<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Informasi</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/category/informasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 01:59:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Donor ASI; Kapan dan Bagaimana?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 16:20:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Astri Pramarini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Donor ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1743</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor? Yuk kita bahas bersama–sama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering kali kita membaca di milis dan media sosial adanya permintaan ASI donor karena beberapa sebab, misalnya: ibu meninggal, ibu sakit, bayi masuk NICU, bayi masuk inkubator, bayi terlantar, persediaan ASI perah habis, ASI belum keluar, persiapan menjelang melahirkan ataupun tidak mencantumkan alasan kenapa membutuhkan ASI donor.</p>
<p>Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor? Yuk kita bahas bersama–sama.</p>
<p><strong>Pada dasarnya bayi baru lahir sehat dari ibu yang sehat bisa mendapat ASI secara penuh tanpa perlu tambahan asalkan mendapat kesempatan menjalani Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Rawat Gabung penuh 24 jam bersama ibu, serta bayi menyusu tanpa jadwal dengan posisi dan pelekatan yang efektif.</strong></p>
<p>Lalu kondisi apa saja yang membuat bayi mungkin perlu mendapatkan suplementasi baik berupa tambahan atau pengganti selain menyusu? WHO dan UNICEF mengeluarkan dokumen Alasan Medis Menggunakan Pengganti ASI yang telah dirangkum sebagai berikut:</p>
<p>Indikasi pada Bayi yang Memerlukan Pengganti ASI:</p>
<ul>
<li><em>Inborn errors of metabolism</em> atau kelainan metabolisme bawaan (galaktosemia, fenilkotenouria, penyakit urin sirup mapel)</li>
</ul>
<p>Indikasi pada Bayi yang Mungkin Memerlukan Suplementasi:</p>
<ul>
<li>Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (kurang dari 1500 gram) atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu</li>
<li>Bayi berisiko hipoglikemia karena gangguan adaptasi metabolik atau peningkatan kebutuhan glukosa (Kecil Masa Kehamilan, prematur, mengalami stres hipoksik/iskemik, bayi sakit, bayi dengan ibu yang menderita diabetes) jika kadar gula darahnya gagal merespon pemberian ASI</li>
<li>Bayi dengan kehilangan cairan akut (misal karena fototerapi untuk jaundice) dan menyusui serta memerah ASI belum bisa mengimbangi kebutuhan cairan</li>
<li>Turunnya berat badan bayi berkisar 7 – 10% setelah hari ke 3 – 5 karena terlambatnya laktogenesis II</li>
<li>BAB bayi masih berupa mekonium pada hari ke 5 pasca persalinan</li>
</ul>
<p>Indikasi pada Ibu:</p>
<ul>
<li>Ibu dengan HIV + (keputusan pemberian minum pada bayi sebaiknya melalui proses konseling saat ibu hamil)</li>
<li>Ibu sakit berat (psikosis, sepsis, eklamsia atau mengalami renjatan/syok), infeksi virus Herpes Simpleks tipe 1 dengan lesi di payudara, infeksi varicella zoster pada ibu dalam kurun waktu 5 hari sebelum dan 2 hari sesudah melahirkan</li>
<li>Ibu mendapat sitostatika, radioaktif tertentu seperti Iodine 131, obat – obatan antitiroid selain Propylthiouracil</li>
<li>Ibu pengguna obat terlarang</li>
<li>Ibu mengalami kelainan payudara, riwayat operasi pada payudara, atau jaringan payudara tidak berkembang</li>
</ul>
<p>Kita lihat dari kedua tabel di atas maka sebagian besar kondisi di atas terjadi di hari–hari awal kelahiran. Dengan mempertimbangkan keuntungan dan risikonya, keputusan menggunakan suplementasi harusnya berdasarkan penilaian dan evaluasi dari konselor laktasi, dokter anak dan dokter kebidanan mengenai proses menyusui yang meliputi; observasi saat menyusu langsung pada payudara, evaluasi pasokan ASI, riwayat persalinan, evaluasi posisi, pelekatan, kekuatan hisap, kemampuan menelan, dan penilaian kondisi bayi secara menyeluruh. Kondisi pada ibu dan bayi akan menentukan apakah suplementasi ini bersifat sementara atau menetap. <strong>Perlu diingat juga, tujuan akhir dari suplementasi ini adalah untuk mempertahankan menyusui.</strong></p>
<p>Hierarki Suplementasi</p>
<ul>
<li>ASI/Kolostrum perah segar dari ibu</li>
<li>ASI perah ibu didinginkan</li>
<li>ASI perah ibu pernah dibekukan dan sudah dicairkan</li>
<li>ASI perah ibu sendiri yang difortifikasi (bila perlu) untuk bayi prematur</li>
<li>ASI donor dari Bank ASI dan dipasteurisasi</li>
<li>Formula bayi hipoalergenik</li>
<li>Formula bayi elemental</li>
<li>Formula berbasis susu sapi</li>
<li>Formula berbasis soya</li>
<li>Air atau air gula</li>
</ul>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/01-nourin-asip.jpg" alt="" title="01-nourin-asip" width="263" height="209" class="alignleft size-full wp-image-1752" />Dari tabel di atas serta tujuan akhir suplementasi bisa kita lihat utamanya adalah memaksimalkan produksi ASI ibu baik dalam menyusu langsung, ASI perah segar ataupun sudah dibekukan. Di sini peranan seorang konselor laktasi sangat penting untuk membantu ibu mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksi ASInya. Jika dirasa belum cukup, barulah dicarikan tambahan yang bisa berupa ASI donor yang sudah dipasteurisasi ataupun formula bayi, yang diberikan sedemikian rupa sehingga tetap menjaga dan mempertahankan keberlangsungan proses menyusui ibu dan bayi.</p>
<p><strong>ASI Donor di Indonesia</strong></p>
<p>Dalam hierarki suplementasi, ASI donor dari bank ASI dan sudah dipasteurisasi menjadi urutan berikutnya setelah ASI dari ibu si bayi. Hanya saja, di Indonesia tidak ada Bank ASI yang melakukan skrining terhadap pendonor ASI serta kultur dan pasteurisasi terhadap ASI donor. </p>
<p>Lalu bagaimana kita menyikapinya? Meskipun ASI memang yang terbaik bagi bayi, kita tidak bisa menutup mata terhadap kemungkinan ASI terpengaruh dengan penyakit yang diderita atau gaya hidup pendonor ASI (infeksi HIV, Hepatitis B dan C, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, bertato atau <em>body piercing</em>). Apalagi sebagian besar penerima ASI donor adalah bayi baru lahir, bayi prematur atau bahkan bayi sakit.</p>
<p>Ada baiknya bagi ibu yang akan mendonorkan ASInya bagi bayi lain menyeleksi dirinya sendiri dengan hal-hal sebagai berikut:</p>
<p>Tidak Disarankan Mendonorkan ASI:</p>
<ul>
<li>Menerima donor darah atau produk darah lainnya dalam 12 bulan terakhir</li>
<li>Menerima transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir</li>
<li>Minum alkohol secara rutin sebanyak 2 ounces atau lebih dalam periode 24 jam</li>
<li>Pengguna rutin obat-obatan Over the Counter (aspirin, acetaminophen, dll), pengobatan sistemik lainnya (pengguna kontrasepsi atau hormon pengganti tertentu masih dimungkinkan)</li>
<li>Pengguna vitamin megadosis atau obat-obatan herbal</li>
<li>Pengguna produk tembakau</li>
<li>Memakai implan silikon pada payudara</li>
<li>Vegetarian total yang tidak memakai suplementasi vitamin B12</li>
<li>Penyalah guna obat-obatan terlarang</li>
<li>Riwayat Hepatitis, gangguan sistemik lainnya atau infeksi kronis (contohnya: HIV, HTLV, sifilis, CMV – pada bayi prematur) </li>
<li>Beresiko HIV (pasangan HIV positif, mempunyai tato/<em>body piercing</em>)</li>
</ul>
<p>Disarankan memeriksakan dirinya dan terbukti negatif secara serologis terhadap: HIV-1 dan HIV-2, HTLV-I dan HTLV-II, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis. Pemeriksaan ini juga berguna jika dilakukan setiap ibu yang hamil untuk mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi. Pemeriksaan dan kriteria donor di atas juga perlu diulangi setiap kehamilan atau persalinan baru.</p>
<p>Sedangkan bagi orang tua yang memutuskan menerima ASI donor (tanpa melalui Bank ASI) ada baiknya mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:</p>
<ul>
<li>Bagaimana kondisi kesehatan ibu/pendonor? → pola makan terkait religi/keyakinan</li>
<li>Apakah uji serologis ibu terhadap HIV, Hepatitis B, HTLV negatif?</li>
<li>Apakah ASI tidak tercemar obat, nikotin, alkohol, dsb?</li>
<li>Apakah ASI tidak tercampur air, bahan/zat/nutrisi lain?</li>
<li>Apakah ASI diperah dan disimpan secara higienis dan tidak terkontaminasi? </li>
<li>Apakah jangka waktu penyimpanan dan tempat penyimpanannya sesuai?</li>
<li>Bagaimana kondisi bayi ibu/pendonor? → usia bayi pendonor <1 th , pernah menderita jaundice saat baru lahir?</li>
</ul>
<p><strong>Menyiapkan ASI Donor</strong></p>
<p>Jika pada akhirnya diputuskan menggunakan ASI donor yang belum dipasteurisasi, ada 3 teknik perlakuan terhadap ASI yang bisa dilakukan yang biasa mengurangi penularan penyakit (terutama HIV) melalui ASI.</p>
<ol>
<li>Pasteurisasi Holder </li>
<p>ASI dipanaskan dalam wadah kaca tertutup di suhu 62,5˚C selama 30 menit. Biasanya dilakukan di Bank ASI karena membutuhkan pengukur suhu dan pengukur waktu.</p>
<li>Teknik Flash Heating</li>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2012/01/01-flash-heating.jpg" alt="" title="01-flash-heating" width="253" height="156" class="alignright size-full wp-image-1753" />ASI sebanyak 50 ml ditaruh dalam botol kaca/botol selai  ukuran sktr 450 ml terbuka di dalam panci alumunium berukuran 1 L berisi 450 ml air. Kemudian panci dipanaskan di atas kompor sampai air mendidih, matikan, kemudian botol kaca berisi ASI diangkat dan didiamkan sampai suhunya siap untuk diminum bayi.</p>
<li>Pasteurisasi Pretoria</li>
<p>Panaskan air sebanyak 450 ml di panci alumunium berukuran 1 L sampai mendidih. Matikan kompor. Letakkan botol kaca terbuka yang berisi ASI sebanyak 50ml di dalam panci selama 20 menit. Kemudian angkat dan diamkan sampai suhu ASI siap diminum bayi.
</ol>
<p>Kalau kita lihat dari 3 teknik tadi, yang paling mungkin dilakukan adalah teknik nomor 2 dan 3. Manapun, pilih yang paling nyaman bagi ibu dan keluarga. Jika donor ASI dilakukan karena bayi sakit di Rumah Sakit, ingatkan perawat untuk melakukan pemanasan ini sebelum memberikan ASI donor kepada bayi anda.</p>
<p>Semoga bisa menjadi pertimbangan bagi ibu yang akan menerima atau mendonorkan ASI. Salam ASI!</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><small><br />
<strong>Referensi  Donor ASI</strong></p>
<ul>
<li>Walker, M. (2011) Breastfeeding Management for the Clinician: using the evidence. 2nd ed. Sudburry, MA. Jones and Bartlett</li>
<li>Lawrence, RA. (2011) Breastfeeding: A Guide for the Medical Profession. 7th ed. Maryland Heights, MI. Mosby</li>
<li>ABM Protocol #3. Hospital Guidelines for the Use of Supplementary Feedings in the Healthy Term Breastfed Neonate. (2009) Revised Edition. <a href="http://www.bfmed.org">www.bfmed.org</a></li>
<li>Israel-Ballard, K., et al. (2008) Flash-heated and Pretoria Pasteurized destroys HIV in breast milk &#038; Preserves Nutrients! Advanced Biotech. <a href="http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdf">http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdf</a> accessed January 8, 2012</li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/01/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sentuhan kASIh Berjuta Manfaat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 01:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irawati Budiningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kontak kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1530</guid>
		<description><![CDATA[Sepucuk surat datang mengabarkan bahwa Anda harus mengikuti perintah tugas: pindah ke daerah lain nun jauh dari tempat tinggal sekarang, tak ada kerabat ataupun sanak saudara yang dikenal. Karena beban kerja dan terbatasnya sarana pendidikan di daerah nanti, Anda dilarang membawa serta keluarga, tapi Anda tak perlu khawatir, segala fasilitas tersedia disana: internet untuk menghubungkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepucuk surat datang mengabarkan bahwa Anda harus mengikuti perintah tugas: pindah ke daerah lain nun jauh dari tempat tinggal sekarang, tak ada kerabat ataupun sanak saudara yang dikenal. Karena beban kerja dan terbatasnya sarana pendidikan di daerah nanti, Anda dilarang membawa serta keluarga, tapi Anda tak perlu khawatir, segala fasilitas tersedia disana: internet untuk menghubungkan kita dengan orang-orang tercinta, telepon bertarif murah dan bebas digunakan kapanpun, segala sarana komunikasi canggih mendukung! Hanya saja transportasi untuk kembali ke kampung halaman sangat terbatas, tetapi Anda masih mendapat jatah pulang ke kampung halaman 2x setahun tidak termasuk cuti hari raya.</p>
<p>Kenapa hati ini tetap sedih? Tetap merasa berat memutuskannya? Apa yang kurang disana?</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Bayangkan situasi tersebut dialami oleh bayi Anda. Dari keadaannya yang nyaman, tenteram, hangat, ‘terpeluk’ oleh rahim penyayang ibu, lalu dilahirkan dan menemui dunia yang hiruk pikuk ini. Sinar dan cahaya terang, gegap gempita riuh ramai suara, di’cengkeram’ tangan-tangan dokter &#038; suster. Inikah dunia itu? Siapa mereka semua? Asing sekali suaranya, sentuhannya, aromanya. Sangat tidak biasa bagi si bayi mungil ini. Tak heran ia begitu mudahnya menangis seperti orang stress. Ya, walaupun dia manusia baru, manusia kecil, dia tetaplah seorang manusia yang juga bisa stress.</p>
<p>Saat saya melahirkan anak pertama saya dulu, saya belum mengenal apa itu Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Seperti yang biasa saya tonton di film atau dengar cerita, begitu bayi lahir segera dilakukan pengecekan medis dan dibersihkan, lalu terbungkus rapi dalam bedongan &#038; topi bayi untuk diberi sekali kecupan oleh ibunya, lalu dibawa ke ruang bayi – tempatnya mondok di rumah sakit ini. Nanti saat kerabat datang, bisa melihat lewat jendela kaca besar ruang bayi dan ‘<em>baby show</em>’ pun bisa dinikmati pada jam-jam tertentu. Indah ya kelihatannya? </p>
<p>Tapi yang saya rasakan adalah, anak saya menangis tidak karuan sepanjang hari saat diantar ke ruangan saya untuk menyusu (ya, tidak perlu ditanya lagi, saat itu pun saya tidak tahu tentang rawat gabung). Kebalikannya, pada hari ke-3 saat ASI mulai tak terkontrol membasahi kimono, bayi saya malah tertidur sulit untuk dibangunkan menyusu. Mulutnya terkunci rapat &#038; kalaupun terbuka sedikit, tidak melekat pada payudara dengan sempurna yang mengakibatkan lecet di puting. Begitu horornya kah punya anak? Saya tidak bisa mengendalikan tangisan bayi saya, bahkan badan saya yang terus menerus kesakitan &#038; pegal-pegal.</p>
<p>Berbeda jauh dengan cerita saat melahirkan anak kedua, yang sudah lebih berbekal ilmu tentang melahirkan, IMD, menyusui &#038; apa saja yang mungkin dihadapi pada hari-hari pertama di RS. Anak kedua kami memilih jam 23.00 untuk menyapa dunia. Jadilah hanya saya &#038; suami tanpa kerabat lain menunggu di RS saat lahiran. Proses IMD berhasil kami jalani dengan tenang selama kurang lebih 2 jam. Pastinya ada rasa khawatir sedikit pada saat bayi kami menangis begitu kencang saat badannya dibersihkan sekedarnya (kami berdua de ja vu apakah psikisnya akan seperti si kakak yang mudah menangis dan stress). Tapi ajaibnya saat si bayi diletakkan di dada saya, tangisannya berhenti seketika! Selanjutnya adalah cerita indah tentang IMD yang terlalu panjang untuk dibahas disini.</p>
<p>Yang ingin saya garis bawahi mengenai cerita kelahiran anak pertama dan kedua saya adalah ‘ke-segera-an terjadinya kontak kulit’ antara ibu &#038; bayi. Kontak kulit begitu dominan dalam proses IMD. Sejak awal hingga akhir adalah mengenai kontak kulit. Dan tanpa sadar, tangan ibu pasti mengelus-elus bayi saat IMD. Yang artinya, ibu tanpa sadar melakukan gerakan pijatan pada bayi. Terkadang ini juga menjadikan <em>cues</em> (tanda) bahwa elusan tangan ibu adalah ajakan bayi untuk menyusu. Kedua bayi saya terlahir berbeda golongan darah dengan saya, yang berpengaruh pada resiko bilirubin tinggi, dimana bilirubin ini bisa diturunkan dengan pemberian ASI. Bayi berbilirubin tinggi cenderung mengantuk dan sulit sekali dibangunkan untuk menyusu (seperti yang terjadi pada anak pertama saya). Pada anak kedua, bila tiba waktunya menyusu (2 jam sekali) saya cukup mengelusnya sambil membisikkan ajakan untuk menyusu ke telinganya, lalu dia pun membuka mulutnya (walaupun terkadang matanya masih tetap tertidur). <em>Cues</em> hanya bisa dibangun dengan kebiasaan. Oleh karenanya manfaatkan kesempatan saat IMD untuk membangun kebiasaan baik tersebut.</p>
<p>Saya tidak akan membahas terlalu detail mengenai manfaat pijat bayi disini, karena saya yakin banyak sekali <em>literature</em> yang sudah mengupas tentang hal tersebut secara mendalam. Tapi yang ingin saya tekankan, pijat bayi bukanlah suatu keahlian khusus yang hanya bisa dilakukan oleh ‘orang pintar’ atau ‘dukun pijat’. </p>
<p><strong>Esensi dari pijat adalah skin to skin contact. </strong></p>
<p>Silahkan anda merasakan sendiri, mana lebih nyaman : pijat di kursi pijat elektronik atau dipijat langsung dengan tangan orang? </p>
<p>Saya yakin jawabannya pasti dipijat tangan orang <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, kita tingkatkan lagi tantangannya, mana yang lebih nyaman : dipijat oleh orang yang baru anda kenal tanpa anda tahu keahliannya atau dipijat oleh orang yang sudah pernah memijat anda dan pijatannya enak?</p>
<p>Saya 1000% yakin jawabannya lebih enak dipijat orang yang jago pijat. Betul?</p>
<p>Kembali ke bayi, mereka yang baru saja dilahirkan belum mengenal standard pijatan enak atau tidak. Tekanan keras <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-artikel-irawati-300x229.jpg" alt="" title="08-artikel-irawati" width="300" height="229" class="alignleft size-medium wp-image-1531" />atau terlalu keras. Tehnik pijatan tradisional atau Swedish massage. Yang mereka ketahui: aroma, suara &#038; degup jantung ibunya. Jadi pastinya pijatan yang paling nyaman untuk si bayi adalah bila yang memijat ibunya sendiri: tidak asing &#038; terasa aman melindunginya. Nah, persoalannya sekarang, banyak ibu yang tidak pede akan tehnik memijat &#038; tingkat tekanan pijatannya untuk badan kecil bayinya. Sehingga mereka lebih percaya ‘pemijat profesional’ yang memijat bayinya. Sebenarnya tidak menjadi masalah bila si bayi nyaman-nyaman saja (dalam artian tidak stress saat dipijat). Tapi akan menjadi bumerang apabila si bayi tidak nyaman. Percaya atau tidak, ini juga berpengaruh kepada ASI si ibu. Pada saat ibu melihat bayinya menangis (bahkan dipaksa diurut terlalu kencang) oleh ‘pemijat profesional’ tadi, oksitosin ibu malah menurun. Akibatnya distribusi ASI terganggu.</p>
<p>Kembali saya tekankan, kunci utama memijat bayi adalah: skin to skin contact. Jadi tidak bertekanan (hanya sekedar elusan) juga tidak masalah. Jadikan pijat bayi sebagai sarana berkomunikasi. Manfaat lainnya adalah bonus. Dengan berfikir seperti itu, akan lebih mudah bagi ibu untuk melakukan pijat bayi tanpa ada rasa takut atau terpaksa. </p>
<p>Jangan terperangkap ‘rutinitas pijat bayi’. Ada beberapa bayi yang tidak terbiasa dipijat secara rutin, tapi karena ibunya begitu bersemangat jadi memaksa bayi, sehingga bayi stress. Sesungguhnya yang seharusnya adalah manfaatkan pijat bayi sebagai alat komunikasi menciptakan <em>cues</em> (rutinitas). Contohnya adalah tadi seperti yang saya ceritakan : membangunkan bayi yang tidur untuk menyusu dengan mengelusnya. Bonus lain dari kegiatan ini adalah ‘menyalakan alarm’ LDR (let down reflects) pada si ibu setiap bayi mau menyusu. </p>
<p>Kembali ke pengalaman pribadi saya, saat kami sudah tidak ‘berkejar-kejaran’ dengan bilirubin yang menyusu menjadi rutinitas setiap 2 jam sekali, kini kehidupan kami sudah lebih nyaman dan terkendali. Bayi saya kadang tidak tentu jam menyusunya, saya sudah lebih mengikuti ‘demand’ nya saja kapan harus menyusui. Tapi hebatnya, setiap kali dia mau menyusu, LDR saya pun mengalir seperti memberi alarm, bahkan saat saya sedang pergi tidak bersama bayi saya. Biasanya saat itu saya akan telpon ke rumah untuk menanyakan apakah dia sedang minum ASI perah? Beberapa kesempatan begitu pas, saat LDR ya saat dia minta minum ASI perah. Dan ada beberapa keadaan dia masih tertidur atau bermain dan saya LDR, saat saya telpon beberapa waktu kemudian dia minta minum ASI perah. Ajaib? Saya rasa tidak, saya lebih percaya itu adalah ikatan yang sudah dibangun sejak kehamilan, dilanjutkan dengan rutinitas yang terbangun dari pijat ibu &#038; bayi <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;</p>
<p>Lalu saat akhirnya Anda memutuskan untuk tetap berangkat memenuhi panggilan tugas tersebut, kesempatan pulang ke kampung halaman begitu menyenangkan dan menghangatkan. Yang sangat menyamankan bukanlah komunikasi langsungnya, atau tatap muka langsungnya, sesuatu yang begitu priceless adalah kesempatan berjabat tangan, memeluk pasangan &#038; anak kita, mencium aroma kampung halaman. Ada berbagai hal yang tidak bisa tergantikan bukan? <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Suami Menjadi Ayah ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/agar-suami-menjadi-ayah-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/agar-suami-menjadi-ayah-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Aug 2011 01:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ernest Prakasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1518</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menjadi pemahaman umum, bahwa laki-laki dan perempuan punya tugas yang berbeda. Ayah kerja, cari uang. Ibu mengurus anak. Dan dikotomi job description inilah yang membuat laki-laki, pada saat menjelang dan baru saja memiliki bayi, tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli. Saya ulangi: laki-laki bukan tidak peduli, melainkan tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli. Bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah menjadi pemahaman umum, bahwa laki-laki dan perempuan punya tugas yang berbeda. Ayah kerja, cari uang. Ibu mengurus anak. Dan dikotomi <em>job description</em> inilah yang membuat laki-laki, pada saat menjelang dan baru saja memiliki bayi, tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli.</p>
<p><strong>Saya ulangi: laki-laki bukan tidak peduli, melainkan tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli.</strong> </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-ernest-300x300.jpg" alt="" title="08-ernest" width="300" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1519" />Bila kita menggunakan istilah &#8220;tidak peduli&#8221;, maka pengertiannya adalah mereka sudah mengetahui, tapi memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa. <em>That&#8217;s not the case</em>. Masalahnya adalah, sebagian besar bahkan tidak menyadari sama sekali &#8220;kenapa mereka harus melakukan sesuatu&#8221;. Apalagi hingga ke tahap &#8220;apa yang harus dilakukan&#8221;.</p>
<p>Menurut norma awam, mengurus bayi memang pada dasarnya adalah bukan domain utama ayah. Kalo mau dirunut, yang paling berwenang adalah: ibu si bayi; lalu dilanjutkan oleh ibu dari ibu si bayi. Dengan demikian, cukup bisa dimaklumi apabila banyak ayah yang &#8220;mundur&#8221; dan menurut saja. Ini bukan sebuah ketidakpedulian, melainkan lebih kepada &#8220;udahlah daripada malah nambah ribet&#8221;. Ingin yang praktis.</p>
<p>Tingkat keterlibatan yang casual inilah yang membuat laki-laki kehilangan rasa kritisnya. &#8220;Susu formula? Kayaknya semua orang juga ngasih, harusnya sih gapapa ya?&#8221;, begitu mungkin pemikiran mereka. Belum lagi bombardir iklan, terutama di televisi, yang menendang ASI dari posisi &#8220;<em>top of mind</em>&#8221; kala orang mengingat soal susu bayi.</p>
<p>Jadi, bila berbicara tentang keterlibatan ayah dalam pemberian ASI, langkah awal tetap harus dimulai dari ibu. Oleh karena itu, berikut beberapa alasan yang bisa dikemukakan oleh ibu untuk meyakinkan ayah agar mendukung pemberian ASI:</p>
<ul>
<li>ASI = cairan ajaib.</li>
<p>Ayah manapun pasti ingin yang terbaik bagi bayinya. Itulah yang harus dijadikan &#8220;<em>entry point</em>&#8221; bagi ibu untuk meyakinkan bahwa ayah harus memilih ASI. Apalagi, laki-laki biasanya akan lebih bisa menerima alasan yang logis ketimbang emosional. Paparkan bahwa ASI itu adalah ciptaan langsung dari Tuhan. Sudah pasti, kandungan gizinya ideal. Sementara susu formula? Bukan hanya berasal dari sapi, namun telah melewati pemrosesan yang begitu panjang (dan belum tentu steril), hingga bisa sampai ke tangan konsumen. Masa iya masih tidak memilih ASI?</p>
<li>ASI = hemat.</li>
<p>Berikan ilustrasi biaya yang bisa dihemat dalam sebulan apabila tidak perlu membeli susu formula. Tentu ini adalah hitungan yang sederhana namun faktual. Tanpa membeli susu formula, uang yang ada bisa digunakan untuk keperluan yang lain.</p>
<li>ASI = tidak repot.</li>
<p>Setelah seharian bekerja, ayah pasti akan letih apabila harus terbangun di tengah malam untuk membuatkan susu. Dengan ASI, ayah bisa istirahat dengan lebih tenang, karna sewaktu-waktu bayi terbangun, yang perlu dilakukan oleh ibu hanyalah langsung menyumpal mulut bayi dengan puting susunya. Praktis, bukan?
</ul>
<p>Tidak dapat dipungkiri, kesuksesan pemberian ASI lahir berkat kerjasama yang solid antara ibu dan ayah. Sayangnya, seperti pemaparan diatas, banyak ayah yg belum sadar ASI. Melalui tiga poin diatas, semoga ibu dapat membukakan pandangan ayah agar dapat menjadi partner ASI yang ideal. Goodluck!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/agar-suami-menjadi-ayah-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui: Menabung Untuk Masa Depan</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/menyusui-menabung-untuk-masa-depan/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/menyusui-menabung-untuk-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 01:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sari Intan Kailaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Harga Susu Formula]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1502</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, kita dibuat sedih oleh kisah seorang bayi bernama Zidan. Bayi (saat itu berusia 2 bulan) yang dirawat di klinik Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC), Ciputat, Tangerang ini menderita infeksi berat, nyaris pada sekujur tubuhnya dan berada dalam kondisi gizi buruk saat dibawa ke klinik tersebut. Konon, Zidan tidak mendapat ASI, karena ibunya mendapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_1524" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-zidan-ibu-300x198.jpg" alt="" title="08-zidan-ibu" width="300" height="198" class="size-medium wp-image-1524" /><p class="wp-caption-text">Zidan &#038; ibu Zukini saat mulai dirawat di LKC-DD (Sumber: www.lkc-dd.co.id)</p></div>Beberapa waktu lalu, kita dibuat sedih oleh kisah seorang bayi bernama Zidan. Bayi (saat itu berusia 2 bulan) yang dirawat di klinik Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC), Ciputat, Tangerang ini menderita infeksi berat, nyaris pada sekujur tubuhnya dan berada dalam kondisi gizi buruk saat dibawa ke klinik tersebut. Konon, Zidan tidak mendapat ASI, karena ibunya mendapat anjuran untuk memberi susu formula oleh RS sejak melahirkan. Keadaan ekonomi yang terbatas membuat orangtua Zidan kesulitan menyediakan susu formula yang cukup, ditambah lagi sulitnya menyajikan susu formula dengan higienis.</p>
<p>Syukurlah kisah Zidan berakhir dengan <em>happy ending</em>. Zidan mendapat bantuan donor ASI dan ibunya berhasil melakukan <a href="http://aimi-asi.org/2011/05/relaktasi-bagi-yang-ingin-beralih-dari-susu-formula-ke-asi/">relaktasi</a> dengan bimbingan dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC di LKC. Sekarang Zidan sudah berusia 9 bulan, full ASI dan kondisinya sangat sehat serta segar bugar. Bahkan, sang ibu berkenan hadir dan berbagi kisahnya di Seminar Nasional Zakat dan ASI “Tuntaskan balita gizi buruk di Indonesia” yang diadakan LKC dan Dompet Dhuafa 2 Juni 2011 lalu.</p>
<p>Pada kesempatan lain, seorang teman bercerita tentang petugas keamanan di kantornya yang bersemangat menabung, agar bisa memberikan susu formula termahal bagi bayinya yang akan lahir. Katanya, “supaya anak saya nanti cerdas, tidak seperti saya.”</p>
<p><div id="attachment_1525" class="wp-caption alignright" style="width: 236px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-zidan-ibu-2-226x300.jpg" alt="" title="08-zidan-ibu-2" width="226" height="300" class="size-medium wp-image-1525" /><p class="wp-caption-text">Zidan dalam keadaan sehat, bersama ibunya di Seminar Nasional Zakat dan ASI (2 Juni 2011)</p></div>Kisah Zidan bukan satu-satunya di Indonesia. Banyak yang sebenarnya mampu menyusui, justru memilih (atau dibuat memilih) untuk memberi susu formula kepada bayi mereka. Banyak juga, seperti petugas keamanan tadi, yang memaksakan diri memberikan susu formula, bahkan meniatkannya jauh sebelum bayi lahir. Minimnya informasi tentang manfaat ASI dan resiko susu formula menjadi pemicu utama dari keadaan di atas.</p>
<p>Harga susu formula yang terus naik ternyata tidak membuat angka penjualan susu formula mengalami penurunan. Pada tahun 2010 tercatat beberapa perusahaan produsen susu formula mengalami peningkatan angka penjualan sekitar 15,7%. Bahkan ada produk susu formula yang mengalami peningkatan angka penjualan hingga 85% dibandingkan 2009 (IMS, 2011).</p>
<p>Angka kelahiran di Indonesia yang mencapai 4,5 juta bayi per tahun merupakan pangsa pasar yang besar. Di samping itu, longgarnya pengawasan terhadap pemasaran produk pengganti ASI yang sesuai <a href="http://aimi-asi.org/2010/08/kode-who-%E2%80%93-penjamin-pemberian-asi-eksklusif/">Kode Etik WHO</a> (1981), membuat kita lengah akan resiko rendahnya angka menyusui di Indonesia.</p>
<p>Melihat kondisi di atas, pernahkah kita menyadari, berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah keluarga untuk memberikan susu formula? Berapa pula ‘harga’ yang harus dibayar sebuah negara jika masyarakatnya lebih memilih susu formula ketimbang ASI?</p>
<p>HARGA SUSU FORMULA – BAGI KELUARGA</p>
<p>Saat ini terdapat lebih dari 40 merk susu formula yang beredar di Indonesia dengan harga yang variatif. Berdasarkan hasil survey kami, harga susu formula (di hipermarket lokal, per Maret 2011) bervariasi antara Rp. 21.190,- hingga Rp. 103.490,- per kemasan 300 – 400 gram, atau berkisar antara Rp. 70,63 hingga Rp. 258,73 per gram. Kami memilih tiga merk susu formula yang bisa mewakili tiga kelompok harga, yaitu kelas harga menengah ke bawah, menengah dan menengah ke atas (Tabel 1).</p>
<p>Tabel 1. Kelompok harga susu formula di pasaran.</p>
<table>
<tr>
<td>KELAS HARGA</td>
<td>HARGA PER KEMASAN (Rp)</td>
<td>UKURAN KEMASAN (gr)</td>
<td>HARGA PER GRAM (Rp)</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Keatas</td>
<td>103.490,-</td>
<td>400</td>
<td>258,73</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah</td>
<td>51.990</td>
<td>400</td>
<td>129,98</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Kebawah</td>
<td>21.190</td>
<td>300</td>
<td>70,63</td>
</tr>
</table>
<p>Dengan mengikuti petunjuk pemakaian yang terdapat pada kemasan, kami mensimulasikan biaya konsumsi susu formula secara eksklusif hingga usia anak 2 tahun. Simulasi biaya tersebut disajikan pada Tabel 2.</p>
<p>Tabel 2. Simulasi biaya konsumsi susu formula berdasarkan kelompok harga.</p>
<table>
<tr>
<td rowspan="2">KELAS HARGA</td>
<td colspan="3">Biaya Konsumsi Susu Formula (Rp)</td>
<td rowspan="2">TOTAL (Rp)</td>
</tr>
<tr>
<td>0-6 bln</td>
<td>6-12 bln</td>
<td>1-2 thn</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Keatas</td>
<td>5.146.040</td>
<td>5.835.215</td>
<td>7.507.247</td>
<td>18.488.502</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah</td>
<td>2.779.385</td>
<td>2.541.652</td>
<td>5.689.998</td>
<td>11.011.035</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Kebawah</td>
<td>1.364.664</td>
<td>1.028.647</td>
<td>1.867.386</td>
<td>4.260.697</td>
</tr>
</table>
<p>Hasil simulasi cukup mencengangkan. Susu formula termurah saja membutuhkan biaya sebesar Rp. 1.364.664,- selama 6 bulan pertama, atau sekitar Rp. 227.444,- per bulan. Mengapa mencengangkan? Karena menurut BPS (2011), pendapatan per kapita masyarakat Indonesia pada 2010 hanya Rp. 27 juta per tahun atau Rp. 2.250.000,- per bulan. Artinya, sebagian orangtua harus menghabiskan lebih dari 10% penghasilannya untuk membeli susu formula (untuk satu anak)! </p>
<p>Bagaimana dengan masyarakat yang penghasilannya di bawah rata-rata? Bagaimana juga dengan keluarga-keluarga seperti keluarga Zidan yang mendapat ’rekomendasi’ susu formula dengan harga yang tidak terjangkau? Berapa banyak keluarga seperti keluarga petugas keamanan seperti cerita di atas, yang berusaha menjangkau kelas harga yang tinggi?</p>
<p>Simulasi kemudian diperlebar dengan melakukan sebuah survey kecil di milis asiforbaby@yahoogroups.com. Kami mempelajari pola konsumsi susu formula secara eksklusif. Dari survey diketahui, 90% ibu selalu membaca petunjuk pemakaian yang tercantum di kemasan susu formula yang dibelinya. 85% responden menganggap bahwa petunjuk pemakaian tersebut mudah dipahami dan wajar. Namun ternyata, hanya 15% saja yang mengaku memberikan susu formula sesuai petunjuk pemakaian. Hasil survey juga menunjukkan bahwa para ibu tersebut rata-rata memberikan susu formula 20-30% lebih banyak dari petujuk yang tertera pada kemasan.</p>
<p>Simulasi biaya yang disesuaikan dengan hasil survey pola konsumsi susu formula tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.</p>
<p>Tabel 3. Simulasi biaya konsumsi susu formula sesuai survey pola konsumsi (30% lebih banyak dari petunjuk pemakaian).</p>
<table>
<tr>
<td rowspan="2">KELAS HARGA</td>
<td colspan="3">Biaya Konsumsi Susu Formula (Rp)</td>
<td rowspan="2">TOTAL (Rp)</td>
</tr>
<tr>
<td>0-6 bln</td>
<td>6-12 bln</td>
<td>1-2 thn</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Keatas</td>
<td>6.689.852</td>
<td>7.585.780</td>
<td>11.260.871</td>
<td>25.536.871</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah</td>
<td>3.613.201</td>
<td>3.304.147</td>
<td>3.734.771</td>
<td>6.846.077</td>
</tr>
<tr>
<td>Menengah Kebawah</td>
<td>1.364.664</td>
<td>1.028.647</td>
<td>1.867.386</td>
<td>4.260.697</td>
</tr>
</table>
<p>Tulisan ini tidak akan membahas konsumsi berlebih dari susu formula tersebut. Tapi lihat angka di kolom paling kanan. Jika saya memilih memberikan susu formula termahal pada bayi saya selama 2 tahun, saya harus siap merogoh kocek sampai lebih dari Rp. 25 juta! Angka yang (menurut saya) fantastis.</p>
<p>Sedikit iseng, saya hitung-hitung, kalau uang sejumlah itu dibelikan emas atau produk investasi lain, bisa jadi dua kali lipat pada 5 tahun mendatang, atau 6 kali lipat 10 tahun dari sekarang! Tidak perlu pusing mikirin dana pendidikan <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  </p>
<p>Simulasi biaya yang kami lakukan baru hanya menghitung pengeluaran belanja susu formula. Sesungguhnya, biaya konsumsi susu formula perlu memasukkan biaya-biaya lain yang ‘tersembunyi’ seperti biaya penyajian susu formula (memasak air hingga matang; membeli, mencuci, dan mensterilkan botol dan dot; dan biaya pengobatan).</p>
<p>Jika seorang ibu memutuskan untuk memperbaiki gizinya dan menyusui, ia hanya akan mengeluarkan biaya tidak lebih dari seperenam (kurang dari 17%) biaya memberikan susu formula selama 1 tahun (Bitoun, 1994). Kelly Bonyata, BS, IBCLC dalam situs <a href="http://www.kellymom.com/">www.kellymom.com</a> (2005) menghitung bahwa jika seorang ibu ingin menyusui dengan gaya, “peralatan perang” lengkap, plus berkonsultasi dengan ahli laktasi profesional, ia hanya akan menghabiskan tidak lebih dari seperlima (20%) biaya konsumsi susu formula selama 1 tahun.</p>
<p>Dampak ekonomi pemberian susu formula dapat dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Dampak secara langsung meliputi biaya pembelian susu formula dan biaya perawatan kesehatan. Sedangkan dampak tidak langsungnya adalah manfaat yang berhubungan dengan waktu dan penghasilan yang tidak didapat orangtua (khususnya ibu) akibat merawat bayi/anak yang sakit (Weimer, 2001). </p>
<p>Secara ideal, biaya, waktu dan penghasilan yang hilang karena orangtua merawat anak yang sakit harus dianggap sebagai salah satu kerugian dari tidak menyusui. Kenapa? Karena penyebab paling umum seorang wanita tidak masuk kerja adalah karena anaknya sakit (Weimer, 2001). Dan riset menunjukkan bahwa bayi yang diberi susu formula lebih rentan terhadap penyakit dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (WHO, 2010).</p>
<p><strong>HARGA SUSU FORMULA – BAGI NEGARA</strong></p>
<p>Apa hubungannya dengan negara?<br />
Banyak! </p>
<p>Manfaat pemberian ASI dari sisi ekonomi telah disadari di beberapa negara maju. Berdasarkan hasil penelitian epidemiologis oleh Department of Agriculture Amerika Serikat (USDA), estimasi biaya yang dihemat dengan menurunnya resiko berbagai penyakit pada bayi dan anak-anak karena pemberian ASI dapat mencapai USD 3,6 milyar atau lebih dari Rp. 30 triliun per tahun (Weimer, 2001).</p>
<p>Peningkatan pemberian ASI di Australia dapat menambah AUD 3,4 miliar (lebih dari Rp. 30 triliun) pada output makanan nasional, atau sama dengan tambahan 0,7% dari GNP Australia (Smith, 1997). Secara keseluruhan, Australia dapat menghemat AUD 115 miliar (lebih dari Rp. 1.000 triliun) per tahun dengan meningkatkan angka menyusui menjadi 80%. Angka ini didapat hanya dengan memperhitungkan pemberian ASI minimal selama 3 bulan dan penurunan resiko otitis media, diabetes melitus, penyakit gastrointestinal dan eczema (Drane, 1997).<br />
Di Inggris, National Health Service menghabiskan £ 35 juta setiap tahunnya (lebih dari Rp. 420 miliar) hanya untuk menangani gastroenteritis pada bayi susu formula. Untuk setiap 1% peningkatan angka menyusui selama 13 minggu, terjadi penghematan biaya sebesar £ 500.000 (sekitar Rp. 6 milyar) dalam perawatan gastroenteritis (Department of Health, UK, 1995). </p>
<p>Riset mengenai biaya dan penghematan dari promosi menyusui di El Salvador (Wong et. al., 1994) menemukan manfaat ekonomi sebesar USD 2.808.378 (hampir Rp. 24 milyar) dari aktivitas promosi ASI dan menyusui yang hanya mengeluarkan biaya USD 32.830 (sekitar Rp. 279 juta). Hal ini karena menurunnya angka kejadian diare, infeksi saluran pernafasan, jarak kelahiran dekat, dan biaya konsumsi susu formula.</p>
<p>Sebuah RS di Filipina (Gonzales, 1990) melakukan pengaturan ruang bayi dan menerapkan peningkatan pemberian ASI. Aktivitas ini menghemat anggaran RS sebanyak 8%. Penghematan ini berasal dari penurunan biaya listrik, air, sabun cuci, boks bayi, botol susu, dll. Anggaran yang berhasil dihemat ini sekarang dimanfaatkan untuk penyediaan obat-obatan yang lengkap sepanjang waktu, peningkatan kualitas pakaian, makanan dan gizi pasien, penyediaan darah sepanjang waktu, penambahan jumlah staf perawat dan pendamping di ruang ibu dan bayi baru lahir. </p>
<p>Ball and Wright (1999) mengkaji biaya perawatan kesehatan yang dikeluarkan selama tahun pertama kehidupan pada bayi yang mendapat susu formula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1000 bayi yang tidak pernah mendapat ASI, mengalami 60 kali lebih sering sakit saluran napas bawah, 580 kali lebih sering otitis media, dan 1053 kali lebih sering sakit saluran pencernaan. Total biaya langsung yang dibutuhkan oleh bayi yang tidak pernah mendapat ASI selama 12 bulan pertama kehidupannya akibat sakit saluran pernapasan bawah, otitis media, dan sakit saluran pencernaan adalah antara USD 331 hingga USD 475 per orang. </p>
<p>Bagaimana dengan di Indonesia?</p>
<p>Salah satu contoh yang menonjol saat ini adalah kasus gizi buruk atau malnutrisi pada batita di berbagai daerah. Untuk menangani ribuan kasus gizi buruk, pemerintah harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Pada tahun 2007 saja, Kemenkes harus mengeluarkan dana sebesar Rp. 600 milyar untuk menangani kasus gizi buruk. Padahal, ASI dapat memenuhi 100% kebutuhan nutrisi bayi usia 0-6 bulan, 70% pada usia 6-12 bulan dan 30% pada usia 1-2 tahun (WHO, 2010).</p>
<p>&#8211;</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-botol-uang-222x300.jpg" alt="" title="08-botol-uang" width="222" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-1516" /></p>
<p>Membaca fakta-fakta ’menarik’ di atas, perlu segera kita sadari bersama bahwa ASI, selain secara medis terbukti sebagai satu-satunya makanan terbaik untuk bayi, juga memberikan dampak yang luar biasa terhadap perekonomian keluarga, masyarakat dan negara. Sudah saatnya kita tingkatkan angka menyusui yang saat ini di Indonesia baru berada di angka 15,3 % saja. Salam ASI ! ☺</p>
<p><small><br />
Referensi:</p>
<ul>
<li>Ball TM, Wright AL. 1999. Health care cost of formula-feeding in the first year of life. Pediatrics 1999;103:870–6.</li>
<li>Bitoun. 1994. The Economic value of breastfeeding in France. Les Dossiers de l’Obstetrique, 1994, 216:10-13.</li>
<li>Bonyata, K. 2005. Financial costs of not breastfeeding. <a href="http://www.kellymom.com/">www.kellymom.com</a></li>
<li>Drane, D. 1997. Breastfeeding and formula feeding: a preliminary economic analysis. Breastfeed Rev 1997; 5:7-15.</li>
<li>Dept. of Health. Breastfeeding. 1995. Good practice guidance to the NHS.  London, United Kingdom of Great Britain.</li>
<li>Gonzales R. 1990. Cost analysis of maintaining a newborn nursery at Dr. Jose Fabella Memorial Hospital, Manila. (Transparencies presented in meeting in Manila, Philippines). </li>
<li>IMS. 2011. IMS data – Infant formula 2008 – Q1 2011.</li>
<li>Smith, J. 1997. The economics of breastfeeding. Australian Financial Review 24th July 1997.</li>
<li>Weimer J. 2001. The economic benefits of breastfeeding: A review and analysis. ERS Food Assistance and Nutrition Research Report No. 13. USDA Economic Research Service, Washington, D.C.</li>
<li>WHO. 2010. Fact sheet: Infant and young child feeding. <a href="http://www.who.int/">www.who.int</a> </li>
<li>Wong et al. An analysis of the economic value of breastfeeding in El Salvador: Policy &#038; technical monographs. Washington D.C., Wellstart Intl. and Nuture, 1994.</li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/menyusui-menabung-untuk-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hak Ibu Menyusui Di Indonesia</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/hak-ibu-menyusui-di-indonesia/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/hak-ibu-menyusui-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Aug 2011 01:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amanda Tasya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[hak ibu menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan pemerintah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1488</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah ibu ditolak suatu sarana pelayanan kesehatan ketika menginginkan pelaksanaan IMD atau rawat gabung sehabis kelahiran? Atau sedari awal mencampur ASI dan makanan/minuman lainnya dengan alasan hendak masuk kerja dan tidak memungkinan meneruskan pemberian ASI secara eksklusif? Atau dilarang memerah ASI selama jam kerja oleh atasan ibu? Bila ya, mungkin hal tersebut terjadi karena ibu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah ibu ditolak suatu sarana pelayanan kesehatan ketika menginginkan pelaksanaan IMD atau rawat gabung sehabis kelahiran? Atau sedari awal mencampur ASI dan makanan/minuman lainnya dengan alasan hendak masuk kerja dan tidak memungkinan meneruskan pemberian ASI secara eksklusif? Atau dilarang memerah ASI selama jam kerja oleh atasan ibu? </p>
<p>Bila ya, mungkin hal tersebut terjadi karena ibu maupun pihak lainnya belum mengetahui bahwa sebenarnya hak-hak ibu untuk menyusui dilindungi oleh Negara. Untuk itu, tulisan ini akan mengulas apa sajakah hak-hak ibu menyusui yang dilindungi oleh Negara. Agar lebih jelas, hak-hak tersebut akan dijabarkan berdasarkan tahap-tahap setelah kelahiran bayi.</p>
<ol>
<li>Inisiasi Menyusu Dini (IMD).</li>
<p>Inisiasi Menyusu Dini (IMD) mulai diperkenalkan di Indonesia pada tahun 2007. Sebelumnya, sesuai dengan <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-imd-300x197.jpg" alt="" title="08-imd" width="300" height="197" class="alignleft size-medium wp-image-1496" />Keputusan Menteri Kesehatan No. 450/MENKES/SK/VI/2004 tentang Pemberian ASI Secara eksklusif di Indonesia (“KEPMENKES 450”), para ibu yang baru melahirkan baru dapat menyusui bayinya 30 menit setelah melahirkan, yang dilakukan di ruang bersalin.  Dengan mulai diterapkannya IMD sejak 2007, bayi lah yang aktif menyusu dan bayi dibiarkan di atas dada ibu selama minimal 1 jam.  </p>
<p>Permohonan ibu pada pihak rumah sakit untuk melaksanakan IMD tak jarang mendapatkan penolakan, berbagai alasan baik teknis maupun non teknis dikemukakan.  Sesungguhnya, bila ibu dan bayi dalam keadaan stabil, IMD seharusnya dapat dilaksanakan.  Secara mendasar, hak ibu untuk meminta IMD dilindungi oleh Pasal 4 ayat (2) Undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen:</p>
<blockquote><p>“hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan”</p></blockquote>
<p>Menyadari pentingnya IMD, beberapa daerah telah secara resmi menerapkan pelaksanaan IMD melalui peraturan daerah mereka, diantaranya:</p>
<ul>
<li>Peraturan Daerah Kabutapaten Klaten No. 7/2008 tentang Inisiasi Menyusu Dini dan Air Susu Ibu Eksklusif.</li>
<li>Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 435/2008 tentang Pemberian ASI Secara Dini (Inisiasi Menyusu Dini) bagi Ibu Melahirkan di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.</li>
<li>Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan No. 6 /2010 tentang Air Susu Ibu Eksklusif</li>
</ul>
<li>Rawat gabung.</li>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-rooming-in-225x300.jpg" alt="" title="08-rooming-in" width="225" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1497" />Kunci lain keberhasilan menyusui setelah dilaksanakan IMD adalah rawat gabung, dimana bayi berada dalam jangkauan ibu selama 24 jam dan tidak ditempatkan pada kamar bayi. Pelaksanaan rawat gabung merupakan langkah ke-7 dari 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui berdasarkan Kepmenkes 450 yang berbunyi:</p>
<blockquote><p>”melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari”</p></blockquote>
<li>ASI Eksklusif selama 6 bulan</li>
<p>Untuk mendukung pemberian ASI eksklusif di Indonesia, pada tahun 1990 pemerintah mencanangkan Gerakan Nasional Peningkatan Pemberian ASI (PP-ASI) yang salah satu tujuannya adalah untuk membudayakan perilaku menyusui secara eksklusif kepada bayi dari lahir sampai dengan berumur 4 bulan. Pada tahun 2004, sesuai dengan anjuran badan kesehatan dunia (WHO), pemberian ASI Eksklusif ditingkatkan menjadi 6 bulan sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 450/MENKES/SK/VI/2004 tahun 2004. </p>
<p>Berbagai peraturan yang mendukung pemberian ASI eksklusif 6 bulan diantaranya:</p>
<ul>
<li>Kepmenkes 450/2004: Menetapkan asi eksklusif di Indonesia selama 6 bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai dengan anak berusia 2 tahun atau lebih dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai</li>
<li>Pasal 128 Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (“UU Kesehatan”) secara jelas menyatakan bahwa:</li>
<ol>
<li>setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis</li>
<li>selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus</li>
</ol>
</ul>
<p>Bahkan,  berdasarkan UU Kesehatan ini, selama program ASI Eksklusif, para elemen masyarakat harus mendukung ibu dengan memberikan waktu dan fasilitas khusus, bila hal ini tidak dilaksanakan maka para pihak yang menghalangi para ibu memberikan ASI Eksklusif dapat dipidana sesuai dengan ketentuan Pasal 200 UU Kesehatan.</p>
<li>Pemberian MPASI berkualitas dan ASI diteruskan 2 tahun atau lebih</li>
<p>Pemberian MPASI berkualitas setelah lulus ASI Eklusif selama 6 bulan juga diatur oleh peraturan perundangan Indonesia, sebagaimana dinyatakan dalam penjelasan pasal 128 UU Kesehatan: </p>
<blockquote><p>“Yang dimaksud dengan “<em>pemberian air susu ibu ekslusif</em>” dalam ketentuan ini adalah pemberian hanya air susu ibu selama 6 bulan, dan dapat terus dilanjutkan sampai dengan 2 (dua) tahun dengan memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sebagai tambahan makanan sesuai dengan kebutuhan bayi.”</p></blockquote>
</ol>
<p><strong>BAGAIMANA DENGAN IBU MENYUSUI YANG KEMBALI BEKERJA?</strong></p>
<p>Untuk menjamin agar hak ibu menyusui terlaksana, Negara pun memberikan kewajiban kepada elemen masyarakat agar mendukung ibu menyusui.  Bentuk dukungan tersebut dengan memberikan waktu dan fasilitas yang layak bagi ibu untuk menyusui bayinya. </p>
<p>Berbagai fasilitas umum, sarana kesehatan maupun perkantoran diwajibkan untuk menyediakan ruang menyusui, sebagaimana ditetapkan berdasarkan peraturan perundangan berikut:</p>
<ul>
<li>Pasal 22 Undang-undang No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak: &#8220;<em>Negara &#038; pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak</em>&#8220;. Dalam penjelasan pasal disebutkan bahwa sarana dan prasarana itu salah satunya adalah ruang menyusui,</li>
<li>Pasal 128 UU Kesehatan:</li>
<p><em>(2)	selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus<br />
(3)	penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan di tempat sarana umum</em></p>
<li>Dalam Undang-undang No.44  tahun 2009 tentang Rumah Sakit:</li>
<p>Pasal 10<br />
<em>(1)	Bangunan Rumah sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 harus dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang paripurna, pendidikan dan pelatihan, serta penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan<br />
(2)	Bangunan rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri atas ruang:<br />
n.	ruang menyusui</em></p>
<p>Pasal 29<br />
<em>(1)	Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban:</p>
<ul>
<li>menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah, parkir, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, wanita menyusui, anak-anak, lanjut usia.</li>
<p></em>
</ul>
</ul>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-working-mom-300x268.jpg" alt="" title="08-working-mom" width="300" height="268" class="alignright size-medium wp-image-1498" />Khusus untuk ibu menyusui yang kembali bekerja, Negara menjamin hak ibu bekerja agar dapat terus memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan.  Walaupun cuti melahirkan di Indonesia yang hanya 3 bulan, namun Negara menyatakan bahwa ibu bekerja dapat terus memberikan asi kepada anaknya dengan memerah dan menyusui selama jam kerja. Lebih lengkapnya berikut adalah berbagai peraturan perundangan yang mengatur hal tersebut:</p>
<ul>
<li>Pasal 83 Undang-undang No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan</li>
<p>&#8220;<em>Pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja</em>” </p>
<li>Pasal 128 UU Kesehatan:</li>
<blockquote>
<ol>
<li>setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis</li>
<li>selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus</li>
<li><strong>penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan di tempat sarana umum</strong></li>
</ol>
</blockquote>
<li>Pasal 2 Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Kesehatan No. 48/MEN.PP/XII/2008, PER.27/MEN/XII/2008 dan 1177/MENKES/ PB/XII/2008 tahun 2008 tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja </li>
<p> Tujuan peraturan bersama ini:</p>
<blockquote><ol>
<li>memberi kesempatan kepada pekerja/buruh perempuan untuk memberikan atau memerah asi selama waktu kerja dan menyimpan asi perah untuk diberikan kepada anaknya</li>
<li>memenuhi hak pekerja/buruh perempuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anaknya</li>
<li>memenuhi hak anak untuk mendapatkan asi guna meningkatkan gizi dan kekebalan anak dan</li>
<li>meningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini.</li>
</ol>
</blockquote>
<li>Pasal 49 ayat (2) Undang-undang No. 49/1999 tentang Hak Asasi Manusia:</li>
<blockquote><p>“Wanita berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan atau profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam keselamatan dan atau kesehatannya berkenaan dengan fungsi reproduksi wanita.”</p></blockquote>
<p>Penjelasan pasal ini menyebutkan bahwa yang disebut dengan &#8220;<em>perlindungan khusus terhadap fungsi reproduksi</em>&#8221; adalah pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan haid, hamil, melahirkan dan pemberian kesempatan untuk menyusui anak</p>
</ul>
<p>Diaturnya hak-hak ibu menyusui dalam berbagai peraturan perundangan di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah sebenarnya peduli dan menyadari akan pentingnya pemberian ASI untuk kebaikan generasi bangsa.  Namun demikian, memang beberapa dari peraturan-peraturan tersebut belum tersosialisasikan dengan baik, dan ini adalah salah satu pekerjaan rumah selanjutnya bagi pemerintah.   </p>
<p>Sebagai elemen masyarakat, tidak ada salahnya kita turut membantu mensosialisasikan peraturan-peraturan tersebut, agar lebih banyak ibu menyusui yang mengetahui bahwa hak-haknya dilindungi oleh Negara, sehingga menguatkan tekad para ibu untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan pemberian ASI diteruskan hingga 2 tahun atau lebih.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/hak-ibu-menyusui-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Posisi Menentukan PrestASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/posisi-menentukan-prestasi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/posisi-menentukan-prestasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 01:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Posisi Menyusui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1481</guid>
		<description><![CDATA[Sering dengar istilah tersebut? Kayaknya istilah ini lazim disebutkan jika ada yang sedang menjalani ujian atau sedang belajar ya? Bagaimana posisi duduk seseorang berpengaruh dalam proses pembelajaran orang tersebut. Posisi baik sama dengan hasil yang baik. Ternyata setelah merasakan sendiri menyusui dua anak saya dan beberapa kali bertemu dengan ibu-ibu menyusui saat konseling ditambah sempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering dengar istilah tersebut? Kayaknya istilah ini lazim disebutkan jika ada yang sedang menjalani ujian atau sedang belajar ya? Bagaimana posisi duduk seseorang berpengaruh dalam proses pembelajaran orang tersebut. Posisi baik sama dengan hasil yang baik.</p>
<p>Ternyata setelah merasakan sendiri menyusui dua anak saya dan beberapa kali bertemu dengan ibu-ibu menyusui saat konseling ditambah sempat beberapa kali mendapat ilmu laktasi dari berbagai sumber yang terpercaya, penyataan “Posisi Menentukan PrestASI” dalam hal menyusui ini sangat mengena sekali. Mengapa?</p>
<p><strong>Posisi Pelekatan Mulut Bayi ke Payudara Ibu</strong></p>
<p>Kenapa ya kalo bayi saya menyusu sakit sekali? Pertanyaan ini sering sekali terjadi. Bahkan saya sendiri mengalami ini ketika baru melahirkan anak pertama saya dulu di awal tahun 2005. Banyak ibu merasa menyusui memang seharunya sakit dan lagi-lagi saya pun merasa seperti itu. Bahkan saya sempat meyakini pernyataan seorang teman yang mengatakan bahwa menyusui lebih menyakitkan dibanding pengalaman melahirkan dia. Jadi saya pun merasa sakit ketika bayi menyusu adalah hal yang alamiah dan semua ibu menyusui rasakan.</p>
<p><div id="attachment_1482" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/07/08-posisi-1-300x271.jpg" alt="" title="08-posisi-1" width="300" height="271" class="size-medium wp-image-1482" /><p class="wp-caption-text">Perut bayi menempel ke badan ibu. Kepala dan pundak bayi dalam satu garis lurus</p></div>Sebenarnya menyusui tidak menyakitkan buat ibu, dengan catatan bayi bisa memasukkan semua puting dan sebagian areola ke dalam mulut bayi (biasanya areola di bagian atas masih terlihat lebih banyak dibanding areola di bagian bawah). Posisi pelekatan mulut bayi dengan payudara seperti ini membuat puting ibu berada dekat sekali dengan langit-langit mulut bayi yang lembut. Pada posisi ini, dagu bayi menempel pada payudara ibu dan hidungnya akan jauh dari payudara, jadi kepala bayi seperti mendongak. Sehingga ini memudahkan ia untuk menyusu. Perhatikan juga posisi badan bayi kepala dan pundak lurus menghadap ibu sehingga perut bayi menempel ke perut atau badan ibu. Coba gunakan bantal untuk bisa membantu mendapatkan posisi yang nyaman dan enak bagi ibu dan bayi.</p>
<p>Intinya posisi pelekatan yang baik adalah: posisi ini nyaman buat ibu dan bayi bisa mendapatkan ASI dengan mudah dan cukup. Tetapi seringkali untuk mendapatkan pelekatan yang tepat ini yang menjadi sulit dan ini biasanya dikarenakan pertemuan pertama ibu dan bayi yang penuh dengan intervensi. Menurut Dr. Jack Newman, ada beberapa cara untuk membuat memperlancar proses menyusu dan menyusui bayi dan ibu diawal proses kelahiran, yakni:</p>
<ol>
<li><strong>Sedikit mungkin tidak menggunakan pengobatan apa pun ketika proses melahirkan</strong>. Sudah banyak riset yang menunjukkan bahwa obat-obat ini bisa mempengaruhi koordinasi bayi menyusu pada payudara diawal kelahiran sehingga proses menyusui menjadi lebih sulit bagi si ibu. Walaupun dengan dukungan yang tepat, ibu yang melahirkan dengan menggunakan obat-obat seperti pengurang rasa nyeri atau anestesi epidural, bisa tetap menyusui, namun ini sudah menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi si ibu dan bisa jadi membuat ibu menjadi kurang percaya diri.
<p>Belum lagi jika ibu diberikan cairan tambahan melalui infus setelah melahirkan, hal ini bisa menyebabkan pembengkakan pada jaringan payudara ibu dan di areolanya, sehingga ini mempersulit bayi untuk bisa mengambil sebagian dari areola untuk bisa masuk ke dalam mulutnya.</li>
<li><strong>Segera setelah lahir, bayi seharusnya bisa Inisisi Menyusu Dini (IMD) dengan ibu</strong>. Sebagian besar bayi baru lahir bisa menyusu sendiri jika diletakkan di dada ibunya segera setelah proses melahirkan. Riset pun menunjukkan hal ini memiliki banyak manafaat tidak hanya untuk bayi tetapi juga untuk ibu. Alasan ibu perlu istirahat setelah melahirkan tidak bisa diterima karena sebenarnya proses ini tidak melelahkan buat ibu, bahkan bisa menjadi proses pertemuan pertama kali yang indah bagi ibu, bayi dan bapaknya pun bisa ikut berperan membacakan doa di telinga si kecil ketika proses ini berlangsung. Inti dari IMD ini sendiri adalah kontak kulit antara ibu dan bayi yang kemudian disusul dengan bayi akan menyusu sendiri dan ini sangat bisa dilakukan bagi bayi yang dilahirkan dengan proses bedah kaisar sekali pun.</li>
<li><strong>Rawat gabung bagi ibu dan bayi juga tidak kalah penting</strong>. Jika ibu dan bayi dalam keadaan sehat dan stabil, maka tidak ada satu pun alasan ibu dan bayi untuk tidak bisa sekamar ketika sedang di RS atau fasilitas kesehatan lainnya. Ibu bisa ‘membaca’ tanda-tanda bayi ingin menyusu ketika bayi ada di dekatnya, karena ketika bayi sudah menangis, maka biasanya ibu sudah keburu panik dan pelekatan yang baik pun menjadi sulit dilakukan.</li>
<li><strong>Jangan memberikan dot atau empeng kepada bayi</strong>. Kita sudah sering dengar tentang istilah ‘bingung puting’ dan terkadang masih banyak orang yang meragukan adanya ‘fenomena’ bingung puting ini. Bahkan sebagian tenaga kesehatan menganggap bingung puting adalah mitos belaka. Hal ini salah satu kendala terbesar dalam proses menyusui. Karena seperti kita ketahui bersama, bahwa produksi ASI ibu yang baru melahirkan memang belum banyak, memang sudah alaminya ASI yang diproduksi masih dalam jumlah sedikit. Namun hal ini seringkali diartikan bahwa ASI ibu kurang dan mulailah bayi diperkenalkan dengan cairan lain yang diberikan dengan dot.
<p>Bagaimana bayi menghisap dot berbeda dengan cara ia menyusu pada payudara. Dibutuhkan banyak kerja otot di bagian kepala dan lidah bayi untuk mengeluarkan ASI pada payudara. Sehingga mulut bayi perlu terbuka lebar dan besar ketika mengambil sebagian besar areola dan seluruh puting ke mulutnya. Sedangkan ketika menghisap botol, bayi cukup mencucu dan menghisap sedikit saja, aliran isi dari botol itu pun sudah bisa dengan mudah keluar. Hal ini membuat bayi mengenali adanya ‘aliran’  yang deras dari botol. Bayi adalah mahkluk kecil yang pintar dan cerdas. Jika mereka terbiasa mendapatkan asupan yang lebih deras dan cepat maka mereka akan meminta (melalui tangisan dan penolakan pada payudara) si botol yang berisi cairan lebih banyak yang sebenarnya belum mereka butuhkan.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan empeng? Memang empeng tidak menyalurkan isi apa pun namun sudah banyak riset yang menunjukkan bahwa empeng mengurangi frekuensi bayi menyusu yang mengakibatkan terlewatnya sesi menyusui. Ibu pun jadi kesulitan ‘membaca’ tanda-tanda awal bayi yang ingin menyusu. Karena ketika bayi sudah mulai menangis itu merupakan tanda akhir bayi ingin menyusu dan ibu pun bisa ikut panik ketika mendengar bayi menangis.</li>
<li><strong>Jangan membatasi waktu menyusu dan frekuensi menyusui</strong>. Sering kita mendengar saran bayi perlu menyusu sepuluh menit pada payudara kiri dan lalu diteruskan sepuluh menit lagi pada payudara yang kanan. Atau bayi harus menyusu minimal dalam interval 2 sampai 3 jam. Jika setiap jam bayi ingin menyusu, itu pertanda bayi manja dan ‘bau tangan’. Ini adalah dua mitos yang paling sering kita dengar dan merupakan kesalahpahaman yang cukup fatal. Bayi yang melekat dengan baik pada payudara tidak akan menghabiskan waktu berjam-jam di payudara dalam satu sesi menyusu. Maka jika dia menyusu pada satu payudara berjam-jam lamanya, maka itu salah satu pertanda bahwa pelekatannya tidak baik atau ia tidak mendapatkan cukup pasokan ASI.</li>
<li><strong>Tambahan air, formula atau air gula sangat jarang sekali diperlukan</strong>. Suplementasi ini bisa dihindari jika bayi melekat dengan baik dan bisa mendapatkan ASI yang terdapat di dalam payudara ibunya. Seringkali kita sibuk mengukur berapa banyak ASI yang sudah masuk ke dalam mulut bayi, padahal secara alamiah proses menyusui tidak bisa membuat kita melihat hal ini karena payudara kita tidak tembus pandang dan tidak terdapat deret takar di kulit payudara ibu yang bisa menunjukkan berapa banyak ASI di dalamnya. Perhatian proses bayi menyusu, ini penting karena kita bisa melihat gerakan ritmik yang berjeda dan ini menandakan ada ASI yang masuk ke mulut bayi dan ditelan. Lihat video di link ini untuk mempelajari bagaimana proses <a href="http://nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=274:bayi-menyusu-sangat-baik&#038;catid=20:video-clips-indonesian&#038;Itemid=56">bayi menyusu dengan sangat baik</a>. Lalu bandingkan dengan bayi yang mengempeng di video <a href="http://nbci.ca/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=279:mengempeng&#038;catid=20:video-clips-indonesian&#038;Itemid=56">ini</a>. Baca penjelasan pada video tersebut dan perhatikan juga jeda di dagu kedua bayi tersebut dan bandingkan.</li>
<li><strong>Hati-hati banyak alasan untuk tidak menyusui yang sudah tidak akurat</strong>. Mulai dari alasan medis seperti ibu sakit flu, ibu minum obat, ibu sedang hamil atau alasan lain seperti ibu harus banyak istirahat karena baru melahirkan jadi bayi jangan ada di dekat ibu, atau bayi jadi ‘bau tangan’ dan manja, si ayah jadi kurang diperhatikan, si nenek ingin turut ‘menyusui’ bayi dengan memberikan botol dan seterusnya. Ini juga membuat proses menyusui di awal menjadi lebih sulit bagi ibu dan bayi.</li>
</ol>
<p><strong>Lalu Bagaimana Membuat Bayi dapat Melekat ke Payudara dengan Baik?</strong></p>
<p><div id="attachment_1483" class="wp-caption alignleft" style="width: 279px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/07/08-posisi-2-269x300.jpg" alt="" title="08-posisi-2" width="269" height="300" class="size-medium wp-image-1483" /><p class="wp-caption-text">Posisi menyusui cross-craddle</p></div>Pastikan posisi memegang bayi dengan baik. Perhatian bahwa posisi badan bayi yang baik ketika menyusu adalah perutnya menempel berhadapan dengan perut ibu. Tangan ibu menopang punggung dan leher belakang bayi dan bukan kepalanya. Pelajari juga gaya menyusui seperti <em>cross-craddle</em>. Karena posisi ini memudahkan bayi baru lahir untuk mendapatkan sebagian besar areola dan puting dengan mudah. </p>
<p><div id="attachment_1484" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/07/08-posisi-3-300x210.jpg" alt="" title="08-posisi-3" width="300" height="210" class="size-medium wp-image-1484" /><p class="wp-caption-text">Posisi menyusui sambil tiduran</p></div>Pelajari juga posisi lain seperti posisi menyusui sambil tiduran, posisi <em>football clutch</em>. Lalu cari mana posisi yang paling nyaman dan enak buat kita ketika proses menyusui berlangsung.</p>
<p>Jika kita merasa ada yang salah ketika proses menyusui berlangsung, seringkali ibu melepas dan mencoba mengulang proses menyusui lagi. Dan proses ini bisa dilakukan berulangkali. Sayangnya ini kurang tepat dan seringkali membuat puting ibu nyeri dan luka. Upayakan untuk lebih mendekap dengan dekat bayi, dan upayakan agar bayi bisa mendangak ketika menyusu. Jangan lupa untuk menunggu bayi membuka lebar mulutnya dengan mencoba menyentuhkan bibirnya dengan puting kita lalu ketika mulutnya mulai terbuka lebar mulai mendekatkan badan bayi untuk bisa melekat pada payudara.</p>
<p><strong>Cari Bantuan jika Membutuhkan</strong></p>
<p>Jika kita ragu atau merasa kurang yakin dengan posisi dan pelekatan ketika menyusui, jangan ragu untuk mencari bantuan. Berdiskusi dan bertanya dengan konselor laktasi juga bisa membantu ibu untuk meningkatkan rasa percaya diri bahwa ia bisa menyusui. Akan lebih baik lagi jika pasangan yang sedang mempersiapkan kelahiran bisa mulai mencari tahu tentang ini jauh hari sebelum kelahiran si kecil dengan mengikuti kelas persiapan menyusui atau sesi Kelompok Pendukung Ibu (KP-Ibu) untuk mempersiapkan diri menyambut kehadiran buah hati yang telah dinanti. </p>
<p>Ingatlah bahwa ketika posisi sudah tepat dan baik, maka proses menyusui akan lebih nyaman bagi ibu dan bayi. Proses yang nyaman ini akan menjadi perjalanan yang indah dan bekal awal kehidupan yang berharga bagi buah hati kita dan semoga kelak mereka bisa menjadi individu yang baik akal budinya dan tentunya bisa berprestASI!</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/07/08-posisi-4-300x207.jpg" alt="" title="08-posisi-4" width="300" height="207" class="aligncenter size-medium wp-image-1485" /></p>
<p><small><br />
Sumber bacaan:<br />
<em>The Latch. And Other Keys to Breastfeeding Success</em>. Jack Newman, MD &#038; Teresa Pitman. 2006. Hale Publishing.<br />
<em>Segala yang Perlu Anda Tahu Soal Menyusui.</em> Jack Newman, MD &#038; Teresa Pitman. 2008. Penerbit Buah Hati.<br />
<em>The Womanly Art of Breastfeeding</em> (8th edition). Diane Wiessenger, Diana West &#038; Teresa Pitman. 2010. La Leche League International.<br />
</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/posisi-menentukan-prestasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konseling: Bukan APA, Tetapi BAGAIMANA</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/konseling-bukan-apa-tetapi-bagaimana/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/konseling-bukan-apa-tetapi-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 01:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[konselor laktasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1470</guid>
		<description><![CDATA[Tema perayaan Pekan ASI Sedunia tahun adalah “Talk to Me! Breastfeeding – a 3D Experience” Apa artinya? Esensi dari tema ini adalah komunikASI. Bagaimana kita mengkomunikasikan atau menyampaikan informasi, pendapat, pandangan, saran dan dukungan tentang ASI dan menyusui. Bukan saja kepada para ibu hamil dan menyusui, tetapi kepada para anggota masyarakat lainnya, lintas generasi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tema perayaan Pekan ASI Sedunia tahun adalah “<strong><em>Talk to Me! Breastfeeding – a 3D Experience</em></strong>” Apa artinya? Esensi dari tema ini adalah komunikASI. Bagaimana kita mengkomunikasikan atau menyampaikan informasi, pendapat, pandangan, saran dan dukungan tentang ASI dan menyusui. Bukan saja kepada para ibu hamil dan menyusui, tetapi kepada para anggota masyarakat lainnya, lintas generasi dan antar generasi, mulai dari anak-anak, dewasa, tenaga kesehatan, pemuka agama, tokoh adat, swasta, pemerintah dan organisasi-organisasi. </p>
<p>Dalam hal ini, dimana letak peranan seorang Konselor Laktasi? Bagaimana seorang Konselor Laktasi bisa memahami dan memaknai arti dari tema tersebut diatas dalam kegiatan sehari-hari ketika melakukan konseling kepada para ibu hamil dan ibu menyusui serta keluarga mereka. Apalagi karena sejak beberapa tahun belakangan ini, dunia laktasi di Indonesia semakin disemarakan dengan kehadiran para Konselor Laktasi ini. Apakah tugas seorang Konselor Laktasi adalah untuk memberikan nasihat kepada ibu menyusui? Apakah seorang Konselor Laktasi dituntut untuk dapat memperbaiki dan menyelesaikan seluruh permasalahan menyusui yang dijumpainya? Apakah konseling sama dengan kegiatan penyuluhan dan pengajaran? Yuk, kita belajar sedikit tentang apa artinya menjadi seorang Konselor Laktasi. </p>
<p><strong>Pengertian Konseling</strong></p>
<p>Siapakah mereka? Konselor Laktasi adalah seseorang (baik dari kalangan medis maupun non-medis) yang telah mengikuti pelatihan konselor laktasi berdasarkan modul 40 jam WHO. Aspek konseling yang merupakan kegiatan utama dari seorang Konselor Laktasi terdiri dari 2 komponen:</p>
<ol>
<li>Mendengarkan dan menerima pendapat atau pandangan ibu tanpa menghakimi; dan</li>
<li>Membantu ibu untuk menentukan pilihan yang terbaik berdasarkan informasi relevan dan saran-saran yang telah diberikan oleh seorang Konselor Laktasi.</li>
</ol>
<p>Bukan suatu kebetulan kalau urutan dari suatu proses konseling adalah seperti diatas ini, karena tanpa melakukan yang nomor 1 dengan baik dan benar, seorang Konselor Laktasi belum bisa melakukan yang nomor 2. Seringkali inilah bagian dari proses konseling yang paling berat bagi seorang Konselor Laktasi. Lah, wong pendapatnya si ibu sudah jelas-jelas salah, bagaimana kita bisa menerima pendapat tersebut apalagi sampai harus menahan diri agar tidak menghakimi si ibu dengan menyebutkan kesalahannya. </p>
<p>Oleh karena itu, dalam melakukan konseling seorang Konselor Laktasi dituntut untuk memiliki setidaknya ketrampilan-ketrampilan berikut ini:</p>
<ul>
<li>Ketrampilan mendengarkan dan mempelajari</li>
<li>Ketrampilan membangun percaya diri dan memberikan dukungan</li>
<li>Ketrampilan mengamati kegiatan menyusui dan mencatat riwayat menyusui</li>
</ul>
<p>Selain daripada itu, ada 12 kompetensi dasar dan 16 kompetensi tambahan yang sebaiknya dimiliki oleh seorang Konselor Laktasi agar dapat menjalankan perannya secara baik dan efektif. </p>
<p><strong>Komponen Utama</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-mia-sutanto-1-300x210.jpg" alt="" title="08-mia-sutanto-1" width="300" height="210" class="alignleft size-medium wp-image-1475" />Komponen utama dari suatu proses konseling, serta ketrampilan dasar yang HARUS dimiliki oleh seorang Konselor Laktasi adalah: kemampuan berkomunikasi. Bagaimana caranya, dengan <em>communication skills</em>-nya, seorang Konselor Laktasi dapat membuat ibu untuk membuka diri, menyadari sendiri persepsi keliru yang selama ini mungkin dimilikinya terkait dengan kegiatan menyusui, serta kemudian berkeinginan untuk merubah atau memperbaiki persepsi keliru tersebut sehingga kegiatan menyusui dapat berjalan lebih lancar. Tidak mudah tentunya. Salah ngomong sedikit, bisa berakibat ibu menutup diri dan menolak proses konseling yang sedang dijalani. Yang perlu diingat, konseling adalah komunikasi dua arah antara ibu menyusui dengan seorang Konselor Laktasi. Konseling BUKAN penyuluhan, TIDAK SAMA dengan kegiatan pengajaran atau pemberian nasihat. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-mia-sutanto-2-300x235.jpg" alt="" title="08-mia-sutanto-2" width="300" height="235" class="alignright size-medium wp-image-1476" />Seorang Konselor Laktasi yang tidak dapat berkomunikasi dengan baik, akan mengalami tantangan yang lebih besar ketika sedang menjalankan tugasnya. Apa saja sih kemampuan komunikasi yang sebaiknya dimiliki dan dipraktekkan ketika melakukan konseling?</p>
<ol>
<li>Mendengarkan (<em>active listening</em>)</li>
<ul>
<li>Komunikasi non-verbal atau bahasa tubuh sangat dibutuhkan ketika seorang Konselor Laktasi sedang berupaya untuk menjalin keakraban dengan ibu menyusui, dimana buah dari keakraban yang diharapkan terjalin adalah kemauan dari si ibu untuk membuka diri dan menceritakan riwayat menyusuinya secara jujur.</li>
<li>Ketika suasana mulai mencair dan ibu mulai terlihat nyaman untuk bercerita, sang Konselor Laktasi diharapkan memiliki kemampuan untuk menggali cerita, riwayat dan keterangan sebanyak mungkin melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka yang diajukan &#8212; ciri dari kegiatan konseling yang berjalan baik, si ibu lebih banyak bercerita dan berbicara dibandingkan dengan Konselor Laktasinya.</li>
<li>Memberikan respon yang wajar dan bersungguh-sungguh (<em>sincere</em>) – tunjukkan empati (bukan simpati), berikan respon tubuh (<em>gestures</em>) yang pantas serta hindari menggunakan kata-kata yang menghakimi terhadap si ibu. Mimik muka serta nada dan tonasi suara yang digunakan sangat berpengaruh terhadap ketrampilan ini. Contoh: “Ooh, jadi ibu belum tahu ya kalau ASI eksklusif adalah 6 bulan?” (dengan nada lembut, sambil menyentuh tangan ibu dan muka penuh perhatian). Bandingkan dengan “Ooh, jadi ibu belum tahu ya kalau ASI eksklusif adalah 6 bulan?” (dengan nada meninggi dan menuduh, alis dinaikkan sebelah dan pandangan meremehkan).</li>
</ul>
<li>Membangun Percaya Diri (<em>building self confidence</em>)</li>
<ul>
<li>Kemampuan untuk menerima apa yang ibu pikirkan dan rasakan, meskipun apa yang dipikirkan tersebut adalah salah, tanpa memberikan pembenaran atas kesalahan tersebut. “Ooh, jadi ibu khawatir ya ASI ibu sedikit karena ukuran payudara ibu kecil?”</li>
<li>Konselor Laktasi seyogyanya dapat mengidentifikasikan hal-hal apa saja yang sudah dilakukan dengan benar oleh ibu dan bayi, dan dapat memberikan pujian tersebut secara wajar dan bersungguh-sungguh (<em>sincere</em>).</li>
<li>Kemampuan untuk menggunakan bahasa sederhana ketika sedang konseling, terutama saat memberikan informasi relevan dan saran-saran (bukan perintah, bukan nasihat) kepada ibu. Seringkali Konselor Laktasi mengalami kesulitan dalam memberikan informasi relevan, yaitu informasi yang dibutuhkan oleh ibu untuk situasinya saat itu. Hal ini karena biasanya Konselor Laktasi memiliki segudang informasi yang dianggap benar serta mungkin perlu diketahui oleh si ibu. Tetapi, benar dan perlu diketahui belum tentu relevan untuk kondisi ibu saat itu. Information overload malah bisa menyebabkan hasil akhir konseling menjadi kurang efektif. Begitu pula saat memberikan saran, tidak perlu banyak-banyak, dan bagaimana cara menyampaikan agar tidak berkesan memerintah dan menasihati si ibu. </li>
</ul>
</ol>
<p><strong>Tatalaksana Konseling</strong><br />
Kalau membaca keterangan-keterangan diatas, maka bisa diambil kesimpulan bahwa kegiatan konseling adalah:</p>
<ol>
<li>ada tatap muka antara ibu dan Konselor Laktasi – dalam hal ini, konseling melalui telepon dan email mungkin bisa katakan kurang efektif karena sebagian besar teknik berkomunikasi tidak dapat dilakukan;</li>
<li><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-mia-sutanto-3-300x203.jpg" alt="" title="08-mia-sutanto-3" width="300" height="203" class="alignright size-medium wp-image-1474" />kegiatan yang dilakukan satu lawan satu atau <em>one on one</em>, artinya seorang Konselor Laktasi melakukan satu kesempatan konseling dengan hanya satu ibu – kegiatan konseling tidak dapat dilakukan secara berkelompok, bahkan dalam suatu KP Ibu sekalipun, karena hal tersebut akan mengarah pada kegiatan penyuluhan dan pengajaran;</li>
<li>Dalam proses konseling selalu ada komunikasi dua arah, dengan porsi berbicara yang lebih banyak pada si ibu menyusui – Konselor Laktasi tidak mendikte, memerintah, menyuluh, mengajar atau menasihati;</li>
<li>Konselor Laktasi mempraktekkan semua ketrampilan dan kompetensi yang seharusnya dimiliki olehnya, terutama ketrampilan berkomunikasi sebagaimana yang telah diuraikan diatas;</li>
<li>Konselor Laktasi dan ibu menyusui bersama-sama berdiskusi dan memutuskan hal terbaik yang akan dilakukan oleh si ibu sesuai dengan informasi relevan serta saran-saran yang telah diberikan oleh Konselor Laktasi terkait dengan kondisi menyusui ibu tersebut. </li>
</ol>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-mia-sutanto-4-300x212.jpg" alt="" title="08-mia-sutanto-4" width="300" height="212" class="alignleft size-medium wp-image-1472" />Dari penjelasan diatas, mungkin bisa diambil sedikit kesimpulan bahwa seringkali, APA yang ingin kita sampaikan kurang dapat diterima kalau BAGAIMANA cara penyampainnya masih kurang tepat. Seringkali seorang Konselor Laktasi terlalu fokus terhadap APA yang ingin dia sampaikan, tanpa memperhatikan BAGAIMANA ia menyampaikannya. It&#8217;s not WHAT you say, but HOW you say it. Konseling dengan menggunakan teknik komunikasi yang benar, akan meningkatkan rasa percaya diri ibu sehingga dia bisa kembali menyusui dengan lancar, itulah hakikat dari ketrampilan sesungguhnya seorang Konselor Laktasi.      </p>
<p>Selamat merayakan Pekan ASI Sedunia 2011, semoga dengan semakin bertambahnya konselor-konselor laktasi yang handal, semakin banyak pula pasangan ibu dan bayi yang bisa melakukan standar emas pemberian makan pada bayi. <em>Happy breastfeeding!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/konseling-bukan-apa-tetapi-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Talk to Me! Breastfeeding &#8211; A 3D Experience</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/talk-to-me-breastfeeding-a-3d-experience/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/talk-to-me-breastfeeding-a-3d-experience/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 00:52:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farahdibha Tenrilemba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Pekan ASI 2011]]></category>
		<category><![CDATA[Pekan ASI Sedunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1464</guid>
		<description><![CDATA[komunikASI: Mari Bicara ASI 3D, bayangan kita ketika mendengar kata itu adalah menonton film dengan menggunakan kacamata khusus agar gambar terlihat menonjol keluar dan seperti muncul dihadapan muka kita. Sensari seru, itu yang kita dapatkan setelah menonton 3D. Yak, seseru itu juga lah tema perayaan pekan ASI sedunia tahun ini, yaitu Talk to me! Breastfeeding [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>komunikASI: Mari Bicara ASI</h2>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/logo-wbw2011.jpg" alt="" title="logo-wbw2011" width="250" height="200" class="alignleft size-full wp-image-1466" />3D, bayangan kita ketika mendengar kata itu adalah menonton film dengan menggunakan kacamata khusus agar gambar terlihat menonjol keluar dan seperti muncul dihadapan muka kita. Sensari seru, itu yang kita dapatkan setelah menonton 3D. Yak, seseru itu juga lah tema perayaan pekan ASI sedunia tahun ini, yaitu <em>Talk to me! Breastfeeding &#8211; a 3D Experience</em>.</p>
<p>Sebut kata menyusui, pastinya yang muncul dibenak adalah ibu yang sedang menyusui bayinya. Atau, ibu yang sibuk mengontrol kehamilan lalu melahirkan kemudian menyusui dan akhirnya menyapih. Atau, ibu yang selalu membawa bayi ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi dan cek pertumbuhan bayi. Atau, ibu yang saling berbagi pengalaman dan permasalahan menyusui. Pelakon utama dari kegiatan menyusui adalah si pasangan duet maut, ibu dan bayi. </p>
<p>Namun, sadarkah kita, pasangan ibu dan bayi itu memerlukan dukungan orang-orang disekitarnya untuk mencapai kesuksesan menyusui?</p>
<p>Ibu sudah tahu akan banyak manfaat dari ASI, untuk bayi maupun untuk dirinya. Ibu pun sudah memiliki kemauan untuk menyusui secara eksklusif dan melanjutkannya hingga dua tahun. Lalu sudah cukup kah? Sudah tahu dan mau, terkadang belum tentu mampu.</p>
<p>‘Belum tentu mampu’ karena seketika bayi menangis, ibu pun dinilai tidak dapat menenangkan bayi karena jumlah ASInya tidak mencukupi. ‘Belum tentu mampu’, karena si ibu tidak diperbolehkan memerah di kantor lebih dari sekedar waktu istirahat makan siang, dan karena ibu merasa canggung memerah ditempat umum. ‘Belum tentu mampu’ karena sepulangnya dari rumah sakit, si ibu diberi paket susu oleh petugas kesehatan. </p>
<p>Ibu dan bayi memerlukan dukungan dari seluruh pihak, mulai dari ayah dan anggota keluarga lain, rekan sekantor, lingkungan sekitar dan sarana umum, petugas kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan, serta pemerintah dan kebijakan-kebijakannya, demi mencapai kesuksesan menyusui.</p>
<p>Diperlukan cara-cara yang menembus batas, yang lintas generasi, lintar sektor, lintas gender, lintas budaya agar dapat berbagi tentang pengalaman dan pengetahuan dan menjangkau luas!</p>
<p>KomunikASI. Itulah kata yang akan melengkapi serunya pengalaman 3D menyusui. Melindungi, mempromosikan, dan mendukung gerakan menyusui adalah melalui komunikASI. Saat ini, banyak sekali cara untuk mengkomunikASIkan menyusui. Cara cepat menyebar informasi menyusui melewati ambang batas waktu dan tempat. Serba mudah dengan hadirnya teknologi instant: sebut saja, mailing-list, facebook, twitter, dan blackberry messanger. Tidak bisa dipungkiri, kehadiran twitter mempermudah menyebarkan informasi tentang menyusui. Adanya BBM mempercepat pencarian solusi bagi permasalahan dan tantangan menyusui. Menjadikan komunikASI mudah.</p>
<p><strong>Mari bahas satu per satu. Lintas generasi dan lintas budaya.</strong></p>
<p>Saya ingat pengalaman sewaktu ke Faroe Islands, sebuah negara otonomi dari Denmark. Disana, saya dan tim diajak ke sebuah sekolah dasar untuk melihat bagaimana menyusui dan pemberian makan pada bayi diajarkan. Periode menyusui menjadi bagian terintegrasi dari siklus kehidupan (sama halnya dengan hamil, melahirkan, tumbuh dan berkembang). Menyusui menjadi bagian dari rangkaian program kesehatan yang diterapkan di sekolah tersebut. Tidak asing bagi anak-anak usia SD ini berbicara tentang pentingnya disusui dan menyusui (kelak).</p>
<p>Buka website resmi dari perayaan pekan ASI sedunia <a href="http://worldbreastfeedingweek.org/">http://worldbreastfeedingweek.org/</a>, disana terlihat tidak sedikit foto yang mengabadikan kegiatan seorang fasilitator/instruktur berbagi tentang menyusui pada anak-anak usia muda. Oktober lalu pun ketika acara Global Breastfeeding Forum di Malaysia, Katherine Houng, seorang mahasiswi berbicara tentang bagaimana peran muda-mudi dalam mengkomunikASIkan menyusui. Last but not least, April kemarin, ketua umum AIMI, Mia Sutanto meluncurkan buku pertamanya bertajuk “mama, adek bayi makan apa?” yang ditujukan bagi anak-anak usia sangat dini untuk memberikan pengertian awal tentang bayi yang diberi ASI.</p>
<p><strong>Lintas sektor dan lintas gender</strong></p>
<p>Saya ambil salah satu contoh saja. Masih ingat SKB 3 menteri? Surat Keputusan Bersama 3 Kementerian mengenai pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja. Bahwa Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Kesehatan peduli tentang para ibu yang bekerja untuk tetap memberikan ASI. SKB ini difokuskan pada 2 hal, yaitu pemberian kesempatan pada ibu bekerja untuk menyusui dan/atau memerah selama jam kerja, dan penyediaan sarana ruang atau pojok untuk memerah dan/atau menyusui. Masing-masing kementerian memiliki tugas dan tanggung jawab agar informasi menyusui terkomunikASIkan dengan baik dan tepat.</p>
<p>Harapannya, setiap orang, setiap sektor, setiap generasi, dan setiap budaya mengkomunikASIkan menyusui. Apapun yang terlintas dibenak anda mengenai memberikan dukungan, mempromosikan dan melindungi menyusui, lakukanlah, walaupun itu diluar batas.</p>
<p>Saatnya kita bicara ASI! </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/talk-to-me-breastfeeding-a-3d-experience/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BAB Bayi ASI Eksklusif</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/07/bab-bayi-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/07/bab-bayi-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jul 2011 01:08:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Miranda Yusuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[BAB]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1458</guid>
		<description><![CDATA[ASI saya cukup gak ya. Kekhawatiran seperti ini seringkali dialami oleh para ibu menyusui. Apalagi jika sang bayi sering menangis, mudah terbangun, atau suka menghisap/mengenyot tangannya. Mari baca tulisan dari salah satu konselor AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ASI saya cukup gak ya. Kekhawatiran seperti ini seringkali dialami oleh para ibu menyusui. Apalagi jika sang bayi sering menangis, mudah terbangun, atau suka menghisap/mengenyot tangannya.</p>
<p>Sebenarnya adakah tanda-tanda yang dapat menunjukkan bahwa bayi mendapatkan cukup ASI (Air Susu Ibu)? Dalam jangka panjang indikasi atau tanda kecukupan yang paling utama adalah peningkatan berat badan. Ada juga tiga tanda sederhana yang dapat diperhatikan ibu, yakni dengan mengamati cara bayi menyusu, buang air kecil (BAK), dan buang air besar (BAB). Tulisan ini membahas BAB bayi yang hanya mendapat ASI atau yang lebih dikenal dengan istilah ASI eksklusif (ASIX).</p>
<p><strong>Tiga Hari Pertama</strong></p>
<p>Beberapa hari pertama setelah kelahirannya bayi mengeluarkan mekonium, yakni bahan lengket berwarna hijau pekat mendekati hitam yang terkumpul di dalam usus bayi selama berada di kandungan. Pada hari ketiga, bayi yang mendapatkan lebih banyak ASI akan buang air besar lebih mudah. Biasanya bayi sudah mengeluarkan seluruh mekonium dan bentuk tinja bayi berubah di hari keempat.</p>
<p><strong>Bulan Pertama</strong></p>
<p>Tinja bayi yang wajar berwarna kuning, sedikit berbau, memiliki bentuk lunak agak cair dan berbij-biji. Bentuk tinja juga dapat sedikit berbeda, misalnya berwarna lebih hijau atau kuning pekat, berlendir atau berbuih. Perbedaan warna ini tidak menunjukkan masalah apapun. Bayi ASIX yang semakin mudah buang air besar di hari ketiga kehidupannya berarti dalam keadaan yang baik.</p>
<p>Bayi yang sehat dan mendapat cukup asupan ASI akan buang air kecil lebih dari enam kali dalam sehari. Walaupun begitu, segera periksakan bayi kepada tenaga atau fasilitas kesehatan jika ia mengalami salah satu dari tanda-tanda di bawah.</p>
<ol>
<li>Bayi masih mengeluarkan mekonium pada usia 4 atau 5 hari</li>
<li>Bayi usia 5-21 hari tidak buang air besar dalam 24 jam</li>
<li>Tinja bayi berwarna coklat, jarang buang air besar, atau tinja sedikit</li>
</ol>
<p>Selain mengamati asupan bayi, memantau frekuensi buang air besar dan jumlah tinja merupakan cara untuk menilai bilamana bayi mendapatkan cukup ASI. Jumlah tinja bayi seharusnya meningkat setidaknya pada hari kelima dengan frekuensi buang air besar 2-3 kali setiap hari. Bahkan beberapa bayi buang air besar setiap selesai menyusu dan ini bukan berarti bayi menderita diare.</p>
<p>Diare adalah kondisi perubahan frekuensi buang air besar secara mendadak dengan jumlah tinja lebih banyak dan dalam bentuk yang sangat cair. Terus berikan ASI dan perbanyak asupannya untuk mencegah dehidrasi atau kekurangan cairan pada bayi. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi berikut ini:</p>
<ul>
<li>Mata kering, bayi menangis tanpa mengeluarkan air mata atau hanya sedikit;</li>
<li>Kulit, mulut dan bibir lebih kering;</li>
<li>Air seni berwarna gelap, keluar sedikit atau tidak keluar sama sekali;</li>
<li>Mata tampak cekung atau terbenam;</li>
<li>Sangat lemas dan kesadaran menurun;</li>
<li>Selalu merasa haus atau malah menolak minum;</li>
<li>Ubun-ubun terlihat cekung;</li>
<li>Ketika kulit dicubit dengan dua jari kulit sulit kembali ke bentuk asal.</li>
</ul>
<p>Segera hubungi tenaga atau fasilitas kesehatan bila menemukan tanda dehidrasi, diare yang disertai dengan darah, kejang, nafas cepat dan dangkal, muntah terus-menerus, panas tinggi di atas 38,5°C yang tidak berkurang dalam 2 hari, diare berlangsung lebih dari 14 hari, atau bayi tampak kesakitan atau kolik. Bayi yang kesakitan akan menangis kuat sambil menekuk kaki, gelisah serta berkeringat.</p>
<p><strong>Usia 2-6 Bulan</strong></p>
<p>Frekuensi buang air besar setiap bayi berbeda-beda. Secara umum frekuensi buang air besar bayi akan semakin berkurang seiring pertambahan usianya karena usus telah berkembang lebih sempurna dan dapat menyerap ASI lebih baik. Memasuki bulan kedua, beberapa bayi ASIX mendadak mengubah frekuensi buang air besar mereka dari sering menjadi sekali dalam tiga hari. Bahkan ada bayi yang tidak buang air besar selama 20 hari atau lebih. Selama bayi sehat dan bentuk tinja wajar maka hal tidak menjadi masalah. Memang bayi ASIX lebih jarang mengalami sembelit atau konstipasi karena nutrisi ASI mudah dicerna dan diserap oleh tubuh serta mengandung zat laksatif yang dapat mengencerkan tinja.</p>
<p><strong>Setelah Bulan Keenam</strong></p>
<p>Setelah bayi mendapat Makanan Pendamping ASI (MPASI) biasanya frekuensi buang air besar, bentuk dan jumlah tinja akan berubah tergantung dari asupan makanannya. Jika tinja bayi keras hingga saat buang air besar ia mengalami kesulitan, rasa nyeri, atau bahkan luka anus yang berdarah, hal ini dinamakan sembelit. Tambahkan cairan, buah, dan serat ke dalam makanannya. Sembelit yang disebabkan oleh diet makan yang tidak seimbang akan hilang dengan sendirinya. Segera hubungi tenaga kesehatan apabila sembelit disertai dengan sakit perut hebat atau muntah.</p>
<p>Sumber:</p>
<ul>
<li>Newman, Jack. Kernerman, Edith. 2009. <a href="http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=23:is-my-baby-getting-enough-milk&amp;catid=5:information&amp;Itemid=17">Is My Baby Getting Enough Milk?</a>, diakses April 2011).</li>
<li>Pujiarto, Purnamawati S. 2008. Q&amp;A Smart Parents for Healthy Children. Jakarta: Intisari.</li>
<li>Suririnah. 2009. Buku Pintar Merawat Bayi 0-24 Bulan. Jakarta: Gramedia.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/07/bab-bayi-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Relaktasi bagi yang ingin beralih dari susu formula ke ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/05/relaktasi-bagi-yang-ingin-beralih-dari-susu-formula-ke-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/05/relaktasi-bagi-yang-ingin-beralih-dari-susu-formula-ke-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 00:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farahdibha Tenrilemba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Relaktasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1402</guid>
		<description><![CDATA[Telah dimuat di Tabloid Nakita edisi Maret 2011 no. 622 Pada dasarnya, kami para pendukung gerakan menyusui bukanlah korban dari polemik keberadaan bakteri E. Sakazakii pada susu formula, karena ada atau tidak ada berita mengenai bakteri ini, kami tetap dengan kampanye kami: mendukung, mempromosikan, dan melindungi pemberian ASI di Indonesia. Namun harus saya akui, ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>Telah dimuat di Tabloid Nakita edisi Maret 2011 no. 622</small></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/05/05-nakita-300x262.jpg" alt="" title="05-nakita" width="300" height="262" class="alignleft size-medium wp-image-1404" />Pada dasarnya, kami para pendukung gerakan menyusui bukanlah korban dari polemik keberadaan bakteri E. Sakazakii pada susu formula, karena ada atau tidak ada berita mengenai bakteri ini, kami tetap dengan kampanye kami: mendukung, mempromosikan, dan melindungi pemberian ASI di Indonesia. Namun harus saya akui, ini menjadi salah satu momen yang tepat untuk kembali mengajak masyarakat akan pentingnya menyusui, dan mengingatkan untuk kembali ke ASI. </p>
<p>Alasan untuk Tidak Menggunakan Pengganti ASI:</p>
<ol>
<li>Kandungan susu formula. Susu formula berasal dari susu sapi yang komposisinya diubah menyerupai ASI. Susu formula saat ini sudah ditambahkan komposisi yang tidak secara alami terdapat pada susu sapi, misalnya DHA, AA, sfingomielin, lactofferin, dsb. Kandungan susu sapi sangat terbatas dibanding ASI. Dan komposisinya tidak berubah sesuai kebutuhan bayi.</li>
<li>Botol dan dot. Botol dan dot terdiri atas plastik jenis tertentu yang harus selalu bersih dan higienis. Oleh karenanya, botol dan dot perlu disterilkan. Untuk mensterilkan botol dan dot diperlukan bahan bakar dan air. Ditambah lagi, penggunaan dot dapat menyebabkan bingung puting (kondisi dimana bayi sulit melekat pada payudara ibu saat menyusui langsung) dan kerusakan dini pada gigi.</li>
<li>Sanitasi dan akses ke air. Membuat susu formula harus menggunakan air bersih yang dididihkan. Untuk diketahui saja, kurang dari 50% penduduk Jakarta punya akses ke air pipa, 90% air sumur dangkal terkontaminasi bakteri E. coli (menurut BPS 2006).</li>
<li>Alam dan polusi. Botol dan dot memerlukan plastik, kaca, karet, dan silikon yang semuanya tidak dapat didaur ulang. Juga memerlukan pabrik, distribusi, pengepakan yang menimbulkan masalah polusi.</li>
<li>Ekonomi. Dalam contoh ilustrasi perhitungan konsumsi susu formula berikut digambarkan, jika seorang bayi memerlukan minimal 7 kaleng/bulan @ Rp60.000, berarti untuk seorang bayi dikeluarkan minimal Rp 420.000. Bagaimana nasib orang yang miskin jika harus membeli susu formula?</li>
</ol>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/05/05-relaktasi-ngt-206x300.jpg" alt="" title="05-relaktasi-ngt" width="206" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1405" />Sebetulnya, seorang ibu dengan bayi usia 0-2 tahun dapat melakukan relaktasi agar dapat beralih dari susu formula. Relaktasi adalah praktik menyusui kembali bayi langsung ke payudara setelah dalam kurun waktu tertentu tidak menyusui atau menyusui secara parsial (mencampur pemberian ASI dengan  makanan / minuman selain ASI) karena alasan tertentu. Relaktasi dapat dilakukan dengan diawali niat yang kuat untuk kembali menyusui. Ajak pasangan dan anggota keluarga serta orang-orang terdekat untuk mendukung ibu melakukan relaktasi. Semakin muda usia bayi, semakin mudah relaktasi dilakukan dan berhasil. </p>
<p>Tahapan relaktasi:</p>
<ol>
<li>Hentikan total penggunaan dot dan botol, berikan susu atau makanan lain dengan menggunakan gelas atau sendok, agar bayi dapat lupa pada dotnya, dan mau mengisap payudara ibu.</li>
<li>Persering kontak kulit antara ibu dan bayi. Guna dari kontak kulit ini agar hormon laktasi  dirangsang oleh isapan mulut bayi. Kegunaan lain, bayi dapat mencium bau ibunya dan mengakrabkan diri dengan ibu.</li>
<li>Bila bayi sudah mau menetek langsung, siapkan selang NGT atau pipet untuk meneteskan/mengalirkan cairan dari dalam wadah. Letakkan wadah di posisi yang lebih tinggi daripada payudara ibu. Wadah bisa berisi ASI perah (ASIP) atau susu formula yang sedang dikonsumsi bayi saat itu. Ujung selang dimasukkan kedalam wadah berisi cairan, sementara ujung satu lagi dilekatkan di puting. Tahapan ini dilakukan agar ketika bayi ada dalam posisi menyusui, ia tidak akan frustrasi dengan jumlah ASI yang masih sedikit. Ini dilakukan untuk memancing produksi, karena isapan bayi dapat merangsang hormon laktasi  bekerja.</li>
<li>Jika selama ini anak mendapatkan cairan selain ASI, susu formula misalnya, gunakan susu formula tersebut sebagai cairan dalam wadah relaktasi. Secara perlahan kurangi jumlahnya dan ganti dengan ASI perah. Seiring stimulasi yang dilakukan oleh bayi dan ibu, ASI pun lebih banyak diproduksi dan dapat diperah.</li>
<li>Perbaiki posisi dan pelekatan  saat menyusui bayi. Cari posisi yang tepat dan nyaman untuk ibu dan bayi. JIka bayi merasa tidak nyaman dengan posisinya (biasanya karena tidak terbiasa disusui), maka sediakan waktu untuk berdekatan lebih lama. Selalu berkomunikasilah dengan bayi, ajak bicara tentang proses relaktasi yang harus dilalui bersama. </li>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/05/05-relaktasi-drips-300x208.jpg" alt="" title="05-relaktasi-drips" width="300" height="208" class="alignright size-medium wp-image-1406" />
<li>Minta bantuan orang lain untuk memegang wadah berisi ASIP/susu formula tersebut supaya jalannya lancar selama melintasi selang. Jika menggunakan pipet, orang lain dapat membantu meneteskan cairan tepat diatas puting. Pastikan tetesan itu tidak berhenti, agar bayi tidak kembali frustrasi. Jika di sekitar ibu tidak ada orang, maka gantunglah wadah disekitar leher ibu, atau letakkan wadah di meja yang tinggi.</li>
<li>Memerah ASI.  Mengeluarkan ASI dari payudara dapat menstimulasi hormon laktasi untuk mulai bekerja kembali dan meningkatkan persediaan ASI. Memerah ASI dilakukan setelah menyusui bayi secara langsung (bukan sebelum). Memerah dapat dilakukan dengan tangan atau pompa.</li>
<li>Siapkan waktu dan kesabaran yang tinggi dalam menjalani proses relaktasi karena proses ini tidak bisa diukur jangka waktunya. Semua bergantung pada niat dan usaha masing-masing individu.</li>
<li>Kontak konselor laktasi terdekat jika dirasa memerlukan bantuan praktis dalam menerapkan langkah-langkah kembali menyusui ini.</li>
</ol>
<p>Untuk anak yang berusia lebih dari 2 tahun, sekiranya di umur sekian anak sudah cukup besar untuk makan makanan yang ada di rumah, tentu dengan pola nutrisi berimbang. </p>
<p>Banyak yang bertanya pada saya, &#8220;Jadi apakah anak di atas 2 tahun perlu diberi susu?&#8221; Susu merupakan salah satu sumber protein. Protein bisa kita dapatkan dari makanan lain selain susu, seperti tempe, tahu, telur, dan sebagainya.<br />
Mari kita berpikir jangka panjang dalam mencari penyelesaian dari polemik susu formula ini. Tidak ada kata terlambat untuk kembali ke ASI, selamatkan generasi masa depan bangsa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/05/relaktasi-bagi-yang-ingin-beralih-dari-susu-formula-ke-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

