Menyusui lah!!!

Kelahiran dengan bantuan obat-obatan

Sebelum Perang Dunia II, kehamilan dan kelahiran – dan, dengan tambahan, menyusui – adalah bagian dari rangkaian kehidupan normal. Wanita melahirkan di rumah dengan bantuan dan dukungan dari bidan yang terlatih, yang mereka sendiri merupakan bagian dari masyarakat, dan setelah itu mereka menyusui dengan dorongan dari keluarga dan teman-teman.

Mengeluarkan proses kelahiran dari masyarakat dan menempatkannya di rumah sakit, menempatkan proses reproduksi wanita sebagai pengobatan. Kejadian alami berubah menjadi masalah medis, dan pengetahuan tradisional diganti oleh solusi ilmiah dan teknologi. Proses pengobatan ini mengakibatkan rangkaian intervensi yang merentahkan kepercayaan diri wanita atas kemampuannya sendiri untuk mengandung dan memelihara bayi yang sehat, melahirkannya dan kemudian menyusuinya.

Rangkaian peristiwa terjadi seperti ini: Rumah sakit adalah instansi yang tidak dapat melakukan hubungan secara personal. Operasional rumah sakit berjalan sesuai dengan jadwal dan rutinitas. Agar sebuah rumah sakit berjalan dengan lancar, pasien idealnya harus dibuat tenang dan tidak bergerak. Bagi wanita yang akan melahirkan, ini berarti berbaring telentang di tempat tidur, posisi yang tidak alami yang membuat proses melahirkan berjalan lambat, tidak produktif dan amat sangat sakit.

Untuk ‘memperbaiki’ proses melahirkan yang tidak alami ini, dokter membuat berbagai macam obat-obatan (biasanya hormon sintetik seperti prostaglandins atau syntocinon), teknik (seperti forceps) dan prosedur (seperti episiotomies) untuk mempercepat proses kelahiran. Proses percepatan ini akan membuat proses kelahiran lebih menyakitkan dan membuka jalan untuk pembuatan obat penghilang rasa sakit. Banyak dari obat-obatan ini sangat kuat sehingga ibu sering tidak sadar dan terbius total pada waktu melahirkan, sehingga tidak bisa langsung menyusui kepada bayinya yang baru lahir.

Semua obat penghilang rasa sakit masuk ke dalam plasenta, jadi walaupun sang ibu dalam keadaan sadar, bayinya mungkin saja tidak. Bayinya juga dapat terkena pengaruh obat yang sangat kuat yang membuat insting dasar alaminya (yang membantunya mencari puting sang ibu) dan koordinasi otot (penting untuk bisa melekat dengan benar di payudara sang ibu) sangat terganggu.

Sementara ibu dan bayinya memulihkan diri dari proses kelahiran yang dibantu oleh obat-obatan, mereka, sampai pada tahun 1970-an dan 1980-an, sering sekali dipisahkan. Bayi tersebut tidak ‘diijinkan’ untuk menyusu sampai dia mendapatkan botol terlebih dahulu, untuk berjaga jika ada masalah dengan sistim ususnya. Menyusui, apaila diijinkan, dilakukan dengan jadwal yang ketat. Jadwal pemberian ini biasanya setiap 3 atau 4 jam, yang sangat tidak wajar bagi manusia baru lahir, yang biasanya membutuhkan asupan makanan 12 atau sering kali lebih dalam periode 24 jam. Bayi yang kelaparan diantara pemberian makan sering diberikan tambahan air dan/atau formula.

‘Banyak terjadi penambahan (susu formula)’ kata Profesor Renfrew. ‘Cara menyusu ‘ilmiah’ yang terjadi di rumah sakit adalah bayi diberikan waktu 2 menit untuk tiap payudara pada hari pertama, lalu 4 menit pada tiap payudara di hari ke-2, 7 menit disetiap payudara pada hari ke-3, dan seterusnya. Karenanya sang ibu menjadi sangat gelisah karena ia malah lebih sering melirik jam daripada mengamati pada bayinya. Karenanya, bayi tersebut akan diberi tambahan asupan setelah menyusui seperti, lalu diberi susu formula pada malam hari daripada dibawa kepada ibunya untuk menyusu. Jadi anda akan menghadapi situasi dimana para bayi menangis di ruang perawatan bayi, dan para ibu menangis di kamar perawatan mereka. Itulah yang dikatakan ‘normal’ sepanjang tahun 60 dan 70-an.’

ASI diproduksi berdasarkan prinsip “supply-and-demand”. Penambahan susu formula ini menyebabkan menenangkan rasa lapar bayi tetapi mengurangi permintaan akan ASI, yang pada akhirnya menurunkan persedian ASI sang ibu. Sebagai akibatnya, para wanita merasa tertekan dengan pengalamannya menyusui dalam proses kelahiran di instansi rumah sakit yang sering menyakitkan dan juga sering tidak berhasil.

Menyusui dimana sajaDalam situasi yang tidak memungkinkan ini, ketika menyusui menjadi ‘gagal’, susus formula ditawarkan sebagai ‘solusi nutrisi yang lengkap’ yang juga lebih ‘modern’, lebih ‘bersih’, dan lebih ‘diterima secara sosial’.

Setidaknya 2 generasi dari wanita telah ditempatkan dalam rutinitas yang merugikan ini dan, sebagai akibatnya, banyak dari para ibu sekarang melihat konsep menyusui ini aneh dan tidak dikenal, dan sering kali digambarkan sebagai sesuatu yang dapat bias dilakukan tetapi sering kali tidak ‘berhasil’. Menyusui menjadi sesuatu yang dapat ‘dicoba’ tapi juga sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan jika tidak berhasil.

Kegagalan profesional

Para dokter muda, perawat dan bidan yang sama yang memulai kesehatan reproduksi dengan model pengobatan inilah yang menjalankan servis kesehatan sekarang ini. Tidaklah mengejutkan, bahwa rumah sakit modern agak berbeda dengan para pendahulunya. Rumah sakit ini mungkin mempunyai TV dan pemutar CD dan obat-obatan lebih yang lebih canggih, tapi tujuan dasar dan prinsip penggunaan obat saat melahirkan tidak banyak berubah pada 40 tahun terakhir – dan pengaruhnya terhadap penyusuan masih sangat mencemaskan.

Dalam banyak kejadian, pandangan para jasa kesehatan akan pemberian asupan gizi pada bayi didasari atas pengalaman pribadi mereka. Jajak pendapat memperlihatkan, bahwa faktor paling penting yang mempengaruhi keefektifan dan ketepatan nasehat tentang menyusui dari seorang dokter adalah apakah si dokter itu sendiri, atau istrinya, telah menyusui anaknya. Begitu juga dengan bidan, perawat dan pejabat kesehatan yang memberi formula pada anaknya akan sangat jarang bisa memberi nasehat tentang menyusui (pemberian ASI).

Lebih mengkhawatirkan, para profesional ini dapat mengabadikan mitos-mitos menyesatkan tentang menyusui yang mengakibatkan kegagalan proses menyusui ini. Di beberapa rumah sakit, para wanita masih disarankan untuk membatasi waktu bayi menetek pada tiap payudara, gunanya untuk ‘menguatkan’ puting mereka. Atau para wanita ini diberitahu bahwa bayi mereka telah mendapat susu yang dibutuhkan pada 10 menit pertama dan menetek setelah ini tidak ada gunanya. Beberapa masih disuruh untuk mengikuti jadwal 4 jam-an. Angka dari kantor Statistik Nasional (Office of National Statistics) di Inggris memperlihatkan bahwa kita masih melakukan penambahan makanan terhadap bayi. Di tahun 2002, hampir 30% bayi di rumah sakit di Inggris diberikan botol sebagai tambahan oleh pegawai rumah sakit, dan hampir 20% bayi dipisahkan dari ibunya.

Meneruskan nasehat yang tidak benar dari praktisi kesehatan adalah salah satu alasan mengapa, di tahun 1991, UNICEF memulai Inisiatif Rumah Sakit Sayang Bayi (RSSB) – sistim yang tersertifikasi untuk rumah sakit yang memenuhi kriteria tertentu yang akan mempromosikan keberhasilan menyusui. Kriteria ini termasuk: melatih semua pegawai kesehatan tentang bagaimana memfasilitasi kegiatan menyusui; membantu para ibu untuk mulai menyusui pada 1 jam pertama setelah proses kelahiran; tidak memberikan asupan apapun pada bayi yang baru lahir kecuali ASI, kecuali ada indikasi medis; dan rumah sakit tidak menerima susu formula yang dibagikan gratis maupun yang diberi potongan harga besar. Pada dasarnya, ini adalah langkah penting dalam mempromosikan kegiatan menyusui, dan penelitian memperlihatkan bahwa wanita yang melahirkan di Rumah Sakit Sayang Bayi akan lebih lama menyusui bayinya.

Di Scotland, contohnya, dimana hampir 50% rumah sakit dikategorikan Sayang Bayi, angka inisiasi menyusui telah naik secara tajam di tahun terakhir ini. Di Cuba, dimana 49 dari 56 rumah sakit dan fasilitas melahirkan adalah Sayang Bayi, angka keberhasilan atas menyusui secara eksklusif selama 4 bulan hampir naik 3 kali lipat dalam 6 tahun – dari 25% di tahun 1990 menjadi 72% di tahun 1996. Kenaikan yang sama juga telah ditemukan di Bangladesh, Brazil dan Cina.

Sayangnya, kemauan untuk mendapatkan status RSSB tidak umum. Di Inggris, hanya 43 rumah sakit (hanya mewakili 16% dari semua rumah sakit di UK) yang telah mendapat kreditasi penuh – dan tidak satu pun berada di London. Dari lebih kurang 16,000 rumah sakit di seluruh dunia yang termasuk dalam predikat Sayang Bayi, hanya 32 rumah sakit saja yang berada di US. Terlebih lagi, sementara Rumah Sakit Sayang Bayi berhasil mendapatkan angka yang tinggi, mereka tidak bisa memberikan garansi bahwa pemberian ASI akan diteruskan begitu si ibu kembali ke masyarakat. Bahkan diantara para wanita yang melahirkan di RSSB, mereka yang berhasil menyusui secara eksklusif selama 6 bulan sangatlah rendah.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tentang penulis

Erfi Nizar

Ibu dari empat anak, Izqa (5 thn), Dashqa (3,5 thn), Zachry (23 bln) dan baby Ziv, bertanggung jawab atas website dan pengaturan surel AIMI. Erfi juga salah satu konselor laktasi AIMI.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.