Dinas Luar Negeri…?? Tak Masalah..!!
Saat itu datang juga. Saat yang paling saya nanti-nantikan selama bekerja. Bertugas ke luar negeri. Tapi, kok rasanya campur aduk ya? Ada excited karena mau melihat Negara yang sudah lama saya impikan, sedih karena akan berpisah dalam waktu yang lama dengan Alle (yang kala itu berusia 18 bulan) dan yang paling dominan adalah bingung, bagaimana nanti saya bisa terus memberikan ASI selama jauh dari Alle?
BUKAN ALASAN UNTUK BERHENTI MENYUSUI
Banyak hal terlintas dalam pikiran saya saat itu, “cukup tidak ya, ASIP ku? Apa iya, dengan kepergian ini Alle harus ditambah susu lain (waktu itu alle belum doyan UHT)? Kira-kira sepulangnya aku nanti, Alle masih mau menyusu langsung, atau tersapih?” dan lain-lain yang menciutkan ke-PeDe-an saya.
Tapiii… setelah memikirkan kembali seluruh kebaikan dan manfaat ASI, kok ya sayang banget kalo kita menyerah dan patah semangat. Apalagi setelah membaca berbagai macam referensi tentang pengalaman ibu menyusui yang bepergian jauh dan tidak menyerah untuk terus memberikan ASI buat buah hatinya walaupun harus terpisah jauh. Saya jadi terinspirasi dan berpikir, kalau orang lain aja bisa, saya juga PASTI BISA. Asal yakin dan niat. Itu kuncinya…
SEBELUM BERANGKAT..
PERTAMA: SIAPKAN DIRI..
Begitu mandat itu datang, hal pertama yang saya lakukan adalah mengejar ketertinggalan stock ASIP saya dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang travelling ke luar negeri sambil membawa ASIP di dalam kabin.
Mengingat perjalanan saya ini cukup jauh dan lama (trans-Atlantik ke benua Amerika), saya harus punya ‘sangu’ informasi yang cukup untuk menyimpan dan membawa kembali ASIP saya dengan selamat sampai di rumah..
Mengejar ketertinggalan stok ASIP merupakan hal yang cukup ‘challenging’ buat saya. Kala itu usia Alle 18 bulan dan ‘cadangan’ ASIP saya per hari maksimal 300ml. Untuk meninggalkan Alle sekian hari, saya harus segera berhitung untuk mencukupi kebutuhan ASIP Alle ketika saya jauh darinya.
Dengan 300 ml ASIP, konsumsi ASI Alle tercukupi dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam ketika saya bertemu dengannya lagi di rumah. Untuk itu, jika dalam 24 jam Alle tidak bertemu saya, saya harus menyediakan 400 ml – 500 ml ASIP untuk cadangan jika malam hari Alle terbangun dan ingin minum ASI.
Mengingat tugas ini akan menempuh waktu 10 hari (4 hari perjalanan pulang-pergi dan 6 hari bertugas), dan kebutuhan ASI Alle yang 500 ml sehari, mulailah saya mengatur strategi untuk mengejar kekurangan stok ASIP saya di kulkas. Kebetulan saat itu saya masih memiliki 5 cadangan ASIP @ 120ml. Nah, karena kebutuhannya akan berjumlah 10 hari x 500 ml = 5 Liter ASI, maka saya harus dapat memperbanyak stok ASI saya 8 kali lipat.
WAhh.. stress juga saya. Secara di kantor hanya berhasil memerah 3x, itu saja tidak selalu dapat 120 ml, kadang hanya 80–90 ml. Tapi saya tidak patah arang dan coba atur strategi dengan cara makan makanan yang dipercaya memperbanyak ASI (favorit saya air rebusan kacang hijau dan sayur papaya juga buah papaya-nya), memperbanyak waktu memerah dari 3x menjadi 5x dalam sehari, dan PERCAYA DIRI kalau ASIP saya akan cukup selama pergi. Ternyata strategi yang saya tempuh membuahkan hasil. Puji Tuhan, 1 hari sebelum keberangkatan kulkas saya sudah penuh dengan ASIP sesuai dengan kebutuhan Alle.
KEDUA: CARI INFORMASI SEBANYAK MUNGKIN
Tenang masalah ASI perah, masih bingung masalah BAWA ASI PERAH KEMBALI KE INDONESIA.
Peraturan penerbangan yang MELARANG MEMBAWA CAIRAN LEBIH DARI 100 ML KE DALAM KABIN adalah momok utama ketakutan saya. Teringat lagi, bahwa Negara yang akan saya kunjungi begitu ketatnya menerapkan peraturan ini.
Tapi saya tak habis semangat. Tanya teman-teman yang pernah bepergian ke luar negeri sambil membawa ASIP, telpon maskapai penerbangan yang akan saya gunakan, dan browsing informasi sebanyak-banyaknya di internet. Walau sedikit menguras tenaga, tapi pencarian itu tak sia-sia.
Saya bertemu dengan web resmi milik Transportation Security Administration (TSA) United States of America. Lembaga inilah yang pertama kali mengeluarkan peraturan yang melarang untuk membawa cairan lebih dari 100 ml ke dalam kabin setelah peristiwa WTC 9/11 terjadi.
Puji Tuhan, di bulan Oktober 2006 mereka merevisi peraturan tersebut menjadi lebih BERSAHABAT bagi ibu-ibu menyusui yang bepergian dengan, atau tanpa anak. Kalau boleh saya kutip, salah satu pasal dari peraturan tersebut berbunyi sebagai berikut:
“… ibu menyusui yang bepergian dengan atau tanpa membawa bayi/anak dapat membawa AIR SUSU IBU dalam jumlah berapapun ke dalam kabin pesawat selama ibu menyebutkan (declare) bahwa ibu membawa ASI pada setiap security check-point.”
(Sumber: http://www.tsa.gov/travelers/airtravel/children/formula.shtm)
Hal berikutnya yang saya lakukan adalah mencari informasi di hotel tempat saya menginap, apakah saya bisa mendapatkan kamar dengan refrigerator yang memiliki freezer untuk menyimpan ASIP. Untung saja, hotel yang saya tempati bentuknya seperti studio apartemen, sehingga kulkas dengan freezer memang disediakan di masing-masing kamar. Pfffiiiuuuhhh…. ☺
Suatu kelegaan yang luar biasa buat saya setelah berhasil mendapatkan seluruh informasi yang saya perlukan. Saya semakin mantap dan PeDe untuk berjuang membawa oleh-oleh ASIP dari luar negeri untuk Alle tercinta.
KETIGA: SIAPKAN SEMUA DOKUMEN PENDUKUNG
Selain Paspor, Visa dan tiket, dokumen-dokumen yang harus disiapkan untuk memperlancar membawa ASIP selama di perjalanan adalah:
- Copy/Print dari peraturan TSA (in case petugas di security check point tidak mengetahui tentang peraturan ini, buat jaga2 saja)
- Surat Keterangan Dokter yang menyatakan bahwa kita adalah ibu menyusui yang bepergian
Selain itu, kita harus jujur dan menyebutkan semua barang bawaan kita (terutama ASIP) jika melalui security check point.
KEEMPAT: SIAPKAN ANAK
Setelah tiga hal diatas berhasil diatasi, akhirnya saya bertemu juga dengan fase yang paling berat: MENYIAPKAN ANAK.
Sejak satu bulan sebelum keberangkatan, saya sudah sering menyinggung-nyinggung soal kepergian saya pada Alle. Misalnya saja pada saat ia bermain, dengan mengajaknya mengobrol:
Saya (S): Mas, bulan depan mami kerja di kantor yang jauh loohhhh..
Alle (A): Cuma melirik, terus sibuk dengan mainannya lagi
S : Mas Alle manis ya, sama papi, utita (eyang putri), kungkungka (eyang kakung) dan hayus (pengasuhnya)
A : senyum aja, terus minta ‘cucuacimami’ alias nenen.. hehe..
Di waktu lain, saat ia tertidur nyenyak, saya coba bisikkan hal yang sama padanya. Bahwa saya akan pergi ke kantor yang jauh untuk tugas dalam waktu yang lama. Alle manis ya.. Mimik ‘cucuacimami’ sama utita dan kungkungka.. Nanti kalau mami pulang, mas Alle boleh mimik ‘cucuacimami’ langsung lagi.
Begitu terus berulang-ulang. Pokoknya setiap ada kesempatan, saya selalu informasikan pada Alle tentang kepergian saya.
Jangan lupa, sertakan juga Ayah dalam fase ini. Suami yang mendukung, pasti akan membuat kita tenang. Ia akan menjadi figure pengganti kita disaat kita jauh dari rumah, jadi, sertakan juga pada saat kita memberikan informasi kepergian kita.
Satu hal lagi, selain menginformasikan hal-hal tersebut, sebelum berangkat saya juga sengaja membawa baju Alle yang dipakai semalam selama bepergian. Saya juga meninggalkan salah satu baju saya yang sudah dipakai untuk digunakan sebagai selimut Alle di malam hari. Kata orang-orang tua zaman dahulu, bau tubuh ibu (walaupun secara fisik jauh) akan membuat anak tetap nyaman. Sebaliknya, bau tubuh anak akan membuat ibunya pun nyaman. Believe it or not, it works for me. ☺
KELIMA: YAKINKAN DIRI KITA, BAHWA SEMUA AKAN AMAN DAN TERKENDALI
Ini juga fase yang sulit buat saya. Karena terbiasa mengurus semuanya sendiri, terutama hal-hal yang berkaitan dengan keperluan Alle, saya tidak mudah percaya dengan orang lain, even itu suami saya sendiri.
Tapii… kita harus bisa percaya, apalagi dengan kasus seperti yang saya alami – harus pergi jauh dari rumah dalam jangka waktu yang relatif lama. Salah satu cara mengatasi kecemasan saya akan hal ini adalah saya membuat list semua keperluan Alle, dari menu makan tiap hari, jam memberikan ASIP di malam hari (karena kalau siang relative sudah oke, karena rutin), penanganan pertama apa yang harus dilakukan kalau Alle tiba-tiba panas/batuk/pilek, dan hal-hal lainnya.
List ini saya berikan pada orang tua saya (yang setiap hari kami titipi Alle) serta suami saya. In case sesuatu yang sangat emergency, mereka bisa menghubungi saya via telp hotel/hp (yang sengaja saya aktifkan saluran internasional-nya).
KEENAM, SIAPKAN PERALATAN ‘PERANG’
Peralatan perang yang saya maksud disini bukan untuk perang beneran loh, tapi lebih ke peralatan memerah ASI.
Karena saya nyaman memerah dengan menggunakan tangan, maka peralatan yang saya siapkan antara lain sebagai berikut:
- 1 (satu) buah cooler bag ukuran besar (bentuknya kebetulan seperti ransel, sehingga mudah dibawa)
- 3 (tiga) buah ice gel dan 4 (empat) buah ice packs. (catatan: ice gel tahan 12-18 jam, ice packs tahan sekitar 8 jam)
- 25 (dua puluh lima) buah plastik ASI
- 2 (dua) buah Tupperware ukuran besar (untuk menyimpan plastic ASI di kulkas/cooler bag)
- 3 (tiga) buah botol ASI dan tablet cold sterilizer
DALAM PERJALANAN
Akhirnya, tiba juga hari yang ditunggu. Hari dimana saya akan berangkat meninggalkan rumah dan Alle tercinta saya. Walau sudah dengan berbagai persiapan sebelum berangkat, tetap saja berurai air mata ketika melihat Alle melambaikan tangan pada saya. Alle-nya sih, oke-oke saja. Tapi ternyata saya yang lebih tidak siap berpisah dengannya.
Sambil terus menenangkan hati, saya mulai atur strategi pemerahan di dalam perjalanan. Kebetulan kota tujuan akhir saya adalah San Diego, California. Untuk sampai kesana, saya harus transit 3 kali dan 3 kali pula berganti pesawat. Transit di Singapura memakan waktu 6 jam, di Tokyo 45 menit dan di Seattle 45 menit. Dengan demikian saya dapat memerah 2 kali di Singapura, 1 kali di Tokyo dan 1 kali di Seattle.
Sesampainya di Singapura, rencana saya tidak berjalan dengan mulus. Karena harus mencari tempat untuk check in dahulu (kebetulan dengan noraknya saya sedikit tersesat di Changi.. hehe..) dan confirm transit lounge, jadilah saya hanya memerah 1x. Waktu itu ASI yang diperoleh 100ml (masih aman di bawa ke kabin), jadi saya tidak perlu men-declare apapun ketika boarding menuju Tokyo Jepang.
Perjalanan ke Tokyo menempuh waktu 7 jam perjalanan dan sialnya, saya tidak bisa memerah karena tidak ada tempat yang nyaman. Jadi saya putuskan untuk memerah di Tokyo. Sesampainya di Tokyo, sialnya lagi, saya juga tidak bisa memerah, karena waktu pemeriksaan di security check point terlalu lama, sehingga saya harus langsung boarding menuju Seattle. Payudara sudah mulai sedikit bengkak dan sakit. Akhirnya saya putuskan untuk memerah sedikit di toilet, tapi tidak sampai mengosongkan payudara. Yang penting tidak menyebabkan payudara bengkak (breast engorgement).
Perjalanan dari Tokyo ke Seattle menempuh waktu 8 jam. Saya cukup ‘teler’ di perjalanan, sehingga tidak juga memerah. Sesampainya di Seattle, setelah melalui pemeriksaan di Imigrasi dan melakukan ‘custom clearance’ saya harus langsung pergi ke San Diego, tanpa (lagi-lagi) sempat memerah. Perjalanan dari Seattle ke San Diego menempuh waktu 3 jam. Pada saat itu, Payudara sudah terasa sangat sakit, muncul benjolan-benjolan kecil, yang menandakan ASI sudah sangat banyak, tapi juga tidak dikeluarkan.
Ternyata, apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Sesampainya di hotel di San Diego, saya cek payudara saya dan ternyata benar, sudah keras alias bengkak. Mulai lah sesi kompres panas-dingin, pijat dan perah. Puji Tuhan, semua benjolan hilang semua. Hari itu, saya memerah banyak sekali, hampir 350 ml ASI sekali perah.
SAAT MENJALANKAN TUGAS
Kebetulan tugas yang dimandatkan pada saya selama berada di luar negeri adalah mengikuti konferensi manajemen serta melakukan benchmarking implementasi management tools di sana.
Setelah mengecek agenda acara selama di sana, saya atur strategi untuk memerah lagi. Ternyata, melakukan sesi perah seperti di kantor dapat dilakukan. Jadi aman, saya bisa memerah 3x di tempat kerja selama berada di San Diego.
Kebetulan sekali, San Diego sangat mendukung ibu untuk memberikan ASI. Di tempat konferensi dan tempat kerja terdapat nursery room dengan fasilitas yang baik, sehingga sesi perah memerah dapat dilalui dengan menyenangkan.
Untuk menyimpan ASI perah saya selama bekerja, cooler bag tercinta selalu saya bawa, termasuk ice packs dan ice gels nya.
SAAT KEMBALI KE TANAH AIR
Dalam 6 hari, tugas saya selesai. Berarti saatnya kembali ke rumah. Tak terasa, 20 plastik ASI bisa saya kumpulkan, masing-masing isinya 125 ml.
Itu berarti, saya harus atur kembali strategi untuk membawa ASIP kembali ke Indonesia, mengingat bawaan likuid saya sudah melebihi kuota yang ditentukan dan waktu transit yang harus saya lalui.
Untuk membawa ASIP kembali ke Indonesia, saya sengaja membeli beberapa ice-packs lagi untuk memastikan ASIP tetap dalam kondisi dingin. Karena saya akan melalui waktu 24 jam selama perjalanan, saya perlu memastikan bahwa seluruh ice packs dan ice gel saya akan cukup dingin sampai Jakarta.
Sengaja saya bekukan 10 kantong ASIP hasil perahan awal perjalanan dan 10 kantong ASIP lagi saya biarkan dingin (alias berada di kulkas bawah). Tujuannya adalah supaya 10 ASIP beku dapat langsung dikonsumsi Alle sesampainya di Jakarta, dan 10 lagi yang masih cair dapat saya bekukan ketika sampai di Jakarta.
Karena sudah dapat membaca situasi di dalam perjalanan, pengaturan strategi saya kali ini terasa lebih ringan dan mudah untuk dijalankan. Untuk itu saya memutuskan untuk memerah 1x sebelum berangkat ke airport, 1x ketika transit di Seattle, 1x ketika transit di Tokyo dan 2x ketika transit di Singapore. Modalnya, saya harus disiplin dan on-time pada saat memerah. Saya tidak mau mengulangi kesalahan pertama saya ketika berangkat, yang mengakibatkan saya terkena mastitis ringan.
Puji Tuhan, seluruh strategi perah saya berhasil dilalui dengan baik. Selama perjalanan panjang dan transit, saya dapat mengumpulkan 5 kantong ASIP lagi yang isinya masing-masing 150 ml.
Hal terakhir yang saya lakukan sebelum boarding menuju pesawat yang membawa saya ke Jakarta adalah menelpon suami saya untuk membawakan cool box penuh dengan es batu (karena persediaan ice gels dan ice packs saya bawa semua) untuk memindahkan ASIP bawaan saya ke cool box tersebut.
KEMENANGAN YANG BERBUAH MANIS
Setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya sampai juga saya di rumah. Begitu melihat Alle berjingkrak gembira melihat saya pulang, rasanya seluruh lelah dan letih saya menguap begitu saja.
Saya begitu rindu mendekap, memeluk dan menciuminya. Begitu melihat matanya, saya tahu bahwa ia pun merindukan saya. Yang membuat saya begitu terharu melihatnya adalah saya berhasil berjuang membawa oleh-oleh ASIP untuknya.
ASIP saya pun, Puji Tuhan, semua berada dalam kondisi yang baik. ASIP beku yang telah mencair segera dikonsumsi oleh Alle, sementara ASIP dingin yang cair segera saya bekukan di freezer.
Dalam perjalanan kali ini, saya merasa benar-benar MENANG, karena semua hal yang saya perjuangkan berbuah manis.
AKHIRNYA..
Sharing yang panjang ini sebetulnya bertujuan untuk memotivasi seluruh ibu menyusui, terutama mereka yang bekerja dan seringkali dihadapkan pada tugas-tugas kantor di luar kota/luar negeri untuk terus berjuang memberikan ASI.
Jangan ada kata menyerah dalam perjuangan mu, moms. Karena di garis finish nanti, kita juga yang akan memetik manisnya buah perjuangan kita.
ASI Rocks!
1763 reads

Congratulation Mbak Sisca,
Membaca perjalanan dan perjuangan di atas sangat mengagumkan.
Padahal saya beberapa kali nolak lho buat tugas ke luar kota karena bingung dengan masalah ASI.
Salam buat Mas Alle ya ..