Menyusui lah!!!

Pengaruh dari periklanan

Rumah Sakit Sayang Bayi menghadapi tantangan yang berat dalam melawan ketidak-pedulian praktisi kesehatan, para ibu dan masyarakat umum. Mereka juga melakukan perlawanan yang sulit dengan media yang, melalui editorialnya yang mengarahkan ke perasaan bersalah para ibu jika mereka memberikan botol dan, lebih mempengaruhi, melalui media iklan, telah menetapkan susu formula sebagai pilihan yang tepat.

Walaupun sekarang telah ada batasan untuk iklan susu formula bayi, selama bertahun-tahun, para produsen telah berhasil, melalui iklan dan promosi, untuk menetapkan isu pemberian asupan gizi bagi bayi pada dunia ilmiah (contohnya, dengan memberi dokter grafik pertumbuhan yang menetapkan pola pertumbuhan bayi yang mengonsumsi susu formula sebagai sesuatu yang normal) dan dalam konteks sosial yang lebih luas, menggambarkan persepsi tentang mana yang benar dan mana yang salah.

Sebagai akibatnya, dengan tidak adanya wanita yang membicarakan tentang kehamilan, kelahiran dan pengasuhan anak di masyarakat, pilihan masyarakat sekarang ini lebih banyak dipengaruhi oleh selebaran, buklet dan iklan.

Produsen susu formula menghabiskan biaya yang tidak terhitung banyaknya untuk memikirkan strategi pemasaran yang dapat membuat produk mereka selalu diingat masyarakat. Di Inggris, perusahaan formula menghabiskan biaya sedikitnya £12 juta (hampir Rp. 200 Milyar) tiap tahunnya untuk buklet, selebaran iklan dan promosi lainnya, seringnya disamarkan sebagai ‘materi edukasi’. Kira-kira £20 (Rp 330,000) untuk setiap seorang bayi lahir. Kebalikannya, pemerintah di Inggris hanya menghabiskan sekitar 14 pence (Rp 2,000) untuk setiap bayi yang lahir tiap tahunnya untuk mempromosikan pemberian ASI.

Ini adalah pola ketidakadilan yang berulang terus menurus di seluruh dunia – dan tidak hanya pada makanan bayi. Biaya periklanan global untuk industri makanan adalah $40 milyar (Rp 385 trilyun), angka yang lebih besar dari pendapatan kotor domestik yaitu 70% dari negara di dunia. Untuk setiap $1 (Rp 10,000) yang dikeluarkan oleh WHO untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh makanan dari barat, lebih dari $500 (Rp 5,000,000) dikeluarkan oleh industri makanan untuk mempromosikan makanan tersebut.

Semenjak mereka tidak bisa lagi mengiklankan susu formula bayi secara langsung kepada para ibu (contohnya, di majalah ibu dan bayi atau melalui selebaran langsung), atau memberikan sampel gratis di rumah sakit atau klinik, pabrik-pabrik telah mulai memanfaatkan tempat lain, seperti klub-klub ibu dan bayi, halaman internet yang isinya menolong para ibu yang sibuk mendapatkan semua informasi yang mereka butuhkan tentang makanan bayi. Kadang-kadang mereka juga bergantung pada dalih yang menyesatkan.

Produsen diijinkan untuk mengiklankan susu formula lanjutan untuk bayi diatas 6 bulan kepada orang tua. Tapi, kadang-kadang, iklan ini menampilkan bayi yang jauh lebih muda, menyiratkan bahwa produk mereka cocok untuk bayi (di bawah 6 bulan). Dampak dari promosi seperti ini tidak bisa diabaikan. Penelitian NCT/UNICEF pada tahun 2005 di UK memastikan bahwa sepertiga ibu-ibu di Inggris yang mengaku melihat iklan susu formula pada 6 bulan sebelumnya percaya bahwa formula untuk bayi sama bagusnya atau bahkan lebih bagus daripada ASI. Penemuan ini sangat mengejutkan karena iklan susu formula untuk bayi sampai susu untuk ibu telah dilarang selama bertahun-tahun di beberapa negara, termasuk UK.

Untuk mengakali batasan-batasan yang mencegah promosi susu formula langsung kepada orang tua, produsen menggunakan beberapa strategi psikologi yang difokuskan pada kekhawatiran alami para orang tua baru tentang kesehatan bayi mereka. Banyak dari susu formula sekarang, contohnya, diciptakan dan dijual sebagai solusi dari masalah ‘kesehatan’ bayi seperti lactose intolerance, incomplete digestion dan selalu merasa ‘lapar’ – walaupun kebanyakan dari masalah ini disebabkan oleh pemberian susu formula dari awal dengan alasan yang tidak tepat.

Masalah sosial ekonomi yang terbagi diantara ibu-ibu menyusui juga dimanfaatkan oleh perusahaan susu formula, karena menargetkan wanita berpendapatan rendah (dengan iklan dan juga melalui skema kesejahteraan) telah terbukti sangat menguntungkan. Ketika disuguhkan dengan kesempatan untuk memberikan anak-anak mereka yang terbaik yang bisa diberikan oleh ilmu pengetahuan, banyak ibu-ibu berpendapatan rendah yang tergoda dengan susu formula. Ini sangat benar jika mereka menerima sampel gratis, yang masih terjadi di banyak negara berkembang.

Tapi supply-and-demand alami dari ASI adalah, sekali seorang ibu menerima sampel gratis ini dan mulai memberikan bayinya susu formula tersebut, persediaan ASI-nya sendiri akan cepat mengering. Sedihnya, setelah ini para ibu kehabisan stok susu gratisnya, mereka akan mengetahui bahwa mereka tidak bisa menghasilkan ASI dan tidak mempunyai pilihan lain selain mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk meneruskan pemberian formula bagi anak-anaknya.

Bahkan ketika para produsen ‘mempromosikan’ ASI, mereka menanamkan yang disebut oleh Mary Smale sebagai benih dari ‘suatu kondisi’ yang akan menuju kesebuah kegagalan. ‘Beberapa tahun lalu, produsen terbiasa membuat selebaran yang hebat untuk para wanita, menganjurkan wanita untuk menyusui dan meyakinkan mereka bahwa mereka cuma membutuhkan beberapa ekstra kalori per hari. Anda tidak bisa menyalahkan mereka pada kata-katanya, tapi gambarnya menunjukkan bahan-bahan makanan yang mahal.’

Pesan dasar iklan tersebut sudah jelas; kehamilan yang sehat dan persediaan ASI yang cukup ada pada grup kelas menengah, dan para wanita yang tidak termasuk kedalam grup tersebut harus bergantung pada sumber-sumber lainnya untuk mencukupi kebutuhan bayi mereka.

Melihat sekilas pada majalah kehamilan mana saja atau paket ‘dermawan’ – buklet informasi yang menarik untuk dilihat yang dilengkapi dengan contoh produk gratis yang diberikan kepada ibu baru di Inggris – memperlihatkan bahwa pesan-pesan halus, yang termasuk foto-foto mewah bahan makanan mahal yang diatur secara artistik, bungkalan roti dan potongan keju dengan gaya deli, mangga eksotik, anggur dan kiwi, dan sayuran segar yang disusun secara artistik, masih sering terjadi.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tentang penulis

Erfi Nizar

Ibu dari empat anak, Izqa (5 thn), Dashqa (3,5 thn), Zachry (23 bln) dan baby Ziv, bertanggung jawab atas website dan pengaturan surel AIMI. Erfi juga salah satu konselor laktasi AIMI.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.