<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Mia Sutanto</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/author/miasutanto/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Konseling: Bukan APA, Tetapi BAGAIMANA</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/konseling-bukan-apa-tetapi-bagaimana/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/konseling-bukan-apa-tetapi-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 01:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[konselor laktasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1470</guid>
		<description><![CDATA[Tema perayaan Pekan ASI Sedunia tahun adalah “Talk to Me! Breastfeeding – a 3D Experience” Apa artinya? Esensi dari tema ini adalah komunikASI. Bagaimana kita mengkomunikasikan atau menyampaikan informasi, pendapat, pandangan, saran dan dukungan tentang ASI dan menyusui. Bukan saja kepada para ibu hamil dan menyusui, tetapi kepada para anggota masyarakat lainnya, lintas generasi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tema perayaan Pekan ASI Sedunia tahun adalah “<strong><em>Talk to Me! Breastfeeding – a 3D Experience</em></strong>” Apa artinya? Esensi dari tema ini adalah komunikASI. Bagaimana kita mengkomunikasikan atau menyampaikan informasi, pendapat, pandangan, saran dan dukungan tentang ASI dan menyusui. Bukan saja kepada para ibu hamil dan menyusui, tetapi kepada para anggota masyarakat lainnya, lintas generasi dan antar generasi, mulai dari anak-anak, dewasa, tenaga kesehatan, pemuka agama, tokoh adat, swasta, pemerintah dan organisasi-organisasi. </p>
<p>Dalam hal ini, dimana letak peranan seorang Konselor Laktasi? Bagaimana seorang Konselor Laktasi bisa memahami dan memaknai arti dari tema tersebut diatas dalam kegiatan sehari-hari ketika melakukan konseling kepada para ibu hamil dan ibu menyusui serta keluarga mereka. Apalagi karena sejak beberapa tahun belakangan ini, dunia laktasi di Indonesia semakin disemarakan dengan kehadiran para Konselor Laktasi ini. Apakah tugas seorang Konselor Laktasi adalah untuk memberikan nasihat kepada ibu menyusui? Apakah seorang Konselor Laktasi dituntut untuk dapat memperbaiki dan menyelesaikan seluruh permasalahan menyusui yang dijumpainya? Apakah konseling sama dengan kegiatan penyuluhan dan pengajaran? Yuk, kita belajar sedikit tentang apa artinya menjadi seorang Konselor Laktasi. </p>
<p><strong>Pengertian Konseling</strong></p>
<p>Siapakah mereka? Konselor Laktasi adalah seseorang (baik dari kalangan medis maupun non-medis) yang telah mengikuti pelatihan konselor laktasi berdasarkan modul 40 jam WHO. Aspek konseling yang merupakan kegiatan utama dari seorang Konselor Laktasi terdiri dari 2 komponen:</p>
<ol>
<li>Mendengarkan dan menerima pendapat atau pandangan ibu tanpa menghakimi; dan</li>
<li>Membantu ibu untuk menentukan pilihan yang terbaik berdasarkan informasi relevan dan saran-saran yang telah diberikan oleh seorang Konselor Laktasi.</li>
</ol>
<p>Bukan suatu kebetulan kalau urutan dari suatu proses konseling adalah seperti diatas ini, karena tanpa melakukan yang nomor 1 dengan baik dan benar, seorang Konselor Laktasi belum bisa melakukan yang nomor 2. Seringkali inilah bagian dari proses konseling yang paling berat bagi seorang Konselor Laktasi. Lah, wong pendapatnya si ibu sudah jelas-jelas salah, bagaimana kita bisa menerima pendapat tersebut apalagi sampai harus menahan diri agar tidak menghakimi si ibu dengan menyebutkan kesalahannya. </p>
<p>Oleh karena itu, dalam melakukan konseling seorang Konselor Laktasi dituntut untuk memiliki setidaknya ketrampilan-ketrampilan berikut ini:</p>
<ul>
<li>Ketrampilan mendengarkan dan mempelajari</li>
<li>Ketrampilan membangun percaya diri dan memberikan dukungan</li>
<li>Ketrampilan mengamati kegiatan menyusui dan mencatat riwayat menyusui</li>
</ul>
<p>Selain daripada itu, ada 12 kompetensi dasar dan 16 kompetensi tambahan yang sebaiknya dimiliki oleh seorang Konselor Laktasi agar dapat menjalankan perannya secara baik dan efektif. </p>
<p><strong>Komponen Utama</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-mia-sutanto-1-300x210.jpg" alt="" title="08-mia-sutanto-1" width="300" height="210" class="alignleft size-medium wp-image-1475" />Komponen utama dari suatu proses konseling, serta ketrampilan dasar yang HARUS dimiliki oleh seorang Konselor Laktasi adalah: kemampuan berkomunikasi. Bagaimana caranya, dengan <em>communication skills</em>-nya, seorang Konselor Laktasi dapat membuat ibu untuk membuka diri, menyadari sendiri persepsi keliru yang selama ini mungkin dimilikinya terkait dengan kegiatan menyusui, serta kemudian berkeinginan untuk merubah atau memperbaiki persepsi keliru tersebut sehingga kegiatan menyusui dapat berjalan lebih lancar. Tidak mudah tentunya. Salah ngomong sedikit, bisa berakibat ibu menutup diri dan menolak proses konseling yang sedang dijalani. Yang perlu diingat, konseling adalah komunikasi dua arah antara ibu menyusui dengan seorang Konselor Laktasi. Konseling BUKAN penyuluhan, TIDAK SAMA dengan kegiatan pengajaran atau pemberian nasihat. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-mia-sutanto-2-300x235.jpg" alt="" title="08-mia-sutanto-2" width="300" height="235" class="alignright size-medium wp-image-1476" />Seorang Konselor Laktasi yang tidak dapat berkomunikasi dengan baik, akan mengalami tantangan yang lebih besar ketika sedang menjalankan tugasnya. Apa saja sih kemampuan komunikasi yang sebaiknya dimiliki dan dipraktekkan ketika melakukan konseling?</p>
<ol>
<li>Mendengarkan (<em>active listening</em>)</li>
<ul>
<li>Komunikasi non-verbal atau bahasa tubuh sangat dibutuhkan ketika seorang Konselor Laktasi sedang berupaya untuk menjalin keakraban dengan ibu menyusui, dimana buah dari keakraban yang diharapkan terjalin adalah kemauan dari si ibu untuk membuka diri dan menceritakan riwayat menyusuinya secara jujur.</li>
<li>Ketika suasana mulai mencair dan ibu mulai terlihat nyaman untuk bercerita, sang Konselor Laktasi diharapkan memiliki kemampuan untuk menggali cerita, riwayat dan keterangan sebanyak mungkin melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka yang diajukan &#8212; ciri dari kegiatan konseling yang berjalan baik, si ibu lebih banyak bercerita dan berbicara dibandingkan dengan Konselor Laktasinya.</li>
<li>Memberikan respon yang wajar dan bersungguh-sungguh (<em>sincere</em>) – tunjukkan empati (bukan simpati), berikan respon tubuh (<em>gestures</em>) yang pantas serta hindari menggunakan kata-kata yang menghakimi terhadap si ibu. Mimik muka serta nada dan tonasi suara yang digunakan sangat berpengaruh terhadap ketrampilan ini. Contoh: “Ooh, jadi ibu belum tahu ya kalau ASI eksklusif adalah 6 bulan?” (dengan nada lembut, sambil menyentuh tangan ibu dan muka penuh perhatian). Bandingkan dengan “Ooh, jadi ibu belum tahu ya kalau ASI eksklusif adalah 6 bulan?” (dengan nada meninggi dan menuduh, alis dinaikkan sebelah dan pandangan meremehkan).</li>
</ul>
<li>Membangun Percaya Diri (<em>building self confidence</em>)</li>
<ul>
<li>Kemampuan untuk menerima apa yang ibu pikirkan dan rasakan, meskipun apa yang dipikirkan tersebut adalah salah, tanpa memberikan pembenaran atas kesalahan tersebut. “Ooh, jadi ibu khawatir ya ASI ibu sedikit karena ukuran payudara ibu kecil?”</li>
<li>Konselor Laktasi seyogyanya dapat mengidentifikasikan hal-hal apa saja yang sudah dilakukan dengan benar oleh ibu dan bayi, dan dapat memberikan pujian tersebut secara wajar dan bersungguh-sungguh (<em>sincere</em>).</li>
<li>Kemampuan untuk menggunakan bahasa sederhana ketika sedang konseling, terutama saat memberikan informasi relevan dan saran-saran (bukan perintah, bukan nasihat) kepada ibu. Seringkali Konselor Laktasi mengalami kesulitan dalam memberikan informasi relevan, yaitu informasi yang dibutuhkan oleh ibu untuk situasinya saat itu. Hal ini karena biasanya Konselor Laktasi memiliki segudang informasi yang dianggap benar serta mungkin perlu diketahui oleh si ibu. Tetapi, benar dan perlu diketahui belum tentu relevan untuk kondisi ibu saat itu. Information overload malah bisa menyebabkan hasil akhir konseling menjadi kurang efektif. Begitu pula saat memberikan saran, tidak perlu banyak-banyak, dan bagaimana cara menyampaikan agar tidak berkesan memerintah dan menasihati si ibu. </li>
</ul>
</ol>
<p><strong>Tatalaksana Konseling</strong><br />
Kalau membaca keterangan-keterangan diatas, maka bisa diambil kesimpulan bahwa kegiatan konseling adalah:</p>
<ol>
<li>ada tatap muka antara ibu dan Konselor Laktasi – dalam hal ini, konseling melalui telepon dan email mungkin bisa katakan kurang efektif karena sebagian besar teknik berkomunikasi tidak dapat dilakukan;</li>
<li><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-mia-sutanto-3-300x203.jpg" alt="" title="08-mia-sutanto-3" width="300" height="203" class="alignright size-medium wp-image-1474" />kegiatan yang dilakukan satu lawan satu atau <em>one on one</em>, artinya seorang Konselor Laktasi melakukan satu kesempatan konseling dengan hanya satu ibu – kegiatan konseling tidak dapat dilakukan secara berkelompok, bahkan dalam suatu KP Ibu sekalipun, karena hal tersebut akan mengarah pada kegiatan penyuluhan dan pengajaran;</li>
<li>Dalam proses konseling selalu ada komunikasi dua arah, dengan porsi berbicara yang lebih banyak pada si ibu menyusui – Konselor Laktasi tidak mendikte, memerintah, menyuluh, mengajar atau menasihati;</li>
<li>Konselor Laktasi mempraktekkan semua ketrampilan dan kompetensi yang seharusnya dimiliki olehnya, terutama ketrampilan berkomunikasi sebagaimana yang telah diuraikan diatas;</li>
<li>Konselor Laktasi dan ibu menyusui bersama-sama berdiskusi dan memutuskan hal terbaik yang akan dilakukan oleh si ibu sesuai dengan informasi relevan serta saran-saran yang telah diberikan oleh Konselor Laktasi terkait dengan kondisi menyusui ibu tersebut. </li>
</ol>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-mia-sutanto-4-300x212.jpg" alt="" title="08-mia-sutanto-4" width="300" height="212" class="alignleft size-medium wp-image-1472" />Dari penjelasan diatas, mungkin bisa diambil sedikit kesimpulan bahwa seringkali, APA yang ingin kita sampaikan kurang dapat diterima kalau BAGAIMANA cara penyampainnya masih kurang tepat. Seringkali seorang Konselor Laktasi terlalu fokus terhadap APA yang ingin dia sampaikan, tanpa memperhatikan BAGAIMANA ia menyampaikannya. It&#8217;s not WHAT you say, but HOW you say it. Konseling dengan menggunakan teknik komunikasi yang benar, akan meningkatkan rasa percaya diri ibu sehingga dia bisa kembali menyusui dengan lancar, itulah hakikat dari ketrampilan sesungguhnya seorang Konselor Laktasi.      </p>
<p>Selamat merayakan Pekan ASI Sedunia 2011, semoga dengan semakin bertambahnya konselor-konselor laktasi yang handal, semakin banyak pula pasangan ibu dan bayi yang bisa melakukan standar emas pemberian makan pada bayi. <em>Happy breastfeeding!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/konseling-bukan-apa-tetapi-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alasan Medis untuk Tidak Menggunakan Pengganti ASI</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/02/alasan-medis-pengganti-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/02/alasan-medis-pengganti-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 17:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[resiko susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1188</guid>
		<description><![CDATA[Ketika menyusui secara eksklusif tidak lagi menjadi suatu &#8216;keharusan&#8217;, biasanya para ibu dengan mudahnya berpaling pada susu formula. Kode Etik Internasional tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI (breastmilk substitute) yang dikeluarkan oleh WHO ditujukan untuk memberikan informasi pada orangtua tentang bahaya kesehatan akibat penggunaan susu formula yang tidak tepat. Makalah ini memberikan beberapa contoh hasil penelitian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika menyusui secara eksklusif tidak lagi menjadi suatu &#8216;keharusan&#8217;, biasanya para ibu dengan mudahnya berpaling pada susu formula. Kode Etik Internasional tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI (<em>breastmilk substitute</em>) yang dikeluarkan oleh WHO ditujukan untuk memberikan informasi pada orangtua tentang bahaya kesehatan akibat penggunaan susu formula yang tidak tepat. Makalah ini memberikan beberapa contoh hasil penelitian bertahun-tahun tentang pentingnya menyusui serta resiko yang ditimbulkan akibat penggunaan susu formula.  </p>
<h3>REKOMENDASI WHO</h3>
<p>WHO merekomendasikan para ibu untuk menyusui secara ekslusif selama 6 bulan, melanjutkannya dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dari bahan-bahan lokal yang kaya nutrisi sambil tetap memberikan ASI / menyusui sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. (World Health Assembly Resolution 54.2, 2001) </p>
<h3>RESIKO PEMBERIAN SUSU FORMULA UNTUK BAYI DAN ANAK-ANAK</h3>
<ol>
<li>Meningkatkan resiko asma</li>
<li>Meningkatkan resiko alergi</li>
<li>Menghambat perkembangan kognitif</li>
<li>Meningkatkan resiko infeksi saluran pernapasan akut</li>
<li>Meningkatkan resiko oklusi pada gigi anak</li>
<li>Meningkatkan resiko infeksi dari susu formula yang terkontaminasi</li>
<li>Meningkatkan resiko kurang gizi</li>
<li>Meningkatkan resiko kanker pada anak-anak</li>
<li>Meningkatkan resiko penyakit kronis</li>
<li>Meningkatkan resiko diabetes</li>
<li>Meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular (jantung)</li>
<li>Meningkatkan resiko obesitas</li>
<li>Meningkatkan resiko infeksi saluran pencernaan</li>
<li>Meningkatkan resiko kematian pada bayi dan akan-kanak</li>
<li>Meningkatkan resiko infeksi telinga dan otitis media</li>
<li>Meningkatkan resiko terkena efek samping dari kontaminasi lingkungan</li>
</ol>
<h4>1. Meningkatkan resiko asma</h4>
<ul>
<li>Sebuah penelitian di Arizona, Amerika Serikat yang menggunakan sampel 1.246 bayi sehat menunjukkan hubungan yang kuat antara menyusui dan gangguan pernafasan pada bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di bawah umur 6 tahun yang tidak disusui sama sekali, akan memiliki resiko gangguan pernafasan tiga kali lebih besar dibandingkan dengan anak-anak  yang disusui.
<p>      (Wright AL, Holberg CJ, Taussig LM, Martinez FD. <strong>Relationship of infant feeding to recurrent wheezing at age 6 years</strong>. Arch Pediatr Adolesc Med 149:758-763, 1995)</li>
<li>Penelitian pada 2.184 anak yang dilakukan oleh Hospital for Sick Children di Toronto, Kanada menunjukkan bahwa resiko asma dan gangguan pernapasan mencapai angka 50% lebih tinggi pada bayi yang diberi susu formula, dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI sampai dengan usia 9 bulan atau lebih.
<p>      (Dell S, To T. <strong>Breastfeeding and Asthma in Young Children</strong>. Arch PediatrAdolesc Med 155: 1261-1265, 2001)</li>
<li>Para peneliti di Australia Barat melakukan penelitian terhadap 2602 anak-anak untuk melihat peningkatan resiko asma dan gangguan pernafasan pada 6 tahun pertama. Anak-anak yang tidak mendapatkan ASI beresiko 40% lebih tinggi terkena asma dan gangguan pernafasan dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan. Para peneliti ini merekomendasikan untuk memberikan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan untuk mengurangi resiko terkena asma dan gangguan pernafasan.
<p>      (Oddy WH, Peat JK, de Klerk NH. <strong>Maternal asthma, infant feeding, and the risk for asthma in childhood</strong>. J. Allergy Clin Immunol. 110: 65-67, 2002)</li>
<li>Para ahli melihat pada 29 penelitian terbaru untuk mengevaluasi dampak &#8216;melindungi&#8217; terhadap asma dan penyakit pernapasan atopik lainnya yang diberikan oleh ASI. Setelah menggunakan kriteria penilaian yang ketat, terdapat 15 penelitian yang memenuhi persyaratan untuk dievaluasi, dan ke-15 penelitian tersebut menunjukkan manfaat/efek melindungi yang diberikan oleh ASI dari resiko asma. Para ahli menyimpulkan, tidak menyusui atau memberikan ASI pada bayi akan meningkatkan resiko asma dan penyakit pernafasan atopik.
<p>      (Oddy WH, Peat JK. <strong>Breastfeeding, Asthma and Atopic Disease: An Epidemiological Review of Literature</strong>. J Hum Lact 19: 250-261, 2003)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit asma dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui:</p>
<ol>
<li>Porro E, Indinnimeo L, Antognoni G, Midulla F, Criscione S. Early wheezing and breastfeeding (<em>Menyusui dan kejadian sesak napas dini</em>). J Asthma 1993;30:23-8</li>
<li>Burr ML, Limb ES, Maguire JM, Amarah L, Eldridge BA, Layzell JCM, Merret TG. Infant feeding, wheezing, and allergy: a prospective study (<em>Pemberian makan pada bayi, sesak napas, dan alergi : Kajian prospektif</em>). Arch Dis Child 1993;68:724-28</li>
<li>Wright AL, Holberg CJ, Taussig LM, Martinez FD. Relationship of infant feeding to recurrent wheezing at age 6 years (<em>Hubungan antara pemberian makan pada bayi terhadap kejadian sesak napas berulang pada usia 6 tahun</em>). Arch Pediatr Adolesc Med 1995;149:758-63</li>
<li>Oddy WH, Holt PG, Sly PD, Read AW, Landau LI, Stanley FJ, Kendall GE, Burton PR. Association between breastfeeding and asthma in 6 year old children: findings of a prospective birth cohort study (<em>Hubungan antara menyusui dan asma pada anak usia 6 tahun : temuan pada studi lanjutan kelahiran prospektif</em>). Br Med J 1999;319:815-9</li>
<li>Gdlavevich M, Minouni D, Minouni M. Breastfeeding and the risk of bronchial asthma in childhood: a systematic review with meta-analysis of prospective studies (<em>Menyusui dan resiko asmabronkial pada masa kanak-kanak : tinjauan sistematik dengan meta-analisis dari studi prospektif</em>). J Pediatr 2001;139:261-6</li>
</ol>
<h4>2. Meningkatkan resiko alergi</h4>
<ul>
<li>Anak-anak di Finlandia yang mendapatkan ASI lebih lama memiliki resiko lebih rendah untuk terkena penyakit atopik, eksim, alergi makanan dan gangguan pernafasan karena alergi. Pada usia 17 tahun, resiko gangguan pernafasan karena alergi pada mereka yang tidak mendapatkan ASI (atau mendapat ASI dalam jangka waktu pendek) adalah 65%, sementara pada mereka yang disusui lebih lama hanya 42%.
<p>      (Saarinen UM, Kajosarri M. <strong>Breastfeeding as a prophylactic against atopic disease: Prospective follow-up study until 17 years old</strong>. Lancet 346: 1065-1069, 1995)</li>
<li>Bayi yang memiliki riwayat asma/gangguan pernafasan karena memiliki riwayat alergi dari keluarganya, diteliti untuk penyakit dermatitis atopik dalam tahun pertama kehidupannya. Menyusui eksklusif selama tiga bulan pertama diakui dapat melindungi bayi dari penyakit dermatitis.
<p>      (Kerkhof M, Koopman LP, van Strien RT, et al. <strong>Risk factors for atopic dermatitis in infants at high risk of allergy: The PIAMA study</strong>. Clin Exp Allergy 33: 1336-1341, 2003)</li>
<li>Pengaruh dari konsumsi harian ibu akan vitamin C dan E pada komposisi anti-oksidan di ASI sebagai zat yang melindungi bayi dari kemungkinan terkena penyakit atopik diteliti. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu yang menderita penyakit atopik dipantau selama 4 hari, kemudian diambil sampel ASI dari ibu yang memiliki bayi dengan usia 1 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi vitamin C sehari-hari pada makanan ibu dapat meningkatkan kadar vitamin C pada ASI. Semakin tinggi kadar vitamin C pada ASI dapat menurunkan risiko terkena penyakit atopik pada bayi.
<p>      (Hoppu U, Rinne M, Salo-Vaeaenaenen P, Lampi A-M, Piironen V, Isolauri E. <strong>Vitamin C in breast milk may reduce the risk of atopy in the infant</strong>. Eur J of Clin Nutr 59: 123-128, 2005) </li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit alergi dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui </p>
<ol>
<li>Lucas A, Brooke OG, Morley R, Cole TJ, Bamford MF. Early diet of preterm infants and development of allergic or atopic disease: randomized prospective study (<em>Diet awal pada bayi prematur dan perkembangan alergi atau penyakit atopik : studi prospektif acak</em>). Br Med J 1990;300:837-40</li>
<li>Kajosaari M, Saarinen UM. Prophylaxis of atopic disease by six months&#8217; total solid food elimination (<em>Profilaksis penyakit atopik dengan penundaan total enam bulan makanan padat</em>). Acta Pediatr Scand 1983;72:411-14</li>
<li>Ellis MH, Short JA, Heiner DC. Anaphylaxis after ingestion of a recently introduced hydrolyzed whey protein protein formula (<em>Anafilaksis setelah penyerapan protein whey terhidrolisasi baru pada protein susu formula bayi</em>). J Pediatr 1991;118:74-7</li>
<li>Saarinen UM, Kajosaari M. Breastfeeding as prophylaxis against atopic disease: prospective follow-up study until 17 years old (<em>Menyusui sebagai profilaksis terhadap penyakit atopik : studi lanjutan hingga usia 17 tahun</em>). Lancet 1995;346:1065-69</li>
<li>Saylor JD, Bahna SL. Anaphylaxis to casein hydrolysate formula (<em>Anafilaksis pada susu formula kasein hidrolisat</em>). J Pediatr 1991;118:71-4</li>
<li>Marini A, Agosti M, Motta G, Mosca F. Effects of a dietary and environmental prevention programme on the incidence of allergic symptoms in high atopic risk infants: three years&#8217; followup (<em>Pengaruh program pencegahan lingkungan dan diet terhadap kejadian gejala alergi pada bayi dengan resiko tinggi atopik : lanjutan tiga tahun</em>). Acta Pædiatr 1996;Suppl 414 vol 85:1-19</li>
<li>Wright AL, Holberg CJ, Martinez FD, Halonen M, Morgan W, Taussig LM. Epidemiology of physician diagnosed allergic rhinitis In childhood (<em>Epidemiologi dari diagnosis alergi rhinitis pada anak-anak</em>). Pediatrics 1994:94:895-901</li>
<li>Bloch AM, Mimouni D, Minouni M, Gdalevich M. Does breastfeeding protect against allergic rhinitis during childhood? A meta-analysis of protective studies (<em>Apakah menyusui melindungi dari alergi rhinitis selama masa kanak-kanak? Sebuah meta-analisis studi prospektif</em>). Acta Paediatr 2002;91:275-9</li>
</ol>
<h4>3. Menghambat perkembangan kognitif</h4>
<ul>
<li>Untuk menentukan dampak dari memberikan ASI eksklusif dengan perkembangan kognitif pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah, digunakanlah metode “<em>Bayley scale of infant development</em>” ketika bayi berumur 13 bulan dan “<em>Wechler Preschool and Primary Scales of Intelligence</em>” pada anak ketika berumur 5 tahun. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut adalah memberikan ASI secara eksklusif (tanpa tambahan vitamin/supplemen apapun) pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah terbukti memberikan keuntungan yang signifikan pada perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisik yang lebih baik.
<p>      (Rao MR, Hediger ML, Levine RJ, Naficy AB, Vik T. <strong>Effect of breastfeeding on cognitive development of infants born small for gestational age</strong>. Arch Pediatr Adolesc 156: 651-655, 2002)</li>
<li>Menyusui terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang, karena memiliki pengaruh positif pada pendidikan dan perkembangan kognitif di masa kanak-kanak, tegas sebuah penelitian di Inggris. Analisis regresi yang dilakukan pada sebuah penelitian menyatakan bahwa menyusui secara signifikan berkorelasi positif dengan pendidikan dan kecerdasan.
<p>      (Richards M, Hardy R, Wadsworth ME. <strong>Long-tern effects of breast-feeding in a national cohort: educational attainment and midlife cognition function</strong>. Publ Health Nutr 5: 631-635, 2002)</li>
<li>439 anak sekolah di Amerika Serikat yang lahir antara tahun 1991 &#8211; 1993 serta memiliki berat badan lahir rendah (di bawah 1,500 gram) diberikan beberapa jenis tes kognitif. Hasilnya, anak-anak yang memiliki berat badan lahir rendah dan tidak pernah disusui cenderung memiliki nilai/hasil tes yang rendah pada tes IQ, kemampuan verbal, kemampuan visual dan motorik dibandingkan mereka yang disusui/mendapatkan ASI.
<p>      (Smith MM, Durkin M, Hinton VJ, Bellinger D, Kuhn L. <strong>Influence of breastfeeding on cognitive outcomes at age 6-8 year follow-up of very low-birth weight infants</strong>. Am J Epidemiol 158:1075-1082, 2003)</li>
<li>Penelitian pada anak-anak yang lahir dari keluarga miskin di Filipina membuktikan bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI sampai umur 12-18 bulan memiliki nilai yang lebih tinggi pada “nonverbal intelligence test”. Efek seperti ini akan lebih besar dampaknya pada bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah (1.6 dan 9.8 poin lebih tinggi). Para peneliti menyimpulkan, bahwa memberikan ASI/menyusui dalam jangka waktu yang lama sangatlah penting, apalagi setelah mengenalkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), terutama untuk bayi berat badan lahir rendah.
<p>      (Daniels M C, Adair L S. <strong>Breast-feeding influences cognitive development of Filipino children</strong>. J Nutr. 135: 2589-2595, 2005)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko perkembangan kognitif dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui:</p>
<ol>
<li>(review): Andraca I, Uauy R. Breastfeeding for optimal mental development (<em>Menyusui mendorong perkembangan mental yang optimal</em>). Simopoulos AP, Dutra de Oliveira JE, Desai ID (eds): Behavioral and Metabolic Aspects of Breastfeeding (<em>Aspek Perilaku dan Metabolik dari Menyusui</em>). World Rev Nutr Diet. Basel, Karger, 1995;78:1-27</li>
<li>(review): Gordon N. Nutrition and cognitive function (<em>Nutrisi dan Fungsi Kognitif</em>). Brain and Development 1997;19:165-70</li>
<li>Morrow-Tlucak M, Haude RH, Ernhart CB. Breastfeeding and cognitive development in the first 2 years of life (<em>Menyusui dan perkembangan kognitif pada usia 2 tahun pertama</em>). Soc Sci Med 1988;26:635-9</li>
<li>Taylor B, Wadsworth J. Breastfeeding and child development at five years (<em>Menyusui dan perkembangan pada usia 5 tahun</em>). Dev Med Child Neurol 1984;26:73-80</li>
<li>Lucas A, Morley R, Cole TJ, Lister G, Leeson-Payne C. Breastmilk and subsequent intelligence quotient in children born preterm (<em>Menyusui dan angka kecerdasan anak yang lahir kurang bulan</em>). Lancet 1992;339:261-4</li>
<li>Nettleton JA. Are n-3 fatty acids essential nutrients for fetal and infant development (<em>Apakah asam lemak n-3 nutrisi esensial untuk perkembangan janin dan bayi</em>). J Am Diet Assoc 1993;93:58-64</li>
<li>Rogan WJ, Gladen BC. Breastfeeding and cognitive development (<em>Menyusui dan perkembangan kognitif</em>). Early Hum Dev 1993;31:181-93</li>
<li>Silver LB, Levinson RB, Laskin CR, Pilot LJ. Learning disabilities as a probable consequence of using chloride-deficient infant formula (<em>Probabilitas gangguan belajar sebagai konsekuensi penggunaan sufor rendah klorida</em>). J Pediatr 1989;115:97-9</li>
<li>Willoughby A, Moss HA, Hubbard VS, Bercu BB, Graubard BI, Vietze PM, et al. Developmental outcome in children exposed to chloride deficient formula (<em>Perkembangan pada anak yang mengkonsumsi susu formula rendah klorida</em>). Pediatrics 1987;79:851-7</li>
<li>Wing CS. Defective infant formulas and expressive language problems: a case study (<em>Studi kasus: kerusakan susu formula bayi dan masalah bicara dan bahasa</em>). Language, Speech and Hearing Services in Schools 1990;21:22-7</li>
<li>Crawford MA. The role of essential fatty acids in neural development: implications for perinatal nutrition (<em>Peranan asam lemak esensial pada perkembangan syaraf: Implikasi untuk nutrisi perinatal</em>). Am J Clin Nutr 1993;57(suppl):703S-10S</li>
<li>Temboury MC, Otero A, Polanco I, Arribas E. Influence of breastfeeding on the infant&#8217;s intellectual development (<em>Pengaruh menyusui pada perkembangan kecerdasan bayi</em>). J Pediatric Gastroenterol Nutr 1994;18:32-36</li>
<li>Pollock JI. Longterm associations with infant feeding in a clinically advantaged population of babies (<em>Hubungan jangka panjang pemberian makan pada populasi bayi dengan kondisi klinis baik</em>). Dev Med Child Neur 1994;36:429-40</li>
<li>Makrides M, Neumann MA, Byard RW, Simmer K, Gibson RA. Fatty acid composition of brain, retina and erythrocytes in breast and formula fed infants (<em>Komposisi asam lemak pada otak, retina, dan eritrokit pada bayi yang mengkonsumsi ASI dan susu formula</em>). Am J Clin Nutr 1994;60:189-94</li>
<li>Anderson GJ, Connor WE, Corliss JD. Docosohexaenoic acid is the preferred dietary n-3 fatty acid for the development of the brain and retina (<em>Asam dokosolexanoat sebagai asam lemak n-3 pilihan untuk perkembangan otak dan retina</em>). Pediatr Res 1990;27:87-97</li>
<li>Neuringer M, Connor WE, Lin DS, Barstad L, Luck S. Biochemical and functional effects of prenatal and postnatal fatty acid deficiency on retina and brain in rhesus monkeys (<em>Pengaruh biokimia dan fungsional dari kekurangan asam lemak prenatal dan antenatal terhadap retina dan otak pada monyet resus</em>). Proc Natl Acad Sc USA 1986;83:4021-5</li>
<li>Florey C Du V, Leech AM, Blackhall A. Infant feeding and mental and motor development at 18 months of age in first born singletons (<em>Makanan bayi dan perkembangan mental dan motorik pada usia 18 bulan pada anak pertama/sulung</em>). Int J Epidem 1995;24 (Suppl 1):S21-6</li>
<li>Wang YS, Wu SY. The effect of exclusive breastfeeding on development and incidence of infection in infants (<em>Pengaruh menyusui eksklusif terhadap perkembangan dan kejadian infeksi pada bayi</em>). JHL 1996;12:27-30</li>
<li>Greene LC, Lucas A, Livingstone BE, Harland PSEG, Baker BA. Relationship between early diet and subsequent cognitive performance during adolescence (<em>Hubungan antara makanan pertama dan performa kognitif pada remaja</em>). Biochem Soc Trans 1995;23:376S</li>
<li>Riva E, Agostoni C, Biasucci G, Trojan S, Luotti D, Fiori L, et al. Early breastfeeding is linked to higher intelligence quotient scores in dietary treated phenylketonuric children (<em>Menyusu usia dini dihubungkan dengan tingkat kecerdasan lebih tinggi pada anak dengan diet khusus penyakit PKU</em>). Acta Pædiatr 1996;85:56-8</li>
<li>Niemelä A, Järvenpää A-L. Is breastfeeding beneficial and maternal smoking harmful to the cognitive development of children? (<em>Apakah menyusui bermanfaat dan ibu merokok berbahaya bagi perkembangan kognitif anak?</em>) Acta Pædiatr 1996;85:1202-6</li>
<li>Rodgers B. Feeding in infancy and later ability and attainment: a longitudinal study (<em>Pemberian makan pada bayi dan kemampuan dan pencapaian di masa depannya: Kajian longitudinal</em>). Devel Med Child Neurol 1978;20:421-6</li>
<li>Horwood LJ, Fergusson DM. Breastfeeding and later cognitive and academic outcomes (<em>Menyusui dan pencapaian akademik dan kognitif di kemudian hari</em>). Pediatrics 1998;101:p. e9</li>
<li>Paine BJ, Makrides M, Gibson RA. Duration of breastfeeding and Bayley&#8217;s mental developmental Index at 1 year of age (<em>Durasi menyusui dan indeks perkembangan mental Bayley pada usia 1 tahun</em>). J Paediatr Child Health 1999;35:82-5</li>
<li>Fergusson DM, Beautrais AL, Silva PA. Breastfeeding and cognitive development In the first seven years of life (<em>Menyusui dan perkembangan kognitif pada 7 tahun pertama</em>). Soc Sci Med 1982;16:1705-8</li>
<li>Vestergaard M, Obel C, Henriksen TB, Sørensen HT, Skajaa E, Østergaard J. Duration of breastfeeding and developmental milestones during the latter half of Infancy (<em>Durasi menyusui dan tahapan perkembangan selama 6 bulan kedua usia bayi</em>). Acta Paediatr 1999;88:1327-32</li>
<li> Rao MR, Hediger ML, Levine RJ, Naficy AB, Vik T. Effect of breastfeeding on cognitive development of infants born small for gestational age (<em>Pengaruh menyusui pada perkembangan kognitif bayi yang lahir kecil untuk usia gestasi</em>). Acta Paediatr 2002;91:267-74</li>
<li>Lanting CI, Fidler V, Huisman M, Touwen BCL, Boersma ER. Neurological differences between 9 year old children fed breastmilk or formula milk as babies (<em>Perbedaan neurologis antara anak usia 9 tahun yang diberi ASI atau susu formula saat bayi</em>). Lancet 1994;344:1319-22</li>
<li>Lanting CI, Patandin S, Weisglas-Kuperus N, Touwen BCL, Boersma ER.Breastfeeding and neurological outcome at 42 months (<em>Menyusui dan perkembangan syaraf pada usia 42 bulan</em>). Acta Paediatr 1998;87:1224-9</li>
</ol>
<h4>4. Meningkatkan resiko infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)</h4>
<ul>
<li>Anak-anak di Brazil yang tidak disusui/mendapatkan ASI beresiko 16,7 kali lebih tinggi terkena pneumonia dibandingkan anak-anak yang semasa bayinya disusui secara eksklusif.
<p>      (Cesar JA, Victora CG, Barros FC, et al. <strong>Impact of breastfeeding on admission for pneumonia during postneonatal period in Brazil: Nested casecontrolled study</strong>. BMJ 318: 1316-1320, 1999)</li>
<li>Untuk menentukan faktor-faktor resiko dalam mendeteksi ISPA pada balita, sebuah rumah sakit di India membandingkan 201 kasus dengan 311 kunjungan pemeriksaan. Menyusui adalah salah satu dari sekian faktor yang dapat menurunkan tingkat risiko ISPA pada balita.
<p>      (Broor S, Pandey RM, Ghosh M, Maitreyi RS, Lodha R, Singhal T, Kabra SK. <strong>Risk factors for severe acute lower respiratory tract infection in under-five children</strong>. Indian Pediatr 38: 1361-1369, 2001)</li>
<li>Beberapa sumber yang digunakan untuk meneliti hubungan antara menyusui dan resiko ISPA pada bayi yang lahir cukup bulan. Analisis dari data-data yang diteliti menunjukkan pada negara-negara berkembang, bayi yang diberikan susu formula mengalami 3 kali lebih sering gangguan pernafasan yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 4 bulan atau lebih.
<p>      (Bachrach VRG, Schwarz E, Bachrach LR. <strong>Breastfeeding and the risk of hospitalization for respiratory disease in infancy</strong>. Arch Pediatr Adolesc Med. 157: 237-243, 2003) </li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit saluran pernafasan dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui:</p>
<ol>
<li>Pullan CR, Toms GL, Martin AJ, Gardner PS, Webb JKG, Appleton DR. Breastfeeding and respiratory syncytial virus infection (<em>Menyusui dan kejadian infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan</em>). Br Med J 1980;281:1034-6</li>
<li>Chiba Y, Minagawa T, Mito K, Nakane A, Suga K, Honjo T, Nakao T. Effect of breastfeeding on responses of systemic interferon and virus-specific lymphocyte transformation with respiratory syncytial virus infection (<em>Pengaruh menyusui pada respon interferon sistemik dan transformasi spesifik-virus limfosit dengan infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan</em>). J Med Virology 1987;21:7-14</li>
<li>Wright AL, Holberg CJ, Martinez FD, Morgan WJ, Taussig LM. Breastfeeding and lower respiratory tract illness in the first year of life (<em>Menyusui dan penyakit saluran pernapasan bagian bawah pada usia 1 tahun</em>). Br Med J 1989;299:946-9</li>
<li>Pisacane A, Graziano L, Zona G, Granata G, Dolezalova H, Cafiero M, et al. Breastfeeding and acute lower respiratory infection (<em>Menyusui dan infeksi saluran pernapasan bagian bawah akut</em>). Acta Pædiatr 1994;83:714-18</li>
<li>Beaudry M, Dufour R, Marcoux S. Relation between infant feeding and infections during the first six months of life (<em>Hubungan antara pemberian makan pada bayi dan infeksi selama 6 bulan pertama kehidupan</em>). J Pediatr 1995;126:191-7</li>
<li>Okamoto Y, Ogra PL. Antiviral factors in human milk: implications in respiratory syncytial virus infection (<em>Faktor antivirus dalam susu manusia: implikasi terhadap infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan</em>). Acta Pædiatr Scand Suppl 1989;351:137-43</li>
<li>Downham MAPS, Scott R, Sims DG, Webb JKG, Gardner PS. Breastfeeding protects against respiratory syncytial virus infections (<em>Menyusui memberikan perlindungan terhadap infeksi virus syncytial pada saluran pernapasan</em>). Br Med J 1976;2:274-6</li>
<li>Yue Chen. Synergistic effect of passive smoking and artificial feeding on hospitalization for respiratory illness in early childhood (<em>Pengaruh sinergis dari merokok pasif dan pemberian pengganti air susu ibu terhadap kejadian penyakit saluran pernapasan selama masa kanak-kanak</em>). Chest 1989;95:1004-07</li>
<li>Wilson AC, Forsyth JS, Greene SA, Irvine L, Hau C, Howie PW. Relation of infant diet to childhood health: seven year follow-up of cohort of children in Dundee infant feeding study (Hubungan antara asupan bayi dengan kesehatan masa kanak-kanak: tindak lanjut tujuh tahun setelahnya atas anak-anak pada kajian pemberian makan bayi di Dundee). Br Med J 1998;316:21-5 (<em>hasil penelitian juga menunjukkan tekanan darah yang lebih tinggi pada anak-anak yang diberikan susu formula</em>)</li>
<li>César JA, Victora CG, Barros FC, Santos IS, Flores JA. Impact of breastfeeding on admission for pneumonia during postneonatal period in Brazil: nested case-control study (<em>Pengaruh menyusui terhadap resiko pneumonia selama periode pasca-neonatal di Brazil: studi kontrol-kasus tersarang</em>). Br Med J 1999;318:1316-20</li>
<li>Pisacane A, Impagliazzo N, De Caprio C, Criscuolo L, Inglese A, da Silva MCMP. Breastfeeding and tonsillectomy (<em>Menyusui dan tonsilektomi</em>). BMJ. 1996 Mar 23;312(7033):746-7.</li>
<li>López-Alarcón M, Villalpando S, Fajardo A. Breastfeeding lowers the frequency and duration of acute respiratory infection and diarrhea in infants under 6 months of age (<em>Menyusui dapat mengurangi frekuensi dan durasi infeksi saluran pernapasan akut dan diare pada bayi di bawah 6 bulan</em>). J Nutr 1997;127:436-43</li>
</ol>
<h4>5. Meningkatkan resiko oklusi gigi pada anak</h4>
<ul>
<li>Salah satu keuntungan menyusui adalah membuat gigi anak tumbuh rapih dan teratur. Penelitian yang dilakukan pada 1.130 balita (usia 3-5 tahun) untuk mengetahui dampak dari tipe pemberikan makanan dan aktivitas menghisap yang tidak tepat terhadap pertumbuhan gigi yang kurang baik. Aktivitas menghisap yang kurang baik (menghisap botol) memberikan dampak yang substansial pada kerusakan gigi/oklusi gigi pada anak. Terjadinya ”posterior cross-bite” pada gigi anak lebih banyak ditemukan pada anak-anak yang menggunakan botol susu serta anak-anak yang suka &#8216;mengempeng&#8217;. Persentase terkena cross-bite pada anak ASI yang menyusu langsung 13% lebih kecil dibandingkan mereka yang menyusu dari botol. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa semakin awal bayi menyusu dari botol dua kali lebih besar besar terkena risiko maloklusi/kerusakan pada gigi dibandingkan bayi yang menyusu langsung/tidak menyusu dari botol.
<p>      (Viggiano D. et al. <strong>Breast feeding, bottle feeding, and non-nutritive sucking; effects on occlusion in deciduous dentition</strong>. Arch Dis Child 89:1121-1123, 2004) </li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko kerusakan gigi dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui </p>
<ol>
<li>Labbock MH, Hendershot GE. Does breastfeeding protect against malocclusion? An analysis of the 1981 child health supplement to the national health interview survey (<em>Apakah menyusui melindungi dari maloklusi? Sebuah analisis pada 1981 suplemen kesehatan anak untuk survei wawancara kesehatan nasional</em>). Am J Prev Med 1987;3:227-32</li>
<li>Palmer B. The influence of breastfeeding on the development of the oral cavity: A commentary (<em>Pengaruh menyusui terhadap perkembangan rongga mulut: suatu komentar</em>). J Hum Lact 1998;14:93-8</li>
<li>Erickson PR, Mazhari E. Investigation of the role of human breastmilk in caries development (<em>Penelitian terhadap peranan air susu ibu pada perkembangan karies</em>). Pediatr Dent 1999;21:86-90</li>
</ol>
<h4>6. Meningkatkan resiko infeksi dari susu formula yang terkontaminasi</h4>
<ul>
<li>Pada kasus tercemarnya susu formula dengan Enterobacter Sakazakii di Belgia, ditemukan 12 bayi yang menderita Necrotizing Enetrocolitis (NEC) dan 2 bayi yang meninggal setelah mengkonsumsi susu formula yang tercemar bakteri tersebut.</li>
<p>      (Van Acker J, de Smet F, Muyldermans G, Bougatef A. Naessens A, Lauwers S. <strong>Outbreak of necrotizing enterocolitis associated with Enterobactersakazakii in powdered infant formulas</strong>. J Clin Microbiol 39: 293-297, 2001)</p>
<li>Sebuah kasus di Amerika Serikat menyebutkan bahwa seorang bayi berusia 20 hari meninggal dunia karena menderita panas, tachyardia¸dan mengalami penurunan fungsi pembuluh darah setelah diberikan susu formula yang tercemar bakteri E-Sakazakii di NICU.</li>
<p>      (Weir E, <strong>Powdered infant formula and fatal infection with Enterobacter sakazakii</strong>. CMAJ 166, 2002)
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit infeksi dengan susu formula yang tercemar </p>
<ol>
<li>Koo WWK, Kaplan LA, Krug-Wispe SK. Aluminum contamination of infant formulas (<em>Kontaminasi aluminium pada susu formula bayi</em>). J Parenteral Enteral Nutrition 1988;12:170-3</li>
<li>Davidsson L, Cederblad Å, Lönnerdal B, Sandström B. Manganese absorption from human milk, cow&#8217;s milk and infant formulas in humans (<em>Penyerapan mangan dari air susu ibu, susu sapi dan susu formula bayi pada manusia</em>). Am J Dis Child 1989;143:823-7</li>
<li>Dabeka RW, McKenzie AD. Lead and cadmium levels in commercial infant foods and dietary intake by infants 0-1 year old (<em>Tingkat logam dan kadmium pada makanan bayi komersil dan asupan pada bayi 0-1 tahun</em>). Food Additives and Contaminants 1988;5:333-42</li>
<li>Mytjens HL, Roelofs-Willemse H, Jaspar GHJ. Quality of powdered substitutes for breastmilk with regard to members of the family Enterobacteriaceæ (<em>Kualitas bubuk pengganti susu ibu berkaitan dengan famili Enterobactericea</em>). J Clin Microbiol 1988;26:743-6</li>
<li>Biering G, Karlsson S, Clark NC, Jonsdottir KE, Ludvigsson P, Steingrimsson O. Three cases of neonatal meningitis caused by Enterobacter sakazakii in powdered milk (<em>Tiga kasus meningitis neonatal yang disebabkan oleh Enterobacter sakazakii pada susu bubuk</em>). J Clin Microbiol 1989;27:2054-6</li>
<li>Westin JB. Ingestion of carcinogenic N-nitrosamines by infants and children (<em>Penyerapan bahan karsinogenik N-nitrosamina oleh bayi dan anak-anak</em>). Arch Environmental Health 1990;45:359-63</li>
<li>Schwarz KB, Cox JM, Sharma S, Clement L, Witter F, Abbey H, et al. Prooxidant effects of maternal smoking and formula In newborn Infants (<em>Pengaruh prooksidan dari ibu merokok dan susu formula pada bayi baru lahir</em>). J Pediatr Gastroenterol Nutr 1997;24:68-74</li>
</ol>
<h4>7. Meningkatkan resiko kurang gizi / gizi buruk</h4>
<ul>
<li>Pada tahun 2003 ditemukan bayi yang mengkonsumsi susu formula berbahan dasar kedelai di Israel harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit akibat encephalopathy. Dua diantaranya meninggal akibat cardiomyopathy. Analisis dari kasus ini menyebutkan bahwa tingkat tiamin pada susu formula tidak dapat diidentifikasikan. Pada bayi yang mengkonsumsi susu formula berbasis kedelai sering ditemukan gejala kekurangan tiamin, yang harus ditangani oleh terapi tiamin.
<p>      (Fattal-Valevski A, Kesler A, Seal B, Nitzan-Kaluski D, Rotstein M, Mestermen R, Tolendano-Alhadef H, Stolovitch C, Hoffman C. Globus O, Eshel G. <strong>Outbreak of Life-Threatening Thiamine Deficiency in Infants in Israel Caused by a Defective Soy-Based Formula</strong>. Pediatrics 115: 223-238, 2005) </li>
</ul>
<h4>8. Meningkatkan resiko kanker pada anak-anak</h4>
<ul>
<li>Pusat Studi Kanker Anak di Inggris melakukan penelitian terhadap 3.500 kasus kanker anak dan hubungannya dengan menyusui. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengurangan tingkat resiko terkena leukemia dan kanker lain apabila seorang anak memperoleh ASI ketika bayi.<br />
(UK Childhood Cancer Investigators. <strong>Breastfeeding and Childhood Cancer</strong>. <em>Br J Cancer 85: 1685-1694, 2001</em>)</li>
<li>Studi pada 117 kasus acute <em>lymphotic</em> leukemia yang dilakukan di United Arab Emirates menunjukkan bahwa menyusui secara eksklusif selama 6 bulan atau lebih akan meminimalkan resiko terkena kanker leukemia dan lymphoma (getah bening) pada anak.<br />
(Bener A, Denic S, Galadari S. <strong>Longer breast-feeding and protection against childhood leukaemia and lymphomas</strong>. <em>Eur J Cancer 37: 234-238, 2001</em>)</li>
<li>Tidak menyusui adalah salah satu penyebab terbesar kanker pada ibu. Suatu penelitian mengemukakan tingkat kerusakan genetis yang signifikan pada bayi usia 9-12 bulan yang sama sekali tidak disusui. Para peneliti menyimpulkan bahwa kerusakan genetis berperan penting dalam pembentukan kanker pada anak atau setelah anak-anak tsb tumbuh dewasa.<br />
(Dundaroz R, Aydin HA, Ulucan H, Baltac V, Denli M, Gokcay E. <strong>Preliminary study on DNA in non-breastfed infants</strong>. <em>Ped Internat 44: 127-130, 2002</em>)</li>
<li>Sebuah penelitian yang menggunakan bukti-bukti atas dampak menyusui pada risiko terkena leukemia mempelajari 111 kasus yang 32 diantaranya mengemukakan hal tersebut. Dari 32 kasus ini dipelajari 10 kasus utama dan ditemukan 4 kasus yang mengemukakan hubungan antara menyusui dan leukemia. Kesimpulan yang diambil adalah: semakin lama menyusui/memberikan ASI pada bayi, semakin kecil risiko terkena leukemia. Mereka mencatat, diperlukan dana sebesar USD 1,4M tiap tahunnya untuk mengobati anak-anak yang terkena leukemia.<br />
(Guise JM et al. <strong>Review of case-controlled studies related to breastfeeding and reduced risk of childhood leukemia.</strong> <em>Pediatrics 116: 724-731, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit kanker pada anak-anak dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Schwartzbaum JA, George SL, Pratt CB, Davis B. An exploratory study of environmental and medical factors potentially related to childhood cancer (<em>Studi terhadap faktor lingkungan dan medis yang potensial berhubungan dengan kanker pada anak-anak</em>). Med pediatr Oncol 1991;19:115-21</li>
<li>Davis MK, Savitz DA. Graubard BI. Infant feeding and childhood cancer (<em>Pemberian makanan pada bayi dan kanker pada masa kanak-kanak</em>). Lancet 1988;2:365-8</li>
<li>Freudenheim JL, Marshall JR, Graham S, Laughlin R, Vena JE, Bandera E, et al. Exposure to breastmilk in infancy and the risk of breast cancer (<em>Pemberian air susu pada bayi dan resiko kanker payudara</em>). Epidemiology 1994;5:324-31</li>
<li>Shu XO, Linet MS, Steinbuch M, Wen WQ, Buckley JD, Neglia JP, Potter JD et al. Breastfeeding and the risk of childhood acute leukemia (<em>Menyusui dan resiko leukemia akut pada anak-anak</em>). J Nat Cancer Institute 1999;91:1765-72</li>
<li>Davis MK. Review of the evidence for an association between Infant feeding and childhood cancer (<em>Kajian terhadap bukti adanya hubungan antara pemberian makan pada bayi dan kanker pada masa kanak-kanak</em>). Int J Cancer 1998;Supplement II:29-33</li>
</ol>
<h4>9. Meningkatkan resiko penyakit kronis</h4>
<ul>
<li>Penyakit kronis dapat dipicu oleh respon auto-imun tubuh anak ketika mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten. Ivarsson dan tim-nya melakukan penelitian terhadap pola menyusui 627 anak yang terkena penyakit kronis dan 1.254 anak sehat untuk melihat dampak menyusui pada konsumsi makanan yang mengandung protein gluten serta resiko terkena penyakit kronis. Secara mengejutkan ditemukan bukti bahwa 40% anak-anak bawah umur dua tahun (baduta) yang disusui/mendapatkan ASI berisiko lebih kecil terhadap penyakit kronis, walaupun mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten.<br />
(Ivarsson, A. et al. <strong>Breast-Feeding May Protect Against Celiac Disease</strong> <em>Am J Clin Nutr 75:914-921, 2002</em>)</li>
<li>Rasa terbakar pada saat BAB dan penyakit Crohn adalah penyakit gastrointestinal kronis yang sering terjadi pada bayi susu formula. Suatu meta-analisis pada 17 kasus yang mendukung hipotesis bahwa menyusui mengurangi resiko penyakit Crohn dan ulcerative colitis.<br />
(Klement E, Cohen RV, Boxman V, Joseph A, Reif s. <strong>Breastfeeding and risk of inflammatory bowel disease: a systematic review with meta-analysis.</strong> <em>Am J Clin Nutr 80: 1342-1352, 2004</em>)</li>
<li>Untuk memperjelas dampak dari pemberian MPASI yang terlalu dini (contoh: dampak dari menyusui dibandingkan tidak menyusui; lama menyusui; dampak menyusui dan hubungannya dengan pemberian makanan yang mengandung protein gluten) pada resiko penyakit kronis, para peneliti melihat kembali literatur tentang menyusui dan penyakit kronis. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang menderita penyakit kronis hanya mendapatkan ASI/disusui dalam jangka waktu pendek. Sementara anak-anak yang disusui lebih lama resiko terkena penyakit kronis ini 52% lebih rendah. Para peneliti mendefinisikan 2 mekanisme perlindungan yang diberikan ASI, yaitu: (1) melanjutkan pemberian ASI/menyusui menghambat penyerapan gluten pada tubuh, (2) ASI melindungi tubuh dari infeksi intestinal. Infeksi dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh bayi sehingga gluten dapat masuk ke dalam lamina propria. Penelitian yang lain menyebutkan bahwa IgA dapat menurunkan respon antibody terhadap gluten yang dicerna.<br />
(Akobeng A K et al. <strong>Effects of breast feeding on risk of coeliac disease: a systematic review and meta-analysis of observational studies.</strong> <em>Arch DisChild 91: 39-43, 2006</em>)</li>
</ul>
<h4>10. Meningkatkan resiko diabetes</h4>
<ul>
<li>Untuk memastikan hubungan antara konsumsi susu sapi (dan susu formula bayi berbahan dasar susu sapi) dan respon antibodi bayi pada protein susu sapi, peneliti di Italia mengukur respon antibodi pada 16 bayi ASI dan 12 bayi usia 4 bulan yang mengkonsumsi susu formula. Bayi susu formula meningkatkan antibodi beta-casein yang bisa menyebabkan diabetes type 1, dibandingkan dengan bayi ASI. Para peneliti tersebut menyimpulkan bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan beresiko lebih rendah terhadap diabetes type 1, karena ASI dapat mencegah pembentukan anti-bodi beta-casein.<br />
(Monetini L, Cavallo MG, Stefanini L, Ferrazzoli F, Bizzarri C, Marietti G, Curro V, Cervoni M, Pozzilli P, IMDIAB Group. <strong>Bovine beta-casein antibodies in breast-and bottle-fed infants: their relevance in Type 1 diabetes.</strong> <em>Hormone Metab Res 34: 455-459, 2002</em>)</li>
<li>Studi yang dilakukan pada 46 suku Indian Kanada yang menderita diabetes tipe II dicocokkan dengan 92 jenis control penyakit diabetes. Kemudian dibandingkanlah resiko pre dan post-natal dari suku Indian yang disusui dan yang tidak disusui. Menariknya, ditemukan suatu fakta baru bahwa ASI dapat menurunkan resiko terkena penyakit diabetes tipe II.<br />
(Young TK, Martens PJ, Taback SP, Sellers EA, Dean HJ, Cheang M, Flett B. <strong>Type 2 diabetes mellitus in children: prenatal and early infancy risk factors among native Canadians.</strong> <em>Arch Pediatr Adolesc Med 156: 651-655, 2002</em>)</li>
<li>Penggunaan susu formula, makanan pengganti ASI dan susu sapi yang lebih dini pada bayi, adalah factor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terkena diabetes tipe I ketika dewasa. Sebayak 517 anak Swedia dan 286 anak Lithuania usia 15 tahun yang didiagnosa menderita penyakit diabetes tipe I dibandingkan dengan pasien non-diabets. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memberikan ASI secara eksklusif sekurangnya 5 bulan dan dilanjutkan sampai usia 7 atau 9 bulan (dengan MP-ASI) dapat mengurangi resiko terkena diabetes.<br />
(Sadauskaite-Kuehne V, Ludvigsson J, Padaiga Z, Jasinskiene E, Samuel U. <strong>Longer breastfeeding is an independent protective factor against development of type I diabetes mellitus in childhood</strong>. <em>Diabet Metab Res Rev 20: 150-157, 2004</em>)</li>
<li>Data yang didapatkan dari 868 anak penderita diabetes asal Cekoslovakia dan 1466 kunjungan dar pasien yang terkena diabetes, mengkonfirmasi bahwa resiko terkena diabetes tipe I dapat dikurangi dengan memperpanjang lama/periode menyusui. Menyusui bayi selama 12 bulan atau lebih mengurangi risiko terkena diabetes tipe I secara signifikan.<br />
(Malcove H et al. <strong>Absence of breast-feeding is associated with the risk of type 1 diabetes: a case-control study in a population with rapidly increasing incidence.</strong> <em>Eur J Pediatr 165: 114-119, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit diabetes pada anak-anak dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Working Group on Cow&#8217;s Milk Protein and Diabetes Mellitus of the American Academy of Pediatrics. Infant feeding practices and their possible relationship to the etiology of diabetes mellitus (Kelompok kerja AAP: untuk protein susu sapi dan diabetes melitus. Praktek pemberian makan pada bayi dan kemungkinan hubungan dengan etiologi diabetes melitus). Pediatrics 1994;94:752-4<br />
Karjalainen J, Martin JM, Knip M, Ilonen J, Robinson BH, Savilahti E, et al. A bovine albumin peptide as a possible trigger of insulin-dependent diabetes mellitus (<em>Kemungkinan peptida albumin sapi sebagai pencetus diabetes melitus ketergantungan insulin</em>). N Eng J Med 1992;327:302-7 (Editorial: 1992:327:348-9)</li>
<li>Mayer EJ, Hamman RF, Gay EC, Lezotte DC, Savitz DA, Klingensmith J. Reduced risk of IDDM among breastfed children (<em>Penurunan resiko diabetes melitus ketergantungan insulin pada bayi yang disusui</em>). Diabetes 1988;37:1625-32</li>
<li>Virtanen SM, Räsänen L, Ylönen K, Aro A, Clayton D, Langlholz B, et al. Early introduction of dairy products associated with increased risk of IDDM in Finnish children (<em>Pengenalan awal produk susu dihubungkan dengan meningkatnya resiko diabetes melitus ketergantungan insulin pada anak-anak Finlandia</em>). Diabetes 1993;42:1786-90</li>
<li>Virtanen SM, Räsänen L, Aro A, Lindström J, Sippola H, Lounamaa R, et al. Infant feeding in Finnish children <7 yr of age with newly diagnosed IDDM (<em>Pemberian makan pada anak Finlandia kurang dari 7 tahun dengan diagnosis diabetes melitus ketergantungan insulin</em>). Diabetes Care 1991;14:415-17</li>
<li>Gerstein HC. Cow&#8217;s milk exposure and type I diabetes mellitus (<em>Pemberian susu sapi dan diabetes melitus tipe 1</em>). Diabetes Care 1994;17:13-9</li>
<li>Kostraba JN, Cruickshanks KJ, Lawler-Heavner J, Jobim LF, Rewers MJ, Gay EC, et al. Early exposure to cow&#8217;s milk and solid foods in infancy, genetic predisposition, and risk of IDDM (<em>Pemberian dini susu sapi dan makanan padat, sifat genetik bawaan, dan resiko diabetes melitus ketergantungan insulin</em>). Diabetes 1993;42:288-95</li>
<li>Pérez-Bravo F, Carrasco E, Gutierrez-López MD, Martínez MT, López G, García de los Rios M. Genetic predisposition and environmental factors leading to the development of insulin-dependent diabetes mellitus in Chilean children (<em>Sifat genetik bawaan dan faktor lingkungan berakibat pada perkembangan diabetes melitus ketergantungan insulin pada anak-anak Chile</em>). J Mol Med 1996;74:105-9</li>
<li>Gimeno SGA, De Souza JMP. IDDM and milk consumption (<em>Diabetes melitus ketergantungan insulin dan konsumsi susu</em>). Diabetes Care 1997;20:1256-60</li>
<li>Hammond-McKibbon D, Karges W, Gaedigk R, Dosch H-M. Immunological mechanisms that link cow milk protein and insulin dependent diabetes: a synopsis (<em>Sinopsis: Mekanisme immunologis yang menghubungi protein susu sapi dan diabetes ketergantungan insulin</em>). Can J Allergy and Clin Immunol 1997;2:136-46</li>
<li>Shehadeh N. Gelertner L, Blazer S, Perlman R, Solovachik L, Etzioni A. Importance of insulin content in infant diet: suggestion for a new infant formula (Pentingnya kandungan insulin dalam diet bayi: saran bagi formula baru untuk bayi). Acta Paediatrica 2001;90:93<br />
Høst A. Importance of the first meal on the development of cow&#8217;s milk allergy and intolerance (<em>Pentingnya makanan pertama pada perkembangan alergi dan intoleransi susu sapi</em>). Allergy Proc 1991;12:227-32</li>
</ol>
<h4>11. Meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular</h4>
<ul>
<li>Untuk mempertegas hubungan antara gizi bagi bayi dengan resiko kesehatan setelah dewasa, peneliti dari Inggris mengukur tekanan darah pada sampel 216 remaja usia 13 sampai 16 tahun yang lahir prematur. Mereka yang mengkonsumsi susu formula pada awal kehidupannya memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mendapatkan ASI ketika bayi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pada bayi yang lahir prematur maupun cukup bulan, ASI dapat mengendalikan tekanan darah pada batas normal sampai mereka tumbuh dewasa.<br />
(Singhal A, Cole TJ, Lucas A. <strong>Early nutrition in preterm infants and later blood pressure: two cohorts after randomized trials</strong>. <em>The Lancet 357: 413-419, 2001</em>)</li>
<li>Sebuah penelitian di UK mengevaluasi tingkat kolesterol pada 1.500 anak dan remaja usia 13-16 tahun dan menyimpulkan bahwa ASI mencegah penyakit kardiovaskular karena dapat mengurangi kadar total kolesterol dan kadar LDL (low-density lipid cholesterol). Hasil penelitian ini menyebutkan, bayi yang memperoleh ASI terbukti dapat mengendalikan metabolisme pengolahan lemak di tubuh dengan baik, yang menyebabkan kadar kolesterol yang rendah dan menghindarkan dari resiko penyakit kardiovaskular.<br />
(Owen GC, Whipcup PH, Odoki JA, Cook DG. <strong>Infant feeding and blood cholesterol: a study in adolescents and systematic review</strong>. <em>Pediatrics 110:597-608, 2002</em>)</li>
<li>Sebuah studi di Inggris yang meneliti 4.763 anak-anak usia 7,5 tahun menyebutkan bahwa anak-anak berusia 7 tahun dan tidak pernah mendapatkan ASI memiliki kecenderungan tekanan systolic dan diastolic yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang mendapatkan ASI semasa bayinya. Ada pengurangan sebesar 0.2mmHg setiap 3 bulan apabila anak mendapatkan ASI eksklusif. Para peneliti menyarankan pemberian ASI eksklusif sekurangnya 3 bulan, karena terbukti dapat mengurangi 1% populasi orang-orang yang menderita penyakit tenakan darah tinggi, dan mengurangi 1,5% tingkat kematian penduduk karena darah tinggi.<br />
(Martin RM, Ness AR, Gunnelle D, Emmet P, Smith GD. <strong>Does breast-feeding in infancy lower blood pressure in childhood?</strong> <em>Circulation 109: 1259-1266, 2004</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit jantung dan tekanan darah tinggi dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Osborn GR. Stages in development of coronary disease observed from 1,500 young subjects. Relationship of hypotension and infant feeding to ætiology (Tahapan perkembangan penyakit koroner diobservasi dari 1500 orang remaja. Hubungan antara hipotensi dan pemberian makanan pada bayi terhadap etiologi). Watson Smith Lecture, delivered to the Royal College of Physicians of London, January 11, 1965<br />
Bergström E, Hernell O, Persson LÅ, Vessby B. Serum lipid values in adolescents are related to family history, infant feeding, and physical growth (<em>Nilai lipid serum pada remaja dihubungkan dengan riwayat keluarga, pemberian makanan pada bayi, dan pertumbuhan fisik</em>). Atherosclerosis 1995;117:1-13</li>
<li>Routi T, Rönnemaa T, Lapinleimu H, Salo P, Viikari J, Leino A, et al. Effect of weaning on serum lipoprotein (a) concentration: the STRIP baby study (<em>Pengaruh penyapihan pada konsentrasi lipoprotein serum (a): studi bayi STRIP</em>). Pediatric Research 1995;38:522-27</li>
<li>Singhal A, Cole T, Lucas A. Early nutrition in preterm infants and later blood pressure: two cohorts after randomised trials (<em>Nutrisi awal pada bayi prematur dan tekanan darah dikemudian hari: dua kelompok populasi setelah studi acak</em>). Lancet 2001;357:413-9</li>
</ol>
<h4>12. Meningkatkan resiko obesitas</h4>
<ul>
<li>Untuk menentukan dampak pemberian makanan bayi pada obesitas masa kanak-kanak, studi besar di Skotlandia meneliti indeks massa tubuh dari 32.200 anak usia 39-42 bulan. Setelah eliminasi faktor-faktor yang bias, status sosial ekonomi, berat lahir dan jenis kelamin, prevalensi obesitas secara signifikan lebih tinggi pada anak-anak diberi susu formula, mengarah pada kesimpulan bahwa pemberian susu formula terkait dengan peningkatan risiko obesitas.<br />
(Armstrong, J. et al. <strong>Breastfeeding and lowering the risk of childhood obesity</strong>. <em>Lancet 359:2003-2004, 2002</em>)</li>
<li>Dalam rangka untuk menentukan faktor yang terkait dengan pengembangan kelebihan berat badan dan obesitas, 6.650 anak-anak usia sekolah di Jerman yang berusia antara  lima sampai 14 tahun diperiksa. Mengkonsumsi ASI ditemukan sebagai pelindung terhadap obesitas. Efek perlindungan ini lebih besar pada bayi yang secara eksklusif disusui ASI.<br />
(Frye C, Heinrich J. <strong>Trend and predictors of overweight and obesity in East German children</strong>. <em>Int J Obesitas 27: 963-969, 2003</em>)</li>
<li>Tindak lanjut aktif dari 855 pasang ibu dan bayi di Jerman digunakan untuk menentukan hubungan antara tidak menyusui dan peningkatan risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Setelah dua tahun tindak lanjut, 8,4 persen dari anak-anak kelebihan berat badan dan 2,8 persen sangat kelebihan berat badan: 8,9 persen tidak pernah disusui, sementara 62,3 persen disusui selama paling sedikit enam bulan.<br />
Anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif lebih dari tiga bulan dan kurang dari enam bulan memiliki 20 persen pengurangan resiko, sementara mereka yang telah ASI eksklusif selama paling sedikit enam bulan memiliki 60 persen pengurangan resiko untuk menjadi gemuk dibandingkan kepada mereka yang diberi susu formula.<br />
(Weyerman M et al. <strong>Duration of breastfeeding and risk of overweight in childhood: a prospective birth cohort study from Germany</strong>. <em>Int J Obes muka publikasi online 28 Februari 2006</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko obesitas dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Kramer MS. Do breastfeeding and delayed introduction of solid foods protect against subsequent obesity? (<em>Apakah menyusui dan penundaan pengenalan makanan padat dapat melindungi dari obesitas di kemudian hari?</em>) J Pediatr 1981;98:883-7</li>
<li>Von Kries R, Sauerwald T, von Mutius E, Barnert D, Grunert V, von Voss H. Breastfeeding and obesity: cross sectional study (<em>Menyusui dan obesitas: studi silang seksional</em>). Br Med J 1999;319:147-50</li>
<li>Tulldahl J, Pettersson K, Andersson SW, Hulthén. Mode of Infant feeding and achieved growth In adolescence: early feeding patterns In relation to growth and body composition In adolescence (<em>Cara pemberian makanan pada bayi dan pencapaian pertumbuhan pada remaja: pola pemberian makanan awal dihubungkan dengan pertumbuhan dan komposisi tubuh pada saat remaja</em>). Obesity Research 1999;7:431-7</li>
<li>Gillman MW, Rifas-Shiman SL, Camargo CA, Berkey CS, Frasier AL, Rockett HRH, et al. Risk of overweight among adolescents who were breastfed as infants (<em>Resiko kelebihan berat badan diantara remaja yang disusui saat bayi</em>). J Am Med Assoc 2001;285:2461-7 (Editorial by WH Dietz, 2506-7)</li>
</ol>
<h4>13. Meningkatkan resiko infeksi saluran pencernaan</h4>
<ul>
<li>Tujuh ratus tujuh puluh enam bayi dari New Brunswick, Kanada, diteliti untuk mengetahui hubungan antara pernapasan dan penyakit gastrointestinal dengan menyusui selama enam bulan pertama kehidupan.  Meskipun angka pemberian ASI ekslusif rendah, hasil menunjukkan efek perlindungan yang signifikan terhadap total penyakit selama enam bulan pertama kehidupan. Bagi mereka yang disusui ASI , insidensi infeksi gastrointestinal adalah 47 per persen lebih rendah; tingkat penyakit pernapasan adalah 34 persen lebih rendah daripada mereka yang tidak disusui.<br />
(Beaudry M, Dufour R, S. Marcoux. <strong>Relationship between infant feeding and infections during the first six months of life</strong>.<em> J Pediatr 126: 191-197, 1995</em>)</li>
<li>Perbandingan antara bayi yang menerima ASI terutama selama 12 bulan pertama kehidupan dan bayi yang secara eksklusif diberikan susu formula atau disusui ASI selama selama tiga bulan atau kurang, menemukan bahwa penyakit diare dua kali lebih tinggi untuk bayi yang diberikan susu formula dibandingkan mereka yang disusui ASI.<br />
(Dewey KG, Heinig MJ, Nommsen-Rivers LA. <strong>Differences in morbidity between breast-fed and formula-fed infants</strong>.  <em>J Pediatr 126: 696-702, 1995</em>)</li>
<li>Dukungan  menyusui di Belarus secara signifikan mengurangi insiden infeksi gastrointestinal sampai dengan 40 persen.<br />
(Kramer MS, Chalmers B, Hodnett ED, et al. <strong>Promotion of Breastfeeding Intervention Trial (PROBIT): a randomized trial in the Republic of Belarus</strong>.  <em>JAMA 285: 413-420, 2001</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko infeksi saluran pencernaan dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Koletzko S, Sherman P, Corey M, Griffiths A, Smith C. Role of infant feeding practices in the developement of Crohn&#8217;s disease in childhood (<em>Peranan praktek pemberian makanan terhadap perkembangan penyakit Crohn pada masa kanak-kanak</em>). Br Med J 1989;298:1617-8</li>
<li>Greco L, Auricchio S, Mayer M, Grimaldi M. Case control study on nutritional risk factors in celiac disease (<em>Studi kasus pada faktor-faktor resiko nutrisi pada penyakit celiac</em>). J Pediatr Gastroenterol Nutr 1988;7:395-8</li>
<li>Duffy LC, Byers TE, Riepenhoff-Talty M, La Scolea L, Zielezny M, Ogra PL. The effects of infant feeding on rotavirus-induced gastroenteritis (<em>Pengaruh pemberian makan pada gastroenteritis yang disebabkan oleh rotavirus</em>). A prospective study. Am J Pub Health 1986;76:259-63 </li>
<li>Hanson LA, Lindquist B, Hofvander Y, Zetterstrom R. Breastfeeding as a protection against gastroenteritis and other infections (<em>Menyusui sebagai perlindungan terhadap gastroenteritis dan infeksi lainnya</em>). Acta Pediatr Scand 1985;74:641-2</li>
<li>Ruiz-Palacios GM, Calva JJ, Pickering LK, Lopez-Vidal Y, Volkow P, Pezzarossi H, et al. Protection of breastfed infants against Campylobacter diarrhea by antibodies in human milk (<em>Perlindungan pada bayi yang disusui terhadap diare Campylobacter dari antibodi dalam air susu ibu</em>). J Pediatr 1990;116:707-13</li>
<li>Cruz JR, Gil L, Cano F, Caceres P, Pareja G. Breastmilk anti-Escherichia coli heat labile toxin IgA antibodies protect against toxin-induced infantile diarrhea (<em>Anti-Escherichia coli dalam air susu melumpuhkan racun antibodi IgA melindungi dari diare yang disebabkan oleh racun</em>). Acta Pediatr Scand 1988;77:658-62</li>
<li>Gillin FD, Reiner DS, Wang C-S. Human milk kills parasitic intestinal protozoa (<em>Susu manusia membunuh protozoa parasit dalam saluran pencernaan</em>). Science 1983;221:1290-2</li>
<li>France GL, Marmer DJ, Steele RW. Breastfeeding and Salmonella infection (<em>Menyusui dan infeksi Salmonella</em>). Am J Dis Child 1980;134:147-52</li>
<li>Haffejee IE. Cow&#8217;s milk-based formula, human milk and soya feeds in acute infantile diarrhea: A therapeutic trial (<em>Pemberian formula berbasis susu sapi, susu manusia dan susu kedelai pada diare akut pada bayi: Percobaan terapi</em>). J Pediatr Gastroenterol Nutr 1990;10:193-8</li>
<li>Lerman Y, Slepon R, Cohen D. Epidemiology of acute diarrheal diseases in children in a high standard of living rural settlement in Israel (<em>Epidemiologis dari penyakit diare akut pada anak-anak yang tinggal dalam suatu lingkungan perumahan standar tinggi di Israel</em>). Pediatr Infect Dis J. 1994;13:116-22</li>
<li>Howie PW, Forsyth JS, Ogston SA, Clark A, Du V Florey C. Protective effect of breastfeeding against infection (<em>Efek perlindungan dari menyusui terhadap penyakit infeksi</em>). Br Med J 1990;300:11-6</li>
<li>Duffy LC, Riepenhoff-Talty M, Byers TE, La Scolea LJ, Zielezny MA, Dryja DM et al. Modulation of rotavirum enteritis during breastfeeding (<em>Modulasi rotavirum enteritis selama masa menyusui</em>). Am J Dis Child 1986;140:1164-8</li>
<li>13.	Haddock RL, Cousens SN, Guzman CC. Infant diet and salmonellosis (<em>Pola makan anak dan salmonelosis</em>). Am J Pub Health 1991;81:997-1000</li>
<li>Scariati PD, Grummer-Strawn LM, Fein SB. A longitudinal analysis of infant morbidity and the extent of breastfeeding in the United States (<em>Suatu analisis longitudal terhadap tingkat kematian anak dan pengaruh menyusui di Amerika Serikat</em>). Pediatrics 1997;99, June 1997;e5 (juga berlaku untuk otitis media)</li>
<li>Heacock HJ, Jeffery HE, BAker JL, Page M. Influence of breast versus formula milk on physiological gastroesophageal reflux In healthy, newborn Infants (<em>Pengaruh air susu ibu dan susu formula terhadap refluks fisiologis gastroesofageal pada bayi sehat baru lahir</em>). J Pediatr Gastroenterol Nutr 1992:14:41-6</li>
<li>Kramer MS, Chalmers B, Hodnett ED, Sevkovskaya Z, Dzikovich I, Shapiro S, et al. Promotion of breastfeeding intervention trial (<em>Peningkatan percobaan intervensi menyusui</em>). JAMA 2001;285:413-20 </li>
<li>MacFarlane PI, Miller V. Human milk in the management of protracted diarrhœa of infancy (<em>Susu manusia dalam manajemen diare berkepanjangan pada bayi</em>). Arch Dis Child 1984;59, 260-65</li>
</ol>
<h4>14. Meningkatkan resiko kematian</h4>
<ul>
<li>Dibandingkan dengan pemberian ASI eksklusif, anak-anak yang sebagian disusui ASI memiliki 4,2 kali peningkatan risiko kematian karena untuk penyakit diare. Tidak disusui dikaitkan dengan 14,2 kali peningkatan risiko kematian akibat penyakit diare pada anak-anak di Brazil.
<p>(Victora CG, Smith PG, Patrick J, et al. <strong>Infant feeding and deaths due to diarrhea: a case-controlled study</strong>.  <em>Amer J Epidemiol 129: 1032-1041, 1989</em>) </li>
<li>Bayi di Bangladesh yang disusui secara sebagian atau tidak disusui sama sekali, memiliki resiko kematian 2,4 kali lebih besar akibat infeksi saluran pernafasan akut dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Pada anak-anak yang mendapatkan campuran lebih banyak ASI dibandingkan susu formula, resiko kematian karena pernapasan akut infeksi yang sama dengan anak-anak ASI eksklusif.
<p>(Arifeen S, Black RE, Atbeknab G, Baqui A, Caulfield L, Becker S, <strong>Exclusive breastfeeding reduces acute respiratory infenction and diarrhea deaths among infants in Dhaka slums</strong>. <em>Pediatrics 108: e67, 2001</em>)</li>
<li>Para peneliti meneliti 1.204 bayi yang meninggal antara 28 hari dan satu tahun dari penyebab selain dari anomali bawaan atau tumor ganas dan 7.740 anak-anak yang masih hidup di satu tahun untuk menghitung angka kematian dan apakah bayi tersebut mendapatkan ASI serta efek durasi-respons.
<p>Anak-anak yang tidak pernah disusui memiliki 21 persen lebih besar resiko kematian dalam periode pasca-neonatal daripada mereka yang disusui. Semakin lama disusui, semakin rendah resikonya. Mendukung kegiatan menyusui memiliki potensi untuk mengurangi sekitar 720 kematian pasca-neonatal di Amerika Serikat setiap tahun. Di Kanada ini akan mengurangi sekitar 72 kematian. </p>
<p>(Chen A, Rogan WJ. <strong>Breastfeeding and the risk of postneonatal death in the United States</strong>.  <em>Pediatrics 113: 435-439, 2004</em>)</li>
<li>Penelitian penting dari Ghana dirancang untuk mengevaluasi apakah waktu yang tepat untuk inisiasi menyusui dan praktek menyusui berhubungan dengan resiko kematian bayi. Studi ini melibatkan 10.947 bayi yang selamat melewati hari kedua dan yang ibunya dikunjungi selama periode neonatal.
<p>Menyusui dimulai pada hari pertama pada 71 persen bayi dan 98,7 persen dimulai pada hari ketiga. Menyusui dilakukan secara eksklusif oleh 70 persen selama periode neonatal. Resiko kematian neonatal empat kali lipat lebih tinggi pada bayi yang diberi susu berbasis cairan atau makanan padat selain ASI. Terdapat tanda bahwa respon-dosis terhadap resiko peningkatan kematian bayi dibandingkan dengan inisiasi menyusui yang tertunda dari satu jam pertama sampai tujuh hari. Inisiasi setelah hari pertama terkait dengan 2,4 kali lipat peningkatan risiko kematian. Penulis menyimpulkan bahwa 16 persen kematian bayi dapat dicegah jika semua bayi disusui sejak hari pertama dan 22 persen dapat dicegah bila menyusui dimulai selama satu jam pertama. </p>
<p>(Edmond KM, Zandoh C, Quigley MA, Amenga-Etego S, Owusu-Agyei S, Kirkwood BR. <strong>Delayed breastfeeding initiation increases risk of neonatal mortality</strong>. <em>Pediatrics 117: 380-386, 2006</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko kematian dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Mitchell EA, Scragg R, Stewart AW, Becroft DMO, Taylor BJ, For RPK, et al. Results from the first year of the New Zealand cot death study (<em>Hasil tahun pertama kajian kematian saat tidur di Selandia Baru</em>). NZ Med J 1991;104:71-6</li>
<li>Arnon SS, Damus K, Thompson B, Midura TF, Chin J. Protective role of human milk against sudden death from infant botulism (<em>Peranan perlindungan air susu manusia terhadap kejadian meninggal mendadak akibat botulisme pada bayi</em>). J Pediatr 1982;100:568-73</li>
</ol>
<h4>15. Meningkatkan resiko otitis media dan infeksi saluran telinga</h4>
<ul>
<li>Jumlah otitis media akut meningkat secara signifikan dengan menurunnya durasi dan eksklusivitas menyusui. Bayi Amerika yang diberikan ASI eksklusif selama empat bulan atau lebih mengalami penurunan 50 persen dibandingkan dengan bayi yang tidak disusui. Penurunan sebesar 40 persen kejadian dilaporkan berasal dari bayi ASI yang diberikan tambahan (makanan/susu formula) lain sebelum usia empat bulan.<br />
(Duncan B, Ey J, Holberg CJ, Wright AL, martines M, Taussig LM. <strong>Exclusive breastfeeding for at least 4 months protects againsts otitis media</strong>. <em>Pediatrics 91: 867-872, 1993</em>)</li>
<li>Antara usia enam dan 12 bulan insiden pertama otitis media lebih besar untuk bayi susu formula daripada untuk bayi ASI eksklusif. Untuk bayi ASI eksklusif insidensi ini meningkat dari 25 persen menjadi 51 persen dibandingkan kenaikan dari 54 persen menjadi 76 persen untuk bayi ang hanya diberikan susu formula. Para penulis menyimpulkan bahwa menyusui bahkan untuk jangka pendek (tiga bulan) akan secara signifikan mengurangi episode dari otitis media selama masa kanak-kanak.<br />
(Duffy LC, Faden H, Wasielewski R, Wolf J, Krystofik D. <strong>Exclusive breastfeeding protects against bacterial colonization and day care exposure to otitis media</strong>. <em>Pediatrics 100: E7, 1997</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko infeksi saluran telinga dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Saarinen UM. Prolonged breastfeeding as prophylaxis for recurrent otitis media (<em>Menyusui lebih lama sebagai profilaksis (pencegahan) otitis media berulang</em>). Acta Pediatr Scand 1982;71:567-71</li>
<li>Teele DW, Klein JO, Rosner B. Epidemiology of otitis media during the first seven years of life in children in greater Boston: a prospective cohort study (<em>Epidemiologi otitis media selama tujuh tahun pertama kehidupan pada anak di Boston: studi lanjutan prospektif</em>). J Infect Dis 1989;160:83-94</li>
<li>Duncan B, Ey J, Holberg CJ, Wright AL, Martinez FD, Taussig LJ. Exclusive breastfeeding for at least 4 months protects against otitis media (<em>Menyusui secara eksklusif selama minimal 4 bulan memberikan perlindungan terhadap otitis media</em>). Pediatrics 1993;91:867-72</li>
<li>Owen MJ, Baldwin CD, Swank PR, Pannu AK, Johnson DL, Howie VM. Relation of infant feeding practices, cigarette smoke exposure and group child care to the onset and duration of otitis media with effusion in the first two years of life (<em>Hubungan antara praktek pemberian makanan pada bayi, ekspos terhadap asap rokok, dan tempat penitipan/perawatan anak umum terhadap kejadian dan durasi otitis media dengan efusi pada dua tahun pertama kehidupan</em>). J Pediatr 1993;123:702-11</li>
<li>Harabuchi Y, Faden H, Yamanaka N, Duffy L, Wolf J, Krystofik D. Human milk secretory IgA antibody to nontypeable Hæmophilus influenzæ: Possible protective effects against nasopharyngeal colonization (<em>Susu manusia sekretori antibodi IgA pada influenza Haemophilus nontypeable: pengaruh protektif terhadap kolonisasi nasopharyngeal</em>). J Pediatr 1994;124:193-8</li>
<li>Aniansson G, Alm B, Andersson B, Håkansson A, Larsson P, Nylén O, et al. A prospective cohort study on breastfeeding and otitis media in Swedish infants (<em>Studi lanjutan prospektif pada menyusui dan otitis media pada bayi Swedia</em>). Pediatr Infect Dis J 1994;13:183-8</li>
<li>Paradise JL, Elster BA, Tan L. Evidence in infants with cleft palate that breast milk protects against otitis media (<em>Bukti pada bayi dengan celah langit-langit mulut: air susu ibu memberikan perlindungan terhadap otitis media</em>). Pediatrics 1994;94:853-60</li>
<li>Sassen ML, Brand R, Grote JJ. Breastfeeding and acute otitis media (<em>Menyusui dan otitits media akut</em>). Am J Otolaryn 1994;15:351-7</li>
<li>Dewey KG, Heinig J, Nommsen-Rivers LA. Differences in morbidity between breastfed and formula fed infants (<em>Perbedaan kejadian sakit pada bayi yang disusui dan bayi yang diberi susu formula</em>). J Pediatr 1995;126:696-702 (risk also increased in FF infant for diarrhea)</li>
<li>Scariati PD, Grummer-Strawn LM, Fein SB. A longitudinal analysis of infant morbidity and the extent of breastfeeding in the United States (<em>Analisis longitudinal terhadap kejadian sakit pada bayi dan masa menyusui di Amerika Serikat</em>). Pediatrics 1997;99:e5</li>
</ol>
<h4>16. Meningkatkan resiko efek samping kontaminasi lingkungan</h4>
<ul>
<li>Sebuah studi Belanda menunjukkan bahwa pada usia enam tahun, perkembangan kognitif dipengaruhi oleh paparan pra-lahir terhadap poliklorinasi bifenil (PCB) dan dioksin. Efek buruk paparan pra-lahir pada hasil neurologis juga ditunjukkan dalam kelompok susu formula tetapi tidak dalam kelompok yang diberikan ASI. Meskipun terjadi paparan PCB mealui ASI, studi ini menemukan bahwa pada usia 18 bulan, 42 bulan, dan pada usia enam tahun suatu efek yang menguntungkan dari menyusui ASI terlihat pada kualitas gerakan, dalam hal kelancaran, dan dalam tes perkembangan kognitif.
<p>Data memberikan bukti bahwa paparan PCB saat pra-lahir telah memberikan efek negatif secara halus pada neurologis dan perkembangan kognitif anak sampai usia sekolah. Penelitian ini juga memberikan bukti menyusui ASI melawan perkembangan merugikan dari efek PCB dan dioksin. </p>
<p>(Boersma ER, lanting CI. <strong>Environmental exposure to polychlorinated biphenyls (PCBs) and dioxins. Consequences for longterm neurological and congnitive development of the child</strong>.  <em>Adv Exp Med Biol 478:271-287, 2000</em>)</li>
<li>Penelitian yang lain dilakukan di Belanda untuk menentukan efek paparan pra- lahir terhadap poliklorinasi bifenil (PCB), mempelajari bayi yang disusui ASI dan bayi yang diberikan susu formula pada saat mereka berusia sembilan tahun. <br />
Dengan mengukur latency pendengaran P300  (waktu reaksi terhadap rangsangan yang masuk, yang diketahui dipengaruhi secara negatif oleh PCB) mereka menemukan bahwa mereka yang diberi susu formula atau yang disusui ASI selama kurang dari enam sampai 16 minggu, mengalami latency yag loebih besar dan mekanisme melambat di tengah sistem saraf yang mengevaluasi dan memproses rangsangan. Di sisi lain, proses menyusui mempercepat mekanisme ini. </p>
<p>(Vreugedenhill HJI, Van Zanten GA, Brocaar MP, Mulder PGH, Weisglas &#8211; Kuperus, N. <strong>Prenatal exposure to polychlorinated biphenols and breastfeeding: opposing effects on auditory P300 latencies in 9-year old Dutch children</strong>. <em>Devlop Med &#038; Anak Neurol 46: 398-405, 2004</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko infeksi akibat efek samping kontaminasi lingkungan dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Setchell KDR, Zimmer-Nechmias L, Cai J, Heubi JE. Exposure of infants to phyto-oestrogens from soy-based infant formula (<em>Paparan fitoestrogen pada bayi dari susu formula berbasis kedelai</em>). Lancet 1997;350:23-27</li>
<li>Fitzpatrick M, Mitchell K, et al. Soy formulas and the effects of Isoflavones on the thyroid (<em>Susu kedelai formula dan pengaruh isoflavon pada tiroid</em>). N Z Med J. 2000 Feb 11;113(1103):24-6.</li>
<li>Keating JP, Schears GJ, Dodge PR. Oral water intoxication in infants (<em>Keracunan air pada bayi</em>). Am J Dis Child 1991;145:985-90</li>
<li>Bruce RC, Kiegman RM. Hyponatremic seizures secondary to oral water intoxication in infancy: association wiht commercial bottled drinking water (Kejang hiponatremik akibat keracunan air minum pada bayi: hubungan dengan minuman botol komersial). Pediatrics 1997;100; p e4<br />
Finberg L. Water intoxication (<em>Keracunan air</em>). (editorial). Am J Dis Child 1991;145:981-2 </li>
<li>Shannon MW, Graef JW. Lead intoxication in infancy (<em>Keracunan logam timbal pada bayi</em>). Pediatrics 1992;89:87-90</li>
</ol>
<h3>RESIKO PEMBERIAN SUSU FORMULA UNTUK IBU</h3>
<ol>
<li>Meningkatkan resiko kanker payudara</li>
<li>Meningkatkan resiko kelebihan berat badan (overweight)</li>
<li>Meningkatn resiko kanker ovarium dan kanker endometrium</li>
<li>Meningkatkan resiko osteoporosis</li>
<li>Mengurangi kedekatan ibu dan anak (bonding kurang)</li>
<li>Meningkatkan resiko peradangan pada tulang (rheumatoid arthritis)</li>
<li>Meningkatan resiko stress dan keresahan pada ibu</li>
<li>Meningkatkan resiko diabetes</li>
</ol>
<h4>1. Meningkatkan resiko kanker payudara</h4>
<ul>
<li>Menyusui mengurangi resiko kanker payudara pada ibu dan infeksi, alergi, dan autoimun pada bayi. Kehadiran mediator dari sistem kekebalan bawaan ASI, termasuk defensins, cathelicidins, dan reseptor seperti-tol (TLRs), diekstrak dan dianalisa dari pecahan whey dari kolostrum dan susu masa-transisi dan susu matang (n = 40) dari ibu-ibu normal (n =18) dan dari ibu dengan autoimun atau penyakit alergi.
<p>Para penulis menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh bawaan ASI sangat kompleks dan memberikan perlindungan bagi payudara ibu dan pengembangan jaringan saluran pencernaan bayi yang baru lahir.</p>
<p>(Armogida, Sheila A.; Yannaras, Niki M.; Melton, Alton L.; Srivastava, Maya D. <strong>Identification and quantification of innate immune system mediators in human breast milk</strong>. <em>Alergi dan Asma Proc 25: 297-304, 2004</em></li>
<p>)</p>
<li>Para peneliti dari Inggris mengevaluasi kemungkinan hubungan antara insiden kanker dan proses menyusui selama masa kanak-kanak.  Studi ini melibatkan hampir 4.000 orang dewasa yang pada awalnya disurvei pada tahun 1937-1939.  Data yang dimasukkan di meta-analisis menunjukkan bahwa tingkat kanker payudara didiagnosis pada wanita premenopause adalah sekitar 12 persen lebih rendah di antara wanita yang telah disusui saat bayi.
<p>(Martin R, Middleton N, Gunnell D, Owen C, Smith G. <strong>Breastfeeding and Cancer: The Boyd Orr Cohort and a Systematic Review with Meta-Analysis</strong>. <em>Jurnal Institut Kanker Nasional. 97: 1446-1457, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit kanker payudara dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Layde PM, Webster LA, Baughman AL, Wingo PA, Rubin GL, Ory HW and the cancer and steroid hormone study group. The independent associations of parity, age at first full term pregnancy, and duration of breastfeeding with the risk of breast cancer (Hubungan independen antara keseimbangan, usia kehamilan pertama, dan durasi menyusui dengan resiko kanker payudara). J Clin Epidemiol 1989;42:963-73<br />
Ing R, Ho JHC, Petrakis NL. Unilateral breastfeeding and breast cancer (<em>Menyusui unilateral dan kanker payudara</em>). Lancet July 16, 19977;124-27</li>
<li>McTiernan A, Thomas DB. Evidence for a protective effect of lactation on risk of breast cancer in young women (<em>Bukti pengaruh perlindungan dari laktasi terhadap resiko kanker payudara pada wanita muda</em>). Am J Epidemiol 1986;124:353-74</li>
<li>Yuan J-M, Yu MC, Ross RK, Gao Y-T, Henderson BE. Risk factors for breast cancer in Chinese women in Shanghai (<em>Faktor resiko kanker payudara pada wanita China di Shanghai</em>). Cancer Res 1988;58:99-104</li>
<li>Yoo K-Y, Tajima K, Kuroishi T, Hirose K, Yoshida M, Miura S, Murai H. Independent protective effect of lactation against breast cancer: a case-control study in Japan (<em>Pengaruh perlindungan independen dari laktasi terhadap kanker payudara: studi kasus di Jepang</em>). Am J Epidemiol 1992;135:726-33</li>
<li>Reuter KL, Baker SP, Krolikowski FJ. Risk factors for breast cancer in women undergoing mammography (<em>Faktor resiko kanker payudara pada wanita yang menjalani mamografi</em>). Am J Radiol 1992;158:273-8</li>
<li>United Kingdom National Case-Control Study Group. Breastfeeding and risk of breast cancer in young women (
<li>Menyusui dan resiko kanker payudara pada wanita muda</li>
<p>). Br Med J 1993;307:17-20</li>
<li>Newcomb PA, Storer BE, Longnecker MP, Mittendorf R, Greenberg ER, Clapp RW, et al. Lactation and a reduced risk of premenopausal breast cancer (<em>Laktasi dan penurunan resiko kanker payudara premenopause</em>). N Eng J Med 1994;330:81-7</li>
<li>Tao S-C, Yu MC, Ross RK, Xiu K-W. Risk factors for breast cancer in Chinese women of Beijing (<em>Faktor resiko kanker payudara pada wanita China di Beijing</em>). Int J Cancer 1988;42:495-98</li>
<li>Siskind V, Schofield F, Rice D, Bain C. Breast cancer and breastfeeding: results from an Australian case-control study (<em>Kanker payudara dan menyusui: hasil studi kasus Australia</em>). Am J Epidemiol 1989;130:229-36</li>
<li> Romieu I, Hernández-Avila M, Lazcano E, Lopez L, Romero-Jaime R. Breast cancer and lactation history in Mexican women (<em>Kanker payudara dan riwayat laktasi pada wanita Meksiko</em>). Am J Epidemiol 1996;143:543-52 </li>
<li>Furberg H, Newman B, Moorman P, Millikan R. Lactation and breast cancer risk (<em>Laktasi dan resiko kanker payudara</em>). Int J Epidemiol 1999;28:396-402</li>
<li>Tryggvadóttir L, Tulinius H, Eyfjord JE, Sigurvinsson T. Breastfeeding and reduced risk of breast cancer in an Icelandic cohort study (<em>Menyusui dan penurunan resiko kanker payudara pada studi kelompok populasi di Islandia</em>). Am J Epidemiol 2001;154:37-42</li>
</ol>
<h4>2. Meningkatkan resiko kelebihan berat badan</h4>
<ul>
<li>Sebuah kelompok dibentuk di Brasil, terdiri dari 405 wanita di enam dan sembilan bulan setelah melahirkan untuk menentukan hubungan antara penumpukan berat badan dan praktek menyusui. Ketika wanita yang memiliki 22 persen lemak tubuh dan menyusui selama 180 hari dibandingkan dengan mereka yang telah menyusui hanya 30 hari, setiap bulan masa menyusui mengurangi rata-rata 0,44 kg berat badan. Di kesimpulan para penulis mengkonfirmasi hubungan antara menyusui dan berat badan setelah melahirkan dan bahwa dukungan durasi yang lebih lama dapat memberikan kontribusi untuk penurunan penumpukan berat badan setelah melahirkan.<br />
(Kac G, Benicio MHDA, Band-Meléndez G, Valente JG, Struchiner CJ. <strong>Breastfeeding and postpartum weight retention in a cohort of Brazilian women</strong>. <em>Am J Clin Nutr 79: 487-493, 2004</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan penurunan berat badan dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Dewey KG, Heinig MJ, Nommsen LA. Maternal weight loss patterns during prolonged lactation (<em>Pola penurunan berat badan maternal selama laktasi jangka panjang</em>). Am J Clin Nutr 1993;58:162-6</li>
</ol>
<h4>3. Meningkatkan resiko kanker ovarium dan kanker endometrium</h4>
<ul>
<li>Tidak menyusui telah dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker ovarium. Sebuah studi kasus terkontrol yang cukup besar Italia mempelajari 1.031 wanita dengan kanker ovarium epitelial dibandingkan dengan 2.411 wanita  yang dirawat di rumah sakit yang sama untuk berbagai spektrum akut kondisi non-neoplastik, tidak terkait dengan faktor-faktor resiko yang diketahui untuk kanker ovarium. Hasilnya menunjukkan tren terbalik dengan resiko meningkatkan durasi menyusui dan jumlah anak yang disusui. Tambahan analisis oleh subtipe histologis menunjukkan bahwa peran proteksi dari menyusui akan lebih besar untuk neoplasma serius.<br />
(Chiaffarino F, Pelucchi C, Negri E, Parazzini F, Franceschi S, Talamini R, Montella F, Ramazzotti V, La Vecchia C. <strong>Breastfeeding and the risk of epithelial ovarian cancer in an Intalian population</strong>. <em>Gynecol Oncol. 98: 304 -308, 2005</em>)</li>
<li>■ Untuk menentukan hubungan antara menyusui dan kanker endometrium, penelitian kasus-terkontrol di sebuah rumah sakit di Jepang membandingkan kasus wanita dengan kanker endometrium (155) dan kelompok yang terkontrol (96) dipilih dari para wanita yang menghadiri klinik rawat jalan untuk skrining kanker rahim. Para wanita ini diwawancarai untuk mengetahui praktik menyusui, penggunaan alat kontrasepsi, serta potensi faktor resiko kanker endometrium. Para penulis mengamati resiko kanker endometrium lebih tinggi pada wanita yang belum pernah menyusui, dan menyimpulkan bahwa menyusui mengurangi risiko kanker endometrium pada wanita Jepang.<br />
(Okamura C, Tsubono Y, Ito K, Niikura H, Takano T, Nagase S, Yoshinaga K, Terada Y, Murakami T, Sato S, Aoki D, Jobo T, Okamura K, N. Yaegashi Tohoku. <strong>Lactation and risk of endometrial cancer in Japan: a case-control study</strong>. <em>J Exp Med 208: 109-115, 2006</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit kanker ovarium dan kanker endometrium dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Hartge P, Schiffman MH, Hoover R, McGowan L, Lesher L, Norris HJ. A case control study of <strong>epithelial ovarian cancer</strong> (Studi <em>kasus kanker ovarium epitelia</em>). Am J Obstet Gynecol 1989;161:10-6</li>
<li>Gwinn ML, Lee NC, Rhodes PH, Layde PM, Rubin GL. Pregnancy, breastfeeding and oral contraceptives and the risk of <strong>epithelial ovarian cancer</strong> (<em>Kehamilan, menyusui dan kontrasepsi oral dan resiko kanker ovarium epitelia</em>). J Clin Epidemiol 1990;43:559-68</li>
<li>Rosenblatt KA, Thomas DB, and the WHO collaborative study of neoplasia and steroid contraceptives. Lactation and the risk of <strong>epithelial ovarian cancer</strong> (<em>Kolaborasi studi Rosenblatt KA, Thomas DB, dan WHO pada kontrasepsi steroid dan neoplasia. Laktasi dan resiko kanker ovarium epitelia</em>). International J Epidemiol 1993;22:192-7</li>
<li>Petterson B, Hans-Olov A, Berström R, Johansson EDB. Menstruation span-a time-limited risk factor for endometrial carcinoma (<em>Faktor resiko terbatas menstruasi dengan cakupan waktu tertentu untuk karsinoma endometrial</em>). Acta Obstet Gynecol Scand 1986;65:247-55</li>
<li>Rosenblatt KA, Thomas DB, and the WHO collaborative study of neoplasia and steroid contraceptives. Prolonged Lactation and endometrial cancer (<em>Kolaborasi studi Rosenblatt KA, Thomas DB, dan WHO pada kontrasepsi steroid dan neoplasia. Laktasi jangka panjang dan kanker endometrium</em>). Int J Epidemiol 1995;24:499-503</li>
</ol>
<h4>4. Meningkatkan resiko osteoporosis</h4>
<ul>
<li>Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa baik kehamilan dan laktasi berhubungan dengan hilangnya kepadatan mineral tulang hingga ke lima persen, dan bahwa kehilangan tersebut akan pulih setelah penyapihan.  Penelitian silang telah menunjukkan bahwa wanita dengan banyak anak dan periode total durasi laktasi memiliki kepadatan mineral tulang yang sama atau lebih tinggi dan risiko fraktur yang sama atau lebih rendah daripada teman sebaya mereka yang tidak pernah melahirkan dan menyusui. Tren ini telah diamati dan ditemukan di penampang studi kasus-terkontrol. Hubungan kausal masih belum ditentukan.<br />
(Karlsson MK, Ahlborg HG, Karlsson C. <strong>Maternity and mineral density</strong>. <em>Acta Orthopaedica 76: 2-13, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan resiko penyakit osteoporosis dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Aloia JF, Cohn SH, Vaswani A, Yeh JK, Yuen K, Ellis K. Risks factors for postmenopausal osteoporosis (<em>Faktor resiko osteoporosis pasca menopause</em>). Am J Med 1985;78:95-100</li>
<li>Melton LJ, Bryant SC, Wahner HW, O&#8217;Fallon WM, Malkasian GD, Judd HL, Riggs BL. Influence of breastfeeding and other reproductive factors on bone mass later in life (<em>Pengaruh menyusui dan faktor reproduktif lainnya pada massa tulang di usia lanjut</em>). Osteoporosis Int 1993;3:76-83</li>
<li>Cumming RG, Klineberg RJ. Breastfeeding and other reproductive factors and the risk of hip fractures in elderly women (<em>Menyusui dan faktor resiko lainnya dan resiko retak tulang panggul pada wanita usia lanjut</em>). International J Epidemiol 1993;22:684-91</li>
<li>Blaauw R, Albertse EC, Beneke T, Lombard CJ, Laubscher R, Hough FS. Risk factors for the development of osteoporosis in a South African population (<em>Faktor resiko perkembangan osteoporosis di populasi Afrika Selatan</em>). S Afr Med J 1994;84:328-32</li>
<li>Krieger N, Kelsey JL, Holford TR. O&#8217;Connor T. An epidemiologic study of hip fractures in potmenopausal women (<em>Studi epidemiologi terhadap retak tulang panggul pada wanita pasca menopause</em>). Am J Epidemiol 1982;116:141-8</li>
</ol>
<h4>5. Mengurangi jarak alami kelahiran anak</h4>
<ul>
<li>Kuesioner digunakan untuk memperoleh data dari ibu-ibu menyusui di Nigeria untuk menentukan dampak dari praktik menyusui pada amenorrheoa laktasi. Pemberian ASI eksklusif yang dipraktekkan oleh 100 persen dari ibu-ibu yang pulang dari rumah sakit. Kemudian turun menjadi 3,9 persen setelah enam bulan. Menyusui dengan menuruti isyarat bayi dipraktikkan oleh 98,9 persen dari ibu tersebut. Dalam enam minggu 33,8 persen dari ibu kembali mengalami mensus dan meningkat menjadi 70,2 persen pada enam bulan. Durasi amenorrheoa laktasi lebih panjang di ibu yang menyusui eksklusif daripada mereka yang tidak. Tak satu pun dari 178 ibu-ibu yang berpartisipasi dalam survei menjadi hamil.<br />
(Egbuonu Aku, Ezechukwu CC, Chukwuka JO, Ikechebelu JI. <strong>Breastfeeding, return of menses, sexual activity and contraceptive practices among mothers in the first six months of lactation in Onitsha, South Eastern Nigeria</strong>. <em>J Obstet Gynaecol. 25: 500-503, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Berikut adalah daftar pustaka tambahan mengenai penelitian ilmiah yang menghubungkan jarak alami kelahiran anak dengan penggunaan susu formula/tidak menyusui</p>
<ol>
<li>Thapa S, Short RV, Potts M. Breastfeeding, birth spacing, and their effects on child survival (<em>Menyusui, jarak kelahiran, dan pengaruhnya pada keselamatan bayi</em>). Nature 1988;335:679-82</li>
<li>Short. Breastfeeding (contraceptive effect) (<em>Menyusui (pengaruh kontrasepsi)</em>). Scientific American 1984;250:35-41</li>
<li>Gross BA. Is the lactational amenorrhea method a part of natural family planning? Biology and policy (<em>Apakah metode amenorrhea laktasi bagian dari program keluarga berencana alami?</em>). Am J Obstet Gynecol 1991;165:2014-9</li>
<li>Kennedy KI, River R, McNeilly AS. Consensus statement on the use of breastfeeding as a family planning method (<em>Pernyataan konsensus atas penerapan menyusui sebagai metode keluarga berencana</em>). Contraception 1989;39:477-96</li>
</ol>
<h4>6. Meningkatkan resiko rheumatoid arthritis</h4>
<ul>
<li>Faktor-faktor resiko hormon dan reproduksi wanita dan dipelajari dalam kelompok 121.700 wanita yang terdaftar dalam Nurses &#8216;Health Study. Menyusui selama lebih dari 12 bulan berbanding terbalik dengan perkembangan rheumatoid arthritis. Efek ini ditemukan terkait dengan dosis. Mereka yang lebih singkat menyusui memiliki resiko yang lebih tinggi.<br />
(Karlson E W et al. <strong>Do breastfeeding and other reproductive factors influence future risk of rheumatoid arthritis?: Results from the Nurses Health Study</strong>. <em>Arthiritis &#038; Rematik 50: 3.458-3.467, 2004</em>)</li>
</ul>
<h4>7. Meningkatkan stres dan kecemasan</h4>
<ul>
<li>Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara praktik menyusui, stres, dan suasana hati dan tingkat serum kortisol, prolaktin dan ACTH (<em>hormon adrenocorticotrophic</em>) pada ibu, penulis membandingkan tanggapan emosional dari 84 ibu yang menyusui secara eksklusif, 99 ibu yang hanya memberikan susu formula dan 33 wanita sehat non pasca-melahirkan. Respon para ibu tersebut dipelajari pada empat sampai enam minggu pasca melahirkan.<br />
Secara keseluruhan ibu menyusui memiliki suasana hati lebih positif, melaporkan peristiwa lebih positif, dan merasakan stres yang lebih sedikit daripada yang memberikan susu formula. Para ibu menyusui memiliki depresi dan kemarahan yang lebih rendah daripada yang memberikan susu formula dan kadar prolaktin serum berbanding terbalik dengan stres dan suasana hati pada ibu yang memberikan susu formula.<br />
(Groer M W. <strong>Differences between exclusive breastfeeders, formula-feeders, and controls: a study of stress, mood and endocrine variables</strong>. <em>Biol. Res Nurs. 7: 106-117, 2005</em>)</li>
</ul>
<h4>8. Meningkatkan resiko dibetes pada ibu</h4>
<ul>
<li>Menyusui juga mengurangi risiko ibu diabetes tipe II dalam kehidupan di kemudian hari. Semakin lama durasi menyusui, semakin menurunkan insiden diabetes, menurut studi yag dilaksanakan di Harvard. Para peneliti mempelajari 83.585 ibu di Nurses &#8216; Health Study (NHS) dan 73.418 ibu di Nurses &#8216;Health Studi II (NHS II), dan menentukan bahwa setiap tahun menyusui akan mengurangi resiko diabetes ibu sebesar 15 persen.<br />
(Stuebe PM, Rich-Edwards JW, Willett WC, <strong>Duration of lactation and incidence of type 2 diabetes</strong>. <em>JAMA 294: 2601-2610, 2005</em>)</li>
</ul>
<p>Sumber:<br />
<small></p>
<ul>
<li>Risks of Formula Feeding: a Brief Annotated Bibliography, (INFACT Canada, 2nd rev. 2006), prepared by Elisabeth Sterken, BSc, MSc, Nutritionist</li>
<li>Risks of Artificial Feeding, compiled by dr. Jack Newman (rev. 2002), <a href="http://www.kellymom.com/newman/risks_of_formula_08-02.html">http://www.kellymom.com/newman/risks_of_formula_08-02.html</a></li>
</ul>
<p></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/02/alasan-medis-pengganti-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rapat Dengar Pendapat Umum AIMI dengan Komisi IX DPR RI &#8212; Selasa, 25 Januari 2011</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/01/rapat-dengar-pendapat-umum-aimi-dengan-komisi-ix-dpr-ri-selasa-25-januari-2011/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/01/rapat-dengar-pendapat-umum-aimi-dengan-komisi-ix-dpr-ri-selasa-25-januari-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jan 2011 03:21:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[DPR-RI]]></category>
		<category><![CDATA[Kode Pemasaran Internasional dari Pengganti ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Komisi IX]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1248</guid>
		<description><![CDATA[KONDISI MENYUSUI DI INDONESIA Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, hanya 32% (tiga puluh dua persen) bayi dibawah usia 6 (enam) bulan mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Jika dibandingkan dengan SDKI tahun 2003, proporsi bayi dibawah 6 (enam) bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun sebanyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>KONDISI MENYUSUI DI INDONESIA</h2>
<h3>Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007</h3>
<p>Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, hanya 32% (tiga puluh dua persen) bayi dibawah usia 6 (enam) bulan <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-rdpu-aimi-300x225.jpg" alt="" title="01-rdpu-aimi" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1257" />mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Jika dibandingkan dengan SDKI tahun 2003, proporsi bayi dibawah 6 (enam) bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun sebanyak 6 (enam) poin. Rata-rata, bayi Indonesia hanya disusui selama 2 (dua) bulan pertama, ini terlihat dari penurunan prosentase menyusui dari SDKI 2003 yaitu sebanyak 64% (enampuluh empat persen) menjadi 48% (empatpuluh delapan persen) pada SDKI 2007. Sebaliknya, sebanyak 65% (enam puluh lima persen) bayi baru lahir mendapatkan makanan selain ASI selama tiga hari pertama.</p>
<h3>World Breastfeeding Trends Initiative</h3>
<p>Dalam buku laporan “<em>The State of Breastfeeding in 33 Countries, 2010</em>” yang diterbitkan oleh <strong><em>International Baby Food Action Network</em> (IBFAN), Asia</strong>, secara jelas tercantum bahwa dari 33 negara yang telah mengirimkan laporan dan telah dievaluasi, Indonesia mendapatkan ranking ke 30, dibawah Mozambique, Bangladesh dan Afghanistan. Dari 10 indikator yang digunakan, rapor Indonesia masih merah untuk 7 kategori, yaitu: rumah sakit sayang bayi, implementasi Kode WHO tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI (PASI), perlindungan untuk wanita bekerja, kelompok pendukung ibu dan sosialisasi masyarakat, dukungan informasi, pemberian makan pada anak dalam situasi HIV/AIDS, serta monitoring dan evaluasi. </p>
<h2>SIAPAKAH AIMI</h2>
<p>Kami adalah Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), yaitu suatu organisasi nirlaba, non-pemerintah yang berbasis kelompok pendukung sesama ibu menyusui. AIMI didirikan pada tanggal 21 April 2007. Tujuan kami hanya satu, meningkatkan prosentasi ibu menyusui dan bayi yang disusui di Indonesia, dengan cara melindungi, meningkatkan, mendukung dan memberdayakan kegiatan menyusui di Indonesia. Saat ini AIMI sudah mempunyai cabang di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan anggota yang sudah mencapai ribuan. Inti dari kegiatan-kegiatan yang kami jalankan adalah edukasi, pemberian dukungan dan advokasi. AIMI merupakan salah satu penggagas dari Koalisi Advokasi ASI Indonesia yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat peduli ASI, baik perorangan maupun LSM nasional dan internasional. AIMI juga sudah berafiliasi dengan organisasi international yang menaungi gerakan ASI di seluruh dunia, seperti WABA (<em>World Alliance for Breastfeeding Action</em>) dan IBFAN (<em>International Baby Food Action Network</em>). Pada tanggal 14 Juni 2009, AIMI mendapatkan penghargaan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) atas perhatian dan dedikasi yang begitu besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia, khususnya di bidang pemberian ASI eksklusif.</p>
<h2>HARAPAN KAMI</h2>
<p>Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan para anggota Komisi XI yang terhormat ini, kami para pengurus dan anggota AIMI yang bersama ini mewakili para ibu menyusui di Indonesia, bermaksud untuk menyampaikan aspirasi kami mengenai 3 (tiga) permasalah pokok seputar kondisi menyusui Indonesia, dengan harapan para wakil rakyat yang terhormat dapat memberikan dukungan sebesar-besarnya bagi terlaksananya dan tercapainya :</p>
<ol>
<li>Rancangan Peraturan Pemerintah tentang ASI Eksklusif</li>
<p>Sesuai dengan amanat Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan), hal-hal yang berkenaan dengan ASI dan menyusui akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Dalam draft Rancangan Peraturan Pemerintah tentang ASI Eksklusif (RPP) tertanggal 13 Desember 2010, yang saat ini sedang dalam tahap harmonisasi di Kementrian Hukum dan HAM, AIMI  sebagai salah satu anggota Koalisi Advokasi ASI Indonesia yang turut aktif memantau perkembangan RPP ini, menemukan salah satu pasal yang cukup meresahkan kami, yaitu Pasal 5 yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>Pasal 5</p>
<p>(1) Ibu yang melahirkan berkewajiban memberikan ASI eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya.<br />
Selanjutnya dalam Pasal 6 disebutkan bahwa kewajiban tersebut dapat dikesampingkan bila terdapat indikasi medis.  </p>
<p>Pasal 5 yang mewajibkan seorang ibu untuk memberikan ASI eksklusif sangat meresahkan kami, karena:</p>
<ol>
<li>Para ibu WAJIB memberikan ASI Eksklusif (kecuali bila ada indikasi medis).  Padahal kami yakin bahwa memberikan asi adalah hak si ibu. Dengan adanya kata-kata wajib tersebut, ini membenarkan anggapan yang selama ini beredar di masyarakat bahwa ibu yang tidak menyusui dapat terkena sanksi pidana.</li>
<li>Harusnya, peraturan tersebut tidak memberatkan si ibu, namun, sesuai dengan UU Kesehatan haruslah lebih menitikberatkan kewajiban keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendukung ibu untuk menyusui.</li>
<li>Saat ini perangkat peraturan perundangan, dukungan, sarana dan prasarana yang terdapat di Indonesia belum mendukung seorang ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif:</li>
<ul>
<li>Cuti melahirkan dalam UU 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan hanya 3 bulan (diatur untuk diambil 1,5 bulan sebelum dan sesudah perkiraan tanggal kelahiran), sedangkan masa ASI eksklusif sebagaimana rekomendasi WHO adalah 6 bulan.</li>
<li>UU Ketenagakerjaan hanya ditujukan untuk sektor formal saja. Lalu bagaimana para pekerja yang bekerja di sektor informal? Mereka wajib memberikan ASI eksklusif 6 bulan, sedangkan jatah cuti melahirkan pun mereka tidak punya karena tidak diatur dalam UU.</li>
<li>Belum banyak sarana ruang menyusui yang tersedia baik di fasilitas publik maupun swasta (perkantoran).</li>
<li>Pemahaman tenaga medis akan ASI masih rendah, sehingga seringkali kegagalan ASI eksklusif berawal dari rumah sakit ketika ibu melahirkan.</li>
<li>Belum banyaknya informasi yang tersedia dan berimbang tentang ASI, sehingga para ibu tidak dapat mengambil keputusan yang telah mereka ketahui kebenarannya (<em>informed decision</em>).</li>
<li>Gencarnya promosi dan pemasaran produk pengganti ASI (PASI) yang tidak etis dan melanggar Kode Etik WHO tentang Pemasaran Produk PASI, sehingga mempengaruhi dan berpotensi untuk menggagalkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.</li>
</ul>
</ol>
<p>Atas berbagai pertimbangan tersebut, kami memohon hendaknya Komisi IX DPR dapat membantu kami dalam mendorong pihak-pihak yang saat ini sedang dalam proses finalisasi RPP agar dapat mengubah ketentuan Pasal 5 sehingga tidak mewajibkan ibu untuk menyusui, tetapi MEWAJIBKAN seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung ibu dalam melaksanakan program ASI Eksklusif.</p>
<li>Promosi dan Pemasaran Produk Pengganti ASI</li>
<p>Pada tanggal 9-12 November 2010, AIMI dan IBFAN Asia berkolaborasi dengan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dalam menyelenggarakan <strong>One Asia Breastfeeding Partners Forum 7</strong>, di Jakarta. Tema dari konferensi internasional yang dihadiri oleh para delegasi dari 16 negara adalah “Seruan Untuk mengakhiri Promosi Makanan Bayi!”. Forum ini kemudian menghasilkan Jakarta Declaration, yang salah satu butir seruan dari para peserta dalam deklarasi tersebut adalah mengakhiri semua bentuk promosi makanan bayi. </p>
<p>Sebagai organisasi yang anggotanya adalah para ibu menyusui, AIMI merasakan, menerima banyak keluhan dan mengalami bagaimana promosi makanan bayi yang tidak etis, baik secara langsung maupun tidak langsung,  mempengaruhi keputusan seorang ibu untuk tidak memberikan ASI. Untuk itulah, AIMI menginginkan perlindungan penuh terhadap kegiatan menyusui, salah satunya dengan menghentikan semua bentuk promosi makanan bayi.  </p>
<p><strong>Promosi Makanan Bayi di Kode Etik WHO</strong></p>
<p>Larangan total atas promosi makanan bayi bukanlah hal baru, hal ini secara tegas disebutkan dalam Pasal 5.1. Kode Etik WHO tentang Pemasaran Produk PASI tahun 1981 (Kode WHO) sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>“There should be <strong>no advertising or other form of promotion to the general public</strong> of products within the scope of this Code”</p></blockquote>
<p>Hal ini berarti bahwa iklan dan semua bentuk promosi atas produk yang diatur dalam Kode WHO ini tidak diperbolehkan. Pasal ini merupakan salah satu pasal paling penting dalam Kode WHO. Pasal ini secara jelas melarang berbagai bentuk promosi mulai dari iklan di media massa sampai pembagian brosur di apotik maupun supermarket.</p>
<p>Cakupan Kode WHO berdasarkan Pasal 2 adalah:</p>
<p>Pasal 2:</p>
<blockquote><p>“The Code applies to the marketing, and practices related thereto, of the following products: breastmilk substitutes, including infant formula; other milk products, foods and beverages, including bottle-fed complementary foods, when marketed or otherwise represented to be suitable, with or without modification, for use as a partial or total replacement of breast-milk; feeding bottles and teats. It also applies to their quality and availability, and to information concerning their use.”</p></blockquote>
<p>Jelas bahwa yg diatur dalam Kode WHO bukan hanya infant formula saja, tetapi juga semua produk susu, makanan dan minuman yang dipromosikan untuk dapat menggantikan seluruhnya maupun sebagian dari ASI. Sesuai anjuran WHO yang menyatakan bahwa menyusui dapat dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih, maka susu lanjutan untuk 2 tahun atau lebih, termasuk dalam cakupan Kode WHO ini.</p>
<p>Pengaturan Tentang Pemasaran Susu Formula di Indonesia </p>
<p>Tentang iklan susu formula di Indonesia, pengaturannya terdapat di Kepmenkes 237/MENKES/SK/IV/1997, dinyatakan bahwa susu formula bayi (0-4/6 bulan) dan susu formula lanjutan (6-12 bulan) hanya dapat dilakukan di media kesehatan yang telah mendapatkan persetujuan menteri, lebih lengkap sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>iklan susu formula lanjutan harus mencantumkan pernyataan keunggulan air susu ibu dan tulisan yang berbunyi tidak cocok untuk bayi berumur kurang dari 4 bulan [pasal 10 ayat (1)]</li>
<li>iklan makanan pendamping asi harus mencantumkan pernyataan bahwa produk hanya diberikan kepada bayi berumur di atas 4 bulan. [pasal 10 ayat (2)]</li>
<li>Iklan susu formula bayi hanya boleh di media ilmu kesehatan yang mendapat persetujuan dari menteri [pasal 11 ayat (3)] </li>
<li>Iklan susu formula lanjutan tidak boleh mencantumkan nama dagang dengan ciri-ciri yang menyerupai nama dagang susu formula bayi, selain hanya dalam media ilmu kesehatan yang mendapat persetunjuan dari menteri  [pasal 11 ayat (4)] </li>
</ul>
<p>Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan disebutkan bahwa iklan pangan bagi bayi sampai dengan berumur 1 tahun dilarang dimuat di media massa, dan hanya dapat di media kesehatan yang telah mendapat persetujuan menteri.  </p>
<p>Pasal 47 (4)</p>
<blockquote><p>Iklan tentang pangan yang diperuntukkan bagi bayi yang berusia sampai dengan (1) tahun dilarang dimuat dalam media massa, kecuali dalam media cetak khusus untuk kesehatan, setelah mendapat persetujuan Menteri kesehatan, dan dalam iklan yang bersangkutan wajib memuat keterangan bahwa pangan yang bersangkutan bukan pengganti ASI.</p></blockquote>
<p><strong>Bagaimana Iklan Susu Diatas 1 Tahun Mempengaruhi Kegiatan Menyusui Secara Keseluruhan </strong></p>
<p>Berikut adalah Iklan Nutrilon Royal 3 (diperuntukkan bagi anak 1-3 tahun. Berdasarkan peraturan nasional Indonesia, iklan ini tidak melanggar karena diperuntukkan bagi anak di atas 1 tahun.  <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-nutrilon-royal.jpg" alt="" title="01-nutrilon-royal" width="200" height="268" class="aligncenter size-full wp-image-1250" /></p>
<p>Sekarang, perhatikan pajangan susu formula di ritel (dapat ditemui dengan mudah di berbagai toko swalayan, supermarket hingga kios-kios susu):</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-sufor.jpg" alt="" title="01-sufor" width="300" height="212" class="aligncenter size-full wp-image-1251" /></p>
<p>Di tingkat ritel dimana konsumen melakukan pembelian, Nutrilon Royal 3 sebagaimana diiklankan di berbagai majalah, disandingkan dengan Nutrilon Royal 1 dan 2 yang masing-masing untuk bayi 0-6 bulan dan 6 bulan-1 tahun.  </p>
<p>Efek dari iklan Nutrilon Royal 3 ini dalam kegiatan menyusui adalah: bila si ibu mengalami kesulitan menyusui (yang sesungguhnya dapat diperbaiki dengan manajemen laktasi yang benar): sebagamana diiklankan oleh Nutrilon Royal 3 yang mengandung FOS GOS Nukleotida, untuk mempertahankan fungsi saluran cerna dan daya tahan tubuh kuat, maka Nutrilon Royal 1 dan 2 pun mempunyai keunggulan yang sama dengan Nutrilon Royal 3. Sehingga susu inilah yang akan dipilih si ibu untuk menggantikan menyusui. Hal ini berlaku bagi iklan-iklan susu lanjutan lainnya, bukan hanya iklan dan display Nutrilon sebagaimana disajikan dalam dokumen ini. Karena tidak adanya pembedaan merek maka si ibu akan melakukan generalisasi bahwa susu di bawah 1 tahun pun sama khasiatnya  dengan susu di atas 1 tahun (sebagaimana diiklankan). </p>
<p>Hal yang sama akan terjadi bila peraturan di Indonesia mengubah larangan iklan menjadi susu formula di bawah 2 tahun. Produsen akan dengan mudah mengganti materi kampanye mereka dengan iklan di atas 2 tahun, NAMUN tetap dengan merek yang sama dengan susu di bawah 1 tahun, hanya pembedaan nomor saja.  Ini yang sangat mengganggu kegiatan menyusui. Sehingga tidak bisa lain, bila ingin angka menyusui di Indonesia meningkat sebagaimana di negara India, pelarangan iklan susu formula harus dilakukan secara keseluruhan, tanpa pembedaan umur dan jenis produk. </p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Rendahnya tingkat pemberian ASI di Indonesia, salah satu faktor utama dan terbesar yang menyebabkannya adalah maraknya iklan susu formula yang ditujukan bagi masyarakat. Dalam dokumen ini, kami hanya menyajikan iklan-iklan dari media cetak.  Iklan di media elektronik, yang setiap hari membombardir masyarakat pada jam prime time, dapat kami pastikan mempunyai efek yang lebih kuat bagi seorang ibu dalam memutuskan pemberian makan bagi bayinya. Permintaan kami untuk melarang secara total iklan susu formula mungkin pada awalnya terdengar terlalu ekstrim, namun, percayalah, ini salah satu cara untuk menaikkan tingkat pemberian ASI di Indonesia. Karena itulah, kami meminta perlindungan secara penuh kepada pemerintah dan para wakil rakyat, agar mempromosikan, melindungi dan mendukung kegiatan menyusui secara maksimal, salah satunya dengan produk hukum tertinggi (undang-undang) yang mengatur secara tegas tentang promosi dan pemasaran produk PASI.   </p>
<li>Cuti Melahirkan</li>
<p>Sekitar 40% dari <em>workforce</em> di Indonesia adalah para perempuan. Mereka bekerja baik di sektor formal, maupun informal. Mereka bekerja secara penuh maupun paruh waktu. Mereka adalah para ibu menyusui. Tidak bisa dipungkiri lagi, ketentuan cuti melahirkan sebagaimana terdapat dalam UU no. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan saat ini sudah dirasakan sangat tidak mendukung program pemberian ASI eksklusif di Indonesia. Terlebih lagi, ketentuan pengambilan cuti melahirkan tersebut yang disyaratkan 1,5 bulan sebelum tanggal melahirkan, dan 1,5 bulan sesudahnya. Dalam hal manajemen laktasi, periode 1,5 bulan pasca kelahiran masih sangat kurang bagi seorang ibu, terutama ibu yang baru pertama kali melahirkan, untuk memantapkan kegiatan menyusui. Sekarang, bagaimana dengan ibu yang bekerja di sektor informal? Mereka harus bisa secepatnya kembali bekerja, karena memang cuti melahirkan sebagaimana terdapat dalam UU Ketenagakerjaan tersebut tidak melindungi golongan ini. </p>
<p>Di Eropa, terutama negara-negara Skandinavia seperti Norwegia dan Finlandia, dimana angka menyusuinya termasuk tertinggi di dunia, tidak berlaku cuti melahirkan (<em>maternity leave</em>), melainkan cuti orangtua (<em>parental leave</em>). Pasca kelahiran, ibu dan ayah berhak untuk mengambil cuti ini selama 16 bulan, yang menjadi tanggungan pemerintah dan perusahaan. Tentu cuti diambil secara bergantian, dimana ibu diwajibkan untuk mengambil cuti yang 4 bulan pertama.</p>
<p>Tentu kami sadar, situasi di Indonesia belum memungkinkan untuk memberlakukan hal tersebut. Tidak perlu mencontoh Swedia ataupun Finlandia, tapi bisa mencontoh Bangladesh. Beberapa bulan yang lalu, salah satu negara di Asia ini telah mengeluarkan peraturan yang memberikan cuti melahirkan bagi para wanita yang bekerja sebagai pegawai negeri, sebanyak 6 bulan penuh. Sesuai tentunya dengan masa pemberian ASI eksklusif.</p>
<p>Kami sangat berharap, revisi tentang ketentuan cuti melahirkan dalam UU Ketenagakerjaan dapat dilakukan, sehingga semua ibu yang bekerja, baik di sektor formal maupun informal, dapat terlindungi untuk menjalankan haknya memberikan, setidaknya ASI eksklusif selama 6 bulan penuh.
</ol>
<p><strong>PENUTUPAN</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/01/01-after-hearing-300x225.jpg" alt="" title="01-after-hearing" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1259" />Sekian sekiranya harapan dan aspirasi dari kami, para ibu menyusui di Indonesia. Demi masa depan anak bangsa, agar mereka mempunyai bekal yang ampuh untuk dapat bersaing dengan para temannya dari negara-negara lain, agar mereka bica secara penuh mencapai potensi diri dan menggapai cita-cita. <em>The future is not ours to give, it is theirs to fulfill</em>. Terima kasih.  </p>
<p>*********************</p>
<p>ASOSIASI IBU MENYUSUI INDONESIA (AIMI)</p>
<p>Graha MDS Lantai 1<br />
Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati Blok B1/34<br />
Jl. R.S. Fatmawati No. 39<br />
Jakarta 12150, Indonesia</p>
<p>tel: (021) 72767243, 72790165<br />
fax: (021) 72790166<br />
email: kontak@aimi-asi.org</p>
<p>http://aimi-asi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/01/rapat-dengar-pendapat-umum-aimi-dengan-komisi-ix-dpr-ri-selasa-25-januari-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penggalangan Bantuan AIMI untuk Mentawai dan Merapi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/10/penggalangan-bantuan-aimi-untuk-mentawai-dan-merapi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/10/penggalangan-bantuan-aimi-untuk-mentawai-dan-merapi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Oct 2010 02:16:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana alam]]></category>
		<category><![CDATA[mentawai]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[penggalangan dana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1115</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia kembali menangis. Sedih tak terkira ketika mendengar dan melihat saudara-saudara kita terkena bencana alam &#8211; Tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat dan Meletusnya Gunung Merapi di Jogjakarta. Begitu banyak korban jiwa berjatuhan, korban luka serta pengungsi yang masih berada di barak-barak pengungsian. Tak terbayangkan penderitaan yang mereka rasakan ketika kehilangan sanak saudara yang dicintai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia kembali menangis. Sedih tak terkira ketika mendengar dan melihat saudara-saudara kita terkena bencana alam &#8211; Tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat dan Meletusnya Gunung Merapi di Jogjakarta. Begitu banyak korban jiwa berjatuhan, korban luka serta pengungsi yang masih berada di barak-barak pengungsian. Tak terbayangkan penderitaan yang mereka rasakan ketika kehilangan sanak saudara yang dicintai serta harta benda yang dimiliki.</p>
<p>Sebagai wujud simpati dan kepedulian terhadap sesama, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) ingin berpartisipasi dalam meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena bencana dengan pengumpulan dana. Rencananya dana ini akan dipergunakan oleh AIMI untuk mengirim tenaga relawan Konselor Laktasi ke daerah-daerah bencana untuk men-support ibu untuk terus memberikan ASI dalam situasi bencana serta membeli perlengkapan yang diperlukan di daerah bencana.  </p>
<p>Dalam rangka inilah, AIMI juga membuka kesempatan bagi ayah/bunda anggota milis AFB/AIMI untuk berbagi kasih melalui pengumpulan dana yang dapat di setorkan ke rekening AIMI:<br />
Bank Mandiri Cabang Jakarta Kyai Tapa, a/n. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, nomor rekening 11700 2464 274 6 (11700 AIMI ASI 6), dan mencantumkan Bantuan Mentawai dan Merapi di berita transfer</p>
<p>Kami mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya atas partisipasi ayah/bunda semua dalam membantu sesama kita yang terkena bencana. Semoga kasih ayah/bunda yang tercermin di dalam bantuan dana ini, berguna untuk meringankan derita saudara-saudara kita.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Mia Sutanto<br />
Chairwoman<br />
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/10/penggalangan-bantuan-aimi-untuk-mentawai-dan-merapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>One Asia Breastfeeding Partners Forum 6: Oleh-Oleh Dari Srilanka</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/04/one-asia-breastfeeding-partners-forum-6/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/04/one-asia-breastfeeding-partners-forum-6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 09:11:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[breastfeeding in emergency]]></category>
		<category><![CDATA[emergency response]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[infant feeding in emergencies]]></category>
		<category><![CDATA[one asia forum]]></category>
		<category><![CDATA[srilanka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[18-21 November 2009 menjadi suatu kenangan indah yang tak terlupakan. Mewakili AIMI yang diundang oleh IBFAN (International Baby Food Action Network) Asia sebagai delegasi dari Indonesia untuk menghadiri konferensi regional yaitu <strong>One Asia Breastfeeding Partners Forum 6</strong> di Colombo, Srilanka, dengan tema “<em>Breastfeeding in Emergencies: Challenges &#038; Solutions</em>”. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>18-21 November 2009 menjadi suatu kenangan indah yang tak terlupakan. Mewakili AIMI yang diundang oleh <a href="http://www.ibfanasia.org/">IBFAN</a> (International Baby Food Action Network) Asia sebagai delegasi dari Indonesia untuk menghadiri konferensi regional yaitu <strong>One Asia Breastfeeding Partners Forum 6</strong> di Colombo, Srilanka, dengan tema “<em>Breastfeeding in Emergencies: Challenges &#038; Solutions</em>”. </p>
<h3>Apa sih One Asia Breastfeeding Partners Forum?</h3>
<blockquote><p>“In the year 2003, the Breastfeeding Promotion Network of India (BPNI) and The International Baby Food Action Network (IBFAN) Asia, organized a landmark event, the Asia Pacific Conference on Breastfeeding’ to promote the implementation of the Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. As a follow up, the south Asia participants met and took a decision to mobilize groups, governments, UN and others to focus on related issues. It led to the organizing of the South Asia Breastfeeding Partners Forum each year in different countries. The major objective was to strengthen the breastfeeding movement and its linkages with the governments and the UN agencies. Enhancing interest and action on infant and young child feeding was the considered outcome.” </p></blockquote>
<p>Forum yang ke-6, adalah pertama kalinya konferensi ini melibatkan negara-negara dari Asia Selatan dan Asia Tenggara.</p>
<p>Yang menjadi pikiran pada saat menerima berita bahwa AIMI diundang untuk hadir di konferensi ini adalah; kalau saya jadi pergi, bagaimana dengan kebutuhan ASIP-nya Ascha yang pada saat itu berusia 18 bulan. Bagaimana pula dengan mekanisme penyimpanan dan pengangkutan ASIP selama perjalanan saya disana? Ternyata karena baru pada saat-saat terakhir memutuskan untuk pergi ke Colombo, persediaan ASIP saya tidak mencukupi kebutuhan Ascha selama ditinggal. Sepertinya saya juga tidak punya cukup waktu untuk mengejar ketertinggalan stock ASIP tersebut. Apa boleh buat, akhirnya saya memutuskan untuk minta donor ASI dari seorang sahabat untuk menutupi kekurangan. Kenapa tidak dikasih UHT saja? Toh usianya sudah 18 bulan. Memang sampai dengan saat itu (dan juga sekarang di usia 22 bulan), Ascha belum pernah sama sekali tersentuh oleh susu sapi. Saya pikir sayang juga, kalau bisa tetapi ASI – walaupun bukan ASI saya – kenapa tidak? Karena saya pernah berada dalam posisi yang mendonorkan ASI, saya juga tidak ada masalah kalau pada saat itu beralih posisi menjadi penerima donor. Itu semua saya jalankan karena tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa tidak ada susu lain yang bisa menggantikan ASI.</p>
<p>Oke, masalah persediaan ASIP sudah teratasi. Sekarang masalah penyimpanan dan pengangkutan ASIP saya hasil perahan selama di Colombo (dan tentu, di perjalanan). Untung salah satu pengurus AIMI sudah ada yang sangat berpengalaman mengenai hal ini. Selanjutnya saya banyak bertanya-tanya ke dia, banyak browsing juga, dan akhirnya saya jadi semakin mantap dan percaya diri untuk menjalankannya (oya, sharingnya pengurus AIMI ini bisa dibaca juga loh <a href="http://aimi-asi.org/2009/02/dinas-luar-negeri-tak-masalah/">disini</a>).</p>
<p>Tanpa saya sadari, hari H keberangkatan saya sudah tinggal esok hari. Sedih rasanya membayangkan akan meninggalkan anak-anak, tapi disisi lain, <em>I was very excited!</em>  </p>
<p><strong>Day 1: Selasa 17 November 2009</strong></p>
<p>Perjalanan ke bandara lumayan lancar, tidak ketinggalan tas laptop saya dan juga cooler bag ASIP berserta perlengkapannya yang saya masukkan ke dalam koper kecil untuk masuk di cabin. Berhubung tidak ada penerbangan langsung Jakarta – Colombo, maka saya harus ganti pesawat di Singapura. Pada saat melakukan <em>check-in</em> di Soekarno-Hatta antrian lumayan sepi, pada saat mau mengurus bebas fiskal&#8230; wah, ternyata kartu NPWP saya ketinggalan!! Untung saya mencatat nomor NPWP-nya, jadi tetap dapat stiker bebas fiskal tersebut (kalau tidak harus bayar 2,5juta loh). </p>
<p>Karena maskapai penerbangannya delay selama 1 jam, sampai di bandara Changi, Singapura semuanya serba terburu-buru. Untung bagasi sudah <em>check through</em> dari Jakarta, jadi saya masih sempat merah ASI. Dapat deh 1 kantong ASIP. Senangnya!</p>
<p>Perjalanan cukup melelahkan, karena 1 kali ganti pesawat dan 1 kali transit di Kuala Lumpur. Sampai di Colombo sudah malam. Perjalanan Bandaranaike International Airport ke hotel memakan waktu kurang lebih 1 jam 15 menit. Begitu sampai di hotel, saya hanya menyempatkan diri untuk makan malam dan memerah ASI sebelum tidur.</p>
<p><strong>Day 2: Rabu 18 November 2009</strong></p>
<p><em>First day of the conference!</em> Pertama-tama sebelum sarapan pagi tentu menyempatkan diri untuk memerah dulu. Setelah itu, naik kendaraan yang sudah disediakan panitia menuju ke lokasi konferensi (di hotel lain). Deg-degan dan bangga, karena ternyata saya satu-satunya delegasi perwakilan Indonesia di konferensi tersebut! Senang bertemu dengan sesama pejuang ASI dari negara-negara tetangga se-Asia. </p>
<p>Setelah <em>opening ceremony</em> oleh ketua IBFAN Asia, IBFAN Southeast Asia dan juga ketua panitia penyelenggara, ternyata untuk sesi pertama di hari itu adalah presentasi para delegasi dari negara-negara yang baru saja terkena bencana alam. Tentu termasuk Indonesia, karena saat itu baru saja mengalami bencana gempa di Tasikmalaya dan Sumatera Barat. Pada materi presentasi yang saya sampaikan, topik pembahasan adalah, bagaimana menangani para korban gempa yang terdiri dari kelompok para ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/201004-IFE-in-Sumbar-300x225.jpg" alt="" title="201004-IFE-in-Sumbar" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-608" /> Ternyata meskipun sudah ada peraturan nasional mengenai pembatasan pemberian bantuan berupa susu formula, tetap saja masih ditemui berbagai pelanggaran di lokasi bencana, baik oleh lembaga-lembaga nasional maupun internasional. <a class="downloadlink" href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=IFE+in+Sumbar%28web%29.pdf" title=" downloaded 159 times" >IFE in Sumbar (159)</a> </p>
<p>Selama konferensi berlangsung, tentu tidak boleh lupa untuk memerah ASI (yang kemudian saya simpan di kulkas kamar hotel), dan juga pada malam hari sebelum tidur.</p>
<p><strong>Day 3: Kamis, 19 November 2009</strong></p>
<p>Pagi hari dimulai dengan kegiatan rutin memerah ASI, kemudian bersiap-siap untuk sarapan dan langsung menuju ke ruang konferensi. Hari iitu saya juga mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk presentasi di hadapan para peserta delegasi. Kali ini topiknya adalah mengenai pelaksanaan pengumpulan data untuk <a href="http://www.worldbreastfeedingtrends.org/countrysubmit.php?country=Indonesia">WBTi</a> (World Breastfeeding Trends Initiative) di masing-masing negara. Apa saja kesukaran yang dihadapi dan bagaimana mengatasinya.</p>
<p>Ternyata sore harinya Menteri Kesehatan Srilanka melakukan pembukaan secara resmi konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 6, dan kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan malam secara resmi di kediaman Ibu Negara (yang dijaga dengan sangat ketat). <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/201004-dinner-banquet-300x197.jpg" alt="" title="201004-dinner-banquet" width="300" height="197" class="alignright size-medium wp-image-609" />Acara ini berlangsung sampai larut malam, dan ketika tiba kembali di hotel rasanya sudah ingin langsung merebahkan badan ke kasur, tapi tidak boleh lupa 1 sesi memerah ASI sebelum tidur.</p>
<p><strong>Day 4: Jumat, 20 November 2009</strong></p>
<p>Di hari ke-empat ini, kebetulan saya sudah tidak ada lagi kewajiban untuk presentasi, jadi lebih santai meskipun tetap serius menyimak materi-materi yang disampai selama sesi berlangsung. Di hari ini pula akhirnya pada peserta konferensi berkesempatan untuk sedikit melakukan shopping pada sore hari, meskipun belum secara maksimal!</p>
<p><strong>Day 5: Sabtu, 21 November 2009</strong></p>
<p>Hari terakhir dari konferensi. Seluruh negara peserta mempresentasikan <em>action plan</em> untuk tahun 2010, dan pada kesempatan ini juga ternyata Indonesia dipilih menjadi salah satu kandidat tuan rumah untuk penyelenggaraan konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 7 (yang ternyata memang pada akhirnya negara kita tercinta ini yang terpilih!). Tidak seperti pada hari-hari sebelumnya, kali ini konferensi ditutup setelah makan siang, sehingga para delegasi masih mempunyai kesempatan untuk melakukan tur setengah hari keliling kota Colombo. Tentu tidak ketinggalan untuk belanja teh ceylon yang terkenal itu&#8230;!!</p>
<p><strong>Day 6: Minggu, 22 November 2009 </strong></p>
<p>Hari ini harus bangun jam 3 dini hari karena harus berangkat menuju bandara paling telat pukul 04.30 pagi. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/04/201004-holiday-inn-day-3-300x225.jpg" alt="" title="201004-holiday-inn-day-3" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-610" />Kembali lagi, perasaan bercampur aduk antara senang karena akan segera bertemu lagi dengan keluarga, dan sedih karena harus berpisah dengan teman-teman para peserta konferensi lainnya. Tentu merekapun harus kembali pulang ke negara masing-masing.</p>
<p>Konferensi One Asia Breastfeeding Partners Forum 6 ini, pada akhirnya menghasilkan suatu deklarasi bersama 18 negara peserta konferensi, yang disebut dengan <strong>Colombo Declaration</strong>. Deklarasi ini adalah suatu kesepakatan bersama mengenai tatacara penanganan bencana dan kaitannya dengan upaya-upaya untuk senantiasa mempromosikan, melindungi dan mendukung kegiatan menyusui.</p>
<a class="downloadlink" href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=colombo.pdf" title=" downloaded 103 times" >Colombo Declaration (103)</a>
<p>Perjalanan kali ini memang benar-benar tak terlupakan. Oleh-oleh yang saya bawa pulang dari Colombo juga luar biasa. Persahabatan baru dengan sesama  pecinta ASI dari negara-negara tetangga (mereka sempat terheran-heran loh melihat saya mengangkut ASIP pulang), networking internasional untuk AIMI, wawasan dan ilmu yang semakin bertambah, pengalaman yang semakin matang, dan tentu yang tidak kalah penting adalah lebih dari 10 kantong ASIP oleh-oleh khusus untuk Ascha tercinta.</p>
<p>Salam ASI!<br />
Mia Sutanto, SH, LL.M, Konselor Laktasi<br />
Ketua AIMI</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 1650 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/04/one-asia-breastfeeding-partners-forum-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayi Sering Menangis &#8211; Apakah Ini Tandanya ASI Tidak Cukup?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/02/bayi-sering-menangis/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/02/bayi-sering-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 16:36:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Pernah merasa ASI kurang karena bayi menangis terus..? Stres dan panik karena takut ASI tidak akan cukup untuk bayi anda..? Yuk, simak artikel dari ketua AIMI yang juga seorang konselor laktasi tentang hal-hal yang menyebabkan seorang bayi menangis.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jujur saja, selama pengalaman saya sebagai seorang konselor laktasi, inilah yang paling ditakuti oleh seorang ibu <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/02/02-bayi-sering-menangis.jpg" alt="02-bayi-sering-menangis" title="02-bayi-sering-menangis" width="188" height="250" class="alignleft size-full wp-image-203" />menyusui; bayinya nangis terus padahal baru saja disusuin selama 1 jam, bayinya nangis terus padahal sudah sering disusuin setiap setengah jam sekali, baru saja diletakkan ditempat tidur, 15 menit kemudian sudah bangun lagi dan minta disusuin. Haduh, apakah ini tandanya ASI tidak cukup ya&#8230;?!</p>
<p>Mungkin yang perlu pertama kali diingat adalah, bayi belum bisa berbicara. Satu-satunya cara seorang bayi berkomunikasi dengan orangtuanya adalah melalui tangisan. Makanya para pakar sepakat bahwa apabila orangtua langsung menanggapi dan merespon tangisan bayinya, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan sang bayi, hal tersebut tidak akan membuat si bayi menjadi manja, justru sebaliknya, bayi akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri karena dia merasa selalu ’didengar’ oleh orangtuanya.</p>
<p>Bagaimana caranya bayi memberitahukan ibu bahwa ia sedang lapar&#8230;? Ya tentu melalui tangisan. Tetapi apakah berarti setiap kali bayi menangis tandanya ia sedang lapar&#8230;? Belum tentu. Yuk, kita simak satu persatu apa kiranya yang menyebakan seorang bayi menangis, terutama dalam kaitannya dengan pemberian ASI dan masa menyusui.</p>
<ol>
<strong>
<li>Bayi Baru Lahir Butuh Penyesuaian</li>
<p></strong><br />
Setelah 9 bulan didekap dengan hangat dan lembut dalam rahim bunda, diiringi dengan kedamaian suara detak jantung bunda&#8230;tiba-tiba harus lahir ke dunia yang terang benderang, berisik, ramai, dingin, penuh dengan orang-orang yang tidak dikenal&#8230;gak heran ya bayi yang baru lahir langsung nangis sekencang-kencangnya.</p>
<p>Disinilah salah satu manfaat dilakukannya IMD (inisiasi menyusu dini), ternyata bayi akan berhenti menangis apabila langsung diletakkan diatas dada ibunya, dan tingkat hormon stresnya akan menurun sebesar 50%. </p>
<p>Bayangkan kita harus tinggal di negara lain, belum pernah kesana, tidak kenal siapa-siapa, tidak bisa berbahasa setempat, belum biasa (cocok) dengan makanan setempat&#8230;belum lagi terdapat perbedaan musim dan waktu (disini siang, disana malam). </p>
<p>Begitulah kira-kira apa yang dialami seorang bayi baru lahir, semua serba asing, serba baru, serba belum bisa. Satu-satunya usaha yang bisa dilakukan adalah dengan berkomunikasi&#8230;melalui tangisannya.</p>
<p><strong>
<li>Bayi Baru Lahir Butuh Rasa Aman dan Nyaman</li>
<p></strong></p>
<blockquote><p>Mama&#8230; aku gak nyaman nih, aku abis pipis/pup&#8230;<br />
panas bunda, kipas anginnya kurang kencang&#8230;<br />
ibu, AC-nya dikecilkan dong, aku kedinginan nih&#8230;<br />
wah, aku digigit nyamuk lagi bunda, gatal&#8230;<br />
mama, bajuku kasar&#8230;<br />
ibu, aku pegal tidur diposisi ini terus&#8230;<br />
aduh, sakit bunda, tanganku kepentok pinggiran tempat tidur&#8230;<br />
ummi, aku bosan disini terus, gendong ya&#8230;<br />
ibu, perutku kembung nih&#8230;<br />
mama, aku lapaaaaarrr&#8230;!!! </p></blockquote>
<p>Semua itu dia komunikasikan melalui tangisan. Belum lagi seorang bayi baru lahir sangat butuh perasaan aman, dan itu hanya dia dapatkan dari dekapan hangat penuh cinta bundanya, terutama pada saat-saat menyusui. Wah, gak heran ya seorang bayi sering menangis.</p>
<p><strong>
<li>Menyusui: Memenuhi Rasa Haus, Lapar dan <em>Comfort</em></li>
<p></strong><br />
Hal yang seringkali tidak disadari oleh para orangtua adalah, bayi menyusu bukan saja karena lapar tetapi terkadang bayi hanya haus, dan di lain waktu bayi menyusu karena membutuhkan rasa nyaman dari dekapan sang bunda (<a href="http://www.kellymom.com/store/handouts/newborn/sleep.pdf">http://www.kellymom.com/store/handouts/newborn/sleep.pdf</a>).</p>
<p>Bagaimana bila bayi sedang dalam fase tumbuh gigi, atau sedang dalam proses pencapaian salah satu milestone-nya, atau bayi sedang sakit dan tidak enak badan? Semua itu dia komunikasikan melalui tangisannya, dan semua itu dapat menyebabkan seorang bayi menjadi sangat membutuhkan rasa nyaman yang diperoleh pada saat sedang menyusu.</p>
<p><strong>
<li>Kapasitas Perut Seorang Bayi</li>
<p></strong><br />
Kenapa kolostrum diproduksi dalam jumlah yang sangat sedikit (setiap kali bayi menyusu pada hari-hari pertama, hanya minum 1-2 sendok teh kolostrum)..? Ini dikarenakan pada hari pertama kapasitas lambung seorang bayi baru lahir hanyalah sebesar 5-7ml setiap kali minum. </p>
<p>Iya, ukuran lambungnya hanya sebeser kelereng (gundu), dan dinding lambungnya tidak bisa melar untuk menampung lebih banyak cairan. Makanya bayi baru lahir HANYA membutuhkan kolostrum, kualitas dan kuantitasnya secara sempurna memenuhi kebutuhan sang bayi (<a href="http://www.llli.org/images/InfantStomach.jpg">http://www.llli.org/images/InfantStomach.jpg</a>). </p>
<p>Pada hari ke-3, ukuran lambung bayi membesar menjadi seukuran bola bekel, atau seukuran kepalan tangannya, sehingga sekali minum lambung sudah bisa menampung 22-27ml (biasanya pad ahari ke-3 ini, kolostrum mulai berubah menjadi ASI transisi dan volumenya juga bertambah). </p>
<p>Pada hari ke-7, lambung kembali membesar seukuran bola pingpong, dan bayi mulai bisa minum 45-60ml setiap kali menyusu. Hari ke-10, ukuran lambung bayi kurang lebih sama dengan telur ayam yang besar, dan kapasitasnya bertambah menjadi sekitar 60-81ml sekali minum (makanya pada usia sekitar 10-14 hari, bayi mengalami percepatan pertumbuhan yang pertama – lihat keterangan dibawah ini). </p>
<p>Kalau sudah tahu gini, jangan kaget ya kalau ternyata bayi anda menyusu setiap 1-1,5 jam atau bahkan kurang dari itu. Ternyata ukuran lambung bayi memang sangat kecil, jadi hanya bisa menampung sedikit setiap kali menyusu sehingga bayi perlu SERING menyusu.</p>
<p><strong>
<li>ASI Sangat Mudah Diserap dan Dicerna</li>
<p></strong><br />
Selain faktor ukuran lambung bayi yang memang kecil, ternyata ASI sangat mudah diserap dan dicerna oleh tubuh bayi. Semua nutrisi yang terkandung dalam ASI sangat cocok dan mudah diserap oleh pencernaan seorang bayi manusia, dan ASI mengandung enzim-enzim pencernaannya sendiri (<a href="http://www.enotalone.com/article/3606.html">http://www.enotalone.com/article/3606.html</a>). </p>
<p>Jadi bayangkan, begitu masuk kedalam lambung, ASI langsung dicerna dan diserap secara sempurna oleh tubuh bayi, ditambah dengan ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil. Tidak heran kan kalau bayi ASI lebih cepat dan mudah merasa lapar kembali.</p>
<p><strong>
<li>Produksi ASI: <em>Supply and Demand</em></li>
<p></strong><br />
Memang betul, selama periode menyusui, produksi ASI sangat ditentukan oleh prinsip <em>supply and demand</em>. Artinya, semakin sering payudara diisap dan dikosongkan, maka semakin sering dan semakin banyak ASI akan diproduksi. </p>
<p>Namun, hal tersebut tidak berlaku pada hari 1-3 setelah kelahiran bayi (<a href="http://www.kellymom.com/bf/supply/milkproduction.html">http://www.kellymom.com/bf/supply/milkproduction.html</a>), pada saat-saat tersebut produksi ASI lebih ditentukan oleh kerja hormon prolaktin. Tapi bayi tetap perlu sering menyusu untuk mendapatkan kolostrum secara maksimal, mengingat ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil. </p>
<p>Pada saat kolostrum berubah menjadi ASI transisi (sekitar hari ke-2 atau ke-3), maka mulailah prinsip <em>supply and demand</em> tersebut dan di masa-masa awal ini, terkadang antara <em>supply</em> dan <em>demand</em> belum cocok. Misalnya: demand bayi sudah besar, tetapi supply ASI masih sedikit sehingga bayi akan sangat sering menyusu (karena sering lapar dan untuk meningkatkan produksi ASI) dan menangis karena lapar. </p>
<p>Atau, <em>supply</em> ASI sudah sangat banyak, tetapi <em>demand</em>-nya masih sedikit. Walhasil bayi sering menangis pada saat sedang menyusu karena aliran ASI sangat banyak, atau menangis setelah selesai menyusu karena terlalu banyak menelan udara sehingga kembung.</p>
<p><strong>
<li>Percepatan Pertumbuhan (<em>Growth Spurt</em>)</li>
<p></strong><br />
Percepatan pertumbuhan tidak hanya terjadi pada bayi, tetapi hal ini akan terus terjadi sampai dengan bayi menjadi seorang remaja. </p>
<p>Namun pada bayi, kondisi ini biasanya hanya berlangsung sekitar 3 hari dan terjadi di usia 10-14 hari, 3 minggu, 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan (<a href="http://breastfeeding.about.com/od/breastfeedingbystage/a/growthspurts.htm">http://breastfeeding.about.com/od/breastfeedingbystage/a/growthspurts.htm</a>). </p>
<p>Pada periode ini, bayi mengalami pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental yang sangat cepat, sehingga membutuhkan ekstra kalori untuk mengimbanginya. Pada bayi ASI, ekstra kalori tersebut didapat dengan cara meningkatkan produksi ASI ibunya dan cara yang paling ampuh untuk meningkatkan produksi ASI adalah dengan bayi lebih sering menyusu. </p>
<p><strong>
<li>Faktor Psikis dan Kesehatan Fisik Ibu</li>
<p></strong><br />
Bayangkan skenario ini: seorang ibu baru saja selesai menyusui bayinya yang berusia 10 hari kemudian secara perlahan-lahan (supaya tidak membangunkan) meletakkan bayi tersebut di tempat tidurnya. 15 menit kemudian bayinya terbangun lagi dan menangis, dan si ibu kembali menyusui bayinya selama setengah jam. </p>
<p>Selesai menyusui, ibu beringsut-ingsut ke kamar mandi karena dari pagi belum mandi. Baru hendak melepaskan pakaian, terdengar lagi suara tangisan bayinya. Ibu menjadi stres, cemas, takut dan khawatir ASI-nya pasti tidak cukup/hanya sedikit sehingga bayinya jadi sering terbangun dan menangis karena lapar. </p>
<p>Belum lagi rasa capek, pegal, (sisa) sakit akibat persalinan, <em>baby blues</em>, dan pola makan yang belum teratur karena terlalu sibuk mengurus sang buah hati. </p>
<p>Kombinasi dari beberapa faktor diatas bisa mempengaruhi kelancaran ASI (<a href="http://www.breastfeed.com/articles/overcoming-difficulties/stressed-out-and-dried-up-3259/">http://www.breastfeed.com/articles/overcoming-difficulties/stressed-out-and-dried-up-3259/</a>), mempengaruhi kerja hormon oksitosin sehingga <em>Let Down Reflex (LDR)</em> menjadi terhambat dan bayi tidak dapat minum ASI dengan puas sampai kenyang.  Akibatnya, baru selesai disusui, bayi akan menangis lagi untuk minta disusui lagi karena sebenarnya dia belum kenyang. </p>
<p><strong>
<li>ASI Yang Diperah ≠ ASI Yang Diproduksi</li>
<p></strong><br />
Inilah kesalahan yang seringkali dilakukan oleh para ibu; memerah ASI untuk melihat berapa banyak ASI yang mereka hasilkan. Jumlah ASI yang berhasil diperah/dipompa hanya menunjukkan seberapa banyak si ibu bisa memerah/memompa ASInya, BUKAN seberapa banyak si ibu bisa memproduksi ASI. </p>
<p>Berapa banyak ASI yang bisa diperah/dipompa sangat tergantung pada beberapa hal, misalnya: apakah LDR berfungsi pada saat sedang memerah/memompa, seberapa lihai ibu memerah dengan tangan atau menggunakan pompa ASI, apakah teknik yang digunakan sudah benar, apakah pompa ASI dalam keadaan prima (tidak ada bagian yang rusak), dll. </p>
<p>Kemampuan ibu untuk memerah/memompa ASInya jauh dibawah kemampuan si bayi untuk mengisap dan mengeluarkan ASI dari payudara. Itupun bayi rata-rata hanya bisa ’mengosongkan’ payudara sekitar 70% dari kapasitas produksi.</p>
<p><strong>
<li>Posisi Menyusui dan Pelekatan</li>
<p></strong><br />
Mungkin salah satu hal yang paling menentukan apakah bayi dapat mengeluarkan ASI secara efektif dari payudara ibunya, sehingga dapat minum ASI sampai puas, adalah posisi menyusui (<a href="http://www.mayoclinic.com/health/breast-feeding/FL00096">http://www.mayoclinic.com/health/breast-feeding/FL00096</a>) serta pelekatan mulut bayi pada payudara si ibu (<a href="http://www.breastfeeding.com/helpme/helpme_images_latchon.html">http://www.breastfeeding.com/helpme/helpme_images_latchon.html</a>). </p>
<p>Banyak faktor yang mempengaruhi posisi dan pelekatan ini, seperti anatomi payudara (besar, kecil, dll) serta puting (besar, kecil, datar, dll) ibu dan anatomi mulut bayi (celah bibir, lidah pendek, dll). Apabila posisi menyusui dan/atau pelekatan mulut bayi masih kurang tepat, ada kemungkinan bayi tidak dapat mengeluarkan dan minum ASI secara maksimal dari payudara ibunya.  Akibatnya, walaupun bayi sering dan lama menyusunya, dia akan cepat menangis dan lapar kembali karena sebenarnya belum kenyang. </p>
<p><strong>
<li>Produksi ASI Memang Sedikit (1 dari 1000 Wanita)</li>
<p></strong><br />
Pada akhirnya, dari 1000 wanita yang mengaku ASInya sedikit atau kurang, ada 1 yang memang betul-betul tidak dapat menghasilkan ASI untuk mencukupi kebutuhan bayinya. Hal ini biasanya disebabkan oleh kelainan anatomi pada payudara dan/atau gangguan hormon ASI pada si ibu (<a href="http://www.lactationconsultant.info/how.html">http://www.lactationconsultant.info/how.html</a>).
</ol>
<h3>APA YANG DAPAT ANDA LAKUKAN…?</h3>
<p>Untuk (1), (2) dan (3), terimalah secara ikhlas bahwa keadaan bayi memang demikian, bayi tidak melakukan semua itu karena dia manja atau dengan tujuan memanipulasi dan dengan sengaja menyusahkan orangtuanya, tetapi karena memang bayi membutuhkannya. Untuk (4), (5), (6) dan (7), pelajari, waspadai dan antisipasi keadaan.</p>
<p>Dengan tahu bahwa kapasitas lambung bayi sangat kecil, bahwa ASI sangat mudah diserap, bahwa ASI diproduksi berdasarkan prinsip <em>supply and demand</em> dan bahwa bayi akan beberapa kali mengalami periode percepatan pertumbuhan, normal kan kalau bayi akan sering menyusu pada ibunya&#8230;? </p>
<p>Untuk (8), hindari kondisi ini. Otak ibu bagaikan sebuah komputer, apabila sudah terkena ’virus’ stres, cemas, khawatir, takut dan tidak percaya diri, maka kerja hormon-hormon ASI akan terhambat. Untuk (9), wah, hindarilah. Tidak perlu melakukan ini, salah-salah malah akan menambah ’virus’ di otak ibu. </p>
<p>Untuk (10), pelajari&#8230; pelajari dan pelajari. Silahkan ikut Kelas Edukasi AIMI: Breastfeeding Basics untuk mempraktekkan secara langsung berbagai posisi menyusui serta pelekatan mulut bayi pada payudara. Jangan ragu untuk meminta bantuan seorang konselor menyusui ataupun ke klinik laktasi apabila memang dirasakan ada masalah seputar posisi menyusui dan pelekatan bayi. </p>
<p>Untuk (11), apabila segala permasalahan (1) sampai (10) sudah berhasil diatasi namun ternyata produksi ASI memang sedikit (<a href="http://www.llli.org/FAQ/enough.html">http://www.llli.org/FAQ/enough.html</a>), dan setelah dilakukan pengecekan dan tes kesehatan bahwa memang ibu mengalami kelainan anatomi payudara ataupun gangguan hormonal yang menyebabkan produksi ASI sedikit, maka dapat diberikan suplementasi melalui ASI donor (<a href="http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/">http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/</a>) ataupun susu formula supaya bayi tidak terkena gejala ’failure to thrive’ (<a href="http://www.wrongdiagnosis.com/f/failure_to_thrive/intro.htm">http://www.wrongdiagnosis.com/f/failure_to_thrive/intro.htm</a>). </p>
<p>Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) sebagai salah satu bentuk suplementasi sangat tidak dianjurkan untuk bayi yang masih berusia dibawah 6 bulan (<a href="http://www.kellymom.com/nutrition/solids/delay-solids.html">http://www.kellymom.com/nutrition/solids/delay-solids.html</a>).</p>
<p>So mom, ternyata karena ukuran lambung yang kecil serta komposisi ASI yang sangat mudah diserap dan dicerna oleh bayi menyebabkan ia jadi sering menyusu. Apalagi ditambah dengan faktor <em>growth spurt</em> serta ingin selalu mendapatkan rasa aman dan nyaman, sepertinya bayi tidak pernah lepas dari dekapan kita ya&#8230;?</p>
<p>Menangis merupakan satu-satunya cara bagi bayi untuk berkomunikasi, tapi ingat, menangis tidak selalu berarti bayi sedang lapar. Pada saat bayi anda nanti tumbuh dewasa, menjadi manusia sempurna yang sehat, cerdas dan berakhlak baik, momen-momen ”berat” ini dimana seolah-olah bayi tidak pernah lepas dari payudara anda ternyata hanya merupakan ’sedetik’ dari perjalanan panjang hidupnya, dan momen-momen itu akan berlalu dalam sekejap.</p>
<p>Breastfeed with love&#8230;!!!</p>
<p>Salam ASI!<br />
Mia Sutanto, SH, LL.M<br />
Konselor Menyusui – Ketua AIMI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/02/bayi-sering-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>84</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Donor ASI &#8211; Aman Ngga Ya?</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 17:43:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Donor ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Saudara Persusuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[ASI kurang, boleh ngga ya kalau memberikan ASI ibu lain...? ASI berlimpah, dibuang sayang. Ada ngga ya yang mau ASI ini..? Yuk lihat pembahasannya disini, ditulis oleh Ketua AIMI, Mia Sutanto dari referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Mia Sutanto, SH, LLM, Konselor Laktasi</p>
<p>Keunggulan Air Susu Ibu (ASI) memang sudah lama diyakini dan dibuktikan baik oleh para peneliti, tenaga kesehatan maupun para ibu-ibu yang menyusui dan bayi mereka masing-masing yang mengkonsumsi ASI. WHO (Badan Kesehatan Dunia) sendiri telah secara resmi merekomendasikan bahwa ASI diberikan secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan seorang bayi, pada saat usia 6 bulan mulai diberikan makanan pendamping ASI yang berkualitas dan pemberian ASI diteruskan hingga bayi berusia 2 tahun atau lebih.</p>
<p>Hal ini semakin menegaskan perlunya dan pentingnya pemberian ASI bagi seorang bayi, terutama bayi prematur. Sayang sekali, karena satu dan lain hal banyak wanita yang tidak dapat menyusui bayinya, namun karena mengakui keunggulan ASI dan ingin menghindari berbagai macam masalah kesehatan dan tumbuh kembang bayi dan anak yang terkait dengan penggunaan susu formula, maka para wanita tersebut tetap ingin memberikan ASI kepada bayi-bayi mereka. Di sisi lain, beberapa ibu mempunyai produksi dan simpanan ASI perah yang berlebih, sehingga sayang untuk dibuang dan mereka memilih untuk mendonorkan ASI perah tersebut. WHO sendiri telah menetapkan protokol pemberian asupan bagi bayi sesuai dengan urutannya sebagai berikut: (1) ASI langsung dari ibunya, (2) ASI perah dari ibunya, (3) ASI donor dari ibu lain, dan (4) susu formula.</p>
<p>Dalam hal berbagi ASI atau melakukan dan menerima donor ASI, memang ada beberapa hal yang patut menjadi pertimbangan. Artikel ini akan membahas dari segi kesehatan dan pandangan hukum agama Islam.</p>
<h3>Kesehatan</h3>
<ol>
<li>HIV/AIDS<br />
Walaupun penelitian terbaru yang dilakukan telah menemukan bahwa apabila seorang ibu yang positif HIV menyusui secara eksklusif bayinya selama 6 bulan, maka justru akan <a href="http://news.bbc.co.uk/1/hi/health/6507309.stm">menurunkan resiko penularan</a> terhadap bayinya, namun dalam hal berbagi ASI, seorang ibu yang positif HIV tidak dianjurkan untuk mendonorkan ASI (kekhawatiran terhadap resiko penularan serta efek sampingan dan terapi pengobatan yang sedang dijalankan). Di luar negeri, ASI donor secara rutin dipanaskan dengan metode <em>flash heating</em>, karena virus HIV dapat di non-aktifkan dengan memanaskan ASI pada suhu derajat yang tinggi. <em>Flash heating</em> dapat juga dilakukan di rumah. Berikut link dari youtube mengenai <a href='http://www.youtube.com/watch?v=NNw1odieIoI' >Flash Heating Breast Milk Kills HIV</a>  </li>
<p></p>
<li>Hepatitis B dan C<br />
Secara teori, memang ada kemungkin resiko penularan virus Hepatitis B dan C, tetapi ini hanya akan terjadi apabila ASI yang didonorkan terkontaminasi oleh darah seorang ibu yang menderita penyakit tersebut (kontaminasi darah dalam ASI yang disebabkan, misalnya, oleh putting luka/lecet).</li>
<p></p>
<li>TBC<br />
Resiko penularan TBC melalui ASI donor hampir tidak ada, kecuali apabila ibu yang mendonorkan ASI menderita infeksi TBC yang memang terlokalisasi di daerah payudara, kasus yang sangat jarang terjadi. Resiko penularan TBC pada seorang bayi yang sedang menyusu akan terjadi ketika ibunya yang terinfeksi dengan penyakit tersebut bernafas atau batuk tepat di muka bayinya, sehingga partikel-partikel TBC akan terhirup langsung oleh bayi. Penularan tidak terjadi melalui ASI.</li>
<p></p>
<li>CMV (cytomegalovirus) dan HTLV (human T lymphotropic virus)<br />
Seorang ibu yang terinfeksi dengan CMV, maka ada kemungkinan ASI-nya juga mengadung virus tersebut sehingga timbul resiko penularan terhadap bayinya. Namun demikian, karena manfaat pemberian ASI jauh melebihi resiko penularan itu sendiri (resiko penularannya tergolong <a href="http://www.americanpregnancy.org/pregnancycomplications/cytomegalovirusinfection.html">kecil</a>), dan karena ASI mengadung zat-zat antibodi yang melindungi terhadap penyakit CMV, maka ibu yang terinfeksi CMV tetap dianjurkan untuk <a href="http://pedclerk.bsd.uchicago.edu/breastfeeding.html">terus menyusui bayinya</a>. Untuk donor ASI, ibu yang terinfeksi dengan CMV tidak dianjurkan untuk menyumbangkan ASI-nya.</p>
<p>Sama dengan kasus seorang ibu yang menderita penyakit HIV/AIDS dan CMV, seorang ibu yang terinfeksi HTLV juga tidak disarankan untuk menyumbangkan ASI-nya. Namun demikian, HTLV-1 (dan seluruh sel-selnya) akan musnah dalam jangka waktu 20 menit dengan memanaskan pada suhu 56°C (atau dalam jangka waktu 10 menit pada suhu 56°C), atau membekukan pada suhu -20°C selama 12 jam. (56 May JT. Molecular Virology: Tables of Antimicrobial Factors and <a href="http://www.latrobe.edu.au/microbiology/table7.html">Microbial Contaminants in Human Milk. Table 7: Effect of heat treatment or storage on antimicrobial factors in human milk</a>).</p>
</li>
<p></p>
<li>Rokok, Narkoba dan Alkohol<br />
Penting untuk mengetahui apakah ibu yang mendonorkan ASI adalah seorang perokok, sering mengkonsumsi alkohol (kurang dari 1 gelas per hari biasanya dianggap aman – tetapi alkohol dapat menyebabkan gangguan tidur pada bayi), dan mengkonsumsi kafein dalam jumlah yang besar (lebih dari 1-2 cangkir perhari – dapat menyebabkan bayi menjadi rewel). Penggunaan seluruh jenis narkotika dan obat-obatan terlarang adalah tidak aman.</li>
<p></p>
<li>Obat-obatan<br />
Sebagian besar obat-obatan yang dijual secara bebas maupun yang diresepkan oleh dokter adalah tergolong aman, dan daftar obat-obatan yang termasuk tidak aman bagi seorang ibu yang menyusui sangat pendek. Contoh obat-obatan yang aman termasuk antibiotika, obat asma, tiroid dan anti-depresan. Untuk referensi tingkat keamanan obat-obatan yang dikonsumsi oleh seorang ibu menyusui, dapat menggunakan buku karangan Thomas Hale, berjudul “Medications and Mothers Milk”, atau gunakan daftar yang diterbitkan oleh AAP (American Academy of Pediatrics) (The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk &#8212; Committee on Drugs 108 (3): 776 &#8212; AAP Policy), atau gunakan <a href="http://toxnet.nlm.nih.gov/cgi-bin/sis/htmlgen?LACT">LactMed Search</a>. Catatan, bank ASI yang terdapat di luar negeri sebagian besar tidak menerima donor ASI dari seorang ibu yang sedang mengkonsumsi obat-obatan maupun seorang ibu yang merokok.</li>
</ol>
<p>(sumber: <a href="http://www.massbfc.org/news/index.html#isItSafe">Massachusetts Breastfeeding Coalition, March 2005</a> dan <a href="http://ep.bmj.com/cgi/content/extract/89/1/ep27">GUIDELINES FOR THE ESTABLISHMENT AND OPERATION OF HUMAN MILK BANKS IN THE UK</a> dan <a href="http://www.cpqcc.org/Documents/NutritionToolkit/NutriDoc/APPENDIX_G3.3.pdf">Nutritional Support of the VLBW Infant</a>)</p>
<h3>Hukum Islam</h3>
<p>Pertama-tama, yang harus diingat adalah tulisan ini hanya menjadi bahan acuan dan sumber referensi saja, terutama jika menyangkut masalah agama dan kepercayaan. Silahkan anda mengambil yang terbaik untuk kemudian menentukan sendiri pilihan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Memang dalam hal donor ASI, yang seringkali menjadi bahan perdebatan bagi kalangan muslim adalah apakah bayi yang menerima donor ASI akan otomatis menjadi saudara sepersusuan dengan bayi yang ibunya mendonorkan ASI tersebut?</p>
<ol>
<li>Berbagi ASI – Otomatis Menjadi Saudara Sepersusuan<br />
Ada sebagian golongan yang menyatakan bahwa apabila seorang bayi minum ASI dari ibu lain, baik secara langsung (dari payudara) atau tidak (dengan ASI perah), maka secara MUTLAK bayi tersebut akan menjadi saudara sepersusuan dengan bayi ibu yang mendonorkan ASI tersebut (apabila kedua bayi tersebut berlainan jenis, perempuan dan laki-laki, maka di kemudian hari dilarang untuk menikah). Dalam hal ini, sudut pandangan yang diambil adalah bahwa dengan minum 3 tegukan ASI (langsung dari payudara ataupun ASI perah), maka kedua bayi tersebut sudah otomatis menjadi saudara sepersusuan karena pertimbangan cairan ASI yang sudah masuk ke dalam tubuh bayi penerima donor.</li>
<p></p>
<li>Berbagi ASI – Tidak Otomatis Menjadi Saudara Sepersusuan<br />
Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dalam Fatwa-Fatwa Kontemporer (Gema Insani Press), tidak semudah itu seorang bayi yang menyusu pada ibu lain menjadi saudara sepersusuan dengan bayi ibu tersebut. Syarat utama adalah apabila seorang bayi yang disusui oleh ibu lain, maka hal tersebut menimbulkan “&#8230;rasa keibuan yang menyerupai rasa keibuan karena nasab, yang menumbuhkan rasa kekanakan (sebagai anak), persaudaraan (sesusuan), dan kekerabatan-kekerabatan lainnya.” Kemudian, diterangkan pula bahwa, “&#8221;Adapun sifat penyusuan yang mengharamkan (perkawinan) hanyalah yang menyusu dengan cara menghisap tetek wanita yang menyusui dengan mulutnya.”Sehingga menurut pandangan Dr. Yusuf Qardhawi, bayi yang mendapatkan donor ASI dari ibu lain, yaitu ASI perah dan bukan menyusu langsung pada ibu donor tersebut, maka TIDAK akan menjadi saudara sepersusuan dengan bayi si ibu pendonor. (Sumber: <a href="http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/BankSusu1.html">Bank Susu, hal. 1</a> dan <a href="http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/BankSusu2.html">Bank Susu, hal. 2</a>)</li>
<p></p>
<li>Hubungan Anak dengan Ibu Susu dan Saudara Sepersusuan (sumber: <a href="http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=07319&amp;rubrik=bayi">Tabloid Nakita</a>)<br />
ASI adalah filtrasi darah ibu sehingga ASI bisa menjadi pembawa sifat. Maka dari itulah ada hukum yang menyebutkan ibu susu dengan anak yang mendapatkan susu dari dirinya, hukumnya sama seperti halnya ibu dengan anak kandung. Begitu juga, anak-anak si ibu susu menjadi saudara sepersusuan anak tersebut.&#8221;Antara ibu susu dengan anak yang mendapat susu darinya jatuh hukum Tahrim (haram kawin-Red.) kepada mereka, tak terkecuali kepada saudara sepersusuan mereka,&#8221; (makalah Hj. Nur Endah Nizar Lc., fungsionaris Nahdatul Ulama (NU) Jatim yang juga anggota DPRD Jatim, dengan judul *Keutamaan Air Susu Ibu (ASI) Ditinjau dari Syariat Agama Islam dan Kesehatan*), karena:</p>
<ol>
<li>Dalam kegiatan menyusui anak akan selalu timbul hubungan batin antara ibu yang menyusui dan bayi atau anak yang menerima ASI, yakni hubungan batin dalam bentuk kasih sayang. Sekalipun anak yang disusukan itu bukan anak kandung.</li>
<p></p>
<li>Jika seorang anak disusukan wanita yang bukan ibu kandungnya, otomatis dia akan menjadi ibunya. Oleh sebab itu berlaku Tahrim sebagaimana sabda Rasullah SAW, &#8220;Bahwa menyusukan menyebabkan tahrim, sama seperti tahrimnya melahirkan, atau pengharaman sebab kelahiran.&#8221; (HR Muslim).Sekalipun begitu, antara ibu susu, anak yang disusukan, dan saudara sepersusuan bisa tidak timbul hukum Tahrim, jika:
<ol>
<li>Pemberian ASI melalui jarum suntik. Maksudnya, secara tak langsung; diperah dulu lalu diberikan lewat botol susu atau sendok;</li>
<li>ASI diencerkan, dikentalkan, dibekukan, atau dibuat bahan makanan terlebih dulu sebelum dikonsumsi;</li>
<li>ASI dicampur air, obat, minyak, dan atau sebaliknya;</li>
<li>ASI dicampur ke dalam makanan anak, dan atau sebaliknya;</li>
<li>ASI ibu yang satu telah dicampur dengan ASI ibu lain baru kemudian diminumkan pada anak.</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong>Artikel ini boleh diambil dan disebarluaskan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari AIMI, dengan syarat bahwa TIDAK digunakan dalam rangka pelanggaran Kode Etik WHO mengenai makanan-makanan pengganti ASI.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagai Mitos Seputar Menyusui &#8211; Part 2</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2007/12/berbagai-mitos-menyusui-2/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2007/12/berbagai-mitos-menyusui-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 14:29:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat artikel sebelumnya mengenai Mitos Seputar Menyusui..? Ternyata masih banyak mitos seputar menyusui ini. Coba lihat, siapa tau kita  masih percaya dengan mitos tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li><strong>Seorang ibu yang sedang menyusui tidak boleh mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Konsumsi alkohol dalam jumlah yang wajar boleh saja untuk seorang ibu menyusui. Sama halnya dengan sebagian besar obat-obatan, sedikit sekali alkohol yang masuk ke dalam ASI. Seandainya ragu, boleh menunggu selama 2 jam untuk mulai lagi menyusui setelah selesai mengkonsumsi alkohol.</p>
<li><strong>Seorang ibu yang putingnya sedang berdarah akibat luka tidak boleh menyusui.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Walaupun darah dapat membuat bayi lebih banyak gumoh / muntah, dan darah mungkin akan terlihat di feces-nya, tetapi hal ini bukanlah alasan untuk seorang ibu berhenti menyusui. Puting yang terluka sama saja dengan puting yang tidak terluka, yang membedakan adalah rasa sakit yang dirasakan sang ibu. Sebenarnya relatif mudah untuk mengobati puting yang sakit dan terluka. Segera cari pertolongan. Ada kalanya ibu merasakan sakit pada putingnya yang terluka, walau tidak selalu rasa sakit itu disebabkan oleh lukanya. Hal ini biasa terjadi pada beberapa hari setelah kelahiran. Apabila hal ini terjadi, jangan berhenti menyusui. Apabila luka belum sembuh juga, Ibu sebaiknya segera ke dokter untuk mencari tahu penyebab terjadinya luka pada puting, sementara itu ibu tetap menyusui.</p>
<li><strong>Seorang wanita yang telah melakukan operasi pembesaran payudara tidak dapat menyusui.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Banyak ibu yang melakukan operasi pembesaran payudara DAN tetap menyusui. Tidak ada bukti nyata bahwa menyusui dengan payudara dengan silikon dapat membahayakan bayi. Operasi pembesaran payudara biasanya dilakukan lewat areola. Walau begitu, ibu yang pernah menjalankan operasi ini biasanya memiliki produksi ASI yang cenderung sedikit, sama dengan ibu yang menjalankan operasi apapun yang melalui areola.</p>
<li><strong>Seorang wanita yang telah melakukan operasi pengecilan payudara tidak dapat menyusui.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Pengecilan payudara memang berpengaruh terhadap kapasitas produksi ASI, tetapi karena banyak ibu yang memproduksi jauh lebih banyak ASI yang dibutuhkan, banyak ibu yang menjalankan produksi pengecilan payudara tetap dapat menyusui secara eksklusif. Walau begitu, apabila produksi ASI tampaknya tidak mencukupi, ibu tetap dapat menyusui dengan alat bantu khusus (sehingga bayi tidak bingung puting antara puting ibunya dengan dot), yaitu alat <em>supplementary nursing</em> atau SNS.</p>
<li><strong>Bayi-bayi prematur perlu belajar untuk minum susu dari botol sebelum mereka mulai menyusu.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Bayi prematur akan berkurang stresnya apabila mendapatkan ASI. Seorang bayi sekecil 1200 gram (dan bahkan lebih kecil dari itu) dapat menyusu segera setelah kondisinya stabil, walau ia mungkin belum dapat menyusu secara langsung dalam beberapa minggu pertama. Walau begitu, ia akan terus belajar, dan lewat dekapan ibunya, bayi dan sang ibu akan merasa lebih nyaman. Sebenarnya, berat badan bayi dan usia kehamilan pada saat melahirkan tidaklah lebih berpengaruh dibanding kesiapan bayi untuk mengisap, yang ditunjukkan oleh gerakan mengisap yang dibuatnya. Kesimpulannya, tidak ada lagi alasan untuk memberikan susu botol pada bayi prematur. Apabila tambahan ASI memang dibutuhkan, ada cara lain yang dapat dilakukan daripada memberikan dot dan botol susu pada sang bayi.</p>
<li><strong>Bayi-bayi yang menderita celah bibir tidak dapat menyusu.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Banyak juga yang dapat menyusu dengan baik. Bayi yang menderita celah biasanya dapat menyusu dengan baik. Walau demikian, lain halnya dengan bayi yang menderita kelainan celah langit-langit (<em>palato</em>), karena kelainan ini membuat bayi tidak mungkin dapat menyusu. Apabila bayi tidak dapat memulai menyusui dengan benar, maka akan sangat sulit bagi bayi untuk seterusnya menyusu dengan lancar. Kemampuan bayi-bayi untuk menyusu tidak selalu bergantung pada tingkat kegawatan celahnya. Menyusui haruslah dicoba sedini mungkin, sesering mungkin, dengan menggunakan cara-cara menyusu yang tepat. Apabila bayi langsung diberikan botol, maka kemampuan bayi untuk menyusu secara langsung dapat berkurang. Apabila bayi belum dapat menyusu secara benar, coba suapi dengan sendok atau cangkir kecil.</p>
<li><strong>Wanita dengan ukuran payudara yang kecil menghasilkan lebih sedikit ASI dibandingkan dengan mereka yang memiliki ukuran payudara lebih besar.</strong></li>
<p><em>Nonsense!!</em></p>
<li><strong>Menyusui tidak memberikan perlindungan terhadap resiko kehamilan.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Memang resiko kehamilan tetap ada, tetapi hampir semua metode KB manapun mempunyai resiko kehamilan. Sebenarnya menyusui adalah metode KB alami yang bekerja cukup baik. Hampir sama baiknya dengan pil KB, dengan syarat, ibu menyusui secara eksklusif, bayinya berusia kurang dari 6 bulan, dan ibu belum mendapatkan menstruasi lagi. Setelah lewat 6 bulan, menyusui juga dapat dijadikan metode KB alami, walau perlindungannya tidak sebesar pada saat bayi berusia kurang dari 6 bulan. Secara rata-rata, menyusui hingga 2 tahun dapat membuat jarak kelahiran yang cukup, walau ibu tidak ber-KB sekalipun.</p>
<li><strong>Wanita yang sedang menyusui tidak bisa mengkonsumsi pil KB.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Hormon yang terdapat pada pil KB memang akan ada dalam ASI, tetapi tidaklah membahayakan. Walau begitu, hormon estrogen yang terdapat dalam pil KB dapat mengurangi produksi ASI. Apabila ibu mengalami hal ini, coba berhenti mengkonsumsi pil KB, maka produksi ASI ibu akan kembali normal. Jika memungkinkan, sebaiknya ibu tidak mengkonsumsi pil KB apabila masih menyusui, kecuali apabila bayinya sudah mulai makan Makanan Pendamping ASI (MPASI), yaitu pada saat bayi berusia di atas 6 bulan. Apabila ibu ingin mengkonsumi pil KB, sebaiknya cari pil KB yang hanya mengandung hormon progestin (tanpa estrogen).</p>
<li><strong>Bayi-bayi yang mendapatkan ASI memerlukan tambahan jenis susu lainnya setelah berusia 6 bulan.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! ASI memberikan segalanya yang dibutuhkan bayi, bahkan lebih dari itu. Bayi berusia 6 bulan ke atas sudah harus mendapatkan MPASI semata-mata agar mereka dapat mempelajari cara makan dan agar mereka mendapatkan sumber zat besi yang lain selain dari ASI, karena bayi usia 7-9 bulan tidak dapat mencukupi kebutuhan zat besinya hanya dari ASI saja. Kesimpulannya, susu sapi atau susu formula tidaklah diperlukan. Selain itu, kebanyakan bayi di atas usia 6 bulan yang belum pernah minum susu formula tidak akan menyukainya karena rasanya.</p>
<li><strong>Wanita dengan kondisi puting datar atau putting masuk/tidak keluar tidak dapat menyusui bayinya.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Bayi tidak menyusu pada puting, tetap mereka menyusu pada payudara. Walaupun tampaknya lebih mudah bagi bayi untuk melekatkan mulutnya pada payudara ibu apabila kondisi putingnya menonjol, tetapi hal tersebut bukan merupakan suatu keharusan. Apabila kegiatan menyusui dimulai secara benar, maka biasanya hal tersebut dapat mencegah timbulnya berbagai permasalahan seputar menyusui, dan ibu-ibu dengan aneka bentuk puting tetap dapat menyusui secara baik. Apabila pada awalnya bayi menolak untuk menyusu, maka dengan bantuan yang tepat, bayi lambat laun akan mau untuk menyusu pada payudara ibunya. Bentuk dan tampilan payudara seorang ibu juga akan cenderung untuk berubah dalam minggu-minggu setelah proses persalinan, dan selama ibu tersebut tetap mempertahankan pasokan ASI-nya, maka biasanya bayi akan berhasil melakukan pelekatan dengan baik pada minggu ke-8, tetapi apabila ibu mendapatkan bantuan yang tepat, pelekatan yang baik mungkin terjadi sebelum minggu ke-8.</p>
<li><strong>Seorang wanita yang sedang hamil harus berhenti menyusui bayinya.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Apabila memang diinginkan oleh ibu dan anak, kegiatan menyusui dapat tetap dipertahankan. Beberapa ibu juga tetap menyusui anak yang lebih tua bahkan setelah proses persalinan bayinya yang baru. Tetapi, ada sebagian wanita yang mengambilkan keputusan untuk berhenti menyusui ketika mereka hamil kembali karena putingnya terasa sakit atau lebih sensitif, atau karena alasan lainnya, namun tidak ada suatu keharusan ataupun suatu alasan medis untuk melakukan hal tersebut. Bahkan sebaliknya, banyak sekali manfaat dari diteruskannya pemberian ASI bagi si kakak. Namun, ibu perlu tahu bahwa pasokan ASI selama masa kehamilan cenderung untuk berkurang, tetap apabila anak sudah mendapatkan MPASI, maka hal tersebut bukanlah merupakan suatu masalah. Sebagai akibat dari berkurangnya pasokan ASI tersebut, beberapa bayi akan berhenti untuk menyusu dengan sendirinya.</p>
<li><strong>Seorang bayi yang sedang menderita diare tidak boleh disusui.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Pengobatan terbaik bagi bayi yang menderita infeksi saluran pencernaan (<em>gastroenteritis</em>) adalah dengan tetap menyusui dan memberikan ASI. Selanjutnya, sangat tidak lazim bagi bayi untuk memerlukan jenis cairan lain selain daripada ASI. Kadangkala bayi diminta untuk berhenti minum ASI dan justru diberikan susu formula yang bebas laktosa. Padahal susu formula bebas laktosa tidak lebih baik daripada ASI. ASI jauh lebih baik daripada susu formula jenis apapun.</p>
<li><strong>Seorang bayi akan terus menyusu selama 2 jam karena bayi memang senang sekali mengisap.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Bayi memang perlu dan suka sekali mengisap, tetapi seberapa banyak yang mereka butuhkan? Kebanyakan bayi yang menyusu untuk suatu jangka waktu yang lama disebabkan karena mereka masih lapar, walaupun bayi-bayi tersebut mengalami penambahan berat badan yang cukup. <em>Mengempeng</em> pada payudara tidak sama dengan <em>minum</em> (ASI) dari payudara. Dengan memperbaiki pelekatan mulut bayi pada payudara ibunya memungkin bayi untuk menyusu secara lebih efektif, sehingga mereka benar-benar memanfaakan waktu menyusu untuk minum ASI dari payudara. Bayi-bayi berusia kurang dari 5-6 minggu seringkali tertidur pada saat sedang menyusu karena aliran ASI-nya pelan, bukan semata-mata karena mereka sudah kenyang.</p>
<li><strong>Bayi perlu belajar untuk minum dari botol. Oleh karenanya, bayi harus diperkenalkan dengan botol sebelum dia menolak untuk menggunakannya.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Walaupun banyak ibu-ibu yang memutuskan untuk memperkenalkan botol kepada bayi mereka dengan berbagai alasan, namun tidak ada satupun alasan yang mengatakan bahwa bayi <em>harus</em> belajar untuk menggunakan botol. Sebaliknya, tidak ada manfaat yang luar biasa apabila bayi mau minum dari botol. Bayi bisa minum dari sendok kecil atau cangkir kecil (gelas sloki). Apabila ibu memang berniat untuk memperkenalkan botol pada bayinya, maka sebaiknya ibu menunggu sampai dengan bayi sudah berhasil untuk <em>menyusu dengan benar</em> selama sekurangnya 3 bulan, dan botol diberikan hanya sesekali saja.</p>
<li><strong>Apabila seorang ibu yang sedang menyusui harus menjalani tindakan operasi, maka dia harus menunggu sehari setelah selesai operasi untuk mulai menyusui bayinya lagi.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Selesai operasi, ibu dapat langsung menyusui bayinya apabila sudah siuman (terbangun dan sadar) dan sudah merasa siap. Obat-obatan yang digunakan dalam proses anastesi, maupun obat-obatan penghilang rasa sakit dan antibiotika yang digunakan setelah selesai operasi tidak mengharuskan seorang ibu untuk menghentikan kegiatan menyusuinya, kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu yang sifatnya <em>luar biasa</em>.</p>
<li><strong>Menyusui bayi kembar sangat susah untuk dilakukan.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Menyusui bayi kembar lebih mudah dibanding dengan memberikan susu dengan botol, <em>apabila kegiatan menyusui berjalan dengan baik</em>. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengusahakan semaksimal mungkin agar kegiatan menyusui dilakukan dengan benar sedini mungkin apabila ibu melahirkan bayi kembar. Bahkan ada beberapa wanita yang berhasil menyusui bayi kembar 3.</p>
<li><strong>Seorang wanita yang payudaranya tidak membesar sama sekali, atau hanya sedikit membesar selama kehamilan tidak akan menghasilkan ASI yang cukup.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Ada sebagian kecil wanita yang tidak dapat memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup (namun mereka tetap dapat menyusui dengan bantuan alat lactation aid). Beberapa dari wanita-wanita tersebut mengatakan bahwa payudara mereka tidak membesar selama masa kehamilan. Namun demikian, sebagian besar dari para wanita yang payudaranya tampaknya tidak membesar pada saat sedang hamil tetap menghasilkan ASI dalam jumlah yang cukup.</p>
<li><strong>Seorang ibu yang payudaranya tidak terasa penuh berarti hanya menghasilkan sedikit ASI.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Payudara tidak perlu terasa penuh untuk menghasilkan ASI dalam jumlah yang banyak. Suatu hal yang wajar apabila payudara seorang wanita tidak lagi terasa terlalu penuh seiring dengan kemampuan badannya untuk beradaptasi dengan kebutuhan ASI bayinya. Hal ini mungkin saja terjadi secara tiba-tiba, bahkan ketika bayi masih berusia 2 minggu atau kurang. Payudara tidak pernah benar-benar dalam keadaan “kosong” dan senantiasa memproduksi ASI bahkan pada saat bayi sedang menyusu. Apakah bayi minum ASI dari payudara? Itulah yang terpenting, bukan seberapa penuh rasanya payudara tersebut.</p>
<li><strong>Menyusui di tempat umum tidak pantas dilakukan.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Justru perbuatan orang-orang yang mengganggu dan membuat seorang ibu merasa malu untuk menyusui di tempat umum-lah yang patut dianggap sebagai tidak pantas. Para wanita yang senantisa berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi buah hati mereka tidak boleh dipaksa untuk tetap berdiam diri di rumah atau menyusui bayi mereka di toilet umum hanya karena beberapa orang merasa terganggu melihat seorang ibu menyusui bayinya. Bagi mereka yang merasa terganggu melihat kegiatan menyusui, silahkan menutup mata atau mengalihkan pandangan mereka. Anak-anak tidak akan terganggu secara psikologis apabila mereka melihat seorang wanita sedang menyusui, sebaliknya, mereka akan mendapatkan pelajaran mengenai sesuatu yang penting, indah dan menakjubkan.</p>
<li><strong>Menyusui anak sampai berusia 3 atau 4 tahun tidak normal dan tidak baik untuk anak tersebut, dan menyebabkan tingkat ketergantungan dan kemanjaan yang lebih tinggi antara ibu dan anak.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Menyusui sampai anak berusia 2-4 tahun merupakan kebiasaan yang berlaku di berbagai budaya sejak manusia mulai menghuni planet ini. Hanya sejak 100 tahun belakangan ini saja kegiatan menyusui dipandang sebagai sesuatu yang harus dibatasi. Anak-anak yang disusui sampai usia 3 tahun <em>tidaklah</em> menjadi lebih manja. Sebaliknya, mereka cenderung menjadi anak-anak yang lebih percaya diri dan sebagai akibatnya, mereka cenderung lebih mandiri. Anak-anak tersebut akan menentukan sendiri kapan mereka akan berhenti menyusu (dengan dukungan halus dari ibu), sehingga mereka merasa lebih percaya diri dengan keberhasilannya tersebut.</p>
<li><strong>Apabila bayi berhenti menyusu selama beberapa hari (atau minggu), maka sebaiknya jangan dimulai kembali kegiatan menyusui karena ASI telah basi.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! ASI-nya tetap bagus, sama seperti sebelumnya. ASI di dalam payudara <em>tidak sama</em> dengan ASI atau susu formula dalam botol.</p>
<li><strong>Setelah selesai berolah raga, seorang ibu sebaiknya tidak menyusui bayinya.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Tidak ada satupun alasan mengapa seorang ibu tidak dapat menyusui bayinya segera setelah selesai berolah raga. Penelitian yang (katanya) menunjukkan bahwa bayi lebih rewel pada saat menyusu apabila ibunya baru selesai berolah raga, ternyata tidak dilakukan dengan benar, dan bertentangan dengan pengalaman berjuta-juta ibu menyusui di seluruh dunia.</p>
<li><strong>Seorang ibu yang sedang menyusui rambutnya tidak boleh dikeriting atau dicat.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Tidak jelas pernyataan ini asal usulnya dari mana.</p>
<li><strong>Menyusui sering disalahkan untuk segala hal.</strong></li>
<p>BENAR SEKALI! Keluarga, tenaga kesehatan, tetangga, teman-teman dan bahkan para supir taksi seringkali berkomentar kalau melihat seorang ibu baru yang terlihat lelah, cemas, sakit, sering menangis, sulit tidur, selalu mengantuk, kekurangan zat besi, migren, mengalami rambut rontok, kulit gatal-gatal dan penglihatan sedikit kabur pasti disebabkan karena sedang menyusui. Menyusui dijadikan alasan mengapa rumah tangga sedang mengalami masalah, atau anak-anak sedang bermasalah. Dan ketika sesuatu terjadi yang tidak sesuai dengan “gambaran ideal” kehidupan berkeluarga, maka sang ibu akan dianjurkan oleh semua orang alangkah baiknya apabila dia berhenti menyusui.
</ol>
<p>Diterjemahkan dan diadaptasi dari <em>handout</em> dr. Jack Newman, MD yang berjudul ”<em>Breastfeeding Myths</em>”.</p>
<p><strong>Artikel ini boleh diambil dan disebarluaskan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari AIMI, dengan syarat bahwa TIDAK digunakan dalam rangka pelanggaran Kode Etik WHO mengenai makanan-makanan pengganti ASI.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2007/12/berbagai-mitos-menyusui-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagai Mitos Seputar Menyusui</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2007/10/berbagai-mitos-menyusui/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2007/10/berbagai-mitos-menyusui/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2007 13:44:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Banyak mitos-mitos yang beredar di masyarakat tentang pemberian ASI. Mitos ini sering kali mempengaruhi para ibu dalam menyusui bayi mereka. Coba kita lihat apakah mitos yang beredar ini benar adanya. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li><strong>Kebanyakan wanita tidak bisa menghasilkan ASI yang cukup.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Hampir semua wanita menghasilkan ASI lebih dari cukup, bahkan sering kali timbul permasalahan seputar pasokan ASI yang terlalu berlebihan. Seorang bayi yang kenaikan berat badannya lambat, atau bahkan cenderung mengalami kehilangan berat badan, seringkali <strong>bukan disebabkan karena ibunya tidak cukup menghasilkan ASI</strong>, tetapi bayi tersebut tidak berhasil untuk mengeluarkan dan minum ASI yang dihasilkan oleh ibunya tersebut. Biasanya, hal ini disebabkan oleh pelekatan &#8212; yaitu posisi mulut bayi pada payudara ibu &#8212; yang kurang tepat. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang ibu baru untuk segera, pada hari pertama kelahiran, dipandu untuk melakukan pelekatan secara benar oleh seseorang yang benar-benar mengerti mengenai teknik pelekatan yang tepat.</li>
<li><strong>Normal kok kalau payudara/puting terasa sakit pada saat kita sedang menyusui.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Walaupun bukan sesuatu hal yang aneh jika pada hari-hari pertama menyusui seorang ibu akan merasa sedikit kurang nyaman pada payudaranya, tapi kondisi ini seharusnya hanya berlangsung selama beberapa hari saja, dan tidak boleh menjadi sedemikian parahnya sehingga seorang ibu menjadi takut untuk menyusui bayinya. Rasa sakit yang amat sangat pada puting ketika sedang menyusui menandakan bahwa bayi belum sempurna pelekatannya. Sakit atau lecet pada puting yang berlangsung selama lebih dari 3-4 hari tidak boleh diabaikan, harus dicari tahu penyebabnya. Membatasi waktu menyusu pada payudara juga bukan merupakan cara yang tepat untuk mencegah timbulnya puting lecet. Usahakan agar tindakan mengistirahatkan payudara dan puting sakit sebagai solusi yang terakhir.</p>
<li><strong>3-4 hari setelah kelahiran bayi, ASI memang belum (cukup) keluar.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Seringkali memang nampak seperti demikian keadaannya karena posisi pelekatan bayi belum sempurna sehingga bayi tidak berhasil untuk minum ASI yang tersedia dalam payudara ibunya. Pada saat belum banyak ASI yang tersedia (memang normalnya demikianlah keadaannya untuk beberapa hari pertama), posisi pelekatan bayi harus sempurna sehingga bayi dapat mengeluarkan dan minum ASI dari payudara ibunya. Kalau tidak, maka sering terjadi “…tapi dia sudah menyusu selama 2 jam, kenapa yak kok masih lapar…”. Ketika pelekatan belum sempurna, bayi tidak dapat minum ASI pertama yang dihasilkan oleh ibunya, yaitu kolostrum. Siapapun yang menyarankan anda untuk memerah/memompa ASI anda untuk mengetahui berapa banyak kolostrum yang dihasilkan jelas tidak memiliki pengetahuan laktasi, dan sebaiknya abaikan saja sarannya. Ketika pasokan ASI ibu menjadi banyak, kadangkala bayi tetap dapat minum ASI walaupun pelekatannya kurang baik.</p>
<li><strong>Bayi harus menyusu pada setiap payudara masing-masing selama 20 (10, 15, 7.6) menit.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Namun demikian, harus dipastikan bahwa bayi tidak sekedar “ngempeng” pada payudara tapi benar-benar “minum” dari payudara. Apabila ternyata seorang bayi sudah berhasil minum ASI selama 15-20 menit dari satu payudara, kemungkinan besar dia tidak mau lagi minum dari payudara yang lainnya. Kalau dia hanya minum selama satu menit pada satu payudara, kemudian mengisap sebentar-sebentar atau bahkan jatuh tertidur, selanjutnya hal yang sama juga terjadi pada payudara yang lainnya, maka besar kemungkinan bayi akan tetap lapar. Seorang bayi akan menyusu dengan lebih baik, lebih efektif dan lebih lama apabila pelekatan mulut bayi pada payudara ibu telah benar.</p>
<li><strong>Bayi ASI membutuhkan tambahan cairan air putih ketika cuaca sedang panas.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! ASI mengandung seluruh cairan (air) yang dibutuhkan oleh bayi.</p>
<li><strong>Bayi ASI perlu tambahan asupan vitamin D.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Semua orang butuh vitamin D. Produsen susu formula memang menambahkannya pada produk mereka. Namun, bayi lahir dengan lever yang penuh dengan vitamin D, serta kebiasaan menjemur bayi setiap pagi juga membantu dia mendapatkan tambahan vitamin D melalui sinar ultra violet. Vitamin D sifatnya larut dalam lemak dan dapat disimpan oleh tubuh. Dalam keadaan tertentu, misalnya ketika ibunya sendiri ternyata menderita kekurangan vitamin D, maka memberikan tambahan suplemen vitamin D kepada bayi bisa dianggap perlu.</p>
<li><strong>Seorang ibu harus mencuci putingnya setiap kali sebelum mulai menyusui.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Pemberian susu formula kepada seorang bayi memang harus sangat memperhatikan faktor-faktor kebersihan, karena susu formula merupakan tempat yang baik untuk berkembang biak-nya bakteri dan juga rentan terhadap kontaminasi. Membersihkan/mencuci puting malah akan menghilangkan minyak-minyak alami yang melindungi puting dari resiko lecet karena puting kering.</p>
<li><strong>Dengan memompa/memerah ASI, seorang ibu bisa tahu berapa banyak ASI yang dihasilkan olehnya.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Seberapa banyak ASI yang berhasil diperah/dipompa tergantung pada banyak sekali faktor, termasuk tingkat stres seorang ibu. Seorang bayi yang menyusu dengan benar bisa mengeluarkan ASI dari payudara ibunya jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ASI yang berhasil diperah/dipompa oleh ibunya sendiri. Jumlah ASI yang berhasil diperah/dipompa hanya bisa menjadi indikator terhadap seberapa banyak ASI yang bisa anda perah/pompa, bukan sebagai tolak ukur atas jumlah ASI yang bisa anda produksi secara keseluruhan.</p>
<li><strong>ASI tidak cukup mengandung zat besi untuk memenuhi kebutuhan bayi.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! ASI mengandung zat besi dalam jumlah yang tepat untuk memenuhi kebutuhan bayi. Apabila bayi lahir cukup bulan, maka zat besi yang terdapat didalam ASI bisa memenuhi kebutuhannya sekurangnya untuk 6 bulan pertama. Susu formula mengandung terlalu banyak zat besi, dan zat besi yang ditambahkan dalam susu formula tersebut sangat sedikit yang terserap oleh usus bayi, sehinga sebagian besar kemudian dikeluarkan kembali lewat BAB bayi.</p>
<li><strong>Lebih gampang memberikan susu dengan botol dibandingkan bila menyusui secara langsung.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Namun demikian, seringkali proses menyusui menjadi sulit karena para ibu tidak mendapatkan bantuan praktis yang diperlukan pada saat pertama kali mulai menyusui bayinya. Suatu awal yang buruk memang dapat membuat proses menyusui menjadi sulit. Tetapi, kesulitan tersebut tentunya dapat diatasi. Kadangkala menyusui pada awalnya memang dirasakan sulit karena ibu tidak mendapatkan bantuan yang diperlukan sehingga timbul berbagai kesulitan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, berbagai kesulitan tersebut dapat diatasi dan menyusui menjadi semakin mudah.</p>
<li><strong>Menyusui membuat ibu tidak bebas beraktivitas.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Tergantung bagaimana anda memandangnya. Seorang bayi dapat disusui dimana saja, kapan saja sehingga sebenarnya lebih membebaskan bagi sang ibu. Tidak perlu menggotong segala macam peralatan pembuatan susu formula kemana-mana. Tidak perlu cemas memikirkan dimana dapat menghangatkan susu formula tersebut. Tidak perlu khawatir kesterilan proses pembuatan susu formula tersebut. Dan yang terpenting, ASI tetap dapat diperah/dipompa apabila ibu memang harus meninggalkan bayi dirumah.</p>
<li><strong>Tidak ada cara untuk mengetahui seberapa banyak ASI yang diminum oleh bayi.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Memang tidak ada cara yang mudah untuk mengukur seberapa banyak ASI yang dikonsumsi oleh bayi, tetapi bukan berarti anda tidak bisa tahu apakah bayi anda cukup mendapatkan ASI. Pastikan bahwa posisi badan bayi pada saat sedang menyusu, serta pelekatan mulut bayi pada payudara ibu telah benar sehingga bayi dapat MINUM ASI dan bukan hanya ngempeng. Bayi BAK minimal 5-6 kali dalam sehari, dan selesai sendiri menyusunya dengan cara melepaskan sendiri dari payudara ibu. Bayi tampak, tenang, kenyang dan tidak rewel ketika selesai menyusu, dan setiap bulan ada kenaikan BB bayi yang wajar.</p>
<li><strong>Dewasa ini, susu formula hampir sama kandungannya dengan ASI.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Pernyataan bahwa susu formula sama kandungannya dengan ASI juga sudah pernah dipropagandakan produsen susu formula pada tahun 1900-an, bahkan jauh sebelumnya. Susu formula masa kini cenderung disama-samakan kandungannya dengan ASI, walau sebenarnya tidak. Setiap kandungan yang tidak terdapat dalam susu formula (tetapi terdapat dalam ASI) diputarbalikkan oleh produsen susu formula dan dianggap sebagai suatu nilai lebih. Intinya adalah, susu formula sama sekali berbeda dengan ASI, susu formula berusaha menyamakan diri dengan ASI walau dibuat berdasarkan pengetahuan yang sempit dan tidak menyeluruh tentang apa kandungan ASI sebenarnya. Susu formula tidak mengandung zat antibodi atau kekebalan tubuh, sel-sel hidup, enzim-enzim, dan tidak mengandung hormon. Dibandingkan ASI, susu formula mengandung lebih banyak zat aluminium, mangan, cadmium (sejenis logam berat), lead (sejenis timah hitam) dan zat besi. Susu formula juga mengandung jauh lebih banyak protein dibandingkan ASI. Kandungan protein dan lemak yang terdapat dalam susu formula juga berbeda dengan yang terdapat dalam ASI. Kandungan susu formula tidak berubah dari periode awal menyusui hingga akhir, dari hari pertama ke hari ketujuh ke hari ketigapuluh, dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu bayi ke bayi lainnya. ASI dibuat khusus hanya untuk bayi ANDA. Susu formula dibuat dan disamaratakan untuk semua bayi. Susu formula hanya mampu membuat bayi menjadi gendut, tetapi bayi tidak mendapatkan kandungan nutrisi dan zat gizi lainnya yang dibutuhkan, yang semuanya terdapat dalam ASI.</p>
<li><strong>Apabila seorang ibu menderita penyakit infeksi, maka dia harus berhenti menyusui.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Menyusui justru malah akan membuat bayi lebih tahan terhadap infeksi, dengan sedikit sekali pengecualian. Pada saat sang ibu mengalami demam (atau batuk, muntah, diare, ruam, dsb), sang ibu sudah menularkan infeksi tersebut ke bayinya jauh sebelum ibu tahu bahwa ibu sedang menderita sakit. Perlindungan terbaik bagi bayi yang mengalami infeksi adalah ASI. Apabila bayi menjadi ikutan sakit, maka bayi akan lebih cepat pulih bila bayi tetap mendapatkan ASI. Selain itu, mungkin saja sebenarnya sang bayi lah yang menderita infeksi dan menularkannya kepada ibunya, tetapi bayi tidak menunjukkan tanda-tanda sakit karena bayi terus minum ASI. Juga, <strong>infeksi payudara</strong>, termasuk di dalamnya rasa sakit dan pembengkakan pada payudara, bukan merupkan alasan untuk ibu berhenti menyusui. Bahkan, infeksi payudara akan cepat pulih apabila sang ibu terus menyusui, terutama menyusui dengan payudara yang sedang sakit.</p>
<li><strong>Apabila bayi menderita diare atau muntah-muntah, maka ibu harus berhenti menyusui.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Obat yang paling mujarab untuk infeksi saluran pencernaan bayi adalah ASI. Hentikan segala macam jenis asupan lainnya untuk sementara waktu, tetapi lanjutkan pemberian ASI-nya. ASI satu-satunya cairan yang dibutuhkan oleh bayi ketika dia sedang diare dan/atau muntah-muntah, kecuali dalam kasus tertentu yang sifatnya luar biasa. Bayi merasa lebih nyaman ketika sedang menyusu, ibu merasa lebih tenang ketika sedang menyusui.</p>
<li><strong>Apabila seorang ibu sedang mengkonsumsi obat-obatan, maka dia harus berhenti menyusui.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Hanya sedikit sekali jenis obat-obatan yang tidak aman untuk dikonsumsi selagi ibu sedang menyusui. Apabil ibu sedang minum obat, maka ASI akan mengandung sedikit sekali obat-obatan yang sedang diminum ibu tersebut. Walau begitu, apabila Anda cenderung takut untuk minum obat selama menyusui, ada baiknya Anda mencari obat alternatif yang lebih alami.</p>
<li><strong>Seorang ibu yang sedang menyusui harus sangat memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsinya.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Seorang ibu yang menyusui memang sebaiknya mengkonsumsi jenis makanan yang mengadung gizi seimbang, tetapi tidak perlu mengkonsumsi jenis makanan tertentu atau bahkan menghindari beberapa jenis makanan. Seorang ibu yang menyusui tidak perlu minum susu untuk dapat menghasilkan susu. Seorang ibu yang menyusui sebaiknya mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Namun, apabila terdapat riwayat alergi di keluarga, misalnya alergi seafood dan alergi susu sapi, maka ibu menyusui perlu lebih hati-hati dalam mengkonsumsi jenis-jenis makanan tersebut.</p>
<li><strong>Seorang ibu yang sedang menyusui harus banyak makan untuk dapat memproduksi ASI yang cukup.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Seorang ibu mampu memproduksi ASI secara cukup, kecuali apabila seorang ibu masuk ke kategori sangat kurang gizi untuk periode yang cukup lama. Umumnya, bayi akan mendapatkan ASI sesuai dengan kebutuhannya. Banyak ibu yang khawatir apabila ia tidak banyak makan maka akan mempengaruhi produksi ASInya. Sebetulnya tidak perlu kuatir. Banyak / tidaknya makanan yang dikonsumsi ibu tidak berpengaruh terhadap kualitas maupun kuantitas ASI. Ada ibu yang makan lebih banyak selama menyusui, ada yang makan lebih sedikit, dua-duanya sah-sah saja dan tidak mempengaruhi ASI. Seorang ibu boleh saja makan makanan dengan gizi seimbang sesuai dengan seleranya.</p>
<li><strong>Seorang ibu yang sedang menyusui harus minum banyak cairan.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Seorang ibu seharusnya minum sesuai dengan kebutuhan dan rasa hausnya. Ada beberapa ibu-ibu menyusui yang selalu merasa haus ketika sedang menyusui, namun ada juga yang tidak. Jangan terpaku pada ketentuan bahwa harus minum sekian gelas air per hari.</p>
<li><strong>Seorang ibu perokok sebaiknya memang tidak menyusui.</strong></li>
<p>TIDAK BENAR! Seorang ibu yang tidak bisa berhenti merokok seharusnya tetap menyusui bayinya. Penelitian telah membuktikan bahwa ASI menurunkan resiko efek sampingan yang secara negatif ditimbulkan oleh asap rokok, seperti penyakit paru-paru pada bayi. Memang akan jauh lebih baik apabila ibu tidak merokok, namun jika ibu tidak bisa berhenti merokok, maka lebih baik ibu merokok dan menyusui daripada ibu merokok tapi memberikan susu formula kepada bayi.
</ol>
<p><strong>Artikel ini boleh diambil dan disebarluaskan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari AIMI, dengan syarat bahwa TIDAK digunakan dalam rangka pelanggaran Kode Etik WHO mengenai makanan-makanan pengganti ASI.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2007/10/berbagai-mitos-menyusui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panduan Relaktasi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2007/10/panduan-relaktasi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2007/10/panduan-relaktasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 15:46:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mia Sutanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Relaktasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8888/wp-aimi/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Relaktasi sangat memungkinkan selama sang ibu punya keinginan kuat untuk ini dan yang terpenting harus sabar. Artikel ini akan membantu ibu yang ingin kembali memberikan ASI pada bayinya setelah sebelumnya terhenti karena satu dan lain hal.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Alasan</h3>
<p>Sebelum memutuskan untuk melakukan relaktasi, sebaiknya bertanyalah kepada diri Anda sendiri, apa sesungguhnya yang mendorong Anda untuk melakukan hal ini? Jujur pada diri sendiri mengenai motivasi untuk melakukan relaktasi, karena hal ini ikut berperan besar dalam menentukan keberhasilan upaya yang akan Anda lakukan untuk menyusui kembali bayi Anda.</p>
<h3>Persiapan Mental</h3>
<p>Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan Anda sebelum memutuskan untuk melakukan relaktasi. Sebaiknya, diskusikan terlebih dahulu alasan-alasan yang telah Anda kemukakan diatas, dan ajaklah keluarga Anda, terutama suami, untuk membantu Anda dalam melakukan persiapan mental:</p>
<ul>
<li>Bersiap-siaplah untuk menghadapi stres yang mungkin akan Anda alami selama minggu-minggu pertama dimulainya masa relaktasi. Ada kemungkinan bayi akan menolak menyusu langsung dari payudara Anda, atau bayi akan lebih banyak menangis karena merasa frustasi dengan sedikitnya ASI yang mulai keluar.</li>
<li>Mintalah dukungan mental dari orang-orang terdekat di sekitar Anda, selain suami dan keluarga. Misalnya, dokter, konsultan laktasi ataupun teman Anda yang pernah berhasil melakukan kegiatan relaktasi.</li>
<li>Mengatur mind set Anda. Sama halnya dengan ketika pertama kali mulai menyusui setelah melahirkan bayi Anda, CONFIDENCE dan COMMITMENT adalah kunci utama keberhasilan program relaktasi. Percaya bahwa Anda akan mampu untuk memberikan yang terbaik untuk bayi Anda, dan walaupun awalnya terasa sangat sulit, namun Anda yakin bahwa perjuangan Anda akan membuahkan hasil yang manis, yaitu Air Susu Ibu.</li>
</ul>
<h3>Persiapan Awal</h3>
<p>Jika Anda dan pasangan Anda telah dengan mantap memutuskan untuk melakukan relaktasi, berikut adalah persiapan awal yang dapat Anda lakukan:</p>
<ul>
<li>Pastikan Anda cukup makan dan minum. Mulai meningkatkan konsumsi protein dan cairan ke dalam menu makan Anda sehari-hari untuk membantu mempercepat tubuh dalam memproduksi ASI.</li>
<li>Mintalah kepada dokter Anda obat yang dapat membantu tubuh dalam memproduksi ASI, atau mulai mengkonsumsi jamu ataupun jenis makanan lainnya yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI.</li>
<li>Banyak beristirahat. Mulailah mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang sekiranya bisa Anda delegasikan, karena Anda akan menghabiskan hampir seluruh waktu Anda bersama bayi Anda selama minggu-minggu pertama program relaktasi.</li>
<li>Kurangi jadwal kegiatan Anda diluar rumah, dalam minggu-minggu pertama masa relaktasi sedapat mungkin Anda menghabiskan waktu 24 jam dalam sehari bersama bayi Anda.</li>
<li>Tingkatkan skin to skin contact dengan bayi Anda. Tidurlah bersamanya baik pada malam maupun siang hari, dekaplah dan gendonglah buah hati Anda sesering mungkin. Katakan kepadanya bahwa Anda sangat mencintainya, dan Anda ingin memberikan yang terbaik untuk bayi Anda, yaitu ASI Anda.</li>
<li>Sebisanya mungkin seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan bayi Anda dikerjakan oleh Anda sendiri. Memandikan, menggantikan popok, menidurkan dan mengajaknya bermain.</li>
<li>Berlatih memposisikan bayi pada payudara Anda. Cobalah dengan berbagai cara untuk menemukan kembali posisi yang paling nyaman ketika Anda mulai menyusui.</li>
</ul>
<h3>Cara Melakukan Relaktasi</h3>
<p>Relaktasi hanya bisa dilakukan dengan satu cara, yaitu : <em>membiarkan bayi Anda menyusu sesering mungkin pada payudara Anda</em>. Frekuensi menyusui ini setidaknya adalah 10 kali dalam 24 jam, atau lebih jika memang bayi Anda menginginkannya. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat Anda tempu untuk meningkatkan frekuensi menyusui bayi Anda:</p>
<ul>
<li>Cobalah untuk menyusui bayi Anda setiap 2 jam sekali.</li>
<li>Biarkan bayi Anda menyusu kapan pun, setiap kali ia terlihat berminat.</li>
<li>Anda harus membiarkan bayi Anda mengisap payudara sekitar 30 menit setiap kali ia menyusu, jika dimungkinkan. Atau secara bertahap dapat ditingkatkan durasi menghisapnya tersebut, dimulai dari sekurangnya 15 menit pada saat menyusu.</li>
<li>Cobalah untuk selalu bersama bayi Anda &#8211; terutama pada malam hari ketika hormon prolaktin (penghasil ASI) sedang banyak-banyaknya dihasilkan &#8211; sehingga dapat setiap saat menyusui bayi Anda.
<ul>
<li><a href='http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/09/supplementer-menyusui.jpg'><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/09/supplementer-menyusui.jpg" alt="Supplementer Menyusui" title="supplementer-menyusui" width="151" height="111" class="alignleft size-full wp-image-121" /></a>Gunakan <em>suplementer menyusui</em> sebagaimana yang telah ditunjukan oleh Konsultan Laktasi Anda. Sebagai permulaan, Anda harus memberikan seporsi penuh susu (formula atau Asper) sesuai dengan berat badan bayi Anda, atau dalam jumlah yang sama seperti yang dikonsumsi sebelumnya.</li>
<li>Segera setelah ASI Anda mulai keluar sedikit, porsi susu (formula atau ASIP) tersebut dapat dikurangi sebanyak 30-60ml dalam sehari, sampai habis.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jika bayi kadang-kadang masih menyusu, pasokan ASI dapat meningkat dalam beberapa hari. Jika bayi sudah berhenti menyusu, mungkin diperlukan beberapa minggu untuk menghasilkan kembali pasokan ASI.</li>
<li>Lamanya Anda berhenti menyusui dapat dijadikan tolak ukur kasar mengenai jangka waktu relatasi. Misalnya, jika Anda baru berhenti menyusui 2 hari, maka Anda akan membutuhkan 2 hari untuk menghasilkan kembali pasokan ASI Anda. Namun, jika Anda telah berhenti menyusui selama 1 bulan, mungkin akan dibutuhkan 1 bulan pula untuk menghasilkan ASI kembali.</li>
<li>Relaktasi lebih mudah jika bayi sangat muda (kurang dari 3 bulan), daripada jika bayi berumur lebih dari 6 bulan. Namun, relaktasi dimungkinkan pada usia berapa saja.</li>
<li>Relaktasi lebih mudah jika bayi baru saja berhenti menyusu dibandingkan dengan bayi yang sudah lebih lama berhenti menyusu. Namun, relaktasi dimungkinkan kapan saja.</li>
</ul>
</li>
<p>Pastikan bahwa ketika menyusui, posisi badan Anda, posisi badan dan posisi pelekatan bayi Anda sudah benar, nyaman dan tepat.</p>
<p>Secara perlahan, kurangi dan hentikan pemberian makanan (susu formula) lewat botol yang menggunakan dot bayi. Gantilah dengan metode pemberian melalui cangkir, sendok, pipet ataupun dengan jari tangan. Sebaiknya Anda tidak memberikan empeng pada bayi Anda. Gantilah kebiasaan <em>comfort sucking</em> bayi Anda pada empeng dengan <em>comfort sucking</em> pada payudara Anda.</p>
<p>Jika bayi Anda menolak mengisap payudara yang ’kosong’, Anda dapat memberikan susu (formula atau ASIP) pada saat bayi Anda sedang mengisap payudara Anda melalui cara berikut ini:</p>
<p>Selama masa relaktasi ini, periksalah secara teratur hal-hal sebagai berikut untuk memastikan bahwa bayi Anda tidak kekurangan makanan: (a) kenaikan berat badannya, yaitu sekurangnya 500gr dalam sebulan, dan (2) frekuensi harian BAK (5-6 kali) dan BAB (minimal 1 kali) bayi Anda.</p>
<h3>Jangka Waktu Relaktasi</h3>
<p>Jangka waktu yang dibutuhkan agar pasokan ASI seorang wanita meningkat sangat bervariasi. Akan sangat membantu jiga Anda sangat termotivasi dan bayi Anda sering menyusu sesuai dengan frekuensi yang telah disarankan. Namun, sebaiknya Anda tidak perlu cemas apabila waktu yang diperlukan oleh Anda untuk menghasilkan ASI kembali lebih lama dari yang diperkirakan.</p>
<p>Hal-hal berikut ini dapat dijadikan tolak ukur jangka waktu relaktasi, namun sekali lagi ditegaskan bahwa setiap wanita membutuhkan durasi yang berbeda-beda untuk meningkatkan atau menghasilkan pasokan ASI.</p>
<h3>Kenyataan dan Harapan</h3>
<p>Yang terpenting bagi Anda adalah hindari segala perasaan negatif, terutama perasaan kecewa, jika ternyata setelah berakhirnya masa relaktasi pasokan ASI Anda tidak sebanyak sebelum Anda berhenti menyusui. Memberikan bayi Anda ASI, berapapun jumlah, sangat jauh lebih bermanfaat daripada tidak memberikan ASI sama sekali. Jadi, walaupun pada akhirnya Anda tetap harus memberikan susu formula bersamaan dengan ASI Anda, Anda dan bayi Anda dapat bersama-sama menikmati kembali kedekatan fisik dan batin, serta masa-masa hangat kegiatan <em>breastfeeding</em>.</p>
<p>Fokuskan segala perasaan positif Anda pada bayi Anda, dan bukan pada seberapa banyak ASI yang dapt Anda hasilkan. Selamat mencoba.</ul>
<p><strong>Artikel ini boleh diambil dan disebarluaskan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari AIMI, dengan syarat bahwa TIDAK digunakan dalam rangka pelanggaran Kode Etik WHO mengenai makanan-makanan pengganti ASI.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2007/10/panduan-relaktasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

