Menyusui lah!!!

Jadi kenapa para ibu tidak menyusui?

Sebelum botol menjadi kebiasaan, menyusui adalah aktifitas sehari-hari berdasarkan contoh, dan belajar dari keluarga dan masyarakat.

Wanita menjadi seorang ahli dalam menyusui dari pengalaman. Tapi sekarang ini, apa yang seharusnya didapat dengan alami telah menjadi sangat rumit – yang menjadi fokus dari strategi dan politik pemasaran global, pembuat regulasi, melobi kelompok penyokong, aktifis dan campur tangan dari pakar yang kadang-kadang tidak efektif.

Menurut Mary Smale, faktor kepercayaan diri dan pemberian dukungan dapat sangat membantu, terutama bagi wanita yang kurang beruntung secara sosial. Mengutip Mary Smale:

Konsep dari ‘rasa percaya diri’ – dengan kata lain, apakah anda pikir anda bisa mengerjakan sesuatu – sangatlah penting. Anda bisa mengatakan pada seorang wanita bahwa menyusui adalah baik, tapi dia sendiripun harus mempercayainya agar berhasil. Pertama-tama, dia sendiri harus berpikiran kalau itu merupakan ide yang baik – baik untuk dirinya sendiri dan baik juga bagi bayinya. Kedua, dia harus berpikir; ‘Saya bisa melakukan itu’. Ketiga – dan mungkin yang paling penting – adalah rasa percaya bahwa jika dia menemukan kesulitan, dia adalah tipe orang yang, dengan bantuan orang lain, akan bisa menyelesaikannya.

Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang berpendapatan rendah percaya kalau menyusui itu menyakitkan, dan mereka juga lebih cenderung percaya kalau susu formula itu sama bagusnya dengan ASI. Jadi dari awal, motivasi untuk menyusui itu tidak ada. Tapi sebenarnya yang paling berpengaruh adalah kepercayaan bahwa jika ada masalah dalam menyusui, tidak ada lagi yang bisa diperbuat. Contohnya, jika terluka, berarti memang kurang beruntung. Pemikiran ini sangat berbeda dari ibu yang berasal dari kelas menengah yang terbiasa meminta bantuan untuk menyelesaikan masalah mereka, yang tidak takut untuk mengangkat telpon, atau meminta pada bidannya atau pejabat kesehatan, ‘Saya ingin anda membantu saya akan masalah ini’.

Hampir semua wanita – sekitar 99% – dapat menyusui dan memproduksi susu yang cukup bagi bayi mereka bukan hanya untuk tumbuh, tapi juga berkembang dengan pesat.

Dengan dorongan, dukungan dan bantuan, hampir semua wanita ingin memulai menyusui secara langsung, tapi tingkat penurunannya sangat mengkhawatirkan: 90% wanita yang menyerah dalam 6 minggu pertama berkata bahwa mereka sebenarnya ingin meneruskan. Dan sepertinya tingkat menyusui jangka panjang dapat ditingkatkan jika ada dukungan yang berkesinambungan, dan jika persetujuan di dalam keluarga dan masyarakat luas mengenai menyusu secara langsung, baik di rumah maupun di tempat umum, dapat diketahui dengan jelas dan menyeluruh.

Jelas sekali, dukungan sosial ini tidak ada. Pro-kontra antara ASI dengan susu formula menunjukkan gabungan berbagai factor yang kompleks – kesehatan, sosial ekonomi, budaya dan politik – yang sering kali mengurangi rasa percaya diri wanita, sembari menekankan pemikiran bahwa memberikan susu formula adalah merupakan gaya hidup dan bukan masalah kesehatan, dan menekankan bahwa badan wanita modern tidak bisa menghasilkan susu yang cukup untuk anaknya.

‘Menyusui adalah negosiasi alami antara ibu dan bayi, dan jika diganggu resiko ditanggung sendiri,’ kata Professor Mary Renfrew, Direktur dari Unit Penelitian Ibu dan Anak, Universitas York. “Tapi di tahun-tahun pertama abad lalu, orang terlalu sibuk mengganggu proses alami ini. Apabila menyusui adalah sebuah ekologi, yang anda punya adalah habitat alami yang telah diganggu bukan hanya oleh kehadiran dari predator besar – yaitu ditemukannya susu formula –, tetapi juga kenyataan bahwa habitat ini memang telah melemah karena berbagai faktor lain yang membuat menyusui menjadi musnah.

‘Jika anda melihat pada buku teks kesehatan dari awal abad ke-20, anda akan menemukan banyak kutipan tentang membuat proses menyusui ini menjadi ilmiah dan terperinci, and dari sini lah anda akan melihat segala sesuatunya mulai berantakan.’ Kekacauan ini, kata Renfrew, sebagian besar disebabkan oleh ketakutan dan ketidakpercayaan yang dimiliki oleh ilmu pengetahuan akan proses alami menyusui.

Pada kenyataannya seorang ibu dapat meletakkan bayinya di payudara dan melakukan pekerjaan lain selagi menyusui, dan membiarkan bayinya melepaskan diri dari payudaranya secara alami ketika telah kenyang. Tetapi ini dilihat oleh ilmu kesehatan sebagai hal yang salah dan tidak tepat. Model kesehatan / ilmiah mengganti situasi alami ini dengan ukuran yang tepat – contohnya, berapa mililiter susu yang seharusnya seorang bayi minum setiap kalinya – mengacaukan keseimbangan alami antara ibu dan bayi, dan membuat pemberian botol sebagai kondisi normal biologis.

Tingkat menyusui juga mulai menurun sebagai akibat dari perubahan keadaan sekitar para wanita setelah Perang Dunia I, dengan banyaknya wanita meninggalkan anak-anaknya untuk pergi bekerja sebagi akibat dari emansipasi wanita – dan tewasnya para lelaki di medan perang – dan lebih luas lagi dengan adanya Perang Dunia II, dimana lebih banyak lagi para wanita memasuki dunia kerja.

‘Gelombang pertama feminism, yang mengecap kesadaran semua orang di tahun 60-an,’ kata Renfrew, ‘telah mendorong wanita untuk menjauh dari bayinya dan memulai hidup mereka sendiri. Satu faktor yang mungkin menolong dalam menyusui – yaitu sikap wanita yang saling membantu satu sama lain – malah menciptakan situasi dimana para wanita intelektual tidak menyadari bahwa mereka menjauh dari bayinya. Akibatnya, wanita tersebut mengalami penurunan rasa kepercayaan diri akan menyusui, menurunnya pengertian akan kepentingan menyusui dan menurunnya kemampuan kesehatan profesional untuk mendukung kegiatan menyusui. Dan, tentunya, semua hal ini berjalan bersamaan dengan garis waktu dimana perkembangan teknologi susu buatan dan tersedianya formula secara gratis.’

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tentang penulis

Erfi Nizar

Ibu dari empat anak, Izqa (5 thn), Dashqa (3,5 thn), Zachry (23 bln) dan baby Ziv, bertanggung jawab atas website dan pengaturan surel AIMI. Erfi juga salah satu konselor laktasi AIMI.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.