<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia &#187; Tengku Arisma Mellina</title>
	<atom:link href="http://aimi-asi.org/author/arisma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aimi-asi.org</link>
	<description>Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 01:59:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Australian Breastfeeding Association (ABA) International Conference</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 00:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tengku Arisma Mellina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ABA]]></category>
		<category><![CDATA[Australian Breastfeeding Association]]></category>
		<category><![CDATA[Conference]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1672</guid>
		<description><![CDATA[Syukur Alhamdulillah saya dapat mengikuti konferensi internasional yang di selenggarakan oleh Australian Breastfeeding Association (ABA) di Canberra tanggal 20 &#8211; 21 Oktober 2011 dengan tema “Step Up Reach Up: Developing an Inclusive Breastfeeding Society“. Peserta konferensi sebagian besar berasal dari Australia, baik para relawan ABA maupun tenaga medis. Perwakilan dari Indonesia antara lain dr. Asti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syukur Alhamdulillah saya dapat mengikuti konferensi internasional yang di selenggarakan oleh <em>Australian Breastfeeding Association (ABA)</em> di Canberra tanggal 20 &#8211; 21 Oktober 2011 dengan tema “<em>Step Up Reach Up: Developing an Inclusive Breastfeeding Society</em>“. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1674" />Peserta konferensi sebagian besar berasal dari Australia, baik para relawan ABA maupun tenaga medis. Perwakilan dari Indonesia antara lain dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC, dr. B. Wirastari, SpA, IBCLC dan saya sendiri sebagai perwakilan dari AIMI.</p>
<p>Senang sekali rasanya berkesempatan untuk bertatap muka langsung dengan beberapa “petinggi” di ABA untuk mengenalkan AIMI. Respon dari mereka sangat positif. AIMI mengingatkan mereka pada ABA pada tahun 1964, saat didirikan oleh beberapa orang saja dan saat ini sudah menjadi organisasi skala nasional yang besar. Mereka optimis AIMI akan menjadi sebesar ABA karena apa yang dilakukan AIMI adalah hal yang mulia dan didukung oleh orang banyak. Amiiin ☺</p>
<p>Sebelum konferensi dimulai pada tanggal 20 Oktober 2011, saya mengikuti workshop Pra-konferensi yang diselenggarakan pada tanggal 19 Oktober 2011 di National Gallery of Australia, Canberra. Dari ketiga pilihan workshop:</p>
<p>a.	Baby Friendly Initiatives<br />
b.	Communication Skills to Support Breastfeeding<br />
c.	Breastfeeding Essentials for Medical Practitioners</p>
<p>Saya memilih workshop yang kedua. Workshop “<em>Communication Skills to Support Breastfeeding</em>” dibawakan oleh Janet Sullivan (Cert IV Breastfeeding Education (counseling &#038; community), Cert IV Training &#038; Assessment, Diploma of Training &#038; Assessment) dan Janette Timmermans (IBCLC, Cert IV Breastfeeding Education, Facilitator Breastfeeding Drop-in Centre).</p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-2-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference-2" width="300" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1676" />Workshop ini di selenggarakan dengan cara presentasi yang interaktif dengan role-play dan diskusi terbuka. Tujuan dari workshop ini pengkinian teknik konseling dan juga sharing pengalaman melakukan konseling antar sesama konselor menyusui. Ada beberapa hal yang menarik dari workshop ini. Misalnya, ternyata di Australia produk formula yang ada label paling tinggi tingkatannya “gold” sedangkan di Indonesia sudah “platinum”. Kalau dari artinya sih kelihatannya lebih bagus yang platinum ya. Tapi dalam hal ini hanyalah sebuah nama untuk kepentingan komersil saja, jadinya sedih deh ☹. Hal lain yang menarik yaitu, ternyata di Indonesia lebih bebas untuk dapat menyusui di tempat umum terlebih belakangan ini sudah semakin banyak fasilitas ruang menyusui di tempat-tempat umum. Sedangkan di Australia sendiri, masih susah untuk dapat menysui di tempat umum tanpa mendapat pandangan yang sinis atau tidak menyenangkan. Bahkan di tempat-tempat umum seperti restoran, ibu yang sedang menyusui akan di tegur oleh pelayan atau manager restoran dengan alasan bukan tempat yang tepat untuk menyusui. Untuk hal ini, saya sangat bersyukur Indonesia lebih baik.</p>
<p><strong>Konferensi</strong></p>
<p>Waah deg-degan banget  waktu datang ke National Convention Centre pada 20 Oktober 2011 jam 8:30 pagi. Tempatnya sangat besar dan pesertanya banyak banget. Untuk daftar ulang saja, dari abjad A sampai Z antrian panjang semua. Pemandangan yang menyenangkan terlihat dimana ada panitia yang melayani peserta konferensi dengan ramah sambil menggendong bayinya. Selain itu, pada saat Opening Plenary session, peserta berlomba mencari tenpat duduk di paling depan. Peserta yang membawa stroller mendapat kemudahan untuk dapat duduk di depan. Selama acara berlangsung pun sangat bebas bagi peserta untuk menyusui  dan duduk di bawah bersama anaknya (ada juga yang selonjoran di dekat pintu keluar). Hal-hal ini tidak mengurangi konsentrasi peserta lain untuk mendengarkan seluruh presentasi yang diberikan oleh narasumber.</p>
<p>Konferensi dibuka oleh Mrs. Jannette Philips dengan pidato “<em>Welcome to Country</em>”. Kemudian opening speech dibawakan oleh Tara Moss, mantan model Australia, penulis novel kriminal dan UNICEF Patron for Breastfeeding. </p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-tara-moss-300x225.jpg" alt="" title="12-tara-moss" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1679" />Opening speech Tara Moss “<em>A new Role and an old debate</em>” sangat inspiratif terutama bagi ibu baru. Tara menceritakan bagaimana dia mulai peduli tentang menyusui pada saat ia melahirkan putri pertamanya. Pada masa kehamilan, ia cemas karena akan merasa malu jika menyusui di tempat umum. Ia pun dihantui cerita-cerita “horror” mengenai menyusui. Setelah mengetahui lebih dalam tentang menyusui, ia sangat terkesima dengan kenyataan bahwa ASI bukan hanya sebagai sumber nutrisi bagi bayinya tapi juga mengandung stem cells and antibodi. Tara juga takjub bahwa menyusui adalah kegiatan yang sangat natural dan menyenangkan bagi ibu dan bayi. </p>
<p>Dalam pidatonya, Tara mengutip kalimat dari Helena Bonham Carter (aktris pemeran Belatrix di film Harry Potter): </p>
<blockquote><p>“People say, ‘you’re still breastfeeding, that’s so generous. Generous, No! It gives me boobs and it takes my thighs away! It’s sort of like natural liposuction. I’d carry on breastfeeding for the rest of my life if I could”.</p></blockquote>
<p>Peserta bertepuk tangan setelah Tara mengucapkan kalimat tersebut. Suatu kalimat yang “dibenarkan” oleh  banyak ibu-ibu yang berhasil menyusui. Pidato Tara Moss dapat dibaca di blog pribadinya <a href="http://blog.taramoss.com/">http://blog.taramoss.com</a> (<a href="http://blog.taramoss.com/index.php?itemid=679">23/10: A new role and and old debate</a>).</p>
<p>Selanjutnya presentasi dari Prof. Peter Hartmann dari Human Lactation Research Group dengan tema “<em>Developing an inclusive breastfeeding society in Australia</em>”.  Prof. Hartmann menyinggung mengenai &#8220;<em>why breast beats formula</em>&#8221; atau mengapa menyusui mengalahkan formula. Salah satu diantaranya adalah menyusui dapat meningkatkan IQ ibu. Prof. Hartmann menyebutkan hasil riset Kingsley CH and Lambert KG (2006) yang dipublikasikan dalam Journal of Scientific American 294:58-65 (the maternal brain): </p>
<blockquote><p>“Perubahan pada otak wanita yang disebabkan hormon di masa kehamilan, kelahiran dan menyusui membuat para ibu lebih berhati-hati dan penyayang. Selain itu, kemampuan belajar dan memori spasial menunjukkan peningkatan dalam jangka panjang&#8221;.</p></blockquote>
<p>Berikutnya Randa Saadeh dari WHO memberikan presentasi berjudul “<em>Breastfeeding and Child Survival: Translating Policies into Action</em>” yang dilanjutkan dengan morning tea.</p>
<p>Pada hari kedua, plenary session diisi dengan presentasi dari Dr. Suzanne Colson dari Church University, England mengenai “<em>Biological Nurturing and The Laid-Back Breastfeeding Revolution: The Research Evidence</em>”. Dr. Colson memperkenalkan sebuah revolusi terbaru dalam menyusui, yaitu posisi menyusui “<em>laid back</em>” atau bersandar yang membuat ibu lebih rileks, bayi dapat menyusu/melekat sendiri, ruang untuk bayi menyusui juga lebih luas karena perut ibu menjadi lebih panjang. Berbagai informasi mengenai <em>Biological Nurturing</em> dan <em>Laid-Back Position</em> dapat dilihat di <a href="http://www.biologicalnurturing.com/">www.biologicalnurturing.com</a>.</p>
<p>Dalam konferensi dua hari ini terdapat 24 sesi yang dapat dipilih oleh peserta. Sayangnya, peserta hanya bisa memilih 2 sesi per hari, padahal semua tema sangat menarik. Dengan penuh kebingungan mau memilih yang mana akhirnya saya memilih:</p>
<ol>
<li><strong>Breastfeeding Support in Challenging Circumstances</strong>. Dibawakan oleh 3 narasumber. Gwen Moody dari Westmead Hospital, NSW, berbicara mengenai penanganan ibu yang sakit tetapi tetap menyusui. Judy Russel dan Ms. Anita Moorhead dari Royal Women’s Hospital Melbourne, Victoria, berbicara mengenai rumah sakit yang mendukung dan yang tidak mendukung menyusui. Dan yang terakhir – dan menurut saya paling menarik &#8211; yaitu presentasi dari Dr. Lenore Goldfarb dari Goldfarb Breastfeeding Clinic, Montreal, Quebec, Kanada mengenai “Induced Lactation”, seorang ibu yang mengadopsi anak pun bisa menyusui bayinya. Pada saat sesi tanya jawab, Dr. Goldfarb menegaskan bahwa tidak ada yang bisa menentukan berasa lama fase kolostrum menjadi asi matang, karena setiap ibu berbeda dan yang tahu hanya bayinya.  Jadi, proses menyusui harus dilakukan dari awal dan tidak berhenti.</li>
<li><strong>Breastfeeding Support, what mothers want and what works</strong>. Dengan 3 narasumber dari ABA breastfeeding help-line yaitu Ruth Berkowitz, Debbie Yates dan Nerida May, sebagai Managers ABA Breastfeeding Help-line. Ruth Berkowitz menerangkan bagaimana tipe-tipe penelepon selama 20 tahun dan bagaimana konselor menyusui menanganinya. Debbie Yates dan Nerida May menjelaskan mengenai hotline menyusui 24 jam dengan nomor telepon 1800-mum-2-mum. Hotline ini sebagian disponsori oleh pemerintah dan perusahaan telekomunikasi sehingga dapat berkembang hingga jangkauan nasional dan sistematis. Profil penelepon terbanyak yaitu ibu (98%), dengan 1 anak (69%), berumur 34-42 tahun (42%) dan tinggal di kota (76%). Pertanyaan–pertanyaan yang sering ditanyakan antara lain permasalahan puting dan payudara (24,4%), meyakinkan ibu (18,7%), posisi dan pelekatan (10%), khawatir ASI sedikit (19,4%), memerah dan menyimpan asi (15%) dan lamanya menyusui (11%). Yang menarik, pertanyaan-pertanyaan tersebut juga merupakan pertanyaan yang umum ditanyakan dalam konseling melalui telepon ke AIMI. Jadi setidaknya di dua negara (Indonesia dan Australia) permasalahan ibu menyusui sama dan solusi yang ditawarkan pun sama.</li>
<li><strong>Evidence Based Management of Three Breastfeeding Issues</strong>. Tiga masalah dalam menyusui yang dibahas disini salah satunya All Burns is not Thrush oleh Dr. Moira McCaul dari Adeleide Health Care. Catatan penting dari presentasi ini adalah perlunya pengamatan lebih jauh jika menemukan permasalahan dengan puting, akan tetapi umumnya disebabkan oleh pelekatan yang kurang tepat. Pelekatan yang kurang tepat bisa juga disebabkan bayi memiliki tongue tie. Presentasi kedua dibawakan oleh Lynette Slatter dari Royal Women’s Hospital, Melbourne mengenai Tongue Tie, Score Low-Score High, Way to Go? Topik yang paling menarik karena sedang menjadi perdebatan di kalangan medis juga umum, teruatama dalam hal menyikapi tongue tie/ankyloglossia atau tali lidah pendek. Dikutip dari buku “Tongue Tie and Breastfeeding: a review of the literature” (J. Edmunds, S. Miles and P. Fulbrook, 2001):</li>
<ul>
<li>Tongue tie secara negatif mempengaruhi proses menyusui, </li>
<li>Jika tidak ada pengaruh terhadap proses menyusui, maka tidak perlu dilakukan tindakan apapun, </li>
<li>Bukti menunjukkan bahwa jika tongue tie mempengaruhi proses menyusui, maka frenotomi dapat membantu dan merupakan prosedur yang sederhana, aman dan efektif,</li>
<li>Bukti kurangnya konsensus mengenai manajemen tongue tie dengan beberapa tenaga medis tidak mendukung intervensi bedah,</li>
<li>Adalah penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya keefektifan dan keamanan frenotomi </li>
</ul>
<p>Selanjutnya adalah presentasi dari Carole Dobrich dari Goldfarb Breastfeeding Clinic, Canada, mengenai <em>Breasfeeding Mothers and Open Nipple Wounds, Standard Care vs Novel Treatment</em>, yang lagi-lagi menyinggung mengenai salah satu penyebab utama dari puting luka adalah karena pelekatan yang kurang tepat.</p>
<li><strong>Removing Barriers to Breastfeeding</strong>. Diambil dari The Victorian Breastfeeding Project serta presentasi mengenai peranan ayah dalam mendukung menyusui di kebudayaan yang berbeda (Australia, Jepang, China, Vietnam, Malaysia dan kepulauan Maldives). Menurut penelitian, dukungan ayah terhadap proses menyusui masih sangat kurang terutama di kalangan muda. Padahal peranan ayah sangat penting dalam menentukan keberhasilan menyusui. Dukungan suami adalah dukungan yang paling besar dampaknya. Untuk itu, sangat diperlukan sosialisasi peranan penting seorang ayah mendukung istrinya menyusui.</li>
</ol>
<p>Konferensi ditutup dengan diskusi panel bersama seluruh narasumber, mengenai dukungan untuk ibu menyusui.</p>
<p>Diluar ruang konferensi, terdapat beberapa booth dari sponsor, ABA, Lactation Resource Centre, Mothers Direct, IBCLE (International Board of Lactation Consultant Examiners). Juga terdapat presentasi poster dari beberapa negara.</p>
<p><strong>Konselor Menyusui, Sahabat Ibu Menyusui</strong></p>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2011/12/12-ABA-Conference-3-300x300.jpg" alt="" title="12-ABA-Conference-3" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1677" />Pengalaman ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Kesempatan yang sangat jarang dimana saya dapat bertemu dan mendengar langsung berbagai informasi dari para pakar laktasi. </p>
<p>Belum lagi kesempatan bertukar cerita dan pengalaman dengan para konselor menyusui dan sukarelawan ABA.  AIMI yang umurnya belum sampai 5 tahun dapat belajar banyak dari pengalaman mereka yang sudah terjun langsung mendampingi dan mendukung ibu menyusui dengan <em>peer-to-peer support</em> selama hampir 50 tahun.</p>
<p>Dari semua teori dan hasil penelitian yang telah dipaparkan, yang terpenting bagi seorang konselor menyusui adalah menjadi sahabat bagi ibu menyusui, yang mendukung dan memberikan informasi yang relevan. Peranan peer-group, antara sesama ibu juga sangat dirasakan manfaatnya. Para ibu menyusui dalam kelompoknya dapat saling menguatkan dan mendukung karena berada pada satu level yang sama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/12/australian-breastfeeding-association-aba-international-conference/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Manajemen &amp; Konseling Laktasi</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2011/04/pelatihan-manajemen-konseling-laktasi/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2011/04/pelatihan-manajemen-konseling-laktasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 01:30:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tengku Arisma Mellina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[konseling laktasi]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen laktasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>
		<category><![CDATA[rsud koja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=1339</guid>
		<description><![CDATA[RSUD Koja bersama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) kembali akan mengadakan Pelatihan 40 Jam Manajemen dan Konseling Laktasi, modul WHO/UNICEF. Pelatihan ini terbuka bagi siapa saja yang tertarik akan ilmu laktasi dan konselingnya serta ingin menjadi Konselor Laktasi. Yang berbeda dengan pelatihan sebelumnya adalah, kali ini terdapat dua gelombang yang dapat di pilih sesuai dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>RSUD Koja bersama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) kembali akan mengadakan Pelatihan 40 Jam Manajemen dan Konseling Laktasi, modul WHO/UNICEF.  Pelatihan ini terbuka bagi siapa saja yang tertarik akan ilmu laktasi dan konselingnya serta ingin menjadi Konselor Laktasi.</p>
<p>Yang berbeda dengan pelatihan sebelumnya adalah, kali ini terdapat dua gelombang yang dapat di pilih sesuai dengan kesanggupan dari calon peserta.</p>
<p>Periode 1 : 15,18,19,20 dan 21 April 2011 (waktu :8:00 – 17:00)<br />
Periode 2 : 25,26,27,28 dan 29 April 2011 (waktu : 8:00 – 17:00)</p>
<p>Bertempat di : RSUD Koja, Jl. Deli no. 4, Jakarta Utara</p>
<p>Biaya : Rp. 1,500,000 ( ini harga subsidi lhooo..)</p>
<p>Bagi yang berminat silahkan langsung mendaftakan dirinya via email ke ari[at]aimi-asi.org, serta melakukan transfer pembayaran ke :</p>
<blockquote><p> Atas nama : Sadiah (Kepala Diklat RSUD Koja)<br />
 Nama Bank : Bank DKI KK RSUD Koja<br />
 No. Rek : 203.20.00635.4</p></blockquote>
<p>Pembayaran dilakukan paling lambat hari <strong>Minggu, 10 April 2011, pukul 12:00 malam</strong>. Bukti transfer harap di scan dan dikirimkan ke ari[at]aimi-asi.org.      </p>
<p>Kursi diberikan bagi pendaftar yang sudah melakukan pembayaran. Apabila pendaftar belum melakukan pembayaran, maka kursinya akan diberikan kepada mereka yang sudah membayar,walaupun mendaftarnya di saat terakhir.</p>
<p>Pelatihan ini merupakan kerjasama RSUD Koja dengan AIMI, sehingga yang lulus dari pelatihan ini akan menjadi Konselor Laktasi AIMI. Oleh karena itu kami mendahulukan calon peserta yang telah menjadi member AIMI. Jika belum menjadi member AIMI, bisa mendaftarkan dirinya untuk menjadi member AIMI ke yuwenta[at]aimi-asi.org atau sekretariat[at]aimi-asi.org (masih ada waktu yaa..)</p>
<p>Tempat sangat terbatas! Ayooo daftar sekarang yaa <img src='http://aimi-asi.org/wp/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Salam ASI,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2011/04/pelatihan-manajemen-konseling-laktasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Berhasil Menyusui? Anda perlu TIM SUKSES!</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 04:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tengku Arisma Mellina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Breastfeeding Father]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[Bukan hanya Pemilihan Kepala Negara, Kepala Daerah atau bahkan Ketua Partai saja lhoo yang memerlukan Tim Sukses. Menyusui juga perlu Tim Sukses untuk mengantarkan bayi kita menjadi sarjana S1, S2, bahkan S3 ASI! Ikuti sharing salah satu Konselor Laktasi AIMI mengenai pentingnya dukungan orang terdekat agar sukses menyusui.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selintas, menyusui terlihat sebagai kegiatan yang dilakukan oleh ibu dan bayi-nya saja, tetapi jika kita perhatikan lebih seksama, ada beberapa pihak yang memiliki peranan yang besar di dalam kegiatan menyusui, selain sang ibu dan bayi-nya. Mereka itu adalah suami, orangtua, mertua, keluarga besar, sahabat, bahkan rekan kerja dan tetangga. Adanya dukungan dari berbagai pihak merupakan salah satu kunci agar ibu dapat berhasil menyusui bayinya. Mereka adalah Tim Sukses ibu menyusui.</p>
<h3>Cerita Tim Sukses Saya</h3>
<p>Saya sangat menikmati kegiatan menyusui anak saya, Ba’i, hingga dia menyapih sendiri (33 bulan). Bagi saya menyusui bukanlah beban, ataupun kendala, karena saya selalu didampingi dan dukung oleh suami dan keluarga, terutama ibu.</p>
<p>Saat Ba’i lahir, pengetahuan saya akan ASI dan menyusui sangat minim. Bekal saya hanyalah tekad, tekad untuk menyusui bayi saya hingga berumur dua tahun.</p>
<p>Bermodal tekad saja ternyata tidak cukup, saya merasa masih masih perlu mengumpulkan informasi mengenai ASI serta dukungan dari orang terdekat. Saya merasakan sendiri, kekuarangan informasi ternyata berdampak tidak baik bagi saya maupun Ba&#8217;i sejak awal kelahiran. Saat itu, saya dan Ba&#8217;i sudah dipisahkan sejak kelahirannya. Kami baru bertemu kembali setelah enam jam pasca kelahiran. &#8220;Supaya ibu bisa istirahat. Tentunya ibu lelah sekali setelah melahirkan,&#8221; begitu kata seorang tenaga kesehatan ketika saya katakan bahwa saya ingin bertemu dengan bayi saya. Minimnya informasi yang saya punya, membuat saya HARUS pasrah dengan keadaan. Tak hanya itu, sejak awal kelahiran pun Ba&#8217;i sudah diberikan susu formula oleh pihak rumah sakit tanpa seijin dan sepengetahuan kami. Ingin marah rasanya.</p>
<p>Adalah suami saya yang ber-inisiatif untuk memberikan perahan kolostrum dan perahan ASI ke ruangan bayi <img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/06/06-the-A-team.jpg" alt="" title="06-the-A-team" width="200" height="300" class="alignright size-full wp-image-775" />sebelum jadwal minum sufor oleh perawat. Suami mengetok ruangan perawat untuk mengambil pompa dan corongnya, setelah di perah, ASIP langsung di bawa ke ruang bayi dan minta ke susternya untuk segera diberikan langsung ke Ba’i. Hal ini terus dilakukan setiap 2 jam, bahkan tengah malam pun, suami tetap ke ruangan perawat (yang beda lantai) untuk meminta corong yang steril, membangunkan saya untuk memerah dan membawa perahannya ke ruangan bayi. Alhamdulilah, meskipun Ba’I terkena susu formula, tapi dengan semangat suami membantu memberikan ASI perah dan menyemangati saya untuk terus memerah, ASIP saya bisa “menyalip” waktu pemberian sufor.</p>
<p>Permasalahan lain muncul, ketika dokter spesialis anak (DSA) mendiagnosa Ba’i kuning karena kadar bilirubinnya tinggi (padahal setelah saya pelajari, ternyata angka tersebut masih normal). DSA mengatakan penyebab dari kuning karena golongan darah saya dan Ba’i berbeda. Saya B dan Bai O (lagi-lagi setelah saya baca dan konsultasi dengan pakar laktasi, ternyata perbedaan golongan darah B dan O tersebut bukan penyebab jadi kuning, berbedaan rhesus dan golongan darah AB-O yang mungkin dapat menyebabkan bayi kuning, itu pun dengan bilirubin yang langsung tinggi). Dokter kemudian menyarankan saya untuk menghentikan pemberian ASI sampai lima hari dan juga di bluelight. Saat itu DSA ini seperti “menindas” dengan kata-katanya yang menyindir karena saya tetap ingin memberikan ASI. Dia bahkan tidak melihat saya ketika sedang berbicara dan lebih memilih berbicara kepada suami dan ibu saya. Rasanya kesal sekali, merasa tidak di dengar dan tidak di perhatikan. Untung di saat seperti ini suami dan ibu saya terus mendukung saya memberikan ASI.</p>
<p>Ibu saya berpendapat, ”Rasanya tidak mungkin ya, Allah SWT memberikan &#8216;racun&#8217; untuk mahluk ciptaannya, apalagi yang baru lahir. ASI kan keluar dengan sendirinya setelah ibu melahirkan, berarti itu pemberian Allah SWT untuk bayi melalui sang ibu, jadi memang ASI yang harus diberikan kepada bayi, bukan susu formula”. Dari pemikiran ini, saya dan suami semakin mantap untuk terus menyusui, walaupun setiap hari dokter bilang, “Bu, billirubinnya lebih tinggi dari kemarin, ini karena ibu masih tetap memberikan ASI lho?!” Saya sempat ragu, tapi suami kembali mengingatkan untuk tetap menyusui. Di samping itu, ibu saya pun mencari-cari informasi mengenai bayi kuning ke beberapa temannya yang ber-profesi sebagai dokter. Hasil yang didapat, tenyata justru hanya ASI-lah yang dapat membantu mengeluarkan bilirubinnya. Pemberian susu formula justru akan memperberat kerja pencernaan bayi yang belum sepenuhnya matang, selain itu bayi harus di siangin di bawah sinar matahari yang tidak langsung, di pagi hari. Mendengar ini, saya semakin yakin lagi untuk tetap menyusui Ba’i. Tim sukses saya (suami dan Ibu) telah berhasil membawa saya dari keraguan dan kecemasan di awal kehidupan Ba’i di dunia.</p>
<h3>Ketua Tim Sukses: Suami</h3>
<p><img src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2010/06/06-bai-ayah-makan-300x194.jpg" alt="" title="06-bai-ayah-makan" width="300" height="194" class="alignleft size-medium wp-image-774" />Menurut saya, suami sebagai salah satu pemegang kunci dari keberhasilan menyusui, suami adalah ketua tim suksesnya.  Suami saya pernah berkata bahwa ia iri setiap kali melihat saya menyusui Ba’i, karena ada kelekatan/bonding  yang sangat dalam dan hal itu tidak dapat ia lakukan bersama Ba’i. Suami saya juga khawatir jika Ba’i akan sedikit lebih “jauh” ke dia dibandingkan ke saya. Memiliki pikiran seperti itu menurut saya sangatlah wajar dan di satu sisi merupakan kebanggaan buat saya sebagai ibu bahwa bonding yang saya miliki dengan Ba’i pada saat menyusui ternyata sangat eksklusif dan tidak dapat tergantikan oleh siapapun dan apapun juga di dunia ini.</p>
<p>Saya pernah membaca buku mengenai “<em>Attachment Parenting</em>” dari William Sears, M.D. dan Martha Sears, R.N, yang menurut saya, dapat menghilakan rasa “ke-iri-an” suami saya. William dan Martha Sears berpendapat bahwa banyak hal dapat di lakukan oleh sang ayah untuk dapat menjadi terikat dengan sang bayi. Salah satunya pada saat menyusui, sang ayah akan mendapatkan keterikatan dengan bayinya pada saat menggendong, mendekap bayinya, menggantikan popok, memandikan, memijat bayinya, sebelum di serahkan ke istrinya untuk di susui. Sang ayah juga dapat merawat istrinya untuk memudahkannya menyusui (seperti melakukan pijat punggung, membuatkan secangkir teh hangat, menyiapkan bantal untuk menyangga punggung istri pada saat menyusui,dll). Membaca ini saja, kita sudah terbayang betapa indahnya suasana yang di penuhi rasa cinta ini. Bagi kita, ibu menyusui, suasana indah ini sangat dapat merangsang hormon oksitosin untuk bekerja melancarkan jalan keluarnya ASI.</p>
<p>Saya merasa sangat beruntung, karena suami mendapat “<em>paternity leave</em>” (cuti dalam tanggungan karena istri melahirkan), dari kantornya selama 4 minggu. Kesempatan ini sangat dimanfaatkan oleh kami dengan sebaik mungkin. Disaat kondisi saya belum 100% pulih, suami dengan sigap membantu menggantikan popok, memandikan Ba’i serta memberikan ASIP. Terus terang, setiap kali saya melihat suami saya merawat Ba’i, terlihat sangat indah dan momen itu sering kali membuat jadi lebih bersemangat untuk menyusui. Aneh ya? Tapi setidaknya itu lah yang saya rasakan. Ada dorongan alami yang kadang saya sendiri juga tidak menyadarinya. </p>
<h3>Wakil Kehormatan Tim Sukses : Orangtua (Ibu)</h3>
<p>Saat saya kembali bekerja, Ibu saya yang menjaga dan merawat Ba’i. Ilmu manajemen laktasi saya masih nol, sehingga saya tidak tahu harus bagaimana seharusnya mempersiapkan ASIP, dll. Adalah Ibu saya yang membuat “matematika pemberian ASIP”nya. Ibu menyarankan, sebelum masuk kerja, melakukan simulasi meninggalkan rumah selama jam kerja untuk melihat berapa kali dan berapa banyak Ba’i minum. Ibu saya menulis jam berapa saja Ba’i bangun, tidur dan berapa cc ia minum satu kalinya. Alhasil, terciptalah rumus “matematika pemberian ASIP” yang kemudian, setelah saya belajar, “matematika pemberian ASIP” a’la ibu saya itu ternyata mirip dengan “Manajemen Laktasi”.</p>
<p>Ibu saya selalu mengingatkan beberapa hal: 1. Rajin memerah ASIP, baik yang fresh untuk diberikan langsung pada hari itu dan juga untuk dimasukkan ke dalam freezer. 2. Selalu meninggalkan sejumlah ASIP di kulkas (lima-enam botol ASIP) setiap kali saya pergi ke kantor dan, 3. Selalu menanyakan jam berapa pulang kantor. Setiap mendekati jam lima sore, ibu saya sms atau menelfon, menanyakan apakah saya sudah mau pulang atau akan lembur. Jika saya bilang langsung pulang, maka Ibu saya tidak akan memberikan ASIP di jadwal selanjutnya karena di perkirakan, saya  sudah sampai di rumah, jadi menghemat satu ASIP (dengan jam yang paling baru di perah) untuk di berikan esok paginya. Suatu hari saya pernah terjebak banjir, sehingga sampai rumahnya akan sangat larut. Stok ASIP untuk hari itu tinggal satu botol lagi, ibu saya langsung mengantisipasinya dengan mengeluarkan satu botol ASIP dari freezer yang memang berfungsi sebagai ASIP untuk cadangan jika ASIP fresh yang tersimpan di kulkas bawah, habis. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata disarankan untuk mencairakan ASIP yang dari freezer secara bertahap, akan tetapi saat itu keadaannya di luar kendali saya (dan juga saya belum tau informasi mengenai ini).</p>
<p>Syukur Alhamdulilah, dengan bantuan dan dukungan dari suami dan ibu lah, saya dapat berhasil menyusui Ba’i dengan tanpa beban. Kegiatan menyusui menjadi ritual sehari-hari yang menyenangkan buat saya, walaupun di kantor saya dihujani dengan berbagai tugas dan tekanan. Produksi ASI saya juga bukan termasuk yang berlimpah lho tapi sangat cukup untuk Ba’i. Terima kasih untuk ibu saya dengan “matematika pemberian ASIPnya” dan juga terima kasih saya untuk suami yang selalu setia mendukung saya dengan bantuan-bantuan praktisnya. Mereka adalah Tim sukses saya yang telah mengantarkan Ba’i jadi Sarjana S1 dan S2 ASI!</p>
<p>Ayoo persiapkan Tim Suksesnya Moms masing-masing yaaa… </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Artikel ini telah dibaca 2389 kali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2010/06/ingin-berhasil-menyusui-anda-perlu-tim-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mudik Menyenangkan dengan MPASI Buatan Sendiri</title>
		<link>http://aimi-asi.org/2008/09/mudik-menyenangkan-dengan-mpasi-buatan-sendiri/</link>
		<comments>http://aimi-asi.org/2008/09/mudik-menyenangkan-dengan-mpasi-buatan-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 03:32:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tengku Arisma Mellina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Blue Ice]]></category>
		<category><![CDATA[Cooler Box]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Beku]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI Home Made]]></category>
		<category><![CDATA[Mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aimi-asi.org/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Saat mudik akan segera tiba! Mari kita siapkan semua kebutuhan keluarga agar mudik menjadi menyenangkan, termasuk menyiapkan MPASI buatan sendiri untuk si kecil.Kira-kira apa saja yaa yang harus dipersiapkan? Silahkan klik untuk informasi selengkapnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/09/pesawat2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-116" title="Mudik Menyenangkan dengan MPASI Buatan Sendiri" src="http://aimi-asi.org/wp/wp-content/uploads/2008/09/pesawat2.jpg" alt="MPASI,ASI,Snack,Cooler Box,Blue Ice,Mudik" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Selain menanti datangnya hari raya Idul Fitri, mudik pun menjadi suatu ritual yang sangat ditunggu-tunggu oleh kita. Terlebih lagi karena lebaran kali ini kita membawa sang buah hati untuk pertama kalinya. Namun, mudik juga dapat merusak jadwal dan kebiasaan kita dalam memberi makanan bagi si buah hati, karena biasanya kita mempersiapkannya di rumah dengan peralatan yang lengkap dan jadwal yang tetap. Kemungkinan ini dapat kita minimalkan dengan memberikan MPASI/snack selama dalam perjalanan.</p>
<p>Menjaga bayi agar tidak lapar melalui pemberian MPASI/snack pada saat mudik itu sebenarnya tidaklah sulit. Meskipun demikian, bagi yang menggunakan kendaraan darat, disarankan tidak memberi makan pada saat kendaraan sedang berjalan untuk menghindari dari kemungkinan tersedak. Khususnya pada bayi yang sering mengalami <em>motion sickness </em>(mabok), yakni mudah mengalami muntah akibat guncangan-guncangan kecil di dalam kendaraan selama perjalanan. Pemberian MPASI dapat dilakukan pada saat kendaraan menepi untuk beristirahat. Kondisi lain adalah saat terjadi kemacetan total yang cukup panjang dan lama.</p>
<p>Khusus untuk perjalanan udara, jika bayi menolak disusui atau ditutup telinganya dengan kapas saat pesawat akan mengudara atau mendarat, maka memberikan makanan adalah solusi terbaik untuk menghindari tekanan yang besar pada gendang telinga si kecil.</p>
<h3>Perjalanan Tanpa Rasa Lapar</h3>
<p>Pemberian snack/kudapan ditengah perjalanan juga merupakan pilihan yang tepat, misalnya dengan memberikan roti ataupun sayuran kukus/rebus seperti bunga brokoli, wortel stik, kentang dadu, juga tahu/tempe yang dipotong dadu.</p>
<p>Sekear tips, khusus selama perjalanan, pengenalan berbagai macam makanan distop dulu, lebih baik memberikan jenis makanan yang memang dia sukai. Karena perjalanan panjang sendiri sudah merupakan hal yang tidak menyenangkan untuk si kecil mengingat dia harus duduk terus selama perjalanan, belum lagi udara yang panas dan terik, tentu kita tidak ingin pula memperberat perjalanannya dengan memberikan makanan dengan rasa yang ‘aneh-aneh’ buat si kecil kan?</p>
<p>Untuk menambah semangat, sajikan potongan-potongan makanan tersebut dengan dekorasi yang menarik, misalnya dibuat berbentuk wajah badut, bintang, matahari, bulan, dll.. jadi mengingatkan kita akan bentuk bento (bekal makanan) lucu bikinan seorang ibu Jepang untuk anak mereka kan? Tentunya hal ini menuntut kita untuk berkreasi sekreatif mungkin yaa…</p>
<p>Taruh semua makanan/snack di dalam wadah yang kedap udara dan tahan air hangat atau jika perjalanan cukup jauh dan akan di makan dalam waktu yang lama, susunlah di dalam <em>cooler box</em> dengan <em>blue ice</em> di sekelilingnya. Saat akan disajikan, untuk mencegah kehilangan nutrisi, cukup keluarkan beberapa saat kemudian rendam di dalam mangkuk yang berisi air hangat, karena pada prinsipnya MPASI/snack tersebut sudah siap saji hanya suhunya masih dingin.. kemungkinan bayi tidak suka makan makanan dingin, makanya dihangatkan dulu.</p>
<p>Khusus untuk jenis purée buah, tidak masalah disajikan dingin (tidak beku, tapi masih mengandung bunga es) jika bayi menyukainya. Hal ini tidak akan menyebabkan bayi menjadi pilek, karena suhu dingin hanya saat makanan berada di dalam mulut. Saat melewati kerongkongan, suhu makan menjadi lebih hangat kemudian masuk ke dalam perut tidak lagi dengan suhu yang dingin tersebut.</p>
<p>Jangan lupa untuk selalu membawa peralatan makan dan minum bayi berserta slaber dan tissue basah. Siapkan juga kantong plastik untuk makanan yang tumpah atau terbuang. Kita tidak ingin kendaraan yang kita tumpangi menjadi kotor bukan?! Belum lagi nanti seisi kendaraan akan dipenuhi dengan kegerombolan semut! Tentu saja hal ini dapat mengganggu kenyamanan selama perjalanan.</p>
<h3>Persiapan Makanan Beku</h3>
<p>Berikut adalah tips membuat MPASI <em>homemade</em> Beku:</p>
<ul>
<li>Siapkan semua peralatan memasak dan wadah penyimpanan makanan SEBELUM mulai mengolah makanan yang akan dibekukan. Ada baiknya jika semua peralatan tersebut rendam di air panas terlebih dahulu sebentar.</li>
<li>Pilihlah wadah penyimpanan yang kedap udara serta tahan panas.</li>
<li>Siapkan semua bahan baku yang segar dan cuci bersih dibawah air keran yang mengalir.</li>
<li>Potong/bentuk makanan sesuai selera (misal, wortel dipotong membentuk stik, kentang membentuk dadu/bintang/bulat, brokoli dan kembang kol dipotong putiknya, dll…).</li>
<li>Olah makanan, baik direbus atau dikukus.</li>
<li>Setelah matang, segera sejukkan/dinginkan makanan tersebut dengan merendam wadah makanan di dalam air es. Untuk melakukan ini, pilih wadah makanan yang terbuat dari bahan yang mudah menyerap dingin, sehingga saat wadah direndam dalam air es, suhu makanan akan lebih cepat turun.</li>
<li>Untuk jenis makanan purée, tidak perlu dimasak.. cukup dibentuk purée lalu disimpan dalam wadahnya dan susun dalam <em>cooler box</em>. (jika ingin menggunakan <em>cooler bag</em>, jumlah blue ice harus lebih banyak agar MPASI beku tidak mudah cair).</li>
<li>Jangan lupa menuliskan label tanggal serta jam pembuatan MPASI tersebut, sehingga akan memudahkan Anda untuk menjadualkan makanan mana yang diberikan terlebih dahulu.</li>
<li>Jika di tengah jalan Anda menemukan MPASI beku tersebut mencair, jangan buru-buru membuangnya. Jika belum mencair secara keseluruhan, berarti masih bisa dibekukan kembali saat tiba di lokasi tujuan. Atau, Anda coba membauinya, jika masih berbau buah/sayuran segar berarti MPASI beku tersebut masih layak untuk disimpan kembali. Namun, jika memungkinkan, lebih baik segera dikonsumsi.</li>
</ul>
<p>MPASI pada prinsipnya adalah makanan pendamping, jadi tidak harus selalu diberikan nasi (meski bayi Anda sudah makan nasi) karena kebutuhan karbohidratnya telah dipenuhi oleh ASI (khususnya untuk jika bayi Anda berusia kurang dari 12 bulan). MPASI berupa sayuran/buah pun sebenarnya bisa loh membuat perut si mungil terasa kenyang selama dalam perjalanan. Jadi, tidak perlu khawatir karena merasa harus memberinya makan nasi.</p>
<p>Jika pun Anda ingin memberikan nasi dan lauk (sup, misalnya) bagi bayi Anda, bisa juga Anda persiapkan sejak dari rumah dan ditempatkan di wadah yang tahan panas. Hanya dikhawatirkan kalau perjalanan yang sangat panjang, makanan ini bisa cepat basi. Kalau ingin makanan jenis sup ini lebih awet, bisa diletakkan dalam kulkas dulu, setelah dingin baru ditempatkan bersama MPASI beku lainnya di dalam <em>cooler box</em>. Dan proses penyajiannya sama dengan menyajikan MPASI beku, yakni cukup direndam di air hangat, jangan direbus lagi di atas kompor.</p>
<h3>Persiapan Wadah</h3>
<p>Lalu, bagaimana cara mempersiapkan wadahnya? Yang pasti sih, harus dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian perhatikan jumlah <em>blue ice</em>, jika MPASI beku cukup banyak.. maka tidak akan cukup jika hanya 1 (satu) <em>blue ice</em>. Tapi tidak ada rumus matematika untuk menentukan ini (kalau mau diteliti sih mungkin saja ada, tapi berhubung kami tidak pernah menganalisisnya jadi kami tidak tahu, hehehe..), jadi cukup dikira-kira saja lah. </p>
<p>Pertimbangkan ukuran <em>cooler box/bag</em>-nya juga, yang penting setelah MPASI beku dan <em>blue ice</em> masuk di dalam, wadah ini harus bisa ditutup rapat. Kalau menggunakan <em>cooler box</em>, waktu penyimpanan sekitar 7-8 jam, sedangkan <em>cooler bag</em> dapat bertahan sekitar 4-5 jam, ini maksudnya lama waktu utnuk mempertahankan si MPASI itu untuk tetap beku yah. Mungkin kalau lebih lama, tidak <em>totally</em> beku, tapi mencair sedikit.. tidak mengapa, karena masih bisa dikonsumsi.</p>
<p>Wah, pasti makin seru nih persiapan perjalanan mudiknya!</span></strong><span> Semoga tips ini dapat membantu dan membuat perjalanan mudik Anda menjadi lebih menyenangkan dari tahun-tahun sebelumnya. Menyenangkan bagi bayi, tentu akan menyenangkan bagi semua anggota keluarga.</p>
<p><strong>Selamat mudik!</strong> Semoga selamat tiba di tempat tujuan. ***</p>
<p><small>Sumber Foto: dok. pribadi &#038; http://www.annabelkarmel.com/ (makanan beku)</small></p>
<p><strong>Artikel ini boleh diambil dan disebarluaskan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari AIMI, dengan syarat bahwa TIDAK digunakan dalam rangka pelanggaran Kode Etik WHO mengenai makanan-makanan pengganti ASI.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aimi-asi.org/2008/09/mudik-menyenangkan-dengan-mpasi-buatan-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

