<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Irawati Budiningsih</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/author/irawati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 04:40:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Jadwal kASIh Ibu di Kemang Medical Care, Jakarta</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2012/03/jadwal-kasih-ibu-di-kemang-medical-care-jakarta/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2012/03/jadwal-kasih-ibu-di-kemang-medical-care-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2012 05:16:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irawati Budiningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1802</guid>
		<description><![CDATA[Apakah “kASIh Ibu”? Seorang (calon) ibu, selalu ingin untuk memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, apalagi di periode emas seorang anak. Nutrisi sebagai modal dasar pertumbuhan dan perkembangan fisik anak sangat menjadi perhatian para ibu baru. Kepekaan tentang ASI sebagai nutrisi yang terbaik (bahkan satu-satunya yang cocok &#038; signifikan untuk anak) sudah semakin dipahami oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Apakah “kASIh Ibu”?</strong><br />
Seorang (calon) ibu, selalu ingin untuk memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, apalagi di periode emas seorang anak. Nutrisi sebagai modal dasar pertumbuhan dan perkembangan fisik anak sangat menjadi perhatian para ibu baru. Kepekaan tentang ASI sebagai nutrisi yang terbaik (bahkan satu-satunya yang cocok &#038; signifikan untuk anak) sudah semakin dipahami oleh sebagian besar ibu &#038; calon ibu. Tetapi rumor dan mitos seputar ASI yang berkembang pun juga banyak menghantui pikiran mereka. “<strong>kASIh Ibu</strong>” diharapkan dapat menjadi sarana belajar aktif untuk para ibu &#038; calon ibu. Dengan konsep saling bertukar informasi &#038; pendapat, diharapkan akan lebih mengena untuk mereka yang sudah berjibaku dalam mengurus anak &#038; rumah tangga. Pemilihan nama “kASIh Ibu” juga dikhususkan karena dalam kata ‘kasih’ terdapat ASI dan arti kasih sendiri bisa memberi, bisa juga cinta/sayang.</p>
<p><strong>Mengapa berbentuk “kASIh Ibu”?</strong><br />
Menyesuaikan kondisi demografik &#038; gaya hidup para ibu &#038; calon ibu yang menjadi target market KMC, bentuk “<strong>kASIh Ibu</strong>” yang memposisikan kesejajaran strata maupun menyamaratakan segala latar belakang mereka, diharapkan mampu menjembatani komunikasi &#038; proses belajar aktif tentang ASI. Selain itu seperti kita ketahui bersama bahwa kondisi hormonal para ibu baru memerlukan banyak empati. “<strong>kASIh Ibu</strong>” dalam hal ini diharapkan tidak berfungsi ‘mengajarkan’ tapi ‘memfasilitasi’. Selain itu, membentuk “kASIh Ibu” ini juga dalam rangka mewujudkan langkah ke-10 dari 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) yaitu mengupayakan terbentuknya kelompok pendukung ASI dan merujuk ibu pada kelompok tersebut.</p>
<p>07/04/2012 : Masa kehamilan yang menyenangkan &#8211; Happy preggy mommy, siap2 sukses menyusui<br />
<small><em>Special Edition with Hypnobreastfeeding Therapist, Fonda Kuswandi &#038; mengundang 2 ibu yang sudah mengikuti Hypnobirthing/Hypnobreastfeeding. Diharapkan sharing 2 ibu ini akan membantu para bumil supaya masa kehamilannya lebih nyaman dengan metode hypnobirthing</em></small></p>
<p>21/04/2012 : Inisiasi Menyusu Dini &#8211; Kiat sukses IMD</p>
<p>05/05/2012 : (Ultah kASIh ibu KMC) ASI eksklusif 6 bulan &#8211; You are not alone, mommy</p>
<p>19/05/2012 : Payudara &#038; produksi ASI &#8211; Apapun bentuknya, tetap sukses ASI</p>
<p>02/06/2012 : Menyusui yang nyaman untuk ibu &#038; bayi &#8211; ASI antipegal antirepot</p>
<p>16/06/2012 : Menyusui &#038; gizi ibu &#8211; Busui makan apa ya?</p>
<p>07/07/2012 : ASIku cukup atau tidak ya? &#8211; ASIku cukup atau tidak ya?</p>
<p>21/07/2012 : “Menangis”…tidak selalu berarti lapar &#8211; Anakku kok nangis terus ya?</p>
<p>04/08/2012 : “Kasih ASI&#8221; dimana saja, kapan saja &#8211; ASI, anytime anywhere</p>
<p>18/08/2012 : Pemberian ASI setelah bayi 6 bulan &#8211; Setelah ASIX, apa lagi?</p>
<p>01/09/2012 : Resiko pemberian susu formula &#8211; Mengapa formula beresiko?</p>
<p>15/09/2012 : Pup bayi baru lahir &#8211; Seputar BAB bayi baru</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2012/03/jadwal-kasih-ibu-di-kemang-medical-care-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sentuhan kASIh Berjuta Manfaat</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 01:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irawati Budiningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[kontak kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1530</guid>
		<description><![CDATA[Sepucuk surat datang mengabarkan bahwa Anda harus mengikuti perintah tugas: pindah ke daerah lain nun jauh dari tempat tinggal sekarang, tak ada kerabat ataupun sanak saudara yang dikenal. Karena beban kerja dan terbatasnya sarana pendidikan di daerah nanti, Anda dilarang membawa serta keluarga, tapi Anda tak perlu khawatir, segala fasilitas tersedia disana: internet untuk menghubungkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepucuk surat datang mengabarkan bahwa Anda harus mengikuti perintah tugas: pindah ke daerah lain nun jauh dari tempat tinggal sekarang, tak ada kerabat ataupun sanak saudara yang dikenal. Karena beban kerja dan terbatasnya sarana pendidikan di daerah nanti, Anda dilarang membawa serta keluarga, tapi Anda tak perlu khawatir, segala fasilitas tersedia disana: internet untuk menghubungkan kita dengan orang-orang tercinta, telepon bertarif murah dan bebas digunakan kapanpun, segala sarana komunikasi canggih mendukung! Hanya saja transportasi untuk kembali ke kampung halaman sangat terbatas, tetapi Anda masih mendapat jatah pulang ke kampung halaman 2x setahun tidak termasuk cuti hari raya.</p>
<p>Kenapa hati ini tetap sedih? Tetap merasa berat memutuskannya? Apa yang kurang disana?</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Bayangkan situasi tersebut dialami oleh bayi Anda. Dari keadaannya yang nyaman, tenteram, hangat, ‘terpeluk’ oleh rahim penyayang ibu, lalu dilahirkan dan menemui dunia yang hiruk pikuk ini. Sinar dan cahaya terang, gegap gempita riuh ramai suara, di’cengkeram’ tangan-tangan dokter &#038; suster. Inikah dunia itu? Siapa mereka semua? Asing sekali suaranya, sentuhannya, aromanya. Sangat tidak biasa bagi si bayi mungil ini. Tak heran ia begitu mudahnya menangis seperti orang stress. Ya, walaupun dia manusia baru, manusia kecil, dia tetaplah seorang manusia yang juga bisa stress.</p>
<p>Saat saya melahirkan anak pertama saya dulu, saya belum mengenal apa itu Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Seperti yang biasa saya tonton di film atau dengar cerita, begitu bayi lahir segera dilakukan pengecekan medis dan dibersihkan, lalu terbungkus rapi dalam bedongan &#038; topi bayi untuk diberi sekali kecupan oleh ibunya, lalu dibawa ke ruang bayi – tempatnya mondok di rumah sakit ini. Nanti saat kerabat datang, bisa melihat lewat jendela kaca besar ruang bayi dan ‘<em>baby show</em>’ pun bisa dinikmati pada jam-jam tertentu. Indah ya kelihatannya? </p>
<p>Tapi yang saya rasakan adalah, anak saya menangis tidak karuan sepanjang hari saat diantar ke ruangan saya untuk menyusu (ya, tidak perlu ditanya lagi, saat itu pun saya tidak tahu tentang rawat gabung). Kebalikannya, pada hari ke-3 saat ASI mulai tak terkontrol membasahi kimono, bayi saya malah tertidur sulit untuk dibangunkan menyusu. Mulutnya terkunci rapat &#038; kalaupun terbuka sedikit, tidak melekat pada payudara dengan sempurna yang mengakibatkan lecet di puting. Begitu horornya kah punya anak? Saya tidak bisa mengendalikan tangisan bayi saya, bahkan badan saya yang terus menerus kesakitan &#038; pegal-pegal.</p>
<p>Berbeda jauh dengan cerita saat melahirkan anak kedua, yang sudah lebih berbekal ilmu tentang melahirkan, IMD, menyusui &#038; apa saja yang mungkin dihadapi pada hari-hari pertama di RS. Anak kedua kami memilih jam 23.00 untuk menyapa dunia. Jadilah hanya saya &#038; suami tanpa kerabat lain menunggu di RS saat lahiran. Proses IMD berhasil kami jalani dengan tenang selama kurang lebih 2 jam. Pastinya ada rasa khawatir sedikit pada saat bayi kami menangis begitu kencang saat badannya dibersihkan sekedarnya (kami berdua de ja vu apakah psikisnya akan seperti si kakak yang mudah menangis dan stress). Tapi ajaibnya saat si bayi diletakkan di dada saya, tangisannya berhenti seketika! Selanjutnya adalah cerita indah tentang IMD yang terlalu panjang untuk dibahas disini.</p>
<p>Yang ingin saya garis bawahi mengenai cerita kelahiran anak pertama dan kedua saya adalah ‘ke-segera-an terjadinya kontak kulit’ antara ibu &#038; bayi. Kontak kulit begitu dominan dalam proses IMD. Sejak awal hingga akhir adalah mengenai kontak kulit. Dan tanpa sadar, tangan ibu pasti mengelus-elus bayi saat IMD. Yang artinya, ibu tanpa sadar melakukan gerakan pijatan pada bayi. Terkadang ini juga menjadikan <em>cues</em> (tanda) bahwa elusan tangan ibu adalah ajakan bayi untuk menyusu. Kedua bayi saya terlahir berbeda golongan darah dengan saya, yang berpengaruh pada resiko bilirubin tinggi, dimana bilirubin ini bisa diturunkan dengan pemberian ASI. Bayi berbilirubin tinggi cenderung mengantuk dan sulit sekali dibangunkan untuk menyusu (seperti yang terjadi pada anak pertama saya). Pada anak kedua, bila tiba waktunya menyusu (2 jam sekali) saya cukup mengelusnya sambil membisikkan ajakan untuk menyusu ke telinganya, lalu dia pun membuka mulutnya (walaupun terkadang matanya masih tetap tertidur). <em>Cues</em> hanya bisa dibangun dengan kebiasaan. Oleh karenanya manfaatkan kesempatan saat IMD untuk membangun kebiasaan baik tersebut.</p>
<p>Saya tidak akan membahas terlalu detail mengenai manfaat pijat bayi disini, karena saya yakin banyak sekali <em>literature</em> yang sudah mengupas tentang hal tersebut secara mendalam. Tapi yang ingin saya tekankan, pijat bayi bukanlah suatu keahlian khusus yang hanya bisa dilakukan oleh ‘orang pintar’ atau ‘dukun pijat’. </p>
<p><strong>Esensi dari pijat adalah skin to skin contact. </strong></p>
<p>Silahkan anda merasakan sendiri, mana lebih nyaman : pijat di kursi pijat elektronik atau dipijat langsung dengan tangan orang? </p>
<p>Saya yakin jawabannya pasti dipijat tangan orang <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, kita tingkatkan lagi tantangannya, mana yang lebih nyaman : dipijat oleh orang yang baru anda kenal tanpa anda tahu keahliannya atau dipijat oleh orang yang sudah pernah memijat anda dan pijatannya enak?</p>
<p>Saya 1000% yakin jawabannya lebih enak dipijat orang yang jago pijat. Betul?</p>
<p>Kembali ke bayi, mereka yang baru saja dilahirkan belum mengenal standard pijatan enak atau tidak. Tekanan keras <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/08/08-artikel-irawati-300x229.jpg" alt="" title="08-artikel-irawati" width="300" height="229" class="alignleft size-medium wp-image-1531" />atau terlalu keras. Tehnik pijatan tradisional atau Swedish massage. Yang mereka ketahui: aroma, suara &#038; degup jantung ibunya. Jadi pastinya pijatan yang paling nyaman untuk si bayi adalah bila yang memijat ibunya sendiri: tidak asing &#038; terasa aman melindunginya. Nah, persoalannya sekarang, banyak ibu yang tidak pede akan tehnik memijat &#038; tingkat tekanan pijatannya untuk badan kecil bayinya. Sehingga mereka lebih percaya ‘pemijat profesional’ yang memijat bayinya. Sebenarnya tidak menjadi masalah bila si bayi nyaman-nyaman saja (dalam artian tidak stress saat dipijat). Tapi akan menjadi bumerang apabila si bayi tidak nyaman. Percaya atau tidak, ini juga berpengaruh kepada ASI si ibu. Pada saat ibu melihat bayinya menangis (bahkan dipaksa diurut terlalu kencang) oleh ‘pemijat profesional’ tadi, oksitosin ibu malah menurun. Akibatnya distribusi ASI terganggu.</p>
<p>Kembali saya tekankan, kunci utama memijat bayi adalah: skin to skin contact. Jadi tidak bertekanan (hanya sekedar elusan) juga tidak masalah. Jadikan pijat bayi sebagai sarana berkomunikasi. Manfaat lainnya adalah bonus. Dengan berfikir seperti itu, akan lebih mudah bagi ibu untuk melakukan pijat bayi tanpa ada rasa takut atau terpaksa. </p>
<p>Jangan terperangkap ‘rutinitas pijat bayi’. Ada beberapa bayi yang tidak terbiasa dipijat secara rutin, tapi karena ibunya begitu bersemangat jadi memaksa bayi, sehingga bayi stress. Sesungguhnya yang seharusnya adalah manfaatkan pijat bayi sebagai alat komunikasi menciptakan <em>cues</em> (rutinitas). Contohnya adalah tadi seperti yang saya ceritakan : membangunkan bayi yang tidur untuk menyusu dengan mengelusnya. Bonus lain dari kegiatan ini adalah ‘menyalakan alarm’ LDR (let down reflects) pada si ibu setiap bayi mau menyusu. </p>
<p>Kembali ke pengalaman pribadi saya, saat kami sudah tidak ‘berkejar-kejaran’ dengan bilirubin yang menyusu menjadi rutinitas setiap 2 jam sekali, kini kehidupan kami sudah lebih nyaman dan terkendali. Bayi saya kadang tidak tentu jam menyusunya, saya sudah lebih mengikuti ‘demand’ nya saja kapan harus menyusui. Tapi hebatnya, setiap kali dia mau menyusu, LDR saya pun mengalir seperti memberi alarm, bahkan saat saya sedang pergi tidak bersama bayi saya. Biasanya saat itu saya akan telpon ke rumah untuk menanyakan apakah dia sedang minum ASI perah? Beberapa kesempatan begitu pas, saat LDR ya saat dia minta minum ASI perah. Dan ada beberapa keadaan dia masih tertidur atau bermain dan saya LDR, saat saya telpon beberapa waktu kemudian dia minta minum ASI perah. Ajaib? Saya rasa tidak, saya lebih percaya itu adalah ikatan yang sudah dibangun sejak kehamilan, dilanjutkan dengan rutinitas yang terbangun dari pijat ibu &#038; bayi <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;</p>
<p>Lalu saat akhirnya Anda memutuskan untuk tetap berangkat memenuhi panggilan tugas tersebut, kesempatan pulang ke kampung halaman begitu menyenangkan dan menghangatkan. Yang sangat menyamankan bukanlah komunikasi langsungnya, atau tatap muka langsungnya, sesuatu yang begitu priceless adalah kesempatan berjabat tangan, memeluk pasangan &#038; anak kita, mencium aroma kampung halaman. Ada berbagai hal yang tidak bisa tergantikan bukan? <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/08/sentuhan-kasih-berjuta-manfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikhlas: The Powerful Weapon</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/02/ikhlas-the-powerful-weapon/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/02/ikhlas-the-powerful-weapon/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 08:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irawati Budiningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1275</guid>
		<description><![CDATA[Suatu saat seorang ibu berkonsultasi kepada saya, menurutnya ASInya masih juga kurang banyak. Padahal ia sudah mengikuti kelas laktasi pada saat hamil, membaca bermacam literatur asi, melakukan segala anjuran untuk memperbanyak ASI, rutin massage, berfikir positif, menghindari stress &#038; yakin bahwa asinya pasti lancar. Dari segi teknis pun, saya sudah yakin perlekatan &#038; posisi menyusuinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu saat seorang ibu berkonsultasi kepada saya, menurutnya ASInya masih juga kurang banyak. Padahal ia sudah mengikuti kelas laktasi pada saat hamil, membaca bermacam literatur asi, melakukan segala anjuran untuk memperbanyak ASI, rutin massage, berfikir positif, menghindari stress &#038; yakin bahwa asinya pasti lancar.</p>
<p>Dari segi teknis pun, saya sudah yakin perlekatan &#038; posisi menyusuinya sudah benar</p>
<p>Tapi pada kenyataannya? <em>Here we are, doing the discussion</em>.</p>
<p>&#8212;-</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/01-ammar-300x199.jpg" alt="" title="01-ammar" width="300" height="199" class="alignright size-medium wp-image-1277" />Terkadang memang sulit untuk menyelesaikan kasus &#8220;ASI kurang&#8221; dalam sekali pertemuan / perbincangan. Banyak hal yang luput kami diskusikan. Padahal banyak hal yang berpengaruh terhadap kinerja 2 hormon utama pada proses produksi &#038; penyaluran ASI (prolaktin &#038; oksitosin). Dan kebanyakan hal2 tersebut berada di alam bawah sadar si ibu, makanya seringkali tidak terbahas dalam pertemuan / perbincangan yang sedemikian terbatas.</p>
<p>Setiap ibu adalah unik, begitu juga setiap anaknya. Bahkan seorang ibu kerap mengakui bahwa pengalaman mengasuh anak pertamanya jauh berbeda dengan anak kedua atau ketiganya. Jadi pastinya tidak bisa disamakan satu individu dengan individu lainnya. Lalu bagaimana menyikapi jika terjadi benturan-benturan atau hal2 yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita?</p>
<p>Menyerah &#038; mencari kesalahan tentunya bukan jalan keluar. Mempelajari &#038; mengamati menjadi kewajiban untuk memperbaiki. Prinsip ini juga berlaku bagi ibu menyusui.</p>
<p>Kita memang harus mencari informasi &#038; belajar sebanyak-banyaknya. Karena informasi &#038; pengetahuan serta lingkungan terus berkembang dan berubah. Anak kita lahir di masa sekarang, jadi kita mesti menyesuaikannya dengan pengetahuan saat ini.</p>
<p>Jangan bias kata &#8216;usaha&#8217; dengan &#8216;ambisi&#8217;</p>
<p>Usaha, berusaha, berupaya (dalam agama Islam dikenal sebagai ikhtiar). Pada kasus ibu diatas, berupaya untuk memberi ASI pada anaknya. Apakah usahanya sudah maksimal? Hanya ibu itu yang bisa menilainya (saya sama sekali tidak berhak untuk menilainya, karena kita tidak pernah tahu faktor-faktor lain yg mempengaruhinya kan?)</p>
<p>Apakah usahanya bisa dinilai berdasarkan hasilnya (ASInya kurang, berarti usahanya kurang)? Again, hanya ibu itu yang bisa menilainya.<br />
Lalu apakah penting untuk ber-ambisi supaya ASInya tidak kurang?</p>
<p>Jawabannya menjadi 2 :</p>
<ul>
<li>ambisi positif > penting</li>
<li>ambisi tak terkendali > tidak penting, justru berbahaya</li>
</ul>
<p>Setiap orang memerlukan faktor ambisi untuk memotivasi dirinya berusaha maksimal. Ambisi ini sifatnya sedikit liar, bila kita tidak mengendalikannya, akan membahayakan. Dan dalam mengendalikan ambisi ini ada 1 senjata ampuh : <strong>IKHLAS</strong></p>
<p>Siapapun yang menjalani perannya sebagai orangtua pasti setuju bahwa proses menjadi orangtua adalah proses pematangan diri, pendewasaan &#038; pelatihan kesabaran tanpa batas. Rewardnya : rasa cinta yang begitu tak ternilai!</p>
<p>Tanyakan bagaimana perjuangan seorang ibu yang ingin hamil?<br />
Tanyakan bagaimana perjuangan seorang ibu pada saat hamil?<br />
Tanyakan bagaimana perjuangan sepasang ibu &#038; ayah pada saat proses melahirkan?<br />
Tanyakan bagaimana perjuangan sepasang ibu &#038; ayah pada minggu-minggu pertama setelah kelahiran anaknya?<br />
Tanyakan bagaimana perjuangan seorang ibu pada saat menyusui?<br />
Tanyakan bagaimana perjuangan sepasang ibu &#038; ayah pada saat anaknya sakit?<br />
Tanyakan bagaimana perjuangan seorang ibu pada saat menyapih anaknya?</p>
<p>Woooww, ternyata itu semua sebuah proses yang saling berhubungan!</p>
<p>Kalau bisa diibaratkan sekolah, masing-masing tahapan bagaikan sebuah ujian kenaikan kelas. Bedanya, kalau di sekolah, kalau kita tidak <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/01-ammar-ibuiya-257x300.jpg" alt="" title="01-ammar-ibuiya" width="257" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1278" />lulus ujian kenaikan tersebut, kita tinggal kelas &#038; harus mengulang. Tapi pada sekolah orangtua ini, kita terus melanjutkan tahapan selanjutnya, bukan?</p>
<p>Jadi untuk apa menyesali keadaaan yang sudah berlalu, bukan?</p>
<p>Ikhlas secara kata berarti murni, bersih. Ikhlas secara sifat berarti menerima dengan hati lapang. Saat kita sudah berusaha, berupaya semaksimal mungkin, jangan kuasai usaha tersebut dengan ambisi tak terkendali. Ikhlaskan!</p>
<p>Ikhlas tidak berarti kalah, atau menyerah, atau &#8220;ya sudahlah, bisanya cuma segitu, ikhlasin aja&#8221; : salah besar! Ikhlas dalam artian &#8220;tidak terbeban&#8221; malah lebih masuk akal.</p>
<p>Mengapa ikhlas ini sangat penting (terutama dalam proses menyusui)? Karena ikhlas begitu berperan dalam alam bawah sadar. Secara teknis, ikhlas merilekskan dan membawa aura positif terhadap alam bawah sadar kita. Sehingga kita secara tidak sadar terbawa ke alam positif > ambisi positif > hasil positif.</p>
<p>Semoga bisa ditangkap esensinya.</p>
<p><small>seperti yang ditulis diblog penulis (<a href="http://izox.blogspot.com/">http://izox.blogspot.com/2009/05/ikhlas-powerful-weapon.html</a>)</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/02/ikhlas-the-powerful-weapon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ajak Suami Menjadi Ayah ASI, Yuk!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/11/ajak-suami-jadi-ayah-asi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/11/ajak-suami-jadi-ayah-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Nov 2010 02:29:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irawati Budiningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Father]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1148</guid>
		<description><![CDATA[Sering sekali kita mendengar kehebatan-kehebatan para suami yang telaten mendampingi istri dalam merawat bayinya: mengganti popok, memberi asi perah pada malam hari, meninabobokan bayi saat terbangun malam, dan lain sebagainya. Kisah-kisah ini terdengar sangat heroik, terutama bila kita (sebagai ibu) membandingkan dengan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Bagaimana menyikapinya. Ikuti pengalaman dari salah satu Konselor Laktasi AIMI berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering sekali kita mendengar kehebatan-kehebatan para suami yang telaten mendampingi istri dalam merawat bayinya: mengganti popok, memberi ASI perah pada malam hari, meninabobokan bayi saat terbangun malam, dan lain sebagainya. Kisah-kisah ini terdengar sangat heroik, terutama bila kita (sebagai ibu) membandingkan dengan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Betapa indahnya dunia bila suami bisa begitu pengertian dan memberi jatah “<em>me-time</em>” tanpa merasa dipaksa.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-edu-ammar-300x225.jpg" alt="" title="11-edu-ammar" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1151" />Ini juga terjadi pada diri saya dulu. Suami saya termasuk orang yang kikuk memegang bayi. Baginya, bayi adalah mahluk yang sangat <em>fragile</em>, jadi ia merasa ketakutan untuk menggendongnya. Saat menggendong anak kami, ia harus menemukan posisi yang sempurna: cuci tangan, lalu duduk di atas tempat tidur, kaki bersila, menumpuk 2 bantal paling empuk menurutnya, baru berkata &#8220;yak, siap&#8221;. Barulah saya serahkan Ammar diatas tangannya (kadang harus diangkat lagi karena posisi tangan suami kurang mantap dan dicoba berulang-ulang baru dia merasa pas). Lalu setelah 2 menit suami saya akan berteriak &#8220;aduh aduh kram! Udah angkat angkat, kasian nanti Ammar sakit.&#8221;</p>
<p>Suami saya baru berani menggendong ammar saat usianya menginjak 7 bulan. Menggantikan popoknya saat bayi? Sama sekali tidak pernah.</p>
<p>Tapi sejak usia 2 tahun, Ammar paling suka &#8220;mandi sama bapak&#8221;. Proses menyapih dengan cinta semakin mendekatkan diri suamiku dengan Ammar. Terapi pelukan yang terus kami lakukan untuk menggantikan kegiatan menyusu karena kebiasaan, ternyata juga berdampak besar bagi hubungan Ammar &#038; bapaknya. Dan tebak siapa yang paling menyemangati saya untuk terus berjuang aktif di AIMI sampai sekarang: suamiku tersayang, bapaknya Ammar. Ia menyadarkan saya bahwa &#8220;me-time&#8221; tidak cuma sekedar nyalon, meni-pedi atau hang out dengan teman.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Ibu, otak laki-laki berbeda dengan otak perempuan. </p>
<p>Michael Guriaan dalam bukunya <em>What Could He Be Thinking? How a Man’s Mind Really Works</em> menjelaskan, perbedaan antara otak laki-laki dan perempuan terletak pada ukuran bagian-bagian otak, bagaimana bagian itu berhubungan serta cara kerjanya. Perbedaan mendasar antar keduanya adalah:</p>
<ol>
<li>Perbedaan spasial</li>
<p>Pada laki-laki otak cenderung berkembang dan memiliki spasial yang lebih kompleks seperti kemampuan perancangan mekanis, pengukuran penentuan arah abstraksi, dan manipulasi benda-benda fisik. Tak heran jika laki-laki suka sekali mengutak-atik kendaraan.</p>
<li>Perbedaan verbal</li>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-edu-ammar-canda-300x225.jpg" alt="" title="11-edu-ammar-canda" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1152" />Daerah korteks otak pria lebih banyak tersedot untuk melakukan fungsi-fungsi spasial dan cenderung memberi porsi sedikit pada daerah korteksnya untuk memproduksi dan menggunakan kata-kata. Kumpulan saraf yang menghubungkan otak kiri-kanan atau corpus collosum otak laki-laki lebih kecil seperempat ketimbang otak perempuan. Bila otak pria hanya menggunakan belahan otak kanan, otak perempuan bisa memaksimalkan keduanya. Itulah mengapa perempuan lebih banyak bicara ketimbang pria. Dalam sebuah penelitian disebutkan, perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata per hari, sementara pria hanya 7.000 kata! Termasuk perempuan bisa memaksimalkan <em>multitasking</em>-nya, menggendong si kecil, sembari memasak dan menyaksikan sinetron favorit di televisi. Sementara kaum pria, jangan heran kalau mereka tidak mendengarkan panggilan anda ketika tengah menyimak pertandingan bola dari klub favorit atau tengah menyaksikan film kesayangan di televisi.</p>
<li>Perbedaan bahan kimia</li>
<p>Otak perempuan lebih banyak mengandung serotonin yang membuatnya bersikap tenang. Tak aneh jika wanita lebih kalem ketika menanggapi ancaman yang melibatkan fisik, sedangkan laki-laki lebih cepat naik pitam. Selain itu, otak perempuan juga memiliki oksitosin, yaitu zat yang mengikat manusia dengan manusia lain atau dengan benda lebih banyak. Dua hal ini mempengaruhi kecenderungan biologis otak pria untuk tidak bertindak lebih dahulu ketimbang bicara. Ini berbeda dengan perempuan.</p>
<li>Memori lebih kecil</li>
<p>Pusat memori (<em>hippocampus</em>) pada otak perempuan lebih besar ketimbang pada otak pria. Ini bisa menjawab pertanyaan kenapa bila laki-laki mudah lupa, sementara wanita bisa mengingat segala detail. (diambil dari<a href="http://www.kompas.com/"> www.kompas.com</a>)</p>
</ol>
<p>Sekarang coba bayangkan bila dua struktur otak yang sangat berbeda tadi tidak dijembatani dengan komunikasi yang baik? Dan secara kemampuan, kita sebagai perempuan telah ditunjuk menjadi  ‘juru komunikasi handal’ oleh Tuhan, karena Ibu diciptakan dengan kelebihan intuisif dan penuh cinta.</p>
<p>Memang terdengar melelahkan bila kita harus memahami perasaan suami kita,  sementara kita sebagai istri, ibu &#038;  manajer operasional di rumah, jungkir balik mati-matian dalam mengurus anak, mengurus suami, mengurus rumah, ditambah lagi menyusui bayi kapanpun dia mau. Tapi ternyata Tuhan memang menciptakan perempuan dengan segala kelebihannya tadi untuk menjaga keharmonisan hubungan.</p>
<p>Jadi Ibu, pergunakan kemampuanmu sebagai juru komunikasi handal :</p>
<ol>
<li>Hargai pendapat suami, bila salah perbaiki tanpa menghakimi.</li>
<p>Banyak perempuan menempuh cara paling mudah supaya keinginannya terpenuhi : membandingkan dengan orang lain. Ini adalah cara yang salah. Karena bila dibandingkan, laki-laki akan merasa dirinya tidak mampu dan kalah yang tentu saja akan menutup kesempatan untuk berkomunikasi lebih lanjut.</p>
<li>Bila ia sulit berubah, jangan paksa dia untuk berubah.</li>
<p>Cobalah untuk memahami perasaannya, kenapa ia berpendapat demikian. Pelan-pelan sodorkan informasi yang relevan tanpa memaksa. Biarkan ia mengolah sendiri informasi tersebut.</p>
<li>Berkomunikasi bukan hanya dengan ngomong (dan kebanyakan laki-laki tidak suka diajak ngomong).</li>
<p>Di jaman modern ini, banyak media yang bisa kita manfaatkan untuk berkomunikasi : sms, email, maupun channel social media seperti facebook, twitter, dll. Kelebihan dari media-media ini adalah, kita bisa mereview / menguji terlebih dahulu sebelum kita kirimkan ke suami. Coba posisikan diri kita di posisi suami, bila ia membaca pesan dari kita. Apakah cukup netral? Bila belum, masih bisa di edit kan?</p>
<li>Sampaikan informasi, bukan opini.</li>
<p>Opini / pendapat pribadi berpotensi memicu pertentangan bila tidak sevisi. Untuk itu ibu, cobalah untuk menyampaikan informasi (bahkan kalau perlu kumpulkan data-data penelitian yang mendukung). Jadi saat suami menyanggah, kita cukup bilang bahwa ini bukan pendapat pribadi kita, tetapi berdasarkan penelitian para ahli.</p>
</ol>
<p>Dan yang paling penting dari semua itu, ingatlah bahwa kita memilih suami kita karena mau menerima kelebihan &#038; kekurangannya. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/11-bantuin-bapak-300x225.jpg" alt="" title="11-bantuin-bapak" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1153" />Setiap orang terlahir berbeda dan terbentuk pada lingkungan dan pendidikan yang berbeda. Cobalah untuk mengerti sampai mana batas kemampuannya. Jangan pernah untuk memaksakan dia untuk sama dengan orang lain. Keunikan dan ciri khas setiap orang harus dihargai.</p>
<p>Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Secara hakikat, tugas tulang rusuk adalah menjaga hati. Jadi sebenarnya istri lah yang ditugaskan untuk menjaga hati suami, mengembangkan potensinya, menjaga keimanan &#038; kebahagiannya. Jadi bila suami kita belum mendukung penuh keputusan kita untuk menyusui, jangan kita tentang. Tapi dukunglah dia untuk menjadi pendukung yang baik. Dukunglah dia untuk menjadi seorang <em>breastfeeding father</em> atau ayah ASI. Kemenangan ini akan menjadi kemenangan untuk ibu, anak &#038; pastinya : ayah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/11/ajak-suami-jadi-ayah-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Donasi Gempa Sumatera &#8212; updated 13 Okt 2009</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/10/laporan-donasi-gempa-sumatera/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/10/laporan-donasi-gempa-sumatera/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 10:24:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irawati Budiningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[laporan donasi]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[AIMI, mewakili lembaga peduli ASI lainnya mengucapkan banyak terima kasih atas sumbangan dari teman-teman semua. Donasi yang masuk ini akan kami pakai untuk pengiriman Konselor Laktasi dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk kelancaran proses menyusui bagi korban gempa sumatera. Berikut data penyumbang yang telah masuk.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak dibukanya rekening donasi untuk sumbangan Gempa Sumatera semenjak tgl. 1 Oktober 2009, banyak donasi yang masuk. Berikut rincian yang masuk baik dari BCA maupun dari Bank Mandiri</p>
<p>BCA</p>
<table>
<tr>
<td width="10%">No.</td>
<td width="45%">Nama</td>
<td width="45%">Jumlah</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">1.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Putri Kemala Sari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">2.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Meutia Miranti</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">3.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Ira Hasyda Harahap</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp2.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">4.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Lea Hambali</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">5.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Uswatun</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">6.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Febyana Roosalyn</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">7.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Anandita Witoelar</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp750.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">8.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Fitri Hayatunisma Ogi Suprayogi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp50.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">9.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Jenni</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">10.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dewi Indira</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">11.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Yuyuk Andriati Isk</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">12.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Siti Arimbi Pulungan</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp1.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">13.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp75.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">14.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rini Suluhaningtiy</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">15.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Fr Fenti B S Sani Kusnadi</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">16.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">R Primasti Gondokusu</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp300.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">17.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Amanda Tasya</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp1.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">18.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Hesti Saptirini</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">19.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Miselina Sinulingg</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">20.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Selvi Amalia</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">21.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp250.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">22.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Amalia Sekar</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">23.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Fransisca Rini Eka</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">24.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">25.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Eka Faradhila</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">26.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Nurul Widyaningrum</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp600.000-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">27.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Andi Purnomowati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp150.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">28.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dwi Media Kristant</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">29.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Indo BB</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp3.400.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">30.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Komunitas Yoga Indonesia</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp20.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">31.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;"></div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;"></div>
</td>
</tr>
</table>
<p>Bank Mandiri</p>
<table>
<tr>
<td width="10%">No.</td>
<td width="45%">Nama</td>
<td width="45%">Jumlah</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">1.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Andini Saraswati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">2.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">3.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Vircillia Admadjaja</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">4.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Pravita Sari Purnama Ardini</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">5.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Alma Fanniya Idral</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">6.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp2.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">7.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Andriana Dahlan</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp300.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">8.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Dita Rizky Paramita</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">9.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Nurul Hidayati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">10.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp5.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">11.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">NN</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">12.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Sri Hartati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">13.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Galuh Astuti Dewati</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp200.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">14.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Rachmadani</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp100.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">15.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Angga Prasetya Pakpahan</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp1.000.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">16.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Devina Alfarani Ghautami</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp500.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">17.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;">Annisa Kusuma Hapsari</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;">Rp630.000,-</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div style="text-align: right;">18.</div>
</td>
<td>
<div style="text-align: left;"></div>
</td>
<td>
<div style="text-align: right;"></div>
</td>
</tr>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/10/laporan-donasi-gempa-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Informasi Stand Bazaar di acara Menyusui Serentak Ibu Indonesia</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/07/informasi-stand-bazaar-di-acara-menyusui-serentak-ibu-indonesia/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/07/informasi-stand-bazaar-di-acara-menyusui-serentak-ibu-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 03:08:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irawati Budiningsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Pekan ASI Sedunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[AIMI membuka kesempatan bagi khalayak umum untuk turut berpartisipasi dalam acara Menyusui Serentak Ibu Indonesia yang diselenggarakan dalam rangka Pekan ASI Sedunia, yaitu dengan ikut membuka stand bazaar. Ada 4 tipe stand yang ditawarkan, untuk lebih jelasnya silahkan lihat selengkapnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AIMI lagi-lagi bikin bazaar!!</p>
<p>Kali ini berbarengan dengan acara MENYUSUI SERENTAK IBU INDONESIA yang diselenggarakan dalam rangka Pekan ASI Sedunia 2008.</p>
<p>Peserta acara ini sekitar 200 ibu-ibu yang masih menyusui..hhhmmm..pangsa pasar yang sangat menggiurkan, rite?! Acara bakal diadakan hari Sabtu, 2 Agustus 2008 jam 09.00-13.00 WIB di Auditorium Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan.</p>
<p>Selain menyusui serentak, kita juga bikin talkshow di kesempatan yang sama. Pembicaranya dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA., IBCLC dan artis Tiara Lestari serta TOMPI. Hmmm.. artisnya aja udah bikin peserta betah disitu sampai acara berakhir.</p>
<p>Kali ini kita punya beberapa tipe stand :<br />
A &#8211; Sponsorship ( 2 unit)<br />
B &#8211; Main Entrance &#8211; Stairs; ukuran 1 x 1,5 m; harga Rp. 250.000 (5 unit)<br />
C &#8211; Big Alley; ukuran 1 x 1,5 m; harga Rp. 200.000 (8 unit)<br />
D &#8211; Small Alley; ukuran 1 x 1,5 m; harga Rp. 150.000 (16 unit)</p>
<p>Terms &amp; Conditions :</p>
<ul>
<li>Harga sewa hanya untuk space, tidak disediakan meja &amp; kursi</li>
<li>Sewa Meja @ Rp. 30.000</li>
<li>Sewa Kursi @ Rp. 3.000</li>
<li>Tidak disediakan listrik</li>
<li>Tidak diperbolehkan acara masak memasak karena ventilasi sistem gedung tidak memungkinkan First paid, first serve &#8211; No downpayment</li>
<li>Barang dagangan tidak boleh berupa susu &amp; turunannya, mpasi instan, botol susu, dot, empeng, vitamin, suplemen atau obat-obatan jenis apapun, serta bukan berasal dari perusahaan susu formula serta anak perusahaannya.</li>
</ul>
<p>Yang mau gabung dengan bazaar AIMI kali ini, bisa langsung daftar ke : </p>
<ul>
<li><a href="mailto:irawati@aimi-asi.org">irawati[at]aimi-asi.org</a> atau </li>
<li>telfon ke 021 9975 3510 pukul 10.00 s/d 17.00 (please CALL, no sms, no missed call =), thank you! ) atau </li>
<li>live chat via:
<ul>
<li>YM (id : izox)</li>
<li>gtalk (id : <a href="mailto:irawati@aimi-asi.org">irawati[at]aimi-asi.org</a>)</li>
<li>BB messenger (pin : 23C8DFCC)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>dengan mengirimkan formulir pendaftaran yang bisa diambil <a href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/files/form%20bazaar.doc">disini</a>.</p>
<p><strong>Denah Layout Stand Bazaar</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/07/layout-bazaar.jpg" alt="" title="Layout Stand Bazaar" width="500" height="392" class="aligncenter size-full wp-image-103" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/07/informasi-stand-bazaar-di-acara-menyusui-serentak-ibu-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

