<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Clodi Stepantoro</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/author/clodi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 01:59:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Ulasan Poling Mei 2011 &#8211; Standar Emas Makanan Bayi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/06/ulasan-poling-mei-2011-standar-emas-makanan-bayi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/06/ulasan-poling-mei-2011-standar-emas-makanan-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 00:22:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Clodi Stepantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>
		<category><![CDATA[Rawat gabung]]></category>
		<category><![CDATA[Standar Emas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1413</guid>
		<description><![CDATA[Wah, pada pinter nih. Selamat yah! Memang benar bahwa pemberian susu formula sejak usia 2 tahun bukan merupakan Standar Emas Nutrisi Bayi yang telah ditetapkan oleh WHO. Ada 4 (empat) hal yang dijadikan standar oleh WHO, yakni : Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan rawat gabung Kenapa ini penting? Karena IMD memungkinkan bayi mendapatkan manfaat dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Wah, pada pinter nih. Selamat yah!</p>
<p>Memang benar bahwa pemberian susu formula sejak usia 2 tahun bukan merupakan Standar Emas Nutrisi Bayi yang telah ditetapkan oleh WHO. </p>
<p>Ada 4 (empat) hal yang dijadikan standar oleh WHO, yakni :  </p>
<ol>
<li>Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan rawat gabung</li>
<p>Kenapa ini penting? Karena IMD memungkinkan bayi mendapatkan manfaat dari kontak kulit pertama dengan ibu, dimana bayi akan terpapar bakteri baik dari ibu yang TIDAK BERBAHAYA dan bakteri tersebut kemudian membentuk koloni dalam usus bayi yang bertugas memerangi bakteri lainnya yang jahat. </p>
<p>Dengan IMD, bayi akan mendapatkan kolostrum (<em>liquid gold</em>) yang mengandung zat kekebalan terutama IgA yang berfungsi melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare. IMD membantu memantapkan insting menyusu pada bayi dan pelekatan mulut bayi pada payudara sehingga dapat meningkatkan berat badan bayi secara maksimal. IMD juga dapat mengurangi tingkat kematian bayi hingga 22%.</p>
<p>Rawat gabung penuh selama 24 jam sehari diperlukan untuk memastikan proses menyusui dimulai secara optimal. Dengan rawat gabung, ibu bisa beristirahat sambil tetap menyusui sesuai keinginan bayi, sehingga mencegah pemberian cairan prelakteal. Rawat gabung juga membuat bayi lebih tenang. Bayi yang sering terlanjur menangis akan lebih mudah menolak payudara walaupun lapar.</p>
<li>ASI eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan.</li>
<p>ASI eksklusif adalah menyusui bayi tanpa memberi asupan/tambahan apapun selain ASI, bahkan tidak juga air putih.</p>
<p>Kenapa harus ASI eksklusif selama 6 bulan pertama? Karena kalori dari ASI memenuhi 100% kebutuhan bayi yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air, garam, gula dan semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh bayi. Selain itu ASI mengandung zat hidup yang tidak dapat ditiru oleh cairan manapun, seperti sel darah putih (antiinfeksi), enzim pencernaan, dan hormon pertumbuhan.</p>
<li>MPASI berkualitas sejak 6 bulan</li>
<p>Yang dimaksud MPASI berkualitas adalah makanan buatan rumah yang memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi bayi, dari bahan baku lokal dan harga terjangkau.<br />
Mengapa? Karena saat bayi berusia 6-12 bulan ASI memenuhi 70% kebutuhan kalori bayi, sehingga bayi butuh tambahan dari asupan lain. Sangat dianjurkan untuk memberikan MPASI buatan sendiri karena lebih mampu menjaga kandungan gizi alami, mikronutrien serta bioavalabilitas makanan.</p>
<li>ASI diteruskan sampai 2 tahun atau lebih.</li>
<p>Kenapa pemberian ASI diteruskan setelah anak berusia setahun? Karena meskipun jumlah kalori diberikan oleh ASI hanya sekitar 30% namun zat immun yang diberikan dari ASI justru meningkat. Zat ini berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh bayi. Meningkatnya zat immun adalah sesuai dengan kebutuhan anak, dimana anak pada usia ini sudah lebih banyak aktivitas dan interaksi dengan lingkungan, sehingga rawan infeksi kuman.
</ol>
<p>Jadi, mari berikan nutrisi terlengkap bagi bayi. Melalui standar emas nutrisi bayi, kita ciptakan generasi gemilang!</p>
<p><small>Sumber : Materi Kelas EdukASI AIMI.</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/06/ulasan-poling-mei-2011-standar-emas-makanan-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulasan Poling Februari 2011 &#8211; Tip Menyusui Yang Efektif</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/03/ulasan-poling-februari-2011/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/03/ulasan-poling-februari-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 00:20:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Clodi Stepantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Polling]]></category>
		<category><![CDATA[foremilk]]></category>
		<category><![CDATA[hindmilk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1303</guid>
		<description><![CDATA[Pertama-tama kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya. Wah, cukup banyak yang mampir dan memilih poling bulan ini yah.. salut deh! Hal tersebut berarti semakin banyak yang antusias untuk mencari tahu tips agar dapat menyusui secara efektif. Dari jawaban yang kami terima, jawaban yang paling benar adalah yang paling banyak dipilih, yakni : “ketika menyusui sebaiknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post's poll.
<p>Pertama-tama kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya. Wah, cukup banyak yang mampir dan memilih poling bulan ini yah.. salut deh! Hal tersebut berarti semakin banyak yang antusias untuk mencari tahu tips agar dapat menyusui secara efektif.</p>
<p>Dari jawaban yang kami terima, jawaban yang paling benar adalah yang paling banyak dipilih, yakni : “ketika menyusui sebaiknya dari 1 payudara sampai puas”…. BRAVO! </p>
<p>Sekarang saya ingin sedikit mengulas tentang tip menyusui yang efektif ini. Memang, ada banyak mitos yang bilang kalau menyusui jangan cuma di satu payudara, nanti payudaranya jadi gede sebelah. Saya juga sempat berfikir seperti itu tapi ada untungnya juga punya sifat rada ‘pemalas’. Jadi dulu saya suka males mindahin posisi baby saya (dulu baby, sekarang dah jadi bocah) dari satu payudara ke payudara yang lain apalagi kalo dia udah <em>pe-we</em> di satu payudara. Jadi saya biarin dia menyusu sampai puas (biasanya sampai dia jatuh tertidur). Nah, karena payudara satunya masih penuh sementara si pasien sudah terbang ke alam mimpi, ya saya perah. Nanti kalau dia mau menyusu lagi, saya mulai dari payudara yang tadi belum sempat ‘digarap’.</p>
<p>Tanpa saya sadari, ternyata memang seperti itulah menyusui yang efektif. Kenapa?</p>
<p>Jadi begini, pernah dengar foremilk dan hindmilk kan? Foremilk itu adalah ASI yang kandungan lemaknya rendah, kalau biasa memerah ASI, pasti kelihatan biasanya ASI yang keluar duluan itu warnanya lebih bening dan lebih encer. Foremilk ini sering juga disebut dengan ASI depan. Hindmilk adalah ASI yang kandungan lemaknya lebih tinggi dan jika saat memerah ASI, setelah memerah beberapa saat, warna ASI terlihat lebih putih dan lebih kental. Semakin kosong payudara maka kandungan lemaknya semakin tinggi. Hindmilk sering disebut sebagai ASI belakang.</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/03/03-foremilk-hindmilk.jpg" alt="" title="03-foremilk-hindmilk" width="500" height="224" class="aligncenter size-full wp-image-1305" /></p>
<p>Lihat pada gambar di atas, foremilk ada di gelas kiri dan hindmilk di gelas kanan.</p>
<p>Sama seperti saat diperah, saat bayi menyusu, maka ASI yang dikonsumsi lebih awal adalah foremilk ini. Setelah menyusu berjalan beberapa saat atau payudara mulai kosong, maka bayi mulai mengkonsumsi hindmilk yang sarat akan kandungan lemak. Semakin banyak bayi mengkonsumsi hindmilk, maka semakin signifikan kenaikan berat badannya.</p>
<p>Nah, jadi tahu kan sekarang mengapa menyusui bayi pada kedua payudara secara bergantian ternyata tidak efektif? Betul! Karena jika bayi baru menyusu sebentar  pada satu payudara kemudian langsung dipindahkan ke payudara yang lain maka bayi hanya akan lebih banyak mengkonsumsi foremilk daripada hindmilk.</p>
<p>Tapi, bukan berarti foremilk itu tidak penting loh yah. Foremilk itu kandungannya sama dengan hindmilk, hanya lemaknya sedikit. Bisa diibaratkan bahwa foremilk itu adalah minuman (air minum) sedangkan hindmilk itu adalah makanan. Sama seperti kita, kalau sedang makan kan kita juga butuh minum. Nah, bayi juga sama. Selain itu foremilk juga mengandung laktosa yang sangat penting bagi perkembangan otak bayi.</p>
<p>Sedikit tambahan, biasanya foremilk ini, pada beberapa busui, keluarnya pun suka mancur-mancur dan bikin bayi kita agak kesulitan untuk menyusu. Kalau memang derasnya aliran ASI cukup mengganggu si kecil, bisa dicoba dengan memerah ASI sedikit (mungkin bisa ditampung dan diberikan kemudian). Hal ini dimaksudkan untuk dapat mengurangi derasnya aliran ASI sehingga bayi bias lebih nyaman saat menyusu.</p>
<p>Oke, sekian dulu tips dari kami, selamat menyusui!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/03/ulasan-poling-februari-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sakazakii</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/02/sakazakii/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/02/sakazakii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 00:35:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Clodi Stepantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bakteri Enterobacter Sakazakii]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1293</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar : Artikel ini re-post karena sudah pernah saya rangkum dari beberapa sumber sekitar 3 tahun yang lalu&#8230; saat isu serupa pernah merebak. Kenapa berulang ya? Apaan sih Sakazakii? Emangnya berbahaya ya? Nama Lengkapnya: ENTEROBACTER SAKAZAKII. Ini jenis bakteri yang berasal dari keluarga: ENTEROBACTERIACEAE yang terdiri dari sejumlah spesies bakteri yang nangkring di usus besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengantar : Artikel ini re-post karena sudah pernah saya rangkum dari beberapa sumber sekitar 3 tahun yang lalu&#8230; saat isu serupa pernah merebak. Kenapa berulang ya?</p>
<p><strong>Apaan sih Sakazakii? Emangnya berbahaya ya?</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1298" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/02-sakazakii.jpg" alt="" width="285" height="192" />Nama Lengkapnya: <strong>ENTEROBACTER SAKAZAKII</strong>. Ini jenis bakteri yang berasal dari keluarga: <strong>ENTEROBACTERIACEAE</strong> yang terdiri dari sejumlah spesies bakteri yang nangkring di usus besar manusia atau binatang, tapi ada juga sih di lingkungan sekitar. Nah, mikroorganisme ini dapat mengakibatkan penyakit <strong>MENINGITIS (radang selaput otak)</strong>, <strong>SEPSIS (radang pada peredaran darah)</strong>, serta <strong>ENTERITIS (radang usus)</strong> pada bayi.</p>
<p>Pada penelitian terdahulu, diketahui sekitar 20% sampai &gt;50% bayi yang terpapar penyakit akibat bakteri meninggal dunia. Beberapa penyakit yang ditelusuri merupakan dampak dari sufor yang terkontaminasi banyak terjadi di Ruang Isolasi Bayi di Rumah Sakit di seluruh dunia. Bayi yang dapat bertahan hidup justru mengalami komplikasi serta <strong>gangguan syaraf (neurological disorder)</strong>. Sedangkan dampak terhadap orang dewasa tidak berbahaya. Faktor utamanya adalah karena tingkat keasaman perut bayi lebih rendah daripada pada orang dewasa.</p>
<p><strong>Siapa yang paling mungkin kena?</strong></p>
<p>Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit pada semua golongan usia, tapi berdasarkan penelitian sih.. yang PALING MUNGKIN terpapar adalah <strong>bayi baru lahir</strong> (khususnya yang usia &lt;28 hari), <strong>bayi prematur</strong> (usia janin &lt;36 minggu), <strong>bayi dari ibu yang mengidap HIV+</strong> (khususnya yang mengkonsumsi sufor), <strong>BBLR</strong> (bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah, yakni &lt;2000 gram) yang biasa disebut <strong>IMMUNICOMPROMISED INFANT</strong>. Karena di Indonesia banyak banget kasus <strong>BBLR</strong> cukup banyak, mestinya hal ini mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.</p>
<p><strong>Bakteri ini datang darimana? Apakah terdapat pula dalam usus besar manusia?</strong></p>
<p>Habitat alami bakteri ini belum diketahui dengan pasti, namun bakteri ini ditemukan dalam usus besar manusia sehat, yang kemungkinan besar berbentuk intermittent guest. Dapat pula ditemukan dalam usus besar binatang serta pada lingkungan yang lembab.</p>
<p><strong>Trus, kok bisa mengkontaminasi susu formula? Apa ada di jenis makanan lain juga?</strong></p>
<p>Ada 3 (tiga) cara bakteri ini masuk ke dalam komponen susu formula, yakni :</p>
<ol>
<li>Melalui bahan mentah yang dipakai dalam sufor;</li>
<li>Melalui kontaminasi pencampuran atau jenis komponen kering lain setelah proses pasteurisasi; serta</li>
<li>Melalui kontaminasi pencampuran susu dengan air pada saat penyajian sebelum diminum oleh bayi.</li>
</ol>
<p>Sebenernya bakteri ini ditemukan juga dalam beragam jenis makanan lain, tapi yang terkait dengan munculnya penyakit yah baru di kasus sufor (dan kasus di negri kita ini yah makanan instan).</p>
<p><strong>Apakah Sufor hanya mengandung bakteri ini ? Atau sebenarnya ada juga jenis bakteri lain?</strong></p>
<p>Standar internasional sudah tidak memperbolehkan adanya patogen jenis <strong>SALMONELLA</strong> dalam produk sufor bubuk. Standar Codex WHO adalah tidak boleh terdapat Salmonella dalam 60 sampel (masing-masing 25 gram). Peraturan ini sangat ditekankan khususnya di Uni-Eropa. Tapi, tetap ada aja ditemukan Salmonella dalam produk sufor bubuk. Penyebabnya belum begitu jelas, bisa jadi terkontaminasi di rumah atau di Tempat Penitipan Anak (TPA).</p>
<p><strong>Trus, kalo bayi ASIX (ASI eksklusif), mungkin terkena juga nga?</strong></p>
<p>Berdasarkan penelitian, belum pernah ada kasus bayi ASIX yang terpapar bakteri ini, yang ada juga dari 50-80% kasus, <strong>sufor bubuk adalah SUMBER dan SARANA (baik langsung maupun tidak langsung) bakteri ini untuk menyebabkan penyakit.</strong></p>
<p><strong>Resiko dari kasus ini di negara maju apakah sama juga?</strong></p>
<p>Yah, data yang ada menunjukkan bahwa resiko di negara maju lebih sedikit. Kemungkinan bisa saja disebabkan oleh kurangnya perhatian akan masalah ini atau memang tidak munculnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri tersebut. Karena penggunaan sufor sangat banyak maka dampaknya pada bayi mestinya menjadi perhatian khalayak. <strong>Herannya, di Indonesia hal ini kok malah ditutup-tutupi?</strong> Pantesan aja banyak ibu yang masih merasa enggan menyusui bayi mereka (ini khusus untuk para ibu yang emang tidak berkeinginan loh lah.. bukan yang tidak bisa karena alasan medis&#8230;) <strong>karena tidak pernah tau dampak buruk dari sufor.</strong></p>
<p><strong>Lalu gimana dengan resiko yang mungkin terjadi di TPA?</strong></p>
<p>WHO merekomendasikan supaya para pengasuh bayi, khususnya bayi yang paling mungkin terpapar (&lt;1 tahun), menyadari bahwa : <strong>Sufor bukanlah produk yang steril !</strong> Pada kasus ibu yang tidak dapat menyusui maka mereka dianjurkan untuk memberikan, jika memungkinkan, produk susu formula cair yang steril. Tapi produk ini cukup sulit untuk dicari, kalau pun ada biasanya harganya mahal banget.</p>
<p>Atau yah, sufor bubuk yang paling tidak sudah mengikuti tahapan dekontaminasi saat proses penyaduhan, yakni disaduh dengan air mendidih (&gt;70˚C: bukan air dari dispenser) atau dengan memanaskan sufor yang sudah dicampur. Rentang waktu pemberian susu setelah disaduh katanya sih dapat mengurangi resiko terjangkitnya penyakit oleh bakteri ini.</p>
<p><strong>Kalau terpapar, gejalanya seperti apa?</strong></p>
<p><strong>SEPSIS</strong> (radang pada peredaran darah), <strong>MENINGITIS</strong> (radang selaput otak) serta <strong>ENTERITIS</strong> (radang usus) adalah gejala infeksi bakteri ini yang terjadi khususnya pada bayi. Tanda-tanda ini biasanya diikuti juga dengan <em>seizure</em> (fenomena temporer ketidaknormalan fisio-elektro otak akibat ketidaknormalan syaraf), kelumpuhan otak, hidrosefalus, keterlambatan perkembangan, serta kematian ! Infeksi ini juga berdampak pada defisiensi syaraf khususnya yang terkait dengan bakteri meningitis dan cerebritis (berhubungan dengan otak). Penulis artikel <strong>Emerging Infectious Disease</strong> (yang dipublikasikan oleh <em>Centers of Disease Control and Prevention</em> pada Agustus 2006) menyatakan <strong>bahwa 40-80% bayi yang terinfeksi bakteri ini meninggal.</strong></p>
<p>Sayangnya, sangat sedikit pengetahuan tentang faktor patogensi (sifat yang berdampak sebagai penyakit) dari bakteri ini. Beberapa <em>strain</em>/galur yang terdapat dalam kultur jaringan di laboratorium menunjukkan perbedaan <em>strain</em>/galur bakteri ini dengan <em>strain</em>/galur yang tidak bersifat patogen.</p>
<p>Biasanya penyakit tersebut membutuhkan terapi antibiotik, namun akibat reaksinya yang cukup responsif terhadap pengaruh terapi tersebut, sehingga Enterobacter yang sudah terbentuk menjadi semakin resisten (jadi <em>SUPER BUGS</em> yang membutuhkan dosis yang makin tinggi, sehingga pemberian AB harus lewat infus).</p>
<p><strong>Sebenernya, masih bisa dicegah tidak ya?</strong></p>
<p>Meskipun tempat penampungan organisme ini masih belum dikenal, namun berdasarkan banyaknya pertumbuhan infeksi yang terjadi pada bayi menekankan bahwa <strong>Sufor bubuk merupakan sumber dari infeksi tersebut.</strong> Pada beberapa penelitian tentang infeksi yang muncul pada bayi oleh bakteri ini, khususnya pada bayi yang baru lahir (&lt;28 hari), para peneliti telah mampu membuktikan baik secara statistik maupun hubungannya dengan mikrobiologi antara infeksi dengan konsumsi sufor bubuk.</p>
<p>Seperti ditegaskan sebelumnya bahwa <strong>SUFOR BUBUK bukanlah produk yang steril.</strong> Karena susu jenis ini melalui prosesnya (proses pemanasan) dapat dimasuki oleh jenis bakteri ini. Berbeda dengan sufor cair yang tidak berada pada suhu tinggi dalam beberapa waktu sebelum akhirnya dikemas secara steril.</p>
<p>FDA (<em>Food and Drugs Administration</em>) menegaskan bahwa resiko dari infeksi ini tergantung dari beberapa faktor, di antaranya adalah:</p>
<ul>
<li>berapa banyak jumlahnya di dalam produk tersebut,</li>
<li>bagaimana cara penyajian susu,</li>
<li>serta kondisi penderita (misal bayi baru lahir, bayi prematur, BBLR, serta <em>immunosuppression</em>/kelainan antibodi).</li>
</ul>
<p><strong>Sufor bubuk dapat menjadi media pertumbuhan bakteri ini, sehingga perpanjangan periode penyimpanan dapat meningkatkan jumlah bakteri yang sudah bernaung.</strong> Para petugas kesehatan mungkin dapat mengurangi resiko bagi bayi-bayi baru lahir yang sedang dirawat melalui pemberian susu alternatif sebagai pengganti sufor bubuk jika memungkinkan.</p>
<p><strong>FDA merekomendasikan UNTUK TIDAK MEMBERIKAN SUFOR BUBUK KEPADA BAYI-BAYI YANG BARU LAHIR !</strong> Kecuali tidak ada pilihan lain.</p>
<p>Namun, jika memang tidak ada pilihan lain, maka untuk mengurangi resiko dapat dilakukan beberapa hal berikut:</p>
<ul>
<li>Siapkan hanya sedikit sufor pada setiap waktu menyusu untuk mengurangi jumlah dan waktu susu ini berada pada suhu kamar sebelum dikonsumsi;</li>
<li>Minimalkan jarak penyajian dengan konsumsi, baik dalam suhu kamar maupun di dalam kulkas, misal dengan jarak masimum 4 jam. Sebab semakin lama rentang waktunya maka kemungkinan bakteri untuk berkembang biak akan semakin besar.</li>
</ul>
<p>Tapi maaf saya tidak bisa memberikan info lebih lengkap soal ini. Tapi ada juga solusi lain untuk masalah ini, yakni : Kembali ke ASI.</p>
<p><strong>Kembali ke ASI, Bagaimana caranya?</strong></p>
<p>Ada beberapa cara untuk kembali ke ASI, bisa dengan cara relaktasi. Apa itu relaktasi? Yakni upaya untuk kembali menyusui. Upaya ini bukan hanya berlaku bagi ibu yang pernah menyusui lalu berhenti karena sesuatu dan lain hal, tapi <strong>dapat pula diupayakan oleh seorang ibu adopsi untuk dapat menyusui anak adopsinya</strong>. <em>Amazing</em> yah ! Jika dibutuhkan, para konselor laktasi AIMI siap mendampingi para ibu yang ingin kembali menyusui. Salam ASI.</p>
<p>Beberapa link terkait berita ini:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.foodborneillness.com/enterobacter_sakazakii_food_poisoning/">http://www.foodborneillness.com/enterobacter_sakazakii_food_poisoning/</a></li>
<li><a href="http://www.who.int/foodsafety/publications/micro/en/qa2.pdf">http://www.who.int/foodsafety/publications/micro/en/qa2.pdf</a></li>
<li><a href="http://www.fao.org/ag/agn/agns/jemra_riskassessment_enterobacter_docs_en.asp">http://www.fao.org/ag/agn/agns/jemra_riskassessment_enterobacter_docs_en.asp</a></li>
<li><a href="http://selasi.net/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=30:mengenal-bakteri-sakazakii&amp;catid=15:sakazakii&amp;Itemid=56">http://selasi.net/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=30:mengenal-bakteri-sakazakii&amp;catid=15:sakazakii&amp;Itemid=56</a></li>
</ul>
<p>Waktu kasus ini merebak di tahun 2008, AIMI sempat melakukan aksi turun ke jalan untuk mengajak para ibu kembali ke ASI. Bisa klik di sini: <a href="http://mapetitelentera.multiply.com/photos/album/56/AIMI_turun_ke_jalan">http://mapetitelentera.multiply.com/photos/album/56/AIMI_turun_ke_jalan</a></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1300" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/02/02-spanduk-ASI.jpg" alt="" width="500" height="280" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/02/sakazakii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Menyusu Dini Menjadi Menyusui Dini</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2009/03/saat-menyusu-dini-menjadi-menyusui-dini/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2009/03/saat-menyusu-dini-menjadi-menyusui-dini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 04:26:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Clodi Stepantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Basic]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[IMD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ibu kini mendambakan agar dapat bayi mereka bisa melakukan IMD, maka mereka pun sibuk mengumpulkan berbagai informasi tentang IMD dan tata laksananya. Kadang walau ilmu yang kita punya telah cukup dan kuasai dengan benar, tapi pada akhirnya sering juga gagal dikarenakan kurangnya informasi yang dimiliki oleh tenaga kesehatan. Berikut pengalaman konselor laktasi AIMI tentang minimnya informasi para tenaga kesehatan kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pasti semua ibu hamil memimpikan momen ini. Momen dimana orang tua dan bayi bertemu untuk pertama kalinya sambil membiarkan si kecil yang masih berusia beberapa menit itu bersentuhan kulit ibunya. Dimana si kecil, dihantarkan oleh nalurinya, berjuang untuk dapat mereguk cairan kehidupannya. <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2009/03/03-imd-300x199.jpg" alt="Bayi Baru Lahir Sedang IMD" title="Bayi Baru Lahir Sedang IMD" width="300" height="199" class="alignleft size-medium wp-image-217" />Saat sang ayah mengumandangkan nyanyian surgawi di telinga si kecil. Betapa romantisnya. Namun sayang, momen ini masih tergolong langka bahkan masih banyak tenaga kesehatan yang menganggap ini hanya sebagai tren, bukan kebutuhan, sehingga tidak selalu menjadi prioritas dalam proses persalinan. Sehingga sering kali harus berubah menjadi Menyusui Dini. Namun, apa yang dapat kita lakukan untuk memaksimalkan proses ini?</p>
<p>Sekitar bulan yang lalu, saya berkesempatan menemani proses persalinan seorang teman. Hal ini merupakan momen yang sangat berarti bagi saya, karena saya diijinkan masuk ke ruang bersalin bersama-sama dengan suaminya. Saya, yang bukan anggota keluarga, diijinkan masuk tentu saja merupakan kesempatan yang sangat langka. Salah satu alasan teman saya meminta saya menemaninya dalam proses melahirkan adalah agar dapat membantu proses IMD yang akan berlangsung.</p>
<p>Kebetulan teman saya tersebut melahirkan di sebuah klinik sederhana. Sejak awal, teman saya sudah meminta ijin pada dokternya agar dia boleh ditemani oleh seorang yang lain selain suaminya pada proses persalinan. Dan dokter mengijinkan. Sejak itu juga teman saya telah menyampaikan keinginannya menjalani proses IMD, dokternya pun mengiyakan meski mengakui bahwa di klinik tersebut belum pernah dilaksanakan proses IMD.</p>
<p>Saya tiba di klinik pukul 8 pagi, hari itu hari minggu. Diantarkan oleh suami dan anak saya, kemudian saya bertemu dengan teman saya, sewaktu dia masih cukup segar karena kontraksi yang dirasakan belum cukup kuat, suami dan kedua orang tuanya. Kemudian suami dan anak saya berangkat ke Gereja, tinggallah saya di situ sendirian. Sempat ada rasa canggung di hati saya, merasa asing sendirian di situ karena sejujurnya teman saya ini pun bukanlah seorang sobat dekat, melainkan baru berkenalan beberapa bulan sebelumnya.</p>
<p>Kemudian saya mengirimkan pesan ke beberapa teman konselor, meminta saran mereka tentang tips-tips apa saja yang harus saya perhatikan. Ada satu teman saya yang mengingatkan (<em>thanks kak Sophie..!</em>), bahwa posisi saya di situ adalah tetap sebagai orang asing, jadi saya mesti bisa menarik simpati pihak keluarga teman saya tersebut. Ikuti saja apa mau mereka, karena posisi saya adalah sebagai konselor, bukan tenaga kesehatan. Sehingga saya tidak punya hak untuk memaksakan suatu kondisi apa pun, melainkan hanya boleh menyarankan.</p>
<p>Saya camkan saran itu baik-baik dalam hati saya, lalu berdoa semoga saja saya tidak gegabah. Ini adalah pertama kalinya saya mendampingi seseorang yang akan melahirkan. Malam sebelumnya sampai berkali-kali saya menonton video proses pelaksanaan IMD, meski sebenarnya saya sudah cukup hafal langkah-langkah penerapannya. Tapi rasa ragu tetap saja muncul, karena pada dasarnya saya sendiri belum pernah menjalani proses ini sehingga saya hanya tau teori, tapi tidak prakteknya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2009/03/saat-menyusu-dini-menjadi-menyusui-dini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyapih dengan Kasih</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/12/menyapih-dengan-kasih/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/12/menyapih-dengan-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 23:45:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Clodi Stepantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[menyapih]]></category>
		<category><![CDATA[sapih]]></category>
		<category><![CDATA[weaning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Saatnya menyapih? Selamat! Dan tidak perlu bersedih. Bersyukurlah, karena jika sudah tiba di sini berarti Anda telah melakukan sebuat prestasi yang besar. Jadikan hal tersebut kebanggaan bagi diri Anda sendiri. Bagi saya, menyapih merupakan simbol kemenangan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><img class="left size-medium wp-image-135" title="12-seruput" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/12/12-seruput-254x300.jpg" alt="Minum Air" width="254" height="300" />Selayaknya seorang pelari yang baru saja memenangkan medali emas di ajang olimpiade, maka ia akan berlari satu putaran lagi (berlari, bukan berjalan terseok-seok) sambil mengibarkan bendera negaranya dengan penuh kebanggaan. Letih itu tak terasa lagi, semangat kemenangan yang memberinya kekuatan baru untuk menempuh putaran penutup dengan lebih indah, yakni penuh senyuman kemenangan. Semangat seperti inilah yang memacu keinginan saya untuk menutup perjalanan menyusui ini dengan penuh cinta kasih.</p>
<p>Artikel ini lebih bersifat membagikan pengalaman saja. Dan saya berharap, pengalaman ini dapat bermanfaat bagi Anda sekalian.</p>
<h3>SAAT MASA MENYUSUI HARUS BERAKHIR</h3>
<p>Saat si kecil beranjak menjadi kanak-kanak, tentunya kita mulai terfikir waktunya sudah tepat untuk menyapihnya. Anjuran dari WHO dan IDAI adalah menyusui hingga 2 tahun, dan saat itu sudah tiba bagi saya dan Lentera kecil saya yang baru saja menginjak usia 24 bulan. Meski sesungguhnya menyusui dapat dilanjutkan selama ibu dan bayi sama-sama berkeinginan, namun tentunya kita tidak mungkin menyusui bayi/anak kita hingga dia dewasa bukan? Pasti ada masanya untuk disapih, dan Anda lah yang menetapkan kapan masa itu (kecuali jika bayi/anak Anda yang memutuskan untuk menyapih dirinya sendiri).</p>
<p>Saya sering mengikuti <em>sharing</em> para ibu yang telah/tengah mengalami masa ini. Tulisan-tulisan tersebut sempat mengguncang emosi saya. Bahkan, beberapa di antaranya membuat saya meneteskan airmata. Ya, dalam kehidupan… hampir bagi setiap orang di muka bumi ini, momen perpisahan memang merupakan momen yang paling berat.</p>
<p>Orang tua bilang, jangan dibikin repot. Olesi saja puting susu dengan brotowali yang pahit, atau coreti payudara dengan spidol sehingga menjadi aneh dan membuat anak menjadi tidak nyaman, atau olesi puting susu dengan cairan berasa aneh seperti pedas atau asam, yang dapat membuat anak tidak suka untuk menghisapnya, atau titipkan anak di nenek/kakeknya selama beberapa waktu, nanti anaknya pasti menolak sendiri. Atau cara yang paling ampuh: HAMIL KEMBALI! Karena dengan kehamilan, maka rasa ASI akan berubah menjadi tidak nikmat lagi, sehingga akan lebih cepat membuat anak berhenti menyusu.</p>
<p>Tapi maaf, itu bukan cara saya. Saya tidak mau keintiman saya dengan Lentera kecil berakhir dengan cara seperti itu (kecuali jika saya diijinkan untuk hamil kembali.. itu lain cerita). Saya tidak mau acara menyapih kami menjadi penuh air mata, penuh tangisan, penuh teriakan, penuh amarah serta diselimuti aksi tipu-tipu. Baik pada diri saya, maupun pada dirinya, Lentera kecil-saya itu.</p>
<h3>PERTAMA, SAYA UBAH PARADIGMA..</h3>
<p>Maka dari itu, sebelum memutuskan untuk menyapih, jauh-jauh hari saya sudah menyiapkan mental saya. Dalam arti, saya mulai belajar untuk mengubah pandangan saya.. bagi saya, menyapih berarti melepaskan masa menyusui namun saya tidak mau untuk memandangnya sebagai masa ‘perpisahan’ <em>bonding</em> saya dengan Lentera kecil-saya. Saya lalu mulai belajar untuk menganggap bahwa</p>
<blockquote><p>&#8220;masa menyusui itu adalah masa terbaik untuk dikenangkan, namun bukan untuk dikangenin&#8221;</p></blockquote>
<p>Bagi saya kedua terminologi ini benar-benar berbeda. “dikenangkan”, berarti saya senang akan hal tersebut tapi meskipun dimungkinkan, saya tidak akan kembali ke sana. Sedangkan “dikangenin”, artinya saya senang namun terlebih lagi.. jika diizinkan untuk menarik mundur waktu, maka tentu saja akan saya lakukan agar saya bisa kembali ke masa itu. Perubahan persepsi ini benar-benar membantu saya menikmati masa menyapih dengan kasih.</p>
<p>Masa kanak-kanak adalah masa dimana anak telah memiliki memori yang kuat dan yang saya inginkan adalah menutup petualangan menyusui ini dengan momen indah yang layak untuk dikenangkan baginya juga. Karena bagi saya, <strong>sesungguhnya menyapih bukanlah melepas <em>bonding</em>, melainkan justru mempererat <em>bonding</em> dengan cara yang berbeda</strong>.</p>
<h3>KEMUDIAN, MENGUBAH KEBIASAAN..</h3>
<p>Anda percaya bahwa <em>bonding</em> yang terjalin antara ibu dan bayi membuat bayi bisa ‘membaca’ fikiran si Ibu? Saya percaya. Sehingga saya mulai berhenti ‘mengundang’ (meskipun hanya di dalam hati) Lentera kecil-saya untuk menyusu. Ini saya mulai setelah Lentera kecil-saya berusia 18 bulan. Saya berhenti untuk mengajak dia ‘mimik’, meski kadang memang sudah waktunya. Namun, biasanya Lentera kecil yang ingat sendiri saat tiba waktu dia ingin menyusu. Saya tidak ‘mengundang’ dia, namun juga tidak menolak jika dia meminta. Jadi, saya biarkan dia yang menentukan sendiri. Jika memang ingin menyusu, maka dia akan meminta demikian pula sebaliknya.</p>
<p>Hal kedua yang saya ubah adalah tempat dimana Lentera kecil boleh menyusu. Dulu, dia bisa menyusu dimana saja, di dalam kamar, di ruang tamu, di meja makan, di dalam mobil, di tempat umum, bahkan saat sedang mandi bersama sekalipun! Sekarang, saya tetapkan menyusu hanya boleh di dalam kamar. Setiap kali Lentera minta menyusu, meski saya sedang asyik mengerjakan sesuatu di luar kamar.. maka saya mesti konsisten dengan ‘peraturan permainan’ yang saya tetapkan sendiri, yakni menggandeng tangannya dan berjalan beriringan menuju ke dalam kamar.</p>
<p>Semua adalah peraturan permainan yang telah saya tetapkan sendiri. Jika ingin bermain, bermainlah secara <em>fair</em>! Meski saya yang menciptakan, peraturan tetap peraturan, maka saya pun wajib mematuhinya. Karena disiplin yang diterapkan pada anak berawal dari orang tua. Jika kita tidak konsisten pada peraturan (bahkan yang kita tetakan sendiri) maka anak tidak akan belajar untuk mengikuti aturan sejak dini. So, saya tidak punya pilihan…. selain bermain secara <em>fair</em>!</p>
<p>Sejujurnya, hal ini sempat menjadi momok juga buat saya, karena sejak itu saya tidak bisa lagi bersantai-santai di dalam kamar. Dengan otak cerdiknya, Lentera kecil-saya mulai berfikir bahwa kamar adalah tempat khusus untuk menyusu. Jadi, kalau kami berdua sedang berada di dalam kamar, artinya itu waktunya dia untuk menyusu! Wah, repot juga yah! Tapi sama seperti menjalani masa menyusui, menyapih juga membutuhkan komitmen.</p>
<h3>SELANJUTNYA, SIAPKAN TUBUH..</h3>
<p>Tubuh saya adalah bagian selanjutnya yang saya benahi. Sebelum betul-betul menyapih, hal yang pertama saya lakukan adalah mengurangi frekuensi memerah saat terpisah dari bayi. Setelah usia Lentera kecil-saya 20 bulan, Saya mulai mengurangi frekuensi memerah. Sejak menginjak tahun ke-duanya, kebutuhan nutrisi Lentera kecil-saya lebih difokuskan berasal dari makanan, sehingga jatah ASI perah yang diminum pun berkurang. Jika dulu dia minum sebanyak 500cc selama terpisah dari saya, pada masa ini dia hanya minum 200-300cc ASI perah. Namun, saat bertemu dengan saya, dia masih bisa mereguk ASI semaunya.</p>
<p>Ternyata, mengurangi frekuensi yang saya lakukan terbilang cukup drastis. Sebelumnya, saya memerah tiap hari (tentu saja, karena saya terpisah darinya setiap hari dari Senin hingga Jum’at).. akhirnya saya putuskan hanya akan memerah pada hari Senin, Rabu dan Jum’at dengan dua kali perah setiap harinya. Alhasil, saya terserang payudara bengkak! Semoga Anda tidak mengulangi kebodohan saya ini, mungkin lebih baik kalau mengurangi frekuensi memerah dari dua kali menjadi hanya sekali dulu, baru dilanjutkan dengan mengeliminir jumlah harinya.</p>
<p>Namun, terserang payudara bengkak ini justru baik buat saya (tapi belum tentu baik buat Anda, loh!) karena kalau tidak begitu, mungkin saya tidak akan memijat payudara saya. Hal ini cukup penting untuk mengeluarkan ASI yang berlebih (<em>over-supply</em>).</p>
<p>Ada yang bilang, kalau produksi ASI menjelang masa menyapih tersebut sudah sedikit serta tidak mengakibatkan payudara bengkak, maka tidak perlu memijat. Menurut saya, memijat itu tetap perlu tanpa memperhatikan ASI Anda banyak atau sedikit. Karena pemijatan pada payudara dapat membantu melancarkan aliran darah dan tentu saja termasuk aliran ASI, sehingga pada saatnya ASI berhenti diproduksi, payudara tidak dengan kondisi memiliki aliran yang tersumbat yang mungkin dapat bermasalah di kemudian hari.</p>
<h3>SIAPKAN SI KECIL, SEBAB DIALAH AKTOR UTAMANYA!</h3>
<p>Sebenarnya, saat Lentera kecil-saya belum genap 24 bulan. Saya mulai sering berbicara tentang kebahagiaan saya mengingat dirinya sudah bertumbuh besar dan pintar. Saya sering memuji dia. Saya sempatkan untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama dia. Jalan pagi bersama, ketawa-ketawa bersama, baca buku bersama, mandi bersama serta beragam kegiatan lain.</p>
<p>Setelah Lentera kecil meniup lilin ulang tahunnya yang kedua, saya semakin sering menyinggung-nyinggung bahwa seorang kakak minumnya air putih, sama seperti mama, papa, juga mbak (pengasuhnya, red.). Tentunya dengan cara-cara yang konyol, misalnya :</p>
<blockquote><p>Lentera kecil (L) : “ma, imik maaaa…”<br />
Saya (S) : “haaaa? iiii-mik?” (memasang tampang kaget dan ekspresi konyol……)<br />
L : “hahahahahaha…” (tertawa terbahak-bahak)<br />
S : (ikut tertawa, bahkan lebih keras dari tawanya)<br />
L : “imik, maaa….” (senyuman masih tersungging di bibirnya)<br />
Saya tahu, jika sudah begini… bukan lagi menyusu yang diinginkannya tapi ekspresi konyol saya.<br />
S : “aduh.. aduh…. iiiiiiiiiii-miiiiiiiiiiiik?????” (berpolah lebih konyol lagi dari sebelumnya) “anak cantik yang sudah besar, minumnya air putih…. okeiiii??? sama kayak mama, nih! air putih… woooow, enaaaakkk!!” (sembari menuangkan air putih ke dalam dua gelas).<br />
S : (berjongkok di hadapannya, menegak air dalam gelas sambil membuat bunyi tegukan yang keras lalu mendesah seolah-olah air putih itu nikmat sekali rasanya, kemudian menyodorkan gelas satu lagi kepadanya) “Lentera mau?”<br />
L : “mau!” (menyambut gelas yang saya sodorkan dan langsung mereguknya dengan rakus, kelihatannya dia memang haus sekali)</p></blockquote>
<p>Biasanya, kalau sedang sangat ingin menyusu.. cara ini tidak mempan. Itu artinya, Lentera kecil memang betul-betul sedang ingin menyusu. Namun, beberapa kali trik ini saya praktekkan cukup ampuh untuk mengalihkan perhatiannya. Biasanya dengan pilihan kata yang berbeda, serta ekspresi kekonyolan yang berbeda pula. Misal, saat merespon permintaannya untuk pertama kali, saya bahkan berpura-pura kaget sampai melompat mundur dengan lompatan gaya kera yang ekornya terjepit <em>(Anda bisa membayangkannya? Saya tidak, tapi saya bisa mempraktekkannya) </em>Tak ayal, hal ini bisa membuat Lentera kecil terpingkal-pingkal dan kemudian melupakan sesi menyusu. Bahkan ada kalanya kata-katanya yang seperti meminta menyusu itu seperti <em>magic word</em> untuk ‘ngerjain saya’, karena dia menolak saat saya sodorkan air putih namun tidak pula melanjutkan memaksa untuk tetap menyusu.</p>
<h3>LALU, SAAT LILIN BERANGKA DUA TELAH DITIUP..</h3>
<p>Saatnya permainan dimulai. Saat Lentera kecil minta menyusu di siang hari, saya ingatkan bahwa dia sudah besar.. bahkan lilin berangka dua itu pun sudah ditiup. Biasanya, Lentera akan berhenti merengek sejenak, seperti berusaha mengingat kejadian itu mungkin? Saya lalu berkata, ”Lentera…. lupa ya?” Biasanya, dengan latah dia akan mengulang kata-kata saya sembari menganggukkan kepala, “lupa!”. Kemudian saya sodorkan segelas air putih, “kalau sudah tiup lilin angka dua, berarti sekarang kalau haus, minumnya air putih, okei?” Biasanya, dengan latah juga dia mengulangi kata terakhir yang baru saja saya ucapkan, ”okei!”.</p>
<p>Malam hari, adalah masa paling berat untuk kami berdua, karena Lentera biasa ‘dininabobokkan’ sambil disusui. Lalu saya coba cara lain yang mungkin bisa mengalihkan perhatiannya, yakni merayunya dengan pijatan. Awalnya, dia menolak. Karena setelah sekian lama tidak memijat tubuhnya, mungkin dia merasa tidak nyaman saat jari-jari saya menggerayangi permukaan tubuhnya. Dulu, waktu masih orok, Lentera setiap hari saya pijat. Lalu berhenti, saat dia mulai aktif dan lebih senang ditidurkan sambil disusui.</p>
<p>Tapi usaha tidak boleh berhenti sampai di sana. Esok harinya, saya coba lagi. Masih menolak. Akhirnya, pada hari ke-5, barulah Lentera kecil setuju dengan pijatan ini. Tapi saya hanya boleh memijatnya di bagian jempol kaki, setelah jempol kaki yang kiri lalu yang kanan kembali lagi ke kiri dan balik ke kanan, begitu seterusnya sampai dia tertidur.</p>
<p>- Tapi tidak langsung nyenyak sih, satu jam kemudian terbangun, lalu guling kiri dan kanan, seperti orang sedang mimpi buruk. Biasanya, saya coba merangkulnya (posisi saya berbaring di sampingnya, kepalanya saya letakkan pada lengan saya dan saya memeluk bagian lehernya dengan posisi tidur Lentera memunggungi tubuh saya, lalu saya tepuk-tepuk ringan pantatnya) sampai dia tenang kembali dan tertidur. Cara lain adalah dengan digendong dan ditimang-timang, posisi gendong kangguru menghadap ke saya, sampai dia terlelap kembali baru bisa saya baringkan pada kasur. –</p>
<p>Lama kelamaan, saya bosan juga dengan hanya memijat jempol kakinya, lalu saya mencoba membalikkan badannya, saya beri pijatan a la tsiatsu (eh, tidak sampai segitunya sih!). Ternyata pijatan punggung lebih asik, Lentera malah lebih cepat jatuh tertidur. Tapi cara-cara seperti ini tidak bisa setiap malam dilakukan, karena Lentera cepat bosan. Besoknya harus cari pijatan gaya baru, atau diganti dengan membaca buku (lebih tepatnya membalik-balik halaman, karena belum selesai satu halaman dibaca, pasti dia sudah minta ganti halaman baru.. jadi saya ikuti saja apa maunya).</p>
<p><img class="right size-medium wp-image-136" title="12-senam" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/12/12-senam-300x165.jpg" alt="Senam" width="300" height="165" />Atau saya mencoba cara lain, yakni mengajaknya senam bersama sebelum tidur. Pada akhirnya, Lentera akan tertawa-tawa dan tidak jadi mengantuk. Meski cara ini tidak terlalu efektif untuk meninabobokkannya, tapi cukup membantu membuatnya merasa kelelahan dan lebih mudah tertidur beberapa saat kemudian.</p>
<p>Lalu, saat tengah malam terbangun minta menyusu, pertama saya tawarkan dulu air putih. Jika dia mau meminumnya, tak lupa saya memujinya, “aduh, aduh.. pintarnya anak cantik! Minum sekali lagi, nak.. pintar sekali, anak mama yang cantik ini…. sudah besar yaaaa, minumnya air putih.” Kata-kata pujian seperti itu yang sering saya bisikkan di telinganya setiap kali dia ‘setuju’ untuk minum air putih saja. Setelah itu, saat dia akan tertidur kembali.. saya kecup keningnya sambil berkata, <span style="#c00000;">“I love you, baby.”</span> Tak lama mulai terdengar desahan berat nafasnya, pertanda Lentera kecil-saya itu sudah terlelap kembali.</p>
<h3>OHYA SATU LAGI, JANGAN LUPAKAN SI PAPA!</h3>
<p>Peran si Papa ternyata cukup efektif untuk melancarkan misi penyapihan ini. Saat malam tiba, Lentera beberapa kali terbangun untuk minta menyusu. Padahal saya sekali dua kali menghisap, lalu ia terbuai kembali. Begitu terus, hingga beberapa kali sampai ayam tetangga protes (maksudnya, karna hari sudah pagi..). Jadi, si Papa kemudian akan ikut terbangun dan menyodorkan segelas air, bisa dengan menggunakan sedotan, atau langsung dari cangkir. Dengan wajah teler, bahkan matanya pun tetap terpejam, Lentera menyeruput air putih dari cangkir yang disodorkan si Papa.</p>
<p>Biasanya Lentera lebih menerima jika orang lain (bukan maksudnya si Papa adalah orang lain, loh.. tapi, orang selain ibunya.. nah, pilihan kata ini lebih tepat sepertinya) yang menawarkannya air putih. Karena kalau saya yang menawarkan, biasanya Lentera lebih sering mengamuk dan menangis kencang dan kemudian saya menjadi tidak punya pilihan selain menyusuinya. Khususnya saat awal-awal masa menyapih berlangsung.</p>
<h3>NAH, SEBAGAI PENUTUP..</h3>
<p>Inti dari obrolan panjang lebar ini sebenarnya adalah, dan saya fikir ini bisa juga berlaku untuk banyak hal lain, jika Anda ingin agar anak Anda ‘berhenti’ melakukan sesuatu (bahkan yang sudah menjadi kebiasaan sekalipun), maka berikan gantinya. Jika kita hanya berkata <strong><span style="#00b050;">’itu tidak boleh’</span></strong> tapi tidak memberikan solusi apa-apa, maka anak tidak akan mengerti bagaimana dia harus berhenti melakukan hal tersebut. Jadi, jika ingin anak berhenti menyusu, cari gantinya (maksud saya, ganti kegiatan menyusu dengan kegiatan lain.. bukan sekedar mengganti ASI dengan susu lain). Semoga cerita ini bermanfaat yah.</p>
<p>Mari kita tutup sesi menyusui dengan penuh kasih.</p>
<p>Salam ASI.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/12/menyapih-dengan-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

