi lain menyeleksi dirinya sendiri dengan hal-hal sebagai berikut:</p>
<p>Tidak Disarankan Mendonorkan ASI:</p>
<ul>
<li>Menerima donor darah atau produk darah lainnya dalam 12 bulan terakhir</li>
<li>Menerima transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir</li>
<li>Minum alkohol secara rutin sebanyak 2 ounces atau lebih dalam periode 24 jam</li>
<li>Pengguna rutin obat-obatan Over the Counter (aspirin, acetaminophen, dll), pengobatan sistemik lainnya (pengguna kontrasepsi atau hormon pengganti tertentu masih dimungkinkan)</li>
<li>Pengguna vitamin megadosis atau obat-obatan herbal</li>
<li>Pengguna produk tembakau</li>
<li>Memakai implan silikon pada payudara</li>
<li>Vegetarian total yang tidak memakai suplementasi vitamin B12</li>
<li>Penyalah guna obat-obatan terlarang</li>
<li>Riwayat Hepatitis, gangguan sistemik lainnya atau infeksi kronis (contohnya: HIV, HTLV, sifilis, CMV – pada bayi prematur) </li>
<li>Beresiko HIV (pasangan HIV positif, mempunyai tato/<em>body piercing</em>)</li>
</ul>
<p>Disarankan memeriksakan dirinya dan terbukti negatif secara serologis terhadap: HIV-1 dan HIV-2, HTLV-I dan HTLV-II, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis. Pemeriksaan ini juga berguna jika dilakukan setiap ibu yang hamil untuk mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi. Pemeriksaan dan kriteria donor di atas juga perlu diulangi setiap kehamilan atau persalinan baru.</p>
<p>Sedangkan bagi orang tua yang memutuskan menerima ASI donor (tanpa melalui Bank ASI) ada baiknya mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:</p>
<ul>
<li>Bagaimana kondisi kesehatan ibu/pendonor? → pola makan terkait religi/keyakinan</li>
<li>Apakah uji serologis ibu terhadap HIV, Hepatitis B, HTLV negatif?</li>
<li>Apakah ASI tidak tercemar obat, nikotin, alkohol, dsb?</li>
<li>Apakah ASI tidak tercampur air, bahan/zat/nutrisi lain?</li>
<li>Apakah ASI diperah dan disimpan secara higienis dan tidak terkontaminasi? </li>
<li>Apakah jangka waktu penyimpanan dan tempat penyimpanannya sesuai?</li>
<li>Bagaimana kondisi bayi ibu/pendonor? → usia bayi pendonor <1 th , pernah menderita jaundice saat baru lahir?</li>
</ul>
<p><strong>Menyiapkan ASI Donor</strong></p>
<p>Jika pada akhirnya diputuskan menggunakan ASI donor yang belum dipasteurisasi, ada 3 teknik perlakuan terhadap ASI yang bisa dilakukan yang biasa mengurangi penularan penyakit (terutama HIV) melalui ASI.</p>
<ol>
<li>Pasteurisasi Holder </li>
<p>ASI dipanaskan dalam wadah kaca tertutup di suhu 62,5˚C selama 30 menit. Biasanya dilakukan di Bank ASI karena membutuhkan pengukur suhu dan pengukur waktu.</p>
<li>Teknik Flash Heating</li>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/01-flash-heating.jpg" alt="" title="01-flash-heating" width="253" height="156" class="alignright size-full wp-image-1753" />ASI sebanyak 50 ml ditaruh dalam botol kaca/botol selai  ukuran sktr 450 ml terbuka di dalam panci alumunium berukuran 1 L berisi 450 ml air. Kemudian panci dipanaskan di atas kompor sampai air mendidih, matikan, kemudian botol kaca berisi ASI diangkat dan didiamkan sampai suhunya siap untuk diminum bayi.</p>
<li>Pasteurisasi Pretoria</li>
<p>Panaskan air sebanyak 450 ml di panci alumunium berukuran 1 L sampai mendidih. Matikan kompor. Letakkan botol kaca terbuka yang berisi ASI sebanyak 50ml di dalam panci selama 20 menit. Kemudian angkat dan diamkan sampai suhu ASI siap diminum bayi.
</ol>
<p>Kalau kita lihat dari 3 teknik tadi, yang paling mungkin dilakukan adalah teknik nomor 2 dan 3. Manapun, pilih yang paling nyaman bagi ibu dan keluarga. Jika donor ASI dilakukan karena bayi sakit di Rumah Sakit, ingatkan perawat untuk melakukan pemanasan ini sebelum memberikan ASI donor kepada bayi anda.</p>
<p>Semoga bisa menjadi pertimbangan bagi ibu yang akan menerima atau mendonorkan ASI. Salam ASI!</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><small><br />
<strong>Referensi  Donor ASI</strong></p>
<ul>
<li>Walker, M. (2011) Breastfeeding Management for the Clinician: using the evidence. 2nd ed. Sudburry, MA. Jones and Bartlett</li>
<li>Lawrence, RA. (2011) Breastfeeding: A Guide for the Medical Profession. 7th ed. Maryland Heights, MI. Mosby</li>
<li>ABM Protocol #3. Hospital Guidelines for the Use of Supplementary Feedings in the Healthy Term Breastfed Neonate. (2009) Revised Edition. <a href="http://www.bfmed.org">www.bfmed.org</a></li>
<li>Israel-Ballard, K., et al. (2008) Flash-heated and Pretoria Pasteurized destroys HIV in breast milk &#038; Preserves Nutrients! Advanced Biotech. <a href="http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdf">http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdf</a> accessed January 8, 2012</li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sentuhan kASIh Berjuta Manfaat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 01:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irawati Budiningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kontak kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1530</guid>
		<description><![CDATA[Sepucuk surat datang mengabarkan bahwa Anda harus mengikuti perintah tugas: pindah ke daerah lain nun jauh dari tempat tinggal sekarang, tak ada kerabat ataupun sanak saudara yang dikenal. Karena beban kerja dan terbatasnya sarana pendidikan di daerah nanti, Anda dilarang membawa serta keluarga, tapi Anda tak perlu khawatir, segala fasilitas tersedia disana: internet untuk menghubungkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepucuk surat datang mengabarkan bahwa Anda harus mengikuti perintah tugas: pindah ke daerah lain nun jauh dari tempat tinggal sekarang, tak ada kerabat ataupun sanak saudara yang dikenal. Karena beban kerja dan terbatasnya sarana pendidikan di daerah nanti, Anda dilarang membawa serta keluarga, tapi Anda tak perlu khawatir, segala fasilitas tersedia disana: internet untuk menghubungkan kita dengan orang-orang tercinta, telepon bertarif murah dan bebas digunakan kapanpun, segala sarana komunikasi canggih mendukung! Hanya saja transportasi untuk kembali ke kampung halaman sangat terbatas, tetapi Anda masih mendapat jatah pulang ke kampung halaman 2x setahun tidak termasuk cuti hari raya.</p>
<p>Kenapa hati ini tetap sedih? Tetap merasa berat memutuskannya? Apa yang kurang disana?</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Bayangkan situasi tersebut dialami oleh bayi Anda. Dari keadaannya yang nyaman, tenteram, hangat, ‘terpeluk’ oleh rahim penyayang ibu, lalu dilahirkan dan menemui dunia yang hiruk pikuk ini. Sinar dan cahaya terang, gegap gempita riuh ramai suara, di’cengkeram’ tangan-tangan dokter &#038; suster. Inikah dunia itu? Siapa mereka semua? Asing sekali suaranya, sentuhannya, aromanya. Sangat tidak biasa bagi si bayi mungil ini. Tak heran ia begitu mudahnya menangis seperti orang stress. Ya, walaupun dia manusia baru, manusia kecil, dia tetaplah seorang manusia yang juga bisa stress.</p>
<p>Saat saya melahirkan anak pertama saya dulu, saya belum mengenal apa itu Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Seperti yang biasa saya tonton di film atau dengar cerita, begitu bayi lahir segera dilakukan pengecekan medis dan dibersihkan, lalu terbungkus rapi dalam bedongan &#038; topi bayi untuk diberi sekali kecupan oleh ibunya, lalu dibawa ke ruang bayi – tempatnya mondok di rumah sakit ini. Nanti saat kerabat datang, bisa melihat lewat jendela kaca besar ruang bayi dan ‘<em>baby show</em>’ pun bisa dinikmati pada jam-jam tertentu. Indah ya kelihatannya? </p>
<p>Tapi yang saya rasakan adalah, anak saya menangis tidak karuan sepanjang hari saat diantar ke ruangan saya untuk menyusu (ya, tidak perlu ditanya lagi, saat itu pun saya tidak tahu tentang rawat gabung). Kebalikannya, pada hari ke-3 saat ASI mulai tak terkontrol membasahi kimono, bayi saya malah tertidur sulit untuk dibangunkan menyusu. Mulutnya terkunci rapat &#038; kalaupun terbuka sedikit, tidak melekat pada payudara dengan sempurna yang mengakibatkan lecet di puting. Begitu horornya kah punya anak? Saya tidak bisa mengendalikan tangisan bayi saya, bahkan badan saya yang terus menerus kesakitan &#038; pegal-pegal.</p>
<p>Berbeda jauh dengan cerita saat melahirkan anak kedua, yang sudah lebih berbekal ilmu tentang melahirkan, IMD, menyusui &#038; apa saja yang mungkin dihadapi pada hari-hari pertama di RS. Anak kedua kami memilih jam 23.00 untuk menyapa dunia. Jadilah hanya saya &#038; suami tanpa kerabat lain menunggu di RS saat lahiran. Proses IMD berhasil kami jalani dengan tenang selama kurang lebih 2 jam. Pastinya ada rasa khawatir sedikit pada saat bayi kami menangis begitu kencang saat badannya dibersihkan sekedarnya (kami berdua de ja vu apakah psikisnya akan seperti si kakak yang mudah menangis dan stress). Tapi ajaibnya saat si bayi diletakkan di dada saya, tangisannya berhenti seketika! Selanjutnya adalah cerita indah tentang IMD yang terlalu panjang untuk dibahas disini.</p>
<p>Yang ingin saya garis bawahi mengenai cerita kelahiran anak pertama dan kedua saya adalah ‘ke-segera-an terjadinya kontak kulit’ antara ibu &#038; bayi. Kontak kulit begitu dominan dalam proses IMD. Sejak awal hingga akhir adalah mengenai kontak kulit. Dan tanpa sadar, tangan ibu pasti mengelus-elus bayi saat IMD. Yang artinya, ibu tanpa sadar melakukan gerakan pijatan pada bayi. Terkadang ini juga menjadikan <em>cues</em> (tanda) bahwa elusan tangan ibu adalah ajakan bayi untuk menyusu. Kedua bayi saya terlahir berbeda golongan darah dengan saya, yang berpengaruh pada resiko bilirubin tinggi, dimana bilirubin ini bisa diturunkan dengan pemberian ASI. Bayi berbilirubin tinggi cenderung mengantuk dan sulit sekali dibangunkan untuk menyusu (seperti yang terjadi pada anak pertama saya). Pada anak kedua, bila tiba waktunya menyusu (2 jam sekali) saya cukup mengelusnya sambil membisikkan ajakan untuk menyusu ke telinganya, lalu dia pun membuka mulutnya (walaupun terkadang matanya masih tetap tertidur). <em>Cues</em> hanya bisa dibangun dengan kebiasaan. Oleh karenanya manfaatkan kesempatan saat IMD untuk membangun kebiasaan baik tersebut.</p>
<p>Saya tidak akan membahas terlalu detail mengenai manfaat pijat bayi disini, karena saya yakin banyak sekali <em>literature</em> yang sudah mengupas tentang hal tersebut secara mendalam. Tapi yang ingin saya tekankan, pijat bayi bukanlah suatu keahlian khusus yang hanya bisa dilakukan oleh ‘orang pintar’ atau ‘dukun pijat’. </p>
<p><strong>Esensi dari pijat adalah skin to skin contact. </strong></p>
<p>Silahkan anda merasakan sendiri, mana lebih nyaman : pijat di kursi pijat elektronik atau dipijat langsung dengan tangan orang? </p>
<p>Saya yakin jawabannya pasti dipijat tangan orang <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, kita tingkatkan lagi tantangannya, mana yang lebih nyaman : dipijat oleh orang yang baru anda kenal tanpa anda tahu keahliannya atau dipijat oleh orang yang sudah pernah memijat anda dan pijatannya enak?</p>
<p>Saya 1000% yakin jawabannya lebih enak dipijat orang yang jago pijat. Betul?</p>
<p>Kembali ke bayi, mereka yang baru saja dilahirkan belum mengenal standard pijatan enak atau tidak. Tekanan keras <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-artikel-irawati-300x229.jpg" alt="" title="08-artikel-irawati" width="300" height="229" class="alignleft size-medium wp-image-1531" />atau terlalu keras. Tehnik pijatan tradisional atau Swedish massage. Yang mereka ketahui: aroma, suara &#038; degup jantung ibunya. Jadi pastinya pijatan yang paling nyaman untuk si bayi adalah bila yang memijat ibunya sendiri: tidak asing &#038; terasa aman melindunginya. Nah, persoalannya sekarang, banyak ibu yang tidak pede akan tehnik memijat &#038; tingkat tekanan pijatannya untuk badan kecil bayinya. Sehingga mereka lebih percaya ‘pemijat profesional’ yang memijat bayinya. Sebenarnya tidak menjadi masalah bila si bayi nyaman-nyaman saja (dalam artian tidak stress saat dipijat). Tapi akan menjadi bumerang apabila si bayi tidak nyaman. Percaya atau tidak, ini juga berpengaruh kepada ASI si ibu. Pada saat ibu melihat bayinya menangis (bahkan dipaksa diurut terlalu kencang) oleh ‘pemijat profesional’ tadi, oksitosin ibu malah menurun. Akibatnya distribusi ASI terganggu.</p>
<p>Kembali saya tekankan, kunci utama memijat bayi adalah: skin to skin contact. Jadi tidak bertekanan (hanya sekedar elusan) juga tidak masalah. Jadikan pijat bayi sebagai sarana berkomunikasi. Manfaat lainnya adalah bonus. Dengan berfikir seperti itu, akan lebih mudah bagi ibu untuk melakukan pijat bayi tanpa ada rasa takut atau terpaksa. </p>
<p>Jangan terperangkap ‘rutinitas pijat bayi’. Ada beberapa bayi yang tidak terbiasa dipijat secara rutin, tapi karena ibunya begitu bersemangat jadi memaksa bayi, sehingga bayi stress. Sesungguhnya yang seharusnya adalah manfaatkan pijat bayi sebagai alat komunikasi menciptakan <em>cues</em> (rutinitas). Contohnya adalah tadi seperti yang saya ceritakan : membangunkan bayi yang tidur untuk menyusu dengan mengelusnya. Bonus lain dari kegiatan ini adalah ‘menyalakan alarm’ LDR (let down reflects) pada si ibu setiap bayi mau menyusu. </p>
<p>Kembali ke pengalaman pribadi saya, saat kami sudah tidak ‘berkejar-kejaran’ dengan bilirubin yang menyusu menjadi rutinitas setiap 2 jam sekali, kini kehidupan kami sudah lebih nyaman dan terkendali. Bayi saya kadang tidak tentu jam menyusunya, saya sudah lebih mengikuti ‘demand’ nya saja kapan harus menyusui. Tapi hebatnya, setiap kali dia mau menyusu, LDR saya pun mengalir seperti memberi alarm, bahkan saat saya sedang pergi tidak bersama bayi saya. Biasanya saat itu saya akan telpon ke rumah untuk menanyakan apakah dia sedang minum ASI perah? Beberapa kesempatan begitu pas, saat LDR ya saat dia minta minum ASI perah. Dan ada beberapa keadaan dia masih tertidur atau bermain dan saya LDR, saat saya telpon beberapa waktu kemudian dia minta minum ASI perah. Ajaib? Saya rasa tidak, saya lebih percaya itu adalah ikatan yang sudah dibangun sejak kehamilan, dilanjutkan dengan rutinitas yang terbangun dari pijat ibu &#038; bayi <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;</p>
<p>Lalu saat akhirnya Anda memutuskan untuk tetap berangkat memenuhi panggilan tugas tersebut, kesempatan pulang ke kampung halaman begitu menyenangkan dan menghangatkan. Yang sangat menyamankan bukanlah komunikasi langsungnya, atau tatap muka langsungnya, sesuatu yang begitu priceless adalah kesempatan berjabat tangan, memeluk pasangan &#038; anak kita, mencium aroma kampung halaman. Ada berbagai hal yang tidak bisa tergantikan bukan? <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Suami Menjadi Ayah ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/agar-suami-menjadi-ayah-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/agar-suami-menjadi-ayah-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Aug 2011 01:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ernest Prakasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1518</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menjadi pemahaman umum, bahwa laki-laki dan perempuan punya tugas yang berbeda. Ayah kerja, cari uang. Ibu mengurus anak. Dan dikotomi job description inilah yang membuat laki-laki, pada saat menjelang dan baru saja memiliki bayi, tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli. Saya ulangi: laki-laki bukan tidak peduli, melainkan tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli. Bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah menjadi pemahaman umum, bahwa laki-laki dan perempuan punya tugas yang berbeda. Ayah kerja, cari uang. Ibu mengurus anak. Dan dikotomi <em>job description</em> inilah yang membuat laki-laki, pada saat menjelang dan baru saja memiliki bayi, tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli.</p>
<p><strong>Saya ulangi: laki-laki bukan tidak peduli, melainkan tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli.</strong> </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-ernest-300x300.jpg" alt="" title="08-ernest" width="300" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1519" />Bila kita menggunakan istilah &#8220;tidak peduli&#8221;, maka pengertiannya adalah mereka sudah mengetahui, tapi memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa. <em>That&#8217;s not the case</em>. Masalahnya adalah, sebagian besar bahkan tidak menyadari sama sekali &#8220;kenapa mereka harus melakukan sesuatu&#8221;. Apalagi hingga ke tahap &#8220;apa yang harus dilakukan&#8221;.</p>
<p>Menurut norma awam, mengurus bayi memang pada dasarnya adalah bukan domain utama ayah. Kalo mau dirunut, yang paling berwenang adalah: ibu si bayi; lalu dilanjutkan oleh ibu dari ibu si bayi. Dengan demikian, cukup bisa dimaklumi apabila banyak ayah yang &#8220;mundur&#8221; dan menurut saja. Ini bukan sebuah ketidakpedulian, melainkan lebih kepada &#8220;udahlah daripada malah nambah ribet&#8221;. Ingin yang praktis.</p>
<p>Tingkat keterlibatan yang casual inilah yang membuat laki-laki kehilangan rasa kritisnya. &#8220;Susu formula? Kayaknya semua orang juga ngasih, harusnya sih gapapa ya?&#8221;, begitu mungkin pemikiran mereka. Belum lagi bombardir iklan, terutama di televisi, yang menendang ASI dari posisi &#8220;<em>top of mind</em>&#8221; kala orang mengingat soal susu bayi.</p>
<p>Jadi, bila berbicara tentang keterlibatan ayah dalam pemberian ASI, langkah awal tetap harus dimulai dari ibu. Oleh karena itu, berikut beberapa alasan yang bisa dikemukakan oleh ibu untuk meyakinkan ayah agar mendukung pemberian ASI:</p>
<ul>
<li>ASI = cairan ajaib.</li>
<p>Ayah manapun pasti ingin yang terbaik bagi bayinya. Itulah yang harus dijadikan &#8220;<em>entry point</em>&#8221; bagi ibu untuk meyakinkan bahwa ayah harus memilih ASI. Apalagi, laki-laki biasanya akan lebih bisa menerima alasan yang logis ketimbang emosional. Paparkan bahwa ASI itu adalah ciptaan langsung dari Tuhan. Sudah pasti, kandungan gizinya ideal. Sementara susu formula? Bukan hanya berasal dari sapi, namun telah melewati pemrosesan yang begitu panjang (dan belum tentu steril), hingga bisa sampai ke tangan konsumen. Masa iya masih tidak memilih ASI?</p>
<li>ASI = hemat.</li>
<p>Berikan ilustrasi biaya yang bisa dihemat dalam sebulan apabila tidak perlu membeli susu formula. Tentu ini adalah hitungan yang sederhana namun faktual. Tanpa membeli susu formula, uang yang ada bisa digunakan untuk keperluan yang lain.</p>
<li>ASI = tidak repot.</li>
<p>Setelah seharian bekerja, ayah pasti akan letih apabila harus terbangun di tengah malam untuk membuatkan susu. Dengan ASI, ayah bisa istirahat dengan lebih tenang, karna sewaktu-waktu bayi terbangun, yang perlu dilakukan oleh ibu hanyalah langsung menyumpal mulut bayi dengan puting susunya. Praktis, bukan?
</ul>
<p>Tidak dapat dipungkiri, kesuksesan pemberian ASI lahir berkat kerjasama yang solid antara ibu dan ayah. Sayangnya, seperti pemaparan diatas, banyak ayah yg belum sadar ASI. Melalui tiga poin diatas, semoga ibu dapat membukakan pandangan ayah agar dapat menjadi partner ASI yang ideal. Goodluck!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/agar-suami-menjadi-ayah-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui: Menabung Untuk Masa Depan</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/menyusui-menabung-untuk-masa-depan/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/menyusui-menabung-untuk-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 01:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sari Intan Kailaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Harga Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1502</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, kita dibuat sedih oleh kisah seorang bayi bernama Zidan. Bayi (saat itu berusia 2 bulan) yang dirawat di klinik Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC), Ciputat, Tangerang ini menderita infeksi berat, nyaris pada sekujur tubuhnya dan berada dalam kondisi gizi buruk saat dibawa ke klinik tersebut. Konon, Zidan tidak mendapat ASI, karena ibunya mendapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_1524" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-zidan-ibu-300x198.jpg" alt="" title="08-zidan-ibu" width="300" height="198" class="size-medium wp-image-1524" /><p class="wp-caption-text">Zidan &#038; ibu Zukini saat mulai dirawat di LKC-DD (Sumber: www.lkc-dd.co.id)</p></div>Beberapa waktu lalu, kita dibuat sedih oleh kisah seorang bayi bernama Zidan. Bayi (saat itu berusia 2 bulan) yang dirawat di klinik Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC), Ciputat, Tangerang ini menderita infeksi berat, nyaris pada sekujur tubuhnya dan berada dalam kondisi gizi buruk saat dibawa ke klinik tersebut. Konon, Zidan tidak mendapat ASI, karena ibunya mendapat anjuran untuk memberi susu formula oleh RS sejak melahirkan. Keadaan ekonomi yang terbatas membuat orangtua Zidan kesulitan menyediakan susu formula yang cukup, ditambah lagi sulitnya menyajikan susu formula dengan higienis.</p>
<p>Syukurlah kisah Zidan berakhir dengan <em>happy ending</em>. Zidan mendapat bantuan donor ASI dan ibunya berhasil melakukan <a href="http://aimi-asi.org/2011/05/relaktasi-bagi-yang-ingin-beralih-dari-susu-formula-ke-asi/">relaktasi</a> dengan bimbingan dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC di LKC. Sekarang Zidan sudah berusia 9 bulan, full ASI dan kondisinya sangat sehat serta segar bugar. Bahkan, sang ibu berkenan hadir dan berbagi kisahnya di Seminar Nasional Zakat dan ASI “Tuntaskan balita gizi buruk di Indonesia” yang diadakan LKC dan Dompet Dhuafa 2 Juni 2011 lalu.</p>
<p>Pada kesempatan lain, seorang teman bercerita tentang petugas keamanan di kantornya yang bersemangat menabung, agar bisa memberikan susu formula termahal bagi bayinya yang akan lahir. Katanya, “supaya anak saya nanti cerdas, tidak seperti saya.”</p>
<p><div id="attachment_1525" class="wp-caption alignright" style="width: 236px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-zidan-ibu-2-226x300.jpg" alt="" title="08-zidan-ibu-2" width="226" height="300" class="size-medium wp-image-1525" /><p class="wp-caption-text">Zidan dalam keadaan sehat, bersama ibunya di Seminar Nasional Zakat dan ASI (2 Juni 2011)</p></div>Kisah Zidan bukan satu-satunya di Indonesia. Banyak yang sebenarnya mampu menyusui, justru memilih (atau dibuat memilih) untuk memberi susu formula kepada bayi mereka. Banyak juga, seperti petugas keamanan tadi, yang memaksakan diri memberikan susu formula, bahkan meniatkannya jauh sebelum bayi lahir. Minimnya informasi tentang manfaat ASI dan resiko susu formula menjadi pemicu utama dari keadaan di atas.</p>
<p>Harga susu formula yang terus naik ternyata tidak membuat angka penjualan susu formula mengalami penurunan. Pada tahun 2010 tercatat beberapa perusahaan produsen susu formula mengalami peningkatan angka penjualan sekitar 15,7%. Bahkan ada produk susu formula yang mengalami peningkatan angka penjualan hingga 85% dibandingkan 2009 (IMS, 2011).</p>
<p>Angka kelahiran di Indonesia yang mencapai 4,5 juta bayi per tahun merupakan pangsa pasar yang besar. Di samping itu, longgarnya pengawasan terhadap pemasaran produk pengganti ASI yang sesuai <a href="http://aimi-asi.org/2010/08/kode-who-%E2%80%93-penjamin-pemberian-asi-eksklusif/">Kode Etik WHO</a> (1981), membuat kita lengah akan resiko rendahnya angka menyusui di Indonesia.</p>
<p>Melihat kondisi di atas, pernahkah kita menyadari, berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah keluarga untuk memberikan susu formula? Berapa pula ‘harga’ yang harus dibayar sebuah negara jika masyarakatnya lebih memilih susu formula ketimbang ASI?</p>
<p>HARGA SUSU FORMULA – BAGI KELUARGA</p>
<p>Saat ini terdapat lebih dari 40 merk susu formula yang beredar di Indonesia dengan harga yang variatif. Berdasarkan hasil survey kami, harga susu formula (di hipermarket lokal, per Maret 2011) bervariasi antara Rp. 21.190,- hingga Rp. 103.490,- per kemasan 300 – 400 gram, atau berkisar antara Rp. 70,63 hingga Rp. 258,73 per gram. Kami memilih tiga merk susu formula yang bisa mewakili tiga kelompok harga, yaitu kelas harga menengah ke bawah, menengah dan menengah ke atas (Tabel 1).</p>
<p>Tabel 1. Kelompok harga susu formula di pasaran.</p>
<table>
<tr>
<td>KELAS HARGA</td>
<td>HARGA PER KEMASAN (Rp)</td>
<td>UKURAN KEMASAN (gr)</td>
<td>HARGA PER GRAM (Rp)</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Keatas</td>
<td>103.490,-</td>
<td>400</td>
<td>258,73</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah</td>
<td>51.990</td>
<td>400</td>
<td>129,98</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Kebawah</td>
<td>21.190</td>
<td>300</td>
<td>70,63</td>
</tr>
</table>
<p>Dengan mengikuti petunjuk pemakaian yang terdapat pada kemasan, kami mensimulasikan biaya konsumsi susu formula secara eksklusif hingga usia anak 2 tahun. Simulasi biaya tersebut disajikan pada Tabel 2.</p>
<p>Tabel 2. Simulasi biaya konsumsi susu formula berdasarkan kelompok harga.</p>
<table>
<tr>
<td rowspan="2">KELAS HARGA</td>
<td colspan="3">Biaya Konsumsi Susu Formula (Rp)</td>
<td rowspan="2">TOTAL (Rp)</td>
</tr>
<tr>
<td>0-6 bln</td>
<td>6-12 bln</td>
<td>1-2 thn</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Keatas</td>
<td>5.146.040</td>
<td>5.835.215</td>
<td>7.507.247</td>
<td>18.488.502</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah</td>
<td>2.779.385</td>
<td>2.541.652</td>
<td>5.689.998</td>
<td>11.011.035</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Kebawah</td>
<td>1.364.664</td>
<td>1.028.647</td>
<td>1.867.386</td>
<td>4.260.697</td>
</tr>
</table>
<p>Hasil simulasi cukup mencengangkan. Susu formula termurah saja membutuhkan biaya sebesar Rp. 1.364.664,- selama 6 bulan pertama, atau sekitar Rp. 227.444,- per bulan. Mengapa mencengangkan? Karena menurut BPS (2011), pendapatan per kapita masyarakat Indonesia pada 2010 hanya Rp. 27 juta per tahun atau Rp. 2.250.000,- per bulan. Artinya, sebagian orangtua harus menghabiskan lebih dari 10% penghasilannya untuk membeli susu formula (untuk satu anak)! </p>
<p>Bagaimana dengan masyarakat yang penghasilannya di bawah rata-rata? Bagaimana juga dengan keluarga-keluarga seperti keluarga Zidan yang mendapat ’rekomendasi’ susu formula dengan harga yang tidak terjangkau? Berapa banyak keluarga seperti keluarga petugas keamanan seperti cerita di atas, yang berusaha menjangkau kelas harga yang tinggi?</p>
<p>Simulasi kemudian diperlebar dengan melakukan sebuah survey kecil di milis asiforbaby@yahoogroups.com. Kami mempelajari pola konsumsi susu formula secara eksklusif. Dari survey diketahui, 90% ibu selalu membaca petunjuk pemakaian yang tercantum di kemasan susu formula yang dibelinya. 85% responden menganggap bahwa petunjuk pemakaian tersebut mudah dipahami dan wajar. Namun ternyata, hanya 15% saja yang mengaku memberikan susu formula sesuai petunjuk pemakaian. Hasil survey juga menunjukkan bahwa para ibu tersebut rata-rata memberikan susu formula 20-30% lebih banyak dari petujuk yang tertera pada kemasan.</p>
<p>Simulasi biaya yang disesuaikan dengan hasil survey pola konsumsi susu formula tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.</p>
<p>Tabel 3. Simulasi biaya konsumsi susu formula sesuai survey pola konsumsi (30% lebih banyak dari petunjuk pemakaian).</p>
<table>
<tr>
<td rowspan="2">KELAS HARGA</td>
<td colspan="3">Biaya Konsumsi Susu Formula (Rp)</td>
<td rowspan="2">TOTAL (Rp)</td>
</tr>
<tr>
<td>0-6 bln</td>
<td>6-12 bln</td>
<td>1-2 thn</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Keatas</td>
<td>6.689.852</td>
<td>7.585.780</td>
<td>11.260.871</td>
<td>25.536.871</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah</td>
<td>3.613.201</td>
<td>3.304.147</td>
<td>3.734.771</td>
<td>6.846.077</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Kebawah</td>
<td>1.364.664</td>
<td>1.028.647</td>
<td>1.867.386</td>
<td>4.260.697</td>
</tr>
</table>
<p>Tulisan ini tidak akan membahas konsumsi berlebih dari susu formula tersebut. Tapi lihat angka di kolom paling kanan. Jika saya memilih memberikan susu formula termahal pada bayi saya selama 2 tahun, saya harus siap merogoh kocek sampai lebih dari Rp. 25 juta! Angka yang (menurut saya) fantastis.</p>
<p>Sedikit iseng, saya hitung-hitung, kalau uang sejumlah itu dibelikan emas atau produk investasi lain, bisa jadi dua kali lipat pada 5 tahun mendatang, atau 6 kali lipat 10 tahun dari sekarang! Tidak perlu pusing mikirin dana pendidikan <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  </p>
<p>Simulasi biaya yang kami lakukan baru hanya menghitung pengeluaran belanja susu formula. Sesungguhnya, biaya konsumsi susu formula perlu memasukkan biaya-biaya lain yang ‘tersembunyi’ seperti biaya penyajian susu formula (memasak air hingga matang; membeli, mencuci, dan mensterilkan botol dan dot; dan biaya pengobatan).</p>
<p>Jika seorang ibu memutuskan untuk memperbaiki gizinya dan menyusui, ia hanya akan mengeluarkan biaya tidak lebih dari seperenam (kurang dari 17%) biaya memberikan susu formula selama 1 tahun (Bitoun, 1994). Kelly Bonyata, BS, IBCLC dalam situs <a href="http://www.kellymom.com/">www.kellymom.com</a> (2005) menghitung bahwa jika seorang ibu ingin menyusui dengan gaya, “peralatan perang” lengkap, plus berkonsultasi dengan ahli laktasi profesional, ia hanya akan menghabiskan tidak lebih dari seperlima (20%) biaya konsumsi susu formula selama 1 tahun.</p>
<p>Dampak ekonomi pemberian susu formula dapat dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Dampak secara langsung meliputi biaya pembelian susu formula dan biaya perawatan kesehatan. Sedangkan dampak tidak langsungnya adalah manfaat yang berhubungan dengan waktu dan penghasilan yang tidak didapat orangtua (khususnya ibu) akibat merawat bayi/anak yang sakit (Weimer, 2001). </p>
<p>Secara ideal, biaya, waktu dan penghasilan yang hilang karena orangtua merawat anak yang sakit harus dianggap sebagai salah satu kerugian dari tidak menyusui. Kenapa? Karena penyebab paling umum seorang wanita tidak masuk kerja adalah karena anaknya sakit (Weimer, 2001). Dan riset menunjukkan bahwa bayi yang diberi susu formula lebih rentan terhadap penyakit dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (WHO, 2010).</p>
<p><strong>HARGA SUSU FORMULA – BAGI NEGARA</strong></p>
<p>Apa hubungannya dengan negara?<br />
Banyak! </p>
<p>Manfaat pemberian ASI dari sisi ekonomi telah disadari di beberapa negara maju. Berdasarkan hasil penelitian epidemiologis oleh Department of Agriculture Amerika Serikat (USDA), estimasi biaya yang dihemat dengan menurunnya resiko berbagai penyakit pada bayi dan anak-anak karena pemberian ASI dapat mencapai USD 3,6 milyar atau lebih dari Rp. 30 triliun per tahun (Weimer, 2001).</p>
<p>Peningkatan pemberian ASI di Australia dapat menambah AUD 3,4 miliar (lebih dari Rp. 30 triliun) pada output makanan nasional, atau sama dengan tambahan 0,7% dari GNP Australia (Smith, 1997). Secara keseluruhan, Australia dapat menghemat AUD 115 miliar (lebih dari Rp. 1.000 triliun) per tahun dengan meningkatkan angka menyusui menjadi 80%. Angka ini didapat hanya dengan memperhitungkan pemberian ASI minimal selama 3 bulan dan penurunan resiko otitis media, diabetes melitus, penyakit gastrointestinal dan eczema (Drane, 1997).<br />
Di Inggris, National Health Service menghabiskan £ 35 juta setiap tahunnya (lebih dari Rp. 420 miliar) hanya untuk menangani gastroenteritis pada bayi susu formula. Untuk setiap 1% peningkatan angka menyusui selama 13 minggu, terjadi penghematan biaya sebesar £ 500.000 (sekitar Rp. 6 milyar) dalam perawatan gastroenteritis (Department of Health, UK, 1995). </p>
<p>Riset mengenai biaya dan penghematan dari promosi menyusui di El Salvador (Wong et. al., 1994) menemukan manfaat ekonomi sebesar USD 2.808.378 (hampir Rp. 24 milyar) dari aktivitas promosi ASI dan menyusui yang hanya mengeluarkan biaya USD 32.830 (sekitar Rp. 279 juta). Hal ini karena menurunnya angka kejadian diare, infeksi saluran pernafasan, jarak kelahiran dekat, dan biaya konsumsi susu formula.</p>
<p>Sebuah RS di Filipina (Gonzales, 1990) melakukan pengaturan ruang bayi dan menerapkan peningkatan pemberian ASI. Aktivitas ini menghemat anggaran RS sebanyak 8%. Penghematan ini berasal dari penurunan biaya listrik, air, sabun cuci, boks bayi, botol susu, dll. Anggaran yang berhasil dihemat ini sekarang dimanfaatkan untuk penyediaan obat-obatan yang lengkap sepanjang waktu, peningkatan kualitas pakaian, makanan dan gizi pasien, penyediaan darah sepanjang waktu, penambahan jumlah staf perawat dan pendamping di ruang ibu dan bayi baru lahir. </p>
<p>Ball and Wright (1999) mengkaji biaya perawatan kesehatan yang dikeluarkan selama tahun pertama kehidupan pada bayi yang mendapat susu formula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1000 bayi yang tidak pernah mendapat ASI, mengalami 60 kali lebih sering sakit saluran napas bawah, 580 kali lebih sering otitis media, dan 1053 kali lebih sering sakit saluran pencernaan. Total biaya langsung yang dibutuhkan oleh bayi yang tidak pernah mendapat ASI selama 12 bulan pertama kehidupannya akibat sakit saluran pernapasan bawah, otitis media, dan sakit saluran pencernaan adalah antara USD 331 hingga USD 475 per orang. </p>
<p>Bagaimana dengan di Indonesia?</p>
<p>Salah satu contoh yang menonjol saat ini adalah kasus gizi buruk atau malnutrisi pada batita di berbagai daerah. Untuk menangani ribuan kasus gizi buruk, pemerintah harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Pada tahun 2007 saja, Kemenkes harus mengeluarkan dana sebesar Rp. 600 milyar untuk menangani kasus gizi buruk. Padahal, ASI dapat memenuhi 100% kebutuhan nutrisi bayi usia 0-6 bulan, 70% pada usia 6-12 bulan dan 30% pada usia 1-2 tahun (WHO, 2010).</p>
<p>&#8211;</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-botol-uang-222x300.jpg" alt="" title="08-botol-uang" width="222" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-1516" /></p>
<p>Membaca fakta-fakta ’menarik’ di atas, perlu segera kita sadari bersama bahwa ASI, selain secara medis terbukti sebagai satu-satunya makanan terbaik untuk bayi, juga memberikan dampak yang luar biasa terhadap perekonomian keluarga, masyarakat dan negara. Sudah saatnya kita tingkatkan angka menyusui yang saat ini di Indonesia baru berada di angka 15,3 % saja. Salam ASI ! ☺</p>
<p><small><br />
Referensi:</p>
<ul>
<li>Ball TM, Wright AL. 1999. Health care cost of formula-feeding in the first year of life. Pediatrics 1999;103:870–6.</li>
<li>Bitoun. 1994. The Economic value of breastfeeding in France. Les Dossiers de l’Obstetrique, 1994, 216:10-13.</li>
<li>Bonyata, K. 2005. Financial costs of not breastfeeding. <a href="http://www.kellymom.com/">www.kellymom.com</a></li>
<li>Drane, D. 1997. Breastfeeding and formula feeding: a preliminary economic analysis. Breastfeed Rev 1997; 5:7-15.</li>
<li>Dept. of Health. Breastfeeding. 1995. Good practice guidance to the NHS.  London, United Kingdom of Great Britain.</li>
<li>Gonzales R. 1990. Cost analysis of maintaining a newborn nursery at Dr. Jose Fabella Memorial Hospital, Manila. (Transparencies presented in meeting in Manila, Philippines). </li>
<li>IMS. 2011. IMS data – Infant formula 2008 – Q1 2011.</li>
<li>Smith, J. 1997. The economics of breastfeeding. Australian Financial Review 24th July 1997.</li>
<li>Weimer J. 2001. The economic benefits of breastfeeding: A review and analysis. ERS Food Assistance and Nutrition Research Report No. 13. USDA Economic Research Service, Washington, D.C.</li>
<li>WHO. 2010. Fact sheet: Infant and young child feeding. <a href="http://www.who.int/">www.who.int</a> </li>
<li>Wong et al. An analysis of the economic value of breastfeeding in El Salvador: Policy &#038; technical monographs. Washington D.C., Wellstart Intl. and Nuture, 1994.</li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/menyusui-menabung-untuk-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hak Ibu Menyusui Di Indonesia</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/hak-ibu-menyusui-di-indonesia/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/hak-ibu-menyusui-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Aug 2011 01:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Tasya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[hak ibu menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan pemerintah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1488</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah ibu ditolak suatu sarana pelayanan kesehatan ketika menginginkan pelaksanaan IMD atau rawat gabung sehabis kelahiran? Atau sedari awal mencampur ASI dan makanan/minuman lainnya dengan alasan hendak masuk kerja dan tidak memungkinan meneruskan pemberian ASI secara eksklusif? Atau dilarang memerah ASI selama jam kerja oleh atasan ibu? Bila ya, mungkin hal tersebut terjadi karena ibu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah ibu ditolak suatu sarana pelayanan kesehatan ketika menginginkan pelaksanaan IMD atau rawat gabung sehabis kelahiran? Atau sedari awal mencampur ASI dan makanan/minuman lainnya dengan alasan hendak masuk kerja dan tidak memungkinan meneruskan pemberian ASI secara eksklusif? Atau dilarang memerah ASI selama jam kerja oleh atasan ibu? </p>
<p>Bila ya, mungkin hal tersebut terjadi karena ibu maupun pihak lainnya belum mengetahui bahwa sebenarnya hak-hak ibu untuk menyusui dilindungi oleh Negara. Untuk itu, tulisan ini akan mengulas apa sajakah hak-hak ibu menyusui yang dilindungi oleh Negara. Agar lebih jelas, hak-hak tersebut akan dijabarkan berdasarkan tahap-tahap setelah kelahiran bayi.</p>
<ol>
<li>Inisiasi Menyusu Dini (IMD).</li>
<p>Inisiasi Menyusu Dini (IMD) mulai diperkenalkan di Indonesia pada tahun 2007. Sebelumnya, sesuai dengan <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-imd-300x197.jpg" alt="" title="08-imd" width="300" height="197" class="alignleft size-medium wp-image-1496" />Keputusan Menteri Kesehatan No. 450/MENKES/SK/VI/2004 tentang Pemberian ASI Secara eksklusif di Indonesia (“KEPMENKES 450”), para ibu yang baru melahirkan baru dapat menyusui bayinya 30 menit setelah melahirkan, yang dilakukan di ruang bersalin.  Dengan mulai diterapkannya IMD sejak 2007, bayi lah yang aktif menyusu dan bayi dibiarkan di atas dada ibu selama minimal 1 jam.  </p>
<p>Permohonan ibu pada pihak rumah sakit untuk melaksanakan IMD tak jarang mendapatkan penolakan, berbagai alasan baik teknis maupun non teknis dikemukakan.  Sesungguhnya, bila ibu dan bayi dalam keadaan stabil, IMD seharusnya dapat dilaksanakan.  Secara mendasar, hak ibu untuk meminta IMD dilindungi oleh Pasal 4 ayat (2) Undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen:</p>
<blockquote><p>“hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan”</p></blockquote>
<p>Menyadari pentingnya IMD, beberapa daerah telah secara resmi menerapkan pelaksanaan IMD melalui peraturan daerah mereka, diantaranya:</p>
<ul>
<li>Peraturan Daerah Kabutapaten Klaten No. 7/2008 tentang Inisiasi Menyusu Dini dan Air Susu Ibu Eksklusif.</li>
<li>Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 435/2008 tentang Pemberian ASI Secara Dini (Inisiasi Menyusu Dini) bagi Ibu Melahirkan di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.</li>
<li>Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan No. 6 /2010 tentang Air Susu Ibu Eksklusif</li>
</ul>
<li>Rawat gabung.</li>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-rooming-in-225x300.jpg" alt="" title="08-rooming-in" width="225" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1497" />Kunci lain keberhasilan menyusui setelah dilaksanakan IMD adalah rawat gabung, dimana bayi berada dalam jangkauan ibu selama 24 jam dan tidak ditempatkan pada kamar bayi. Pelaksanaan rawat gabung merupakan langkah ke-7 dari 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui berdasarkan Kepmenkes 450 yang berbunyi:</p>
<blockquote><p>”melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari”</p></blockquote>
<li>ASI Eksklusif selama 6 bulan</li>
<p>Untuk mendukung pemberian ASI eksklusif di Indonesia, pada tahun 1990 pemerintah mencanangkan Gerakan Nasional Peningkatan Pemberian ASI (PP-ASI) yang salah satu tujuannya adalah untuk membudayakan perilaku menyusui secara eksklusif kepada bayi dari lahir sampai dengan berumur 4 bulan. Pada tahun 2004, sesuai dengan anjuran badan kesehatan dunia (WHO), pemberian ASI Eksklusif ditingkatkan menjadi 6 bulan sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 450/MENKES/SK/VI/2004 tahun 2004. </p>
<p>Berbagai peraturan yang mendukung pemberian ASI eksklusif 6 bulan diantaranya:</p>
<ul>
<li>Kepmenkes 450/2004: Menetapkan asi eksklusif di Indonesia selama 6 bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai dengan anak berusia 2 tahun atau lebih dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai</li>
<li>Pasal 128 Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (“UU Kesehatan”) secara jelas menyatakan bahwa:</li>
<ol>
<li>setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis</li>
<li>selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus</li>
</ol>
</ul>
<p>Bahkan,  berdasarkan UU Kesehatan ini, selama program ASI Eksklusif, para elemen masyarakat harus mendukung ibu dengan memberikan waktu dan fasilitas khusus, bila hal ini tidak dilaksanakan maka para pihak yang menghalangi para ibu memberikan ASI Eksklusif dapat dipidana sesuai dengan ketentuan Pasal 200 UU Kesehatan.</p>
<li>Pemberian MPASI berkualitas dan ASI diteruskan 2 tahun atau lebih</li>
<p>Pemberian MPASI berkualitas setelah lulus ASI Eklusif selama 6 bulan juga diatur oleh peraturan perundangan Indonesia, sebagaimana dinyatakan dalam penjelasan pasal 128 UU Kesehatan: </p>
<blockquote><p>“Yang dimaksud dengan “<em>pemberian air susu ibu ekslusif</em>” dalam ketentuan ini adalah pemberian hanya air susu ibu selama 6 bulan, dan dapat terus dilanjutkan sampai dengan 2 (dua) tahun dengan memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sebagai tambahan makanan sesuai dengan kebutuhan bayi.”</p></blockquote>
</ol>
<p><strong>BAGAIMANA DENGAN IBU MENYUSUI YANG KEMBALI BEKERJA?</strong></p>
<p>Untuk menjamin agar hak ibu menyusui terlaksana, Negara pun memberikan kewajiban kepada elemen masyarakat agar mendukung ibu menyusui.  Bentuk dukungan tersebut dengan memberikan waktu dan fasilitas yang layak bagi ibu untuk menyusui bayinya. </p>
<p>Berbagai fasilitas umum, sarana kesehatan maupun perkantoran diwajibkan untuk menyediakan ruang menyusui, sebagaimana ditetapkan berdasarkan peraturan perundangan berikut:</p>
<ul>
<li>Pasal 22 Undang-undang No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak: &#8220;<em>Negara &#038; pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak</em>&#8220;. Dalam penjelasan pasal disebutkan bahwa sarana dan prasarana itu salah satunya adalah ruang menyusui,</li>
<li>Pasal 128 UU Kesehatan:</li>
<p><em>(2)	selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus<br />
(3)	penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan di tempat sarana umum</em></p>
<li>Dalam Undang-undang No.44  tahun 2009 tentang Rumah Sakit:</li>
<p>Pasal 10<br />
<em>(1)	Bangunan Rumah sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 harus dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang paripurna, pendidikan dan pelatihan, serta penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan<br />
(2)	Bangunan rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri atas ruang:<br />
n.	ruang menyusui</em></p>
<p>Pasal 29<br />
<em>(1)	Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban:</p>
<ul>
<li>menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah, parkir, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, wanita menyusui, anak-anak, lanjut usia.</li>
<p></em>
</ul>
</ul>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-working-mom-300x268.jpg" alt="" title="08-working-mom" width="300" height="268" class="alignright size-medium wp-image-1498" />Khusus untuk ibu menyusui yang kembali bekerja, Negara menjamin hak ibu bekerja agar dapat terus memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan.  Walaupun cuti melahirkan di Indonesia yang hanya 3 bulan, namun Negara menyatakan bahwa ibu bekerja dapat terus memberikan asi kepada anaknya dengan memerah dan menyusui selama jam kerja. Lebih lengkapnya berikut adalah berbagai peraturan perundangan yang mengatur hal tersebut:</p>
<ul>
<li>Pasal 83 Undang-undang No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan</li>
<p>&#8220;<em>Pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja</em>” </p>
<li>Pasal 128 UU Kesehatan:</li>
<blockquote>
<ol>
<li>setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis</li>
<li>selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus</li>
<li><strong>penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan di tempat sarana umum</strong></li>
</ol>
</blockquote>
<li>Pasal 2 Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Kesehatan No. 48/MEN.PP/XII/2008, PER.27/MEN/XII/2008 dan 1177/MENKES/ PB/XII/2008 tahun 2008 tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja </li>
<p> Tujuan peraturan bersama ini:</p>
<blockquote><ol>
<li>memberi kesempatan kepada pekerja/buruh perempuan untuk memberikan atau memerah asi selama waktu kerja dan menyimpan asi perah untuk diberikan kepada anaknya</li>
<li>memenuhi hak pekerja/buruh perempuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anaknya</li>
<li>memenuhi hak anak untuk mendapatkan asi guna meningkatkan gizi dan kekebalan anak dan</li>
<li>meningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini.</li>
</ol>
</blockquote>
<li>Pasal 49 ayat (2) Undang-undang No. 49/1999 tentang Hak Asasi Manusia:</li>
<blockquote><p>“Wanita berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan atau profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam keselamatan dan atau kesehatannya berkenaan dengan fungsi reproduksi wanita.”</p></blockquote>
<p>Penjelasan pasal ini menyebutkan bahwa yang disebut dengan &#8220;<em>perlindungan khusus terhadap fungsi reproduksi</em>&#8221; adalah pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan haid, hamil, melahirkan dan pemberian kesempatan untuk menyusui anak</p>
</ul>
<p>Diaturnya hak-hak ibu menyusui dalam berbagai peraturan perundangan di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah sebenarnya peduli dan menyadari akan pentingnya pemberian ASI untuk kebaikan generasi bangsa.  Namun demikian, memang beberapa dari peraturan-peraturan tersebut belum tersosialisasikan dengan baik, dan ini adalah salah satu pekerjaan rumah selanjutnya bagi pemerintah.   </p>
<p>Sebagai elemen masyarakat, tidak ada salahnya kita turut membantu mensosialisasikan peraturan-peraturan tersebut, agar lebih banyak ibu menyusui yang mengetahui bahwa hak-haknya dilindungi oleh Negara, sehingga menguatkan tekad para ibu untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan pemberian ASI diteruskan hingga 2 tahun atau lebih.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/hak-ibu-menyusui-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Posisi Menentukan PrestASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/posisi-menentukan-prestasi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/posisi-menentukan-prestasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 01:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Posisi Menyusui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1481</guid>
		<description><![CDATA[Sering dengar istilah tersebut? Kayaknya istilah ini lazim disebutkan jika ada yang sedang menjalani ujian atau sedang belajar ya? Bagaimana posisi duduk seseorang berpengaruh dalam proses pembelajaran orang tersebut. Posisi baik sama dengan hasil yang baik. Ternyata setelah merasakan sendiri menyusui dua anak saya dan beberapa kali bertemu dengan ibu-ibu menyusui saat konseling ditambah sempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering dengar istilah tersebut? Kayaknya istilah ini lazim disebutkan jika ada yang sedang menjalani ujian atau sedang belajar ya? Bagaimana posisi duduk seseorang berpengaruh dalam proses pembelajaran orang tersebut. Posisi baik sama dengan hasil yang baik.</p>
<p>Ternyata setelah merasakan sendiri menyusui dua anak saya dan beberapa kali bertemu dengan ibu-ibu menyusui saat konseling ditambah sempat beberapa kali mendapat ilmu laktasi dari berbagai sumber yang terpercaya, penyataan “Posisi Menentukan PrestASI” dalam hal menyusui ini sangat mengena sekali. Mengapa?</p>
<p><strong>Posisi Pelekatan Mulut Bayi ke Payudara Ibu</strong></p>
<p>Kenapa ya kalo bayi saya menyusu sakit sekali? Pertanyaan ini sering sekali terjadi. Bahkan saya sendiri mengalami ini ketika baru melahirkan anak pertama saya dulu di awal tahun 2005. Banyak ibu merasa menyusui memang seharunya sakit dan lagi-lagi saya pun merasa seperti itu. Bahkan saya sempat meyakini pernyataan seorang teman yang mengatakan bahwa menyusui lebih menyakitkan dibanding pengalaman melahirkan dia. Jadi saya pun merasa sakit ketika bayi menyusu adalah hal yang alamiah dan semua ibu menyusui rasakan.</p>
<p><div id="attachment_1482" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/07/08-posisi-1-300x271.jpg" alt="" title="08-posisi-1" width="300" height="271" class="size-medium wp-image-1482" /><p class="wp-caption-text">Perut bayi menempel ke badan ibu. Kepala dan pundak bayi dalam satu garis lurus</p></div>Sebenarnya menyusui tidak menyakitkan buat ibu, dengan catatan bayi bisa memasukkan semua puting dan sebagian areola ke dalam mulut bayi (biasanya areola di bagian atas masih terlihat lebih banyak dibanding areola di bagian bawah). Posisi pelekatan mulut bayi dengan payudara seperti ini membuat puting ibu berada dekat sekali dengan langit-langit mulut bayi yang lembut. Pada posisi ini, dagu bayi menempel pada payudara ibu dan hidungnya akan jauh dari payudara, jadi kepala bayi seperti mendongak. Sehingga ini memudahkan ia untuk menyusu. Perhatikan juga posisi badan bayi kepala dan pundak lurus menghadap ibu sehingga perut bayi menempel ke perut atau badan ibu. Coba gunakan bantal untuk bisa membantu mendapatkan posisi yang nyaman dan enak bagi ibu dan bayi.</p>
<p>Intinya posisi pelekatan yang baik adalah: posisi ini nyaman buat ibu dan bayi bisa mendapatkan ASI dengan mudah dan cukup. Tetapi seringkali untuk mendapatkan pelekatan yang tepat ini yang menjadi sulit dan ini biasanya dikarenakan pertemuan pertama ibu dan bayi yang penuh dengan intervensi. Menurut Dr. Jack Newman, ada beberapa cara untuk membuat memperlancar proses menyusu dan menyusui bayi dan ibu diawal proses kelahiran, yakni:</p>
<ol>
<li><strong>Sedikit mungkin tidak menggunakan pengobatan apa pun ketika proses melahirkan</strong>. Sudah banyak riset yang menunjukkan bahwa obat-obat ini bisa mempengaruhi koordinasi bayi menyusu pada payudara diawal kelahiran sehingga proses menyusui menjadi lebih sulit bagi si ibu. Walaupun dengan dukungan yang tepat, ibu yang melahirkan dengan menggunakan obat-obat seperti pengurang rasa nyeri atau anestesi epidural, bisa tetap menyusui, namun ini sudah menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi si ibu dan bisa jadi membuat ibu menjadi kurang percaya diri.
<p>Belum lagi jika ibu diberikan cairan tambahan melalui infus setelah melahirkan, hal ini bisa menyebabkan pembengkakan pada jaringan payudara ibu dan di areolanya, sehingga ini mempersulit bayi untuk bisa mengambil sebagian dari areola untuk bisa masuk ke dalam mulutnya.</li>
<li><strong>Segera setelah lahir, bayi seharusnya bisa Inisisi Menyusu Dini (IMD) dengan ibu</strong>. Sebagian besar bayi baru lahir bisa menyusu sendiri jika diletakkan di dada ibunya segera setelah proses melahirkan. Riset pun menunjukkan hal ini memiliki banyak manafaat tidak hanya untuk bayi tetapi juga untuk ibu. Alasan ibu perlu istirahat setelah melahirkan tidak bisa diterima karena sebenarnya proses ini tidak melelahkan buat ibu, bahkan bisa menjadi proses pertemuan pertama kali yang indah bagi ibu, bayi dan bapaknya pun bisa ikut berperan membacakan doa di telinga si kecil ketika proses ini berlangsung. Inti dari IMD ini sendiri adalah kontak kulit antara ibu dan bayi yang kemudian disusul dengan bayi akan menyusu sendiri dan ini sangat bisa dilakukan bagi bayi yang dilahirkan dengan proses bedah kaisar sekali pun.</li>
<li><strong>Rawat gabung bagi ibu dan bayi juga tidak kalah penting</strong>. Jika ibu dan bayi dalam keadaan sehat dan stabil, maka tidak ada satu pun alasan ibu dan bayi untuk tidak bisa sekamar ketika sedang di RS atau fasilitas kesehatan lainnya. Ibu bisa ‘membaca’ tanda-tanda bayi ingin menyusu ketika bayi ada di dekatnya, karena ketika bayi sudah menangis, maka biasanya ibu sudah keburu panik dan pelekatan yang baik pun menjadi sulit dilakukan.</li>
<li><strong>Jangan memberikan dot atau empeng kepada bayi</strong>. Kita sudah sering dengar tentang istilah ‘bingung puting’ dan terkadang masih banyak orang yang meragukan adanya ‘fenomena’ bingung puting ini. Bahkan sebagian tenaga kesehatan menganggap bingung puting adalah mitos belaka. Hal ini salah satu kendala terbesar dalam proses menyusui. Karena seperti kita ketahui bersama, bahwa produksi ASI ibu yang baru melahirkan memang belum banyak, memang sudah alaminya ASI yang diproduksi masih dalam jumlah sedikit. Namun hal ini seringkali diartikan bahwa ASI ibu kurang dan mulailah bayi diperkenalkan dengan cairan lain yang diberikan dengan dot.
<p>Bagaimana bayi menghisap dot berbeda dengan cara ia menyusu pada payudara. Dibutuhkan banyak kerja otot di bagian kepala dan lidah bayi untuk mengeluarkan ASI pada payudara. Sehingga mulut bayi perlu terbuka lebar dan besar ketika mengambil sebagian besar areola dan seluruh puting ke mulutnya. Sedangkan ketika menghisap botol, bayi cukup mencucu dan menghisap sedikit saja, aliran isi dari botol itu pun sudah bisa dengan mudah keluar. Hal ini membuat bayi mengenali adanya ‘aliran’  yang deras dari botol. Bayi adalah mahkluk kecil yang pintar dan cerdas. Jika mereka terbiasa mendapatkan asupan yang lebih deras dan cepat maka mereka akan meminta (melalui tangisan dan penolakan pada payudara) si botol yang berisi cairan lebih banyak yang sebenarnya belum mereka butuhkan.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan empeng? Memang empeng tidak menyalurkan isi apa pun namun sudah banyak riset yang menunjukkan bahwa empeng mengurangi frekuensi bayi menyusu yang mengakibatkan terlewatnya sesi menyusui. Ibu pun jadi kesulitan ‘membaca’ tanda-tanda awal bayi yang ingin menyusu. Karena ketika bayi sudah mulai menangis itu merupakan tanda akhir bayi ingin menyusu dan ibu pun bisa ikut panik ketika mendengar bayi menangis.</li>
<li><strong>Jangan membatasi waktu menyusu dan frekuensi menyusui</strong>. Sering kita mendengar saran bayi perlu menyusu sepuluh menit pada payudara kiri dan lalu diteruskan sepuluh menit lagi pada payudara yang kanan. Atau bayi harus menyusu minimal dalam interval 2 sampai 3 jam. Jika setiap jam bayi ingin menyusu, itu pertanda bayi manja dan ‘bau tangan’. Ini adalah dua mitos yang paling sering kita dengar dan merupakan kesalahpahaman yang cukup fatal. Bayi yang melekat dengan baik pada payudara tidak akan menghabiskan waktu berjam-jam di payudara dalam satu sesi menyusu. Maka jika dia menyusu pada satu payudara berjam-jam lamanya, maka itu salah satu pertanda bahwa pelekatannya tidak baik atau ia tidak mendapatkan cukup pasokan ASI.</li>
<li><strong>Tambahan air, formula atau air gula sangat jarang sekali diperlukan</strong>. Suplementasi ini bisa dihindari jika bayi melekat dengan baik dan bisa mendapatkan ASI yang terdapat di dalam payudara ibunya. Seringkali kita sibuk mengukur berapa banyak ASI yang sudah masuk ke dalam mulut bayi, padahal secara alamiah proses menyusui tidak bisa membuat kita melihat hal ini karena payudara kita tidak tembus pandang dan tidak terdapat deret takar di kulit payudara ibu yang bisa menunjukkan berapa banyak ASI di dalamnya. Perhatian proses bayi menyusu, ini penting karena kita bisa melihat gerakan ritmik yang berjeda dan ini menandakan ada ASI yang masuk ke mulut bayi dan ditelan. Lihat video di link ini untuk mempelajari bagaimana proses <a href="http://nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=274:bayi-menyusu-sangat-baik&#038;catid=20:video-clips-indonesian&#038;Itemid=56">bayi menyusu dengan sangat baik</a>. Lalu bandingkan dengan bayi yang mengempeng di video <a href="http://nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=279:mengempeng&#038;catid=20:video-clips-indonesian&#038;Itemid=56">ini</a>. Baca penjelasan pada video tersebut dan perhatikan juga jeda di dagu kedua bayi tersebut dan bandingkan.</li>
<li><strong>Hati-hati banyak alasan untuk tidak menyusui yang sudah tidak akurat</strong>. Mulai dari alasan medis seperti ibu sakit flu, ibu minum obat, ibu sedang hamil atau alasan lain seperti ibu harus banyak istirahat karena baru melahirkan jadi bayi jangan ada di dekat ibu, atau bayi jadi ‘bau tangan’ dan manja, si ayah jadi kurang diperhatikan, si nenek ingin turut ‘menyusui’ bayi dengan memberikan botol dan seterusnya. Ini juga membuat proses menyusui di awal menjadi lebih sulit bagi ibu dan bayi.</li>
</ol>
<p><strong>Lalu Bagaimana Membuat Bayi dapat Melekat ke Payudara dengan Baik?</strong></p>
<p><div id="attachment_1483" class="wp-caption alignleft" style="width: 279px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/07/08-posisi-2-269x300.jpg" alt="" title="08-posisi-2" width="269" height="300" class="size-medium wp-image-1483" /><p class="wp-caption-text">Posisi menyusui cross-craddle</p></div>Pastikan posisi memegang bayi dengan baik. Perhatian bahwa posisi badan bayi yang baik ketika menyusu adalah perutnya menempel berhadapan dengan perut ibu. Tangan ibu menopang punggung dan leher belakang bayi dan bukan kepalanya. Pelajari juga gaya menyusui seperti <em>cross-craddle</em>. Karena posisi ini memudahkan bayi baru lahir untuk mendapatkan sebagian besar areola dan puting dengan mudah. </p>
<p><div id="attachment_1484" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/07/08-posisi-3-300x210.jpg" alt="" title="08-posisi-3" width="300" height="210" class="size-medium wp-image-1484" /><p class="wp-caption-text">Posisi menyusui sambil tiduran</p></div>Pelajari juga posisi lain seperti posisi menyusui sambil tiduran, posisi <em>football clutch</em>. Lalu cari mana posisi yang paling nyaman dan enak buat kita ketika proses menyusui berlangsung.</p>
<p>Jika kita merasa ada yang salah ketika proses menyusui berlangsung, seringkali ibu melepas dan mencoba mengulang proses menyusui lagi. Dan proses ini bisa dilakukan berulangkali. Sayangnya ini kurang tepat dan seringkali membuat puting ibu nyeri dan luka. Upayakan untuk lebih mendekap dengan dekat bayi, dan upayakan agar bayi bisa mendangak ketika menyusu. Jangan lupa untuk menunggu bayi membuka lebar mulutnya dengan mencoba menyentuhkan bibirnya dengan puting kita lalu ketika mulutnya mulai terbuka lebar mulai mendekatkan badan bayi untuk bisa melekat pada payudara.</p>
<p><strong>Cari Bantuan jika Membutuhkan</strong></p>
<p>Jika kita ragu atau merasa kurang yakin dengan posisi dan pelekatan ketika menyusui, jangan ragu untuk mencari bantuan. Berdiskusi dan bertanya dengan konselor laktasi juga bisa membantu ibu untuk meningkatkan rasa percaya diri bahwa ia bisa menyusui. Akan lebih baik lagi jika pasangan yang sedang mempersiapkan kelahiran bisa mulai mencari tahu tentang ini jauh hari sebelum kelahiran si kecil dengan mengikuti kelas persiapan menyusui atau sesi Kelompok Pendukung Ibu (KP-Ibu) untuk mempersiapkan diri menyambut kehadiran buah hati yang telah dinanti. </p>
<p>Ingatlah bahwa ketika posisi sudah tepat dan baik, maka proses menyusui akan lebih nyaman bagi ibu dan bayi. Proses yang nyaman ini akan menjadi perjalanan yang indah dan bekal awal kehidupan yang berharga bagi buah hati kita dan semoga kelak mereka bisa menjadi individu yang baik akal budinya dan tentunya bisa berprestASI!</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/07/08-posisi-4-300x207.jpg" alt="" title="08-posisi-4" width="300" height="207" class="aligncenter size-medium wp-image-1485" /></p>
<p><small><br />
Sumber bacaan:<br />
<em>The Latch. And Other Keys to Breastfeeding Success</em>. Jack Newman, MD &#038; Teresa Pitman. 2006. Hale Publishing.<br />
<em>Segala yang Perlu Anda Tahu Soal Menyusui.</em> Jack Newman, MD &#038; Teresa Pitman. 2008. Penerbit Buah Hati.<br />
<em>The Womanly Art of Breastfeeding</em> (8th edition). Diane Wiessenger, Diana West &#038; Teresa Pitman. 2010. La Leche League International.<br />
</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/posisi-menentukan-prestasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

