Anak Pertama Gagal ASI Eksklusif – Bagaimana Dengan Adik?
Banyak ibu merasa tidak percaya diri bahwa mereka bisa memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya – baik kepada anak kedua atau ketiga, ketika mereka gagal melakukannya pada anak pertama.
Hal ini seringkali terjadi, karena banyak ibu terpaku pada kegagalan memberikan ASI di masa lalu yang disebabkan oleh kurangnya ilmu laktasi yang dimiliki oleh si ibu pada saat itu.
Menanggapi hal tersebut, ijinkan Saya berbagi pengalaman, bahwa kegagalan memberi ASI eksklusif untuk si kakak bukan berarti mustahil bagi adik. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi semua ibu yang membacanya.
Anak pertama saya lahir pada bulan Oktober 2004, hanya 10 bulan dari sejak saya menikah. Senang..? Pasti dong. Saya pun berniat untuk memberikan yang terbaik – yaitu ASI – untuk anak pertama saya.
Memberikan ASI ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Karena kekurangan informasi tentang ASI dan menyusui, saya mengawali perjalanan menyusui anak pertama saya dengan tidak tepat, misalnya: tidak meminta rawat gabung dengan anak sewaktu di Rumah Sakit sehingga saya yang harus bolak balik ke kamar bayi (dengan jam menyusui yang dibatasi / dijatah). Kondisi seperti ini membuat saya tidak dapat menyusui dikala anak saya membutuhkan ASI. Saya lebih sering menemui anak saya sedang tertidur sehingga tak mau menyusu.
Saat itu saya pikir ini kondisi seperti ini normal saja. Tetapi begitu saya pulang dari Rumah Sakit dan merawat bayi saya sendiri, barulah saya merasakan ketidaknyamanan. Bukan, bukan karena saya kecapekan menjaganya tapi saya mengalami puting lecet.
Saya bingung sekali kala itu, tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya cara yang menurut saya dapat menyelesaikan permasalahan puting lecet kala itu adalah dengan memompa ASI dari payudara yang lecet dan hanya menyusui dari payudara yang tidak sakit. Karena kondisi ini pula, saya sempat mengalami ‘mild baby blues’, dimana saya menangis setiap harus menyusui dari payudara yang lecet tersebut. Untungnya cuma berlangsung sebentar, 3 hari saja.
Selama di berada rumah dan belum kembali bekerja, saya selalu menyusui anak saya secara langsung, sehingga saya pun jarang memerah, apalagi semenjak luka di puting pulih. Ternyata hal ini menimbulkan masalah ketika saya harus kembali lagi ke kantor. Saya tidak memiliki stok ASI perah ketika itu, sehingga saat harus kembali masuk kantor saya bingung bagaimana dengan asupan susu anak saya di rumah. Oleh orang tua, saya diminta membeli susu formula (sufor) sebagai cadangan kalau-kalau ASI yang saya perah di kantor tidak cukup untuk konsumsi anak saya selama saya tinggal bekerja. Dan terjadilah hal yang saya takutkan, di usianya yang ke- 2,5 bulan, anak saya sudah minum ASI campur sufor.
Selain itu, karena minimnya informasi yang saya punya, saya memperkenalkan MPASI dini pada anak saya, karena menurut orang tua, anak saya pasti kelaparan kalo hanya minum ASI dan susu formula saja.
Sekembalinya bekerja, ternyata saya tidak konsisten memerah ASI. Kadang hanya 2x dalam waktu 9 jam, malah kadang hanya 1x kalau saya terlalu sibuk atau malas. Ini disebabkan di kepala saya sudah tertanam bahwa anak saya akan baik-baik saja karena ada back-up sufor dan MPASI di rumah jika ASI perah tidak mencukupi. Akhirnya pada usia 10 bulan, anak saya hanya minum sufor tanpa ASI lagi.
Ketika anak ke-2 lahir di tahun 2007, saya sudah bertekad untuk memberi ASI sekurang-nya 6 bulan tanpa tambahan susu formula maupun MPASI dini. Hal ini dikarenakan informasi yang saya dapatkan dari seminar tentang kesehatan anak pada tahun 2006 yang saya ikuti, menjelaskan bahwa pemberian ASI eksklusif adalah 6 bulan tanpa tambahan apa pun. Ditambah lagi, tidak lama setelah saya melahirkan, saya pun ikut bergabung dengan milis asiforbaby dimana saya dapat mencari informasi tentang ASI, menyusui dan tips memerah selama bekerja dengan lebih lengkap. Alhamdulillah, dengan banyaknya informasi yang saya dapat, anak ke-2 pun lulus ASI eksklusif tanpa bantuan dari susu formula dan MPASI dini.
Selain itu, untuk menambah wawasan dan jejaring, saya datang ke kopdar milis Asiforbaby pertama kali dan berkenalan dengan banyak ibu muda. Selain presentasi mengenai ASI yang dibawakan oleh dr. Utami Roesli, saat itu juga ada presentasi dari mbak Mia Sutanto yang menjelaskan bahwa akan dibentuk suatu organisasi yang bisa mewadahi para ibu menyusui. Saya melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk terlibat secara langsung didunia per-ASI-an dan ketemu dengan para ibu yang peduli akan ASI.
Singkat cerita, saya pun mengajukan diri untuk ikut bergabung dan Alhamdulillah, saya tidak salah berkumpul dengan ibu-ibu hebat di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena disini lah saya bisa bertanya, curhat dan bersenang-senang. Dari sini pun saya sadar, ternyata ilmu yang didapat dari internet atau milis saja tidak cukup. Kita perlu berkumpul dengan para ibu yang mempunyai pandangan yang sama dengan kita.
Saat kelahiran anak-3 dipertengahan 2008, saya jauh lebih percaya diri. Saya jadi lebih getol mencari dokter,
tenaga kesehatan dan rumah sakit yang mengijinkan IMD dan rawat gabung. Sewaktu lahiran saya tenang karena anak langsung diletakkan di atas dada dan dibiarkan selama kurang lebih 1,5 jam. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan karena saya bisa melihat sendiri ayahnya meng-adzani anak di dada saya dan melihat serta merasakan IMD, dimana anak merangkak sendiri menuju payudara dan menyusu secara alami tanpa bantuan dari saya, mamanya.
Jadi kalau boleh saya rangkum dari pengalaman ini adalah tidak benar bahwa kegagalan pemberian ASI pada anak pertama berarti mustahil bagi anak ke-2 mau pun ke-3 untuk mendapat ASI. Ibu perlu membekali dirinya dengan ilmu yang cukup semenjak hamil tentang tata cara IMD, persiapan menyusui, dokter dan rumah sakit / bidan yang mendukung IMD & rawat gabung. Tentu saja dukungan penuh dari suami juga akan membuat ibu lebih percaya diri.
Selain itu, jika memungkinkan bergabunglah dengan komunitas peduli ASI. Ini bisa diawali dengan bergabung dengan milis asiforbaby dan dilanjutkan dengan bertemu langsung dengan para ibu di kota tempat kita tinggal atau sering disebut kopdar. Lebih bagus lagi jika pertemuan ini bisa diadakan rutin sehingga kita bisa saling berbagi ilmu dan saling mendukung sesama ibu yang peduli akan ASI.
So, ibu2, terbukti kan, kegagalan di masa lalu dapat menjadi pemicu keberhasilan untuk menyusui. Kalau saya bisa, Anda pun bisa!
Semangat ASI!
Artikel ini telah dibaca 2774 kali

salut buat mba erfi..
kisahnya mirip kisah saya yang terjadi dengan anak pertama..
minimnya pengetahuan mengenai lactasi benar2 membuat kita bingung dan mengalami baby blues..
alhamdulillah untuk anak kedua sekarang masih mendapat asi eksklusif..
ada hal yg saya mau tanyakan kalo asi perah sudah dikeluarkan dari kulkas dan sudah dipanaskan sampai suhu badan tapi tidak jadi diberikan kepada bayi apakah boleh disimpan kembali di kulkas?
terimakasih sebelumnya dan salut untuk mba erfi.. ;p
hi mbak Puspita, terima kasih ya mbak
menjawab pertanyaan mbak tentang ASIP, ASIP beku yang sudah dikeluarkan dari freezer dan mencair bisa tahan 24 jam di kulkas bawah. Kalau sudah dipanaskan dan belum diminum sebaiknya tidak didinginkan lagi dan dikonsumsi dalam waktu 4 jam.
Semoga menjawab pertanyaannya ya mbak dan semangat terus memberi ASI untuk si adek.
salam kenal mba erfi
kisahnya hampir sama dg pengalaman sy mbak…anak sy jg 3. Anak pertama gagal total dg ASI,hanya bs sy susui 3 bulan,stlh itu langsung Mpasi (yg susaaaah sekali….jelas aja wong blm siap). Semua krn kurangnya info ttg menyusui yg benar mbak! Sy sempat stress krn payudara bengkak di kantor,akhirnya ijin plg unt menyusui,smp rumah bayi sdh tidur pulas! Pdhl Baby sy ga mau minum sufor dr dot,maunya pakai sendok…mana tumpah sana sini krn pengasuhnya blm mahir! sediiiih sekali…
anak ke 2 sy tekatin unt ASIX,meski keluarga sdh bujuk2 unt segera disambung sufor dan diberi makan sblm umur 4 bln….untung sy kekeh unt tetap ASI smp 6 bln….akhirnya bs lulus ASIX hingga 6 bln meski hrs kejar tayang krn kurangnya stok ASIP…
skrng anak ke 3 sy tetap bertekad unt ASIX,yg kembali diragukan oleh keluarga krn usia sy yg sdh 40 th….doakan sy ya mba unt bs tetap ASIX….insyaallah smp skrng sy msh bs memberikan ASIX unt by sy…dan stok ASIP ckp unt “bekal” bayi saat sy ke kantor…
pengalaman mba erfi bikin sy tambah semangat….hidup ASI!
Tetap semangat ya mbak, semoga sukses memberikan ASI sampai si adek 2 tahun
Salam ASI
Dear mbak ….
Skrg sy sdg berusaha utk memberikan ASIX ke anak sy yg ke 2 yg berumur 2mos. So far berjalan lancar اَلْحَمْدُلِلّهِ sdh nyetok ASIP sjk 2 mgg kelelahiran, skrg lg nyiapin peralatan perang buat pumping kl udh masuk kerja.
Usaha ini sy lakuin krn rasa bersalah ga bs kasih ASIX ke kakaknya. Kakak lahir di thn 2005, wkt itu ga punya info gimana bs ASIX. Yg sy tahu anak sy lahir dgn sehat. Kakak lahir scr secio, stlh pemulihan dr ruang operasi sy ga ketemu baby-nya. Cm dikasih tau sm keluarga kl bayinya ganteng n sehat. Tau2 wkt bayi dikasih, ktnya udh kenyang abis mimi susu. Wkt itu perasaanku cm seneng n lega krn bisa liat anakku. Bayi rooming in tp dr RS ga ada sm sekali support soal ASI, cm blg “bu, di massage PDnya spy ASInya keluar”. Alhasil ASI keluar di hri ke 4. Smp rumah tetep yg pertama Sufor br ASI. Sy baru sadar ga bs kasih ASIX stlh ada temen ksh suggest join mili sehat. Dr situ punya rasa bersalah yg besar ke kakak. Pdhl keluarga bukan tipikal yg doktrin hrs ini hrs itu. Ini terbukti skrg smua support abis ASIX buat dd Farah, smp2 si mbah uti diajak ke klinik Laktasi buat belajar nyendokin ASIP
Skrg setiap ketemu temen yg lg hamil n baru ngelahirin , getol banget ngasih info IMD n ASIX. Smp2 ada yg blg “jd duta ASI lo sekarang”, hmm pdhl sy sendiri masih byk nanya n belajar di milis AFB n jg AIMI ASI. Lebih byk ktmu yg kontra drpd yg pro soal ASI n IMD. Tp namanya jg usaha
. Ada statement dr temen yg liat usaha sy menyiapkan peralatan perang pumping di kantor “drpd lo nyiapin ini itu n keluar duit byk mendingan lo beliin aja sufor, kan lo bs fokus kerja” jediiiiingggggg ….
Oia, doakan berhsl n trusss semangat menyelesaikan tugas mulia ini.
Fitri
Ibunya Mauza n Farah
Dear mbak Fitri,
Kalau ada yg bilang peralatan ‘perang’ mahal, mungkin mereka bisa disuruh hitung berapa pengeluaran yg dibutuhkan tiap bulannya untuk membeli sufor dibanding dg peralatan ‘perang’ yg cuma perlu sekali beli
Sukses terus ngasih ASI untuk si adek ya mbak.
Salam kenal Mb Erfi..
Anak saya yang pertama juga gagal ASIX mb. Waktu itu tahun 2003, dan pengetahuan saya tentang ASIP sangat minim. Saya coba memerah ASI sebelum 3 bulan, tapi karena gak ngerti teknik dan waktu memerah ASI, di bulan ke tiga dengan berat hati saya mempersiapkan SUFOR untuk anak saya karena harus kembali bekerja.
Anak yang kedua berhasil ASIX mb. Waktu itu tahun 2007 dan literatur saya lebih lengkap, jadi saya bisa memerah ASI sebelum 3 bulan untuk stok. Saya juga mengusahakan pulang ke rumah disela-sela jam kerja untuk menyusui langsung kalau sempat. Alhamdulillah, meskipun ditakut-takutin sama lingkungan, anak saya bisa ASIX sampai 6 bulan bahkan sampai hari ini dia gak kenal botol dot karena pemberian ASIP-nya memakai sendok.
Sekarang saya sedang hamil anak ketiga, dan sedang mengumpulkan literatur tentang IMD Caesar (karena kedua anak saya di atas lahir dengan Sectio jadi yang ketiga ini direncanakan Sectio juga). Sayangnya IMD di kota saya belum populer. Saya sudah berhasil meyakinkan suami untuk mendukung IMD, cuma masih hunting RS yang bersedia mendukung IMD. Susah banget mb, mana RS-nya terbatas, trus pake alasan gak bisa IMD karena kelahirannya Caesar
Mohon dukungannya ya mb, trus kalau ada info2 terbaru mengenai IMD terutama IMD untuk Caesar, mohon diinformasikan kepada saya. Oya, saya tinggal di kota Jambi.
PS. ‘Peralatan perang’ yang mahal bisa disiasati dengan memakai tangan kita sendiri, hasilnya gak kalah kok dengan pompa ASI mahalan …
Saya jg sdg berusaha berjuang utk ASIX 6 Bulan anak pertama..tp stok kritis bgt..sedih sekali rasanya..karena bayi saya baru 5 bulan kurang 5 hari..padahal dia doyan mimi ASI baik dari dot maupun menyusu lgsg..Dulu sy cuti 2 bulan memasok ASI sampe stok di freezer full..tp jarak kantor yg jauh (Bogor-Tangerang berangkat jm 6 pagi pulang jm 7 malam) membuat saya kewalahan mengejar produksi ASI untuk mengimbangi kebutuhan miminya yg semakin meningkat (sekarang +/- 700 ml per hari kalau ditinggal kerja), sedangkan kesempatan saya memerah ASI di kantor hanya 3 kali (menghasilkan +/- 350 s.d. 450 ml)..Kalaupun harus memerah pagi dan malam serta hari libur, sekarang sudah sulit karena biasanya udah keburu minta mimi padahal belum produksi lagi karena “masih kosong” sehabis diperah sehingga dia biasanya nangis kalau ASI belum lancar keluarnya..saya ga tega jadinya memilih tdk memerah di rumah saat kondisi tdk memungkinkan daripada dia nangis kehausan.. Kondisi ini sempat bikin saya stress apalagi ketika sedang sibuk-sibuknya di kantor (memerah pun kadang harus mencuri2 waktu dan dikejar2 waktu karena kerjaan masih menumpuk dan dikejar deadline.) Ditambah lagi mobil jemputan yg kadang blm stand by utk dipake pulang karena masih dipake kantor sampai menjelang magrib bahkan kadang lewat, padahal saya ingin segera pulang berlari menyusui bayi saya..Saya bingung, sedih, merasa bersalah, dan kecewa pada diri saya sendiri tdk bs memberikan yg terbaik..apalagi jika membayangkan kalau akhirnya harus minum sufor..Entah bagaimana saya ga tau apa dia bs lulus ASIX 6 bulan..Para moms,mohon saran dan supportnya ya..Tks a lot
salam kenal mba, saya bapak dari 1 anak. saya dan istri sedang berusaha untuk ASIX (usia Keisha baru 1 bulan). alhamdulillah sekarang udah lancar, walopun di hari ketiga sempat dikasih sufor sama perawat & neneknya karena waktu itu ASI dari istri belum keluar. alhamdulillah di hari ke empat dan seterusnya ga kena sufor lagi.
saya ada pertanyaan mba, untuk pemberian ASIP, apakah harus menggunakan sendok/cawan? boleh nggak dikasih lewat dot? karena neneknya kekeuh banget untuk kasih ASIP pake dot/ga mau pake sendok.
terima kasih atas jawabannya..
dear pak Arif,
penggunaan dot tidak disarankan karena dapat menyebabkan bayi bingung puting. Hal ini terjadi karena cara bayi menghisap payudara berbeda dengan bayi yang menghisap dot. Oleh sebab itu, ASI perah sebaiknya diberikan menggunakan media selain dot/botol.
Salam kenal mbak,,
Saya jg gagal memberi ASIX pd anak pertama saya, Nael yg kini berusia 3thn 3bln. Saat ini anak ke-2 saya 8 hari dan saya ingin memberi ASIX..Hanya ada kendalanya mbak, ASI saya tdk byk.. Boleh minta saran bagaimana caranya spy jlh ASIku byk dan cukup utk bayiku? Jd, jgnkan utk distok buat bekal stlh kembali bekerja..utk kebutuhan hariannya saja saya kuatir tak cukup.. Tlg dibantu ya mbak.. Makasi sebelumnya..
Dear mbak Hera,
ASI diproduksi (supply) sesuai dengan permintaan (demand). Jadi jika ingin meningkatkan produksi ASI maka perseringlah menyusui/memerah ASI.
Contoh, setelah bayi mbak Hera selesai menyusu, kosongkan payudara dengan cara memerah, setelah itu perah juga payudara satunya. Nanti jika bayi menyusu lagi, susuilah dipayudara yg blm disusui. Begitu selesai kosongkan (perah) payudara tsb dan sebelahnya. Dengan melakukan ini maka produksi ASI akan meningkat karena permintaan akan ASI naik
Yakin lah berapapun ASI perah yg didapat akan mencukupi kebutuhan bayi mbak Hera.
Semoga membantu ya mbak
Mba Erfi….mohon petunjuk ;p
Tanggal 26 Januari kemarin saya baru melahirkan anak pertama saya. Karena terlalu cepat ambil cuti dan Miza lahirnya telat seminggu jadinya waktu saya ama Miza cuma 2 bulan aja. Karena kurang informasi mengenai ASIP, pas lahir Miza sempet ikut IMD, tp karena ASI nya masih ngga ada dan saya panik,Miza saya pasrahkan pake sufor, toh nanti juga akan saya tinggal kerja di luar kota. Tapi lama2 ASI saya keluar banyak,akhirnya 1 bln setengah Miza saya kasih ASI. Menjelang masuk kerja, Miza dikasih sufor lagi lewat dot. waktu pertama rada rewel sih, tapi lama2 terbiasa. Setelah dapet informasi sana sini akhirnya saya putuskan untuk kasih ASIP (tapi sufor masih dikasih juga karena takut tidak terpenuhi), yang dibawa seminggu sekali dari Jakarta.Pas minggu pertama saya pulang ke bandung (saya kerja di Jakarta, anak di bandung sama ortu), malem Miza ternyata masih mau minum ASI langsung dr PD, siang tetep dikasih ASIP melalui dot. Sekarang saya khawatir, setelah baca artikel mengenai dot dan relaktasi. Saya takut Miza benar2 tidak mau lagi minum lgsng dr PD kalau saya sudah kembali pindah ke BDG(kontrak kerja saya baru berakhir 4 bulan lagi). Saya harus gimana ya mengantisipasinya? kalau kasih ASIP pake dot yg ada sendoknya, yg buat juice bisa ga ya? terus terang saya takut ibu saya kerepotan saat harus kasih ASIP ato sufor pake sendok ato gelas sloki…gimana dong….
dear mbak Fanny,
pemakaian dot tidak dianjurkan karena dapat membuat bayi bingung puting. Pemakaian sendok mau pun gelas mungkin agak repot pada awalnya tapi jika dilakukan perlahan dan terus menurus maka baik pengasuh dan bayi akan terbiasa, dan mbak Fanny tidak perlu khawatir bayi bingung puting
Semoga membantu ya mbak.
Dear mbak Erfi
terimakasih untuk sharing pengalamannya,menghibur saya yang mempunyai pengalaman yg sama,anak saya baru satu,sekarang usianya 7 bulan dan dari lahir sangat kurang asupan ASI nya karena anak saya sudah bingung puting sebab dari RS sudah minum sufor dan produksi ASI saya sedikit sekali,saya bertekad anak kedua saya harus ASI.
Sekarang yang mau saya tanyakan,mbak erfi kan putra-putrinya tiga orang,si adik2 dapat ASI sedangkan hanya sang kakak sendiri yang dapat sufor,apakah diantara mereka terlihat berbeda pada tumbuh kembangnya mbak? apakah pengaruh sufor terhadap tumbuh kembang anak (fisik atau otaknya) sangat fatal?
saya berharap mbak erfi bersedia menjelaskan.
terimakasih banyak =)