<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Berita</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/category/berita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 01:59:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Siaran Pers: AIMI Selenggarakan Workshop ASI Untuk Ustadz dan Ustadzah ke-3</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/01/siaran-pers-aimi-selenggarakan-workshop-asi-untuk-ustadz-dan-ustadzah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/01/siaran-pers-aimi-selenggarakan-workshop-asi-untuk-ustadz-dan-ustadzah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 01:59:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadz]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadzah]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1768</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA &#8212; Untuk ketiga kalinya hari ini (29/1) Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) kembali menyelenggarakan Workshop ASI untuk para ustadz dan ustadzah di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta. Tujuan dari Workshop yang telah diselenggarakan sejak tahun 2010 ini adalah untuk memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai pemberian ASI, memaparkan bahaya pemberian formula, serta menekankan kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA &#8212; Untuk ketiga kalinya hari ini (29/1) Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) kembali menyelenggarakan Workshop ASI untuk para ustadz dan ustadzah di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta. Tujuan dari Workshop yang telah diselenggarakan sejak tahun 2010 ini adalah untuk memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai pemberian ASI, memaparkan bahaya pemberian formula, serta menekankan kembali anjuran pemberian ASI dari sudut pandang agama.</p>
<p>Menurut Inna Banani, Ketua Divisi Edukasi AIMI, mengangkat tema ASI dari sudut pandang agama dianggap penting untuk mempertajam dakwah yang dilakukan ustadz/ustadzah kepada para jamaahnya. “Para ustadz/ustadzah sering berhadapan langsung dengan masyarakat dan dipercaya untuk menjawab berbagai pertanyaan, termasuk mengenai menyusui,” jelasnya. </p>
<p>Peserta workshop kali ini berasal dari perorangan maupun utusan dari beberapa organisasi dengan ragam latar belakang seperti yayasan pendidikan, lembaga dakwah nasional, BAZNAS, dan majelis taklim. Peran serta tokoh agama diharapkan dapat menjadi salah satu kunci keberhasilan menyusui, karena mereka dapat meyakinkan nilai kebaikan dari pemberian ASI dari sisi syariah kepada para pengikutnya.</p>
<p>Narasumber dalam workshop kali ini adalah para ahli dibidangnya, yaitu Dr. Ali Nurdin, M.A., Dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA, IBCLC, FABM, serta Dr. Asti Praborini, Sp.A., IBCLC. Ketiganya akan mengupas lebih dalam anjuran ASI dalam Al-Qur’an dan informasi terkini mengenai perkembangan ASI dari sisi medis dan kesehatan masyarakat.***</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><small><strong>Fact Sheet AIMI</strong>:<br />
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS lt. 1<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. RS. Fatmawati no. 39, Jakarta<br />
Telp: 021.72790165 Fax: 021.72790166<br />
<a href="http://www.aimi-asi.org">www.aimi-asi.org</a> |<a href="http://twitter.com/aimi_asi">@aimi_asi</a><br />
</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/01/siaran-pers-aimi-selenggarakan-workshop-asi-untuk-ustadz-dan-ustadzah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Australian Breastfeeding Association (ABA) International Conference</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 00:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tengku Arisma Mellina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ABA]]></category>
		<category><![CDATA[Australian Breastfeeding Association]]></category>
		<category><![CDATA[Conference]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1672</guid>
		<description><![CDATA[Syukur Alhamdulillah saya dapat mengikuti konferensi internasional yang di selenggarakan oleh Australian Breastfeeding Association (ABA) di Canberra tanggal 20 &#8211; 21 Oktober 2011 dengan tema “Step Up Reach Up: Developing an Inclusive Breastfeeding Society“. Peserta konferensi sebagian besar berasal dari Australia, baik para relawan ABA maupun tenaga medis. Perwakilan dari Indonesia antara lain dr. Asti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syukur Alhamdulillah saya dapat mengikuti konferensi internasional yang di selenggarakan oleh <em>Australian Breastfeeding Association (ABA)</em> di Canberra tanggal 20 &#8211; 21 Oktober 2011 dengan tema “<em>Step Up Reach Up: Developing an Inclusive Breastfeeding Society</em>“. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1674" />Peserta konferensi sebagian besar berasal dari Australia, baik para relawan ABA maupun tenaga medis. Perwakilan dari Indonesia antara lain dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC, dr. B. Wirastari, SpA, IBCLC dan saya sendiri sebagai perwakilan dari AIMI.</p>
<p>Senang sekali rasanya berkesempatan untuk bertatap muka langsung dengan beberapa “petinggi” di ABA untuk mengenalkan AIMI. Respon dari mereka sangat positif. AIMI mengingatkan mereka pada ABA pada tahun 1964, saat didirikan oleh beberapa orang saja dan saat ini sudah menjadi organisasi skala nasional yang besar. Mereka optimis AIMI akan menjadi sebesar ABA karena apa yang dilakukan AIMI adalah hal yang mulia dan didukung oleh orang banyak. Amiiin ☺</p>
<p>Sebelum konferensi dimulai pada tanggal 20 Oktober 2011, saya mengikuti workshop Pra-konferensi yang diselenggarakan pada tanggal 19 Oktober 2011 di National Gallery of Australia, Canberra. Dari ketiga pilihan workshop:</p>
<p>a.	Baby Friendly Initiatives<br />
b.	Communication Skills to Support Breastfeeding<br />
c.	Breastfeeding Essentials for Medical Practitioners</p>
<p>Saya memilih workshop yang kedua. Workshop “<em>Communication Skills to Support Breastfeeding</em>” dibawakan oleh Janet Sullivan (Cert IV Breastfeeding Education (counseling &#038; community), Cert IV Training &#038; Assessment, Diploma of Training &#038; Assessment) dan Janette Timmermans (IBCLC, Cert IV Breastfeeding Education, Facilitator Breastfeeding Drop-in Centre).</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-2-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference-2" width="300" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1676" />Workshop ini di selenggarakan dengan cara presentasi yang interaktif dengan role-play dan diskusi terbuka. Tujuan dari workshop ini pengkinian teknik konseling dan juga sharing pengalaman melakukan konseling antar sesama konselor menyusui. Ada beberapa hal yang menarik dari workshop ini. Misalnya, ternyata di Australia produk formula yang ada label paling tinggi tingkatannya “gold” sedangkan di Indonesia sudah “platinum”. Kalau dari artinya sih kelihatannya lebih bagus yang platinum ya. Tapi dalam hal ini hanyalah sebuah nama untuk kepentingan komersil saja, jadinya sedih deh ☹. Hal lain yang menarik yaitu, ternyata di Indonesia lebih bebas untuk dapat menyusui di tempat umum terlebih belakangan ini sudah semakin banyak fasilitas ruang menyusui di tempat-tempat umum. Sedangkan di Australia sendiri, masih susah untuk dapat menysui di tempat umum tanpa mendapat pandangan yang sinis atau tidak menyenangkan. Bahkan di tempat-tempat umum seperti restoran, ibu yang sedang menyusui akan di tegur oleh pelayan atau manager restoran dengan alasan bukan tempat yang tepat untuk menyusui. Untuk hal ini, saya sangat bersyukur Indonesia lebih baik.</p>
<p><strong>Konferensi</strong></p>
<p>Waah deg-degan banget  waktu datang ke National Convention Centre pada 20 Oktober 2011 jam 8:30 pagi. Tempatnya sangat besar dan pesertanya banyak banget. Untuk daftar ulang saja, dari abjad A sampai Z antrian panjang semua. Pemandangan yang menyenangkan terlihat dimana ada panitia yang melayani peserta konferensi dengan ramah sambil menggendong bayinya. Selain itu, pada saat Opening Plenary session, peserta berlomba mencari tenpat duduk di paling depan. Peserta yang membawa stroller mendapat kemudahan untuk dapat duduk di depan. Selama acara berlangsung pun sangat bebas bagi peserta untuk menyusui  dan duduk di bawah bersama anaknya (ada juga yang selonjoran di dekat pintu keluar). Hal-hal ini tidak mengurangi konsentrasi peserta lain untuk mendengarkan seluruh presentasi yang diberikan oleh narasumber.</p>
<p>Konferensi dibuka oleh Mrs. Jannette Philips dengan pidato “<em>Welcome to Country</em>”. Kemudian opening speech dibawakan oleh Tara Moss, mantan model Australia, penulis novel kriminal dan UNICEF Patron for Breastfeeding. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-tara-moss-300x225.jpg" alt="" title="12-tara-moss" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1679" />Opening speech Tara Moss “<em>A new Role and an old debate</em>” sangat inspiratif terutama bagi ibu baru. Tara menceritakan bagaimana dia mulai peduli tentang menyusui pada saat ia melahirkan putri pertamanya. Pada masa kehamilan, ia cemas karena akan merasa malu jika menyusui di tempat umum. Ia pun dihantui cerita-cerita “horror” mengenai menyusui. Setelah mengetahui lebih dalam tentang menyusui, ia sangat terkesima dengan kenyataan bahwa ASI bukan hanya sebagai sumber nutrisi bagi bayinya tapi juga mengandung stem cells and antibodi. Tara juga takjub bahwa menyusui adalah kegiatan yang sangat natural dan menyenangkan bagi ibu dan bayi. </p>
<p>Dalam pidatonya, Tara mengutip kalimat dari Helena Bonham Carter (aktris pemeran Belatrix di film Harry Potter): </p>
<blockquote><p>“People say, ‘you’re still breastfeeding, that’s so generous. Generous, No! It gives me boobs and it takes my thighs away! It’s sort of like natural liposuction. I’d carry on breastfeeding for the rest of my life if I could”.</p></blockquote>
<p>Peserta bertepuk tangan setelah Tara mengucapkan kalimat tersebut. Suatu kalimat yang “dibenarkan” oleh  banyak ibu-ibu yang berhasil menyusui. Pidato Tara Moss dapat dibaca di blog pribadinya <a href="http://blog.taramoss.com/">http://blog.taramoss.com</a> (<a href="http://blog.taramoss.com/index.php?itemid=679">23/10: A new role and and old debate</a>).</p>
<p>Selanjutnya presentasi dari Prof. Peter Hartmann dari Human Lactation Research Group dengan tema “<em>Developing an inclusive breastfeeding society in Australia</em>”.  Prof. Hartmann menyinggung mengenai &#8220;<em>why breast beats formula</em>&#8221; atau mengapa menyusui mengalahkan formula. Salah satu diantaranya adalah menyusui dapat meningkatkan IQ ibu. Prof. Hartmann menyebutkan hasil riset Kingsley CH and Lambert KG (2006) yang dipublikasikan dalam Journal of Scientific American 294:58-65 (the maternal brain): </p>
<blockquote><p>“Perubahan pada otak wanita yang disebabkan hormon di masa kehamilan, kelahiran dan menyusui membuat para ibu lebih berhati-hati dan penyayang. Selain itu, kemampuan belajar dan memori spasial menunjukkan peningkatan dalam jangka panjang&#8221;.</p></blockquote>
<p>Berikutnya Randa Saadeh dari WHO memberikan presentasi berjudul “<em>Breastfeeding and Child Survival: Translating Policies into Action</em>” yang dilanjutkan dengan morning tea.</p>
<p>Pada hari kedua, plenary session diisi dengan presentasi dari Dr. Suzanne Colson dari Church University, England mengenai “<em>Biological Nurturing and The Laid-Back Breastfeeding Revolution: The Research Evidence</em>”. Dr. Colson memperkenalkan sebuah revolusi terbaru dalam menyusui, yaitu posisi menyusui “<em>laid back</em>” atau bersandar yang membuat ibu lebih rileks, bayi dapat menyusu/melekat sendiri, ruang untuk bayi menyusui juga lebih luas karena perut ibu menjadi lebih panjang. Berbagai informasi mengenai <em>Biological Nurturing</em> dan <em>Laid-Back Position</em> dapat dilihat di <a href="http://www.biologicalnurturing.com/">www.biologicalnurturing.com</a>.</p>
<p>Dalam konferensi dua hari ini terdapat 24 sesi yang dapat dipilih oleh peserta. Sayangnya, peserta hanya bisa memilih 2 sesi per hari, padahal semua tema sangat menarik. Dengan penuh kebingungan mau memilih yang mana akhirnya saya memilih:</p>
<ol>
<li><strong>Breastfeeding Support in Challenging Circumstances</strong>. Dibawakan oleh 3 narasumber. Gwen Moody dari Westmead Hospital, NSW, berbicara mengenai penanganan ibu yang sakit tetapi tetap menyusui. Judy Russel dan Ms. Anita Moorhead dari Royal Women’s Hospital Melbourne, Victoria, berbicara mengenai rumah sakit yang mendukung dan yang tidak mendukung menyusui. Dan yang terakhir – dan menurut saya paling menarik &#8211; yaitu presentasi dari Dr. Lenore Goldfarb dari Goldfarb Breastfeeding Clinic, Montreal, Quebec, Kanada mengenai “Induced Lactation”, seorang ibu yang mengadopsi anak pun bisa menyusui bayinya. Pada saat sesi tanya jawab, Dr. Goldfarb menegaskan bahwa tidak ada yang bisa menentukan berasa lama fase kolostrum menjadi asi matang, karena setiap ibu berbeda dan yang tahu hanya bayinya.  Jadi, proses menyusui harus dilakukan dari awal dan tidak berhenti.</li>
<li><strong>Breastfeeding Support, what mothers want and what works</strong>. Dengan 3 narasumber dari ABA breastfeeding help-line yaitu Ruth Berkowitz, Debbie Yates dan Nerida May, sebagai Managers ABA Breastfeeding Help-line. Ruth Berkowitz menerangkan bagaimana tipe-tipe penelepon selama 20 tahun dan bagaimana konselor menyusui menanganinya. Debbie Yates dan Nerida May menjelaskan mengenai hotline menyusui 24 jam dengan nomor telepon 1800-mum-2-mum. Hotline ini sebagian disponsori oleh pemerintah dan perusahaan telekomunikasi sehingga dapat berkembang hingga jangkauan nasional dan sistematis. Profil penelepon terbanyak yaitu ibu (98%), dengan 1 anak (69%), berumur 34-42 tahun (42%) dan tinggal di kota (76%). Pertanyaan–pertanyaan yang sering ditanyakan antara lain permasalahan puting dan payudara (24,4%), meyakinkan ibu (18,7%), posisi dan pelekatan (10%), khawatir ASI sedikit (19,4%), memerah dan menyimpan asi (15%) dan lamanya menyusui (11%). Yang menarik, pertanyaan-pertanyaan tersebut juga merupakan pertanyaan yang umum ditanyakan dalam konseling melalui telepon ke AIMI. Jadi setidaknya di dua negara (Indonesia dan Australia) permasalahan ibu menyusui sama dan solusi yang ditawarkan pun sama.</li>
<li><strong>Evidence Based Management of Three Breastfeeding Issues</strong>. Tiga masalah dalam menyusui yang dibahas disini salah satunya All Burns is not Thrush oleh Dr. Moira McCaul dari Adeleide Health Care. Catatan penting dari presentasi ini adalah perlunya pengamatan lebih jauh jika menemukan permasalahan dengan puting, akan tetapi umumnya disebabkan oleh pelekatan yang kurang tepat. Pelekatan yang kurang tepat bisa juga disebabkan bayi memiliki tongue tie. Presentasi kedua dibawakan oleh Lynette Slatter dari Royal Women’s Hospital, Melbourne mengenai Tongue Tie, Score Low-Score High, Way to Go? Topik yang paling menarik karena sedang menjadi perdebatan di kalangan medis juga umum, teruatama dalam hal menyikapi tongue tie/ankyloglossia atau tali lidah pendek. Dikutip dari buku “Tongue Tie and Breastfeeding: a review of the literature” (J. Edmunds, S. Miles and P. Fulbrook, 2001):</li>
<ul>
<li>Tongue tie secara negatif mempengaruhi proses menyusui, </li>
<li>Jika tidak ada pengaruh terhadap proses menyusui, maka tidak perlu dilakukan tindakan apapun, </li>
<li>Bukti menunjukkan bahwa jika tongue tie mempengaruhi proses menyusui, maka frenotomi dapat membantu dan merupakan prosedur yang sederhana, aman dan efektif,</li>
<li>Bukti kurangnya konsensus mengenai manajemen tongue tie dengan beberapa tenaga medis tidak mendukung intervensi bedah,</li>
<li>Adalah penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya keefektifan dan keamanan frenotomi </li>
</ul>
<p>Selanjutnya adalah presentasi dari Carole Dobrich dari Goldfarb Breastfeeding Clinic, Canada, mengenai <em>Breasfeeding Mothers and Open Nipple Wounds, Standard Care vs Novel Treatment</em>, yang lagi-lagi menyinggung mengenai salah satu penyebab utama dari puting luka adalah karena pelekatan yang kurang tepat.</p>
<li><strong>Removing Barriers to Breastfeeding</strong>. Diambil dari The Victorian Breastfeeding Project serta presentasi mengenai peranan ayah dalam mendukung menyusui di kebudayaan yang berbeda (Australia, Jepang, China, Vietnam, Malaysia dan kepulauan Maldives). Menurut penelitian, dukungan ayah terhadap proses menyusui masih sangat kurang terutama di kalangan muda. Padahal peranan ayah sangat penting dalam menentukan keberhasilan menyusui. Dukungan suami adalah dukungan yang paling besar dampaknya. Untuk itu, sangat diperlukan sosialisasi peranan penting seorang ayah mendukung istrinya menyusui.</li>
</ol>
<p>Konferensi ditutup dengan diskusi panel bersama seluruh narasumber, mengenai dukungan untuk ibu menyusui.</p>
<p>Diluar ruang konferensi, terdapat beberapa booth dari sponsor, ABA, Lactation Resource Centre, Mothers Direct, IBCLE (International Board of Lactation Consultant Examiners). Juga terdapat presentasi poster dari beberapa negara.</p>
<p><strong>Konselor Menyusui, Sahabat Ibu Menyusui</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-3-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference-3" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1677" />Pengalaman ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Kesempatan yang sangat jarang dimana saya dapat bertemu dan mendengar langsung berbagai informasi dari para pakar laktasi. </p>
<p>Belum lagi kesempatan bertukar cerita dan pengalaman dengan para konselor menyusui dan sukarelawan ABA.  AIMI yang umurnya belum sampai 5 tahun dapat belajar banyak dari pengalaman mereka yang sudah terjun langsung mendampingi dan mendukung ibu menyusui dengan <em>peer-to-peer support</em> selama hampir 50 tahun.</p>
<p>Dari semua teori dan hasil penelitian yang telah dipaparkan, yang terpenting bagi seorang konselor menyusui adalah menjadi sahabat bagi ibu menyusui, yang mendukung dan memberikan informasi yang relevan. Peranan peer-group, antara sesama ibu juga sangat dirasakan manfaatnya. Para ibu menyusui dalam kelompoknya dapat saling menguatkan dan mendukung karena berada pada satu level yang sama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Jawaban AIMI Atas Pemberitaan detik.com pada Jumat, 07/10/2011 17:50 WIB</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/10/siaran-pers-jawaban-aimi-atas-pemberitaan-detik-com-pada-jumat-07102011-1750-wib/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/10/siaran-pers-jawaban-aimi-atas-pemberitaan-detik-com-pada-jumat-07102011-1750-wib/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 02:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1610</guid>
		<description><![CDATA[Link http://finance.detik.com/read/2011/10/07/174805/1739299/1036/pengusaha-keberatan-aturan-asi-eksklusif-6-bulan?f9911023 Menyusui bukan sekedar memberikan makan untuk bayi, tetapi juga mengalirkan cinta, memberikan yang terbaik untuk bayi dari segi intelegensia dan kesehatan lahir batin. Mendapatkan ASI, adalah HAK anak-anak kita, generasi penerus bangsa. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar bagi para ibu bekerja, untuk tetap bisa berjuang memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Link <a href="http://finance.detik.com/read/2011/10/07/174805/1739299/1036/pengusaha-keberatan-aturan-asi-eksklusif-6-bulan?f9911023">http://finance.detik.com/read/2011/10/07/174805/1739299/1036/pengusaha-keberatan-aturan-asi-eksklusif-6-bulan?f9911023</a></p>
<p>Menyusui bukan sekedar memberikan makan untuk bayi, tetapi juga mengalirkan cinta, memberikan yang terbaik untuk bayi dari segi intelegensia dan kesehatan lahir batin. Mendapatkan ASI, adalah HAK anak-anak kita, generasi penerus bangsa. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar bagi para ibu bekerja, untuk tetap bisa berjuang memberikan yang terbaik bagi buah hatinya.</p>
<p>Adanya kewajiban menyusui secara eksklusif selama 6 bulan hendaknya tidak dijadikan landasan kekhawatiran para pengusaha terhadap proses bisnis, melainkan dianggap sebagai salah satu iklim yang kondusif bagi ibu bekerja untuk dapat berkarir sekaligus memberikan nutrisi terbaik bagi anaknya.</p>
<p>Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) terkait ASI merupakan peraturan pelaksana yang diamanatkan oleh Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, di Pasal 128 ayat (2) jelas disebutkan bahwa selama melaksanakan ASI eksklusif, seluruh komponen masyarakat harus mendukung dengan memberikan fasilitas khusus, RPP ini menjabarkan lebih lanjut fasilitas khusus tersebut yaitu salah satunya ruang menyusui di tempat kerja.  </p>
<p>Hak ibu untuk terus menyusui bayinya walaupun kembali kerja juga sudah lama diatur dalam berbagai perundangan di Indonesia, yang sangat jelas mengatur ada di Pasal 83 Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, jadi sangatlah tidak relevan jika pengusaha baru sekarang tidak menyetujui kalau ibu menyusui dapat melaksanakan haknya memerah asi di kantor, dengan menyediakan ruang laktasi.</p>
<p>AIMI pun sangat menyayangkan statement dari APINDO yang menyatakan bahwa menyediakan ruang laktasi akan mempengaruhi iklim bisnis di Indonesia. Memberikan ASI bukan hanya bermanfaat bagi karyawan perempuan yang bersangkutan saja, namun juga untuk perusahaan.</p>
<p>Bagi perusahaan, jika ibu memberi ASI pada anaknya akan menghemat pengeluaran untuk pengobatan/asuransi kesehatan, karena bayi yang diberi ASI eksklusif terbukti lebih jarang sakit dan dirawat di rumah sakit dibanding  bayi yang diberi susu formula. </p>
<p>Hasil Riset Cohen R, et. al, Am. J. Health Promotion (1995; 10:148-53) dalam &#8220;<em>Comparison of maternal absenteeism and infant illness rates among breast feeding and formula-feeding women in 2 corporations</em>&#8221; menyatakan bahwa 28% bayi dalam penelitian ini tidak pernah sakit selama periode penelitian. Dari 28% itu, 86% adalah bayi yang mendapat ASI, 14% adalah bayi yang mendapat  formula. </p>
<p>Dari kelompok bayi yg pernah mengalami sakit, ada 40 kejadian yg menyebabkan ibu tidak masuk kerja (dari total 73 bayi sakit). Absensi ibu tidak menyusui yang tidak masuk kerja karena bayi sakit 2 kali lipat lebih banyak dibanding ibu menyusui, yaitu 26% ibu tidak menyusui dan 11% ibu menyusui.</p>
<p>Pemberian ASI eksklusif turut berkontribusi dalam menghemat devisa negara, mengurangi impor formula dan peralatan lain untuk persiapan atau penyajiannya. Bayi yang sehat adalah cikal bakal Negara yang kuat. ASI eksklusif pun turut andil dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak. </p>
<p>Dalam hal cinta lingkungan, pemberian ASI eksklusif dapat mengurangi limbah pengolahan susu formula dan limbah kemasannya. ASI adalah sumber daya yang terus menerus diproduksi dan dapat diperbaharui, tanpa biaya produksi.</p>
<p>Bayangkan jika anak para karyawan perempuan ini selalu sehat berkat ASI. Hal ini akan mengurangi kemungkinan karyawan perempuan tidak masuk kerja karena alasan sakit. Jika anaknya sehat, ibu bekerja lebih produktif karena dikantor pun tidak perlu dalam keadaan stress sambil memikirkan kondisi anak dirumah.</p>
<p>Lebih jauh, imbasnya pun dapat dirasakan terhadap klaim &#8220;sakit&#8221; karyawan dan keluarganya, jika anak sehat, keluarga sehat, tentunya karyawan dapat dengan tenang bekerja tanpa dibebani pikiran-pikiran urusan anak sakit dan sebagainya.</p>
<p>Kekhawatiran APINDO bahwa hal ini bisa menimbulkan pengaturan baru soal cuti melahirkan juga terlalu jauh.  Cuti melahirkan diatur berdasarkan UU No. 13/2003, jika hendak diubah harus dengan peraturan yang setingkat juga yaitu UU, tidak mungkin diatur di PP apalagi Perda dan aturan-aturan di bawah UU.</p>
<p>Pemerintah tentunya akan mengatur lebih jauh tentang pengadaan ruang laktasi dengan mempertimbangkan kondisi perusahaan. Jika perusahaan bisa menyediakan fasilitas yang lengkap seperti kulkas, dispenser, wastafel dan tak ketinggalan waktu yang dibutuhkan untuk memerah ASI, tentunya ini akan sangat kami apresiasi. Kalaupun tidak bisa menyediakan fasilitas yang lengkap, cukuplah berikan ruangan yang bersih dan private, minimal dapat dikunci dari dalam. Paling tidak, tidak ada lagi ibu bekerja yang harus memerah ASI di dalam toilet yang masih banyak dilakukan oleh para karyawati saat ini.</p>
<p>*****<br />
<strong>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)</strong><br />
Graha MDS lt1. Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. RS Fatmawati no 39. Jakarta 12150<br />
Telp: 021-72787243<br />
Fax: 021-72790165<br />
Email: kontak@aimi-asi.org<br />
www.aimi-asi.org </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/10/siaran-pers-jawaban-aimi-atas-pemberitaan-detik-com-pada-jumat-07102011-1750-wib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusui; InvestASI untuk Masa Depan GenerASI &amp; Dunia yang Sehat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/09/menyusui-investasi-untuk-masa-depan-generasi-dunia-yang-sehat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/09/menyusui-investasi-untuk-masa-depan-generasi-dunia-yang-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 02:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[OABF8]]></category>
		<category><![CDATA[One Asia Breastfeeding Forum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1589</guid>
		<description><![CDATA[One Asia Breastfeeding Forum ke-8 telah berlangsung tgl. 14-16 September 2011 lalu. AIMI sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia turut menghadiri acara tahunan ini yang diwakili oleh wakil ketua umum, Nia Umar. Berikut oleh-oleh dari beliau tentang OABF8 yang diselenggarakan di Mongolia tersebut. Semoga bermanfaat bagi kita semua.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Antara Beijing menuju Jakarta, 20 September 2011.</em></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-OABF8-1-300x176.jpg" alt="" title="09-OABF8-1" width="300" height="176" class="alignleft size-medium wp-image-1592" />Buat saya, tidak ada yang lebih berat selain perasaan campur aduk antara hendak pergi ke suatu tempat yang benar-benar belum pernah dikunjungi sebelumnya tapi dibarengi juga perasaan sedih harus meninggalkan keluarga di Indonesia. Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan yang amat menarik (dan mudah-mudahan bermanfaat juga) untuk menghadiri &#8216;One Asia Breastfeeding Partners Forum 8&#8242; (OABPF8) yang diselenggarakan di Ulaan Baatar, Mongolia pada 14-16 September 2011 lalu. Kebetulan saya mewakili AIMI dan juga satu-satunya perwakilan Indonesia pada forum ini.</p>
<p>OABPF8 ini sudah setiap tahun diadakan di negara-negara Asia yang tahun lalu baru saja diadakan di Jakarta. Tema yang diangkat tahun ini adalah &#8220;<em><strong>Food Security &#038; Climate Change</strong></em>&#8220;. Ada pun negara-negara yang berpartisipasi tahun ini dibagi dalam 3 region; </p>
<ol>
<li>Asia Selatan yang terdiri dari: India, Srilanka, Bhutan, Nepal, Bangladesh dan Afghanistan. </li>
<li>Asia Timur yang terdiri dari: Mongolia, Republik Rakyat China, Korea Selatan, Taiwan dan Hong Kong.</li>
<li>Asia Tenggara yang terdiri dari: Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam dan Thailand.</li>
</ol>
<p>Tema kali ini bukan tanpa alasan diangkat pada OABPF8 kali ini. Sudah banyak penelitian dan riset yang menunjukkan resiko pemberian formula pada bayi, namun seringkali kita luput bahwa pemberian formula juga menghasilkan banyak sekali sampah dan limbah yang mempengaruhi lingkungan. Belum lagi ketersediaan pangan yang ikut terpengaruh dengan kondisi pemanasan global yang merupakan dampak langsung dari pencemaran yang manusia sendiri lakukan di dunia ini.</p>
<p><strong>Hari Pertama: Kaitan Menyusui dengan Ketersediaan Pangan &#038; Perubahan Iklim</strong> </p>
<p>Hari Rabu 14 September 2011 acara OABPF8 resmi dibuka oleh Menteri Kesehatan Mongolia yang secara langsung memberikan sambutan dengan memaparkan kondisi menyusui dan status pemberian makan pada anak di Mongolia. Banyak hal menarik yang beliau sampaikan dalam sambutannya diantaranya bagaimana menyusui merupakan kebiasaan yang alamiah dan dilakukan banyak sekali ibu di Mongolia. Keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen pemerintah Mongolia mejalankan program Rumah Sakit Sayang Bayi di semua RS di Mongolia.</p>
<p>Tingginya angka ibu yang menyusui juga diikuti dengan rendahnya angka kematian ibu dan bayi di Mongolia. Hal ini sangat menarik untuk menjadi catatan bagi kita, karena sampai saat ini program RS Sayang Bayi belum (kembali) menjadi program pemerintah yang wajib dijalankan di setiap fasilitas kesehatan.</p>
<p>Acara lalu dilanjutkan dengan sambutan dari beberapa pihak seperti dr. Arun Gupta yang merupakan Ketua IBFAN Asia yang menjadi penyelenggara dari OABPF8 bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan Mongolia dan didukung penuh juga oleh <em>Mongolian Pediatric Society</em> dan <em>Mongolian Maternal &#038; Child Health Center</em>.</p>
<p>Setelah itu acara dilanjutkan dengan presentasi mengenai emisi gas buang yang dihasilkan dalam rantai produksi pembuatan formula. Presentasi ini sangat mencerahkan buat saya karena banyak sekali informasi yang menunjukkan bahwa rantai produksi formula yang begitu panjang mulai dari peternakan sapi yang menghasilkan banyak sekali limbah yang mengotori lahan dan air. Belum lagi emisi gas buang yang dihasilkan sapi yang punya peran besar juga dalam pemanasan global. Rantai produksi ini masih terus berjalan yang diteruskan dengan dibawanya susu sapi ke pabrik dengan truk yang membutuhkan bahan bakar, lalu susu masuk pabrik yang membutuhkan banyak sekali tenaga listrik dan juga menghasilkan limbah yang juga besar. Lalu formula dimasukkan ke dalam kemasan (kemasan ini biasanya datang dari pabrik lain yang menggunakan transportasi dan rantai produksi yang juga tidak kalah rumitnya) dan lalu kembali masuk ke kendaraan pengangkut untuk didistribusikan. Ini menambah lagi emisi gas buang dari truk. </p>
<p>Singkatnya, formula sampai di toko dan ingat, produk ini belum sampai ke tangan pembeli loh! Para konsumen musti harus mengeluarkan biaya dan energi untuk mendapatkan formula ini yang lagi-lagi menghasilkan emisi gas buang seperti asap dari kendaraan yang dipakai, gas yang dipakai untuk memasak air, air bersih yang dipakai untuk menyeduh formula dan seterusnya. Bandingkan dengan menyusui yang mungkin satu-satunya energi yang dikeluarkan adalah pembakaran energi pada tubuh ibu (yang buat banyak ibu ini menyenangkan karena sekalian membakar lemak dalam tubuh hehehe). Presentasi ini dibawakan dengan baik oleh seorang mahasiswi dari <em>South Carolina University</em>, Amerika Serikat, Melisa Tinling.</p>
<p>PresentASI berikutnya disampaikan oleh Velvet Escario-Roxas, delegASI dari Filipina yang juga ibu menyusui dua putri yang menyampaikan sisa karbon yang tersisa pada rantai produksi formula yang mungkin sering luput dari pengamatan kita dan meninggalkan bekas pada tanah, air dan udara yang kita tinggali.</p>
<p>Velvet juga menyampaikan bahwa limbah yang dihasilkan formula punya banyak sekali peran dalam kondisi perubahan iklim di dunia saat ini. Beberapa riset dipaparkan pada presentasinya yang menyoroti betapa menyusui merupakan kegiatan alamiah yang tidak menghasilkan sampah sama sekali. Sedangkan formula sebaliknya sangat tidak ramah lingkungan. Penuturan yang disampaikan bisa akan lebih panjang lagi jika kita akan membahas penggunaan botol, dot, empeng dan alat-alat lainnya yang biasanya dipakai dalam pemberian formula.</p>
<p>Kedua presentASI diatas menunjukkan bahwa menyusui adalah investASI yang tidak hanya untuk kesehatan anak-anak kita namun untuk dunia yang akan mereka tinggali kelak. Menyusui tidak hanya dilihat dari aspek kesehatan, banyak sekali aspek lain yang terlibat dan membutuhkan banyak sekali pihak yang harus turut mendukung keberhasilan seorang ibu menyusui.</p>
<p>Setelah makan siang, acara OABPF8 dilanjutkan dengan presentASI dari masing-masing negara tentang status World Breastfeeding Trends initiatives (cek: <a href="http://www.worldbreastfeedingtrends.org">www.worldbreastfeedingtrends.org</a>).</p>
<p>Acara hari pertama ini diakhiri dengan presentASI dari dr. Soh delegASI Korea Selatan yang menuturkan bahwa kampanye untuk mencintai dan menjaga lingkungan sudah sering didengungkan pemerintah dan banyak lembaga. Hal ini sudah menjadi agenda dari banyak negara juga. Menyusui yang merupakan kegiatan yang tidak menghasilkan sampah (kecuali mungkin emisi gas buang si ibu dan bayi hehehe&#8230; :p). Beliau menunjukkan betapa menyusui seharusnya menjadi salah satu kegiatan utama dari kampanye lingkungan.</p>
<p><strong>Hari Kedua: Pemberian MP-ASI dalam Konteks Lokal</strong></p>
<p>Pada hari kedua ini pembahasan masuk ke <em>complementary feeding</em> atau MP-ASI. Bagaimana pemberian MP-ASI yang berkualitas dan menggunakan bahan-bahan dalam konteks lokal menjadi prioritas tugas kita bersama dalam agenda kerja. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-nia-present-300x210.jpg" alt="" title="09-nia-present" width="300" height="210" class="alignleft size-medium wp-image-1593" />Semua delegASI mempresentasikan resep-resep lokal untuk anak usia 6-8 bulan, 8-10 bulan, 10-12 bulan dan resep MP-ASI untuk anak malnutrisi. Ini adalah contoh presentasi saya untuk resep dalam konteks lokal dengan menggunakan tempe yang merupakan salah satu bahan makanan yang mudah dan murah untuk Indonesia.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-mpasi-recipes-300x224.jpg" alt="" title="09-mpasi-recipes" width="300" height="224" class="alignright size-medium wp-image-1594" />Semua peserta memberikan resep-resep yang menarik dan rencananya IBFAN akan membuat kompilASI buku resep MP-ASI ini untuk bisa menjadi bahan acuan untuk kita semua. Khusus delegASI Mongolia, mereka dengan khusus mendatangkan semua resep yang ditampilkan dalam satu sesi sehingga kita semua bisa mencobanya.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/09/09-cultural-night-300x225.jpg" alt="" title="09-cultural-night" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1595" />Hari kedua ini ditutup dengan <em>cultural night</em>, semua peserta harus memberikan hiburan dari negara asal. Kebetulan saya dan teman dari Malaysia sama-sama menyanyikan lagu melayu untuk mewakili kedua negara tetangga ini. Kami juga sempat disuguhi pertunjukkan menarik dari Mongolia yakni <em>throat singing</em>, yakni nyanyian khas pria Mongolia yang mengeluarkan suara khas berdengung dari tenggorokannya. Selain itu ada tarian dan senam ritmik yang juga menjadi andalan di Mongolia.</p>
<p><strong>Hari Ketiga: Rencana Tindak Lanjut untuk Penilaian ‘World Breastfeeding Trends initiatives’</strong></p>
<p>Hari terakhir dari konferensi ini diadakan diskusi dan rencana tindak lanjut kelompok kerja IBFAN Asia dan Regional serta finalisasi “Deklarasi Ulaan Baatar” yang merupakan hasil akhir dari One Asia Forum 8 kali ini.</p>
<p>Program kerja pertama yang akan menjadi pekerjaan bersama adalah <em>update assesment</em> dari <em>World Breastfeeding Trends initiatives</em> yang terakhir sudah dikerjakan tiga tahun yang lalu. Selain itu, akan akan rencana kerja bersama antar regional negara-negara Asia Tenggara dalam kaitannya promosi dan advokASI. </p>
<p>Kami menyadari pekerjaan ini banyak dan tantangan ke depannya masih akan sangat besar. Namun melihat antusiasme para delegASI dan sikap positif dan ingin berbagi dari mereka, seakan-akan menyulut semangat kerja untuk terus berbagi. Mudah-mudahan langkah kecil ini bisa berbuah manis kelak, yakni menyusui menjadi hal yang alamiah untuk generASI masa depan dan investASI lingkungan yang lebih baik. Salam menyusui!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/09/menyusui-investasi-untuk-masa-depan-generasi-dunia-yang-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Yang Dimaksud Dengan ASI Eksklusif? Jawabannya Ada Di Kelas kASIh Ibu</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/06/apa-yang-dimaksud-dengan-asi-eksklusif-jawabannya-ada-di-kelas-kasih-ibu/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/06/apa-yang-dimaksud-dengan-asi-eksklusif-jawabannya-ada-di-kelas-kasih-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 00:58:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lenny Tarigan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok pendukung]]></category>
		<category><![CDATA[Kemang Medical Care]]></category>
		<category><![CDATA[KMC]]></category>
		<category><![CDATA[KP-Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1433</guid>
		<description><![CDATA[Hari Rabu, 8 Juni 2011, pukul 15.30 bertempat di Ruang kASIh ibu lantai 5, RSIA Kemang Medical Care, kelompok pendukung ASI yang bernama kASIh ibu kembali bertemu untuk membahas tema minggu kedua bulan Juni yakni ASI Eksklusif. Seperti biasa diskusi dibuka dengan perkenalan yang dimulai oleh fasilitator dari AIMI, Ibu Farahdibha Tenrilemba yang akrab di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Rabu, 8 Juni 2011, pukul 15.30 bertempat di Ruang kASIh ibu lantai 5, RSIA Kemang Medical Care, kelompok pendukung ASI yang bernama kASIh ibu kembali bertemu untuk membahas tema minggu kedua bulan Juni yakni ASI Eksklusif.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-kASIh-ibu-1-300x200.jpg" alt="" title="06-kASIh-ibu-1" width="300" height="200" class="alignleft size-medium wp-image-1434" />Seperti biasa diskusi dibuka dengan perkenalan yang dimulai oleh fasilitator dari AIMI, Ibu Farahdibha Tenrilemba yang akrab di sapa mba Diba. Pembahasan diawali dengan diskusi mengenai apa yang dimaksud dengan ASI Eksklusif. Masing-masing peserta mengemukakan opini mereka masing-masing. ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja selama enam bulan pertama tanpa minuman atau makanan tambahan lain. Setelah 6 bulan, pemberian ASI dengan makanan pendamping ASI, lalu ASI dilanjutkan sampai dengan dua tahun atau lebih.</p>
<p>Selama ini ternyata beberapa ibu berpendapat air putih sah-sah saja diberikan kepada bayi dibawah enam bulan, bahkan sebuah kultur dalam upacara memperingati usia beberapa bulan bayi mereka melaksanakan ritual mengoleskan air kurma pada bibir bayi. Meskipun air dan air kurma tersebut hanya diberikan dalam jumlah sedikit, namun selain karena pencernaan dan fungsi hati bayi di bawah enam bulan belum sempurna, pemberian zat tambahan tersebut menjadi salah satu faktor yang mematahkan anggapan seorang bayi dibawah enam bulan mendapatkan ASI Eksklusif. Dalam 6 bulan pertama kehidupan seorang bayi, ASI sudah mencukupi seluruh nutrisi dan zat penting yang<br />
mereka butuhkan.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-kASIh-ibu-2-300x199.jpg" alt="" title="06-kASIh-ibu-2" width="300" height="199" class="alignright size-medium wp-image-1435" />Sharing pengalaman terus berlanjut, salah seorang ibu yang hamil bayi kembar dengan proses bayi tabung khawatir ASI tidak keluar setelah melahirkan dan tidak cukup memenuhi kebutuhan bayi kembarnya karena mitos bayi laki-laki menyusu lebih lahap. Semua jawaban kembali pada keyakinan bahwa Sang Pencipta menciptakan ASI dengan komposisi yang berubah menyesuaikan dengan kebutuhan bayi dan dalam jumlah yang mencukupi . Beberapa ibu memberikan semangat dengan membagikan pengalaman dan resep sukses menyusui mereka. Kunci sukses menyusui sebenarnya sederhana, yakni ibu memiliki rasa percaya diri, menghindari stres, berpikir positif dan bahagia. Kegiatan sesering mungkin untuk memerah dan menyusui bayi merupakan jurus ampuh meningkatkan produksi ASI. Apalagi dengan dukungan suami tercinta dan teman-teman seperti di kelas kASIh ibu akan membuat para (calon) ibu untuk termotivasi dan mendapatkan dukungan agar selama menyusui mendapatkan dukungan positip dari lingkungan sekitar.</p>
<p>Hari semakin sore, diskusi berlanjut dengan obrolan ringan ditemani secangkir teh hangat dan cemilan, tak terasa waktu sudah melewati jam kelas yang ditentukan. Sampai bertemu di kelas kASIh Ibu dua minggu kedepan dengan tema Posisi dan Pelekatan</p>
<p>Promo kelas kASIh ibu</p>
<p>Selama bulan Juni &#8211; Agustus, registrasi Rp.100.000,- berlaku untuk dua orang. Jadi jangan ragu untuk mengajak teman, sahabat bahkan suami untuk ikut serta.</p>
<p>Untuk informasi lebih lanjut hubungi: (021) 2754 5454 ext: 5190/1200</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Gallery kASIh Ibu Perdana</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-kASIh-Ibu-3-300x200.jpg" alt="" title="06-kASIh-Ibu-3" width="260" height="160" class="alignleft size-medium wp-image-1436" /><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-kASIh-Ibu-4-300x200.jpg" alt="" title="06-kASIh-Ibu-4" width="260" height="160" class="alignleft size-medium wp-image-1437" /><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-kASIh-Ibu-5-300x200.jpg" alt="" title="06-kASIh-Ibu-5" width="260" height="160" class="alignleft size-medium wp-image-1438" /><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/06/06-kASIh-Ibu-6-300x200.jpg" alt="" title="06-kASIh-Ibu-6" width="260" height="160" class="alignleft size-medium wp-image-1439" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/06/apa-yang-dimaksud-dengan-asi-eksklusif-jawabannya-ada-di-kelas-kasih-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Menyusui Lebih Dari Sekedar ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/05/siaran-pers-menyusui-lebih-dari-sekedar-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/05/siaran-pers-menyusui-lebih-dari-sekedar-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2011 10:25:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>
		<category><![CDATA[ultah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1377</guid>
		<description><![CDATA[AIMI, Jakarta (30/04): Menyusui bukan sekedar memberikan makan untuk bayi, tetapi juga mengalirkan cinta, memberikan yang terbaik untuk bayi dari segi intelegensia, dan kesehatan lahir batin. Hal inilah yang menjadi tema besar perayaan hari ulang tahun Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang ke empat. Empat tahun yang lalu, sekumpulan ibu yang peduli terhadap pemberian ASI [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/04/04-logo-aimi4th.jpg" alt="" title="04-logo-aimi4th" width="150" height="150" class="alignleft size-full wp-image-1374" />AIMI, Jakarta (30/04): Menyusui bukan sekedar memberikan makan untuk bayi, tetapi juga mengalirkan cinta, memberikan yang terbaik untuk bayi dari segi intelegensia, dan kesehatan lahir batin. Hal inilah yang menjadi tema besar perayaan hari ulang tahun Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang ke empat.</p>
<p>Empat tahun yang lalu, sekumpulan ibu yang peduli terhadap pemberian ASI tergabung dalam wadah milis asiforbaby yang saat ini anggotanya di atas 10 ribu. Kemudian setelah beberapa kali pertemuan, mereka bersepakat membentuk AIMI.</p>
<p>Dikomandoi oleh Mia Sutanto (ketua umum), Nia Umar (wakil ketua umum) dan Farahdibha Tenrilemba (sekretaris jenderal), organisasi yang masih muda ini sudah meramaikan dunia perASIan di Indonesia. Dan sebagai wujud syukur AIMI ketika memasuki  usianya yg ke empat, serangkaian acara sosialisASI dan konseling laktasi gratis diselenggarakan oleh AIMI, tidak hanya di Jakarta, tetapi di seluruh cabang AIMI: Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. &#8220;SosialisASI dan konseling gratis ini dilakukan oleh AIMI sebagai perwujudan syukur dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Terbukti antusiasme masyarakat terhadap menyusui semakin meningkat dalam satu tahun belakangan. Kami ingin membantu masyarakat dalam mendapatkan informasi tentang ASI dan menyusui yang benar&#8221;, jelas Mia Sutanto ketika ditanya tentang rangkaian acara ulang tahun AIMI.</p>
<p>Rangkaian kegiatan ulang tahun ini kemudian di tutup dengan perayaan HUT AIMI berupa bincang-bincang bersama pakar ASI dan pakar intelegensia, di restoran Sindang Reret Jakarta Selatan, sekaligus peluncuran buku &#8220;Mama, Adik bayi makan apa?&#8221; Yang ditulis oleh Mia Sutanto. Buku yang ditujukan untuk anak-anak ini bertujuan memberikan pemahaman bahwa menyusui adalah norma, bukan sesuatu hal yang tidak lazim.</p>
<p>“Bincang-bincang bersama dr Utami Roesli SpA, IBCLC dan dari Pusat Inteligensia Kesehatan Kemkes akan mengupas bahwa menyusui melebihi dari sekedar memberikan ASI. Acara HUT AIMI yang ke-4 ini juga akan diramaikan oleh penampilan band, stand bazaar, dan pemberian konseling gratis bagi para ibu hamil dan menyusui,” dituturkan oleh Tanti Djafar, ketua pelaksana HUT 4 AIMI.</p>
<p>Selamat ulang tahun ke empat, AIMI! Semoga semakin banyak ibu menyusui dan bayi yang mendapatkan ASI di Indonesia karena karyamu.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Fact Sheet AIMI</span></strong>:<br />
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.</p>
<p>***</p>
<p>Contact Person AIMI:</p>
<p>Mia Sutanto<br />
AIMI Chairwoman<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo<br />
Head of Communications Division<br />
sisca@aimi-asi.org</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS lt. 3<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. RS. Fatmawati no. 39, Jakarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/05/siaran-pers-menyusui-lebih-dari-sekedar-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Lomba Foto Ibu &amp; Anak “Indahnya Dunia Ibu”</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/02/pengumuman-lomba-foto-ibu-anak-%e2%80%9cindahnya-dunia-ibu%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/02/pengumuman-lomba-foto-ibu-anak-%e2%80%9cindahnya-dunia-ibu%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 06:19:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Jateng]]></category>
		<category><![CDATA[lomba foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1264</guid>
		<description><![CDATA[Dear all, Sebelumnya AIMI mengucapkan terima kasih atas partisipasi semua peserta yang dengan sangat antusias dan luar biasa mengirimkan foto-foto untuk mengikuti lomba foto yang diadakan AIMI untuk memperingati hari Ibu dan peresmian AIMI Cabang Jawa Tengah. Pasti sudah tidak sabar menunggu pengumumannya yaaa. Oke, berikut ini adalah pemenang lomba foto ibu &#038; anak &#8220;Indahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear all,</p>
<p>Sebelumnya AIMI mengucapkan terima kasih atas partisipasi semua peserta yang dengan sangat antusias dan luar biasa mengirimkan foto-foto untuk mengikuti lomba foto yang diadakan AIMI untuk memperingati hari Ibu dan peresmian AIMI Cabang Jawa Tengah.</p>
<p>Pasti sudah tidak sabar menunggu pengumumannya yaaa.  Oke, berikut ini adalah pemenang lomba foto ibu &#038; anak &#8220;Indahnya Dunia Ibu&#8221;:</p>
<ol>
<li>Tetap aktif walaupun berbadan dua (foto menampilkan aktifitas ibu di masa kehamilan): <strong>Umi Rohmiyatun</strong></li>
<p><img src="http://jateng.aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/02-bumil-aktif-300x200.jpg" alt="" title="02-bumil-aktif" width="300" height="200" class="aligncenter size-medium wp-image-203" /></p>
<li>Pertemuan pertama yang mendebarkan (foto yang menampilkan Inisiasi Menyusu Dini): untuk kategori ini <strong>tidak ada pemenang</strong> karena hanya sedikit yang mengirimkan foto dan dari penilaian dewan juri belum ada yang memenuhi syarat <strong>dalam hal proses IMDnya</strong>.</li>
<li>Menyusui di tempat umum, siapa takut?! (foto yang menampilkan ibu menyusui di luar rumah): Untuk kategori ini ada 2 pemenang yaitu <strong>Risqa Tri Pratista</strong> (Menyusui dengan menggunakan apron)<br />
<img src="http://jateng.aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/02-menyusui-dg-apron-300x200.jpg" alt="" title="02-menyusui-dg-apron" width="300" height="200" class="aligncenter size-medium wp-image-206" /></p>
<p> dan <strong>Angrahenny</strong> (Menyusui tanpa menggunakan apron)</li>
<p><img src="http://jateng.aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/02-menyusui-tanpa-apron-300x200.jpg" alt="" title="02-menyusui-tanpa-apron" width="300" height="200" class="aligncenter size-medium wp-image-207" /></p>
<li>Kapanpun, dimanapun, kulakukan segalanya untukmu (foto ibu bekerja yang tetap berusaha memberikan ASI; memerah, menyimpan ASI, membawa peralatan perah, dll): <strong>Putri Mahardhikarini</strong></li>
<p><img src="http://jateng.aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/02-ibu-bekerja-300x200.jpg" alt="" title="02-ibu-bekerja" width="300" height="200" class="aligncenter size-medium wp-image-209" /></p>
<li>Ibuku Guruku (foto yang menampilkan hubungan/interaksi antara ibu dan anak dalam melakukan suatu kegiatan edukatif seperti; belajar berjalan, belajar naik sepeda, belajar membaca, dll).  Karena peserta untuk kategori ini sangat banyak maka kami bagi dalam 3 kategori:</li>
<ul>
<li>Bermain: <strong>Caroline</strong></li>
<p><img src="http://jateng.aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/02-bermain-300x201.jpg" alt="" title="02-bermain" width="300" height="201" class="aligncenter size-medium wp-image-210" /></p>
<li>Belajar: <strong>Aning Himawan</strong></li>
<p><img src="http://jateng.aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/02-membaca-200x300.jpg" alt="" title="02-membaca" width="200" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-212" /></p>
<li>Eksplorasi: <strong>Dyah Pratitasari</strong></li>
<p><img src="http://jateng.aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/02-exploring-300x200.jpg" alt="" title="02-exploring" width="300" height="200" class="aligncenter size-medium wp-image-213" />
</ul>
</ol>
<p>Ketujuh pemenang tersebut akan mendapatkan hadiah berupa:</p>
<ol>
<li>Trophy dari AIMI</li>
<li>Uang cash @ Rp. 500.000</li>
<li>Aneka hadiah produk dari: lare2, anannda, qitakita, sorella, mamita dan madeinheaven</li>
</ol>
<p>Panitia akan menghubungi para pemenang secara langsung dan akan mengirimkan hadiah ke alamat para pemenang. </p>
<p>Selamat ya kepada para pemenang.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/02/pengumuman-lomba-foto-ibu-anak-%e2%80%9cindahnya-dunia-ibu%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rapat Dengar Pendapat Umum AIMI dengan Komisi IX DPR RI &#8212; Selasa, 25 Januari 2011</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/01/rapat-dengar-pendapat-umum-aimi-dengan-komisi-ix-dpr-ri-selasa-25-januari-2011/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/01/rapat-dengar-pendapat-umum-aimi-dengan-komisi-ix-dpr-ri-selasa-25-januari-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jan 2011 03:21:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[DPR-RI]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Komisi IX]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1248</guid>
		<description><![CDATA[KONDISI MENYUSUI DI INDONESIA Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, hanya 32% (tiga puluh dua persen) bayi dibawah usia 6 (enam) bulan mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Jika dibandingkan dengan SDKI tahun 2003, proporsi bayi dibawah 6 (enam) bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun sebanyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>KONDISI MENYUSUI DI INDONESIA</h2>
<h3>Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007</h3>
<p>Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, hanya 32% (tiga puluh dua persen) bayi dibawah usia 6 (enam) bulan <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-rdpu-aimi-300x225.jpg" alt="" title="01-rdpu-aimi" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1257" />mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Jika dibandingkan dengan SDKI tahun 2003, proporsi bayi dibawah 6 (enam) bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun sebanyak 6 (enam) poin. Rata-rata, bayi Indonesia hanya disusui selama 2 (dua) bulan pertama, ini terlihat dari penurunan prosentase menyusui dari SDKI 2003 yaitu sebanyak 64% (enampuluh empat persen) menjadi 48% (empatpuluh delapan persen) pada SDKI 2007. Sebaliknya, sebanyak 65% (enam puluh lima persen) bayi baru lahir mendapatkan makanan selain ASI selama tiga hari pertama.</p>
<h3>World Breastfeeding Trends Initiative</h3>
<p>Dalam buku laporan “<em>The State of Breastfeeding in 33 Countries, 2010</em>” yang diterbitkan oleh <strong><em>International Baby Food Action Network</em> (IBFAN), Asia</strong>, secara jelas tercantum bahwa dari 33 negara yang telah mengirimkan laporan dan telah dievaluasi, Indonesia mendapatkan ranking ke 30, dibawah Mozambique, Bangladesh dan Afghanistan. Dari 10 indikator yang digunakan, rapor Indonesia masih merah untuk 7 kategori, yaitu: rumah sakit sayang bayi, implementasi Kode WHO tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI (PASI), perlindungan untuk wanita bekerja, kelompok pendukung ibu dan sosialisasi masyarakat, dukungan informasi, pemberian makan pada anak dalam situasi HIV/AIDS, serta monitoring dan evaluasi. </p>
<h2>SIAPAKAH AIMI</h2>
<p>Kami adalah Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), yaitu suatu organisasi nirlaba, non-pemerintah yang berbasis kelompok pendukung sesama ibu menyusui. AIMI didirikan pada tanggal 21 April 2007. Tujuan kami hanya satu, meningkatkan prosentasi ibu menyusui dan bayi yang disusui di Indonesia, dengan cara melindungi, meningkatkan, mendukung dan memberdayakan kegiatan menyusui di Indonesia. Saat ini AIMI sudah mempunyai cabang di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan anggota yang sudah mencapai ribuan. Inti dari kegiatan-kegiatan yang kami jalankan adalah edukasi, pemberian dukungan dan advokasi. AIMI merupakan salah satu penggagas dari Koalisi Advokasi ASI Indonesia yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat peduli ASI, baik perorangan maupun LSM nasional dan internasional. AIMI juga sudah berafiliasi dengan organisasi international yang menaungi gerakan ASI di seluruh dunia, seperti WABA (<em>World Alliance for Breastfeeding Action</em>) dan IBFAN (<em>International Baby Food Action Network</em>). Pada tanggal 14 Juni 2009, AIMI mendapatkan penghargaan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) atas perhatian dan dedikasi yang begitu besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia, khususnya di bidang pemberian ASI eksklusif.</p>
<h2>HARAPAN KAMI</h2>
<p>Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan para anggota Komisi XI yang terhormat ini, kami para pengurus dan anggota AIMI yang bersama ini mewakili para ibu menyusui di Indonesia, bermaksud untuk menyampaikan aspirasi kami mengenai 3 (tiga) permasalah pokok seputar kondisi menyusui Indonesia, dengan harapan para wakil rakyat yang terhormat dapat memberikan dukungan sebesar-besarnya bagi terlaksananya dan tercapainya :</p>
<ol>
<li>Rancangan Peraturan Pemerintah tentang ASI Eksklusif</li>
<p>Sesuai dengan amanat Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan), hal-hal yang berkenaan dengan ASI dan menyusui akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Dalam draft Rancangan Peraturan Pemerintah tentang ASI Eksklusif (RPP) tertanggal 13 Desember 2010, yang saat ini sedang dalam tahap harmonisasi di Kementrian Hukum dan HAM, AIMI  sebagai salah satu anggota Koalisi Advokasi ASI Indonesia yang turut aktif memantau perkembangan RPP ini, menemukan salah satu pasal yang cukup meresahkan kami, yaitu Pasal 5 yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>Pasal 5</p>
<p>(1) Ibu yang melahirkan berkewajiban memberikan ASI eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya.<br />
Selanjutnya dalam Pasal 6 disebutkan bahwa kewajiban tersebut dapat dikesampingkan bila terdapat indikasi medis.  </p>
<p>Pasal 5 yang mewajibkan seorang ibu untuk memberikan ASI eksklusif sangat meresahkan kami, karena:</p>
<ol>
<li>Para ibu WAJIB memberikan ASI Eksklusif (kecuali bila ada indikasi medis).  Padahal kami yakin bahwa memberikan asi adalah hak si ibu. Dengan adanya kata-kata wajib tersebut, ini membenarkan anggapan yang selama ini beredar di masyarakat bahwa ibu yang tidak menyusui dapat terkena sanksi pidana.</li>
<li>Harusnya, peraturan tersebut tidak memberatkan si ibu, namun, sesuai dengan UU Kesehatan haruslah lebih menitikberatkan kewajiban keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendukung ibu untuk menyusui.</li>
<li>Saat ini perangkat peraturan perundangan, dukungan, sarana dan prasarana yang terdapat di Indonesia belum mendukung seorang ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif:</li>
<ul>
<li>Cuti melahirkan dalam UU 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan hanya 3 bulan (diatur untuk diambil 1,5 bulan sebelum dan sesudah perkiraan tanggal kelahiran), sedangkan masa ASI eksklusif sebagaimana rekomendasi WHO adalah 6 bulan.</li>
<li>UU Ketenagakerjaan hanya ditujukan untuk sektor formal saja. Lalu bagaimana para pekerja yang bekerja di sektor informal? Mereka wajib memberikan ASI eksklusif 6 bulan, sedangkan jatah cuti melahirkan pun mereka tidak punya karena tidak diatur dalam UU.</li>
<li>Belum banyak sarana ruang menyusui yang tersedia baik di fasilitas publik maupun swasta (perkantoran).</li>
<li>Pemahaman tenaga medis akan ASI masih rendah, sehingga seringkali kegagalan ASI eksklusif berawal dari rumah sakit ketika ibu melahirkan.</li>
<li>Belum banyaknya informasi yang tersedia dan berimbang tentang ASI, sehingga para ibu tidak dapat mengambil keputusan yang telah mereka ketahui kebenarannya (<em>informed decision</em>).</li>
<li>Gencarnya promosi dan pemasaran produk pengganti ASI (PASI) yang tidak etis dan melanggar Kode Etik WHO tentang Pemasaran Produk PASI, sehingga mempengaruhi dan berpotensi untuk menggagalkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.</li>
</ul>
</ol>
<p>Atas berbagai pertimbangan tersebut, kami memohon hendaknya Komisi IX DPR dapat membantu kami dalam mendorong pihak-pihak yang saat ini sedang dalam proses finalisasi RPP agar dapat mengubah ketentuan Pasal 5 sehingga tidak mewajibkan ibu untuk menyusui, tetapi MEWAJIBKAN seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung ibu dalam melaksanakan program ASI Eksklusif.</p>
<li>Promosi dan Pemasaran Produk Pengganti ASI</li>
<p>Pada tanggal 9-12 November 2010, AIMI dan IBFAN Asia berkolaborasi dengan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dalam menyelenggarakan <strong>One Asia Breastfeeding Partners Forum 7</strong>, di Jakarta. Tema dari konferensi internasional yang dihadiri oleh para delegasi dari 16 negara adalah “Seruan Untuk mengakhiri Promosi Makanan Bayi!”. Forum ini kemudian menghasilkan Jakarta Declaration, yang salah satu butir seruan dari para peserta dalam deklarasi tersebut adalah mengakhiri semua bentuk promosi makanan bayi. </p>
<p>Sebagai organisasi yang anggotanya adalah para ibu menyusui, AIMI merasakan, menerima banyak keluhan dan mengalami bagaimana promosi makanan bayi yang tidak etis, baik secara langsung maupun tidak langsung,  mempengaruhi keputusan seorang ibu untuk tidak memberikan ASI. Untuk itulah, AIMI menginginkan perlindungan penuh terhadap kegiatan menyusui, salah satunya dengan menghentikan semua bentuk promosi makanan bayi.  </p>
<p><strong>Promosi Makanan Bayi di Kode Etik WHO</strong></p>
<p>Larangan total atas promosi makanan bayi bukanlah hal baru, hal ini secara tegas disebutkan dalam Pasal 5.1. Kode Etik WHO tentang Pemasaran Produk PASI tahun 1981 (Kode WHO) sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>“There should be <strong>no advertising or other form of promotion to the general public</strong> of products within the scope of this Code”</p></blockquote>
<p>Hal ini berarti bahwa iklan dan semua bentuk promosi atas produk yang diatur dalam Kode WHO ini tidak diperbolehkan. Pasal ini merupakan salah satu pasal paling penting dalam Kode WHO. Pasal ini secara jelas melarang berbagai bentuk promosi mulai dari iklan di media massa sampai pembagian brosur di apotik maupun supermarket.</p>
<p>Cakupan Kode WHO berdasarkan Pasal 2 adalah:</p>
<p>Pasal 2:</p>
<blockquote><p>“The Code applies to the marketing, and practices related thereto, of the following products: breastmilk substitutes, including infant formula; other milk products, foods and beverages, including bottle-fed complementary foods, when marketed or otherwise represented to be suitable, with or without modification, for use as a partial or total replacement of breast-milk; feeding bottles and teats. It also applies to their quality and availability, and to information concerning their use.”</p></blockquote>
<p>Jelas bahwa yg diatur dalam Kode WHO bukan hanya infant formula saja, tetapi juga semua produk susu, makanan dan minuman yang dipromosikan untuk dapat menggantikan seluruhnya maupun sebagian dari ASI. Sesuai anjuran WHO yang menyatakan bahwa menyusui dapat dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih, maka susu lanjutan untuk 2 tahun atau lebih, termasuk dalam cakupan Kode WHO ini.</p>
<p>Pengaturan Tentang Pemasaran Susu Formula di Indonesia </p>
<p>Tentang iklan susu formula di Indonesia, pengaturannya terdapat di Kepmenkes 237/MENKES/SK/IV/1997, dinyatakan bahwa susu formula bayi (0-4/6 bulan) dan susu formula lanjutan (6-12 bulan) hanya dapat dilakukan di media kesehatan yang telah mendapatkan persetujuan menteri, lebih lengkap sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>iklan susu formula lanjutan harus mencantumkan pernyataan keunggulan air susu ibu dan tulisan yang berbunyi tidak cocok untuk bayi berumur kurang dari 4 bulan [pasal 10 ayat (1)]</li>
<li>iklan makanan pendamping asi harus mencantumkan pernyataan bahwa produk hanya diberikan kepada bayi berumur di atas 4 bulan. [pasal 10 ayat (2)]</li>
<li>Iklan susu formula bayi hanya boleh di media ilmu kesehatan yang mendapat persetujuan dari menteri [pasal 11 ayat (3)] </li>
<li>Iklan susu formula lanjutan tidak boleh mencantumkan nama dagang dengan ciri-ciri yang menyerupai nama dagang susu formula bayi, selain hanya dalam media ilmu kesehatan yang mendapat persetunjuan dari menteri  [pasal 11 ayat (4)] </li>
</ul>
<p>Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan disebutkan bahwa iklan pangan bagi bayi sampai dengan berumur 1 tahun dilarang dimuat di media massa, dan hanya dapat di media kesehatan yang telah mendapat persetujuan menteri.  </p>
<p>Pasal 47 (4)</p>
<blockquote><p>Iklan tentang pangan yang diperuntukkan bagi bayi yang berusia sampai dengan (1) tahun dilarang dimuat dalam media massa, kecuali dalam media cetak khusus untuk kesehatan, setelah mendapat persetujuan Menteri kesehatan, dan dalam iklan yang bersangkutan wajib memuat keterangan bahwa pangan yang bersangkutan bukan pengganti ASI.</p></blockquote>
<p><strong>Bagaimana Iklan Susu Diatas 1 Tahun Mempengaruhi Kegiatan Menyusui Secara Keseluruhan </strong></p>
<p>Berikut adalah Iklan Nutrilon Royal 3 (diperuntukkan bagi anak 1-3 tahun. Berdasarkan peraturan nasional Indonesia, iklan ini tidak melanggar karena diperuntukkan bagi anak di atas 1 tahun.  <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-nutrilon-royal.jpg" alt="" title="01-nutrilon-royal" width="200" height="268" class="aligncenter size-full wp-image-1250" /></p>
<p>Sekarang, perhatikan pajangan susu formula di ritel (dapat ditemui dengan mudah di berbagai toko swalayan, supermarket hingga kios-kios susu):</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-sufor.jpg" alt="" title="01-sufor" width="300" height="212" class="aligncenter size-full wp-image-1251" /></p>
<p>Di tingkat ritel dimana konsumen melakukan pembelian, Nutrilon Royal 3 sebagaimana diiklankan di berbagai majalah, disandingkan dengan Nutrilon Royal 1 dan 2 yang masing-masing untuk bayi 0-6 bulan dan 6 bulan-1 tahun.  </p>
<p>Efek dari iklan Nutrilon Royal 3 ini dalam kegiatan menyusui adalah: bila si ibu mengalami kesulitan menyusui (yang sesungguhnya dapat diperbaiki dengan manajemen laktasi yang benar): sebagamana diiklankan oleh Nutrilon Royal 3 yang mengandung FOS GOS Nukleotida, untuk mempertahankan fungsi saluran cerna dan daya tahan tubuh kuat, maka Nutrilon Royal 1 dan 2 pun mempunyai keunggulan yang sama dengan Nutrilon Royal 3. Sehingga susu inilah yang akan dipilih si ibu untuk menggantikan menyusui. Hal ini berlaku bagi iklan-iklan susu lanjutan lainnya, bukan hanya iklan dan display Nutrilon sebagaimana disajikan dalam dokumen ini. Karena tidak adanya pembedaan merek maka si ibu akan melakukan generalisasi bahwa susu di bawah 1 tahun pun sama khasiatnya  dengan susu di atas 1 tahun (sebagaimana diiklankan). </p>
<p>Hal yang sama akan terjadi bila peraturan di Indonesia mengubah larangan iklan menjadi susu formula di bawah 2 tahun. Produsen akan dengan mudah mengganti materi kampanye mereka dengan iklan di atas 2 tahun, NAMUN tetap dengan merek yang sama dengan susu di bawah 1 tahun, hanya pembedaan nomor saja.  Ini yang sangat mengganggu kegiatan menyusui. Sehingga tidak bisa lain, bila ingin angka menyusui di Indonesia meningkat sebagaimana di negara India, pelarangan iklan susu formula harus dilakukan secara keseluruhan, tanpa pembedaan umur dan jenis produk. </p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Rendahnya tingkat pemberian ASI di Indonesia, salah satu faktor utama dan terbesar yang menyebabkannya adalah maraknya iklan susu formula yang ditujukan bagi masyarakat. Dalam dokumen ini, kami hanya menyajikan iklan-iklan dari media cetak.  Iklan di media elektronik, yang setiap hari membombardir masyarakat pada jam prime time, dapat kami pastikan mempunyai efek yang lebih kuat bagi seorang ibu dalam memutuskan pemberian makan bagi bayinya. Permintaan kami untuk melarang secara total iklan susu formula mungkin pada awalnya terdengar terlalu ekstrim, namun, percayalah, ini salah satu cara untuk menaikkan tingkat pemberian ASI di Indonesia. Karena itulah, kami meminta perlindungan secara penuh kepada pemerintah dan para wakil rakyat, agar mempromosikan, melindungi dan mendukung kegiatan menyusui secara maksimal, salah satunya dengan produk hukum tertinggi (undang-undang) yang mengatur secara tegas tentang promosi dan pemasaran produk PASI.   </p>
<li>Cuti Melahirkan</li>
<p>Sekitar 40% dari <em>workforce</em> di Indonesia adalah para perempuan. Mereka bekerja baik di sektor formal, maupun informal. Mereka bekerja secara penuh maupun paruh waktu. Mereka adalah para ibu menyusui. Tidak bisa dipungkiri lagi, ketentuan cuti melahirkan sebagaimana terdapat dalam UU no. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan saat ini sudah dirasakan sangat tidak mendukung program pemberian ASI eksklusif di Indonesia. Terlebih lagi, ketentuan pengambilan cuti melahirkan tersebut yang disyaratkan 1,5 bulan sebelum tanggal melahirkan, dan 1,5 bulan sesudahnya. Dalam hal manajemen laktasi, periode 1,5 bulan pasca kelahiran masih sangat kurang bagi seorang ibu, terutama ibu yang baru pertama kali melahirkan, untuk memantapkan kegiatan menyusui. Sekarang, bagaimana dengan ibu yang bekerja di sektor informal? Mereka harus bisa secepatnya kembali bekerja, karena memang cuti melahirkan sebagaimana terdapat dalam UU Ketenagakerjaan tersebut tidak melindungi golongan ini. </p>
<p>Di Eropa, terutama negara-negara Skandinavia seperti Norwegia dan Finlandia, dimana angka menyusuinya termasuk tertinggi di dunia, tidak berlaku cuti melahirkan (<em>maternity leave</em>), melainkan cuti orangtua (<em>parental leave</em>). Pasca kelahiran, ibu dan ayah berhak untuk mengambil cuti ini selama 16 bulan, yang menjadi tanggungan pemerintah dan perusahaan. Tentu cuti diambil secara bergantian, dimana ibu diwajibkan untuk mengambil cuti yang 4 bulan pertama.</p>
<p>Tentu kami sadar, situasi di Indonesia belum memungkinkan untuk memberlakukan hal tersebut. Tidak perlu mencontoh Swedia ataupun Finlandia, tapi bisa mencontoh Bangladesh. Beberapa bulan yang lalu, salah satu negara di Asia ini telah mengeluarkan peraturan yang memberikan cuti melahirkan bagi para wanita yang bekerja sebagai pegawai negeri, sebanyak 6 bulan penuh. Sesuai tentunya dengan masa pemberian ASI eksklusif.</p>
<p>Kami sangat berharap, revisi tentang ketentuan cuti melahirkan dalam UU Ketenagakerjaan dapat dilakukan, sehingga semua ibu yang bekerja, baik di sektor formal maupun informal, dapat terlindungi untuk menjalankan haknya memberikan, setidaknya ASI eksklusif selama 6 bulan penuh.
</ol>
<p><strong>PENUTUPAN</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-after-hearing-300x225.jpg" alt="" title="01-after-hearing" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1259" />Sekian sekiranya harapan dan aspirasi dari kami, para ibu menyusui di Indonesia. Demi masa depan anak bangsa, agar mereka mempunyai bekal yang ampuh untuk dapat bersaing dengan para temannya dari negara-negara lain, agar mereka bica secara penuh mencapai potensi diri dan menggapai cita-cita. <em>The future is not ours to give, it is theirs to fulfill</em>. Terima kasih.  </p>
<p>*********************</p>
<p>ASOSIASI IBU MENYUSUI INDONESIA (AIMI)</p>
<p>Graha MDS Lantai 1<br />
Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. R.S. Fatmawati No. 39<br />
Jakarta 12150, Indonesia</p>
<p>tel: (021) 72767243, 72790165<br />
fax: (021) 72790166<br />
email: kontak@aimi-asi.org</p>
<p>http://aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/01/rapat-dengar-pendapat-umum-aimi-dengan-komisi-ix-dpr-ri-selasa-25-januari-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Seruan Mengakhiri Promosi Makanan dan Minuman Pengganti ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-seruan-mengakhiri-promosi-makanan-dan-minuman-pengganti-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-seruan-mengakhiri-promosi-makanan-dan-minuman-pengganti-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 01:44:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[OA7]]></category>
		<category><![CDATA[oneasiaforum7]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1138</guid>
		<description><![CDATA[SIARAN BERITA ONE ASIA BREASTFEEDING PARTNERS FORUM 7 AIMI, Jakarta (9/11): Pertumbuhan ekonomi di Indonesia membawa dampak pertumbuhan di segala bidang industri. Termasuk industri susu formula. Sedemikian besarnya pasar industri susu formula sehingga menjadikan Air Susu Ibu (ASI) bukan satu-satunya makanan bayi. Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Tampaknya telah terjadi perubahan paradigma orang Indonesia sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SIARAN BERITA ONE ASIA BREASTFEEDING PARTNERS FORUM 7</p>
<p>AIMI, Jakarta (9/11): Pertumbuhan ekonomi di Indonesia membawa dampak pertumbuhan di segala bidang industri. Termasuk industri susu formula. Sedemikian besarnya pasar industri susu formula sehingga menjadikan Air Susu Ibu (ASI) bukan satu-satunya makanan bayi.</p>
<p>Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Tampaknya telah terjadi perubahan paradigma orang Indonesia sebagai dampak dari promosi susu formula. Berdasarkan data menyusui terakhir dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007, konsumsi susu formula meningkat dari 15% pada tahun 2003/2004 menjadi 30% pada tahun 2007, sedangkan jumlah bayi yang disusui secara eksklusif menurun dari 40% pada tahun 2003/2004 menjadi 30% pada tahun 2007.</p>
<p>Hal ini yang menjadi alasan mengapa Menteri Kesehatan Republik Indonesia, ibu dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH,Dr. PH,  mengeluarkan pernyataan di media massa untuk mengakhiri promosi makanan dan minuman pengganti ASI. Pernyataan ini datang pada saat tepat, khususnya saat terjadi bencana pada 25 dan 26 Oktober. Di mana bantuan berupa makanan pokok dan pakaian menjadi prioritas utama untuk didatangkan ke tempat bencana – hal ini juga didukung dengan berkembangnya teknologi seperti internet, jaringan sosial twitter dan facebook, yang semuanya menjadi sarana untuk meminta bantuan.</p>
<p>Sebagian besar donasi datang dalam bentuk susu formula dan makanan bayi yang dapat membahayakan bayi dan anak- anak, yang justru semakin rapuh dalam kondisi bencana. ASI melindungi bayi dan anak – anak dari penyakit dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh, serta memberikan asupan gizi yang mereka butuhkan. Bagaimanapu, para ibu – ibu ini membutuhkan dukungan untuk tetap menyusui terutama saat dan setelah terjadinya bencana, saat mereka mengalami tekanan emosional dan fisik disertai beban yang meningkat.</p>
<p>Kurangnya dukungan untuk menyusui, baik saat normal maupun bencana merupakan hal yang umum ditemukan berdasarkan temuan the World Breastfeeding Trends Initiative: Status of Breastfeeding in 33 Countries. Pada laporan tersebut dengan jelas menunjukkan bahawa mendukung para ibu untuk menyusui menjadi prioritas kesekian pemerintah di seluruh dunia, dan juga tidak memberikan dukungan menyusui saat bencana dan kegawatdaruratan.</p>
<p>“Untuk melindungi bayi melalui menyusui, perlu menjembatani celah antara kebijakan dan program yang ada. Informasi mengenai apa masalah dan apa yang perlu dilakukan tersedia bagi hampir seluruh anak – anak di dunia,” demikian menurut Dr Arun Gupta, Regional coordinator of International Baby Food Action Network (IBFAN) Asia. “<br />
“Laporan mengenai sebagian anak-anak yang tinggal di negara yang sudah melakukan penilaian WBTi itu telah selesai. Banyak dari negara-negara ini juga memiliki angka kematian yang tinggi. Langkah –langkah untuk meningkatkan angka menyusui akan sejalan dengan perlindungan dari penyakit dan perkembangan otak anak-anak.”</p>
<p>Indonesia beruntung memiliki Menteri Kesehatan yang menaruh perhatian pada status menyusui dan juga gerakan menyusui disaat situasi gawat darurat. Lewat berbagai media, beliau menyatakan kepada seluruh Masyarakat yang ingin mendonasikan susu formula dan makanan bayi instant, untuk mendukung para ibu menyusui agar tetap memberikan atau memerah ASInya disaat kegawatdaruratan. “Indonesia telah membuktikan bahwa hal ini dapat terjadi, yaitu dengan membuat pojok-pojok laktasi di wilayah bencana dimana didalamnya terdapat para konselor laktasi yang menjalankan kelompok-kelompok pendukung menyusui. Tidak lupa harus memastikan penyebaran donasi susu formula sebaiknya dibawah pengaturan satu pintu dan diikuti penjelasan yang menyeluruh akan pemberian makanan pengganti ASI tersebut” ujar dr. Utami Roesli FABM, IBCLC.</p>
<p>One Asia Breastfeeding Partners Forum 7 menyerukan kepada semua bangsa di dunia untuk memprioritaskan kesehatan bayi mereka dan memberhentikan bentuk-bentuk promosi makanan pengganti ASI. Forum-forum terdahulu telah diselenggarakan oleh IBFAN Asia, sebuah lembaga yang telah mempelopori penilaian kebijakan dan program untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung menyusui di lebih dari 70 negara yang sebanyak 33 negara telah menyelesaikan penilaiannya. Mulai tahun 2004, IBFAN Asia telah menyelenggarakan beberapa Forum, di berbagai negara, dimana masyarakat sipil dan pemerintah berpartisipasi aktif dalam mengambil tindakan untuk meningkatkan pemberian ASI. Pada awalnya, forum ini hanya diikuti oleh negara-negara Asia Selatan. Namun sejak tahun lalu, Forum 6,  IBFAN Asia mengundang lebih banyak negara dari Asia Timur  dan Asia Tenggara. Indonesia diwakili oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
.<br />
Tema Forum 7 adalah &#8220;Seruan Mengakhiri bentuk Promosi Makanan &#038; Minuman Pengganti ASI. Lebih dari 100 peserta mewakili negara-negara Asia akan berbagi status menyusui di negara mereka masing-masing serta  bentuk-bentuk pelanggaran terkini terhadap Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, serta langkah yang diambil pemerintah. &#8220;Forum ini diselenggarakan untuk membangun jaringan nasional dan internasional dan memperkuat kolaborasi masyarakat dan pemerintah untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung menyusui&#8221;, seperti dikatakan Farahdibha Tenrilemba, Sekretaris Jenderal AIMI sekaligus ketua penyelenggara One Asia Breastfeedng Partners Forum 7. &#8220;Forum ini dharapkan dapat membuka mata semua pihak tentang keberadaan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI serta jenis-jenis pelanggaran yang terjadi sehingga masyarakat dapat menjadi ‘pengawas’ dengan begitu akan membantu peningkatan angka menyusui&#8221; dia menjelaskan.</p>
<p>Forum 7 diselenggarakan berkat kerjasama AIMI dengan IBFAN Asia berkolaborasi dengan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, dan didukung oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, WHO, UNICEF, Care, Mercy Corps, WVI dan Save the Children.</p>
<p>***<br />
Fact Sheet AIMI:<br />
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.<br />
***<br />
Contact Person AIMI:<br />
Mia Sutanto<br />
AIMI Chairwoman<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org, +6281510002584</p>
<p>Farahdibha Tenrilemba<br />
Head Project Committee of One Asia Breastfeeding Partners Forum 7<br />
diba@aimi-asi.org, +62811988586</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo<br />
Head of Communications Division<br />
sisca@aimi-asi.org, +62818765021 </p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS lt. 3<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. RS. Fatmawati no. 39, Jakarta<br />
Telp: 021.72790165 Fax: 021.72790166</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-seruan-mengakhiri-promosi-makanan-dan-minuman-pengganti-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: AIMI Salurkan Sumbangan untuk Merapi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-aimi-salurkan-sumbangan-untuk-merapi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-aimi-salurkan-sumbangan-untuk-merapi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 00:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang membuka pengumpulan dana untuk korban bencana Merapi sejak tanggal 28 Oktober lalu telah menggunakan dana sumbangan yang terkumpul untuk berbagai kebutuhan pengungsi, terutama ibu, bayi dan balita di Jogjakarta. Dana yang terkumpul hingga 4 November 2010 sebesar Rp 4 juta dan telah disalurkan kepada para korban bencana letusan Merapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang membuka pengumpulan dana untuk korban bencana Merapi sejak tanggal 28 Oktober lalu telah menggunakan dana sumbangan yang terkumpul untuk berbagai kebutuhan pengungsi, terutama ibu, bayi dan balita di Jogjakarta.</p>
<p>Dana yang terkumpul hingga 4 November 2010 sebesar Rp 4 juta dan telah disalurkan kepada para korban bencana letusan Merapi oleh Konselor Laktasi AIMI yang mengunjungi para korban sekaligus memberikan konseling kepada ibu hamil dan menyusui agar bisa tetap menyusui dalam kondisi darurat.</p>
<p>dr. Astri Pramarini, Konselor Laktasi AIMI yang juga Ketua AIMI Jawa Timur mengunjungi pos pengungsi di Hargobinangun. Di sana menemui 27 ibu hamil dan menyusui yang tinggal di pos dan sekitarnya untuk memberi dukungan menyusui.</p>
<p>Uang sumbangan dari donatur yang masuk ke AIMI, kata Astri, juga diberikan peralatan memasak karena ibu-ibu mengalami kesulitan untuk memberikan MPASI buatan sendiri karena di pengungsian tidak ada peralatan memasak yang bisa digunakan. “Mereka mengeluhkan bayi-bayi menolak MPASI (bubur instan) yang disediakan, bahkan akan yang mengalami konstipasi setelah mengonsumsi makanan instan.”</p>
<p>Untuk itu, AIMI kemudian bekerja sama dengan Jogja Parenting Club menyediakan MPASI untuk bayi berusia 6 bulan ke atas dengan menggunakan dana yang ada.</p>
<p>AIMI juga membagikan flyer mengenai cara memberikan makanan kepada bayi pada saat terjadi bencana, panduan menyusui dan cara memerah ASI. Menurut Astri, dalam kondisi serba darurat seperti ini, ASI menjadi satu-satunya cara yang paling pasti untuk melindungi bayi. “Karena itu, AIMI langsung turun untuk memberikan konseling dan motivasi, agar ibu tetap bisa menyusui.”</p>
<p>Dia menambahkan, seorang ibu, dalam kondisi apapun pasti bisa menyusui bayinya. Sebaiknya, ibu melindungi bayinya dengan tidak memberikan susu formula secara sembarangan yang bisa membahayakan kondisi bayi. Dalam situasi darurat di pengungsian, lanjut Astri, persediaan air bersih sangat terbatas sehingga itu sangat tidak memungkinkan untuk bayi bisa mengonsumsi susu formula. “Air bersih dibutuhkan untuk mencuci botol dan membuat susu, padahal saat ini persediaan air bersih sangat terbatas.”</p>
<p>AIMI masih membuka sumbangan dana untuk korban Merapi yang akan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan MPASI bayi dan balita bekerja sama dengan Jogja Parenting Club. Jika Anda ingin membantu, dana bisa ditransfer melalui</p>
<blockquote><p>Rekening AIMI<br />
Bank Mandiri Cabang Jakarta Kyai Tapa,<br />
a/n. <strong>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia</strong><br />
nomor rekening <strong>11700 2464 274 6</strong> (<strong>11700 AIMI ASI 6</strong>)</p></blockquote>
<p>dan mencantumkan Bantuan Mentawai dan Merapi di berita transfer.</p>
<p>***</p>
<p>Fact Sheet AIMI:</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Contact Person AIMI</strong>:<br />
<strong>Mia Sutanto</strong><br />
AIMI Chairwoman<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org, +6281510002584</p>
<p><strong>Sisca Baroto-Utomo</strong><br />
Head of Communications Division<br />
sisca@aimi-asi.org, +62818765021</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS lt. 3<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. RS. Fatmawati no. 39, Jakarta<br />
Telp: 021.72790165 Fax: 021.72790166</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<a class="downloadlink" href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=MELINDUNGI-BAYI-DALAM-KEADAAN-DARURAT.pdf" title=" downloaded 308 times" >Melindungi Bayi Dalam Keadaan Darurat (308)</a>
<h3>MELINDUNGI BAYI DALAM KEADAAN DARURAT</h3>
<p><strong>Informasi untuk Media</strong></p>
<p>Bencana alam yang melanda Indonesia terlalu kerap menyisakan kepedihan pada kita semua, rintihan dan tangis korban bencana banjir, gempa bumi, tsunami, kekeringan dan bencana lainnya, seakan menguji ketabahan kita sebagai manusia. Ibu dan anak-anak, terutama bayi, adalah korban yang paling rentan ketika terjadi bencana.</p>
<p>Media memiliki peran yang penting untuk melindungi bayi dalam keadaan darurat dengan tidak memberikan dukungan pada donator yang menyumbangkan susu formula dan mengingatkan pembaca bahwa Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang paling steril dan bisa mencegah penyakit pada bayi, sedangkan makanan buatan akan menambah risiko bagi bayi.</p>
<p><strong>MENGAPA BAYI BEGITU RENTAN?</strong></p>
<p>Bayi memiliki kebutuhan nutrisi khusus dan dilahirkan dengan sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Untuk bayi yang masih menyusui, ASI akan memenuhi kebutuhan makanan untuk mereka dan sekaligus kekebalan tubuh yang melindungi mereka dalam kondisi darurat.</p>
<p>Situasi berbeda dialami oleh bayi yang tidak menyusui. Dalam keadaan darurat, persediaaan makanan terhambat dan tidak ada persediaan air bersih untuk membuat susu formula atau membersihkan botol susu yang akan digunakan. Dalam kondisi seperti ini, bayi yang tidak menyusui rentan terhadap infeksi dan diare. Bayi yang menderita diare sangat mudah terserang malnutrisi dan dehidrasi serta meningkatkan risiko kematian.</p>
<p><strong>BAGAIMANA DENGAN ANAK-ANAK?</strong></p>
<p>Tidak hanya bayi yang memiliki kerentanan dalam kondisi darurat bencana, anak-anak dibawah 5 tahun dan terutama anak dibawah 2 tahun memiliki risiko lebih mudah sakit dan menemui ajalnya dalam kondisi darurat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan bayi tetap disusui hingga usia 2 tahun atau lebih. Anak-anak juga membutuhkan makanan bergizi yang aman untuk dikonsumsi, dan hal seperti ini tentu tidak mudah dilakukan dalam kondisi darurat.</p>
<p>MASALAH YANG DIHADAPI</p>
<p>Berkaca dari pengalaman lalu ketika terjadi bencana, susu bubuk dan susu formula untuk bayi lazim disumbangkan kepada korban bencana. Bahkan beberapa perusahaan susu formula, langsung menyumbang kepada korban bencana, juga dari beberapa lembaga bantuan, pemerintah dan juga individu yang ingin membantu.</p>
<p>Liputan media bisa menghasilkan tekanan kepada pemerintah dan masyarakat untuk tidak lagi menyumbangkan susu formula saat bencana datang.</p>
<p>Dalam kondisi darurat, produk susu bubuk dan susu formula ini sering dibagikan dengan tidak terkontrol dan digunakan oleh ibu yang bahkan masih menyusui bayinya. Ini mengakibatkan sakit dan kematian bayi yang sangat tidak diharapkan.</p>
<p>Hasil penelitian UNICEF setelah gempa di Yogyakarta tahun 2006 lalu menunjukkan, meskipun awalnya tingkat menyusui di kota tersebut sangat tinggi, 70% bayi dibawah usia 6 bulan diberi sumbangan susu formula. Contoh lain, <em>Centre for Disease Classification (CDC)</em> menemukan setelah terjadi bencana banjir, sekitar 500 anak di Botswana (tahun 2005-2006) ditemukan meninggal dunia setelah mengonsumsi susu formula dari hasil sumbangan.</p>
<p><strong>BAGAIMANA MEDIA BISA MEMBANTU?</strong></p>
<p>Media memiliki peran yang sangat penting untuk melindungi bayi dan anak-anak dalam kondisi darurat dengan menyebaran informasi dukungan terhadap ibu menyusui dan penggunaan susu bubuk dan susu formula yang tepat. Media bisa membantu dengan memasukkan cerita-cerita seperti ini :</p>
<ul>
<li>Dukung ibu untuk tetap menyusui adalah cara yang paling pasti untuk melindungi bayi dalam kondisi darurat.</li>
<li>Menyusui bisa dilakukan seorang ibu dalam kondisi apapun, termasuk jika sedang stress, ibu tetap bisa memberikan susu yang cukup untuk bayinya.</li>
<li>Penggunaan susu bubuk dan susu formula secara sembarangan sangat membahayakan kondisi bayi, menyebabkan sakit bahkan kematian.</li>
<li>Relawan harap menyampaikan bahwa tidak ada kebutuhan untuk susu formula dalam jumlah yang sangat besar pada saat kondisi darurat dan jika benar-benar membutuhkan bisa disediakan secara lokal. Tidak perlu sumbangan susu formula, susu bubuk dan botol bayi dalam kondisi darurat bencana.</li>
<li>Anggota masyarakat dan lembaga bantuan disadarkan bahwa distribusi susu formula dan susu bubuk yang tidak tepat akan dilaporkan kepada pihak yang berwenang.</li>
</ul>
<p><strong>BAGAIMANA MELINDUNGI BAYI DAN ANAK-ANAK DALAM KONDISI DARURAT?</strong></p>
<p>Berikut ini pedoman dan pengelolaan pemberian makanan bayi dalam kondisi darurat :</p>
<ol>
<li>Ibu yang menyusui anaknya harus diberikan dukungan dan bantuan praktis untuk meneruskan menyusui, mereka tidak boleh sembarangan diberikan bantuan susu formula dan susu bubuk.</li>
<li>Ibu yang sudah tidak lagi menyusui, misalnya ibu yang telah menyapih anaknya, harus didukung untuk memulai relaktasi dan mencari ibu susu untuk bayi tanpa ibu.</li>
<li>Jika ada bayi yang tidak bisa disusui, bayi tersebut harus diberikan susu formula dan perlengkapan untuk menyiapkan susu tersebut, dibawah pengawasan yang ketat dan kondisi kesehatan bayi harus tetap dimonitor. Botol bayi sebaiknya tidak digunakan karena risiko terkontaminasi, kesulitan untuk membersihkan botol-gunakan sendok atau cangkir untuk memberikan susu kepada bayi.</li>
<li>Jika susu bubuk yang tersedia dicampur dengan makanan lokal yang ada sebelum didistribusikan, itu juga bukan merupakan pengganti ASI.</li>
<li>Upayakan untuk melindungi dan mendukung menyusui dan memastikan pemberian makanan yang aman untuk anak-anak.</li>
<li>Keadaan darurat bisa digunakan oleh perusahaan susu formula masuk ke ceruk pasar baru dan meningkatkan penjualan. Pemasaran susu formula yang tidak etis adalah masalah dunia dan kode etik internasional telah dikeluarkan untuk memberikan dukungan kepada ibu dan bayi dari pemasaran yang tidak etis ini.</li>
</ol>
<p>Pesan ini disampaikan kepada media yang memiliki dampak pemberitaan sangat luas, mengenai kebutuhan bayi dalam kondisi darurat. Anggota masyarakat, lembaga bantuan dan donor yang ingin memberikan bantuan kepada bayi dan anak-anak bisa mencapatkan informasi yang tepat dan ini bisa membantu untuk melindungi mereka dari praktik-praktik yang berbahaya dan melindungi mereka yang rentan malnutrisi dan ancaman kematian. *****</p>
<p><em>Informasi ini disadur oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dari Operational Guidance for Emergency Relief Staff and Programme Managers in Infant and Young Child Feeding in Emergencies. IFE core Group. <a href="http://www.ennonline.net/">www.ennonline.net</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-aimi-salurkan-sumbangan-untuk-merapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

