Menyusui lah!!!

Pembunuhan para bayi

Bertahun-tahun telah diyakini bahwa resiko sakit dan kematian dari minum botol (dot) sebagian besar terdapat pada anak dari negara berkembang, dimana air bersih yang diperlukan untuk membuat susu formula jarang didapat dan ibu-ibu miskin merasa harus mengencerkan susu formula agar tidak cepat habis, walau dengan mengambil resiko penyakit yang disebarkan melalui air, seperti diare dan kolera, tidak ketinggalan gizi buruk pada bayi mereka.

Tapi data baru dari barat dengan jelas memperlihatkan bawah para bayi di negara maju juga jatuh sakit karena diet awal berupa ‘makanan cepat saji’. Meminum susu formula setiap hari pada awal kehidupan seorang bayi dapat berdampak berbahaya baik jangka pendek maupun panjang, karena ia tidak mempunyai gizi yang lengkap, tidak mengandung sistem kekebalan tubuh alami seperti dalam ASI. Susu formula dikonsumsi oleh bayi yang sedang tumbuh, yang keperluan nutrisinya banyak dan selalu berubah, tetapi kebutuhan itu tidak terpenuhi.

Dibandingkan dengan bayi yang minum ASI, bayi yang minum susu formula berkemungkinan meninggal 2 kali lebih tinggi di 6 minggu pertama hidupnya. Khususnya, minum susu formula meningkatkan resiko SIDS (kematian bayi secara tiba-tiba) 2 – 5 kali lebih banyak. Bayi yang minum susu formula juga mempunyai resiko yang sangat tinggi untuk di rawat di rumah sakit karena bermacam infeksi. Contohnya, mereka 5 kali lebih memungkinkan menderita gastroenteritis yang mengharuskan mereka dirawat di Rumah Sakit.

Bahkan di negara berkembang, bayi yang minum susu formula menderita diare 2 kali lebih tinggi dari bayi yang menyusu langsung pada ibunya. Mereka 2 kali lebih memungkinkan (20% vs 10%) menderita otitis media (infeksi telinga dalam), 2 kali lebih mungkin menderita eksem atau tersengal-sengal jika dalam riwayat keluarga ada yang pernah menderita penyakit atopic, dan 5 kali lebih mungkin menderita infeksi saluran kencing (ISK).

Dalam 6 minggu pertama kehidupannya, bayi yang minum susu formula berkemungkinan menderita 6 sampai 10 kali necrotising enterocolitis – infeksi serius pada usus, dengan kematian pada tisu usus – resiko yang terus bertambah sampai 30 kali setelah itu.

Bahkan penyakit yang lebih serius sering dikaitkan dengan pemakaian susu formula. Dibandingkan dengan bayi yang menyusu langsung pada ibunya walau hanya 3 sampai 4 bulan, bayi yang meminum susu formula buatan (artifisial) berkemungkinan menderita ketergantungan insulin muda (diabetes tipe 1). Ada juga kemungkinan 5 sampai 8 kali menderita lymphoma pada anak di bawah 15 tahun yang minum susu formula atau yang mendapat ASI kurang dari 6 bulan.

Ketika bayi tersebut tumbuh dewasa, penelitian telah menunjukkan bahwa bayi susu formula mempunyai kecenderungan terhadap berkembangnya kondisi seperti penyakit radang usus besar pada anak, multiple sclerosis, dental malocclusion, penyakit jantung koroner, diabetes, hyperactivity, penyakit autoimmune thyroid dan penyakit coeliac.

Karena itu, susu formula bahkan tidak bisa dianggap sebagai yang terbaik setelah ASI. Secara resmi, WHO memutuskan bahwa susu formula sebagai pilihan terakhir untuk makanan bayi. Pilihan pertama adalah ASI dari ibu langsung, pilihan kedua ASI perah dari ibu yang diberikan melalui cangkir atau botol, pihan ketiga ASI donor dari ibu lain, dan terakhir susu formula.

Namun, bayi yang menyusu langsung pada ibunya sekarang sudah langka. Di UK, angkanya sangat sangat rendah dan ini telah berjalan selama beberapa dasawarsa. Angka yang tercatat sekarang menunjukkan hanya 62% wanita di Inggris yang mencoba untuk menyusui bayinya (biasanya selama di rumah sakit). Pada usia 6 minggu, hanya 42% yang menyusui bayinya. Menjelang 4 bulan, hanya 29% yang masih menyusui dan di usia 6 bulan angka ini menurun menjadi 22%.

Angka ini bisa saja datang dari negara berkembang mana pun di dunia. Perlu diketahui bahwa angka ini tidak merefleksikan menyusu ASI eksklusif secara ideal. Malahan, banyak ibu-ibu modern melakukan pemberian secara campur – menggabungkan pemberian ASI dengan susu formula dan makanan instan. Di dunia WHO memperkirakan hanya 35% bayi yang mendapatkan ASI sampai usia 4 bulan. Walaupun tidak seorang pun dapat mengatakan secara pasti karena penelitian terhadap ASI eksklusif jarang dan tidak lengkap, bisa dipastikan hanya 1% yang mendapat ASI langsung dari payudara ibunya selama 6 bulan (exclusively breastfed).

Para ibu muda khususnya, sangat jarang menyusui bayinya. Bahkan lebih dari 40% dari ibu di bawah 24 tahun tidak pernah berusaha untuk mencoba menyusui. Akan tetapi, masalah terbesar adalah kesenjangan sosial-ekonomi. Wanita yang tinggal di daerah berpendapatan rendah atau yang berpendidikan rendah malah lebih jarang menyusui bayinya, walau pun hal itu dapat memberikan perbedaan yang sangat besar pada kesehatan anak.

Pada anak-anak dari keluarga yang kekurangan, menyusu pada ibunya secara eksklusif pada 6 bulan pertama dapat menentukan dalam menghapus ketidakseimbangan kesehatannya di masa depan, yang merupakan pilihan antara dilahirkan dalam kemiskinan dan dilahirkan dalam keluarga yang berkecukupan. Dalam arti, ASI membawa bayi keluar dari segala kekurangannya dalam bulan-bulan pertama yang menentukan dan memberikan awal kehidupan yang lebih layak.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tentang penulis

Erfi Nizar

Ibu dari empat anak, Izqa (5 thn), Dashqa (3,5 thn), Zachry (23 bln) dan baby Ziv, bertanggung jawab atas website dan pengaturan surel AIMI. Erfi juga salah satu konselor laktasi AIMI.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.