<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Sisca Baroto-Utomo</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/author/sisca/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Tanggapan AIMI Terhadap PP 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/04/siaran-pers-tanggapan-aimi-terhadap-pp-33-tahun-2012-tentang-pemberian-air-susu-ibu-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/04/siaran-pers-tanggapan-aimi-terhadap-pp-33-tahun-2012-tentang-pemberian-air-susu-ibu-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 03:29:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1808</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta/AIMI (22/03): Pentingnya peningkatan gizi bagi generasi penerus bangsa menjadi perhatian dari pemerintah khususnya dalam lima tahun belakangan ini. Dimulai dengan menggalakkan pemberian ASI Eksklusif untuk bayi usia 0-6 bulan yang dilanjutkan dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang berkualitas dan tetap meneruskan pemberian ASI sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih. Asosiasi Ibu Menyusui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta/AIMI (22/03): Pentingnya peningkatan gizi bagi generasi penerus bangsa menjadi perhatian dari pemerintah khususnya dalam lima tahun belakangan ini. Dimulai dengan menggalakkan pemberian ASI Eksklusif untuk bayi usia 0-6 bulan yang dilanjutkan dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang berkualitas dan tetap meneruskan pemberian ASI sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih.</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) sebagai organisasi yang terdiri dari ibu menyusui dan memiliki misi untuk meningkatkan angka ibu menyusui dan bayi yang mendapatkan ASI di Indonesia, menyambut baik diterbitkannya PP 33/2012 tentang Pemberian ASI Ekslusif. AIMI juga sangat mendukung pemerintah dalam melaksanakan dan mengawasi penerapan dari PP no.33/2012, sebagai upaya untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif yang merupakan awal dari penciptaan generasi berkualitas untuk membangun Indonesia di masa mendatang.</p>
<p>Meskipun demikian, AIMI mencermati pada pasal 6 yang berbunyi: “setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI ekslusif kepada bayi yang dilahirkannya” dapat menimbulkan penafsiran yang kurang tepat, bahwa ibu yang tidak menyusui akan terkena sanksi. Sementara amanah dari pasal 128 (2) UU 36 menyatakan: “selama pemberian ASI, pihak keluarga, pemerintah, pemda dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas umum dan khusus.” </p>
<p>Satu pasal lagi yang perlu dicermati adalah pasal 21(2), dimana terbuka peluang bagi produsen susu formula untuk melakukan pemasaran produk melalui kerjsama dengan tenaga kesehatan, penyelenggara fasilitan pelayanan kesehatan, penyelenggara satuan pendidikan kesehatan dan pemerintah. Hal ini dapat menimbulkan konflik kepentingan di kalangan-kalangan tersebut yang seharusnya melindungi ibu dan anak dari eksploitasi kepentingan pasar. </p>
<p>Oleh karena itu AIMI mengusulkan pada pemerintah agar melakukan pencermatan kembali pada pasal-pasal tersebut di atas, sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda/salah dalam penerapannya. </p>
<p>***<br />
<strong>Fact Sheet AIMI</strong>:<br />
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.</p>
<p><strong>Contact Person AIMI</strong>:<br />
Mia Sutanto<br />
AIMI Chairwoman<br />
mia.sutanto [at] aimi-asi [dot] org, +6281510002584</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo<br />
Head of Communications Division<br />
sisca [at] aimi-asi [dot] org, +62818765021 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/04/siaran-pers-tanggapan-aimi-terhadap-pp-33-tahun-2012-tentang-pemberian-air-susu-ibu-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Menyusui Lebih Dari Sekedar ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/05/siaran-pers-menyusui-lebih-dari-sekedar-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/05/siaran-pers-menyusui-lebih-dari-sekedar-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2011 10:25:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>
		<category><![CDATA[ultah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1377</guid>
		<description><![CDATA[AIMI, Jakarta (30/04): Menyusui bukan sekedar memberikan makan untuk bayi, tetapi juga mengalirkan cinta, memberikan yang terbaik untuk bayi dari segi intelegensia, dan kesehatan lahir batin. Hal inilah yang menjadi tema besar perayaan hari ulang tahun Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang ke empat. Empat tahun yang lalu, sekumpulan ibu yang peduli terhadap pemberian ASI [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/04/04-logo-aimi4th.jpg" alt="" title="04-logo-aimi4th" width="150" height="150" class="alignleft size-full wp-image-1374" />AIMI, Jakarta (30/04): Menyusui bukan sekedar memberikan makan untuk bayi, tetapi juga mengalirkan cinta, memberikan yang terbaik untuk bayi dari segi intelegensia, dan kesehatan lahir batin. Hal inilah yang menjadi tema besar perayaan hari ulang tahun Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang ke empat.</p>
<p>Empat tahun yang lalu, sekumpulan ibu yang peduli terhadap pemberian ASI tergabung dalam wadah milis asiforbaby yang saat ini anggotanya di atas 10 ribu. Kemudian setelah beberapa kali pertemuan, mereka bersepakat membentuk AIMI.</p>
<p>Dikomandoi oleh Mia Sutanto (ketua umum), Nia Umar (wakil ketua umum) dan Farahdibha Tenrilemba (sekretaris jenderal), organisasi yang masih muda ini sudah meramaikan dunia perASIan di Indonesia. Dan sebagai wujud syukur AIMI ketika memasuki  usianya yg ke empat, serangkaian acara sosialisASI dan konseling laktasi gratis diselenggarakan oleh AIMI, tidak hanya di Jakarta, tetapi di seluruh cabang AIMI: Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. &#8220;SosialisASI dan konseling gratis ini dilakukan oleh AIMI sebagai perwujudan syukur dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Terbukti antusiasme masyarakat terhadap menyusui semakin meningkat dalam satu tahun belakangan. Kami ingin membantu masyarakat dalam mendapatkan informasi tentang ASI dan menyusui yang benar&#8221;, jelas Mia Sutanto ketika ditanya tentang rangkaian acara ulang tahun AIMI.</p>
<p>Rangkaian kegiatan ulang tahun ini kemudian di tutup dengan perayaan HUT AIMI berupa bincang-bincang bersama pakar ASI dan pakar intelegensia, di restoran Sindang Reret Jakarta Selatan, sekaligus peluncuran buku &#8220;Mama, Adik bayi makan apa?&#8221; Yang ditulis oleh Mia Sutanto. Buku yang ditujukan untuk anak-anak ini bertujuan memberikan pemahaman bahwa menyusui adalah norma, bukan sesuatu hal yang tidak lazim.</p>
<p>“Bincang-bincang bersama dr Utami Roesli SpA, IBCLC dan dari Pusat Inteligensia Kesehatan Kemkes akan mengupas bahwa menyusui melebihi dari sekedar memberikan ASI. Acara HUT AIMI yang ke-4 ini juga akan diramaikan oleh penampilan band, stand bazaar, dan pemberian konseling gratis bagi para ibu hamil dan menyusui,” dituturkan oleh Tanti Djafar, ketua pelaksana HUT 4 AIMI.</p>
<p>Selamat ulang tahun ke empat, AIMI! Semoga semakin banyak ibu menyusui dan bayi yang mendapatkan ASI di Indonesia karena karyamu.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Fact Sheet AIMI</span></strong>:<br />
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.</p>
<p>***</p>
<p>Contact Person AIMI:</p>
<p>Mia Sutanto<br />
AIMI Chairwoman<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo<br />
Head of Communications Division<br />
sisca@aimi-asi.org</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS lt. 3<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. RS. Fatmawati no. 39, Jakarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/05/siaran-pers-menyusui-lebih-dari-sekedar-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Seruan Mengakhiri Promosi Makanan dan Minuman Pengganti ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-seruan-mengakhiri-promosi-makanan-dan-minuman-pengganti-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-seruan-mengakhiri-promosi-makanan-dan-minuman-pengganti-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 01:44:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[OA7]]></category>
		<category><![CDATA[oneasiaforum7]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1138</guid>
		<description><![CDATA[SIARAN BERITA ONE ASIA BREASTFEEDING PARTNERS FORUM 7 AIMI, Jakarta (9/11): Pertumbuhan ekonomi di Indonesia membawa dampak pertumbuhan di segala bidang industri. Termasuk industri susu formula. Sedemikian besarnya pasar industri susu formula sehingga menjadikan Air Susu Ibu (ASI) bukan satu-satunya makanan bayi. Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Tampaknya telah terjadi perubahan paradigma orang Indonesia sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SIARAN BERITA ONE ASIA BREASTFEEDING PARTNERS FORUM 7</p>
<p>AIMI, Jakarta (9/11): Pertumbuhan ekonomi di Indonesia membawa dampak pertumbuhan di segala bidang industri. Termasuk industri susu formula. Sedemikian besarnya pasar industri susu formula sehingga menjadikan Air Susu Ibu (ASI) bukan satu-satunya makanan bayi.</p>
<p>Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Tampaknya telah terjadi perubahan paradigma orang Indonesia sebagai dampak dari promosi susu formula. Berdasarkan data menyusui terakhir dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007, konsumsi susu formula meningkat dari 15% pada tahun 2003/2004 menjadi 30% pada tahun 2007, sedangkan jumlah bayi yang disusui secara eksklusif menurun dari 40% pada tahun 2003/2004 menjadi 30% pada tahun 2007.</p>
<p>Hal ini yang menjadi alasan mengapa Menteri Kesehatan Republik Indonesia, ibu dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH,Dr. PH,  mengeluarkan pernyataan di media massa untuk mengakhiri promosi makanan dan minuman pengganti ASI. Pernyataan ini datang pada saat tepat, khususnya saat terjadi bencana pada 25 dan 26 Oktober. Di mana bantuan berupa makanan pokok dan pakaian menjadi prioritas utama untuk didatangkan ke tempat bencana – hal ini juga didukung dengan berkembangnya teknologi seperti internet, jaringan sosial twitter dan facebook, yang semuanya menjadi sarana untuk meminta bantuan.</p>
<p>Sebagian besar donasi datang dalam bentuk susu formula dan makanan bayi yang dapat membahayakan bayi dan anak- anak, yang justru semakin rapuh dalam kondisi bencana. ASI melindungi bayi dan anak – anak dari penyakit dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh, serta memberikan asupan gizi yang mereka butuhkan. Bagaimanapu, para ibu – ibu ini membutuhkan dukungan untuk tetap menyusui terutama saat dan setelah terjadinya bencana, saat mereka mengalami tekanan emosional dan fisik disertai beban yang meningkat.</p>
<p>Kurangnya dukungan untuk menyusui, baik saat normal maupun bencana merupakan hal yang umum ditemukan berdasarkan temuan the World Breastfeeding Trends Initiative: Status of Breastfeeding in 33 Countries. Pada laporan tersebut dengan jelas menunjukkan bahawa mendukung para ibu untuk menyusui menjadi prioritas kesekian pemerintah di seluruh dunia, dan juga tidak memberikan dukungan menyusui saat bencana dan kegawatdaruratan.</p>
<p>“Untuk melindungi bayi melalui menyusui, perlu menjembatani celah antara kebijakan dan program yang ada. Informasi mengenai apa masalah dan apa yang perlu dilakukan tersedia bagi hampir seluruh anak – anak di dunia,” demikian menurut Dr Arun Gupta, Regional coordinator of International Baby Food Action Network (IBFAN) Asia. “<br />
“Laporan mengenai sebagian anak-anak yang tinggal di negara yang sudah melakukan penilaian WBTi itu telah selesai. Banyak dari negara-negara ini juga memiliki angka kematian yang tinggi. Langkah –langkah untuk meningkatkan angka menyusui akan sejalan dengan perlindungan dari penyakit dan perkembangan otak anak-anak.”</p>
<p>Indonesia beruntung memiliki Menteri Kesehatan yang menaruh perhatian pada status menyusui dan juga gerakan menyusui disaat situasi gawat darurat. Lewat berbagai media, beliau menyatakan kepada seluruh Masyarakat yang ingin mendonasikan susu formula dan makanan bayi instant, untuk mendukung para ibu menyusui agar tetap memberikan atau memerah ASInya disaat kegawatdaruratan. “Indonesia telah membuktikan bahwa hal ini dapat terjadi, yaitu dengan membuat pojok-pojok laktasi di wilayah bencana dimana didalamnya terdapat para konselor laktasi yang menjalankan kelompok-kelompok pendukung menyusui. Tidak lupa harus memastikan penyebaran donasi susu formula sebaiknya dibawah pengaturan satu pintu dan diikuti penjelasan yang menyeluruh akan pemberian makanan pengganti ASI tersebut” ujar dr. Utami Roesli FABM, IBCLC.</p>
<p>One Asia Breastfeeding Partners Forum 7 menyerukan kepada semua bangsa di dunia untuk memprioritaskan kesehatan bayi mereka dan memberhentikan bentuk-bentuk promosi makanan pengganti ASI. Forum-forum terdahulu telah diselenggarakan oleh IBFAN Asia, sebuah lembaga yang telah mempelopori penilaian kebijakan dan program untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung menyusui di lebih dari 70 negara yang sebanyak 33 negara telah menyelesaikan penilaiannya. Mulai tahun 2004, IBFAN Asia telah menyelenggarakan beberapa Forum, di berbagai negara, dimana masyarakat sipil dan pemerintah berpartisipasi aktif dalam mengambil tindakan untuk meningkatkan pemberian ASI. Pada awalnya, forum ini hanya diikuti oleh negara-negara Asia Selatan. Namun sejak tahun lalu, Forum 6,  IBFAN Asia mengundang lebih banyak negara dari Asia Timur  dan Asia Tenggara. Indonesia diwakili oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
.<br />
Tema Forum 7 adalah &#8220;Seruan Mengakhiri bentuk Promosi Makanan &#038; Minuman Pengganti ASI. Lebih dari 100 peserta mewakili negara-negara Asia akan berbagi status menyusui di negara mereka masing-masing serta  bentuk-bentuk pelanggaran terkini terhadap Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, serta langkah yang diambil pemerintah. &#8220;Forum ini diselenggarakan untuk membangun jaringan nasional dan internasional dan memperkuat kolaborasi masyarakat dan pemerintah untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung menyusui&#8221;, seperti dikatakan Farahdibha Tenrilemba, Sekretaris Jenderal AIMI sekaligus ketua penyelenggara One Asia Breastfeedng Partners Forum 7. &#8220;Forum ini dharapkan dapat membuka mata semua pihak tentang keberadaan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI serta jenis-jenis pelanggaran yang terjadi sehingga masyarakat dapat menjadi ‘pengawas’ dengan begitu akan membantu peningkatan angka menyusui&#8221; dia menjelaskan.</p>
<p>Forum 7 diselenggarakan berkat kerjasama AIMI dengan IBFAN Asia berkolaborasi dengan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, dan didukung oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, WHO, UNICEF, Care, Mercy Corps, WVI dan Save the Children.</p>
<p>***<br />
Fact Sheet AIMI:<br />
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.<br />
***<br />
Contact Person AIMI:<br />
Mia Sutanto<br />
AIMI Chairwoman<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org, +6281510002584</p>
<p>Farahdibha Tenrilemba<br />
Head Project Committee of One Asia Breastfeeding Partners Forum 7<br />
diba@aimi-asi.org, +62811988586</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo<br />
Head of Communications Division<br />
sisca@aimi-asi.org, +62818765021 </p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS lt. 3<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. RS. Fatmawati no. 39, Jakarta<br />
Telp: 021.72790165 Fax: 021.72790166</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-seruan-mengakhiri-promosi-makanan-dan-minuman-pengganti-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: AIMI Salurkan Sumbangan untuk Merapi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-aimi-salurkan-sumbangan-untuk-merapi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-aimi-salurkan-sumbangan-untuk-merapi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 00:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[AIMI Emergency Response]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang membuka pengumpulan dana untuk korban bencana Merapi sejak tanggal 28 Oktober lalu telah menggunakan dana sumbangan yang terkumpul untuk berbagai kebutuhan pengungsi, terutama ibu, bayi dan balita di Jogjakarta. Dana yang terkumpul hingga 4 November 2010 sebesar Rp 4 juta dan telah disalurkan kepada para korban bencana letusan Merapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang membuka pengumpulan dana untuk korban bencana Merapi sejak tanggal 28 Oktober lalu telah menggunakan dana sumbangan yang terkumpul untuk berbagai kebutuhan pengungsi, terutama ibu, bayi dan balita di Jogjakarta.</p>
<p>Dana yang terkumpul hingga 4 November 2010 sebesar Rp 4 juta dan telah disalurkan kepada para korban bencana letusan Merapi oleh Konselor Laktasi AIMI yang mengunjungi para korban sekaligus memberikan konseling kepada ibu hamil dan menyusui agar bisa tetap menyusui dalam kondisi darurat.</p>
<p>dr. Astri Pramarini, Konselor Laktasi AIMI yang juga Ketua AIMI Jawa Timur mengunjungi pos pengungsi di Hargobinangun. Di sana menemui 27 ibu hamil dan menyusui yang tinggal di pos dan sekitarnya untuk memberi dukungan menyusui.</p>
<p>Uang sumbangan dari donatur yang masuk ke AIMI, kata Astri, juga diberikan peralatan memasak karena ibu-ibu mengalami kesulitan untuk memberikan MPASI buatan sendiri karena di pengungsian tidak ada peralatan memasak yang bisa digunakan. “Mereka mengeluhkan bayi-bayi menolak MPASI (bubur instan) yang disediakan, bahkan akan yang mengalami konstipasi setelah mengonsumsi makanan instan.”</p>
<p>Untuk itu, AIMI kemudian bekerja sama dengan Jogja Parenting Club menyediakan MPASI untuk bayi berusia 6 bulan ke atas dengan menggunakan dana yang ada.</p>
<p>AIMI juga membagikan flyer mengenai cara memberikan makanan kepada bayi pada saat terjadi bencana, panduan menyusui dan cara memerah ASI. Menurut Astri, dalam kondisi serba darurat seperti ini, ASI menjadi satu-satunya cara yang paling pasti untuk melindungi bayi. “Karena itu, AIMI langsung turun untuk memberikan konseling dan motivasi, agar ibu tetap bisa menyusui.”</p>
<p>Dia menambahkan, seorang ibu, dalam kondisi apapun pasti bisa menyusui bayinya. Sebaiknya, ibu melindungi bayinya dengan tidak memberikan susu formula secara sembarangan yang bisa membahayakan kondisi bayi. Dalam situasi darurat di pengungsian, lanjut Astri, persediaan air bersih sangat terbatas sehingga itu sangat tidak memungkinkan untuk bayi bisa mengonsumsi susu formula. “Air bersih dibutuhkan untuk mencuci botol dan membuat susu, padahal saat ini persediaan air bersih sangat terbatas.”</p>
<p>AIMI masih membuka sumbangan dana untuk korban Merapi yang akan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan MPASI bayi dan balita bekerja sama dengan Jogja Parenting Club. Jika Anda ingin membantu, dana bisa ditransfer melalui</p>
<blockquote><p>Rekening AIMI<br />
Bank Mandiri Cabang Jakarta Kyai Tapa,<br />
a/n. <strong>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia</strong><br />
nomor rekening <strong>11700 2464 274 6</strong> (<strong>11700 AIMI ASI 6</strong>)</p></blockquote>
<p>dan mencantumkan Bantuan Mentawai dan Merapi di berita transfer.</p>
<p>***</p>
<p>Fact Sheet AIMI:</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Contact Person AIMI</strong>:<br />
<strong>Mia Sutanto</strong><br />
AIMI Chairwoman<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org, +6281510002584</p>
<p><strong>Sisca Baroto-Utomo</strong><br />
Head of Communications Division<br />
sisca@aimi-asi.org, +62818765021</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS lt. 3<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. RS. Fatmawati no. 39, Jakarta<br />
Telp: 021.72790165 Fax: 021.72790166</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<a class="downloadlink" href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=MELINDUNGI-BAYI-DALAM-KEADAAN-DARURAT.pdf" title=" downloaded 465 times" >Melindungi Bayi Dalam Keadaan Darurat (465)</a>
<h3>MELINDUNGI BAYI DALAM KEADAAN DARURAT</h3>
<p><strong>Informasi untuk Media</strong></p>
<p>Bencana alam yang melanda Indonesia terlalu kerap menyisakan kepedihan pada kita semua, rintihan dan tangis korban bencana banjir, gempa bumi, tsunami, kekeringan dan bencana lainnya, seakan menguji ketabahan kita sebagai manusia. Ibu dan anak-anak, terutama bayi, adalah korban yang paling rentan ketika terjadi bencana.</p>
<p>Media memiliki peran yang penting untuk melindungi bayi dalam keadaan darurat dengan tidak memberikan dukungan pada donator yang menyumbangkan susu formula dan mengingatkan pembaca bahwa Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang paling steril dan bisa mencegah penyakit pada bayi, sedangkan makanan buatan akan menambah risiko bagi bayi.</p>
<p><strong>MENGAPA BAYI BEGITU RENTAN?</strong></p>
<p>Bayi memiliki kebutuhan nutrisi khusus dan dilahirkan dengan sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Untuk bayi yang masih menyusui, ASI akan memenuhi kebutuhan makanan untuk mereka dan sekaligus kekebalan tubuh yang melindungi mereka dalam kondisi darurat.</p>
<p>Situasi berbeda dialami oleh bayi yang tidak menyusui. Dalam keadaan darurat, persediaaan makanan terhambat dan tidak ada persediaan air bersih untuk membuat susu formula atau membersihkan botol susu yang akan digunakan. Dalam kondisi seperti ini, bayi yang tidak menyusui rentan terhadap infeksi dan diare. Bayi yang menderita diare sangat mudah terserang malnutrisi dan dehidrasi serta meningkatkan risiko kematian.</p>
<p><strong>BAGAIMANA DENGAN ANAK-ANAK?</strong></p>
<p>Tidak hanya bayi yang memiliki kerentanan dalam kondisi darurat bencana, anak-anak dibawah 5 tahun dan terutama anak dibawah 2 tahun memiliki risiko lebih mudah sakit dan menemui ajalnya dalam kondisi darurat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan bayi tetap disusui hingga usia 2 tahun atau lebih. Anak-anak juga membutuhkan makanan bergizi yang aman untuk dikonsumsi, dan hal seperti ini tentu tidak mudah dilakukan dalam kondisi darurat.</p>
<p>MASALAH YANG DIHADAPI</p>
<p>Berkaca dari pengalaman lalu ketika terjadi bencana, susu bubuk dan susu formula untuk bayi lazim disumbangkan kepada korban bencana. Bahkan beberapa perusahaan susu formula, langsung menyumbang kepada korban bencana, juga dari beberapa lembaga bantuan, pemerintah dan juga individu yang ingin membantu.</p>
<p>Liputan media bisa menghasilkan tekanan kepada pemerintah dan masyarakat untuk tidak lagi menyumbangkan susu formula saat bencana datang.</p>
<p>Dalam kondisi darurat, produk susu bubuk dan susu formula ini sering dibagikan dengan tidak terkontrol dan digunakan oleh ibu yang bahkan masih menyusui bayinya. Ini mengakibatkan sakit dan kematian bayi yang sangat tidak diharapkan.</p>
<p>Hasil penelitian UNICEF setelah gempa di Yogyakarta tahun 2006 lalu menunjukkan, meskipun awalnya tingkat menyusui di kota tersebut sangat tinggi, 70% bayi dibawah usia 6 bulan diberi sumbangan susu formula. Contoh lain, <em>Centre for Disease Classification (CDC)</em> menemukan setelah terjadi bencana banjir, sekitar 500 anak di Botswana (tahun 2005-2006) ditemukan meninggal dunia setelah mengonsumsi susu formula dari hasil sumbangan.</p>
<p><strong>BAGAIMANA MEDIA BISA MEMBANTU?</strong></p>
<p>Media memiliki peran yang sangat penting untuk melindungi bayi dan anak-anak dalam kondisi darurat dengan menyebaran informasi dukungan terhadap ibu menyusui dan penggunaan susu bubuk dan susu formula yang tepat. Media bisa membantu dengan memasukkan cerita-cerita seperti ini :</p>
<ul>
<li>Dukung ibu untuk tetap menyusui adalah cara yang paling pasti untuk melindungi bayi dalam kondisi darurat.</li>
<li>Menyusui bisa dilakukan seorang ibu dalam kondisi apapun, termasuk jika sedang stress, ibu tetap bisa memberikan susu yang cukup untuk bayinya.</li>
<li>Penggunaan susu bubuk dan susu formula secara sembarangan sangat membahayakan kondisi bayi, menyebabkan sakit bahkan kematian.</li>
<li>Relawan harap menyampaikan bahwa tidak ada kebutuhan untuk susu formula dalam jumlah yang sangat besar pada saat kondisi darurat dan jika benar-benar membutuhkan bisa disediakan secara lokal. Tidak perlu sumbangan susu formula, susu bubuk dan botol bayi dalam kondisi darurat bencana.</li>
<li>Anggota masyarakat dan lembaga bantuan disadarkan bahwa distribusi susu formula dan susu bubuk yang tidak tepat akan dilaporkan kepada pihak yang berwenang.</li>
</ul>
<p><strong>BAGAIMANA MELINDUNGI BAYI DAN ANAK-ANAK DALAM KONDISI DARURAT?</strong></p>
<p>Berikut ini pedoman dan pengelolaan pemberian makanan bayi dalam kondisi darurat :</p>
<ol>
<li>Ibu yang menyusui anaknya harus diberikan dukungan dan bantuan praktis untuk meneruskan menyusui, mereka tidak boleh sembarangan diberikan bantuan susu formula dan susu bubuk.</li>
<li>Ibu yang sudah tidak lagi menyusui, misalnya ibu yang telah menyapih anaknya, harus didukung untuk memulai relaktasi dan mencari ibu susu untuk bayi tanpa ibu.</li>
<li>Jika ada bayi yang tidak bisa disusui, bayi tersebut harus diberikan susu formula dan perlengkapan untuk menyiapkan susu tersebut, dibawah pengawasan yang ketat dan kondisi kesehatan bayi harus tetap dimonitor. Botol bayi sebaiknya tidak digunakan karena risiko terkontaminasi, kesulitan untuk membersihkan botol-gunakan sendok atau cangkir untuk memberikan susu kepada bayi.</li>
<li>Jika susu bubuk yang tersedia dicampur dengan makanan lokal yang ada sebelum didistribusikan, itu juga bukan merupakan pengganti ASI.</li>
<li>Upayakan untuk melindungi dan mendukung menyusui dan memastikan pemberian makanan yang aman untuk anak-anak.</li>
<li>Keadaan darurat bisa digunakan oleh perusahaan susu formula masuk ke ceruk pasar baru dan meningkatkan penjualan. Pemasaran susu formula yang tidak etis adalah masalah dunia dan kode etik internasional telah dikeluarkan untuk memberikan dukungan kepada ibu dan bayi dari pemasaran yang tidak etis ini.</li>
</ol>
<p>Pesan ini disampaikan kepada media yang memiliki dampak pemberitaan sangat luas, mengenai kebutuhan bayi dalam kondisi darurat. Anggota masyarakat, lembaga bantuan dan donor yang ingin memberikan bantuan kepada bayi dan anak-anak bisa mencapatkan informasi yang tepat dan ini bisa membantu untuk melindungi mereka dari praktik-praktik yang berbahaya dan melindungi mereka yang rentan malnutrisi dan ancaman kematian. *****</p>
<p><em>Informasi ini disadur oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dari Operational Guidance for Emergency Relief Staff and Programme Managers in Infant and Young Child Feeding in Emergencies. IFE core Group. <a href="http://www.ennonline.net/">www.ennonline.net</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/11/siaran-pers-aimi-salurkan-sumbangan-untuk-merapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SIARAN PERS: Peresmian AIMI cabang Jawa Timur, 8 Agustus 2010</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/08/siaran-pers-peresmian-aimi-cabang-jawa-timur-8-agustus-2010/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/08/siaran-pers-peresmian-aimi-cabang-jawa-timur-8-agustus-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 02:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[10 langkah]]></category>
		<category><![CDATA[Pekan ASI 2010]]></category>
		<category><![CDATA[Pekan ASI Sedunia]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar AIMI]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=982</guid>
		<description><![CDATA[SURABAYA (08/08): Pentingnya penerapan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) menjadi salah satu kunci sukses dalam hal menyusui, bagi ibu dan bayi. Tema tersebut diangkat dalam perayaan Pekan ASI Sedunia (PAS) 2010 sebagai suatu cara sosialisasi bagi seluruh pihak yang terlibat di dalam proses keberhasilan menyusui, untuk menjamin bahwa ibu dan bayi di seluruh dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SURABAYA (08/08): Pentingnya penerapan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) menjadi salah satu kunci sukses dalam hal menyusui, bagi ibu dan bayi. Tema tersebut diangkat dalam perayaan Pekan ASI Sedunia (PAS) 2010 sebagai suatu cara sosialisasi bagi seluruh pihak yang terlibat di dalam proses keberhasilan menyusui, untuk menjamin bahwa ibu dan bayi di seluruh dunia diberikan hak untuk memberikan dan menerima nutrisi terbaik, yaitu ASI.</p>
<p>Memanfaatkan momen PAS 2010 yang tema-nya sangat mengena ini, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) secara resmi meresmikan AIMI cabang Jawa Timur bertepatan dengan puncak acara PAS 2010. “Dengan adanya AIMI cabang Jawa Timur ini, diharapkan angka menyusui di Jawa Timur dapat meningkat, karena AIMI adalah salah satu organisasi mother support group yang utamanya berkegiatan untuk melakukan sosialisasi mengenai manfaat ASI dan menyusui (lewat kelas edukASI), memberikan pendampingan bagi ibu menyusui melalui konseling menyusui (oleh para konselor laktasi), serta melakukan advokasi bagi para ibu menyusui yang sulit/mendapatkan hak-nya untuk memberikan ASI bagi buah hatinya,” jelas Mia Sutanto, Ketua AIMI pusat ketika ditemui dalam peresmian AIMI Jatim.</p>
<p>Peresmian AIMI Jatim ini diselenggarakan di City of Tomorrow, Surabaya dan ditandai dengan kegiatan-kegiatan menarik, seperti: Breastfeeding Fair, Talkshow kesehatan dan MPASI, serta ditutup oleh acara puncak yaitu peresmian AIMI Jatim yang ditandai dengan adanya Menyusui Serentak yang dimeriahkan oleh Widi Mulia, personil kelompok music B3 yang juga ibu menyusui. Di dalam peresmian AIMI Jatim ini, Ketua AIMI Pusat, Mia Sutanto secara simbolis memasangkan pin pada Ketua AIMI Jawa Timur sebagai dimulainya tugas untuk memimpin AIMI Jawa Timur.</p>
<p>“Kami berharap, setelah AIMI Jawa Timur ini didirikan, akan semakin banyak orang tua (khususnya ibu) dan keluarga yang sadar dan tahu akan keunggulan ASI sehingga semangat dalam memberikan ASI pada buah hatinya. Hal ini tentu saja sebagai suatu langkah kecil untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan generasi masa depan yang sehat, cerdas dan berahlak baik untuk membangun bangsa,” ujar dr. Astri Pramarini, Ketua AIMI Jawa Timur.<br />
Sukses, AIMI Jawa Timur!</p>
<p>***<br />
Fact Sheet AIMI:<br />
www.aimi-asi.org<br />
Didirikan oleh dan diperuntukan bagi ibu menyusui. Berdiri pada 21 April 2007 yang memberikan konseling, kelas- kelas edukasi ASI; mengadakan acara seminar menyusui; melakukan advokasi ke pemerintah untuk regulasi ASI, advokasi ke perusahaan untuk berikan dukungannya pada menyusui; mengawasi pelanggarakan akan kode internasional dari pemasaran susu formula; dan bersama dengan Koalisi Advokasi ASI memperkuat dukungan untuk menyusui di Indonesia.<br />
***</p>
<p>Contact Person AIMI:<br />
Mia Sutanto<br />
AIMI Chairwoman<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org, +6281510002584</p>
<p>Farahdibha Tenrilemba<br />
Secretary General<br />
diba@aimi-asi.org, +62811988586</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo<br />
Head of Communications Division<br />
sisca@aimi-asi.org, +62818765021 </p>
<p>dr. Astri Pramarini<br />
AIMI Jawa Timur Chairwoman<br />
astri.pramarini@gmail.com, +62817396715</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/08/siaran-pers-peresmian-aimi-cabang-jawa-timur-8-agustus-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Poling Juni 2010 &#8211; Cadangan Makanan Bayi Baru Lahir</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/07/ulasan-polling-juni-2010/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/07/ulasan-polling-juni-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 08:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[kolustrum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Poll: 72 Jam Dua jempol untuk semua responden. Hebat! Ternyata sudah banyak yang mengetahui dan memahami, bahwa dalam 72 jam pertama dalam hidupnya bayi dapat bertahan tanpa makanan/minuman apapun (48%) dan yang lain berpendapat bahwa bayi baru lahir dapat bertahan tanpa makanan/minuman apapun dalam 48 jam pertama (37%). Mengapa hal ini dapat terjadi? Bayi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Jawaban Poll: 72 Jam</p>
<p>Dua jempol untuk semua responden. Hebat! Ternyata sudah banyak yang mengetahui dan memahami, bahwa dalam 72 jam pertama dalam hidupnya bayi dapat bertahan tanpa makanan/minuman apapun (48%) dan yang lain berpendapat bahwa bayi baru lahir dapat bertahan tanpa makanan/minuman apapun dalam 48 jam pertama (37%).</p>
<p>Mengapa hal ini dapat terjadi?</p>
<p>Bayi baru lahir, memiliki cadangan makanan di dalam tubuhnya yang diperoleh dari plasenta selama berada di rahim ibu. Oleh karena itu, bayi baru lahir tidaklah memerlukan makanan/minuman apapun. Satu-satunya zat yang ia perlukan ketika baru lahir adalah kolostrum (ASI awal) yang akan menjadi imunisasi pertamanya, karena berfungsi untuk melapisi dinding usus bayi (yang sel-selnya belum rapat) menjadi tertutup dan akhirnya rapat.Seringkali banyak ibu yang bertanya. Di hari keberapa sebenarnya kolostrum diproduksi? Mengapa di hari-hari awal kelahiran, ASI tidak keluar? Bukankah jika bayi tidak diberi minum ASI dalam 72 jam pertama akan kelaparan?</p>
<p>Sebenarnya, ASI yang berbentuk kolostrum diproduksi pada trimester kedua kehamilan (minggu ke-16), dan terus diproduksi sampai hari ‘H’ kelahiran. Pada sebagian ibu, terkadang kolostrum sudah keluar pada trimester ketiga, tetapi pada banyak ibu kolostrum baru keluar pada hari ke-2 atau ke-3 setelah kelahiran. Kedua hal ini adalah normal, karena pada 48 – 72 jam pasca kelahiran, tubuh ibu mulai meningkatkan produksi ASI, sehingga ibu merasakan ‘sensasi ASI’, dimana payudara mengencang dan mengeluarkan kolostrum.</p>
<p>Oleh itu tak perlu khawatir, jika ASI/kolostrum belum keluar di hari 1 atau ke-2 setelah kelahiran. Hal ini dikarenakan jumlah kolostrum yang sangat sedikit (karena sesuai kebutuhan bayi) dan warnanya yang bening atau kekuningan, sehingga membuat keluarnya kolostrum tidak terasa/terlihat oleh ibu. Ini jugalah yang menjadi alasan mengapa bayi baru lahir tidak perlu diberikan makanan/minuman selain ASI. Dengan <em>skin-to-skin contact</em> yang sering dan bayi berada satu ruangan dengan ibu, akan mempercepat keluarnya ASI/kolostrum, sehingga proses menyusui dapat semakin lancar. Semakin sering ibu menyusui bayinya di hari-hari pertama setelah kelahiran, semakin banyak kolostrum yang diperoleh bayi, dan semakin banyak produksi ASI ibu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/07/ulasan-polling-juni-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Peresmian Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Cabang Jawa Barat, Bandung Juni 2010</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-peresmian-asosiasi-ibu-menyusui-indonesia-cabang-jawa-barat-bandung-juni-2010/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-peresmian-asosiasi-ibu-menyusui-indonesia-cabang-jawa-barat-bandung-juni-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 01:25:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Peresmian AIMI]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=757</guid>
		<description><![CDATA[Didasarkan atas kepedulian akan pentingnya dukungan terhadap ibu menyusui, sejumlah ibu di Provinsi Jawa Barat, didukung oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Pusat, bersepakat untuk membentuk AIMI Cabang Jawa Barat. Pendirian AIMI Cabang Jawa Barat ini dimaksudkan untuk dapat meningkatkan angka ibu menyusui dan bayi yang mendapatkan ASi dengan cara melakukan kegiatan-kegiatan kampanye dan edukasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Didasarkan atas kepedulian akan pentingnya dukungan terhadap ibu menyusui, sejumlah ibu di Provinsi Jawa Barat, didukung oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Pusat, bersepakat untuk membentuk AIMI Cabang Jawa Barat.  </p>
<p>Pendirian AIMI Cabang Jawa Barat ini dimaksudkan untuk dapat meningkatkan angka ibu menyusui dan bayi yang mendapatkan ASi dengan cara melakukan kegiatan-kegiatan kampanye dan edukasi ASI, maupun konseling menyusui. Tidak hanya itu, AIMI Jabar juga berperan sebagai kelompok pendukung ibu menyusui (<em>mother support group</em>) yang berfungsi untuk memotivasi ibu untuk dapat terus menyusui bayinya.</p>
<p>&#8220;Selain <em>mother support group</em>, dukungan dari keluarga, lingkungan dan fasilitas kesehatan adalah penting untuk memotivasi ibu untuk terus menyusui. Sayangnya, dukungan seperti ini masih sangat minim disini,” kata Andriana Chaizir Ketua AIMI Jabar ketika dikonfirmasi mengenai pentingnya dukungan yang harus didapatkan oleh ibu menyusui. Senada dengan pernyataan Ketua PKK Provinsi Jawa Barat, Ibu Netty Heryawan, yang menyebutkan bahwa minimnya dukungan pemberian ASI di Jawa Barat masih dari berbagai pihak, termasuk didalamnya dukungan dari Rumah Sakit, dokter, serta tenaga medis sangat berdampak pada keberhasilan menyusui pada ibu. “Oleh karena itu, perlu dibentuk suatu wadah yang dapat mendampingi dan memotivasi ibu untuk dapat memberikan yang terbaik bagi buah hatinya.“ tegasnya lagi.</p>
<p>Dalam rangka memperkenalkan AIMI Cabang Jawa Barat kepada khalayak yang lebih luas serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemberian ASI, AIMI Jawa Barat akan diresmikan pada hari Sabtu, tanggal 5 Juni 2010 yang ditandai dengan acara Menyusui Serentak 100 Ibu. Selain itu pada peresmian ini ada pula Talkshow ASI dan Menyusui yang dibawakan oleh Dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA., IBCLC., FABM yang dimeriahkan pula oleh selebriti serta tak ketinggalan Bazaar perlengkapan menyusui.</p>
<p>“100 ibu yang akan berpartisipasi pada acara Menyusui Serentak ini sebagian besar adalah anggota milis asiforbaby (AFB) yang berdomisili di Jawa Barat, tetapi ada beberapa rekan dari luar kota yang juga berpartisipasi. Mereka ini mendapatkan informasi mengenai acara menyusui serentak dari radio, TV lokal maupun milis AFB.” jelas Dede Gemayuni, sang ketua panitia peresmian AIMI Jabar.</p>
<p>Kedepannya diharapkan peran AIMI Jabar yang didukung penuh oleh PKK Provinsi Jawa Barat dan BPPKB Jawa Barat dapat semakin terasa, terutama dalam meningkatkan <em>awareness</em> tentang ASI dan angka ibu menyusui dan bayi yang mendapatkan ASI di Jawa Barat, untuk mendapatkan generasi masa depan yang lebih baik, lebih sehat dan lebih cerdas untuk membangun bangsa</p>
<p>Pendirian AIMI Cabang Jawa Barat diharapkan dapat lebih meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan manfaat ASI bagi generasi masa depan yang lebih sehat di Jawa Barat.</p>
<p>***</p>
<p>Fact Sheet AIMI :<br />
AIMI terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP‐ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor‐kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
<p>***</p>
<p>Contact Person AIMI: </p>
<p>Andriana Chaizir<br />
Ketua AIMI Jabar<br />
(HP: +62811224503)<br />
andriana.chaizir@aimi-asi.org</p>
<p>Ade Romadhony<br />
Ketua Divisi Komunikasi AIMI Jabar<br />
(HP: +628562215471)<br />
ade.romadhony@aimi-asi.org</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Siaran pers ini telah dibaca 894 kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/siaran-pers-peresmian-asosiasi-ibu-menyusui-indonesia-cabang-jawa-barat-bandung-juni-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Seminar Ustadz dan Ustadzah</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-seminar-ustadz-dan-ustadzah/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-seminar-ustadz-dan-ustadzah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 02:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadz]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta (23/05/2010) – Berangkat dari tujuan, visi dan misi untuk meningkatkan prosentasi angka ibu menyusui di Indonesia, di ulang tahunnya yang ke-3 ini, kali ini Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) meluncurkan program baru, yaitu Seminar Ustadz dan Ustadzah yang mengangkat topik “Efek Samping Pemberian Susu Formula Pada Bayi dan ASI Sebagai Solusinya, Ditinjau dari Sisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta (23/05/2010) –  Berangkat dari tujuan, visi dan misi untuk meningkatkan prosentasi angka ibu menyusui di Indonesia, di ulang tahunnya yang ke-3 ini, kali ini Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) meluncurkan program baru, yaitu Seminar Ustadz dan Ustadzah yang mengangkat topik  “Efek Samping Pemberian Susu Formula Pada Bayi dan ASI Sebagai Solusinya, Ditinjau dari Sisi Medis dan Hukum Syariah”.</p>
<p>AIMI melihat bahwa perkataan, tindakan dan nasihat para tokoh masyarakat dan pemuka Agama selalu memiliki pengaruh dalam masyarakat. Peran mereka dalam menyebarluaskan berbagai kebijakan, ilmu yang berguna, dan ajaran yang berlaku, begitu besar. Salah satunya adalah dalam hal pemberian ASI dan menyusui yang tertera pengaturannya pada Al Qur’an. “Peran serta tokoh agama dapat menjadi salah satu kunci keberhasilan menyusui, karena mereka dapat meyakinkan nilai kebaikan dari pemberian ASI dari sisi syariahnya. Dengan seminar ini diharapkan para tokoh agama mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai ASI dari sisi medis sehingga perpaduan itu dapat menyempurnakan dan saling melengkapi agar supaya tidak terjadi informasi yang menyesatkan dikemudian hari pada masyarakat haruslah menjadi partner/rekan dekat dalam menyebarkan informasi mengenai ASI. Seperti yang kita ketahui, bahwa kebanyakan masyarakat lebih percaya pada perkataan tokoh agama/tokoh masyarakat yang dihormati dibandingkan dengan perkataan para tenaga kesehatan atau ahli laktasi. Oleh karena itu, jika informasi mengenai ASI diberikan oleh para tokoh masyarakat/agama, tentunya akan lebih mengena pada masyara”, jelas Mia Sutanto, Ketua AIMI, ketika ditanya mengenai ide awal mengadakan seminar untuk ustadz dan ustadzah ini.</p>
<p>Untuk itulah informasi mengenai pemberian ASI dan efek samping pemberian susu formula ditinjau dari sisi medis dan pendekatan agama diangkat pada seminar kali ini. Hal ini dimaksudkan agar para ustadz/ustadzah dapat menyebarluaskan informasi berharga ini kepada jamaah ataupun majilis taklim yang dipimpinnya. Diharapkan dengan pendekatan seperti ini lebih banyak masyarakat yang terpapar informasi yang tepat mengenai ASI dan mengetahui risiko pemberian susu formula secara berimbang. Oleh karena itu, AIMI mengajak para ahli di bidangnya seperti Dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA., IBCLC., FABM serta Dr. Muchlis M. Hanafi, M.A. dari Pusat Studi Qur’an menjadi pembicara ahli dalam seminar kali ini.</p>
<p>Ketika ditanya, mengapa mengangkat tema ASI dari kacamata agama, Ketua Penyelenggara Seminar, Fia Helmi mengatakan, “Untuk menyebarkan informasi mengenai ASI pada masyarakat banyak terkadang hanya diangkat dari sisi medis-nya saja. Akan lebih baik, jika tidak hanya dari sisi medis, tetapi dikuatkan juga oleh sisi agama. Hal ini tentunya akan mempertajam dakwah-dakwah yang dilakukan oleh para tokoh agama kepada para jemaah-nya. Ke depan, rencananya seminar semacam ini akan diadakan secara rutin setiap empat bulan sekali.” Jadi sangat disayangkan jika kesempatan ini dilewatkan khususnya bagi ustadz maupun ustadzah maupun  konselor laktasi dan pemerhati ASI lainnya.</p>
<p>***</p>
<p>Fact Sheet AIMI:</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.</p>
<p>***</p>
<p>Contact Person AIMI:</p>
<p>Mia Sutanto<br />
AIMI Chairwoman<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org, +6281510002584</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo<br />
Head of Communications Division<br />
sisca@aimi-asi.org, +62818765021</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS lt. 1<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. RS. Fatmawati no. 39, Jakarta<br />
Telp: 021.72790165 Fax: 021.72790166<br />
www.aimi-asi.org</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Siaran Pers ini telah dibaca sebanyak 906 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-seminar-ustadz-dan-ustadzah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: AIMI Breastfeeding Fair 2010</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-aimi-breastfeeding-fair-2010/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-aimi-breastfeeding-fair-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 03:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Fair]]></category>
		<category><![CDATA[Sharing and Caring]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=709</guid>
		<description><![CDATA[Menyambut Peringatan Pekan ASI Sedunia 2010 JAKARTA (12/05/2010) — Masih dalam rangkaian ulang tahun yang ke tiga serta menyambut Peringatan Pekan ASI Sedunia, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menggelar acara bertajuk AIMI Breastfeeding Fair 2010. Acara yang bertemakan “Breastfeeding: A New Lifestyle” ini rencananya akan diadakan selama 5 (lima) hari yaitu tanggal 12-16 Mei 2010 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menyambut Peringatan Pekan ASI Sedunia 2010</h2>
<p>JAKARTA (12/05/2010)  — Masih dalam rangkaian ulang tahun yang ke tiga serta menyambut Peringatan Pekan ASI Sedunia, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menggelar acara bertajuk AIMI Breastfeeding Fair 2010.</p>
<p>Acara yang bertemakan “Breastfeeding: A New Lifestyle” ini rencananya akan diadakan selama 5 (lima) hari yaitu tanggal 12-16 Mei 2010 di f1 Atrium fX lifestyle X’nter<br />
Jl Jend. Sudirman – Pintu Satu Senayan, Jakarta. </p>
<p>“Tema Breastfeeding: A New Lifestyle ini diangkat untuk memberikan kesadaran pada semua orang, khususnya para ibu dan ayah, bahwa menyusui adalah sesuatu yang menyenangkan, tidak membuat repot dan manfaatnya sangat besar bagi kesehatan. Oleh karena itu, acara-acara yang ada di dalamnya kami kemas dengan lebih ‘hype’ dan menarik”, jelas Mia Sutanto, ketua AIMI ketika ditanya tentang tema Breastfeeding Fair kali ini. </p>
<p>Ketika ditanya tentang acara apa saja yang ada pada Breastfeeding Fair 2010, Inna Banani, sang Ketua Penyelenggara menjelaskan, “Tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, ada <strong><em>sharing and caring</em></strong> (yang berisi sharing para pakar kesehatan seputar ASI, yang dimeriahkan oleh selebriti ibu kota), <strong><em>Bazaar</em></strong> pernak pernik ibu dan anak, dan <strong>Pojok Laktasi</strong> (untuk berkonsultasi tentang ASI dan menyusui dengan Konselor Laktasi AIMI), yang merupakan acara utama Breastfeeding Fair. Menariknya semua ini tidak dipungut bayaran, alias GRATIS! Jadi sayang sekali jika dilewatkan.”</p>
<p> “Topik-topik pada acara sharing and caring yang diangkat pada Breastfeeding Fair tahun ini sebagian besar mengacu pada tema World Breastfeeding Week 2010, yaitu “Menyusui: Hanya 10 Langkah! Sayang Bayi!”. Sebut saja bahasan mengenai bagaimana  memilih Rumah Sakit Sayang Bayi yang dibawakan oleh ibu Ninik Sukotjo, UNICEF Nutrition Specialist, lalu kajian tentang donor ASI yang dilihat dari sudut pandang agama Islam yang dibawakan oleh Ustadzah Faizah Ali Sibromalisi dari Pusat Studi Quran, dan masih banyak lagi. Jangan lupa, di setiap <strong><em>sharing and caring</em></strong> ini selalu dimeriahkan oleh bintang tamu, lho!”, tambah Inna.</p>
<p>Terkait hal ini, Mia Sutanto juga menjelaskan bahwa keberhasilan ibu menyusui sangat ditentukan oleh penanganan yang tepat – sebelum dan setelah kelahiran. Alangkah baiknya jika seorang ibu benar-benar mempersiapkan diri dengan informasi sebanyak-banyaknya tentang ASI dan menyusui, misalnya melalui <em>mailing list</em> <a href="http://health.groups.yahoo.com/group/asiforbaby/">asiforbaby</a>, kelas edukasi ASI atau mini talkshow seperti yang ada di Breastfeeding Fair. Dengan bekal yang cukup, ibu dapat memilih fasilitas kesehatan yang terbaik untuk dirinya dan bayinya (rumah sakit sayang bayi) dan dapat memilih tenaga kesehatan yang ia yakini dapat membantunya untuk memberikan ASI setelah kelahiran.</p>
<p>Sebagai organisasi yang memiliki visi dan misi untuk meningkatkan angka ibu menyusui dan bayi yang mendapatkan ASI di Indonesia, AIMI benar-benar serius dan memanfaatkan setiap event yang diselenggarakannya untuk menyebarkan informasi tentang manfaat menyusui, tidak hanya untuk bayi tetapi juga untuk ibu. Lebih lanjut mengenai AIMI dan kegiatannya dapat dibaca di <a href="http://www.aimi-asi.org/">www.aimi-asi.org</a>.</p>
<p>*******<br />
<strong>Fact Sheet AIMI</strong> :<br />
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP‐ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor‐kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
<p>*******<br />
<strong>Contact Person AIM</strong>I:</p>
<p>Mia Sutanto, Ketua AIMI<br />
mia.sutanto@aimi-asi.org<br />
(HP: +6281510002584) </p>
<p>Sisca Baroto-Utomo, Divisi Komunikasi<br />
sisca@aimi-asi.org<br />
(HP: 0818765021)</p>
<p>Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)<br />
Graha MDS Lt. 1<br />
Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jln. RS Fatmawati No. 39 Jakarta<br />
Telpon : 021-72790165 Fax: 021-72790166</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Siaran pers ini telah dibaca sebanyak 481 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-aimi-breastfeeding-fair-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Bersama Perinasia Dan Asosiasi IBCLC Indonesia, AIMI Gelar Seminar “Advance Issues on Breastfeeding&#8221;</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-seminar-advance-issues-on-breastfeeding/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-seminar-advance-issues-on-breastfeeding/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 02:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sisca Baroto-Utomo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Advance Issues on Breastfeeding]]></category>
		<category><![CDATA[IBCLC]]></category>
		<category><![CDATA[IBCLE]]></category>
		<category><![CDATA[perinasia]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=704</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA (11/05/2010) – Dalam rangka menyambut Pekan ASI Sedunia 2010 yang bertemakan “Menyusui: Hanya 10 Langkah Sayang Bayi”, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) bekerja sama dengan Perkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinasia) dan Asosiasi International Board Certified Lactation Consultant (IBCLC) Indonesia menyelenggarakan Seminar akbar yang bertemakan “Advance Issues on Breastfeeding”. Seminar yang mengangkat isu-isu penting pada menyusui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA (11/05/2010) – Dalam rangka menyambut Pekan ASI Sedunia 2010 yang bertemakan “Menyusui: Hanya 10 Langkah Sayang Bayi”, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) bekerja sama dengan Perkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinasia) dan Asosiasi International Board Certified Lactation Consultant (IBCLC) Indonesia menyelenggarakan Seminar akbar yang bertemakan “<em>Advance Issues on Breastfeeding</em>”.</p>
<p>Seminar yang mengangkat isu-isu penting pada menyusui memang ditujukan untuk para pemerhati ASI – baik perorangan maupun organisasi – terutama mereka yang ingin mengambil sertifikasi konsultan laktasi internasional (IBCLC). Oleh karena itu, tak heran jika pembicara-pembicara pada seminar ini adalah para konsultan ASI dan menyusui lokal dan internasional, sebut saja Dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA., IBCLC., FABM, Prof. Dr. Rulina Soeradi, Sp.A(k)., IBCLC, Karolyn Vaughn, IBCLC, Mandy O’Reilly, IBCLC dan masih banyak lagi.</p>
<p>Seminar khusus yang mengangkat isu-isu penting pada menyusui dan dibawakan langsung oleh pakar ASI lokal dan internasional dimana para pesertanya akan mendapatkan 6 poin CERPS dan sertifikat IBCLE ini mungkin yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Oleh karena itu, AIMI sangat menyambut baik kerjasama dengan Perinasia dan Asosiasi IBCLC Indonesia untuk menyelenggarakan hal ini. “Kami berharap, dengan adanya seminar-seminar seperti ini, Indonesia akan memiliki lebih banyak lagi Konsultan ASI yang akan membantu meningkatkan angka ibu menyusui dan bayi yang mendapat ASI di Indonesia”, jelas Mia Sutanto, Ketua AIMI ketika dikonfirmasi mengenai tujuan dilaksanakannya seminar ini.</p>
<p>Lebih jauh mengenai seminar ini, Cessy Hardiansyah, Ketua Penyelenggara Seminar, mengatakan, “Topik-topik yang diangkat dalam seminar ini sangatlah menarik. Sebut saja <em>infant mental health</em>, <em>rare cases in breastfeeding</em>, <em>breastfeeding in special cases</em> dan masih banyak lagi. Sayang sekali jika kesempatan langka seperti ini dilewatkan, apalagi oleh mereka yang memang ingin menjadi Konsultan Laktasi.”<br />
Diharapkan seminar-seminar semacam ini dapat diadakan lagi di tahun-tahun mendatang. Sehingga kesempatan untuk menjadi Konsultan Laktasi semakin terbuka lebar. </p>
<p>****<br />
<strong>Fact Sheet AIMI</strong> :<br />
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk menyosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI dan MP‐ASI Sehat untuk Bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor‐kantor, Pemberian penghargaan kepada perusahaan mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi, dan kegiatan lainnya.</p>
<p>***<br />
<strong>Contact Person AIMI</strong>:<br />
Mia Sutanto, Ketua AIMI<br />
mia.sutanto@aimi‐asi.org<br />
(HP: +6281510002584)</p>
<p>Sisca Baroto-Utomo, Divisi Komunikasi<br />
sisca@aimi‐asi.org<br />
(HP: +62818765021)</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Siaran Pers ini telah dibaca 450 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/05/siaran-pers-seminar-advance-issues-on-breastfeeding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

