<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Cerita Sukses</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/category/cerita-sukses/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 01:59:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>ASI: Cairan Ajaib Yang Selamatkan Bayiku</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 00:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Muzdalifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[bayi prematur]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Kuning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1628</guid>
		<description><![CDATA[Bahagia rasanya saat mengetahui kehamilan pertama yang ternyata kembar identik. Tapi manusia boleh berencana, Tuhan tetaplah Maha Penentu. Salah satu bayi kembarnya meninggal di dalam kandungan dan harus dilahirkan. Kembarannya yang selamat, lahir prematur. Bagaimana perjuangan ibu Lia? Yuk kita simak penuturannya ke AIMI beberapa waktu lalu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika mengetahui bahwa aku hamil kembar identik (satu kantung kehamilan), rasanya aku bahagia sekali. Aku akan dikarunia dua bayi sekaligus! Setiap bulan aku rutin memeriksakan kandungan ke dokter, untuk memastikan kedua bayiku tumbuh sehat di dalam rahimku. Kedua bayi tampak sangat sehat menurut dokterku, hingga kontrol terakhir pada usia kandungan 6 bulan.</p>
<p><strong>Ternyata Tuhan berkehendak lain</strong></p>
<p>Pada usia kandungan sekitar 6,5 bulan, keluar cairan bening yang banyak sekali dari vagina. Aku hubungi dokter dan beliau bilang tidak apa-apa, kemungkinan hanya akibat peregangan. Namun aku kemudian merasa kesakitan dan ada flek berupa darah segar. Pada hari Senin, 28 Maret 2011, dari kantor, aku segera dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, sesuai arahan dokter kandungan.</p>
<p>Ternyata menurut hasil USG, salah satu bayiku sudah meninggal. Rasa sedih tak terkira kurasakan waktu itu.</p>
<p>Setelah berkonsultasi dengan dokter, kami sepakat untuk menahan kelahiran bayi yg selamat setidaknya hingga berat badannya cukup dan usia kandungan lewat 7 bulan. Tapi ternyata badanku sudah tidak sanggup menahan kontraksi-kontraksi yang terjadi. Ternyata sudah ada pembukaan 3 cm yang terhalang dengan semacam balon.</p>
<p>Pada hari ke-3 aku dipindahkan ke RS yang lebih besar karena aku semakin kesakitan, demam, kontraksi terus menerus, dan HB turun terus. Kondisiku semakin melemah ditambah lagi harus menahan semua obat-obatan yang <div id="attachment_1636" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1101-Alhamdulillah1-abel-300x225.jpg" alt="" title="1101-Alhamdulillah(1)-abel" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1636" /><p class="wp-caption-text">Annabelle sesaat setelah lahir</p></div>masuk (termasuk penahan kontraksi yang akhirnya membuat jantungku tidak kuat). Di RS ini aku bertahan hingga hampir 2 minggu. Namun kondisiku terus melemah sehingga keluarga memutuskan agar aku segera melahirkan bayiku.</p>
<p>Hari Jum&#8217;at, 8 April 2011 aku menjalani operasi caesar dan melahirkan bayi kembarku. Annabelle (Abelle) selamat dengan berat badan 934 gram. Sedangkan Isabelle meninggal dan dimakamkan esok harinya oleh suami dan ibuku serta keluarga besarku.</p>
<p><strong>ASI untuk hidup bayiku</strong></p>
<p>Saat dirawat pasca melahirkan, para perawat bertanya apakah ASI sudah keluar. Dalam suasana duka yang terasa berat, aku kebingungan. Perawat mencoba memencet dan memijat payudaraku, tidak ada ASI yang keluar hingga beberapa hari. Sempat terpikir untuk menghubungi AIMI untuk meminta bantuan, tapi waktu itu rasanya aku tidak punya tenaga untuk berpikir. Padahal aku baru saja menjadi anggota AIMI dan menerima paket member saat dirawat di RS.</p>
<p>Aku baru bisa menemui Abelle pada hari ke-3, di ruang NICU. Dia begitu mungil dan kelihatan tidak berdaya. Banyak yang dialami Abelle, mulai dari kuning, menjalani cuci darah, nyaris menjalani operasi penutupan saluran jantung dan lain-lain. Syukurlah beberapa teman kantorku bersedia menjadi donor darah buat Abelle. Sementara ASI ku <div id="attachment_1637" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah-300x225.jpg" alt="" title="1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1637" /><p class="wp-caption-text">Beberapa hari setelah lahir, seusai disinar. Lengan Abelle hanya sejari ayah.</p></div>belum keluar, Abelle diberikan cairan NaCl (kalau tidak salah) melalui tali pusarnya yang disambung dengan semacam selang kecil seolah-olah tali pusar masih tersambung dengan ibu.  </p>
<p>Aku berniat tidak membiarkan Abelle diberi formula. Aku bertekad bagaimanapun caranya, ASI ku harus keluar! Hanya ASI yang baik untuk perkembangan berat badan dan kesehatannya. Semua dokter dan perawat mengatakan bahwa ASI penting sekali untuk perkembangan bayi prematur.</p>
<p>Mendengar penjelasan dokter dan perawat, aku makin stress karena ASI masih belum keluar. Tapi aku terus berusaha. Memijat, mengompres terus aku lakukan walau belum kelihatan hasilnya. Semua teman dan keluarga selalu memberi dukungan, khususnya Mamaku dan suamiku.</p>
<p>Akhirnya suatu hari keluar sedikit cairan bening seperti susu.  Subhanallah. Aku meneteskan air mata saat itu. ASI hanya keluar setetes demi setetes, namun aku terus berusaha. Dalam waktu 2-3 jam aku berhasil mendapatkan 5-6 ml ASI. Walau sedikit, aku merasa sangat bahagia dan langsung aku antar untuk Abelle di ruang NICU.  Keesokan harinya aku pompa lagi dan dalam 2 jam dapat 10 ml. Aku makin semangat.</p>
<p>Hari demi hari aku jalani dengan niat dan semangat. ASI-ku harus ada untuk asupan bayiku yang sangat membutuhkannya. Alhamdulillah, hari demi hari ASI terus bertambah. Dari 2 jam 10 ml, menjadi 20 ml, 30ml. Dari 2 jam menjadi 1 jam. Sekarang aku bisa memompa 100-250 ml dalam 15 – 20 menit. Subhanallah. </p>
<p>Saat itulah aku percaya, jika kita terus berusaha, pasti akan berhasil, dalam keadaan apapun. Ternyata benar kata orang, setiap wanita pasti bisa menyusui, termasuk aku. Melahirkan bayi prematur, dalam keadaan sakit. Dengan semangat dan niat, akhirnya berhasil juga memproduksi ASI yang cukup. </p>
<p>Abelle akhirnya bisa pulang ke rumah pada 3 Juni 2011 di usia hampir 2 bulan dengan BB 1,770 kg.</p>
<p><strong>Menikmati perjuangan</strong></p>
<div id="attachment_1653" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-Juni-2011-1770kg-300x225.jpg" alt="" title="1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1653" /><p class="wp-caption-text">3 Juni 2011 - Persiapan pulang ke rumah (BB: 1770 gr)</p></div>Alhamdulillah hingga kini Abelle hanya minum ASI dari aku saja. Selama 3 hari pertama ia dipuasakan, dan hanya dengan cairan NaCl melalui tali pusar hingga aku dapat menyetor ASI kepada Abelle.</p>
<p>Sekarang Abelle sudah menginjak usia 7 bulan sejak usia kelahirannya dan masih full ASI. Berat badannya sudah lebih dari 5 kg! Abelle belum diberikan MPASI, karena dokter menyarankan untuk menunda MPASI dulu.</p>
<p>Aku sadar perjuanganku tidak berhenti sampai disini. Setelah cuti dari pekerjaan selama 6 bulan lamanya, aku kembali bekerja sebulan yang lalu. Rasa khawatir sempat menyerang, pikiran dipenuhi akan cukup atau tidak ASI-ku untuk Abelle serta bagaimana manajemen ASIP di hari-hari yang sangat sibuk.</p>
<p>Aku menyampaikan pada rekan kerja dan atasan bahwa pada jam kerja aku akan meminta izin untuk memompa ASI. Syukurlah mereka bisa mengerti. Sekarang tugasku adalah semangat dan rajin memompa!</p>
<p>Walau kadang-kadang jumlah ASIP yang diminum Abelle lebih banyak daripada yang aku perah, namun Alhamdulillah hingga hari ini ASIP untuk Abelle cukup dan ready stock hehehe. Namun, aku selalu susui Abelle langsung jika aku di rumah.  Sempat mesin pompa rusak, masya Allah paniknya setengah mati, karena sudah sangat cocok dengan produk tersebut. Akhirnya aku mulai belajar memerah dengan tangan, Subhanallah ternyata mudah!</p>
<p><strong>Menyusui itu berkah</strong></p>
<p><div id="attachment_1658" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1123-Annabelle-today-300x225.jpg" alt="" title="1123-Annabelle-today" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-1658" /><p class="wp-caption-text">Annabelle sekarang</p></div>Untuk para ibu dan calon ibu, semangat terus yaaa. Never give up! Give the best for your baby(ies). Anak adalah berkah dan amanat dari Tuhan yang tak ternilai. ASI lah yang terbaik untuk anak kita.</p>
<p>Merasa sedih, ketakutan hingga menangis, berkali-kali aku alami tapi aku berusaha untuk kembali <em>positive thinking</em>. Suami terus mendukung dan menyemangatiku. Sekarang aku percaya bahwa setiap Ibu pasti bisa menyusui. </p>
<p>Mohon doa agar anakku Annabelle Maleeka Victoria Putransyah selalu disehatkan dan disempurnakan tumbuh kembangnya. Semoga aku bisa lanjuuuutt menyusuinya sampai semaksimal yang aku mampu. Aamiin.</p>
<p>PS. Terimakasih Ayah Alfa yang sudah sangat baik dan sangat supportive selama ini, Ibu tidak bisa lakukan ini semua tanpa dukungan Ayah&#8230; (hiks hiks terharu lagi)&#8230;</p>
<p><small>*) seperti diceritakan oleh Lia Muzdalifah kepada AIMI</small></p>
<p>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1101-alhamdulillah1-abel/' title='1101-Alhamdulillah(1)-abel'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1101-Alhamdulillah1-abel-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sesaat setelah lahir" title="1101-Alhamdulillah(1)-abel" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah/' title='1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1102-beberapa-hari-setelah-lahit-seusai-disinar-lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Beberapa hari setelah lahir, seusai disinar. Lengan Abelle hanya sejari ayah." title="1102-beberapa-hari-setelah-lahit,-seusai-disinar-(lengan-abelle-hanya-se-jari-ayah)" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n/' title='1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n" title="1103-217526_10150323231537419_611922418_10012584_1608507_n" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n/' title='1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n" title="1104-283405_10150323231232419_611922418_10012582_4182591_n" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/attachment/1105/' title='1105'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1105-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1105" title="1105" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1106-abelborn1/' title='1106-abelborn1'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1106-abelborn1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1106-abelborn1" title="1106-abelborn1" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1107-cuci-darah-ke-2/' title='1107-Cuci-darah-ke-2'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1107-Cuci-darah-ke-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Cuci darah ke-2" title="1107-Cuci-darah-ke-2" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1108-img01764-20110425-1122/' title='1108-IMG01764-20110425-1122'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1108-IMG01764-20110425-1122-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1108-IMG01764-20110425-1122" title="1108-IMG01764-20110425-1122" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1109-img01864-20110426-1135/' title='1109-IMG01864-20110426-1135'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1109-IMG01864-20110426-1135-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1109-IMG01864-20110426-1135" title="1109-IMG01864-20110426-1135" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1110-img01898-20110427-1124/' title='1110-IMG01898-20110427-1124'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1110-IMG01898-20110427-1124-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1110-IMG01898-20110427-1124" title="1110-IMG01898-20110427-1124" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1111-img01916-20110427-1139/' title='1111-IMG01916-20110427-1139'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1111-IMG01916-20110427-1139-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1111-IMG01916-20110427-1139" title="1111-IMG01916-20110427-1139" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1112-img01999-20110428-1221/' title='1112-IMG01999-20110428-1221'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1112-IMG01999-20110428-1221-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1112-IMG01999-20110428-1221" title="1112-IMG01999-20110428-1221" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1113-alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas/' title='1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Alhamdulillah, alat bantu napas sudah bisa dilepas" title="1113-Alhamdulillah-alat-bantu-nafas-sudah-bisa-di-lepas" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1114-img02295-20110511-1744/' title='1114-IMG02295-20110511-1744'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1114-IMG02295-20110511-1744-150x150.png" class="attachment-thumbnail" alt="1114-IMG02295-20110511-1744" title="1114-IMG02295-20110511-1744" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan/' title='1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Belajar adaptasi suhu ruangan" title="1115-belajar-adaptasi-suhu-ruangan" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1116-kangaroo-mother-care/' title='1116-kangaroo-mother-care'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1116-kangaroo-mother-care-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Kangoroo Mother Care (KMC)" title="1116-kangaroo-mother-care" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1117-proses-kangaroo-mother-care/' title='1117-proses-Kangaroo-mother-care'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1117-proses-Kangaroo-mother-care-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Proses KMC" title="1117-proses-Kangaroo-mother-care" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-juni-2011-1770kg/' title='1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1118-persiapan-pulang-ke-rumah-3-Juni-2011-1770kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="3 Juni 2011 - Persiapan pulang ke rumah (BB: 1770 gr)" title="1118-persiapan-pulang-ke-rumah-(3-Juni-2011)-1,770kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1119-persiapan-pulang-ke-rumah-1770kg/' title='1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1,770kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1770kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Persiapan  pulang ke rumah" title="1119-Persiapan-pulang-ke-rumah-1,770kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1120-21kg/' title='1120-2,1kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1120-21kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="2,1 kg" title="1120-2,1kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1121-img_0404/' title='1121-IMG_0404'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1121-IMG_0404-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="1121-IMG_0404" title="1121-IMG_0404" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1122-3kg/' title='1122-3kg'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1122-3kg-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="3 kg..!!!" title="1122-3kg" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1123-annabelle-today/' title='1123-Annabelle-today'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1123-Annabelle-today-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1123-Annabelle-today" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1124-annabelle-today-2/' title='1124-Annabelle-today-2'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1124-Annabelle-today-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1124-Annabelle-today-2" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1125-annabelle-today-3/' title='1125-Annabelle-today-3'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1125-Annabelle-today-3-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1125-Annabelle-today-3" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1126-annabelle-today-4/' title='1126-Annabelle-today-4'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1126-Annabelle-today-4-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1126-Annabelle-today-4" /></a>
<a href='http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/1127-annabelle-today-5/' title='1127-Annabelle-today-5'><img width="150" height="150" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/11/1127-Annabelle-today-5-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Annabelle sekarang" title="1127-Annabelle-today-5" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/11/asi-cairan-ajaib-yang-selamatkan-bayiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>115</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menabung ASI Antara Jeddah &#8211; Jakarta</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/menabung-asi-antara-jeddah-jakarta/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/menabung-asi-antara-jeddah-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 01:06:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI perah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1558</guid>
		<description><![CDATA[Perjuangan Ratih, ibunya El, Pramugari “Selamat Ulang Tahun El Nino Ahmad Hussain Nasution, semoga menjadi anak yang sholeh, berakhlak mulia, cerdas, sehat, pintar dan menjadi penyejuk hati papa dan ibu dan membawa kebahagiaan untuk orang banyak. You always me heart, Papa&#038;Ibu love u!” Hanya Allah yang Maha Tahu betapa bahagianya ibu di hari ini, 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Perjuangan Ratih, ibunya El, Pramugari</strong></p>
<blockquote><p>“Selamat Ulang Tahun El Nino Ahmad Hussain Nasution, semoga menjadi anak yang sholeh, berakhlak mulia, cerdas, sehat, pintar dan menjadi penyejuk hati papa dan ibu dan membawa kebahagiaan untuk orang banyak. You always me heart, Papa&#038;Ibu love u!”</p></blockquote>
<p>Hanya Allah yang Maha Tahu betapa bahagianya ibu di hari ini, 2 Juli 2011. Hari ini Alhamdullilah genap satu tahun  ibu berjuang memberikan full ASI untuk kamu. Awalnya ini hanya niat untuk bisa terus memberikan &#8216;cairan emas&#8217; , <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-ibu-el-300x225.jpg" alt="" title="08-ibu-el" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1560" />karena  ibu harus bekerja di tempat yang  jauh. Tentu sangatlah sulit untuk bisa  merealisasikannya. Sampai suatu hari, ibu membawamu ke dokter anak untuk imunisasi. Dokter itu yang kemudian meyakinkan dan mendukung ibu, tidak ada yang mustahil bagi ibu untuk terus bisa memberikan ASI, meski ibu dan kamu terpisah jarak yang sangat jauh. Sebagai pramugari, ibu sering meninggalkanmu untuk berkeliling dari negara satu ke negara lain. Saat ini kamu di Jakarta, sedangkan ibu di Jeddah.</p>
<p>Dukungan dari dokter itu membuat ibu bertekad kuat untuk memberikan ASI apapun yang terjadi. Setelah 27 hari bekerja, ibu baru kembali ke Jakarta hanya untuk waktu 9 hari dan saat itu kamu tidak mau menyusu langsung kepada ibu sampai 2 hari. Ibu sedih sekali karena penolakan itu. Tapi selama 2 hari itu ibu tetap memompa dan bahkan sudah berniat untuk bertemu konselor laktasi untuk mengatasi masalah ini. Alhamdulillah dalam 2 hari ternyata kamu sudah mau kembali menyusu dengan ibu.  Sejak itu meskipun lama ditinggal bekerja lagi, kamu tidak pernah menolak disusuin kalau ibu libur. Kamu makin besar makin pintar ya nak.</p>
<p><strong>Perjalanan Panjang ASI Perah</strong></p>
<p>ASI Perah untuk El awalnya hanya ibu sediakan untuk menambah stok di freezer. Namun selama bulan Maret, jadwal terbang ibu penuh untuk 15 hari dan itu tidak memungkinkan untuk menyimpan ASI di freezer karena ijin dari manager pantry belum ada. Selama itu pula akhirnya ibu tetap memompa ASI tapi membuangnya. Mulai dari situ, episode “kejar tayang”. Setiap ibu libur, kerjaan ibu hanya memompa ASI lagi dan lagi untuk mengejar ketinggalan selama 15 hari sebelumnya.</p>
<p>Sementara telpon dari rumah mengabarkan stok ASIP untuk El semakin sedikit. Meski ibu sempat lemes, panik dan stress membayangkan kamu tidak punya stok ASIP, namun ibu selalu bisa kembali meyakinkan diri.”<em>Ratih, you can do it!</em>” dan ibu selalu tetap berpikir positif.</p>
<p>Penerbangan Jeddah-Jakarta dibawah operasional Cengkareng base, dimana banyak senior yang tidak semua ibu kenal. Tapi entah mengapa, ibu selalu punya keberanian dan “bermuka tembok” untuk mencari crew yang beroperasi di hari itu. Kadang informasi ibu dapat dari teman-teman, broadcast BBM atau dari sistem jadwal. Biasanya atas nama ASI untukmu El, mereka bersedia menolong. Meski ada juga senior yang jutek ketika dimintai tolong karena mereka mengira ibu menitipkan nido (susu kaleng besar yang harganya lumayan murah). </p>
<p>Tetapi mereka biasanya selalu mau karena yang ibu titip adalah ASIP. Ibu mengingatkan mereka untuk meletakkan ASIP di cargo saja, jadi tidak memberatkan bawaan mereka di cabin. Ibu siapkan ASIP dengan packing yang bagus sehingga ASIP masih dalam kondisi beku sampai di Jakarta.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-el1-225x300.jpg" alt="" title="08-el" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1568" />Ada tantangan yang tak kalah seru, ketika stok ASIP di rumah menipis, sementara hanya ada penerbangan dari Riyadh ke Jakarta. Artinya, ibu butuh perjuangan untuk mencari bantuan dari crew yang terbang hanya dari Jeddah ke Riyadh. Ibu cek ke sistem penjadwalan dan syukurlah ada crew orang Indonesia yang bisa dititipin. Jadi crew itu membawa ASIP ke Riyadh dan dia hanya meletakkan di pojokan koper crew yang akan ke Jakarta. Ibu juga sudah janjian dengan crew yang terbang dari Riyadh ke Jakarta. Perjalanan ASIP untuk El lumayan panjang juga.</p>
<p>Ketika tidak ada orang Indonesia, ibu mencari orang Asia yang bisa dititipin ASIP. Kali ini ibu berhasil minta tolong crew dari Malaysia untuk membawakan 20 botol ASIP untukmu, El. Pokoknya target ibu hanya menyambung ASIP untuk El besok dan lusa saja. </p>
<p>Dua hari berturut-turut mengirim ASIP karena kejar tayang, membuat Papamu kaget karena setiap mengambil ASIP dari temen-temen ibu, ongkos kurir bisa 70 ribu sekali jalan. Tergantung lokasi penjemputan, kalau harus mengambil dari rumah teman ibu yang agak jauh dari Cinere, bisa 100-150 ribu juga ongkos kurirnya. Ibu selalu meyakinkan Papamu bahwa kita sudah berjanji untuk menjadi pejuang ASI buat El. “Ini salah satu risikonya. Sebentar lagi El setahun dan perjuangan akan sedikit berkurang.”</p>
<p>Ibu merasa beruntung kalau pas dapat penerbangan internasional. Hotelnya lebih fleksibel, jadi begitu sampai di hotel ibu biasanya langsng menghubungi pantry untuk menanyakan izin menyimpan ASIP di freezer mereka. Ada hotel yang menyediakan freezer kecil yang benar-benar bisa bikin beku, seperti di Johannesberg beberapa waktu lalu. Bikin ibu makin semangat nabung ASIP buat kamu, El.</p>
<p>Sekarang ibu sedikit bisa bernafas lega ya El. Ibu akan meneruskan pemberian ASI sampai kamu 2 tahun nanti, Insya Allah. Ibu tau perjalanan El masih panjang dan ASI bukanlah titik final dalam proses tumbuh kembangmu hingga nanti kamu menjadi menusia dewasa yang cerdas dan bersahaja.</p>
<p>Maafkan ibu ya nak, sering jauh dari kamu, sementara kamu masih membutuhkan dekapan ibu, kamu membutuhkan ibu untuk memperhatikan pertumbuhanmu dari hari ke hari. Apalagi kalau kamu sedang sakit, rasanya dunia ibu hancur..berasa gak butuh kerjaan, gak butuh uang, ibu hanya ingin dekat dengan El, mendekap dan menciummu, menyusuimu dan menatap matamu yang seperti magnet buat ibu. Mata yang bikin damai hati ibu.</p>
<p>Tetapi ini jalan yang ibu dan papa pilih, juga demi El yang kami sayangi. Sabar ya nak, maafkan ibu. Ibu akan segera kembali mendekapmu nak. Di ultahnya kemarin, El juga sudah terima gift dari markas sehat yaa, langsung dua deh! Varicella dan Hep A.</p>
<ul>
<img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-el-bday-300x225.jpg" alt="" title="08-el-bday" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1564" />
<li>Ucapan syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan keajaiban ditengah-tengah  hal yg kayaknya gak mungkin tapi selalu dengan mudah ibu jalani, Alhamdulillaahhhh.</li>
<li>Untuk suamiku tercinta yg slalu memberikan supportnya menjadi pejuang ASI  dan pejuang RUM utk EL (luv u pa)</li>
<li>Keluargaku (yangti, yangkung, nenek n&#8217; adek-adek yg selalu aku repotin untuk ambil ASIP di Mulia saat weekend or blanja lauk,sayur &#038; buah EL yg abis, hehehe luv u sis)</li>
<li>Seluruh CGK base &#038; JED base, tanpa perpanjangan tangan &#038; kebaikan hati kalian, EL ga akan sukses dapat full ASI til now (even one time, salah seorang temen ibu nyeletuk &#8216;ya oloooo ibu EL, ribet bnerrr sihhh ngerebus botol blablabla. Kalo gue sih mendingan ngeluarin uang 1,5jt/bln deh daripada harus repot dan pusing kayak loe.&#8217; Hmmm 2 anaknya memang tidak ASI, jadi ibu better silent than sakit ati dengernya)</li>
<li>Mas Pur &#8211; kurir ASIP EL, yang selalu setia jemput ASIP EL dimanapun (Allah bless u mas)</li>
<li>All smart parents di milis asiforbaby yang cerita-ceritanya selalu menginspirasi saya untuk tetap terus<br />
semangat berjuang demi ASI</li>
</ul>
<p>(Ratih &#8211; ibu EL 1y3d)<br />
*lagi menghadiri sumpah dokter adikku di balai sudirman, merinding denger isi sumpahnya. Berat bener pertanggung jawabannya di depan Tuhan &#038; masyarakat.</p>
<p>Ditulis ulang oleh AIMI atas ijin ibu El.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/menabung-asi-antara-jeddah-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>106</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASI Eksklusif Untuk Bayi Kembarku</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 00:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wilda Choir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui bayi kembar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1444</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah cerita sukses dari seorang ibu yang berhasil memberikan ASI Eksklusif bagi bayi kembarnya, walaupun beliau merupakan ibu bekerja. Simak perjuangannya dan tips agar kedua bayi kembarnya mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I got twin. How blessed I am.</strong></p>
<p>Dianugrahi  ‘satu paket’ bayi kembar yang cantik bagi saya merupakan  doa yang menjadi kenyataan.  Memiliki anak kembar adalah salah satu ‘obsesi’ saya sejak dulu. Rasanya amat sangat bahagia dan ajaib banget bisa merasakan  ada dua makhluk hidup yang berkembang di dalam tubuh kita. Pihak kakek saya mempunyai banyak keturunan anak kembar, jadilah saya punya harapan besar kepada Tuhan agar bisa diberikan keturunan kembar.</p>
<p>Alhamdulillah doa saya didengar &#038; dikabulkan Allah SWT. Tepat pada ulang tahun ke 29, saya ‘divonis’ dokter <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-twins-300x217.jpg" alt="" title="06-twins" width="300" height="217" class="alignleft size-medium wp-image-1446" />sedang hamil dengan dua telur alias kembar!! Waahh, <em>speechless</em> rasanya. Saya menjadi wanita paling beruntung di seluruh jagad raya. 9 bulan menikmati masa kehamilan, akhirnya tanggal 27 Juli 2010 saya bisa merasakan si kembar hangat dalam pelukan. Air mata bahagia menetes. Bersyukur atas semua karunia Allah SWT. Lalu saya dedikasikan kepada ibu dan mertua untuk memberikan nama buat si kembar, Amira Tsania Nazmi (2580gr) &#038; Azkiya Aufa Khateen (2200gr). Selamat datang, Sayaang.</p>
<p><strong>Having twin is not double trouble, but twice blessed.</strong></p>
<p>Ok, jadi saya memiliki satu anak usia 4 tahun, Alika, yang sedang aktif-aktifnya, dan bayi kembar perempuan yang selalu membuat suasana tambah heboh dan seru hohoho. Ini bukan teori atau mitos loh, tapi saya mengalami sendiri punya anak kembar itu nangisnya bareng, BABnya bareng, bangun tidurnya bareng, saat tidur pun bergerak ke arah yg sama juga bareng. BBA deh (bener-bener ajaib). Untungnya saya memiliki ‘partner hidup’ yang canggihnya luar biasa yaitu suami. Kalau dulu mengurus anak pertama kami bisa bekerja sama dengan baik, kenapa sekarang tidak?</p>
<p><div id="attachment_1454" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-menyusui-kembar-1-240x300.jpg" alt="" title="06-menyusui-kembar-1" width="240" height="300" class="size-medium wp-image-1454" /><p class="wp-caption-text">Menyusui si kembar saat berusia 2 bulan</p></div>Karena terbiasa olahraga (saya pencinta alam yg hobi naik gunung loh), hasilnya fisik saya tetap sehat selama mengurus si kembar, walau sesekali terkena flu. Jadi saat punya anak kembar yang hampir tiap jam menyusui dan terjaga semalaman – seharian pun, saya tetap dengan menikmati ‘bermain-main’ bersama. Dan kalau ditengah malam si kakak akhirnya terbangun ikutan main, saya tetap tersenyum walau sambil merem melek *ngantuk maksudnya*. Alhamdulillah saya gak pernah mengeluh kecapean. Selalu takjub dan terharu melihat ada dua bayi sekaligus dalam dekapan saya. Bahkan saat Alika, Amira + Azkiya jejeritan tengah malam, saya malah merasa lucu melihatnya dan akhirnya ikutan jerit-jerit/main-main juga. Ga bisa di jelaskan dengan kata-kata gimana bahagianya. </p>
<p>Peran suami terasa sangat besar terutama di saat-saat begadang tersebut. Sering terjadi saat begadang saya kelaparan. Biasanya dengan sangat pengertian, suami akan membuatkan saya kentang atau nasi goreng. Atau bergantian menjaga si kembar sementara saya tidur sebentar.</p>
<p>Suami saya jago memandikan si kembar loh. Ganti popok gak ada masalah. Gendong pake kain pun bisa. Ada perkataannya yang sampai sekarang membuat saya selalu bersyukur, ”Bun, cuma dua hal yang gak bisa aku lakuin, yaitu hamil dan melahirkan. Tapi selain itu, gak ada yang bisa menghalangi aku untuk menunjukkan rasa sayang terhadap bunbun. Maafin bapak ya cuma bisa bantuin bunbun sebisanya. Mudah2an bunbun iklhas”. Hiks, terharu. Pokoknya suamiku hebat deh, Insya Allah.</p>
<p>Selain itu semua anggota keluarga juga sangat membantu dengan baik dalam merawat. Memang sih kadang-kadang orang tua panik kalau si kembar rewel, nangis bareng gak bisa diam. Bingung takut ada apa-apa sama si kembar. Tapi untungnya saya gak ikut-ikutan panik. Biasanya saya lebih banyak diam, menahan diri untuk tidak bersikap responsif walau sulit. Kalau gak bisa menahan emosi, saya lebih memilih menangis pelan-pelan. Sambil nangis, sambil peluk si kembar. Waahh, obat paling mujarab menyembuhkan segala macam penyakit hati. Jadi gak ada alasan buat saya merasa stress punya anak kembar. Apalagi ‘<em>baby blues</em>’, Alhamdulillah gak ngalamin. Kalau saya merasa bosan di rumah terus, dengan senang hati suami membawa saya dan semua anak-anak sekedar jalan-jalan ke mall.</p>
<p><strong>Bunda bekerja, memberikan ASIX buat si kembar? Pasti bisa!</strong></p>
<p>Seheboh dan serepot apapun mengurus anak kembar saya selalu yakin bahwa Tuhan sudah menseleksi, mengukur kemampuan umat-Nya dan kemudian memilih saya untuk dititipi anak kembar. Jadi saya selalu yakin semua masalah PASTI ada jalan keluarnya.</p>
<p>Tetap menjadi seorang wanita karier adalah pilihan saya, dengan resikonya yang harus saya tanggung. Dibalik kebahagiaan pasti selalu Tuhan selipkan ujian kepada umatnya semata-mata untuk mengukur kesabaran umat-Nya. Buat saya bekerja tidak menjadi halangan ataupun alasan untuk tidak memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya. Selain IMD, sukses ASI eksklusif untuk si kembar menjadi prioritas utama setelah melahirkan.</p>
<p>Ini bukan kali pertama saya menyusui. Waktu anak pertama dulu, Alika (4 tahun), Alhamdulillah saya bisa menyusui sampai usia 2,5thn. Saya pikir kalau dulu bisa, kenapa sekarang tidak. Berharap bisa berhasil seperti kakaknya, saya dengan optimis mempersiapkan segala sesuatunya. Membekali diri saya dengan informasi yang berhubungan dengan anak kembar, konsultasi dan berbagi pengalaman dengan teman yang memiliki anak kembar, menjaga kondisi tubuh agar selalu sehat dan mengkonsumsi hanya makanan bergizi, selalu berusaha berpikir positif –jangan stress- serta menyiapkan mental untuk menghadapi ‘medan perang’. </p>
<p><div id="attachment_1455" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-menyusui-kembar-2-240x300.jpg" alt="" title="06-menyusui-kembar-2" width="240" height="300" class="size-medium wp-image-1455" /><p class="wp-caption-text">Menyusui si kembar saat berusia 8 bulan</p></div>Sayangnya semua teman yang memiliki anak kembar tidak berhasil memberikan ASI eksklusif kepada anak-anaknya. Padahal mereka tidak bekerja. Lalu bagaimana dengan saya yang bekerja? Saya mulai gak pede. Permasalahan lain timbul ketika kami kesulitan mencari babysitter untuk si kembar. Karena gaji babysitter yang tinggi, kami memutuskan untuk mencari satu babysitter dengan dibantu PRT. Tapi ternyata hampir semua yayasan memiliki kebijakan yang sama, satu bayi di urus satu babysitter. Huhuhu mahal banget. Setelah mencari sana sini, akhirnya dapat rekomendasi yayasan yang bagus, yang bersedia mengurus anak kembar dengan hanya dibantu PRT. Dan bersyukur sampai saat ini babysitter saya terbukti sayang sama si kembar, bisa diandalkan dan bekerjasama baik dengan PRT saya. Alhamdulillah, satu masalah terlewati. </p>
<p>Rasanya waktu berjalan sangat cepat, gak sadar hampir sebulan lagi saya harus kembali bekerja. Dan saya masih belum dapat jawaban berapa kira-kira kebutuhan ASI perah (ASIP) bayi kembar selama ditinggal bekerja. Masalah lain timbul ketika si kembar saya coba kasih ASI perah dengan dot, gelas kecil ataupun sendok selalu menolak. Bagaimana ini?</p>
<p>Ok, permasalahan yang sama juga timbul saat dulu anak pertama. Jadi kurang lebih saya sudah punya gambaran solusinya. Dan dengan terpaksa saya pisah kamar selama dicoba kasih ASIP dan membiarkan anak saya menangis. Hiks hiks, ngilu dan sakit dengernya. (Saya sering nangis diam-diam loh demi ga keliatan sama orangtua). Tapi harus dijalanin supaya nanti saat ditinggal bekerja mereka terbiasa. Alhamdulillah, si kembar Azkiya akhirnya mau minum ASIP. Jadi tinggal si kembar Amira yang saat itu belum berhasil mau minum ASIP. Perjuangan masih panjang, jreng jreng jreng jreng..!!!</p>
<p><strong>Manajemen ASIP</strong></p>
<p>Secara teori ada yang mengatakan kebutuhan ASIP bayi per hari berdasarkan BB x 100ml. Jadi kalau BB bayi 5 kg, dibutuhkan 500 ml ASIP per harinya. Dan teori tersebut terbantahkan saat saya coba memberikan Azkiya ASIP. Dalam waktu setengah hari (pagi – siang) saja stok ASIP saya sudah habis 6 botol @120 ml. Artinya sekitar 700ml habis dalam waktu beberapa jam dan oleh satu bayi saja. Langsung panik dan mulai stress. Tarik nafas dalam-dalam dan berpikir jernih lagi. Saat itu masih ada waktu sekitar 3 minggu untuk perbanyak stok ASIP. Bismillah.</p>
<p>Alhamdulillah, saya dikasih ASI yang cukup berlimpah oleh Tuhan. Ga ada makanan khusus perbanyak ASI ko. Cuma saya sudah komitmen pada diri sendiri aja demi anak, saya makan yang bergizi dan sehat. Susu kaya kalsium yang saya suka aja, gak harus susu untuk ibu menyusui. Saya juga gak konsumsi vitamin apa-apa. Pokoknya makan apa aja, alhamdulillah diganti menjadi ASI. Dan pastinya harus selalu berpikir postif. Kalau ada masalah cuek aja, jangan terlalu kepikiran apalagi sampai stress karena pasti sangat berpengaruh ke produksi ASI. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-asip-300x225.jpg" alt="" title="06-asip" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1447" />Untuk stok ASIP biasanya saya lakukan sebelum menyusui si kembar. Karena saya lebih sering menyusui tandem, jadi sepertinya gak ada kesempatan memerah ASI kalau dilakukan setelah menyusui dan dibiasakan minum air hangat satu gelas penuh setelah menyusui. Kira-kira 2 minggu sebelum mulai bekerja saya sudah mulai stok ASIP. Peralatan ‘tempur’ juga sudah siap. Karena saya ‘pejuang ASI tangan sakti’ yang memerah ASI hanya dengan menggunakan tangan, jadi gak perlu beli pompa. Beberapa botol kaca, bantal menyusui, botol susu, dan cooler bag. Untuk simpan ASIP saya hanya memakai kulkas kecil, yang setiap harinya selalu ada maksimal 35 botol ASIP @120-150 ml untuk stok (kulkasnya gak cukup untuk menyimpan lebih dari 35 botol). Kulkas yang besar gak memungkinkan untuk menyimpan ASIP. Selain itu juga rotasi keluar-masuk ASIP saya sangat besar dan gak pernah ASIP bertahan lama di kulkas, jadi gak perlu beli freezer khusus ASIP.</p>
<p>Hari pertama masuk kerja saya pergi dengan memikul beban berat di hati. Selain gak tega ninggalin anak, ternyata si kembar Amira masih ga mau minum ASIP menggunakan media apapun. Bingung dan gelisah tingkat tinggi waktu itu. Kepikiran nanti gimana kalau Amira kelaperan, kecapean nangis, dll. Untungnya mama, suami, babysitter dan semua anggota keluarga menenangkan saya dan meyakinkan Insya Allah pasti mau. </p>
<p>Untuk kesekian kalinya saya percaya Tuhan bekerja dengan cara misterius. Entah gimana caranya Amira langsung mau minum ASIP. Gak pake nangis, gak pake nolak tinggal glek glek glek trus tidur. ALHAMDULILLAH, terlewati lagi satu masalah. Bunda senang, hati riang, kerja pun tenang.</p>
<p>Lagi-lagi saya dapat ‘<em>shock therapy</em>’ sepulang kerja hari pertama. Ternyata eh ternyata selama ditinggal kerja dari jam 8 pagi – 6 sore si kembar menghabiskan ASIP sebanyak 1300-an ml. Dan berdasarkan laporan dari babysitter, si kembar kalau gak ditidurin bisa minum ASIP setiap 1 jam sekali *hampir pingsan* Beruntung ASI saya cukup. Pernah loh dalam sehari saya menghasilkan 1000-an ml ASIP. Gak percaya juga. Saya termasuk tipe orang ‘<em>easy going</em>’, gak takut memikirkan kalau-kalau ASI saya gak cukup untuk si kembar. Dan teratur perah ASI harus menjadi komitmen yg kuat dalam diri sendiri. </p>
<p>Ini kira-kira gambaran jadwal perah ASI saya waktu target memberikan ASI eksklusif 6 bulan pertama:</p>
<ul>
<li>Jam dua dinihari</li>
<li>Sekitar jam 4 atau jam 5 subuh</li>
<li>Jam 7 pagi, lalu sebelum berangkat kerja menyusui si kembar sampai payudara terasa kosong</li>
<li>Jam 10 pagi (di kantor)</li>
<li>Jam 1 siang (setelah makan siang)</li>
<li>Jam 3 sore. Diselingi shalat Ashar lalu lanjut lagi (biasanya payudara sedang terasa penuh banget jam segini)</li>
<li>1 kali memerah selama perjalanan pulang</li>
<li>Jam 8 malam</li>
<li>Jam 11 malam</li>
</ul>
<p>Dengan ‘pendapatan’ ASIP yang lebih sedikit dibandingkan yang diminum si kembar, adakalanya saya ‘kejar-kejaran’ stok ASIP. Setelah dihitung-hitung, harus selalu tersedia MINIMAL stok ASIP sebanyak 3000 ml per hari. Pernah terpaksa saya harus ijin gak masuk kerja demi memenuhi stok ASIP yang berkurang. Pernah juga produksi ASI sedikit karena sakit. Yang membuat saya senang, di kantor banyak yang sama-sama menjadi pejuang ASI. Jadi kalau waktunya memerah, nursing room pasti rame dan seru, sambil ngomongin anak-anak. Kadang-kadang kami iseng ‘balapan’ perah ASI. Siapa yang selalu menjadi pemenang? Akuuu. Selalu lebih cepat peras dan lebih banyak. Hihihi.</p>
<p>Oiya, ada tips lucu agar rutinitas pemberian ASIP tidak membosankan. Biasanya suami ‘mendominasi’ pemberian label pada stok ASIP. Selain diberi tanggal perah, volume ASIP juga ditambahi judul yang lucu-lucu. Misalnya ‘obat cantik, obat sabar, obat keren kaya bapak, obat mirip bapak, dll’. Dan hasilnya? Tetep si kembar miripnya sama bunda, bukan sm bapaknya <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-jilbab-twin-300x227.jpg" alt="" title="06-jilbab-twin" width="300" height="227" class="alignleft size-medium wp-image-1445" /><em>I really enjoy breastfeeding my twins</em>. Alhamdulillah si kembar Amira-Azkiya bisa melewati journey of ASI eksklusif-nya, sedikit tersendat tapi berhasil melewati semua rintangan. Dan bersyukur sampai saat ini masih diberikan ASI (dan MPASI) tanpa dicampur sufor. Lebih bersyukur lagi saya bisa mendonorkan ASIP saya kepada bayi lain yang membutuhkan. Subhanallah, Alhamdulillah wa Syukurillah. Atas ijin dan semua karunia dari-Mu Ya Allah saya bisa menjalankan tugas sebagai ibu yang selalu berusaha menjadi lebih baik dari kemarin. Semoga tiap tetes ASI yang berharga bisa menghantarkan anak-anakku menjadi manusia yang cantik, shalihah, baik &#038; bermanfaat bagi sesama.  Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/06/asi-eksklusif-bayi-kembar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>95</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Ulang Tahun AIMI ke-4</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/04/catatan-ulang-tahun-aimi-ke-4/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/04/catatan-ulang-tahun-aimi-ke-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 00:20:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuyuk Andriati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[ultah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1359</guid>
		<description><![CDATA[Saya Memilih Optimis Ya! Saya sudah menarik garis tegas ketika memutuskan untuk bergabung bersama teman-teman mendirikan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Garis tegas itu untuk memberi batas bahwa saya memilih untuk selalu optimis memandang semua permasalahan yang terkait dengan problem menyusui di Indonesia dan selalu optimis bahwa perjuangan kami semua di AIMI akan menorehkan hasil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Saya Memilih Optimis</strong></p>
<p>Ya! Saya sudah menarik garis tegas ketika memutuskan untuk bergabung bersama teman-teman mendirikan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Garis tegas itu untuk memberi batas bahwa saya memilih untuk selalu optimis memandang semua permasalahan yang terkait dengan <em>problem</em> menyusui di Indonesia dan selalu optimis bahwa perjuangan kami semua di AIMI akan menorehkan hasil yang bermakna.</p>
<p>Di tengah kondisi faktual seperti pemahaman yang masih sangat minim mengenai pentingnya menyusui, banyaknya mitos seputar menyusui, kurangnya dukungan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan untuk ibu menyusui, saya dan teman-teman di AIMI memulai perjuangan dari hal yang paling kecil dan paling dekat dengan keseharian kami.</p>
<p>Saya masih ingat, pertama kali Kelas Edukasi AIMI digelar di salah satu toko perlengkapan bayi di Kemang, pesertanya hanya sekitar 10 orang. Tetapi mereka punya <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/04/04-panitia-kopdar-cikal.jpg" alt="" title="04-panitia-kopdar-cikal" width="300" height="250" class="alignleft size-full wp-image-1367" />niat yang sama, punya sikap optimis yang sama untuk memberikan yang terbaik kepada bayinya.</p>
<p>Begitu juga dengan milis asiforbaby yang saat itu jumlah anggotanya masih 20-an, belum seriuh sekarang tetapi kami coba untuk mendiskusikan kesulitan dan problema lain seputar menyusui dan permasalahan tentang anak lainnya. Tentu saja mengatur lalulintas milis yang masih kecil ini tak seheboh saat ini, milis saat itu begitu personal, beberapa dari kami mengenal sangat dekat dan melanjutkan dengan chatting bisa YM (BBM belum seheboh sekarang:))</p>
<p>Dari milis kecil itulah, AIMI kemudian berdiri. Mengumpulkan beberapa anggota milis bersama Mia, Nia dan Shanty, kami sepakat memulai pergerakan ini. Bagaimanapun kecilnya langkah kami, kalau tidak dimulai pasti tidak berarti. Kami memilih tetap optimis dengan langkah kecil apapun, agar kami bisa menyebarkan dukungan kepada ibu-ibu yang tengah berjuang untuk menyusui anaknya.</p>
<h3>Geliat Perjuangan</h3>
<p>Mungkin juga karena keoptimisan kami, grafik pertumbuhan kegiatan AIMI luar biasa menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Meski berbasis <em>volunteer</em>, sebagian dari kami merangkap pekerja kantoran, pekerja mandiri, dan tetap harus mengurus anak dan suami. Mungkin juga karena <em>high passion</em> kami soal ASI ini yang menggerakkan keajaiban dalam pertumbuhan organisasi ini.</p>
<p>Dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan, kami bisa menyumbangkan ide dan pikiran untuk AIMI tanpa imbalan bayaran. Kami senang, kami gembira bisa memberikan waktu yang sedikit, tenaga yang tidak terlalu banyak dan yang paling seru adalah bisa mengajak teman lain yang seide untuk berjuang bersama.</p>
<p>Bukan berarti juga perjuangan ini tanpa tantangan, mulai dari yang kami anggap sebagai “lelucon” sampai yang kami anggap sebagai “motivator” untuk dinamika gerakan organisasi AIMI. Tapi sekali lagi, syukurlah keoptimisan sebagian besar dari ibu-ibu pengurus AIMI ini lebih cepat menular ketimbang sebersit luka-luka kecil yang menggores sepanjang perjalanan AIMI dari lahir hingga saat ini.</p>
<p>Ada yang menganggap AIMI hanya berjuang di “kelasnya”, kumpulan ibu “kosmopolitan” yang penuh gaya dan tak punya kesulitan untuk menggarap kegiatan menyusui sebagai gaya hidup. Tak bisa dipungkiri, kami memang ada dalam lingkungan kosmopolitan, tentu tidak bisa lepas dari <em>lifestyle</em> yang menjadi keseharian kami. Kalau sekarang kami menggunakan itu sebagai alat perjuangan kami, tentu sah-sah saja. Sekali lagi itu adalah bagian dari taktik kami untuk bisa menyosialisasikan kegiatan menyusui yang poin pentingnya adalah memberikan hak kepada bayi. Tak peduli bayi dari kalangan manapun.</p>
<p>Kami bergerak dari lingkungan terdekat dan kemudian berlari kecil untuk mendekati lingkungan yang lain. Dengan pendanaan yang terbatas, kami mencoba berkreasi mengumpulkan dana semampu kami, sejauh tidak melanggar kode etik yang kami buat sendiri. Beberapa usaha yang tidak sejalan dengan visi-misi AIMI tentu saja tidak bisa memberikan donasi dengan alasan apapun. Dari awal, AIMI berpegang teguh pada integritas yang kokoh untuk tidak tunduk pada perusahaan apapun yang berlawanan dengan visi-misi kami. Kami terlalu kuat untuk bisa dirayu, apalagi dengan mempertaruhkan masa depan anak-anak Indonesia.</p>
<h3>Cita-cita kecil yang kemudian terwujud</h3>
<p><div id="attachment_1369" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/04/04-kompas-20032011-300x202.jpg" alt="" title="04-kompas-20032011" width="300" height="202" class="size-medium wp-image-1369" /><p class="wp-caption-text">Kompas Minggu, 20 Maret 2011</p></div>Menjelang Ulang Tahun AIMI ke 4 ini, disela-sela obrolan kami yang ditingkahi tawa dan teriakan anak-anak, bagaimana kami tak berterima kasih dengan penuh syukur kepada Allah SWT yang meridhoi semua langkah-langkah kecil yang kami kerjakan lewat AIMI. “Dulu kita punya cita-cita, AIMI menjadi rujukan pertama ketika ada yang bingung tentang bagaimana memulai menyusui, media akan menghubungi AIMI ketika masalah menyusui diperbincangkan,” kata saya kepada Nia, mengulang apa yang pernah sampaikan via YM ke Nia 3 tahun lalu (YM terasa kuno sekali ya, heheheh). Nia kemudian menyambung, dulu kita ingin sekali komunitas ini masuk ke edisi minggu koran terbesar di Indonesia dan ternyata cita-cita itu kesampaian juga di tahun ini.</p>
<p>Alhamdulillah berbagai cita-cita kecil sudah tercapai, lalu bagaimana dengan cita-cita besarnya? AIMI ingin menambah jumlah ibu menyusui di Indonesia ini semakin banyak, semakin banyak bayi dan anak-anak Indonesia yang mendapatkan haknya. Tentu saja tak ada kata berhenti berjuang bagi kami. Berbagai kegiatan sosialisasi di semua kalangan, mulai dari ibu-ibu hamil, pekerja kantoran, ustad/ustadzah sudah dijelajahi oleh AIMI. Menghadiri beberapa konferensi internasional dan mengadakan konferensi ASI internasional One Asia Breastfeeding Forum juga sudah kami kerjakan.</p>
<p>Kami semakin optimis! Kami membantu bangsa ini untuk mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik. Kalau Anda punya keoptimisan yang sama, mari bergabung dengan AIMI! Masih banyak yang harus kita kerjakan agar semakin banyak bayi dan anak-anak Indonesia yang bisa memperoleh haknya mendapatkan ASI.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/04/catatan-ulang-tahun-aimi-ke-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASI dan MPASI Sehat, Awal Tumbuh Kembang Generasi Cemerlang</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/04/asi-dan-mpasi-sehat-awal-tumbuh-kembang-generasi-cemerlang/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/04/asi-dan-mpasi-sehat-awal-tumbuh-kembang-generasi-cemerlang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 01:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Etty Sulistiyanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Home Made]]></category>
		<category><![CDATA[resep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1346</guid>
		<description><![CDATA[Aku adalah ibu dengan satu anak bernama Agrataya Rakha Anugra yang berusia 3 th 11 bln. Banyak hal yang sangat aku syukuri setelah aku menjadi seorang ibu, tetapi hal yang paling membahagiakanku adalah melihat anakku tumbuh dan berkembang dengan sehat baik fisik maupun mental. Alhamdulillah selama ini aku berusaha utk selalu memberi yang terbaik untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku adalah ibu dengan satu anak bernama Agrataya Rakha Anugra  yang berusia 3 th 11 bln. Banyak hal yang sangat aku syukuri setelah aku menjadi seorang ibu, tetapi hal yang paling membahagiakanku adalah melihat anakku tumbuh dan berkembang dengan sehat baik fisik maupun mental.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/04/04-etty-agra-300x225.jpg" alt="" title="04-etty-agra" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1349" />Alhamdulillah selama ini aku berusaha utk selalu memberi yang terbaik untuk Agra: sejak awal kelahirannya aku memutuskan untuk menyusuinya, walaupun pada saat itu pengetahuanku mengenai ASI masih sangat terbatas, hal ini bisa terjadi karena aku yakin bahwa ASI adalah satu-satunya asupan yang diperlukan bayiku. </p>
<p>Pertengahan tahun 2007, tepatnya pada akhir bulan Mei, Agra lahir dengan berat 3,65 kg  dan panjang 50 cm. Sayangnya, saat itu aku tak bisa melaksanakan  IMD (Inisiasi Menyusu Dini), dikarenakan informasi mengenai hal tersebut &#8211; termasuk info-info tentang ASI dan menyusui &#8211; sangatlah terbatas. </p>
<p>Aku ingat betul pada saat dokter kandunganku memutuskan untuk melakukan operasi caesar, untuk membantu persalinanku. Aku sedih sekali karena keinginanku untuk melakukan IMD tidak dapat aku jalani,  tetapi aku coba untuk tetap berfikir positif bahwa apapun proses kelahiran yang aku jalani adalah yang terbaik untuk aku dan bayiku, yang utama adalah bayiku dapat lahir dengan selamat serta sehat walafiat. </p>
<p>Selanjutnya adalah tugasku bagaimana  merawat Agra agar ia mendapatkan asupan yang terbaik, Alhamdulillah aku dapat menyusuinya dengan lancar dan bahkan pada saat memasuki usia 1 bulan, Agra mengalami kenaikan berat badan yang cukup banyak, yaitu 1,5 kg, jadi pada saat agra berusia 1 bulan berat badannya mencapai 5,15 kg dan terus mengalami kenaikan yang cukup tiap bulannya, sampai ia berusia 6 bulan, dan selama 6 bulan itu aku menyusui secara ekslusif. Pada saatnya Agra makan, aku memutuskan untuk tetap memberi makanan yang sehat dan alami, makanan pendamping ASI (MPASI) <em>homemade</em> yang aku buat sendiri menurutku tentu lebih terjamin kesehatan, gizi dan kehigenisannya. Aku ingin Agra selalu sehat dan cerdas, sehingga aku memikirkan tiap makanan yang aku berikan kepadanya, makanan sehat yang aku buat tentunya tidak mengandung garam, gula apalagi penyedap rasa (MSG, dll). </p>
<p>Awal Agra mendapatkan MPASI aku meberinya bubur susu ASI yang aku buat sendiri dengan menggunakan bahan dasar tepung beras merah dan dicampur dengan ASI perahku, kemudian setelah aku observasi tidak terjadi <em>food intolerance</em> atau alergi terhadap makanan itu, aku meneruskan memberinya sayuran dan buah-buahan yang aku jadikan makanan selingan setelah Agra sudah bisa makan 2 kali dalam sehari, yaitu pada saat Agra berusia 6,5-7 bulan. Sampai dengan usia 9 bulan Agra mulai aku perkenalkan dengan makanan yang mengadung protein, seperti putih telur, ikan, ayam, daging sapi, yang aku kukus atau rebus dan kemudian dijadikan bubur saring. Aku bersyukur sekali karena Agra termasuk anak yang mudah makan, semua berjalan lancar dan tidak ada kendala berarti yang aku lewati selama mengurusnya.</p>
<p>Aku berusaha membuat suasana makan selalu nyaman untuk Agra sehingga ia tidak merasa bahwa kegiatan makan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, aku biasakan Agra duduk di kursi makan bayi (<em>high chair</em>) setiap kali kegiatan makan berlangsung, dan tentunya akupun memberinya contoh yang baik bahwa kegiatan makan adalah duduk di kursi makan. Terkadang ia pun aku ikut sertakan duduk diruang makan dengan kursi makannya pada saat jam makan dirumah kami. Tepat usia 1 tahun Agra sudah dapat makan nasi dan makan masakan rumah yang aku buat sehari-hari, tentunya tetap makanan sehat yang tidak mengandung penyedap rasa, bahan pewarna, pengawet dan sejenisnya. </p>
<p>ASI yang aku berikan juga tetap lancar dan berjalan sesuai kebutuhannya. Pada usia ini aku merasa semakin nyaman dalam mengurus Agra, sehingga aku memutuskan untuk masuk dalam keanggotaan AIMI dengan menjadi pengurus dalam divisi konseling sebagai salah satu konselor laktasi. Aku mengikuti program pelatihan konseling laktasi 40 jam WHO – UNICEF yang diadakan oleh Sentra Laktasi yang diketuai oleh dr. Hj. Utami Roesli, SpA., MBA., IBCLC. Aku senang sekali karena pengetahuanku mengenai ASI semakin bertambah dan aku dapat membagi pengetahuan ini kepada sesama ibu menyusui, ibu hamil dan bahkan setiap orang yang ingin tau mengenai manfaat dan kebaikan ASI. </p>
<p>Setelah aku mendapat sertifikat sebagai konselor laktasi akhirnya aku mulai aktif dalam beberapa kegiatan AIMI, terutama dalam kegiatan kelas edukasi, sebagai pembicara dan kegiatan home visit yang menjadi fasilitas AIMI untuk para anggota maupun tidak.  </p>
<p>Pengalamanku yang paling membahagiakan adalah pada saat aku dan beberapa teman AIMI menjadi panitia dan membuat posko MPASI pada saat terjadi tragedi Situ Gintung  pada tahun 2009. Kami mendisitribusikan MPASI <em>homemade</em> untuk bayi- bayi malang yang tertimpa musibah pada saat itu. Alhamdulillah sampai saat ini kegiatanku di AIMI masih berjalan lancar dan aku senang sekali bisa berbagi pengalaman dan pengetahuanku dengan sesama ibu dan bahkan orang- orang yang ingin tahu  dan membutuhkan kami sebagai konselor dan berbagi ilmu mengenai MPASI, ASI, IMD, dsb. </p>
<p>Ilmu yang aku dapat dari AIMI dan Sentra Laktasi tentunya juga aku terapkan terus dalam mengurus Agra sampai saat ini. Aku tidak malu untuk mengakui ke setiap orang bahwa aku menyusui Agra sampai ia berusia 3 thn. Walaupun tidak sedikit orang yang kadang terbingung-bingung pada saat mendengarnya, bahkan sebaliknya, aku senang sekali bisa menyusui Agra sampai ia berusia 3 thn, karena menurutku merawat dan mebesarkan Agra dari awal kehidupannya adalah ASI sebagai faktor terpenting. Dimana aku dapat selalu merasa dekat secara fisik maupun batin dengannya, dan aku sangat beruntung karena tidak semua ibu dapat menyusui anak-anaknya sampai dengan usia tersebut, karena faktor-faktor tertentu yang mungkin membuat mereka tidak dapat menyusui anaknya secara ekslusif 6 bulan dan diteruskan sampai dengan usia anak-anak mereka mencapai 2 tahun lebih. </p>
<p>Semua manfaat ASI dan MPASI <em>homemade</em> yang aku berikan kepada anakku sangat dapat aku rasakan. Agra Alhamdulillah tumbuh menjadi anak yang sehat, walaupun sesekali mengalami sakit, tetapi sebatas flu dan demam yang insyaAllah dapat aku tangani sendiri tanpa harus mendapatkan pertolongan medis ataupun pertolongan obat-obatan antibiotik, dan lain sebagainya. Agra juga tetap menjadi anak yang suka makan, dan walaupun demikian, apapun yang ia makan aku usahakan selalu merupakan makan makanan sehat, sehingga aku tidak khawatir akan kenaikan berat  badan yang tidak normal atau obesitas yang terjadi pada banyak anak belakangan ini. </p>
<p>Untuk itu, dalam artikelku kali ini, aku ingin berbagi sedikit resep makanan sehat MPASI <em>homemade</em> yang dulu aku berikan kepada anakku, semoga bermanfaat bagi para ibu yang sedang atau akan segera memberi MPASI kepada bayi- bayinya. Selamat mencoba.</p>
<p><strong>MPASI 6-9 BULAN</strong></p>
<p><strong>Bubur Susu</strong><br />
Bahan :</p>
<ul>
<li>2 sendok makan tepung beras merah / tepung beras putih (20 gr)</li>
<li>Air matang secukupnya (+/- 50 cc)</li>
<li>ASI perah secukupnya (+/- 50 cc)</li>
</ul>
<p>Cara Membuat :</p>
<ol>
<li>Masukan air matang secukupnya hingga agak mendidih*</li>
<li>Masukan tepung beras sebanyak 20 gr</li>
<li>Aduk hingga matang</li>
<li>Tuangkan pada wadah yang aman utk bayi (BPA free/ food grade) </li>
<li>Tunggu hingga tepung beras agak hangat*</li>
<li>Kemudian tuangkan ASI perah secukupnya sehingga bubur agak cair, segera sajikan.</li>
</ol>
<p>*dapat menggunakan wadah kaca tahan api yang dapat digunakan utk memasak/ merebus<br />
*sebaiknya biasakan cicipi makanan terlebih dahulu sblm disajikan kepada bayi, dan pastikan ASI perah masih dalam kondisi baik.</p>
<p><strong>Pepaya pisang*</strong><br />
Bahan :</p>
<ul>
<li>50 gr pepaya matang dan manis</li>
<li>50 gr pisang raja matang dan manis</li>
</ul>
<p>Cara Membuat :</p>
<ol>
<li>Potong pepaya dan pisang kecil-kecil</li>
<li>Haluskan pepaya  dan pisang dengan saringan kawat/ dapat langsung dihaluskan dgn sendok</li>
<li>Tuang pada wadah yang aman utk bayi (BPA free/ food grade), segera sajikan.</li>
</ol>
<p>*pastikan bayi telah bebas dari intolerance food/ alergi thdp pepaya dan pisang </p>
<p><strong>Nasi Tim Saring Ayam Brokoli</strong><br />
Bahan :</p>
<ul>
<li>20 gr beras, cuci bersih</li>
<li>625 cc air</li>
<li>25 gr daging ayam giling</li>
<li>25 gr tempe, potong kecil-kecil</li>
<li>25 gr brokoli potong kecil-kecil kemudian rendam 10-15 menit dalam air garam (agar ulat mati)</li>
<li>25 gr tomat, potong kecil-kecil</li>
</ul>
<p>Cara Membuat :</p>
<ol>
<li>Campur beras yang sudah dibersihkan dgn air, daing ayam dan tempe</li>
<li>Rebus dan aduk hingga menjadi bubur</li>
<li>Masukan brokoli dan tomat, masak hingga sayuran matang</li>
<li>Kemudian angkat</li>
<li>Tunggu hingga hangat kemudian haluskan dgn saringan kawat, segera sajikan.</li>
</ol>
<p>Catatan ;<br />
Untuk mengetahui bahwa bayi mengalami alergi atau <em>food intolerance</em> caranya adalah, beri bayi satu jenis makanan yang sama selama 3 hari berturut-turut, kemudian lihat efeknya, apabila terdapat ruam pada kulit, gatal-gatal dan bisa juga berupa gejala seperti sesak nafas (biasanya terjadi pada jenis makanan yang berupa kacang-kacangan)  atau terjadi perubahan sistem tubuh  yang lain, artinya bayi mengalami alergi atau <em>food intolerance</em>. Alergi atau <em>food intolerance</em> biasanya terjadi beberapa jam setelah pemberian makanan sampai dengan 3 hari. Apabila smp 3 hari bayi tidak mengalami gejala alergi atau <em>food intolerance</em> artinya bayi dapat mengkonsumsi makanan tersebut.</p>
<p>Yang dimaksud dengan <em>food intolerance</em> adalah sistem pencernaan bayi yang belum sempurna belum dapat mencerna jenis makanan tertentu sehingga bayi akan mengalami perubahan sistem pada tubuhnya, misalnya keluar bercak atau ruam pada kulit. </p>
<p>Dikarenakan imunitasnya yang belum befungsi dengan baik maka untuk mengetahui bahwa hal tersebut merupakan gejala alergi ataupun <em>food intolerance</em> caranya adalah dengan mencoba memberi jenis makanan yang sama ketika usia bayi sudah lebih besar, misal 2-3 bulan kemudian, coba berikan makanan yang dicurigai sebagai pencetus terjadinya bercak atau ruam pada kulit tersebut. Biasanya <em>food intolerance</em> ini tidak terjadi lagi, kecuali pada saat sistem imunnya sedang tidak seimbang (tubuh sedang kurang fit)</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan alergi adalah terjadinya bercak atau ruam pada kulit ataupun gejala sesak nafas (perubahan sistem imunitas tubuh) yang berulang setiap kali anak mengkonsumsi makanan yang dicurigai sebagai pencrtus terjadinya hal-hal tersebut sampai anak beranjak dewasa dan bahkan sampai seumur hidupnya. </p>
<p>Jadi <em>food intolerance</em> sifatnya jangka pendek atau hanya sementara dan seiring perkembangan sistem imunitasnya, bayi akan dapat mencerna makanan tersebut dengan baik, walaupun disaat tertentu, seperti pada saat kondisi tubuhnya kurang baik hal ini dapat muncul lagi.</p>
<p>Sedangkan alergi sifatnya jangka panjang atau selamanya, bayi atau bahkan seseorang dapat mengalami perubahan sistem imunitas pada saat ia mengkonsumsi  jenis makanan yang dapat memicu terjadinya ruam, bercak atau bahkan sesak nafas.</p>
<p>Sekian artikel  yang saya tulis kali ini semoga bermanfaat dan dapat membantu para ibu yang ingin memberi makanan sehat sambil tetap terus memberi ASI kepada bayinya, dan maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/04/asi-dan-mpasi-sehat-awal-tumbuh-kembang-generasi-cemerlang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui &#8211; Anugerah Terindah yang Tak Tergantikan</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/12/menyusui-anugerah-terindah-yang-tak-tergantikan/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/12/menyusui-anugerah-terindah-yang-tak-tergantikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 00:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewi Indira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1178</guid>
		<description><![CDATA[Rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa saya ucapkan berulang kali jika saya ingat perjalanan saya menjadi ibu dari 2 anak saya, Miura Anniesha (4 tahun 2 bulan) dan Micha Nara Satya (1 tahun 9 bulan). Ketika kehamilan saya yang pertama, saya belum paham mengenai ASI, saya hanya tahu bahwa ASI adalah yang terbaik untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa saya ucapkan berulang kali jika saya ingat perjalanan saya menjadi ibu dari 2 anak saya, Miura Anniesha (4 tahun 2 bulan) dan Micha Nara Satya (1 tahun 9 bulan).</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/12/12-dewi-kids-300x225.jpg" alt="" title="12-dewi-kids" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1181" />Ketika kehamilan saya yang pertama, saya belum paham mengenai ASI, saya hanya tahu bahwa ASI adalah yang terbaik untuk anak saya. Namun pada saat itu saya hanya pasrah (lihat nanti deh bisa kasih ASI atau tidak) karena riwayat di keluarga saya yang menyusui sedikit sekali, itu pun hanya beberapa minggu atau beberapa bulan saja.</p>
<p>Ketika hamil Miura, saya tidak mencari informasi mengenai ASI, karena ketidaktahuan saya akan pentingnya mempelajari ASI sebelum kelahiran anak saya  tsb. Pada saat itu yang sibuk saya persiapkan adalah mencari nama untuk anak saya, mencari tahu bagaimana merawat bayi, mencari tahu makanan apa saja yang sebaiknya saya konsumsi selama hamil, dll.  </p>
<p>Sampai pada saatnya melahirkan, saya pun tidak melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) juga tidak rawat gabung. Namun ‘insting’ saya sebagai ibu pada saat itu sudah ‘jalan’. Setelah saya melahirkan dan langsung dipisah dengan anak saya, beberapa saat kemudian saya dipindahkan ke kamar perawatan, saya langsung menanyakan kapan anak saya akan diberikan kepada saya. Pihak Rumah Sakit pada saat itu hanya menjawab ‘nanti bu, ibu istirahat saja dulu.’  Namun tentu saja saya tidak bisa istirahat, yang saya pikirkan saat itu adalah ingin lekas bertemu dan bersama kembali dengan anak saya yang saya kandung selama 39 minggu. Dan saya pun tidak bisa tidur. Sungguh tidak nyaman sekali rasanya, sakit dan letih sehabis melahirkan dan dipisahkan pula dengan anak saya.</p>
<p>Saya melahirkan Miura pukul 23.50 WIB dan anak saya baru diberikan kepada saya keesokan harinya pada pukul 09.15 WIB dan dalam keadaan sedang tidur. Pada saat itu saya merasa sangat canggung dan bingung dengan anak saya sendiri, namun saya tetap mencoba <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/12/12-miura-300x225.jpg" alt="" title="12-miura" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1183" />menyusuinya.  Proses menyusui Miura pada saat itu berlangsung cukup menantang, karena dipisahkan cukup lama dengan saya yang menyebabkan Miura kembali harus belajar lagi menyusu lagi kepada saya. Saya pun harus belajar kembali menyusui anak saya. Pada saat itu saya pun dibantu oleh suster-suster di rumah sakit untuk dipijat payudaranya, karena pada saat itu saya merasa ASI saya belum keluar. Sehingga waktu keluar dari Rumah Sakit, saya pun bertanya kepada suster di Rumah Sakit itu, sebaiknya anak saya diberikan susu formula apa, dan suster pun memberikan nama merk salah satu susu formula. Saya pun langsung beli susu tsb.</p>
<p>Sambil terus tetap terus menyusui Miura, karena menurut orang-orang di sekitar saya, ASI saya sedikit, maka saya pun memberikan susu formula kepada Miura pada hari pertama saya pulang kembali ke rumah. Alhamdulillah setelah hari kedua di rumah, ASI matang saya pun keluar, sehingga ASI saya mulai terasa banyak dan saya menjadi lebih percaya diri untuk hanya memberikan ASI saja kepada Miura. Sebenarnya sejak awal, saya cukup percaya diri untuk hanya memberikan ASI saja kepada Miura, namun karena ketidaktahuan dan kurangnya dukungan lingkungan sehingga akhirnya saya pun ragu.  </p>
<p>Tidak beberapa lama setelah itu saya mengetahui informasi mengenai seminar ASI oleh dr Utami Roesli, dan saya pun mengikuti seminar tsb, dari situ saya langsung jatuh cinta kepada ilmu ASI ini dan bertekad untuk membantu ibu-ibu yang seperti saya, yang kurang informasi mengenai ASI, yang kurang paham mengenai ASI, dll. Dan akhirnya saya bertemu dengan teman-teman di milis asiforbaby, kemudian ikut mendirikan AIMI.  </p>
<p>Miura menyusu kepada saya hingga usia 2 tahun 4 bulan, dan Alhamdulillah saya berhasil menyapihnya dengan cinta.  Walaupun pada saat itu kebetulan juga saya telah mengandung anak saya yang kedua, yaitu Micha Nara Satya.</p>
<p>Berbeda dengan Miura, sewaktu Micha lahir, saya sudah lebih percaya diri untuk menyusui Micha. Saya pun melakukan IMD (Inisiasi <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/12/12-micha-300x225.jpg" alt="" title="12-micha" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1184" />Menyusu Dini) dan saya rawat gabung dengan Micha. Karena saya sudah cukup dibekali ilmu mengenai ASI dan saya pun sudah cukup percaya diri, Alhamdulillah proses menyusui Micha sangatlah penuh makna dan rasa syukur. Saat ini saya masih menyusui Micha, dan masih ingin terus menyusuinya dan belum tahu sampai kapan, biarlah nanti Micha dan saya yang memutuskan kapan kami akan mengakhirinya.</p>
<p>Berikut ini saya akan berbagi tips-tips agar proses menyusui berhasil:</p>
<ol>
<li>Persiapkan payudara (menggunakan nursing bra)</li>
<li>Pelajari ASI dan tatalaksana pemberian asi (buku, seminar, konseling, dll)</li>
<li>Ciptakanlah lingkungan yang mendukung ASI (keluarga, dokter kandungan, dokter anak, tenaga kesehatan, dll)</li>
<li>Carilah Rumah Sakit yang sayang bayi</li>
<li>Percayalah bahwa asi Ibu selalu cukup untuk anak ibu.</li>
<li>Komitmen.  Bulatkan niat untuk memberikan yang terbaik untuk anak kita (ASI)</li>
</ol>
<p>Menurut saya, menyusui kedua anak saya adalah anugerah terindah dari Tuhan yang sangat luar biasa. Saya sangat bersyukur diberikan kesempatan menyusui sampai saat ini oleh Tuhan. Semoga saya dapat selalu bersyukur dan terus memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya, salah satunya dengan menyusui. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/12/menyusui-anugerah-terindah-yang-tak-tergantikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Berhasil Menyusui? Anda perlu TIM SUKSES!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 04:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tengku Arisma Mellina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Father]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[Bukan hanya Pemilihan Kepala Negara, Kepala Daerah atau bahkan Ketua Partai saja lhoo yang memerlukan Tim Sukses. Menyusui juga perlu Tim Sukses untuk mengantarkan bayi kita menjadi sarjana S1, S2, bahkan S3 ASI! Ikuti sharing salah satu Konselor Laktasi AIMI mengenai pentingnya dukungan orang terdekat agar sukses menyusui.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selintas, menyusui terlihat sebagai kegiatan yang dilakukan oleh ibu dan bayi-nya saja, tetapi jika kita perhatikan lebih seksama, ada beberapa pihak yang memiliki peranan yang besar di dalam kegiatan menyusui, selain sang ibu dan bayi-nya. Mereka itu adalah suami, orangtua, mertua, keluarga besar, sahabat, bahkan rekan kerja dan tetangga. Adanya dukungan dari berbagai pihak merupakan salah satu kunci agar ibu dapat berhasil menyusui bayinya. Mereka adalah Tim Sukses ibu menyusui.</p>
<h3>Cerita Tim Sukses Saya</h3>
<p>Saya sangat menikmati kegiatan menyusui anak saya, Ba’i, hingga dia menyapih sendiri (33 bulan). Bagi saya menyusui bukanlah beban, ataupun kendala, karena saya selalu didampingi dan dukung oleh suami dan keluarga, terutama ibu.</p>
<p>Saat Ba’i lahir, pengetahuan saya akan ASI dan menyusui sangat minim. Bekal saya hanyalah tekad, tekad untuk menyusui bayi saya hingga berumur dua tahun.</p>
<p>Bermodal tekad saja ternyata tidak cukup, saya merasa masih masih perlu mengumpulkan informasi mengenai ASI serta dukungan dari orang terdekat. Saya merasakan sendiri, kekuarangan informasi ternyata berdampak tidak baik bagi saya maupun Ba&#8217;i sejak awal kelahiran. Saat itu, saya dan Ba&#8217;i sudah dipisahkan sejak kelahirannya. Kami baru bertemu kembali setelah enam jam pasca kelahiran. &#8220;Supaya ibu bisa istirahat. Tentunya ibu lelah sekali setelah melahirkan,&#8221; begitu kata seorang tenaga kesehatan ketika saya katakan bahwa saya ingin bertemu dengan bayi saya. Minimnya informasi yang saya punya, membuat saya HARUS pasrah dengan keadaan. Tak hanya itu, sejak awal kelahiran pun Ba&#8217;i sudah diberikan susu formula oleh pihak rumah sakit tanpa seijin dan sepengetahuan kami. Ingin marah rasanya.</p>
<p>Adalah suami saya yang ber-inisiatif untuk memberikan perahan kolostrum dan perahan ASI ke ruangan bayi <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/06/06-the-A-team.jpg" alt="" title="06-the-A-team" width="200" height="300" class="alignright size-full wp-image-775" />sebelum jadwal minum sufor oleh perawat. Suami mengetok ruangan perawat untuk mengambil pompa dan corongnya, setelah di perah, ASIP langsung di bawa ke ruang bayi dan minta ke susternya untuk segera diberikan langsung ke Ba’i. Hal ini terus dilakukan setiap 2 jam, bahkan tengah malam pun, suami tetap ke ruangan perawat (yang beda lantai) untuk meminta corong yang steril, membangunkan saya untuk memerah dan membawa perahannya ke ruangan bayi. Alhamdulilah, meskipun Ba’I terkena susu formula, tapi dengan semangat suami membantu memberikan ASI perah dan menyemangati saya untuk terus memerah, ASIP saya bisa “menyalip” waktu pemberian sufor.</p>
<p>Permasalahan lain muncul, ketika dokter spesialis anak (DSA) mendiagnosa Ba’i kuning karena kadar bilirubinnya tinggi (padahal setelah saya pelajari, ternyata angka tersebut masih normal). DSA mengatakan penyebab dari kuning karena golongan darah saya dan Ba’i berbeda. Saya B dan Bai O (lagi-lagi setelah saya baca dan konsultasi dengan pakar laktasi, ternyata perbedaan golongan darah B dan O tersebut bukan penyebab jadi kuning, berbedaan rhesus dan golongan darah AB-O yang mungkin dapat menyebabkan bayi kuning, itu pun dengan bilirubin yang langsung tinggi). Dokter kemudian menyarankan saya untuk menghentikan pemberian ASI sampai lima hari dan juga di bluelight. Saat itu DSA ini seperti “menindas” dengan kata-katanya yang menyindir karena saya tetap ingin memberikan ASI. Dia bahkan tidak melihat saya ketika sedang berbicara dan lebih memilih berbicara kepada suami dan ibu saya. Rasanya kesal sekali, merasa tidak di dengar dan tidak di perhatikan. Untung di saat seperti ini suami dan ibu saya terus mendukung saya memberikan ASI.</p>
<p>Ibu saya berpendapat, ”Rasanya tidak mungkin ya, Allah SWT memberikan &#8216;racun&#8217; untuk mahluk ciptaannya, apalagi yang baru lahir. ASI kan keluar dengan sendirinya setelah ibu melahirkan, berarti itu pemberian Allah SWT untuk bayi melalui sang ibu, jadi memang ASI yang harus diberikan kepada bayi, bukan susu formula”. Dari pemikiran ini, saya dan suami semakin mantap untuk terus menyusui, walaupun setiap hari dokter bilang, “Bu, billirubinnya lebih tinggi dari kemarin, ini karena ibu masih tetap memberikan ASI lho?!” Saya sempat ragu, tapi suami kembali mengingatkan untuk tetap menyusui. Di samping itu, ibu saya pun mencari-cari informasi mengenai bayi kuning ke beberapa temannya yang ber-profesi sebagai dokter. Hasil yang didapat, tenyata justru hanya ASI-lah yang dapat membantu mengeluarkan bilirubinnya. Pemberian susu formula justru akan memperberat kerja pencernaan bayi yang belum sepenuhnya matang, selain itu bayi harus di siangin di bawah sinar matahari yang tidak langsung, di pagi hari. Mendengar ini, saya semakin yakin lagi untuk tetap menyusui Ba’i. Tim sukses saya (suami dan Ibu) telah berhasil membawa saya dari keraguan dan kecemasan di awal kehidupan Ba’i di dunia.</p>
<h3>Ketua Tim Sukses: Suami</h3>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/06/06-bai-ayah-makan-300x194.jpg" alt="" title="06-bai-ayah-makan" width="300" height="194" class="alignleft size-medium wp-image-774" />Menurut saya, suami sebagai salah satu pemegang kunci dari keberhasilan menyusui, suami adalah ketua tim suksesnya.  Suami saya pernah berkata bahwa ia iri setiap kali melihat saya menyusui Ba’i, karena ada kelekatan/bonding  yang sangat dalam dan hal itu tidak dapat ia lakukan bersama Ba’i. Suami saya juga khawatir jika Ba’i akan sedikit lebih “jauh” ke dia dibandingkan ke saya. Memiliki pikiran seperti itu menurut saya sangatlah wajar dan di satu sisi merupakan kebanggaan buat saya sebagai ibu bahwa bonding yang saya miliki dengan Ba’i pada saat menyusui ternyata sangat eksklusif dan tidak dapat tergantikan oleh siapapun dan apapun juga di dunia ini.</p>
<p>Saya pernah membaca buku mengenai “<em>Attachment Parenting</em>” dari William Sears, M.D. dan Martha Sears, R.N, yang menurut saya, dapat menghilakan rasa “ke-iri-an” suami saya. William dan Martha Sears berpendapat bahwa banyak hal dapat di lakukan oleh sang ayah untuk dapat menjadi terikat dengan sang bayi. Salah satunya pada saat menyusui, sang ayah akan mendapatkan keterikatan dengan bayinya pada saat menggendong, mendekap bayinya, menggantikan popok, memandikan, memijat bayinya, sebelum di serahkan ke istrinya untuk di susui. Sang ayah juga dapat merawat istrinya untuk memudahkannya menyusui (seperti melakukan pijat punggung, membuatkan secangkir teh hangat, menyiapkan bantal untuk menyangga punggung istri pada saat menyusui,dll). Membaca ini saja, kita sudah terbayang betapa indahnya suasana yang di penuhi rasa cinta ini. Bagi kita, ibu menyusui, suasana indah ini sangat dapat merangsang hormon oksitosin untuk bekerja melancarkan jalan keluarnya ASI.</p>
<p>Saya merasa sangat beruntung, karena suami mendapat “<em>paternity leave</em>” (cuti dalam tanggungan karena istri melahirkan), dari kantornya selama 4 minggu. Kesempatan ini sangat dimanfaatkan oleh kami dengan sebaik mungkin. Disaat kondisi saya belum 100% pulih, suami dengan sigap membantu menggantikan popok, memandikan Ba’i serta memberikan ASIP. Terus terang, setiap kali saya melihat suami saya merawat Ba’i, terlihat sangat indah dan momen itu sering kali membuat jadi lebih bersemangat untuk menyusui. Aneh ya? Tapi setidaknya itu lah yang saya rasakan. Ada dorongan alami yang kadang saya sendiri juga tidak menyadarinya. </p>
<h3>Wakil Kehormatan Tim Sukses : Orangtua (Ibu)</h3>
<p>Saat saya kembali bekerja, Ibu saya yang menjaga dan merawat Ba’i. Ilmu manajemen laktasi saya masih nol, sehingga saya tidak tahu harus bagaimana seharusnya mempersiapkan ASIP, dll. Adalah Ibu saya yang membuat “matematika pemberian ASIP”nya. Ibu menyarankan, sebelum masuk kerja, melakukan simulasi meninggalkan rumah selama jam kerja untuk melihat berapa kali dan berapa banyak Ba’i minum. Ibu saya menulis jam berapa saja Ba’i bangun, tidur dan berapa cc ia minum satu kalinya. Alhasil, terciptalah rumus “matematika pemberian ASIP” yang kemudian, setelah saya belajar, “matematika pemberian ASIP” a’la ibu saya itu ternyata mirip dengan “Manajemen Laktasi”.</p>
<p>Ibu saya selalu mengingatkan beberapa hal: 1. Rajin memerah ASIP, baik yang fresh untuk diberikan langsung pada hari itu dan juga untuk dimasukkan ke dalam freezer. 2. Selalu meninggalkan sejumlah ASIP di kulkas (lima-enam botol ASIP) setiap kali saya pergi ke kantor dan, 3. Selalu menanyakan jam berapa pulang kantor. Setiap mendekati jam lima sore, ibu saya sms atau menelfon, menanyakan apakah saya sudah mau pulang atau akan lembur. Jika saya bilang langsung pulang, maka Ibu saya tidak akan memberikan ASIP di jadwal selanjutnya karena di perkirakan, saya  sudah sampai di rumah, jadi menghemat satu ASIP (dengan jam yang paling baru di perah) untuk di berikan esok paginya. Suatu hari saya pernah terjebak banjir, sehingga sampai rumahnya akan sangat larut. Stok ASIP untuk hari itu tinggal satu botol lagi, ibu saya langsung mengantisipasinya dengan mengeluarkan satu botol ASIP dari freezer yang memang berfungsi sebagai ASIP untuk cadangan jika ASIP fresh yang tersimpan di kulkas bawah, habis. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata disarankan untuk mencairakan ASIP yang dari freezer secara bertahap, akan tetapi saat itu keadaannya di luar kendali saya (dan juga saya belum tau informasi mengenai ini).</p>
<p>Syukur Alhamdulilah, dengan bantuan dan dukungan dari suami dan ibu lah, saya dapat berhasil menyusui Ba’i dengan tanpa beban. Kegiatan menyusui menjadi ritual sehari-hari yang menyenangkan buat saya, walaupun di kantor saya dihujani dengan berbagai tugas dan tekanan. Produksi ASI saya juga bukan termasuk yang berlimpah lho tapi sangat cukup untuk Ba’i. Terima kasih untuk ibu saya dengan “matematika pemberian ASIPnya” dan juga terima kasih saya untuk suami yang selalu setia mendukung saya dengan bantuan-bantuan praktisnya. Mereka adalah Tim sukses saya yang telah mengantarkan Ba’i jadi Sarjana S1 dan S2 ASI!</p>
<p>Ayoo persiapkan Tim Suksesnya Moms masing-masing yaaa… </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 2389 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inisiasi Menyusu Dini, Repot Ya?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/05/inisiasi-menyusu-dini-repot-ya/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/05/inisiasi-menyusu-dini-repot-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 01:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puti Herryanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=735</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kita yang sudah memahami informasi mengenai Inisiasi Menyusu Dini (IMD) tentu saja tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Bukankah bayi baru lahir dapat segera mencari puting susu ibunya sesaat ketika lahir, karena hal tersebut merupakan naluri alamiah yang dimilikinya. Pertanyaannya adalah, apakah semua tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang akan membantu ibu untuk melahirkan bayinya sudah memahami dan mau melakukan hal ini? Yuk simak bersama sharing salah satu Konselor Laktasi AIMI berikut ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca judul diatas, beberapa dari kita tentu bertanya-tanya. Repot? Apanya yang repot ya?</p>
<p>Bagi kita yang sudah memahami informasi mengenai Inisiasi Menyusu Dini (IMD) tentu saja tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Bukankah bayi baru lahir dapat segera mencari puting susu ibunya sesaat ketika lahir, karena hal tersebut merupakan naluri alamiah yang dimilikinya.</p>
<p>Pertanyaannya adalah, apakah semua tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang akan membantu ibu untuk melahirkan bayinya sudah memahami dan mau melakukan hal ini? Yuk simak bersama sharing saya berikut ini.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/05/05-puti-andra.jpg" alt="" title="05-puti-andra" width="300" height="207" class="alignleft size-full wp-image-737" />Mencari rumah sakit yang bersedia melakukan Inisiasi Menyusu Dini memang gampang-gampang susah. Mengapa demikian? Karena bisa saja ibu sudah menemukan tenaga kesehatan yang bersedia untuk melakukan IMD pada kelahiran normal maupun caesar, tetapi rumah sakitnya tidak menyetujui. Terdengar familiar?</p>
<p>Kejadian ini terjadi pada saya ketika hamil anak kedua. Untuk mendapatkan hak yang satu ini saya dan suami harus sering-sering &#8216;<em>shopping</em>&#8216; dokter dan rumah sakit. Saat itu kami sudah bertemu dengan dokter kandungan yang cocok, tetapi beliau belum memahami tentang tata laksana IMD dengan baik.</p>
<p>Di lain pihak rumah sakit bersalin tempat dokter tersebut praktek telah meng-&#8217;<em>claim</em>&#8216; dirinya sebagai rumah sakit sayang Ibu dan bayi dengan mendukung pemberian ASI dan tidak memberikan dot/botol pada bayi. Tetapi sayang, belum banyak cerita sukses tentang IMD di rumah sakit tersebut, terlebih yang ditangani oleh dokter kandungan saya.</p>
<p>Setelah mencari tahu informasi mengenai IMD yang dilakukan disana, ternyata IMD belum dilakukan dengan tata laksana yang benar, dimana bayi baru lahir langsung  diletakkan diatas dada ibu selama 5 menit saja, kemudian langsung dipisahkan dari ibu untuk diobservasi dan dipertemukan kembali setelah 6 jam persalinan. Bayi tidak diberikan kesempatan untuk menemukan puting susu ibu-nya. Hal ini diperparah dengan tidak diijinkannya rawat gabung untuk bayi dengan ibunya dengan berbagai macam alasan. Rawat gabung baru dilakukan ketika pasien memaksa, dan pihak rumah sakit berulang kali menegaskan bahwa segala konsekuensi harus ditanggung oleh pasien karena bayi tidak berada dalam pengawasan mereka. Padahal, bayi yang selama 24 jam selalu bersama ibu-nya akan semakin sehat dan jauh dari risiko-risiko medis yang mungkin terjadi pada bayi baru lahir.</p>
<p>Rumah sakit ini  memang menganjurkan pemberian ASI,  tapi tidak ada bimbingan langsung untuk menyusui saat baru melahirkan dan baru diajarkan pada hari terakhir di ruang bayi bersamaan dengan mengajarkan perawatan bayi baru lahir. Rumah sakit inipun langsung menyetujui bila ada ibu yang meminta sufor untuk bayinya.</p>
<p>Mengetahui hal ini tentu saja kepanikan melanda saya. Kami dihadapkan pada dua pilihan, yaitu ganti dokter atau ganti rumah sakit. Tetapi karena malas beradaptasi dengan dokter yang baru lagi serta sudah nyaman dengan dokter yang menangani saat ini, saya memutuskan untuk meneruskan saja periksa kehamilan dan melahirkan dengan dokter saya di rumah sakit yang saya pilih.</p>
<p>Dengan mengucap Bismillah, saya berkeyakinan bisa melakukan IMD untuk kebaikan Ibu dan Bayi. Melalui milis AFB, aku kumpulkan testimoni dari yang pernah melahirkan di rumah sakit bersalin tersebut, terkumpullah 6 testimoni terdiri dari 5 testimoni IMD yang hanya 5 menit dan 1 yang sukses. Saya berikan testimoni tersebut ke dokter kandungan saya, dan sepertinya sang dokter menjadi ‘tertantang’, dalam diskusi terungkaplah bahwa beliau belum terinformasi bahwa minimal waktu IMD adalah 60 menit.</p>
<p>Kendala lain yang dirasakan adalah canggung, karena dokter kandungan banyak yang laki-laki. Setelah dijelaskan kalau dokter tidak perlu menunggui selama proses IMD berlangsung yang penting pastikan para suster dan bidan mengerti prosedurnya, tidak menyulitkan seperti menakut-nakuti bayi dingin dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan saya belikan VCD IMD dari AIMI untuk dipelajari. Alhamdullillah, gayung bersambut. Sebelum saya melahirkan, dokter memperkenalkan kami dengan para bidan dan suster yang akan membantu saat kelahiran. Senangnya!</p>
<p>Hari H-pun tiba. Saya sudah merasakan kontraksi datang dan pergi selama satu minggu. Saat periksa di usia 38 minggu ternyata ketubanku sudah berkurang dan semakin sedikit. Perkiraan dokter malam ini saya akan melahirkan, namun bila tidak maka harus diinduksi. Ternyata sampai besok pagi tidak ada kontraksi, akhirnya saya harus kembali diinduksi. Baru 2 jam diinduksi, ketuban lagi-lagi pecah dan kali ini sudah berwarna hijau. Maka dokter memutuskan untu melakukan cesar harus dilakukan. Hampir pupus harapan untuk IMD, tapi Alhamdulilah ternyata dokter kandungan menepati janji dan komitmennya. Andra menangis sangat kencang ketika dilahirkan dan setelah dipastikan sehat, Andra dibersihkan seadanya dan langsung diletakkan ke dadaku untuk IMD.</p>
<p>IMD berlangsung lancar, tidak sempurna memang, tapi aku cukup puas. Beberapa kali perawat menyodorkan ‘puting’ pada Andra. Tetapi bagaimana mau meminumnya, Andra belum siap, jadi biarpun disodorkan puting, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/03/03-imd-300x199.jpg" alt="" title="Bayi Baru Lahir Sedang IMD" width="300" height="199" class="alignright size-medium wp-image-217" />Andra tetap saja diam. Tidak hanya itu tantangannya, belum juga 60 menit, para perawat juga berusaha untuk menghentikan proses IMD dengan berkata: &#8220;Yang penting <em>skin to skin</em> bu, itu namanya udah IMD” kata perawat padahal saat itu IMD baru berlangsung 15menit. Karena Andra dilahirkan cesar dia masih asyik menikmati kehangatan bundanya, bergerak sedikit lalu tidur lagi. Menit ke 60 Andra mulai bergerak, bidan dan perawat yang berada dalam ruangan bahkan diluar ruangan langsung masuk kesenangan melihat bayi yang baru berumur 60 menit, menendang maju dan mengangkat tinggi kepalanya untuk menggapai puting bundanya. Mereka sangat antusias melontarkan komentar ‘hebat ya’, ‘coba tuh lihat, Subhanallah’ dan masih banyak komentar lainnya. Belum lagi ketika melihat Andra menemukan sendiri puting di menit ke 110 dan dengan asyiknya melahap kolostrum pertamanya. Alhamdulillah ya Allah!</p>
<p>Kejadian itu membuatku terhenyak, ternyata para perawat tadi belum pernah melihat IMD secara langsung. Tak kenal maka tak sayang, ternyata selama ini mereka tidak percaya diri, mereka belum menyaksikan langsung kehebatan dada ibu yang mampu menghangatkan bayi baru lahir. Mereka belum pernah menyaksikan indahnya bayi berusia kurang dari 2 jam berhasil merangkak di perut bundanya. IMD terlaksana cukup baik, aku cukup puas. Ternyata tidak hanya aku yang merasa puas. Perawat bayi yang setia menungguiku ketika IMD,  senang sekali datang ke kamarku ketika jam besuk tiba. Dengan semangat’45 perawat tersebut menceritakan proses IMD yang menurutnya sangat menakjubkan kesetiap orang yang mengunjungiku. Ini dilakukannya selama 3 hari aku berada dirumah sakit.</p>
<p>Berarti selama ini disinilah masalahnya kita sebagai pasien, perawat, dan dokter sama-sama belajar. Ketika banyak dari kita yang berusaha mencari rumah sakit sayang bayi dan pro IMD, sebaiknya kita mulai dari diri kita, kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Adalah penting untuk menyamakan persepsi IMD dan rooming in dengan tenaga kesehatan yang terlibat. Tapi sekarang aku yakin, banyak perawat dan dokter yang kurang percaya diri bukannya tidak pro ASI atau IMD, seperti kata dokter hebat pejuang ASI dr Utami Roesli ‘mereka ini orang-orang yang belum mendapatkan hidayah’, jadi tidak ada salahnya sebagai pasien kita yang memulai.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Artikel ini telah dibaca sebanyak 2604 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/05/inisiasi-menyusu-dini-repot-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Pertama Gagal ASI Eksklusif &#8211; Bagaimana Dengan Adik?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 01:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erfi Nizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok pendukung]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu yang tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif kepada anak kedua bahkan ketiga ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama. Ini disebabkan mereka terpaku pada kegagalan anak pertama. Umumnya kegagalan ini disebabkan oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.  Saya ingin berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak ibu merasa tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya &#8211; baik kepada anak kedua atau ketiga, ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-mama-zach.jpg" alt="" title="04-mama-zach" width="300" height="241" class="alignleft size-full wp-image-648" />Hal ini seringkali terjadi, karena banyak ibu terpaku pada kegagalan memberikan ASI di masa lalu yang disebabkan  oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.</p>
<p>Menanggapi hal tersebut, ijinkan Saya berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi semua ibu yang membacanya.</p>
<p>Anak pertama saya lahir pada bulan Oktober 2004, hanya 10 bulan dari sejak saya menikah. Senang..? Pasti dong. Saya pun berniat untuk memberikan yang terbaik &#8211; yaitu ASI &#8211; untuk anak pertama saya.</p>
<p>Memberikan ASI ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Karena kekurangan informasi tentang ASI dan menyusui, saya mengawali perjalanan menyusui anak pertama saya dengan tidak tepat, misalnya: tidak meminta rawat gabung dengan anak sewaktu di Rumah Sakit sehingga saya yang harus bolak balik ke kamar bayi (dengan jam menyusui yang dibatasi / dijatah). Kondisi seperti ini membuat saya tidak dapat menyusui dikala anak saya membutuhkan ASI. Saya lebih sering menemui anak saya sedang tertidur sehingga tak mau menyusu.</p>
<p>Saat itu saya pikir ini kondisi seperti ini normal saja. Tetapi begitu saya pulang dari Rumah Sakit dan merawat bayi saya sendiri, barulah saya merasakan ketidaknyamanan. Bukan, bukan karena saya kecapekan menjaganya tapi saya mengalami puting lecet.</p>
<p>Saya bingung sekali kala itu,  tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya cara yang menurut saya dapat menyelesaikan permasalahan puting lecet kala itu adalah dengan memompa ASI dari payudara yang lecet dan hanya menyusui dari payudara yang tidak sakit. Karena kondisi ini pula, saya sempat mengalami ‘<em>mild baby blues</em>’, dimana saya menangis setiap harus menyusui dari payudara yang lecet tersebut. Untungnya cuma berlangsung sebentar, 3 hari saja.</p>
<p>Selama di berada rumah dan belum kembali bekerja, saya selalu menyusui anak saya secara langsung, sehingga saya pun jarang memerah, apalagi semenjak luka di puting pulih. Ternyata hal ini menimbulkan masalah ketika saya harus kembali lagi ke kantor. Saya tidak memiliki stok ASI perah ketika itu, sehingga saat harus kembali masuk kantor saya bingung bagaimana dengan asupan susu anak saya di rumah. Oleh orang tua, saya diminta membeli susu formula (sufor) sebagai cadangan kalau-kalau ASI yang saya perah di kantor tidak cukup untuk konsumsi anak saya selama saya tinggal bekerja. Dan terjadilah hal yang saya takutkan, di usianya yang ke- 2,5 bulan, anak saya sudah minum ASI campur sufor.</p>
<p>Selain itu, karena minimnya informasi yang saya punya, saya memperkenalkan MPASI dini pada anak saya, karena menurut orang tua,  anak saya pasti kelaparan kalo hanya minum ASI dan susu formula saja.</p>
<p>Sekembalinya bekerja, ternyata saya tidak konsisten memerah ASI. Kadang hanya 2x dalam waktu 9 jam, malah kadang hanya 1x kalau saya terlalu sibuk atau malas. Ini disebabkan di kepala saya sudah tertanam bahwa anak saya akan baik-baik saja karena ada back-up sufor dan MPASI di rumah jika ASI perah tidak mencukupi. Akhirnya pada usia 10 bulan, anak saya hanya minum sufor tanpa ASI lagi.</p>
<p>Ketika anak ke-2 lahir di tahun 2007, saya sudah bertekad untuk memberi ASI sekurang-nya 6 bulan tanpa tambahan susu formula maupun MPASI dini. Hal ini dikarenakan informasi yang saya dapatkan dari seminar tentang kesehatan anak pada tahun 2006 yang saya ikuti, menjelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif adalah 6 bulan tanpa tambahan apa pun. Ditambah lagi, tidak lama setelah saya melahirkan, saya pun ikut bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dimana saya dapat mencari informasi tentang ASI, menyusui dan tips memerah selama bekerja dengan lebih lengkap. Alhamdulillah, dengan banyaknya informasi yang saya dapat, anak ke-2 pun lulus ASI eksklusif tanpa bantuan dari susu formula dan MPASI dini.</p>
<p>Selain itu, untuk menambah wawasan dan jejaring, saya datang ke kopdar milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">Asiforbaby</a> pertama kali dan berkenalan dengan banyak ibu muda. Selain presentasi mengenai ASI yang dibawakan oleh dr. Utami Roesli, saat itu juga ada presentasi dari mbak Mia Sutanto yang menjelaskan bahwa akan dibentuk suatu organisasi yang bisa mewadahi para ibu menyusui. Saya melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk terlibat secara langsung didunia per-ASI-an dan ketemu dengan para ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>Singkat cerita, saya pun mengajukan diri untuk ikut bergabung dan Alhamdulillah, saya tidak salah berkumpul dengan ibu-ibu hebat di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena disini lah saya bisa bertanya, curhat dan bersenang-senang. Dari sini pun saya sadar, ternyata ilmu yang didapat dari internet atau milis saja tidak cukup. Kita perlu berkumpul dengan para ibu yang mempunyai pandangan yang sama dengan kita.</p>
<p>Saat kelahiran anak-3 dipertengahan 2008, saya jauh lebih percaya diri. Saya jadi lebih getol mencari dokter, <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/04-family.jpg" alt="" title="04-family" width="300" height="200" class="alignright size-full wp-image-649" />tenaga kesehatan dan rumah sakit yang mengijinkan IMD dan rawat gabung. Sewaktu lahiran saya tenang karena anak langsung diletakkan di atas dada dan dibiarkan selama kurang lebih 1,5 jam. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan karena saya bisa melihat sendiri ayahnya meng-adzani anak di dada saya dan melihat serta merasakan IMD, dimana anak merangkak sendiri menuju payudara dan menyusu secara alami tanpa bantuan dari saya, mamanya.</p>
<p>Jadi kalau boleh saya rangkum dari pengalaman ini adalah tidak benar bahwa kegagalan pemberian ASI pada anak pertama berarti mustahil bagi anak ke-2 mau pun ke-3 untuk mendapat ASI. Ibu perlu membekali dirinya dengan ilmu yang cukup semenjak hamil tentang tata cara IMD, persiapan menyusui, dokter dan rumah sakit / bidan yang mendukung IMD &#038; rawat gabung. Tentu saja dukungan penuh dari suami juga akan membuat ibu lebih percaya diri.</p>
<p>Selain itu, jika memungkinkan bergabunglah dengan komunitas peduli ASI. Ini bisa diawali dengan bergabung dengan milis <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a> dan dilanjutkan dengan bertemu langsung dengan para ibu di kota tempat kita tinggal atau sering disebut kopdar. Lebih bagus lagi jika pertemuan ini bisa diadakan rutin sehingga kita bisa saling berbagi ilmu dan saling mendukung sesama ibu yang peduli akan ASI.</p>
<p>So, ibu2, terbukti kan, kegagalan di masa lalu dapat menjadi pemicu keberhasilan untuk menyusui. Kalau saya bisa, Anda pun bisa!</p>
<p>Semangat ASI!</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 2774 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/04/anak-pertama-gagal-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayi Sering Menangis &#8211; Apakah Ini Tandanya ASI Tidak Cukup?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/02/bayi-sering-menangis/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/02/bayi-sering-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 16:36:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Pernah merasa ASI kurang karena bayi menangis terus..? Stres dan panik karena takut ASI tidak akan cukup untuk bayi anda..? Yuk, simak artikel dari ketua AIMI yang juga seorang konselor laktasi tentang hal-hal yang menyebabkan seorang bayi menangis.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jujur saja, selama pengalaman saya sebagai seorang konselor laktasi, inilah yang paling ditakuti oleh seorang ibu <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/02/02-bayi-sering-menangis.jpg" alt="02-bayi-sering-menangis" title="02-bayi-sering-menangis" width="188" height="250" class="alignleft size-full wp-image-203" />menyusui; bayinya nangis terus padahal baru saja disusuin selama 1 jam, bayinya nangis terus padahal sudah sering disusuin setiap setengah jam sekali, baru saja diletakkan ditempat tidur, 15 menit kemudian sudah bangun lagi dan minta disusuin. Haduh, apakah ini tandanya ASI tidak cukup ya&#8230;?!</p>
<p>Mungkin yang perlu pertama kali diingat adalah, bayi belum bisa berbicara. Satu-satunya cara seorang bayi berkomunikasi dengan orangtuanya adalah melalui tangisan. Makanya para pakar sepakat bahwa apabila orangtua langsung menanggapi dan merespon tangisan bayinya, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan sang bayi, hal tersebut tidak akan membuat si bayi menjadi manja, justru sebaliknya, bayi akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri karena dia merasa selalu ’didengar’ oleh orangtuanya.</p>
<p>Bagaimana caranya bayi memberitahukan ibu bahwa ia sedang lapar&#8230;? Ya tentu melalui tangisan. Tetapi apakah berarti setiap kali bayi menangis tandanya ia sedang lapar&#8230;? Belum tentu. Yuk, kita simak satu persatu apa kiranya yang menyebakan seorang bayi menangis, terutama dalam kaitannya dengan pemberian ASI dan masa menyusui.</p>
<ol>
<strong>
<li>Bayi Baru Lahir Butuh Penyesuaian</li>
<p></strong><br />
Setelah 9 bulan didekap dengan hangat dan lembut dalam rahim bunda, diiringi dengan kedamaian suara detak jantung bunda&#8230;tiba-tiba harus lahir ke dunia yang terang benderang, berisik, ramai, dingin, penuh dengan orang-orang yang tidak dikenal&#8230;gak heran ya bayi yang baru lahir langsung nangis sekencang-kencangnya.</p>
<p>Disinilah salah satu manfaat dilakukannya IMD (inisiasi menyusu dini), ternyata bayi akan berhenti menangis apabila langsung diletakkan diatas dada ibunya, dan tingkat hormon stresnya akan menurun sebesar 50%. </p>
<p>Bayangkan kita harus tinggal di negara lain, belum pernah kesana, tidak kenal siapa-siapa, tidak bisa berbahasa setempat, belum biasa (cocok) dengan makanan setempat&#8230;belum lagi terdapat perbedaan musim dan waktu (disini siang, disana malam). </p>
<p>Begitulah kira-kira apa yang dialami seorang bayi baru lahir, semua serba asing, serba baru, serba belum bisa. Satu-satunya usaha yang bisa dilakukan adalah dengan berkomunikasi&#8230;melalui tangisannya.</p>
<p><strong>
<li>Bayi Baru Lahir Butuh Rasa Aman dan Nyaman</li>
<p></strong></p>
<blockquote><p>Mama&#8230; aku gak nyaman nih, aku abis pipis/pup&#8230;<br />
panas bunda, kipas anginnya kurang kencang&#8230;<br />
ibu, AC-nya dikecilkan dong, aku kedinginan nih&#8230;<br />
wah, aku digigit nyamuk lagi bunda, gatal&#8230;<br />
mama, bajuku kasar&#8230;<br />
ibu, aku pegal tidur diposisi ini terus&#8230;<br />
aduh, sakit bunda, tanganku kepentok pinggiran tempat tidur&#8230;<br />
ummi, aku bosan disini terus, gendong ya&#8230;<br />
ibu, perutku kembung nih&#8230;<br />
mama, aku lapaaaaarrr&#8230;!!! </p></blockquote>
<p>Semua itu dia komunikasikan melalui tangisan. Belum lagi seorang bayi baru lahir sangat butuh perasaan aman, dan itu hanya dia dapatkan dari dekapan hangat penuh cinta bundanya, terutama pada saat-saat menyusui. Wah, gak heran ya seorang bayi sering menangis.</p>
<p><strong>
<li>Menyusui: Memenuhi Rasa Haus, Lapar dan <em>Comfort</em></li>
<p></strong><br />
Hal yang seringkali tidak disadari oleh para orangtua adalah, bayi menyusu bukan saja karena lapar tetapi terkadang bayi hanya haus, dan di lain waktu bayi menyusu karena membutuhkan rasa nyaman dari dekapan sang bunda (<a href="http://www.kellymom.com/store/handouts/newborn/sleep.pdf">http://www.kellymom.com/store/handouts/newborn/sleep.pdf</a>).</p>
<p>Bagaimana bila bayi sedang dalam fase tumbuh gigi, atau sedang dalam proses pencapaian salah satu milestone-nya, atau bayi sedang sakit dan tidak enak badan? Semua itu dia komunikasikan melalui tangisannya, dan semua itu dapat menyebabkan seorang bayi menjadi sangat membutuhkan rasa nyaman yang diperoleh pada saat sedang menyusu.</p>
<p><strong>
<li>Kapasitas Perut Seorang Bayi</li>
<p></strong><br />
Kenapa kolostrum diproduksi dalam jumlah yang sangat sedikit (setiap kali bayi menyusu pada hari-hari pertama, hanya minum 1-2 sendok teh kolostrum)..? Ini dikarenakan pada hari pertama kapasitas lambung seorang bayi baru lahir hanyalah sebesar 5-7ml setiap kali minum. </p>
<p>Iya, ukuran lambungnya hanya sebeser kelereng (gundu), dan dinding lambungnya tidak bisa melar untuk menampung lebih banyak cairan. Makanya bayi baru lahir HANYA membutuhkan kolostrum, kualitas dan kuantitasnya secara sempurna memenuhi kebutuhan sang bayi (<a href="http://www.llli.org/images/InfantStomach.jpg">http://www.llli.org/images/InfantStomach.jpg</a>). </p>
<p>Pada hari ke-3, ukuran lambung bayi membesar menjadi seukuran bola bekel, atau seukuran kepalan tangannya, sehingga sekali minum lambung sudah bisa menampung 22-27ml (biasanya pad ahari ke-3 ini, kolostrum mulai berubah menjadi ASI transisi dan volumenya juga bertambah). </p>
<p>Pada hari ke-7, lambung kembali membesar seukuran bola pingpong, dan bayi mulai bisa minum 45-60ml setiap kali menyusu. Hari ke-10, ukuran lambung bayi kurang lebih sama dengan telur ayam yang besar, dan kapasitasnya bertambah menjadi sekitar 60-81ml sekali minum (makanya pada usia sekitar 10-14 hari, bayi mengalami percepatan pertumbuhan yang pertama – lihat keterangan dibawah ini). </p>
<p>Kalau sudah tahu gini, jangan kaget ya kalau ternyata bayi anda menyusu setiap 1-1,5 jam atau bahkan kurang dari itu. Ternyata ukuran lambung bayi memang sangat kecil, jadi hanya bisa menampung sedikit setiap kali menyusu sehingga bayi perlu SERING menyusu.</p>
<p><strong>
<li>ASI Sangat Mudah Diserap dan Dicerna</li>
<p></strong><br />
Selain faktor ukuran lambung bayi yang memang kecil, ternyata ASI sangat mudah diserap dan dicerna oleh tubuh bayi. Semua nutrisi yang terkandung dalam ASI sangat cocok dan mudah diserap oleh pencernaan seorang bayi manusia, dan ASI mengandung enzim-enzim pencernaannya sendiri (<a href="http://www.enotalone.com/article/3606.html">http://www.enotalone.com/article/3606.html</a>). </p>
<p>Jadi bayangkan, begitu masuk kedalam lambung, ASI langsung dicerna dan diserap secara sempurna oleh tubuh bayi, ditambah dengan ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil. Tidak heran kan kalau bayi ASI lebih cepat dan mudah merasa lapar kembali.</p>
<p><strong>
<li>Produksi ASI: <em>Supply and Demand</em></li>
<p></strong><br />
Memang betul, selama periode menyusui, produksi ASI sangat ditentukan oleh prinsip <em>supply and demand</em>. Artinya, semakin sering payudara diisap dan dikosongkan, maka semakin sering dan semakin banyak ASI akan diproduksi. </p>
<p>Namun, hal tersebut tidak berlaku pada hari 1-3 setelah kelahiran bayi (<a href="http://www.kellymom.com/bf/supply/milkproduction.html">http://www.kellymom.com/bf/supply/milkproduction.html</a>), pada saat-saat tersebut produksi ASI lebih ditentukan oleh kerja hormon prolaktin. Tapi bayi tetap perlu sering menyusu untuk mendapatkan kolostrum secara maksimal, mengingat ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil. </p>
<p>Pada saat kolostrum berubah menjadi ASI transisi (sekitar hari ke-2 atau ke-3), maka mulailah prinsip <em>supply and demand</em> tersebut dan di masa-masa awal ini, terkadang antara <em>supply</em> dan <em>demand</em> belum cocok. Misalnya: demand bayi sudah besar, tetapi supply ASI masih sedikit sehingga bayi akan sangat sering menyusu (karena sering lapar dan untuk meningkatkan produksi ASI) dan menangis karena lapar. </p>
<p>Atau, <em>supply</em> ASI sudah sangat banyak, tetapi <em>demand</em>-nya masih sedikit. Walhasil bayi sering menangis pada saat sedang menyusu karena aliran ASI sangat banyak, atau menangis setelah selesai menyusu karena terlalu banyak menelan udara sehingga kembung.</p>
<p><strong>
<li>Percepatan Pertumbuhan (<em>Growth Spurt</em>)</li>
<p></strong><br />
Percepatan pertumbuhan tidak hanya terjadi pada bayi, tetapi hal ini akan terus terjadi sampai dengan bayi menjadi seorang remaja. </p>
<p>Namun pada bayi, kondisi ini biasanya hanya berlangsung sekitar 3 hari dan terjadi di usia 10-14 hari, 3 minggu, 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan (<a href="http://breastfeeding.about.com/od/breastfeedingbystage/a/growthspurts.htm">http://breastfeeding.about.com/od/breastfeedingbystage/a/growthspurts.htm</a>). </p>
<p>Pada periode ini, bayi mengalami pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental yang sangat cepat, sehingga membutuhkan ekstra kalori untuk mengimbanginya. Pada bayi ASI, ekstra kalori tersebut didapat dengan cara meningkatkan produksi ASI ibunya dan cara yang paling ampuh untuk meningkatkan produksi ASI adalah dengan bayi lebih sering menyusu. </p>
<p><strong>
<li>Faktor Psikis dan Kesehatan Fisik Ibu</li>
<p></strong><br />
Bayangkan skenario ini: seorang ibu baru saja selesai menyusui bayinya yang berusia 10 hari kemudian secara perlahan-lahan (supaya tidak membangunkan) meletakkan bayi tersebut di tempat tidurnya. 15 menit kemudian bayinya terbangun lagi dan menangis, dan si ibu kembali menyusui bayinya selama setengah jam. </p>
<p>Selesai menyusui, ibu beringsut-ingsut ke kamar mandi karena dari pagi belum mandi. Baru hendak melepaskan pakaian, terdengar lagi suara tangisan bayinya. Ibu menjadi stres, cemas, takut dan khawatir ASI-nya pasti tidak cukup/hanya sedikit sehingga bayinya jadi sering terbangun dan menangis karena lapar. </p>
<p>Belum lagi rasa capek, pegal, (sisa) sakit akibat persalinan, <em>baby blues</em>, dan pola makan yang belum teratur karena terlalu sibuk mengurus sang buah hati. </p>
<p>Kombinasi dari beberapa faktor diatas bisa mempengaruhi kelancaran ASI (<a href="http://www.breastfeed.com/articles/overcoming-difficulties/stressed-out-and-dried-up-3259/">http://www.breastfeed.com/articles/overcoming-difficulties/stressed-out-and-dried-up-3259/</a>), mempengaruhi kerja hormon oksitosin sehingga <em>Let Down Reflex (LDR)</em> menjadi terhambat dan bayi tidak dapat minum ASI dengan puas sampai kenyang.  Akibatnya, baru selesai disusui, bayi akan menangis lagi untuk minta disusui lagi karena sebenarnya dia belum kenyang. </p>
<p><strong>
<li>ASI Yang Diperah ≠ ASI Yang Diproduksi</li>
<p></strong><br />
Inilah kesalahan yang seringkali dilakukan oleh para ibu; memerah ASI untuk melihat berapa banyak ASI yang mereka hasilkan. Jumlah ASI yang berhasil diperah/dipompa hanya menunjukkan seberapa banyak si ibu bisa memerah/memompa ASInya, BUKAN seberapa banyak si ibu bisa memproduksi ASI. </p>
<p>Berapa banyak ASI yang bisa diperah/dipompa sangat tergantung pada beberapa hal, misalnya: apakah LDR berfungsi pada saat sedang memerah/memompa, seberapa lihai ibu memerah dengan tangan atau menggunakan pompa ASI, apakah teknik yang digunakan sudah benar, apakah pompa ASI dalam keadaan prima (tidak ada bagian yang rusak), dll. </p>
<p>Kemampuan ibu untuk memerah/memompa ASInya jauh dibawah kemampuan si bayi untuk mengisap dan mengeluarkan ASI dari payudara. Itupun bayi rata-rata hanya bisa ’mengosongkan’ payudara sekitar 70% dari kapasitas produksi.</p>
<p><strong>
<li>Posisi Menyusui dan Pelekatan</li>
<p></strong><br />
Mungkin salah satu hal yang paling menentukan apakah bayi dapat mengeluarkan ASI secara efektif dari payudara ibunya, sehingga dapat minum ASI sampai puas, adalah posisi menyusui (<a href="http://www.mayoclinic.com/health/breast-feeding/FL00096">http://www.mayoclinic.com/health/breast-feeding/FL00096</a>) serta pelekatan mulut bayi pada payudara si ibu (<a href="http://www.breastfeeding.com/helpme/helpme_images_latchon.html">http://www.breastfeeding.com/helpme/helpme_images_latchon.html</a>). </p>
<p>Banyak faktor yang mempengaruhi posisi dan pelekatan ini, seperti anatomi payudara (besar, kecil, dll) serta puting (besar, kecil, datar, dll) ibu dan anatomi mulut bayi (celah bibir, lidah pendek, dll). Apabila posisi menyusui dan/atau pelekatan mulut bayi masih kurang tepat, ada kemungkinan bayi tidak dapat mengeluarkan dan minum ASI secara maksimal dari payudara ibunya.  Akibatnya, walaupun bayi sering dan lama menyusunya, dia akan cepat menangis dan lapar kembali karena sebenarnya belum kenyang. </p>
<p><strong>
<li>Produksi ASI Memang Sedikit (1 dari 1000 Wanita)</li>
<p></strong><br />
Pada akhirnya, dari 1000 wanita yang mengaku ASInya sedikit atau kurang, ada 1 yang memang betul-betul tidak dapat menghasilkan ASI untuk mencukupi kebutuhan bayinya. Hal ini biasanya disebabkan oleh kelainan anatomi pada payudara dan/atau gangguan hormon ASI pada si ibu (<a href="http://www.lactationconsultant.info/how.html">http://www.lactationconsultant.info/how.html</a>).
</ol>
<h3>APA YANG DAPAT ANDA LAKUKAN…?</h3>
<p>Untuk (1), (2) dan (3), terimalah secara ikhlas bahwa keadaan bayi memang demikian, bayi tidak melakukan semua itu karena dia manja atau dengan tujuan memanipulasi dan dengan sengaja menyusahkan orangtuanya, tetapi karena memang bayi membutuhkannya. Untuk (4), (5), (6) dan (7), pelajari, waspadai dan antisipasi keadaan.</p>
<p>Dengan tahu bahwa kapasitas lambung bayi sangat kecil, bahwa ASI sangat mudah diserap, bahwa ASI diproduksi berdasarkan prinsip <em>supply and demand</em> dan bahwa bayi akan beberapa kali mengalami periode percepatan pertumbuhan, normal kan kalau bayi akan sering menyusu pada ibunya&#8230;? </p>
<p>Untuk (8), hindari kondisi ini. Otak ibu bagaikan sebuah komputer, apabila sudah terkena ’virus’ stres, cemas, khawatir, takut dan tidak percaya diri, maka kerja hormon-hormon ASI akan terhambat. Untuk (9), wah, hindarilah. Tidak perlu melakukan ini, salah-salah malah akan menambah ’virus’ di otak ibu. </p>
<p>Untuk (10), pelajari&#8230; pelajari dan pelajari. Silahkan ikut Kelas Edukasi AIMI: Breastfeeding Basics untuk mempraktekkan secara langsung berbagai posisi menyusui serta pelekatan mulut bayi pada payudara. Jangan ragu untuk meminta bantuan seorang konselor menyusui ataupun ke klinik laktasi apabila memang dirasakan ada masalah seputar posisi menyusui dan pelekatan bayi. </p>
<p>Untuk (11), apabila segala permasalahan (1) sampai (10) sudah berhasil diatasi namun ternyata produksi ASI memang sedikit (<a href="http://www.llli.org/FAQ/enough.html">http://www.llli.org/FAQ/enough.html</a>), dan setelah dilakukan pengecekan dan tes kesehatan bahwa memang ibu mengalami kelainan anatomi payudara ataupun gangguan hormonal yang menyebabkan produksi ASI sedikit, maka dapat diberikan suplementasi melalui ASI donor (<a href="http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/">http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/</a>) ataupun susu formula supaya bayi tidak terkena gejala ’failure to thrive’ (<a href="http://www.wrongdiagnosis.com/f/failure_to_thrive/intro.htm">http://www.wrongdiagnosis.com/f/failure_to_thrive/intro.htm</a>). </p>
<p>Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) sebagai salah satu bentuk suplementasi sangat tidak dianjurkan untuk bayi yang masih berusia dibawah 6 bulan (<a href="http://www.kellymom.com/nutrition/solids/delay-solids.html">http://www.kellymom.com/nutrition/solids/delay-solids.html</a>).</p>
<p>So mom, ternyata karena ukuran lambung yang kecil serta komposisi ASI yang sangat mudah diserap dan dicerna oleh bayi menyebabkan ia jadi sering menyusu. Apalagi ditambah dengan faktor <em>growth spurt</em> serta ingin selalu mendapatkan rasa aman dan nyaman, sepertinya bayi tidak pernah lepas dari dekapan kita ya&#8230;?</p>
<p>Menangis merupakan satu-satunya cara bagi bayi untuk berkomunikasi, tapi ingat, menangis tidak selalu berarti bayi sedang lapar. Pada saat bayi anda nanti tumbuh dewasa, menjadi manusia sempurna yang sehat, cerdas dan berakhlak baik, momen-momen ”berat” ini dimana seolah-olah bayi tidak pernah lepas dari payudara anda ternyata hanya merupakan ’sedetik’ dari perjalanan panjang hidupnya, dan momen-momen itu akan berlalu dalam sekejap.</p>
<p>Breastfeed with love&#8230;!!!</p>
<p>Salam ASI!<br />
Mia Sutanto, SH, LL.M<br />
Konselor Menyusui – Ketua AIMI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/02/bayi-sering-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>81</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

